-
”Tuan, Ajarlah Kami Cara Berdoa”Menara Pengawal—2004 | 1 Februari
-
-
”Tuan, Ajarlah Kami Cara Berdoa”
”Salah seorang muridnya mengatakan kepadanya, ’Tuan, ajarlah kami cara berdoa.’”—LUKAS 11:1.
1. Mengapa salah seorang murid Yesus meminta Yesus mengajar mereka cara berdoa?
SEKALI peristiwa pada tahun 32 M, seorang murid Yesus mengamati dia sementara Ia berdoa. Sang murid tidak dapat mendengar apa yang Yesus katakan kepada Bapaknya, karena doa itu mungkin diucapkan dalam hati. Meskipun demikian, ketika Yesus selesai berdoa, sang murid berkata kepadanya, ”Tuan, ajarlah kami cara berdoa.” (Lukas 11:1) Apa yang memicu permintaan ini? Doa merupakan bagian yang tetap dalam kehidupan dan ibadat orang Yahudi. Kitab-Kitab Ibrani memuat banyak doa dalam buku Mazmur dan buku lainnya. Jadi, sang murid tidak meminta diajarkan sesuatu yang sama sekali tidak ia ketahui atau yang belum pernah ia lakukan. Tidak diragukan, ia tahu betul doa-doa para pemimpin agama Yudaisme yang bersifat formalitas. Tetapi, sekarang ia telah mengamati Yesus berdoa, dan ia agaknya merasakan perbedaan besar antara doa para rabi yang disaleh-salehkan dan cara Yesus berdoa.—Matius 6:5-8.
2. (a) Apa saja yang menunjukkan bahwa Yesus tidak bermaksud agar kita mengulangi contoh doa itu kata demi kata? (b) Mengapa kita berminat untuk mengetahui caranya berdoa?
2 Kira-kira 18 bulan sebelumnya, dalam Khotbahnya di Gunung, Yesus telah memberi murid-muridnya suatu contoh sebagai dasar doa-doa mereka. (Matius 6:9-13) Mungkin murid yang satu ini tidak hadir pada waktu itu, maka Yesus dengan baik hati mengulangi pokok-pokok esensial dari contoh doa tersebut. Patut diperhatikan bahwa ia tidak mengulangi doa itu kata demi kata, yang menunjukkan bahwa ia tidak memberikan doa yang bersifat liturgi untuk dihafalkan dan diucapkan berulang-ulang. (Lukas 11:1-4) Seperti murid yang anonim itu, kita juga ingin diajar cara berdoa sehingga doa kita akan lebih mendekatkan kita kepada Yehuwa. Oleh karena itu, mari kita ulas versi lengkap contoh doa itu, sebagaimana dicatat oleh rasul Matius. Doa itu terdiri dari tujuh permintaan, tiga di antaranya menyangkut maksud-tujuan Allah dan empat lainnya menyangkut kebutuhan materi dan rohani kita. Dalam artikel ini, kita akan membahas tiga permohonan yang pertama.
Bapak yang Pengasih
3, 4. Apa yang tersirat melalui cara kita menyapa Yehuwa sebagai ”Bapak kami”?
3 Sejak awal mula, Yesus memperlihatkan bahwa doa kita hendaknya mencerminkan hubungan yang akrab namun penuh respek dengan Yehuwa. Dalam penjelasannya, terutama demi kepentingan murid-muridnya yang telah berkumpul dekat dia di sisi gunung itu, Yesus memberi tahu mereka untuk menyapa Yehuwa sebagai ”Bapak kami yang di surga”. (Matius 6:9) Menurut seorang pakar, tidak soal Yesus berbicara dalam bahasa Ibrani populer atau dalam bahasa Aram, istilah yang ia gunakan untuk ”Bapak” serupa dengan ungkapan akrab seorang anak kecil, ’seperti panggilan sayang seorang anak’. Menyapa Yehuwa sebagai ”Bapak kami” menunjukkan suatu hubungan yang hangat dan penuh kepercayaan.
4 Dengan menggunakan kata ganti ”kami” dalam ungkapan ”Bapak kami”, kita juga mengakui bahwa kita adalah bagian dari sebuah keluarga besar yang terdiri atas pria dan wanita yang mengakui Yehuwa sebagai sang Pemberi Kehidupan. (Yesaya 64:8; Kisah 17:24, 28) Orang Kristen yang diperanakkan roh diadopsi sebagai ”putra-putra Allah”, dan kepada-Nya mereka dapat ”berseru, ’Abba, Bapak!’ ” (Roma 8:14, 15) Jutaan orang telah menjadi rekan mereka yang loyal. Orang-orang ini telah membaktikan kehidupan mereka kepada Yehuwa dan melambangkan pembaktian mereka dengan baptisan air. Semua ”domba-domba lain” ini juga dapat menghampiri Yehuwa dalam nama Yesus dan menyebut Dia ”Bapak kami”. (Yohanes 10:16; 14:6) Kita dapat secara teratur menghampiri Bapak surgawi kita dalam doa untuk memuji-Nya, bersyukur kepada-Nya atas segala pernyataan kebaikan-Nya kepada kita, dan membawa beban kita kepada-Nya, yakin bahwa Ia mempedulikan kita.—Filipi 4:6, 7; 1 Petrus 5:6, 7.
Kasih kepada Nama Yehuwa
5. Apa permohonan di bagian pembukaan contoh doa, dan mengapa hal itu tepat?
5 Permohonan di bagian pembukaan itu langsung memprioritaskan hal-hal yang utama. Permohonan itu berbunyi, ”Biarlah namamu disucikan.” (Matius 6:9) Ya, penyucian nama Yehuwa hendaknya menjadi kepedulian utama kita karena kita mengasihi Dia dan benci melihat segala celaan yang telah ditumpukkan ke atas nama-Nya. Pemberontakan Setan dan tindakannya menggoda pasangan manusia pertama untuk tidak menaati Allah Yehuwa merupakan fitnah terhadap nama-Nya dengan mempertanyakan cara Allah menjalankan kedaulatan universal-Nya. (Kejadian 3:1-6) Selain itu, selama berabad-abad, nama Yehuwa telah dicela melalui tindakan dan ajaran yang memalukan dari orang-orang yang mengaku mewakili Dia.
6. Apa yang tidak akan kita lakukan jika kita berdoa agar nama Yehuwa disucikan?
6 Doa kita untuk penyucian nama Yehuwa memperlihatkan di pihak mana kita berdiri dalam sengketa kedaulatan universal—sepenuhnya mendukung hak Yehuwa untuk memerintah alam semesta. Yehuwa menginginkan agar alam semesta ini dihuni oleh makhluk cerdas yang dengan rela dan bersukacita tunduk kepada kedaulatan-Nya yang adil-benar karena mereka mengasihi Dia dan mengasihi segala sesuatu yang mencerminkan nama-Nya. (1 Tawarikh 29:10-13; Mazmur 8:1; 148:13) Kasih kita kepada nama Yehuwa akan membantu kita menahan diri untuk melakukan apa pun yang dapat mencela nama suci itu. (Yehezkiel 36:20, 21; Roma 2:21-24) Karena perdamaian alam semesta dan penghuninya bergantung pada penyucian nama Yehuwa dan ketundukan yang pengasih kepada kedaulatan-Nya, doa kita ”biarlah namamu disucikan” adalah ungkapan keyakinan kita bahwa maksud-tujuan Yehuwa akan tergenap untuk kepujian-Nya.—Yehezkiel 38:23.
Kerajaan yang Kita Doakan
7, 8. (a) Kerajaan apa yang Yesus ajarkan kepada kita untuk didoakan? (b) Apa yang kita pelajari mengenai Kerajaan ini dalam buku Daniel dan Penyingkapan?
7 Permohonan kedua dalam contoh doa itu ialah ”Biarlah kerajaanmu datang”. (Matius 6:10) Permintaan itu berkaitan erat dengan yang sebelumnya. Sarana Yehuwa untuk menyucikan nama kudus-Nya ialah Kerajaan Mesianik, pemerintahan surgawi-Nya, dengan Putra-Nya, Yesus Kristus, sebagai Raja yang terlantik. (Mazmur 2:1-9) Nubuat Daniel menggambarkan Kerajaan Mesianik sebagai ”sebuah batu” yang dipotong dari sebuah ”gunung”. (Daniel 2:34, 35, 44, 45) Gunung itu menggambarkan kedaulatan universal Yehuwa, maka batu Kerajaan adalah suatu manifestasi baru dari pemerintahan universal Yehuwa. Dalam nubuat tersebut, batu itu selanjutnya ”menjadi gunung yang besar dan memenuhi seluruh bumi”, yang menunjukkan bahwa Kerajaan Mesianik akan mewakili kedaulatan ilahi dalam memerintah bumi.
8 Dalam pemerintahan Kerajaan ini, Kristus memiliki 144.000 rekan lainnya, yang ”telah dibeli dari bumi” untuk memerintah bersamanya sebagai raja-raja dan imam-imam. (Penyingkapan 5:9, 10; 14:1-4; 20:6) Daniel menyebut mereka ini sebagai ”orang-orang kudus milik Pribadi Yang Mahatinggi”, yang, bersama Kristus sebagai Kepala mereka, menerima ”kerajaan, kekuasaan, dan keagungan kerajaan-kerajaan di bawah seluruh langit . . . Kerajaan mereka ialah kerajaan yang bertahan untuk waktu yang tidak tertentu, dan segala kekuasaan akan melayani dan menaati mereka”. (Daniel 7:13, 14, 18, 27) Gambaran ini cocok dengan pemerintahan surgawi yang Yesus ajarkan kepada para pengikutnya untuk didoakan.
Mengapa Masih Berdoa agar Kerajaan Itu Datang?
9. Mengapa tepat bagi kita untuk berdoa agar Kerajaan Allah datang?
9 Dalam contoh doanya, Kristus mengajar kita untuk mendoakan kedatangan Kerajaan Allah. Penggenapan nubuat Alkitab menunjukkan bahwa Kerajaan Mesianik berdiri di surga pada tahun 1914.a Kalau begitu, apakah masih tepat bagi kita untuk berdoa agar Kerajaan itu ”datang”? Tentu saja. Karena dalam nubuat Daniel, Kerajaan Mesianik, yang dilambangkan dengan sebuah batu, sedang melaju untuk menghantam pemerintahan politik manusia, yang dilambangkan dengan sebuah patung yang sangat besar. Batu tersebut masih dalam perjalanan menuju patung itu, dan akan menghantamnya hingga menjadi abu. Nubuat Daniel mengatakan, ”Kerajaan itu tidak akan beralih kepada bangsa lain. Kerajaan itu akan meremukkan dan mengakhiri semua kerajaan ini, dan akan tetap berdiri sampai waktu yang tidak tertentu.”—Daniel 2:44.
10. Mengapa kita sangat menginginkan kedatangan Kerajaan Allah?
10 Kita ingin sekali melihat Kerajaan Allah datang melawan sistem fasik Setan karena ini akan berarti penyucian nama kudus Yehuwa dan penyingkiran semua penentang kedaulatan ilahi. Kita dengan sungguh-sungguh berdoa, ”Biarlah kerajaanmu datang”, dan bersama rasul Yohanes, kita mengatakan, ”Amin! Datanglah, Tuan Yesus.” (Penyingkapan 22:20) Ya, semoga Yesus datang untuk menyucikan nama Yehuwa dan membenarkan kedaulatan-Nya, sehingga kata-kata sang pemazmur menjadi kenyataan, ”Agar mereka tahu bahwa engkau, yang bernama Yehuwa, engkau sajalah Yang Mahatinggi atas seluruh bumi.”—Mazmur 83:18.
”Biarlah Kehendakmu Terjadi”
11, 12. (a) Apa yang kita minta sewaktu berdoa agar kehendak Allah ”terjadi, seperti di surga, demikian pula di atas bumi”? (b) Apa lagi yang ditunjukkan oleh doa kita agar kehendak Yehuwa dilakukan?
11 Yesus lalu mengajar murid-muridnya berdoa, ”Biarlah kehendakmu terjadi, seperti di surga, demikian pula di atas bumi.” (Matius 6:10) Alam semesta menjadi ada karena kehendak Yehuwa. Makhluk-makhluk surgawi yang penuh kuasa berseru, ”Yehuwa, ya, Allah kami, engkau layak menerima kemuliaan, kehormatan, dan kuasa, karena engkau menciptakan segala sesuatu, dan oleh karena kehendakmu semua itu ada dan diciptakan.” (Penyingkapan 4:11) Yehuwa memiliki maksud-tujuan untuk ”perkara-perkara di surga dan perkara-perkara di bumi”. (Efesus 1:8-10) Dengan berdoa agar kehendak Allah terjadi, kita sebenarnya meminta Yehuwa untuk melaksanakan maksud-tujuan-Nya. Selain itu, kita juga memperlihatkan bahwa kita sangat ingin melihat kehendak ilahi terwujud di seluruh alam semesta.
12 Melalui doa ini, kita juga memanifestasikan kerelaan kita untuk menyelaraskan kehidupan kita dengan kehendak Yehuwa. Yesus menyatakan, ”Makananku adalah melakukan kehendak dia yang mengutus aku dan menyelesaikan pekerjaannya.” (Yohanes 4:34) Seperti Yesus, sebagai orang Kristen yang berbakti, kita memperoleh kesenangan dalam melakukan kehendak Allah. Kasih kita kepada Yehuwa dan Putra-Nya menggerakkan kita untuk tidak lagi menjalani kehidupan kita ”demi keinginan manusia, tetapi demi kehendak Allah”. (1 Petrus 4:1, 2; 2 Korintus 5:14, 15) Kita berjuang untuk tidak melakukan hal-hal yang kita tahu bertentangan dengan kehendak Yehuwa. (1 Tesalonika 4:3-5) Dengan membeli waktu untuk membaca Alkitab dan belajar, kita ’terus memahami apa kehendak Yehuwa’, yang mencakup peran serta kita yang aktif dalam memberitakan ”kabar baik kerajaan ini”.—Efesus 5:15-17; Matius 24:14.
Kehendak Yehuwa di Surga
13. Bagaimana kehendak Allah sedang dilaksanakan jauh sebelum pemberontakan Setan terjadi?
13 Kehendak Yehuwa sedang dilaksanakan di surga jauh sebelum salah satu putra rohani-Nya memberontak dan menjadi Setan. Buku Amsal melukiskan Putra sulung Allah sebagai hikmat yang dipersonifikasikan. Ayat itu memperlihatkan bahwa sepanjang periode yang tak terhitung lamanya, Putra Allah satu-satunya yang diperanakkan ini ”bergembira di hadapannya pada segala waktu”, senang melakukan kehendak Bapaknya. Akhirnya, ia menjadi ”pekerja ahli” Yehuwa dalam menciptakan segala perkara ”di surga dan di bumi, perkara-perkara yang kelihatan dan perkara-perkara yang tidak kelihatan”. (Amsal 8:22-31; Kolose 1:15-17) Yehuwa menggunakan Yesus sebagai Firman, atau Juru Bicara-Nya.—Yohanes 1:1-3.
14. Apa yang dapat kita pelajari dari Mazmur 103 tentang cara para malaikat melaksanakan kehendak Yehuwa di surga?
14 Sang pemazmur memperlihatkan bahwa kedaulatan Yehuwa melebihi segala-galanya dan bahwa malaikat yang sangat banyak jumlahnya itu mendengarkan petunjuk dan perintah firman-Nya. Kita membaca, ”Yehuwa sendiri menetapkan takhtanya dengan kokoh di surga; dan kerajaannya berkuasa atas segala sesuatu. Agungkanlah Yehuwa, hai, malaikat-malaikatnya, yang memiliki kekuatan yang perkasa, yang melaksanakan firmannya, dengan mendengarkan suara firmannya. Agungkanlah Yehuwa, hai, bala tentaranya, hai, pelayan-pelayannya, yang melakukan kehendaknya. Agungkanlah Yehuwa, hai, segala hasil karyanya, di segala tempat kekuasaannya [atau, ”kedaulatan”, Rbi8, catatan kaki].”—Mazmur 103:19-22.
15. Sewaktu Yesus menerima kuasa Kerajaan, bagaimana hal ini mempengaruhi pelaksanaan kehendak Allah di surga?
15 Setelah pemberontakannya, Setan masih boleh masuk ke surga, sebagaimana ditunjukkan dalam buku Ayub. (Ayub 1:6-12; 2:1-7) Akan tetapi, buku Penyingkapan menubuatkan bahwa saatnya akan tiba manakala Setan dan hantu-hantunya akan diusir dari surga. Saat itu tampaknya tiba segera setelah Yesus Kristus menerima kuasa Kerajaan pada tahun 1914. Sejak saat itu, tidak ada lagi tempat sejengkal pun di surga bagi para pemberontak itu. Ruang gerak mereka dibatasi di sekitar bumi. (Penyingkapan 12:7-12) Tidak lagi terdengar suara perbantahan di surga, hanya suara yang terpadu dalam memuji ”Anak Domba”, Kristus Yesus, dan dalam mengagungkan Yehuwa dengan ketundukan. (Penyingkapan 4:9-11) Kehendak Yehuwa benar-benar sedang dilaksanakan di surga.
Kehendak Yehuwa untuk Bumi
16. Bagaimana contoh doa itu membuktikan kekeliruan ajaran Susunan Kristen mengenai harapan umat manusia?
16 Gereja-gereja Susunan Kristen meniadakan bumi dari maksud-tujuan Allah, dengan menyatakan bahwa semua orang yang baik pergi ke surga. Tetapi, Yesus mengajar kita untuk berdoa, ”Biarlah kerajaanmu datang. Biarlah kehendakmu terjadi, seperti di surga, demikian pula di atas bumi.” (Matius 6:10) Dapatkah dikatakan, kalaupun memang benar demikian, bahwa kehendak Yehuwa secara umum sedang dilaksanakan dewasa ini di bumi yang dirongrong oleh kekerasan, ketidakadilan, penyakit, dan kematian? Sama sekali tidak! Maka, kita hendaknya dengan sungguh-sungguh berdoa agar kehendak Allah terlaksana di bumi, selaras dengan janji yang dicatat oleh rasul Petrus, ”Ada langit baru [pemerintahan Kerajaan Mesianik melalui Kristus] dan bumi baru [masyarakat manusia yang adil-benar] yang kita nantikan sesuai dengan janjinya, dan keadilbenaran akan tinggal di dalamnya.”—2 Petrus 3:13.
17. Apa maksud-tujuan Yehuwa untuk bumi?
17 Yehuwa memiliki maksud-tujuan dalam menciptakan bumi. Ia mengilhami nabi Yesaya untuk menulis, ”Inilah firman Yehuwa, Pencipta langit, Dialah Allah yang benar, Pembentuk bumi dan Pembuatnya, Dialah yang mendirikannya dengan kokoh, yang tidak menciptakannya dengan percuma, yang membentuknya untuk didiami, ’Akulah Yehuwa, dan tidak ada yang lain.’” (Yesaya 45:18) Allah menempatkan pasangan manusia pertama di sebuah taman firdaus, dan menginstruksikan mereka, ”Beranakcuculah dan bertambah banyak dan penuhilah bumi dan taklukkanlah itu.” (Kejadian 1:27, 28; 2:15) Jelas sekali, maksud-tujuan sang Pencipta ialah agar bumi didiami oleh ras manusia sempurna yang adil-benar yang dengan senang tunduk kepada kedaulatan Yehuwa dan hidup kekal dalam Firdaus yang Kristus janjikan.—Mazmur 37:11, 29; Lukas 23:43.
18, 19. (a) Apa yang harus dilakukan sebelum kehendak Allah terjadi sepenuhnya di bumi? (b) Apa saja aspek lain dari contoh doa Yesus yang akan dibahas dalam artikel berikut?
18 Kehendak Yehuwa mengenai bumi tidak akan pernah dapat tercapai sepenuhnya apabila bumi dihuni oleh pria dan wanita yang melawan kedaulatan-Nya. Dengan menggunakan pasukan makhluk roh yang perkasa di bawah kepemimpinan Kristus, Allah akan ”membinasakan orang-orang yang sedang membinasakan bumi”. Segenap sistem fasik Setan, beserta agama palsunya, politiknya yang bejat, perdagangannya yang tamak dan tidak jujur, serta militernya yang destruktif, akan dihapus untuk selama-lamanya. (Penyingkapan 11:18; 18:21; 19:1, 2, 11-18) Kedaulatan Yehuwa akan dibenarkan dan nama-Nya akan disucikan. Semua hal inilah yang kita doakan sewaktu kita mengatakan, ”Bapak kami yang di surga, biarlah namamu disucikan. Biarlah kerajaanmu datang. Biarlah kehendakmu terjadi, seperti di surga, demikian pula di atas bumi.”—Matius 6:9, 10.
19 Akan tetapi, dalam contoh doanya, Yesus memperlihatkan bahwa kita juga dapat mendoakan persoalan pribadi kita. Aspek-aspek ini dalam petunjuknya mengenai doa akan dibahas dalam artikel berikut.
[Catatan Kaki]
a Lihat pasal 6 buku Perhatikanlah Nubuat Daniel!, diterbitkan oleh Saksi-Saksi Yehuwa.
-
-
Yehuwa Menyediakan Kebutuhan Kita Sehari-HariMenara Pengawal—2004 | 1 Februari
-
-
Yehuwa Menyediakan Kebutuhan Kita Sehari-Hari
”Berhentilah merasa tegang karena kekhawatiran; karena . . . Bapakmu mengetahui bahwa kamu membutuhkan perkara-perkara ini.”—LUKAS 12:29, 30.
1. Bagaimana Yehuwa menyediakan makanan untuk binatang?
PERNAHKAH Saudara mengamati seekor burung pipit atau burung lain sibuk mematuki apa yang tampaknya seperti kotoran? Saudara mungkin heran makanan apa yang bisa didapatkannya dengan mematuki tanah. Dalam Khotbahnya di Gunung, Yesus memperlihatkan bahwa kita dapat menarik pelajaran dari cara Yehuwa menyediakan makanan untuk burung. Ia menyatakan, ”Amati dengan saksama burung-burung di langit, karena mereka tidak menabur benih atau menuai atau mengumpulkan ke dalam gudang-gudang; namun Bapak surgawimu tetap memberi mereka makan. Bukankah kamu lebih bernilai daripada burung-burung itu?” (Matius 6:26) Dengan cara yang menakjubkan, Yehuwa menyediakan makanan bagi semua makhluk-Nya.—Mazmur 104:14, 21; 147:9.
2, 3. Pelajaran rohani apa saja yang dapat kita tarik dari fakta bahwa Yesus mengajar kita agar berdoa untuk makanan kita sehari-hari?
2 Kalau begitu, mengapa dalam contoh doanya, Yesus menyertakan permintaan, ”Berikanlah kepada kami hari ini roti kami untuk hari ini”? (Matius 6:11) Pelajaran rohani yang dalam dapat ditarik dari permintaan yang sederhana ini. Pertama, hal itu mengingatkan kita bahwa Yehuwa adalah Penyedia Yang Agung. (Mazmur 145:15, 16) Manusia dapat menanam dan menggarap, tetapi hanya Allah yang dapat memberikan pertumbuhan, secara rohani dan jasmani. (1 Korintus 3:7) Apa yang kita makan dan minum adalah pemberian dari Allah. (Kisah 14:17) Dengan memohon agar Ia menyediakan kebutuhan kita sehari-hari, kita memperlihatkan kepada-Nya bahwa kita tidak menganggap sepele persediaan itu. Tentu saja, permintaan seperti itu tidak membebaskan kita dari tanggung jawab untuk bekerja jika kita sanggup melakukannya.—Efesus 4:28; 2 Tesalonika 3:10.
3 Kedua, permintaan kita akan ’roti untuk hari ini’ menunjukkan bahwa kita hendaknya tidak terlalu khawatir mengenai masa depan. Yesus lebih jauh menyatakan, ”Jangan sekali-kali khawatir dan mengatakan, ’Apa yang akan kami makan?’ atau, ’Apa yang akan kami minum?’ atau, ’Apa yang akan kami kenakan?’ Karena semua ini adalah perkara-perkara yang dikejar bangsa-bangsa dengan penuh semangat. Sebab Bapak surgawimu mengetahui bahwa kamu membutuhkan semua perkara ini. Maka, teruslah cari dahulu kerajaan dan keadilbenarannya, dan semua perkara itu akan ditambahkan kepadamu. Maka, jangan sekali-kali khawatir mengenai hari berikutnya, sebab hari berikutnya mempunyai kekhawatirannya sendiri.” (Matius 6:31-34) Doa meminta ’roti untuk hari ini’ menjadi pola untuk menempuh kehidupan dengan ’pengabdian yang saleh, yang disertai rasa puas’.—1 Timotius 6:6-8, Rbi8, catatan kaki.
Makanan Rohani Hari demi Hari
4. Kejadian apa dalam kehidupan Yesus dan orang Israel yang menandaskan pentingnya menyantap makanan rohani?
4 Doa kita untuk makanan sehari-hari hendaknya juga mengingatkan kita tentang kebutuhan kita akan makanan rohani setiap hari. Meski sangat lapar setelah berpuasa panjang, Yesus melawan godaan Setan untuk mengubah batu-batu menjadi roti, dengan mengatakan ”Ada tertulis, ’Manusia harus hidup, bukan dari roti saja, tetapi dari setiap ucapan yang keluar melalui mulut Yehuwa.’” (Matius 4:4) Yesus di sini mengutip kata-kata nabi Musa, yang memberi tahu orang Israel, ”[Yehuwa] merendahkan hatimu dan membiarkan engkau lapar dan memberi engkau makan manna, yang tidak kaukenal dan juga tidak dikenal bapak-bapakmu; untuk membuat engkau mengerti bahwa bukan dengan roti saja manusia hidup, melainkan dengan setiap pernyataan dari mulut Yehuwa manusia hidup.” (Ulangan 8:3) Cara Yehuwa menyediakan manna tidak hanya memberi orang Israel makanan jasmani tetapi juga pelajaran rohani. Salah satunya ialah orang Israel disuruh ”memungut sebanyak yang ia butuhkan untuk sehari”. Jika mereka mengumpulkan berlebihan untuk hari itu, manna yang tersisa mulai berbau dan berulat. (Keluaran 16:4, 20) Namun, hal ini tidak terjadi pada hari keenam sewaktu mereka harus mengumpulkan dua kali lipat dari jumlah harian guna memenuhi kebutuhan mereka selama hari Sabat. (Keluaran 16:5, 23, 24) Jadi, manna mengesankan dalam pikiran mereka bahwa mereka harus taat dan bahwa kehidupan mereka bergantung bukan hanya pada makanan melainkan pada ”setiap pernyataan dari mulut Yehuwa”.
5. Bagaimana Yehuwa memenuhi kebutuhan kita dengan makanan rohani setiap hari?
5 Kita pun perlu setiap hari menyantap makanan rohani yang Yehuwa sediakan melalui Putra-Nya. Untuk tujuan itu, Yesus telah melantik ”budak yang setia dan bijaksana” untuk menyediakan ”makanan pada waktu yang tepat” bagi rumah tangga iman. (Matius 24:45) Golongan budak yang setia itu tidak hanya menyediakan makanan rohani yang limpah berupa alat bantu pengajaran Alkitab tetapi juga menganjurkan kita untuk membaca Alkitab setiap hari. (Yosua 1:8; Mazmur 1:1-3) Seperti Yesus, kita pun dapat memperoleh makanan rohani apabila setiap hari kita mengerahkan diri untuk mempelajari dan melakukan kehendak Yehuwa.—Yohanes 4:34.
Pengampunan Dosa
6. Terhadap utang apa kita memohon pengampunan, dan dengan syarat apa Yehuwa bersedia membatalkannya?
6 Permintaan berikutnya dalam contoh doa itu ialah, ”Ampunilah dosa-dosa kami yang disamakan dengan utang, seperti kami juga telah mengampuni orang yang berdosa, yang disamakan dengan orang yang berutang kepada kami”. (Matius 6:12) Dalam catatan Lukas tentang contoh doa tersebut, permintaan itu berbunyi, ”Ampunilah kami atas dosa-dosa kami, karena kami sendiri juga mengampuni setiap orang yang berdosa, yang disamakan dengan orang yang berutang kepada kami.” (Lukas 11:4) Jadi, sewaktu kita berdosa, seolah-olah kita berutang kepada Yehuwa. Tetapi, Allah kita yang pengasih siap ’menghapus’, atau membatalkan, utang itu jika kita dengan tulus bertobat, ’berbalik’, dan memohon pengampunan dari-Nya berdasarkan iman akan korban tebusan Kristus.—Kisah 3:19; 10:43; 1 Timotius 2:5, 6.
7. Mengapa kita hendaknya berdoa meminta pengampunan setiap hari?
7 Dari sudut pandangan yang lain, kita berdosa apabila kita tidak mengenai sasaran yakni standar-standar keadilbenaran Yehuwa. Akibat dosa warisan, kita semua melakukan pelanggaran dalam perkataan, perbuatan, dan pikiran atau kita gagal melakukan apa yang seharusnya kita lakukan. (Pengkhotbah 7:20; Roma 3:23; Yakobus 3:2; 4:17) Oleh karena itu, entah kita sadar telah berdosa pada hari tertentu entah tidak, kita perlu menyertakan permintaan untuk pengampunan dosa dalam doa kita setiap hari.—Mazmur 19:12; 40:12.
8. Doa memohon pengampunan seharusnya menggerakkan kita untuk melakukan apa, dan apa hasilnya yang bermanfaat?
8 Doa untuk pengampunan hendaknya dipanjatkan setelah mengadakan introspeksi yang jujur, pertobatan, dan pengakuan, berdasarkan iman akan kuasa tebusan dari darah Kristus yang dicurahkan. (1 Yohanes 1:7-9) Untuk membuktikan ketulusan doa kita, kita mesti mendukung permintaan ampun kita dengan ”perbuatan-perbuatan yang sesuai dengan pertobatan”. (Kisah 26:20) Setelah itu, kita dapat beriman akan kesediaan Yehuwa untuk mengampuni dosa kita. (Mazmur 86:5; 103:8-14) Hasilnya ialah kedamaian pikiran yang tiada bandingnya, ”kedamaian dari Allah, yang lebih unggul daripada segala akal”, yang selanjutnya ”akan menjaga hati [kita] dan kekuatan mental [kita] melalui Kristus Yesus”. (Filipi 4:7) Tetapi, contoh doa Yesus mengajar kita bahkan lebih banyak lagi mengenai apa yang mesti kita lakukan untuk memperoleh pengampunan atas dosa kita.
Agar Diampuni, Kita Harus Mengampuni
9, 10. (a) Penjelasan apa yang Yesus tambahkan pada contoh doa, dan hal ini menandaskan apa? (b) Bagaimana Yesus lebih jauh mengilustrasikan perlunya kita suka mengampuni?
9 Yang menarik ialah permintaan ”ampunilah dosa-dosa kami yang disamakan dengan utang, seperti kami juga telah mengampuni orang yang berdosa, yang disamakan dengan orang yang berutang kepada kami”, merupakan satu-satunya bagian dari contoh doa yang Yesus jelaskan. Setelah mengakhiri doa itu, ia menambahkan, ”Sebab jika kamu mengampuni orang-orang atas pelanggaran mereka, Bapak surgawimu juga akan mengampuni kamu; sedangkan jika kamu tidak mengampuni orang-orang atas pelanggaran mereka, Bapakmu juga tidak akan mengampuni pelanggaranmu.” (Matius 6:14, 15) Jadi, Yesus benar-benar memperjelas bahwa diampuninya kita oleh Yehuwa bergantung pada kesediaan kita untuk mengampuni orang lain.—Markus 11:25.
10 Pada peristiwa lain, Yesus memberikan suatu ilustrasi yang memperlihatkan perlunya kita suka mengampuni jika kita mengharapkan Yehuwa mengampuni kita. Ia mengisahkan tentang seorang raja yang dengan murah hati membatalkan utang yang amat besar dari seorang budak. Belakangan, sang raja menghukum dengan berat pria yang sama itu ketika ia menolak membatalkan utang yang jauh lebih kecil dari seorang rekan budak. Yesus mengakhiri ilustrasinya dengan mengatakan, ”Dengan cara yang sama Bapak surgawiku akan memperlakukan kamu, jika kamu masing-masing tidak mengampuni saudaranya dari hatimu.” (Matius 18:23-35) Pelajarannya jelas: Dosa yang disamakan dengan utang yang telah Yehuwa ampuni dari kita masing-masing tak terhitung besarnya dibanding pelanggaran apa pun yang mungkin telah dilakukan siapa pun kepada kita. Selain itu, Yehuwa mengampuni kita setiap hari. Jadi, kita tentu dapat mengampuni pelanggaran yang kadang-kadang dilakukan orang lain terhadap kita.
11. Apa nasihat rasul Paulus yang akan kita ikuti jika kita mengharapkan Yehuwa mengampuni kita, dan apa saja hasil baiknya?
11 Rasul Paulus menulis, ”Hendaklah kamu baik hati seorang kepada yang lain, memiliki keibaan hati yang lembut, dengan lapang hati mengampuni satu sama lain sebagaimana Allah juga dengan lapang hati mengampuni kamu melalui Kristus.” (Efesus 4:32) Pengampunan timbal balik dapat meningkatkan perdamaian di kalangan orang Kristen. Selain itu, Paulus mendesak, ”Sebagai orang-orang pilihan Allah, yang kudus dan dikasihi, kenakanlah keibaan hati yang lembut, kebaikan hati, kerendahan hati, kelemahlembutan, dan kepanjangsabaran. Teruslah bersabar seorang terhadap yang lain dan ampuni satu sama lain dengan lapang hati jika ada yang mempunyai alasan untuk mengeluh sehubungan dengan orang lain. Sama seperti Yehuwa dengan lapang hati mengampuni kamu, lakukan itu juga. Tetapi selain semua perkara ini, kenakanlah kasih, sebab itu adalah ikatan pemersatu yang sempurna.” (Kolose 3:12-14) Semua ini termasuk dalam doa yang Yesus ajarkan kepada kita, ”Ampunilah dosa-dosa kami yang disamakan dengan utang, seperti kami juga telah mengampuni orang yang berdosa, yang disamakan dengan orang yang berutang kepada kami.”
Perlindungan ketika di bawah Godaan
12, 13. (a) Permintaan berikut dalam contoh doa itu pasti tidak memaksudkan apa? (b) Siapakah si Penggoda besar, dan apa arti doa kita agar tidak dibawa ke dalam godaan?
12 Permintaan berikut dalam contoh doa Yesus ialah, ”Janganlah membawa kami ke dalam godaan.” (Matius 6:13) Apakah Yesus memaksudkan bahwa kita hendaknya meminta Yehuwa agar tidak menggoda kita? Pasti bukan itu maksudnya, karena sang murid Yakobus diilhami untuk menulis, ”Apabila mengalami cobaan, janganlah seorang pun mengatakan, ’Aku sedang dicobai Allah.’ Karena sehubungan dengan hal-hal yang jahat Allah tidak dapat dicobai dan dia juga tidak mencobai siapa pun.” (Yakobus 1:13) Selain itu, sang pemazmur menulis, ”Jika kesalahan-kesalahanlah yang engkau perhatikan, oh, Yah, oh, Yehuwa, siapakah yang dapat tahan?” (Mazmur 130:3) Yehuwa tidak mencari-cari kekeliruan kita, dan Ia pasti tidak berupaya menjebak kita. Jadi, apa arti bagian ini dari contoh doa Yesus?
13 Pribadi yang sedang berupaya menjebak kita, membuat kita jatuh dengan tindakan yang licik, dan bahkan melahap kita adalah Setan si Iblis. (Efesus 6:11) Ia adalah si Penggoda besar. (1 Tesalonika 3:5) Dengan berdoa agar tidak dibawa ke dalam godaan, kita meminta Yehuwa agar tidak membiarkan kita jatuh sewaktu kita di bawah godaan. Kita meminta Dia untuk menolong kita agar tidak ”dikalahkan oleh Setan”, tidak menyerah kepada godaan. (2 Korintus 2:11) Kita berdoa agar kita tetap tinggal dalam ”tempat rahasia milik Yang Mahatinggi”, menerima perlindungan rohani yang dijanjikan bagi mereka yang mengakui kedaulatan Yehuwa dalam segala sesuatu yang mereka lakukan.—Mazmur 91:1-3.
14. Bagaimana rasul Paulus meyakinkan kita bahwa Yehuwa tidak akan meninggalkan kita jika kita berpaling kepada-Nya ketika kita di bawah godaan?
14 Kita dapat yakin bahwa jika itu adalah hasrat kita yang tulus, dinyatakan dalam doa dan tindakan kita, Yehuwa tidak akan pernah meninggalkan kita. Rasul Paulus meyakinkan kita, ”Godaan yang menimpa kamu hanyalah apa yang umum bagi manusia. Tetapi Allah itu setia, dan ia tidak akan membiarkan kamu digoda melampaui apa yang dapat kamu tanggung, tetapi sewaktu ada godaan itu ia akan memberikan jalan keluar agar kamu sanggup menahannya.”—1 Korintus 10:13.
”Lepaskanlah Kami dari si Fasik”
15. Mengapa terlebih penting lagi sekarang untuk berdoa agar dilepaskan dari si fasik?
15 Menurut berbagai manuskrip Kitab-Kitab Yunani Kristen yang paling andal, contoh doa Yesus diakhiri dengan kata-kata, ”Lepaskanlah kami dari si fasik.”a (Matius 6:13) Perlindungan dari si Iblis semakin dibutuhkan pada zaman akhir ini. Setan dan hantu-hantunya sedang mengobarkan perang terhadap kaum sisa terurap, ”yang menjalankan perintah-perintah Allah dan mempunyai pekerjaan memberikan kesaksian tentang Yesus”, dan terhadap rekan mereka, yakni ”kumpulan besar”. (Penyingkapan 7:9; 12:9, 17) Rasul Petrus mengingatkan orang Kristen, ”Pertahankanlah kesadaranmu, waspadalah. Musuhmu, si Iblis, berjalan keliling seperti singa yang mengaum, berupaya melahap orang. Tetapi hendaklah kamu menentang dia, kokoh dalam iman.” (1 Petrus 5:8, 9) Setan ingin menghentikan pekerjaan kesaksian kita, dan melalui kaki tangannya di bumi—baik dari pihak agama, perdagangan, maupun politik—ia mencoba mengintimidasi kita. Akan tetapi, jika kita berdiri teguh, Yehuwa akan melepaskan kita. Yakobus sang murid menulis, ”Oleh karena itu, tunduklah kepada Allah; tetapi lawanlah Iblis, dan ia akan lari darimu.”—Yakobus 4:7.
16. Apa saja sarana yang Yehuwa sediakan untuk menolong hamba-hamba-Nya yang berada di bawah cobaan?
16 Yehuwa mengizinkan Putra-Nya digoda. Tetapi, setelah Yesus menentang si Iblis, menggunakan Firman Allah sebagai perlindungan, Yehuwa mengutus para malaikat untuk menguatkan dia. (Matius 4:1-11) Demikian juga, Yehuwa menggunakan para malaikat-Nya untuk menolong kita jika kita berdoa dengan iman dan menjadikan Dia perlindungan kita. (Mazmur 34:7; 91:9-11) Rasul Petrus menulis, ”Yehuwa tahu bagaimana melepaskan orang-orang yang memiliki pengabdian yang saleh dari cobaan, tetapi menyimpan orang-orang yang tidak adil-benar bagi hari penghakiman untuk dimusnahkan.”—2 Petrus 2:9.
Pembebasan yang Sepenuhnya Sudah Dekat
17. Dengan memberikan contoh doa kepada kita, bagaimana Yesus menempatkan segala sesuatu dalam perspektif yang sepatutnya?
17 Dalam contoh doanya, Yesus menempatkan segala sesuatu pada perspektif yang sepatutnya. Kepedulian utama kita hendaknya adalah penyucian nama Yehuwa yang agung dan suci. Karena sarana untuk mencapai hal ini ialah Kerajaan Mesianik, kita berdoa agar Kerajaan itu datang untuk membinasakan semua kerajaan, atau pemerintahan, manusia yang tidak sempurna dan untuk memastikan agar kehendak Allah terjadi sepenuhnya seperti di surga, demikian pula di bumi. Harapan kita akan kehidupan abadi di bumi firdaus bergantung pada penyucian nama Yehuwa dan pengakuan di seluruh alam semesta akan kedaulatan-Nya yang adil-benar. Setelah mendoakan hal-hal yang terpenting ini, kita dapat mendoakan kebutuhan kita sehari-hari, pengampunan atas dosa kita, dan pembebasan dari godaan dan siasat si fasik, Setan si Iblis.
18, 19. Bagaimana contoh doa Yesus membantu kita tetap waspada dan membuat harapan kita ”teguh sampai ke akhir”?
18 Pembebasan kita yang sepenuhnya dari si fasik dan sistem bejatnya telah semakin dekat. Setan sadar betul bahwa ”waktunya tinggal sedikit” untuk melampiaskan ’kemarahannya yang besar’ terhadap bumi, khususnya terhadap hamba-hamba Yehuwa yang setia. (Penyingkapan 12:12, 17) Dalam tanda majemuk ”penutup sistem ini”, Yesus menubuatkan peristiwa-peristiwa yang menarik, beberapa di antaranya masih akan terjadi. (Matius 24:3, 29-31) Apabila kita melihat hal-hal ini terjadi, harapan kita akan pembebasan akan semakin cemerlang. Yesus menyatakan, ”Apabila hal-hal ini mulai terjadi, tegakkanlah dirimu dan angkatlah kepalamu, karena pembebasanmu sudah dekat.”—Lukas 21:25-28.
19 Kelugasan contoh doa yang Yesus berikan kepada murid-muridnya memperlengkapi kita dengan bimbingan yang benar mengenai apa yang harus disertakan dalam doa kita seraya akhir itu mendekat. Semoga kita terus yakin bahwa hingga saat terakhir, Yehuwa akan senantiasa menyediakan kebutuhan kita sehari-hari, baik rohani maupun materi. Dengan terus siap siaga dalam doa, kita akan dapat ”berpegang erat pada keyakinan yang kita miliki pada awal mula, teguh sampai ke akhir”.—Ibrani 3:14; 1 Petrus 4:7.
[Catatan Kaki]
a Beberapa Alkitab yang lebih tua, seperti Terjemahan Baru, mengakhiri contoh Doa Bapak Kami dengan apa yang dikenal sebagai doksologi (himne pujian kepada Allah), ”Karena engkaulah yang empunya kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.” The Jerome Biblical Commentary menyatakan, ”Doksologi itu . . . tidak terdapat dalam [manuskrip-manuskrip] yang paling andal.”
-