PERPUSTAKAAN ONLINE Menara Pengawal
PERPUSTAKAAN ONLINE
Menara Pengawal
Indonesia
  • ALKITAB
  • PUBLIKASI
  • PERHIMPUNAN
  • Yesus Membahas Perceraian dan Menunjukkan bahwa Dia Menyayangi Anak-Anak
    Yesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
    • Banyak orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus

      BAB 95

      Yesus Membahas Perceraian dan Menunjukkan bahwa Dia Menyayangi Anak-Anak

      MATIUS 19:1-15 MARKUS 10:1-16 LUKAS 18:15-17

      • YESUS MEMBERITAHUKAN PANDANGAN ALLAH TENTANG PERCERAIAN

      • ORANG YANG MEMILIH UNTUK TIDAK MENIKAH

      • TELADAN ANAK-ANAK

      Dari Galilea, Yesus dan murid-muridnya menyeberangi Sungai Yordan lalu berjalan ke arah selatan melewati Perea. Terakhir kali Yesus berada di Perea, dia memberi tahu orang Farisi pandangan Allah tentang perceraian. (Lukas 16:18) Sekarang, mereka mengangkat topik itu lagi untuk menjebak Yesus.

      Musa menulis bahwa seorang wanita bisa diceraikan jika dia melakukan ”hal yang tidak pantas”. (Ulangan 24:1) Orang punya pendapat yang berbeda-beda tentang apa saja yang bisa dianggap sebagai dasar untuk perceraian. Ada yang merasa bahwa itu mencakup hal-hal sepele. Jadi orang Farisi bertanya, ”Bolehkah pria menceraikan istrinya dengan alasan apa pun?”​—Matius 19:3.

      Yesus tidak mau membahas pandangan manusia tentang perceraian. Sebaliknya, dia dengan bijaksana berbicara tentang pandangan Allah soal perkawinan. Dia berkata, ”Apa kalian belum pernah baca bahwa awalnya, Allah menciptakan manusia sebagai laki-laki dan perempuan? Allah berkata, ’Karena itu seorang pria akan meninggalkan ayah dan ibunya dan akan terus bersama istrinya, dan keduanya akan menjadi satu.’ Jadi, apa yang telah disatukan Allah tidak boleh dipisahkan manusia.” (Matius 19:4-6) Ya, ketika Allah mempersatukan Adam dan Hawa, Dia tidak membuat pengaturan untuk perceraian.

      Orang Farisi memprotes, ”Kalau begitu, kenapa Musa menyuruh pria memberikan surat cerai untuk menceraikan istrinya?” (Matius 19:7) Yesus menjawab, ”Musa memberi kalian kelonggaran untuk menceraikan istri kalian karena kalian keras kepala, tapi awalnya tidak begitu.” (Matius 19:8) Awal yang Yesus maksudkan bukanlah zaman Musa. Awal itu adalah ketika Allah pertama kali membentuk perkawinan di Eden.

      Sekarang, Yesus memberitahukan sebuah aturan penting: ”Saya katakan kepada kalian, kalau seseorang menceraikan istrinya, kecuali karena perbuatan cabul [Yunani, porneia] lalu menikah dengan orang lain, dia berzina.” (Matius 19:9) Jadi menurut Alkitab, perbuatan cabul adalah satu-satunya dasar untuk perceraian.

      Mendengar itu, murid-murid berkata, ”Kalau situasinya memang seperti itu bagi suami dan istri, lebih baik tidak menikah.” (Matius 19:10) Jelaslah, orang yang ingin menikah harus sadar bahwa perkawinan sangat serius dan mereka tidak bisa seenaknya berpisah.

      Mengenai orang yang tidak menikah, Yesus menjelaskan bahwa ada orang yang tidak bisa melakukan hubungan seks karena mereka terlahir seperti itu. Ada juga yang tidak bisa melakukan hubungan seks karena dibuat seperti itu oleh orang lain. Namun, ada juga orang yang sebenarnya punya hasrat seksual tapi menahannya supaya pelayanan mereka kepada Allah tidak terganggu. Yesus lalu memberikan nasihat, ”Kalau seseorang bisa menjalankan kehidupan seperti itu [tidak menikah], biarlah dia menjalankannya.”​—Matius 19:12.

      Sekarang, orang-orang mulai membawa anak-anak kecil kepada Yesus. Namun, para murid marah karena mereka takut anak-anak itu mengganggu Yesus. Yesus pun menegur para murid, ”Biarkan anak-anak kecil itu datang kepadaku. Jangan halangi mereka, karena Kerajaan Allah akan menjadi milik orang-orang seperti mereka. Sesungguhnya kukatakan, orang yang tidak menerima Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil tidak akan masuk ke dalamnya.”​—Markus 10:14, 15; Lukas 18:15.

      Ini pelajaran yang sangat bagus! Untuk bisa menerima Kerajaan Allah, kita harus rendah hati dan mau belajar seperti anak kecil. Yesus kemudian menunjukkan bahwa dia menyayangi anak-anak. Dia merangkul dan memberkati mereka. Yesus juga menyayangi semua orang yang ”menerima Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil”.​—Lukas 18:17.

  • Yesus Menjawab Pertanyaan Seorang Pemimpin yang Kaya
    Yesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
    • Seorang pemimpin kaya berbicara kepada Yesus sambil berlutut

      BAB 96

      Yesus Menjawab Pertanyaan Seorang Pemimpin yang Kaya

      MATIUS 19:16-30 MARKUS 10:17-31 LUKAS 18:18-30

      • SEORANG PRIA KAYA BERTANYA TENTANG CARANYA MENDAPAT KEHIDUPAN ABADI

      Sewaktu Yesus masih berjalan melewati Perea menuju Yerusalem, seorang pemuda kaya berlari mendekati Yesus lalu berlutut. Dia adalah ”seorang pemimpin Yahudi”, mungkin ketua sinagoga atau anggota Sanhedrin. ”Guru Yang Baik,” katanya, ”apa yang harus saya lakukan untuk mewarisi kehidupan abadi?”​—Lukas 8:41; 18:18; 24:20.

      ”Kenapa kamu menyebut saya baik?” tanya Yesus. ”Tidak ada yang baik selain Allah.” (Lukas 18:19) Pria muda itu memanggil Yesus ”Guru Yang Baik” karena para guru agama biasanya ingin dipanggil dengan gelar itu. Yesus memang mengajar dengan baik, tapi dia berkata bahwa tidak boleh ada orang yang diberi gelar ”Yang Baik”. Itu adalah gelar milik Allah.

      Untuk menjawab pertanyaan pria itu, Yesus berkata, ”Kalau kamu ingin mendapat kehidupan, teruslah jalankan perintah-perintah Allah.” Pria itu pun bertanya, ”Yang mana?” Yesus lalu mengutip lima dari Sepuluh Perintah, yaitu tentang pembunuhan, perzinaan, pencurian, memberikan kesaksian palsu, dan menghormati orang tua. Setelah itu, Yesus menambahkan sebuah perintah yang lebih penting, yaitu: ”Kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri.”​—Matius 19:17-19.

      Pria itu berkata, ”Saya sudah taati semuanya. Apa lagi yang kurang dari saya?” (Matius 19:20) Dia mungkin berpikir bahwa ada kebaikan yang bisa dia lakukan supaya dia bisa mendapat kehidupan abadi. ”Yesus memandang dia dengan penuh kasih” karena dia melihat bahwa pria ini benar-benar tulus. (Markus 10:21) Tapi, ada sesuatu yang menghalangi pria itu.

      Dia mencintai hartanya. Maka Yesus mengatakan, ”Ada satu yang belum kamu lakukan. Jual hartamu lalu berikan hasilnya kepada orang miskin, dan kamu akan punya harta di surga. Dan mari jadilah pengikutku.” Pria itu seharusnya memberikan uangnya kepada orang miskin, yang tidak bisa membalasnya, lalu menjadi pengikut Yesus. Namun sayangnya, setelah mendengar kata-kata Yesus, pria tersebut berdiri lalu pergi dengan pedih hati. Karena begitu mencintai ’hartanya yang banyak’, pria itu tidak mendapatkan harta yang benar-benar berharga. (Markus 10:21, 22) Yesus menyimpulkan, ”Betapa susahnya bagi orang yang banyak uang untuk masuk ke Kerajaan Allah!”​—Lukas 18:24.

      Yesus melanjutkan, ”Sebenarnya, lebih gampang unta masuk ke lubang jarum jahit daripada orang kaya masuk ke Kerajaan Allah.” Mendengar itu, para murid menjadi bingung dan tidak yakin apakah keselamatan bisa didapatkan oleh manusia. Mereka pun bertanya, ”Jadi siapa yang bisa selamat?” Yesus meyakinkan mereka, ”Hal yang mustahil bagi manusia tidak mustahil bagi Allah.”​—Lukas 18:25-27.

      Petrus lalu berkata bahwa mereka tidak seperti pemuda kaya tadi. Dia mengatakan, ”Kami sudah meninggalkan segalanya dan mengikutimu. Jadi apa yang akan kami terima?” Yesus memberitahukan berkat apa yang akan mereka terima: ”Pada waktu penciptaan kembali, sewaktu Putra manusia duduk di takhtanya yang mulia, kalian yang telah mengikuti aku akan duduk di 12 takhta dan menghakimi ke-12 suku Israel.”​—Matius 19:27, 28.

      Yesus pasti sedang membicarakan masa depan, saat bumi kembali menjadi seperti Taman Eden. Petrus dan murid-murid lainnya akan mendapat kehormatan untuk memerintah bersama Yesus atas bumi Firdaus. Jadi, pengorbanan apa pun yang mereka buat tidak ada apa-apanya dibandingkan berkat yang luar biasa itu!

      Selain berkat di masa depan, ada juga berkat-berkat yang bisa mereka dapatkan saat itu. Yesus berjanji, ”Siapa pun yang sudah meninggalkan rumahnya atau istrinya atau kakaknya atau adiknya atau orang tuanya atau anaknya demi Kerajaan Allah akan mendapat berkali-kali lebih banyak di zaman sekarang. Dan di zaman yang akan datang, dia akan mendapat kehidupan abadi.”​—Lukas 18:29, 30.

      Ke mana pun para murid pergi, mereka bisa akrab dengan rekan-rekan seiman mereka. Persaudaraan ini bahkan jauh lebih berharga daripada hubungan keluarga. Kelihatannya, karena tidak mengikuti Yesus, pemuda kaya tadi tidak mendapatkan berkat ini ataupun kehidupan dalam Kerajaan surga.

      Yesus menambahkan, ”Banyak orang yang pertama akan menjadi yang terakhir, dan yang terakhir menjadi yang pertama.” (Matius 19:30) Apa maksud Yesus?

      Sebagai pemimpin orang Yahudi, pemuda kaya itu termasuk ”orang yang pertama”. Karena menaati perintah-perintah Allah, dia sebenarnya punya potensi untuk menjadi murid Yesus. Tapi, dia lebih mementingkan kekayaannya. Sebaliknya, rakyat biasa menyadari bahwa ajaran Yesus adalah kebenaran dan jalan menuju kehidupan. Mereka tadinya adalah ”yang terakhir”, tapi mereka sekarang akan menjadi ”yang pertama”. Mereka akan menjadi raja di surga bersama Yesus dan memerintah atas bumi Firdaus.

  • Perumpamaan tentang Para Pekerja Kebun Anggur
    Yesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
    • Beberapa pria bekerja di kebun anggur

      BAB 97

      Perumpamaan tentang Para Pekerja Kebun Anggur

      MATIUS 20:1-16

      • PARA PEKERJA YANG TERAKHIR AKAN MENJADI YANG PERTAMA

      Di Perea, Yesus baru saja mengajar bahwa ”banyak orang yang pertama akan menjadi yang terakhir, dan yang terakhir menjadi yang pertama”. (Matius 19:30) Untuk memperjelas hal itu, Yesus sekarang memberikan perumpamaan tentang para pekerja di kebun anggur:

      ”Kerajaan surga itu seperti seorang tuan rumah yang keluar pada pagi hari untuk mencari pekerja bagi kebun anggurnya. Setelah dia dan pekerja-pekerja itu setuju dengan upah satu dinar sehari, dia menyuruh mereka pergi ke kebun anggurnya. Sekitar jam sembilan pagi, dia keluar lagi dan melihat orang-orang yang menganggur di pasar. Dia berkata kepada mereka, ’Kalian juga, pergilah ke kebun anggur saya, dan saya akan memberi kalian upah yang pantas.’ Mereka pun pergi. Sekitar jam 12 siang dan jam 3 sore, dia keluar lagi dan melakukan hal yang sama. Akhirnya, sekitar jam lima sore, dia keluar dan bertemu orang-orang lain yang sedang berdiri saja, dan dia berkata kepada mereka, ’Kenapa kalian menganggur dan berdiri di sini seharian?’ Mereka menjawab, ’Karena tidak ada yang memanggil kami untuk bekerja.’ Dia berkata, ’Kalian juga, pergilah ke kebun anggur saya.’”​—Matius 20:1-7.

      Ketika mendengar tentang ”Kerajaan surga” dan ”seorang tuan rumah”, para pendengar Yesus kemungkinan besar langsung berpikir tentang Allah Yehuwa. Dalam beberapa ayat, Yehuwa pernah digambarkan sebagai pemilik sebuah kebun anggur, yang adalah Israel sebagai suatu bangsa. (Mazmur 80:8, 9; Yesaya 5:3, 4) Para pekerja kebun anggur menggambarkan orang-orang yang berada di bawah perjanjian Hukum Musa. Tapi, Yesus tidak membicarakan orang Israel di zaman dulu. Dalam perumpamaan ini, dia sedang membicarakan keadaan pada zamannya.

      Yesus bercerita bahwa ada beberapa orang yang bekerja seharian dan berharap mendapatkan upah satu dinar. Mereka cocok menggambarkan para pemimpin agama dan orang Farisi, yang mengaku bekerja keras bagi Allah.

      Para pemimpin agama ini menganggap orang Yahudi lainnya tidak melayani Allah serajin mereka. Dalam perumpamaan Yesus, orang Yahudi lainnya ini seperti orang yang mulai bekerja belakangan, yaitu sekitar jam 9 pagi, jam 12 siang, jam 3 sore, dan akhirnya jam 5 sore.

      Orang Farisi menganggap para pengikut Yesus sebagai ”orang-orang terkutuk”. (Yohanes 7:49) Sebelum menjadi pengikut Yesus, mereka adalah nelayan atau pekerja rendahan. Kemudian, pada musim gugur tahun 29 M, ”pemilik kebun anggur” mengutus Yesus untuk mengajak mereka bekerja bagi Allah. Merekalah para pekerja ”yang terakhir”, yang bekerja mulai jam lima sore.

      Yesus lalu bercerita tentang apa yang terjadi ketika jam kerja mereka selesai: ”Ketika malam tiba, pemilik kebun anggur itu berkata kepada mandornya, ’Panggil para pekerja dan bayar upah mereka, mulai dari yang masuk terakhir sampai yang pertama.’ Ketika para pekerja yang masuk jam lima sore datang, mereka masing-masing menerima satu dinar. Maka ketika para pekerja yang masuk paling awal datang, mereka pikir mereka akan menerima lebih banyak, tapi mereka pun dibayar satu dinar. Saat menerimanya, mereka mulai mengeluh kepada tuan rumah itu dan berkata, ’Orang-orang yang terakhir ini hanya bekerja satu jam, tapi kamu membayar mereka sama dengan kami yang bekerja keras seharian di bawah terik matahari!’ Tapi, dia menjawab salah satu dari mereka, ’Kawan, saya tidak bersalah kepadamu. Kita setuju dengan upah satu dinar, kan? Ambil upahmu dan pergilah. Saya mau memberi orang yang datang terakhir ini upah yang sama denganmu. Saya berhak berbuat semau saya dengan milik saya, kan? Atau, apa kamu iri karena saya baik?’ Dengan begitu, yang terakhir akan menjadi yang pertama, dan yang pertama menjadi yang terakhir.”​—Matius 20:8-16.

      Para murid tidak begitu mengerti maksud kata-kata Yesus di akhir perumpamaannya. Bagaimana para pemimpin agama, yang merasa diri sebagai ”yang pertama”, akan menjadi ”yang terakhir”? Dan bagaimana para pengikut Yesus akan menjadi ”yang pertama”?

      Para murid Yesus, yang dianggap sebagai ”yang terakhir”, akan menjadi ”yang pertama” dan mendapat upah penuh. Setelah Yesus mati, bangsa Israel jasmani ditolak oleh Allah, dan Allah memilih bangsa baru, yaitu ”Israel milik Allah”. (Galatia 6:16; Matius 23:38) Bangsa baru ini dibaptis dengan kuasa kudus, seperti yang dinubuatkan Yohanes Pembaptis. Mereka pun menjadi yang pertama menerima baptisan itu dan diberi kehormatan untuk bersaksi tentang Yesus ”sampai ke bagian yang paling jauh di bumi”. (Kisah 1:5, 8; Matius 3:11) Karena Yesus sudah menjelaskan bahwa keadaan para murid dan para pemimpin agama akan berubah drastis, para murid mungkin sudah tahu bahwa mereka akan dibenci oleh para pemimpin agama.

  • Para Rasul Lagi-Lagi Ingin Menjadi yang Terbesar
    Yesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
    • Salome mendekati Yesus dan menyampaikan permintaan anak-anaknya

      BAB 98

      Para Rasul Lagi-Lagi Ingin Menjadi yang Terbesar

      MATIUS 20:17-28 MARKUS 10:32-45 LUKAS 18:31-34

      • YESUS KEMBALI MENUBUATKAN KEMATIANNYA

      • REAKSI YESUS SAAT PARA RASULNYA INGIN MENJADI YANG TERBESAR

      Yesus dan para murid sampai di ujung daerah Perea dan sudah semakin dekat dengan Yerusalem. Sekarang, mereka menyeberangi Sungai Yordan di dekat Yerikho. Banyak orang lain juga berjalan menuju Yerusalem untuk merayakan Paskah tahun 33 M.

      Yesus berjalan mendahului para muridnya karena dia tidak mau terlambat tiba di Yerusalem untuk merayakan Paskah. Tapi, murid-murid merasa takut. Sebelumnya, ketika Lazarus meninggal dan Yesus berencana pergi ke Yudea, Tomas memberi tahu para murid lain, ”Ayo kita pergi juga, supaya kita mati bersama dia.” (Yohanes 11:16, 47-53) Kata-kata Tomas itu menunjukkan bahwa perjalanan mereka ke Yerusalem itu berbahaya. Maka, kita bisa memaklumi perasaan takut para murid.

      Yesus ingin para rasulnya siap menghadapi apa yang akan terjadi. Dia pun berkata, ”Kita sedang menuju Yerusalem, dan Putra manusia akan diserahkan kepada para imam kepala dan ahli Taurat. Mereka akan menjatuhi dia hukuman mati dan menyerahkan dia kepada orang-orang dari bangsa lain untuk diejek, dicambuk, dan dibunuh di tiang. Pada hari ketiga, dia akan dibangkitkan.”​—Matius 20:18, 19.

      Ini adalah kali ketiga Yesus memberi tahu murid-muridnya tentang kematian dan kebangkitannya. (Matius 16:21; 17:22, 23) Namun kali ini, dia berkata bahwa dia akan dipantek pada sebuah tiang. Para murid mendengar kata-kata Yesus itu, tapi mereka tidak paham artinya. Malah, karena mereka ingin dimuliakan sebagai raja bersama Kristus di bumi, mereka bisa jadi berpikir bahwa kerajaan Israel akan dipulihkan di bumi.

      Yakobus dan Yohanes

      Ibu dari Rasul Yakobus dan Rasul Yohanes, yang sepertinya adalah Salome, juga ikut berjalan menuju Yerusalem. Yesus menyebut dua rasul ini ”Anak-Anak Guntur”, pasti karena mereka sangat bersemangat. (Markus 3:17; Lukas 9:54) Kedua rasul ini ingin sekali mendapat kedudukan penting dalam Kerajaan Kristus. Karena mengetahui hal ini, ibu mereka mendekati Yesus lalu sujud untuk menyampaikan sebuah permintaan. Yesus bertanya, ”Apa yang kamu inginkan?” Dia menjawab, ”Katakanlah bahwa kedua anakku ini bisa duduk di sebelahmu dalam Kerajaanmu, satu di kananmu dan satu di kirimu.”​—Matius 20:20, 21.

      Itu sebenarnya adalah permintaan Yakobus dan Yohanes. Yesus baru saja memberitahukan hinaan dan penderitaan yang akan dia alami, jadi dia berkata kepada mereka, ”Kalian tidak mengerti apa yang kalian minta ini. Apa kalian sanggup minum cawan yang akan segera aku minum?” Mereka menjawab, ”Kami sanggup.” (Matius 20:22) Namun, mereka kelihatannya tidak benar-benar mengerti apa maksud Yesus.

      Meski begitu, Yesus memberi tahu mereka, ”Kalian memang akan minum cawanku. Tapi soal duduk di sebelah kanan dan kiriku, aku tidak berhak menentukannya. Bapakku sudah menyiapkannya untuk orang-orang yang Dia tentukan.”​—Matius 20:23.

      Sebelumnya, para rasul sudah pernah bertengkar tentang siapa yang terbesar, dan Yakobus dan Yohanes bisa jadi sangat berambisi waktu itu. (Lukas 9:46-48) Sekarang, saat mendengar tentang permintaan Yakobus dan Yohanes, sepuluh rasul lainnya marah. Mereka semua masih menginginkan kedudukan yang tinggi dan belum menerapkan nasihat Yesus tentang menjadi yang terkecil.

      Yesus ingin menyelesaikan masalah ini. Maka, dia memanggil kedua belas rasulnya dan dengan lembut menasihati mereka, ”Kalian tahu bahwa orang-orang yang dianggap sebagai penguasa bangsa-bangsa memerintah mereka, dan para pejabat tinggi mereka juga menjalankan kekuasaan atas mereka. Tapi kalian tidak boleh begitu. Siapa pun yang ingin menjadi besar di antara kalian harus menjadi pelayan kalian, dan siapa pun yang ingin menjadi pertama di antara kalian harus menjadi budak bagi semua.”​—Markus 10:42-44.

      Yesus lalu memberitahukan bahwa mereka harus meniru dia. Yesus menjelaskan, ”Putra manusia datang, bukan untuk dilayani, tapi untuk melayani dan memberikan nyawanya sebagai tebusan bagi banyak orang.” (Matius 20:28) Selama sekitar tiga tahun, Yesus sudah melayani banyak orang. Sebentar lagi, dia bahkan akan mengorbankan nyawanya bagi semua manusia! Para murid harus punya sikap yang sama seperti Yesus. Mereka harus ingin melayani, bukan dilayani. Mereka harus bersikap sebagai yang terkecil, bukan ingin menjadi yang terbesar.

  • Yesus Menyembuhkan Dua Orang Buta dan Membantu Zakheus Bertobat
    Yesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
    • Zakheus di atas pohon

      BAB 99

      Yesus Menyembuhkan Dua Orang Buta dan Membantu Zakheus Bertobat

      MATIUS 20:29-34 MARKUS 10:46-52 LUKAS 18:35–19:10

      • YESUS MENYEMBUHKAN DUA ORANG BUTA DEKAT YERIKHO

      • PEMUNGUT PAJAK BERNAMA ZAKHEUS BERTOBAT

      Yesus dan rombongannya tiba di Yerikho, yang jaraknya kira-kira sehari perjalanan dari Yerusalem. Yerikho terdiri dari dua kota: Kota baru, yang dibangun pada masa Romawi, dan kota lama. Jarak antara kedua kota itu sekitar 1,6 kilometer. Yesus dan rombongannya sedang dalam perjalanan dari kota Yerikho yang satu ke yang lainnya. Kedatangan mereka didengar oleh dua pengemis buta. Salah satunya bernama Bartimeus.

      Ketika Bartimeus dan temannya mendengar bahwa Yesus sedang lewat, mereka berteriak, ”Tuan, Putra Daud, kasihanilah kami!” (Matius 20:30) Beberapa orang marah dan menyuruh mereka diam, tapi mereka malah berteriak semakin keras. Mendengar itu, Yesus berhenti dan meminta agar orang yang berteriak itu dipanggil. Maka, orang-orang mendatangi para pengemis itu dan berkata, ”Ayo berdiri, dia panggil kamu.” (Markus 10:49) Orang buta itu pun langsung melompat sambil melemparkan baju luarnya, lalu dia berjalan menemui Yesus.

      Yesus menyembuhkan orang buta

      Yesus bertanya, ”Apa yang kalian ingin saya lakukan untuk kalian?” Kedua orang buta itu menjawab, ”Tuan, bukalah mata kami.” (Matius 20:32, 33) Karena merasa kasihan, Yesus menyentuh mata mereka dan berkata kepada salah satu dari mereka, ”Pergilah. Imanmu sudah membuat kamu sembuh.” (Markus 10:52) Kedua pengemis itu pun bisa melihat. Mereka lalu memuliakan Allah dan mengikuti Yesus. Orang-orang yang melihat kejadian itu juga memuji Allah.

      Ketika Yesus berjalan melewati Yerikho, ada banyak sekali orang yang berdesakan di sekitarnya. Semuanya ingin melihat orang yang sudah menyembuhkan kedua pengemis buta itu. Ada begitu banyak orang yang mengerumuni Yesus sampai-sampai sebagian orang tidak bisa melihat dia. Salah satunya adalah Zakheus. Dia adalah kepala para pemungut pajak di Yerikho dan sekitarnya. Karena tubuhnya pendek, dia tidak bisa melihat apa yang sedang terjadi. Maka, dia berlari mendahului kerumunan orang itu dan memanjat sebuah pohon ara yang akan dilewati Yesus. Dari sana, Zakheus bisa melihat semuanya dengan jelas. Saat Yesus mendekat dan melihat Zakheus di atas pohon itu, Yesus berkata, ”Zakheus, cepat turun! Hari ini saya harus pergi ke rumahmu.” (Lukas 19:5) Zakheus pun turun dan cepat-cepat pulang ke rumahnya untuk menyambut tamu istimewanya.

      Tapi, orang-orang yang melihatnya tidak senang. Menurut mereka, Yesus seharusnya tidak bertamu ke rumah orang berdosa seperti Zakheus, yang menjadi kaya karena memeras pajak dari orang-orang.

      Sewaktu Yesus masuk ke rumah Zakheus, orang-orang mengeluh, ”Dia bertamu ke rumah orang berdosa.” Meski begitu, Yesus melihat bahwa Zakheus mungkin bisa bertobat. Dan memang itulah yang terjadi. Zakheus berdiri dan memberi tahu Yesus, ”Setengah harta saya akan saya berikan kepada orang miskin, Tuan. Siapa pun yang saya peras, uangnya akan saya kembalikan empat kali lipat.”​—Lukas 19:7, 8.

      Tindakan Zakheus membuktikan bahwa pertobatannya tulus. Dari catatannya, dia kemungkinan besar bisa mengetahui berapa banyak uang yang dia ambil dari orang-orang Yahudi. Dia bersumpah untuk mengembalikan empat kali lipatnya. Padahal, jumlah yang diwajibkan hukum Allah tidak sebanyak itu. (Keluaran 22:1; Imamat 6:2-5) Zakheus bahkan berjanji untuk memberikan setengah dari hartanya sendiri kepada orang miskin.

      Yesus senang melihat Zakheus bertobat. Yesus berkata, ”Hari ini, keselamatan telah datang atas orang ini dan keluarganya, karena dia pun anak Abraham. Sebab Putra manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan orang yang tersesat.”​—Lukas 19:9, 10.

      Sebelumnya, dalam perumpamaan anak yang hilang, Yesus menjelaskan tentang keadaan orang yang tersesat secara rohani tapi ditemukan lagi. (Lukas 15:11-24) Seperti itulah keadaan Zakheus. Para pemimpin agama dan pengikut mereka memprotes kebaikan Yesus terhadap orang seperti Zakheus. Tapi, Yesus tetap mencari dan membantu anak-anak Abraham yang tersesat untuk kembali.

  • Perumpamaan tentang Sepuluh Mina
    Yesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
    • Seorang budak mengembalikan mina kepada majikannya

      BAB 100

      Perumpamaan tentang Sepuluh Mina

      LUKAS 19:11-28

      • PERUMPAMAAN YESUS TENTANG SEPULUH MINA

      Dalam perjalanan ke Yerusalem, Yesus singgah di rumah Zakheus. Kemungkinan, dia sekarang masih berada di sana. Para murid berpikir bahwa ”Kerajaan Allah” akan segera memerintah, dan Yesus akan menjadi Raja. (Lukas 19:11) Mereka belum mengerti tentang hal ini, sama seperti mereka belum mengerti bahwa Yesus akan mati. Karena itu, Yesus menyampaikan perumpamaan agar mereka mengerti bahwa Kerajaan itu baru akan memerintah di masa depan.

      Dia berkata, ”Seorang bangsawan pergi ke negeri yang jauh untuk menjadi raja, dan setelah itu dia akan kembali.” (Lukas 19:12) Perjalanan itu pasti membutuhkan waktu. Siapa bangsawan yang pergi ke negeri yang jauh itu? Dia adalah Yesus yang pergi ke surga dan dijadikan Raja oleh Bapaknya.

      Sebelum bangsawan itu pergi, dia memanggil sepuluh budaknya dan memberi mereka masing-masing satu mina. Dia berkata, ”Pakai uang ini untuk berbisnis sampai saya pulang.” (Lukas 19:13) Satu mina sama dengan upah seorang pekerja di ladang selama lebih dari tiga bulan.

      Para murid mungkin mengerti bahwa merekalah sepuluh budak itu, karena Yesus pernah menyebut mereka sebagai pemanen dalam perumpamaan sebelumnya. (Matius 9:35-38) Panen yang harus mereka kumpulkan adalah orang-orang yang juga akan memerintah di Kerajaan Allah. Para murid menggunakan waktu, tenaga, dan harta mereka untuk melakukan tugas itu.

      Yesus lalu berkata, ”Penduduk negeri itu membenci [sang bangsawan]. Mereka mengirim sekelompok utusan untuk berkata kepadanya, ’Kami tidak mau kamu jadi raja kami’”. (Lukas 19:14) Para murid tahu bahwa kebanyakan orang Yahudi menolak Yesus, dan ada yang bahkan mau membunuhnya. Setelah Yesus meninggal dan belakangan naik ke surga, orang-orang Yahudi mulai menganiaya murid-muridnya. Mereka jelas-jelas tidak mau Yesus menjadi Raja mereka.​—Yohanes 19:15, 16; Kisah 4:13-18; 5:40.

      Yesus melanjutkan perumpamaannya, ”Setelah menjadi raja, [bangsawan itu] akhirnya pulang. Lalu, dia memanggil budak-budak yang telah diberinya uang. Dia ingin tahu berapa hasil bisnis mereka masing-masing. Lalu datanglah budak yang pertama. Budak itu berkata, ’Tuan, dengan satu mina Tuan, saya dapat untung sepuluh mina.’ Maka dia berkata kepada budaknya, ’Bagus. Kamu budak yang baik! Karena kamu setia dalam hal yang sangat kecil, kamu akan berkuasa atas sepuluh kota.’ Lalu datanglah budak yang kedua. Budak itu berkata, ’Tuan, dengan satu mina Tuan, saya dapat untung lima mina.’ Dia juga berkata kepada budak ini, ’Kamu akan berkuasa atas lima kota.’”​—Lukas 19:15-19.

      Para murid harus menggunakan seluruh sumber daya mereka untuk membuat murid, seperti budak-budak yang rajin itu. Dengan begitu, Yesus pasti senang dan akan mengupahi mereka. Tentu saja, keadaan setiap murid Yesus berbeda-beda, begitu juga dengan kesempatan dan kesanggupan mereka. Namun, jika mereka dengan setia berupaya membuat murid, Yesus yang sudah ”menjadi raja” akan menghargai dan memberkati mereka.​—Matius 28:19, 20.

      Tapi, ada seorang budak yang sangat berbeda dengan mereka. Yesus berkata, ”Datanglah budak yang lain dan berkata, ’Tuan, ini uang mina Tuan. Saya menyimpannya dalam kain. Begini, saya takut pada Tuan karena Tuan itu orang yang jahat. Tuan mengambil uang yang tidak Tuan tabung, dan Tuan memanen apa yang tidak Tuan tanam.’ Dia berkata kepada budak itu, ’Budak yang jahat! Saya akan menghakimi kamu menurut kata-katamu sendiri. Kamu sudah tahu saya orang jahat, yang mengambil uang yang tidak saya tabung dan memanen apa yang tidak saya tanam. Jadi, kenapa kamu tidak taruh uang saya di bank? Jadi waktu saya pulang, saya bisa ambil uang itu dengan bunganya.’ Kemudian, dia berkata kepada orang-orang yang berdiri di situ, ’Ambil uang mina itu dari dia dan berikan kepada budak yang punya sepuluh mina.’”​—Lukas 19:20-24.

      Budak itu rugi karena tidak bekerja untuk menambah kekayaan majikannya. Jadi, para rasul bisa menyimpulkan bahwa kalau mereka tidak rajin, mereka tidak bisa memerintah bersama Yesus dalam Kerajaan Allah yang mereka nantikan.

      Kata-kata Yesus pasti menyemangati para murid yang setia itu untuk bekerja lebih rajin lagi. Yesus mengakhiri perumpamaannya, ”Saya memberi tahu kalian, setiap orang yang memiliki akan diberi lebih banyak, tapi mengenai setiap orang yang tidak memiliki, bahkan apa yang dia miliki akan diambil darinya.” Yesus lalu berkata bahwa musuh-musuhnya, yang tidak mau dia menjadi ”raja mereka”, akan dihukum mati. Setelah itu, Yesus melanjutkan perjalanannya ke Yerusalem.​—Lukas 19:26-28.

Publikasi Menara Pengawal Bahasa Indonesia (1971-2025)
Log Out
Log In
  • Indonesia
  • Bagikan
  • Pengaturan
  • Copyright © 2025 Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania
  • Syarat Penggunaan
  • Kebijakan Privasi
  • Pengaturan Privasi
  • JW.ORG
  • Log In
Bagikan