PERPUSTAKAAN ONLINE Menara Pengawal
PERPUSTAKAAN ONLINE
Menara Pengawal
Indonesia
  • ALKITAB
  • PUBLIKASI
  • PERHIMPUNAN
  • Apakah Yehuwa Meminta Terlalu Banyak dari Kita?
    Menara Pengawal—1999 | 15 September
    • Apakah Yehuwa Meminta Terlalu Banyak dari Kita?

      ”Apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?”​—MIKHA 6:8.

      1. Karena alasan apa beberapa orang tidak melayani Yehuwa?

      YEHUWA mempunyai permintaan yang harus dipenuhi oleh umat-Nya. Namun, setelah membaca kata-kata nubuat Mikha yang dikutip di atas, saudara mungkin berkesimpulan bahwa tuntutan Allah memang wajar. Meskipun demikian, banyak orang tidak melayani Pencipta Agung kita, dan ada pula orang-orang yang dahulu melayani Dia kini tidak melakukannya lagi. Mengapa? Karena mereka menganggap bahwa Allah meminta terlalu banyak dari kita. Benarkah demikian? Atau, mungkinkah permasalahannya terletak pada sikap orang yang bersangkutan terhadap apa yang Yehuwa tuntut? Sebuah catatan sejarah membantu kita memahami hal ini.

      2. Siapakah Naaman, dan permintaan apa yang diajukan oleh nabi Yehuwa kepadanya?

      2 Kepala pasukan militer Siria, Naaman, menderita kusta, namun ia diberi tahu bahwa, di Israel, ada seorang nabi Yehuwa yang dapat menyembuhkan dia. Maka, Naaman dan rombongannya mengadakan perjalanan ke Israel dan akhirnya tiba di rumah nabi Allah, Elisa. Sebaliknya daripada meninggalkan rumah untuk menyambut tamu agungnya, Elisa mengutus pelayannya untuk memberi tahu Naaman, ”Pergilah mandi tujuh kali dalam sungai Yordan, maka tubuhmu akan pulih kembali, sehingga engkau menjadi tahir.”​—2 Raja 5:​10.

      3. Pada mulanya, mengapa Naaman menolak melakukan apa yang Yehuwa minta?

      3 Jika Naaman melakukan syarat yang dinyatakan oleh nabi Allah itu, ia akan sembuh dari penyakit yang sangat menjijikkan. Jadi, apakah Yehuwa meminta terlalu banyak darinya? Sebenarnya tidak. Namun, Naaman tidak bersedia melakukan apa yang Yehuwa tuntut. ”Bukankah Abana dan Parpar, sungai-sungai Damsyik, lebih baik dari segala sungai di Israel?” protesnya. ”Bukankah aku dapat mandi di sana dan menjadi tahir?” Kemudian, Naaman pergi dengan panas hati.​—2 Raja 5:​12.

      4, 5. (a) Apa imbalan atas ketaatan Naaman, dan bagaimana sambutannya setelah menerima imbalan itu? (b) Apa yang akan kita bahas sekarang?

      4 Sebenarnya, di mana letak permasalahannya? Masalahnya bukan karena tuntutan tersebut sulit dipenuhi. Pelayan-pelayan Naaman dengan bijaksana mengatakan, ”Seandainya nabi itu menyuruh perkara yang sukar kepadamu, bukankah bapak akan melakukannya? Apalagi sekarang, ia hanya berkata kepadamu: Mandilah dan engkau akan menjadi tahir.” (2 Raja 5:​13) Masalahnya terletak pada sikap Naaman sendiri. Ia merasa bahwa perlakuan yang diterimanya tidak setimpal dengan martabatnya, dan bahwa syarat yang harus dipenuhinya tampak sia-sia dan hina baginya. Akan tetapi, Naaman menuruti nasihat yang bijaksana dari para pelayannya dan masuk ke Sungai Yordan tujuh kali. Bayangkan sukacitanya sewaktu ’tubuhnya pulih kembali seperti tubuh seorang anak dan ia menjadi tahir’! Ia merasa sangat bersyukur. Terlebih lagi, Naaman menyatakan bahwa sejak saat itu, ia tidak akan menyembah allah lain selain Yehuwa.​—2 Raja 5:​14-​17.

      5 Sepanjang sejarah umat manusia, Yehuwa selalu meminta agar orang-orang menaati berbagai peraturan. Kami mengundang saudara untuk membahas beberapa di antaranya. Sementara itu, tanyalah diri saudara bagaimana tanggapan saudara jika Yehuwa menuntut hal yang sama dari saudara. Kemudian, kita akan memeriksa hal-hal yang Yehuwa minta dari kita dewasa ini.

      Apa yang Yehuwa Tuntut di Masa Lalu

      6. Pasangan manusia pertama diminta untuk melakukan apa, dan bagaimana saudara akan menanggapi perintah semacam itu?

      6 Yehuwa memerintahkan pasangan manusia pertama, Adam dan Hawa, untuk membesarkan anak-anak, menaklukkan bumi, dan menundukkan binatang. Selain itu, pria pertama dan istrinya itu menerima berkat berupa taman luas yang menjadi tempat kediaman mereka. (Kejadian 1:​27, 28; 2:​9-​15) Namun, ada satu batasan yang diberlakukan. Mereka dilarang makan buah dari satu jenis pohon dari antara sekian banyak pohon buah di taman Eden. (Kejadian 2:​16, 17) Permintaan itu tidak berlebihan, bukan? Bukankah saudara senang menjalankan suatu tugas yang berprospek kehidupan abadi dalam kesehatan yang sempurna? Meskipun muncul penggoda di taman itu, bukankah saudara akan menolak sanggahannya? Dan, tidakkah saudara setuju bahwa Yehuwa berhak memberlakukan satu-satunya batasan yang sederhana ini?​—Kejadian 3:​1-5.

      7. (a) Tugas apa diberikan kepada Nuh, dan tentangan apa yang ia hadapi? (b) Bagaimana pandangan saudara tentang permintaan Yehuwa kepada Nuh?

      7 Belakangan, Yehuwa meminta Nuh membangun sebuah bahtera sebagai sarana penyelamatan dari sebuah banjir global. Mengingat besarnya ukuran bahtera itu, pekerjaan ini tidak mudah dan mungkin dilaksanakan sambil menghadapi banyak ejekan dan antipati. Namun, sungguh suatu hak istimewa bagi Nuh untuk dapat menyelamatkan keluarganya, serta sejumlah besar binatang! (Kejadian 6:​1-8, 14-​16; Ibrani 11:7; 2 Petrus 2:5) Jika diberi tugas semacam itu, apakah saudara akan bekerja keras untuk melaksanakannya? Atau, apakah saudara akan menyimpulkan bahwa Yehuwa meminta terlalu banyak dari saudara?

      8. Abraham diminta untuk melakukan apa, dan hasil ketaatannya itu mengilustrasikan apa?

      8 Allah meminta Abraham untuk melakukan sesuatu yang sangat sulit, kata-Nya, ”Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran.” (Kejadian 22:2) Karena Yehuwa telah berjanji bahwa Ishak, yang saat itu belum mempunyai anak, akan memiliki keturunan, iman Abraham akan kesanggupan Allah untuk mengembalikan kehidupan Ishak diuji. Sewaktu Abraham hendak mengorbankan Ishak, Allah meluputkan nyawa pemuda tersebut. Peristiwa ini mengilustrasikan kesediaan Allah untuk mengorbankan Putra-Nya sendiri demi umat manusia dan belakangan membangkitkan dia.​—Kejadian 17:19; 22:9-18; Yohanes 3:16; Kisah 2:23, 24, 29-32; Ibrani 11:17-19.

      9. Mengapa permintaan Yehuwa terhadap Abraham boleh dikata tidak berlebihan?

      9 Ada yang mungkin berpikir bahwa permintaan Allah Yehuwa terhadap Abraham sangat berlebihan. Namun, benarkah demikian? Apakah Pencipta kita, yang sanggup membangkitkan orang mati, dapat dikatakan tidak pengasih jika Ia meminta kita taat kepada-Nya, sekalipun itu mengakibatkan kita tidur dalam kematian untuk sementara waktu? Yesus Kristus dan para pengikutnya yang mula-mula tidak berpikir demikian. Mereka bersedia menderita penganiayaan fisik, bahkan kematian, demi melakukan kehendak Allah. (Yohanes 10:​11, 17, 18; Kisah 5:​40-​42; 21:13) Jika keadaan menuntut, apakah saudara bersedia melakukan hal yang sama? Perhatikanlah beberapa hal yang Yehuwa tuntut dari orang-orang yang bersedia menjadi umat-Nya.

      Hukum Yehuwa kepada Israel

      10. Siapa yang berjanji untuk melakukan semua yang Yehuwa minta, dan apa yang Yehuwa berikan kepada mereka?

      10 Keturunan Abraham dari putranya, Ishak, dan cucunya, Yakub, atau Israel, berkembang menjadi bangsa Israel. Yehuwa menyelamatkan orang-orang Israel dari perbudakan di Mesir. (Kejadian 32:28; 46:​1-3; 2 Samuel 7:​23, 24) Beberapa waktu kemudian, mereka berjanji untuk melakukan apa pun yang Allah minta. Mereka berkata, ”Segala yang difirmankan TUHAN akan kami lakukan.” (Keluaran 19:8) Selaras dengan hasrat orang-orang Israel untuk diperintah oleh-Nya, Yehuwa menyediakan bagi bangsa itu lebih dari 600 hukum, termasuk Sepuluh Perintah. Belakangan, hukum-hukum Allah ini, yang diberikan melalui Musa, dikenal dengan sebutan singkat, Hukum.​—Ezra 7:6; Lukas 10:​25-​27; Yohanes 1:​17.

      11. Apa salah satu tujuan Hukum, dan apa saja peraturan yang berfungsi untuk mewujudkan tujuan itu?

      11 Salah satu tujuan Hukum adalah untuk melindungi orang-orang Israel melalui pemberlakuan peraturan-peraturan yang sehat seputar moralitas seksual, transaksi bisnis, dan pemeliharaan anak. (Keluaran 20:14; Imamat 18:​6-​18, 22-​24; 19:​35, 36; Ulangan 6:​6-9) Disediakan pula kaidah-kaidah yang mengatur cara memperlakukan sesama manusia serta hewan-hewan peliharaan. (Imamat 19:18; Ulangan 22:4, 10) Tuntutan untuk menyelenggarakan perayaan tahunan dan pertemuan ibadat turut melindungi kerohanian bangsa itu.​—Imamat 23:1-43; Ulangan 31:10-13.

      12. Apa tujuan utama Hukum?

      12 Tujuan utama Hukum tersebut diperlihatkan oleh rasul Paulus, yang menulis, ”Ini ditambahkan untuk membuat pelanggaran nyata, sampai tiba benih itu [Kristus] yang kepadanya janji telah dibuat.” (Galatia 3:19) Hukum mengingatkan orang-orang Israel akan ketidaksempurnaan mereka. Oleh karena itu, sewajarnyalah mereka membutuhkan korban yang sempurna, yang dapat menyingkirkan dosa-dosa mereka sepenuhnya. (Ibrani 10:1-4) Maka, Hukum dimaksudkan untuk mempersiapkan bangsa itu menerima Yesus, yang adalah Mesias, atau Kristus. Paulus menulis, ”Hukum telah menjadi pembimbing kita yang membimbing kepada Kristus, agar kita dapat dinyatakan adil-benar karena iman.”​—Galatia 3:24.

      Apakah Hukum Yehuwa Membebani?

      13. (a) Bagaimana manusia yang tidak sempurna memandang Hukum, dan mengapa? (b) Apakah Hukum benar-benar membebani?

      13 Meskipun hukum adalah ”kudus dan adil-benar dan baik”, banyak orang menganggapnya sebagai beban. (Roma 7:12) Karena Hukum itu sempurna, orang-orang Israel tidak sanggup memenuhi standarnya yang tinggi. (Mazmur 19:8) Itulah sebabnya rasul Petrus menyebutnya sebagai ”suatu kuk yang tidak sanggup ditanggung oleh bapak-bapak leluhur kita maupun kita”. (Kisah 15:10) Tentu saja, Hukum itu sendiri tidak membebani, dan menaatinya mendatangkan manfaat bagi bangsa itu.

      14. Contoh apa saja yang memperlihatkan bahwa Hukum sangat bermanfaat bagi orang-orang Israel?

      14 Misalnya, di bawah Hukum, hukuman bagi seorang pencuri bukanlah pemenjaraan, melainkan pekerjaan untuk mengganti kerugian sebesar dua kali lipat atau lebih dari nilai barang curiannya. Dengan demikian, sang korban tidak sampai dirugikan dan orang-orang yang bekerja keras tidak sampai dibebani untuk membiayai sistem penjara. (Keluaran 22:​1, 3, 4, 7) Terdapat larangan terhadap makanan yang berbahaya. Daging babi, jika tidak dimasak betul, dapat membawa trichinosis (penyakit yang disebabkan cacing pita), dan kelinci dapat menularkan tularemia (semacam penyakit menular yang disebarkan oleh binatang pengerat). (Imamat 11:​4-​12) Selain itu, Hukum memberikan suatu perlindungan berupa larangan untuk memegang jenazah. Jika seseorang menyentuh mayat, ia diharuskan membasuh diri dan pakaiannya. (Imamat 11:​31-​36; Bilangan 19:​11-​22) Tinja harus dikubur agar bangsa tersebut terlindung dari penyebaran kuman, yang eksistensinya baru ditemukan oleh para ilmuwan pada abad-abad belakangan ini.​—Ulangan 23:13.

      15. Apa yang terbukti membebani orang-orang Israel?

      15 Hukum tidak meminta terlalu banyak dari bangsa tersebut. Namun, tidaklah demikian halnya dengan orang-orang yang berperan sebagai penafsir Hukum. Tentang peraturan-peraturan yang mereka tetapkan, buku A Dictionary of the Bible, yang diedit oleh James Hastings, menyatakan, ”Untuk setiap perintah Alkitab terdapat semacam jaringan peraturan yang bersifat sepele. . . . Dengan demikian, setiap kali terpikirkan suatu kasus, dibuatlah upaya untuk memasukkannya ke dalam ruang lingkup Hukum, dan dengan logika yang tidak berbelas kasihan, dibuatlah upaya untuk mengatur seluruh tingkah laku manusia dengan aturan dasar yang ketat. . . . Suara hati nurani dipadamkan; daya hidup Firman Allah menjadi pudar dan padam di bawah banyaknya peraturan yang tidak habis-habisnya.”

      16. Apa yang Yesus katakan tentang peraturan dan tradisi yang membebani dari para pemimpin agama?

      16 Yesus Kristus mengecam para pemimpin agama yang memberlakukan begitu banyak peraturan, dengan mengatakan, ”Mereka mengikat menjadi satu tanggungan-tanggungan yang berat dan menaruhnya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya dengan jari tangan mereka.” (Matius 23:​2, 4) Ia menunjukkan bahwa peraturan dan tradisi buatan manusia yang membebani, antara lain cara membasuh diri yang rumit, membuat ”firman Allah tidak berlaku”. (Markus 7:​1-​13; Matius 23:​13, 24-​26) Namun, bahkan sebelum Yesus berada di bumi, para guru agama di Israel telah menyalahgambarkan apa sebenarnya tuntutan Yehuwa.

      Apa yang Sebenarnya Yehuwa Minta

      17. Mengapa Yehuwa tidak berkenan akan korban bakaran orang-orang Israel yang tidak setia?

      17 Melalui nabi Yesaya, Yehuwa mengatakan, ”Aku sudah jemu akan korban-korban bakaran berupa domba jantan dan akan lemak dari anak lembu gemukan; darah lembu jantan dan domba-domba dan kambing jantan tidak Kusukai.” (Yesaya 1:​10, 11) Mengapa Allah tidak berkenan akan persembahan yang Ia sendiri tuntut di dalam Hukum? (Imamat 1:1​–4:​35) Karena bangsa itu memperlakukan Allah secara tidak respek. Oleh karena itu, mereka diperingatkan, ”Basuhlah, bersihkanlah dirimu, jauhkanlah perbuatan-perbuatanmu yang jahat dari depan mata-Ku. Berhentilah berbuat jahat, belajarlah berbuat baik; usahakanlah keadilan, kendalikanlah orang kejam; belalah hak anak-anak yatim, perjuangkanlah perkara janda-janda!” (Yesaya 1:​16, 17) Bukankah hal ini turut menyadarkan kita akan apa yang Yehuwa inginkan dari hamba-hamba-Nya?

      18. Apa yang sebenarnya Yehuwa minta dari orang-orang Israel?

      18 Yesus memperlihatkan apa yang sebenarnya Allah inginkan. Ia mengemukakan hal itu sewaktu menjawab pertanyaan, ”Guru, yang manakah perintah terbesar dalam Hukum?” Yesus menjawab, ”’Engkau harus mengasihi Yehuwa Allahmu dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap pikiranmu.’ Inilah perintah yang terbesar dan pertama. Yang kedua, seperti itu, adalah ini, ’Engkau harus mengasihi sesamamu seperti dirimu sendiri.’ Pada kedua perintah ini bergantung seluruh Hukum dan Para Nabi.” (Matius 22:​36-​40; Imamat 19:18; Ulangan 6:​4-6) Nabi Musa menandaskan hal yang sama, sewaktu ia bertanya, ”Apakah yang dimintakan dari padamu oleh TUHAN, Allahmu, selain dari takut akan TUHAN, Allahmu, hidup menurut segala jalan yang ditunjukkan-Nya, mengasihi Dia, beribadah kepada TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu, berpegang pada perintah dan ketetapan TUHAN”?​—Ulangan 10:​12, 13; 15:​7, 8.

      19. Bagaimana orang-orang Israel berupaya tampak kudus, namun apa yang Yehuwa katakan kepada mereka?

      19 Meskipun berbuat salah, orang-orang Israel ingin tampak kudus. Hukum menuntut puasa hanya pada Hari Pendamaian tahunan, namun mereka mulai sering berpuasa. (Imamat 16:​30, 31) Tetapi, Yehuwa menghardik mereka, dengan mengatakan, ”Sungguh-sungguh inikah berpuasa yang Kukehendaki, dan mengadakan hari merendahkan diri, jika engkau menundukkan kepala seperti gelagah dan membentangkan kain karung dan abu sebagai lapik tidur? Sungguh-sungguh itukah yang kausebutkan berpuasa, mengadakan hari yang berkenan pada TUHAN? Bukan! Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk, supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri!”​—Yesaya 58:​3-7.

      20. Mengapa Yesus menghardik orang-orang beragama yang munafik?

      20 Orang-orang Israel yang menganggap diri adil-benar memiliki problem yang sama dengan orang-orang beragama yang munafik yang kepadanya Yesus mengatakan, ”Kamu memberikan sepersepuluh dari tanaman mentol dan adas dan jintan putih, tetapi kamu telah mengabaikan perkara-perkara yang lebih berbobot sehubungan dengan Hukum, yakni keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Hal-hal ini wajib dilakukan, namun bukan untuk mengabaikan hal-hal lain itu.” (Matius 23:23; Imamat 27:30) Bukankah kata-kata Yesus ini membantu kita memahami apa yang sebenarnya Yehuwa inginkan dari kita?

      21. Bagaimana nabi Mikha merangkumkan apa yang Yehuwa minta dan apa yang tidak Ia minta dari kita?

      21 Untuk memperjelas apa yang Yehuwa tuntut dan apa yang tidak Ia tuntut, nabi Allah, Mikha, bertanya, ”Dengan apakah aku akan pergi menghadap TUHAN dan tunduk menyembah kepada Allah yang di tempat tinggi? Akan pergikah aku menghadap Dia dengan korban bakaran, dengan anak lembu berumur setahun? Berkenankah TUHAN kepada ribuan domba jantan, kepada puluhan ribu curahan minyak? Akan kupersembahkankah anak sulungku karena pelanggaranku dan buah kandunganku karena dosaku sendiri? Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?”​—Mikha 6:​6-8.

      22. Apa yang khususnya Yehuwa inginkan dari orang-orang yang berada di bawah Hukum?

      22 Jadi, apa yang khususnya Yehuwa tuntut dari orang-orang yang hidup di bawah Hukum? Tentu saja, mereka harus mengasihi Allah Yehuwa. Selain itu, rasul Paulus mengatakan, ”Seluruh Hukum digenapi dalam satu perkataan, yaitu, ’Engkau harus mengasihi sesamamu seperti dirimu sendiri.’” (Galatia 5:​14) Demikian pula, Paulus memberi tahu orang-orang Kristen di Roma, ”Dia yang mengasihi sesamanya manusia telah menggenapi hukum itu. . . . Kasih adalah penggenapan hukum itu.”​—Roma 13:​8-​10.

      Yang Diminta Tidak Terlalu Banyak

      23, 24. (a) Mengapa Yehuwa pasti tidak pernah meminta terlalu banyak dari kita? (b) Apa yang akan kita bahas selanjutnya?

      23 Tidakkah kita terkesan akan begitu besarnya kasih, perhatian, dan belas kasihan Allah Yehuwa? Satu-satunya Putra Allah yang diperanakkan, Yesus Kristus, datang ke bumi untuk mengagungkan kasih Allah​—untuk memberi tahu orang-orang betapa berharganya mereka bagi Yehuwa. Sewaktu menggambarkan kasih Allah, Yesus mengatakan tentang burung pipit yang kecil, ”Tidak satu pun dari mereka akan jatuh ke tanah tanpa diketahui Bapakmu.” Maka, ia menyimpulkan, ”Jangan takut: kamu lebih bernilai daripada banyak burung pipit.” (Matius 10:​29-​31) Tentu saja, Allah yang pengasih semacam itu tidak akan pernah meminta terlalu banyak dari kita!

      24 Akan tetapi, apa yang Yehuwa minta dari kita dewasa ini? Dan, mengapa ada yang tampaknya berpikir bahwa Allah meminta terlalu banyak? Dengan menyelidiki pertanyaan-pertanyaan ini, kita akan dapat memahami mengapa besar hak istimewa kita untuk melakukan apa pun yang Yehuwa minta.

  • Apa yang Yehuwa Minta dari Kita Dewasa Ini?
    Menara Pengawal—1999 | 15 September
    • Apa yang Yehuwa Minta dari Kita Dewasa Ini?

      ”Suatu suara keluar dari awan, mengatakan, ’Inilah Putraku, yang dikasihi, yang aku perkenan; dengarkan dia.’”​—MATIUS 17:5.

      1. Kapan tujuan Hukum terpenuhi?

      YEHUWA memberikan kepada bangsa Israel Hukum, berikut sejumlah komponennya. Tentang segenap Hukum tersebut, rasul Paulus menulis, ”Hal-hal itu adalah tuntutan hukum yang berhubungan dengan daging dan ditetapkan hingga waktu yang ditentukan untuk meluruskan perkara-perkara.” (Ibrani 9:​10) Sewaktu kaum sisa orang-orang Israel yang dituntun oleh Hukum menerima Yesus sebagai Mesias, atau Kristus, tujuan Hukum tersebut telah terpenuhi. Oleh karena itu, Paulus menyatakan, ”Kristus adalah akhir dari Hukum.”​—Roma 10:4; Galatia 3:​19-​25; 4:​4, 5.

      2. Siapa yang berada di bawah Hukum, dan kapan mereka dibebaskan darinya?

      2 Apakah hal ini berarti bahwa Hukum tidak berlaku lagi bagi kita dewasa ini? Sebenarnya, mayoritas umat manusia tidak pernah berada di bawah Hukum, sebagaimana yang dijelaskan sang pemazmur, ”[Yehuwa] memberitakan firman-Nya kepada Yakub, ketetapan-ketetapan-Nya dan hukum-hukum-Nya kepada Israel. Ia tidak berbuat demikian kepada segala bangsa, dan hukum-hukum-Nya tidak mereka kenal.” (Mazmur 147:​19, 20) Sewaktu Allah menetapkan perjanjian baru atas dasar korban Yesus, bahkan bangsa Israel tidak lagi terikat kewajiban untuk menaati Hukum. (Galatia 3:​13; Efesus 2:​15; Kolose 2:​13, 14, 16) Maka, jika Hukum tidak berlaku lagi, apa yang Yehuwa minta dari orang-orang yang berhasrat melayani-Nya dewasa ini?

      Apa yang Yehuwa Minta

      3, 4. (a) Pada dasarnya, apa yang Yehuwa minta dari kita dewasa ini? (b) Mengapa kita harus mengikuti langkah-langkah Yesus dengan saksama?

      3 Selama tahun terakhir pelayanan Yesus, tiga rasulnya, Petrus, Yakobus, dan Yohanes menemaninya ke sebuah gunung yang tinggi, mungkin ke tebing Gunung Hermon. Di sana, mereka menyaksikan sebuah penglihatan yang bersifat nubuat tentang Yesus dalam kemuliaan yang besar dan mendengar suara Allah sendiri menyatakan, ”Inilah Putraku, yang dikasihi, yang aku perkenan; dengarkan dia.” (Matius 17:​1-5) Pada dasarnya, itulah yang Yehuwa minta dari kita​—untuk mendengarkan Putra-Nya serta mengikuti teladan dan ajarannya. (Matius 16:24) Oleh karena itu, rasul Petrus menulis, ”Kristus menderita bagimu, meninggalkanmu suatu model bagimu agar kamu mengikuti langkah-langkahnya dengan saksama.”​—1 Petrus 2:​21.

      4 Mengapa kita hendaknya mengikuti langkah-langkah Yesus dengan saksama? Karena dengan meniru dia, kita meniru Allah Yehuwa. Yesus sangat mengenal Bapaknya, mengingat ia telah bersama-sama Bapaknya di surga selama miliaran tahun sebelum datang ke bumi. (Amsal 8:​22-​31; Yohanes 8:​23; 17:5; Kolose 1:​15-​17) Sewaktu berada di bumi, Yesus dengan loyal mewakili Bapaknya. Ia menjelaskan, ”Tepat seperti yang telah diajarkan Bapak kepadaku aku berbicara hal-hal ini.” Bahkan, sedemikian persisnya Yesus meniru Yehuwa sampai-sampai ia dapat berkata, ”Ia yang telah melihat aku telah melihat Bapak juga.”​—Yohanes 8:28; 14:9.

      5. Orang-orang Kristen berada di bawah hukum apa, dan kapan hukum tersebut mulai berlaku?

      5 Apa yang tercakup dalam mendengarkan dan meniru Yesus? Apakah itu berarti berada di bawah suatu hukum? Paulus menulis, ”Aku sendiri tidak di bawah hukum.” Di sini, ia sedang merujuk pada ”perjanjian lama”, perjanjian Hukum yang dibuat dengan Israel. Paulus mengakui bahwa ia berada ”di bawah hukum terhadap Kristus”. (1 Korintus 9:​20, 21; 2 Korintus 3:​14) Dengan berakhirnya perjanjian Hukum yang lama, suatu ”perjanjian baru” mulai diberlakukan berikut ”hukum Kristus”nya yang wajib ditaati oleh semua hamba Yehuwa dewasa ini.​—Lukas 22:20; Galatia 6:2; Ibrani 8:7-13.

      6. Bagaimana saudara dapat menjelaskan apa ”hukum Kristus” itu, dan bagaimana kita dapat menaati hukum itu?

      6 Yehuwa tidak menyuruh agar ”hukum Kristus” dituangkan ke dalam bentuk kaidah ataupun disusun menjadi berbagai kategori, seperti halnya perjanjian Hukum yang lama. Hukum yang baru ini, yang ditujukan bagi para pengikut Kristus, tidak terdiri dari sederetan panjang peraturan. Akan tetapi, dalam Firman-Nya, Yehuwa mempunyai empat catatan terperinci tentang kehidupan dan pengajaran Putra-Nya. Selain itu, Allah mengilhami beberapa pengikut Yesus pada masa awal untuk menyediakan bimbingan tertulis tentang perilaku pribadi, urusan sidang, tingkah laku di dalam keluarga, dan soal-soal lain. (1 Korintus 6:​18; 14:​26-​35; Efesus 5:​21-​33; Ibrani 10:​24, 25) Dengan menyelaraskan kehidupan kita dengan teladan dan pengajaran Yesus Kristus serta mencamkan nasihat para penulis Alkitab yang terilham pada abad pertama, kita menaati ”hukum Kristus”. Inilah yang Yehuwa minta dari hamba-hamba-Nya dewasa ini.

      Pentingnya Kasih

      7. Bagaimana Yesus menandaskan inti dari hukumnya pada Paskah terakhir bersama rasul-rasulnya?

      7 Sementara kasih memang berperan penting dalam Hukum, kasih merupakan inti, atau ciri utama, hukum Kristus. Hal itu ditandaskan oleh Yesus sewaktu ia berkumpul bersama para rasulnya untuk merayakan Paskah pada tahun 33 M. Berdasarkan ulasan rasul Yohanes tentang peristiwa pada malam itu, kata-kata Yesus yang sepenuh hati berisi 28 rujukan tentang kasih. Hal itu menegaskan inti, atau hakikat, hukum Kristus kepada para rasulnya. Menarik, Yohanes mengawali liputannya tentang peristiwa pada malam yang penting ini, dengan mengatakan, ”Karena ia tahu sebelum festival paskah bahwa jamnya telah tiba baginya untuk pergi ke luar dari dunia ini kepada Bapak, Yesus, yang telah mengasihi miliknya sendiri yang ada dalam dunia, mengasihi mereka sampai ke akhir.”​—Yohanes 13:1.

      8. (a) Perbantahan yang berlarut-larut di antara rasul-rasul merupakan petunjuk akan hal apa? (b) Bagaimana Yesus mengajarkan kerendahan hati kepada para rasulnya?

      8 Yesus mengasihi para rasulnya, meskipun ia masih belum melihat hasil upayanya untuk membantu mereka mengatasi hasrat mereka yang berlebihan untuk mengejar kuasa dan kedudukan. Beberapa bulan sebelum mereka tiba di Yerusalem, ”mereka berbantah di antara mereka sendiri siapa yang lebih besar”. Dan, tepat sebelum mereka memasuki kota untuk Paskah, perbantahan tentang kedudukan muncul lagi. (Markus 9:​33-​37; 10:​35-​45) Berlarut-larutnya problem ini terlihat pada peristiwa yang terjadi tidak lama setelah para rasul memasuki kamar atas untuk bersama-sama mengadakan Paskah terakhir mereka. Ketika itu, tidak seorang pun memanfaatkan kesempatan untuk melayani tamu sesuai dengan kebiasaan setempat, yaitu membasuh kaki rekan-rekannya. Untuk mengajarkan kerendahan hati, Yesus membasuh kaki mereka.​—Yohanes 13:​2-​15; 1 Timotius 5:9, 10.

      9. Bagaimana Yehuwa menghadapi keadaan yang muncul setelah Paskah terakhir?

      9 Meskipun telah mendapatkan pelajaran tersebut, seusai perayaan Paskah dan Peringatan akan kematian Yesus yang mendekat, perhatikan apa lagi yang terjadi. Catatan Injil Lukas mengatakan, ”Timbul juga perbantahan yang sengit di antara mereka mengenai siapa dari antara mereka tampaknya adalah yang terbesar.” Sebaliknya daripada memarahi para rasul dan menghardik mereka, Yesus dengan ramah menasihati mereka tentang perlunya mereka berbeda dari para penguasa dunia ini yang haus kekuasaan. (Lukas 22:​24-​27) Kemudian, ia menyediakan apa yang dapat disebut fondasi hukum Kristus, dengan mengatakan, ”Aku memberikan kepadamu sebuah perintah baru, agar kamu mengasihi satu sama lain; sebagaimana aku telah mengasihi kamu, agar kamu juga mengasihi satu sama lain.”​—Yohanes 13:34.

      10. Perintah apa yang Yesus berikan kepada murid-muridnya, dan itu menyangkut hal apa?

      10 Kemudian, pada malam itu juga, Yesus menunjukkan seberapa luas jangkauan kasih yang diajarkannya. Ia mengatakan, ”Inilah perintahku, agar kamu mengasihi satu sama lain sebagaimana aku telah mengasihi kamu. Tidak seorang pun mempunyai kasih yang lebih besar daripada ini, bahwa seseorang menyerahkan jiwanya demi kepentingan sahabat-sahabatnya.” (Yohanes 15:​12, 13) Apakah Yesus mengatakan bahwa para pengikutnya hendaknya bersedia mati demi rekan-rekan seiman jika keadaan menuntut? Itulah yang dipahami Yohanes, seorang saksi mata pada peristiwa ini, karena ia belakangan menulis, ”Dengan ini kita mengetahui kasih, karena pribadi tersebut [Yesus Kristus] telah menyerahkan jiwanya bagi kita, dan kita wajib menyerahkan jiwa kita bagi saudara-saudara kita.”​—1 Yohanes 3:​16.

      11. (a) Bagaimana kita menggenapi hukum Kristus? (b) Teladan apa yang Yesus sediakan?

      11 Maka, untuk memenuhi hukum Kristus, kita tidak hanya dituntut untuk mengajar orang-orang lain tentang dia. Kita juga harus hidup dan berperilaku seperti Yesus. Memang, Yesus menggunakan kata-kata yang indah dan terpilih dalam ceramahnya. Namun, ia juga mengajar melalui teladan. Meskipun Yesus telah menjadi makhluk roh yang perkasa di surga, ia memanfaatkan kesempatan untuk melayani kepentingan Bapaknya di bumi dan untuk memperlihatkan bagaimana seharusnya kita menjalani hidup ini. Ia rendah hati, baik hati, dan bertimbang rasa, membantu orang-orang yang terbebani dan tertindas. (Matius 11:​28-​30; 20:28; Filipi 2:​5-8; 1 Yohanes 3:8) Dan, Yesus mendesak para pengikutnya untuk mengasihi satu sama lain, sebagaimana ia mengasihi mereka.

      12. Mengapa dapat dikatakan bahwa hukum Kristus tidak memperkecil kebutuhan untuk mengasihi Yehuwa?

      12 Kasih kepada Yehuwa​—perintah terbesar dalam Hukum​—berada di peringkat ke berapa dalam hukum Kristus? (Matius 22:​37, 38; Galatia 6:2) Peringkat kedua? Sama sekali tidak! Kasih kepada Yehuwa erat sekali kaitannya dengan kasih kepada rekan-rekan Kristen kita. Seseorang tidak dapat benar-benar mengasihi Yehuwa tanpa mengasihi saudaranya, karena rasul Yohanes menulis, ”Jika seseorang membuat pernyataan, ’Aku mengasihi Allah’, namun ia membenci saudaranya, ia adalah pendusta. Karena ia yang tidak mengasihi saudaranya yang ia lihat, tidak dapat mengasihi Allah, yang tidak ia lihat.”​—1 Yohanes 4:​20; bandingkan 1 Yohanes 3:​17, 18.

      13. Apa pengaruh dari ketaatan murid-murid kepada perintah baru Yesus?

      13 Sewaktu Yesus memberikan perintah baru kepada murid-muridnya untuk saling mengasihi sebagaimana ia mengasihi mereka, ia menjelaskan pengaruh perintah baru tersebut. ”Dengan inilah semua orang akan mengetahui bahwa kamu adalah murid-muridku,” kata Yesus, ”jika kamu mempunyai kasih di antara kamu sendiri.” (Yohanes 13:35) Menurut Tertullian, yang hidup lebih dari seratus tahun setelah kematian Yesus, kasih persaudaraan orang-orang Kristen pada masa awal mendatangkan pengaruh semacam itu. Tertullian mengutip pernyataan orang-orang non-Kristen tentang para pengikut Kristus, ’Lihatlah bagaimana mereka saling mengasihi satu sama lain dan bagaimana mereka bahkan rela mati untuk satu sama lain.’ Kita dapat menanyakan diri, ’Apakah saya memperlihatkan kasih demikian kepada rekan-rekan Kristen sehingga itu membuktikan bahwa saya adalah salah seorang murid Yesus?’

      Bagaimana Kita Membuktikan Kasih Kita

      14, 15. Apa yang dapat menyulitkan kita untuk menaati hukum Kristus, namun, apa yang dapat membantu kita untuk menaatinya?

      14 Sangatlah penting agar hamba-hamba Yehuwa memperlihatkan kasih yang Kristus perlihatkan. Namun, apakah saudara merasa sulit untuk mengasihi rekan-rekan Kristen yang memperlihatkan sifat mementingkan diri? Nah, seperti yang telah kita lihat, bahkan para rasul berbantah dan berupaya menomorsatukan kepentingan mereka sendiri. (Matius 20:​20-​24) Orang-orang Galatia juga saling berselisih. Setelah memperlihatkan bahwa kasih kepada sesama menggenapi Hukum, Paulus memperingatkan mereka, ”Namun, jika kamu terus menggigit dan melahap satu sama lain, berhati-hatilah agar kamu jangan dimusnahkan oleh satu sama lain.” Setelah mengontraskan pekerjaan daging dengan buah-buah roh Allah, Paulus menambahkan nasihat ini, ”Hendaklah kita tidak menganggap diri paling penting, membangkitkan persaingan dengan satu sama lain, dengki terhadap satu sama lain.” Kemudian sang rasul mendesak, ”Teruslah pikul beban satu sama lain, dan dengan demikian menggenapi hukum Kristus.”​—Galatia 5:14–6:2.

      15 Dengan menuntut untuk menaati hukum Kristus, apakah Yehuwa meminta terlalu banyak dari kita? Meskipun sulit untuk bersikap baik kepada orang-orang yang ketus terhadap kita dan menyakiti hati kita, kita wajib ’menjadi peniru-peniru Allah, sebagai anak-anak yang dikasihi’. (Efesus 5:​1, 2) Kita perlu terus mengacu pada teladan Allah, yang ”merekomendasikan kasihnya sendiri kepada kita dalam hal, sementara kita masih pedosa-pedosa, Kristus mati bagi kita”. (Roma 5:8) Dengan mengambil inisiatif untuk membantu orang-orang lain, termasuk orang-orang yang bersikap buruk terhadap kita, kita dapat menikmati kepuasan karena mengetahui bahwa kita meniru Allah dan taat kepada hukum Kristus.

      16. Bagaimana kita membuktikan kasih kita kepada Allah dan Kristus?

      16 Kita hendaknya mengingat bahwa kita membuktikan kasih kita melalui apa yang kita lakukan, bukan hanya melalui apa yang kita katakan. Bahkan, Yesus pernah merasa sulit menerima salah satu hal yang Allah kehendaki setelah mempertimbangkan segala hal yang terlibat. Yesus berdoa, ”Bapak, jika engkau mau, singkirkanlah cawan ini dariku.” Namun, ia segera menambahkan, ”Meskipun demikian, biarlah, bukan kehendakku, melainkan kehendakmu yang terjadi.” (Lukas 22:42) Meskipun mengalami segala penderitaan, Yesus melakukan kehendak Allah. (Ibrani 5:​7, 8) Ketaatan merupakan bukti kasih kita dan memperlihatkan bahwa kita mengakui bahwa hanya jalan Allah yang terbaik. ”Inilah arti kasih akan Allah,” kata Alkitab, ”bahwa kita menjalankan perintah-perintahnya.” (1 Yohanes 5:3) Dan, Yesus memberi tahu rasul-rasulnya, ”Jika kamu mengasihi aku, kamu akan menjalankan perintah-perintahku.”​—Yohanes 14:15.

      17. Perintah istimewa apa Yesus berikan kepada para pengikutnya, dan bagaimana hal itu berlaku bagi kita dewasa ini?

      17 Selain memerintahkan para pengikutnya untuk saling mengasihi, perintah khusus apa yang Yesus berikan kepada mereka? Ia memerintahkan agar mereka melakukan pekerjaan pengabaran dan ia telah memberikan pelatihan kepada mereka. Petrus berkata, ”Dia memerintahkan kami untuk memberitakan kepada orang-orang dan memberikan kesaksian yang saksama.” (Kisah 10:42) Yesus secara spesifik memerintahkan, ”Karena itu pergilah dan jadikanlah murid-murid dari orang-orang segala bangsa, membaptis mereka dalam nama Bapak dan Putra dan roh kudus, mengajar mereka untuk menjalankan semua perkara yang aku perintahkan kepadamu.” (Matius 28:​19, 20; Kisah 1:8) Yesus menyingkapkan bahwa instruksi demikian akan juga berlaku bagi para pengikutnya sekarang, pada ”akhir zaman”, karena ia mengatakan, ”Kabar baik kerajaan ini akan diberitakan di seluruh bumi yang berpenduduk untuk suatu kesaksian kepada semua bangsa; dan kemudian akhir itu akan datang.” (Daniel 12:4; Matius 24:14) Tentu saja, kehendak Allah adalah agar kita mengabar. Namun, beberapa mungkin berpikir bahwa dengan menuntut kita melakukan pekerjaan ini, terlalu banyak yang Allah minta dari kita. Benarkah demikian?

      Mengapa Tampaknya Sulit

      18. Apa yang hendaknya kita ingat bila kita menderita karena melakukan apa yang Yehuwa minta?

      18 Seperti yang telah kita lihat, Yehuwa telah meminta orang-orang untuk menyelaraskan diri dengan berbagai tuntutan-Nya sepanjang sejarah. Dan, sebagaimana apa yang diminta dari mereka bervariasi, demikian pula jenis pencobaan yang mereka alami. Putra yang Allah kasihi menjalani pencobaan yang paling sulit, akhirnya mati dengan cara yang paling kejam karena melakukan apa yang Allah minta. Namun, bila kita menderita karena melakukan apa yang Yehuwa minta dari kita, hendaknya kita ingat bahwa Ia bukanlah penyebab pencobaan atas diri kita. (Yohanes 15:​18-​20; Yakobus 1:​13-​15) Pemberontakan Setan mendatangkan dosa, penderitaan, dan dialah yang menciptakan keadaan yang sering mempersulit hamba-hamba-Nya untuk melakukan apa yang Yehuwa minta.​—Ayub 1:​6-​19; 2:​1-8.

      19. Mengapa merupakan suatu hak istimewa untuk melakukan apa yang Yehuwa minta dari kita melalui Putra-Nya?

      19 Melalui Putra-Nya, Yehuwa telah mengatur agar pada zaman akhir ini, hamba-hamba-Nya mengumumkan di seluas bumi bahwa satu-satunya penyelesaian bagi semua penderitaan manusia adalah pemerintahan Kerajaan. Pemerintahan Allah ini akan melenyapkan semua problem di atas bumi​—peperangan, kejahatan, kemiskinan, usia tua, penyakit, kematian. Kerajaan ini juga akan mendatangkan firdaus yang mulia di atas bumi, bahkan orang-orang yang mati akan dibangkitkan di sana. (Matius 6:​9, 10; Lukas 23:43; Kisah 24:15; Penyingkapan 21:​3, 4) Sungguh besar hak istimewa untuk memberitakan kabar baik tentang hal-hal seperti itu! Maka, jelaslah tidak ada salahnya kita melakukan apa yang Yehuwa minta. Kita menghadapi tentangan, namun Setan si Iblis dan dunianya yang menyebabkan hal ini.

      20. Bagaimana kita dapat menghadapi tantangan apa pun yang dilancarkan si Iblis?

      20 Bagaimana kita dapat dengan berhasil menghadapi tantangan apa pun yang dilancarkan Setan? Dengan mengingat kata-kata ini, ”Anakku, hendaklah engkau bijak, sukakanlah hatiku, supaya aku dapat menjawab orang yang mencela aku.” (Amsal 27:11) Yesus menyediakan jawaban bagi Yehuwa terhadap celaan Setan dengan meninggalkan keamanan di surga untuk melakukan kehendak Bapak-Nya di bumi. (Yesaya 53:12; Ibrani 10:7) Sebagai manusia, Yesus bertekun menanggung setiap pencobaan yang ditimpakan kepadanya, bahkan kematian di tiang siksaan. Jika kita meniru dia sebagai Teladan, kita juga dapat bertekun menanggung penderitaan dan melakukan apa yang Yehuwa minta dari kita.​—Ibrani 12:​1-3.

      21. Bagaimana perasaan saudara tentang kasih yang Yehuwa dan Putra-Nya perlihatkan?

      21 Sungguh besar kasih yang Allah dan Putra-Nya perlihatkan bagi kita! Karena korban Yesus, umat manusia yang taat memiliki prospek untuk hidup selama-lamanya di Firdaus. Maka, hendaklah kita tidak membiarkan apa pun mengaburkan harapan kita. Sebaliknya, marilah kita secara pribadi mencamkan apa yang dimungkinkan Yesus, seperti Paulus, yang mengatakan, ”Putra Allah . . . mengasihi aku dan menyerahkan dirinya bagiku.” (Galatia 2:​20) Dan, marilah kita memperlihatkan rasa syukur yang sepenuh hati kepada Allah kita, Yehuwa, yang pengasih yang tidak pernah meminta terlalu banyak dari kita.

Publikasi Menara Pengawal Bahasa Indonesia (1971-2025)
Log Out
Log In
  • Indonesia
  • Bagikan
  • Pengaturan
  • Copyright © 2025 Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania
  • Syarat Penggunaan
  • Kebijakan Privasi
  • Pengaturan Privasi
  • JW.ORG
  • Log In
Bagikan