PERPUSTAKAAN ONLINE Menara Pengawal
PERPUSTAKAAN ONLINE
Menara Pengawal
Indonesia
  • ALKITAB
  • PUBLIKASI
  • PERHIMPUNAN
  • Apakah Saudara dengan Jitu Bertukarpikiran Mengenai Ayat-Ayat Alkitab?
    Menara Pengawal—1986 (Seri 22) | Menara Pengawal—1986 (Seri 22)
    • 7. Teladan siapa dengan baik dapat membantu kita memperbaiki kesanggupan kita untuk bertukarpikiran mengenai ayat-ayat Alkitab?

      7 Yesus Kristus memberikan contoh yang paling baik dalam menggunakan Alkitab dengan jitu. (Matius 7:28, 29; Yohanes 7:45, 46) Dengan menganalisa cara mengajarnya kita dibantu untuk memperbaiki kesanggupan kita dalam bertukarpikiran mengenai ayat-ayat Alkitab. Perhatikan contoh-contoh berikut:

      8. (a) Pertanyaan apa diajukan ”seorang ahli Taurat” kepada Yesus? (b) Bagaimana Yesus menangani pertanyaan itu, dan mengapa?

      8 Dalam Lukas pasal 10, ayat 25-28, kita membaca tentang ”seorang ahli Taurat” yang mencoba menguji Yesus dengan bertanya, ”Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Bagaimana saudara akan menjawabnya? Apa yang Yesus lakukan? Dengan mudah ia dapat memberikan jawaban langsung tetapi, ia menyadari bahwa orang itu sudah mempunyai pandangan tertentu tentang hal itu. Jadi Yesus bertanya kepadanya bagaimana ia sendiri akan menjawab pertanyaan tersebut, dengan mengatakan, ”Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?” Orang itu menjawab, ”Kasihilah [Yehuwa], Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Yesus menjawab, ”Jawabmu itu benar,” dan kemudian menyadur suatu bagian dari Imamat 18:5, dengan mengatakan, ”Perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup.” Pada kesempatan lain Yesus sendiri mengutip kedua perintah itu untuk menjawab sebuah pertanyaan. (Markus 12:28-31) Tetapi kali ini orang yang berbicara dengan dia mengetahui Taurat Musa dan jelas ingin melihat apakah Yesus menyetujui apa yang telah ia pelajari dari padanya. Yesus membiarkan orang itu mendapat kepuasan dengan memberikan jawabannya sendiri.

      9. (a) Apa yang dilakukan Yesus untuk membantu pria itu mengerti salah satu ayat yang telah dikutipnya? (b) Mengapa cara itu jitu?

      9 Meskipun demikian, orang itu tidak menyadari arti sepenuhnya dari ayat yang ia kutip. Jadi, ”untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus, ’Dan siapakah sesamaku manusia?’” Sebagai jawaban, Yesus tidak mengutip ayat-ayat lagi. Ia tidak begitu saja memberikan suatu definisi yang bisa membuat orang itu tersinggung. Tetapi, ia menggunakan perumpamaan—sebuah perumpamaan bagus dan benar-benar cocok dengan kebutuhan orang ini, yang akan membantu dia mempertimbangkan arti dari ayat tersebut. Yesus menceritakan tentang seorang Samaria yang baik hati yang menolong seseorang yang dalam perjalanan telah dirampok dan dipukul, sedangkan seorang imam dan seorang Lewi tidak melakukannya. Melalui perumpamaan ini kata ”sesama,” mendapat arti yang tidak pernah disadari sebelumnya oleh orang ini, dan dirancang sedemikian rupa sehingga mencapai hati. Kemudian, sebagai penutup, Yesus mengajukan sebuah pertanyaan untuk memastikan bahwa orang itu mengerti maksudnya, dan Yesus mendesaknya untuk menerapkan apa yang telah mereka bahas dalam kehidupannya sendiri.—Lukas 10:29-37.

      10. (a) Apa yang dapat kita pelajari dari contoh cara mengajar Yesus? (b) Bagaimana kita dapat menerapkan beberapa dari pokok-pokok itu sewaktu menggunakan Topik untuk Percakapan yang ada sekarang dalam dinas pengabaran?

      10 Apa yang dapat kita pelajari dari contoh cara mengajar itu? Apakah saudara memperhatikan pokok-pokok berikut? (1) Yesus mengarahkan perhatian kepada Alkitab untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan pendahuluan dari orang itu. (2) Yesus mempersilakan orang itu untuk menyatakan diri dan memberikan pujian yang hangat untuk komentar yang benar. (3) Yesus berusaha agar hubungan antara pertanyaan dan ayat Alkitab itu tetap menjadi pusat perhatian seperti diperlihatkan di ayat 28. (4) Sebuah perumpamaan untuk mencapai hati digunakan untuk memastikan bahwa orang itu benar-benar memahami arti sesungguhnya dari jawabannya. Dengan mengikuti pola itu kita dibantu untuk bertukarpikiran dengan jitu mengenai ayat-ayat Alkitab dengan orang lain.

      ”Guru, JawabMu Itu Tepat Sekali”

      11. (a) Ketika orang-orang Saduki mengajukan pertanyaan kepada Yesus tentang perkawinan dalam hubungan dengan kebangkitan, jawaban yang tepat apakah yang ia berikan? (b) Mengapa ia tidak berhenti sampai di situ saja?

      11 Dalam Lukas pasal 20, ayat 27-40, tercatat sebuah contoh lain yang baik sekali mengenai penggunaan Firman Allah dengan jitu. Beberapa dari antara orang Saduki mendekati Yesus dan mengajukan sebuah pertanyaan. Mereka mengemukakan kepada Yesus suatu keadaan yang menurut mereka akan memperlihatkan betapa bodohnya untuk percaya bahwa orang mati akan hidup lagi. Mereka menceritakan tentang seorang wanita yang dulu mempunyai tujuh suami, secara berturut-turut. ”Siapakah di antara orang-orang itu yang menjadi suaminya pada hari kebangkitan?” tanya mereka. Jawaban yang Yesus berikan sama sekali tidak mereka harapkan. Mereka jelas tidak pernah memikirkan sedikitpun kemungkinan bahwa orang yang dibangkitkan tidak akan kawin melainkan, dalam hal ini, akan menjadi seperti malaikat. Namun bukan itu saja yang diperlukan untuk memberikan jawaban yang meyakinkan.

      12. Penjelasan apakah yang Yesus gunakan untuk mendukung kepercayaan akan kebangkitan? (b) Mengapa hal itu khususnya cocok bagi orang-orang Saduki?

      12 Yesus menyadari bahwa problem sebenarnya dari orang-orang Saduki ialah mereka tidak percaya kepada kebangkitan. Jadi ia mengarahkan perhatian khusus kepada hal itu. Argumennya diambil dari tulisan Musa, dari Keluaran 3:6, yang menurut pengakuan orang-orang Saduki itu mereka percaya. Ia mengatakan, ”Tentang bangkitnya orang-orang mati, Musa telah memberitahukannya dalam nas tentang semak duri, di mana [Yehuwa] disebut Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub.” Tetapi apakah orang-orang Saduki melihat adanya petunjuk dari kebangkitan dalam kata-kata tersebut? Tidak, jika Yesus tidak menambahkan, ”Ia bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup, sebab di hadapan Dia semua orang hidup.” Jadi jelas: Benda mati, maupun orang bisa mempunyai Pencipta, tetapi hanya orang-orang yang hidup dapat mempunyai Allah, Pribadi yang menjadi tujuan dari pengabdian dan ibadat mereka. Jika Abraham, Ishak, dan Yakub mati dan dikuburkan, tanpa mempunyai harapan hidup selanjutnya, Yehuwa akan mengatakan kepada Musa, ’Aku dulu adalah Allah mereka.’ Tetapi Ia tidak mengatakan demikian. Setelah mendengar bagaimana Yesus bertukarpikiran mengenai ayat-ayat Alkitab tentang soal ini, apakah mengherankan jika beberapa dari ahli-ahli Taurat itu menyatakan, ”Guru, jawabMu itu tepat sekali”?

  • Apakah Saudara dengan Jitu Bertukarpikiran Mengenai Ayat-Ayat Alkitab?
    Menara Pengawal—1986 (Seri 22) | Menara Pengawal—1986 (Seri 22)
    • 5. Bagaimana Yohanes 7:16-18 memberikan bimbingan (a) kepada para penatua? (b) kepada kita semua sewaktu kita ambil bagian dalam dinas pengabaran?

      5 Yesus sendiri mengatakan, ”AjaranKu tidak berasal dari diriKu sendiri, tetapi dari Dia yang telah mengutus Aku. Barangsiapa mau melakukan kehendakNya, ia akan tahu entah ajaranKu ini berasal dari Allah, entah Aku berkata-kata dari diriKu sendiri. Barangsiapa berkata-kata dari dirinya sendiri, ia mencari hormat bagi dirinya sendiri.” (Yohanes 7:16-18) Bahkan Putra Allah yang sempurna berlaku hati-hati agar tidak berbicara dari dirinya sendiri.

Publikasi Menara Pengawal Bahasa Indonesia (1971-2025)
Log Out
Log In
  • Indonesia
  • Bagikan
  • Pengaturan
  • Copyright © 2025 Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania
  • Syarat Penggunaan
  • Kebijakan Privasi
  • Pengaturan Privasi
  • JW.ORG
  • Log In
Bagikan