-
”Ayo Lihat Sendiri” Sang Kristus”Mari Jadilah Pengikutku”
-
-
BAGIAN 1
”Ayo Lihat Sendiri” Sang Kristus
Yesus hidup sebagai manusia sekitar 2.000 tahun yang lalu, tetapi sekarang pun kita masih bisa menyambut ajakan untuk ’melihat sendiri’ Putra Allah. (Yohanes 1:46) Catatan Injil memberikan gambaran yang jelas tentang kepribadian, sikap, dan tindakannya. Dalam bagian ini, kita akan meninjau sifat-sifat Yesus yang menonjol.
-
-
”Aku . . . Rendah Hati””Mari Jadilah Pengikutku”
-
-
PASAL TIGA
”Aku . . . Rendah Hati”
”Lihat! Rajamu akan datang kepadamu”
1-3. Bagaimana Yesus masuk ke Yerusalem, dan mengapa beberapa pengamatnya boleh jadi kaget?
PENDUDUK Yerusalem heboh. Seorang tokoh besar akan datang! Di luar kota, orang-orang berkumpul di sepanjang jalan. Mereka ingin sekali menyambut pria ini karena kabarnya dia adalah ahli waris Raja Daud dan Penguasa Israel yang sah. Sejumlah orang membawa cabang pohon palem untuk dilambaikan; yang lain menghamparkan pakaian dan cabang pohon untuk meratakan jalan baginya. (Matius 21:7, 8; Yohanes 12:12, 13) Banyak orang agaknya bertanya-tanya bagaimana dia akan masuk ke kota.
2 Ada yang mungkin mengharapkan arak-arakan yang megah. Mereka pasti tahu pria-pria penting yang pernah masuk ke kota dengan cara yang megah. Misalnya, putra Daud, Absalom, mengumumkan dirinya sebagai raja; dia menyuruh agar 50 pria berlari di depan keretanya. (2 Samuel 15:1, 10) Penguasa Romawi, Julius Caesar, menuntut yang lebih bersemarak lagi; sekali waktu, dia memimpin pawai kemenangan hingga kapitol Romawi, dan di sebelah kiri serta kanannya terdapat barisan 40 ekor gajah yang membawa pelita! Tetapi, yang ditunggu-tunggu penduduk Yerusalem adalah tokoh yang jauh lebih hebat. Entah kumpulan orang itu sadar atau tidak, inilah sang Mesias, tokoh terbesar sepanjang masa. Namun, ketika calon Raja ini mulai terlihat, ada yang mungkin kaget.
3 Tidak ada kereta, tidak ada pelari, tidak ada kuda—apalagi gajah. Yesus hanya menunggang seekor binatang beban biasa, seekor keledai.a Tidak ada kain-kain gemerlap yang menghiasi penunggang maupun tunggangannya. Tidak ada pelana yang mahal, hanya beberapa helai pakaian yang diletakkan oleh beberapa murid Yesus di atas punggung binatang itu. Mengapa Yesus memilih masuk ke Yerusalem dengan cara yang begitu sederhana, sedangkan pria-pria yang jauh lebih rendah kedudukannya berkeras melakukannya dengan arak-arakan yang lebih meriah dan bersemarak?
4. Apa yang Alkitab nubuatkan tentang cara sang Mesias akan masuk ke Yerusalem?
4 Yesus sedang menggenapi nubuat ini: ”Bergembiralah . . . Serukan kemenangan, Yerusalem. Lihat! Rajamu akan datang kepadamu. Dia benar dan membawa keselamatan; dia rendah hati dan menunggang keledai.” (Zakharia 9:9) Nubuat ini memperlihatkan bahwa suatu hari kelak, Pribadi yang Diurapi Allah, sang Mesias, akan menyingkapkan dirinya kepada penduduk Yerusalem sebagai Raja yang dilantik Allah. Selain itu, cara dia melakukannya, termasuk tunggangan pilihannya, akan menyingkapkan sifatnya yang indah—rendah hati.
5. Mengapa kerendahan hati Yesus begitu menggugah kalbu sewaktu direnungkan, dan mengapa penting sekali agar kita belajar meniru Yesus dalam hal ini?
5 Sifat rendah hati adalah salah satu sifat Yesus yang paling menarik, sifat yang begitu menggugah kalbu sewaktu direnungkan. Seperti yang telah dibahas di pasal sebelumnya, hanya Yesus-lah ”jalan, kebenaran, dan kehidupan”. (Yohanes 14:6) Jelaslah, tidak satu pun dari antara bermiliar-miliar manusia yang pernah hidup di bumi ini yang kedudukannya sepenting Putra Allah. Namun, Yesus tidak pernah sedikit pun memperlihatkan kesombongan, keangkuhan, atau kecongkakan yang menjangkiti tak terhitung banyaknya manusia yang tidak sempurna. Untuk menjadi pengikut Kristus, kita perlu melawan kecenderungan untuk menyerah kepada kesombongan. (Yakobus 4:6) Ingatlah, Yehuwa membenci keangkuhan. Jadi, penting sekali agar kita belajar meniru kerendahan hati Yesus.
Catatan Panjang Kerendahan Hati
6. Apa kerendahan hati itu, dan bagaimana Yehuwa tahu bahwa Mesias akan rendah hati?
6 Rendah hati berarti bebas dari keangkuhan dan kesombongan. Sifat ini berawal dari hati dan tampak nyata dalam tutur kata, tingkah laku, dan cara berurusan dengan orang lain. Bagaimana Yehuwa tahu bahwa Mesias akan rendah hati? Dia tahu bahwa Putra-Nya mencerminkan teladan-Nya sendiri yang sempurna dalam hal kerendahan hati. (Yohanes 10:15) Dia juga telah melihat sang Putra menunjukkan kerendahan hati. Bagaimana?
7-9. (a) Bagaimana Mikhael memperlihatkan kerendahan hati dalam konfrontasinya dengan Setan? (b) Bagaimana orang Kristen bisa meniru Mikhael dalam memperlihatkan kerendahan hati?
7 Surat Yudas menyingkapkan sebuah contoh yang menarik: ”Ketika Mikhael yang adalah pemimpin malaikat berselisih dengan Iblis tentang mayat Musa, dia tidak berani menghakiminya dengan kata-kata hinaan. Dia malah berkata, ’Biarlah Yehuwa menegurmu.’” (Yudas 9) Mikhael adalah nama Yesus—sebelum dan setelah dia hidup di bumi—dalam peranannya sebagai pemimpin bala tentara surgawi Yehuwa yang terdiri dari para malaikat.b (1 Tesalonika 4:16) Namun, perhatikan sikap Mikhael dalam konfrontasi dengan Setan ini.
8 Catatan Yudas tidak memberi tahu kita apa yang ingin Setan lakukan dengan tubuh Musa, tetapi si Iblis pasti berniat jahat. Barangkali dia ingin menganjurkan penyalahgunaan jenazah pria yang setia itu dalam ibadah palsu. Sewaktu melawan siasat jahat Setan, Mikhael juga memperlihatkan pengekangan diri yang mengagumkan. Setan jelas-jelas pantas ditegur, tetapi Mikhael, yang ketika berselisih dengan Setan belum diserahi wewenang untuk ”semua urusan penghakiman”, merasa bahwa penghakiman tersebut seharusnya hanya datang dari Allah Yehuwa. (Yohanes 5:22) Sebagai pemimpin malaikat, Mikhael memiliki wewenang yang besar. Namun, dia dengan rendah hati tunduk kepada Yehuwa dan tidak mencoba merebut wewenang tambahan. Selain rendah hati, dia juga menyadari keterbatasannya.
9 Tentu ada alasan mengapa Yudas diilhami untuk menulis peristiwa ini. Sungguh menyedihkan, beberapa orang Kristen pada zaman Yudas tidak rendah hati. Mereka dengan angkuh ”menghina semua hal yang tidak mereka pahami”. (Yudas 10) Betapa mudahnya kita manusia tidak sempurna membiarkan diri dikuasai oleh kesombongan! Apabila kita tidak memahami sesuatu yang berlangsung di sidang Kristen—barangkali keputusan yang diambil oleh badan penatua—bagaimana reaksi kita? Jika kita melontarkan kata-kata yang negatif dan kritis padahal kita tidak bisa mengetahui semua faktor di balik keputusan tersebut, tidakkah itu menunjukkan bahwa kita tidak rendah hati? Sebaliknya, marilah kita meniru Mikhael, atau Yesus, dengan menahan diri untuk tidak menghakimi hal-hal di luar wewenang yang Allah berikan kepada kita.
10, 11. (a) Mengapa kerelaan Putra Allah menerima tugas untuk turun ke bumi sungguh luar biasa? (b) Bagaimana kita bisa meniru kerendahan hati Yesus?
10 Putra Allah juga memperlihatkan kerendahan hati dengan menerima tugas untuk turun ke bumi. Pikirkan apa yang harus dia tinggalkan. Dia adalah pemimpin malaikat. Dia juga ”Firman”—Juru Bicara pribadi Yehuwa. (Yohanes 1:1-3) Dia tinggal di surga, ”tempat tinggal [Yehuwa] yang tinggi, mulia, dan suci”. (Yesaya 63:15) Meskipun demikian, sang Putra ”melepaskan segala yang dia miliki dan menjadi seperti budak. Dia menjadi manusia”. (Filipi 2:7) Bayangkan apa yang tersangkut dalam tugasnya di bumi! Kehidupannya dipindahkan ke dalam rahim seorang perawan Yahudi, dan selama sembilan bulan dia berkembang menjadi bayi manusia. Dia terlahir sebagai bayi yang tidak berdaya dalam keluarga tukang kayu yang miskin lalu bertumbuh menjadi balita, anak kecil, dan remaja. Kendati dia sempurna, semasa remaja dia tetap tunduk kepada orang tuanya yang tidak sempurna. (Lukas 2:40, 51, 52) Benar-benar kerendahan hati yang luar biasa!
11 Dapatkah kita meniru kerendahan hati Yesus dengan rela menerima tugas dinas yang adakalanya tampak rendah? Misalnya, tugas kita memberitakan kabar baik Kerajaan Allah mungkin tampak rendah sewaktu ditanggapi orang-orang dengan sikap apatis, ejekan, atau permusuhan. (Matius 28:19, 20) Namun, jika kita bertekun dalam pekerjaan ini, kita bisa turut menyelamatkan kehidupan. Yang pasti, kita akan belajar banyak hal tentang kerendahan hati, dan kita akan mengikuti jejak Majikan kita, Yesus Kristus.
Kerendahan Hati Yesus Sebagai Manusia
12-14. (a) Bagaimana Yesus memperlihatkan kerendahan hati sewaktu orang-orang memuji dia? (b) Bagaimana Yesus rendah hati sewaktu berinteraksi dengan orang lain? (c) Apa buktinya bahwa kerendahan hati Yesus bukan sekadar formalitas atau sopan santun?
12 Dari awal hingga akhir, pelayanan Yesus di bumi bercirikan kerendahan hati. Dia memperlihatkannya dengan menujukan segala pujian dan kemuliaan kepada Bapaknya. Adakalanya orang memuji Yesus karena kata-katanya yang berhikmat, mukjizatnya yang penuh kuasa, bahkan sifatnya yang baik. Berulang kali, Yesus menolak kemuliaan tersebut tetapi menujukannya kepada Yehuwa.—Markus 10:17, 18; Yohanes 7:15, 16.
13 Yesus memperlihatkan kerendahan hati melalui cara dia memperlakukan orang-orang. Malah, dia mengatakan dengan jelas bahwa dia datang ke bumi, bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani orang lain. (Matius 20:28) Dia memperlihatkan kerendahan hati melalui interaksinya yang lemah lembut dan masuk akal dengan orang-orang. Sewaktu dikecewakan oleh para pengikutnya, dia tidak membentak-bentak mereka; dia terus berupaya mencapai hati mereka. (Matius 26:39-41) Ketika kumpulan orang mengganggunya sewaktu dia mencari tempat yang tenang untuk beristirahat dan menyendiri, dia tidak menyuruh mereka pergi; dia mengerahkan diri, mengajarkan ”banyak hal” kepada mereka. (Markus 6:30-34) Sewaktu seorang wanita non-Israel terus memohon agar dia menyembuhkan putrinya, mula-mula dia menunjukkan bahwa dia tidak mau melakukannya. Namun, dia tidak menolak sambil marah-marah, dan dia akhirnya mengabulkan permintaan tersebut mengingat iman wanita itu yang luar biasa, seperti yang akan kita bahas di Pasal 14.—Matius 15:22-28.
14 Melalui cara yang tak terhitung banyaknya, Yesus hidup selaras dengan apa yang dia katakan tentang dirinya sendiri: ”Aku lembut hati dan rendah hati.” (Matius 11:29) Kerendahan hatinya bukan polesan, bukan pula sekadar formalitas atau sopan santun. Itu berasal dari lubuk hatinya, manusia batiniahnya. Maka, tidak mengherankan bahwa Yesus sangat memprioritaskan soal mengajar para pengikutnya agar rendah hati!
Mengajar Para Pengikutnya Agar Rendah Hati
15, 16. Kontras apa yang Yesus sebutkan tentang sikap para penguasa dunia dan sikap yang perlu dipupuk oleh para pengikutnya?
15 Rasul-rasul Yesus tidak cepat memupuk kerendahan hati. Yesus harus mengajar mereka berulang kali. Misalnya, sekali peristiwa, Yakobus dan Yohanes melalui ibu mereka meminta Yesus menjanjikan kedudukan tinggi dalam Kerajaan Allah bagi mereka. Dengan sadar diri, Yesus menjawab, ”Soal duduk di sebelah kanan dan kiriku, aku tidak berhak menentukannya. Bapakku sudah menyiapkannya untuk orang-orang yang Dia tentukan.” Kesepuluh rasul lainnya ”marah” kepada Yakobus dan Yohanes. (Matius 20:20-24) Bagaimana Yesus menangani problem ini?
16 Dia dengan baik hati menegur mereka semua, katanya, ”Kalian tahu bahwa para penguasa bangsa-bangsa memerintah mereka, dan para pejabat tinggi juga menjalankan kekuasaan atas mereka. Tapi kalian tidak boleh begitu. Siapa pun yang ingin menjadi besar di antara kalian harus menjadi pelayan kalian, dan siapa pun yang ingin menjadi pertama di antara kalian harus menjadi budak kalian.” (Matius 20:25-27) Kemungkinan besar, rasul-rasul telah melihat betapa sombong, ambisius, dan egoisnya ”para penguasa bangsa-bangsa”. Yesus memperlihatkan bahwa para pengikutnya harus berbeda dengan orang-orang lalim yang haus kekuasaan itu. Mereka perlu rendah hati. Apakah rasul-rasul memahaminya?
17-19. (a) Pada malam menjelang kematiannya, bagaimana Yesus mengajar rasul-rasulnya tentang kerendahan hati dengan cara yang tak terlupakan? (b) Apa pelajaran terampuh soal kerendahan hati yang Yesus ajarkan sebagai manusia?
17 Hal itu tidak mudah bagi mereka. Ini bukan pertama kalinya dan juga bukan terakhir kalinya Yesus mengajarkan hal itu. Sebelumnya, ketika mereka mempersoalkan siapa yang terbesar di antara mereka, dia menempatkan seorang anak kecil di tengah-tengah mereka dan memberi tahu mereka untuk meniru anak-anak, yang cenderung tidak sombong, tidak ambisius, dan tidak ambil pusing soal kedudukan, berbeda dengan kebanyakan orang dewasa. (Matius 18:1-4) Meskipun demikian, persis pada malam sebelum kematiannya, dia melihat rasul-rasulnya masih berjuang untuk mengatasi kesombongan. Lalu, dia memberi mereka pelajaran yang tak terlupakan. Dia mengikatkan handuk pada pinggangnya dan melakukan tugas yang paling rendah, yang kala itu biasa dilakukan oleh pelayan bagi para tamu. Yesus mencuci kaki setiap rasulnya—termasuk Yudas, yang sebentar lagi mengkhianati dia!—Yohanes 13:1-11.
18 Yesus membantu mereka memahami pokok ini sewaktu dia mengatakan, ”Aku memberi kalian teladan.” (Yohanes 13:15) Apakah pelajaran ini akhirnya menyentuh hati mereka? Nah, malam itu, mereka sekali lagi berbantah soal siapa yang terbesar di antara mereka! (Lukas 22:24-27) Namun, Yesus terus bersabar dan mengajar mereka dengan rendah hati. Kemudian, dia memberikan pelajaran yang paling ampuh: ”Dia merendahkan dirinya dan taat sampai mati, bahkan mati di tiang siksaan.” (Filipi 2:8) Yesus rela mengalami kematian yang memalukan, secara tidak adil dihukum sebagai penjahat dan orang yang menghina Allah. Dengan demikian, Putra Allah terbukti unik, karena dalam dirinya, di antara semua ciptaan Yehuwa, kerendahan hati dinyatakan dengan cara yang sempurna dan tiada bandingannya.
19 Agaknya inilah—pelajaran terakhir tentang kerendahan hati yang Yesus ajarkan sebagai manusia—yang terpatri dalam hati rasul-rasulnya yang setia. Alkitab memberi tahu kita bahwa pria-pria ini dengan rendah hati bekerja selama bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun, setelah itu. Bagaimana dengan kita?
Maukah Saudara Mengikuti Pola Yesus?
20. Bagaimana kita bisa tahu bahwa kita rendah hati?
20 Paulus mendesak kita masing-masing, ”Miliki pikiran dan sikap ini dalam diri kalian, yang sama dengan yang dimiliki Kristus Yesus.” (Filipi 2:5) Seperti Yesus, kita perlu rendah hati. Bagaimana kita bisa tahu bahwa kita benar-benar rendah hati? Nah, Paulus mengingatkan kita, ”Jangan suka bertengkar atau merasa diri penting. Sebaliknya, dengan rendah hati, anggaplah orang lain lebih tinggi daripada kalian.” (Filipi 2:3) Jadi, kuncinya terletak pada cara kita memandang orang lain dalam kaitannya dengan kita. Kita perlu menganggap mereka lebih tinggi, lebih penting, daripada kita. Maukah Saudara menerapkan nasihat itu?
21, 22. (a) Mengapa para pengawas Kristen perlu rendah hati? (b) Bagaimana kita bisa memperlihatkan bahwa kita memakai ikat pinggang kerendahan hati?
21 Bertahun-tahun setelah kematian Yesus, Rasul Petrus masih berpikir tentang pentingnya kerendahan hati. Petrus mengajar para pengawas Kristen untuk melaksanakan tugas dengan rendah hati, tidak pernah memerintah atas domba-domba Yehuwa. (1 Petrus 5:2, 3) Diberi tanggung jawab tidak berarti diberi hak untuk sombong. Sebaliknya, semakin besar tanggung jawab seseorang, semakin dia membutuhkan kerendahan hati yang sejati. (Lukas 12:48) Tentu saja, sifat ini sangat penting tidak hanya bagi para pengawas tetapi bagi setiap orang Kristen.
22 Petrus pastilah tidak pernah melupakan malam ketika Yesus mencuci kakinya—sekalipun Petrus sudah menolaknya! (Yohanes 13:6-10) Petrus menulis kepada orang Kristen, ”Kalian semua harus memakai ikat pinggang kerendahan hati dalam memperlakukan satu sama lain.” (1 Petrus 5:5, catatan kaki) Ungkapan ”memakai ikat pinggang” menyiratkan tindakan seorang pelayan yang mengikatkan celemek pada pinggangnya untuk melakukan pekerjaan rendahan. Frasa itu kemungkinan besar mengingatkan kita akan peristiwa ketika Yesus mengikatkan handuk pada pinggangnya sebelum berlutut untuk melakukan tugas mencuci kaki. Jika kita memang mengikuti Yesus, adakah tugas dari Allah yang bisa kita anggap merendahkan martabat kita? Kerendahan hati kita mesti terlihat oleh semua orang, seolah-olah itu terikat pada pinggang kita.
23, 24. (a) Mengapa kita hendaknya melawan kecenderungan apa pun untuk angkuh? (b) Pasal berikut akan mengoreksi anggapan keliru apa tentang kerendahan hati?
23 Keangkuhan bagaikan racun. Dampaknya sangat menghancurkan. Manusia yang paling berbakat pun bisa dibuatnya tidak berguna bagi Allah. Sebaliknya, kerendahan hati bisa membuat manusia yang paling kecil pun sangat berguna bagi Yehuwa. Jika kita memupuk sifat yang berharga ini setiap hari dengan berupaya berjalan dengan rendah hati mengikuti jejak Kristus, upahnya sangat menakjubkan untuk direnungkan. Petrus menulis, ”Rendahkan diri kalian di bawah tangan Allah yang kuat, supaya Dia meninggikan kalian pada waktunya.” (1 Petrus 5:6) Yehuwa benar-benar meninggikan Yesus karena dia telah sepenuhnya merendahkan diri. Allah kita juga akan senang mengupahi Saudara atas kerendahan hati Saudara.
24 Sungguh menyedihkan, ada yang mengira bahwa kerendahan hati itu tanda kelemahan. Teladan Yesus membantu kita melihat betapa kelirunya anggapan itu karena meskipun dia orang yang paling rendah hati, dia juga orang yang paling berani. Itulah yang akan dikupas dalam pasal berikut.
a Sewaktu membahas peristiwa ini, sebuah karya referensi mengatakan bahwa binatang ini ”adalah binatang rendahan”, dan menambahkan, ”Mereka lamban, susah diatur, dan merupakan binatang beban bagi orang miskin, serta penampilannya tidak terlalu menarik.”
b Untuk lebih banyak bukti bahwa Mikhael adalah Yesus, lihat bagian ”Pertanyaan Alkitab Dijawab”, artikel ”Siapakah Mikhael Sang Penghulu Malaikat?”, di situs web resmi Saksi-Saksi Yehuwa, jw.org.
-
-
”Singa dari Suku Yehuda””Mari Jadilah Pengikutku”
-
-
PASAL EMPAT
”Singa dari Suku Yehuda”
”Saya orangnya”
1-3. Bahaya apa yang Yesus alami, dan bagaimana reaksinya?
SEGEROMBOLAN massa sedang mencari Yesus. Selain bersenjatakan pedang dan pentung, gerombolan itu juga disertai tentara. Dengan satu tujuan yang jahat, mereka menyusuri jalan-jalan gelap Yerusalem dan menyeberangi Lembah Kidron menuju Gunung Zaitun. Saat itu bulan purnama, tetapi mereka membawa obor dan pelita. Apakah mereka membutuhkannya karena awan menghalangi cahaya bulan? Atau, apakah mereka menyangka sasaran mereka sedang bersembunyi di balik kegelapan malam? Satu hal yang pasti: Siapa pun yang menyangka bahwa Yesus akan menciut ketakutan pasti belum mengenal dia.
2 Yesus tahu betul bahwa ada bahaya yang mengancam. Sekalipun demikian, dia berdiri dan menunggu. Gerombolan itu mendekat, dipimpin Yudas, bekas sahabat kepercayaannya. Yudas terang-terangan mengkhianati Yesus, menyingkapkan identitas mantan tuannya dengan salam dan ciuman yang munafik. Namun, Yesus tetap tenang. Lalu, dia maju menghadapi gerombolan itu. ”Siapa yang kalian cari?” tanyanya. ”Yesus orang Nazaret,” jawab mereka.
3 Kebanyakan orang akan gemetar ketakutan jika berhadapan dengan gerombolan bersenjata seperti itu. Barangkali itulah yang diharapkan oleh kumpulan orang itu dari pria di hadapan mereka. Tetapi, Yesus tidak menciut ketakutan, tidak lari, juga tidak mengarang suatu dusta. Sebaliknya, dia terus terang mengatakan, ”Saya orangnya.” Sikapnya begitu tenang, begitu berani, sampai-sampai pria-pria itu terkesima. Mereka terhuyung-huyung mundur dan jatuh!—Yohanes 18:1-6; Matius 26:45-50; Markus 14:41-46.
4-6. (a) Putra Allah disamakan dengan apa, dan mengapa? (b) Dalam tiga bidang apa Yesus memperlihatkan keberanian?
4 Mengapa Yesus bisa menghadapi bahaya sehebat itu dengan penuh ketenangan dan pengendalian diri? Jawabannya satu kata saja, keberanian. Tak banyak sifat lain yang demikian dikagumi atau dibutuhkan dalam diri seorang pemimpin seperti halnya keberanian, dan tidak seorang manusia pun yang keberaniannya menyamai Yesus, apalagi mengunggulinya. Di pasal sebelumnya, kita belajar betapa rendah hati dan lembutnya Yesus. Dia dengan tepat disebut ”Anak Domba”. (Yohanes 1:29) Namun, karena keberaniannya, Yesus digambarkan dengan sebutan yang sangat berbeda. Alkitab mengatakan bahwa Putra Allah adalah ”Singa dari suku Yehuda”.—Wahyu 5:5.
5 Singa sering dikaitkan dengan keberanian. Pernahkah Saudara bertatapan dengan singa jantan dewasa? Kalaupun pernah, kemungkinan besar Saudara berdiri di posisi yang aman, barangkali dipisahkan oleh pagar kandangnya di kebun binatang. Sekalipun demikian, pengalaman itu pun bisa menciutkan nyali. Sewaktu makhluk yang besar dan kuat ini membalas tatapan Saudara, tak terbayangkan bahwa ada yang bisa membuat singa lari ketakutan. Alkitab mengatakan, ”Singa, yang paling kuat di antara binatang, . . . tidak mundur dari siapa pun.” (Amsal 30:30) Seperti itulah keberanian Kristus.
6 Marilah kita bahas bagaimana Yesus memperlihatkan keberanian bagaikan singa dalam tiga bidang: membela kebenaran, menegakkan keadilan, dan menghadapi tentangan. Kita juga akan melihat bahwa tidak soal pada dasarnya berani atau tidak, kita semua bisa meniru Yesus dalam memperlihatkan keberanian.
Dia Membela Kebenaran dengan Berani
7-9. (a) Apa yang terjadi ketika Yesus berusia 12 tahun, dan seandainya Saudara berada dalam situasi itu, mengapa Saudara bisa merasa terintimidasi? (b) Bagaimana Yesus memperlihatkan keberanian sewaktu berhadapan dengan guru-guru di bait?
7 Dalam dunia yang dikuasai Setan, ”bapak para pendusta”, sering kali dibutuhkan keberanian untuk membela kebenaran. (Yohanes 8:44; 14:30) Yesus tidak menunggu hingga dewasa untuk melakukannya. Ketika berusia 12 tahun, Yesus terpisah dari orang tuanya setelah perayaan Paskah di Yerusalem. Selama tiga hari, Maria dan Yusuf kalang kabut mencarinya. Akhirnya, mereka menemukannya di bait. Sedang apa dia di sana? ”Dia sedang duduk di tengah-tengah para guru agama sambil mendengarkan mereka dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan.” (Lukas 2:41-50) Bayangkan latar diskusi itu.
8 Menurut para sejarawan, beberapa pemimpin agama yang terkemuka biasanya tetap berada di bait setelah perayaan selesai dan mengajar di salah satu berandanya yang luas. Orang-orang duduk di kaki mereka dan mendengarkan serta mengajukan pertanyaan. Guru-guru ini adalah pria-pria terpelajar. Mereka sangat menguasai Hukum Musa dan juga tak terhitung banyaknya hukum serta tradisi buatan manusia yang rumit dan terus bertambah setiap tahunnya. Bagaimana perasaan Saudara seandainya Saudara duduk di tengah-tengah mereka? Terintimidasi? Wajar saja. Dan, bagaimana seandainya Saudara baru berusia 12 tahun? Anak-anak biasanya pemalu. (Yeremia 1:6) Ada yang berupaya mati-matian agar tidak menarik perhatian guru di sekolah; anak-anak muda ini takut dipanggil, takut diberi perhatian khusus, dan takut kalau-kalau dipermalukan atau diejek.
9 Namun, Yesus justru sedang duduk di tengah-tengah para pria terpelajar itu, tanpa takut-takut mengajukan berbagai pertanyaan yang menyelidik. Dan, bukan itu saja. Menurut catatan, ”semua orang yang mendengarkan dia sangat kagum karena dia mengerti banyak hal dan karena jawaban-jawabannya”. (Lukas 2:47) Alkitab tidak memberi tahu kita apa yang dia katakan kala itu, tetapi kita bisa yakin bahwa dia tidak sekadar mengulangi gagasan-gagasan palsu yang begitu digandrungi guru-guru agama itu. (1 Petrus 2:22) Tidak, dia menjunjung kebenaran Firman Allah, dan para pendengarnya pasti takjub bahwa seorang anak berusia 12 tahun bisa mengutarakan diri dengan begitu berani dan penuh pemahaman.
Banyak anak muda Kristen dengan berani menceritakan iman mereka kepada orang lain
10. Bagaimana anak-anak muda Kristen sekarang meniru keberanian Yesus?
10 Sekarang ini, ada tak terhitung banyaknya anak muda Kristen yang mengikuti jejak Yesus. Memang, mereka tidak sempurna seperti Yesus. Namun, seperti dia, mereka tidak menunggu hingga dewasa untuk membela kebenaran. Di sekolah atau di lingkungan tempat mereka tinggal, mereka dengan bijaksana mengajukan pertanyaan, mendengarkan, dan dengan penuh respek menceritakan kebenaran kepada orang-orang. (1 Petrus 3:15) Sebagai kelompok, anak-anak muda ini telah membantu teman sekolah, guru, dan tetangga menjadi pengikut Kristus. Keberanian mereka pasti benar-benar menyenangkan Yehuwa! Dalam Firman-Nya, anak-anak muda seperti itu disamakan dengan titik-titik embun—menyegarkan, menyenangkan, dan banyak jumlahnya.—Mazmur 110:3.
11, 12. Sebagai orang dewasa, bagaimana Yesus memperlihatkan keberanian untuk membela kebenaran?
11 Sewaktu dewasa, Yesus berulang kali memperlihatkan keberanian untuk membela kebenaran. Malah, pelayanannya diawali dengan konfrontasi yang, bagi banyak orang, menakutkan. Bukan sebagai pemimpin malaikat yang perkasa, melainkan sebagai manusia darah daging biasa, Yesus harus berhadapan dengan Setan, musuh Yehuwa yang paling kuat dan paling berbahaya. Yesus menolak godaan Setan dan menyanggah kata-katanya yang menyalahterapkan Kitab Suci yang terilham. Yesus mengakhiri konfrontasi itu dengan perintah yang berani ini: ”Pergi, Setan!”—Matius 4:2-11.
12 Dengan demikian, Yesus menetapkan pola untuk pelayanannya, dengan berani membela Firman Bapaknya terhadap berbagai upaya untuk memutarbalikkan atau menyalahgunakannya. Kala itu, seperti halnya sekarang, ketidakjujuran agama sudah sangat umum. Yesus memberi tahu para pemimpin agama pada zamannya, ”Kalian membuat firman Allah tidak berlaku karena tradisi yang kalian teruskan.” (Markus 7:13) Pria-pria itu sangat diagung-agungkan oleh orang pada umumnya, tetapi Yesus tanpa takut-takut mengecam mereka sebagai penuntun buta dan orang munafik.a (Matius 23:13, 16) Bagaimana kita bisa meniru teladan Yesus yang berani dalam aspek ini?
13. Apa yang perlu kita ingat sewaktu meniru Yesus, tetapi kehormatan apa yang kita miliki?
13 Tentu saja, kita ingat bahwa kita tidak punya kesanggupan membaca hati dan tidak punya wewenang untuk menghakimi seperti halnya Yesus. Namun, kita dapat meniru keberaniannya untuk membela kebenaran. Misalnya, dengan menyingkapkan kepalsuan agama—dusta yang begitu sering diajarkan tentang Allah, kehendak-Nya, dan Firman-Nya—kita memancarkan terang dalam dunia yang digelapkan oleh propaganda Setan. (Matius 5:14; Wahyu 12:9, 10) Kita membantu orang-orang terbebas dari perbudakan ajaran palsu, yang membuat mereka dihantui perasaan takut dan yang meracuni hubungan mereka dengan Allah. Sungguh luar biasa karena kita bisa menyaksikan penggenapan janji Yesus: ”Kebenaran itu akan membebaskan kalian”!—Yohanes 8:32.
Dia Menegakkan Keadilan dengan Berani
14, 15. (a) Apa salah satu cara Yesus membuat jelas ”artinya keadilan”? (b) Dengan berbicara kepada seorang wanita Samaria, prasangka apa saja yang tidak Yesus hiraukan?
14 Nubuat Alkitab mengatakan bahwa Mesias akan membuat jelas bagi bangsa-bangsa ”artinya keadilan”. (Matius 12:18; Yesaya 42:1) Sudah tentu, Yesus mulai melakukannya sewaktu berada di bumi. Dengan keberanian yang besar, dia selalu adil dan tidak berat sebelah sewaktu berurusan dengan orang-orang. Misalnya, dia tidak mau menerima pandangan penuh prasangka dan sikap fanatik yang tidak berdasarkan Alkitab sekalipun hal itu begitu merajalela dalam dunia di sekelilingnya.
15 Sewaktu Yesus berbicara dengan seorang wanita Samaria di sumur di Sikhar, murid-muridnya terkejut. Mengapa? Pada zaman itu, orang Yahudi pada umumnya sangat membenci orang Samaria; ketidaksenangan ini sudah tertanam lama sekali. (Ezra 4:4) Selain itu, beberapa rabi memiliki pandangan yang sangat meremehkan kaum wanita. Menurut kaidah para rabi, yang belakangan dibuat tertulis, pria tidak boleh berbicara dengan wanita; para rabi itu bahkan menyiratkan bahwa wanita tidak layak diajar Hukum Allah. Wanita Samaria khususnya dianggap najis. Yesus tidak menghiraukan prasangka yang tidak adil tersebut, tetapi terang-terangan mengajar wanita Samaria itu (yang kehidupannya amoral), bahkan menyingkapkan identitasnya sebagai Mesias kepada wanita itu.—Yohanes 4:5-27.
16. Mengapa orang Kristen membutuhkan keberanian untuk memiliki pendirian yang berbeda sehubungan dengan prasangka?
16 Pernahkah Saudara berada di antara orang-orang yang pikirannya penuh prasangka buruk? Barangkali mereka melontarkan lelucon yang menghina ras atau bangsa lain, meremehkan lawan jenis, atau menyepelekan orang-orang yang berbeda status ekonomi atau sosialnya. Para pengikut Kristus tidak bersimpati terhadap pandangan penuh kebencian tersebut, dan mereka berupaya keras memberantas prasangka apa pun yang masih tersisa dalam hati mereka sendiri. (Kisah 10:34) Kita masing-masing perlu memupuk keberanian untuk bersikap tidak berat sebelah dalam hal ini.
17. Apa tindakan Yesus di bait, dan mengapa?
17 Keberanian juga menggugah Yesus untuk memperjuangkan kebersihan umat Allah dan ibadah yang murni. Pada awal pelayanannya, dia masuk ke wilayah bait di Yerusalem dan terperangah sewaktu melihat para pedagang dan penukar uang berbisnis di sana. Dengan penuh kemarahan, Yesus mengusir orang-orang yang serakah itu dan melemparkan barang dagangan mereka ke luar. (Yohanes 2:13-17) Dia melakukan hal yang sama menjelang akhir pelayanannya. (Markus 11:15-18) Tindakannya ini pasti membuatnya dimusuhi beberapa orang yang berkuasa, tetapi dia tidak bimbang. Mengapa? Sejak kecil, dia menyebut bait sebagai rumah Bapaknya—dan dia serius. (Lukas 2:49) Pencemaran ibadah murni di sana merupakan ketidakadilan yang mustahil dia biarkan. Semangatnya memberinya keberanian untuk bertindak.
18. Bagaimana orang Kristen dapat memperlihatkan keberanian sehubungan dengan kebersihan sidang?
18 Para pengikut Kristus sekarang juga sangat memedulikan kebersihan umat Allah dan ibadah yang murni. Jika mereka melihat seorang rekan Kristen terlibat dalam perbuatan salah yang serius, mereka tidak menutup mata. Mereka dengan berani berbicara kepada orang itu atau kepada penatua. (1 Korintus 1:11) Mereka memastikan bahwa para penatua mengetahuinya. Para penatua dapat membantu orang yang sakit rohani dan juga bertindak untuk memastikan bahwa domba-domba Yehuwa tetap memiliki kedudukan yang bersih.—Yakobus 5:14, 15.
19, 20. (a) Ketidakadilan apa yang merajalela pada zaman Yesus, dan tekanan apa yang Yesus hadapi? (b) Mengapa para pengikut Kristus tidak mau terlibat dalam politik dan tindak kekerasan, dan apa salah satu upah untuk pendirian mereka?
19 Namun, dapatkah kita menyimpulkan bahwa Yesus memerangi ketidakadilan sosial di dunia pada umumnya? Tentulah ada banyak ketidakadilan di sekelilingnya. Negerinya sedang dijajah. Orang Romawi menindas orang Yahudi dengan kehadiran pasukan militer yang kuat, membebani mereka dengan pajak yang tinggi, bahkan mencampuri tata cara agama mereka. Tidak mengherankan jika banyak orang ingin agar Yesus terjun dalam kancah politik pada zamannya. (Yohanes 6:14, 15) Sekali lagi, dia butuh keberanian.
20 Yesus menjelaskan bahwa Kerajaannya bukan bagian dari dunia. Melalui teladannya, dia melatih para pengikutnya agar tidak terlibat dalam pertikaian politik kala itu, tetapi sebaliknya, berfokus pada pemberitaan kabar baik Kerajaan Allah. (Yohanes 17:16; 18:36) Dia memberikan pelajaran yang ampuh tentang kenetralan ketika gerombolan massa datang untuk menangkapnya. Petrus langsung beraksi, dengan spontan mengayunkan pedangnya dan mencederai seseorang. Mudah untuk bersimpati dengan Petrus. Tindak kekerasan apa pun pada malam itu tampaknya bisa dibenarkan karena Putra Allah sedang diserang padahal dia sama sekali tidak bersalah. Namun, pada saat itu Yesus menetapkan standar bagi para pengikutnya di bumi yang berlaku hingga sekarang, ”Masukkan pedangmu ke tempatnya, karena semua yang memakai pedang akan mati oleh pedang.” (Matius 26:51-54) Para pengikut Kristus pasti membutuhkan keberanian untuk mempertahankan pendirian yang suka damai pada masa itu, dan begitu pula sekarang. Berkat kenetralan Kristen mereka, umat Allah memiliki catatan yang bersih karena tidak pernah terlibat dalam perang, pembantaian massal, kerusuhan, dan aksi kekerasan serupa yang tak terhitung banyaknya pada zaman ini. Catatan yang luar biasa itu adalah salah satu upah untuk keberanian mereka.
Dia Menghadapi Tentangan dengan Berani
21, 22. (a) Bantuan apa yang Yesus terima sebelum menghadapi cobaannya yang terberat? (b) Bagaimana Yesus terbukti berani hingga akhir?
21 Putra Yehuwa sudah tahu jauh sebelumnya bahwa dia akan menghadapi tentangan yang hebat sewaktu berada di bumi. (Yesaya 50:4-7) Dia menghadapi banyak ancaman kematian, dan puncaknya adalah peristiwa yang disebutkan di awal pasal ini. Bagaimana Yesus bisa tetap berani sewaktu menghadapi bahaya tersebut? Nah, apa yang Yesus lakukan sebelum gerombolan itu datang untuk menangkapnya? Dia berdoa dengan sungguh-sungguh kepada Yehuwa. Dan, apa yang Yehuwa lakukan? Alkitab memberi tahu kita bahwa doa Yesus ”didengar”. (Ibrani 5:7) Yehuwa mengutus seorang malaikat dari langit untuk menguatkan Putra-Nya yang berani.—Lukas 22:42, 43.
22 Tak lama setelah dikuatkan, Yesus mengatakan kepada rasul-rasulnya, ”Berdirilah, ayo kita pergi.” (Matius 26:46) Pikirkan keberanian di balik kata-kata itu. ”Ayo kita pergi,” katanya, padahal dia tahu bahwa dia akan meminta gerombolan itu melepaskan sahabat-sahabatnya, tahu bahwa rekan-rekannya akan lari meninggalkannya, dan tahu bahwa dia akan sendirian menghadapi cobaan terberat dalam hidupnya. Seorang diri, dia menghadapi pengadilan yang ilegal dan tidak adil, ejekan, penyiksaan, dan kematian yang penuh penderitaan. Selama menghadapi semua itu, keberaniannya tidak pernah surut.
23. Jelaskan mengapa cara Yesus menghadapi bahaya dan ancaman kematian bukanlah tindakan yang nekat.
23 Apakah Yesus nekat? Tidak; kenekatan tidak ada kaitannya dengan keberanian sejati. Malah, Yesus mengajar para pengikutnya untuk berhati-hati, dengan bijaksana menghindari bahaya agar dapat terus melakukan kehendak Allah. (Matius 4:12; 10:16) Namun, dalam kasus ini, Yesus tahu bahwa dia tidak mungkin menghindar lagi. Dia tahu bahwa kehendak Allah tersangkut. Yesus bertekad untuk mempertahankan integritasnya, maka satu-satunya jalan adalah maju, menghadapi cobaan itu secara langsung.
Saksi-Saksi Yehuwa telah memperlihatkan keberanian sewaktu menghadapi penganiayaan
24. Mengapa kita dapat yakin bahwa kita bisa berani menghadapi cobaan apa pun yang mungkin timbul?
24 Betapa seringnya para pengikut Yesus dengan berani berjalan mengikuti jejak Majikan mereka! Banyak yang telah berdiri teguh sewaktu menghadapi ejekan, penganiayaan, penangkapan, pemenjaraan, penyiksaan, dan bahkan kematian. Dari mana manusia tidak sempurna mendapatkan keberanian tersebut? Itu tidak muncul dengan sendirinya. Sebagaimana Yesus menerima bantuan dari atas, begitu pula para pengikutnya. (Filipi 4:13) Jadi, jangan pernah takut terhadap apa yang mungkin akan terjadi. Bertekadlah untuk mempertahankan integritas Saudara, dan Yehuwa akan memberi Saudara keberanian yang dibutuhkan. Teruslah peroleh kekuatan dari teladan Pemimpin kita, Yesus, yang berkata, ”Tabahlah! Aku sudah menaklukkan dunia.”—Yohanes 16:33.
a Para sejarawan mengomentari bahwa makam para rabi dipuja-puja seperti halnya makam para nabi dan para leluhur bangsa Israel.
-
-
”Seluruh Harta Berupa Hikmat””Mari Jadilah Pengikutku”
-
-
PASAL LIMA
”Seluruh Harta Berupa Hikmat”
1-3. Apa latar khotbah yang Yesus sampaikan pada suatu hari di musim semi tahun 31 M, dan mengapa para pendengarnya terpukau?
PERISTIWANYA terjadi pada suatu hari di musim semi tahun 31 M. Yesus Kristus berada dekat Kapernaum, sebuah kota yang sibuk di pesisir barat-laut Laut Galilea. Di sebuah gunung tidak jauh dari sana, Yesus berdoa sendirian sepanjang malam. Keesokan paginya, dia memanggil murid-muridnya, dan dari antara mereka dia memilih 12 orang, yang dia sebut rasul-rasul. Sementara itu, kumpulan besar orang—sebagian datang dari jauh—telah mengikuti Yesus ke tempat ini dan berkumpul di tempat yang datar di gunung itu. Mereka ingin sekali mendengarkan Yesus dan disembuhkan dari penyakit mereka. Yesus tidak mengecewakan mereka.—Lukas 6:12-19.
2 Yesus mendekati kumpulan orang itu dan menyembuhkan semua yang sakit. Akhirnya, setelah tidak ada lagi yang merasa sakit karena penyakit yang serius, dia duduk dan mulai mengajar.a Kata-kata yang dia ucapkan pada hari yang cerah itu pastilah mengejutkan para pendengarnya. Faktanya, mereka belum pernah mendengar siapa pun mengajar seperti dia. Untuk menambah bobot pengajarannya, dia tidak mengutip tradisi lisan maupun kata-kata para rabi Yahudi yang terkenal. Sebaliknya, dia berulang kali mengutip Kitab-Kitab Ibrani yang terilham. Beritanya terus terang, kata-katanya sederhana, maknanya jelas. Setelah dia selesai, kumpulan orang itu terpukau. Sewajarnya demikian. Mereka baru saja mendengarkan pria paling berhikmat sepanjang masa!—Matius 7:28, 29.
”Kumpulan orang itu kagum dengan cara dia mengajar”
3 Khotbah itu serta banyak hal lain yang Yesus katakan dan lakukan dicatat dalam Firman Allah. Kita hendaknya menggali catatan terilham tentang Yesus itu, karena di dalam dia terdapat ”seluruh harta berupa hikmat”. (Kolose 2:3) Dari mana dia mendapatkan hikmat tersebut, yakni kesanggupan untuk menerapkan pengetahuan dan pengertian dengan cara yang praktis? Bagaimana dia memperlihatkan hikmat, dan bagaimana kita dapat mengikuti teladannya?
”Dari Mana Dia Mendapat Hikmat Seperti Ini?”
4. Pertanyaan apa yang diajukan para pendengar Yesus di Nazaret, dan mengapa?
4 Pada salah satu perjalanan pengabarannya, Yesus mengunjungi Nazaret, kota tempat dia dibesarkan, dan mulai mengajar di rumah ibadah di sana. Banyak pendengarnya takjub dan bertanya-tanya, ”Dari mana dia mendapat hikmat seperti ini?” Mereka kenal dengan keluarganya—orang tua dan adik-adiknya—dan mereka tahu bahwa dia berasal dari keluarga yang sederhana. (Matius 13:54-56; Markus 6:1-3) Mereka pasti juga tahu bahwa tukang kayu yang mahir ini tidak pernah mengikuti sekolah bergengsi bagi para rabi. (Yohanes 7:15) Jadi, pertanyaan mereka tampaknya wajar.
5. Yesus menyingkapkan bahwa hikmatnya berasal dari Sumber mana?
5 Hikmat yang Yesus perlihatkan bukan sekadar produk dari pikirannya yang sempurna. Belakangan dalam pelayanannya, sewaktu mengajar secara terbuka di bait, Yesus menyingkapkan bahwa hikmatnya berasal dari Sumber yang jauh lebih tinggi. ”Yang saya ajarkan bukan ajaran saya sendiri,” katanya, ”tapi ajaran Dia yang mengutus saya.” (Yohanes 7:16) Ya, hikmat Yesus bersumber dari Sang Bapak yang mengutus dia. (Yohanes 12:49) Namun, bagaimana Yesus mendapatkan hikmat dari Yehuwa?
6, 7. Dengan cara apa saja Yesus memperoleh hikmat dari Bapaknya?
6 Kuasa kudus Yehuwa bekerja dalam hati dan pikiran Yesus. Mengenai Yesus sebagai Mesias yang dijanjikan, Yesaya menubuatkan, ”Dia akan dipenuhi kuasa kudus Yehuwa. Karena itulah dia akan menjadi bijaksana, punya pengertian yang hebat, memberikan nasihat yang bagus, menjadi perkasa, punya banyak pengetahuan, dan sangat menghormati Yehuwa.” (Yesaya 11:2) Karena Yesus dipenuhi kuasa kudus Yehuwa, yang membimbing cara berpikir serta keputusannya, perlukah kita heran bahwa kata-kata dan tindakan Yesus mencerminkan hikmat yang unggul?
7 Yesus memperoleh hikmat dari Bapaknya dengan cara lain yang luar biasa. Seperti yang kita lihat di Pasal 2, selama eksistensi pramanusianya, yang lamanya tidak terbilang, Yesus memiliki kesempatan untuk menyerap cara berpikir Yehuwa tentang berbagai hal. Kita tidak dapat membayangkan betapa dalamnya hikmat yang diperoleh Putra di sisi Bapaknya, ketika bekerja keras sebagai ”pekerja ahli” Allah untuk menciptakan semua hal lain, makhluk hidup maupun benda mati. Sungguh beralasan bahwa selama eksistensi pramanusianya, Putra digambarkan sebagai hikmat yang dipersonifikasi. (Amsal 8:12, 22-31; Kolose 1:15, 16) Sepanjang pelayanannya, Yesus bisa memanfaatkan hikmat yang telah dia peroleh di sisi Bapaknya di surga.b (Yohanes 8:26, 28, 38) Jadi, kita tidak perlu heran apabila kata-kata Yesus mencerminkan pengetahuan yang luas serta pemahaman yang dalam dan apabila setiap perbuatannya menunjukkan pertimbangan yang masuk akal.
8. Sebagai pengikut Yesus, bagaimana kita bisa memperoleh hikmat?
8 Sebagai pengikut Yesus, kita pun perlu berpaling kepada Yehuwa sebagai Sumber hikmat. (Amsal 2:6) Tentu saja, Yehuwa tidak memberi kita hikmat melalui mukjizat. Namun, Dia menjawab ketika kita dengan sungguh-sungguh berdoa meminta hikmat yang dibutuhkan untuk berhasil mengatasi tantangan hidup. (Yakobus 1:5) Untuk memperoleh hikmat itu, kita perlu mengerahkan upaya yang besar. Kita perlu terus mencarinya ”seperti menggali harta terpendam”. (Amsal 2:1-6) Ya, kita perlu terus menggali jauh ke dalam Firman Allah, yang menyingkapkan hikmat-Nya, lalu menyelaraskan kehidupan kita menurut apa yang kita pelajari. Teladan Putra Yehuwa khususnya bermanfaat untuk membantu kita memperoleh hikmat. Marilah kita periksa dalam bidang apa saja Yesus memperlihatkan hikmat dan bagaimana kita dapat meniru dia.
Kata-Kata Hikmat
Hikmat Allah disingkapkan dalam Alkitab
9. Mengapa ajaran Yesus bisa demikian berhikmat?
9 Orang berbondong-bondong mendatangi Yesus hanya untuk mendengar dia berbicara. (Markus 6:31-34; Lukas 5:1-3) Hal itu tidak mengherankan karena setiap kali Yesus berbicara, yang terucap adalah kata-kata hikmat yang unggul! Ajarannya mencerminkan pengetahuan yang dalam akan Firman Allah dan kesanggupan yang tiada bandingannya untuk membidik inti permasalahan. Ajarannya memikat bagi siapa saja dan dapat diterapkan kapan saja. Perhatikan beberapa contoh hikmat yang terdapat dalam kata-kata Yesus, sang ’Penasihat Hebat’ yang telah dinubuatkan.—Yesaya 9:6.
10. Yesus mendesak kita untuk memupuk hal positif apa saja, dan mengapa?
10 Khotbah di Gunung, yang disebutkan di awal, adalah kumpulan terbesar ajaran Yesus yang tidak disela oleh narasi atau perkataan orang lain. Dalam khotbah itu, Yesus tidak sekadar menasihati kita untuk berupaya bertutur dan bertindak dengan patut. Nasihatnya jauh lebih dalam. Karena tahu bahwa kata-kata dan tindakan bersumber dari pikiran dan perasaan, Yesus mendesak kita untuk memupuk hal-hal positif dalam pikiran dan hati kita, seperti watak yang lembut, rasa lapar akan apa yang benar, kecenderungan untuk berbelaskasihan dan suka damai, serta kasih kepada orang lain. (Matius 5:5-9, 43-48) Kalau kita memupuk hal-hal itu dalam hati kita, hasilnya adalah tutur kata dan tingkah laku yang sehat, yang tidak hanya menyenangkan Yehuwa tetapi juga membina hubungan baik dengan sesama manusia.—Matius 5:16.
11. Sewaktu memberikan nasihat tentang perbuatan dosa, bagaimana Yesus membidik akar masalahnya?
11 Sewaktu memberikan nasihat tentang perbuatan dosa, Yesus membidik akar masalahnya. Dia tidak sekadar menyuruh kita menghindari tindak kekerasan. Sebaliknya, dia memperingatkan kita agar tidak membiarkan kemarahan membara dalam hati. (Matius 5:21, 22; 1 Yohanes 3:15) Dia tidak sekadar melarangkan perzinaan. Sebaliknya, dia memperingatkan tentang nafsu yang berawal di hati dan mengarah ke pengkhianatan tersebut. Dia mendesak kita agar tidak membiarkan mata kita membangkitkan hasrat yang tidak patut dan merangsang hawa nafsu. (Matius 5:27-30) Yesus membahas penyebabnya, bukan gejalanya. Dia mengupas sikap dan hasrat yang melahirkan perbuatan yang berdosa.—Mazmur 7:14.
12. Bagaimana para pengikut Yesus memandang nasihatnya, dan mengapa?
12 Sungguh luar biasa hikmat yang terdapat dalam kata-kata Yesus! Tidak heran, ”kumpulan orang itu kagum dengan cara dia mengajar”. (Matius 7:28) Sebagai pengikutnya, kita memandang nasihatnya yang berhikmat sebagai pola untuk menjalani kehidupan. Kita berupaya memupuk sifat-sifat positif yang dia anjurkan—termasuk belas kasihan, suka damai, dan kasih—karena tahu bahwa dengan cara itu kita membubuh dasar untuk tingkah laku yang saleh. Kita berupaya keras memberantas dari hati kita semua perasaan dan hasrat negatif yang dia peringatkan, seperti amarah yang sengit dan keinginan yang amoral, karena tahu bahwa langkah itu akan membantu kita menghindari perbuatan yang berdosa.—Yakobus 1:14, 15.
Jalan Hidup yang Diarahkan oleh Hikmat
13, 14. Apa yang memperlihatkan bahwa Yesus menggunakan pertimbangan yang baik sewaktu memilih haluan hidupnya?
13 Yesus memperlihatkan hikmat tidak hanya dalam kata-kata tetapi juga dalam perbuatan. Seluruh cara hidupnya—keputusannya, cara dia memandang diri sendiri, dan cara dia berurusan dengan orang lain—mempertunjukkan segi-segi hikmat yang indah. Perhatikan beberapa contoh yang memperlihatkan bahwa Yesus diarahkan oleh ’hikmat dan kemampuan berpikir’.—Amsal 3:21.
14 Hikmat mencakup pertimbangan yang masuk akal. Yesus menggunakan pertimbangan yang baik sewaktu memilih haluan hidupnya. Dapatkah Saudara bayangkan kehidupan seperti apa yang bisa dia peroleh—rumah yang bisa dia dirikan, bisnis yang bisa dia bangun, atau ketenaran duniawi yang bisa dia raih? Yesus tahu bahwa kehidupan yang dibaktikan untuk mengejar hal-hal itu ”sia-sia seperti mengejar angin”. (Pengkhotbah 4:4; 5:10) Haluan tersebut adalah kebodohan, lawan dari hikmat. Yesus memilih tetap hidup sederhana. Dia tidak berminat mencari uang atau menimbun harta. (Matius 8:20) Selaras dengan ajarannya, dia menjaga matanya tetap terfokus pada satu tujuan—melakukan kehendak Allah. (Matius 6:22) Dengan bijaksana, Yesus membaktikan waktu dan energinya untuk kepentingan Kerajaan, yang jauh lebih penting dan memuaskan ketimbang hal-hal materi. (Matius 6:19-21) Dengan demikian, dia meninggalkan teladan yang patut ditiru.
15. Bagaimana para pengikut Yesus dapat mempertunjukkan bahwa mereka menjaga mata tetap sederhana, dan mengapa ini adalah haluan hikmat?
15 Para pengikut Yesus sekarang ini melihat betapa bijaksananya menjaga mata tetap sederhana. Dengan demikian, mereka terhindar dari beban utang yang tidak perlu dan kesibukan duniawi yang menyita terlalu banyak perhatian serta energi mereka. (1 Timotius 6:9, 10) Banyak yang telah mengambil langkah-langkah guna menyederhanakan gaya hidup sehingga mereka dapat membaktikan lebih banyak waktu untuk pelayanan Kristen, bahkan melayani sebagai pemberita Kerajaan sepenuh waktu. Sama sekali tidak ada haluan lain yang lebih bijaksana, karena menomorsatukan kepentingan Kerajaan menghasilkan kebahagiaan dan kepuasan yang terbesar.—Matius 6:33.
16, 17. (a) Dengan cara apa saja Yesus mempertunjukkan bahwa dia sadar diri dan realistis tentang apa yang dia harapkan dari dirinya? (b) Bagaimana kita bisa memperlihatkan bahwa kita sadar diri dan realistis tentang apa yang kita harapkan dari diri kita sendiri?
16 Alkitab mengaitkan hikmat dengan sikap sadar diri, yang mencakup menyadari keterbatasan kita. (Amsal 11:2) Yesus bersikap sadar diri dan realistis tentang apa yang dia harapkan dari dirinya. Dia tahu bahwa dia tidak akan menobatkan setiap orang yang mendengar beritanya. (Matius 10:32-39) Dia juga sadar bahwa orang yang dapat dia kabari secara langsung jumlahnya terbatas. Jadi, dia dengan bijaksana memercayakan pekerjaan membuat murid kepada para pengikutnya. (Matius 28:18-20) Dia dengan sadar diri mengakui bahwa mereka akan ”melakukan pekerjaan yang lebih hebat” daripada pekerjaannya, karena mereka akan menjangkau lebih banyak orang di daerah yang lebih luas dan untuk waktu yang lebih lama. (Yohanes 14:12) Yesus juga mengakui bahwa dia bukannya tidak membutuhkan bantuan. Dia menerima bantuan para malaikat yang datang untuk melayani dia di padang belantara dan malaikat yang datang untuk menguatkan dia di Getsemani. Pada saat dia paling membutuhkan bantuan, Putra Allah berseru memintanya.—Matius 4:11; Lukas 22:43; Ibrani 5:7.
17 Kita pun perlu bersikap sadar diri dan realistis tentang apa yang kita harapkan dari diri kita sendiri. Kita tentu ingin bekerja sepenuh jiwa dan mengerahkan diri sekuat-kuatnya dalam pekerjaan mengabar dan membuat murid. (Lukas 13:24; Kolose 3:23) Namun, kita juga perlu ingat bahwa Yehuwa tidak membanding-bandingkan kita dengan orang lain, dan kita pun hendaknya tidak melakukannya. (Galatia 6:4) Hikmat praktis akan membantu kita menetapkan tujuan-tujuan yang realistis sesuai dengan kesanggupan dan keadaan kita. Selain itu, hikmat akan membimbing para pengemban tanggung jawab untuk mengakui bahwa mereka memiliki keterbatasan dan sewaktu-waktu membutuhkan bantuan serta dukungan. Sikap sadar diri akan memungkinkan mereka menyambut bantuan dengan tangan terbuka, menyadari bahwa Yehuwa bisa menggunakan rekan seiman untuk ”menjadi sumber penghiburan bagi” mereka.—Kolose 4:11.
18, 19. (a) Apa yang memperlihatkan bahwa Yesus bersikap masuk akal dan positif sewaktu berurusan dengan murid-muridnya? (b) Mengapa kita memiliki alasan yang kuat untuk bersikap positif dan masuk akal sewaktu berurusan dengan satu sama lain, dan bagaimana caranya?
18 ”Hikmat dari atas . . . membuat seseorang . . . bersikap masuk akal,” kata Yakobus 3:17. Yesus bersikap masuk akal dan positif sewaktu berurusan dengan murid-muridnya. Dia tahu betul kesalahan mereka, tetapi ia melihat hal-hal baik dalam diri mereka. (Yohanes 1:47) Dia tahu bahwa mereka akan meninggalkan dia pada malam dia ditangkap, tetapi dia tidak meragukan kesetiaan mereka. (Matius 26:31-35; Lukas 22:28-30) Tiga kali Petrus menyangkal mengenal Yesus. Namun, Yesus membuat permohonan demi Petrus dan menyatakan keyakinan akan kesetiaannya. (Lukas 22:31-34) Pada malam terakhir kehidupannya di bumi, dalam doa kepada Bapaknya, Yesus tidak berfokus pada kekeliruan murid-muridnya. Sebaliknya, dia berbicara dengan positif tentang haluan mereka hingga malam itu, katanya, ”Mereka sudah menjalankan firman-Mu.” (Yohanes 17:6) Sekalipun mereka tidak sempurna, dia memercayakan pekerjaan pemberitaan Kerajaan dan membuat murid di bumi ke tangan mereka. (Matius 28:19, 20) Keyakinan dan iman yang dia nyatakan akan diri mereka pastilah menguatkan mereka untuk melaksanakan pekerjaan yang telah dia perintahkan.
19 Para pengikut Yesus memiliki alasan untuk meniru teladannya dalam hal ini. Jika Putra Allah yang sempurna dengan sabar berurusan dengan murid-muridnya yang tidak sempurna, terlebih lagi kita sebagai manusia berdosa seharusnya bersikap masuk akal sewaktu berurusan dengan satu sama lain! (Filipi 4:5) Ketimbang berfokus pada kelemahan rekan-rekan seiman, kita hendaknya mencari hal-hal baik dalam diri mereka. Kita hendaknya ingat bahwa Yehuwa telah menarik mereka. (Yohanes 6:44) Jadi, Dia pasti melihat sesuatu yang baik dalam diri mereka, dan kita pun seharusnya melihatnya. Sikap tersebut akan membantu kita untuk tidak hanya ”mengabaikan kesalahan”, tetapi juga mencari hal-hal yang dapat kita puji dalam diri orang lain. (Amsal 19:11) Sewaktu kita menyatakan keyakinan akan saudara-saudari Kristen kita, kita membantu mereka melayani Yehuwa sebisa-bisanya dan menikmati sukacita dalam pelayanan.—1 Tesalonika 5:11.
20. Apa yang hendaknya kita lakukan dengan harta hikmat yang terdapat dalam catatan Injil, dan mengapa?
20 Catatan Injil tentang kehidupan dan pelayanan Yesus benar-benar merupakan harta berupa hikmat! Apa yang harus kita lakukan dengan karunia yang tak ternilai ini? Pada penutup Khotbah di Gunung, Yesus mendesak para pendengarnya untuk tidak sekadar mendengar kata-katanya yang bijaksana, tetapi juga melakukan, atau menerapkannya. (Matius 7:24-27) Dengan membentuk cara berpikir, motivasi, dan tindakan kita menurut kata-kata dan perbuatan Yesus yang berhikmat, kita akan menemukan kehidupan yang terbaik sekarang juga dan tetap berada di jalan menuju kehidupan abadi. (Matius 7:13, 14) Pastilah, tidak ada jalan hidup yang lebih baik atau lebih bijaksana!
a Ceramah yang Yesus sampaikan pada hari itu belakangan dikenal sebagai Khotbah di Gunung. Seperti dicatat di Matius 5:3–7:27, khotbah itu terdiri dari 107 ayat dan agaknya dapat disampaikan hanya dalam waktu kira-kira 20 menit.
b Tampaknya, sewaktu ”langit terbuka” ketika Yesus dibaptis, ingatan tentang eksistensi pramanusianya dipulihkan.—Matius 3:13-17.
-
-
”Dia Belajar Ketaatan””Mari Jadilah Pengikutku”
-
-
PASAL ENAM
”Dia Belajar Ketaatan”
1, 2. Mengapa seorang ayah yang pengasih senang melihat putranya menaati dia, dan bagaimana perasaannya sama dengan perasaan Yehuwa?
SEORANG ayah sedang berdiri dekat jendela, mengamati putranya bermain dengan teman-temannya. Bola mereka melambung ke luar pekarangan dan berhenti di tengah jalan. Mata putranya terpaku pada bola itu. Salah satu temannya mendesak dia untuk lari ke jalan dan mengambil bola itu, tapi dia menggelengkan kepalanya. ”Aku tidak boleh main di jalan,” katanya. Sang ayah tersenyum.
2 Mengapa sang ayah begitu senang? Karena dia telah mengajar putranya agar tidak bermain-main di jalan. Sewaktu anak itu taat—sekalipun dia tidak tahu bahwa ayahnya sedang mengamatinya—sang ayah tahu bahwa putranya sedang belajar ketaatan dan alhasil sang putra lebih aman. Itulah yang juga dirasakan oleh Bapak surgawi kita, Yehuwa. Allah tahu bahwa agar kita bisa tetap setia dan menyaksikan masa depan menakjubkan yang Dia sediakan bagi kita, kita harus belajar memercayai dan menaati-Nya. (Amsal 3:5, 6) Untuk itu, Dia mengutus guru yang paling baik bagi kita.
3, 4. Bagaimana Yesus ”belajar ketaatan” dan ”menjadi sempurna”? Berikan ilustrasi.
3 Alkitab mengatakan suatu hal yang menakjubkan tentang Yesus: ”Meskipun dia adalah putra, dia belajar ketaatan dari hal-hal yang dia derita. Setelah menjadi sempurna, dia bertanggung jawab untuk memberikan keselamatan abadi kepada semua orang yang menaati dia.” (Ibrani 5:8, 9) Putra ini telah hidup selama waktu yang tak terbilang di surga. Dia melihat Setan dan malaikat pemberontak lainnya tidak taat, tetapi Putra sulung ini tidak pernah ikut-ikutan. Nubuat terilham menerapkan kata-kata ini pada dia, ”Aku tidak memberontak.” (Yesaya 50:5) Kalau begitu, bagaimana kata-kata ”dia belajar ketaatan” berlaku atas Putra yang ketaatannya sudah sempurna ini? Bagaimana makhluk yang sudah sempurna bisa ”menjadi sempurna”?
4 Perhatikan sebuah ilustrasi. Seorang prajurit memiliki sebilah pedang besi. Meskipun belum pernah teruji dalam pertempuran, pedang itu sempurna buatannya dan indah rancangannya. Namun, prajurit itu menukarnya dengan pedang dari baja pejal yang lebih kuat. Pedang yang baru itu telah teruji di medan tempur. Bukankah itu pertukaran yang bijak? Demikian pula, ketaatan yang Yesus perlihatkan sebelum dia datang ke bumi memang tanpa cacat. Tetapi, setelah tinggal di sini selama beberapa waktu, mutu ketaatannya sudah jauh berbeda. Ketaatannya telah teruji bagaikan baja pejal dan telah terbukti melalui cobaan-cobaan yang tidak akan pernah Yesus hadapi di surga.
5. Mengapa ketaatan Yesus sangat penting, dan apa yang akan kita ulas dalam pasal ini?
5 Ketaatan sangat penting dalam misi Yesus di bumi. Sebagai ”Adam yang terakhir”, Yesus datang untuk melakukan apa yang gagal dilakukan oleh orang tua pertama kita—tetap taat kepada Allah Yehuwa, bahkan di bawah ujian. (1 Korintus 15:45) Namun, ketaatan Yesus tidak bersifat mekanis. Yesus taat dengan segenap pikiran, hati, dan jiwanya. Dan, dia melakukannya dengan bersukacita. Baginya, melakukan kehendak Bapak lebih penting daripada makan! (Yohanes 4:34) Apa yang akan membantu kita meniru ketaatan Yesus? Pertama-tama, marilah kita ulas motifnya. Dengan memupuk motif seperti yang dia miliki, kita akan dibantu menolak godaan dan melaksanakan kehendak Allah. Lalu, kita akan meninjau beberapa hal yang dihasilkan karena memperlihatkan ketaatan seperti Kristus.
Motif di Balik Ketaatan Yesus
6, 7. Apa beberapa motif di balik ketaatan Yesus?
6 Ketaatan Yesus bersumber dari sifat-sifat dalam hatinya. Seperti yang kita lihat di Pasal 3, Kristus rendah hati. Keangkuhan membuat orang meremehkan ketaatan, sedangkan kerendahan hati membantu kita menaati Yehuwa dengan rela. (Keluaran 5:1, 2; 1 Petrus 5:5, 6) Selain itu, ketaatan Yesus timbul dari apa yang dia kasihi dan dari apa yang dia benci.
7 Di atas segalanya, Yesus mengasihi Bapak surgawinya, Yehuwa. Kasih itu akan dibahas secara lebih panjang lebar di Pasal 13. Dari kasih itu berkembanglah rasa takut akan Allah dalam diri Yesus. Sedemikian kuat kasihnya kepada Yehuwa, sedemikian dalam rasa hormatnya, sehingga dia takut membuat Bapaknya tidak senang. Takut akan Allah merupakan salah satu alasan mengapa doa-doa Yesus didengar. (Ibrani 5:7) Takut akan Yehuwa juga merupakan ciri menonjol pemerintahan Yesus sebagai Raja yang dilantik Yehuwa.—Yesaya 11:3.
Apakah hiburan yang Saudara pilih memperlihatkan bahwa Saudara membenci apa yang buruk?
8, 9. Seperti dinubuatkan, bagaimana perasaan Yesus tentang apa yang benar dan apa yang jahat, dan bagaimana dia menunjukkan perasaan itu?
8 Kasih akan Yehuwa juga mencakup membenci apa yang Yehuwa benci. Misalnya, perhatikan nubuat ini, yang ditujukan kepada sang Raja dan Mesias: ”Kamu mencintai apa yang benar dan membenci kejahatan. Itu sebabnya Allah, Allahmu, telah melantikmu dengan minyak, dan membuatmu lebih bahagia daripada raja-raja lain.” (Mazmur 45:7) ”Raja-raja lain” memaksudkan raja-raja lain dalam garis keturunan Raja Daud. Lebih dari mereka semua, Yesus memiliki alasan untuk sangat bersukacita atas pelantikannya. Mengapa? Upahnya jauh melebihi upah mereka, pemerintahannya mendatangkan manfaat yang tidak terbatas. Dia diupahi karena kasihnya akan apa yang benar dan kebenciannya terhadap apa yang jahat menggerakkan dia untuk menaati Allah dalam segala sesuatu.
9 Bagaimana Yesus menunjukkan perasaannya tentang apa yang benar dan apa yang jahat? Misalnya, sewaktu para pengikutnya menaati pengarahannya dalam pekerjaan pengabaran dan menuai hasil-hasil yang bagus, bagaimana reaksi Yesus? Sukacitanya melimpah. (Lukas 10:1, 17, 21) Dan, sewaktu penduduk Yerusalem berulang kali memperlihatkan semangat memberontak, menolak upayanya yang pengasih untuk membantu mereka, bagaimana perasaan Yesus? Dia menangis karena pemberontakan kota itu. (Lukas 19:41, 42) Tingkah laku yang baik dan yang buruk memengaruhi perasaan Yesus secara mendalam.
10. Perasaan apa yang perlu kita pupuk sehubungan dengan perbuatan yang benar dan tindakan yang salah, dan apa yang akan membantu kita memupuknya?
10 Dengan merenungkan perasaan Yesus, kita dibantu memeriksa motif di balik ketaatan kita sendiri kepada Yehuwa. Sekalipun tidak sempurna, kita dapat memupuk kasih yang sepenuh hati akan perbuatan baik dan kebencian yang sungguh-sungguh terhadap tingkah laku yang salah. Kita perlu berdoa kepada Yehuwa, meminta-Nya membantu kita memupuk perasaan seperti yang dimiliki Dia dan Putra-Nya. (Mazmur 51:10) Pada saat yang sama, kita perlu menghindari pengaruh yang akan mengikis perasaan itu. Sangat penting agar kita berhati-hati memilih hiburan dan teman bergaul. (Amsal 13:20; Filipi 4:8) Jika kita memupuk motif seperti motif Kristus, ketaatan kita tidak akan bersifat formalitas belaka. Kita akan melakukan apa yang benar karena kita senang melakukannya. Kita akan menghindari perbuatan yang salah, bukan karena takut ketahuan, melainkan karena kita membencinya.
”Dia Tidak Berbuat Dosa”
11, 12. (a) Peristiwa apa yang Yesus alami pada awal pelayanannya? (b) Apa godaan pertama yang Setan lancarkan kepada Yesus, dan taktik licik apa yang dia gunakan?
11 Kebencian Yesus terhadap dosa telah diuji pada awal pelayanannya. Setelah dibaptis, dia tinggal di padang belantara selama 40 hari dan 40 malam tanpa makanan. Pada akhir periode itu, Setan datang untuk menggoda dia. Perhatikan betapa liciknya si Iblis.—Matius 4:1-11.
12 Pertama-tama, Setan mengatakan, ”Kalau kamu putra Allah, suruh batu-batu ini menjadi roti.” (Matius 4:3) Apa yang Yesus rasakan setelah lama berpuasa? Alkitab mengatakan, ”Dia merasa lapar.” (Matius 4:2) Jadi, Setan memanfaatkan hasrat alami akan makanan, pastilah sengaja menunggu hingga kondisi fisik Yesus lemah. Perhatikan juga tantangan Setan: ”Kalau kamu putra Allah.” Padahal, Setan tahu bahwa Yesus adalah ”ciptaan yang sulung”. (Kolose 1:15, catatan kaki.) Sekalipun demikian, Yesus tidak membiarkan Setan memancingnya untuk tidak taat. Yesus tahu bahwa Allah tidak ingin dia menggunakan kuasanya untuk tujuan yang mementingkan diri. Dia tidak mau melakukannya. Dengan demikian, dia memperlihatkan bahwa dia dengan rendah hati bersandar kepada Yehuwa untuk memperoleh makanan dan pengarahan.—Matius 4:4.
13-15. (a) Bagaimana Setan menggoda Yesus untuk kedua dan ketiga kalinya, dan apa reaksi Yesus? (b) Bagaimana kita tahu bahwa Yesus tidak boleh lengah sekejap pun terhadap Setan?
13 Untuk godaannya yang kedua, Setan membawa Yesus ke tempat yang tinggi di pagar tembok di atap bait. Dengan lihai Setan memutarbalikkan Firman Allah, menggoda Yesus untuk memamerkan kehebatannya dengan menjatuhkan diri dari tempat tinggi itu agar malaikat-malaikat datang menyelamatkannya. Jika kumpulan orang di bait menyaksikan mukjizat itu, pasti tidak seorang pun bakal berani meragukan bahwa Yesus adalah Mesias yang dijanjikan, bukan? Dan, jika kumpulan orang itu memercayai Yesus sebagai Mesias berdasarkan pertunjukan itu, Yesus boleh jadi akan terhindar dari banyak kesukaran dan masalah, bukan? Mungkin saja. Tetapi, Yesus tahu bahwa Yehuwa menghendaki Mesias melaksanakan pekerjaannya dengan cara yang sederhana, bukan memengaruhi orang untuk memercayainya melalui pertunjukan yang spektakuler. (Yesaya 42:1, 2) Sekali lagi, Yesus tidak mau melawan kehendak Yehuwa. Dia tidak tergiur oleh kemasyhuran.
14 Namun, bagaimana dengan daya tarik kekuasaan? Dalam upayanya yang ketiga, Setan menawari Yesus semua kerajaan dunia jika Yesus mau melakukan satu saja tindakan penyembahan kepada Setan. Apakah dia sudi mempertimbangkan tawaran Setan? ”Pergi, Setan!” jawabnya. Dia menambahkan, ”Ada tertulis, ’Yang harus kamu sembah adalah Yehuwa Allahmu, dan bagi Dia saja kamu harus melakukan pelayanan suci.’” (Matius 4:10) Tidak ada yang bisa membuat Yesus menyembah allah lain. Tidak satu pun tawaran berupa kekuasaan atau pengaruh dalam dunia ini yang bisa membujuknya untuk tidak taat dengan cara apa pun.
15 Apakah Setan menyerah? Dia memang pergi atas perintah Yesus. Namun, Injil Lukas mengatakan bahwa Iblis ”meninggalkan dia dan menunggu kesempatan lain yang tepat”. (Lukas 4:13) Ya, Setan akan mencari kesempatan lain untuk menguji dan menggoda Yesus hingga akhir. Alkitab memberi tahu kita bahwa Yesus ”diuji dalam segala hal”. (Ibrani 4:15) Jadi, Yesus tidak boleh lengah sekejap pun; begitu pula kita.
16. Bagaimana Setan menggoda hamba-hamba Allah sekarang ini, dan bagaimana kita bisa menolak upayanya?
16 Setan masih terus menggoda hamba-hamba Allah sekarang ini. Sayangnya, akibat ketidaksempurnaan, kita sering kali menjadi sasaran empuk. Dengan lihai Setan memanfaatkan kecenderungan kita untuk mementingkan diri, sombong, dan haus akan kekuasaan. Melalui umpan materialisme, Setan bahkan bisa memanfaatkan semuanya sekaligus! Sungguh penting untuk secara berkala memeriksa diri kita dengan jujur. Kita hendaknya merenungkan kata-kata di 1 Yohanes 2:15-17. Sembari melakukannya, kita bisa menanyai diri apakah hingga taraf tertentu keinginan tubuh yang berdosa, kerinduan akan hal materi, dan keinginan untuk membuat orang lain terkesan telah mengikis kasih kita kepada Bapak surgawi kita. Kita perlu ingat bahwa dunia ini sedang berlalu, seperti penguasanya, Setan. Semoga kita menolak upaya-upayanya yang licik untuk membujuk kita agar berdosa! Semoga kita terinspirasi oleh Majikan kita, karena ”dia tidak berbuat dosa”.—1 Petrus 2:22.
”Saya Selalu Melakukan Hal-Hal yang Menyenangkan Dia”
17. Bagaimana perasaan Yesus tentang hal menaati Bapaknya, tetapi sanggahan apa yang mungkin diajukan beberapa orang?
17 Ketaatan mencakup lebih dari sekadar menjauhi dosa; Kristus aktif melaksanakan setiap perintah Bapaknya. Dia menyatakan, ”Saya selalu melakukan hal-hal yang menyenangkan Dia.” (Yohanes 8:29) Ketaatan ini membuat Yesus sangat bersukacita. Memang, ada yang mungkin menyanggah bahwa mudah saja bagi Yesus untuk taat. Mereka mungkin menyangka bahwa dia hanya perlu menaati Yehuwa, yang sempurna, sedangkan kita sering kali harus menaati manusia-manusia tidak sempurna yang berwenang. Namun, kenyataannya Yesus dahulu taat kepada manusia-manusia tidak sempurna yang berwenang.
18. Semasa kanak-kanak, teladan apa yang Yesus berikan dalam soal ketaatan?
18 Semasa kanak-kanak, Yesus berada di bawah wewenang orang tuanya yang tidak sempurna, Yusuf dan Maria. Agaknya, tidak seperti anak-anak pada umumnya, dia dapat dengan lebih jelas melihat kelemahan orang tuanya. Apakah dia lantas memberontak, melangkahi peranan yang Allah berikan kepadanya dan memberi tahu mereka cara mengurus keluarga? Perhatikan kata-kata Lukas 2:51 tentang Yesus yang berusia 12 tahun: ”Dia terus tunduk kepada mereka.” Dalam soal ketaatan, dia memberikan teladan yang sangat bagus bagi kaum muda Kristen, yang berjuang untuk menaati orang tua mereka dan memperlihatkan respek yang sepatutnya.—Efesus 6:1, 2.
19, 20. (a) Tantangan unik apa yang Yesus hadapi dalam hal menaati manusia tidak sempurna? (b) Mengapa orang Kristen sejati sekarang ini hendaknya menaati para pengemban tanggung jawab di sidang?
19 Dalam hal menaati manusia tidak sempurna, Yesus menghadapi tantangan yang tidak bakal dihadapi orang Kristen sejati sekarang ini. Pikirkan keunikan masa hidupnya. Kala itu, sistem agama Yahudi, dengan baitnya di Yerusalem dan keimamannya, telah diperkenan Yehuwa untuk waktu yang lama tetapi akan segera disingkirkan dan digantikan dengan sidang Kristen. (Matius 23:33-38) Sementara itu, banyak pemimpin agama mengajarkan kepalsuan yang diambil dari filsafat Yunani. Di bait, kebejatan sedemikian merajalela sampai-sampai Yesus menjulukinya ”gua perampok”. (Markus 11:17) Apakah Yesus menjauhi bait dan rumah ibadah? Tidak! Yehuwa masih menggunakan pengaturan itu. Hingga tiba saatnya Allah turun tangan dan membuat perubahan, Yesus dengan taat menghadiri perayaan di bait dan pergi ke rumah ibadah.—Lukas 4:16; Yohanes 5:1.
20 Jika Yesus saja taat di bawah keadaan itu, terlebih lagi kita, orang Kristen sejati sekarang ini hendaknya tetap taat! Bukankah kita hidup pada masa yang jauh berbeda, yakni era pemulihan ibadah murni yang telah lama dinubuatkan? Allah meyakinkan kita bahwa Dia tidak akan pernah membiarkan Setan merusak umat-Nya yang telah dipulihkan. (Yesaya 2:1, 2; 54:17) Memang, masih ada dosa dan ketidaksempurnaan dalam sidang Kristen. Tetapi, haruskah kita menjadikan kegagalan orang lain sebagai dalih untuk tidak menaati Yehuwa, barangkali dengan tidak mau berhimpun atau dengan bersikap kritis terhadap para penatua? Jangan sekali-kali! Sebaliknya, kita dengan sepenuh hati mendukung para pengemban tanggung jawab di sidang. Dengan taat kita menghadiri perhimpunan serta pertemuan dan menerapkan nasihat Alkitab yang kita terima di sana.—Ibrani 10:24, 25; 13:17.
Dengan taat kita menerapkan apa yang kita pelajari di perhimpunan
21. Bagaimana Yesus menanggapi tekanan dari manusia untuk tidak menaati Allah, dan bagaimana dia menjadi teladan bagi kita?
21 Yesus tidak pernah membiarkan seorang pun, bahkan sahabat yang berniat baik, membuat dia tidak menaati Yehuwa. Misalnya, Rasul Petrus mencoba meyakinkan Majikannya bahwa dia tidak perlu menderita dan mati. Yesus dengan tegas menolak nasihat Petrus yang berniat baik tetapi salah arah agar Yesus berbaik hati kepada dirinya sendiri. (Matius 16:21-23) Sekarang ini, para pengikut Yesus sering kali menghadapi kerabat yang dengan niat baik mungkin mencoba membujuk mereka agar tidak menaati hukum dan prinsip Allah. Seperti para pengikut Yesus pada abad pertama, pendirian kita adalah: ”Kami harus lebih taat kepada Allah sebagai penguasa kami daripada kepada manusia.”—Kisah 5:29.
Upah Karena Taat Seperti Kristus
22. Yesus memberikan jawaban atas pertanyaan apa, dan bagaimana?
22 Sewaktu Yesus menghadapi kematian, ketaatannya diuji dengan cara yang terberat. Pada hari yang suram itu, ”dia belajar ketaatan” dalam makna sepenuhnya. Dia melakukan kehendak Bapaknya, bukan kehendaknya sendiri. (Lukas 22:42) Dengan cara itu, dia menorehkan catatan integritas yang sempurna. (1 Timotius 3:16) Dia menyediakan jawaban atas pertanyaan yang telah lama diajukan: Dapatkah manusia sempurna tetap taat kepada Yehuwa sekalipun diuji? Adam gagal, begitu pula Hawa. Lalu, Yesus datang. Dia hidup, mati, dan memberikan jawaban telak. Tokoh terbesar di antara semua ciptaan Yehuwa memberikan jawaban yang paling jitu. Dia taat sekalipun harus membuat pengorbanan yang begitu besar.
23-25. (a) Bagaimana ketaatan berkaitan dengan integritas? Berikan ilustrasi. (b) Pokok apa yang akan diulas di pasal berikut?
23 Integritas, atau pengabdian sepenuh hati kepada Yehuwa, dinyatakan melalui ketaatan. Karena taat, Yesus mempertahankan integritasnya dan mendatangkan manfaat bagi seluruh umat manusia. (Roma 5:19) Yehuwa memberkati Yesus dengan limpah. Jika kita menaati Majikan kita, Kristus, Yehuwa pun akan memberkati kita. Ketaatan kepada Kristus menghasilkan ”keselamatan abadi”!—Ibrani 5:9.
24 Selain itu, integritas sendiri merupakan berkat. Amsal 10:9 (catatan kaki) mengatakan, ”Orang yang berintegritas akan berjalan dengan aman.” Jika integritas dapat diibaratkan dengan rumah besar yang terbuat dari batu-batu bata pilihan, setiap tindakan ketaatan dapat disamakan dengan satu bata. Satu bata mungkin tampak tidak berarti, tetapi setiap bata memiliki tempat dan nilai. Apabila banyak bata digabungkan, berdirilah sesuatu yang jauh lebih besar nilainya. Apabila tindakan-tindakan ketaatan disatukan, ditambahkan satu demi satu, hari demi hari, tahun demi tahun, kita membangun integritas bagaikan rumah yang indah.
25 Haluan ketaatan yang ditempuh selama waktu yang lama mengingatkan kita akan sifat lain—ketekunan. Aspek itu dari teladan Yesus merupakan pokok yang akan diulas di pasal berikut.
-
-
’Pikirkan Baik-Baik tentang Dia yang Bertekun’”Mari Jadilah Pengikutku”
-
-
PASAL TUJUH
’Pikirkan Baik-Baik tentang Dia yang Bertekun’
1-3. (a) Seberapa hebatkah penderitaan Yesus di Taman Getsemani, dan apa penyebabnya? (b) Apa yang dapat dikomentari tentang teladan ketekunan Yesus, dan pertanyaan apa saja yang timbul?
TEKANANNYA sungguh hebat. Belum pernah Yesus mengalami penderitaan mental dan emosi seberat itu. Kehidupannya di bumi tinggal beberapa jam lagi. Bersama rasul-rasulnya, dia pergi ke Taman Getsemani, yang sudah sering mereka kunjungi. Namun, malam itu dia perlu menyendiri beberapa waktu. Setelah meninggalkan rasul-rasulnya, dia masuk lebih jauh ke taman itu, dan sambil berlutut, dia mulai berdoa. Dia berdoa dengan begitu khusyuk dan merasakan penderitaan yang begitu dalam sampai-sampai keringatnya menjadi ”seperti darah yang menetes ke tanah”.—Lukas 22:39-44.
2 Mengapa Yesus begitu susah hati? Memang, dia tahu bahwa sebentar lagi dia harus menghadapi penderitaan fisik yang ekstrem, tetapi bukan itu alasan di balik penderitaan batinnya. Ada hal-hal yang jauh lebih penting yang membebaninya. Dia sangat mengkhawatirkan reputasi Bapaknya dan sadar bahwa masa depan keluarga manusia bergantung pada apakah dia akan tetap setia atau tidak. Yesus tahu bahwa ketekunannya sangat penting. Kalau sampai gagal, dia akan mendatangkan celaan besar atas nama Yehuwa. Tetapi, Yesus tidak gagal. Belakangan pada hari itu, beberapa saat sebelum mengembuskan napas terakhirnya, pria yang telah menetapkan teladan ketekunan terbaik di bumi itu berseru penuh kemenangan, ”Sudah selesai!”—Yohanes 19:30.
3 Alkitab mendesak kita, ’Pikirkan baik-baik tentang dia [Yesus] yang bertekun.’ (Ibrani 12:3) Maka, timbul beberapa pertanyaan yang penting: Apa saja cobaan yang Yesus hadapi? Mengapa dia bisa bertekun? Bagaimana kita bisa mengikuti teladannya? Namun, sebelum kita menjawabnya, mari kita bahas apa arti ketekunan.
Apa Ketekunan Itu?
4, 5. (a) Apa arti ”ketekunan”? (b) Bagaimana kita dapat menjelaskan bahwa bertekun tidak sekadar berarti mengalami kesukaran yang tidak terelakkan?
4 Adakalanya, kita semua ”harus menderita berbagai cobaan”. (1 Petrus 1:6) Apakah fakta bahwa kita mengalami cobaan dengan sendirinya berarti kita sudah bertekun? Tidak. Kata benda dalam bahasa Yunani untuk ”ketekunan” berarti ”kesanggupan untuk bertahan atau tegar menghadapi kesulitan”. Mengenai jenis ketekunan yang dimaksudkan oleh para penulis Alkitab, seorang pakar menjelaskan, ”[Ketekunan] adalah suatu sifat yang dengannya seseorang dapat menanggung sesuatu, bukan dengan pasrah, melainkan dengan harapan yang membara. . . . Sifat ini membuat seseorang tetap tegar menghadapi prahara. Sifat ini merupakan suatu kebajikan yang dapat mengubah cobaan yang paling sulit menjadi sesuatu yang mulia karena orang yang memiliki sifat ini dapat melihat tujuan di balik kepedihan.”
5 Jadi, bertekun tidak sekadar berarti mengalami kesukaran yang tidak terelakkan. Dalam Alkitab, ketekunan mencakup keadaan kukuh, mempertahankan sikap mental yang benar dan sudut pandangan yang optimistis kala menghadapi cobaan. Perhatikan sebuah ilustrasi: Dua pria dipenjarakan dengan kondisi yang sama tetapi karena alasan yang sangat berbeda. Yang satu, seorang penjahat, menjalani hukumannya dengan bersungut-sungut dan kesal. Yang lain, seorang Kristen sejati yang dipenjarakan karena kesetiaannya, tetap tegar dan bersikap positif karena dia melihat situasinya sebagai kesempatan untuk mempertunjukkan imannya. Si penjahat sama sekali tidak bisa dianggap contoh ketekunan, sedangkan orang Kristen yang setia itu merupakan teladan untuk sifat yang unggul ini.—Yakobus 1:2-4.
6. Bagaimana kita memupuk ketekunan?
6 Ketekunan sangat penting untuk memperoleh keselamatan. (Matius 24:13) Namun, sifat yang penting ini bukan sifat bawaan kita. Ketekunan harus dipupuk. Caranya? ”Kesengsaraan membuat kita bertekun,” kata Roma 5:3. Ya, jika kita benar-benar ingin memupuk ketekunan, kita tidak boleh menghindari semua ujian iman karena merasa takut. Sebaliknya, kita harus menghadapinya. Ketekunan dihasilkan sewaktu kita hari demi hari menghadapi dan mengatasi cobaan, besar maupun kecil. Setiap ujian yang kita lewati menguatkan kita untuk menghadapi ujian berikutnya. Tentu saja, ketekunan tidak dipupuk dengan upaya sendiri. Kita ”mengandalkan kekuatan dari Allah”. (1 Petrus 4:11) Untuk membantu kita tetap kukuh, Yehuwa telah memberi kita bantuan yang terbaik—teladan Putra-Nya. Mari kita cermati catatan ketekunan Yesus yang tanpa cacat.
Apa yang Yesus Alami
7, 8. Apa yang Yesus alami menjelang akhir kehidupannya di bumi?
7 Menjelang akhir kehidupannya di bumi, Yesus bertekun mengalami kekejaman demi kekejaman. Selain tekanan mental yang hebat pada malam terakhirnya, bayangkan kekecewaan yang pasti dia rasakan dan penghinaan yang dia derita. Dia dikhianati teman karibnya, ditinggalkan oleh sahabat-sahabat terdekatnya, dan dihadapkan ke pengadilan ilegal, lalu di sana, para hakim agama tertinggi di negeri itu mengejek, meludahi, dan meninjunya. Namun, dia menghadapi itu semua dengan tenang, bermartabat, dan tegar.—Matius 26:46-49, 56, 59-68.
8 Pada jam-jam terakhirnya, Yesus mengalami penderitaan fisik yang luar biasa. Dia disesah, yakni dicambuki dengan hebat, yang konon menyebabkan ”luka robek yang dalam dan panjang serta mengucurkan banyak darah”. Dia dipakukan pada tiang, suatu metode eksekusi yang menyebabkan ”kematian perlahan dengan kesakitan dan penderitaan terhebat”. Bayangkan penderitaannya ketika paku-paku besar dipalu menembus kaki dan tangannya hingga dia tertancap pada tiang. (Yohanes 19:1, 16-18) Bayangkan rasa nyeri yang menjalar ke sekujur tubuhnya sewaktu tiang itu ditegakkan lalu berat tubuhnya menggantung pada paku-paku itu dan punggungnya yang sudah robek tergesek pada tiang. Dan, dia mengalami penderitaan fisik yang ekstrem ini sambil menanggung beban mental yang disebutkan di awal pasal ini.
9. Apa artinya mengangkat ’tiang siksaan’ kita dan mengikuti Yesus?
9 Sebagai pengikut Kristus, apa yang boleh jadi harus kita alami? Yesus berkata, ”Kalau seseorang ingin mengikuti aku, dia harus . . . memikul tiang siksaannya dan terus mengikuti aku.” (Matius 16:24) Istilah ’tiang siksaan’ di sini digunakan secara kiasan untuk menggambarkan penderitaan, rasa malu, atau bahkan kematian. Mengikuti Kristus tidak mudah. Standar Kristen membuat kita berbeda. Dunia ini membenci kita karena kita bukan bagian darinya. (Yohanes 15:18-20; 1 Petrus 4:4) Meskipun demikian, kita rela mengangkat tiang siksaan kita—ya, kita siap menderita, bahkan mati, ketimbang berhenti mengikuti Teladan kita.—2 Timotius 3:12.
10-12. (a) Mengapa ketidaksempurnaan orang-orang di sekeliling Yesus menjadi ujian ketekunan baginya? (b) Apa beberapa situasi yang menguji Yesus?
10 Selama pelayanannya, Yesus menghadapi ujian lain yang timbul karena ketidaksempurnaan orang-orang di sekelilingnya. Ingatlah bahwa dia adalah ”pekerja ahli”, yang Yehuwa gunakan untuk menciptakan bumi dan segala isinya. (Amsal 8:22-31) Jadi, Yesus tahu kehendak Yehuwa bagi umat manusia; mereka semestinya mencerminkan sifat-sifat-Nya dan menikmati kehidupan dengan kesehatan yang sempurna. (Kejadian 1:26-28) Sewaktu berada di bumi, Yesus melihat akibat tragis dosa dari sudut pandang yang berbeda—sebagai manusia, dia bisa menyelami perasaan dan emosi manusia. Pasti sungguh pedih rasanya melihat langsung seberapa jauh manusia telah merosot dari kesempurnaan yang semula dimiliki Adam dan Hawa! Maka, ujian ketekunan pun mengadang Yesus. Apakah dia akan berkecil hati dan angkat tangan, menganggap bahwa manusia berdosa sudah tidak tertolong lagi? Mari kita lihat.
11 Sikap apatis orang-orang Yahudi sangat menyusahkan hati Yesus sampai-sampai dia menangis di hadapan umum. Apakah dia membiarkan ketidakacuhan mereka mengendurkan semangatnya atau membuatnya berhenti mengabar? Sebaliknya, ”setiap hari, Yesus mengajar di bait”. (Lukas 19:41-44, 47) Dia ”sangat pedih hati” atas ketidakpekaan hati orang-orang Farisi yang memperhatikannya dengan saksama hanya untuk melihat apakah dia akan menyembuhkan seorang pria pada hari Sabat. Apakah dia membiarkan para penentang yang menganggap diri benar itu mengintimidasi dia? Tentu saja tidak! Dia tetap teguh dan menyembuhkan pria itu—persis di tengah-tengah rumah ibadah!—Markus 3:1-5.
12 Ada lagi yang pasti sangat menguji Yesus—kelemahan murid-murid terdekatnya. Seperti yang kita bahas di Pasal 3, mereka tak henti-hentinya mempertunjukkan hasrat akan kedudukan terkemuka. (Matius 20:20-24; Lukas 9:46) Yesus menasihati mereka lebih dari satu kali tentang perlunya kerendahan hati. (Matius 18:1-6; 20:25-28) Namun, mereka lambat belajar. Bahkan pada malam terakhirnya bersama mereka, mereka ”berdebat dengan sengit” mengenai siapa yang terbesar di antara mereka! (Lukas 22:24) Apakah Yesus menyerah, menyimpulkan bahwa mereka sudah tidak tertolong lagi? Tidak. Dia senantiasa sabar, positif, dan berharap, melihat hal-hal baik dalam diri mereka. Dia tahu bahwa mereka mengasihi Yehuwa dari hati dan benar-benar ingin melakukan kehendak-Nya.—Lukas 22:25-27.
Apakah kita akan membiarkan tentangan mengendurkan semangat kita, atau apakah kita akan terus mengabar dengan bersemangat?
13. Kita mungkin menghadapi ujian apa, yang mirip dengan ujian yang Yesus hadapi?
13 Kita mungkin menghadapi ujian yang mirip dengan ujian yang Yesus hadapi. Misalnya, kita mungkin bertemu dengan orang-orang yang tidak menyambut atau bahkan menentang berita Kerajaan. Apakah kita akan membiarkan reaksi negatif itu mengendurkan semangat kita, atau apakah kita akan terus mengabar dengan bersemangat? (Titus 2:14) Kita mungkin diuji sebagai akibat ketidaksempurnaan saudara-saudari Kristen kita. Kata-kata yang tidak dipikir atau tindakan yang sembrono boleh jadi melukai perasaan kita. (Amsal 12:18) Apakah kita akan membiarkan kelemahan rekan-rekan seiman membuat kita angkat tangan terhadap mereka, atau apakah kita akan terus bersabar terhadap kesalahan mereka dan mencari hal-hal baik dalam diri mereka?—Kolose 3:13.
Mengapa Yesus Bisa Bertekun
14. Dua faktor apa yang membantu Yesus tetap teguh?
14 Apa yang membantu Yesus tetap teguh dan berintegritas sekalipun mengalami semua penghinaan, kekecewaan, dan penderitaan? Ada dua faktor mencolok yang menopang Yesus. Pertama, dia berpaling ke atas, kepada Allah, yang bisa membantunya bertekun. (Roma 15:5) Kedua, Yesus menatap ke depan, berfokus pada hasil ketekunannya kelak. Marilah kita kupas faktor-faktor ini satu per satu.
15, 16. (a) Apa yang memperlihatkan bahwa Yesus tidak mengandalkan kekuatannya sendiri untuk bertekun? (b) Keyakinan apa yang Yesus miliki tentang Bapaknya, dan mengapa?
15 Kendati dia Putra Allah yang sempurna, Yesus tidak mengandalkan kekuatannya sendiri untuk bertekun. Sebaliknya, dia berpaling kepada Bapak surgawinya dan berdoa memohon bantuan dari atas. Rasul Paulus menulis, ”Kristus berdoa dengan sungguh-sungguh dan memohon dengan jeritan dan tangisan kepada Allah, yang bisa menyelamatkan dia dari kematian.” (Ibrani 5:7) Perhatikan bahwa Yesus bukan hanya berdoa tapi juga memohon. Istilah ”memohon” memaksudkan meminta dengan sepenuh hati dan sungguh-sungguh—ya, seolah-olah mengemis meminta bantuan. Dalam teks Yunani asli, kata yang diterjemahkan menjadi ”memohon” adalah kata benda berbentuk jamak, yang menunjukkan bahwa Yesus memohon kepada Yehuwa lebih dari satu kali. Di Taman Getsemani, Yesus juga berdoa berulang kali dengan sungguh-sungguh.—Matius 26:36-44.
16 Yesus sepenuhnya yakin bahwa Yehuwa akan menjawab permohonannya, karena dia tahu bahwa Bapaknya adalah ”Pendengar doa”. (Mazmur 65:2) Selama eksistensi pramanusianya, Putra sulung ini telah melihat bagaimana Bapaknya menjawab doa para penyembah-Nya yang setia. Misalnya, Putra ini adalah saksi mata di surga ketika Yehuwa mengutus seorang malaikat untuk menjawab doa Nabi Daniel yang sepenuh hati—bahkan sebelum Daniel selesai berdoa. (Daniel 9:20, 21) Jadi, bagaimana mungkin Bapak tidak menjawab ketika Putra tunggal-Nya mencurahkan isi hatinya ”dengan jeritan dan tangisan”? Yehuwa menanggapi permohonan Putra-Nya dan mengutus seorang malaikat untuk menguatkan dia agar tegar di bawah cobaan berat itu.—Lukas 22:43.
17. Untuk bertekun, mengapa kita perlu berpaling ke atas, dan bagaimana kita dapat melakukannya?
17 Untuk bertekun, kita pun harus berpaling ke atas—kepada Allah, yang bisa memberikan kekuatan. (Filipi 4:13) Jika Putra Allah yang sempurna saja merasa perlu memohon bantuan Yehuwa, terlebih lagi kita! Seperti Yesus, kita mungkin perlu memohon kepada Yehuwa berkali-kali. (Matius 7:7) Meskipun kita tidak berharap akan dikunjungi malaikat, kita dapat yakin akan hal ini: Allah kita yang pengasih akan menanggapi permohonan orang Kristen setia yang ”terus berdoa dan memohon kepada-Nya siang malam”. (1 Timotius 5:5) Apa pun cobaan yang mungkin kita hadapi—entah penyakit, kematian orang yang disayangi, atau penganiayaan dari para penentang—Yehuwa akan menjawab doa kita yang sungguh-sungguh memohon hikmat, ketabahan, dan kekuatan untuk bertekun.—2 Korintus 4:7-11; Yakobus 1:5.
Yehuwa akan menjawab doa kita yang sungguh-sungguh memohon bantuan untuk bertekun
18. Bagaimana Yesus menatap, bukan pada penderitaannya, melainkan pada apa yang terbentang di hadapannya?
18 Faktor kedua yang memungkinkan Yesus bertekun adalah dia menatap ke depan, bukan pada penderitaannya, melainkan pada apa yang terbentang di hadapannya. Tentang Yesus, Alkitab berkata, ”Demi sukacita yang ditaruh di hadapannya, dia bertekun di tiang siksaan.” (Ibrani 12:2) Teladan Yesus menunjukkan bagaimana harapan, sukacita, dan ketekunan saling berkaitan. Ini dapat diringkaskan sebagai berikut: Harapan menghasilkan sukacita, dan sukacita menghasilkan ketekunan. (Roma 15:13; Kolose 1:11) Yesus memiliki prospek yang menakjubkan. Dia tahu bahwa kesetiaannya turut menyucikan nama Bapaknya dan memungkinkan dia membeli kembali keluarga manusia dari dosa serta kematian. Yesus juga memiliki harapan memerintah sebagai Raja dan melayani sebagai Imam Besar, untuk mendatangkan lebih banyak berkat bagi manusia yang taat. (Matius 20:28; Ibrani 7:23-26) Dengan berfokus pada prospek dan harapan di hadapannya, Yesus memperoleh sukacita yang tak terkira, dan sukacita itu selanjutnya membantu dia bertekun.
19. Sewaktu menghadapi ujian iman, apa peranan harapan, sukacita, dan ketekunan?
19 Seperti Yesus, kita perlu memiliki harapan, sukacita, dan ketekunan. ”Bersukacitalah atas harapan kalian,” kata Rasul Paulus. Lalu, dia menambahkan, ”Bertekunlah menghadapi kesengsaraan.” (Roma 12:12) Apakah Saudara sedang menghadapi ujian iman yang berat? Maka, berupayalah sebisa-bisanya menatap ke depan. Jangan lupa bahwa ketekunan Saudara akan mendatangkan pujian atas nama Yehuwa. Tetaplah berfokus pada harapan Kerajaan yang berharga. Bayangkan diri Saudara berada di dunia baru Allah yang akan datang, menikmati berkat-berkat dalam Firdaus. Dengan menanti-nantikan penggenapan hal-hal menakjubkan yang telah Yehuwa janjikan—termasuk penyucian nama-Nya, disingkirkannya kejahatan dari bumi, dan dihapusnya penyakit serta kematian—hati Saudara akan dipenuhi sukacita, dan sukacita itu dapat membantu Saudara bertekun tidak soal cobaan yang mungkin menimpa Saudara. Bila dibandingkan dengan perwujudan harapan Kerajaan, penderitaan apa pun dalam dunia ini sesungguhnya ”sementara dan ringan”.—2 Korintus 4:17.
’Ikuti Jejaknya dengan Saksama’
20, 21. Mengenai ketekunan, apa yang Yehuwa harapkan dari kita, dan apa hendaknya tekad kita?
20 Yesus tahu bahwa menjadi pengikutnya tidaklah mudah, suatu haluan yang membutuhkan ketekunan. (Yohanes 15:20) Dia siap menunjukkan jalan, tahu bahwa teladannya akan menguatkan orang lain. (Yohanes 16:33) Memang, Yesus menetapkan teladan ketekunan yang sempurna, tetapi kita jauh dari sempurna. Apa yang Yehuwa harapkan dari kita? Petrus menjelaskan, ”Kristus . . . menderita demi kalian, menjadi teladan supaya kalian mengikuti jejaknya dengan saksama.” (1 Petrus 2:21) Melalui cara dia menghadapi ujian, Yesus ”menjadi teladan” untuk ditiru.a Catatan ketekunan yang dia bangun bisa disamakan dengan jejak-jejak kaki. Kita tidak bisa mengikuti jejak itu dengan sempurna, tetapi kita bisa mengikutinya ”dengan saksama”.
21 Jadi, marilah kita bertekad untuk mengikuti teladan Yesus sebisa-bisanya. Jangan pernah lupa bahwa semakin saksama kita mengikuti langkah-langkah Yesus, kita semakin diperlengkapi untuk bertekun ”sampai ke akhir”—akhir dunia tua ini atau akhir kehidupan kita sekarang. Kita tidak tahu mana yang akan datang terlebih dahulu, tetapi satu hal yang kita tahu: Yehuwa akan mengupahi ketekunan kita hingga selama-lamanya.—Matius 24:13.
-