-
Di Betania, di Rumah SimonTokoh Terbesar Sepanjang Masa
-
-
Pasal 101
Di Betania, di Rumah Simon
KETIKA Yesus meninggalkan Yerikho, ia pergi ke Betania. Perjalanan itu hampir satu hari karena mendaki sejauh kira-kira 19 kilometer melalui daerah yang sukar. Yerikho terletak kira-kira 250 meter di bawah permukaan laut, dan Betania kira-kira 760 meter di atas permukaan laut. Mungkin saudara masih ingat bahwa Betania adalah tempat tinggal Lazarus dan saudara-saudara perempuannya. Desa kecil itu kira-kira tiga kilometer jauhnya dari Yerusalem, di lereng timur Bukit Zaitun.
Banyak orang sudah tiba di Yerusalem untuk Perayaan Paskah. Mereka datang lebih awal untuk membersihkan diri menurut adat istiadat. Mereka mungkin telah menyentuh mayat atau melakukan sesuatu yang membuat mereka najis. Maka mereka mengikuti prosedur untuk membersihkan diri agar dapat merayakan Paskah dengan pantas. Ketika orang-orang yang datang lebih awal ini berkumpul di bait, banyak yang menduga-duga apakah Yesus akan datang pada Perayaan Paskah ini.
Di Yerusalem orang berdebat mengenai diri Yesus. Semua orang tahu bahwa para pemimpin agama ingin menangkap dan menghukum mati dia. Malahan, mereka telah memerintahkan bahwa jika ada yang mengetahui tempat dia berada, mereka harus segera diberi tahu. Tiga kali dalam bulan-bulan terakhir—pada Hari Raya Pondok Daun, pada Hari Raya Penahbisan Bait, dan setelah Yesus membangkitkan Lazarus—para pemimpin agama ini berupaya membunuh dia. Maka, orang banyak bertanya-tanya, apakah Yesus akan muncul di depan umum lagi? ”Bagaimana pendapatmu?” mereka saling bertanya satu sama lain.
Sementara itu, Yesus tiba di Betania enam hari sebelum Paskah, yang jatuh pada tanggal 14 Nisan menurut kalender Yahudi. Yesus sampai di Betania hari Jumat malam, yaitu permulaan tanggal 8 Nisan. Ia tidak mungkin pergi ke Betania pada hari Sabtu karena melakukan perjalanan pada hari Sabat—yang mulai pada waktu matahari terbenam hari Jumat sampai matahari terbenam hari Sabtu—dilarang oleh hukum Yahudi. Yesus mungkin pergi ke rumah Lazarus, seperti yang ia lakukan sebelumnya, dan menginap di sana hari Jumat malam.
Namun, seorang penduduk lain dari Betania mengundang Yesus bersama rekan-rekannya untuk makan pada hari Sabtu malam. Ia bernama Simon, yang dulunya mengidap penyakit kusta, yang kemungkinan telah disembuhkan oleh Yesus. Sesuai dengan sifatnya, Marta dengan rajin melayani para tamu. Akan tetapi, seperti biasa, Maria benar-benar memperhatikan Yesus, kali ini dengan cara yang menimbulkan perdebatan.
Maria membuka sebuah buli-buli atau botol kecil dari pualam putih, yang berisi kira-kira setengah kilogram minyak wangi, atau ”minyak narwastu murni”. Minyak ini sangat mahal. Ya, nilainya kira-kira sama dengan gaji satu tahun! Ketika Maria menuangkan minyak tersebut ke kepala Yesus dan ke atas kakinya serta menyeka kaki Yesus dengan rambutnya, bau semerbak memenuhi seluruh rumah.
Murid-murid menjadi marah dan bertanya, ”Untuk apa pemborosan ini?” Kemudian Yudas Iskariot berkata, ”Mengapa minyak narwastu ini tidak dijual tiga ratus dinar dan uangnya diberikan kepada orang-orang miskin?” Sebenarnya Yudas tidak benar-benar prihatin kepada orang miskin, karena ia sering mencuri uang yang disimpan murid-murid dalam peti.
Yesus membela Maria. ”Biarkanlah dia,” katanya. ”Mengapa kamu menyusahkan dia? Ia telah melakukan suatu perbuatan yang baik padaKu. Karena orang-orang miskin selalu ada padamu, dan kamu dapat menolong mereka, bilamana kamu menghendakinya, tetapi Aku tidak akan selalu bersama-sama kamu. Ia telah melakukan apa yang dapat dilakukannya. TubuhKu telah diminyakinya sebagai persiapan untuk penguburanKu. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di mana saja Injil diberitakan di seluruh dunia, apa yang dilakukannya ini akan disebut juga untuk mengingat dia.”
Yesus kini sudah berada di Betania selama lebih dari 24 jam, dan berita mengenai kehadirannya telah meluas. Karena itu, banyak orang datang ke rumah Simon untuk melihat Yesus, tetapi mereka juga datang karena ingin melihat Lazarus, yang juga hadir. Maka imam-imam kepala berunding untuk membunuh Yesus dan Lazarus juga. Alasannya, banyak orang menaruh iman kepada Yesus karena melihat orang yang telah ia bangkitkan dari kematian benar-benar hidup kembali! Sungguh jahat para pemimpin agama ini! Yohanes 11:55–12:11; Matius 26:6-13; Markus 14:3-9; Kisah 1:12.
▪ Pembicaraan apa sedang berlangsung di bait di Yerusalem, dan mengapa?
▪ Mengapa Yesus harus tiba di Betania pada hari Jumat dan bukannya pada hari Sabtu?
▪ Kapan Yesus tiba di Betania, dan kemungkinan di manakah ia melewatkan hari Sabat?
▪ Perbuatan apa dari Maria menimbulkan perdebatan, dan bagaimana Yesus membela dia?
▪ Hal apa memperlihatkan betapa jahatnya para imam kepala?
-
-
Kristus Berkemenangan Memasuki YerusalemTokoh Terbesar Sepanjang Masa
-
-
Pasal 102
Kristus Berkemenangan Memasuki Yerusalem
KEESOKAN paginya, hari Minggu tanggal 9 Nisan, Yesus meninggalkan Betania bersama murid-muridnya dan pergi ke Bukit Zaitun menuju Yerusalem. Tidak lama kemudian mereka hampir tiba di Betfage, yang terletak di Bukit Zaitun. Yesus menyuruh dua orang muridnya:
”Pergilah ke kampung yang di depan itu, . . . Segera kalian akan melihat seekor keledai terikat bersama anaknya. Lepaskanlah keduanya dan bawa ke mari. Kalau ada orang menanyakan sesuatu, katakan kepada orangnya, ’Tuhan memerlukannya’, maka orang itu dengan segera akan membiarkan keledai itu dibawa.” (BIS)
Meskipun pada mulanya murid-murid tidak mengerti bahwa petunjuk ini ada hubungannya dengan penggenapan nubuat Alkitab, belakangan mereka menyadari bahwa memang demikian halnya. Nabi Zakharia menubuatkan bahwa Raja yang dijanjikan Allah akan menunggangi keledai memasuki Yerusalem, ya, ”seekor keledai, seekor keledai beban yang muda”. Dengan cara yang sama Raja Salomo dulu juga menunggangi seekor anak keledai menuju pengurapannya.
Ketika murid-murid sampai di Betfage dan membawa serta anak keledai bersama induknya, beberapa orang yang berada di dekat situ berkata, ”Apa maksudnya kamu melepaskan keledai itu?” Namun ketika diberi tahu bahwa binatang-binatang itu adalah untuk Tuhan, orang-orang tersebut membiarkan murid-murid membawanya kepada Yesus. Murid-murid menaruh jubah mereka ke atas induk keledai dan anaknya, tetapi Yesus menunggangi anak keledai itu.
Seraya Yesus pergi menuju Yerusalem, kelompok orang banyak bertambah besar. Kebanyakan dari mereka membentangkan jubah mereka di atas jalan, sedangkan orang-orang lain mematahkan ranting-ranting pohon dan menyebarkannya. ”Diberkatilah Dia yang datang sebagai Raja dalam nama Tuhan [”Yehuwa”, NW],” seru mereka. ”Damai sejahtera di sorga dan kemuliaan di tempat yang mahatinggi!”
Beberapa orang Farisi di antara orang banyak marah mendengar seruan ini dan mengeluh kepada Yesus, ”Guru, tegorlah murid-muridMu itu.” Akan tetapi, Yesus menjawab, ”Aku berkata kepadamu: Jikalau mereka ini diam, maka batu ini akan berteriak.”
Ketika Yesus semakin dekat ke Yerusalem, ia memandang kota itu dan mulai meratapinya, sambil berkata, ”Wahai, betapa baiknya jika pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu! Tetapi sekarang hal itu tersembunyi bagi matamu.” Karena dengan sengaja tidak taat, Yerusalem harus menanggung akibatnya, sebagaimana dinubuatkan Yesus:
”Musuhmu [tentara Roma di bawah Jenderal Titus] akan mengelilingi engkau dengan kubu, lalu mengepung engkau dan menghimpit engkau dari segala jurusan, dan mereka akan membinasakan engkau beserta dengan pendudukmu dan pada tembokmu mereka tidak akan membiarkan satu batu pun tinggal terletak di atas batu yang lain.” Kebinasaan atas Yerusalem yang dinubuatkan oleh Yesus benar-benar terjadi 37 tahun kemudian, pada tahun 70 M.
Tepat beberapa minggu sebelumnya, banyak di antara orang banyak itu telah menyaksikan Yesus membangkitkan Lazarus. Kini mereka terus menceritakan kepada orang-orang lain mengenai mukjizat tersebut. Jadi ketika Yesus memasuki Yerusalem, seluruh kota gempar. ”Siapakah orang ini?” mereka ingin tahu. Dan orang banyak itu terus berkata, ”Inilah nabi Yesus dari Nazaret di Galilea.” Melihat apa yang sedang terjadi, orang-orang Farisi meratap karena mereka sama sekali tidak berdaya, seperti yang mereka katakan, ”Seluruh dunia datang mengikuti Dia.”
Sebagaimana kebiasaan Yesus pada waktu mengunjungi Yerusalem, ia pergi ke bait untuk mengajar. Di sana orang buta dan orang timpang datang menemui dia, dan ia menyembuhkan mereka! Ketika imam besar dan para ahli Taurat melihat hal-hal menakjubkan yang Yesus adakan dan mendengar anak-anak lelaki berseru, ”Hosana bagi Anak Daud!” mereka menjadi marah. ”Engkau dengar apa yang dikatakan anak-anak ini?” keluh mereka.
”Aku dengar,” sahut Yesus. ”Belum pernahkah kamu baca: Dari mulut bayi-bayi dan anak-anak yang menyusu Engkau telah menyediakan puji-pujian?”
Yesus melanjutkan mengajar, dan ia melihat sekelilingnya ke seluruh bait. Tidak lama kemudian malam pun tiba. Maka ia pergi, bersama ke-12 rasul, dan mengadakan perjalanan kembali kira-kira tiga kilometer ke Betania. Di sana ia menginap hari Minggu malam, kemungkinan di rumah sahabatnya Lazarus. Matius 21:1-11, 14-17; Markus 11:1-11; Lukas 19:29-44; Yohanes 12:12-19; Zakharia 9:9.
▪ Kapan dan bagaimana Yesus memasuki kota Yerusalem sebagai Raja?
▪ Betapa pentingkah bahwa orang banyak itu memuji Yesus?
▪ Bagaimana perasaan Yesus ketika ia memandang Yerusalem, dan nubuat apa yang ia ucapkan?
▪ Apa yang terjadi ketika Yesus pergi ke bait?
-
-
Mengunjungi Bait LagiTokoh Terbesar Sepanjang Masa
-
-
Pasal 103
Mengunjungi Bait Lagi
SETELAH tiba dari Yerikho, Yesus dan murid-muridnya menginap tiga malam di Betania. Setelah itu, keesokan harinya pagi-pagi sekali, pada hari Senin tanggal 10 Nisan, mereka sudah dalam perjalanan menuju Yerusalem. Yesus lapar. Maka ketika ia melihat sebuah pohon ara yang berdaun, ia pergi ke sana untuk melihat apakah mungkin ada buahnya.
Pohon itu sudah berdaun padahal saat itu belum musim buah ara, yang biasanya adalah pada bulan Juni, sedangkan ketika itu baru akhir bulan Maret. Akan tetapi, Yesus pasti merasa bahwa karena pohon itu sudah berdaun, kemungkinan pohon itu juga sudah berbuah. Namun ia kecewa. Daun-daun pada pohon itu telah menipunya. Yesus kemudian mengutuk pohon itu, dengan berkata, ”Jangan lagi seorangpun makan buahmu selama-lamanya!” Akibat dari tindakan Yesus dan maknanya akan diketahui keesokan paginya.
Yesus dan murid-muridnya melanjutkan perjalanan, dan tak lama kemudian tiba di Yerusalem. Ia pergi ke bait, yang sudah ia periksa siang sebelumnya. Akan tetapi, pada hari ini ia mengambil tindakan, seperti yang pernah ia lakukan tiga tahun sebelumnya ketika ia datang untuk merayakan Paskah pada tahun 30 M. Yesus mengusir orang-orang yang berjual beli di bait dan membalikkan meja-meja para penukar uang dan bangku-bangku para pedagang merpati. Ia bahkan tidak mengizinkan seorang pun mengangkut peralatan melalui bait.
Yesus mengutuk orang-orang yang menukar uang dan menjual hewan di bait, dengan berkata, ”Bukankah ada tertulis: RumahKu akan disebut rumah doa bagi segala bangsa? Tetapi kamu ini telah menjadikannya sarang penyamun!” Mereka adalah penyamun atau perampok karena menuntut harga yang luar biasa tinggi dari orang-orang yang tidak mempunyai pilihan lain kecuali membeli dari mereka hewan yang dibutuhkan untuk korban. Maka Yesus memandang perdagangan ini sebagai bentuk pemerasan atau perampokan.
Ketika imam-imam kepala, para ahli Taurat, dan orang-orang terkemuka dari umat itu mendengar apa yang Yesus telah lakukan, mereka sekali lagi berupaya mencari jalan untuk membunuhnya. Dengan demikian mereka membuktikan bahwa mereka tidak dapat diperbaiki. Namun, mereka tidak tahu cara menyingkirkan Yesus, karena semua orang terus mengikuti dia untuk mendengarkan kata-katanya.
Selain orang-orang Yahudi jasmani, orang-orang Kafir juga datang untuk merayakan Paskah. Mereka adalah kaum proselit, yang berarti bahwa mereka telah berganti haluan menganut agama orang Yahudi. Orang-orang Yunani tertentu, yang pasti adalah kaum proselit, sekarang menghampiri Filipus dan ingin bertemu dengan Yesus. Filipus pergi kepada Andreas, mungkin untuk bertanya apakah perjumpaan demikian patut. Yesus rupanya masih berada di dalam bait, dan kelihatan oleh orang-orang Yunani itu.
Yesus tahu bahwa kehidupannya hanya tinggal beberapa hari lagi, maka ia dengan bagus menggambarkan keadaannya, ”Telah tiba saatnya Anak Manusia dimuliakan. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.”
Satu biji gandum tidak banyak nilainya. Namun, bagaimana jika ia ditaruh dalam tanah dan ”mati”, mengakhiri kehidupannya sebagai benih? Maka ia akan berkecambah dan berangsur-angsur tumbuh menjadi batang yang akan menghasilkan banyak sekali biji gandum. Demikian pula, Yesus hanya satu manusia yang sempurna. Namun jika ia mati setia kepada Allah, ia akan menjadi sarana untuk memberikan kehidupan kekal kepada orang-orang setia yang juga mempunyai semangat rela berkorban seperti dia. Maka, Yesus berkata, ”Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal.”
Yesus jelas tidak hanya memikirkan dirinya sendiri, karena selanjutnya ia menjelaskan, ”Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situpun pelayanKu akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa.” Betapa menakjubkan pahala yang akan diperoleh dengan mengikuti Yesus dan melayani dia! Pahalanya ialah dihormati sang Bapak untuk bergabung dengan Kristus dalam Kerajaan.
Sambil memikirkan penderitaan besar dan kematian yang menyiksa yang menantikan dia, Yesus melanjutkan, ”Hatiku cemas; apa yang harus kukatakan sekarang? Haruskah aku mengatakan, ’Bapa, luputkanlah aku dari saat ini’?” (BIS) Andai kata saja apa yang harus ia alami dapat dihindari! Namun, tidak, karena ia berkata, ”Sebab untuk itulah Aku datang ke dalam saat ini.” Yesus setuju dengan seluruh penyelenggaraan Allah, termasuk kematiannya sendiri sebagai korban. Matius 21:12, 13, 18, 19; Markus 11:12-18; Lukas 19:45-48; Yohanes 12:20-27.
▪ Mengapa Yesus berharap untuk mendapatkan buah ara meskipun saat itu bukan musimnya?
▪ Mengapa orang-orang yang berjualan di bait Yesus sebut ”penyamun”?
▪ Dalam hal apa Yesus bagaikan biji gandum yang mati?
▪ Bagaimana perasaan Yesus terhadap penderitaan dan kematian yang menantikan dia?
-
-
Suara Allah Terdengar Ketiga KalinyaTokoh Terbesar Sepanjang Masa
-
-
Pasal 104
Suara Allah Terdengar Ketiga Kalinya
KETIKA berada di bait, Yesus sedang menderita sekali memikirkan kematian yang tak lama lagi harus ia hadapi. Perhatian utamanya adalah bagaimana pengaruhnya atas nama baik Bapaknya, maka ia berdoa, ”Bapa, muliakanlah namaMu!”
Setelah itu, suatu suara yang kuat terdengar dari surga, menyatakan, ”Aku telah memuliakanNya, dan Aku akan memuliakanNya lagi!”
Orang banyak yang berdiri di sekitarnya bingung. Ada yang berkata, ”Seorang malaikat telah berbicara dengan Dia.” Orang yang lain mengatakan bahwa itu adalah bunyi guntur. Akan tetapi, sesungguhnya, yang berbicara adalah Allah Yehuwa! Namun, ini bukan untuk pertama kali suara Allah terdengar sehubungan dengan Yesus.
Ketika Yesus dibaptis, tiga setengah tahun sebelumnya, Yohanes Pembaptis mendengar Allah menyatakan mengenai Yesus, ”Inilah Anak yang Kukasihi, kepadaNyalah Aku berkenan.” Kemudian, beberapa waktu setelah Paskah yang sebelumnya, ketika Yesus berubah rupa di hadapan mereka, Yakobus, Yohanes, dan Petrus mendengar Allah menyatakan, ”Inilah Anak yang Kukasihi, kepadaNyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia.” Sekarang, untuk ketiga kalinya, pada tanggal 10 Nisan, empat hari sebelum kematian Yesus, suara Allah terdengar lagi oleh orang-orang. Akan tetapi, kali ini Yehuwa berbicara agar banyak orang dapat mendengar!
Yesus menjelaskan, ”Suara itu telah terdengar, bukan untuk kepentinganku, tetapi untuk kepentinganmu.” (BIS) Ini merupakan bukti bahwa Yesus benar-benar Anak Allah, Mesias yang dijanjikan. ”Sekarang berlangsung penghakiman atas dunia ini,” kata Yesus melanjutkan, ”sekarang juga penguasa dunia ini akan dilemparkan ke luar.” Sebenarnya, kehidupan Yesus yang setia, meneguhkan bahwa Setan si Iblis, penguasa dunia ini, layak untuk ”dilemparkan ke luar,” dibinasakan.
Mengenai akibat dari kematiannya yang sudah dekat, Yesus berkata, ”Dan Aku, apabila Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang datang kepadaKu.” Kematiannya sama sekali bukan merupakan kekalahan, karena melalui kematiannya, ia akan menarik orang-orang kepadanya sehingga mereka dapat menikmati hidup kekal.
Akan tetapi, orang banyak memprotes, ”Kami telah mendengar dari hukum Taurat, bahwa Mesias tetap hidup selama-lamanya; bagaimana mungkin Engkau mengatakan, bahwa Anak Manusia harus ditinggikan? Siapakah Anak Manusia itu?”
Walaupun adanya semua bukti, termasuk mendengar suara Allah sendiri, kebanyakan orang tidak percaya bahwa Yesus adalah Anak Manusia yang benar, Mesias yang dijanjikan. Namun, seperti yang ia lakukan enam bulan sebelumnya pada Hari Raya Pondok Daun, Yesus sekali lagi menyebut dirinya sebagai ”terang” dan menganjurkan para pendengarnya, ”Percayalah kepada terang itu, selama terang itu ada padamu, supaya kamu menjadi anak-anak terang.” Setelah mengatakan hal ini, Yesus pergi dan bersembunyi, rupanya karena kehidupannya terancam.
Kurangnya iman orang Yahudi kepada Yesus menggenapi kata-kata Yesaya mengenai ’mata orang-orang dibutakan dan hati mereka dikeraskan sehingga mereka tidak berbalik dan disembuhkan’. Yesaya menyaksikan dalam penglihatan tempat tinggal Yehuwa di surga, termasuk Yesus dalam kemuliaannya bersama Yehuwa sebelum ia menjadi manusia. Namun, orang-orang Yahudi, menggenapi apa yang ditulis Yesaya, dengan keras kepala menolak bukti bahwa Pribadi ini adalah Juru Selamat mereka yang dijanjikan.
Di pihak lain, banyak orang bahkan di antara para pemimpin (anggota-anggota pengadilan tinggi Yahudi, Sanhedrin) sebenarnya beriman kepada Yesus. Nikodemus dan Yusuf dari Arimatea adalah dua orang di antara para pemimpin itu. Akan tetapi, para pemimpin itu, paling tidak untuk saat itu, tidak menyatakan iman mereka, karena takut dipecat dari kedudukan mereka di sinagoge. Betapa besar kerugian orang-orang seperti ini!
Yesus selanjutnya mengingatkan, ”Barangsiapa percaya kepadaKu, ia bukan percaya kepadaKu, tetapi kepada Dia, yang telah mengutus Aku; dan barangsiapa melihat Aku, ia melihat Dia, yang telah mengutus Aku. . . . Dan jikalau seorang mendengar perkataanKu, tetapi tidak melakukannya, Aku tidak menjadi hakimnya, sebab Aku datang bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya. . . . firman yang telah Kukatakan, itulah yang akan menjadi hakimnya pada akhir zaman.”
Kasih Yehuwa kepada dunia umat manusia menggerakkan Dia untuk mengutus Yesus agar mereka yang beriman kepada-Nya dapat diselamatkan. Orang-orang yang diselamatkan ditentukan berdasarkan ketaatan mereka kepada hal-hal yang Allah perintahkan kepada Yesus untuk dikatakan. Penghakiman akan berlangsung ”pada akhir zaman”, selama Pemerintahan Seribu Tahun dari Kristus.
Yesus mengakhiri dengan mengatakan, ”Aku berkata-kata bukan dari diriKu sendiri, tetapi Bapa, yang mengutus Aku, Dialah yang memerintahkan Aku untuk mengatakan apa yang harus Aku katakan dan Aku sampaikan. Dan Aku tahu, bahwa perintahNya itu adalah hidup yang kekal. Jadi apa yang Aku katakan, Aku menyampaikannya sebagaimana yang difirmankan oleh Bapa kepadaKu.” Yohanes 12:28-50; 19:38, 39; Matius 3:17; 17:5; Yesaya 6:1, 8-10.
▪ Pada tiga kesempatan apa suara Allah terdengar sehubungan dengan Yesus?
▪ Bagaimana nabi Yesaya menyaksikan kemuliaan Yesus?
▪ Siapa para pemimpin yang beriman kepada Yesus, tetapi mengapa mereka tidak mengakui dia?
▪ Apa ”akhir zaman” itu, dan berdasarkan apa orang-orang akan dihakimi pada waktu itu?
-
-
Permulaan Hari yang MenentukanTokoh Terbesar Sepanjang Masa
-
-
Pasal 105
Permulaan Hari yang Menentukan
KETIKA Yesus meninggalkan Yerusalem pada hari Senin malam, ia kembali ke Betania di lereng timur Bukit Zaitun. Dua hari dari pelayanannya yang terakhir di Yerusalem telah selesai. Pasti Yesus bermalam lagi di rumah Lazarus temannya. Sejak ia tiba dari Yerikho pada hari Jumat, ini adalah malam keempat ia tinggal di Betania.
Sekarang, hari Selasa pagi-pagi sekali, tanggal 11 Nisan, ia dan murid-muridnya sudah berangkat lagi. Ini ternyata hari yang menentukan dalam pelayanan Yesus, hari yang tersibuk sampai saat itu. Ini adalah hari terakhir ia muncul di bait. Lagi pula ini hari terakhir dari pelayanannya di hadapan umum sebelum ia diadili dan dihukum mati.
Yesus dan murid-muridnya mengambil jalur yang sama melalui Bukit Zaitun menuju Yerusalem. Pada jalan itu dari Betania, Petrus memperhatikan pohon yang dikutuk Yesus pagi sebelumnya. ”Rabi, lihatlah!” serunya, ”pohon ara yang Kaukutuk itu sudah kering.”
Akan tetapi, mengapa Yesus mematikan pohon itu? Ia menjelaskan alasannya ketika ia selanjutnya berkata, ”Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu percaya dan tidak bimbang, kamu bukan saja akan dapat berbuat apa yang Kuperbuat dengan pohon ara itu, tetapi juga jikalau kamu berkata kepada gunung ini [Bukit Zaitun tempat mereka berdiri]: Beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut! hal itu akan terjadi. Dan apa saja yang kamu minta dalam doa dengan penuh kepercayaan, kamu akan menerimanya.”
Jadi dengan membuat pohon ara itu kering, Yesus memberi murid-muridnya pokok pelajaran mengenai perlunya mereka memiliki iman kepada Allah. Sebagaimana ia katakan, ”Apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu.” Sungguh suatu pelajaran yang penting bagi mereka teristimewa mengingat ujian-ujian yang luar biasa berat yang akan segera dialami! Namun, ada hubungan lain antara keringnya pohon ara itu dengan mutu dari iman.
Bangsa Israel, seperti pohon ara ini, mempunyai penampilan yang memperdayakan. Walaupun bangsa itu berada dalam ikatan perjanjian dengan Allah dan mungkin secara lahiriah kelihatannya melaksanakan hukum-hukum-Nya, bangsa itu terbukti tidak beriman, tidak menghasilkan buah yang baik. Karena kurang iman, bangsa ini bahkan berada dalam proses menolak Anak Allah sendiri! Jadi, dengan membuat pohon ara yang tidak menghasilkan buah itu menjadi kering, Yesus dengan jelas mempertunjukkan akhir bagi bangsa yang tidak berbuah, tidak beriman ini.
Tidak lama kemudian, Yesus dan murid-muridnya memasuki Yerusalem, dan sebagaimana kebiasaan mereka, mereka pergi ke bait, tempat Yesus mulai mengajar. Imam-imam kepala dan para tua-tua dari bangsa itu, pasti karena mengingat tindakan Yesus sehari sebelumnya mengusir para penukar uang, menantang dia, ”Dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal itu? Dan siapakah yang memberi kuasa itu kepadaMu?”
Sebagai jawaban Yesus berkata, ”Aku juga akan mengajukan satu pertanyaan kepadamu dan jikalau kamu memberi jawabnya kepadaKu, Aku akan mengatakan juga kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu. Dari manakah baptisan Yohanes? Dari sorga atau dari manusia?”
Para imam dan tua-tua mulai memperbincangkan hal itu di antara mereka tentang bagaimana mereka akan menjawab. ”Jikalau kita katakan: Dari sorga, Ia akan berkata kepada kita: Kalau begitu, mengapakah kamu tidak percaya kepadanya? Tetapi jikalau kita katakan: Dari manusia, kita takut kepada orang banyak, sebab semua orang menganggap Yohanes ini nabi.”
Para pemimpin itu tidak tahu harus menjawab apa. Maka mereka menjawab Yesus, ”Kami tidak tahu.”
Yesus, sebagai balasannya, mengatakan, ”Jika demikian, Aku juga tidak mengatakan kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu.” Matius 21:19-27; Markus 11:19-33; Lukas 20:1-8.
▪ Apa yang penting mengenai hari Selasa, tanggal 11 Nisan?
▪ Pelajaran apa yang Yesus berikan ketika ia membuat pohon ara menjadi kering?
▪ Bagaimana Yesus menjawab mereka yang menanyakan dengan kuasa apa ia melakukan hal-hal itu?
-
-
Disingkapkan melalui Perumpamaan Kebun AnggurTokoh Terbesar Sepanjang Masa
-
-
Pasal 106
Disingkapkan melalui Perumpamaan Kebun Anggur
YESUS sedang berada di bait Allah. Ia baru saja membuat bingung para pemimpin agama yang menuntut untuk mengetahui melalui kuasa siapa Yesus melakukan perkara-perkara. Sebelum mereka pulih dari kebingungan, Yesus bertanya, ”Apakah pendapatmu tentang ini?” Kemudian melalui sebuah perumpamaan, ia memperlihatkan kepada mereka orang macam apa mereka sebenarnya.
”Seorang mempunyai dua anak laki-laki,” kata Yesus. ”Ia pergi kepada anak yang sulung dan berkata: Anakku, pergi dan bekerjalah hari ini dalam kebun anggur. Jawab anak itu: Baik, bapa. Tetapi ia tidak pergi. Lalu orang itu pergi kepada anak yang kedua dan berkata demikian juga. Dan anak itu menjawab: Aku tidak mau. Tetapi kemudian ia menyesal lalu pergi juga. Siapakah di antara kedua orang itu yang melakukan kehendak ayahnya?” tanya Yesus.
”Yang terakhir,” jawab musuh-musuhnya.
Maka Yesus menerangkan, ”Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Para pemungut cukai dan perempuan sundal, sebenarnya, pada mulanya tidak mau melayani Allah. Namun kemudian, seperti anak yang kedua, mereka bertobat dan melayani Dia. Sebaliknya, para pemimpin agama, seperti anak yang sulung, mengaku melayani Allah, namun sebagaimana dikatakan Yesus, ”Yohanes [Pembaptis] datang untuk menunjukkan jalan kebenaran kepadamu, dan kamu tidak percaya kepadanya. Tetapi pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal percaya kepadanya. Dan meskipun kamu melihatnya, tetapi kemudian kamu tidak menyesal dan kamu tidak juga percaya kepadanya.”
Kemudian Yesus menunjukkan bahwa kegagalan para pemimpin agama itu bukan sekedar lalai melayani Allah. Tidak, tetapi mereka benar-benar jahat, orang-orang fasik. ”Adalah seorang tuan tanah,” Yesus berkata, ”membuka kebun anggur dan menanam pagar sekelilingnya. Ia menggali lobang tempat memeras anggur dan mendirikan menara jaga di dalam kebun itu. Kemudian ia menyewakan kebun itu kepada penggarap-penggarap lalu berangkat ke negeri lain. Ketika hampir tiba musim petik, ia menyuruh hamba-hambanya kepada penggarap-penggarap itu untuk menerima hasil yang menjadi bagiannya. Tetapi penggarap-penggarap itu menangkap hamba-hambanya itu: mereka memukul yang seorang, membunuh yang lain dan melempari yang lain pula dengan batu. Kemudian tuan itu menyuruh pula hamba-hamba yang lain, lebih banyak dari pada yang semula, tetapi merekapun diperlakukan sama seperti kawan-kawan mereka.”
”Hamba-hamba” adalah para nabi yang oleh ”tuan tanah”, Allah Yehuwa, dikirim kepada ”penggarap-penggarap” dari ”kebun anggur”-Nya. Para penggarap ini adalah pemuka-pemuka bangsa Israel, bangsa yang disebut dalam Alkitab sebagai ”kebun anggur” Allah.
Karena ”penggarap-penggarap” menyiksa dan membunuh ”hamba-hamba” tersebut, Yesus menerangkan, ”Akhirnya [pemilik kebun anggur itu] menyuruh anaknya kepada mereka, katanya: Anakku akan mereka segani. Tetapi ketika penggarap-penggarap itu melihat anaknya itu, mereka berkata seorang kepada yang lain: Ia adalah ahli waris, mari kita bunuh dia, supaya warisannya menjadi milik kita. Mereka menangkapnya dan melemparkannya ke luar kebun anggur itu, lalu membunuhnya.”
Sekarang, kepada para pemimpin agama itu, Yesus bertanya, ”Apabila tuan kebun anggur itu datang, apakah yang akan dilakukannya dengan penggarap-penggarap itu?”
Para pemimpin agama itu menjawab, ”Ia akan membinasakan orang-orang jahat itu dan kebun anggurnya akan disewakannya kepada penggarap-penggarap lain, yang akan menyerahkan hasilnya kepadanya pada waktunya.”
Dengan demikian mereka secara tidak sadar telah menjatuhkan vonis ke atas diri mereka sendiri, karena mereka termasuk di antara orang-orang Israel ”penggarap-penggarap” dari ”kebun anggur” nasional milik Yehuwa di Israel. Hasil yang diharapkan Yehuwa dari penggarap-penggarap itu adalah iman kepada Putra-Nya, Mesias yang sejati. Karena mereka gagal membuahkan hasil seperti itu, Yesus memperingatkan, ”Belum pernahkah kamu baca dalam Kitab Suci [dalam Mazmur 118:22, 23]: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru: hal itu terjadi dari pihak Tuhan [”Yehuwa”, NW], suatu perbuatan ajaib di mata kita. Sebab itu, Aku berkata kepadamu, bahwa Kerajaan Allah akan diambil dari padamu dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah Kerajaan itu. Dan barangsiapa jatuh ke atas batu itu, ia akan hancur dan barangsiapa ditimpa batu itu, ia akan remuk.”
Imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat kini menyadari bahwa Yesus sedang berbicara mengenai mereka, dan mereka ingin membunuh dia, ”ahli waris” yang sah. Jadi hak istimewa untuk menjadi penguasa dalam Kerajaan Allah akan diambil dari mereka sebagai kelompok bangsa, dan suatu bangsa baru yang terdiri dari ’penggarap-penggarap kebun anggur’ akan diciptakan, bangsa yang akan menghasilkan buah-buah yang diinginkan.
Karena para pemimpin agama takut kepada orang banyak, yang menganggap Yesus sebagai seorang nabi, mereka tidak berupaya membunuhnya pada kesempatan itu. Matius 21:28-46; Markus 12:1-12; Lukas 20:9-19; Yesaya 5:1-7.
▪ Siapa yang digambarkan oleh kedua anak dalam perumpamaan Yesus yang pertama?
▪ Dalam perumpamaan yang kedua, siapa yang digambarkan oleh ”tuan tanah”, ”kebun anggur”, ”penggarap-penggarap”, ”hamba-hamba” dan ”ahli waris”?
▪ Apa yang akan terjadi dengan ’penggarap-penggarap kebun anggur’ itu, dan siapa akan menggantikan mereka?
-
-
Perumpamaan tentang Perjamuan KawinTokoh Terbesar Sepanjang Masa
-
-
Pasal 107
Perumpamaan tentang Perjamuan Kawin
MELALUI dua perumpamaan, Yesus membuka kedok para ahli Taurat dan para imam kepala, dan mereka ingin membunuh dia. Namun Yesus belum selesai dengan mereka. Ia selanjutnya menceritakan kepada mereka sebuah perumpamaan lain lagi, dengan mengatakan,
”Hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja, yang mengadakan perjamuan kawin untuk anaknya. Ia menyuruh hamba-hambanya memanggil orang-orang yang telah diundang ke perjamuan kawin itu, tetapi orang-orang itu tidak mau datang.”
Allah Yehuwa adalah Raja yang mempersiapkan perjamuan kawin untuk Putra-Nya, Kristus Yesus. Pada akhirnya, mempelai perempuan yang terdiri dari 144.000 pengikut yang terurap akan dipersatukan dengan Yesus di surga. Rakyat dari Raja itu adalah bangsa Israel, yang karena telah dibawa ke dalam perjanjian Taurat pada tahun 1513 S.M., mendapat kesempatan untuk menjadi ”kerajaan imam”. Maka, pada kesempatan itu, merekalah yang mula-mula diundang ke perjamuan kawin itu.
Akan tetapi, panggilan pertama kepada mereka yang diundang baru diberikan pada musim gugur tahun 29 M., ketika Yesus dan murid-muridnya (hamba-hamba raja) memulai pekerjaan pengabaran Kerajaan. Namun orang-orang Israel jasmani yang menerima panggilan yang diserukan oleh hamba-hamba tersebut pada tahun 29 M. sampai 33 M. tidak mau datang. Maka Allah memberikan kesempatan kedua kepada bangsa yang diundang tersebut, sebagaimana diceritakan Yesus:
”Ia menyuruh pula hamba-hamba lain, pesannya: Katakanlah kepada orang-orang yang diundang itu: Sesungguhnya hidanganku telah kusediakan, lembu-lembu jantan dan ternak piaraanku telah disembelih; semuanya telah tersedia, datanglah ke perjamuan kawin ini.” Panggilan kedua dan terakhir kepada mereka yang telah diundang ini, mulai pada hari Pentakosta tahun 33 M., ketika roh kudus dicurahkan atas para pengikut Yesus. Panggilan ini berlanjut terus sampai tahun 36 M.
Namun, bagian terbesar dari orang Israel itu, juga menolak panggilan ini dengan angkuh. ”Orang-orang yang diundang itu tidak mengindahkannya,” kata Yesus, ”ada yang pergi ke ladangnya, ada yang pergi mengurus usahanya, dan yang lain menangkap hamba-hambanya itu, menyiksanya dan membunuhnya.” ”Maka,” Yesus melanjutkan, ”murkalah raja itu, lalu menyuruh pasukannya ke sana untuk membinasakan pembunuh-pembunuh itu dan membakar kota mereka.” Hal ini terjadi pada tahun 70 M., ketika Yerusalem diratakan sampai ke tanah oleh orang Roma, dan pembunuh-pembunuh itu dibinasakan.
Yesus kemudian menjelaskan apa yang terjadi sementara itu, ”Sesudah itu [raja] berkata kepada hamba-hambanya: Perjamuan kawin telah tersedia, tetapi orang-orang yang diundang tadi tidak layak untuk itu. Sebab itu pergilah ke persimpangan-persimpangan jalan dan undanglah setiap orang yang kamu jumpai di sana ke perjamuan kawin itu.” Hamba-hamba tersebut melakukan hal ini, dan ”penuhlah ruangan perjamuan kawin itu dengan tamu.”
Pekerjaan pengumpulan tamu dari jalan-jalan di luar kota milik orang-orang yang diundang ini dimulai pada tahun 36 M. Kornelius, perwira pasukan tentara Roma, beserta keluarganya adalah yang pertama dari orang-orang non-Yahudi yang tidak bersunat yang dikumpulkan. Pengumpulan dari orang-orang non-Yahudi ini, yang merupakan pengganti dari mereka yang pada mulanya menolak panggilan, telah berlangsung terus sampai abad ke-20.
Selama abad ke-20 inilah ruangan untuk upacara perkawinan menjadi penuh. Yesus menceritakan apa yang kemudian terjadi, dengan mengatakan, ”Ketika raja itu masuk untuk bertemu dengan tamu-tamu itu, ia melihat seorang yang tidak berpakaian pesta. Ia berkata kepadanya: Hai saudara, bagaimana engkau masuk ke mari dengan tidak mengenakan pakaian pesta? Tetapi orang itu diam saja. Lalu kata raja itu kepada hamba-hambanya: Ikatlah kaki dan tangannya dan campakkanlah orang itu ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi.”
Orang yang tidak mengenakan pakaian pesta menggambarkan Kristiani tiruan dari Susunan Kristen. Allah tidak pernah mengakui orang-orang ini sebagai orang-orang yang memiliki tanda pengenal yang patut sebagai Israel rohani. Allah tidak pernah mengurapi mereka dengan roh kudus sebagai ahli waris Kerajaan. Jadi mereka dilemparkan ke luar dalam kegelapan tempat mereka akan mengalami kebinasaan.
Yesus mengakhiri perumpamaannya dengan mengatakan, ”Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih.” Ya, ada banyak yang diundang dari bangsa Israel untuk menjadi anggota dari mempelai Kristus, namun hanya sedikit orang Israel jasmani yang dipilih. Kebanyakan dari 144.000 tamu yang menerima pahala surgawi ternyata orang-orang non-Israel. Matius 22:1-14; Keluaran 19:1-6; Wahyu 14:1-3.
▪ Siapa gerangan mereka yang mula-mula diundang ke perjamuan kawin, dan kapan undangan disampaikan kepada mereka?
▪ Kapan panggilan pertama disampaikan kepada mereka yang diundang, dan siapakah hamba-hamba yang digunakan untuk menyampaikan undangan?
▪ Kapan panggilan kedua disampaikan, dan setelah itu siapa yang diundang?
▪ Siapa yang digambarkan oleh orang yang tidak mengenakan pakaian pesta?
▪ Siapa gerangan orang banyak yang dipanggil, dan sedikit orang yang dipilih?
-
-
Mereka Gagal Menjerat YesusTokoh Terbesar Sepanjang Masa
-
-
Pasal 108
Mereka Gagal Menjerat Yesus
KARENA Yesus mengajar di bait dan baru saja menceritakan kepada musuh-musuh religiusnya tiga perumpamaan yang menyingkapkan kejahatan mereka, orang-orang Farisi menjadi marah dan bersekongkol menjerat dia agar ia mengatakan sesuatu yang dapat dijadikan alasan untuk menangkapnya. Mereka membuat suatu rencana dan mengirimkan murid-murid mereka, bersama dengan pengikut-pengikut Herodes, untuk mencoba menjerat dia.
”Guru,” kata orang-orang ini, ”kami tahu, Engkau adalah seorang yang jujur dan dengan jujur mengajar jalan Allah dan Engkau tidak takut kepada siapapun juga, sebab Engkau tidak mencari muka. Katakanlah kepada kami pendapatMu: Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?”
Yesus tidak tertipu oleh sanjungan itu. Ia menyadari bahwa jika ia mengatakan, ’Tidak, tidak usah atau tidak benar untuk membayar pajak’, ia akan bersalah karena menghasut melawan Roma. Akan tetapi, andai kata ia mengatakan, ’Ya, kamu harus membayar pajak ini’, orang-orang Yahudi, yang tidak suka tunduk di bawah Roma, akan membenci Dia. Maka ia menjawab, ”Mengapa kamu mencobai Aku, hai orang-orang munafik? Tunjukkanlah kepadaKu mata uang untuk pajak itu.”
Ketika mereka membawa satu dinar kepadanya, ia bertanya, ”Gambar dan tulisan siapakah ini?”
”Kaisar,” jawab mereka.
”Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.” Pada saat orang-orang ini mendengar jawaban Yesus yang sangat bijaksana, mereka merasa takjub. Lalu mereka pergi dan meninggalkan dia.
Melihat orang Farisi gagal mencari alasan untuk mempersalahkan Yesus, orang-orang Saduki, yang tidak percaya akan kebangkitan, mendekati dia dan bertanya, ”Guru, Musa mengatakan, bahwa jika seorang mati dengan tiada meninggalkan anak, saudaranya harus kawin dengan isterinya itu dan membangkitkan keturunan bagi saudaranya itu. Tetapi di antara kami ada tujuh orang bersaudara. Yang pertama kawin, tetapi kemudian mati. Dan karena ia tidak mempunyai keturunan, ia meninggalkan isterinya itu bagi saudaranya. Demikian juga yang kedua dan yang ketiga sampai dengan yang ketujuh. Dan akhirnya, sesudah mereka semua, perempuan itupun mati. Siapakah di antara ketujuh orang itu yang menjadi suami perempuan itu pada hari kebangkitan? Sebab mereka semua telah beristerikan dia.”
Sebagai jawaban Yesus berkata, ”Kamu sesat, justru karena kamu tidak mengerti Kitab Suci maupun kuasa Allah. Sebab apabila orang bangkit dari antara orang mati, orang tidak kawin dan tidak dikawinkan melainkan hidup seperti malaikat di sorga. Dan juga tentang bangkitnya orang-orang mati, tidakkah kamu baca dalam kitab nabi Musa, dalam cerita tentang semak duri, bagaimana bunyi firman Allah kepadanya: Akulah Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub? Ia bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup. Kamu benar-benar sesat!”
Sekali lagi orang banyak merasa takjub akan jawaban Yesus. Bahkan beberapa ahli Taurat mengakui, ”Guru, jawabMu itu tepat sekali.”
Ketika orang-orang Farisi melihat bahwa Yesus telah membungkamkan orang-orang Saduki, mereka datang kepadanya dalam satu kelompok. Untuk mencobai dia lebih lanjut, salah seorang ahli Taurat di antara mereka bertanya, ”Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?”
Yesus menjawab, ”Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan [”Yehuwa”, NW] Allah kita, Tuhan [”Yehuwa”, NW] itu esa. Kasihilah Tuhan [”Yehuwa”, NW], Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini.” Yesus bahkan menambahkan, ”Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.”
”Tepat sekali, Guru, benar kataMu itu,” ahli Taurat itu setuju, ”Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia. Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama dari pada semua korban bakaran dan korban sembelihan.”
Melihat bahwa ahli Taurat itu menjawab dengan cerdas, Yesus berkata kepadanya, ”Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!”
Kini sudah tiga hari—Minggu, Senin, dan Selasa—Yesus mengajar di bait. Orang-orang dengan senang hati mendengarkan dia, namun para pemimpin agama ingin membunuh dia, tetapi sejauh ini usaha-usaha mereka dapat digagalkan. Matius 22:15-40; Markus 12:13-34; Lukas 20:20-40.
▪ Persekongkolan apa yang dibuat orang-orang Farisi untuk menjerat Yesus, dan apa akibatnya andai kata ia memberi jawaban ya atau tidak?
▪ Bagaimana Yesus menggagalkan upaya orang-orang Saduki untuk menjerat dia?
▪ Apa upaya selanjutnya dari orang-orang Farisi untuk mencobai Yesus, dan apa hasilnya?
▪ Selama pelayanannya yang terakhir di Yerusalem, berapa hari Yesus mengajar di bait, dan dengan pengaruh apa?
-
-
Yesus Mencela para PenentangnyaTokoh Terbesar Sepanjang Masa
-
-
Pasal 109
Yesus Mencela para Penentangnya
YESUS benar-benar telah membuat para penentang religius bingung sehingga mereka tidak berani bertanya apa-apa lagi. Maka ia mengambil inisiatif untuk menyingkapkan kurangnya pengetahuan mereka. ”Apakah pendapatmu tentang Mesias?” tanyanya. ”Anak siapakah Dia?”
”Anak Daud,” jawab orang-orang Farisi.
Sekalipun Yesus tidak menyangkal bahwa Daud adalah nenek moyang jasmani dari Kristus, atau Mesias, ia bertanya, ”Jika demikian, bagaimanakah Daud oleh ilham Roh [dalam Mazmur 110] dapat menyebut Dia Tuannya, ketika ia berkata: Tuhan [”Yehuwa”, NW] telah berfirman kepada Tuanku: duduklah di sebelah kananKu, sampai musuh-musuhMu Kutaruh di bawah kakiMu. Jadi jika Daud menyebut Dia Tuannya, bagaimana mungkin Ia anaknya pula?”
Orang-orang Farisi itu diam saja, karena mereka tidak mengetahui identitas yang sebenarnya dari Kristus, atau pribadi yang diurapi. Mesias bukan semata-mata keturunan manusiawi dari Daud, sebagaimana dipercayai oleh orang Farisi, tetapi ia pernah hidup di surga dan adalah atasan, atau Tuan dari Daud.
Yesus kemudian berpaling kepada orang banyak dan murid-muridnya, memperingatkan mengenai para ahli Taurat dan orang Farisi. Karena mereka mengajarkan Taurat Allah, ”menduduki kursi Musa”, Yesus menganjurkan, ”Turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu.” Akan tetapi, ia menambahkan, ”Janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya.”
Mereka adalah orang-orang munafik, dan Yesus mencela mereka dengan bahasa yang sama yang ia gunakan pada waktu ia makan di rumah seorang Farisi beberapa bulan sebelumnya. ”Semua pekerjaan yang mereka lakukan,” katanya, ”hanya dimaksud supaya dilihat orang.” Selanjutnya ia memberikan contoh-contoh, dengan mengatakan:
”Mereka memperbesar kotak-kotak yang berisi ayat-ayat yang mereka kenakan sebagai pelindung.” (NW) Kotak-kotak yang relatif kecil, yang dikenakan pada dahi atau pada lengan, memuat empat bagian dari Taurat: Keluaran 13:1-10, 11-16; dan Ulangan 6:4-9; 11:13-21. Namun orang-orang Farisi memperlebar ukuran kotak-kotak ini untuk memberi kesan bahwa mereka sangat patuh kepada Taurat.
Yesus melanjutkan bahwa mereka ”memperpanjang jumbai pada jubah mereka”. (NW) Dalam Bilangan 15:38-40 orang Israel diperintahkan untuk mengenakan jumbai pada jubah mereka, namun orang Farisi membuatnya lebih panjang daripada kepunyaan orang lain. Semuanya dilakukan dengan maksud untuk pamer! Yesus menyatakan, ”Mereka suka duduk di tempat terhormat.”
Patut disesalkan, murid-muridnya sendiri telah terpengaruh oleh keinginan untuk dihormati ini. Maka ia menasihati, ”Tetapi kamu, janganlah kamu disebut Rabi; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara. Dan janganlah kamu menyebut siapapun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga. Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias.” Murid-murid tersebut harus menjauhkan diri dari keinginan untuk menjadi nomor satu! ”Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu,” nasihat Yesus.
Kemudian ia menyebutkan serangkaian celaka atas para ahli Taurat dan orang Farisi, dengan berulang kali menyebut mereka sebagai orang munafik. Mereka ”menutup pintu-pintu Kerajaan Sorga di depan orang”, katanya, dan ”menelan rumah janda-janda, sedang mereka mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang”.
”Celakalah kamu, hai pemimpin-pemimpin buta,” kata Yesus. Ia mengutuk kurangnya nilai-nilai rohani dari kaum Farisi, yang dibuktikan oleh perbedaan sewenang-wenang yang mereka buat. Misalnya, mereka mengatakan, ’Bersumpah demi Bait Suci adalah tidak sah, tetapi bersumpah demi emas Bait Suci bersifat mengikat.’ Karena lebih menandaskan emas Bait Suci daripada nilai rohani tempat ibadat itu, kebutaan moral mereka tersingkap.
Lalu, sebagaimana ia lakukan sebelumnya, Yesus mengutuk orang Farisi karena mengabaikan ’yang terpenting dalam Hukum Taurat, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan’ dan sebaliknya sangat menandaskan persepuluhan, atau sepersepuluh bagian, dari ramuan-ramuan yang tidak penting.
Yesus menyebut orang Farisi, ”Pemimpin-pemimpin buta, nyamuk kamu tapiskan dari dalam minumanmu, tetapi unta yang di dalamnya kamu telan”. Mereka menapiskan nyamuk dari anggur mereka bukan semata-mata karena itu serangga tetapi karena dalam upacara agama itu dianggap najis. Akan tetapi, kelalaian mereka terhadap hal-hal yang lebih penting dalam Taurat dapat dibandingkan dengan menelan unta, juga binatang yang najis dalam hubungan dengan upacara. Matius 22:41–23:24; Markus 12:35-40; Lukas 20:41-47; Imamat 11:4, 21-24.
▪ Mengapa orang Farisi diam saja ketika Yesus bertanya kepada mereka mengenai apa yang Daud katakan dalam Mazmur 110?
▪ Mengapa orang Farisi memperbesar kotak-kotak mereka yang berisi ayat dan memperpanjang jumbai-jumbai pada jubah mereka?
▪ Nasihat apa yang Yesus berikan kepada murid-muridnya?
▪ Perbedaan yang sewenang-wenang apa yang dibuat orang Farisi, dan bagaimana Yesus mengutuk mereka karena mengabaikan hal-hal yang lebih penting?
-
-
Pelayanan di Bait SelesaiTokoh Terbesar Sepanjang Masa
-
-
Pasal 110
Pelayanan di Bait Selesai
YESUS muncul untuk yang terakhir kalinya di bait. Sebenarnya, ia hampir selesai dengan pelayanannya di bumi kecuali peristiwa pengadilan dan eksekusinya, yang terjadi tiga hari kemudian. Sekarang ia meneruskan kata-kata penghukumannya atas para ahli Taurat dan orang Farisi.
Tiga kali lagi ia berseru, ”Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik.” Pertama-tama, ia menyatakan celaka atas mereka karena ’cawan dan pinggan mereka bersihkan sebelah luarnya, tetapi sebelah dalamnya penuh rampasan dan kerakusan’. Maka ia menasihati, ”Bersihkanlah dahulu sebelah dalam cawan itu, maka sebelah luarnya juga akan bersih.”
Kemudian ia menyatakan celaka atas para ahli Taurat dan orang Farisi karena kebejatan dan kebusukan yang mereka coba tutupi dengan kesalehan di luar. ”Kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih,” katanya, ”yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran.”
Akhirnya, kemunafikan mereka nyata dalam kesediaan mereka untuk mendirikan kuburan bagi para nabi dan menghiasinya agar perbuatan amal mereka sendiri diperhatikan. Namun, sebagaimana disingkapkan oleh Yesus, mereka ”adalah keturunan [dari] pembunuh nabi-nabi itu”. Memang, siapa pun yang berani menyingkapkan kemunafikan mereka berada dalam bahaya!
Selanjutnya, Yesus mengucapkan kata-kata celaan yang paling keras. ”Hai kamu ular-ular, hai kamu keturunan ular beludak,” katanya, ”bagaimanakah mungkin kamu dapat meluputkan diri dari hukuman neraka [Gehenna]?” Gehenna adalah lembah yang digunakan sebagai tempat pembuangan sampah Yerusalem. Maka Yesus memaksudkan bahwa karena menempuh haluan mereka yang jahat, para ahli Taurat dan orang Farisi akan mengalami kebinasaan kekal.
Mengenai mereka yang ia kirim sebagai wakil-wakilnya, Yesus berkata, ”Separuh di antara mereka akan kamu bunuh dan kamu salibkan [”pakukan”, NW], yang lain akan kamu sesah di rumah-rumah ibadatmu dan kamu aniaya dari kota ke kota, supaya kamu menanggung akibat penumpahan darah orang yang tidak bersalah mulai dari Habel, orang benar itu, sampai kepada Zakharia anak Berekhya [yang dinamai Yoyada di Dua Tawarikh], yang kamu bunuh di antara tempat kudus dan mezbah. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya semuanya ini akan ditanggung angkatan ini!”
Karena Zakharia mengutuk para pemimpin Israel, ”mereka mengadakan persepakatan terhadap dia, dan atas perintah raja mereka melontari dia dengan batu di pelataran rumah [Yehuwa].” Namun, sebagaimana Yesus nubuatkan, Israel akan membayar semua penumpahan darah orang yang benar. Mereka membayarnya 37 tahun kemudian, pada tahun 70 M., ketika tentara Roma menghancurkan Yerusalem dan lebih dari satu juta orang Yahudi binasa.
Ketika Yesus memikirkan keadaan yang mengerikan itu, ia menjadi sedih. ”Yerusalem, Yerusalem,” serunya sekali lagi, ”berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau. Lihatlah rumahmu ini akan ditinggalkan dan menjadi sunyi.”
Kemudian Yesus menambahkan, ”Mulai sekarang kamu tidak akan melihat Aku lagi, hingga kamu berkata: Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan [”Yehuwa”, NW]!” Saat itu adalah pada waktu kehadiran Kristus ketika ia mewarisi Kerajaan surgawinya dan orang-orang melihat dia dengan mata iman.
Yesus kemudian pergi ke suatu tempat yang dapat mengamati peti persembahan di bait dan orang banyak yang memasukkan uang ke dalamnya. Orang kaya memasukkan jumlah yang besar. Akan tetapi, kemudian seorang janda miskin datang dan memasukkan dua keping uang yang sangat kecil nilainya.
Yesus memanggil murid-muridnya dan berkata, ”Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan.” Pastilah mereka bertanya-tanya dalam hati bagaimana hal itu mungkin. Maka Yesus menerangkan, ”Mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya.” Setelah mengatakan hal ini, Yesus meninggalkan bait untuk terakhir kali.
Takjub melihat ukuran dan keindahan bait itu, salah seorang dari murid-muridnya berseru: ”Guru, lihatlah betapa kokohnya batu-batu itu dan betapa megahnya gedung-gedung itu!” Memang, kata orang panjang batu-batunya lebih dari 11 meter, lebarnya lebih dari 5 meter, dan tingginya lebih dari 3 meter!
”Kaulihat gedung-gedung yang hebat ini?” jawab Yesus. ”Tidak satu batupun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain, semuanya akan diruntuhkan.”
Setelah mengatakan hal-hal ini, Yesus dan rasul-rasulnya melintasi Lembah Kidron dan mendaki Bukit Zaitun. Dari sini mereka dapat memandang ke bawah ke bait yang megah. Matius 23:25–24:3; Markus 12:41–13:3; Lukas 21:1-6; 2 Tawarikh 24:20-22.
▪ Apa yang Yesus lakukan pada kunjungannya yang terakhir ke bait?
▪ Bagaimana kemunafikan para ahli Taurat dan orang Farisi disingkapkan?
▪ Apa yang dimaksud dengan ”hukuman neraka [Gehenna]”?
▪ Mengapa Yesus mengatakan bahwa janda itu memberi lebih banyak daripada orang kaya?
-
-
Tanda Hari-Hari TerakhirTokoh Terbesar Sepanjang Masa
-
-
Pasal 111
Tanda Hari-Hari Terakhir
SEKARANG sudah hari Selasa sore. Ketika Yesus sedang duduk di atas Bukit Zaitun, memandang ke bait Allah di bawah, Petrus, Andreas, Yakobus, dan Yohanes datang kepadanya untuk bercakap-cakap sendirian dengannya. Mereka merasa khawatir terhadap bait Allah, karena Yesus baru saja menubuatkan bahwa tidak ada satu batu pun yang akan tinggal terletak di atas batu yang lain.
Akan tetapi, tampaknya masih ada hal lain lagi dalam pikiran mereka ketika mereka menghampiri Yesus. Beberapa minggu sebelumnya, ia berbicara mengenai ”kehadiran”-nya (NW), saat ”manakala Anak Manusia akan dinyatakan”. (NW) Dan sebelum itu, ia telah memberi tahu mereka tentang ”kesudahan sistem ini”. (NW) Karena itu para rasul benar-benar ingin tahu.
”Katakanlah kepada kami,” kata mereka, ”bilamanakah itu akan terjadi [yang mengakibatkan kehancuran bagi Yerusalem dan bait Allah], dan apakah tanda kehadiranmu dan tanda kesudahan sistem ini?” (NW) Sebenarnya, pertanyaan mereka terdiri dari tiga bagian. Pertama, mereka ingin mengetahui tentang akhir dari Yerusalem dan baitnya, kemudian sehubungan dengan kehadiran Yesus dalam kuasa Kerajaan, dan yang terakhir tentang akhir dari seluruh sistem ini.
Dalam jawabannya yang panjang, Yesus menjawab ketiga bagian pertanyaan tersebut. Ia memberikan suatu tanda yang menunjukkan kapan sistem Yahudi akan berakhir; namun bukan itu saja. Ia juga memberikan suatu tanda yang akan memperingatkan orang-orang yang akan menjadi murid-muridnya kelak agar mereka dapat mengetahui bahwa mereka hidup pada masa kehadirannya dan mendekati akhir dari seluruh sistem ini.
Seraya tahun demi tahun berlalu, rasul-rasul melihat penggenapan dari nubuat Yesus. Ya, hal-hal yang ia nubuatkan mulai terjadi pada zaman mereka. Jadi, umat Kristiani yang hidup 37 tahun kemudian, pada tahun 70 M., tidak dikejutkan oleh kehancuran sistem Yahudi beserta baitnya.
Akan tetapi, kehadiran Yesus dan akhir sistem ini tidak terjadi pada tahun 70 M. Kehadirannya dalam kuasa Kerajaan terjadi jauh di masa depan. Namun kapan? Dengan mempertimbangkan nubuat Yesus, kita akan mengetahuinya.
Yesus menubuatkan bahwa akan ada ”deru perang atau kabar-kabar tentang perang”. ”Bangsa akan bangkit melawan bangsa,” katanya, dan akan ada kelaparan, gempa bumi, dan penyakit sampar. Murid-muridnya akan dibenci dan dibunuh. Nabi-nabi palsu akan muncul dan menyesatkan banyak orang. Kedurhakaan akan bertambah, dan kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin. Pada waktu yang sama, Injil Kerajaan Allah akan diberitakan sebagai kesaksian bagi semua bangsa.
Meskipun nubuat Yesus terbatas penggenapannya sebelum kehancuran Yerusalem pada tahun 70 M., penggenapan yang lebih besar terjadi pada saat kehadirannya dan kesudahan sistem ini. Bila kita meninjau kembali dengan saksama peristiwa-peristiwa dunia sejak tahun 1914, tersingkaplah bahwa sejak tahun itu nubuat Yesus yang sangat penting telah mengalami penggenapan yang lebih besar.
Bagian lain dari tanda yang Yesus berikan adalah munculnya ”Pembinasa keji”. Pada tahun 66 M., pembinasa keji ini muncul dalam bentuk ”tentara-tentara” Roma yang mengepung Yerusalem dan menghancurkan tembok bait. ”Pembinasa keji” berdiri di tempat yang tidak patut baginya.
Dalam penggenapan utama dari tanda tersebut, Pembinasa keji adalah Liga Bangsa-Bangsa dan penggantinya, Perserikatan Bangsa-Bangsa. Organisasi perdamaian dunia ini dipandang oleh Susunan Kristen sebagai pengganti dari Kerajaan Allah. Betapa memuakkan! Karena itu, pada waktunya, kuasa-kuasa politik yang bergabung dengan PBB akan berbalik menyerang Susunan Kristen (imbangan Yerusalem) dan akan menghancurkannya.
Jadi Yesus menubuatkan, ”Pada masa itu akan terjadi siksaan yang dahsyat [”sengsara besar”, Bode] seperti yang belum pernah terjadi sejak awal dunia sampai sekarang dan yang tidak akan terjadi lagi.” Walaupun kehancuran Yerusalem pada tahun 70 M. sungguh-sungguh merupakan sengsara besar, menurut laporan ada lebih dari satu juta orang yang terbunuh, namun hal itu bukanlah sengsara yang lebih besar daripada Air Bah sedunia pada zaman Nuh. Dengan demikian, penggenapan yang lebih besar atas bagian dari nubuat Yesus ini masih akan terjadi.
Keyakinan Selama Hari-Hari Terakhir
Pada waktu hari Selasa tanggal 11 Nisan hampir berakhir, Yesus melanjutkan pembahasan bersama murid-muridnya tentang tanda kehadirannya dalam kuasa Kerajaan dan akhir sistem ini. Ia memperingatkan mereka agar tidak mencari pergaulan di antara Mesias-Mesias palsu. Katanya, akan ada upaya ”sehingga sekiranya mungkin, mereka menyesatkan orang-orang pilihan juga”. Akan tetapi, seperti burung rajawali yang dapat melihat dari jarak jauh, orang-orang pilihan ini akan berkumpul di tempat makanan rohani yang benar dapat ditemukan, yaitu bersama Kristus yang sejati pada waktu kehadirannya yang tidak kelihatan. Mereka tidak akan disesatkan dan dikumpulkan bersama Mesias palsu.
Mesias-Mesias palsu hanya dapat menampakkan diri secara fisik. Sebaliknya, kehadiran Yesus tidak akan kelihatan. Hal ini akan terjadi selama masa yang mengerikan dalam sejarah manusia, seperti Yesus katakan, ”Matahari akan menjadi gelap dan bulan tidak bercahaya.” Ya, hal ini akan menjadi masa yang paling gelap dari kehidupan manusia. Halnya seakan-akan matahari menjadi gelap pada siang hari, dan seakan-akan bulan tidak bercahaya pada malam hari.
”Kuasa-kuasa langit akan goncang,” kata Yesus selanjutnya. Dengan demikian, ia menunjukkan bahwa langit harfiah akan memperlihatkan pertanda buruk. Langit tidak akan menjadi wilayah dari burung-burung saja, tetapi akan dipenuhi dengan pesawat tempur, roket, serta satelit ruang angkasa. Perasaan takut dan kekerasan akan melebihi segala sesuatu yang pernah dialami sepanjang sejarah manusia.
Sebagai akibatnya, Yesus berkata, ”bangsa-bangsa akan takut dan bingung menghadapi deru dan gelora laut. Orang akan mati ketakutan karena kecemasan berhubung dengan segala apa yang menimpa bumi ini.” Sesungguhnya, masa paling gelap dalam kehidupan manusia ini akan menuju kepada waktu manakala, seperti Yesus katakan, ”akan tampak tanda Anak Manusia di langit dan semua bangsa di bumi akan meratap.”
Akan tetapi, tidak semua akan meratap ketika ’Anak Manusia datang dengan kekuasaan’ untuk membinasakan sistem yang jahat ini. ”Orang-orang pilihan”, ke-144.000 yang akan memerintah bersama Kristus dalam Kerajaan surgawinya, tidak akan meratap, demikian juga rekan-rekan mereka, yaitu orang-orang yang Yesus sebut sebelumnya sebagai ”domba-domba lain”. Walaupun hidup selama masa yang paling gelap sepanjang sejarah manusia, mereka menanggapi anjuran Yesus, ”Apabila semuanya itu mulai terjadi, bangkitlah dan angkatlah mukamu, sebab penyelamatanmu sudah dekat.”
Agar murid-muridnya yang akan hidup selama hari-hari terakhir dapat mengetahui betapa dekat akhir itu, Yesus memberikan perumpamaan ini, ”Perhatikanlah pohon ara atau pohon apa saja. Apabila kamu melihat pohon-pohon itu sudah bertunas, kamu tahu dengan sendirinya bahwa musim panas sudah dekat. Demikian juga, jika kamu melihat hal-hal itu terjadi, ketahuilah, bahwa Kerajaan Allah sudah dekat. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya angkatan ini tidak akan berlalu, sebelum semuanya terjadi.”
Jadi, bila murid-muridnya melihat banyak corak yang berlainan dari tanda itu sedang digenapi, mereka harus menyadari bahwa akhir sistem ini sudah dekat dan bahwa Kerajaan Allah segera akan membinasakan semua kejahatan. Sebenarnya, akhir itu akan terjadi dalam jangka waktu kehidupan dari orang-orang yang menyaksikan penggenapan dari semua hal yang Yesus nubuatkan! Untuk menasihati murid-muridnya yang akan hidup selama hari-hari terakhir yang menentukan ini, Yesus berkata,
”Jagalah dirimu, supaya hatimu jangan sarat oleh pesta pora dan kemabukan serta kepentingan-kepentingan duniawi dan supaya hari Tuhan jangan dengan tiba-tiba jatuh ke atas dirimu seperti suatu jerat. Sebab ia akan menimpa semua penduduk bumi ini. Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, supaya kamu beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu, dan supaya kamu tahan berdiri di hadapan Anak Manusia.”
Gadis-Gadis yang Bijaksana dan yang Bodoh
Yesus sedang menjawab permintaan rasul-rasulnya untuk memberikan tanda dari kehadirannya dalam kuasa Kerajaan. Sekarang ia memberikan corak-corak lain dari tanda itu dalam tiga perumpamaan, atau ilustrasi.
Penggenapan dari setiap perumpamaan dapat diamati oleh orang-orang yang hidup pada masa kehadirannya. Ia memulai perumpamaan yang pertama dengan kata-kata, ”Pada waktu itu hal Kerajaan Sorga seumpama sepuluh gadis, yang mengambil pelitanya dan pergi menyongsong mempelai laki-laki. Lima di antaranya bodoh dan lima bijaksana.”
Dengan ungkapan ”hal Kerajaan Sorga seumpama sepuluh gadis”, Yesus tidak memaksudkan bahwa setengah dari antara mereka yang mewarisi Kerajaan surgawi adalah orang bodoh dan yang setengah lagi adalah orang bijaksana! Tidak, tetapi ia memaksudkan bahwa sehubungan dengan Kerajaan surga, ada suatu segi seperti ini atau seperti itu, atau bahwa hal-hal sehubungan dengan Kerajaan akan seperti ini dan itu.
Sepuluh gadis itu melambangkan semua orang Kristiani yang berhak atau yang mengaku berhak menerima Kerajaan surgawi. Pada hari Pentakosta tahun 33 M., sidang Kristen dijanjikan akan dikawinkan dengan Mempelai Laki-Laki yang telah dibangkitkan dan dimuliakan, Kristus Yesus. Akan tetapi, perkawinan akan berlangsung di surga pada suatu waktu yang tidak disebutkan di masa yang akan datang.
Dalam perumpamaan ini, sepuluh gadis pergi dengan maksud menyongsong mempelai laki-laki dan ikut serta dalam iring-iringan pengantin. Ketika ia tiba, mereka akan menerangi jalan-jalan yang dilalui iring-iringan itu dengan pelita mereka, dengan demikian menghormati dia seraya ia membawa pengantin perempuannya ke rumah yang telah dipersiapkan baginya. Namun, Yesus menjelaskan, ”Gadis-gadis yang bodoh itu membawa pelitanya, tetapi tidak membawa minyak, sedangkan gadis-gadis yang bijaksana itu membawa pelitanya dan juga minyak dalam buli-buli mereka. Tetapi karena mempelai itu lama tidak datang-datang juga, mengantuklah mereka semua lalu tertidur.”
Tertundanya kedatangan mempelai laki-laki untuk waktu yang lama menunjukkan bahwa kehadiran Kristus sebagai Raja yang memerintah masih akan terjadi jauh di masa depan. Akhirnya ia duduk di atas takhta pada tahun 1914. Selama malam yang panjang sebelum itu, semua gadis tertidur. Akan tetapi, mereka tidak dipersalahkan karena itu. Kesalahan yang ditimpakan atas gadis-gadis yang bodoh adalah karena mereka tidak mempunyai minyak dalam buli-buli mereka. Yesus menjelaskan bagaimana gadis-gadis itu terbangun sebelum mempelai laki-laki itu tiba, ”Waktu tengah malam terdengarlah suara orang berseru: Mempelai datang! Songsonglah dia! Gadis-gadis itupun bangun semuanya lalu membereskan pelita mereka. Gadis-gadis yang bodoh berkata kepada gadis-gadis yang bijaksana: Berikanlah kami sedikit dari minyakmu itu, sebab pelita kami hampir padam. Tetapi jawab gadis-gadis yang bijaksana itu: Tidak, nanti tidak cukup untuk kami dan untuk kamu. Lebih baik kamu pergi kepada penjual minyak dan beli di situ.”
Minyak melambangkan sesuatu yang membuat umat Kristiani tetap bercahaya sebagai penerang. Ini adalah Firman Allah terilham, yang umat Kristiani pegang dengan erat, bersama dengan roh suci, yang membantu mereka memahami Firman itu. Minyak rohani memungkinkan gadis-gadis yang bijaksana terus memancarkan terang dalam menyongsong mempelai laki-laki selama iring-iringan menuju perjamuan kawin. Akan tetapi, golongan gadis-gadis yang bodoh tidak memiliki minyak rohani yang diperlukan itu dalam diri mereka, dalam buli-buli mereka. Maka Yesus melukiskan apa yang terjadi,
”Akan tetapi, waktu [gadis-gadis yang bodoh] sedang pergi untuk membeli [minyak], datanglah mempelai itu dan mereka yang telah siap sedia masuk bersama-sama dengan dia ke ruang perjamuan kawin, lalu pintu ditutup. Kemudian datang juga gadis-gadis yang lain itu dan berkata: Tuan, tuan, bukakanlah kami pintu! Tetapi ia menjawab: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya aku tidak mengenal kamu.”
Setelah Kristus tiba dalam Kerajaan surgawinya, golongan gadis yang bijaksana dari umat Kristiani sejati yang terurap bangkit untuk melakukan hak istimewa mereka yaitu memancarkan terang dalam dunia yang dilanda kegelapan ini menyambut Mempelai Laki-Laki yang kembali. Akan tetapi, mereka yang digambarkan oleh gadis-gadis yang bodoh tidak siap untuk memberikan penyambutan berupa puji-pujian ini. Maka ketika tiba waktunya, Kristus tidak membukakan pintu masuk ke perjamuan kawin di surga bagi mereka. Ia meninggalkan mereka di luar dalam kegelapan malam yang pekat dari dunia, untuk dibinasakan bersama semua pelaku kejahatan lainnya. ”Karena itu, berjaga-jagalah,” Yesus melanjutkan, ”sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya.”
Ilustrasi Mengenai Talenta
Yesus melanjutkan diskusi dengan para rasulnya di atas Bukit Zaitun dengan menceritakan kepada mereka perumpamaan lain, yang kedua dari rangkaian tiga perumpamaan. Beberapa hari sebelumnya, pada waktu ia berada di Yerikho, ia memberikan perumpamaan mengenai uang mina untuk memperlihatkan bahwa Kerajaan masih jauh di masa depan. Perumpamaan yang ia ceritakan sekarang, meskipun memiliki beberapa corak yang sama, dalam penggenapannya menggambarkan kegiatan selama kehadiran Kristus dalam kuasa Kerajaan. Ini menggambarkan bahwa murid-muridnya pada waktu masih berada di bumi harus bekerja untuk memperbanyak ”hartanya”.
Yesus memulai, ”Sebab hal Kerajaan Sorga [yaitu, keadaan yang ada hubungannya dengan Kerajaan itu] sama seperti seorang yang mau bepergian ke luar negeri, yang memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka.” Yesus-lah orang yang, sebelum bepergian ke surga, mempercayakan kepada hamba-hambanya—yakni murid-muridnya yang akan mewarisi Kerajaan surga—hartanya. Harta ini bukan harta materi melainkan itu menggambarkan ladang yang sudah dikerjakan yang di dalamnya telah ia ciptakan potensi untuk menghasilkan lebih banyak murid.
Yesus mempercayakan hartanya kepada hamba-hambanya tidak lama sebelum ia naik ke surga. Bagaimana ia melakukan hal itu? Dengan menyuruh mereka terus bekerja dalam ladang yang sudah dikerjakan dengan mengabarkan berita Kerajaan ke segenap penjuru bumi. Sebagaimana Yesus katakan, ”Yang seorang diberikannya lima talenta, yang seorang lagi dua dan yang seorang lain lagi satu, masing-masing menurut kesanggupannya, lalu ia berangkat.”
Kedelapan talenta—harta milik Kristus—dengan demikian dibagikan menurut kesanggupan, atau bakat rohani hamba-hamba itu. Hamba mewakili golongan murid. Pada abad pertama, golongan yang menerima lima talenta jelas termasuk para rasul. Yesus selanjutnya menceritakan bahwa hamba yang menerima lima dan dua talenta melipatgandakannya dengan memberitakan Kerajaan dan menjadikan murid-murid. Namun, hamba yang menerima satu talenta menyembunyikan uang itu di dalam tanah.
”Lama sesudah itu,” Yesus melanjutkan, ”pulanglah tuan hamba-hamba itu lalu mengadakan perhitungan dengan mereka.” Baru pada abad ke-20, kira-kira 1.900 tahun kemudian, Kristus kembali untuk mengadakan perhitungan, jadi memang ”lama sesudah itu.” Kemudian Yesus menjelaskan:
”Hamba yang menerima lima talenta itu datang dan ia membawa laba lima talenta, katanya: Tuan, lima talenta tuan percayakan kepadaku; lihat, aku telah beroleh laba lima talenta. Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.” Hamba yang menerima dua talenta juga melipatgandakan talentanya, dan ia menerima pujian dan imbalan yang sama.
Namun, bagaimana hamba-hamba yang setia ini masuk ke dalam kebahagiaan Majikan mereka? Nah, kebahagiaan dari Majikan mereka, Kristus Yesus, adalah menerima Kerajaan sebagai miliknya pada waktu ia bepergian kepada Bapaknya di surga. Bagi hamba-hamba yang setia pada zaman modern, mereka menikmati kebahagiaan besar karena dipercayakan dengan tanggung jawab Kerajaan lebih jauh, dan pada waktu mereka menyelesaikan kehidupan mereka di bumi, mereka akan memiliki sukacita tertinggi dengan dibangkitkan ke Kerajaan surgawi. Akan tetapi, bagaimana dengan hamba yang ketiga?
”Tuan, aku tahu bahwa tuan adalah manusia yang kejam,” keluh hamba ini. ”Karena itu aku takut dan pergi menyembunyikan talenta tuan itu di dalam tanah: Ini, terimalah kepunyaan tuan!” Hamba ini dengan sengaja menolak bekerja dalam ladang yang sudah dikerjakan dengan mengabar dan menjadikan murid. Maka sang majikan menyebutnya ”jahat dan malas” dan menjatuhkan hukuman, ”Ambillah talenta itu dari padanya . . . Dan campakkanlah hamba yang tidak berguna itu ke dalam kegelapan yang paling gelap. Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi.” Mereka dari golongan hamba yang jahat ini, dicampakkan ke luar, artinya tidak dapat menikmati keriangan rohani apa pun.
Hal ini merupakan pelajaran yang serius bagi semua orang yang mengaku menjadi pengikut Kristus. Jika mereka ingin menikmati pujian dan imbalan, dan tidak ingin dilemparkan ke luar ke dalam kegelapan dan kebinasaan total, mereka harus bekerja untuk meningkatkan harta Majikan surgawi mereka dengan ikut serta sepenuhnya dalam pekerjaan pengabaran. Apakah saudara rajin dalam hal ini?
Pada Waktu Kristus Tiba Dalam Kuasa Kerajaan
Yesus masih bersama rasul-rasulnya di Bukit Zaitun. Sebagai jawaban atas permintaan mereka untuk suatu tanda dari kehadirannya dan kesudahan sistem ini, ia sekarang memberi tahu mereka bagian terakhir dari rangkaian tiga perumpamaan. ”Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaanNya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia,” Yesus memulai, ”maka Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaanNya.”
Manusia tidak dapat melihat para malaikat dalam kemuliaan surgawi mereka. Maka kedatangan Anak Manusia, Kristus Yesus, bersama malaikat-malaikat, pasti tidak kelihatan oleh mata manusia. Ia datang pada tahun 1914. Akan tetapi, untuk maksud apa? Yesus menjelaskan, ”Semua bangsa akan dikumpulkan di hadapanNya dan Ia akan memisahkan mereka seorang dari pada seorang, sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing, dan Ia akan menempatkan domba-domba di sebelah kananNya dan kambing-kambing di sebelah kiriNya.”
Ketika menjelaskan apa yang akan terjadi atas mereka yang dipisahkan ke pihak yang diperkenan, Yesus mengatakan, ”Dan Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kananNya: ’Mari, hai kamu yang diberkati oleh BapaKu, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan.’” Domba-domba dalam perumpamaan ini tidak akan memerintah bersama Kristus di surga tetapi akan mewarisi Kerajaan dalam arti menjadi rakyatnya di bumi. ”Dunia dijadikan” ketika Adam dan Hawa pertama kali melahirkan anak-anak yang akan mendapat manfaat dari persediaan Allah untuk menebus umat manusia.
Akan tetapi, mengapa domba-domba dipisahkan ke tangan kanan yakni perkenan sang Raja? ”Sebab ketika Aku lapar,” jawab Raja itu, ”kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku.”
Karena domba-domba berada di atas bumi, mereka ingin tahu bagaimana mereka dapat melakukan perbuatan baik demikian bagi Raja surgawi mereka. ”Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan,” tanya mereka, ”atau haus dan kami memberi Engkau minum? Bilamanakah kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian? Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau?”
”Aku berkata kepadamu,” jawab sang Raja, ”sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudaraKu yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” Saudara-saudara Kristus adalah sisa yang masih ada di bumi dari ke-144.000 orang yang akan memerintah bersama dia di surga. Berbuat baik kepada mereka, kata Yesus, adalah sama seperti berbuat baik kepada dia.
Kemudian, sang Raja berbicara kepada kambing-kambing. ”Enyahlah dari hadapanKu, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah sedia untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya. Sebab ketika Aku lapar, kamu tidak memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu tidak memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu tidak memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu tidak memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit dan dalam penjara, kamu tidak melawat Aku.”
Namun, kambing-kambing mengeluh, ”Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar, atau haus, atau sebagai orang asing, atau telanjang atau sakit, atau dalam penjara dan kami tidak melayani Engkau?” Kambing-kambing mendapat hukuman berat atas dasar yang sama sebagaimana domba-domba mendapat perkenan. ”Segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina [dari antara saudara-saudaraku] ini,” jawab Yesus, ”kamu tidak melakukannya juga untuk Aku.”
Jadi kehadiran Kristus dalam kuasa Kerajaan, tidak lama sebelum akhir dari sistem yang jahat ini dalam sengsara besar, akan merupakan masa pengadilan. Kambing-kambing ”akan dihukum dengan hukuman yang kekal, sedangkan orang-orang yang melakukan kehendak Allah [domba-domba] akan mengalami hidup sejati dan kekal.” (BIS) Matius 24:2–25:46; 13:40, 49; Markus 13:3-37; Lukas 21:7-36; 19:43, 44; 17:20-30; 2 Timotius 3:1-5; Yohanes 10:16; Wahyu 14:1-3.
▪ Apa yang mendorong para rasul untuk mengajukan pertanyaan, tetapi rupanya apa lagi yang ada dalam pikiran mereka?
▪ Bagian mana dari nubuat Yesus digenapi pada tahun 70 M., tetapi apa yang belum terjadi pada waktu itu?
▪ Kapan nubuat Yesus mengalami penggenapan yang pertama, tetapi kapan penggenapan yang lebih besar terjadi?
▪ Apa Pembinasa keji itu dalam penggenapannya yang pertama dan yang terakhir?
▪ Mengapa sengsara besar belum mengalami penggenapannya yang terakhir dengan kehancuran Yerusalem?
▪ Keadaan-keadaan dunia apakah yang menandakan kehadiran Kristus?
▪ Kapan ’semua bangsa di bumi akan meratap’, namun apa yang akan dilakukan oleh murid-murid Kristus?
▪ Perumpamaan apa yang Yesus berikan guna membantu orang-orang yang akan menjadi murid-muridnya di kemudian hari untuk melihat dengan jelas saat akhir itu sudah dekat?
▪ Nasihat apa yang Yesus berikan kepada murid-muridnya yang akan hidup selama hari-hari terakhir?
▪ Siapa yang dilambangkan oleh sepuluh gadis itu?
▪ Kapan jemaat Kristiani dijanjikan untuk dikawinkan dengan mempelai laki-laki, tetapi kapan mempelai laki-laki itu tiba untuk membawa pengantin perempuannya ke perjamuan kawin?
▪ Apa yang dilambangkan oleh minyak, dan memiliki minyak itu memungkinkan gadis-gadis yang bijaksana melakukan apa?
▪ Di mana perjamuan kawin itu berlangsung?
▪ Gadis-gadis yang bodoh kehilangan imbalan yang menakjubkan apa, dan akhir apa yang akan mereka alami?
▪ Apa yang diajarkan oleh perumpamaan mengenai talenta?
▪ Siapa gerangan hamba itu, dan apa harta yang dipercayakan kepada mereka?
▪ Bilamanakah sang majikan datang untuk mengadakan perhitungan, dan apa yang ia dapati?
▪ Apa gerangan kebahagiaan ke mana hamba-hamba yang setia itu pergi, dan apa yang terjadi dengan hamba yang ketiga, yang jahat?
▪ Mengapa kehadiran Kristus pasti tidak kelihatan, dan pekerjaan apa yang ia laksanakan pada waktu itu?
▪ Dalam arti apa domba-domba mewarisi Kerajaan?
▪ Kapankah ”dunia dijadikan” berlangsung?
▪ Atas dasar apa orang diadili sebagai domba dan kambing?
-
-
Paskah Terakhir bagi Yesus Sudah DekatTokoh Terbesar Sepanjang Masa
-
-
Pasal 112
Paskah Terakhir bagi Yesus Sudah Dekat
MENJELANG akhir hari Selasa, tanggal 11 Nisan, Yesus selesai mengajar para rasul di atas Bukit Zaitun. Betapa sibuk dan penuh kegiatan hari itu! Sekarang, kemungkinan dalam perjalanan kembali ke Betania untuk bermalam, ia memberi tahu rasul-rasulnya, ”Kamu tahu, bahwa dua hari lagi akan dirayakan Paskah, maka Anak Manusia akan diserahkan untuk disalibkan [”dipakukan”, NW].”
Yesus rupanya beristirahat pada keesokan harinya, hari Rabu, tanggal 12 Nisan, bersama rasul-rasulnya. Pada hari sebelumnya, ia telah mengutuk para pemimpin agama di hadapan umum dan ia tahu bahwa mereka mencari kesempatan untuk membunuhnya. Maka pada hari Rabu ia tidak menampakkan diri, karena ia tidak ingin apa pun mengganggu dia merayakan Paskah bersama para rasulnya keesokan petangnya.
Sementara itu, imam-imam kepala dan para tua-tua bangsa Yahudi berkumpul di halaman rumah imam besar Kayafas. Karena merasa jengkel atas teguran Yesus sehari sebelumnya, mereka merencanakan untuk menangkapnya dengan tipu muslihat dan membunuh dia. Akan tetapi, mereka terus berkata, ”Jangan pada waktu perayaan, supaya jangan timbul keributan di antara rakyat.” Mereka takut kepada orang-orang yang senang kepada Yesus.
Ketika para pemimpin agama dengan jahat bersekongkol untuk membunuh Yesus, mereka mendapat seorang tamu. Mereka terkejut karena ternyata ia salah seorang rasul Yesus, Yudas Iskariot. Setan telah menanamkan dalam dirinya ide yang hina untuk mengkhianati Majikannya! Betapa senang mereka ketika ia bertanya, ”Apa yang hendak kamu berikan kepadaku, supaya aku menyerahkan Dia kepada kamu?” Dengan gembira mereka setuju untuk membayarnya 30 keping perak, harga seorang budak menurut perjanjian Taurat Musa. Sejak saat itu, Yudas mencari kesempatan yang baik untuk menyerahkan Yesus kepada mereka tanpa ada banyak orang di sekelilingnya.
Tanggal 13 Nisan mulai pada waktu matahari terbenam hari Rabu. Yesus tiba dari Yerikho pada hari Jumat, jadi ini adalah malam keenam dan yang terakhir, yang ia lewatkan di Betania. Pada hari berikutnya, Kamis, persiapan terakhir perlu dibuat untuk perayaan Paskah, yang akan dimulai pada waktu matahari terbenam, yaitu saat anak domba Paskah harus disembelih dan kemudian dipanggang secara utuh. Di mana mereka akan merayakan pesta tersebut, dan siapa yang akan membuat persiapannya?
Yesus tidak memberi tahu rinciannya, kemungkinan agar Yudas tidak memberi tahu imam-imam kepala sehingga mereka dapat menangkap Yesus selama mereka merayakan Paskah. Akan tetapi, sekarang kemungkinan awal Kamis siang, Yesus mengutus Petrus dan Yohanes dari Betania, dengan berkata, ”Pergilah, persiapkanlah perjamuan Paskah bagi kita supaya kita makan.”
”Di manakah engkau kehendaki kami mempersiapkannya?” tanya mereka.
”Apabila kamu masuk dalam kota,” Yesus menerangkan, ”kamu akan bertemu dengan seorang yang membawa kendi berisi air. Ikutilah dia ke dalam rumah yang dimasukinya, dan katakanlah kepada tuan rumah itu: Guru bertanya kepadamu: di manakah ruangan tempat Aku bersama-sama dengan murid-muridKu akan makan Paskah? Lalu orang itu akan menunjukkan kepadamu sebuah ruangan atas yang besar yang sudah lengkap, di situlah kamu harus mempersiapkannya.”
Tidak diragukan pemilik rumah itu seorang murid Yesus yang mungkin sedang menunggu permintaan Yesus agar dapat menggunakan rumahnya untuk kesempatan istimewa ini. Bagaimanapun juga, ketika Petrus dan Yohanes tiba di Yerusalem, mereka mendapati semuanya tepat seperti yang Yesus katakan. Maka keduanya mengatur agar anak domba dipersiapkan dan semua hal lain diatur untuk memenuhi kebutuhan ke-13 orang yang akan merayakan Paskah, yaitu Yesus dan ke-12 rasulnya. Matius 26:1-5, 14-19; Markus 14:1, 2, 10-16; Lukas 22:1-13; Keluaran 21:32.
▪ Rupanya apa yang Yesus lakukan pada hari Rabu, dan mengapa?
▪ Pertemuan apa yang diadakan di rumah imam besar, dan dengan tujuan apa Yudas mengunjungi para pemimpin agama?
▪ Siapa yang Yesus utus ke Yerusalem pada hari Kamis, dan dengan maksud apa?
▪ Apa yang didapati oleh utusan-utusan ini yang sekali lagi memperlihatkan kuasa Yesus untuk mengadakan mukjizat?
-