PERPUSTAKAAN ONLINE Menara Pengawal
PERPUSTAKAAN ONLINE
Menara Pengawal
Indonesia
  • ALKITAB
  • PUBLIKASI
  • PERHIMPUNAN
  • Pada Perayaan Tabernakel
    Tokoh Terbesar Sepanjang Masa
    • Pada Perayaan Tabernakel

      YESUS menjadi terkenal selama hampir tiga tahun sejak ia dibaptis. Ribuan orang telah melihat mukjizatnya, dan melaporkan tentang kegiatannya yang mencapai seluruh negeri. Sekarang, seraya orang-orang berkumpul untuk Perayaan Tabernakel di Yerusalem, mereka mencari dia di sana. ”Di manakah Ia?” mereka ingin tahu.

      Yesus menjadi pokok pertentangan. ”Ia orang baik,” kata beberapa orang. ”Tidak, Ia menyesatkan rakyat,” ujar yang lain. Ada banyak bisikan seperti ini selama hari pembukaan dari perayaan itu. Namun tidak seorang pun berani membela Yesus di muka umum. Ini disebabkan orang-orang takut akan tindakan balasan dari para pemimpin Yahudi.

      Ketika hari raya telah separuh berlalu, Yesus tiba. Ia pergi ke Bait, tempat orang-orang merasa takjub pada kemahiran mengajarnya yang luar biasa. Karena Yesus tidak pernah mengikuti sekolah rabi, orang-orang Yahudi ingin tahu, ”Bagaimanakah orang ini mempunyai pengetahuan demikian tanpa belajar!”

      ”AjaranKu tidak berasal dari diriKu sendiri,” kata Yesus menerangkan, ”tetapi dari Dia yang telah mengutus Aku. Barangsiapa mau melakukan kehendakNya, ia akan tahu entah ajaranKu ini berasal dari Allah, entah Aku berkata-kata dari diriKu sendiri.” Ajaran Yesus berpaut kuat pada hukum Allah. Jadi, nyata terlihat bahwa ia mencari kemuliaan Allah, bukan kemuliaan dirinya. ”Bukankah Musa yang telah memberikan hukum Taurat kepadamu?” tanya Yesus. Dengan marah, ia berkata, ”Tidak seorangpun di antara kamu yang melakukan hukum Taurat itu.”

      ”Mengapa kamu berusaha membunuh Aku?” tanya Yesus kemudian.

      Khalayak ramai, kemungkinan para pengunjung perayaan, tidak menyadari adanya upaya demikian. Mereka menganggap tidak masuk akal bahwa seseorang ingin membunuh seorang guru yang demikian baik. Maka mereka percaya bahwa ada sesuatu yang salah pada diri Yesus sehingga berpikir seperti ini. ”Engkau kerasukan setan,” kata mereka. ”Siapakah yang berusaha membunuh Engkau?”

      Para pemimpin Yahudi ingin Yesus dibunuh, meskipun khalayak ramai tidak menyadarinya. Sewaktu Yesus menyembuhkan seorang pria pada hari Sabat satu setengah tahun sebelumnya, para pemimpin mencoba membunuh dia. Jadi Yesus sekarang menekankan ketidaksanggupan berpikir mereka dengan bertanya kepada mereka, ”Jikalau seorang menerima sunat pada hari Sabat, supaya jangan melanggar hukum Musa, mengapa kamu marah kepadaKu, karena Aku menyembuhkan seluruh tubuh seorang manusia pada hari Sabat. Janganlah menghakimi menurut apa yang nampak, tetapi hakimilah dengan adil.”

      Penduduk Yerusalem, yang menyadari keadaan itu, sekarang berkata, ”Bukankah Dia ini yang mereka mau bunuh? Dan lihatlah, Ia berbicara dengan leluasa dan mereka tidak mengatakan apa-apa kepadaNya. Mungkinkah pemimpin kita benar-benar sudah tahu, bahwa Ia adalah Kristus?” Penduduk Yerusalem ini menjelaskan mengapa mereka tidak percaya bahwa Yesus adalah Kristus, ”Tentang orang ini kita tahu dari mana asalNya, tetapi bilamana Kristus datang, tidak ada seorangpun yang tahu dari mana asalNya.”

      Yesus menjawab, ”Memang Aku kamu kenal dan kamu tahu dari mana asalKu; namun Aku datang bukan atas kehendakKu sendiri, tetapi Aku diutus oleh Dia yang benar yang tidak kamu kenal. Aku kenal Dia, sebab Aku datang dari Dia dan Dialah yang mengutus Aku.” Mereka berusaha menangkap Dia, barangkali ingin memasukkannya ke penjara atau menyerahkan dia untuk dibunuh. Akan tetapi, mereka tidak berhasil sebab saatnya belum tiba bagi Yesus untuk mati.

      Namun demikian, banyak yang menaruh iman kepada Yesus, sebagaimana memang seharusnya. Bayangkan, ia berjalan di atas air, menenangkan angin, meredakan badai laut, secara mukjizat memberi makan ribuan orang dengan lima ketul roti dan beberapa ikan, menyembuhkan orang sakit, membuat orang lumpuh berjalan, mencelikkan orang buta, menyembuhkan orang kusta, dan bahkan membangkitkan orang mati. Maka mereka bertanya, ”Apabila Kristus datang, mungkinkah Ia akan mengadakan lebih banyak mujizat dari pada yang telah diadakan oleh Dia ini?”

      Ketika orang Farisi mendengar orang banyak membisikkan hal ini, mereka dan para imam kepala menyuruh para penjaga menangkap Yesus. Yohanes 7:11-32.

  • Mereka Gagal Menangkap Dia
    Tokoh Terbesar Sepanjang Masa
    • Mereka Gagal Menangkap Dia

      SERAYA Perayaan Tabernakel masih berlangsung, para pemimpin agama mengutus para penjaga untuk menangkap Yesus. Ia tidak berusaha untuk bersembunyi. Sebaliknya, Yesus terus mengajar di depan umum dengan berkata, ”Tinggal sedikit waktu saja Aku ada bersama kamu dan sesudah itu Aku akan pergi kepada Dia yang telah mengutus Aku. Kamu akan mencari Aku, tetapi tidak akan bertemu dengan Aku, sebab kamu tidak dapat datang ke tempat di mana Aku berada.”

      Orang-orang Yahudi tidak mengerti, dan karenanya mereka berkata seorang kepada yang lain, ”Ke manakah Ia akan pergi, sehingga kita tidak dapat bertemu dengan Dia? Adakah maksudNya untuk pergi kepada mereka yang tinggal di perantauan, di antara orang Yunani, untuk mengajar orang Yunani? Apakah maksud perkataan yang diucapkanNya ini: Kamu akan mencari Aku, tetapi kamu tidak akan bertemu dengan Aku, dan: Kamu tidak dapat datang ke tempat di mana Aku berada?” Tentu saja, Yesus sedang berbicara tentang kematiannya yang sudah dekat dan kebangkitan untuk hidup di surga, ke tempat musuh-musuhnya tidak dapat mengikutinya.

      Hari ketujuh dan akhir dari perayaan tiba. Setiap pagi selama perayaan, seorang imam menuangkan air yang ia ambil dari Kolam Siloam, sehingga mengalir ke bawah altar. Mungkin untuk mengingatkan orang-orang akan upacara sehari-hari ini, Yesus berseru, ”Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepadaKu dan minum! Barangsiapa percaya kepadaKu, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup.”

      Sebenarnya, Yesus di sini sedang berbicara mengenai hasil yang mulia ketika roh suci dicurahkan. Tahun berikutnya pencurahan roh suci ini terjadi pada hari Pentakosta. Di sana, aliran air kehidupan mengalir ketika ke-120 murid mulai melayani orang-orang. Namun sampai saat itu, tidak ada roh dalam arti bahwa tidak seorang pun dari murid Yesus yang diurapi dengan roh suci dan dipanggil untuk kehidupan surgawi.

      Sebagai reaksi terhadap ajaran Yesus, beberapa orang mulai berkata, ”Dia ini benar-benar nabi yang akan datang,” jelas menunjuk kepada nabi yang lebih besar daripada Musa yang dijanjikan akan datang. Yang lain berkata, ”Ia ini Mesias.” Tetapi yang lain lagi berkata, ”Bukan, Mesias tidak datang dari Galilea! Karena Kitab Suci mengatakan, bahwa Mesias berasal dari keturunan Daud dan dari kampung Betlehem, tempat Daud dahulu tinggal.”

      Maka pertentangan timbul di antara orang banyak. Beberapa ingin agar Yesus ditangkap, tetapi tidak ada seorang pun yang berani menyentuhnya. Ketika para penjaga kembali tanpa Yesus, para imam kepala dan orang Farisi bertanya, ”Mengapa kamu tidak membawaNya?”

      ”Belum pernah seorang manusia berkata seperti orang itu!” jawab para penjaga.

  • Pengajaran Lebih Jauh tentang Hari Ketujuh
    Tokoh Terbesar Sepanjang Masa
    • Pengajaran Lebih Jauh tentang Hari Ketujuh

      HARI terakhir dari Perayaan Tabernakel, hari ketujuh, masih berlangsung. Yesus sedang mengajar di bagian dari bait yang disebut ”perbendaharaan”. Ini kelihatannya di daerah yang disebut Ruang Wanita tempat diletakkan peti-peti untuk memasukkan sumbangan.

      Setiap malam selama perayaan, ada sebuah pertunjukan penerangan khusus di daerah bait ini. Empat kaki dian raksasa ditempatkan di sini, masing-masing dengan empat baskom besar diisi minyak. Cahaya dari lampu-lampu ini, pelita dengan 16 baskom ini, cukup kuat untuk menerangi sekeliling sampai ke jarak yang jauh pada malam hari. Apa yang Yesus sekarang katakan mungkin mengingatkan para pendengarnya pada penerangan ini. Yesus menyatakan, ”Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup.”

      Orang-orang Farisi menyanggah, ”Engkau bersaksi tentang diriMu, kesaksianMu tidak benar.”

      Sebagai jawaban Yesus berkata, ”Biarpun Aku bersaksi tentang diriKu sendiri, namun kesaksianKu itu benar, sebab Aku tahu, dari mana Aku datang dan ke mana Aku pergi.” Ia menambahkan, ”Akulah yang bersaksi tentang diriKu sendiri, dan juga Bapa, yang mengutus Aku, bersaksi tentang Aku.”

      ”Di manakah BapaMu?” orang Farisi ingin tahu.

      ”Baik Aku, maupun BapaKu tidak kamu kenal,” jawab Yesus. ”Jikalau sekiranya kamu mengenal Aku, kamu mengenal juga BapaKu.” Meskipun orang-orang Farisi masih ingin menangkap Yesus, tidak seorang pun menyentuh dia.

      ”Aku akan pergi,” kata Yesus sekali lagi. ”Ke tempat Aku pergi, tidak mungkin kamu datang.”

      Pada saat ini orang-orang Yahudi mulai bertanya-tanya, ”Apakah Ia mau bunuh diri dan karena itu dikatakanNya: Ke tempat Aku pergi, tidak mungkin kamu datang.”

      ”Kamu berasal dari bawah,” kata Yesus menjelaskan. ”Aku dari atas; kamu dari dunia ini, Aku bukan dari dunia ini.” Lalu Ia menambahkan, ”Jikalau kamu tidak percaya, bahwa Akulah Dia, kamu akan mati dalam dosamu.”

      Yesus tentu saja memaksudkan keberadaannya sebelum menjadi manusia dan bahwa ia adalah Mesias yang dijanjikan, atau Kristus. Namun demikian, mereka bertanya, sudah pasti sambil mengecam, ”Siapakah Engkau?”

      Menghadapi penolakan mereka, Yesus menjawab, ”Apakah gunanya lagi Aku berbicara dengan kamu?” Lalu ia berkata, ”Dia, yang mengutus Aku, adalah benar, dan apa yang Kudengar dari padaNya, itu yang Kukatakan kepada dunia.” Yesus melanjutkan, ”Apabila kamu telah meninggikan Anak Manusia, barulah kamu tahu, bahwa Akulah Dia, dan bahwa Aku tidak berbuat apa-apa dari diriKu sendiri, tetapi Aku berbicara tentang hal-hal, sebagaimana diajarkan Bapa kepadaKu. Dan Ia, yang telah mengutus Aku, Ia menyertai Aku. Ia tidak membiarkan Aku sendiri, sebab Aku senantiasa berbuat apa yang berkenan kepadaNya.”

      Ketika Yesus mengatakan hal-hal ini, banyak orang menaruh iman kepada dia. Untuk ini ia berkata, ”Jikalau kamu tetap dalam firmanKu, kamu benar-benar adalah muridKu dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.”

      ”Kami adalah keturunan Abraham,” cela para penentangnya, ”dan tidak pernah menjadi hamba siapapun. Bagaimana Engkau dapat berkata: Kamu akan merdeka?”

      Meskipun orang-orang Yahudi sering berada di bawah penguasaan asing, mereka tidak mengakui seorang penindas pun sebagai tuan. Mereka menolak disebut hamba. Namun Yesus menekankan bahwa mereka memang hamba. Dalam hal apa? ”Aku berkata kepadamu,” kata Yesus, ”sesungguhnya setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa.”

      Karena menolak untuk mengakui perhambaan mereka kepada dosa, orang-orang Yahudi berada pada kedudukan yang berbahaya. ”Hamba tidak tetap tinggal dalam rumah,” kata Yesus menerangkan. ”Anak tetap tinggal dalam rumah.” Karena seorang hamba tidak mewarisi hak-hak, ia kemungkinan dalam bahaya dipecat setiap waktu. Hanya anak yang sebenarnya lahir atau diadopsi sebagai anggota keluarga yang tetap tinggal ”selamanya,” yaitu, selama ia hidup.

      ”Apabila Anak itu memerdekakan kamu,” kata Yesus melanjutkan, ”kamupun benar-benar merdeka.” Jadi, kebenaran yang membebaskan orang-orang adalah kebenaran berkenaan Anak, Kristus Yesus. Hanya melalui pengorbanan dari kehidupan manusiawinya yang sempurna orang dapat dibebaskan dari kematian karena dosa. Yohanes 8:12-36.

  • Pertanyaan Mengenai Siapa yang Menjadi Bapak
    Tokoh Terbesar Sepanjang Masa
    • Pertanyaan Mengenai Siapa yang Menjadi Bapak

      SELAMA hari raya, pembicaraan antara Yesus dengan para pemimpin Yahudi bertambah sengit. ”Aku tahu, bahwa kamu adalah keturunan Abraham,” demikian Yesus mengakui, ”tetapi kamu berusaha untuk membunuh Aku karena firmanKu tidak beroleh tempat di dalam kamu. Apa yang Kulihat pada Bapa, itulah yang Kukatakan, dan demikian juga kamu perbuat tentang apa yang kamu dengar dari bapamu.”

      Sekalipun tidak mengatakan siapa bapak mereka, Yesus membuat jelas bahwa bapak mereka berbeda dengan Bapaknya. Karena tidak menyadari siapa yang dimaksud Yesus, para pemimpin itu menyahut, ”Bapa kami ialah Abraham.” Mereka merasa bahwa mereka mempunyai iman yang sama seperti iman Abraham, yang adalah sahabat Allah.

      Akan tetapi, Yesus mengejutkan mereka dengan jawaban, ”Jikalau sekiranya kamu anak-anak Abraham, tentulah kamu mengerjakan pekerjaan yang dikerjakan oleh Abraham.” Tentu anak yang sah meniru teladan bapaknya. ”Tetapi yang kamu kerjakan ialah berusaha membunuh Aku,” kata Yesus, ”seorang yang mengatakan kebenaran kepadamu, yaitu kebenaran yang Kudengar dari Allah; pekerjaan yang demikian tidak dikerjakan oleh Abraham.” Maka Yesus berkata lagi, ”Kamu mengerjakan pekerjaan bapamu sendiri.”

      Mereka masih tidak memahami apa yang Yesus maksudkan. Mereka tetap berkukuh bahwa mereka adalah anak-anak Abraham yang sah, dengan mengatakan, ”Kami tidak dilahirkan dari zinah.” Karena itu, dengan mengaku melakukan ibadat yang benar seperti halnya Abraham, mereka menegaskan, ”Bapa kami satu, yaitu Allah.”

      Namun apakah Allah benar-benar Bapak mereka? ”Jikalau Allah adalah Bapamu,” jawab Yesus, ”kamu akan mengasihi Aku, sebab Aku keluar dan datang dari Allah. Dan Aku datang bukan atas kehendakKu sendiri, melainkan Dialah yang mengutus Aku. Apakah sebabnya kamu tidak mengerti bahasaKu?”

      Yesus berupaya untuk menunjukkan kepada para pemimpin agama ini akibat dari penolakan mereka terhadap dia. Akan tetapi, kini dengan tegas ia berkata, ”Iblislah yang menjadi bapamu dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu.” Bapak macam apakah Iblis itu? Yesus menyebut dia sebagai pembunuh manusia dan juga berkata, ”Ia adalah pendusta dan bapa segala dusta.” Lalu Yesus memberikan kesimpulan, ”Barangsiapa berasal dari Allah, ia mendengarkan firman Allah; itulah sebabnya kamu tidak mendengarkannya, karena kamu tidak berasal dari Allah.”

      Marah karena kutukan Yesus, orang-orang Yahudi itu menjawab, ”Bukankah benar kalau kami katakan bahwa Engkau orang Samaria dan kerasukan setan?” Istilah ”orang Samaria” digunakan untuk menghina dan mencela, karena orang Samaria dibenci oleh orang Yahudi.

      Dengan tidak mengindahkan penghinaan orang Yahudi yang menyamakannya dengan orang Samaria, Yesus menjawab, ”Aku tidak kerasukan setan, tetapi Aku menghormati BapaKu dan kamu tidak menghormati Aku.” Selanjutnya, Yesus membuat janji yang menakjubkan, ”Sesungguhnya barangsiapa menuruti firmanKu, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya.” Tentu saja, Yesus tidak memaksudkan bahwa semua yang menjadi pengikutnya tidak akan pernah mengalami kematian secara harfiah. Sebaliknya, ia memaksudkan bahwa mereka tidak akan pernah mengalami kebinasaan kekal, atau ”kematian yang kedua”, yang tidak ada kebangkitan.

      Akan tetapi, orang-orang Yahudi mengartikan kata-kata Yesus secara harfiah. Maka itu, mereka berkata, ”Sekarang kami tahu, bahwa Engkau kerasukan setan. Sebab Abraham telah mati dan demikian juga nabi-nabi, namun Engkau berkata: Barangsiapa menuruti firmanKu, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya. Adakah Engkau lebih besar dari pada bapa kita Abraham, yang telah mati! Nabi-nabipun telah mati; dengan siapakah Engkau samakan diriMu?”

      Dalam seluruh pembicaraan ini, jelaslah bahwa Yesus menunjukkan kepada orang-orang ini kenyataan bahwa dialah Mesias yang telah dijanjikan. Namun, sebaliknya daripada menjawab secara langsung pertanyaan mereka mengenai identitas dirinya, Yesus berkata, ”Jikalau Aku memuliakan diriKu sendiri, maka kemuliaanKu itu sedikitpun tidak ada artinya. BapaKulah yang memuliakan Aku, tentang siapa kamu berkata: Dia adalah Allah kami, padahal kamu tidak mengenal Dia, tetapi Aku mengenal Dia. Dan jika Aku berkata: Aku tidak mengenal Dia, maka Aku adalah pendusta, sama seperti kamu.”

      Selanjutnya, Yesus kembali menyebutkan Abraham yang setia, dengan mengatakan, ”Abraham bapamu bersukacita bahwa ia akan melihat hariKu dan ia telah melihatnya dan ia bersukacita.” Ya, dengan mata iman, Abraham dengan penuh harap menantikan kedatangan Mesias yang telah dijanjikan. Dengan rasa tidak percaya, orang-orang Yahudi menjawab, ”UmurMu belum sampai lima puluh tahun dan Engkau telah melihat Abraham?”

      ”Aku berkata kepadamu,” jawab Yesus, ”sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku ada.” Yesus tentu menunjuk kepada kehidupannya sebagai makhluk roh di surga sebelum menjadi manusia.

      Karena sangat marah akan pernyataan Yesus bahwa ia sudah ada sebelum Abraham, orang-orang Yahudi memungut batu dan melemparinya. Akan tetapi, ia menghindar dan keluar dari bait Allah tanpa cedera. Yohanes 8:37-59; Wahyu 3:14; 21:8.

  • Menyembuhkan Pria yang Buta Sejak Lahir
    Tokoh Terbesar Sepanjang Masa
    • Menyembuhkan Pria yang Buta Sejak Lahir

      KETIKA orang Yahudi mencoba melempari Yesus dengan batu, ia tidak meninggalkan Yerusalem. Kemudian, pada hari Sabat, ia dan murid-muridnya sedang berjalan di kota ketika mereka melihat seorang pria yang buta sejak lahir. Murid-murid bertanya kepada Yesus, ”Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orangtuanya, sehingga ia dilahirkan buta?”

      Mungkin murid-murid Yesus percaya, seperti halnya beberapa rabi, bahwa seseorang dapat berbuat dosa di dalam rahim ibunya. Akan tetapi, Yesus menjawab, ”Bukan dia dan bukan juga orangtuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia.” Kebutaan orang itu bukan akibat kesalahan atau dosa tertentu yang dilakukan oleh orang tersebut atau orang-tuanya. Dosa dari manusia pertama Adam mengakibatkan semua orang menjadi tidak sempurna, dan karena itu bisa mengakibatkan cacat seperti dilahirkan buta. Cacat pada pria ini kini menyediakan kesempatan bagi Yesus untuk membuat pekerjaan Allah menjadi nyata.

      Yesus menandaskan mendesaknya melakukan pekerjaan ini. ”Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang,” katanya. ”Akan datang malam, di mana tidak ada seorangpun yang dapat bekerja. Selama Aku di dalam dunia, Akulah terang dunia.” Segera kematian akan menurunkan Yesus ke dalam kegelapan di dalam kubur tempat ia tidak dapat berbuat apa pun. Sementara itu, ia adalah sumber penerangan dunia.

      Setelah mengucapkan hal-hal ini, Yesus meludah ke tanah dan mengaduk ludahnya dengan tanah. Ia membubuhkan ini pada mata orang buta itu dan berkata, ”Pergilah, basuhlah dirimu dalam kolam Siloam.” Orang itu menuruti perkataannya. Ketika ia melakukannya, ia dapat melihat! Betapa gembira hati orang ini ketika ia pulang, karena dapat melihat untuk pertama kali dalam hidupnya!

      Para tetangga dan orang-orang lain yang kenal dia merasa takjub. ”Bukankah dia ini yang selalu mengemis?” tanya mereka. ”Benar, dialah ini,” jawab beberapa orang. Namun orang-orang lain tidak percaya, ”Bukan, tetapi ia serupa dengan dia.” Akan tetapi, pria itu berkata, ”Benar, akulah itu.”

      ”Bagaimana matamu menjadi melek?” tanya orang-orang itu karena ingin tahu.

      ”Orang yang disebut Yesus itu mengaduk tanah, mengoleskannya pada mataku dan berkata kepadaku: Pergilah ke Siloam dan basuhlah dirimu. Lalu aku pergi dan setelah aku membasuh diriku, aku dapat melihat.”

      ”Di manakah Dia?” tanya mereka.

      ”Aku tidak tahu,” jawabnya.

      Orang-orang kemudian membawa pria yang pernah buta ini kepada para pemimpin agama mereka, orang Farisi. Mereka juga mulai bertanya-tanya kepadanya tentang bagaimana ia sampai dapat melihat. ”Ia mengoleskan adukan tanah pada mataku, lalu aku membasuh diriku, dan sekarang aku dapat melihat,” kata pria itu menjelaskan.

      Seharusnya orang-orang Farisi patut bergembira bersama pengemis yang sudah disembuhkan itu! Namun sebaliknya, mereka mencela Yesus. ”Orang ini tidak datang dari Allah,” kata mereka. Mengapa mereka berkata demikian? ”Sebab Ia tidak memelihara hari Sabat.” Meskipun demikian orang-orang Farisi yang lain bertanya-tanya, ”Bagaimanakah seorang berdosa dapat membuat mujizat yang demikian?” Maka timbul perbedaan pendapat di antara mereka.

      Karena itu, mereka bertanya kepada pria itu, ”Apakah katamu tentang Dia, karena Ia telah memelekkan matamu?”

      ”Ia adalah seorang nabi,” jawabnya.

      Orang-orang Farisi menolak untuk mempercayai hal ini. Mereka yakin bahwa pasti ada persekongkolan antara Yesus dengan pria ini untuk memperdayakan orang. Guna mengatasi hal ini, mereka memanggil orang-tua pengemis tersebut agar dapat menjawab pertanyaan mereka. Yohanes 8:59; 9:1-18.

  • Orang Farisi Sengaja Tidak Mau Percaya
    Tokoh Terbesar Sepanjang Masa
    • Orang Farisi Sengaja Tidak Mau Percaya

      ORANG-TUA pengemis yang dulunya buta itu merasa takut ketika dihadapkan kepada orang-orang Farisi. Mereka tahu sudah ada keputusan bahwa barangsiapa yang menunjukkan iman kepada Yesus akan diusir dari sinagoge. Pengucilan demikian dari pergaulan masyarakat dapat mengakibatkan banyak kesulitan, terutama bagi keluarga yang miskin. Maka orang-tua pria itu sangat hati-hati.

      ”Inikah anakmu, yang kamu katakan bahwa ia lahir buta?” tanya orang-orang Farisi. ”Kalau begitu bagaimanakah ia sekarang dapat melihat?”

      ”Yang kami tahu ialah, bahwa dia ini anak kami dan bahwa ia lahir buta,” demikian ditegaskan orang-tua dari pria itu. ”Tetapi bagaimana ia sekarang dapat melihat, kami tidak tahu, dan siapa yang memelekkan matanya, kami tidak tahu juga.” Anak mereka pasti telah menceritakan kepada mereka semua yang telah terjadi, tetapi dengan berhati-hati orang-tua pengemis itu berkata, ”Tanyakanlah kepadanya sendiri, ia sudah dewasa, ia dapat berkata-kata untuk dirinya sendiri.”

      Maka itu, orang-orang Farisi kembali memanggil pria tersebut. Kali ini mereka berupaya menggertak dia dengan menunjukkan bahwa mereka mempunyai bukti-bukti yang akan mendakwa Yesus. ”Katakanlah kebenaran di hadapan Allah,” tuntut mereka. ”Kami tahu bahwa orang itu orang berdosa.”

      Pria yang dulunya buta itu tidak menyangkal tuduhan mereka, dengan mengatakan, ”Apakah orang itu orang berdosa, aku tidak tahu.” Akan tetapi, ia menambahkan, ”Satu hal aku tahu, yaitu bahwa aku tadinya buta, dan sekarang dapat melihat.”

      Dengan berupaya mencari kesalahan dalam kesaksiannya, orang-orang Farisi kembali bertanya, ”Apakah yang diperbuatNya padamu? Bagaimana ia memelekkan matamu?”

      ”Telah kukatakan kepadamu,” keluh pria itu, ”dan kamu tidak mendengarkannya; mengapa kamu hendak mendengarkannya lagi?” Dengan sindiran tajam ia bertanya, ”Barangkali kamu mau menjadi muridNya juga?”

      Jawaban ini membangkitkan amarah orang Farisi. ”Engkau murid orang itu,” tuduh mereka, ”tetapi kami murid-murid Musa. Kami tahu, bahwa Allah telah berfirman kepada Musa, tetapi tentang Dia itu kami tidak tahu dari mana Ia datang.”

      Dengan rasa heran, pengemis yang rendah hati itu menyahut, ”Aneh juga bahwa kamu tidak tahu dari mana Ia datang, sedangkan Ia telah memelekkan mataku.” Kesimpulan apa dapat ditarik dari hal ini? Pengemis itu mengajukan pemikiran yang masuk akal, ”Kita tahu, bahwa Allah tidak mendengarkan orang-orang berdosa, melainkan orang-orang yang saleh dan yang melakukan kehendakNya. Dari dahulu sampai sekarang tidak pernah terdengar, bahwa ada orang yang memelekkan mata orang yang lahir buta.” Jadi, kesimpulannya jelas, ”Jikalau orang itu tidak datang dari Allah, Ia tidak dapat berbuat apa-apa.”

      Orang-orang Farisi tidak mempunyai jawaban untuk pernyataan yang begitu terus terang, yang sangat masuk akal. Mereka tidak dapat menghadapi kebenaran, maka mereka memaki pria itu, ”Engkau ini lahir sama sekali dalam dosa dan engkau hendak mengajar kami?” Lalu, mereka melemparkan dia ke luar, secara terang-terangan mengusir dia ke luar dari sinagoge.

      Ketika Yesus mendengar apa yang telah mereka lakukan, ia menemui pria itu dan berkata, ”Percayakah engkau kepada Anak Manusia?”

      Sebagai jawaban, pengemis yang dulunya buta itu bertanya, ”Siapakah Dia, Tuhan? Supaya aku percaya kepadaNya.”

      ”Dia yang sedang berkata-kata dengan engkau, Dialah itu!” jawab Yesus.

      Pria itu segera sujud di hadapan Yesus serta berkata, ”Aku percaya, Tuhan!”

      Kemudian Yesus menerangkan, ”Aku datang ke dalam dunia untuk menghakimi, supaya barangsiapa yang tidak melihat, dapat melihat, dan supaya barangsiapa yang dapat melihat, menjadi buta.”

      Saat itu, orang-orang Farisi yang sedang mendengarkan bertanya, ”Apakah itu berarti bahwa kami juga buta?” Jikalau mereka mau mengakui bahwa mereka buta secara rohani, kelakuan mereka yang menentang Yesus dapat dimaafkan. Sebagaimana Yesus berkata kepada mereka, ”Sekiranya kamu buta, kamu tidak berdosa.” Akan tetapi, mereka tetap berkata bahwa mereka tidak buta dan tidak membutuhkan penerangan rohani. Maka Yesus mengatakan, ”Tetapi karena kamu berkata: Kami melihat, maka tetaplah dosamu.” Yohanes 9:19-41.

Publikasi Menara Pengawal Bahasa Indonesia (1971-2025)
Log Out
Log In
  • Indonesia
  • Bagikan
  • Pengaturan
  • Copyright © 2025 Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania
  • Syarat Penggunaan
  • Kebijakan Privasi
  • Pengaturan Privasi
  • JW.ORG
  • Log In
Bagikan