-
Apakah Saudara Berlindung kepada Yehuwa?Menara Pengawal (Edisi Pelajaran)—2017 | November
-
-
Apakah Saudara Berlindung kepada Yehuwa?
”Yehuwa menyelamatkan nyawa hamba-hamba-Nya; setiap orang yang berlindung kepada-Nya tidak akan dinyatakan bersalah.” —MZ. 34:22.
1. Apa yang dirasakan banyak hamba Allah karena mewarisi dosa?
”SENGSARA sekali saya ini!” tulis Rasul Paulus. (Rm. 7:24) Sekarang, banyak hamba Allah yang setia merasa kecewa dan tertekan seperti Paulus. Mengapa? Karena kita semua mewarisi dosa dan ketidaksempurnaan. Jadi, meski kita ingin membuat Yehuwa senang, kita bisa gagal dan merasa kecewa. Beberapa orang Kristen yang melakukan dosa serius bahkan merasa bahwa Yehuwa tidak akan bisa mengampuni mereka.
2. (a) Menurut Mazmur 34:22, mengapa hamba Allah tidak perlu terus merasa bersalah? (b) Apa yang akan kita pelajari di artikel ini? (Lihat kotak ”Pelajaran atau Lambang?”)
2 Alkitab meyakinkan kita bahwa jika kita berlindung kepada Yehuwa, kita tidak perlu terus merasa bersalah. (Baca Mazmur 34:22.) Tapi, apa artinya berlindung kepada Yehuwa? Apa yang harus kita lakukan supaya Yehuwa berbelaskasihan dan mengampuni kita? Jawabannya bisa kita dapatkan dengan mempelajari kota perlindungan di Israel zaman dulu. Memang, pengaturan itu dibuat berdasarkan perjanjian Hukum yang diganti pada Pentakosta 33 M. Tapi, hukum itu berasal dari Yehuwa. Jadi, dari pengaturan kota perlindungan ini, kita bisa belajar tentang pandangan Yehuwa terhadap dosa, pedosa, dan orang yang bertobat. Pertama-tama, mari kita bahas tujuan dan fungsi kota perlindungan di Israel.
”TENTUKAN KOTA-KOTA PERLINDUNGAN”
3. Apa yang harus orang Israel lakukan kepada seorang pembunuh?
3 Yehuwa sangat prihatin sewaktu seseorang terbunuh. Jika seorang Israel membunuh seseorang, keluarga laki-laki terdekat si korban akan menjadi ”penuntut balas”. Dia harus menghukum mati si pembunuh. (Bil. 35:19) Ini dilakukan karena si pembunuh telah mengambil nyawa orang yang tidak bersalah. Ini membuatnya berutang darah, dan dia perlu membayarnya dengan kehidupannya sendiri. Kalau si pembunuh tidak segera dihukum mati, Negeri yang Dijanjikan bisa tercemar, atau tidak suci lagi. Yehuwa berkata, ”Jangan cemari tanah tempat kalian tinggal” dengan membunuh orang lain.—Bil. 35:33, 34.
4. Bagaimana jika seorang Israel membunuh orang lain dengan tidak sengaja?
4 Bagaimana jika seorang Israel membunuh orang lain dengan tidak sengaja? Walaupun itu tidak disengaja, dia tetap bersalah karena sudah membunuh orang yang tidak bersalah. (Kej. 9:5) Tapi dalam kasus ini, Yehuwa berkata bahwa orang itu bisa mendapat belas kasihan. Orang yang tidak sengaja membunuh bisa lari dari si penuntut balas dan pergi ke salah satu dari enam kota perlindungan. Kalau dia diperbolehkan untuk tinggal di kota itu, dia akan dilindungi. Tapi, dia harus tinggal di kota perlindungan itu sampai sang imam besar meninggal.—Bil. 35:15, 28.
5. Mengapa pengaturan kota perlindungan bisa membuat kita lebih mengenal Yehuwa?
5 Pengaturan kota perlindungan tidak berasal dari manusia. Yehuwa-lah yang membuatnya. Dia memerintahkan Yosua, ”Beri tahu orang Israel, ’Tentukan kota-kota perlindungan.’” Kota-kota ini diberikan ”status suci”. (Yos. 20:1, 2, 7, 8, ctk.) Yehuwa memutuskan bahwa kota-kota ini harus dikhususkan. Dari hal ini, kita bisa belajar banyak tentang Yehuwa. Misalnya, kita jadi lebih mengerti belas kasihan Yehuwa dan cara berlindung kepada-Nya.
DIA HARUS ”MENJELASKAN MASALAHNYA KEPADA PARA PEMIMPIN KOTA”
6, 7. (a) Apa tugas para pemimpin kota terhadap orang yang tidak sengaja membunuh? (Lihat gambar di awal artikel.) (b) Mengapa si pembunuh perlu berbicara kepada para pemimpin kota?
6 Jika seorang Israel tidak sengaja membunuh orang lain, dia harus lari ke kota perlindungan dan ”menjelaskan masalahnya” kepada para pemimpin kota itu di gerbang. Mereka harus menerima orang itu. (Yos. 20:4) Beberapa waktu kemudian, mereka akan memulangkannya ke kota tempat pembunuhan itu terjadi untuk diadili oleh para pemimpin kota di sana. (Baca Bilangan 35:24, 25.) Kalau para pemimpin kota di sana memutuskan bahwa pembunuhan itu memang tidak disengaja, mereka akan memulangkan si pembunuh ke kota perlindungan.
7 Mengapa si pembunuh perlu berbicara kepada para pemimpin kota? Karena para pemimpin kota perlu memastikan bahwa umat Israel tetap bersih. Mereka juga akan membantu si pembunuh supaya dia bisa mendapat belas kasihan Yehuwa. Seorang pakar Alkitab menulis bahwa jika si pembunuh tidak pergi kepada para pemimpin kota, dia bisa dibunuh. Dia juga menulis bahwa kematian si pembunuh adalah kesalahannya sendiri karena tidak mengikuti pengaturan Allah. Jadi, dia harus meminta dan menerima bantuan supaya bisa tetap hidup. Kalau dia tidak pergi ke salah satu kota perlindungan, keluarga terdekat si korban boleh membunuhnya.
8, 9. Mengapa orang Kristen yang melakukan dosa serius harus berbicara kepada para penatua?
8 Sekarang, orang Kristen yang melakukan dosa serius perlu pergi kepada para penatua supaya dia bisa dibantu untuk punya hubungan yang baik lagi dengan Yehuwa. Mengapa ini sangat penting? Pertama, Yehuwa-lah yang mengatur agar penatua menangani kasus dosa serius. (Yak. 5:14-16) Kedua, tujuan penatua adalah untuk membantu pedosa yang ingin bertobat supaya dia bisa bersahabat lagi dengan Yehuwa dan tidak mengulangi kesalahannya. (Gal. 6:1; Ibr. 12:11) Ketiga, penatua ditugaskan dan dilatih untuk menghibur pedosa yang ingin bertobat supaya dia tidak lagi merasa bersalah dan kecewa. Yehuwa menyebut para penatua itu sebagai ”tempat berlindung dari hujan badai”. (Yes. 32:1, 2) Pengaturan ini adalah salah satu cara Allah memperlihatkan belas kasihan kepada kita.
9 Banyak hamba Allah merasa lega setelah berbicara dan mendapat bantuan dari para penatua. Misalnya, seorang saudara bernama Daniel pernah melakukan dosa serius. Tapi selama beberapa bulan, dia tidak berbicara kepada para penatua. Dia berkata, ”Karena sudah terlalu lama, saya berpikir bahwa para penatua pasti sudah tidak bisa membantu saya.” Tapi, dia juga selalu takut kalau-kalau orang lain sampai tahu tentang dosanya. Selain itu, dia merasa perlu meminta maaf kepada Yehuwa setiap kali mulai berdoa. Akhirnya, dia meminta bantuan para penatua. Dia mengenang, ”Saya sangat takut untuk berbicara kepada mereka. Tapi setelah itu, rasanya seperti beban berat sudah diangkat dari pundak saya.” Daniel bisa kembali berbicara kepada Yehuwa dengan leluasa. Sekarang, dia punya hati nurani yang bersih, dan baru-baru ini dia menjadi hamba pelayanan.
DIA ”HARUS MELARIKAN DIRI KE SALAH SATU KOTA ITU”
10. Agar bisa diampuni, apa yang harus dilakukan si pembunuh?
10 Agar bisa diampuni, si pembunuh harus segera melarikan diri ke kota perlindungan terdekat. (Baca Yosua 20:4.) Kalau dia ingin tetap hidup, dia harus pergi ke kota itu dan tinggal di sana sampai sang imam besar meninggal. Ini adalah pengorbanan yang harus dibuat si pembunuh. Dia harus meninggalkan pekerjaannya, rumahnya yang nyaman, dan tidak bisa lagi bepergian dengan bebas.a (Bil. 35:25) Tapi, pengorbanannya tidak sia-sia. Kalau dia meninggalkan kota perlindungan, dia menunjukkan bahwa dia tidak peduli dengan utang darah yang dia miliki, dan hal itu bisa membahayakan kehidupannya sendiri.
11. Bagaimana orang Kristen yang ingin bertobat bisa menunjukkan bahwa dia sangat bersyukur atas belas kasihan Allah?
11 Sekarang, pedosa yang ingin bertobat juga harus melakukan beberapa hal supaya bisa diampuni Allah. Dia harus menghentikan perbuatan dosanya. Ini termasuk menghindari apa pun yang bisa membuatnya melakukan dosa serius. Rasul Paulus menjelaskan apa yang dilakukan oleh orang Kristen yang ingin bertobat di Korintus. Dia menulis, ”Jelas sekali bahwa kesedihan kalian sesuai dengan kehendak Allah, sehingga kalian berupaya keras melakukan apa yang benar. Kalian membersihkan nama kalian, kesal karena perbuatan salah, takut kepada Allah, punya keinginan yang tulus, dan bersemangat untuk memperbaiki kesalahan!” (2 Kor. 7:10, 11) Jadi, kita perlu melakukan sebisa-bisanya untuk tidak berbuat dosa. Dengan begitu, kita menunjukkan kepada Yehuwa bahwa kita benar-benar ingin berubah dan tidak menganggap bahwa kita bisa mendapat belas kasihan-Nya begitu saja.
12. Apa yang mungkin perlu dikorbankan orang Kristen supaya bisa terus mendapat belas kasihan Yehuwa?
12 Apa yang mungkin perlu dikorbankan orang Kristen supaya bisa terus mendapat belas kasihan Yehuwa? Dia harus siap mengorbankan bahkan hal-hal yang dia sukai yang bisa membuatnya berdosa. (Mat. 18:8, 9) Misalnya, kalau teman Saudara membuat Saudara melakukan hal-hal yang tidak Yehuwa senangi, apakah Saudara masih akan berteman dengan dia? Kalau Saudara sulit mengendalikan diri saat minum minuman beralkohol, apakah Saudara akan menghindari situasi yang bisa membuat Saudara minum terlalu banyak? Kalau Saudara kesulitan mengendalikan keinginan seksual yang salah, apakah Saudara akan menghindari film, situs web, atau kegiatan yang bisa menimbulkan pikiran yang kotor? Ingatlah, pengorbanan apa pun yang kita buat demi menaati hukum Yehuwa tidak akan sia-sia. Jika kita menyerah, kita bisa merasa bahwa kita sudah mengecewakan Yehuwa dan bahwa Yehuwa sudah tidak peduli lagi kepada kita. Perasaan ini sangat menyakitkan. Jika kita tidak menyerah, kita akan sangat bahagia karena merasakan ”kasih setia [Yehuwa] yang abadi”.—Yes. 54:7, 8.
”KOTA-KOTA ITU AKAN MENJADI TEMPAT PERLINDUNGAN”
13. Mengapa si pembunuh bisa merasa aman dan bahagia di dalam kota perlindungan?
13 Kalau si pembunuh sudah berada di dalam kota perlindungan, dia sudah aman. Yehuwa berkata, ”Kota-kota itu akan menjadi tempat perlindungan.” (Yos. 20:2, 3) Di sana, Yehuwa tidak akan meminta si pembunuh diadili lagi untuk kasus yang sama. Si penuntut balas juga tidak boleh masuk ke kota itu untuk membunuhnya. Sewaktu si pembunuh berada di kota itu, dia dilindungi oleh Yehuwa. Tapi, kota itu bukanlah seperti penjara. Dia bisa bekerja, membantu orang lain, dan melayani Yehuwa dengan damai. Hidupnya bisa bahagia dan memuaskan!
Yakinlah bahwa Yehuwa akan mengampuni kita (Lihat paragraf 14-16)
14. Orang Kristen yang sudah bertobat bisa yakin akan apa?
14 Beberapa hamba Allah yang pernah melakukan dosa serius masih merasa bersalah, bahkan setelah bertobat. Ada yang bahkan merasa bahwa Yehuwa tidak akan pernah lupa dengan dosa mereka. Kalau Saudara merasa seperti itu, yakinlah bahwa sewaktu Yehuwa mengampuni Saudara, Dia melakukannya dengan tuntas. Saudara tidak perlu merasa bersalah lagi. Inilah yang dialami Daniel, yang disebutkan tadi. Setelah penatua menangani masalahnya dan membantunya punya hati nurani yang bersih lagi, dia benar-benar lega. Dia berkata, ”Saya tidak perlu merasa bersalah lagi. Kalau dosa kita sudah diampuni, dosa itu sudah dilupakan. Seperti yang Yehuwa katakan, Dia akan mengambil beban kita dan melemparkannya jauh-jauh sehingga kita tidak bisa melihatnya lagi.” Setelah si pembunuh berada di dalam kota perlindungan, dia tidak perlu takut kalau-kalau si penuntut balas akan datang dan membunuhnya. Begitu pula, setelah Yehuwa mengampuni dosa kita, kita tidak perlu takut kalau-kalau Yehuwa akan mengungkitnya lagi dan menghukum kita di masa depan.—Baca Mazmur 103:8-12.
15, 16. Mengapa kita bisa percaya pada belas kasihan Yehuwa?
15 Kita punya lebih banyak bukti untuk percaya pada belas kasihan Yehuwa dibandingkan orang Israel dulu. Setelah Paulus berkata bahwa dia merasa ”sengsara sekali” karena tidak bisa selalu menaati Yehuwa, dia berseru, ”Syukur kepada Allah, yang akan menyelamatkan saya melalui Yesus Kristus Tuan kita!” (Rm. 7:25) Apa maksud Paulus? Meski dia masih berjuang melawan keinginan yang salah dan pernah berbuat dosa, dia sudah bertobat. Jadi, dia yakin bahwa Yehuwa sudah mengampuninya atas dasar tebusan Yesus. Karena Yesus mati sebagai tebusan, kita juga bisa punya hati nurani yang bersih dan merasa damai. (Ibr. 9:13, 14) Sebagai Imam Besar kita, Yesus ”benar-benar sanggup menyelamatkan orang-orang yang mendekati Allah melalui dia, karena dia selalu hidup sehingga bisa memohon bagi mereka”. (Ibr. 7:24, 25) Pada zaman dulu, imam besar meyakinkan orang Israel bahwa Yehuwa akan mengampuni dosa mereka. Karena Yesus adalah Imam Besar kita, kita semakin yakin bahwa ”kita mendapat belas kasihan dan menemukan kebaikan hati yang luar biasa, yang akan menolong kita pada saat yang tepat”.—Ibr. 4:15, 16.
16 Maka, untuk berlindung kepada Yehuwa, kita perlu beriman pada korban Yesus. Jangan cuma berpikir bahwa tebusan berlaku untuk semua orang. Berimanlah bahwa tebusan bermanfaat bagi Saudara sendiri. (Gal. 2:20, 21) Berimanlah bahwa Yehuwa mengampuni dosa Saudara atas dasar tebusan. Berimanlah bahwa tebusan memberi Saudara harapan untuk hidup selamanya. Tebusan Yesus adalah hadiah dari Yehuwa untuk Saudara!
17. Mengapa Saudara ingin berlindung kepada Yehuwa?
17 Dengan belajar tentang kota perlindungan, kita jadi lebih memahami belas kasihan Yehuwa. Pengaturan ini mengajar kita bahwa kehidupan itu suci. Pengaturan ini juga menunjukkan peran para penatua dalam membantu kita, cara untuk benar-benar bertobat, dan bahwa Yehuwa mengampuni dengan tuntas. Apakah Saudara berlindung kepada Yehuwa? Dia adalah tempat teraman bagi kita! (Mz. 91:1, 2) Di artikel berikutnya, kita akan membahas bagaimana kota perlindungan bisa membantu kita meniru Yehuwa, teladan terbaik tentang keadilan dan belas kasihan.
a Menurut ahli sejarah Yahudi, kemungkinan ada keluarga dekat si pembunuh yang datang ke kota perlindungan untuk tinggal bersamanya.
-
-
Tirulah Keadilan dan Belas Kasihan YehuwaMenara Pengawal (Edisi Pelajaran)—2017 | November
-
-
Tirulah Keadilan dan Belas Kasihan Yehuwa
”Kalian harus menghakimi dengan adil. Tunjukkan kasih setia dan belas kasihan kepada sesama kalian.”—ZA. 7:9.
1, 2. (a) Bagaimana perasaan Yesus terhadap Hukum Allah? (b) Apa yang menunjukkan bahwa ahli Taurat dan orang Farisi menjalankan hukum Taurat dengan cara yang salah?
YESUS mencintai Hukum Musa. Itu tidaklah mengherankan karena hukum itu berasal dari Pribadi terpenting bagi Yesus yaitu Yehuwa, Bapaknya. Alkitab menubuatkan bahwa Yesus akan sangat mencintai Hukum Allah. Mazmur 40:8 berkata, ”Aku suka melakukan kehendak-Mu, oh Allahku, dan hukum-Mu ada di dalam hatiku.” Melalui kata-kata dan tindakannya, Yesus membuktikan bahwa Hukum Allah itu sempurna, bermanfaat, dan pasti akan mencapai tujuannya.—Mat. 5:17-19.
2 Yesus pasti sedih saat melihat bahwa ahli Taurat dan orang Farisi menjalankan hukum Taurat dengan cara yang salah. Akibatnya, hukum itu kelihatan tidak masuk akal. Yesus berkata kepada mereka, ”Kalian memberikan sepersepuluh dari tanaman mint, adas, dan jintan putih.” Ini menunjukkan bahwa mereka sangat teliti dalam menjalankan hal-hal terkecil dalam hukum Taurat. Lalu, apa masalahnya? Yesus menjelaskan, ”Tapi kalian mengabaikan hal-hal yang lebih penting dalam Taurat, yaitu keadilan, belas kasihan, dan kesetiaan.” (Mat. 23:23) Orang Farisi tidak mengerti tujuan dari hukum Taurat dan merasa lebih hebat daripada orang lain. Sebaliknya, Yesus mengerti tujuan dari hukum itu. Dia juga bisa melihat hal-hal yang bisa dipelajari tentang Yehuwa dari setiap perintah dalam hukum itu.
3. Apa yang akan kita bahas di artikel ini?
3 Sebagai orang Kristen, kita tidak diwajibkan untuk menaati hukum Taurat. (Rm. 7:6) Jadi, mengapa Yehuwa memasukkan hukum Taurat ke dalam Firman-Nya, Alkitab? Dia ingin agar kita mengerti dan menjalankan ”hal-hal yang lebih penting”, yaitu prinsip-prinsip yang mendasari hukum Taurat. Misalnya, prinsip apa yang bisa kita pelajari dari kota perlindungan? Di artikel sebelumnya, kita membahas hal-hal yang harus dilakukan oleh seorang pembunuh dan apa pelajarannya bagi kita. Di artikel ini, kita akan membahas hal-hal yang bisa kita pelajari dari kota perlindungan tentang Yehuwa dan cara meniru sifat-sifat-Nya. Kita akan menjawab tiga pertanyaan ini: Bagaimana kota perlindungan mencerminkan belas kasihan Yehuwa? Apa yang bisa kita pelajari dari kota perlindungan tentang pandangan Allah soal kehidupan? Bagaimana kota perlindungan mencerminkan keadilan Yehuwa? Saat membahas hal ini, coba pikirkan bagaimana kita bisa meniru Dia.—Baca Efesus 5:1.
LOKASI KOTA PERLINDUNGAN MENCERMINKAN BELAS KASIHAN ALLAH
4, 5. (a) Pengaturan apa saja yang dibuat agar seorang pembunuh bisa mencapai kota perlindungan dengan mudah, dan mengapa? (b) Apa yang bisa kita pelajari tentang Yehuwa dari hal ini?
4 Yehuwa mengatur agar keenam kota perlindungan mudah dicapai. Dia meminta orang Israel untuk memilih masing-masing tiga kota di sebelah barat dan timur Sungai Yordan. Mengapa? Supaya si pembunuh bisa mencapai salah satu kota itu dengan cepat dan mudah. (Bil. 35:11-14) Jalan menuju ke kota-kota itu dirawat agar kondisinya tetap baik. (Ul. 19:3) Menurut sejarah Yahudi, ada rambu-rambu yang dipasang di sepanjang jalan supaya si pembunuh bisa menemukan kota itu. Karena ada kota perlindungan, orang Israel yang tidak sengaja membunuh orang lain tidak harus mencari perlindungan di negeri asing karena ini bisa membuatnya tergoda untuk menyembah allah-allah palsu.
5 Coba pikirkan: Yehuwa memerintahkan agar para pembunuh dihukum mati. Tapi, Dia juga memastikan agar orang yang tidak sengaja membunuh bisa mendapat belas kasihan, keibaan hati, dan perlindungan. Seorang pakar Alkitab berkata, ”Segala sesuatu dibuat sejelas, sesederhana, dan semudah mungkin.” Yehuwa bukanlah hakim yang kejam yang mencari-cari cara untuk menghukum hamba-Nya. Sebaliknya, Dia ”memiliki belas kasihan yang limpah”.—Ef. 2:4.
6. Apakah orang Farisi meniru belas kasihan Yehuwa? Jelaskan.
6 Tapi, orang Farisi tidak mau berbelaskasihan kepada orang lain. Misalnya menurut sejarah Yahudi, orang Farisi tidak mau mengampuni orang yang membuat kesalahan yang sama lebih dari tiga kali. Untuk menunjukkan betapa salahnya sikap orang Farisi, Yesus menceritakan perumpamaan tentang orang Farisi yang berdoa di sebelah pemungut pajak. Orang Farisi itu berkata, ”Ya Allah, aku bersyukur aku tidak seperti orang lain, para pemeras, orang yang tidak benar, pezina, atau bahkan seperti pemungut pajak ini.” Jadi, Yesus ingin menunjukkan bahwa orang Farisi suka ”meremehkan orang lain” dan tidak mau memperlihatkan belas kasihan.—Luk. 18:9-14.
Apakah Saudara mempermudah orang yang ingin meminta maaf kepada Saudara? Jadilah orang yang rendah hati dan mudah diajak bicara (Lihat paragraf 4-8)
7, 8. (a) Bagaimana kita bisa meniru belas kasihan Yehuwa? (b) Mengapa kita harus bersikap rendah hati?
7 Tirulah Yehuwa, bukan orang Farisi. Tunjukkanlah belas kasihan dan keibaan hati. (Baca Kolose 3:13.) Jangan mempersulit orang yang ingin meminta maaf kepada kita. (Luk. 17:3, 4) Coba pikirkan, ’Apakah saya cepat dan mudah mengampuni orang lain bahkan saat mereka menyinggung perasaan saya berkali-kali? Apakah saya benar-benar ingin berdamai dengan orang yang menyinggung atau menyakiti saya?’
8 Supaya bisa mengampuni, kita harus rendah hati. Orang Farisi merasa lebih hebat daripada siapa pun, jadi mereka tidak mau mengampuni orang lain. Tapi sebagai orang Kristen, kita dengan rendah hati ’menganggap orang lain lebih tinggi’ daripada diri kita dan rela mengampuni mereka dengan tulus. (Flp. 2:3) Coba pikirkan, ’Apakah saya meniru Yehuwa dan bersikap rendah hati?’ Kalau kita rendah hati, orang lain akan lebih mudah meminta maaf kepada kita dan kita juga akan lebih mudah mengampuni mereka. Janganlah cepat tersinggung, sebaliknya cepatlah tunjukkan belas kasihan.—Pkh. 7:8, 9.
HARGAILAH KEHIDUPAN DAN ”KALIAN TIDAK AKAN BERUTANG DARAH”
9. Bagaimana Yehuwa mengajar orang Israel bahwa kehidupan itu suci?
9 Salah satu alasan utama dibentuknya kota perlindungan adalah agar orang Israel tidak berutang darah dengan membunuh orang yang tidak bersalah. (Ul. 19:10) Yehuwa menghargai kehidupan dan membenci pembunuhan. (Ams. 6:16, 17) Sebagai Allah yang adil dan kudus, Dia tidak bisa menutup mata terhadap pembunuhan meski itu tidak disengaja. Memang, orang yang tidak sengaja membunuh bisa mendapat belas kasihan. Tapi pertama-tama, dia harus menjelaskan keadaannya kepada para pemimpin kota. Kalau mereka memutuskan bahwa pembunuhan itu tidak disengaja, si pembunuh harus tinggal di kota perlindungan sampai sang imam besar meninggal. Itu berarti dia mungkin harus tinggal di kota itu seumur hidupnya. Pengaturan ini mengajar semua orang Israel bahwa kehidupan itu suci. Untuk menghormati Sang Pemberi Kehidupan, mereka perlu melakukan sebisa-bisanya agar kehidupan orang lain tidak berada dalam bahaya.
10. Bagaimana Yesus menunjukkan bahwa ahli Taurat dan orang Farisi tidak menghargai kehidupan orang lain?
10 Berbeda dengan Yehuwa, ahli Taurat dan orang Farisi tidak menghargai kehidupan orang lain. Yesus berkata kepada mereka, ”Kalian mengambil kunci pengetahuan. Kalian sendiri tidak masuk, dan kalian menghalangi mereka yang mau masuk!” (Luk. 11:52) Apa maksud Yesus? Ahli Taurat dan orang Farisi seharusnya menjelaskan Firman Allah kepada orang-orang dan membantu mereka mendapat kehidupan abadi. Tapi, mereka malah menghalangi orang-orang yang ingin mengikuti Yesus, ”Wakil Utama kehidupan”. (Kis. 3:15) Dengan begitu, mereka menuntun orang-orang kepada kebinasaan. Ahli Taurat dan orang Farisi adalah orang yang sombong dan egois, dan mereka tidak peduli dengan kehidupan orang lain. Mereka sangat kejam dan tidak berbelaskasihan!
11. (a) Bagaimana Rasul Paulus menunjukkan bahwa pandangannya terhadap kehidupan sesuai dengan pandangan Yehuwa? (b) Apa yang bisa mendorong kita untuk mengabar dengan bersemangat seperti Paulus?
11 Bagaimana kita bisa meniru Yehuwa dan tidak menjadi seperti ahli Taurat serta orang Farisi? Caranya adalah dengan menghormati dan menghargai kehidupan. Rasul Paulus menunjukkan hal itu dengan mengabar kepada sebanyak mungkin orang. Oleh karena itu, dia bisa berkata, ”Aku bersih dari darah semua orang.” (Baca Kisah 20:26, 27.) Tapi, apakah Paulus mengabar hanya karena dia tidak mau merasa bersalah atau karena Yehuwa yang menyuruhnya melakukan itu? Tidak. Paulus menyayangi orang-orang. Baginya, kehidupan orang-orang sangat berharga, dan dia ingin agar mereka bisa hidup selamanya. (1 Kor. 9:19-23) Kita juga perlu memandang kehidupan seperti Yehuwa memandangnya. Dia ingin agar semua orang bertobat supaya mereka bisa hidup selamanya. (2 Ptr. 3:9) Untuk bisa meniru Yehuwa, kita juga perlu menyayangi orang-orang. Jika kita berbelaskasihan, kita akan terdorong untuk mengabar dengan bersemangat. Hasilnya, kita akan bahagia saat mengabar.
12. Mengapa keselamatan dan keamanan sangat penting bagi umat Allah?
12 Untuk bisa memandang kehidupan seperti Yehuwa, kita juga perlu punya sikap yang benar soal keselamatan dan keamanan. Saat menyetir atau bekerja, kita harus melakukannya dengan hati-hati. Ini termasuk saat kita membangun dan merawat tempat ibadah atau saat kita sedang berada dalam perjalanan ke sana. Keselamatan dan kesehatan selalu lebih penting daripada menghemat waktu atau uang. Allah selalu melakukan yang benar, dan kita mau meniru-Nya. Para penatua khususnya perlu memikirkan keselamatan, baik keselamatan mereka maupun orang lain. (Ams. 22:3) Kalau seorang penatua mengingatkan kita tentang aturan atau standar keselamatan, dengarkanlah baik-baik. (Gal. 6:1) Pandanglah kehidupan seperti Yehuwa memandangnya, dan ”kalian tidak akan berutang darah”.
ADILI ”SESUAI DENGAN PERATURAN-PERATURAN INI”
13, 14. Apa yang dilakukan para pemimpin kota untuk meniru keadilan Yehuwa?
13 Yehuwa meminta para pemimpin kota di zaman dulu untuk meniru keadilan-Nya. Pertama, mereka perlu memastikan semua faktanya. Lalu sebelum menunjukkan belas kasihan, mereka perlu mempertimbangkan baik-baik alasan dan sikap si pembunuh. Mereka juga perlu mempertimbangkan kebiasaan dia sebelum kejadian itu. Mereka harus mencari tahu apakah dia membenci si korban dan memang bermaksud jahat. (Baca Bilangan 35:20-24.) Jika ada saksi mata, dia boleh dihukum mati berdasarkan keterangan dari setidaknya dua saksi.—Bil. 35:30.
14 Setelah mengetahui dengan jelas peristiwanya, para pemimpin kota harus memikirkan seluruh segi kehidupan si pembunuh, bukan hanya apa yang sudah dia lakukan. Mereka perlu punya pemahaman supaya tidak berfokus hanya pada apa yang kelihatan dan supaya bisa mengerti mengapa peristiwa itu terjadi. Yang terpenting, mereka membutuhkan kuasa kudus dari Yehuwa supaya bisa menunjukkan pemahaman, belas kasihan, dan keadilan.—Kel. 34:6, 7.
15. Apa perbedaan antara pandangan Yesus dan pandangan orang Farisi terhadap para pedosa?
15 Orang Farisi tidak berbelaskasihan saat mengadili para pedosa. Mereka hanya memperhatikan apa yang sudah dilakukan si pedosa, bukannya sifat-sifat dan kepribadiannya. Saat beberapa orang Farisi melihat Yesus sedang makan di rumah Matius, mereka bertanya kepada murid-murid Yesus, ”Kenapa guru kalian makan bersama pemungut pajak dan orang berdosa?” Yesus menjawab, ”Orang sehat tidak butuh tabib, tapi orang sakit butuh. Jadi pergilah, cari tahu arti kata-kata ini: ’Aku senang dengan belas kasihan, bukan korban.’ Saya datang bukan untuk memanggil orang benar, tapi orang berdosa.” (Mat. 9:9-13) Apakah Yesus membenarkan perbuatan para pedosa? Sama sekali tidak. Dia ingin agar mereka bertobat. Dan, itu adalah bagian penting dari berita yang Yesus sampaikan. (Mat. 4:17) Yesus tahu bahwa ada ”pemungut pajak dan orang berdosa” yang ingin berubah. Mereka tidak datang ke rumah Matius hanya untuk makan. Mereka ada di sana karena ingin menjadi murid Yesus. (Mrk. 2:15) Sayangnya, kebanyakan orang Farisi tidak bisa melihat apa yang Yesus lihat dalam diri orang-orang. Menurut mereka, orang tidak akan bisa berubah. Dan bagi mereka, orang-orang seperti ini adalah pedosa yang sudah tidak punya harapan. Mereka sangat berbeda dengan Yehuwa, Allah yang adil dan berbelaskasihan.
16. Apa yang harus diperhatikan panitia pengadilan?
16 Sekarang, para penatua juga harus meniru Yehuwa, Allah yang ”mencintai keadilan”. (Mz. 37:28) Pertama, mereka perlu ’menyelidiki baik-baik’ untuk memastikan apakah ada perbuatan dosa yang telah dilakukan. Jika ada, mereka akan mengikuti petunjuk Alkitab untuk memutuskan apa yang perlu dilakukan. (Ul. 13:12-14) Kalau mereka menjadi anggota panitia pengadilan, mereka harus sangat berhati-hati dalam menentukan apakah orang yang melakukan dosa serius itu benar-benar bertobat atau tidak. Ini tidak selalu mudah karena pertobatan melibatkan perasaan dan pandangan si pedosa terhadap kesalahannya. (Why. 3:3) Seorang pedosa harus bertobat supaya bisa menerima belas kasihan.a
17, 18. Bagaimana agar para penatua bisa tahu apakah seseorang benar-benar bertobat atau tidak? (Lihat gambar di awal artikel.)
17 Yehuwa dan Yesus tahu persis apa yang dipikirkan dan dirasakan seseorang karena mereka bisa membaca hati. Tapi, para penatua tidak bisa membaca hati. Jadi, kalau Saudara adalah penatua, bagaimana Saudara bisa tahu apakah seseorang benar-benar bertobat atau tidak? Pertama, berdoalah meminta hikmat dan daya pengamatan. (1 Raj. 3:9) Kedua, gunakanlah Firman Allah dan publikasi dari budak yang setia supaya Saudara bisa melihat perbedaan antara ”kesedihan dunia ini” dan ”kesedihan yang sesuai dengan kehendak Allah”, yaitu pertobatan yang sungguh-sungguh. (2 Kor. 7:10, 11) Coba pelajari apa yang Alkitab katakan tentang orang-orang yang bertobat dan yang tidak, dan coba pahami perasaan, pikiran, dan tindakan mereka.
18 Ketiga, pikirkanlah orangnya, bukan hanya apa yang telah dia lakukan. Mengapa dia seperti ini? Mengapa dia membuat keputusan-keputusan tertentu? Apa saja tantangan dan keterbatasan yang dia miliki? Alkitab menubuatkan bahwa Yesus sebagai kepala sidang jemaat ”tidak akan menghakimi menurut apa yang dia lihat, ataupun menegur menurut apa yang dia dengar saja. Dia akan menghakimi orang kecil dengan adil, dan memberi teguran dengan lurus hati demi orang lembut hati di bumi”. (Yes. 11:3, 4) Para penatua, kalian telah dilantik oleh Yesus untuk mengurus sidang jemaatnya, dan dia akan membantu kalian untuk mengadili dengan adil dan berbelaskasihan. (Mat. 18:18-20) Kita sangat bersyukur karena para penatua peduli kepada kita! Mereka juga membantu kita untuk bersikap adil dan berbelaskasihan kepada satu sama lain.
19. Pelajaran apa dari kota perlindungan yang ingin kita terapkan?
19 Hukum Musa berisi ”pemahaman dasar tentang pengetahuan dan kebenaran”. Hukum itu mengajar kita tentang Yehuwa dan prinsip-prinsip-Nya. (Rm. 2:20) Misalnya, kota perlindungan mengajar para penatua cara ”menghakimi dengan adil”. Kota perlindungan juga mengajar kita semua untuk saling memperlihatkan ”kasih setia dan belas kasihan”. (Za. 7:9) Memang, kita tidak diwajibkan untuk menaati hukum Taurat. Tapi, Yehuwa tidak berubah. Keadilan dan belas kasihan masih sangat penting bagi-Nya. Maka, kita sangat bersyukur karena menyembah Allah yang seperti ini. Marilah kita tiru sifat-sifat-Nya yang luar biasa dan berlindung kepada-Nya!
a Lihat ”Pertanyaan Pembaca” di Menara Pengawal 15 September 2006, hlm. 30.
-