PERPUSTAKAAN ONLINE Menara Pengawal
PERPUSTAKAAN ONLINE
Menara Pengawal
Indonesia
  • ALKITAB
  • PUBLIKASI
  • PERHIMPUNAN
  • Perdamaian yang Sejati​—Dari Sumber Mana?
    Menara Pengawal—1997 | 15 April
    • Perdamaian yang Sejati​—Dari Sumber Mana?

      ”[Yehuwa] menghentikan peperangan sampai ke ujung bumi.”​—MAZMUR 46:10.

      1. Janji menakjubkan apa berkenaan perdamaian yang kita dapatkan dalam nubuat Yesaya?

      ”DI MANA ada kebenaran di situ akan tumbuh damai sejahtera, dan akibat kebenaran ialah ketenangan dan ketenteraman untuk selama-lamanya. Bangsaku akan diam di tempat yang damai, di tempat tinggal yang tenteram di tempat peristirahatan yang aman.” (Yesaya 32:17, 18) Alangkah indahnya janji ini! Ini adalah sebuah janji tentang perdamaian yang sejati yang didatangkan oleh Allah.

      2, 3. Gambarkan perdamaian yang sejati.

      2 Namun, apa sebenarnya perdamaian yang sejati? Apakah ini sekadar tidak adanya perang? Atau apakah ini hanya suatu periode ketika bangsa-bangsa mempersiapkan perang berikutnya? Apakah perdamaian yang sejati hanya impian? Jawaban yang dapat diandalkan atas pertanyaan-pertanyaan tersebut perlu kita dapatkan. Pertama, perdamaian yang sejati lebih daripada sekadar impian. Perdamaian yang dijanjikan Allah jauh melampaui segala sesuatu yang dapat dibayangkan dunia ini. (Yesaya 64:4) Ini bukan perdamaian untuk beberapa tahun atau beberapa dekade. Perdamaian ini berlangsung selama-lamanya! Dan ini bukan perdamaian hanya untuk beberapa orang yang beruntung—ini mencakup langit dan bumi, malaikat dan manusia. Ini menjangkau orang-orang dari segala bangsa, kelompok etnik, bahasa, dan warna kulit. Ia tidak mengenal tapal batas, penghalang, ataupun kegagalan.—Mazmur 72:7, 8; Yesaya 48:18.

      3 Perdamaian yang sejati berarti damai setiap hari. Ini berarti saudara bangun setiap pagi tanpa sedikit pun memikirkan perang, tanpa perlu merasa khawatir tentang masa depan saudara, masa depan anak-anak saudara, bahkan masa depan cucu-cucu saudara. Ini berarti kedamaian pikiran sepenuhnya. (Kolose 3:15) Ini berarti tidak ada lagi kejahatan, tidak ada lagi kekerasan, tidak ada lagi keluarga yang berantakan, tidak ada lagi tunawisma, tidak ada lagi orang yang mati kelaparan atau kedinginan, dan tidak ada lagi keputusasaan dan frustrasi. Bahkan, perdamaian dari Allah berarti suatu dunia tanpa penyakit, rasa sakit, kesedihan, atau kematian. (Penyingkapan 21:4) Sungguh suatu harapan yang luar biasa yang kita miliki untuk menikmati kedamaian yang sejati selama-lamanya! Bukankah kedamaian dan kebahagiaan semacam ini yang kita semua dambakan? Bukankah kedamaian semacam ini yang hendaknya kita doakan dan upayakan?

      Upaya-Upaya Umat Manusia yang Gagal

      4. Upaya-upaya apa demi perdamaian telah dikerahkan bangsa-bangsa, dan dengan hasil-hasil apa?

      4 Selama berabad-abad, manusia dan bangsa-bangsa telah membicarakan perdamaian, telah memperdebatkan perdamaian, telah menandatangani ratusan perjanjian perdamaian. Apa hasilnya? Selama 80 tahun terakhir, hampir tidak pernah terdapat saat manakala bangsa atau kelompok tertentu tidak terlibat dalam perang. Jelaslah, perdamaian telah menjauh dari manusia. Maka timbul pertanyaan: Mengapa segala upaya manusia untuk mendirikan perdamaian internasional gagal, dan mengapa manusia tidak sanggup mendatangkan perdamaian yang sejati yang akan bertahan lama?

      5. Mengapa upaya-upaya perdamaian umat manusia senantiasa gagal?

      5 Jawabannya sederhana saja yaitu bahwa umat manusia tidak berpaling kepada sumber yang benar untuk perdamaian yang sejati. Di bawah pengaruh Setan si Iblis, manusia telah mendirikan organisasi-organisasi yang dirongrong oleh kelemahan dan kebejatan mereka sendiri—ketamakan dan ambisi serta obsesi mereka untuk kekuasaan dan keunggulan. Mereka telah mengembangkan lembaga-lembaga pendidikan yang lebih tinggi dan mendirikan berbagai yayasan dan organisasi penelitian, yang hanya memikirkan lebih banyak cara untuk menindas dan membinasakan. Ke sumber mana manusia telah diarahkan? Ke mana mereka berharap?

      6, 7. (a) Riwayat apa yang dibuat Liga Bangsa-Bangsa bagi dirinya? (b) Bagaimana riwayat dari Perserikatan Bangsa-Bangsa?

      6 Pada tahun 1919 bangsa-bangsa menaruh kepercayaan mereka pada Liga Bangsa-Bangsa untuk mewujudkan perdamaian yang permanen. Harapan tersebut dibuyarkan oleh invasi Mussolini atas Etiopia pada tahun 1935 dan perang sipil di Spanyol yang dimulai pada tahun 1936. Liga ini kandas dengan pecahnya Perang Dunia II pada tahun 1939. Apa yang disebut sebagai perdamaian bahkan tidak mencapai usia 20 tahun.

      7 Bagaimana dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa? Apakah ini telah menyediakan harapan sejati akan perdamaian yang bertahan lama di seluas bumi? Sama sekali tidak. Lebih dari 150 peperangan dan konflik bersenjata telah berkecamuk sejak kelahirannya pada tahun 1945! Tidak mengherankan bahwa Gwynne Dyer, seorang mahasiswa berkebangsaan Kanada, yang mempelajari perang dan asal mulanya, menggambarkan PBB sebagai ”suatu perkumpulan pemburu gelap yang menjadi wasit adu binatang, bukan kumpulan dari para santo”, dan ”suatu lembaga yang hanya banyak bicara”.—Bandingkan Yeremia 6:14; 8:15.

      8. Meskipun adanya pembicaraan tentang perdamaian, apa yang telah dilakukan bangsa-bangsa? (Yesaya 59:8)

      8 Meskipun adanya pembicaraan tentang perdamaian, bangsa-bangsa terus menciptakan dan memproduksi senjata. Negeri-negeri yang mensponsori konferensi-konferensi perdamaian sering kali justru adalah pihak yang paling depan dalam memproduksi senjata. Demi keuntungan dagang yang besar, negeri-negeri ini menyokong produksi persenjataan maut, termasuk ranjau-ranjau darat yang sadis yang setiap tahun membunuh atau melumpuhkan kira-kira 26.000 penduduk sipil dewasa dan anak-anak. Ketamakan dan kebejatan adalah daya pendorongnya. Suap dan uang pelicin adalah paket utama dari perdagangan persenjataan internasional. Beberapa politisi memperkaya diri mereka dari sumber ini.

      9, 10. Apa yang telah diamati oleh para pakar dunia sehubungan dengan peperangan dan upaya-upaya manusia?

      9 Pada bulan Desember 1995, fisikawan asal Polandia sekaligus pemenang Hadiah Nobel Perdamaian, Joseph Rotblat, mengimbau agar bangsa-bangsa mengakhiri perlombaan senjata. Ia mengatakan, ”Satu-satunya cara untuk mencegah [perlombaan senjata baru] adalah dengan menyingkirkan perang sama sekali.” Menurut saudara apakah hal ini mungkin terjadi? Sejak tahun 1928 dan seterusnya, 62 bangsa menyetujui Pakta Kellogg-Briand, yang menolak perang sebagai cara untuk mengatasi perselisihan antarbangsa. Perang Dunia II dengan jelas memperlihatkan bahwa pakta ini tidak lebih dari secarik kertas belaka.

      10 Tidak dapat disangkal lagi, peperangan senantiasa menjadi batu sandungan di jalan sejarah umat manusia. Seperti yang ditulis Gwynne Dyer, ”perang adalah lembaga sentral dalam peradaban umat manusia, dan ini memiliki sejarah yang benar-benar seusia dengan peradaban”. Ya, hampir setiap peradaban dan imperium memiliki pahlawan-pahlawan militer yang dihormati, bala tentaranya yang siap siaga, pertempurannya yang terkenal, akademi militernya yang istimewa, dan timbunan senjatanya. Akan tetapi, perang telah menjadi ciri yang menonjol dari abad kita dibandingkan dengan abad-abad lain, baik dalam daya penghancurnya maupun dalam hal korban jiwa.

      11. Faktor dasar apa telah diabaikan para pemimpin dunia dalam mengejar perdamaian?

      11 Jelaslah bahwa para pemimpin dunia telah melalaikan hikmat dasar dari Yeremia 10:23, ”Aku tahu, ya TUHAN, bahwa manusia tidak berkuasa untuk menentukan jalannya, dan orang yang berjalan tidak berkuasa untuk menetapkan langkahnya.” Bila Allah tidak diikutsertakan, mustahil akan ada perdamaian yang sejati. Maka, apakah semua ini berarti bahwa peperangan tidak terelakkan dalam masyarakat beradab? Apakah ini berarti bahwa perdamaian—perdamaian yang sejati—adalah impian yang mustahil?

      Menemukan Akar Penyebabnya

      12, 13. (a) Apa yang Alkitab singkapkan sebagai penyebab dasar yang tidak kelihatan dari perang? (b) Bagaimana Setan telah memalingkan perhatian umat manusia dari jalan keluar yang sebenarnya bagi problem-problem dunia?

      12 Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, kita perlu memahami penyebab perang. Alkitab dengan jelas menyatakan bahwa Setan si malaikat pemberontak adalah ”pembantai manusia” dan ”pendusta” yang semula dan bahwa ”seluruh dunia terletak dalam kuasa si fasik”. (Yohanes 8:44; 1 Yohanes 5:19) Apa yang telah ia lakukan untuk mempropagandakan rencana-rencananya? Kita membaca di 2 Korintus 4:3, 4, ”Jika kabar baik yang kami nyatakan sebenarnya terselubung, ini terselubung di antara mereka yang akan binasa, di antara merekalah allah sistem perkara ini telah membutakan pikiran orang-orang yang tidak percaya, agar penerangan dari kabar baik yang mulia mengenai Kristus, yang adalah gambar Allah, tidak bersinar menembus.” Setan melakukan segala cara yang ada untuk memalingkan perhatian manusia dari Kerajaan Allah sebagai jalan keluar bagi problem-problem dunia. Ia membutakan dan menyimpangkan orang-orang dengan masalah-masalah sosial, politik, dan agama yang memecah-belah, sehingga hal ini tampaknya menjadi lebih penting daripada pemerintahan Allah. Contohnya adalah gelombang nasionalisme yang terjadi baru-baru ini di seluruh dunia.

      13 Setan si Iblis mempropagandakan nasionalisme dan sukuisme, kepercayaan akan keunggulan dari suatu bangsa, ras, atau suku dibandingkan dengan yang lain-lain. Kebencian yang berurat-berakar yang terpendam selama berabad-abad kini meledak sehingga mengobarkan lebih banyak perang dan konflik. Federico Mayor, direktur jenderal dari UNESCO, memperingatkan akan kecenderungan ini, ”Bahkan di tempat yang dahulunya ada toleransi, suatu perubahan ke arah xenofobia (perasaan takut terhadap orang asing) menjadi lebih nyata, dan ungkapan-ungkapan sovinis (cinta tanah air secara membabi buta) atau rasial yang tampaknya sudah ketinggalan zaman kini terdengar semakin sering.” Apa yang telah menjadi akibatnya? Pembantaian yang mengerikan di bekas Yugoslavia dan pertumpahan darah antarsuku di Rwanda adalah dua contoh perkembangan yang telah menjadi berita dunia.

      14. Bagaimana Penyingkapan 6:4 melukiskan perang dan pengaruhnya pada zaman kita?

      14 Alkitab menubuatkan bahwa pada masa akhir dari sistem ini, seekor kuda berwarna merah menyala, yang melambangkan perang, akan mulai menderapkan langkahnya di seluruh bumi. Kita membaca di Penyingkapan 6:4, ”Yang lain muncul, seekor kuda berwarna merah menyala; dan kepada pribadi yang duduk di atasnya telah diperkenankan untuk mengambil perdamaian dari bumi sehingga mereka membantai satu sama lain; dan sebilah pedang besar diberikan kepadanya.” Sejak tahun 1914, kita telah melihat penunggang kuda simbolis ini ”mengambil perdamaian”, dan bangsa-bangsa terus bertikai dan berperang.

      15, 16. (a) Apa peran agama dalam peperangan dan pembunuhan? (b) Bagaimana perasaan Yehuwa terhadap apa yang telah dilakukan agama-agama?

      15 Apa yang tidak boleh diabaikan adalah peran agama dalam peperangan dan pembunuhan ini. Sejarah manusia yang bersimbah darah menjelaskan bahwa pada umumnya penyebabnya adalah pengaruh yang menyesatkan dari agama palsu. Teolog Katolik Hans Küng menulis, ”Tidak dapat dibantah bahwa [agama] telah memiliki dan masih membuat pengaruh yang sangat negatif serta menghancurkan atas umat manusia. Memang mereka bertanggung jawab atas begitu banyak perjuangan, pertikaian berdarah, dan ’peperangan agama’;  . . dan hal ini juga bertanggung jawab atas dua perang dunia.”

      16 Bagaimana perasaan Allah Yehuwa sehubungan dengan peran agama dalam pembunuhan dan peperangan? Vonis Allah atas agama palsu, yang dicatat di Penyingkapan 18:5, menyatakan, ”Dosa-dosanya telah bertimbun-timbun sampai naik ke langit, dan Allah telah mengingat tindakan-tindakan ketidakadilannya.” Persekongkolan agama palsu dengan para penguasa politik dari dunia ini telah menghasilkan pertumpahan darah demikian, sejumlah besar dosa yang bertimbun-timbun, yang tidak dapat Allah abaikan begitu saja. Ia akan segera melenyapkan sepenuhnya balok sandungan yang merintangi proses menuju perdamaian yang sejati ini.—Penyingkapan 18:21.

      Upaya Menuju Perdamaian

      17, 18. (a) Mengapa bukan semata-mata suatu impian yang tidak realistis untuk percaya bahwa perdamaian yang abadi mungkin? (b) Apa yang telah Yehuwa lakukan untuk memastikan bahwa perdamaian yang sejati akan datang?

      17 Jika manusia, melalui lembaga seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa, tidak dapat mewujudkan perdamaian yang sejati dan bertahan lama, dari sumber manakah perdamaian sejati akan datang, dan bagaimana? Apakah semata-mata suatu impian yang tidak realistis untuk percaya bahwa perdamaian yang abadi mungkin? Tidak, jika kita berpaling kepada sumber perdamaian yang benar. Dan siapakah itu? Mazmur 46:10 menjawab dengan memberi tahu kita bahwa Yehuwa ”menghentikan peperangan sampai ke ujung bumi, yang mematahkan busur panah, menumpulkan tombak, membakar kereta-kereta perang dengan api!” Dan Yehuwa telah memulai proses untuk mengakhiri peperangan dan mendirikan perdamaian yang sejati. Bagaimana? Dengan menempatkan Kristus Yesus di takhta Kerajaan-Nya yang sah pada tahun 1914 dan dengan mendukung kampanye pendidikan yang terbesar untuk perdamaian dalam sejarah umat manusia. Kata-kata nubuat dari Yesaya 54:13 meyakinkan kita, ”Semua anakmu akan menjadi murid TUHAN, dan besarlah kesejahteraan mereka.”

      18 Nubuat ini mengilustrasikan prinsip sebab akibat—yaitu, setiap akibat ada penyebabnya. Dalam kasus ini, pengajaran Yehuwa—penyebabnya—mengubah orang-orang yang cenderung berperang menjadi orang-orang yang cinta damai yang berdamai dengan Allah. Pengaruhnya adalah perubahan hati yang membuat orang-orang menjadi pencinta damai. Pengajaran ini yang mengubah hati dan pikiran orang, bahkan sekarang menyebar di seluas dunia seraya jutaan orang meniru teladan dari ”Raja Damai [”Pangeran Perdamaian”, NW]”, Yesus Kristus.—Yesaya 9:5.

      19. Apa yang Yesus ajarkan tentang kedamaian yang sejati?

      19 Dan apa yang Yesus ajarkan tentang kedamaian yang sejati? Ia tidak hanya semata-mata berbicara tentang perdamaian antara bangsa-bangsa melainkan perdamaian antara orang-orang dalam hubungan mereka dan kedamaian batin yang berasal dari hati nurani yang baik. Di Yohanes 14:27, kita membaca kata-kata Yesus kepada para pengikutnya, ”Aku meninggalkan kedamaian kepadamu, aku memberikan kepadamu kedamaianku. Aku tidak memberikannya kepadamu dengan cara dunia memberikannya. Jangan biarkan hatimu merasa susah ataupun membiarkannya menciut karena takut.” Bagaimana kedamaian Yesus berbeda dari perdamaian dunia ini?

      20. Dengan sarana-sarana apa Yesus akan mendatangkan kedamaian yang sejati?

      20 Pertama-tama, kedamaian Yesus berkaitan erat dengan berita Kerajaannya. Ia tahu bahwa pemerintah surgawi yang adil-benar yang terdiri dari Yesus dan 144.000 rekan penguasa, akan mengakhiri peperangan dan biang keladinya. (Penyingkapan 14:1, 3) Ia mengetahui bahwa ini akan mendatangkan keadaan firdaus yang penuh damai yang ia tawarkan kepada pelaku kejahatan yang mati di sampingnya. Yesus tidak menawarkannya sebuah tempat di Kerajaan surgawi, tetapi ia mengatakan, ”Dengan sungguh-sungguh aku mengatakan kepadamu hari ini: Engkau akan bersamaku di Firdaus.”—Lukas 23:43.

      21, 22. (a) Harapan menguatkan yang menakjubkan apa yang dicakup kedamaian yang sejati? (b) Apa yang harus kita lakukan untuk menyaksikan berkat tersebut?

      21 Yesus juga mengetahui bahwa Kerajaannya akan mendatangkan penghiburan bagi semua orang yang berkabung yang menjalankan iman kepadanya. Kedamaiannya mencakup harapan menguatkan yang menakjubkan akan kebangkitan. Ingatlah kata-katanya yang menganjurkan yang terdapat di Yohanes 5:28, 29, ”Janganlah heran akan hal ini, karena jamnya akan tiba ketika semua orang yang di dalam makam peringatan akan mendengar suaranya dan keluar, mereka yang melakukan perkara-perkara baik kepada kebangkitan kehidupan, mereka yang mempraktekkan perkara-perkara keji kepada kebangkitan penghakiman.”

      22 Apakah saudara menanti-nantikan saat itu? Apakah saudara kehilangan orang-orang yang dikasihi karena kematian? Apakah saudara mendambakan untuk bertemu mereka kembali? Jika demikian, sambutlah kedamaian yang Yesus tawarkan. Milikilah iman seperti Marta, saudara perempuan Lazarus, yang mengatakan kepada Yesus, ”Aku tahu ia akan bangkit dalam kebangkitan pada hari terakhir.” Tetapi perhatikan jawaban Yesus yang melegakan kepada Marta, ”Akulah kebangkitan dan kehidupan. Ia yang menjalankan iman kepadaku, meskipun ia mati, akan menjadi hidup; dan setiap orang yang hidup dan menjalankan iman kepadaku sama sekali tidak akan pernah mati. Apakah engkau percaya akan hal ini?”—Yohanes 11:24-26.

      23. Mengapa pengetahuan yang saksama dari Firman Allah penting dalam memperoleh kedamaian yang sejati?

      23 Saudara juga dapat percaya akan hal ini dan mendapatkan manfaat dari janji tersebut. Bagaimana? Dengan mendapatkan pengetahuan yang saksama dari Firman Allah. Perhatikan bagaimana rasul Paulus menandaskan pentingnya pengetahuan yang saksama, ”Kami . . . tidak berhenti berdoa bagimu dan meminta supaya kamu dapat dipenuhi dengan pengetahuan yang saksama tentang kehendaknya dalam segala hikmat dan pemahaman rohani, agar dapat berjalan dengan layak bagi Yehuwa dengan tujuan menyenangkan dia sepenuhnya seraya kamu terus menghasilkan buah dalam setiap pekerjaan baik dan bertambah dalam pengetahuan yang saksama tentang Allah.” (Kolose 1:9, 10) Pengetahuan yang saksama ini akan meyakinkan saudara bahwa Allah Yehuwa adalah sumber perdamaian yang sejati. Ini juga akan memberi tahu saudara apa yang harus saudara lakukan sekarang agar dapat bergabung dengan sang pemazmur dalam mengatakan, ”Dengan tenteram aku mau membaringkan diri, lalu segera tidur, sebab hanya Engkaulah, ya [Yehuwa], yang membiarkan aku diam dengan aman.”—Mazmur 4:9.

  • Carilah Perdamaian yang Sejati dan Kejarlah!
    Menara Pengawal—1997 | 15 April
    • Carilah Perdamaian yang Sejati dan Kejarlah!

      ”Ia yang mau mengasihi kehidupan dan melihat hari-hari baik, . . . hendaklah ia berpaling dari apa yang buruk dan melakukan apa yang baik; hendaklah ia mencari perdamaian dan mengejarnya.”​—1 PETRUS 3:10, 11.

      1. Kata-kata yang terkenal apa dari Yesaya pasti akan berhasil?

      ”MEREKA akan menempa pedang-pedangnya menjadi mata bajak dan tombak-tombaknya menjadi pisau pemangkas; bangsa tidak akan lagi mengangkat pedang terhadap bangsa, dan mereka tidak akan lagi belajar perang.” (Yesaya 2:4) Meskipun ayat yang terkenal ini terpampang di dekat kantor pusat Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York City, organisasi dunia tersebut sama sekali tidak menggenapi kata-kata itu. Akan tetapi, sebagai bagian dari firman yang pasti dari Allah Yehuwa, pernyataan tersebut tidak akan kembali dengan sia-sia.​—Yesaya 55:10, 11.

      2. Apa yang harus ”terjadi pada hari-hari yang terakhir”, menurut Yesaya 2:2, 3?

      2 Kata-kata yang terdapat dalam Yesaya 2:4 sebenarnya adalah bagian dari suatu nubuat yang menakjubkan, suatu nubuat tentang perdamaian yang sejati​—dan ini sedang digenapi tepat di zaman kita. Sebelum mengumumkan prospek yang menggetarkan manakala peperangan dan senjata-senjata perang tidak akan ada lagi, nubuat itu mengatakan, ”Akan terjadi pada hari-hari yang terakhir: gunung tempat rumah TUHAN akan berdiri tegak di hulu gunung-gunung dan menjulang tinggi di atas bukit-bukit; segala bangsa akan berduyun-duyun ke sana, dan banyak suku bangsa akan pergi serta berkata: ’Mari, kita naik ke gunung TUHAN, ke rumah Allah Yakub, supaya Ia mengajar kita tentang jalan-jalan-Nya, dan supaya kita berjalan menempuhnya; sebab dari Sion akan keluar pengajaran dan firman TUHAN dari Yerusalem.’”​—Yesaya 2:2, 3.

      Orang-Orang Dapat Menjadi Suka Damai

      3. Bagaimana seseorang dapat berubah dari bersifat pemberang menjadi suka damai?

      3 Perhatikan bahwa sebelum orang-orang dapat menempuh haluan yang penuh damai, mereka harus diajar dalam jalan-jalan Yehuwa. Sambutan yang disertai ketaatan kepada pengajaran Yehuwa dapat mengubah cara berpikir dan bertindak seseorang, sehingga orang yang dahulunya pemberang menjadi suka damai. Bagaimana transformasi ini dicapai? Roma 12:2 mengatakan, ”Berhentilah dibentuk menurut sistem perkara ini, tetapi berubahlah dengan membentuk kembali pikiranmu, agar kamu dapat membuktikan kepada dirimu sendiri, kehendak Allah yang baik dan dapat diterima dan sempurna.” Kita membentuk kembali pikiran kita, atau memotivasinya ke arah yang berbeda, dengan memasukkan prinsip-prinsip dan perintah Firman Allah ke dalamnya. Pelajaran Alkitab yang tetap tentu membantu kita membuat perubahan ini dan memungkinkan kita untuk membuktikan kepada diri sendiri apa kehendak Yehuwa bagi kita, sehingga kita dapat melihat dengan jelas haluan yang harus kita tempuh.​—Mazmur 119:105.

      4. Bagaimana seseorang mengenakan kepribadian baru yang suka damai?

      4 Kebenaran Alkitab mengubah tidak hanya pola berpikir kita namun juga tindakan dan kepribadian kita. Ini membantu kita untuk melakukan apa yang didesak rasul Paulus, ”Hendaknya menyingkirkan kepribadian lama yang sesuai dengan haluan tingkah lakumu yang dahulu dan yang dirusak sesuai dengan hasratnya yang bersifat menipu; tetapi . . . dijadikan baru dalam kekuatan yang menggerakkan pikiranmu, dan . . . mengenakan kepribadian baru yang diciptakan menurut kehendak Allah dalam keadilbenaran yang benar dan loyalitas.” (Efesus 4:22-24) Kekuatan yang menggerakkan pikiran bersifat batiniah. Ini diubah dan menjadi sangat kuat seraya kasih kita kepada Yehuwa dan hukum-hukum-Nya bertumbuh, dan ini menjadikan kita orang-orang yang rohani dan suka damai.

      5. Bagaimana ”perintah baru” yang Yesus berikan kepada murid-muridnya menyumbang kepada perdamaian di antara mereka?

      5 Perlunya transformasi ini tampak dari perintah yang Yesus berikan kepada murid-muridnya selama jam-jam terakhirnya bersama mereka, ”Aku memberikan kepadamu sebuah perintah baru, agar kamu mengasihi satu sama lain; sebagaimana aku telah mengasihi kamu, agar kamu juga mengasihi satu sama lain. Dengan inilah semua akan mengetahui bahwa kamu adalah murid-muridku, jika kamu mempunyai kasih di antara kamu sendiri.” (Yohanes 13:34, 35) Kasih seperti yang dimiliki Kristus dan yang tidak mementingkan diri ini mengikat murid-murid bersama dalam persatuan yang sempurna. (Kolose 3:​14) Hanya orang-orang yang bersedia untuk menerima dan hidup selaras dengan ”perintah baru” ini akan menikmati perdamaian yang Allah janjikan. Apakah ada orang yang melakukan hal tersebut dewasa ini?

      6. Mengapa Saksi-Saksi Yehuwa menikmati perdamaian, berbeda sekali dengan orang-orang di dunia ini?

      6 Saksi-Saksi Yehuwa berupaya memperlihatkan kasih dalam persaudaraan mereka di seluas dunia. Meskipun mereka berasal dari segala bangsa dunia ini, mereka tidak terlibat dalam persengketaan dunia ini, bahkan sewaktu mereka mengalami penindasan politik dan agama yang hebat. Sebagai suatu umat yang bersatu, mereka diajar oleh Yehuwa, dan mereka menikmati perdamaian. (Yesaya 54:13) Mereka tetap netral dalam konflik-konflik politik, dan mereka tidak berpartisipasi dalam peperangan. Beberapa orang yang dahulunya bengis telah meninggalkan gaya hidup seperti itu. Mereka telah menjadi orang-orang Kristen yang cinta damai, meniru teladan Kristus Yesus. Dan mereka dengan sepenuh hati mengikuti nasihat Petrus, ”Ia yang mau mengasihi kehidupan dan melihat hari-hari baik, hendaklah ia menahan lidahnya dari apa yang buruk dan bibirnya dari mengatakan tipu daya, tetapi hendaklah ia berpaling dari apa yang buruk dan melakukan apa yang baik; hendaklah ia mencari perdamaian dan mengejarnya.”​—1 Petrus 3:10, 11; Efesus 4:3.

      Orang-Orang yang Mengejar Perdamaian

      7, 8. Berikan contoh dari orang-orang yang berhenti berperang dan menjadi pencari perdamaian yang sejati. (Ceritakan pengalaman lain yang mungkin saudara ketahui.)

      7 Misalnya, ada Rami Oved, seorang mantan perwira dari sebuah kesatuan antiteroris khusus. Ia dilatih untuk membunuh musuh-musuhnya. Dengan bersemangat ia percaya kepada nasionalisme Israelnya sampai suatu saat ketika ia mendapati bahwa para rabi tidak mengizinkannya menikahi wanita yang ia cintai hanya karena wanita itu adalah seorang Asia, seorang Kafir. Ia mulai mencari kebenaran dalam Alkitab. Kemudian ia bertemu dengan Saksi-Saksi Yehuwa. Pelajaran Alkitabnya bersama Saksi-Saksi meyakinkannya bahwa ia tidak dapat lagi menjadi seorang nasionalis yang fanatik. Kasih Kristen berarti tidak berperang dan memanggul senjata serta belajar untuk mengasihi orang-orang dari segala ras. Alangkah terkejutnya ia ketika menerima sepucuk surat yang baik dengan kata-kata pembukaan, ”Saudaraku, Rami”! Apa yang aneh dengan hal tersebut? Pengirimnya adalah seorang Saksi asal Palestina. ”Saya merasa hal itu luar biasa,” kata Rami, ”karena dulu orang-orang Palestina adalah musuh-musuh saya, dan sekarang salah seorang dari mereka memanggil saya, ’Saudaraku’.” Rami dan istrinya kini mengejar perdamaian yang sejati menurut jalan Allah.

      8 Sebuah contoh lain adalah Georg Reuter, yang bertugas dalam pasukan Jerman yang menyerbu Rusia selama Perang Dunia II. Ia segera menjadi kecewa dengan rancangan spektakuler Hitler untuk mendominasi dunia. Sewaktu ia pulang dari perang, ia mulai belajar Alkitab bersama Saksi-Saksi Yehuwa. Ia menulis, ”Akhirnya, segala sesuatu mulai jelas bagi saya. Saya menyadari bahwa Allah bukan pribadi yang harus dipersalahkan atas semua pertumpahan darah . . . Saya belajar bahwa maksud-tujuan-Nya adalah menjadikan suatu firdaus seluas bumi dengan berkat-berkat yang abadi bagi umat manusia yang taat. . . . Hitler telah membual tentang ’Pemerintahan Seribu Tahun’-nya tetapi ia hanya memerintah selama 12 [tahun]​—dan dengan akibat yang mengerikan! Adalah Kristus dan tentu bukan Hitler . . . yang dapat dan akan mendirikan suatu pemerintahan seribu tahun atas bumi.” Sampai sekarang, setelah kira-kira 50 tahun berlalu, Georg telah melayani sebagai utusan perdamaian yang sejati dalam dinas sepenuh waktu.

      9. Bagaimana pengalaman Saksi-Saksi Yehuwa di Nazi Jerman membuktikan bahwa mereka berani namun suka damai?

      9 Integritas dan kenetralan Saksi-Saksi Yehuwa di Jerman selama rezim Nazi terus memberikan kesaksian akan kasih mereka kepada Allah dan kepada perdamaian bahkan sampai sekarang, lebih dari 50 tahun setelah itu. Sebuah buku kecil yang diterbitkan oleh Holocaust Memorial Museum di Washington, D.C., menyatakan, ”Saksi-Saksi Yehuwa bertekun menahan penganiayaan yang keji di bawah rezim Nazi. . . . Ketabahan yang dipertunjukkan oleh kebanyakan di antara mereka dalam menolak [untuk menyangkal agama mereka], dalam menghadapi penganiayaan, penyiksaan di kamp-kamp konsentrasi, dan kadang-kadang eksekusi, memenangkan respek dari banyak orang pada zaman itu.” Kemudian buku kecil ini menambahkan, ”Selama pembebasan dari kamp-kamp, umat Yehuwa melanjutkan pekerjaan mereka, berbaur dengan orang-orang yang selamat dari kamp, mencari penganut baru.”

      Suatu Perubahan yang Jauh Lebih Besar

      10. (a) Perubahan besar apa dibutuhkan agar perdamaian yang sejati datang? (b) Bagaimana hal ini digambarkan dalam buku Daniel?

      10 Apakah ini berarti Saksi-Saksi Yehuwa percaya bahwa mereka dapat mendatangkan perdamaian ke dunia ini melalui penobatan massal kepada suatu kepercayaan dalam kenetralan Kristen? Tidak! Karena untuk memulihkan perdamaian ke atas bumi, suatu perubahan yang jauh lebih besar dibutuhkan. Apa gerangan hal itu? Pemerintahan manusia yang terpecah-belah, menindas, dan penuh kekerasan harus memberikan jalan bagi pemerintahan Kerajaan Allah, yang diajarkan Yesus untuk didoakan oleh murid-muridnya. (Matius 6:9, 10) Namun bagaimana hal ini akan terjadi? Dalam sebuah mimpi yang diilhami ilahi, sang nabi Daniel melihat bahwa pada hari-hari terakhir, Kerajaan Allah, seperti batu besar yang ’terungkit lepas tanpa perbuatan tangan manusia’, akan menghancurkan patung raksasa yang menggambarkan pemerintahan politik manusia atas bumi. Kemudian ia mengumumkan, ”Pada zaman raja-raja, Allah semesta langit akan mendirikan suatu kerajaan yang tidak akan binasa sampai selama-lamanya, dan kekuasaan tidak akan beralih lagi kepada bangsa lain: kerajaan itu akan meremukkan segala kerajaan dan menghabisinya, tetapi kerajaan itu sendiri akan tetap untuk selama-lamanya.”​—Daniel 2:31-44.

      11. Dengan cara apa Yehuwa akan mewujudkan perubahan yang dibutuhkan untuk perdamaian?

      11 Mengapa perubahan radikal dalam panggung dunia ini akan terjadi? Karena Yehuwa telah berjanji bahwa Ia akan membersihkan bumi ini dari orang-orang yang mencemari dan merusaknya. (Penyingkapan 11:18) Transformasi ini akan terjadi dalam perang Yehuwa yang adil-benar melawan Setan dan dunianya yang fasik. Kita membaca di Penyingkapan 16:14, 16, ”Sebenarnya, mereka [yaitu, pernyataan-pernyataan najis yang diilhami] adalah pernyataan-pernyataan yang diilhami oleh hantu-hantu dan melakukan tanda-tanda, dan mereka pergi kepada raja-raja [para penguasa politik] seluruh bumi yang berpenduduk, untuk mengumpulkan mereka bersama menuju perang hari besar Allah Yang Mahakuasa. Dan mereka mengumpulkan mereka bersama ke tempat yang disebut dalam bahasa Ibrani Harmagedon.”

      12. Seperti apa Armagedon kelak?

      12 Seperti apa Armagedon kelak? Ini bukan suatu apokalips nuklir atau bencana yang ditimbulkan oleh manusia. Bukan, ini adalah perang Allah untuk mengakhiri segala peperangan manusia dan memusnahkan orang-orang yang mendukung peperangan tersebut. Ini adalah perang Allah untuk mendatangkan perdamaian yang sejati bagi orang-orang yang mengasihi perdamaian. Ya, Armagedon datang sesuai dengan maksud-tujuan Yehuwa. Hal ini tidak akan ditunda. Nabi-Nya Habakuk diilhami untuk menulis, ”Penglihatan itu masih menanti saatnya, tetapi ia bersegera menuju kesudahannya dengan tidak menipu; apabila berlambat-lambat, nantikanlah itu, sebab itu sungguh-sungguh akan datang dan tidak akan bertangguh.” (Habakuk 2:3) Karena perasaan kita sebagai manusia, hal itu mungkin seolah-olah tampak bertangguh, namun Yehuwa memegang jadwal-Nya. Armagedon akan terjadi pada jam yang telah Yehuwa tentukan sebelumnya.

      13. Bagaimana Allah akan berurusan dengan biang keladi yang sebenarnya, Setan si Iblis?

      13 Tindakan tegas ini akan membuka jalan bagi perdamaian yang sejati! Namun agar perdamaian yang sejati dapat terbentuk dengan kokoh, ada lagi yang harus dilakukan​—disingkirkannya oknum yang menyebabkan perpecahan, kebencian, dan percekcokan. Dan hal ini tepat seperti yang Alkitab nubuatkan akan terjadi selanjutnya​—dicampakkannya Setan, si penyulut perang dan bapak dari dusta, ke jurang yang tidak terduga dalamnya. Rasul Yohanes melihat peristiwa ini dalam suatu penglihatan nubuat, seperti yang dicatat di Penyingkapan 20:1-3, ”Aku melihat seorang malaikat turun dari langit dengan kunci jurang yang tidak terduga dalamnya dan sebuah rantai besar di tangannya. Dan ia menangkap naga itu, ular yang semula, yang adalah Iblis dan Setan, dan mengikatnya selama seribu tahun. Dan ia mencampakkannya ke dalam jurang yang tidak terduga dalamnya itu dan menutupnya dan memeteraikannya di atas dia, agar dia tidak lagi menyesatkan bangsa-bangsa sampai seribu tahun itu berakhir.”

      14. Bagaimana tindakan kemenangan Yehuwa melawan Setan dapat digambarkan?

      14 Ini bukan impian; ini adalah janji Allah​—dan Alkitab mengatakan, ”Adalah mustahil bagi Allah untuk berdusta.” (Ibrani 6:18) Oleh karena itu, Yehuwa dapat mengatakan melalui nabi-Nya Yeremia, ”Akulah [Yehuwa] yang menunjukkan kasih setia, keadilan dan kebenaran di bumi; sungguh, semuanya itu Kusukai, demikianlah firman [Yehuwa].” (Yeremia 9:24) Yehuwa bertindak dalam keadilan dan keadilbenaran, dan Ia menyukai perdamaian yang akan Ia datangkan ke atas bumi.

      Pemerintahan oleh Pangeran Perdamaian

      15, 16. (a) Siapa yang dipilih oleh Yehuwa untuk memerintah sebagai Raja? (b) Bagaimana pemerintahan tersebut digambarkan, dan siapa yang akan ambil bagian di dalamnya?

      15 Untuk memastikan bahwa perdamaian yang sejati akan datang bagi orang-orang yang hidup di bawah pengaturan Kerajaan-Nya, Yehuwa telah memberikan kekuasaan kepada Pangeran Perdamaian yang sejati, Yesus Kristus, sebagaimana dinubuatkan di Yesaya 9:5, 6, ”Seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai [”Pangeran Perdamaian”, NW]. Besar kekuasaannya, dan damai sejahtera tidak akan berkesudahan. . . . Kecemburuan TUHAN semesta alam akan melakukan hal ini.” Sang pemazmur juga menulis secara nubuat tentang pemerintahan Mesias yang penuh damai, ”Keadilan berkembang dalam zamannya dan damai sejahtera berlimpah, sampai tidak ada lagi bulan!”​—Mazmur 72:7.

      16 Selain itu, 144.000 saudara Kristus yang diurapi roh akan memerintah bersamanya di surga. Mereka adalah sesama ahli waris bersama Kristus yang tentang mereka Paulus menulis, ”Untuk pihaknya, Allah yang memberi kedamaian akan segera meremukkan Setan di bawah kakimu. Semoga kebaikan hati Tuan kita Yesus yang tidak layak diterima menyertai kamu.” (Roma 16:20) Ya, mereka di surga akan bersama-sama menikmati kemenangan Kristus atas si penghasut perang, Setan si Iblis!

      17. Apa yang harus kita lakukan untuk mewarisi perdamaian yang sejati?

      17 Maka, kini pertanyaannya adalah: Apa yang harus saudara lakukan untuk mewarisi perdamaian yang sejati? Perdamaian yang sejati hanya dapat datang dengan cara Allah, dan untuk memperolehnya saudara harus mengambil langkah-langkah positif. Saudara harus menerima Pangeran Perdamaian dan berpaling kepadanya. Ini berarti bahwa saudara harus menerima Kristus dalam perannya sebagai Penebus dan Penyelamat dari umat manusia yang berdosa. Yesus sendiri mengucapkan kata-kata terkenal ini, ”Allah begitu mengasihi dunia sehingga ia memberikan Putra satu-satunya yang diperanakkan, agar setiap orang yang menjalankan iman kepada dia tidak akan dibinasakan melainkan memiliki kehidupan abadi.” (Yohanes 3:16) Apakah saudara bersedia menjalankan iman akan Kristus Yesus sebagai Wakil Allah untuk mendatangkan perdamaian yang sejati dan keselamatan? Tidak ada nama lain di bawah langit yang dapat mendatangkan perdamaian dan menjaminnya. (Filipi 2:8-11) Mengapa? Karena Yesus adalah Pribadi yang Dipilih Allah. Ia adalah utusan perdamaian yang terbesar yang pernah ada di bumi. Apakah saudara akan mendengar kepada Yesus dan mengikuti teladannya?

      18. Apa yang harus kita lakukan sebagai tanggapan atas kata-kata Yesus yang dicatat di Yohanes 17:3?

      18 ”Ini berarti kehidupan abadi,” kata Yesus, ”bahwa mereka terus memperoleh pengetahuan mengenai dirimu, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenai pribadi yang engkau utus, Yesus Kristus.” (Yohanes 17:3) Kinilah waktunya untuk terus memperoleh pengetahuan yang saksama dengan secara tetap tentu menghadiri perhimpunan Saksi-Saksi Yehuwa di Balai Kerajaan. Perhimpunan-perhimpunan yang bersifat mendidik ini akan memotivasi saudara untuk membagikan pengetahuan dan harapan saudara kepada orang-orang lain. Saudara juga dapat menjadi utusan perdamaian Allah. Saudara dapat menikmati perdamaian sekarang dengan percaya kepada Allah Yehuwa, seperti yang dinyatakan di Yesaya 26:3, ”Yang hatinya teguh Kaujagai dengan damai sejahtera, sebab kepada-Mulah ia percaya.” Kepada siapa saudara hendaknya percaya? ”Percayalah kepada [Yehuwa] selama-lamanya, sebab TUHAN ALLAH adalah gunung batu yang kekal.”​—Yesaya 26:4.

      19, 20. Apa yang menanti orang-orang dewasa ini yang mencari perdamaian dan mengejarnya?

      19 Bertekadlah untuk memilih kehidupan abadi dalam dunia baru Allah yang penuh damai. Di Penyingkapan 21:3, 4, Firman Allah meyakinkan kita, ”Lihat! Kemah Allah ada bersama umat manusia, dan ia akan diam bersama mereka, dan mereka akan menjadi umatnya. Dan Allah sendiri akan ada bersama mereka. Dan ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan kematian tidak akan ada lagi, juga tidak akan ada lagi perkabungan atau jeritan atau rasa sakit. Perkara-perkara yang terdahulu telah berlalu.” Bukankah masa depan penuh damai demikian yang saudara dambakan?

      20 Kemudian ingatlah apa yang telah Allah janjikan. ”Orang-orang yang rendah hati akan mewarisi negeri dan bergembira karena kesejahteraan yang berlimpah-limpah. Perhatikanlah orang yang tulus dan lihatlah kepada orang yang jujur, sebab pada orang yang suka damai akan ada masa depan.” (Mazmur 37:11, 37) Bila hari-hari yang bahagia tersebut tiba, semoga kita dengan penuh syukur mengatakan, ”Akhirnya perdamaian yang sejati! Syukur kepada Allah Yehuwa, sumber perdamaian yang sejati!”

Publikasi Menara Pengawal Bahasa Indonesia (1971-2025)
Log Out
Log In
  • Indonesia
  • Bagikan
  • Pengaturan
  • Copyright © 2025 Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania
  • Syarat Penggunaan
  • Kebijakan Privasi
  • Pengaturan Privasi
  • JW.ORG
  • Log In
Bagikan