PERPUSTAKAAN ONLINE Menara Pengawal
PERPUSTAKAAN ONLINE
Menara Pengawal
Indonesia
  • ALKITAB
  • PUBLIKASI
  • PERHIMPUNAN
  • Di Betania, di Rumah Simon
    Tokoh Terbesar Sepanjang Masa
    • Banyak orang sudah tiba di Yerusalem untuk Perayaan Paskah. Mereka datang lebih awal untuk membersihkan diri menurut adat istiadat. Mereka mungkin telah menyentuh mayat atau melakukan sesuatu yang membuat mereka najis. Maka mereka mengikuti prosedur untuk membersihkan diri agar dapat merayakan Paskah dengan pantas. Ketika orang-orang yang datang lebih awal ini berkumpul di bait, banyak yang menduga-duga apakah Yesus akan datang pada Perayaan Paskah ini.

      Di Yerusalem orang berdebat mengenai diri Yesus. Semua orang tahu bahwa para pemimpin agama ingin menangkap dan menghukum mati dia. Malahan, mereka telah memerintahkan bahwa jika ada yang mengetahui tempat dia berada, mereka harus segera diberi tahu. Tiga kali dalam bulan-bulan terakhir—pada Hari Raya Pondok Daun, pada Hari Raya Penahbisan Bait, dan setelah Yesus membangkitkan Lazarus—para pemimpin agama ini berupaya membunuh dia. Maka, orang banyak bertanya-tanya, apakah Yesus akan muncul di depan umum lagi? ”Bagaimana pendapatmu?” mereka saling bertanya satu sama lain.

  • Kristus Berkemenangan Memasuki Yerusalem
    Tokoh Terbesar Sepanjang Masa
    • Kristus Berkemenangan Memasuki Yerusalem

      KEESOKAN paginya, hari Minggu tanggal 9 Nisan, Yesus meninggalkan Betania bersama murid-muridnya dan pergi ke Bukit Zaitun menuju Yerusalem. Tidak lama kemudian mereka hampir tiba di Betfage, yang terletak di Bukit Zaitun. Yesus menyuruh dua orang muridnya:

      ”Pergilah ke kampung yang di depan itu, . . . Segera kalian akan melihat seekor keledai terikat bersama anaknya. Lepaskanlah keduanya dan bawa ke mari. Kalau ada orang menanyakan sesuatu, katakan kepada orangnya, ’Tuhan memerlukannya’, maka orang itu dengan segera akan membiarkan keledai itu dibawa.” (BIS)

      Meskipun pada mulanya murid-murid tidak mengerti bahwa petunjuk ini ada hubungannya dengan penggenapan nubuat Alkitab, belakangan mereka menyadari bahwa memang demikian halnya. Nabi Zakharia menubuatkan bahwa Raja yang dijanjikan Allah akan menunggangi keledai memasuki Yerusalem, ya, ”seekor keledai, seekor keledai beban yang muda”. Dengan cara yang sama Raja Salomo dulu juga menunggangi seekor anak keledai menuju pengurapannya.

      Ketika murid-murid sampai di Betfage dan membawa serta anak keledai bersama induknya, beberapa orang yang berada di dekat situ berkata, ”Apa maksudnya kamu melepaskan keledai itu?” Namun ketika diberi tahu bahwa binatang-binatang itu adalah untuk Tuhan, orang-orang tersebut membiarkan murid-murid membawanya kepada Yesus. Murid-murid menaruh jubah mereka ke atas induk keledai dan anaknya, tetapi Yesus menunggangi anak keledai itu.

      Seraya Yesus pergi menuju Yerusalem, kelompok orang banyak bertambah besar. Kebanyakan dari mereka membentangkan jubah mereka di atas jalan, sedangkan orang-orang lain mematahkan ranting-ranting pohon dan menyebarkannya. ”Diberkatilah Dia yang datang sebagai Raja dalam nama Tuhan [”Yehuwa”, NW],” seru mereka. ”Damai sejahtera di sorga dan kemuliaan di tempat yang mahatinggi!”

      Beberapa orang Farisi di antara orang banyak marah mendengar seruan ini dan mengeluh kepada Yesus, ”Guru, tegorlah murid-muridMu itu.” Akan tetapi, Yesus menjawab, ”Aku berkata kepadamu: Jikalau mereka ini diam, maka batu ini akan berteriak.”

      Ketika Yesus semakin dekat ke Yerusalem, ia memandang kota itu dan mulai meratapinya, sambil berkata, ”Wahai, betapa baiknya jika pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu! Tetapi sekarang hal itu tersembunyi bagi matamu.” Karena dengan sengaja tidak taat, Yerusalem harus menanggung akibatnya, sebagaimana dinubuatkan Yesus:

      ”Musuhmu [tentara Roma di bawah Jenderal Titus] akan mengelilingi engkau dengan kubu, lalu mengepung engkau dan menghimpit engkau dari segala jurusan, dan mereka akan membinasakan engkau beserta dengan pendudukmu dan pada tembokmu mereka tidak akan membiarkan satu batu pun tinggal terletak di atas batu yang lain.” Kebinasaan atas Yerusalem yang dinubuatkan oleh Yesus benar-benar terjadi 37 tahun kemudian, pada tahun 70 M.

      Tepat beberapa minggu sebelumnya, banyak di antara orang banyak itu telah menyaksikan Yesus membangkitkan Lazarus. Kini mereka terus menceritakan kepada orang-orang lain mengenai mukjizat tersebut. Jadi ketika Yesus memasuki Yerusalem, seluruh kota gempar. ”Siapakah orang ini?” mereka ingin tahu. Dan orang banyak itu terus berkata, ”Inilah nabi Yesus dari Nazaret di Galilea.” Melihat apa yang sedang terjadi, orang-orang Farisi meratap karena mereka sama sekali tidak berdaya, seperti yang mereka katakan, ”Seluruh dunia datang mengikuti Dia.”

      Sebagaimana kebiasaan Yesus pada waktu mengunjungi Yerusalem, ia pergi ke bait untuk mengajar. Di sana orang buta dan orang timpang datang menemui dia, dan ia menyembuhkan mereka! Ketika imam besar dan para ahli Taurat melihat hal-hal menakjubkan yang Yesus adakan dan mendengar anak-anak lelaki berseru, ”Hosana bagi Anak Daud!” mereka menjadi marah. ”Engkau dengar apa yang dikatakan anak-anak ini?” keluh mereka.

      ”Aku dengar,” sahut Yesus. ”Belum pernahkah kamu baca: Dari mulut bayi-bayi dan anak-anak yang menyusu Engkau telah menyediakan puji-pujian?”

      Yesus melanjutkan mengajar, dan ia melihat sekelilingnya ke seluruh bait. Tidak lama kemudian malam pun tiba. Maka ia pergi, bersama ke-12 rasul, dan mengadakan perjalanan kembali kira-kira tiga kilometer ke Betania. Di sana ia menginap hari Minggu malam, kemungkinan di rumah sahabatnya Lazarus. Matius 21:1-11, 14-17; Markus 11:1-11; Lukas 19:29-44; Yohanes 12:12-19; Zakharia 9:9.

  • Mengunjungi Bait Lagi
    Tokoh Terbesar Sepanjang Masa
    • Yesus dan murid-muridnya melanjutkan perjalanan, dan tak lama kemudian tiba di Yerusalem. Ia pergi ke bait, yang sudah ia periksa siang sebelumnya. Akan tetapi, pada hari ini ia mengambil tindakan, seperti yang pernah ia lakukan tiga tahun sebelumnya ketika ia datang untuk merayakan Paskah pada tahun 30 M. Yesus mengusir orang-orang yang berjual beli di bait dan membalikkan meja-meja para penukar uang dan bangku-bangku para pedagang merpati. Ia bahkan tidak mengizinkan seorang pun mengangkut peralatan melalui bait.

      Yesus mengutuk orang-orang yang menukar uang dan menjual hewan di bait, dengan berkata, ”Bukankah ada tertulis: RumahKu akan disebut rumah doa bagi segala bangsa? Tetapi kamu ini telah menjadikannya sarang penyamun!” Mereka adalah penyamun atau perampok karena menuntut harga yang luar biasa tinggi dari orang-orang yang tidak mempunyai pilihan lain kecuali membeli dari mereka hewan yang dibutuhkan untuk korban. Maka Yesus memandang perdagangan ini sebagai bentuk pemerasan atau perampokan.

      Ketika imam-imam kepala, para ahli Taurat, dan orang-orang terkemuka dari umat itu mendengar apa yang Yesus telah lakukan, mereka sekali lagi berupaya mencari jalan untuk membunuhnya. Dengan demikian mereka membuktikan bahwa mereka tidak dapat diperbaiki. Namun, mereka tidak tahu cara menyingkirkan Yesus, karena semua orang terus mengikuti dia untuk mendengarkan kata-katanya.

      Selain orang-orang Yahudi jasmani, orang-orang Kafir juga datang untuk merayakan Paskah. Mereka adalah kaum proselit, yang berarti bahwa mereka telah berganti haluan menganut agama orang Yahudi. Orang-orang Yunani tertentu, yang pasti adalah kaum proselit, sekarang menghampiri Filipus dan ingin bertemu dengan Yesus. Filipus pergi kepada Andreas, mungkin untuk bertanya apakah perjumpaan demikian patut. Yesus rupanya masih berada di dalam bait, dan kelihatan oleh orang-orang Yunani itu.

      Yesus tahu bahwa kehidupannya hanya tinggal beberapa hari lagi, maka ia dengan bagus menggambarkan keadaannya, ”Telah tiba saatnya Anak Manusia dimuliakan. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.”

      Satu biji gandum tidak banyak nilainya. Namun, bagaimana jika ia ditaruh dalam tanah dan ”mati”, mengakhiri kehidupannya sebagai benih? Maka ia akan berkecambah dan berangsur-angsur tumbuh menjadi batang yang akan menghasilkan banyak sekali biji gandum. Demikian pula, Yesus hanya satu manusia yang sempurna. Namun jika ia mati setia kepada Allah, ia akan menjadi sarana untuk memberikan kehidupan kekal kepada orang-orang setia yang juga mempunyai semangat rela berkorban seperti dia. Maka, Yesus berkata, ”Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal.”

      Yesus jelas tidak hanya memikirkan dirinya sendiri, karena selanjutnya ia menjelaskan, ”Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situpun pelayanKu akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa.” Betapa menakjubkan pahala yang akan diperoleh dengan mengikuti Yesus dan melayani dia! Pahalanya ialah dihormati sang Bapak untuk bergabung dengan Kristus dalam Kerajaan.

      Sambil memikirkan penderitaan besar dan kematian yang menyiksa yang menantikan dia, Yesus melanjutkan, ”Hatiku cemas; apa yang harus kukatakan sekarang? Haruskah aku mengatakan, ’Bapa, luputkanlah aku dari saat ini’?” (BIS) Andai kata saja apa yang harus ia alami dapat dihindari! Namun, tidak, karena ia berkata, ”Sebab untuk itulah Aku datang ke dalam saat ini.” Yesus setuju dengan seluruh penyelenggaraan Allah, termasuk kematiannya sendiri sebagai korban.

  • Suara Allah Terdengar Ketiga Kalinya
    Tokoh Terbesar Sepanjang Masa
    • Suara Allah Terdengar Ketiga Kalinya

      KETIKA berada di bait, Yesus sedang menderita sekali memikirkan kematian yang tak lama lagi harus ia hadapi. Perhatian utamanya adalah bagaimana pengaruhnya atas nama baik Bapaknya, maka ia berdoa, ”Bapa, muliakanlah namaMu!”

      Setelah itu, suatu suara yang kuat terdengar dari surga, menyatakan, ”Aku telah memuliakanNya, dan Aku akan memuliakanNya lagi!”

      Orang banyak yang berdiri di sekitarnya bingung. Ada yang berkata, ”Seorang malaikat telah berbicara dengan Dia.” Orang yang lain mengatakan bahwa itu adalah bunyi guntur. Akan tetapi, sesungguhnya, yang berbicara adalah Allah Yehuwa! Namun, ini bukan untuk pertama kali suara Allah terdengar sehubungan dengan Yesus.

      Ketika Yesus dibaptis, tiga setengah tahun sebelumnya, Yohanes Pembaptis mendengar Allah menyatakan mengenai Yesus, ”Inilah Anak yang Kukasihi, kepadaNyalah Aku berkenan.” Kemudian, beberapa waktu setelah Paskah yang sebelumnya, ketika Yesus berubah rupa di hadapan mereka, Yakobus, Yohanes, dan Petrus mendengar Allah menyatakan, ”Inilah Anak yang Kukasihi, kepadaNyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia.” Sekarang, untuk ketiga kalinya, pada tanggal 10 Nisan, empat hari sebelum kematian Yesus, suara Allah terdengar lagi oleh orang-orang. Akan tetapi, kali ini Yehuwa berbicara agar banyak orang dapat mendengar!

      Yesus menjelaskan, ”Suara itu telah terdengar, bukan untuk kepentinganku, tetapi untuk kepentinganmu.” (BIS) Ini merupakan bukti bahwa Yesus benar-benar Anak Allah, Mesias yang dijanjikan. ”Sekarang berlangsung penghakiman atas dunia ini,” kata Yesus melanjutkan, ”sekarang juga penguasa dunia ini akan dilemparkan ke luar.” Sebenarnya, kehidupan Yesus yang setia, meneguhkan bahwa Setan si Iblis, penguasa dunia ini, layak untuk ”dilemparkan ke luar,” dibinasakan.

      Mengenai akibat dari kematiannya yang sudah dekat, Yesus berkata, ”Dan Aku, apabila Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang datang kepadaKu.” Kematiannya sama sekali bukan merupakan kekalahan, karena melalui kematiannya, ia akan menarik orang-orang kepadanya sehingga mereka dapat menikmati hidup kekal.

      Akan tetapi, orang banyak memprotes, ”Kami telah mendengar dari hukum Taurat, bahwa Mesias tetap hidup selama-lamanya; bagaimana mungkin Engkau mengatakan, bahwa Anak Manusia harus ditinggikan? Siapakah Anak Manusia itu?”

      Walaupun adanya semua bukti, termasuk mendengar suara Allah sendiri, kebanyakan orang tidak percaya bahwa Yesus adalah Anak Manusia yang benar, Mesias yang dijanjikan. Namun, seperti yang ia lakukan enam bulan sebelumnya pada Hari Raya Pondok Daun, Yesus sekali lagi menyebut dirinya sebagai ”terang” dan menganjurkan para pendengarnya, ”Percayalah kepada terang itu, selama terang itu ada padamu, supaya kamu menjadi anak-anak terang.” Setelah mengatakan hal ini, Yesus pergi dan bersembunyi, rupanya karena kehidupannya terancam.

      Kurangnya iman orang Yahudi kepada Yesus menggenapi kata-kata Yesaya mengenai ’mata orang-orang dibutakan dan hati mereka dikeraskan sehingga mereka tidak berbalik dan disembuhkan’. Yesaya menyaksikan dalam penglihatan tempat tinggal Yehuwa di surga, termasuk Yesus dalam kemuliaannya bersama Yehuwa sebelum ia menjadi manusia. Namun, orang-orang Yahudi, menggenapi apa yang ditulis Yesaya, dengan keras kepala menolak bukti bahwa Pribadi ini adalah Juru Selamat mereka yang dijanjikan.

      Di pihak lain, banyak orang bahkan di antara para pemimpin (anggota-anggota pengadilan tinggi Yahudi, Sanhedrin) sebenarnya beriman kepada Yesus. Nikodemus dan Yusuf dari Arimatea adalah dua orang di antara para pemimpin itu. Akan tetapi, para pemimpin itu, paling tidak untuk saat itu, tidak menyatakan iman mereka, karena takut dipecat dari kedudukan mereka di sinagoge. Betapa besar kerugian orang-orang seperti ini!

      Yesus selanjutnya mengingatkan, ”Barangsiapa percaya kepadaKu, ia bukan percaya kepadaKu, tetapi kepada Dia, yang telah mengutus Aku; dan barangsiapa melihat Aku, ia melihat Dia, yang telah mengutus Aku. . . . Dan jikalau seorang mendengar perkataanKu, tetapi tidak melakukannya, Aku tidak menjadi hakimnya, sebab Aku datang bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya. . . . firman yang telah Kukatakan, itulah yang akan menjadi hakimnya pada akhir zaman.”

      Kasih Yehuwa kepada dunia umat manusia menggerakkan Dia untuk mengutus Yesus agar mereka yang beriman kepada-Nya dapat diselamatkan. Orang-orang yang diselamatkan ditentukan berdasarkan ketaatan mereka kepada hal-hal yang Allah perintahkan kepada Yesus untuk dikatakan. Penghakiman akan berlangsung ”pada akhir zaman”, selama Pemerintahan Seribu Tahun dari Kristus.

      Yesus mengakhiri dengan mengatakan, ”Aku berkata-kata bukan dari diriKu sendiri, tetapi Bapa, yang mengutus Aku, Dialah yang memerintahkan Aku untuk mengatakan apa yang harus Aku katakan dan Aku sampaikan. Dan Aku tahu, bahwa perintahNya itu adalah hidup yang kekal. Jadi apa yang Aku katakan, Aku menyampaikannya sebagaimana yang difirmankan oleh Bapa kepadaKu.”

  • Permulaan Hari yang Menentukan
    Tokoh Terbesar Sepanjang Masa
    • KETIKA Yesus meninggalkan Yerusalem pada hari Senin malam, ia kembali ke Betania di lereng timur Bukit Zaitun. Dua hari dari pelayanannya yang terakhir di Yerusalem telah selesai.

  • Permulaan Hari yang Menentukan
    Tokoh Terbesar Sepanjang Masa
    • Tidak lama kemudian, Yesus dan murid-muridnya memasuki Yerusalem, dan sebagaimana kebiasaan mereka, mereka pergi ke bait, tempat Yesus mulai mengajar. Imam-imam kepala dan para tua-tua dari bangsa itu, pasti karena mengingat tindakan Yesus sehari sebelumnya mengusir para penukar uang, menantang dia, ”Dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal itu? Dan siapakah yang memberi kuasa itu kepadaMu?”

      Sebagai jawaban Yesus berkata, ”Aku juga akan mengajukan satu pertanyaan kepadamu dan jikalau kamu memberi jawabnya kepadaKu, Aku akan mengatakan juga kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu. Dari manakah baptisan Yohanes? Dari sorga atau dari manusia?”

      Para imam dan tua-tua mulai memperbincangkan hal itu di antara mereka tentang bagaimana mereka akan menjawab. ”Jikalau kita katakan: Dari sorga, Ia akan berkata kepada kita: Kalau begitu, mengapakah kamu tidak percaya kepadanya? Tetapi jikalau kita katakan: Dari manusia, kita takut kepada orang banyak, sebab semua orang menganggap Yohanes ini nabi.”

      Para pemimpin itu tidak tahu harus menjawab apa. Maka mereka menjawab Yesus, ”Kami tidak tahu.”

      Yesus, sebagai balasannya, mengatakan, ”Jika demikian, Aku juga tidak mengatakan kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu.”

  • Disingkapkan melalui Perumpamaan Kebun Anggur
    Tokoh Terbesar Sepanjang Masa
    • Disingkapkan melalui Perumpamaan Kebun Anggur

      YESUS sedang berada di bait Allah. Ia baru saja membuat bingung para pemimpin agama yang menuntut untuk mengetahui melalui kuasa siapa Yesus melakukan perkara-perkara. Sebelum mereka pulih dari kebingungan, Yesus bertanya, ”Apakah pendapatmu tentang ini?” Kemudian melalui sebuah perumpamaan, ia memperlihatkan kepada mereka orang macam apa mereka sebenarnya.

      ”Seorang mempunyai dua anak laki-laki,” kata Yesus. ”Ia pergi kepada anak yang sulung dan berkata: Anakku, pergi dan bekerjalah hari ini dalam kebun anggur. Jawab anak itu: Baik, bapa. Tetapi ia tidak pergi. Lalu orang itu pergi kepada anak yang kedua dan berkata demikian juga. Dan anak itu menjawab: Aku tidak mau. Tetapi kemudian ia menyesal lalu pergi juga. Siapakah di antara kedua orang itu yang melakukan kehendak ayahnya?” tanya Yesus.

      ”Yang terakhir,” jawab musuh-musuhnya.

      Maka Yesus menerangkan, ”Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Para pemungut cukai dan perempuan sundal, sebenarnya, pada mulanya tidak mau melayani Allah. Namun kemudian, seperti anak yang kedua, mereka bertobat dan melayani Dia. Sebaliknya, para pemimpin agama, seperti anak yang sulung, mengaku melayani Allah, namun sebagaimana dikatakan Yesus, ”Yohanes [Pembaptis] datang untuk menunjukkan jalan kebenaran kepadamu, dan kamu tidak percaya kepadanya. Tetapi pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal percaya kepadanya. Dan meskipun kamu melihatnya, tetapi kemudian kamu tidak menyesal dan kamu tidak juga percaya kepadanya.”

      Kemudian Yesus menunjukkan bahwa kegagalan para pemimpin agama itu bukan sekedar lalai melayani Allah. Tidak, tetapi mereka benar-benar jahat, orang-orang fasik. ”Adalah seorang tuan tanah,” Yesus berkata, ”membuka kebun anggur dan menanam pagar sekelilingnya. Ia menggali lobang tempat memeras anggur dan mendirikan menara jaga di dalam kebun itu. Kemudian ia menyewakan kebun itu kepada penggarap-penggarap lalu berangkat ke negeri lain. Ketika hampir tiba musim petik, ia menyuruh hamba-hambanya kepada penggarap-penggarap itu untuk menerima hasil yang menjadi bagiannya. Tetapi penggarap-penggarap itu menangkap hamba-hambanya itu: mereka memukul yang seorang, membunuh yang lain dan melempari yang lain pula dengan batu. Kemudian tuan itu menyuruh pula hamba-hamba yang lain, lebih banyak dari pada yang semula, tetapi merekapun diperlakukan sama seperti kawan-kawan mereka.”

      ”Hamba-hamba” adalah para nabi yang oleh ”tuan tanah”, Allah Yehuwa, dikirim kepada ”penggarap-penggarap” dari ”kebun anggur”-Nya. Para penggarap ini adalah pemuka-pemuka bangsa Israel, bangsa yang disebut dalam Alkitab sebagai ”kebun anggur” Allah.

      Karena ”penggarap-penggarap” menyiksa dan membunuh ”hamba-hamba” tersebut, Yesus menerangkan, ”Akhirnya [pemilik kebun anggur itu] menyuruh anaknya kepada mereka, katanya: Anakku akan mereka segani. Tetapi ketika penggarap-penggarap itu melihat anaknya itu, mereka berkata seorang kepada yang lain: Ia adalah ahli waris, mari kita bunuh dia, supaya warisannya menjadi milik kita. Mereka menangkapnya dan melemparkannya ke luar kebun anggur itu, lalu membunuhnya.”

      Sekarang, kepada para pemimpin agama itu, Yesus bertanya, ”Apabila tuan kebun anggur itu datang, apakah yang akan dilakukannya dengan penggarap-penggarap itu?”

      Para pemimpin agama itu menjawab, ”Ia akan membinasakan orang-orang jahat itu dan kebun anggurnya akan disewakannya kepada penggarap-penggarap lain, yang akan menyerahkan hasilnya kepadanya pada waktunya.”

      Dengan demikian mereka secara tidak sadar telah menjatuhkan vonis ke atas diri mereka sendiri, karena mereka termasuk di antara orang-orang Israel ”penggarap-penggarap” dari ”kebun anggur” nasional milik Yehuwa di Israel. Hasil yang diharapkan Yehuwa dari penggarap-penggarap itu adalah iman kepada Putra-Nya, Mesias yang sejati. Karena mereka gagal membuahkan hasil seperti itu, Yesus memperingatkan, ”Belum pernahkah kamu baca dalam Kitab Suci [dalam Mazmur 118:22, 23]: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru: hal itu terjadi dari pihak Tuhan [”Yehuwa”, NW], suatu perbuatan ajaib di mata kita. Sebab itu, Aku berkata kepadamu, bahwa Kerajaan Allah akan diambil dari padamu dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah Kerajaan itu. Dan barangsiapa jatuh ke atas batu itu, ia akan hancur dan barangsiapa ditimpa batu itu, ia akan remuk.”

      Imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat kini menyadari bahwa Yesus sedang berbicara mengenai mereka, dan mereka ingin membunuh dia, ”ahli waris” yang sah. Jadi hak istimewa untuk menjadi penguasa dalam Kerajaan Allah akan diambil dari mereka sebagai kelompok bangsa, dan suatu bangsa baru yang terdiri dari ’penggarap-penggarap kebun anggur’ akan diciptakan, bangsa yang akan menghasilkan buah-buah yang diinginkan.

      Karena para pemimpin agama takut kepada orang banyak, yang menganggap Yesus sebagai seorang nabi, mereka tidak berupaya membunuhnya pada kesempatan itu. Matius 21:28-46; Markus 12:1-12; Lukas 20:9-19; Yesaya 5:1-7.

  • Perumpamaan tentang Perjamuan Kawin
    Tokoh Terbesar Sepanjang Masa
    • Perumpamaan tentang Perjamuan Kawin

      MELALUI dua perumpamaan, Yesus membuka kedok para ahli Taurat dan para imam kepala, dan mereka ingin membunuh dia. Namun Yesus belum selesai dengan mereka. Ia selanjutnya menceritakan kepada mereka sebuah perumpamaan lain lagi, dengan mengatakan,

      ”Hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja, yang mengadakan perjamuan kawin untuk anaknya. Ia menyuruh hamba-hambanya memanggil orang-orang yang telah diundang ke perjamuan kawin itu, tetapi orang-orang itu tidak mau datang.”

      Allah Yehuwa adalah Raja yang mempersiapkan perjamuan kawin untuk Putra-Nya, Kristus Yesus. Pada akhirnya, mempelai perempuan yang terdiri dari 144.000 pengikut yang terurap akan dipersatukan dengan Yesus di surga. Rakyat dari Raja itu adalah bangsa Israel, yang karena telah dibawa ke dalam perjanjian Taurat pada tahun 1513 S.M., mendapat kesempatan untuk menjadi ”kerajaan imam”. Maka, pada kesempatan itu, merekalah yang mula-mula diundang ke perjamuan kawin itu.

      Akan tetapi, panggilan pertama kepada mereka yang diundang baru diberikan pada musim gugur tahun 29 M., ketika Yesus dan murid-muridnya (hamba-hamba raja) memulai pekerjaan pengabaran Kerajaan. Namun orang-orang Israel jasmani yang menerima panggilan yang diserukan oleh hamba-hamba tersebut pada tahun 29 M. sampai 33 M. tidak mau datang. Maka Allah memberikan kesempatan kedua kepada bangsa yang diundang tersebut, sebagaimana diceritakan Yesus:

      ”Ia menyuruh pula hamba-hamba lain, pesannya: Katakanlah kepada orang-orang yang diundang itu: Sesungguhnya hidanganku telah kusediakan, lembu-lembu jantan dan ternak piaraanku telah disembelih; semuanya telah tersedia, datanglah ke perjamuan kawin ini.” Panggilan kedua dan terakhir kepada mereka yang telah diundang ini, mulai pada hari Pentakosta tahun 33 M., ketika roh kudus dicurahkan atas para pengikut Yesus. Panggilan ini berlanjut terus sampai tahun 36 M.

      Namun, bagian terbesar dari orang Israel itu, juga menolak panggilan ini dengan angkuh. ”Orang-orang yang diundang itu tidak mengindahkannya,” kata Yesus, ”ada yang pergi ke ladangnya, ada yang pergi mengurus usahanya, dan yang lain menangkap hamba-hambanya itu, menyiksanya dan membunuhnya.” ”Maka,” Yesus melanjutkan, ”murkalah raja itu, lalu menyuruh pasukannya ke sana untuk membinasakan pembunuh-pembunuh itu dan membakar kota mereka.” Hal ini terjadi pada tahun 70 M., ketika Yerusalem diratakan sampai ke tanah oleh orang Roma, dan pembunuh-pembunuh itu dibinasakan.

      Yesus kemudian menjelaskan apa yang terjadi sementara itu, ”Sesudah itu [raja] berkata kepada hamba-hambanya: Perjamuan kawin telah tersedia, tetapi orang-orang yang diundang tadi tidak layak untuk itu. Sebab itu pergilah ke persimpangan-persimpangan jalan dan undanglah setiap orang yang kamu jumpai di sana ke perjamuan kawin itu.” Hamba-hamba tersebut melakukan hal ini, dan ”penuhlah ruangan perjamuan kawin itu dengan tamu.”

      Pekerjaan pengumpulan tamu dari jalan-jalan di luar kota milik orang-orang yang diundang ini dimulai pada tahun 36 M. Kornelius, perwira pasukan tentara Roma, beserta keluarganya adalah yang pertama dari orang-orang non-Yahudi yang tidak bersunat yang dikumpulkan. Pengumpulan dari orang-orang non-Yahudi ini, yang merupakan pengganti dari mereka yang pada mulanya menolak panggilan, telah berlangsung terus sampai abad ke-20.

      Selama abad ke-20 inilah ruangan untuk upacara perkawinan menjadi penuh. Yesus menceritakan apa yang kemudian terjadi, dengan mengatakan, ”Ketika raja itu masuk untuk bertemu dengan tamu-tamu itu, ia melihat seorang yang tidak berpakaian pesta. Ia berkata kepadanya: Hai saudara, bagaimana engkau masuk ke mari dengan tidak mengenakan pakaian pesta? Tetapi orang itu diam saja. Lalu kata raja itu kepada hamba-hambanya: Ikatlah kaki dan tangannya dan campakkanlah orang itu ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi.”

      Orang yang tidak mengenakan pakaian pesta menggambarkan Kristiani tiruan dari Susunan Kristen. Allah tidak pernah mengakui orang-orang ini sebagai orang-orang yang memiliki tanda pengenal yang patut sebagai Israel rohani. Allah tidak pernah mengurapi mereka dengan roh kudus sebagai ahli waris Kerajaan. Jadi mereka dilemparkan ke luar dalam kegelapan tempat mereka akan mengalami kebinasaan.

      Yesus mengakhiri perumpamaannya dengan mengatakan, ”Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih.” Ya, ada banyak yang diundang dari bangsa Israel untuk menjadi anggota dari mempelai Kristus, namun hanya sedikit orang Israel jasmani yang dipilih. Kebanyakan dari 144.000 tamu yang menerima pahala surgawi ternyata orang-orang non-Israel. Matius 22:1-14; Keluaran 19:1-6; Wahyu 14:1-3.

  • Mereka Gagal Menjerat Yesus
    Tokoh Terbesar Sepanjang Masa
    • Mereka Gagal Menjerat Yesus

      KARENA Yesus mengajar di bait dan baru saja menceritakan kepada musuh-musuh religiusnya tiga perumpamaan yang menyingkapkan kejahatan mereka, orang-orang Farisi menjadi marah dan bersekongkol menjerat dia agar ia mengatakan sesuatu yang dapat dijadikan alasan untuk menangkapnya. Mereka membuat suatu rencana dan mengirimkan murid-murid mereka, bersama dengan pengikut-pengikut Herodes, untuk mencoba menjerat dia.

      ”Guru,” kata orang-orang ini, ”kami tahu, Engkau adalah seorang yang jujur dan dengan jujur mengajar jalan Allah dan Engkau tidak takut kepada siapapun juga, sebab Engkau tidak mencari muka. Katakanlah kepada kami pendapatMu: Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?”

      Yesus tidak tertipu oleh sanjungan itu. Ia menyadari bahwa jika ia mengatakan, ’Tidak, tidak usah atau tidak benar untuk membayar pajak’, ia akan bersalah karena menghasut melawan Roma. Akan tetapi, andai kata ia mengatakan, ’Ya, kamu harus membayar pajak ini’, orang-orang Yahudi, yang tidak suka tunduk di bawah Roma, akan membenci Dia. Maka ia menjawab, ”Mengapa kamu mencobai Aku, hai orang-orang munafik? Tunjukkanlah kepadaKu mata uang untuk pajak itu.”

      Ketika mereka membawa satu dinar kepadanya, ia bertanya, ”Gambar dan tulisan siapakah ini?”

      ”Kaisar,” jawab mereka.

      ”Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.” Pada saat orang-orang ini mendengar jawaban Yesus yang sangat bijaksana, mereka merasa takjub. Lalu mereka pergi dan meninggalkan dia.

      Melihat orang Farisi gagal mencari alasan untuk mempersalahkan Yesus, orang-orang Saduki, yang tidak percaya akan kebangkitan, mendekati dia dan bertanya, ”Guru, Musa mengatakan, bahwa jika seorang mati dengan tiada meninggalkan anak, saudaranya harus kawin dengan isterinya itu dan membangkitkan keturunan bagi saudaranya itu. Tetapi di antara kami ada tujuh orang bersaudara. Yang pertama kawin, tetapi kemudian mati. Dan karena ia tidak mempunyai keturunan, ia meninggalkan isterinya itu bagi saudaranya. Demikian juga yang kedua dan yang ketiga sampai dengan yang ketujuh. Dan akhirnya, sesudah mereka semua, perempuan itupun mati. Siapakah di antara ketujuh orang itu yang menjadi suami perempuan itu pada hari kebangkitan? Sebab mereka semua telah beristerikan dia.”

      Sebagai jawaban Yesus berkata, ”Kamu sesat, justru karena kamu tidak mengerti Kitab Suci maupun kuasa Allah. Sebab apabila orang bangkit dari antara orang mati, orang tidak kawin dan tidak dikawinkan melainkan hidup seperti malaikat di sorga. Dan juga tentang bangkitnya orang-orang mati, tidakkah kamu baca dalam kitab nabi Musa, dalam cerita tentang semak duri, bagaimana bunyi firman Allah kepadanya: Akulah Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub? Ia bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup. Kamu benar-benar sesat!”

      Sekali lagi orang banyak merasa takjub akan jawaban Yesus. Bahkan beberapa ahli Taurat mengakui, ”Guru, jawabMu itu tepat sekali.”

      Ketika orang-orang Farisi melihat bahwa Yesus telah membungkamkan orang-orang Saduki, mereka datang kepadanya dalam satu kelompok. Untuk mencobai dia lebih lanjut, salah seorang ahli Taurat di antara mereka bertanya, ”Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?”

      Yesus menjawab, ”Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan [”Yehuwa”, NW] Allah kita, Tuhan [”Yehuwa”, NW] itu esa. Kasihilah Tuhan [”Yehuwa”, NW], Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini.” Yesus bahkan menambahkan, ”Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.”

      ”Tepat sekali, Guru, benar kataMu itu,” ahli Taurat itu setuju, ”Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia. Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama dari pada semua korban bakaran dan korban sembelihan.”

      Melihat bahwa ahli Taurat itu menjawab dengan cerdas, Yesus berkata kepadanya, ”Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!”

      Kini sudah tiga hari—Minggu, Senin, dan Selasa—Yesus mengajar di bait. Orang-orang dengan senang hati mendengarkan dia, namun para pemimpin agama ingin membunuh dia, tetapi sejauh ini usaha-usaha mereka dapat digagalkan. Matius 22:15-40; Markus 12:13-34; Lukas 20:20-40.

  • Yesus Mencela para Penentangnya
    Tokoh Terbesar Sepanjang Masa
    • Yesus Mencela para Penentangnya

      YESUS benar-benar telah membuat para penentang religius bingung sehingga mereka tidak berani bertanya apa-apa lagi. Maka ia mengambil inisiatif untuk menyingkapkan kurangnya pengetahuan mereka. ”Apakah pendapatmu tentang Mesias?” tanyanya. ”Anak siapakah Dia?”

      ”Anak Daud,” jawab orang-orang Farisi.

      Sekalipun Yesus tidak menyangkal bahwa Daud adalah nenek moyang jasmani dari Kristus, atau Mesias, ia bertanya, ”Jika demikian, bagaimanakah Daud oleh ilham Roh [dalam Mazmur 110] dapat menyebut Dia Tuannya, ketika ia berkata: Tuhan [”Yehuwa”, NW] telah berfirman kepada Tuanku: duduklah di sebelah kananKu, sampai musuh-musuhMu Kutaruh di bawah kakiMu. Jadi jika Daud menyebut Dia Tuannya, bagaimana mungkin Ia anaknya pula?”

      Orang-orang Farisi itu diam saja, karena mereka tidak mengetahui identitas yang sebenarnya dari Kristus, atau pribadi yang diurapi. Mesias bukan semata-mata keturunan manusiawi dari Daud, sebagaimana dipercayai oleh orang Farisi, tetapi ia pernah hidup di surga dan adalah atasan, atau Tuan dari Daud.

      Yesus kemudian berpaling kepada orang banyak dan murid-muridnya, memperingatkan mengenai para ahli Taurat dan orang Farisi. Karena mereka mengajarkan Taurat Allah, ”menduduki kursi Musa”, Yesus menganjurkan, ”Turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu.” Akan tetapi, ia menambahkan, ”Janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya.”

      Mereka adalah orang-orang munafik, dan Yesus mencela mereka dengan bahasa yang sama yang ia gunakan pada waktu ia makan di rumah seorang Farisi beberapa bulan sebelumnya. ”Semua pekerjaan yang mereka lakukan,” katanya, ”hanya dimaksud supaya dilihat orang.” Selanjutnya ia memberikan contoh-contoh, dengan mengatakan:

      ”Mereka memperbesar kotak-kotak yang berisi ayat-ayat yang mereka kenakan sebagai pelindung.” (NW) Kotak-kotak yang relatif kecil, yang dikenakan pada dahi atau pada lengan, memuat empat bagian dari Taurat: Keluaran 13:1-10, 11-16; dan Ulangan 6:4-9; 11:13-21. Namun orang-orang Farisi memperlebar ukuran kotak-kotak ini untuk memberi kesan bahwa mereka sangat patuh kepada Taurat.

      Yesus melanjutkan bahwa mereka ”memperpanjang jumbai pada jubah mereka”. (NW) Dalam Bilangan 15:38-40 orang Israel diperintahkan untuk mengenakan jumbai pada jubah mereka, namun orang Farisi membuatnya lebih panjang daripada kepunyaan orang lain. Semuanya dilakukan dengan maksud untuk pamer! Yesus menyatakan, ”Mereka suka duduk di tempat terhormat.”

      Patut disesalkan, murid-muridnya sendiri telah terpengaruh oleh keinginan untuk dihormati ini. Maka ia menasihati, ”Tetapi kamu, janganlah kamu disebut Rabi; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara. Dan janganlah kamu menyebut siapapun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga. Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias.” Murid-murid tersebut harus menjauhkan diri dari keinginan untuk menjadi nomor satu! ”Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu,” nasihat Yesus.

      Kemudian ia menyebutkan serangkaian celaka atas para ahli Taurat dan orang Farisi, dengan berulang kali menyebut mereka sebagai orang munafik. Mereka ”menutup pintu-pintu Kerajaan Sorga di depan orang”, katanya, dan ”menelan rumah janda-janda, sedang mereka mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang”.

      ”Celakalah kamu, hai pemimpin-pemimpin buta,” kata Yesus. Ia mengutuk kurangnya nilai-nilai rohani dari kaum Farisi, yang dibuktikan oleh perbedaan sewenang-wenang yang mereka buat. Misalnya, mereka mengatakan, ’Bersumpah demi Bait Suci adalah tidak sah, tetapi bersumpah demi emas Bait Suci bersifat mengikat.’ Karena lebih menandaskan emas Bait Suci daripada nilai rohani tempat ibadat itu, kebutaan moral mereka tersingkap.

      Lalu, sebagaimana ia lakukan sebelumnya, Yesus mengutuk orang Farisi karena mengabaikan ’yang terpenting dalam Hukum Taurat, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan’ dan sebaliknya sangat menandaskan persepuluhan, atau sepersepuluh bagian, dari ramuan-ramuan yang tidak penting.

      Yesus menyebut orang Farisi, ”Pemimpin-pemimpin buta, nyamuk kamu tapiskan dari dalam minumanmu, tetapi unta yang di dalamnya kamu telan”. Mereka menapiskan nyamuk dari anggur mereka bukan semata-mata karena itu serangga tetapi karena dalam upacara agama itu dianggap najis. Akan tetapi, kelalaian mereka terhadap hal-hal yang lebih penting dalam Taurat dapat dibandingkan dengan menelan unta, juga binatang yang najis dalam hubungan dengan upacara. Matius 22:41–23:24; Markus 12:35-40; Lukas 20:41-47; Imamat 11:4, 21-24.

  • Pelayanan di Bait Selesai
    Tokoh Terbesar Sepanjang Masa
    • Pelayanan di Bait Selesai

      YESUS muncul untuk yang terakhir kalinya di bait. Sebenarnya, ia hampir selesai dengan pelayanannya di bumi kecuali peristiwa pengadilan dan eksekusinya, yang terjadi tiga hari kemudian. Sekarang ia meneruskan kata-kata penghukumannya atas para ahli Taurat dan orang Farisi.

      Tiga kali lagi ia berseru, ”Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik.” Pertama-tama, ia menyatakan celaka atas mereka karena ’cawan dan pinggan mereka bersihkan sebelah luarnya, tetapi sebelah dalamnya penuh rampasan dan kerakusan’. Maka ia menasihati, ”Bersihkanlah dahulu sebelah dalam cawan itu, maka sebelah luarnya juga akan bersih.”

      Kemudian ia menyatakan celaka atas para ahli Taurat dan orang Farisi karena kebejatan dan kebusukan yang mereka coba tutupi dengan kesalehan di luar. ”Kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih,” katanya, ”yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran.”

      Akhirnya, kemunafikan mereka nyata dalam kesediaan mereka untuk mendirikan kuburan bagi para nabi dan menghiasinya agar perbuatan amal mereka sendiri diperhatikan. Namun, sebagaimana disingkapkan oleh Yesus, mereka ”adalah keturunan [dari] pembunuh nabi-nabi itu”. Memang, siapa pun yang berani menyingkapkan kemunafikan mereka berada dalam bahaya!

      Selanjutnya, Yesus mengucapkan kata-kata celaan yang paling keras. ”Hai kamu ular-ular, hai kamu keturunan ular beludak,” katanya, ”bagaimanakah mungkin kamu dapat meluputkan diri dari hukuman neraka [Gehenna]?” Gehenna adalah lembah yang digunakan sebagai tempat pembuangan sampah Yerusalem. Maka Yesus memaksudkan bahwa karena menempuh haluan mereka yang jahat, para ahli Taurat dan orang Farisi akan mengalami kebinasaan kekal.

      Mengenai mereka yang ia kirim sebagai wakil-wakilnya, Yesus berkata, ”Separuh di antara mereka akan kamu bunuh dan kamu salibkan [”pakukan”, NW], yang lain akan kamu sesah di rumah-rumah ibadatmu dan kamu aniaya dari kota ke kota, supaya kamu menanggung akibat penumpahan darah orang yang tidak bersalah mulai dari Habel, orang benar itu, sampai kepada Zakharia anak Berekhya [yang dinamai Yoyada di Dua Tawarikh], yang kamu bunuh di antara tempat kudus dan mezbah. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya semuanya ini akan ditanggung angkatan ini!”

      Karena Zakharia mengutuk para pemimpin Israel, ”mereka mengadakan persepakatan terhadap dia, dan atas perintah raja mereka melontari dia dengan batu di pelataran rumah [Yehuwa].” Namun, sebagaimana Yesus nubuatkan, Israel akan membayar semua penumpahan darah orang yang benar. Mereka membayarnya 37 tahun kemudian, pada tahun 70 M., ketika tentara Roma menghancurkan Yerusalem dan lebih dari satu juta orang Yahudi binasa.

      Ketika Yesus memikirkan keadaan yang mengerikan itu, ia menjadi sedih. ”Yerusalem, Yerusalem,” serunya sekali lagi, ”berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau. Lihatlah rumahmu ini akan ditinggalkan dan menjadi sunyi.”

      Kemudian Yesus menambahkan, ”Mulai sekarang kamu tidak akan melihat Aku lagi, hingga kamu berkata: Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan [”Yehuwa”, NW]!” Saat itu adalah pada waktu kehadiran Kristus ketika ia mewarisi Kerajaan surgawinya dan orang-orang melihat dia dengan mata iman.

      Yesus kemudian pergi ke suatu tempat yang dapat mengamati peti persembahan di bait dan orang banyak yang memasukkan uang ke dalamnya. Orang kaya memasukkan jumlah yang besar. Akan tetapi, kemudian seorang janda miskin datang dan memasukkan dua keping uang yang sangat kecil nilainya.

      Yesus memanggil murid-muridnya dan berkata, ”Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan.” Pastilah mereka bertanya-tanya dalam hati bagaimana hal itu mungkin. Maka Yesus menerangkan, ”Mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya.” Setelah mengatakan hal ini, Yesus meninggalkan bait untuk terakhir kali.

      Takjub melihat ukuran dan keindahan bait itu, salah seorang dari murid-muridnya berseru: ”Guru, lihatlah betapa kokohnya batu-batu itu dan betapa megahnya gedung-gedung itu!” Memang, kata orang panjang batu-batunya lebih dari 11 meter, lebarnya lebih dari 5 meter, dan tingginya lebih dari 3 meter!

      ”Kaulihat gedung-gedung yang hebat ini?” jawab Yesus. ”Tidak satu batupun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain, semuanya akan diruntuhkan.”

      Setelah mengatakan hal-hal ini, Yesus dan rasul-rasulnya melintasi Lembah Kidron dan mendaki Bukit Zaitun. Dari sini mereka dapat memandang ke bawah ke bait yang megah. Matius 23:25–24:3; Markus 12:41–13:3; Lukas 21:1-6; 2 Tawarikh 24:20-22.

Publikasi Menara Pengawal Bahasa Indonesia (1971-2025)
Log Out
Log In
  • Indonesia
  • Bagikan
  • Pengaturan
  • Copyright © 2025 Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania
  • Syarat Penggunaan
  • Kebijakan Privasi
  • Pengaturan Privasi
  • JW.ORG
  • Log In
Bagikan