PERPUSTAKAAN ONLINE Menara Pengawal
PERPUSTAKAAN ONLINE
Menara Pengawal
Indonesia
  • ALKITAB
  • PUBLIKASI
  • PERHIMPUNAN
  • Siapakah Yehuwa?
    Menara Pengawal—1993 | 15 Juli
    • Siapakah Yehuwa?

      ”SIAPAKAH Yehuwa?” Pertanyaan itu diajukan 3.500 tahun yang lalu oleh Firaun, raja Mesir, yang sombong. Keinginannya untuk menantang rupanya menggerakkan dia untuk menambahkan, ”Aku sama sekali tidak mengenal Yehuwa.” Dua orang pria yang ketika itu berdiri di hadapan Firaun mengenal siapa Yehuwa. Mereka adalah dua saudara kandung, Musa dan Harun, dari suku Lewi, Israel. Yehuwa telah mengutus mereka untuk meminta agar sang penguasa Mesir mengizinkan bangsa Israel pergi ke padang gurun untuk mengadakan perayaan religius.—Keluaran 5:1, 2, NW.

      Firaun tidak meminta jawaban atas pertanyaan yang diajukannya. Di bawah wewenangnya, para imam memajukan ibadat kepada ratusan dewa palsu. Ya, bahkan Firaun sendiri dianggap sebagai suatu allah! Menurut mitologi Mesir, ia adalah putra dewa matahari yang bernama Ra dan merupakan inkarnasi dari dewa berkepala elang, Horus. Firaun disapa dengan julukan seperti ”allah yang perkasa” dan ”yang kekal”. Maka, tidak mengherankan jika ia bertanya dengan sikap menghina, ”Siapakah Yehuwa, sehingga aku harus menaati Firman-Nya?”

      Musa dan Harun tidak perlu menjawab pertanyaan itu. Firaun tahu bahwa Yehuwa adalah Allah yang disembah bangsa Israel, yang ketika itu menderita di bawah perbudakan bangsa Mesir. Tetapi Firaun dan seluruh Mesir akan segera tahu bahwa Yehuwa adalah Allah yang sejati. Demikian pula dewasa ini, Yehuwa akan membuat nama dan keilahian-Nya diketahui semua orang di bumi. (Yehezkiel 36:23) Jadi, kita bisa memperoleh manfaat dengan memperhatikan bagaimana Allah Yehuwa membuat nama-Nya dimuliakan di Mesir purba.

      Lebih Unggul daripada Allah-Allah Mesir

      Ketika Firaun dengan sikap menantang menanyakan siapa Yehuwa itu, ia tidak menyangka akan menanggung akibat-akibatnya. Yehuwa sendiri yang menjawab pertanyaan itu dengan mendatangkan sepuluh tulah ke atas Mesir. Tulah-tulah itu bukan hanya pukulan bagi bangsa tersebut. Tulah-tulah itu juga merupakan pukulan bagi allah-allah Mesir.

      Tulah-tulah itu mendemonstrasikan keunggulan Yehuwa atas dewa-dewa Mesir. (Keluaran 12:12; Bilangan 33:4) Bayangkan kegemparan yang timbul ketika Yehuwa mengubah Sungai Nil serta seluruh air di Mesir menjadi darah! Karena mukjizat ini, Firaun serta rakyatnya belajar bahwa Yehuwa lebih unggul daripada dewa Sungai Nil, Hapi. Matinya ikan-ikan di Sungai Nil juga merupakan pukulan bagi agama Mesir, karena jenis ikan tertentu dipuja.—Keluaran 7:19-21.

      Kemudian, Yehuwa mendatangkan tulah katak ke atas Mesir. Ini mempermalukan dewi katak Mesir, Heqt. (Keluaran 8:5-14) Tulah ketiga memorak-porandakan para imam yang mempraktekkan ilmu gaib, yang tidak berhasil meniru mukjizat Yehuwa yaitu mengubah debu menjadi nyamuk. ”Inilah tangan Allah”, seru mereka. (Keluaran 8:16-19) Allah orang Mesir, Thoth, yang dipuja karena mencipta ilmu-ilmu gaib, tidak berhasil menolong para ahli nujum itu.

      Firaun mulai mengenal siapa Yehuwa itu. Yehuwa adalah Allah yang dapat menyatakan maksud-tujuan-Nya melalui Musa dan kemudian mencapainya dengan mendatangkan mukjizat berupa tulah-tulah ke atas Mesir. Yehuwa juga dapat memulai dan mengakhiri pukulan-pukulan tersebut sesuai dengan kehendak-Nya. Akan tetapi, pengetahuan ini tidak menggerakkan Firaun untuk tunduk kepada Yehuwa. Sebaliknya, penguasa Mesir yang angkuh itu dengan keras kepala terus menentang Yehuwa.

      Pada saat tulah keempat melanda, lalat pikat menghancurkan negeri itu dengan menyerang rumah-rumah dan kemungkinan memenuhi udara yang merupakan objek sembahan, yang dipersonifikasikan oleh dewa Shu atau dewi Isis, ratu surga. Kata Ibrani untuk serangga ini telah diterjemahkan sebagai ”lalat pikat”, ”lalat besar”, dan ”kumbang”. (Terjemahan Baru; New World Translation; Young) Jika kumbang skarab terlibat, bangsa Mesir mendapat tulah dari serangga yang mereka anggap suci, dan orang-orang tidak dapat berjalan-jalan tanpa menginjaknya. Bagaimanapun juga, tulah ini mengajar Firaun sesuatu yang baru berkenaan Yehuwa. Meski dewa-dewa Mesir tidak dapat melindungi para penyembahnya dari lalat pikat, Yehuwa dapat melindungi umat-Nya. Tulah ini dan semua tulah berikutnya menimpa bangsa Mesir, namun tidak demikian halnya dengan bangsa Israel.—Keluaran 8:20-24.

      Tulah kelima adalah penyakit sampar atas ternak milik orang Mesir. Pukulan ini mempermalukan Hathor, Apis, dan dewi angkasa, Nut, yang digambarkan sebagai sapi. (Keluaran 9:1-7) Tulah keenam mendatangkan barah atas manusia dan hewan, sehingga mempermalukan dewa Thoth, Isis, dan Ptah, yang dengan keliru dianggap memiliki kemampuan untuk menyembuhkan.—Keluaran 9:8-11.

      Tulah ketujuh adalah hujan es, dengan api yang menyambar di antara batu-batu es yang jatuh. Pukulan ini mempermalukan dewa Reshpu, yang konon merupakan tuan dari kilat, dan Thoth, yang dikatakan menjadi pengawas atas hujan dan guruh. (Keluaran 9:22-26) Pukulan yang kedelapan, tulah belalang, memperlihatkan keunggulan Yehuwa atas dewa kesuburan, Min, yang dianggap sebagai pelindung hasil panen. (Keluaran 10:12-15) Pukulan yang kesembilan, kegelapan selama tiga hari di Mesir, merendahkan dewa-dewa Mesir seperti dewa matahari Ra dan Horus.—Keluaran 10:21-23.

      Meskipun telah mengalami sembilan tulah yang menghancurkan itu, Firaun masih menolak untuk membebaskan bangsa Israel. Sifatnya yang keras hati ini harus dibayar mahal oleh bangsa Mesir ketika Allah mendatangkan tulah kesepuluh dan yang terakhir—kematian anak sulung dari manusia serta binatang. Bahkan putra sulung Firaun binasa, meski ia dipandang sebagai suatu allah. Dengan demikian Yehuwa ’menjatuhkan hukuman atas semua allah di Mesir’.—Keluaran 12:12, 29.

      Sekarang Firaun memanggil Musa dan Harun serta berkata, ”Bangunlah keluarlah dari tengah-tengah bangsaku, baik kamu maupun orang Israel; pergilah, beribadahlah kepada [Yehuwa], seperti katamu itu. Bawalah juga kambing dombamu dan lembu sapimu, seperti katamu itu, tetapi pergilah! Dan pohonkanlah juga berkat bagiku.”—Keluaran 12:31, 32.

      Pelindung Umat-Nya

      Bangsa Israel berangkat, namun tak lama kemudian bagi Firaun mereka tampaknya mengembara tanpa tujuan di padang gurun. Ia dan para pegawainya kini bertanya, ”Apakah yang telah kita perbuat ini, bahwa kita membiarkan orang Israel pergi dari perbudakan kita?” (Keluaran 14:3-5) Hilangnya bangsa yang diperbudak ini akan menjadi pukulan ekonomi yang berat bagi Mesir.

      Firaun mengumpulkan tentaranya lalu mengejar bangsa Israel ke Pi-Hahirot. (Keluaran 14:6-9) Dari segi militer, situasi tampaknya menguntungkan orang Mesir karena bangsa Israel terperangkap antara laut dan pegunungan. Namun Yehuwa bertindak untuk melindungi bangsa Israel dengan menaruh sebuah tiang awan di antara mereka dan orang-orang Mesir. Dari sisi orang Mesir, ”awan itu menimbulkan kegelapan”, dengan demikian menghalangi penyerangan. Di sisi lainnya, awan tersebut terang, ”menerangi malam” bagi bangsa Israel.—Keluaran 14:10-20, NW.

      Orang-orang Mesir bertekad untuk merampas dan membinasakan namun dihalangi oleh awan tersebut. (Keluaran 15:9) Ketika awan itu terangkat, sungguh menakjubkan! Air Laut Merah telah terbelah, dan bangsa Israel sedang menyeberangi tanah yang kering ke dataran di seberang! Firaun serta pasukannya segera memacu ke dasar laut, bertekad untuk menangkap dan menjarah bekas budak-budak mereka. Akan tetapi, penguasa Mesir yang sombong itu telah meremehkan Allah bangsa Ibrani. Yehuwa mulai mengacaubalaukan orang-orang Mesir dengan membuat roda-roda kereta perang mereka terlepas.—Keluaran 14:21-25a.

      ”Marilah kita lari meninggalkan orang Israel,” seru pria-pria Mesir yang perkasa, ”sebab [Yehuwa]-lah yang berperang untuk mereka melawan Mesir.” Firaun dan orang-orangnya menjadi sadar, namun terlambat. Setelah sampai dengan selamat di pantai seberang, Musa mengulurkan tangannya ke atas laut, dan airnya pun kembali seperti semula, membinasakan Firaun beserta pasukannya.—Keluaran 14:25b-28.

      Belajar dari Pengalaman

      Jadi, siapakah Yehuwa? Firaun yang sombong mendapat jawaban atas pertanyaan itu. Peristiwa-peristiwa di Mesir memperlihatkan bahwa Yehuwa adalah satu-satunya Allah yang sejati, sama sekali berbeda dari ’segala allah bangsa-bangsa yang adalah hampa’. (Mazmur 96:4, 5) Melalui kuasanya yang mengagumkan, Yehuwa ”menjadikan langit dan bumi”. Ia juga adalah Pemelihara Agung, Pribadi yang ’membawa umat-Nya Israel ke luar dari tanah Mesir dengan tanda-tanda dan mukjizat-mukjizat, dengan tangan yang kuat dan kedahsyatan yang besar’. (Yeremia 32:17-21) Ini benar-benar membuktikan bahwa Yehuwa sanggup melindungi umat-Nya!

      Firaun mendapat pelajaran itu melalui pengalaman pahit. Malahan, pelajaran terakhir meminta korban nyawanya sendiri. (Mazmur 136:1, 15) Seharusnya ia lebih bijaksana dengan menunjukkan kerendahan hati ketika bertanya, ”Siapakah Yehuwa?” Kemudian penguasa itu seharusnya bertindak selaras dengan jawaban yang diterimanya. Syukurlah banyak orang yang rendah hati dewasa ini sedang mempelajari siapa Yehuwa itu. Dan kepribadian macam apa yang dimiliki-Nya? Apa yang Ia tuntut dari kita? Semoga jawaban yang terdapat dalam artikel berikut ini meningkatkan penghargaan saudara kepada satu-satunya Pribadi yang bernama Yehuwa.—Mazmur 83:19.

      [Keterangan Gambar di hlm. 3]

      Pictorial Archive (Near Eastern History) Est.

  • Yehuwa​—Allah yang Sejati dan Hidup
    Menara Pengawal—1993 | 15 Juli
    • Yehuwa​—Allah yang Sejati dan Hidup

      FIRAUN dari Mesir berkata dengan sikap menantang dan mencela ketika ia bertanya, ”Siapakah Yehuwa?” (Keluaran 5:2, NW) Sebagaimana telah diperlihatkan dalam artikel sebelumnya, sikap itu mendatangkan tulah dan kematian atas bangsa Mesir, termasuk terkubur dalam air bagi Firaun beserta kekuatan militernya.

      Di Mesir purba, Allah Yehuwa membuktikan keunggulan-Nya atas allah-allah palsu. Namun masih banyak yang perlu diketahui tentang-Nya. Apa beberapa segi dari kepribadian-Nya? Dan apa yang Ia tuntut dari kita?

      Nama dan Kemasyhuran-Nya

      Ketika mengajukan permintaan kepada Firaun Mesir, Musa tidak berkata, ’Tuhan berkata ini dan itu.’ Firaun dan orang-orang Mesir lainnya menganggap allah palsu mereka yang banyak sebagai tuhan-tuhan. Tidak, Musa menggunakan nama ilahi, Yehuwa. Ia sendiri telah mendengar nama itu disebutkan dari atas ketika ia berada di semak yang terbakar di tanah Midian. Catatan yang terilham berkata,

      ”Selanjutnya berfirmanlah Allah kepada Musa: ’Akulah [Yehuwa]. . . . Aku sudah mendengar juga erang orang Israel yang telah diperbudak oleh orang Mesir, dan Aku ingat kepada perjanjianKu. Sebab itu katakanlah kepada orang Israel: Akulah [Yehuwa], Aku akan membebaskan kamu dari kerja paksa orang Mesir, melepaskan kamu dari perbudakan mereka dan menebus kamu dengan tangan yang teracung dan dengan hukuman-hukuman yang berat. Aku akan mengangkat kamu menjadi umatKu dan Aku akan menjadi Allahmu, supaya kamu mengetahui, bahwa Akulah, [Yehuwa], Allahmu, yang membebaskan kamu dari kerja paksa orang Mesir. Dan Aku akan membawa kamu ke negeri [Kanaan] yang dengan sumpah telah Kujanjikan memberikannya kepada [nenek moyangmu,] Abraham, Ishak dan Yakub, dan Aku akan memberikannya kepadamu untuk menjadi milikmu; Akulah [Yehuwa].’”—Keluaran 5:24–6:1-7.

      Hal itulah yang tepatnya dilakukan Yehuwa. Ia membebaskan bangsa Israel dari perbudakan Mesir dan memungkinkan mereka memiliki negeri Kanaan. Sebagaimana dijanjikan, Allah menyebabkan semua ini terjadi. Sungguh tepat! Nama-Nya, Yehuwa, berarti ”Ia yang Menjadikan Ada”. Alkitab menyapa Yehuwa dengan panggilan seperti ”Allah”, ”Tuhan yang Berdaulat”, ”Pencipta”, ”Bapa”, ”Yang Mahakuasa”, dan ”Yang Maha Tinggi”. Meskipun demikian, nama-Nya yang adalah Yehuwa menyatakan Dia sebagai Allah yang sejati, yang dengan progresif membuat maksud-tujuan-Nya yang mulia terlaksana.—Yesaya 42:8.

      Jika kita membaca Alkitab dalam bahasa aslinya, kita akan menemukan nama Allah ribuan kali. Dalam bahasa Ibrani, Ia dinyatakan dalam empat huruf konsonan Yod He Waw He (יהוה), yang disebut Tetragramaton, dibaca dari kanan ke kiri. Mereka yang berbahasa Ibrani menyisipkan bunyi vokal, namun dewasa ini orang-orang tidak tahu secara pasti vokal apa yang digunakan. Meski beberapa orang lebih senang menggunakan ejaan Yahweh, bentuk Yehuwa sudah umum dan cocok untuk mengidentifikasikan Pencipta kita.

      Penggunaan nama Yehuwa juga membedakan Allah dari pribadi yang disebut ”Tuhanku” dalam Mazmur 110:1, yang dinyatakan dalam sebuah terjemahan, ”TUHAN [Ibrani, יהוה] berfirman kepada Tuhanku, Duduklah di kananKu, sampai Aku membuat musuh-musuhmu menjadi alas kakimu.” (King James Version) Dengan mengakui keberadaan nama Allah di sini dalam ayat Ibraninya, New World Translation berbunyi, ”Perkataan Yehuwa kepada Tuhanku adalah, ’Duduklah di sebelah kananKu sampai Aku menempatkan musuh-musuhmu sebagai alas bagi kakimu.’” Kata-kata dari Allah Yehuwa ini secara nubuat ditujukan kepada Yesus Kristus, yang disapa oleh sang penulis sebagai ”Tuhanku”.

      Yehuwa membuat nama bagi diri-Nya sendiri pada zaman Firaun. Melalui Musa, Allah berkata kepada penguasa yang keras hati itu, ”Sekali ini Aku akan melepaskan segala tulahKu terhadap engkau sendiri, terhadap pegawai-pegawaimu dan terhadap rakyatmu, dengan maksud supaya engkau mengetahui, bahwa tidak ada yang seperti Aku di seluruh bumi. Bukankah sudah lama Aku dapat mengacungkan tanganKu untuk membunuh engkau dan rakyatmu dengan penyakit sampar, sehingga engkau terhapus dari atas bumi; akan tetapi inilah sebabnya Aku membiarkan engkau hidup, yakni supaya memperlihatkan kepadamu kekuatanKu, dan supaya namaKu dimasyhurkan di seluruh bumi.”—Keluaran 9:14-16.

      Berkenaan eksodus bangsa Israel dari Mesir dan digulingkannya raja-raja Kanaan tertentu, Rahab wanita Yerikho berkata kepada dua mata-mata Ibrani, ”Aku tahu, bahwa [Yehuwa] telah memberikan negeri ini kepada kamu [bangsa Israel] dan bahwa kengerian terhadap kamu telah menghinggapi kami dan segala penduduk negeri ini gemetar menghadapi kamu. Sebab kami mendengar, bahwa [Yehuwa] telah mengeringkan air Laut Teberau di depan kamu, ketika kamu berjalan keluar dari Mesir, dan apa yang kamu lakukan kepada kedua raja orang Amori yang di seberang sungai Yordan itu, yakni kepada Sihon dan Og, yang telah kamu tumpas. Ketika kami mendengar itu, tawarlah hati kami dan jatuhlah semangat setiap orang menghadapi kamu, sebab [Yehuwa], Allahmu, ialah Allah di langit di atas dan di bumi di bawah.” (Yosua 2:9-11) Ya, kemasyhuran Yehuwa telah menyebar.

      Yehuwa dan Sifat-sifat-Nya

      Sang pemazmur menyatakan harapannya yang sepenuh hati, ”Supaya mereka tahu bahwa Engkau sajalah yang bernama [Yehuwa], Yang Mahatinggi atas seluruh bumi.” (Mazmur 83:19) Karena kedaulatan Yehuwa bersifat universal, para pengikut Yesus yang dianiaya dapat berdoa, ”Ya Tuhan [yang berdaulat, NW], Engkaulah yang menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya.” (Kisah 4:24) Dan betapa menghibur untuk mengetahui bahwa Yehuwa adalah ’Pendengar doa’!—Mazmur 65:3.

      Sifat utama Yehuwa adalah kasih. Sungguh, ”Allah adalah kasih”—contoh yang sempurna dari sifat ini. (1 Yohanes 4:8) Sebagai tambahan, ”pada Allahlah hikmat dan kekuatan”. Yehuwa sepenuhnya berhikmat dan sepenuhnya berkuasa, tetapi Ia tidak pernah menyalahgunakan kekuasaan-Nya. (Ayub 12:13; 37:23) Kita juga dapat merasa yakin bahwa Yehuwa akan selalu adil dalam berurusan dengan kita, karena ”keadilan [”keadilbenaran”, NW] dan hukum adalah tumpuan takhtaNya”. (Mazmur 97:2) Jika kita berbuat salah namun bertobat, kita dapat merasa terhibur karena mengetahui bahwa Yehuwa adalah ”Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasihNya dan setiaNya”. (Keluaran 34:6) Tidak mengherankan kita dapat memperoleh sukacita dalam melayani Yehuwa!—Mazmur 100:1-5.

      Raja Surgawi yang Tak Ada Bandingannya

      Putra Yehuwa, Yesus Kristus, berkata, ”Allah itu Roh.” (Yohanes 4:24) Dengan demikian, Yehuwa tidak dapat dilihat oleh mata manusia. Malahan, Yehuwa berkata kepada Musa, ”Engkau tidak tahan memandang wajahKu, sebab tidak ada orang yang memandang Aku dapat hidup.” (Keluaran 33:20) Raja surgawi ini begitu mulia sehingga manusia tidak akan dapat tahan memandang-Nya.

      Meski Yehuwa tidak dapat dilihat oleh mata kita, ada banyak bukti dari keberadaan-Nya sebagai Allah Yang Mahakuasa. Ya, ”apa yang tidak nampak dari padaNya, yaitu kekuatanNya yang kekal dan keilahianNya, dapat nampak kepada pikiran dari karyaNya sejak dunia diciptakan.” (Roma 1:20) Bumi—dengan rerumputan, pepohonan, buah-buahan, sayur-mayur, dan bunga-bunganya—memberi kesaksian akan keilahian Yehuwa. Tidak seperti allah-allah berhala yang tidak berharga, Yehuwa memberikan hujan dan musim-musim yang subur. (Kisah 14:16, 17) Tataplah bintang-bintang pada malam hari. Sungguh suatu bukti yang agung berkenaan keilahian Yehuwa dan kemampuan-Nya berorganisasi!

      Yehuwa juga telah mengorganisasi makhluk-makhluk rohani-Nya yang cerdas dan kudus di surga. Sebagai suatu organisasi yang harmonis, mereka melaksanakan kehendak Allah, sebagaimana sang pemazmur katakan, ”Pujilah [Yehuwa], hai malaikat-malaikatNya, hai pahlawan-pahlawan perkasa yang melaksanakan firmanNya dengan mendengarkan suara firmanNya. Pujilah [Yehuwa], hai segala tentaraNya, hai pejabat-pejabatNya yang melakukan kehendakNya.” (Mazmur 103:20, 21) Yehuwa juga telah mengorganisasi umat-Nya di bumi. Bangsa Israel telah diorganisasi dengan baik, juga para pengikut Putra Allah pada masa awal. Demikian pula dewasa ini, Yehuwa memiliki organisasi seluas dunia yang terdiri dari Saksi-Saksi yang bergairah, yang memberitakan kabar baik bahwa Kerajaan-Nya sudah dekat.—Matius 24:14.

      Yehuwa Adalah Allah yang Sejati dan Hidup

      Keilahian Yehuwa telah dinyatakan dengan begitu banyak cara! Ia mempermalukan allah-allah palsu dari Mesir dan menuntun bangsa Israel memasuki Negeri Perjanjian dengan selamat. Ciptaan memberi bukti yang limpah akan keilahian Yehuwa. Dan sama sekali tidak ada yang dapat dibandingkan antara Dia dengan allah-allah berhala yang sia-sia dari agama-agama palsu.

      Nabi Yeremia memperlihatkan perbedaan yang mencolok antara Yehuwa, Allah yang hidup, dengan berhala-berhala mati buatan manusia. Perbedaan itu digambarkan dengan baik dalam Yeremia pasal 10. Antara lain, Yeremia menulis, ”[Yehuwa] adalah Allah yang benar, Dialah Allah yang hidup dan Raja yang kekal.” (Yeremia 10:10) Allah yang hidup dan sejati, Yehuwa, telah menciptakan segala sesuatu. Ia telah menyelamatkan bangsa Israel yang menderita di bawah perbudakan Mesir. Tidak ada yang mustahil bagi-Nya.

      Yehuwa, ”Raja yang kekal”, akan menjawab doa, ”Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah namaMu, datanglah KerajaanMu, jadilah kehendakMu di bumi seperti di sorga.” (1 Timotius 1:17, NW; Matius 6:9, 10) Kerajaan Mesias surgawi, yang sudah berada di tangan Yesus Kristus, segera akan mengambil tindakan melawan yang jahat dan membinasakan semua musuh Yehuwa. (Daniel 7:13, 14) Kerajaan itu juga akan mendatangkan dunia baru penuh berkat yang tak ada habis-habisnya bagi umat manusia yang patuh.—2 Petrus 3:13.

      Masih banyak yang perlu diketahui tentang Yehuwa dan maksud-tujuan-Nya. Mengapa saudara tidak membuat tekad untuk mendapatkan pengetahuan demikian dan bertindak selaras dengannya? Jika saudara melakukan hal ini, saudara akan mendapat hak istimewa untuk menikmati kehidupan kekal dalam bumi firdaus di bawah pemerintahan Kerajaan. Saudara akan hidup ketika kesedihan, kesakitan, bahkan kematian telah berlalu dan pengetahuan akan Yehuwa memenuhi bumi. (Yesaya 11:9; Wahyu 21:1-4) Itu bisa menjadi masa depan saudara jika saudara mencari, menemukan, dan bertindak selaras dengan jawaban-jawaban yang berdasarkan Alkitab atas pertanyaan, ”Siapakah Yehuwa?”

      [Keterangan Gambar di hlm. 7]

      Pictorial Archive (Near Eastern History) Est.

Publikasi Menara Pengawal Bahasa Indonesia (1971-2025)
Log Out
Log In
  • Indonesia
  • Bagikan
  • Pengaturan
  • Copyright © 2025 Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania
  • Syarat Penggunaan
  • Kebijakan Privasi
  • Pengaturan Privasi
  • JW.ORG
  • Log In
Bagikan