-
Jalan, Kebenaran, KehidupanYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
Jalan, Kebenaran, Kehidupan
Saudara pasti senang mendapat kabar baik. Apakah Saudara tahu bahwa Pencipta alam semesta, Allah Yehuwa, punya kabar baik bagi Saudara dan keluarga?
Kabar baik ini ada di Alkitab, buku yang ditulis pada zaman dulu dengan bimbingan Allah. Dalam publikasi ini, kita akan membahas empat buku dalam Alkitab yang berisi kabar baik bagi kita semua. Nama buku-buku ini diambil dari nama pria-pria yang Allah gunakan untuk menulisnya—Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes.
Banyak orang menyebut buku-buku ini sebagai keempat Injil. Kata ”injil” berarti ”kabar baik”. Sesuai dengan namanya, empat buku itu berisi kabar baik tentang Yesus: Dia digunakan Allah untuk menjadi Penyelamat dan Raja Kerajaan Allah, yang akan terus memberkati semua orang yang beriman kepadanya.—Markus 10:17, 30; 13:13.
MENGAPA ADA EMPAT INJIL?
Mengapa Alkitab memuat empat buku tentang kehidupan dan ajaran Yesus?
Bayangkan ada empat pria yang berdiri di dekat seorang guru yang terkenal. Pria yang berdiri di depan sang guru adalah pemungut pajak. Pria di sebelah kanan sang guru adalah seorang dokter, sedangkan pria di sebelah kiri adalah nelayan dan teman dekat guru itu. Dan pria keempat, yang mengamati dari belakang, lebih muda daripada tiga pria lainnya. Keempat-empatnya adalah orang yang jujur, dan mereka punya minat, tujuan, dan sudut pandang masing-masing. Kalau empat pria itu menulis tentang ajaran dan kegiatan sang guru, perincian yang mereka catat pasti berlainan. Tapi, semua perincian itu justru memberikan gambaran yang lengkap tentang apa yang dilakukan dan dikatakan sang guru. Demikian juga halnya dengan catatan tentang Guru Agung kita, Yesus. Dengan membaca empat catatan ini, kita akan mendapat lebih banyak manfaat.
Pemungut pajak tadi menulis bagi orang-orang Yahudi, jadi dia mengelompokkan beberapa peristiwa dan ajaran sang guru supaya cocok bagi orang Yahudi. Dokter tadi menonjolkan kisah penyembuhan orang sakit, jadi dia tidak menuliskan beberapa kejadian yang ditulis si pemungut pajak atau mungkin menuliskannya dalam susunan yang berbeda. Pria yang adalah teman dekat guru itu lebih sering menyebutkan tentang perasaan dan sifat sang guru. Sementara itu, pria yang lebih muda menuliskan catatannya dengan lebih singkat. Namun, semua catatan mereka akurat. Sama seperti itu, keempat catatan tentang kehidupan Yesus membuat kita lebih memahami kegiatan, ajaran, dan kepribadiannya.
Kadang, keempat catatan itu disebut Injil Matius, Injil Markus, Injil Lukas, dan Injil Yohanes. Ini tidak salah, karena setiap buku itu memang berisi ”kabar baik tentang Yesus Kristus”. (Markus 1:1) Meski begitu, sebenarnya hanya ada satu injil, atau kabar baik, tentang Yesus. Namun, itu tersedia dalam empat versi.
Banyak orang yang mempelajari Firman Allah membandingkan peristiwa dan perincian dalam Injil Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes lalu menyusunnya. Salah satunya adalah Tatian, seorang penulis asal Siria. Dia mengakui bahwa empat buku itu akurat dan berasal dari Allah. Sekitar tahun 170 M, dia menyusun kisah tentang kehidupan dan pelayanan Yesus, yang disebut Diatessaron.
Buku Yesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan juga seperti itu, tapi buku ini lebih akurat dan lengkap. Ini dimungkinkan karena sekarang kita sudah lebih memahami arti dari berbagai nubuat dan perumpamaan Yesus. Maka, kita lebih mengerti kata-kata dan tindakan Yesus serta urutan kejadian-kejadiannya. Penemuan arkeologis juga memperjelas beberapa perincian lain dan sudut pandang setiap penulis. Memang, kita tidak tahu urutan yang pasti dari semua peristiwa dalam Injil. Tapi, buku ini menyusun semuanya dalam urutan yang masuk akal.
JALAN, KEBENARAN, KEHIDUPAN
Selama Saudara membaca buku ini, pikirkan manfaatnya bagi Saudara dan keluarga. Ingatlah apa yang Yesus Kristus katakan kepada Rasul Tomas: ”Akulah jalan, kebenaran, dan kehidupan. Tidak ada yang bisa datang kepada Bapak kalau tidak melalui aku.”—Yohanes 14:6.
Buku Yesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan, akan membantu Saudara menyadari bahwa Yesus adalah satu-satunya ”jalan”. Hanya melalui Yesus kita bisa berdoa kepada Allah Yehuwa dan punya hubungan yang dekat dengan-Nya.—Yohanes 16:23; Roma 5:8.
Yesus adalah ”kebenaran”. Dia selalu mengatakan kebenaran dan hidup sesuai dengan kebenaran yang dia ajarkan. Selain itu, banyak nubuat ”menjadi ’ya’”, atau menjadi kenyataan, melalui Yesus. (2 Korintus 1:20; Yohanes 1:14) Nubuat-nubuat itu menunjukkan bahwa Yesus berperan penting dalam menjalankan kehendak Allah.—Wahyu 19:10.
Yesus juga adalah ”kehidupan”. Dia menyerahkan dirinya sebagai tebusan agar kita mendapatkan ”kehidupan yang sebenarnya”, yaitu kehidupan abadi. (1 Timotius 6:12, 19; Efesus 1:7; 1 Yohanes 1:7) Bagi jutaan orang yang sudah meninggal, Yesus juga menjadi ”kehidupan” karena dia akan membangkitkan mereka untuk hidup abadi di Firdaus.—Yohanes 5:28, 29.
Kita semua harus menghargai peran Yesus dalam menjalankan kehendak Allah. Semoga Saudara senang belajar tentang Yesus, yang adalah ”jalan, kebenaran, dan kehidupan”.
-
-
Sebelum Pelayanan YesusYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAGIAN 1
Sebelum Pelayanan Yesus
”Dia akan menjadi penting.”—Lukas 1:32
-
-
Awal Pelayanan YesusYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAGIAN 2
Awal Pelayanan Yesus
”Lihat, dialah Anak Domba Allah yang menghapus dosa.”—Yohanes 1:29
-
-
Pelayanan Yesus di GalileaYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAGIAN 3
Pelayanan Yesus di Galilea
’Yesus mulai memberitakan, ”Kerajaan surga sudah dekat.”’—Matius 4:17
-
-
Pelayanan Yesus di YudeaYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAGIAN 4
Pelayanan Yesus di Yudea
”Mohonlah kepada Pemilik panen untuk mengirim lebih banyak pekerja untuk panen-Nya.”—Lukas 10:2
-
-
Pelayanan Yesus di Timur Sungai YordanYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAGIAN 5
Pelayanan Yesus di Timur Sungai Yordan
”Banyak orang beriman kepadanya.”—Yohanes 10:42
-
-
Akhir Pelayanan YesusYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAGIAN 6
Akhir Pelayanan Yesus
”Rajamu akan datang kepadamu.”—Matius 21:5
-
-
Dua Pesan dari AllahYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 1
Dua Pesan dari Allah
MALAIKAT GABRIEL MEMBERITAHUKAN BAHWA YOHANES PEMBAPTIS AKAN LAHIR
GABRIEL MEMBERI TAHU MARIA BAHWA YESUS AKAN LAHIR
Seluruh isi Alkitab itu seperti pesan dari Allah. Bapak kita, Yehuwa, ingin mengajar kita melalui Alkitab. Nah, sekarang kita akan membahas dua pesan istimewa yang disampaikan lebih dari 2.000 tahun yang lalu oleh malaikat bernama Gabriel, yang ”berada di hadapan Allah”. (Lukas 1:19) Mari kita lihat bagaimana kisahnya.
Waktu itu, sekitar tahun 3 SM, Gabriel menyampaikan pesan pertamanya. Di daerah perbukitan Yudea, mungkin tidak jauh dari Yerusalem, ada seorang imam bernama Zakharia. Dia dan istrinya, Elisabet, sudah tua dan tidak punya anak. Sekarang adalah giliran Zakharia untuk melayani sebagai imam di bait, jadi dia pergi ke Yerusalem. Sewaktu dia berada di bait, Gabriel tiba-tiba ada di dekat mezbah dupa.
Zakharia pun ketakutan. Tapi sang malaikat menenangkan dia dengan mengatakan, ”Jangan takut, Zakharia. Permohonanmu sudah didengar Allah, dan istrimu Elisabet akan melahirkan anak laki-laki. Kamu harus menamai dia Yohanes.” Gabriel menambahkan bahwa Yohanes ”akan menjadi penting di mata Yehuwa” dan akan membuat orang-orang ”menjadi umat yang siap melayani Yehuwa”.—Lukas 1:13-17.
Zakharia sulit memercayainya. Mengapa? Karena dia dan Elisabet sudah tua. Maka Gabriel memberi tahu dia, ”Kamu tidak percaya kata-kataku . . . Karena itu, kamu akan jadi bisu dan tidak bisa bicara sampai hal-hal ini terjadi.”—Lukas 1:20.
Zakharia lama sekali berada di dalam bait, jadi orang-orang di luar merasa heran. Akhirnya dia keluar, tapi dia tidak bisa berbicara. Zakharia hanya bisa membuat isyarat dengan tangannya. Mereka pun tahu bahwa dia telah melihat sesuatu yang luar biasa di dalam bait.
Setelah tugasnya di bait selesai, Zakharia pulang. Tak lama kemudian, Elisabet hamil! Selama lima bulan, sambil menantikan kelahiran anaknya, Elisabet hanya tinggal di rumah.
Lalu, Gabriel datang untuk menyampaikan pesan lain kepada seorang wanita muda. Dia adalah Maria, dan dia belum menikah. Dia tinggal di kota Nazaret, Galilea, yang terletak di utara Yerusalem. Apa yang disampaikan sang malaikat? Dia berkata kepada Maria, ”Allah berkenan kepadamu.” Kemudian, Gabriel mengatakan, ”Kamu akan hamil dan melahirkan anak laki-laki. Kamu harus menamai dia Yesus.” Gabriel menambahkan, ”Dia akan menjadi penting dan akan disebut Putra dari Yang Mahatinggi . . . dan dia akan menjadi Raja atas keturunan Yakub untuk selama-lamanya, dan Kerajaannya tidak akan berakhir.”—Lukas 1:30-33.
Gabriel pasti merasa terhormat karena bisa menyampaikan dua pesan ini. Seraya kita belajar lebih banyak tentang Yohanes dan Yesus, kita akan memahami mengapa kedua pesan dari surga ini sangat penting.
-
-
Yesus Dihormati Sebelum Dia LahirYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 2
Yesus Dihormati Sebelum Dia Lahir
MARIA MENGUNJUNGI SAUDARANYA, ELISABET
Malaikat Gabriel baru saja memberi tahu Maria bahwa dia akan melahirkan anak laki-laki yang akan diberi nama Yesus, dan anak ini akan menjadi Raja untuk selamanya. Lalu Maria bertanya, ”Bagaimana itu bisa terjadi? Aku masih perawan.”—Lukas 1:34.
Gabriel menjawab, ”Kuasa kudus akan datang ke atasmu, dan kuasa Yang Mahatinggi akan menaungimu. Karena itu, anak yang akan lahir itu akan disebut kudus, Putra Allah.”—Lukas 1:35.
Mungkin agar Maria memercayai berita itu, Gabriel menambahkan, ”Elisabet saudaramu juga sedang mengandung anak laki-laki, dan sudah enam bulan, walaupun dia sudah tua dan disebut wanita mandul. Sebab semua yang Allah katakan pasti terjadi.”—Lukas 1:36, 37.
Maria memercayai perkataan Gabriel, seperti yang terlihat dari jawabannya. Dia berkata, ”Aku budak perempuan Yehuwa! Semoga itu terjadi kepadaku sesuai kata-katamu.”—Lukas 1:38.
Setelah Gabriel pergi, Maria langsung bersiap-siap untuk mengunjungi Elisabet dan Zakharia, yang tinggal di perbukitan Yudea, dekat Yerusalem. Dari Nazaret, Maria menempuh perjalanan selama kira-kira tiga atau empat hari.
Akhirnya, Maria tiba di rumah Zakharia. Ketika masuk, dia mengucapkan salam kepada Elisabet. Pada saat itu juga, Elisabet mendapat kuasa kudus, dan dia berkata kepada Maria, ”Diberkatilah kamu di antara wanita, dan diberkatilah bayi dari rahimmu! Suatu kehormatan aku bisa dikunjungi ibu dari Tuanku! Begitu aku mendengar salammu, bayi dalam rahimku melompat dengan gembira.”—Lukas 1:42-44.
Lalu, Maria menjawab dengan penuh syukur, ”Jiwaku mengagungkan Yehuwa, hatiku tidak dapat menahan sukacita karena Allah Penyelamatku, karena Dia telah memperhatikan budak perempuan-Nya yang rendah. Mulai sekarang semua generasi akan menyebut aku bahagia, karena Allah yang kuat telah melakukan banyak hal besar bagiku.” Meski Allah berkenan kepadanya, Maria tidak sombong. Dia malah memuji Allah, ”Nama-Nya suci, dan dari generasi ke generasi, Dia berbelaskasihan kepada orang-orang yang menghormati-Nya.”—Lukas 1:46-50.
Maria terus memuji Allah dengan kata-kata yang berisi nubuat ini: ”Dia bertindak perkasa dengan lengan-Nya, dan mencerai-beraikan orang-orang yang niat hatinya angkuh. Dia menurunkan orang yang berkuasa dari takhta, dan meninggikan orang rendahan. Dia memberikan hal-hal baik kepada orang miskin sampai mereka puas, dan menyuruh orang kaya pergi dengan tangan kosong. Dia menolong Israel hamba-Nya, untuk menunjukkan bahwa Dia ingat janji-Nya untuk berbelaskasihan kepada Abraham dan keturunannya selamanya, seperti yang Dia katakan kepada leluhur kita.”—Lukas 1:51-55.
Maria tinggal bersama Elisabet selama kira-kira tiga bulan, mungkin untuk membantu Elisabet selama minggu-minggu terakhir kehamilannya. Kedua wanita beriman ini sama-sama hamil atas bantuan Allah, dan pada saat-saat itu, mereka bisa saling mendukung.
Perhatikan bahwa Yesus dihormati bahkan sebelum dia lahir. Elisabet menyebutnya ”Tuanku”, dan anak dalam kandungan Elisabet ”melompat dengan gembira” sewaktu Maria tiba. Ini berbeda sekali dengan perlakuan orang-orang terhadap Maria dan putranya nanti. Kita akan membahasnya dalam bab-bab berikut.
-
-
Orang yang Mempersiapkan Jalan Telah LahirYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 3
Orang yang Mempersiapkan Jalan Telah Lahir
PUTRA ZAKHARIA DAN ELISABET LAHIR DAN DIBERI NAMA
ZAKHARIA MENUBUATKAN PERANAN YOHANES
Elisabet hampir melahirkan, dan Maria sudah menemaninya selama tiga bulan. Sekarang, Maria akan menempuh perjalanan jauh untuk kembali ke Nazaret. Kira-kira enam bulan lagi, dia juga akan melahirkan anak laki-laki.
Tak lama setelah Maria pergi, Elisabet melahirkan. Syukurlah, Elisabet baik-baik saja dan bayinya sehat! Ketika Elisabet memperlihatkan bayi mungilnya kepada para tetangga dan keluarga, mereka ikut berbahagia.
Hukum Allah bagi bangsa Israel mengatakan bahwa bayi laki-laki harus disunat dan diberi nama ketika berumur delapan hari. (Imamat 12:2, 3) Beberapa orang merasa bahwa anak itu harus dinamai Zakharia, seperti bapaknya. Tapi Elisabet berkata, ”Jangan! Dia harus dinamai Yohanes.” (Lukas 1:60) Ini sesuai dengan kata-kata Gabriel.
Para tetangga dan keluarga memprotes, ”Tidak ada saudaramu yang namanya begitu.” (Lukas 1:61) Dengan bahasa isyarat, mereka bertanya kepada Zakharia nama apa yang akan dia berikan untuk anaknya. Zakharia meminta sebuah papan dan menulis, ”Namanya Yohanes.”—Lukas 1:63.
Seketika itu juga, Zakharia bisa bicara lagi. Saudara mungkin ingat bahwa dia menjadi bisu karena tidak memercayai kata-kata malaikat tentang kehamilan Elisabet. Jadi ketika Zakharia bisa bicara lagi, para tetangga merasa takjub. Mereka mengerti bahwa Allah ingin agar anak itu dinamai Yohanes. Dalam hati mereka bertanya-tanya, ’Akan jadi seperti apa anak ini nanti?’—Lukas 1:66.
Lalu Zakharia yang dipenuhi kuasa kudus menyatakan, ”Terpujilah Yehuwa Allah Israel, karena Dia telah memperhatikan umat-Nya dan membebaskan mereka. Dia telah memberi kita tanduk keselamatan dari keturunan Daud hamba-Nya.” (Lukas 1:68, 69) ”Tanduk keselamatan” yang dia maksudkan adalah Tuan Yesus, yang akan lahir sebentar lagi. Zakharia berkata, ”Setelah Allah menyelamatkan kita dari tangan musuh, Dia akan memberi kita kehormatan untuk memberikan pelayanan suci kepada-Nya tanpa takut, dengan kesetiaan dan perbuatan benar di hadapan-Nya seumur hidup kita.”—Lukas 1:74, 75.
Mengenai anaknya, Zakharia bernubuat, ”Anakku, kamu akan disebut nabi dari Yang Mahatinggi, karena kamu akan mendahului Yehuwa untuk menyiapkan jalan bagi-Nya, untuk memberikan pengetahuan tentang keselamatan bagi umat-Nya melalui pengampunan dosa-dosa mereka, karena keibaan hati Allah kita. Dengan keibaan hati ini, cahaya fajar akan menyinari kita dari surga, untuk menerangi orang-orang yang duduk dalam kegelapan dan bayang-bayang maut serta untuk menuntun kaki kita di jalan kedamaian.” (Lukas 1:76-79) Ini benar-benar nubuat yang menguatkan!
Pada saat itu, Maria sudah sampai di Nazaret. Apa yang akan terjadi ketika orang-orang tahu bahwa dia hamil padahal dia belum menikah?
-
-
Maria—Hamil tapi Belum MenikahYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 4
Maria—Hamil tapi Belum Menikah
YUSUF TAHU BAHWA MARIA HAMIL
MARIA MENJADI ISTRI YUSUF
Maria sekarang sudah hamil empat bulan. Kita tahu bahwa pada awal kehamilannya, dia tinggal bersama Elisabet di perbukitan Yudea di selatan. Tapi, Maria telah pulang ke Nazaret. Kehamilannya pasti akan segera diketahui orang. Bayangkan betapa tertekannya Maria!
Selain itu, dia juga sudah bertunangan dengan seorang tukang kayu bernama Yusuf. Maria tahu bahwa menurut Hukum Allah bagi bangsa Israel, wanita yang sudah bertunangan tapi melakukan hubungan seks dengan pria lain harus dilempari batu sampai mati. (Ulangan 22:23, 24) Meskipun Maria tidak berbuat amoral, dia mungkin tidak tahu cara menjelaskan kehamilannya kepada Yusuf dan juga mengkhawatirkan apa yang akan terjadi.
Maria telah pergi selama tiga bulan, jadi Yusuf pasti merindukannya. Sewaktu mereka bertemu, Maria kemungkinan besar memberi tahu Yusuf bahwa dia hamil. Maria berupaya meyakinkan Yusuf bahwa dia hamil karena kuasa kudus Allah. Tapi, seperti yang dapat Saudara bayangkan, Yusuf pasti sulit memercayai dan memahami hal itu.
Yusuf tahu bahwa Maria itu wanita baik-baik dan punya reputasi yang bagus. Yusuf juga sangat mencintainya. Tapi, meski sudah mendengar penjelasan Maria, Yusuf tetap merasa bahwa tidak mungkin Maria bisa hamil tanpa berhubungan seks dengan pria lain. Namun, Yusuf tidak ingin Maria dihukum mati atau dipermalukan di depan umum. Maka, dia berencana untuk menceraikannya secara diam-diam. Pada zaman itu, orang yang bertunangan dianggap sudah menikah. Jadi untuk mengakhiri suatu pertunangan, perceraian harus dilakukan.
Sewaktu Yusuf masih mempertimbangkan hal ini, dia tertidur. Malaikat Yehuwa mendatanginya dalam mimpi dan berkata, ”Jangan takut menikahi Maria. Dia hamil karena kuasa kudus. Dia akan melahirkan anak laki-laki, dan kamu harus menamai anak itu Yesus, karena dia akan menyelamatkan orang-orangnya dari dosa mereka.”—Matius 1:20, 21.
Ketika Yusuf bangun, dia lega karena sekarang semuanya sudah jelas! Dia segera menaati sang malaikat dan membawa Maria ke rumahnya. Tindakan ini sama seperti upacara pernikahan, yang dilakukan supaya orang-orang tahu bahwa Yusuf dan Maria kini resmi menikah. Tapi, Yusuf tidak berhubungan seks dengan Maria selama dia mengandung Yesus.
Beberapa bulan kemudian, Yusuf harus membawa Maria, yang sedang hamil tua, pergi dari rumah mereka di Nazaret. Ke mana mereka harus pergi saat Maria sudah hampir melahirkan?
-
-
Di Mana dan Kapan Yesus Lahir?Yesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 5
Di Mana dan Kapan Yesus Lahir?
YESUS LAHIR DI BETLEHEM
PARA GEMBALA MENGUNJUNGI BAYI YESUS
Penguasa Romawi, Kaisar Agustus, memerintahkan agar setiap orang didaftarkan. Jadi, Yusuf dan Maria harus pulang ke kota kelahiran Yusuf, yaitu Betlehem, di sebelah selatan Yerusalem.
Karena Betlehem penuh dengan orang-orang yang mau mendaftarkan diri, satu-satunya tempat yang bisa digunakan Yusuf dan Maria untuk bermalam adalah sebuah kandang untuk keledai dan binatang lainnya. Di sanalah Yesus dilahirkan. Maria membungkus dia dengan kain dan membaringkannya di palungan, yaitu tempat makan binatang.
Jelas, Yehuwa-lah yang mengatur agar Kaisar Agustus membuat undang-undang pendaftaran ini. Dengan begitu, Yesus dapat dilahirkan di Betlehem, kampung halaman leluhurnya, Raja Daud. Kitab Suci telah lama menubuatkan bahwa Betlehem akan menjadi kota kelahiran sang Penguasa yang dijanjikan.—Mikha 5:2.
Ini benar-benar malam yang istimewa! Di luar, di padang rumput, cahaya cemerlang tiba-tiba memancar di sekeliling para gembala yang sedang berkumpul. Itu adalah kemuliaan Yehuwa! Seorang malaikat memberi tahu para gembala itu, ”Jangan takut! Aku membawa kabar baik tentang sukacita besar yang akan dirasakan semua orang. Sebab hari ini, di kota Daud telah lahir bagi kalian seorang penyelamat. Dia adalah Kristus dan Tuan. Inilah tanda bagi kalian: Kalian akan menemukan bayi yang terbungkus kain dan berbaring di palungan.” Lalu, malaikat-malaikat datang dan mengatakan, ”Kemuliaan bagi Allah di surga, dan damai di bumi bagi orang-orang yang menyenangkan Dia.”—Lukas 2:10-14.
Ketika para malaikat itu pergi, gembala-gembala itu berkata, ”Ayo kita langsung ke Betlehem dan melihat apa yang terjadi, yang Yehuwa beri tahukan kepada kita.” (Lukas 2:15) Mereka cepat-cepat pergi dan menemukan Yesus yang baru lahir, persis di tempat yang dikatakan sang malaikat. Sewaktu para gembala menceritakan apa yang dikatakan malaikat, semua yang mendengarnya merasa kagum. Maria menyimpan semua itu dalam hatinya dan merenungkan artinya.
Sekarang, banyak orang percaya bahwa Yesus lahir pada 25 Desember. Tapi pada bulan Desember, daerah Betlehem biasanya dingin, sering hujan, dan kadang malah bersalju. Jadi pada bulan itu, para gembala tidak mungkin berada di luar pada malam hari bersama kawanan domba mereka. Selain itu, kaisar Romawi tidak mungkin meminta rakyatnya mengadakan perjalanan berhari-hari pada musim dingin untuk mendaftarkan diri, karena rakyat pada waktu itu sudah membencinya. Jadi, Yesus kemungkinan besar lahir kira-kira pada bulan Oktober.
-
-
Anak yang DijanjikanYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 6
Anak yang Dijanjikan
YESUS DISUNAT DAN DIBAWA KE BAIT
Yusuf dan Maria tetap tinggal di Betlehem dan tidak kembali ke Nazaret. Ketika Yesus berumur delapan hari, dia disunat, seperti yang diperintahkan Hukum Allah bagi bangsa Israel. (Imamat 12:2, 3) Saat itulah bayi laki-laki biasanya diberi nama. Yusuf dan Maria menamai anak mereka Yesus, sesuai dengan petunjuk malaikat Gabriel.
Satu bulan lebih sudah berlalu, dan Yesus kini berumur 40 hari. Sekarang, ke mana orang tuanya membawa Yesus? Ke bait di Yerusalem, yang tidak jauh dari tempat tinggal mereka. Hukum Taurat mengatakan bahwa 40 hari setelah melahirkan anak laki-laki, seorang ibu wajib mempersembahkan korban di bait untuk membersihkan diri.—Imamat 12:4-8.
Maria menaatinya. Dia mempersembahkan dua burung kecil. Menurut Taurat, persembahan yang seharusnya diberikan adalah seekor domba jantan dan seekor burung. Tapi jika sang ibu tidak mampu, dia boleh mempersembahkan dua burung tekukur atau dua burung dara. Jadi dari persembahan Maria, kita bisa mengetahui keadaan ekonominya.
Di bait, seorang pria lanjut usia mendekati Yusuf dan Maria. Namanya Simeon. Allah telah memberi tahu dia bahwa sebelum dia mati, dia akan melihat Kristus, atau Mesias, yang Yehuwa janjikan. Pada hari itu, Simeon dibimbing oleh kuasa kudus untuk masuk ke bait. Di sana, dia bertemu Yusuf dan Maria yang membawa bayi mereka. Simeon kemudian menggendong bayi itu.
Sambil menggendong Yesus, Simeon bersyukur kepada Allah, ”Tuan Yang Mahatinggi, sekarang budak-Mu ini bisa mati dengan tenang sesuai dengan apa yang Engkau katakan, karena mataku telah melihat keselamatan yang telah Engkau persiapkan di hadapan segala bangsa. Dia adalah terang untuk menyingkirkan kegelapan yang menutupi bangsa-bangsa, dan dialah kemuliaan bagi umat-Mu Israel.”—Lukas 2:29-32.
Yusuf dan Maria takjub mendengarnya. Simeon memberkati mereka dan memberi tahu Maria bahwa karena anaknya, ”ada orang Israel yang akan jatuh dan ada yang akan bangkit”. Simeon juga mengatakan bahwa suatu saat Maria akan merasa sangat pedih, bagaikan ditusuk sebilah pedang yang tajam.—Lukas 2:34.
Di tempat itu juga ada Hana, seorang nabiah yang berumur 84 tahun. Dia selalu datang ke bait. Hari itu, dia juga menghampiri Yusuf, Maria, dan bayi Yesus. Hana pun bersyukur kepada Allah dan berbicara tentang Yesus kepada semua yang mau mendengarkan.
Saudara bisa bayangkan betapa senangnya Yusuf dan Maria setelah mengalami semua itu! Mereka pasti semakin yakin bahwa putra mereka adalah Mesias yang dijanjikan oleh Allah.
-
-
Para Ahli Perbintangan Mengunjungi YesusYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 7
Para Ahli Perbintangan Mengunjungi Yesus
PARA AHLI PERBINTANGAN MENGIKUTI SEBUAH BINTANG KE YERUSALEM LALU KE TEMPAT YESUS BERADA
Beberapa pria datang dari Timur. Mereka adalah ahli perbintangan, yaitu orang yang meramal dengan mengamati letak bintang. Menurut mereka, ilmu itu berguna untuk mengetahui arti dari berbagai peristiwa dalam kehidupan seseorang. (Yesaya 47:13) Di tempat tinggal mereka di Timur, mereka melihat sebuah ”bintang”. Bintang itu bergerak dan menuntun mereka sejauh ratusan kilometer ke Yerusalem, bukan ke Betlehem tempat Yesus berada.
Ketika pria-pria itu tiba, mereka bertanya, ”Di mana anak yang lahir sebagai raja orang Yahudi? Kami melihat bintangnya ketika kami ada di Timur, dan kami datang untuk sujud kepadanya.”—Matius 2:1, 2.
Mendengar itu, Raja Herodes, penguasa Yerusalem, sangat marah. Dia memanggil para imam kepala dan pemimpin agama Yahudi untuk bertanya di mana Kristus dilahirkan. Karena mereka tahu nubuat dalam Kitab Suci, mereka menjawab, ”Di Betlehem.” (Matius 2:5; Mikha 5:2) Herodes lalu diam-diam memanggil para ahli perbintangan itu dan berkata, ”Carilah anak kecil itu dengan teliti. Kalau kalian menemukannya, laporkan kepada saya supaya saya juga bisa pergi dan sujud kepadanya.” (Matius 2:8) Sebenarnya, Herodes ingin membunuh anak itu!
Setelah para ahli perbintangan itu pergi, terjadilah sesuatu yang aneh. Bintang yang mereka lihat ketika mereka berada di Timur bergerak mendahului mereka. Pastilah, ini bukan bintang biasa. Bintang itu sengaja diberikan untuk membimbing mereka. Pria-pria itu mengikutinya sampai bintang itu berhenti tepat di atas rumah Yusuf dan Maria.
Ketika para pria itu masuk, mereka melihat Maria dan seorang anak kecil, yaitu Yesus. Mereka segera sujud kepada Yesus serta memberinya hadiah berupa emas, kemenyan, dan mur. Ketika mereka mau kembali kepada Herodes, Allah memperingatkan mereka dalam mimpi agar tidak melakukannya. Jadi, mereka pulang ke negeri mereka melalui jalan lain.
Menurut Saudara, siapa yang memberikan bintang tadi? Ingatlah, bintang itu tidak langsung menunjukkan tempat tinggal Yesus di Betlehem, tapi malah membimbing pria-pria itu ke Yerusalem, tempat Raja Herodes yang ingin membunuh Yesus. Seandainya Allah tidak melarang para ahli perbintangan itu untuk memberi tahu Herodes di mana Yesus berada, Herodes pasti sudah membunuh Yesus. Jelaslah, bintang itu diberikan oleh Setan, musuh Allah yang ingin agar Yesus dibunuh.
-
-
Mereka Selamat dari Penguasa yang JahatYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 8
Mereka Selamat dari Penguasa yang Jahat
KELUARGA YESUS MELARIKAN DIRI KE MESIR
YUSUF DAN KELUARGANYA PINDAH KE NAZARET
Yusuf membangunkan Maria untuk memberitahukan sesuatu yang sangat penting. Malaikat Yehuwa baru saja mendatangi Yusuf dalam mimpi dan berkata, ”Bangunlah, bawalah anak kecil dan ibunya itu lari ke Mesir. Tinggallah di sana sampai aku memberi tahu kamu, karena Herodes akan segera mencari anak itu untuk membunuhnya.”—Matius 2:13.
Yusuf, Maria, dan anak mereka segera melarikan diri pada malam hari. Ini tindakan yang tepat, karena Herodes menyadari bahwa para ahli perbintangan itu telah menipu dia. Sebelumnya, dia meminta mereka melaporkan di mana Yesus berada. Tapi, mereka diam-diam telah meninggalkan negeri itu. Herodes marah sekali. Karena ingin membunuh Yesus, dia memerintahkan agar semua anak laki-laki yang berusia dua tahun ke bawah di Betlehem dan sekitarnya dibunuh. Herodes memperkirakan usia ini berdasarkan keterangan yang dia peroleh sebelumnya dari para ahli perbintangan itu.
Pembunuhan massal itu sungguh mengerikan! Kita tidak tahu berapa banyak anak laki-laki yang dibunuh. Tapi yang pasti, para ibu menangis dan meratap karena kematian anak-anak mereka, sesuai dengan nubuat Nabi Yeremia dalam Alkitab.—Yeremia 31:15.
Sementara itu, Yusuf dan keluarganya telah melarikan diri ke Mesir dan tinggal di sana. Belakangan, malaikat Yehuwa sekali lagi mendatangi Yusuf dalam mimpi dan mengatakan, ”Bangunlah, bawa anak itu dan ibunya ke negeri Israel, karena orang-orang yang mengincar nyawa anak kecil itu sudah mati.” (Matius 2:20) Yusuf pun menyimpulkan bahwa keluarganya sudah bisa kembali ke kampung halaman mereka. Ini sesuai dengan nubuat Alkitab yang mengatakan bahwa Putra Allah akan dipanggil keluar dari Mesir.—Hosea 11:1.
Rupanya, Yusuf berniat menetap di Yudea, mungkin dekat kota Betlehem, tempat mereka tinggal sebelum melarikan diri ke Mesir. Tapi, dia mendengar bahwa Arkhelaus, putra Herodes yang jahat, kini menjadi raja di Yudea. Selain itu, dia juga mendapat peringatan dari Allah dalam suatu mimpi. Jadi, Yusuf dan keluarganya pergi ke utara dan tinggal di kota Nazaret di daerah Galilea, jauh dari pusat kegiatan agama Yahudi. Di sinilah Yesus dibesarkan, sesuai dengan nubuat lain yang mengatakan, ”Dia akan disebut orang Nazaret.”—Matius 2:23.
-
-
Yesus Beranjak Dewasa di NazaretYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 9
Yesus Beranjak Dewasa di Nazaret
YUSUF DAN MARIA PUNYA ANAK-ANAK LAIN
YESUS BELAJAR MENJADI TUKANG KAYU
Yesus dibesarkan di Nazaret, kota yang kecil dan tidak istimewa di perbukitan Galilea. Kota itu terletak di sebelah utara Yudea, di sebelah barat danau besar yang disebut Laut Galilea.
Dari Mesir, Yesus dibawa ke sini oleh Yusuf dan Maria saat dia berumur kira-kira dua tahun. Pada saat itu, bisa jadi Yusuf dan Maria belum punya anak lain. Tapi belakangan, lahirlah adik-adik tiri Yesus, yaitu Yakobus, Yusuf, Simon, dan Yudas. Yusuf dan Maria juga punya anak-anak perempuan. Jadi, Yesus punya setidaknya enam adik tiri.
Yesus juga punya kerabat lain. Kita sudah tahu tentang Elisabet dan putranya, Yohanes. Mereka tinggal di Yudea, jauh dari Nazaret. Salome, yang mungkin adalah adik Maria dan bibi Yesus, tinggal lebih dekat dengan mereka, di Galilea. Suami Salome adalah Zebedeus. Dua anak mereka, Yakobus dan Yohanes, adalah sepupu Yesus. Kita tidak tahu apakah Yesus sering bergaul dengan kedua sepupunya itu sewaktu mereka beranjak dewasa. Tapi yang jelas, belakangan mereka akrab dengan Yesus dan menjadi rasulnya.
Yusuf harus bekerja keras sebagai tukang kayu untuk menafkahi keluarganya yang semakin besar. Dia membesarkan Yesus bagaikan anak kandungnya sendiri, jadi Yesus dikenal sebagai ”anak tukang kayu”. (Matius 13:55) Yusuf juga melatih Yesus menjadi tukang kayu, dan Yesus cepat belajar. Maka, orang-orang juga mengenal Yesus sebagai ”tukang kayu”.—Markus 6:3.
Ibadah kepada Yehuwa adalah hal yang utama dalam keluarga Yusuf. Karena mematuhi Hukum Allah, Yusuf dan Maria memberikan bimbingan rohani kepada anak-anak mereka ’saat duduk di rumah, saat dalam perjalanan, saat akan tidur, dan saat mereka bangun’. (Ulangan 6:6-9) Di Nazaret ada sinagoga, yaitu tempat ibadah orang Yahudi. Yusuf pasti rutin mengajak keluarganya ke sana. Maka, sampai dewasa, Yesus terbiasa pergi ke sinagoga pada hari Sabat. (Lukas 4:16) Keluarga Yusuf juga senang sekali pergi ke bait Yehuwa di Yerusalem secara rutin.
-
-
Keluarga Yesus Pergi ke YerusalemYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 10
Keluarga Yesus Pergi ke Yerusalem
YESUS YANG BERUMUR 12 TAHUN BERDISKUSI DENGAN PARA GURU AGAMA
YESUS MENYEBUT YEHUWA SEBAGAI ”BAPAKKU”
Musim semi telah tiba. Inilah saatnya keluarga Yusuf serta teman-teman dan kerabat mereka mengadakan perjalanan tahunan ke Yerusalem, yang jaraknya sekitar 120 kilometer dari Nazaret. Mereka pergi ke sana untuk merayakan Paskah, seperti yang diwajibkan hukum Taurat. (Ulangan 16:16) Semua orang sibuk dan senang. Yesus, yang sekarang berumur 12 tahun, sangat menantikan perayaan ini dan tidak sabar untuk mengunjungi bait.
Yesus dan keluarganya tidak hanya merayakan Paskah selama satu hari. Setelah hari Paskah, dimulailah Perayaan Roti Tanpa Ragi yang lamanya tujuh hari. (Markus 14:1) Itu dianggap sebagai bagian dari Paskah. Untuk pergi dari Nazaret ke Yerusalem, menginap di Yerusalem, dan pulang lagi ke Nazaret, dibutuhkan waktu sekitar dua minggu. Tapi tahun ini, mereka harus tinggal lebih lama karena sesuatu yang Yesus lakukan.
Dalam perjalanan pulang ke Nazaret, Yusuf dan Maria mengira bahwa Yesus ada di antara kerabat dan teman-teman mereka. Tapi, ketika mereka berhenti untuk bermalam, ternyata Yesus tidak ada. Mereka mencari-carinya di antara rombongan itu, tapi Yesus tidak ditemukan. Maka, Yusuf dan Maria kembali ke Yerusalem untuk mencarinya.
Selama dua hari, mereka mencari Yesus tapi tidak juga menemukan dia. Pada hari ketiga, mereka akhirnya menemukan putra mereka di salah satu ruangan di bait. Yesus sedang duduk di tengah-tengah beberapa guru agama Yahudi. Dia mendengarkan dan mengajukan banyak pertanyaan. Guru-guru itu kagum karena dia mengerti banyak hal.
Maria bertanya, ”Nak, kenapa kamu buat kami khawatir? Ayah dan Ibu panik mencari-cari kamu.”—Lukas 2:48.
Dengan heran, Yesus bertanya, ”Kenapa Ibu dan Ayah cari-cari aku? Bukankah Ibu dan Ayah tahu aku harus ada di rumah Bapakku?”—Lukas 2:49.
Setelah itu, Yesus pulang bersama Yusuf dan Maria ke Nazaret, dan dia terus tunduk kepada mereka. Dia pun bertambah besar dan semakin bijaksana. Sejak kecil, Yesus selalu mengutamakan hal-hal rohani dan menghormati orang tuanya. Jadi meski masih muda, dia disukai oleh Allah dan manusia. Dia benar-benar teladan yang bagus untuk anak muda!
-
-
Yohanes Pembaptis Mempersiapkan JalanYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 11
Yohanes Pembaptis Mempersiapkan Jalan
MATIUS 3:1-12 MARKUS 1:1-8 LUKAS 3:1-18 YOHANES 1:6-8, 15-28
YOHANES MENGABAR DAN MEMBAPTIS
BANYAK YANG DIBAPTIS, TAPI ADA JUGA YANG TIDAK
Kira-kira 17 tahun telah berlalu sejak Yesus yang berumur 12 tahun mengajukan pertanyaan kepada para guru di bait. Sekarang musim semi tahun 29 M. Banyak orang membicarakan Yohanes, saudara Yesus yang mengabar di seluruh daerah di timur Sungai Yordan.
Penampilan maupun cara bicara Yohanes sangat unik. Pakaiannya terbuat dari bulu unta, dan dia memakai ikat pinggang kulit. Makanannya belalang dan madu hutan. Berita apa yang dia sampaikan? ”Bertobatlah, karena Kerajaan surga sudah dekat.”—Matius 3:2.
Orang-orang datang untuk mendengarkan Yohanes. Mereka berasal dari ”Yerusalem, seluruh Yudea, dan seluruh daerah sekitar Sungai Yordan”. (Matius 3:5) Hati mereka tersentuh saat mendengar berita Yohanes. Banyak yang akhirnya bertobat dengan mengubah tingkah laku dan cara hidup mereka yang buruk. Yohanes membaptis mereka dengan cara membenamkan mereka ke Sungai Yordan. Apa arti baptisan itu?
Baptisan yang Yohanes lakukan menunjukkan bahwa orang-orang itu sungguh-sungguh bertobat dari perbuatan mereka yang melanggar perjanjian Hukum Allah. (Kisah 19:4) Tapi, tidak semua orang memenuhi syarat. Ketika para pemimpin agama, orang-orang Farisi dan Saduki, datang kepadanya, Yohanes menyebut mereka ”keturunan ular berbisa”. Dia mengatakan, ”Hasilkanlah buah yang membuktikan pertobatan. Jangan berpikir bahwa kalian bisa berkata dalam hati, ’Bapak kami adalah Abraham.’ Saya katakan kepada kalian, Allah sanggup memberi Abraham anak-anak dari batu-batu ini. Kapak sudah ditaruh di dekat akar pohon. Jadi setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang bagus akan ditebang dan dilempar ke api.”—Matius 3:7-10.
Yohanes menjadi terkenal. Dia menyampaikan berita yang menyentuh hati dan membaptis banyak orang. Karena itu, orang Yahudi mengutus para imam dan orang Lewi untuk bertanya kepada Yohanes, ”Siapa kamu?”
”Saya bukan Kristus,” kata Yohanes.
”Kalau begitu, siapa? Kamu Elia?” tanya mereka.
Dia menjawab, ”Bukan.”
”Kamu Nabi yang dijanjikan itu?” tanya mereka, maksudnya nabi yang Musa nubuatkan.—Ulangan 18:15, 18.
”Bukan!” jawab Yohanes.
Mereka mendesaknya, ”Jadi kamu siapa? Kami harus berikan jawaban kepada orang-orang yang mengutus kami. Jelaskan siapa dirimu.” Yohanes mengatakan, ”Saya adalah orang yang berseru di padang belantara, ’Buatlah jalan bagi Yehuwa mulus,’ seperti yang dikatakan Nabi Yesaya.”—Yohanes 1:19-23.
Mereka makin penasaran dan bertanya, ”Kalau kamu bukan Kristus atau Elia atau Nabi yang dijanjikan itu, kenapa kamu membaptis orang?” Yohanes menjawab, ”Saya membaptis dengan air, tapi di antara kalian ada orang yang tidak kalian kenal, yang akan datang setelah saya.”—Yohanes 1:25-27.
Yohanes mengakui bahwa dia sedang mempersiapkan jalan. Maksudnya, dia membantu orang-orang agar bertobat dan siap menerima Mesias yang dinubuatkan, yang akan menjadi Raja. Yohanes berkata, ”Dia lebih berkuasa daripada saya, dan saya bahkan tidak layak melepaskan sandalnya.” (Matius 3:11) Yohanes menambahkan, ”Orang yang datang setelah saya sudah mendahului saya, karena dia sudah ada sebelum saya.”—Yohanes 1:15.
Jadi, berita Yohanes ”Bertobatlah, karena Kerajaan surga sudah dekat” benar-benar cocok, karena Raja yang akan dilantik Yehuwa, Yesus Kristus, akan segera memulai pelayanannya.—Matius 3:2.
-
-
Yesus DibaptisYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 12
Yesus Dibaptis
MATIUS 3:13-17 MARKUS 1:9-11 LUKAS 3:21, 22 YOHANES 1:32-34
YESUS DIBAPTIS DAN DIURAPI DENGAN KUASA KUDUS
YEHUWA MENYATAKAN BAHWA YESUS ADALAH PUTRANYA
Sekitar enam bulan setelah Yohanes Pembaptis memulai pengabarannya, Yesus, yang sekarang berusia kira-kira 30 tahun, menemui Yohanes di Sungai Yordan. Yesus datang bukan untuk mengobrol atau melihat perkembangan kegiatan Yohanes. Namun, Yesus ingin agar Yohanes membaptisnya.
Tentu saja, Yohanes menolak dan berkata, ”Harusnya aku yang dibaptis oleh kamu, tapi kenapa kamu yang datang kepadaku?” (Matius 3:14) Yohanes tahu bahwa Yesus adalah Putra Allah. Kita mungkin ingat bahwa Yohanes, yang masih berada dalam kandungan, melompat karena gembira ketika Elisabet, ibunya, dikunjungi oleh Maria yang sedang mengandung Yesus. Belakangan, Elisabet pasti menceritakan hal ini kepada Yohanes. Selain itu, Yohanes pasti tahu bahwa pada malam Yesus lahir, seorang malaikat mengumumkan kelahirannya dan malaikat-malaikat mendatangi para gembala.
Yohanes tahu bahwa pembaptisan yang dia lakukan adalah untuk orang-orang berdosa yang bertobat. Tapi, Yesus tidak pernah berdosa. Meski Yohanes menolak, Yesus mendesak dan berkata, ”Tidak apa-apa, karena dengan begini kita melakukan seluruh kehendak Allah.”—Matius 3:15.
Mengapa Yesus perlu dibaptis? Pembaptisannya bukan lambang pertobatan dari dosa-dosanya. Tapi dengan dibaptis, Yesus menunjukkan bahwa dia mempersembahkan dirinya untuk melakukan kehendak Bapaknya. (Ibrani 10:5-7) Selama ini, Yesus adalah tukang kayu, tapi sekarang, dia akan memulai pelayanan yang ditugaskan Bapaknya. Menurut Saudara, apakah Yohanes tahu bahwa akan ada hal luar biasa yang terjadi saat dia membaptis Yesus?
Yohanes berkata, ”Allah yang mengutus saya untuk membaptis dengan air berkata, ’Kalau kamu melihat kuasa kudus turun dan tetap ada di atas seseorang, orang itulah yang membaptis dengan kuasa kudus.’” (Yohanes 1:33) Jadi, Yohanes tahu bahwa kuasa kudus Allah akan turun ke atas salah satu orang yang dia baptis. Karena itu, ketika Yesus keluar dari air, Yohanes kemungkinan tidak kaget sewaktu melihat ”kuasa kudus Allah turun ke atas Yesus seperti burung merpati”.—Matius 3:16.
Tapi ada lagi yang terjadi. Tiba-tiba, ”langit terbuka”. Apa artinya? Kelihatannya, setelah dibaptis, Yesus mulai mengingat kembali kehidupannya di surga. Dia sekarang ingat bahwa dia dulu tinggal sebagai makhluk roh bersama Bapaknya, Yehuwa. Yesus juga ingat semua kebenaran yang Bapaknya ajarkan sebelum dia datang ke bumi.
Selain itu, saat Yesus dibaptis, ada suara dari surga yang menyatakan, ”Inilah Putra-Ku, yang Kukasihi. Aku berkenan kepadanya.” (Matius 3:17) Suara siapa itu? Pasti bukan suara Yesus, karena dia sedang bersama Yohanes. Itu adalah suara Allah. Jadi jelas, Yesus adalah Putra Allah. Dia bukan Allah.
Meskipun Yesus berada di bumi sebagai manusia, dia tetap anak Allah, sama seperti Adam, manusia pertama yang Allah ciptakan. Setelah menceritakan tentang pembaptisan Yesus, Lukas menulis, ”Ketika Yesus memulai pekerjaannya, dia berumur kira-kira 30 tahun. Menurut pendapat orang, dia adalah anak Yusuf, anak Heli, . . . anak Daud, . . . anak Abraham, . . . anak Nuh, . . . anak Adam, anak Allah.”—Lukas 3:23-38.
Setelah dibaptis, Yesus sadar bahwa dia adalah Putra rohani Allah yang akan kembali menjadi makhluk roh di surga. Dengan demikian, Yesus bisa mengajarkan kebenaran dari Allah dan menunjukkan jalan menuju kehidupan abadi. Sekarang, dia siap memulai pelayanannya, yang akan berakhir dengan kematiannya sebagai korban bagi manusia yang berdosa.
-
-
Belajar dari Cara Yesus Menghadapi GodaanYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 13
Belajar dari Cara Yesus Menghadapi Godaan
MATIUS 4:1-11 MARKUS 1:12, 13 LUKAS 4:1-13
SETAN MENGGODA YESUS
Segera setelah dibaptis oleh Yohanes, kuasa kudus Allah membawa Yesus ke Padang Belantara Yudea. Ada banyak yang harus dia renungkan. Sewaktu Yesus dibaptis, ”langit terbuka”. (Matius 3:16) Jadi, Yesus sekarang bisa mengingat kembali hal-hal yang pernah dia lakukan dan pelajari di surga. Itu pasti banyak sekali!
Yesus berada di padang belantara selama 40 hari dan 40 malam. Selama itu, dia sama sekali tidak makan sehingga sekarang dia sangat lapar. Saat itulah Setan si Iblis menggodanya dan mengatakan, ”Kalau kamu putra Allah, suruh batu-batu ini menjadi roti.” (Matius 4:3) Yesus tahu dia tidak boleh menggunakan kuasanya demi kepentingan diri sendiri. Jadi, dia tidak mau melakukannya.
Meski begitu, Iblis tidak menyerah. Dia mencoba cara lain. Dia menantang Yesus untuk menjatuhkan diri dari pagar tembok di atap bait. Tapi, Yesus tidak tergoda untuk memamerkan kehebatannya. Dengan mengutip Kitab Suci, Yesus berkata bahwa kita tidak boleh menguji Allah seperti itu.
Sebagai godaan ketiga, Iblis memperlihatkan kepada Yesus ”semua kerajaan di dunia dan kemuliaannya” lalu mengatakan, ”Semua ini akan kuberikan kepadamu kalau kamu sujud menyembah aku satu kali.” Sekali lagi, Yesus menolak dengan mengatakan, ”Pergi, Setan!” (Matius 4:8-10) Dia tidak menyerah pada godaan itu karena dia tahu bahwa pelayanan suci hanya boleh diberikan kepada Yehuwa. Yesus memilih untuk tetap setia kepada Allah.
Kita bisa menyimpulkan beberapa hal dari godaan yang Yesus alami. Misalnya, kita jadi tahu bahwa Iblis adalah makhluk roh yang benar-benar ada. Kalau Iblis hanyalah sifat jahat seperti anggapan beberapa orang, dia tidak mungkin bisa menggoda Yesus. Kisah ini juga memperlihatkan bahwa seluruh pemerintahan dunia sebenarnya milik Iblis dan ada di bawah kendalinya. Kalau tidak, mana mungkin dia menawarkan semua itu kepada Yesus? Selain itu, kita bisa belajar dari cara Yesus menghadapi godaan Iblis.
Iblis berkata bahwa dia akan memberikan imbalan kalau Yesus mau menyembah dia sekali saja. Dia bahkan mau memberi Yesus semua kerajaan dunia. Iblis mungkin menggoda kita dengan cara yang sama, misalnya dengan menyodorkan kesempatan yang menggiurkan untuk menjadi orang penting, kaya, atau berkuasa. Tirulah teladan Yesus yang tetap setia meski digoda! Tapi ingatlah, setelah meninggalkan Yesus, Iblis mencari ”kesempatan lain yang tepat”. (Lukas 4:13) Dia juga tidak akan menyerah dalam menggoda kita, jadi kita harus selalu waspada.
-
-
Yesus Mulai Mengundang Orang Menjadi MuridnyaYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 14
Yesus Mulai Mengundang Orang Menjadi Muridnya
MURID-MURID YESUS YANG PERTAMA MULAI MENGIKUTI DIA
Setelah 40 hari di padang belantara dan sebelum pulang ke Galilea, Yesus kembali menemui Yohanes Pembaptis. Ketika Yesus mendekat, Yohanes menunjuk ke arah dia dan berseru kepada orang-orang di situ, ”Lihat, dialah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia! Dialah yang saya maksud sewaktu saya berkata, ’Orang yang datang setelah saya sudah mendahului saya, karena dia sudah ada sebelum saya.’” (Yohanes 1:29, 30) Meski Yohanes sedikit lebih tua daripada Yesus, dia tahu bahwa Yesus sudah hidup sebagai makhluk roh di surga sebelum Yohanes lahir.
Beberapa minggu sebelumnya, ketika Yesus datang untuk dibaptis, Yohanes kelihatannya tidak begitu yakin bahwa Yesus adalah Mesias. Yohanes mengakui, ”Tadinya saya pun tidak tahu siapa dia, tapi saya membaptis dengan air supaya Israel bisa tahu tentang dia.”—Yohanes 1:31.
Yohanes selanjutnya menceritakan apa yang terjadi ketika dia membaptis Yesus: ”Saya melihat kuasa kudus turun dari langit seperti burung merpati, dan itu tetap ada di atasnya. Tadinya saya pun tidak tahu siapa dia, tapi Allah yang mengutus saya untuk membaptis dengan air berkata, ’Kalau kamu melihat kuasa kudus turun dan tetap ada di atas seseorang, orang itulah yang membaptis dengan kuasa kudus.’ Saya sudah melihatnya, dan saya sudah bersaksi bahwa dia Putra Allah.”—Yohanes 1:32-34.
Besoknya, Yesus kembali menemui Yohanes yang sedang bersama dua muridnya. Yohanes berkata, ”Lihat, dialah Anak Domba Allah!” (Yohanes 1:36) Setelah mendengarnya, kedua murid Yohanes Pembaptis itu menjadi pengikut Yesus. Salah satunya adalah Andreas. Murid yang satu lagi, yang juga bernama Yohanes, kemungkinan adalah orang yang mencatat kisah ini. Sepertinya dia sepupu Yesus, anak dari Salome. Salome bisa jadi adalah adik Maria, dan suaminya bernama Zebedeus.
Ketika Yesus menoleh dan melihat Andreas dan Yohanes mengikutinya, dia bertanya, ”Kalian mau apa?”
”Rabi,” tanya mereka, ”Rabi tinggal di mana?”
”Kalau kalian mau lihat, ayo ikut saya,” jawab Yesus.—Yohanes 1:37-39.
Waktu itu sekitar pukul empat sore, dan Andreas serta Yohanes terus bersama Yesus sepanjang hari itu. Andreas sangat senang sehingga dia mendatangi saudaranya yang bernama Simon, yang juga disebut Petrus, dan memberi tahu dia, ”Kami telah menemukan Mesias.” (Yohanes 1:41) Andreas memperkenalkan Petrus kepada Yesus. Kemungkinan besar, Yohanes juga mengajak saudaranya, Yakobus, untuk menemui Yesus. Namun, Yohanes tidak menceritakan hal ini dalam tulisannya.
Keesokan harinya, Yesus bertemu Filipus, yang berasal dari Betsaida. Kota itu adalah kampung halaman Andreas dan Petrus yang terletak dekat pantai utara Laut Galilea. Yesus mengundang Filipus, ”Jadilah pengikutku.”—Yohanes 1:43.
Filipus lalu menemui Natanael, yang juga disebut Bartolomeus, dan mengatakan, ”Kami sudah menemukan orang yang dibicarakan Hukum Musa dan Tulisan Para Nabi. Dia Yesus, anak Yusuf, dari Nazaret.” Karena ragu, Natanael berkata, ”Mana mungkin hal yang baik datang dari Nazaret?”
”Ayo lihat sendiri,” kata Filipus. Ketika melihat Natanael datang mendekat, Yesus berkata, ”Lihat, dia ini orang Israel sejati. Tidak ada kelicikan dalam dirinya.”
”Bagaimana kamu bisa kenal saya?” tanya Natanael.
Yesus menjawab, ”Sebelum Filipus panggil kamu, saat kamu di bawah pohon ara, saya sudah lihat kamu.”
Karena takjub, Natanael menjawab, ”Rabi, kamu Putra Allah. Kamu Raja Israel.”
Yesus berkata, ”Kamu percaya karena saya bilang saya lihat kamu di bawah pohon ara? Kamu akan lihat hal-hal yang lebih hebat lagi.” Lalu Yesus berjanji, ”Dengan sungguh-sungguh saya katakan kepada kalian, kalian akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah naik dan turun kepada Putra manusia.”—Yohanes 1:45-51.
Tak lama setelah itu, Yesus dan murid-murid barunya meninggalkan Lembah Yordan dan pergi ke Galilea.
-
-
Yesus Melakukan Mukjizatnya yang PertamaYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 15
Yesus Melakukan Mukjizatnya yang Pertama
PESTA PERNIKAHAN DI KANA
YESUS MENGUBAH AIR MENJADI ANGGUR
Ini hari ketiga sejak Natanael menjadi salah satu murid Yesus yang pertama. Yesus dan beberapa muridnya pergi ke utara, ke wilayah Galilea, daerah asal mereka. Mereka diundang ke pesta pernikahan di Kana, kampung halaman Natanael. Kana terletak di daerah perbukitan, tidak jauh dari Nazaret tempat Yesus dibesarkan.
Maria ibu Yesus juga datang ke pernikahan itu. Sebagai teman dari keluarga mempelai, tampaknya dia ikut melayani tamu. Jadi, dia langsung tahu ketika ada masalah. Dia pun memberi tahu Yesus, ”Mereka kehabisan anggur.”—Yohanes 2:3.
Dengan kata lain, Maria ingin agar Yesus berbuat sesuatu. Yesus menyatakan keberatannya, ”Ibu, apakah itu urusan kita?” (Yohanes 2:4) Sebagai Raja yang dilantik Allah, Yesus harus mengikuti petunjuk dari Bapaknya yang ada di surga, bukan dari keluarga atau temannya. Maria dengan bijaksana menyerahkan hal itu kepada putranya. Dia berkata kepada para pelayan, ”Lakukan apa saja yang dia suruh.”—Yohanes 2:5.
Ada enam tempayan yang terbuat dari batu, masing-masing bisa memuat lebih dari 40 liter air. Yesus meminta para pelayan, ”Isilah tempayan-tempayan itu dengan air.” Lalu Yesus berkata, ”Sekarang, ambil sedikit isinya dan bawa kepada ketua pesta.”—Yohanes 2:7, 8.
Ketua pesta terkesan dengan mutu anggur tersebut, tapi dia tidak tahu bahwa itu dihasilkan melalui mukjizat. Dia memanggil mempelai laki-laki dan berkata, ”Biasanya orang menyajikan anggur yang bagus lebih dulu, dan ketika orang-orang sudah mabuk, baru yang kurang bagus. Kamu malah menyimpan anggur yang bagus sampai sekarang.”—Yohanes 2:10.
Inilah mukjizat pertama yang Yesus lakukan. Ketika murid-muridnya menyaksikan mukjizat ini, mereka semakin beriman kepadanya. Setelah itu, Yesus, ibunya, dan adik-adik tirinya pergi ke kota Kapernaum di pesisir barat-laut dari Laut Galilea.
-
-
Yesus Bersemangat Membela Ibadah SejatiYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 16
Yesus Bersemangat Membela Ibadah Sejati
YESUS MENGUSIR PARA PEDAGANG DARI BAIT
Setelah pernikahan di Kana, Yesus pergi ke Kapernaum bersama ibu dan adik-adik tirinya, Yakobus, Yusuf, Simon, dan Yudas.
Mengapa Yesus pergi ke Kapernaum? Kota ini lebih besar daripada Nazaret dan Kana, dan letaknya juga lebih strategis. Selain itu, banyak murid Yesus tinggal di Kapernaum atau sekitarnya, jadi Yesus bisa melatih mereka di daerah asal mereka.
Selama di Kapernaum, Yesus juga melakukan beberapa mukjizat. Banyak orang di kota itu dan sekitarnya mendengar tentang hal-hal yang dia lakukan di sana. Tapi, sebagai orang Yahudi yang taat, Yesus dan teman-temannya harus segera pergi ke Yerusalem untuk menghadiri Perayaan Paskah tahun 30 M.
Di bait di Yerusalem, murid-murid melihat sisi lain dari Yesus, yang membuat mereka terkesan dan semakin yakin bahwa dia adalah Putra Allah.
Hukum Allah mewajibkan orang Israel mempersembahkan korban binatang di bait. Selain itu, selama tinggal di Yerusalem, para pendatang juga membutuhkan makanan. Jadi, Hukum Allah mengizinkan para pendatang membawa uang untuk membeli ”sapi, domba, kambing”, dan hal-hal lain yang mereka butuhkan. (Ulangan 14:24-26) Namun, para pedagang di Yerusalem memanfaatkan hukum itu untuk menjual binatang di dalam halaman bait. Beberapa pedagang bahkan memasang harga yang sangat tinggi.
Melihat itu, Yesus marah dan menyerakkan uang logam para penukar uang, menjungkirbalikkan meja-meja mereka, dan mengusir para pedagang. Yesus berkata, ”Singkirkan semua ini dari sini! Jangan lagi menjadikan rumah Bapakku tempat jualan!”—Yohanes 2:16.
Ketika murid-murid Yesus melihat hal ini, mereka ingat nubuat tentang Putra Allah yang berbunyi, ”Semangat untuk rumah-Mu berkobar dalam diriku.” Tapi, orang-orang Yahudi bertanya, ”Tunjukkan kepada kami suatu tanda, yang membuktikan bahwa kamu berhak melakukan semua ini.” Yesus menjawab, ”Robohkan bait ini, dan saya akan membangunnya dalam tiga hari.”—Yohanes 2:17-19; Mazmur 69:9.
Orang Yahudi mengira bahwa Yesus berbicara tentang bait di Yerusalem, maka mereka bertanya, ”Bait ini dibangun selama 46 tahun, tapi kamu akan membangunnya dalam tiga hari?” (Yohanes 2:20) Sebenarnya, bait yang Yesus maksudkan adalah tubuhnya. Tiga tahun kemudian, ketika Yesus dibangkitkan, para murid mengingat kata-katanya itu.
-
-
Yesus Mengajar Nikodemus pada Malam HariYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 17
Yesus Mengajar Nikodemus pada Malam Hari
YESUS BERDISKUSI DENGAN NIKODEMUS
APA ARTINYA ”DILAHIRKAN LAGI”
Ketika berada di Yerusalem untuk merayakan Paskah tahun 30 M, Yesus melakukan banyak mukjizat yang menakjubkan. Hasilnya, banyak orang beriman kepadanya. Salah satunya adalah seorang Farisi bernama Nikodemus. Dia adalah anggota Sanhedrin, yaitu mahkamah agung Yahudi. Karena ingin tahu lebih banyak, dia menemui Yesus ketika hari sudah gelap. Dia mungkin takut nama baiknya rusak di mata para pemimpin Yahudi.
Nikodemus berkata, ”Rabi, kami tahu Rabi diutus Allah sebagai guru, karena tidak ada orang yang bisa membuat mukjizat seperti Rabi, kecuali Allah menyertai dia.” Yesus kemudian mengatakan bahwa untuk bisa masuk ke dalam Kerajaan Allah, seseorang harus ”dilahirkan lagi”.—Yohanes 3:2, 3.
Tapi, bagaimana seseorang bisa dilahirkan lagi? ”Mana bisa dia masuk ke rahim ibunya dan dilahirkan lagi?” tanya Nikodemus.—Yohanes 3:4.
Namun, bukan itu maksudnya dilahirkan lagi. Yesus menjelaskan, ”Kalau seseorang tidak dilahirkan dari air dan kuasa kudus, dia tidak bisa masuk ke Kerajaan Allah.” (Yohanes 3:5) Setelah Yesus dibaptis, dia diurapi dengan kuasa kudus. Pada saat itulah dia dilahirkan ”dari air dan kuasa kudus”. Waktu itu, terdengar suara dari surga, ”Inilah Putra-Ku, yang Kukasihi. Aku berkenan kepadanya.” (Matius 3:16, 17) Dengan cara ini, Allah mengumumkan bahwa kini Yesus adalah putra rohani-Nya yang akan masuk ke Kerajaan surga. Belakangan, pada Pentakosta tahun 33 M, orang-orang yang dibaptis juga diurapi dengan kuasa kudus. Dengan begitu, mereka dilahirkan lagi sebagai putra-putra Allah yang terurap.—Kisah 2:1-4.
Nikodemus tidak mengerti apa yang Yesus ajarkan kepadanya tentang Kerajaan. Jadi, Yesus menjelaskan lebih banyak tentang peranan istimewanya sebagai Putra Allah di bumi. Yesus berkata, ”Seperti Musa mengangkat ular di padang belantara, Putra manusia juga harus diangkat, supaya setiap orang yang percaya kepadanya bisa mendapat kehidupan abadi.”—Yohanes 3:14, 15.
Dulu, sejumlah orang Israel digigit ular berbisa. Supaya mereka bisa tetap hidup, mereka harus menatap ular tembaga yang Musa buat. (Bilangan 21:9) Demikian juga, semua manusia perlu beriman kepada Putra Allah agar bisa hidup abadi. Untuk menunjukkan bahwa hal ini adalah bukti kasih Yehuwa, Yesus memberi tahu Nikodemus, ”Allah begitu mengasihi dunia ini sehingga Dia memberikan Putra tunggal-Nya, supaya setiap orang yang beriman kepadanya tidak dibinasakan tapi mendapat kehidupan abadi.” (Yohanes 3:16) Jadi, kira-kira enam bulan setelah memulai pelayanannya, Yesus menunjukkan bahwa dialah jalan menuju keselamatan.
Yesus memberi tahu Nikodemus, ”Allah mengutus Putra-Nya ke dunia bukan supaya dia menghakimi dunia.” Jadi, Yesus diutus bukan untuk menjatuhkan hukuman mati bagi manusia. Tapi seperti yang Yesus katakan, dia diutus ”supaya dunia diselamatkan melalui dia”.—Yohanes 3:17.
Hari sudah gelap saat Nikodemus menemui Yesus. Menarik, Yesus mengakhiri percakapan mereka dengan berkata, ”Mereka dihakimi karena alasan ini: terang itu [yang Yesus tunjukkan melalui kehidupan dan ajarannya] sudah datang ke dunia, tapi manusia lebih mencintai kegelapan daripada terang, karena mereka berbuat jahat. Siapa pun yang biasa melakukan hal-hal buruk membenci terang, dan dia tidak datang kepada terang supaya perbuatannya tidak ketahuan. Tapi siapa pun yang melakukan apa yang benar datang kepada terang itu supaya kelihatan bahwa perbuatannya sesuai dengan kehendak Allah.”—Yohanes 3:19-21.
Nikodemus, yang adalah orang Farisi dan guru di Israel, telah mendengar peran Yesus dalam menjalankan kehendak Allah. Sekarang, dia harus memutuskan apa yang harus dia lakukan.
-
-
Tugas Yesus Bertambah, Tugas Yohanes BerkurangYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 18
Tugas Yesus Bertambah, Tugas Yohanes Berkurang
MATIUS 4:12 MARKUS 6:17-20 LUKAS 3:19, 20 YOHANES 3:22–4:3
MURID-MURID YESUS MEMBAPTIS ORANG-ORANG
YOHANES PEMBAPTIS DIPENJARAKAN
Setelah merayakan Paskah pada musim semi tahun 30 M, Yesus dan murid-muridnya meninggalkan Yerusalem. Tapi, mereka tidak langsung kembali ke Galilea. Mereka pergi ke daerah pedesaan di Yudea. Di sana, mereka membaptis banyak orang. Yohanes Pembaptis, yang mungkin berada di daerah lembah Sungai Yordan, sudah membaptis orang selama kira-kira satu tahun. Beberapa muridnya masih mengikuti dia.
Yesus sendiri tidak membaptis siapa pun, tapi dia menyuruh para murid melakukannya. Pembaptisan yang mereka lakukan adalah lambang pertobatan, sama seperti pembaptisan yang dilakukan Yohanes. Saat itu, Yesus maupun Yohanes mengajar orang-orang Yahudi yang sudah bertobat dan tidak lagi melanggar perjanjian Hukum Allah.—Kisah 19:4.
Namun, murid-murid Yohanes mengeluh tentang Yesus, ”Orang yang dulu bersama Rabi . . . sekarang membaptis orang, dan semua orang pergi kepadanya.” (Yohanes 3:26) Mereka merasa iri. Tapi, Yohanes justru senang karena banyak yang mengikuti Yesus, dan dia ingin murid-muridnya juga senang. Yohanes mengingatkan, ”Kalian sendiri saksinya bahwa saya bilang, ’Saya bukan Kristus, tapi saya diutus lebih dulu daripada dia.’” Yohanes memberikan gambaran untuk memperjelas hal ini: ”Yang memiliki pengantin perempuan adalah pengantin laki-laki. Tapi sahabat pengantin laki-laki sangat bersukacita ketika berdiri di dekat pengantin laki-laki dan mendengar kata-katanya. Begitu juga dengan saya, lengkap sudah sukacita saya.”—Yohanes 3:28, 29.
Seperti sahabat pengantin laki-laki itu, beberapa bulan sebelumnya Yohanes dengan senang hati memperkenalkan murid-muridnya kepada Yesus. Sebagian muridnya sudah mengikuti Yesus dan nantinya akan diurapi dengan kuasa kudus. Yohanes mau murid-muridnya yang tersisa juga menjadi pengikut Yesus, karena tujuan Yohanes adalah mempersiapkan jalan untuk pelayanan Kristus. Dia berkata, ”Apa yang dia lakukan akan semakin banyak, tapi yang saya lakukan akan semakin sedikit.”—Yohanes 3:30.
Salah satu murid Yesus yang pertama, yang juga bernama Yohanes, belakangan menulis tentang latar belakang Yesus dan peranan pentingnya, ”Yang datang dari atas lebih tinggi daripada semua yang lain. . . . Bapak mengasihi Putra dan telah menyerahkan segala sesuatu ke tangannya. Orang yang beriman kepada Putra akan mendapat kehidupan abadi, sedangkan yang tidak taat kepada Putra tidak mendapat kehidupan, tapi merasakan kemarahan Allah untuk seterusnya.” (Yohanes 3:31, 35, 36) Ini adalah kebenaran penting yang harus diketahui semua orang!
Tidak lama setelah Yohanes Pembaptis berkata bahwa peranan dan pekerjaannya akan berkurang, dia ditangkap oleh Raja Herodes. Herodes telah merebut dan menikahi Herodias, istri dari saudara tirinya, Filipus. Yohanes dengan berani menegur Herodes di depan umum karena perzinaannya itu. Herodes pun menjebloskan Yohanes ke penjara. Saat mendengar hal itu, Yesus dan murid-muridnya meninggalkan Yudea dan pergi ke Galilea.—Matius 4:12; Markus 1:14.
-
-
Yesus Mengajar Seorang Wanita SamariaYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 19
Yesus Mengajar Seorang Wanita Samaria
YESUS MENGAJAR SEORANG WANITA SAMARIA DAN ORANG-ORANG LAIN
IBADAH YANG ALLAH TERIMA
Yesus dan para muridnya melewati Samaria untuk pergi dari Yudea ke Galilea yang terletak di utara. Mereka lelah karena sudah berjalan jauh. Saat hari mulai siang, mereka berhenti dekat kota Sikhar untuk beristirahat di dekat sebuah sumur. Sumur ini mungkin digali oleh Yakub atau orang upahannya berabad-abad sebelumnya. Sampai sekarang, sumur itu masih ada di dekat kota Nablus.
Ketika Yesus beristirahat di dekat sumur, murid-muridnya pergi ke kota untuk membeli makanan. Setelah mereka pergi, seorang wanita Samaria datang untuk menimba air. Yesus bertanya kepadanya, ”Boleh saya minta minum?”—Yohanes 4:7.
Kala itu, orang Yahudi dan Samaria sudah lama saling berprasangka, jadi mereka biasanya tidak mau berurusan dengan satu sama lain. Wanita itu pun kaget dan bertanya, ”Kamu kan orang Yahudi, dan saya wanita Samaria. Kenapa kamu minta minum dari saya?” Yesus menjawab, ”Kalau saja kamu tahu karunia dari Allah dan siapa yang minta minum kepadamu, kamu pasti akan minta air kepadanya, dan dia akan memberimu air kehidupan.” Wanita itu menjawab, ”Bapak kan tidak punya timba, dan sumur ini dalam. Jadi dari mana Bapak bisa mendapatkan air kehidupan itu? Yakub leluhur kami memberi kami sumur ini. Dia, anak-anaknya, dan ternaknya juga minum dari sini. Bapak tidak lebih besar daripada dia, kan?”—Yohanes 4:9-12.
”Setiap orang yang minum air ini akan haus lagi,” kata Yesus. ”Tapi siapa pun yang minum air yang akan saya berikan tidak akan pernah haus lagi. Air yang akan saya berikan itu akan menjadi sumber air di dalam dirinya yang menghasilkan kehidupan abadi.” (Yohanes 4:13, 14) Meski lelah, Yesus mau memberitahukan kebenaran yang dapat memberikan kehidupan abadi bagi wanita Samaria itu.
Wanita itu kemudian berkata, ”Pak, berilah saya air itu, supaya saya tidak haus lagi dan tidak usah bolak-balik ke sini untuk ambil air.” Yesus berkata kepadanya, ”Pergilah, panggil suamimu ke sini.” Dia menjawab, ”Saya tidak punya suami.” Yesus berkata, ”Kata-katamu benar. Kamu tidak punya suami. Kamu sudah punya lima suami, dan laki-laki yang sekarang bersamamu bukan suamimu.” (Yohanes 4:15-18) Wanita itu kaget sekali!
Dia langsung menyadari bahwa Yesus bukan orang biasa. Dia berkata, ”Bapak pasti nabi.” Setelah itu, dia mengatakan, ”Leluhur kami [orang Samaria] beribadah di gunung ini [Gunung Gerizim di dekat situ], tapi kalian [orang Yahudi] bilang orang harus beribadah di Yerusalem.” Dari kata-katanya itu, kita tahu bahwa wanita itu menyukai hal-hal rohani.—Yohanes 4:19, 20.
Yesus lalu menjelaskan bahwa lokasi beribadah tidaklah penting. Dia memberi tahu wanita itu, ”Suatu saat nanti, kalian tidak akan menyembah Allah di gunung ini maupun di Yerusalem.” Dia kemudian mengatakan, ”Suatu saat nanti, dan bahkan sekarang, para penyembah yang sejati akan menyembah Bapak dengan bimbingan kuasa kudus dan sesuai dengan kebenaran, karena Bapak memang mencari orang-orang yang ingin menyembah-Nya seperti itu.”—Yohanes 4:21, 23, 24.
Yang penting bagi Allah adalah cara beribadah, bukan tempatnya. Wanita itu merasa kagum. ”Saya tahu bahwa Mesias, yang disebut Kristus, akan datang,” katanya. ”Kalau dia datang, dia akan memberi tahu kami segalanya.”—Yohanes 4:25.
Yesus lalu memberitahukan sesuatu yang sangat penting: ”Sayalah orangnya, yang sedang bicara dengan kamu.” (Yohanes 4:26) Coba bayangkan! Wanita itu datang hanya untuk menimba air. Saat bertemu Yesus, dia tidak menyangka bahwa Yesus, seorang pria Yahudi, mau mengajaknya bicara. Sekarang, Yesus bahkan memberitahukan sesuatu yang belum pernah dia katakan kepada orang lain, yaitu bahwa dialah sang Mesias!
BANYAK ORANG SAMARIA MENJADI BERIMAN
Murid-murid Yesus kembali dari Sikhar dan membawa makanan. Mereka melihat Yesus masih duduk di sumur Yakub dan sedang mengobrol dengan seorang wanita Samaria. Ketika mereka sampai, wanita itu meninggalkan tempayan airnya dan pergi ke kota.
Sesampainya di Sikhar, wanita itu menceritakan kepada orang-orang apa yang Yesus katakan kepadanya. Dengan yakin, dia berkata, ”Ayo, lihatlah orang yang memberi tahu saya semua yang pernah saya lakukan.” Lalu, bisa jadi untuk membuat orang-orang penasaran, dia berkata, ”Mungkin dialah Kristus!” (Yohanes 4:29) Itu adalah topik penting yang sering dibicarakan sejak zaman Musa. (Ulangan 18:18) Orang-orang di kota itu pun pergi untuk bertemu langsung dengan Yesus.
Sementara itu, murid-murid menyuruh Yesus makan. Namun Yesus berkata, ”Aku sudah punya makanan, tapi kalian tidak tahu apa itu.” Murid-murid bingung, jadi mereka berkata satu sama lain, ”Memangnya tadi ada yang bawakan dia makanan?” Yesus menjelaskan, ”Makananku adalah melakukan kehendak Dia yang mengutus aku dan menyelesaikan pekerjaan dari-Nya.”—Yohanes 4:32-34.
Pekerjaan yang Yesus maksudkan bukanlah memanen biji-bijian, yang baru akan dilakukan empat bulan lagi. Tapi, Yesus membicarakan panen rohani. Dia menjelaskan, ”Lihat, ladang-ladang sudah putih dan siap dipanen. Para penuai sudah menerima upah dan sedang mengumpulkan buah-buah untuk kehidupan abadi, sehingga yang menabur dan yang menuai bergembira bersama.”—Yohanes 4:35, 36.
Sementara itu, Yesus tahu bahwa percakapannya dengan wanita tadi bermanfaat bagi banyak orang di Sikhar. Mereka menjadi beriman kepada Yesus karena mendengar wanita itu bersaksi, ”Dia memberi tahu saya semua yang pernah saya lakukan.” (Yohanes 4:39) Mereka pun datang ke sumur itu dan meminta Yesus tinggal bersama mereka untuk mengajarkan lebih banyak hal. Jadi, Yesus tinggal di sana selama dua hari.
Setelah mendengarkan Yesus, semakin banyak orang Samaria beriman kepadanya. Mereka berkata kepada wanita itu, ”Sekarang kami percaya, bukan karena kata-katamu saja. Kami sudah dengar sendiri, dan kami tahu bahwa orang ini memang penyelamat dunia.” (Yohanes 4:42) Kita bisa meniru wanita ini saat memberikan kesaksian tentang Yesus. Kita perlu memancing rasa ingin tahu pendengar kita sehingga mereka mau terus mendengarkan.
Ingatlah bahwa ini empat bulan sebelum panen, kemungkinan besar panen barli, yang dilakukan pada musim semi. Jadi, ini sekitar bulan November atau Desember. Artinya, setelah Perayaan Paskah tahun 30 M, Yesus dan murid-muridnya sudah berada di Yudea selama sekitar delapan bulan untuk mengajar dan membaptis orang-orang. Mereka sekarang akan kembali ke Galilea, tempat asal mereka. Apa yang akan terjadi di sana?
-
-
Mukjizat Kedua di KanaYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 20
Mukjizat Kedua di Kana
MARKUS 1:14, 15 LUKAS 4:14, 15 YOHANES 4:43-54
YESUS MEMBERITAKAN, ”KERAJAAN ALLAH SUDAH DEKAT”
DIA MENYEMBUHKAN SEORANG ANAK DARI JARAK JAUH
Setelah berada di Samaria selama sekitar dua hari, Yesus kembali ke daerah asalnya. Meski sudah sibuk mengabar di Yudea, dia tidak pulang ke Galilea untuk beristirahat. Dia malah semakin sibuk memberitakan kabar baik di daerah tempat dia dibesarkan itu. Apakah orang-orang Galilea akan mendengarkannya? Yesus mungkin tidak berharap banyak, karena dia sendiri berkata bahwa ”seorang nabi tidak dihormati di daerah asalnya sendiri”. (Yohanes 4:44) Sementara itu, para muridnya pulang ke rumah mereka dan kembali melakukan pekerjaan mereka yang dulu.
Yesus mulai memberitakan, ”Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah, dan berimanlah pada kabar baik.” (Markus 1:15) Apa tanggapan orang-orang? Ternyata, banyak orang Galilea mendengarkan Yesus dan menghormatinya. Tapi, ini bukan hanya karena isi beritanya. Beberapa bulan sebelumnya, sebagian dari mereka ada di Yerusalem untuk merayakan Paskah dan melihat berbagai mukjizat yang Yesus lakukan.—Yohanes 2:23.
Di mana Yesus mulai mengabar di Galilea? Kemungkinan besar di kota Kana, tempat dia dulu mengubah air menjadi anggur di sebuah pesta pernikahan. Kali ini, Yesus mendengar bahwa ada seorang anak lelaki yang sakit dan hampir meninggal. Anak ini adalah putra pejabat yang bekerja untuk Herodes Antipas, raja yang belakangan menyuruh agar Yohanes Pembaptis dipenggal. Pejabat ini mendengar bahwa Yesus sudah pulang dari Yudea dan berada di Kana. Jadi dia pergi dari kotanya, Kapernaum, ke Kana untuk mencari Yesus. Pria yang sedang sedih ini lalu memohon, ”Tuan, datanglah sebelum anak saya meninggal.”—Yohanes 4:49.
Yesus menjawab dengan kata-kata yang pasti membuat pria ini terkejut: ”Pulanglah, anakmu sudah sembuh.” (Yohanes 4:50) Pejabat itu percaya dan langsung kembali ke kotanya. Di tengah jalan, dia bertemu budak-budaknya. Mereka sedang dalam perjalanan untuk memberi tahu dia bahwa putranya sudah sembuh! Pejabat itu bertanya kapan anaknya sembuh. Dia ingin tahu apakah anaknya sembuh karena bantuan Yesus.
”Demamnya turun pada jam satu siang kemarin,” kata mereka.—Yohanes 4:52.
Pejabat itu pun sadar bahwa anaknya sembuh tepat saat Yesus berkata, ”Anakmu sudah sembuh.” Kemudian, pejabat itu, yang cukup kaya sehingga bisa memiliki budak, menjadi pengikut Yesus bersama seluruh rumah tangganya.
Jadi, Yesus melakukan dua mukjizat di Kana, yaitu mengubah air menjadi anggur dan menyembuhkan seorang anak dari jarak kira-kira 25 kilometer. Selain itu, ada beberapa mukjizat lain yang juga sudah Yesus lakukan. Namun, mukjizat penyembuhan ini istimewa karena ini menandai awal pelayanan Yesus di Galilea. Dia jelas adalah seorang nabi dari Allah. Tapi, apakah orang-orang ”di daerah asalnya” itu akan terus menghormati dia?
Kita akan mengetahuinya saat Yesus pulang ke kota asalnya, Nazaret. Apa yang menantinya di sana?
-
-
Di Sinagoga di NazaretYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 21
Di Sinagoga di Nazaret
YESUS MEMBACA NUBUAT YESAYA
ORANG-ORANG NAZARET MAU MEMBUNUH YESUS
Lebih dari satu tahun yang lalu, Yesus meninggalkan Nazaret untuk dibaptis oleh Yohanes. Waktu itu, dia adalah seorang tukang kayu. Tapi sekarang, Yesus terkenal karena bisa melakukan banyak mukjizat. Jadi, penduduk Nazaret pasti ingin sekali melihat Yesus melakukannya.
Mereka makin penasaran saat Yesus pergi ke sinagoga sesuai dengan kebiasaannya. Di sana, orang-orang berdoa dan membaca kitab-kitab Musa, seperti yang biasa dilakukan ”di rumah-rumah ibadah setiap hari sabat”. (Kisah 15:21) Beberapa bagian dari buku nubuat juga dibacakan. Ketika Yesus berdiri untuk membaca, dia mungkin melihat orang-orang yang dia kenal karena dulu dia sering datang ke sinagoga ini. Gulungan Nabi Yesaya diberikan kepadanya. Dia menemukan bagian yang menyebutkan tentang seseorang yang diurapi dengan kuasa kudus. Dalam Alkitab kita sekarang, bagian itu ada di Yesaya 61:1, 2.
Yesus membaca tentang apa yang akan diberitahukan orang itu, yaitu bahwa tawanan akan dibebaskan, orang buta akan disembuhkan, dan tahun kebaikan Yehuwa akan datang. Yesus lalu mengembalikan gulungan itu kepada petugas di sana dan kembali duduk. Semua mata memandangnya. Yesus kemudian memberikan penjelasan yang mungkin cukup panjang. Dalam penjelasannya, Yesus memberitahukan hal penting ini: ”Hari ini, ayat yang baru saja kalian dengar sudah menjadi kenyataan.”—Lukas 4:21.
Orang-orang sangat kagum mendengar ”kata-kata menyenangkan yang keluar dari mulutnya”, dan mereka berkata satu sama lain, ”Bukankah dia anak Yusuf?” Yesus tahu bahwa mereka ingin melihat dia melakukan mukjizat. Jadi Yesus berkata, ”Kalian pasti menggunakan pepatah ini untuk saya, ’Tabib, sembuhkan dirimu sendiri,’ dan kalian akan berkata, ’Kami sudah dengar apa yang kamu lakukan di Kapernaum. Lakukan juga itu di sini, di daerah asalmu.’” (Lukas 4:22, 23) Orang-orang Nazaret mungkin merasa bahwa Yesus seharusnya lebih dulu menyembuhkan orang dari daerah asalnya, baru orang lain. Jadi, mereka mungkin berpikir bahwa Yesus menyepelekan mereka.
Karena tahu pikiran mereka, Yesus menyebutkan beberapa contoh yang pernah terjadi di Israel. Pada zaman Elia, ada banyak janda di Israel. Tapi, Elia tidak diutus kepada mereka. Dia pergi kepada seorang janda di Zarefat, sebuah kota dekat Sidon. Di sana, Elia melakukan mukjizat yang menyelamatkan janda itu dan anaknya. (1 Raja 17:8-16) Pada zaman Elisa, ada banyak orang kusta di Israel, tapi Elisa hanya menyembuhkan Naaman, orang Siria.—2 Raja 5:1, 8-14.
Orang-orang Nazaret mungkin merasa contoh-contoh ini menunjukkan bahwa mereka egois dan tidak beriman. Jadi, apa reaksi mereka? Orang-orang di sinagoga itu sangat marah. Mereka pun membawa Yesus keluar dari kota itu, yang terletak di atas gunung. Mereka menarik dia ke tepi jurang dan berusaha mendorong dia. Tapi, Yesus berhasil kabur dan pergi dari kota itu. Sekarang, Yesus pergi ke Kapernaum, yang terletak di pesisir barat-laut dari Laut Galilea.
-
-
Empat Murid Yesus Mulai Menjadi Penjala ManusiaYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 22
Empat Murid Yesus Mulai Menjadi Penjala Manusia
MATIUS 4:13-22 MARKUS 1:16-20 LUKAS 5:1-11
YESUS MENGAJAK MURID-MURID UNTUK TERUS MENGIKUTI DIA
DULU PENJALA IKAN, SEKARANG PENJALA MANUSIA
Setelah orang-orang di Nazaret berusaha membunuh Yesus, dia pindah ke kota Kapernaum, dekat Laut Galilea yang juga disebut ”Danau Genesaret”. (Lukas 5:1) Ini sesuai dengan nubuat Yesaya bahwa orang Galilea yang tinggal dekat laut akan melihat cahaya yang sangat terang.—Yesaya 9:1, 2.
Di Galilea inilah Yesus terus mengumumkan bahwa ”Kerajaan surga sudah dekat”. (Matius 4:17) Yesus ingin mencari empat muridnya. Sebelumnya, mereka pergi bersama dia, namun setelah pulang dari Yudea, mereka kembali bekerja sebagai nelayan. (Yohanes 1:35-42) Tapi sekarang, Yesus mau melatih mereka untuk melanjutkan pengabaran setelah dia tidak ada. Maka, mereka harus mengikuti Yesus ke mana pun dia pergi.
Saat Yesus berjalan menyusuri pinggir danau, dia melihat Simon Petrus, Andreas saudaranya, dan beberapa orang lain sedang membersihkan jala mereka. Yesus menghampiri mereka, naik ke perahu Petrus, dan memintanya untuk mendayung menjauhi daratan. Setelah mereka sedikit menjauh, Yesus duduk dan mulai mengajar tentang Kerajaan Allah kepada orang-orang yang sudah berkumpul di pesisir.
Setelah itu, Yesus berkata kepada Petrus, ”Bawa perahu ini ke tempat yang dalam, dan turunkan jala kalian.” Petrus menjawab, ”Guru, kami sudah kerja keras semalaman dan tidak dapat apa-apa. Tapi aku akan turunkan jalanya seperti perintahmu.”—Lukas 5:4, 5.
Mereka pun menurunkan jala dan berhasil menangkap ikan yang sangat banyak sampai-sampai jala mereka mulai robek! Jadi, mereka minta bantuan kepada teman-teman mereka di perahu lain. Tapi, dua perahu itu lama-lama semakin penuh dan mulai tenggelam. Melihat ini, Petrus berlutut di depan Yesus dan berkata, ”Aku tidak layak ada di dekatmu, Tuan, karena aku orang berdosa.” Yesus menjawab, ”Jangan takut lagi. Mulai sekarang kamu akan jadi penjala manusia.”—Lukas 5:8, 10.
Yesus lalu memberi tahu Petrus dan Andreas, ”Ayo ikut aku. Aku akan menjadikan kalian penjala manusia.” (Matius 4:19) Yesus juga mengundang dua nelayan yang lain, Yakobus dan Yohanes, putra-putra Zebedeus. Mereka langsung mau. Jadi, empat pria ini meninggalkan bisnis mereka dan terus mengikuti Yesus.
-
-
Yesus Melakukan Beberapa Mukjizat di KapernaumYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 23
Yesus Melakukan Beberapa Mukjizat di Kapernaum
MATIUS 8:14-17 MARKUS 1:21-34 LUKAS 4:31-41
YESUS MENYEMBUHKAN PRIA YANG KERASUKAN ROH JAHAT
IBU MERTUA PETRUS DISEMBUHKAN
Yesus telah mengundang empat murid, yaitu Petrus, Andreas, Yakobus, dan Yohanes, untuk menjadi penjala manusia. Sekarang, pada hari Sabat, mereka semua pergi ke sinagoga di Kapernaum, dan Yesus mengajar di sana. Seperti di Nazaret, orang-orang kagum melihat cara dia mengajar. Mereka tersentuh karena mendengar Yesus mengajarkan Firman Allah dengan sangat jelas. Dia sangat berbeda dengan para ahli Taurat.
Hari itu, ada seorang pria yang kerasukan roh jahat. Di sinagoga itu, pria tersebut berteriak, ”Apa urusanmu dengan kami, Yesus orang Nazaret? Apa kamu ke sini untuk binasakan kami? Aku tahu betul siapa kamu, Yang Kudus dari Allah!” Yesus membentak roh jahat yang merasuki pria itu, ”Diam, keluar dari orang ini!”—Markus 1:24, 25.
Roh jahat itu pun membanting pria itu ke tanah dan membuatnya berteriak sekeras-kerasnya. Roh itu lalu keluar dari orang tersebut ”tanpa menyakitinya”. (Lukas 4:35) Orang-orang di sinagoga tercengang melihatnya. ”Apa ini?” tanya mereka. ”Dia punya kuasa untuk mengusir roh-roh najis, dan mereka taat kepadanya.” (Markus 1:27) Kejadian luar biasa ini langsung terdengar di seluruh Galilea.
Sepulangnya dari sinagoga, Yesus dan para murid pergi ke rumah Simon Petrus. Ibu mertua Petrus sedang demam tinggi. Jadi, para murid meminta Yesus menolong dia. Yesus pun memegang tangannya dan membantunya bangun. Seketika itu juga, dia sembuh dan mulai melayani Yesus dan murid-muridnya, mungkin menyiapkan makanan untuk mereka.
Saat senja, banyak orang mulai berdatangan ke rumah Petrus. Dalam waktu singkat, sudah ada kerumunan orang yang berkumpul. Mereka membawa semua orang sakit untuk disembuhkan oleh Yesus, ”tidak soal apa penyakitnya”. Yesus pun ”menyembuhkan mereka dengan menaruh tangannya ke atas mereka satu per satu”. (Lukas 4:40) Yesus menyembuhkan semua jenis penyakit, seperti yang sudah dinubuatkan. (Yesaya 53:4) Dia bahkan menyembuhkan orang yang kerasukan. Sewaktu roh-roh jahat itu keluar, mereka berteriak, ”Kamu Putra Allah.” (Lukas 4:41) Jadi, roh-roh jahat itu tahu bahwa Yesus adalah Kristus. Tapi, Yesus membentak mereka dan melarang mereka bicara lagi. Yesus tidak mau mereka berpura-pura melayani Allah Yehuwa.
-
-
Mengabar ke Daerah-Daerah Lain di GalileaYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 24
Mengabar ke Daerah-Daerah Lain di Galilea
MATIUS 4:23-25 MARKUS 1:35-39 LUKAS 4:42, 43
YESUS DAN EMPAT MURIDNYA MENGABAR KE BERBAGAI KOTA DI GALILEA
PELAYANAN DAN MUKJIZAT YESUS DIKETAHUI BANYAK ORANG
Di Kapernaum, Yesus dan empat muridnya sangat sibuk sepanjang hari. Pada malam harinya, penduduk kota itu membawa orang-orang sakit untuk disembuhkan. Yesus sulit mencari waktu untuk berdoa kepada Allah.
Jadi keesokan harinya, waktu hari masih gelap, Yesus bangun dan pergi keluar sendirian. Dia mencari tempat yang sepi supaya bisa berdoa kepada Bapaknya. Tapi, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Ketika ”Simon dan murid-murid lainnya” sadar bahwa Yesus tidak ada, mereka mencari dia. Sebagai tuan rumah, bisa jadi Petrus-lah yang berinisiatif mencari Yesus.—Markus 1:36; Lukas 4:38.
Ketika mereka menemukan Yesus, Petrus berkata, ”Semua orang mencarimu.” (Markus 1:37) Orang Kapernaum sangat berterima kasih atas apa yang Yesus lakukan, jadi mereka ”berusaha menahan dia agar tidak meninggalkan mereka”. (Lukas 4:42) Namun, apakah Yesus datang ke bumi hanya untuk menyembuhkan orang? Dan apakah dia akan melakukan pelayanannya di daerah ini saja? Apa kata Yesus?
Yesus memberi tahu murid-muridnya, ”Ayo pergi ke tempat lain, ke kota-kota dekat sini, supaya aku bisa memberitakan kabar baik di situ juga, karena untuk itulah aku datang.” Yesus berkata kepada orang-orang yang melarangnya pergi, ”Saya juga harus memberitakan kabar baik tentang Kerajaan Allah di kota-kota lain, karena untuk itulah saya diutus.”—Markus 1:38; Lukas 4:43.
Ya, Yesus datang ke bumi untuk memberitakan Kerajaan Allah. Kerajaan ini akan menyucikan nama Bapaknya dan menyelesaikan semua masalah manusia. Mukjizat Yesus membuktikan bahwa dia diutus oleh Allah. Berabad-abad sebelumnya, Musa juga melakukan banyak hal luar biasa untuk menunjukkan bahwa dia diutus oleh Allah.—Keluaran 4:1-9, 30, 31.
Yesus pun meninggalkan Kapernaum untuk memberitakan kabar baik di kota-kota lain bersama empat muridnya. Mereka adalah Petrus serta Andreas saudaranya dan juga Yohanes serta Yakobus saudaranya. Beberapa hari sebelumnya, Yesus mengundang mereka untuk mengikuti dia.
Perjalanan penginjilan mereka di Galilea sangat sukses! Banyak orang mendengar tentang Yesus. ”Berita tentang dia tersebar ke seluruh Siria”, ke wilayah sepuluh kota yang disebut Dekapolis, dan ke seberang Sungai Yordan. (Matius 4:24, 25) Banyak orang dari daerah-daerah ini dan dari Yudea berusaha bertemu Yesus dan murid-muridnya. Mereka membawa orang sakit kepada Yesus, dan dia menyembuhkan semuanya. Dia juga menyembuhkan orang-orang yang kerasukan roh jahat.
-
-
Yesus Menyembuhkan Penderita KustaYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 25
Yesus Menyembuhkan Penderita Kusta
MATIUS 8:1-4 MARKUS 1:40-45 LUKAS 5:12-16
YESUS MENYEMBUHKAN PRIA YANG SAKIT KUSTA
Yesus dan keempat muridnya terus mengabar di ”rumah-rumah ibadah di seluruh Galilea”, dan semakin banyak orang mendengar tentang berbagai mukjizat Yesus. (Markus 1:39) Hal itu juga didengar oleh seorang pria yang sakit kusta. Lukas, yang adalah seorang tabib, menulis bahwa pria ini ”penuh kusta”. (Lukas 5:12) Jika penyakit ini sudah parah, seseorang akan pelan-pelan kehilangan anggota tubuhnya.
Jadi, keadaan pria ini sangat mengenaskan. Selain itu, dia juga harus tinggal jauh dari orang-orang. Jika ada orang di dekatnya, dia harus berteriak ”Najis! Najis!” agar orang itu menjauh dan tidak tertular. (Imamat 13:45, 46) Tapi, apa yang sekarang dilakukan pria ini? Dia mendekati Yesus lalu sujud dan memohon, ”Tuan, kalau Tuan mau, Tuan bisa membuat saya sembuh.”—Matius 8:2.
Iman pria ini kepada Yesus sangat besar! Apa reaksi Yesus? Jika Saudara ada di sana, apa yang akan Saudara lakukan? Yesus merasa kasihan melihat keadaan pria itu. Dia pun mengulurkan tangannya dan menyentuh pria ini. Yesus berkata kepadanya, ”Saya mau! Sembuhlah.” (Matius 8:3) Orang-orang yang ada di sana sulit memercayai apa yang mereka lihat. Kusta itu langsung lenyap dari tubuh pria tersebut!
Apakah Saudara senang kalau punya raja seperti Yesus yang berbelaskasihan dan sanggup membantu orang-orang? Dari cara Yesus memperlakukan penderita kusta ini, kita yakin bahwa saat dia menjadi Raja atas seluruh bumi, nubuat ini akan menjadi kenyataan: ”Dia akan mengasihani orang kecil dan orang miskin, dan nyawa orang miskin akan dia selamatkan.” (Mazmur 72:13) Yesus mau dan akan membantu semua orang yang menderita.
Sebelumnya, pelayanan Yesus sudah membuat gempar banyak orang, apalagi sekarang setelah Yesus menyembuhkan penderita kusta ini. Tapi, Yesus tidak mau orang beriman kepadanya karena mendengar cerita dari mulut ke mulut. Dia tahu bahwa ada nubuat yang mengatakan bahwa ”suaranya tidak akan terdengar di jalan”, maksudnya Yesus tidak akan menyombongkan diri. (Yesaya 42:1, 2) Jadi, Yesus berkata kepada penderita kusta yang sudah sembuh itu, ”Jangan beri tahu siapa-siapa, tapi pergi dan perlihatkan dirimu kepada imam. Berikan persembahan yang Musa tetapkan.”—Matius 8:4.
Tapi karena pria itu sangat bahagia, dia tidak bisa diam saja. Dia bercerita ke mana-mana. Orang menjadi semakin penasaran dan ingin bertemu Yesus, sampai-sampai ke kota mana pun Yesus pergi, dia langsung dikenali. Maka selama beberapa waktu, dia tinggal di daerah-daerah sepi yang tidak ditinggali orang. Namun, orang-orang dari berbagai daerah tetap mendatangi Yesus untuk diajar dan disembuhkan.
-
-
”Dosamu Diampuni”Yesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 26
”Dosamu Diampuni”
MATIUS 9:1-8 MARKUS 2:1-12 LUKAS 5:17-26
YESUS MENGAMPUNI DOSA SEORANG PRIA YANG LUMPUH DAN MENYEMBUHKANNYA
Sekarang, Yesus sudah dikenal di mana-mana. Banyak orang pergi bahkan ke tempat-tempat yang terpencil untuk mendengarkan ajarannya dan melihat mukjizatnya. Namun, setelah beberapa hari, Yesus kembali ke Kapernaum, yang ada di pesisir Laut Galilea. Selama melayani, Yesus sering menginap di kota ini. Berita tentang kepulangannya langsung tersebar ke seluruh pelosok kota ini. Jadi, banyak orang datang ke rumah tempat Yesus tinggal. Beberapa dari mereka adalah orang Farisi dan para ahli Taurat yang datang dari Galilea dan Yudea, termasuk dari Yerusalem.
”Banyak orang berkumpul di rumah itu sampai tidak ada tempat lagi, bahkan di dekat pintu pun tidak. Lalu dia menceritakan kabar baik kepada mereka.” (Markus 2:2) Sesuatu yang sangat luar biasa akan terjadi sebentar lagi. Ini akan membuktikan bahwa Yesus sanggup menghapus penyebab penderitaan manusia dan memberi kita kesehatan yang sempurna.
Ketika Yesus sedang mengajar dalam ruangan yang penuh sesak itu, empat pria membawa seorang pria lumpuh dengan tandu. Mereka mau Yesus menyembuhkan teman mereka ini. Tapi karena ruangan itu penuh, ”mereka tidak bisa membawanya ke depan Yesus”. (Markus 2:4) Bayangkan betapa kecewanya mereka. Mereka pun naik ke atas rumah itu, membuka sebagian atapnya, lalu menurunkan pria lumpuh itu dengan tandunya.
Apakah Yesus merasa terganggu dan marah? Sama sekali tidak. Dia justru sangat kagum dengan iman mereka. Yesus berkata kepada pria lumpuh itu, ”Dosamu diampuni.” (Matius 9:2) Apakah Yesus memang bisa mengampuni dosa? Para ahli Taurat dan orang Farisi mempermasalahkan hal ini. Mereka berpikir, ’Kenapa dia bilang begitu? Dia menghina Allah. Yang bisa mengampuni dosa kan cuma Allah.’—Markus 2:7.
Karena mengetahui pikiran mereka, Yesus berkata, ”Kenapa kalian berpikir seperti itu dalam hati? Mana yang lebih gampang untuk dikatakan kepada orang lumpuh ini: ’Dosamu diampuni,’ atau, ’Bangunlah, angkat tandumu dan berjalanlah’?” (Markus 2:8, 9) Ya, Yesus bisa mengampuni dosa pria itu, karena pada saatnya nanti, dia akan mempersembahkan tubuhnya sebagai korban. Korban inilah yang menjadi dasar untuk pengampunan dosa.
Yesus kemudian menunjukkan kepada orang-orang, termasuk para penentangnya, bahwa dia punya wewenang untuk mengampuni dosa manusia. Dia berkata kepada pria yang lumpuh itu, ”Berdirilah, angkat tandumu, dan pulanglah ke rumahmu.” Pria itu langsung berdiri dan mengangkat tandunya di depan semua orang. Mereka semua kagum! Mereka memuji Allah dan berkata, ”Belum pernah kita lihat yang seperti ini.”—Markus 2:11, 12.
Perhatikan bahwa setelah Yesus mengampuni dosa pria itu, dia sembuh. Jadi, dosa berhubungan dengan penyakit. Alkitab mengajarkan bahwa Adam berdosa, sehingga semua keturunannya merasakan dampak dosa, seperti penyakit dan kematian. Tapi nanti, sebagai Raja Kerajaan Allah, Yesus akan mengampuni dosa semua orang yang mengasihi dan melayani Allah. Lalu, penyakit akan dilenyapkan selamanya.—Roma 5:12, 18, 19.
-
-
Matius Menjadi Murid YesusYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 27
Matius Menjadi Murid Yesus
MATIUS 9:9-13 MARKUS 2:13-17 LUKAS 5:27-32
YESUS MENGUNDANG MATIUS, SEORANG PEMUNGUT PAJAK, UNTUK MENJADI MURIDNYA
YESUS MAKAN BERSAMA ORANG-ORANG BERDOSA SUPAYA DIA BISA MEMBANTU MEREKA
Setelah menyembuhkan seorang pria yang lumpuh, Yesus tetap berada di Kapernaum, dekat Laut Galilea. Lagi-lagi kumpulan orang mendatangi Yesus, dan dia pun mengajar mereka. Belakangan dalam perjalanan, Yesus melihat Matius, yang juga disebut Lewi, sedang duduk di kantor pajak. Yesus memberikan undangan yang istimewa ini: ”Jadilah pengikutku.”—Matius 9:9.
Mungkin sama seperti Petrus, Andreas, Yakobus, dan Yohanes, Matius sudah sering mendengar tentang ajaran serta mukjizat Yesus. Dan, sama seperti keempat murid itu, Matius langsung mau menjadi murid Yesus. Dia menceritakan dalam Injilnya, ”Matius pun berdiri dan mengikuti Yesus.” (Matius 9:9) Jadi, Matius meninggalkan pekerjaannya sebagai pemungut pajak.
Lalu, mungkin untuk menunjukkan bahwa dia sangat senang karena diundang oleh Yesus, Matius mengadakan pesta besar di rumahnya. Siapa lagi yang diundang selain Yesus dan murid-muridnya? Matius juga mengundang beberapa bekas teman kerjanya, yaitu para pemungut pajak. Mereka memungut pajak untuk pemerintah Romawi yang dibenci. Ini termasuk pajak bagi kapal yang datang ke pelabuhan, bagi rombongan yang melewati jalan-jalan utama, dan atas barang-barang yang diimpor. Para pemungut pajak sering menagih pajak yang lebih besar daripada yang seharusnya. Jadi, orang Yahudi membenci mereka. Di pesta itu, ada juga orang-orang yang dikenal sebagai ”orang berdosa”.—Lukas 7:37-39.
Ketika melihat Yesus makan dengan orang seperti itu, orang-orang Farisi yang sok suci bertanya kepada murid-murid Yesus, ”Kenapa guru kalian makan bersama pemungut pajak dan orang berdosa?” (Matius 9:11) Mendengar itu, Yesus menjawab, ”Orang sehat tidak butuh tabib, tapi orang sakit butuh. Jadi pergilah, cari tahu arti kata-kata ini: ’Aku senang dengan belas kasihan, bukan korban.’ Saya datang bukan untuk memanggil orang benar, tapi orang berdosa.” (Matius 9:12, 13; Hosea 6:6) Meski orang Farisi menyebut Yesus ”guru”, mereka tidak mau belajar dari dia karena mereka tidak benar-benar percaya bahwa Yesus adalah guru. Padahal, Yesus bisa mengajarkan kebenaran kepada mereka.
Kelihatannya, Matius mengundang para pemungut pajak dan ”orang berdosa” ke rumahnya supaya mereka mendengarkan Yesus serta mendapat bantuan rohani. Dan Yesus memang mau membantu mereka dekat dengan Allah. Tidak seperti orang Farisi yang sok suci, Yesus tidak menjauhi mereka. Dia justru merasa kasihan kepada mereka. Sama seperti dokter, Yesus menyembuhkan orang-orang yang sakit secara rohani itu. Hasilnya, ”banyak dari mereka menjadi pengikutnya”.—Markus 2:15.
Meski Yesus merasa kasihan kepada para pemungut pajak dan ”orang berdosa”, dia tidak menyetujui perbuatan salah mereka. Tapi, dia merasa iba kepada mereka sama seperti saat melihat orang yang sakit. Misalnya, karena beriba hati, Yesus pernah menyentuh seorang penderita kusta lalu berkata, ”Saya mau! Sembuhlah.” (Matius 8:3) Seperti Yesus, apakah Saudara berbelaskasihan dan mau membantu orang-orang, terutama supaya mereka bisa dekat dengan Allah?
-
-
Mengapa Murid-Murid Yesus Tidak Berpuasa?Yesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 28
Mengapa Murid-Murid Yesus Tidak Berpuasa?
MATIUS 9:14-17 MARKUS 2:18-22 LUKAS 5:33-39
MURID-MURID YOHANES BERTANYA KEPADA YESUS TENTANG PUASA
Tak lama setelah Yesus merayakan Paskah tahun 30 M, Yohanes Pembaptis dipenjarakan. Yohanes ingin murid-muridnya menjadi pengikut Yesus, tapi setelah Yohanes dipenjarakan, tidak semua muridnya mengikuti Yesus.
Sekarang sudah menjelang Paskah tahun 31 M. Beberapa murid Yohanes mendatangi Yesus dan bertanya, ”Kenapa kami dan orang Farisi menjalankan puasa, tapi murid-muridmu tidak?” (Matius 9:14) Orang Farisi menjalankan puasa sebagai tradisi agama. Belakangan, dalam sebuah perumpamaan, Yesus bercerita tentang seorang Farisi yang dengan sombong berdoa, ”Ya Allah, aku bersyukur aku tidak seperti orang lain . . . Aku puasa dua kali seminggu.” (Lukas 18:11, 12) Murid-murid Yohanes bisa jadi berpuasa untuk menjalankan tradisi agama atau sebagai tanda kesedihan karena Yohanes dipenjarakan. Mereka mungkin berharap murid-murid Yesus juga melakukannya.
Yesus menjawab dengan perumpamaan, ”Selama pengantin laki-laki bersama sahabat-sahabatnya, mereka tidak perlu bersedih, kan? Tapi akan tiba saatnya pengantin itu diambil dari mereka, dan saat itulah mereka berpuasa.”—Matius 9:15.
Yohanes sendiri pernah mengatakan bahwa Yesus adalah sang pengantin laki-laki. (Yohanes 3:28, 29) Jadi selama Yesus masih ada, murid-muridnya tidak berpuasa. Setelah Yesus meninggal, barulah mereka akan berkabung dan kehilangan selera makan. Tapi setelah Yesus dibangkitkan, mereka akan sangat bahagia. Mereka tidak perlu lagi berpuasa sebagai tanda berkabung.
Yesus kemudian memberikan dua perumpamaan: ”Kalau ada baju tua yang robek, tidak ada yang akan menambalnya dengan kain baru, karena kain baru itu akan menyusut, dan robeknya akan semakin parah. Juga, orang tidak menyimpan anggur baru dalam kantong kulit yang sudah tua. Kalau mereka lakukan itu, kantong itu akan pecah dan anggurnya tumpah, dan kantong itu rusak. Sebaliknya, orang menyimpan anggur baru dalam kantong baru.” (Matius 9:16, 17) Apa maksud Yesus?
Yesus ingin memberi tahu para pengikut Yohanes Pembaptis bahwa murid-muridnya tidak akan mengikuti kebiasaan agama Yahudi yang sudah lama, seperti berpuasa. Agama Yahudi waktu itu penuh dengan tradisi manusia. Itu berbeda dengan ibadah yang Yesus ajarkan. Yesus datang bukan untuk menambal cara ibadah yang sudah waktunya disingkirkan, seolah menambal baju tua dengan kain baru atau memasukkan anggur baru ke dalam kantong tua.
-
-
Bolehkah Seseorang Berbuat Baik pada Hari Sabat?Yesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 29
Bolehkah Seseorang Berbuat Baik pada Hari Sabat?
YESUS MENGINJIL DI YUDEA
YESUS MENYEMBUHKAN SEORANG PRIA LUMPUH DI KOLAM BETZATA
Yesus telah melakukan banyak hal selama dia melayani di Galilea. Namun dia berkata, ”Saya juga harus memberitakan kabar baik tentang Kerajaan Allah di kota-kota lain.” Yesus pun ”memberitakan kabar baik di rumah-rumah ibadah di Yudea”. (Lukas 4:43, 44) Ini saat yang tepat karena sekarang adalah musim semi dan sebentar lagi akan ada perayaan di Yerusalem.
Catatan Injil tentang pelayanan Yesus di Yudea tidak sebanyak kisah pelayanannya di Galilea. Mungkin kebanyakan orang Yudea tidak tertarik dengan ajaran Yesus. Kita tidak tahu pasti. Yang jelas, Yesus terus mengabar dan berbuat baik di mana pun dia berada.
Yesus pergi ke kota utama di Yudea, yaitu Yerusalem, untuk merayakan Paskah tahun 31 M. Di area yang ramai dekat Gerbang Domba, ada sebuah kolam besar yang dikelilingi lima serambi. Kolam ini disebut Betzata. Banyak orang yang sakit, buta, dan lumpuh datang ke kolam ini. Ada kepercayaan bahwa orang sakit bisa sembuh jika mereka masuk ke kolam itu saat airnya berguncang.
Hari itu adalah hari Sabat. Di pinggir kolam ini, Yesus melihat seorang pria yang sudah sakit selama 38 tahun. Yesus bertanya, ”Apa kamu mau sembuh?” Pria itu menjawab, ”Pak, tidak ada yang bantu saya masuk ke kolam itu saat airnya berguncang. Setiap kali saya mau ke situ, orang lain sudah turun lebih dulu.”—Yohanes 5:6, 7.
Pria itu dan orang-orang di sana sangat kaget ketika mendengar Yesus berkata, ”Ayo berdiri! Angkat tikarmu dan berjalanlah.” (Yohanes 5:8) Pria itu langsung mengangkat tikarnya dan mulai berjalan. Dia sembuh!
Bukannya merasa senang atas hal luar biasa itu, sejumlah orang Yahudi berkata kepada pria tadi, ”Ini hari Sabat. Kamu tidak boleh angkat tikar ini.” Pria itu menjawab, ”Orang yang sembuhkan saya itulah yang suruh saya angkat tikar ini dan berjalan.” (Yohanes 5:10, 11) Orang-orang Yahudi itu tidak suka karena ada yang menyembuhkan orang pada hari Sabat.
Mereka bertanya, ”Siapa orangnya yang suruh kamu angkat tikar ini dan berjalan?” Mengapa mereka bertanya kepada pria tersebut? Karena Yesus ”sudah menghilang di antara kerumunan orang di sana”. Tapi, pria itu tidak tahu nama Yesus. (Yohanes 5:12, 13) Belakangan, dia bertemu lagi dengan Yesus di bait. Dia pun tahu siapa nama orang yang menyembuhkan dia di kolam.
Pria itu lalu mencari orang-orang Yahudi yang sebelumnya bertanya tentang orang yang menyembuhkan dia. Dia berkata bahwa orang itu adalah Yesus. Orang-orang Yahudi itu pun mendatangi Yesus. Mereka bukannya ingin tahu mengapa Yesus bisa melakukan hal-hal luar biasa itu. Sebaliknya, mereka ingin menyalahkan Yesus karena berbuat baik pada hari Sabat. Mereka bahkan mulai memusuhi dia!
-
-
Yesus Adalah Putra AllahYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 30
Yesus Adalah Putra Allah
ALLAH ADALAH BAPAK YESUS
YESUS MENJANJIKAN KEBANGKITAN
Beberapa orang Yahudi menuduh Yesus melanggar aturan hari Sabat karena dia menyembuhkan orang sakit. Tapi Yesus menjawab, ”Bapak saya terus bekerja sampai sekarang, jadi saya pun terus bekerja.”—Yohanes 5:17.
Apa yang Yesus lakukan tidak bertentangan dengan Hukum Allah mengenai hari Sabat. Yesus menginjil dan menyembuhkan orang karena dia meniru perbuatan baik Allah. Jadi seperti Bapaknya, Yesus terus berbuat baik setiap hari. Namun, kata-katanya membuat orang-orang Yahudi itu semakin marah dan mau membunuh Yesus. Mengapa mereka sangat kesal?
Selain menuduh Yesus melanggar aturan hari Sabat, mereka tidak bisa terima karena Yesus berkata bahwa dia adalah Putra Allah. Menurut mereka, Yesus membuat dirinya setara dengan Allah dan dengan demikian menghina Allah. Tapi Yesus tidak takut. Dia menjelaskan bahwa hubungannya dengan Allah sangat dekat. Dia berkata, ”Bapak menyayangi Putra dan memperlihatkan kepadanya semua hal yang Dia sendiri lakukan.”—Yohanes 5:20.
Sang Bapak adalah Sumber Kehidupan. Bapak menunjukkan hal ini dengan memberi beberapa orang kuasa untuk membangkitkan orang mati. Yesus berkata, ”Seperti Bapak membangkitkan orang mati dan menghidupkan mereka, Putra juga menghidupkan siapa pun yang dia inginkan.” (Yohanes 5:21) Kata-kata Yesus ini sangat penting. Dia memberitahukan bahwa di masa depan akan ada kebangkitan! Sebenarnya, sekarang pun Yesus sedang membangkitkan orang secara rohani. Yesus berkata, ”Siapa pun yang mendengar kata-kata saya dan percaya kepada Bapak yang mengutus saya akan mendapat kehidupan abadi. Dia tidak akan dihakimi, tapi dia sudah melewati kematian dan mendapat kehidupan.”—Yohanes 5:24.
Tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa sampai saat itu, Yesus sudah pernah membangkitkan orang mati. Tapi, dia memberi tahu para penentangnya bahwa dia akan melakukannya. Dia mengatakan, ”Suatu saat nanti semua orang yang di dalam kuburan akan mendengar suaranya dan keluar.”—Yohanes 5:28, 29.
Jadi, Yesus akan menjadi hakim dan membangkitkan orang mati. Namun, meski peranan Yesus sangat penting, dia menyatakan bahwa dia lebih rendah daripada Allah. Yesus berkata, ”Saya tidak bisa melakukan apa pun menurut kemauan saya sendiri. . . . Saya tidak mengikuti keinginan saya sendiri, tapi keinginan Dia yang mengutus saya.” (Yohanes 5:30) Ini pertama kalinya Yesus menjelaskan peranannya itu kepada banyak orang. Sebenarnya, para penentangnya itu sudah pernah mendengar tentang hal ini dari orang lain. Yesus mengingatkan mereka, ”Kalian sudah mengutus orang-orang kepada Yohanes [Pembaptis], dan dia sudah memberikan kesaksian yang benar.”—Yohanes 5:33.
Sekitar dua tahun sebelumnya, Yohanes memberi tahu para pemimpin agama Yahudi tentang Nabi yang akan datang setelah dia, yang akan disebut ”Kristus”. (Yohanes 1:20-25) Para penentang Yesus kemungkinan besar mendengar hal itu. Yesus lalu mengingatkan orang-orang itu bahwa mereka dulu mau mendengarkan Yohanes Pembaptis. Yesus mengatakan, ”Untuk sesaat, kalian ingin menikmati terangnya.” (Yohanes 5:35) Meski begitu, kesaksian yang Yesus berikan lebih penting daripada kesaksian Yohanes Pembaptis.
”Pekerjaan yang sedang saya lakukan [termasuk penyembuhan itu] . . . memberikan kesaksian bahwa Bapak mengutus saya.” Selain itu, Yesus melanjutkan, ”Bapak yang mengutus saya juga sudah bersaksi tentang saya.” (Yohanes 5:36, 37) Misalnya, Allah memberikan kesaksian persis setelah Yesus dibaptis.—Matius 3:17.
Jadi, semua penentang Yesus seharusnya tidak menolak dia. Kitab Suci yang katanya mereka pelajari telah memberikan kesaksian tentang Yesus. Yesus berkata, ”Kalau kalian percaya kepada Musa, kalian akan percaya kepada saya, karena dia menulis tentang saya. Tapi kalau kalian tidak percaya pada tulisannya, mana mungkin kalian percaya pada kata-kata saya?”—Yohanes 5:46, 47.
-
-
Memetik Biji-bijian pada Hari SabatYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 31
Memetik Biji-bijian pada Hari Sabat
MATIUS 12:1-8 MARKUS 2:23-28 LUKAS 6:1-5
PARA MURID MEMETIK BIJI-BIJIAN PADA HARI SABAT
YESUS ADALAH ”TUAN ATAS SABAT”
Sekarang, Yesus dan murid-muridnya pergi ke Galilea di utara. Ini adalah musim semi, dan ladang-ladang dipenuhi gandum. Karena lapar, murid-murid memetik gandum lalu makan. Tapi, ini adalah hari Sabat, dan orang-orang Farisi melihat apa yang mereka lakukan.
Baru-baru ini, sejumlah orang Yahudi mau membunuh Yesus karena dia dianggap melanggar Sabat. Sekarang, orang Farisi menggunakan tindakan para murid untuk memojokkan Yesus. ”Lihat ini! Murid-muridmu melakukan apa yang dilarang pada hari Sabat.”—Matius 12:2.
Menurut orang Farisi, memetik gandum lalu menggosok-gosoknya dengan kedua telapak tangan sama saja dengan memanen dan memukul-mukul gandum. Jadi, orang Farisi menuduh murid-murid bekerja pada hari Sabat. (Keluaran 34:21) Penafsiran mereka yang kaku itu membuat orang terbebani dengan Sabat, padahal hari itu seharusnya menguatkan secara rohani dan menyenangkan. Untuk mengoreksi pandangan mereka, Yesus menceritakan beberapa contoh yang menunjukkan bahwa Yehuwa tidak mau hukum Sabat membebani umat-Nya.
Contoh pertama adalah tentang Daud dan anak-anak buahnya. Ketika mereka lapar, mereka pergi ke tabernakel dan makan roti persembahan. Roti-roti itu ”sudah diambil dari hadapan Yehuwa” dan diganti dengan yang baru. Sebenarnya, roti itu hanya boleh dimakan para imam. Tapi karena keadaan, Daud dan anak-anak buahnya tidak dihukum.—Imamat 24:5-9; 1 Samuel 21:1-6.
Yesus memberikan contoh kedua: ”Apa kalian belum pernah baca dalam Taurat bahwa pada hari Sabat, para imam di bait bekerja tapi tetap tidak bersalah?” Maksud Yesus, bahkan pada hari Sabat, imam-imam menyembelih binatang korban dan melakukan pekerjaan lainnya di bait. Lalu Yesus berkata, ”Sekarang saya memberi tahu kalian, di sini ada orang yang lebih penting daripada bait.”—Matius 12:5, 6; Bilangan 28:9.
Yesus kemudian kembali mengutip Kitab Suci, ”Kalau saja kalian mengerti arti kata-kata, ’Aku ingin kalian berbelaskasihan, bukan mempersembahkan korban’, kalian tidak akan menghakimi orang yang tidak bersalah.” Dia lalu berkata, ”Putra manusia adalah Tuan atas Sabat.” Yesus sedang berbicara tentang pemerintahannya sebagai Raja Kerajaan Allah selama seribu tahun.—Matius 12:7, 8; Hosea 6:6.
Sejak dulu, manusia dibebani dengan berbagai masalah dalam dunia yang dikuasai Setan ini, yang penuh dengan perang dan kekerasan. Namun, selama Sabat besar, yaitu sewaktu Yesus memerintah, bumi akan menjadi damai. Pada saat itu, kita akhirnya akan bisa beristirahat dari semua kesulitan!
-
-
Apa yang Boleh Dilakukan pada Hari Sabat?Yesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 32
Apa yang Boleh Dilakukan pada Hari Sabat?
MATIUS 12:9-14 MARKUS 3:1-6 LUKAS 6:6-11
MENYEMBUHKAN SEORANG PRIA YANG TANGANNYA LUMPUH
Pada Sabat lain, Yesus mengunjungi sebuah sinagoga, kemungkinan di Galilea. Di sana, dia bertemu dengan seorang pria yang tangan kanannya lumpuh. (Lukas 6:6) Para ahli Taurat dan orang Farisi memperhatikan gerak-gerik Yesus. Mereka berkata, ”Apa boleh menyembuhkan orang pada hari Sabat?” (Matius 12:10) Mereka ingin menjebak Yesus.
Menurut pemimpin agama Yahudi, penyembuhan boleh dilakukan di hari Sabat hanya jika nyawa seseorang terancam. Misalnya, pada hari Sabat orang tidak boleh menyembuhkan patah tulang atau membalut memar, karena dua hal itu tidak membahayakan kehidupan. Tentu saja, pemimpin agama dan orang Farisi bertanya kepada Yesus bukan karena mengkhawatirkan pria yang sakit itu. Mereka hanya mencari dasar untuk menuduh Yesus.
Namun, Yesus bisa membaca pikiran mereka. Dia tahu bahwa mereka telah membuat aturan kaku tentang larangan untuk bekerja pada hari Sabat. Aturan itu tidak berdasarkan Kitab Suci. (Keluaran 20:8-10) Yesus sudah sering dikritik karena berbuat baik pada hari Sabat. Sekarang, Yesus kemungkinan besar akan semakin tidak disukai, karena dia berkata kepada pria yang sakit itu, ”Bangunlah, berdirilah di tengah.”—Markus 3:3.
Kemudian, Yesus berkata kepada para ahli Taurat dan orang Farisi, ”Kalau kalian punya satu domba, dan domba itu jatuh ke lubang pada hari Sabat, apa kalian tidak akan menariknya ke luar?” (Matius 12:11) Domba dianggap sebagai harta, jadi mereka tidak akan membiarkannya berada di lubang itu sampai keesokan harinya, karena domba itu bisa mati dan mereka pun rugi. Selain itu, Kitab Suci berkata, ”Orang benar mengurus binatang peliharaannya.”—Amsal 12:10.
Yesus lalu berkata, ”Manusia jauh lebih berharga daripada domba. Jadi, kita boleh berbuat baik pada hari Sabat.” (Matius 12:12) Jelas, penyembuhan yang Yesus lakukan tidak melanggar Sabat. Para pemimpin agama itu tidak bisa membantah Yesus karena dia berbelaskasihan dan penjelasannya masuk akal. Maka mereka diam saja.
Dengan marah sekaligus sedih karena mengetahui jalan pikiran mereka yang keliru, Yesus memandang mereka semua. Lalu dia berkata kepada pria itu, ”Ulurkan tanganmu.” (Matius 12:13) Ketika orang itu melakukannya, tangannya sembuh! Pria itu senang sekali. Tapi bagaimana perasaan orang-orang yang mencoba menjebak Yesus?
Bukannya merasa gembira karena pria itu sembuh, orang-orang Farisi pergi dan langsung ”berunding dengan pengikut partai Herodes untuk membunuh Yesus”. (Markus 3:6) Sejumlah orang yang menganut kepercayaan Saduki juga kelihatannya menjadi anggota partai ini. Biasanya, orang Saduki dan Farisi tidak sepaham, tapi kali ini mereka bersatu untuk melawan Yesus.
-
-
Yesus Melakukan Apa yang Dinubuatkan YesayaYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 33
Yesus Melakukan Apa yang Dinubuatkan Yesaya
BANYAK ORANG BERDESAK-DESAKAN UNTUK MENYENTUH YESUS
YESUS MELAKUKAN APA YANG DITULIS NABI YESAYA
Setelah mendengar bahwa orang Farisi dan partai pengikut Herodes mau membunuhnya, Yesus dan murid-muridnya pergi ke Laut Galilea. Banyak orang dari seluruh penjuru negeri itu mengikuti dia. Mereka berasal dari Galilea, Yerusalem, Idumea di selatan, daerah di timur Sungai Yordan, dan juga Tirus dan Sidon yang terletak dekat laut. Karena Yesus sudah menyembuhkan orang-orang, banyak orang yang sakit parah berdesakan untuk mendekati dia. Mereka mau menyentuh Yesus karena tidak sabar menunggu dia menyembuhkan mereka.—Markus 3:9, 10.
Jadi, Yesus meminta murid-muridnya untuk menyiapkan perahu kecil supaya dia bisa menjauh dari daratan dan tidak terjepit kerumunan orang. Dari perahu, Yesus bisa mengajar mereka. Selain itu, dia bisa langsung pergi ke daerah lain di sepanjang pesisir danau itu untuk membantu orang-orang lain.
Matius menulis bahwa ’kata-kata Nabi Yesaya menjadi kenyataan’ melalui apa yang Yesus lakukan. (Matius 12:17) Kata-kata mana yang Matius maksudkan?
”Inilah hamba-Ku yang Kupilih, yang Kukasihi. Aku berkenan kepadanya! Aku akan memberi dia kuasa kudus-Ku, dan dia akan menunjukkan artinya keadilan kepada bangsa-bangsa. Dia tidak akan bertengkar ataupun berteriak, dan suaranya tidak akan terdengar di jalan-jalan utama. Batang yang remuk tidak akan dia patahkan, dan sumbu yang redup tidak akan dia padamkan, sampai dia berhasil menegakkan keadilan. Ya, bangsa-bangsa akan berharap pada namanya.”—Matius 12:18-21; Yesaya 42:1-4.
Hamba yang Allah pilih itu pasti adalah Yesus. Yesus menunjukkan arti keadilan sejati, yang telah dirusak oleh banyaknya tradisi agama palsu. Karena membuat aturan sendiri tentang Hukum Allah, orang Farisi bahkan tidak mau membantu orang sakit pada hari Sabat! Tapi, Yesus membebaskan orang-orang yang dibebani tradisi yang tidak adil seperti itu. Dengan begitu, Yesus menunjukkan bahwa Allah itu adil dan bahwa dia mendapat kuasa dari Allah. Namun, pemimpin agama justru mau membunuhnya. Sungguh keterlaluan!
Apa maksudnya ”dia tidak akan bertengkar ataupun berteriak, dan suaranya tidak akan terdengar di jalan-jalan utama”? Setelah menyembuhkan orang, Yesus tidak mengizinkan mereka ataupun hantu-hantu untuk ”bercerita tentang dirinya”. (Markus 3:12) Yesus tidak mau orang-orang tahu tentang dia dari berita yang menggemparkan atau cerita yang keliru dari mulut ke mulut.
Selain itu, Yesus memberitahukan harapan bagi orang-orang yang tertindas seperti batang yang remuk. Yesus juga tidak menghancurkan orang-orang yang semangat hidupnya hampir padam bagaikan sumbu yang redup. Dengan lembut, pengasih, dan terampil, Yesus membantu orang-orang yang lemah. Jelaslah, semua bangsa bisa berharap pada Yesus!
-
-
Yesus Memilih Dua Belas RasulYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 34
Yesus Memilih Dua Belas Rasul
DUA BELAS RASUL YESUS
Sudah satu setengah tahun berlalu sejak Yohanes Pembaptis memperkenalkan Yesus sebagai Anak Domba Allah. Saat Yesus memulai pelayanannya, ada beberapa pria beriman yang menjadi pengikutnya, seperti Andreas, Simon Petrus, Yohanes, mungkin Yakobus (saudara Yohanes), Filipus, dan Bartolomeus (yang juga disebut Natanael). Belakangan, banyak orang lain juga mengikuti Yesus.—Yohanes 1:45-47.
Sekarang, Yesus siap memilih rasul-rasulnya. Mereka ini akan menjadi teman akrab Yesus dan menerima pelatihan khusus darinya. Tapi sebelum memilih mereka, Yesus pergi ke sebuah gunung, mungkin dekat Laut Galilea, tidak jauh dari Kapernaum. Di sana, Yesus berdoa semalaman, kemungkinan untuk meminta hikmat dan berkat Allah. Keesokan harinya, dia memanggil para muridnya dan memilih 12 murid menjadi rasul-rasulnya.
Yesus memilih enam pria yang disebutkan di awal pasal ini. Dia juga memilih Matius, yang tadinya adalah pemungut pajak. Lima orang lainnya adalah Yudas (juga disebut Tadeus dan ”anak Yakobus”), Simon orang Kanani, Tomas, Yakobus anak Alfeus, dan Yudas Iskariot.—Matius 10:2-4; Lukas 6:16.
Dua belas pria ini sudah bepergian bersama Yesus, dan Yesus sangat mengenal mereka. Beberapa dari mereka adalah keluarganya. Yakobus dan Yohanes kelihatannya adalah sepupu Yesus. Ada juga yang beranggapan bahwa Alfeus adalah saudara Yusuf, ayah Yesus. Jika itu benar, anak Alfeus, Yakobus, juga adalah sepupu Yesus.
Yesus pasti bisa mengingat semua nama rasulnya. Tapi, apakah Saudara bisa mengingatnya? Cara mudahnya, ingatlah bahwa ada dua Simon, dua Yakobus, dan dua Yudas. Simon (Petrus) bersaudara dengan Andreas, dan Yakobus (anak Zebedeus) bersaudara dengan Yohanes. Dengan begitu, kita sudah hafal nama delapan rasul. Empat lainnya adalah rasul yang dulunya pemungut pajak (Matius), rasul yang belakangan merasa ragu (Tomas), rasul yang berada di bawah pohon saat dipanggil (Natanael), dan teman Natanael (Filipus).
Sebelas rasul berasal dari Galilea, daerah asal Yesus. Natanael berasal dari Kana. Filipus, Petrus, dan Andreas berasal dari Betsaida. Petrus dan Andreas belakangan pindah ke Kapernaum, yang kelihatannya adalah tempat tinggal Matius. Yakobus dan Yohanes juga tinggal di Kapernaum atau daerah sekitar situ, dan mereka punya bisnis perikanan di dekat sana. Yudas Iskariot, yang akhirnya mengkhianati Yesus, kelihatannya adalah satu-satunya rasul yang berasal dari Yudea.
-
-
Khotbah di GunungYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 35
Khotbah di Gunung
KHOTBAH DI GUNUNG
Yesus sudah berdoa semalaman dan memilih 12 rasulnya. Sekarang hari sudah siang, dan dia pasti merasa lelah. Tapi dia masih sanggup dan ingin membantu orang-orang. Itulah yang dia lakukan di gunung di Galilea, mungkin tak jauh dari Kapernaum, kota tempat dia tinggal.
Orang-orang datang kepada Yesus dari banyak daerah yang jauh. Ada yang berasal dari selatan, yaitu dari Yerusalem dan beberapa daerah di Yudea. Yang lainnya berasal dari Tirus dan Sidon, kota-kota di dekat laut. Mengapa mereka mencari Yesus? ”Untuk mendengarkan dia dan untuk disembuhkan dari penyakit mereka.” Dan Yesus ”menyembuhkan mereka semua”. Bayangkan, semua orang sakit disembuhkan! Yesus juga mengusir roh jahat yang merasuki orang-orang.—Lukas 6:17-19.
Yesus lalu mencari tempat yang datar di lereng gunung, dan orang-orang berkumpul mengelilingi dia. Para pengikutnya, terutama 12 rasul, mungkin duduk paling dekat dengan Yesus. Semua orang sangat ingin mendengarkan guru yang bisa melakukan berbagai mukjizat ini. Khotbah Yesus hari itu sangat bermanfaat bagi para pendengarnya, bahkan sampai sekarang. Yesus mengajarkan kebenaran yang dalam dengan sederhana dan jelas. Dia memakai contoh-contoh yang dikenal banyak orang. Dengan begitu, ajarannya mudah dimengerti oleh orang-orang yang ingin menemukan kebahagiaan dengan bimbingan Allah. Apa saja yang membuat khotbah Yesus istimewa?
SIAPA YANG BENAR-BENAR BAHAGIA?
Yesus tahu bahwa semua orang ingin bahagia, jadi dia memulai khotbahnya dengan menyebutkan orang seperti apa yang benar-benar bahagia. Orang-orang pasti tertarik mendengarnya. Tapi, ada beberapa hal yang tidak mereka mengerti.
Yesus berkata, ”Bahagialah orang yang sadar bahwa mereka punya kebutuhan rohani, karena Kerajaan surga akan menjadi milik mereka. Bahagialah orang yang bersedih, karena mereka akan dihibur. . . . Bahagialah orang yang lapar dan haus akan apa yang benar, karena mereka akan dipuaskan. . . . Bahagialah orang yang dianiaya demi apa yang benar, karena Kerajaan surga akan menjadi milik mereka. Bahagialah kalian kalau orang-orang mencela kalian, menganiaya kalian . . . demi aku. . . . Bersukacitalah dan bergembiralah.”—Matius 5:3-12.
Seperti apa kebahagiaan yang Yesus maksudkan? Ini bukan sekadar perasaan senang atau ceria. Kebahagiaan yang sejati jauh lebih dalam daripada itu. Orang yang bahagia itu benar-benar puas dan merasa hidupnya bermakna.
Menurut Yesus, orang seperti apa yang benar-benar bahagia? Orang yang sadar bahwa mereka punya kebutuhan rohani, orang yang sedih karena keadaan mereka yang berdosa, dan orang yang mengenal serta melayani Allah. Bahkan jika mereka dibenci atau dianiaya karena menaati Allah, mereka bahagia karena tahu bahwa Allah senang dan akan memberi mereka kehidupan abadi.
Banyak orang berpikir bahwa mereka akan bahagia jika punya banyak harta atau selalu bersenang-senang. Tapi Yesus justru mengatakan, ”Sungguh celaka kalian yang kaya, karena kalian sudah menerima semua penghiburan yang akan kalian dapatkan. Sungguh celaka kalian yang sekarang kenyang, karena kalian akan lapar. Sungguh celaka kalian yang sekarang tertawa, karena kalian akan berkabung dan menangis. Sungguh celaka kalian kalau semua orang memuji-muji kalian, karena dulu leluhur mereka juga memuji-muji nabi palsu.”—Lukas 6:24-26.
Mengapa orang yang kaya, yang tertawa, dan yang mendapat pujian malah disebut celaka? Karena orang-orang yang mengutamakan hal-hal ini tidak akan mengutamakan Allah sehingga tidak bahagia. Yesus tidak memaksudkan bahwa orang yang miskin atau lapar pasti bahagia. Namun, orang yang berkekurangan sering kali mau mendengarkan ajaran Yesus dan akhirnya mendapat kebahagiaan.
Yesus lalu memberi tahu murid-muridnya, ”Kalian adalah garam dunia.” (Matius 5:13) Tentu saja, mereka bukan garam sungguhan. Nah, garam adalah bahan pengawet. Setumpuk garam juga ditaruh di dekat mezbah di bait Allah dan digunakan untuk membumbui persembahan. Selain itu, garam melambangkan keadaan bebas dari kerusakan atau pembusukan. (Imamat 2:13; Yehezkiel 43:23, 24) Jadi, murid-murid Yesus disebut ”garam dunia” karena mereka membantu orang-orang menjaga keadaan rohani dan moral mereka tetap baik dan tidak rusak. Berita yang mereka sampaikan seolah mengawetkan, atau menjaga mutu, kehidupan orang-orang yang menerima berita itu.
Yesus juga berkata, ”Kalian adalah terang dunia.” Lampu minyak tidak mungkin ditaruh di bawah keranjang. Itu akan ditaruh di atas meja supaya cahayanya bisa terlihat. Jadi Yesus berkata, ”Pancarkan terang kalian dengan berbuat baik, supaya orang-orang bisa melihatnya dan memuliakan Bapak kalian yang di surga.”—Matius 5:14-16.
STANDAR YANG TINGGI BAGI PARA PENGIKUTNYA
Para pemimpin agama menganggap Yesus melanggar Hukum Allah dan baru-baru ini berusaha membunuhnya. Jadi Yesus dengan terus terang berkata, ”Jangan pikir aku datang untuk menghapus Taurat atau Kitab Para Nabi. Aku datang bukan untuk menghapusnya, tapi untuk membuatnya menjadi kenyataan.”—Matius 5:17.
Ya, Yesus sangat menghargai Hukum Allah dan meminta agar orang lain juga begitu. Malah dia berkata, ”Jadi, siapa pun yang melanggar salah satu perintahnya yang paling kecil, dan mengajar orang lain berbuat seperti itu, akan dianggap paling kecil dalam hal Kerajaan surga.” Maksud Yesus, orang seperti itu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan surga. ”Tapi,” dia melanjutkan, ”siapa pun yang menjalankannya dan mengajarkannya akan dianggap besar dalam hal Kerajaan surga.”—Matius 5:19.
Yesus bahkan mengecam pikiran dan sikap yang bisa membuat seseorang melanggar Hukum Allah, walaupun itu belum dilakukan. Misalnya, setelah mengutip hukum ”Jangan membunuh”, Yesus menambahkan, ”Setiap orang yang terus marah kepada saudaranya akan dibawa ke pengadilan.” (Matius 5:21, 22) Memendam kemarahan adalah sesuatu yang serius dan bahkan bisa mengarah pada pembunuhan. Jadi, kita harus berdamai. Yesus berkata, ”Kalau kamu membawa pemberian ke mezbah, dan di sana kamu ingat bahwa saudaramu sedang kesal terhadapmu, tinggalkan pemberianmu di sana di depan mezbah, lalu pergilah berdamai dulu dengan saudaramu itu, baru kembali dan persembahkan pemberianmu.”—Matius 5:23, 24.
Hukum Allah juga melarang perzinaan. Yesus berkata, ”Kalian pernah mendengar kata-kata, ’Jangan berzina.’ Tapi aku berkata kepada kalian, setiap orang yang terus memandang seorang wanita sampai bernafsu terhadapnya sudah berzina dengannya dalam hati.” (Matius 5:27, 28) Yang Yesus maksudkan bukanlah hal-hal kotor yang sesaat terlintas di pikiran kita. Tapi maksudnya, seseorang tidak boleh ”terus memandang” karena nafsu bisa muncul. Lalu saat ada kesempatan, dia bisa berzina. Bagaimana seseorang bisa mencegah hal ini? Dia harus membuat pengorbanan besar. Yesus menasihati, ”Kalau mata kananmu membuatmu tersandung, cungkil dan buanglah itu. . . . Kalau tangan kananmu membuatmu tersandung, potong dan buanglah itu.”—Matius 5:29, 30.
Untuk menyelamatkan kehidupan, orang biasanya rela membuang anggota tubuh mereka yang membusuk. Jadi maksud Yesus, kita seharusnya rela membuang apa pun, bahkan sesuatu yang sama berharganya seperti mata atau tangan, supaya kita tidak berpikiran kotor dan berbuat cabul. Yesus mengatakan, ”Lebih baik satu anggota tubuhmu hilang daripada seluruh tubuhmu masuk ke Gehena.” Gehena adalah tempat pembakaran sampah di luar tembok Yerusalem, yang melambangkan kematian untuk selamanya.
Yesus juga memberikan nasihat tentang caranya menghadapi orang yang menyakiti kita. ”Jangan melawan orang jahat. Sebaliknya, kalau ada yang menampar pipi kananmu, berikan juga pipi kirimu,” kata Yesus. (Matius 5:39) Ini bukan berarti kita tidak boleh membela diri sendiri atau keluarga kita saat diserang. Contoh yang Yesus berikan adalah tamparan. Tamparan bukanlah serangan yang bisa membuat orang luka parah atau mati. Jadi maksud Yesus, jika seseorang menghina kita untuk memancing perbantahan atau perkelahian, mungkin dengan mengejek atau menampar kita, kita tidak boleh membalasnya.
Nasihat ini selaras dengan hukum tentang mengasihi orang lain. Jadi Yesus menasihati, ”Teruslah kasihi musuh-musuh kalian dan berdoa bagi orang-orang yang menganiaya kalian.” Dia memberitahukan alasannya: ”Supaya kalian menjadi anak-anak dari Bapak kalian yang di surga, karena Dia membuat matahari-Nya terbit untuk orang jahat maupun orang baik.”—Matius 5:44, 45.
Yesus menutup bagian ini dengan berkata, ”Jadi kalian harus sempurna, seperti Bapak kalian yang di surga sempurna.” (Matius 5:48) Yesus tahu bahwa kita tidak sempurna. Namun, jika kita meniru Allah, kita bisa semakin mengasihi orang lain, bahkan musuh kita. Yesus berkata, ”Teruslah berbelaskasihan, seperti Bapak kalian berbelaskasihan.”—Lukas 6:36.
DOA DAN IMAN KEPADA ALLAH
Yesus lalu melanjutkan khotbahnya, ”Hati-hati, jangan sampai kalian melakukan apa yang benar di depan orang hanya untuk diperhatikan mereka.” Yesus mengutuk orang yang sok suci, ”Kalau memberi sedekah, jangan meniup trompet sebelumnya, seperti yang dilakukan orang munafik.” (Matius 6:1, 2) Jadi saat memberi, kita sebaiknya tidak bercerita kepada orang lain.
Kemudian Yesus mengatakan, ”Saat berdoa, jangan seperti orang munafik, yang suka berdoa sambil berdiri di rumah-rumah ibadah dan di persimpangan jalan utama supaya dilihat orang. . . . Sebaliknya, kalau mau berdoa, masuklah ke kamarmu, tutup pintunya, lalu berdoalah kepada Bapakmu yang tidak kelihatan.” (Matius 6:5, 6) Yesus tidak melarang kita berdoa di depan banyak orang. Dia sendiri melakukannya. Yang Yesus larang adalah doa yang diucapkan agar orang terkesan atau supaya kita dipuji.
Yesus mengingatkan, ”Saat berdoa, jangan ulangi kata-kata yang sama terus-menerus seperti yang dilakukan orang-orang dari bangsa lain.” (Matius 6:7) Mendoakan suatu hal berulang kali tidaklah salah. Yang salah adalah jika kita menghafalkan doa dan ”terus-menerus” mengulanginya. Yesus lalu memberikan contoh doa yang berisi tujuh permohonan. Tiga permohonan pertama berhubungan dengan hak Allah untuk memerintah dan kehendak-Nya, yaitu agar nama-Nya disucikan, Kerajaan-Nya datang, dan kehendak-Nya terjadi. Setelah itu, barulah kita mendoakan kebutuhan kita, seperti meminta makanan untuk hari ini, meminta ampun, serta memohon agar kita tidak menyerah pada godaan dan diselamatkan dari si jahat.
Bagaimana seharusnya sikap kita terhadap harta? Yesus memberitahukan, ”Jangan lagi menimbun harta di bumi, karena serangga dan karat akan merusaknya, dan pencuri akan datang mencurinya.” Nasihat ini sangat masuk akal! Harta bisa hilang dan suatu saat akan habis. Harta juga tidak membuat kita semakin dekat dengan Allah. Karena itu, Yesus kemudian berkata, ”Timbunlah harta di surga.” Kita bisa melakukannya dengan menomorsatukan pelayanan kepada Allah dalam hidup kita. Tidak seperti harta, persahabatan kita dengan Allah tidak bisa dirusak orang. Dan, harapan kehidupan abadi tidak bisa dirampas. Kata-kata Yesus ini memang benar: ”Di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.”—Matius 6:19-21.
Untuk memperjelasnya, Yesus memberikan perumpamaan ini: ”Mata adalah lampu bagi tubuh. Jadi kalau matamu fokus, seluruh tubuhmu akan terang. Tapi kalau matamu suka iri, seluruh tubuhmu akan gelap.” (Matius 6:22, 23) Mata yang berfungsi dengan baik bagaikan lampu yang menerangi kita. Maka, kita harus berfokus melayani Allah. Jika kita berfokus pada harta, kita tidak bisa melihat apa yang benar-benar penting dalam hidup. Akibatnya, ’seluruh tubuh kita akan gelap’, dan kita mungkin akan melakukan hal-hal yang buruk.
Yesus lalu memberikan perbandingan ini: ”Tidak ada yang bisa menjadi budak bagi dua majikan, karena dia akan membenci yang satu dan mengasihi yang lain, atau setia kepada yang satu dan meremehkan yang lain. Kalian tidak bisa menjadi budak Allah sekaligus budak Kekayaan.”—Matius 6:24.
Beberapa pendengar Yesus mungkin mengkhawatirkan kebutuhan mereka. Namun, Yesus meyakinkan mereka bahwa jika mereka menomorsatukan pelayanan kepada Allah, mereka tidak usah khawatir. ”Coba amati burung-burung di langit. Mereka tidak menabur benih atau memanen atau mengumpulkan makanan di gudang, tapi Bapak kalian yang di surga memberi mereka makan.”—Matius 6:26.
Di sekitar gunung itu, ada bunga-bunga lili. Yesus berkata bahwa ”bahkan Salomo yang begitu mulia pun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu”. Apa pelajarannya? ”Kalau Allah memberikan pakaian seperti itu untuk tanaman di padang, yang hari ini ada dan besok dibakar, apalagi untuk kalian.” (Matius 6:29, 30) Yesus menasihati, ”Jangan pernah khawatir dan berpikir, ’Apa yang akan kami makan?’ atau, ’Apa yang akan kami minum?’ atau, ’Apa yang akan kami pakai?’ . . . Bapak kalian yang di surga tahu bahwa kalian butuh semua hal itu. Maka, teruslah utamakan Kerajaan dan hal-hal yang benar menurut Allah, dan semua hal lain itu akan diberikan kepada kalian.”—Matius 6:31-33.
CARA MENDAPATKAN KEHIDUPAN ABADI
Para rasul dan orang-orang tulus lainnya ingin menyenangkan Allah. Tapi itu tidak mudah. Banyak orang Farisi suka menghakimi dan kritis. Jadi Yesus mengingatkan, ”Berhentilah menghakimi supaya kalian tidak dihakimi, karena kalian akan dihakimi sesuai dengan cara kalian menghakimi.”—Matius 7:1, 2.
Yesus memberikan perumpamaan untuk menunjukkan bahayanya mengikuti bimbingan orang Farisi yang kritis, ”Apa orang buta bisa menuntun orang buta? Bukankah keduanya akan jatuh ke lubang?” Jadi, murid Yesus tidak boleh bersikap kritis, karena itu adalah kesalahan yang serius. Yesus berkata, ”Bagaimana kamu bisa berkata kepada saudaramu, ’Izinkan aku mengeluarkan jerami yang ada di matamu,’ sementara kamu tidak melihat balok di matamu sendiri? Orang munafik! Keluarkan dulu balok dari matamu, baru kamu bisa melihat dengan jelas dan mengeluarkan jerami yang ada di mata saudaramu.”—Lukas 6:39-42.
Ini bukan berarti para pengikut Yesus sama sekali tidak boleh menilai orang lain. Yesus sendiri mengatakan, ”Jangan berikan apa yang suci kepada anjing, dan jangan lemparkan mutiara kepada babi.” (Matius 7:6) Kebenaran dari Firman Allah sangatlah berharga seperti mutiara. Jika seseorang bersikap seperti binatang, maksudnya tidak menghargai kebenaran, lebih baik para murid mencari orang lain yang mau mendengarkan.
Sekarang, Yesus menekankan pentingnya terus berdoa. ”Teruslah minta, dan kalian akan diberi.” Allah siap menjawab doa kita. Yesus menandaskan hal ini dengan bertanya, ”Siapa di antara kalian yang akan memberikan batu kalau anaknya minta roti? . . . Kalau kalian yang berdosa saja tahu caranya memberikan apa yang baik kepada anak-anak kalian, apalagi Bapak kalian yang di surga! Dia pasti akan memberikan hal-hal yang baik kepada orang yang meminta kepada-Nya.”—Matius 7:7-11.
Yesus lalu mengatakan apa yang sekarang disebut Aturan Emas: ”Semua hal yang kalian ingin orang lain lakukan kepada kalian, lakukan itu juga kepada mereka.” Kita pasti mau terus mengingat dan mengikuti nasihat itu. Tapi, ini bisa jadi tidak mudah. Yesus berkata, ”Masuklah melalui gerbang yang sempit, karena gerbang yang lebar dan jalan yang luas itu menuju kemusnahan, dan banyak orang masuk melaluinya, sedangkan gerbang yang sempit dan jalan yang sesak itu menuju kehidupan, dan hanya sedikit yang menemukannya.”—Matius 7:12-14.
Ada orang-orang yang akan berusaha menyimpangkan para murid dari jalan menuju kehidupan. Jadi Yesus memperingatkan, ”Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepada kalian, yang dari luar terlihat seperti domba, padahal sebenarnya mereka serigala rakus.” (Matius 7:15) Nabi palsu bisa dikenali dari ajaran dan tindakannya, sama seperti kualitas pohon bisa diketahui dari buahnya. Jadi, orang tidak bisa sekadar mengaku sebagai murid Yesus, tapi dia harus menunjukkannya lewat tindakan. Bagaimana jika ada yang mengaku bahwa Yesus adalah Tuan mereka, tapi mereka tidak melakukan kehendak Allah? Yesus akan berterus terang, ”Saya tidak pernah mengenal kalian! Pergi kalian, orang-orang yang berbuat jahat!”—Matius 7:23.
Yesus menutup khotbahnya dengan berkata, ”Orang yang mendengar kata-kataku ini dan menaatinya akan menjadi seperti orang bijak yang membangun rumahnya di atas batu. Ketika hujan lebat turun, banjir melanda, dan angin bertiup menghantamnya, rumah itu tidak roboh karena dibangun di atas batu.” (Matius 7:24, 25) Mengapa rumah itu kuat? Karena orang itu ”menggali sampai dalam dan membuat fondasi di atas batu”. (Lukas 6:48) Jadi, sekadar mendengarkan Yesus tidak cukup. Kita harus berusaha semampu kita untuk ”menaatinya”.
Bagaimana dengan orang yang ’mendengar kata-kata’ Yesus namun ”tidak menaatinya”? Dia ”seperti orang bodoh yang membangun rumahnya di atas pasir”. (Matius 7:26) Hujan, banjir, dan angin akan merobohkan rumah itu.
Kumpulan orang itu kagum dengan cara Yesus mengajar. Dia mengajarkan Firman Allah dengan jelas, tidak seperti para pemimpin agama. Mungkin, banyak dari pendengar Yesus itu menjadi pengikutnya.
-
-
Seorang Perwira Punya Iman yang BesarYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 36
Seorang Perwira Punya Iman yang Besar
PELAYAN SEORANG PERWIRA DISEMBUHKAN
ORANG YANG BERIMAN AKAN DIBERKATI
Setelah menyampaikan Khotbah di Gunung, Yesus pergi ke Kapernaum. Di kota itu, beberapa pemimpin orang Yahudi menghampiri dia. Mereka diutus oleh seorang perwira Romawi.
Pelayan yang disayangi perwira itu sakit parah dan sudah sekarat. Walaupun perwira itu bukan orang Yahudi, dia meminta bantuan Yesus. Orang-orang Yahudi itu berkata bahwa pelayan itu ”terbaring lumpuh di rumah, dan dia sangat menderita”, mungkin karena sangat kesakitan. (Matius 8:6) Mereka lalu meyakinkan Yesus bahwa perwira itu layak dia bantu. Mereka berkata, ”Dia mengasihi bangsa kita dan dialah yang membangun rumah ibadah kami.”—Lukas 7:4, 5.
Yesus pun pergi bersama mereka ke rumah perwira tersebut. Waktu mereka sudah dekat, perwira itu mengutus beberapa sahabatnya untuk menyampaikan pesan: ”Tidak usah repot-repot datang, Pak, saya tidak layak menerimamu di rumah saya. Karena itulah saya merasa tidak layak menemuimu.” (Lukas 7:6, 7) Jadi, meski jabatannya cukup tinggi, perwira itu rendah hati. Dia juga berbeda dengan orang-orang Romawi lain yang memperlakukan pelayan dengan kasar.—Matius 8:9.
Perwira itu tahu bahwa orang Yahudi tidak mau bergaul dengan orang dari bangsa lain. (Kisah 10:28) Mungkin karena itulah dia mengirim pesan kepada Yesus: ”Katakan saja sesuatu, dan pelayan saya pasti sembuh.”—Lukas 7:7.
Yesus sangat terkesan. Dia mengatakan, ”Saya memberi tahu kalian, bahkan di Israel belum pernah saya bertemu siapa pun yang imannya sebesar ini.” (Lukas 7:9) Ketika sahabat-sahabat perwira itu pulang, mereka melihat bahwa pelayan itu sudah sembuh.
Setelah Yesus menyembuhkan pelayan itu, dia memberitahukan bahwa orang-orang dari bangsa lain akan diberkati jika beriman. Dia berkata, ”Banyak orang dari timur dan barat akan datang dan duduk untuk makan bersama Abraham, Ishak, dan Yakub dalam Kerajaan surga.” Bagaimana dengan orang Yahudi yang tidak beriman? Yesus berkata bahwa mereka ”akan dilempar ke dalam kegelapan di luar. Di sanalah mereka akan menangis dan menggertakkan gigi”.—Matius 8:11, 12.
Kesempatan untuk memerintah bersama Kristus di surga pertama-tama diberikan kepada orang Yahudi. Namun, orang-orang Yahudi yang tidak menghargainya akan ditolak oleh Allah, dan kesempatan untuk duduk bersama Kristus ”dalam Kerajaan surga” akan diberikan kepada orang-orang dari bangsa lain.
-
-
Yesus Membangkitkan Putra Seorang JandaYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 37
Yesus Membangkitkan Putra Seorang Janda
MUKJIZAT KEBANGKITAN DI NAIN
Tak lama setelah menyembuhkan pelayan seorang perwira Romawi, Yesus meninggalkan Kapernaum dan pergi sejauh lebih dari 30 kilometer ke arah barat daya, ke kota Nain. Dia tidak sendirian. Para murid dan kumpulan orang mengikuti dia. Kemungkinan ketika sudah sore, mereka hampir sampai di kota Nain. Di jalan, mereka bertemu rombongan orang Yahudi yang membawa jenazah seorang anak muda untuk dikubur di luar kota itu.
Ibu anak itu, yang ada di antara rombongan tersebut, sangat terpukul. Dia adalah seorang janda. Dulu ketika suaminya meninggal, setidaknya dia masih memiliki seorang putra. Hubungan mereka pasti sangat dekat, dan dia pasti berharap anak satu-satunya itu bisa terus merawat dia. Tapi sekarang, anak itu juga meninggal. Siapa yang akan menemani dan mengurus dia?
Ketika Yesus melihat wanita itu, dia merasa kasihan karena wanita itu sangat sedih dan sebatang kara. Dengan kata-kata yang lembut namun meyakinkan, Yesus memberi tahu dia, ”Jangan menangis lagi.” Lalu, Yesus menyentuh usungan jenazah itu. (Lukas 7:13, 14) Karena melihat tindakan Yesus, rombongan itu berhenti. Mereka pasti berpikir, ’Kenapa dia berkata begitu, dan apa yang akan dia lakukan?’
Sementara itu, apa yang dipikirkan orang-orang yang mengikuti Yesus? Mereka telah melihat dia menyembuhkan banyak orang dan melakukan mukjizat lain. Tapi, mereka kemungkinan besar belum pernah melihat Yesus membangkitkan orang mati. Dulu, nabi-nabi pernah membangkitkan orang mati. Apakah sekarang Yesus juga bisa melakukannya? (1 Raja 17:17-23; 2 Raja 4:32-37) Yesus berkata, ”Anak muda, saya katakan kepadamu, ’Bangunlah!’” (Lukas 7:14) Anak muda itu pun duduk dan mulai berbicara! Yesus lalu menyerahkan dia kepada ibunya, yang terkejut sekaligus bahagia. Sekarang, dia tidak sendirian lagi.
Saat orang-orang melihat anak itu hidup lagi, mereka memuji Yehuwa, yang adalah Sumber Kehidupan. Mereka berkata, ”Seorang nabi hebat muncul di antara kita.” Ada juga yang mengatakan, ”Allah telah memperhatikan umat-Nya.” (Lukas 7:16) Kabar tentang mukjizat yang luar biasa ini dengan cepat tersebar ke sekitar kota itu dan mungkin ke Nazaret, daerah asal Yesus, yang jaraknya sekitar sepuluh kilometer dari situ. Kabar ini bahkan juga sampai ke Yudea di selatan.
Pada waktu itu, Yohanes Pembaptis masih berada di penjara. Dia sangat tertarik mendengar murid-muridnya bercerita tentang berbagai mukjizat Yesus. Jadi, apa yang dia lakukan?
-
-
Yohanes Bertanya kepada YesusYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 38
Yohanes Bertanya kepada Yesus
YOHANES PEMBAPTIS BERTANYA TENTANG PERANAN YESUS
YESUS MEMUJI YOHANES
Yohanes Pembaptis telah dipenjarakan selama sekitar setahun. Di penjara, dia mendengar tentang berbagai mukjizat Yesus. Bayangkan perasaan Yohanes saat para pengikutnya memberi tahu dia bahwa Yesus membangkitkan putra seorang janda di Nain. Namun, Yohanes ingin mendengar langsung dari Yesus tentang arti semua mukjizatnya. Jadi, Yohanes memanggil dua pengikutnya untuk bertanya kepada Yesus, ”Apakah kamu orang yang akan datang itu, atau kami harus tunggu orang yang lain?”—Lukas 7:19.
Pertanyaan itu mungkin terdengar aneh karena Yohanes adalah orang yang beriman. Selain itu, saat membaptis Yesus hampir dua tahun sebelumnya, dia melihat kuasa kudus turun ke atas Yesus dan mendengar Allah berkata bahwa Dia berkenan kepada Yesus. Kita bisa yakin bahwa iman Yohanes tidak melemah. Buktinya, dalam kisah ini, Yesus memuji Yohanes. Tapi, mengapa Yohanes bertanya seperti itu?
Yohanes mungkin hanya ingin mendengar pengakuan langsung dari Yesus bahwa dia adalah Mesias. Ini bisa menguatkan Yohanes selama dia menderita di penjara. Selain itu, Yohanes kelihatannya punya maksud lain. Dia tahu nubuat-nubuat dalam Kitab Suci yang mengatakan bahwa orang yang diurapi Allah akan menjadi Raja dan Pembebas. Tapi, mengapa Yohanes malah dipenjarakan beberapa bulan setelah Yesus dibaptis? Jadi, Yohanes ingin tahu apakah ada orang lain yang akan menjadi penerus Yesus dan melakukan semua hal yang dinubuatkan tentang Mesias.
Yesus tidak langsung menjawab bahwa dialah sang Mesias yang dijanjikan. Namun, untuk menunjukkan bahwa dia diutus oleh Allah, Yesus menyembuhkan banyak orang sakit. Dia lalu berkata kepada murid-murid Yohanes, ”Pergilah dan laporkan kepada Yohanes apa yang kalian lihat dan dengar: Orang buta sekarang melihat, orang lumpuh berjalan, penderita kusta disembuhkan, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan, dan orang miskin diberi tahu tentang kabar baik.”—Matius 11:4, 5.
Pertanyaan Yohanes juga menunjukkan bahwa dia mungkin berharap Yesus akan berbuat lebih banyak, bahkan membebaskan Yohanes. Namun, Yesus memberi tahu Yohanes agar tidak mengharapkan lebih banyak mukjizat.
Ketika murid-murid Yohanes pergi, Yesus mengatakan kepada kumpulan orang di situ bahwa Yohanes bukan sekadar nabi. Dia adalah ”utusan” yang Yehuwa nubuatkan di Maleakhi 3:1. Dia juga adalah Nabi Elia yang dinubuatkan di Maleakhi 4:5, 6. Yesus menjelaskan, ”Sesungguhnya saya katakan, di antara semua orang yang dilahirkan wanita, tidak pernah muncul seorang pun yang lebih besar daripada Yohanes Pembaptis, tapi yang paling kecil dalam Kerajaan surga lebih besar daripada dia.”—Matius 11:11.
Apa maksud kata-kata Yesus ”yang paling kecil dalam Kerajaan surga lebih besar daripada [Yohanes]”? Maksudnya, Yohanes tidak akan hidup di surga. Yohanes mempersiapkan jalan bagi Yesus, tapi dia meninggal sebelum Yesus membuka jalan ke surga. (Ibrani 10:19, 20) Meski begitu, Yohanes adalah nabi yang setia dan akan hidup di bumi sebagai rakyat Kerajaan Allah.
-
-
Tidak Ada Berkat bagi Generasi yang Tidak TanggapYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 39
Tidak Ada Berkat bagi Generasi yang Tidak Tanggap
YESUS MENEGUR BEBERAPA KOTA
YESUS MENAWARKAN KESEGARAN
Yesus sangat menghargai Yohanes Pembaptis, tapi bagaimana pandangan banyak orang tentang Yohanes? Yesus mengatakan, ”Generasi ini seperti anak-anak kecil yang duduk di pasar, yang berkata kepada teman-teman bermain mereka, ’Kami main seruling untuk kalian, tapi kalian tidak menari. Kami nyanyi lagu perkabungan, tapi kalian tidak menunjukkan kesedihan.’”—Matius 11:16, 17.
Apa maksud Yesus? Dia menjelaskan, ”Yohanes datang, tidak makan ataupun minum, tapi orang bilang dia dirasuki roh jahat. Putra manusia datang, makan dan minum, tapi orang bilang dia rakus dan suka minum anggur, sahabat para pemungut pajak dan orang berdosa.” (Matius 11:18, 19) Sebagai orang Nazir, Yohanes hidup sangat sederhana. Dia bahkan tidak minum anggur. Namun, orang-orang berkata bahwa dia dirasuki roh jahat. (Bilangan 6:2, 3; Lukas 1:15) Di sisi lain, Yesus hidup seperti kebanyakan orang lainnya. Dia cukup makan dan minum, tapi orang-orang menganggap dia rakus. Jadi, seperti anak-anak di pasar tadi, generasi itu susah disenangkan.
Yesus menyamakan generasi itu dengan anak-anak yang tidak mau menari saat anak-anak lain main seruling ataupun bersedih saat yang lain menangis. ”Meski begitu,” dia berkata, ”hikmat seseorang nyata dari perbuatannya.” (Matius 11:16, 19) Jadi ’perbuatan’, atau tindakan, Yohanes dan Yesus membuktikan bahwa tuduhan terhadap mereka tidak benar.
Setelah Yesus mengatakan bahwa generasi itu tidak tanggap, dia menegur beberapa kota tempat dia pernah melakukan mukjizat, yaitu Khorazin, Betsaida, dan Kapernaum. Yesus berkata bahwa jika dia melakukan mukjizat-mukjizat itu di Tirus dan Sidon, kota-kota di Fenisia, orang-orang di sana pasti sudah bertobat. Meski Yesus pernah tinggal di Kapernaum, kebanyakan orang di sana tidak menyambut kabar baik. Maka Yesus berkata tentang kota itu, ”Hukuman atas Sodom pada Hari Penghakiman akan lebih ringan daripada hukuman atas kalian.”—Matius 11:24.
Yesus kemudian memuji Bapaknya karena Dia menyembunyikan kebenaran rohani ”dari orang yang berhikmat dan cerdas”, tapi memberitahukannya kepada orang yang rendah hati, yang seperti anak-anak. (Matius 11:25) Yesus mengundang mereka yang rendah hati, ”Datanglah kepadaku, kalian semua yang lelah dan terbebani, dan aku akan menyegarkan kalian. Pikullah kuk aku dan belajarlah dariku, karena aku lembut hati dan rendah hati, dan kalian akan segar kembali. Kuk aku nyaman, dan bebanku ringan.”—Matius 11:28-30.
Mengapa Yesus ingin memberi mereka kesegaran? Para pemimpin agama telah membebani orang dengan berbagai tradisi, seperti aturan Sabat yang terlalu kaku. Nah, Yesus memberikan kesegaran dengan mengajarkan kebenaran tentang Allah tanpa dicemari tradisi. Dia juga memberikan kelegaan kepada orang yang ditindas pemerintah dan kepada orang yang terbebani oleh dosa. Yesus memberitahukan bahwa dosa mereka bisa diampuni dan mereka bisa punya hubungan baik dengan Allah.
Orang-orang yang mau memikul kuk Yesus yang ringan bisa membaktikan diri kepada Allah dan melayani Bapak kita yang berbelaskasihan. Itu bukanlah sesuatu yang berat karena perintah-perintah Allah sama sekali tidak membebani.—1 Yohanes 5:3.
-
-
Pelajaran tentang PengampunanYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 40
Pelajaran tentang Pengampunan
WANITA YANG ’DIKENAL SEBAGAI ORANG BERDOSA’ MENUANGKAN MINYAK KE KAKI YESUS
PERUMPAMAAN TENTANG PENGAMPUNAN
Tanggapan orang-orang terhadap pelayanan Yesus berbeda-beda, bergantung pada hati mereka. Mari kita lihat apa yang terjadi di Galilea. Seorang Farisi bernama Simon mengundang Yesus makan. Dia mungkin penasaran karena Yesus bisa melakukan banyak mukjizat. Yesus menerima undangan itu, mungkin karena dia ingin menggunakan kesempatan itu untuk mengajar. Yesus sebelumnya juga pernah makan bersama para pemungut pajak dan para pedosa.
Namun, Yesus tidak diperlakukan layaknya seorang tamu. Di Palestina, orang biasanya memakai sandal. Setelah melewati jalan-jalan yang berdebu, kaki mereka kotor dan kepanasan. Jadi, kaki tamu biasanya dibasuh dengan air yang sejuk. Tapi kali ini, tidak ada yang mencuci kaki Yesus. Tidak ada yang memberinya ciuman selamat datang atau meminyaki rambutnya, seperti yang seharusnya diberikan kepada para tamu.
Jamuan makan pun dimulai. Saat semua orang duduk dan makan, seorang wanita yang tidak diundang diam-diam memasuki ruangan. Dia ”dikenal di kota itu sebagai orang berdosa”. (Lukas 7:37) Semua orang memang berdosa, tapi wanita itu ’dikenal sebagai orang berdosa’ karena dia bukan wanita baik-baik. Sepertinya dia adalah pelacur. Bisa jadi, dia telah mendengar ajaran Yesus, termasuk janjinya untuk menyegarkan orang yang terbebani. (Matius 11:28, 29) Karena tersentuh oleh kata-kata dan tindakan Yesus, dia kini mencari Yesus.
Dia lalu berlutut dekat kaki Yesus. Air matanya membasahi kaki Yesus, dan dia mengusap kaki Yesus dengan rambutnya. Dia mencium kaki Yesus dengan lembut dan mengolesinya dengan minyak wangi. Melihat itu, Simon berkata dalam hati, ”Kalau orang ini benar-benar nabi, harusnya dia tahu siapa dan wanita macam apa yang menyentuhnya. Dia itu orang berdosa.”—Lukas 7:39.
Karena tahu pikiran Simon, Yesus berkata, ”Simon, ada yang mau saya katakan kepadamu.” Dia menjawab, ”Apa, Guru?” Yesus mengatakan, ”Dua pria berutang kepada seseorang, yang satu berutang 500 dinar, yang satu lagi 50 dinar. Sewaktu mereka tidak punya apa-apa untuk membayar utang, orang itu membebaskan mereka berdua dari utang. Jadi, dari antara mereka berdua, siapa yang akan lebih mengasihi orang itu?” Simon menjawab, ”Saya rasa, orang yang utangnya lebih besar.”—Lukas 7:40-43.
Yesus setuju. Lalu dia berkata kepada Simon, ”Kamu lihat wanita ini? Saya datang ke rumahmu, dan kamu tidak memberi saya air untuk cuci kaki. Tapi wanita ini membasahi kaki saya dengan air matanya dan mengusapnya dengan rambutnya. Kamu tidak menyambut saya dengan ciuman, tapi wanita ini tidak berhenti mencium kaki saya dengan lembut sejak saya datang. Kamu tidak menuangkan minyak ke kepala saya, tapi wanita ini menuangkan minyak wangi ke kaki saya.” Yesus bisa melihat bahwa wanita itu menyesali perbuatannya dan mau berubah. Jadi dia mengatakan, ”Saya memberi tahu kamu, meskipun dosa wanita ini banyak, semua itu sudah diampuni, karena dia menunjukkan kasih yang besar. Tapi orang yang diampuni sedikit hanya menunjukkan sedikit kasih.”—Lukas 7:44-47.
Yesus bukannya membenarkan perbuatan wanita itu. Tapi, dia berbelaskasihan kepada orang yang melakukan dosa besar namun bertobat dan meminta bantuannya. Bayangkan betapa leganya wanita itu ketika Yesus berkata, ”Dosa-dosamu diampuni. . . . Imanmu sudah membuat kamu selamat. Pergilah dengan damai.”—Lukas 7:48, 50.
-
-
Mukjizat Yesus—Dengan Kuasa Siapa?Yesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 41
Mukjizat Yesus—Dengan Kuasa Siapa?
MATIUS 12:22-32 MARKUS 3:19-30 LUKAS 8:1-3
PERJALANAN PENGINJILAN YESUS YANG KEDUA DIMULAI
YESUS MENGUSIR ROH-ROH JAHAT
DOSA YANG TIDAK BISA DIAMPUNI
Setelah Yesus mengajarkan tentang pengampunan di rumah Simon, dia memulai perjalanan penginjilannya yang kedua di daerah Galilea. Ini adalah tahun kedua pelayanannya. Sekarang, dia ditemani 12 rasulnya dan beberapa wanita yang telah dia ’bebaskan dari roh-roh jahat dan sembuhkan’. (Lukas 8:2) Di antaranya adalah Maria Magdalena, Susana, dan Yohana, istri dari pengurus rumah tangga Raja Herodes Antipas.
Semakin banyak orang mendengar tentang Yesus, tapi tidak semua menyukai dia. Ini terlihat ketika Yesus menyembuhkan seorang pria yang buta, tuli, dan juga kerasukan hantu. Setelah dia sembuh, orang-orang merasa kagum dan berkata tentang Yesus, ”Mungkin dia Putra Daud!”—Matius 12:23.
Orang-orang pun berdatangan ke rumah tempat Yesus berada. Jumlah mereka sangat banyak sampai-sampai Yesus dan murid-muridnya tidak sempat makan. Namun, tidak semua merasa bahwa Yesus adalah ”Putra Daud” yang dinubuatkan. Beberapa ahli Taurat dan orang Farisi jauh-jauh datang dari Yerusalem, bukan untuk mendengarkan ajaran Yesus atau menjadi pengikutnya, tapi untuk memfitnah Yesus. Mereka memberi tahu orang-orang bahwa Yesus ”kesurupan Beelzebul”, atau Setan, dan dibantu oleh ”penguasa roh jahat” itu. (Markus 3:22) Ketika keluarga Yesus mendengar apa yang terjadi, mereka datang untuk membawa Yesus pergi. Mengapa?
Saat itu, adik-adik Yesus belum percaya bahwa dia Putra Allah. (Yohanes 7:5) Bagi mereka, Yesus yang mereka kenal, yang tumbuh besar bersama mereka di Nazaret, tidak mungkin menyebabkan kegemparan seperti itu. Karena itu mereka menyimpulkan, ”Dia sudah tidak waras.”—Markus 3:21.
Namun kenyataannya, Yesus memang menyembuhkan pria itu. Fakta ini tidak bisa dibantah. Karena itulah para ahli Taurat dan orang Farisi memfitnah Yesus dan berkata, ”Orang ini tidak akan mengusir roh jahat kecuali dengan bantuan Beelzebul, penguasa roh jahat.”—Matius 12:24.
Yesus tahu apa yang mereka pikirkan, jadi dia menjawab, ”Setiap kerajaan yang terpecah belah akan runtuh, dan setiap kota atau rumah tangga yang terpecah belah tidak akan bertahan. Begitu juga, kalau Setan mengusir Setan, dia terpecah belah. Kalau seperti itu, bagaimana kerajaannya akan bertahan?”—Matius 12:25, 26.
Penjelasan itu sangat masuk akal! Setelah itu Yesus bertanya, ”Kalau saya mengusir roh jahat dengan bantuan Beelzebul, pengikut kalian mengusirnya dengan bantuan siapa?” (Matius 12:27) Orang Farisi tahu bahwa ada beberapa orang Yahudi yang mengusir roh jahat. (Kisah 19:13) Jadi, kata-kata mereka sebenarnya menjelek-jelekkan pengikut mereka sendiri. Yesus kemudian berkata, ”Tapi kalau saya mengusir roh jahat dengan bantuan kuasa kudus Allah, itu berarti Kerajaan Allah sudah ada di sini tanpa kalian sadari.”—Matius 12:28.
Yesus sanggup mengusir roh jahat. Ini membuktikan bahwa dia lebih berkuasa dari Setan. Dia berkata, ”Bagaimana seseorang bisa masuk ke rumah seorang pria yang kuat dan merampas hartanya kalau dia tidak mengikat pria itu dulu? Setelah mengikatnya, barulah dia bisa menjarah rumahnya.” Lalu Yesus berkata, ”Siapa pun yang tidak memihak saya melawan saya, dan siapa pun yang tidak mengumpulkan bersama saya mencerai-beraikan.” (Matius 12:29, 30) Para ahli Taurat dan orang Farisi jelas-jelas melawan Yesus. Jadi, mereka adalah pengikut Setan. Mereka menjauhkan orang dari Yesus, Putra Allah yang mendapat kuasa dari Yehuwa.
Yesus memperingatkan orang-orang yang jahat ini, ”Segala perbuatan manusia akan diampuni, tidak soal dosa yang mereka lakukan dan hinaan yang mereka katakan. Tapi, siapa pun yang menghina kuasa kudus tidak akan pernah diampuni. Itu adalah dosa yang kekal.” (Markus 3:28, 29) Mukjizat Yesus jelas-jelas dilakukan dengan kuasa kudus Allah. Jadi, jika seseorang menyatakan bahwa mukjizat itu adalah perbuatan Setan, akibatnya bisa fatal!
-
-
Yesus Menegur Orang Farisi dengan KerasYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 42
Yesus Menegur Orang Farisi dengan Keras
MATIUS 12:33-50 MARKUS 3:31-35 LUKAS 8:19-21
YESUS MENJELASKAN TENTANG ”TANDA NABI YUNUS”
YESUS LEBIH DEKAT DENGAN PARA MURIDNYA DARIPADA DENGAN KELUARGANYA
Para ahli Taurat dan orang Farisi tidak percaya bahwa Yesus mendapat kuasa dari Allah untuk mengusir roh jahat. Sikap mereka itu bisa menghina kuasa kudus. Yesus mengatakan, ”Kalau pohon kalian baik, buahnya baik, dan kalau pohon kalian busuk, buahnya busuk. Dari buahnya, bisa diketahui seperti apa pohonnya.”—Matius 12:33.
Tindakan baik Yesus yang mengusir roh jahat malah disebut perbuatan Setan. Sungguh tidak masuk akal! Seperti yang Yesus jelaskan dalam Khotbah di Gunung, buah yang baik pasti berasal dari pohon yang baik, bukan yang busuk. Buah orang Farisi, yaitu tuduhan mereka yang tidak masuk akal terhadap Yesus, menunjukkan kebusukan mereka. Maka Yesus berkata, ”Keturunan ular berbisa, bagaimana kalian bisa mengucapkan hal-hal baik kalau kalian jahat? Apa yang diucapkan mulut meluap dari hati.”—Matius 7:16, 17; 12:34.
Ya, kata-kata kita menunjukkan isi hati kita, dan kita akan dihakimi berdasarkan hal itu. Yesus memperingatkan, ”Pada Hari Penghakiman, manusia akan bertanggung jawab atas setiap perkataan tak berguna yang mereka ucapkan. Dari kata-katamu kamu akan dinyatakan benar, dan dari kata-katamu kamu akan dinyatakan bersalah.”—Matius 12:36, 37.
Yesus sudah melakukan banyak mukjizat, tapi para ahli Taurat dan orang Farisi meminta, ”Guru, kami mau melihat tanda darimu.” Padahal, kalaupun mereka belum pernah melihat sendiri mukjizat Yesus, sudah ada banyak saksi mata. Jadi Yesus berkata, ”Generasi yang jahat dan tidak setia ini terus meminta tanda, tapi mereka tidak akan melihat tanda apa pun kecuali tanda Nabi Yunus.”—Matius 12:38, 39.
Yesus lalu menjelaskan arti kata-katanya, ”Seperti Yunus berada dalam perut ikan besar selama tiga hari tiga malam, Putra manusia akan berada dalam perut bumi selama tiga hari tiga malam.” Yunus ditelan seekor ikan besar namun kemudian dimuntahkan, seolah-olah hidup lagi. Yesus sedang menubuatkan bahwa dia akan mati lalu dibangkitkan pada hari ketiga. Setelah dia dibangkitkan, para pemimpin Yahudi tetap tidak mau bertobat dan berubah. Dengan demikian, mereka menolak ”tanda Nabi Yunus”. (Matius 27:63-66; 28:12-15) Mereka berbeda dengan ”orang-orang Niniwe” yang bertobat setelah diperingatkan oleh Yunus. Jadi orang Niniwe seolah ”menyatakan generasi ini bersalah”. Yesus juga mengatakan bahwa ratu dari Syeba tidak seperti mereka, karena dia mau mendengarkan dan menghargai hikmat Salomo. Maka, ratu itu seolah mengecam mereka. Lalu Yesus mengatakan, ”Di sini ada yang lebih penting daripada Salomo.”—Matius 12:40-42.
Menurut Yesus, generasi yang jahat itu seperti seorang pria yang ditinggalkan oleh roh najis yang tadinya merasuki dia. (Matius 12:45) Karena pria itu tidak mengisi dirinya dengan hal-hal yang baik, roh jahat itu kembali bersama tujuh roh lain yang lebih jahat lalu merasuki pria itu. Seperti pria itu, bangsa Israel tadinya telah dibersihkan dan diperbarui. Tapi sekarang, keadaan bangsa itu menjadi lebih buruk karena mereka menolak para nabi dan melawan Yesus, yang jelas-jelas diberi kuasa oleh Allah.
Ketika Yesus sedang berbicara, ibu dan adik-adiknya datang dan berdiri di belakang kumpulan orang. Beberapa orang memberi tahu Yesus, ”Ibu dan saudara-saudaramu berdiri di luar. Mereka mau bertemu denganmu.” Tapi Yesus mengatakan, ”Ibuku dan saudara-saudaraku adalah orang-orang ini, yang mendengar firman Allah dan melakukannya.” (Lukas 8:20, 21) Yesus merasa sangat dekat dengan para pengikutnya. Mereka sudah seperti ibu dan kakak-adiknya sendiri. Jadi bagi Yesus, meski keluarga sangat penting, hubungannya dengan para muridnya jauh lebih berharga. Sekarang, kita juga bisa akrab dengan saudara-saudari di sidang. Kita pasti senang karena punya persaudaraan seperti itu, terutama saat orang lain tidak memercayai kita atau menentang perbuatan baik kita.
-
-
Beberapa Perumpamaan tentang Kerajaan AllahYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 43
Beberapa Perumpamaan tentang Kerajaan Allah
MATIUS 13:1-53 MARKUS 4:1-34 LUKAS 8:4-18
YESUS MENCERITAKAN BERBAGAI PERUMPAMAAN TENTANG KERAJAAN ALLAH
Sewaktu menegur orang Farisi dengan keras, Yesus kelihatannya berada di Kapernaum. Setelah itu, dia pergi ke Laut Galilea. Di sana, banyak orang sudah berkumpul. Yesus naik ke perahu, sedikit menjauhi pesisir, lalu mulai mengajar tentang Kerajaan Allah dengan banyak perumpamaan. Para pendengar Yesus mengenal baik hal-hal yang Yesus pakai sebagai contoh. Jadi, mereka bisa benar-benar memahami apa yang Yesus ajarkan tentang Kerajaan Allah.
Pertama, Yesus membahas tentang seorang penabur benih. Beberapa benih jatuh di jalan dan dimakan burung. Benih-benih lain jatuh di daerah berbatu yang tanahnya sedikit sehingga tidak bisa berakar sampai dalam. Akibatnya, tanaman yang baru tumbuh itu terbakar panasnya matahari dan menjadi layu. Ada juga benih yang jatuh di semak berduri sehingga terjepit dan tidak bisa tumbuh. Yang terakhir adalah benih yang jatuh di tanah yang bagus. Benih ini ”mulai menghasilkan buah, yang ini 100 kali lipat, yang itu 60, dan yang lain 30”.—Matius 13:8.
Yesus kemudian memberikan perumpamaan lain tentang Kerajaan Allah. Dia bercerita tentang pria yang menabur benih. Sementara pria itu tidur ataupun bangun, benih itu terus tumbuh. Bagaimana tumbuhnya, ”dia tidak tahu”. (Markus 4:27) Benih itu tumbuh dengan sendirinya dan akhirnya menghasilkan gandum yang bisa dipanen.
Yesus lalu menceritakan perumpamaan ketiga tentang menaburkan benih. Seorang pria menaburkan benih gandum, tapi ”selagi orang-orang tidur”, musuh menaburkan benih lalang di antara gandum. Para budak pria itu bertanya apakah mereka perlu mencabut lalang-lalang, tapi pria itu menjawab, ”Jangan, sewaktu kalian mencabut lalang, gandumnya bisa ikut tercabut. Biarkan keduanya tumbuh bersama sampai panen, dan pada musim panen, saya akan memerintahkan para penuai: Kumpulkan lalangnya lebih dulu, ikat semuanya untuk dibakar. Setelah itu, kumpulkan gandumnya ke gudang saya.” (Matius 13:24-30) Banyak pendengar Yesus mengenal bidang pertanian, jadi mereka bisa memahami perumpamaannya.
Sekarang, Yesus berbicara tentang biji sesawi. Biji itu sangat kecil tapi akan tumbuh menjadi pohon yang sangat besar sehingga burung-burung bisa tinggal di sana. Yesus berkata, ”Kerajaan surga itu seperti biji sesawi yang diambil lalu ditanam seseorang di ladangnya.” (Matius 13:31) Yesus bukan sedang mengajar tentang tanaman. Tapi, dia menjelaskan bahwa sesuatu yang sangat kecil bisa tumbuh menjadi sangat besar.
Yesus kemudian berbicara tentang sesuatu yang juga dipahami oleh banyak pendengarnya. Dia menyamakan Kerajaan Allah dengan ”ragi yang diambil seorang wanita dan dicampur dengan tiga takaran besar tepung”. (Matius 13:33) Meski tidak kelihatan, ragi itu menyebar ke seluruh adonan sehingga adonan itu mengembang. Tapi, perkembangan itu tidak langsung terlihat.
Setelah memberikan semua perumpamaan tersebut, Yesus membubarkan kumpulan orang itu dan kembali ke rumah tempat dia tinggal. Tak lama kemudian, para murid mendatangi dia karena ingin tahu arti semua perumpamaan itu.
MANFAAT DARI PERUMPAMAAN YESUS
Para murid sebelumnya pernah mendengar Yesus memakai perumpamaan, tapi tidak pernah sebanyak ini. Mereka pun bertanya, ”Kenapa kamu berbicara kepada mereka memakai perumpamaan?”—Matius 13:10.
Salah satunya karena Alkitab memang sudah menubuatkan hal ini tentang Mesias. Matius menulis, ”Dia tidak akan berbicara kepada mereka tanpa perumpamaan, sehingga apa yang diucapkan melalui nabi ini menjadi kenyataan: ’Mulutku akan mengucapkan perumpamaan. Aku akan menyatakan hal-hal yang tersembunyi sejak permulaan.’”—Matius 13:34, 35; Mazmur 78:2.
Selain itu, Yesus menggunakan perumpamaan untuk menyingkapkan isi hati orang-orang. Banyak yang mengagumi Yesus karena dia pintar mengajar dan bisa melakukan mukjizat. Tapi, mereka tidak menaati Yesus ataupun berkorban untuk menjadi pengikutnya. (Lukas 6:46, 47) Mereka menutup hati mereka dan tidak mau mengubah cara berpikir serta tingkah laku mereka.
Yesus berkata kepada para murid, ”Karena itulah aku berbicara kepada mereka memakai perumpamaan. Mereka memandang dengan sia-sia, mereka mendengar dengan sia-sia, dan mereka tidak paham artinya. Nubuat Yesaya ini terjadi atas mereka: ’. . . Hati bangsa ini sudah tertutup.’”—Matius 13:13-15; Yesaya 6:9, 10.
Tapi, tidak semua pendengar Yesus seperti itu. Dia berkata, ”Kalian bahagia karena mata kalian melihat dan telinga kalian mendengar. Sebab sesungguhnya kukatakan kepada kalian, banyak nabi dan orang benar ingin melihat hal-hal yang sedang kalian lihat, tapi tidak melihatnya. Mereka ingin mendengar hal-hal yang kalian dengar, tapi tidak mendengarnya.”—Matius 13:16, 17.
Ke-12 rasul dan banyak murid lainnya punya hati yang tulus. Maka Yesus mengatakan, ”Kalian diizinkan untuk mengerti rahasia suci Kerajaan surga, tapi mereka tidak.” (Matius 13:11) Karena mereka benar-benar ingin memahami perumpamaan tentang penabur, Yesus menjelaskan artinya.
”Benih itu adalah firman Allah,” kata Yesus. (Lukas 8:11) Tanah adalah hati seseorang. Dengan memahami kedua hal ini, kita akan mengerti perumpamaan Yesus.
Yesus menjelaskan arti dari benih yang ada di pinggir jalan. Dia berkata, ”Iblis datang dan mengambil firman itu dari hati mereka supaya mereka tidak percaya dan tidak diselamatkan.” (Lukas 8:12) Benih yang jatuh di tanah berbatu menggambarkan orang yang senang saat mendengar firman Allah, namun firman itu tidak berakar kuat dalam hati mereka. Ketika mereka ”sengsara atau dianiaya karena firman itu”, mereka menyerah. Saat ”diuji”, mungkin ditentang oleh keluarga atau orang lain, mereka tidak lagi mengikuti Yesus.—Matius 13:21; Lukas 8:13.
Bagaimana dengan benih yang jatuh di semak berduri? Yesus menjelaskan bahwa itu memaksudkan orang-orang yang telah mendengar firman Allah namun terlalu khawatir ”soal kehidupan di dunia ini dan tipu daya kekayaan”. (Matius 13:22) Firman Allah sudah ada dalam hati mereka, tapi itu tidak bertumbuh dan tidak berbuah.
Benih yang terakhir adalah benih yang jatuh di tanah yang bagus. Ini adalah orang yang mendengar firman Allah lalu membiarkannya bertumbuh dalam hati mereka sehingga mereka tahu apa yang harus dilakukan. Hasilnya, mereka ”menghasilkan buah”. Tapi karena satu atau lain hal, misalnya karena usia atau kesehatan, kemampuan setiap orang berbeda. Ada yang menghasilkan 100 kali lipat, ada yang 60 kali lipat, dan ada yang 30 kali lipat. Meski begitu, orang yang ”tulus dan baik” akan diberkati karena ”setelah mendengar firman itu, dia menyimpannya dalam hati dan menghasilkan buah sambil bertekun”.—Lukas 8:15.
Bayangkan perasaan para murid saat mendengar itu. Mereka tadinya bingung, tapi sekarang mereka sangat senang karena memahami perumpamaan Yesus itu. Yesus memang ingin mereka memahaminya agar mereka bisa memberitahukan kebenaran kepada orang lain. ”Kalau lampu minyak dikeluarkan, orang tidak akan menaruhnya di bawah keranjang atau di bawah tempat tidur,” katanya. ”Itu dikeluarkan untuk ditaruh di tempat lampu.” Jadi Yesus menasihati, ”Siapa pun yang punya telinga, dengarkanlah.”—Markus 4:21-23.
DIBERKATI DENGAN LEBIH BANYAK PENJELASAN
Setelah mendengarkan penjelasan Yesus tentang perumpamaan soal penabur, para murid berkata, ”Jelaskanlah kepada kami perumpamaan tentang lalang di ladang.”—Matius 13:36.
Pertanyaan itu menunjukkan bahwa para murid berbeda dengan kebanyakan orang di tepi laut tadi. Para murid mendatangi Yesus untuk mencari tahu arti perumpamaannya, sedangkan kumpulan orang itu tidak. Mereka puas dengan hanya mengetahui garis besarnya.
Yesus berkata, ”Perhatikan apa yang kalian dengar. Seberapa banyak yang kalian berikan, sebanyak itulah yang akan kalian terima, bahkan lebih dari itu.” (Markus 4:24) Para murid sungguh-sungguh memperhatikan ajaran Yesus dan terus bertanya, jadi mereka diberkati dengan lebih banyak pengajaran. Yesus sekarang menjelaskan perumpamaan tentang gandum dan lalang kepada mereka:
”Orang yang menabur benih gandum adalah Putra manusia, ladangnya adalah dunia, benih gandum adalah orang-orang yang akan mewarisi Kerajaan, sedangkan lalang adalah anak-anak si jahat, dan musuh yang menaburnya adalah Iblis. Musim panen adalah penutup zaman ini, dan para penuai adalah para malaikat.”—Matius 13:37-39.
Lalu, Yesus memberitahukan apa yang akan terjadi. Pada penutup zaman ini, para penuai, yaitu para malaikat, akan memisahkan orang Kristen palsu yang seperti lalang dari ”orang-orang yang akan mewarisi Kerajaan”. ”Orang-orang benar” akan dikumpulkan dan akhirnya bersinar ”dalam Kerajaan Bapak mereka”. Bagaimana dengan ”anak-anak si jahat”? Mereka ”menangis dan menggertakkan gigi” karena mereka akan dimusnahkan.—Matius 13:41-43.
Yesus kemudian memberi murid-muridnya berkat berupa tiga perumpamaan lain. Pertama, dia berkata, ”Kerajaan surga itu seperti harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan oleh seseorang dan disembunyikan lagi. Karena begitu senang, dia menjual segala miliknya dan membeli ladang itu.”—Matius 13:44.
Dia melanjutkan, ”Kerajaan surga juga seperti pedagang keliling yang mencari mutiara yang indah. Saat menemukan satu mutiara yang bernilai tinggi, dia segera pergi menjual segala miliknya dan membeli mutiara itu.”—Matius 13:45, 46.
Dalam perumpamaan pertama, pria yang menemukan harta terpendam di ladang langsung ”menjual segala miliknya” untuk membeli ladang itu. Dalam perumpamaan kedua, pedagang itu juga langsung ”menjual segala miliknya” demi sebutir mutiara yang sangat bernilai. Melalui dua perumpamaan ini, Yesus menunjukkan kerelaan seseorang untuk berkorban demi mendapatkan sesuatu yang sangat berharga. Nah, seseorang yang ingin memenuhi kebutuhan rohaninya juga harus membuat pengorbanan yang sama. (Matius 5:3) Sebagian pendengar Yesus saat itu sudah melakukannya. Mereka telah membuat banyak pengorbanan untuk menjadi pengikut Yesus dan memenuhi kebutuhan rohani mereka.—Matius 4:19, 20; 19:27.
Terakhir, Yesus menyamakan Kerajaan Allah dengan jaring yang mengumpulkan segala jenis ikan. (Matius 13:47) Ikan yang bagus akan disimpan, dan yang tidak layak akan dibuang. Yesus berkata bahwa itulah yang akan terjadi pada penutup zaman ini. Pada saat itu, para malaikat akan memisahkan orang jahat dari orang baik.
Yesus sendiri menjala ikan secara rohani ketika dia mengajak murid-murid pertamanya menjadi ”penjala manusia”. (Markus 1:17) Namun, dia berkata bahwa perumpamaannya itu baru akan menjadi kenyataan di masa depan, yaitu ”pada penutup zaman ini”. (Matius 13:49) Jadi, para rasul dan murid-murid lainnya tahu bahwa di masa depan, akan ada hal-hal luar biasa yang terjadi.
Para rasul dan murid-murid lain itu mendapat lebih banyak manfaat dibandingkan kumpulan orang tadi, karena Yesus menjelaskan semua hal ”sewaktu bersama murid-muridnya saja”. (Markus 4:34) Yesus ”seperti tuan rumah, yang mengeluarkan barang-barang baru dan lama dari tempat penyimpanannya”. (Matius 13:52) Apakah Yesus menceritakan semua perumpamaan itu untuk menunjukkan keterampilan mengajarnya? Tidak. Dia ingin membagikan kebenaran yang seperti harta yang berharga kepada murid-muridnya. Jelas, tidak ada guru lain yang seperti Yesus.
-
-
Yesus Meredakan Badai di LautYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 44
Yesus Meredakan Badai di Laut
MATIUS 8:18, 23-27 MARKUS 4:35-41 LUKAS 8:22-25
YESUS MENENANGKAN BADAI DI LAUT GALILEA
Ini hari yang panjang dan melelahkan bagi Yesus. Saat mulai sore, dia berkata kepada para rasul, ”Ayo kita pergi ke pantai seberang,” maksudnya di seberang Kapernaum.—Markus 4:35.
Di pesisir timur Laut Galilea, terdapat daerah yang bernama Dekapolis. Ini adalah tempat tinggal orang Gerasa. Kota-kota di Dekapolis adalah pusat kebudayaan Yunani. Namun, di sana juga ada banyak orang Yahudi.
Orang-orang di Kapernaum tahu bahwa Yesus akan meninggalkan kota mereka. Jadi, beberapa perahu ikut menyeberangi Laut Galilea ke Dekapolis. (Markus 4:36) Perjalanan mereka tidak jauh, karena panjang Laut Galilea hanya sekitar 21 kilometer dan lebarnya 12 kilometer. Tapi, danau air tawar yang besar ini cukup dalam.
Walaupun Yesus adalah manusia sempurna, dia pasti lelah karena sangat sibuk mengajar. Jadi setelah perahunya berangkat, dia berbaring di bagian belakang kapal, menyandarkan kepalanya pada bantal, lalu tidur.
Laut Galilea dikelilingi pegunungan, dan permukaan airnya biasanya hangat. Udara dingin dari pegunungan kadang turun ke permukaan air yang hangat sehingga menimbulkan badai besar di laut itu. Itulah yang sekarang terjadi. Beberapa rasul Yesus sebenarnya berpengalaman dalam mengemudikan perahu. Namun kali ini, mereka mengalami kesulitan. Ombak terus menghantam perahu mereka. Perahu itu pun ”kemasukan air dan berada dalam bahaya”! (Lukas 8:23) Tapi, Yesus tidak terbangun.
Para rasul cepat-cepat berusaha mengendalikan perahu itu. Mereka sudah pernah terjebak dalam badai, tapi badai ini jauh lebih dahsyat. Karena sangat takut, mereka membangunkan Yesus dan berteriak, ”Tuan, tolong! Kita hampir mati!” (Matius 8:25) Para rasul berpikir mereka akan tenggelam!
Saat Yesus bangun, dia berkata kepada para rasul, ”Kenapa kalian begitu takut, kalian yang imannya kecil?” (Matius 8:26) Kemudian dia berkata kepada angin dan laut, ”Diam! Tenang!” (Markus 4:39) Badai itu pun berhenti, dan laut menjadi tenang. (Markus dan Lukas juga menulis tentang kejadian luar biasa ini. Tapi, mereka menulis bahwa Yesus menghentikan badai lebih dulu, baru menegur para rasul yang kurang beriman.)
Coba bayangkan perasaan para rasul! Mereka melihat sendiri laut yang tadinya bergelora tiba-tiba tenang. Mereka ketakutan dan berkata satu sama lain, ”Siapa sebenarnya orang ini? Angin dan laut saja taat kepadanya.” Mereka pun sampai ke seberang laut dengan selamat. (Markus 4:41–5:1) Perahu-perahu lain kemungkinan telah kembali ke pesisir barat.
Kita pasti merasa senang karena Putra Allah punya kuasa atas alam dan cuaca. Coba bayangkan, sewaktu Yesus memerintah atas bumi nanti, tidak akan ada lagi bencana alam! Semua orang akan tinggal dengan aman.
-
-
Roh-Roh Jahat Takut kepada YesusYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 45
Roh-Roh Jahat Takut kepada Yesus
MATIUS 8:28-34 MARKUS 5:1-20 LUKAS 8:26-39
YESUS MENYURUH ROH-ROH JAHAT PERGI KE SEKUMPULAN BABI
Para rasul kini sampai di tepi. Mereka baru saja mengalami kejadian yang menakutkan di laut. Tiba-tiba, dua pria yang menyeramkan datang dari pemakaman di dekat situ dan berlari ke arah Yesus! Mereka berdua kerasukan roh jahat. Markus dan Lukas lebih banyak menulis tentang salah satu pria itu, kemungkinan karena dia lebih garang dan sudah lebih lama kerasukan.
Pria yang malang itu sudah lama tidak memakai baju. Sepanjang hari dia ”berteriak-teriak di makam-makam dan di gunung-gunung, juga melukai dirinya dengan batu”. (Markus 5:5) Dia sangat ganas sampai-sampai orang takut melewati jalan itu. Beberapa orang pernah merantai tangan dan kakinya, tapi dia berhasil melepaskan diri. Tidak ada orang yang cukup kuat untuk menahan dia.
Pria itu lari mendatangi Yesus dan sujud kepadanya. Lalu, roh-roh jahat dalam diri pria itu membuat dia berteriak, ”Yesus, Putra dari Allah Yang Mahatinggi, apa urusanmu denganku? Bersumpahlah demi Allah bahwa kamu tidak akan menyiksa aku.” Yesus lalu menunjukkan bahwa dia punya kuasa yang lebih besar daripada roh-roh jahat. Dia memerintahkan, ”Roh najis, keluar dari orang ini.”—Markus 5:7, 8.
Sebenarnya, dalam diri pria itu ada banyak roh jahat. Ketika Yesus bertanya, ”Siapa namamu?” jawabannya adalah, ”Namaku Legiun, karena kami ada banyak.” (Markus 5:9) Dalam pasukan militer Romawi, legiun biasanya terdiri dari ribuan tentara. Jadi, banyak roh jahat merasuki pria ini dan bersenang-senang di atas penderitaannya. Mereka memohon agar Yesus ”tidak menyuruh mereka masuk ke lubang yang sangat dalam”. Jadi, roh-roh jahat kemungkinan tahu seperti apa masa depan mereka dan pemimpin mereka, Setan.—Lukas 8:31.
Di dekat situ, ada sekitar 2.000 babi yang sedang makan. Menurut Taurat, babi adalah binatang najis, dan orang Yahudi tidak boleh memeliharanya. Roh-roh jahat itu berkata, ”Suruhlah kami masuk ke babi-babi itu.” (Markus 5:12) Yesus pun mengizinkannya, dan mereka masuk ke babi-babi itu. Semua babi itu langsung terjun dari tebing dan tenggelam di laut.
Melihat itu, para penjaga babi itu langsung pergi ke kota dan daerah sekitarnya untuk menceritakan kejadian tersebut. Orang-orang pun berdatangan untuk melihat buktinya. Dan memang, pria yang tadinya kesurupan itu sudah sembuh dan kembali waras. Dia sekarang sudah berpakaian dan duduk dekat kaki Yesus!
Orang-orang yang menyaksikan hal itu bercerita ke mana-mana. Akibatnya, orang-orang ketakutan karena tidak tahu apa lagi yang akan Yesus lakukan. Mereka pun mengusir Yesus. Ketika Yesus naik ke perahu untuk pergi, pria yang telah dia sembuhkan itu memohon agar bisa ikut. Namun Yesus memberi tahu dia, ”Pulanglah ke keluargamu, dan ceritakan semua yang Yehuwa lakukan bagimu dan belas kasihan yang Dia tunjukkan kepadamu.”—Markus 5:19.
Biasanya, Yesus memberi tahu orang yang dia sembuhkan untuk tidak bercerita ke mana-mana. Yesus mau orang beriman kepadanya bukan karena mendengar berita yang menghebohkan. Namun kali ini, pria yang disembuhkan itu adalah bukti nyata dari kuasa Yesus, dan dia bisa memberikan kesaksian kepada orang-orang yang tidak bisa Yesus temui. Dia mungkin juga bisa meluruskan tuduhan tentang babi-babi yang mati. Jadi, pria itu pergi ke seluruh Dekapolis dan bercerita tentang apa yang Yesus lakukan.
-
-
Sembuh Saat Menyentuh Pakaian YesusYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 46
Sembuh Saat Menyentuh Pakaian Yesus
MATIUS 9:18-22 MARKUS 5:21-34 LUKAS 8:40-48
SEORANG WANITA SEMBUH SETELAH MENYENTUH UJUNG BAJU YESUS
Kabar tentang kembalinya Yesus dari Dekapolis didengar oleh orang-orang Yahudi yang tinggal di pesisir barat-laut dari Laut Galilea. Kemungkinan, banyak dari mereka telah mendengar bahwa Yesus meredakan badai di laut dan mengusir roh-roh jahat. Jadi, banyak orang berkumpul di tepi laut, kemungkinan di Kapernaum, untuk menyambut kepulangan Yesus. (Markus 5:21) Ketika Yesus turun dari perahu, mereka langsung mendatangi dia.
Salah satu orang yang sangat ingin bertemu Yesus adalah Yairus, seorang ketua sinagoga. Dia sujud di kaki Yesus dan terus memohon, ”Anak perempuan saya yang masih kecil sakit parah. Tolong datang dan taruh tanganmu ke atasnya supaya dia sembuh dan tetap hidup.” (Markus 5:23) Anak itu adalah anak Yairus satu-satunya. Usianya baru 12 tahun. Yairus pasti sangat menyayanginya. Apakah Yesus akan menolong dia?—Lukas 8:42.
Itulah yang ada dalam pikiran rombongan orang yang mengikuti Yesus ke rumah Yairus. Mereka berharap bisa melihat Yesus melakukan mukjizat lagi. Namun, di antara kerumunan orang itu, ada seorang wanita yang hanya berharap penyakitnya yang parah bisa sembuh.
Wanita Yahudi ini sudah menderita pendarahan selama 12 tahun. Dia sudah pergi ke banyak tabib dan telah menghabiskan uangnya untuk berobat. Tapi, dia tidak kunjung sembuh, dan penyakitnya malah ”semakin parah”.—Markus 5:26.
Coba bayangkan, penyakitnya bukan hanya membuat dia lemah, tapi itu juga sesuatu yang sangat memalukan. Orang yang menderita penyakit ini biasanya malu bercerita kepada orang lain. Selain itu, menurut Hukum Musa, seorang wanita yang mengeluarkan darah dianggap najis. Orang yang menyentuh dia atau pakaiannya yang terkena noda darah harus mandi dan mencuci bajunya. Orang itu juga akan menjadi najis sampai matahari terbenam.—Imamat 15:25-27.
Wanita ini telah ”mendengar tentang Yesus”, dan sekarang dia mencari Yesus. Karena keadaannya yang najis, dia berjalan mengendap-endap di antara kerumunan orang itu untuk mendekati Yesus. Dia berkata dalam hati, ’Kalau aku menyentuh baju luarnya saja, aku akan sembuh.’ Ketika dia akhirnya menyentuh ujung pakaian Yesus, dia langsung merasakan pendarahannya berhenti! Dia ”telah sembuh dari penyakitnya yang menyedihkan”.—Markus 5:27-29.
Yesus bertanya, ”Siapa yang menyentuh saya?” Menurut Saudara, bagaimana perasaan wanita itu saat mendengarnya? Petrus mungkin merasa bahwa pertanyaan itu aneh, jadi dia menjawab, ”Di sekelilingmu ada banyak orang yang berdesak-desakan.” Jadi, mengapa Yesus bertanya seperti itu? Yesus menjelaskan, ”Ada yang menyentuh saya, karena saya tahu ada kuasa keluar dari diri saya.”—Lukas 8:45, 46.
Karena sadar bahwa tindakannya telah diketahui, wanita itu sujud di kaki Yesus. Dia gemetar ketakutan. Di depan semua orang, dia pun bercerita tentang penyakitnya dan bahwa dia baru saja sembuh. Yesus dengan lembut menenangkan dia, ”Anakku, imanmu sudah membuat kamu sembuh. Pergilah dengan damai. Penyakitmu yang menyedihkan itu sudah sembuh.”—Markus 5:34.
Jelaslah, Raja yang Allah tunjuk untuk memerintah bumi ini sangat peduli kepada manusia. Tapi selain berbelaskasihan, dia juga sanggup membantu mereka!
-
-
Seorang Anak Perempuan Hidup Lagi!Yesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 47
Seorang Anak Perempuan Hidup Lagi!
MATIUS 9:18, 23-26 MARKUS 5:22-24, 35-43 LUKAS 8:40-42, 49-56
YESUS MEMBANGKITKAN PUTRI YAIRUS
Yairus menyaksikan wanita yang menderita pendarahan itu disembuhkan oleh Yesus. Dia yakin Yesus juga bisa membantu anaknya, walaupun dia merasa ’anak perempuannya pasti sudah mati’. (Matius 9:18) Apakah Yesus memang bisa membantunya?
Sewaktu Yesus masih berbicara dengan wanita yang sudah dia sembuhkan, beberapa pria datang dari rumah Yairus dan memberi tahu Yairus, ”Anakmu sudah meninggal! Untuk apa merepotkan Guru lagi?”—Markus 5:35.
Bayangkan betapa sedihnya Yairus! Putri satu-satunya telah tiada. Pria yang terpandang ini sekarang merasa tidak berdaya. Namun Yesus menghibur Yairus, ”Jangan khawatir. Kamu hanya perlu beriman.”—Markus 5:36.
Mereka lalu pergi ke rumah Yairus. Di sana, keadaannya sangat ramai. Orang-orang menangis meraung-raung dan memukuli diri karena berduka. Yesus masuk ke dalam rumah lalu mengatakan sesuatu yang mengejutkan, ”Anak ini tidak mati, tapi sedang tidur.” (Markus 5:39) Mendengar itu, orang-orang menertawai Yesus. Mereka tahu anak itu sudah mati. Tapi dengan kuasa dari Allah, Yesus akan membuktikan bahwa orang mati bisa dihidupkan kembali, seperti dibangunkan dari tidur pulas.
Yesus sekarang menyuruh semua orang keluar, kecuali Petrus, Yakobus, Yohanes, dan Yairus serta istrinya. Bersama lima orang itu, Yesus masuk ke tempat anak itu dibaringkan. Dia memegang tangan anak itu lalu berkata, ”’Talita kumi,’ yang kalau diterjemahkan berarti: ’Gadis kecil, saya katakan kepadamu, bangunlah!’” (Markus 5:41) Saat itu juga, anak itu bangun dan berjalan. Bayangkan betapa bahagianya Yairus dan istrinya! Untuk menunjukkan bahwa anak itu benar-benar hidup, Yesus menyuruh agar anak itu diberi makan.
Ini adalah kebangkitan kedua yang Yesus lakukan yang dicatat di Alkitab. Seperti biasa, Yesus meminta agar mukjizatnya tidak diceritakan ke mana-mana. Namun, orang tua anak itu maupun yang lainnya memberitahukan kejadian tersebut ”ke seluruh daerah itu”. (Matius 9:26) Kalau Saudara melihat orang yang Saudara sayangi dibangkitkan, bukankah Saudara juga akan menceritakannya ke mana-mana?
-
-
Yesus Membuat Mukjizat, tapi Ditolak di NazaretYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 48
Yesus Membuat Mukjizat, tapi Ditolak di Nazaret
MATIUS 9:27-34; 13:54-58 MARKUS 6:1-6
YESUS MENYEMBUHKAN ORANG BUTA DAN ORANG BISU
ORANG NAZARET TIDAK PERCAYA BAHWA YESUS ADALAH MESIAS
Hari ini Yesus sibuk sekali. Setelah meninggalkan Dekapolis, dia menyembuhkan seorang wanita yang menderita pendarahan lalu membangkitkan putri Yairus. Tapi, hari itu masih panjang. Setelah meninggalkan rumah Yairus, dua pria buta mengikuti Yesus sambil berteriak, ”Kasihanilah kami, Putra Daud.”—Matius 9:27.
Mereka memanggil Yesus ”Putra Daud” karena beriman bahwa Yesus adalah Mesias, pewaris takhta Daud. Awalnya, Yesus seperti tidak memedulikan mereka, mungkin karena ingin melihat kesungguhan mereka. Ternyata mereka memang sungguh-sungguh ingin disembuhkan. Ketika Yesus masuk ke suatu rumah, kedua pria itu mengikuti dia. Yesus bertanya, ”Apa kalian beriman bahwa saya bisa melakukannya?” Mereka menjawab dengan yakin, ”Ya, Tuan.” Yesus pun menyentuh mata mereka dan berkata, ”Karena kalian beriman, itu akan terjadi.”—Matius 9:28, 29.
Saat itu juga, mereka bisa melihat! Seperti biasa, Yesus melarang mereka memberi tahu orang lain. Tapi karena sangat senang, mereka bercerita ke mana-mana.
Setelah kedua pria itu pergi, orang-orang membawa seorang pria yang bisu karena kerasukan roh jahat. Yesus mengusir roh jahat itu, dan pria itu pun bisa berbicara. Orang-orang kagum dan berkata, ”Yang seperti ini belum pernah terjadi di Israel.” Orang Farisi juga ada di sana. Mereka tidak bisa menyangkal bahwa Yesus bisa melakukan mukjizat. Jadi mereka kembali memfitnah Yesus, ”Dia mengusir roh jahat dengan bantuan penguasa roh jahat.”—Matius 9:33, 34.
Tak lama kemudian, Yesus dan para muridnya pulang ke daerah asalnya, Nazaret. Kira-kira setahun sebelumnya, dia mengajar di sinagoga di sana. Waktu itu, orang-orang awalnya senang dengan ajarannya, tapi mereka kemudian tersinggung dan berusaha membunuh dia. Sekarang, Yesus ingin kembali membantu mereka.
Pada hari Sabat, dia mengajar di sinagoga. Banyak yang terkesan dan bertanya-tanya, ”Dari mana dia mendapat hikmat seperti ini dan tindakan-tindakan penuh kuasa ini? Dia anak tukang kayu itu, kan? Bukankah ibunya itu Maria, dan adik-adiknya itu Yakobus, Yusuf, Simon, dan Yudas? Adik-adik perempuannya juga ada bersama kita, kan? Jadi dari mana dia mendapat semua ini?”—Matius 13:54-56.
Bagi mereka, Yesus hanyalah orang Nazaret biasa. Mereka berkata, ”Kita kenal dia dari kecil, mana mungkin dia Mesias?” Meski Yesus berhikmat dan melakukan banyak mukjizat, mereka tetap tidak beriman kepadanya. Bahkan keluarga Yesus pun tidak beriman. Jadi Yesus berkata, ”Seorang nabi selalu dihormati, kecuali di daerah asalnya dan di rumahnya sendiri.”—Matius 13:57.
Yesus tidak habis pikir mengapa mereka tidak beriman. Jadi dia tidak melakukan banyak mukjizat di sana. Dia hanya menyembuhkan ”beberapa orang sakit”.—Markus 6:5, 6.
-
-
Yesus Mengabar di Galilea dan Melatih Para RasulYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 49
Yesus Mengabar di Galilea dan Melatih Para Rasul
MATIUS 9:35–10:15 MARKUS 6:6-11 LUKAS 9:1-5
PERJALANAN PENGINJILAN YESUS YANG KETIGA DI GALILEA
DIA MENGUTUS PARA RASUL UNTUK MENGABAR
Yesus telah mengabar dengan bersemangat selama dua tahun. Apakah sekarang dia berhenti atau bersantai? Tidak, Yesus malah ”berkeliling ke semua kota dan desa [di Galilea]. Dia mengajar di rumah-rumah ibadah, memberitakan kabar baik tentang Kerajaan, dan menyembuhkan segala macam penyakit dan masalah kesehatan”. (Matius 9:35) Apa yang Yesus lihat membuat dia semakin yakin bahwa kabar baik harus diberitakan kepada lebih banyak orang lagi. Tapi bagaimana caranya?
Yesus melihat orang-orang memerlukan bantuan rohani dan penghiburan. Mereka seperti domba tanpa gembala, ditindas dan telantar. Yesus merasa kasihan kepada mereka dan memberi tahu para murid, ”Panenan memang banyak, tapi pekerjanya sedikit. Jadi, mohonlah kepada Pemilik panen untuk mengirim lebih banyak pekerja untuk panen-Nya.”—Matius 9:37, 38.
Yesus tahu apa yang bisa membantu mereka. Dia memanggil 12 rasulnya, lalu mengutus mereka berdua-dua. Dia memberikan petunjuk, ”Jangan pergi ke daerah bangsa-bangsa lain, dan jangan masuk ke kota orang Samaria. Sebaliknya, pergilah kepada orang-orang dari bangsa Israel saja, yang bagaikan domba-domba yang tersesat. Pergilah sambil memberitakan, ’Kerajaan surga sudah dekat.’”—Matius 10:5-7.
Kerajaan yang harus mereka beritakan adalah Kerajaan yang Yesus sebutkan dalam contoh doanya. Kerajaan itu ”sudah dekat” karena Raja yang Allah tunjuk, Yesus Kristus, sudah ada. Namun, bagaimana orang-orang tahu bahwa para rasul mewakili Kerajaan ini? Yesus akan memberi mereka kuasa untuk menyembuhkan orang sakit, bahkan membangkitkan orang mati. Tapi mereka tidak dibayar. Jadi bagaimana para rasul bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka, seperti makanan?
Yesus memberi tahu murid-muridnya bahwa mereka tidak perlu membawa apa-apa. Mereka tidak perlu membawa emas, perak, atau tembaga. Mereka bahkan tidak perlu membawa kantong makanan maupun sandal dan baju ganti. Mengapa? Yesus meyakinkan mereka, ”Seorang pekerja layak menerima upahnya.” (Matius 10:10) Maksudnya, orang-orang yang menerima kabar baik akan menyediakan kebutuhan para murid. Yesus berkata, ”Kalau kalian datang ke suatu daerah, tinggallah di rumah seseorang sampai kalian pergi dari daerah itu.”—Markus 6:10.
Yesus juga memberitahukan apa yang harus dikatakan saat mengabar. Dia berkata, ”Saat masuk ke rumah orang, ucapkan salam damai. Kalau rumah itu mau menerima kalian, damai itu akan datang ke atasnya, tapi kalau tidak, damai itu akan kembali kepada kalian. Kalau ada yang tidak menerima kalian atau mendengarkan kata-kata kalian, kebaskan debu dari kaki kalian ketika kalian keluar dari rumah itu atau kota itu.”—Matius 10:12-14.
Mereka bisa jadi ditolak oleh semua orang di suatu kota atau desa. Jika itu terjadi, Yesus mengatakan bahwa kota atau desa itu akan dihukum. Dia berkata, ”Sesungguhnya kukatakan kepada kalian, hukuman atas Sodom dan Gomora pada Hari Penghakiman akan lebih ringan daripada hukuman atas kota itu.”—Matius 10:15.
-
-
Siap Mengabar Meski DitentangYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 50
Siap Mengabar Meski Ditentang
MATIUS 10:16–11:1 MARKUS 6:12, 13 LUKAS 9:6
YESUS MELATIH DAN MENGUTUS PARA RASUL
Sebelum para rasul pergi mengabar berdua-dua, Yesus memberikan petunjuk yang jelas. Selain itu, dia dengan baik hati memperingatkan, ”Perhatikan! Aku mengutus kalian seperti mengutus domba ke tengah-tengah serigala . . . Waspadalah terhadap orang-orang, karena mereka akan menyerahkan kalian ke pengadilan setempat dan mencambuk kalian di rumah ibadah mereka. Kalian akan dibawa ke hadapan gubernur-gubernur dan raja-raja demi aku.”—Matius 10:16-18.
Meski para pengikut Yesus bisa dianiaya, Yesus berjanji, ”Sewaktu mereka menyerahkan kalian, jangan khawatir tentang apa yang harus dikatakan atau bagaimana mengatakannya. Apa yang harus kalian katakan akan diberikan kepada kalian pada waktu itu juga, karena yang berbicara bukan hanya kalian, tapi kuasa kudus Bapak kalianlah yang berbicara melalui kalian.” Yesus melanjutkan, ”Orang akan menyerahkan saudaranya untuk dibunuh, ayah akan menyerahkan anaknya, dan anak-anak akan melawan orang tua dan menyerahkan mereka untuk dibunuh. Kalian juga akan dibenci oleh semua orang karena namaku, tapi orang yang bertekun sampai akhir akan diselamatkan.”—Matius 10:19-22.
Karena pengabaran sangat penting, Yesus berkata bahwa para murid harus berhati-hati supaya tidak tertangkap dan bisa terus mengabar. Dia menasihati, ”Kalau kalian dianiaya di satu kota, larilah ke kota lain. Sesungguhnya kukatakan kepada kalian, kalian tidak akan selesai mengunjungi semua kota Israel sampai Putra manusia datang.”—Matius 10:23.
Ke-12 rasul pasti bersyukur karena Yesus memberikan petunjuk, peringatan, dan kata-kata penyemangat! Kata-kata Yesus juga ditujukan kepada semua yang mengabar setelah kematian dan kebangkitan Yesus, termasuk kita. Apa buktinya? Yesus mengatakan bahwa para pengikutnya akan ”dibenci oleh semua orang”, bukan hanya orang-orang yang ditemui para rasul. Selain itu, Alkitab tidak menceritakan bahwa selama pengabaran di Galilea ini, para rasul dibawa ke hadapan gubernur dan raja. Mereka juga tidak diserahkan oleh keluarga mereka untuk dibunuh. Jadi, kata-kata Yesus itu pasti berlaku untuk zaman kita juga.
Yesus juga berkata bahwa para pengikutnya tidak akan selesai memberitakan tentang Kerajaan Allah saat ”Putra manusia datang”, yaitu ketika Yesus Kristus datang di masa depan sebagai Raja dan Hakim yang Allah tunjuk.
Saat mengabar, para rasul tidak perlu heran jika mereka ditentang dan dianiaya, karena Yesus sendiri juga mengalaminya. Yesus memberi tahu mereka, ”Seorang murid tidak lebih hebat daripada gurunya, dan seorang budak tidak lebih hebat daripada majikannya.” Namun Yesus meyakinkan, ”Jangan takut kepada orang yang bisa membunuh tubuh tapi tidak bisa membunuh jiwa. Sebaliknya, takutlah kepada Dia yang bisa memusnahkan jiwa maupun tubuh di Gehena.”—Matius 10:24, 28.
Yesus sendiri tidak takut kehilangan nyawanya demi tetap setia kepada Yehuwa. Yehuwa adalah Allah yang Mahakuasa, dan Dialah yang sanggup memusnahkan ”jiwa” seseorang, yaitu harapannya untuk hidup abadi. Dia juga sanggup membangkitkan seseorang dan memberinya kehidupan abadi. Ini pasti sangat menguatkan para rasul!
Yesus menggambarkan kasih dan perhatian Allah kepada mereka dengan berkata, ”Dua burung pipit hanya dijual seharga satu uang logam kecil, kan? Tapi tidak satu pun dari mereka jatuh ke tanah tanpa diketahui Bapak kalian. . . . Jadi jangan takut, kalian lebih berharga daripada banyak burung pipit.”—Matius 10:29, 31.
Berita yang disampaikan murid-murid Yesus bisa memecah-belah keluarga, karena ada anggota keluarga yang mau menerimanya dan ada yang tidak. Yesus menjelaskan, ”Jangan berpikir bahwa aku datang untuk membawa perdamaian ke bumi.” Orang yang menerima kebenaran memang harus berani. Yesus mengatakan, ”Siapa pun yang lebih sayang kepada ayah atau ibunya daripada kepadaku tidak pantas menjadi muridku, dan siapa pun yang lebih sayang kepada anaknya daripada kepadaku tidak pantas menjadi muridku.”—Matius 10:34, 37.
Tapi, ada juga yang akan menerima para murid. Yesus berkata, ”Sesungguhnya aku memberi tahu kalian, siapa pun yang memberi salah satu dari orang-orang kecil ini secangkir air dingin, karena orang itu muridku, tidak akan kehilangan upahnya.”—Matius 10:42.
Setelah mendengar semua petunjuk, peringatan, dan kata-kata yang menguatkan dari Yesus, para rasul pergi ”ke semua desa di daerah itu, untuk memberitakan kabar baik dan menyembuhkan orang”.—Lukas 9:6.
-
-
Pembunuhan di Pesta Ulang TahunYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 51
Pembunuhan di Pesta Ulang Tahun
MATIUS 14:1-12 MARKUS 6:14-29 LUKAS 9:7-9
HERODES MENYURUH AGAR YOHANES PEMBAPTIS DIPENGGAL
Sementara rasul-rasul Yesus mengabar di Galilea, Yohanes Pembaptis masih dipenjarakan. Sudah hampir dua tahun dia berada di sana.
Yohanes terang-terangan membeberkan kesalahan Raja Herodes Antipas yang menceraikan istri pertamanya dan menikahi Herodias, istri Filipus, saudara tiri Herodes. Menurut Hukum Musa, yang katanya ditaati Herodes, pernikahan seperti itu tidak sah dan merupakan perzinaan. Karena Yohanes menegur dia, Herodes menjebloskan Yohanes ke penjara, mungkin atas dorongan Herodias.
Herodes tidak yakin apa yang harus dia lakukan terhadap Yohanes, karena orang-orang ’menganggap dia sebagai nabi’. (Matius 14:5) Namun, Herodias terus mencari cara agar Yohanes dibunuh, karena dia ”menyimpan dendam terhadap Yohanes”. (Markus 6:19) Akhirnya, kesempatan itu datang juga.
Tak lama sebelum Paskah tahun 32 M, Herodes mengadakan pesta ulang tahun yang meriah. Semua pejabat dan komandan militer Herodes serta orang-orang terpandang di Galilea menghadiri pesta itu. Di pesta itu, Salome, putri Herodias dari Filipus mantan suaminya, diminta menari. Semua tamu sangat menikmati tariannya.
Karena senang, Herodes berkata kepada putri tirinya, ”Mintalah apa saja kepada saya, dan saya akan memberikannya.” Dia bahkan bersumpah, ”Apa pun yang kamu minta akan saya berikan, bahkan sampai setengah dari kerajaan ini.” Sebelum menjawab, Salome bertanya kepada ibunya, ”Aku harus minta apa?”—Markus 6:22-24.
Inilah saat yang ditunggu-tunggu Herodias! Dia langsung menjawab, ”Kepala Yohanes Pembaptis.” Salome langsung kembali menghadap Herodes dan menyampaikan permintaannya, ”Saya ingin agar sekarang juga Tuan memberi saya kepala Yohanes Pembaptis di atas piring besar.”—Markus 6:24, 25.
Raja sangat sedih mendengar itu karena dia tahu Yohanes tidak bersalah. Tapi, karena para tamunya mendengar sumpahnya kepada Salome, Herodes terpaksa mengabulkan permintaan itu. Herodes pun mengutus seorang pengawal untuk memenggal Yohanes. Tak lama kemudian, pengawal itu datang dengan membawa kepala Yohanes di piring besar. Dia lalu memberikannya kepada Salome, dan Salome membawanya kepada ibunya.
Saat para pengikut Yohanes mendengar hal ini, mereka datang untuk mengambil tubuh Yohanes dan menguburkannya. Mereka lalu melaporkan kejadian itu kepada Yesus.
Belakangan, Herodes mendengar bahwa Yesus menyembuhkan orang sakit dan mengusir roh jahat. Dia pun berpikir jangan-jangan Yesus adalah Yohanes Pembaptis yang ”telah dibangkitkan”. (Lukas 9:7) Jadi, Herodes ingin sekali bertemu Yesus. Dia bukannya ingin mendengar ajaran Yesus, tapi dia ingin memastikan apakah dugaannya benar.
-
-
Ribuan Orang Diberi Makan dengan Beberapa Roti dan IkanYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 52
Ribuan Orang Diberi Makan dengan Beberapa Roti dan Ikan
MATIUS 14:13-21 MARKUS 6:30-44 LUKAS 9:10-17 YOHANES 6:1-13
YESUS MEMBERI MAKAN 5.000 PRIA
Ke-12 rasul menikmati perjalanan penginjilan mereka di Galilea, dan mereka menceritakan kepada Yesus ”semua yang mereka lakukan dan ajarkan”. Mereka pasti lelah. Tapi, ada banyak sekali orang yang datang dan pergi sehingga mereka bahkan tidak sempat makan. Jadi Yesus berkata, ”Ayo kita pergi ke tempat yang sepi dan istirahat sebentar.”—Markus 6:30, 31.
Mereka naik perahu, mungkin di dekat Kapernaum, dan pergi ke tempat yang sepi di sebelah timur Sungai Yordan, sedikit lebih jauh dari Betsaida. Namun, orang-orang mengetahuinya. Mereka semua berlari menyusuri pantai dan sampai lebih dulu daripada Yesus dan murid-muridnya.
Saat turun dari perahu, Yesus melihat orang-orang itu dan merasa kasihan karena mereka seperti domba tanpa gembala. Jadi, dia mulai ”mengajar mereka banyak hal” tentang Kerajaan Allah. (Markus 6:34) Dia juga ”menyembuhkan yang sakit”. (Lukas 9:11) Setelah beberapa waktu, para murid berkata kepada Yesus, ”Tempat ini jauh dari mana-mana, dan sekarang sudah sore. Bubarkanlah orang-orang ini, supaya mereka bisa pergi ke desa-desa sekitar dan membeli makanan.”—Matius 14:15.
Yesus menjawab, ”Mereka tidak perlu pergi. Kalian saja yang beri mereka makan.” (Matius 14:16) Walaupun Yesus sudah tahu apa yang akan dia lakukan, dia bertanya kepada Filipus, ”Di mana kita bisa beli roti untuk orang-orang ini?” Filipus berasal dari Betsaida, kota dekat situ. Jadi, dia mungkin bisa memberikan informasi kepada Yesus. Tapi Filipus menjawab, ”Kalaupun setiap orang hanya diberi sedikit, roti seharga 200 dinar tidak akan cukup.”a (Yohanes 6:5-7) Di sana ada 5.000 pria, belum termasuk wanita dan anak-anak. Jadi, jumlah semua orang itu bisa 10.000 lebih!
Andreas mungkin juga merasa bahwa mereka tidak mungkin memberi makan orang sebanyak itu. Dia berkata, ”Ini ada anak kecil yang punya lima roti barli dan dua ikan kecil. Tapi apa artinya itu untuk orang sebanyak ini?”—Yohanes 6:9.
Saat itu musim semi menjelang Paskah tahun 32 M, dan lereng bukit itu dipenuhi rumput hijau. Yesus meminta para murid memberi tahu orang-orang untuk duduk berkelompok. Ada yang 50 dan ada yang 100 orang. Yesus mengambil lima roti dan dua ikan itu lalu bersyukur kepada Allah. Kemudian, Yesus membelah-belah roti dan ikan itu. Dia memberikannya kepada para rasul agar mereka membagikannya kepada orang-orang. Semua orang pun makan sampai kenyang. Sungguh luar biasa!
Setelah semua selesai makan, Yesus berkata kepada para murid, ”Kumpulkan sisanya, supaya tidak ada yang terbuang.” (Yohanes 6:12) Sisa makanan yang mereka kumpulkan jumlahnya 12 keranjang!
a Satu dinar sama dengan upah kerja sehari.
-
-
Penguasa yang Bisa Mengendalikan CuacaYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 53
Penguasa yang Bisa Mengendalikan Cuaca
MATIUS 14:22-36 MARKUS 6:45-56 YOHANES 6:14-25
ORANG-ORANG INGIN MENJADIKAN YESUS RAJA
YESUS BERJALAN DI ATAS AIR DAN MENENANGKAN BADAI
Mukjizat Yesus untuk memberi makan ribuan orang pasti membuat kumpulan orang itu terkesan. Mereka pun sadar bahwa dia adalah ”Nabi yang dijanjikan akan datang ke dunia”, yaitu Mesias. Mereka yakin Yesus bisa menjadi penguasa yang baik. (Yohanes 6:14; Ulangan 18:18) Jadi, orang-orang itu berencana untuk memaksa Yesus menjadi raja.
Tapi, karena Yesus mengetahui rencana itu, dia membubarkan mereka dan meminta para muridnya kembali ke perahu. Para murid akan pergi ke Betsaida lalu ke Kapernaum, sedangkan Yesus pergi ke gunung untuk berdoa sendirian malam itu.
Diterangi cahaya bulan, Yesus melihat perahu murid-muridnya di kejauhan. Ombak di laut itu mengamuk karena diterpa angin kencang, dan para murid sedang ”berjuang untuk mendayung, karena mereka melawan angin”. (Markus 6:48) Melihat itu, Yesus turun dari gunung dan berjalan di atas air ke arah mereka. Saat itu, para murid telah ”mendayung kira-kira lima sampai enam kilometer”. (Yohanes 6:19) Dari kejauhan, mereka melihat seseorang yang seolah-olah akan berjalan melewati mereka. Mereka pun berteriak ketakutan, ”Ada penampakan!”—Markus 6:49.
Yesus kemudian berkata, ”Tenanglah! Ini aku, jangan takut.” Tapi Petrus berkata, ”Tuan, kalau itu memang kamu, suruhlah aku datang kepadamu di atas air.” Yesus menjawab, ”Datanglah!” Petrus pun turun dari perahu dan mulai berjalan di atas air ke arah Yesus. Tapi ketika melihat badai, Petrus ketakutan dan mulai tenggelam. Dia memohon, ”Tuan, tolong aku!” Yesus langsung mengulurkan tangannya dan memegang dia. Dia lalu berkata, ”Kamu yang imannya kecil, kenapa kamu ragu?”—Matius 14:27-31.
Petrus dan Yesus naik ke atas perahu, dan badai pun reda. Para murid merasa heran. Padahal beberapa jam sebelumnya, mereka sudah melihat Yesus memberi makan ribuan orang secara mukjizat. Jika mereka ”mengerti arti mukjizat roti itu”, mereka seharusnya tidak heran melihat Yesus bisa berjalan di atas air dan meredakan badai. Murid-murid sujud kepada Yesus dan berkata, ”Kamu memang benar-benar Putra Allah.”—Markus 6:52; Matius 14:33.
Tak lama kemudian, mereka melihat daerah yang subur dan indah di Genesaret, sebelah selatan Kapernaum. Mereka pun melabuhkan perahu mereka dan turun. Di sana, orang-orang mengenali Yesus. Banyak orang sakit dari daerah itu dan sekitarnya dibawa kepada Yesus. Ketika mereka menyentuh ujung baju luar Yesus, mereka sembuh.
Orang-orang yang menyaksikan Yesus memberi makan ribuan orang akhirnya sadar bahwa Yesus telah pergi. Jadi, ketika perahu-perahu kecil dari Tiberias datang, mereka naik ke perahu-perahu itu dan berlayar ke Kapernaum untuk mencari Yesus. Ketika mereka bertemu dia, mereka bertanya, ”Rabi, kapan Rabi sampai di sini?” (Yohanes 6:25) Yesus lalu menegur mereka. Mengapa? Kita akan membahasnya di bab selanjutnya.
-
-
Yesus Adalah ”Roti Kehidupan”Yesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 54
Yesus Adalah ”Roti Kehidupan”
YESUS ADALAH ’ROTI DARI SURGA’
Di pesisir timur Laut Galilea, Yesus secara mukjizat memberi makan ribuan orang lalu pergi saat mereka mau menjadikan dia raja. Malamnya, dia berjalan di atas air laut yang bergelora dan menyelamatkan Petrus, yang juga berjalan di atas air namun mulai tenggelam karena kurang beriman. Yesus juga meredakan angin badai, mungkin supaya perahu para muridnya tidak karam.
Sekarang, Yesus kembali ke pesisir barat Laut Galilea, ke Kapernaum, dan dia bertemu orang-orang yang sebelumnya dia beri makan secara mukjizat. Mereka bertanya, ”Kapan Rabi sampai di sini?” Yesus lalu menegur mereka karena mereka hanya mencari dia supaya bisa mendapat makanan lagi. Dia menasihati, ”Jangan bekerja untuk makanan yang bisa basi. Bekerjalah untuk makanan yang bertahan lama dan menghasilkan kehidupan abadi.” Jadi mereka bertanya, ”Apa yang harus kami lakukan untuk melaksanakan pekerjaan dari Allah?”—Yohanes 6:25-28.
Mereka mungkin berpikir bahwa Yesus memaksudkan pekerjaan, atau kewajiban, yang ada dalam Hukum Musa. Tapi, yang Yesus maksudkan adalah pekerjaan yang paling penting. Dia berkata, ”Untuk melakukan pekerjaan dari Allah, kalian harus beriman kepada orang yang Dia utus.” Sayangnya, orang-orang itu tidak beriman kepada Yesus, padahal dia sudah melakukan banyak hal. Mereka malah meminta Yesus membuat mukjizat supaya mereka beriman kepadanya. Mereka bertanya, ”Apa yang akan Guru lakukan? Dulu, leluhur kita makan manna di padang belantara, seperti ada tertulis, ’Dia memberi mereka roti dari surga untuk dimakan.’”—Yohanes 6:29-31; Mazmur 78:24.
Karena mereka meminta mukjizat, Yesus memberitahukan siapa Sumber dari semua mukjizatnya. Dia berkata, ”Musa tidak memberi kalian roti yang sejati dari surga, tapi Bapak saya memberi kalian roti yang sejati dari surga. Roti dari Allah adalah yang turun dari surga dan memberikan kehidupan kepada dunia.” Mereka tidak mengerti apa maksudnya, jadi mereka berkata, ”Tuan, berilah kami roti itu selalu.” (Yohanes 6:32-34) Tapi, apakah ”roti” yang Yesus maksudkan adalah roti sungguhan?
Yesus menjelaskan, ”Sayalah roti kehidupan itu. Siapa pun yang datang kepada saya tidak akan lapar lagi, dan siapa pun yang beriman kepada saya tidak bakal haus lagi. Tapi seperti yang saya katakan kepada kalian, kalian sudah melihat saya tapi tetap saja tidak percaya. . . . Saya turun dari surga, bukan untuk melakukan kehendak saya sendiri, tapi untuk melakukan kehendak Dia yang mengutus saya. Dia yang mengutus saya ingin agar saya tidak kehilangan satu pun dari semua orang yang Dia serahkan kepada saya, tapi Dia ingin agar saya membangkitkan mereka lagi pada hari terakhir. Bapak saya ingin agar setiap orang yang mengakui dan beriman kepada Putra mendapat kehidupan abadi.”—Yohanes 6:35-40.
Jawaban Yesus membuat orang-orang Yahudi itu marah, dan mereka mulai membicarakan dia. Berani-beraninya Yesus mengaku sebagai ”roti yang turun dari surga”! (Yohanes 6:41) Bagi mereka, Yesus hanyalah anak tukang kayu dari Nazaret. Mereka saling bertanya, ”Dia Yesus anak Yusuf, kan? Kita kenal ayah dan ibunya.”—Yohanes 6:42.
”Berhentilah berbisik-bisik di antara kalian,” kata Yesus. ”Tidak seorang pun bisa datang kepada saya kecuali dia ditarik oleh Bapak yang mengutus saya, dan saya akan membangkitkan orang itu pada hari terakhir. Dalam Tulisan Para Nabi dikatakan, ’Mereka semua akan diajar oleh Yehuwa.’ Setiap orang yang sudah mendengarkan Bapak dan sudah belajar dari-Nya datang kepada saya. Ini bukan berarti ada orang yang pernah melihat Bapak. Hanya dia yang datang dari Allah yang pernah melihat Bapak. Dengan sungguh-sungguh saya katakan, siapa pun yang percaya akan mendapat kehidupan abadi.”—Yohanes 6:43-47; Yesaya 54:13.
Sebelumnya ketika mengajar Nikodemus, Yesus sudah pernah menjelaskan hubungan antara kehidupan abadi dengan iman kepada Putra manusia. Dia berkata, ”Setiap orang yang beriman kepada [Putra tunggal Allah] tidak dibinasakan tapi mendapat kehidupan abadi.” (Yohanes 3:15, 16) Sekarang, Yesus menjelaskan kepada banyak orang bahwa tanpa dirinya, mereka tidak mungkin bisa mendapat kehidupan abadi. Manna maupun roti sungguhan tidak mungkin memberikan kehidupan abadi. Yesus mengulangi kata-katanya, ”Saya adalah roti kehidupan.”—Yohanes 6:48.
Pembahasan tentang roti dari surga ini terus berlanjut, dan puncaknya adalah saat Yesus mengajar di sinagoga di Kapernaum.
-
-
Kata-Kata Yesus Membuat Banyak Orang TerkejutYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 55
Kata-Kata Yesus Membuat Banyak Orang Terkejut
MAKAN DAGING DAN MINUM DARAH YESUS
BANYAK ORANG TERKEJUT DAN TIDAK LAGI MENGIKUTI YESUS
Di sinagoga di Kapernaum, Yesus mengajar bahwa dirinya adalah roti dari surga. Penjelasan itu masih berhubungan dengan kata-kata Yesus kepada orang-orang yang diberi makan roti dan ikan secara mukjizat di pesisir timur Laut Galilea.
Yesus melanjutkan penjelasannya, ”Leluhur kalian makan manna di padang belantara, dan mereka mati juga.” Kemudian Yesus berkata, ”Saya adalah roti hidup yang turun dari surga. Orang yang makan roti ini akan hidup selamanya. Sebenarnya, roti yang akan saya berikan adalah daging saya, supaya dunia ini mendapat kehidupan.”—Yohanes 6:48-51.
Pada musim semi tahun 30 M, Yesus memberi tahu Nikodemus bahwa Allah sangat mengasihi manusia sehingga Dia memberikan Putra-Nya sebagai Juru Selamat. Yesus sekarang mengatakan bahwa mereka harus makan dagingnya dengan beriman pada korban yang akan dia berikan. Itulah cara untuk mendapatkan kehidupan abadi.
Namun, orang-orang tidak suka dengan kata-kata Yesus itu. Mereka berkata, ”Bagaimana orang ini bisa memberikan dagingnya untuk kita makan?” (Yohanes 6:52) Yesus ingin para pendengarnya mengerti bahwa kata-katanya itu bermakna kiasan. Hal itu terlihat dari penjelasan Yesus selanjutnya.
”Kalau kalian tidak makan daging Putra manusia dan minum darahnya, kalian tidak akan mendapat kehidupan. Siapa pun yang makan daging saya dan minum darah saya akan mendapat kehidupan abadi . . . Daging saya adalah makanan yang sejati, dan darah saya adalah minuman yang sejati. Siapa pun yang makan daging saya dan minum darah saya akan tetap bersatu dengan saya.”—Yohanes 6:53-56.
Bayangkan betapa kagetnya orang-orang Yahudi itu! Mereka mungkin berpikir bahwa Yesus benar-benar menyuruh mereka meminum darahnya, yang adalah pelanggaran hukum Allah, dan memakan dagingnya. (Kejadian 9:4; Imamat 17:10, 11) Tapi bukan itu arti kata-kata Yesus. Maksud Yesus, semua orang yang ingin hidup abadi harus beriman pada korban yang akan dia berikan, yaitu tubuhnya yang sempurna dan darahnya. Namun, bahkan banyak dari pengikutnya tidak memahami hal ini. Ada yang berkata, ”Kata-kata itu tidak bisa diterima. Mana ada yang mau dengarkan itu?”—Yohanes 6:60.
Yesus tahu bahwa beberapa pengikutnya diam-diam membicarakan hal itu. Jadi dia bertanya, ”Hal ini membuat kalian tersandung? Apa jadinya kalau kalian lihat Putra manusia naik ke tempat asalnya? . . . Apa yang saya katakan kepada kalian itu berasal dari kuasa kudus dan memberikan kehidupan. Tapi di antara kalian ada yang tidak percaya.” Setelah Yesus mengatakan hal itu, banyak orang pergi dan tidak lagi menjadi pengikutnya.—Yohanes 6:61-64.
Maka Yesus bertanya kepada 12 rasulnya, ”Apa kalian mau pergi juga?” Petrus menjawab, ”Tuan, kepada siapa kami harus pergi? Kata-katamu menghasilkan kehidupan abadi. Kami sudah percaya, dan kami sudah tahu bahwa Tuan adalah Yang Kudus dari Allah.” (Yohanes 6:67-69) Kata-kata itu menunjukkan kesetiaan Petrus dan rasul-rasul lain. Padahal, saat itu mereka belum sepenuhnya memahami apa yang Yesus katakan.
Yesus senang sekali mendengar jawaban Petrus. Namun dia berkata, ”Aku memilih kalian berdua belas, tapi salah satu dari kalian adalah pemfitnah.” (Yohanes 6:70) Yang Yesus maksudkan adalah Yudas Iskariot. Kemungkinan, pada waktu itu Yesus sudah tahu bahwa Yudas mulai melakukan hal-hal yang buruk.
Tapi, Yesus pasti senang karena Petrus dan rasul-rasul lainnya terus mengikuti dia dan memberitakan kabar baik agar orang-orang diselamatkan.
-
-
Apa yang Membuat Seseorang Najis?Yesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 56
Apa yang Membuat Seseorang Najis?
MATIUS 15:1-20 MARKUS 7:1-23 YOHANES 7:1
YESUS MENGKRITIK TRADISI ORANG FARISI
Sebentar lagi Paskah tahun 32 M. Setelah sibuk mengajar di Galilea, Yesus kemungkinan besar pergi ke Yerusalem untuk merayakan Paskah, seperti yang diwajibkan Hukum Allah. Namun, dia melakukannya dengan berhati-hati karena orang Yahudi mau membunuhnya. (Yohanes 7:1) Setelah itu, Yesus kembali ke Galilea.
Yesus kelihatannya sedang berada di Kapernaum saat orang Farisi dan para ahli Taurat menemui dia. Mereka datang dari Yerusalem. Mengapa mereka jauh-jauh datang? Mereka mau mencari alasan untuk menuduh Yesus. Mereka bertanya, ”Kenapa murid-muridmu melanggar tradisi leluhur? Contohnya, mereka tidak cuci tangan sebelum makan.” (Matius 15:2) Allah tidak pernah menyuruh umat-Nya melakukan tradisi ”mencuci tangan sampai ke siku”. (Markus 7:3) Tapi, orang Farisi merasa bahwa para murid berdosa karena tidak melakukan itu.
Yesus tidak langsung menjawab tuduhan itu. Sebaliknya, Yesus menunjukkan bahwa merekalah yang melanggar Hukum Allah. ”Kenapa kalian melanggar perintah Allah demi tradisi kalian?” tanya Yesus. ”Contohnya, Allah berfirman, ’Hormati ayah dan ibumu,’ dan, ’Orang yang mencaci maki ayah atau ibunya harus dibunuh.’ Tapi kalian bilang, ’Kalau ada orang yang berkata kepada ayah atau ibunya, ”Apa pun milikku yang bisa bermanfaat bagi kalian adalah persembahan yang dikhususkan bagi Allah,” orang itu tidak perlu menghormati ayahnya lagi.’”—Matius 15:3-6; Keluaran 20:12; 21:17.
Menurut orang Farisi, seseorang bisa menyatakan bahwa uang, barang, atau hal-hal lain miliknya sudah ”dikhususkan bagi Allah” walaupun itu masih ada di tangannya. Hal-hal itu dianggap sudah menjadi milik bait sehingga tidak bisa digunakan untuk membantu orang lain. Sebagai contoh, seorang anak mungkin punya uang yang sebenarnya bisa dipakai untuk membantu orang tuanya yang sudah tua dan miskin. Tapi, jika anak itu mengatakan bahwa uang tersebut adalah ”korban” bagi Allah atau bait, uang itu tidak bisa dipakai untuk membantu orang tuanya. Padahal, uang itu masih ada di tangan anaknya dan bisa dia gunakan untuk dirinya sendiri. Jadi, dia memanfaatkan hukum itu untuk lari dari tanggung jawab mengurus orang tua.—Markus 7:11.
Yesus sangat muak karena orang Farisi mengubah-ubah Hukum Allah. Dia berkata, ”Kalian membuat firman Allah tidak berlaku karena tradisi kalian. Orang-orang munafik, Yesaya dengan tepat bernubuat tentang kalian, ’Umat ini menghormati Aku di bibir saja, tapi hati mereka jauh dari-Ku. Percuma mereka terus beribadah kepada-Ku, karena yang mereka ajarkan hanya perintah manusia.’” Orang Farisi tidak bisa berkutik. Jadi, Yesus meminta agar orang-orang di sekitarnya mendekat, dan dia mengatakan, ”Dengarkan dan pahami ini: Yang membuat seseorang najis bukan apa yang masuk ke mulutnya, tapi apa yang keluar dari mulutnya itulah yang membuatnya najis.”—Matius 15:6-11; Yesaya 29:13.
Belakangan, murid-murid Yesus bertanya kepada Yesus, ”Apa kamu tahu bahwa orang Farisi tersandung mendengar kata-katamu?” Yesus menjawab, ”Setiap tanaman yang tidak ditanam oleh Bapakku yang di surga akan dicabut. Biarkan saja mereka. Mereka penuntun yang buta. Kalau orang buta menuntun orang buta, keduanya akan jatuh ke lubang.”—Matius 15:12-14.
Yesus kelihatannya heran saat Petrus, yang mewakili para murid, bertanya tentang apa yang membuat seseorang najis. Yesus menjawab, ”Apa kalian tidak tahu bahwa apa pun yang masuk ke mulut akan turun lewat perut, dan dibuang ke jamban? Tapi, apa pun yang keluar dari mulut berasal dari hati, dan itu membuat orang menjadi najis. Misalnya, dari hati keluar pikiran yang jahat, pembunuhan, perzinaan, perbuatan cabul, pencurian, kesaksian palsu, dan hinaan. Hal-hal itulah yang membuat orang menjadi najis. Tapi makan tanpa cuci tangan tidak membuat orang menjadi najis.”—Matius 15:17-20.
Yesus bukannya meremehkan kebersihan ataupun mengatakan bahwa seseorang tidak perlu cuci tangan sebelum makan atau menyiapkan makanan. Namun, Yesus mengecam para pemimpin agama yang munafik karena mereka mencampurkan hukum Allah yang sempurna dengan tradisi manusia. Yesus dengan jelas menyatakan bahwa yang membuat seseorang najis adalah perbuatan jahat yang berasal dari hatinya.
-
-
Yesus Menyembuhkan Gadis yang Kesurupan dan Pria yang TuliYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 57
Yesus Menyembuhkan Gadis yang Kesurupan dan Pria yang Tuli
MATIUS 15:21-31 MARKUS 7:24-37
YESUS MENYEMBUHKAN ANAK SEORANG WANITA FENISIA
YESUS MENYEMBUHKAN PRIA YANG TULI DAN SULIT BICARA
Setelah mengecam orang-orang Farisi yang membuat tradisi untuk menguntungkan diri sendiri, Yesus pergi bersama para muridnya. Mereka berjalan jauh ke arah barat laut. Tujuan mereka adalah kota Tirus dan Sidon di Fenisia.
Di sana, Yesus menemukan rumah yang bisa dia tempati. Dia tidak ingin orang-orang mengetahuinya. Meski begitu, orang-orang tetap menemukan Yesus. Salah satunya adalah seorang wanita keturunan Yunani yang berasal dari daerah itu. Dia mulai memohon, ”Kasihanilah saya, Tuan, Putra Daud. Anak perempuan saya sangat menderita karena kesurupan roh jahat.”—Matius 15:22; Markus 7:26.
Setelah beberapa lama, murid-murid Yesus berkata, ”Suruhlah dia pergi. Dia terus berseru kepada kita.” Mengapa Yesus mengabaikan wanita itu? Yesus berkata, ”Saya hanya diutus kepada orang Israel yang bagaikan domba yang tersesat.” Namun, wanita itu tidak menyerah. Dia mendatangi Yesus dan sujud kepadanya. Dia memohon, ”Tuan, tolonglah saya!”—Matius 15:23-25.
Yesus mungkin ingin tahu seberapa besar iman wanita ini. Jadi dia berkata, ”Tidak benar kalau roti untuk anak-anak diambil dan dilemparkan untuk anak-anak anjing.” (Matius 15:26) Pada waktu itu, orang Yahudi meremehkan bangsa lain. Namun, dengan memakai istilah ”anak-anak anjing”, Yesus menunjukkan bahwa dia juga peduli kepada orang-orang dari bangsa lain. Raut wajah dan suara Yesus yang lembut pasti juga menunjukkan hal itu.
Wanita itu tidak tersinggung dengan perkataan Yesus. Dia malah dengan rendah hati berkata, ”Betul Tuan, tapi sebenarnya anak-anak anjing memakan remah-remah yang jatuh dari meja majikannya.” Yesus menyadari bahwa wanita ini benar-benar beriman. Maka dia pun berkata, ”Imanmu sangat besar. Apa yang kamu inginkan akan terjadi.” (Matius 15:27, 28) Meski putri wanita itu tidak ada di sana, Yesus menyembuhkan dia! Ketika wanita itu pulang, putrinya sedang berbaring di tempat tidur dan ”roh jahat itu sudah pergi”. Dia sudah sembuh!—Markus 7:30.
Dari Fenisia, Yesus dan para muridnya pergi ke arah Sungai Yordan. Kelihatannya, mereka menyeberangi Sungai Yordan dari sebelah utara Laut Galilea lalu pergi ke daerah Dekapolis. Di sana, Yesus dan para murid naik ke gunung, tapi orang-orang berhasil menemukan mereka. Orang-orang itu datang membawa orang yang lumpuh, cacat, buta, dan bisu. Mereka membaringkan orang-orang sakit itu di dekat kaki Yesus, dan Yesus menyembuhkan mereka. Orang-orang sangat kagum melihatnya. Mereka pun memuji Yehuwa, Allah Israel.
Yesus memberikan perhatian khusus kepada seorang pria yang tuli dan sulit berbicara. Bayangkan perasaan pria itu ketika berada di antara kerumunan orang. Yesus kemungkinan tahu bahwa pria ini merasa tidak nyaman, jadi dia mengajaknya pergi ke tempat yang sepi. Sewaktu mereka hanya berdua saja, Yesus menunjukkan apa yang akan dia lakukan. Dia memasukkan kedua jarinya ke kedua telinga pria itu. Lalu, Yesus meludah dan menyentuh lidah pria tersebut. Setelah itu, Yesus melihat ke langit dan berkata, ”Effata,” yang berarti ”Terbukalah”. Pria itu langsung bisa mendengar dan berbicara dengan normal. Yesus melarang dia menceritakan hal ini kepada orang-orang. Dia mau orang beriman kepadanya karena melihat sendiri perbuatannya dan mendengar ajarannya.—Markus 7:32-36.
Mukjizat penyembuhan yang Yesus lakukan membuat orang ”benar-benar kagum”. Mereka berkata, ”Semua yang dia lakukan luar biasa! Dia bahkan membuat yang tuli mendengar dan yang bisu berbicara!”—Markus 7:37.
-
-
Yesus Melipatgandakan Roti dan Memperingatkan tentang RagiYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 58
Yesus Melipatgandakan Roti dan Memperingatkan tentang Ragi
MATIUS 15:32–16:12 MARKUS 8:1-21
YESUS MEMBERI MAKAN 4.000 PRIA
DIA MEMPERINGATKAN TENTANG BAHAYA RAGI ORANG FARISI
Di Dekapolis, di sebelah timur Laut Galilea, kumpulan orang datang kepada Yesus. Mereka ingin mendengarkan ajarannya dan disembuhkan. Orang-orang ini membawa keranjang-keranjang besar berisi makanan.
Setelah beberapa waktu, Yesus memberi tahu murid-muridnya, ”Aku kasihan kepada orang-orang ini. Sudah tiga hari mereka bersamaku, dan mereka tidak punya makanan. Kalau aku menyuruh mereka pulang dengan lapar, mereka akan pingsan di jalan, dan di antara mereka ada yang datang dari jauh.” Murid-murid berkata, ”Tempat ini jauh dari mana-mana. Dari mana kita bisa dapat cukup roti untuk mengenyangkan orang-orang ini?”—Markus 8:2-4.
Yesus bertanya, ”Kalian punya berapa roti?” Murid-muridnya menjawab, ”Tujuh, dan ada beberapa ikan kecil.” (Matius 15:34) Yesus lalu menyuruh orang-orang duduk. Dia mengambil roti dan ikan itu, berdoa kepada Allah, dan memberikannya kepada para murid untuk dibagikan. Semua orang makan sampai kenyang! Sisanya bahkan tujuh keranjang besar, padahal yang makan jumlahnya 4.000 pria, belum termasuk wanita dan anak-anak!
Setelah Yesus meminta kumpulan orang itu pergi, dia dan para murid naik perahu ke Magadan, yang terletak di pesisir barat Laut Galilea. Di sana, orang-orang Farisi dan Saduki mencoba menguji Yesus. Mereka meminta dia menunjukkan suatu tanda dari surga.
Yesus tahu maksud mereka. Jadi dia berkata, ”Pada sore hari, kalau langit berwarna merah, kalian bilang, ’Cuacanya akan baik,’ dan pada pagi hari, kalau langit berwarna merah tapi mendung, ’Cuaca hari ini akan hujan dan dingin.’ Kalian bisa menafsirkan langit dengan melihatnya, tapi tidak bisa menafsirkan tanda-tanda zaman.” (Matius 16:2, 3) Kemudian Yesus memberi tahu mereka bahwa mereka tidak akan menerima tanda apa pun kecuali tanda Nabi Yunus.
Yesus dan murid-muridnya lalu naik perahu ke Betsaida, yang terletak di sebelah timur-laut dari Laut Galilea. Dalam perjalanan, para murid menyadari bahwa roti yang mereka bawa tidak cukup. Mereka cuma punya satu roti. Karena baru bertemu dengan orang Farisi dan Saduki yang adalah pendukung Herodes, Yesus memperingatkan, ”Tetaplah buka mata kalian. Waspadalah terhadap ragi orang Farisi dan ragi Herodes.” Para murid pikir Yesus menyebut tentang ragi karena mereka lupa membawa persediaan roti. Maka Yesus berkata, ”Kenapa kalian bertengkar soal roti?”—Markus 8:15-17.
Yesus baru saja memberi makan ribuan orang. Jadi, para murid seharusnya tahu bahwa Yesus tidak khawatir soal persediaan roti. Yesus bertanya, ”Apa kalian tidak ingat, saat aku memecah-mecahkan lima roti untuk 5.000 pria, ada berapa keranjang berisi sisa yang kalian kumpulkan?” Mereka menjawab, ”Dua belas.” Yesus melanjutkan, ”Ketika aku memecah-mecahkan tujuh roti untuk 4.000 pria, ada berapa keranjang besar berisi sisa yang kalian kumpulkan?” Mereka menjawab, ”Tujuh.”—Markus 8:18-20.
Yesus lalu bertanya, ”Bagaimana mungkin kalian tidak mengerti bahwa aku tidak sedang membicarakan soal roti?” Dia kemudian berkata, ”Aku sedang berbicara agar kalian waspada terhadap ragi orang Farisi dan orang Saduki.”—Matius 16:11.
Akhirnya para murid paham. Yesus memakai ragi untuk melambangkan keburukan. Sama seperti ragi memengaruhi seluruh adonan dan membuatnya mengembang, ”ajaran orang Farisi dan orang Saduki” memberikan pengaruh buruk. Jadi, Yesus memperingatkan murid-murid terhadap bahaya tersebut.—Matius 16:12.
-
-
Siapakah Putra Manusia?Yesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 59
Siapakah Putra Manusia?
MATIUS 16:13-27 MARKUS 8:22-38 LUKAS 9:18-26
YESUS MENYEMBUHKAN SEORANG PRIA BUTA
PETRUS MENERIMA KUNCI-KUNCI KERAJAAN SURGA
YESUS MEMBERITAHUKAN BAHWA DIA AKAN DIHUKUM MATI DAN DIBANGKITKAN
Yesus dan murid-muridnya tiba di Betsaida. Di sana, orang-orang membawa seorang pria buta kepada Yesus lalu meminta Yesus menyentuh dan menyembuhkan dia.
Yesus kemudian memegang tangan pria itu dan menuntunnya ke luar desa. Setelah meludah ke mata pria itu, Yesus bertanya, ”Apa yang kamu lihat?” Pria tersebut menjawab, ”Saya lihat orang-orang, tapi mereka seperti pohon yang berjalan ke sana kemari.” (Markus 8:23, 24) Yesus lalu menyentuh mata pria itu, dan dia pun bisa melihat dengan jelas. Kemudian, Yesus menyuruhnya pulang tapi melarangnya masuk ke desa tadi.
Setelah itu, Yesus dan para muridnya pergi ke arah utara, ke wilayah Kaisarea Filipi. Mereka harus mendaki sejauh kira-kira 40 kilometer. Tempat yang mereka tuju letaknya 350 meter di atas permukaan laut. Di sebelah timur-laut, terdapat Gunung Hermon dengan puncak-puncaknya yang bersalju. Perjalanan ini mungkin berlangsung berhari-hari.
Di tengah perjalanan, Yesus pergi untuk berdoa sendirian. Sekitar sembilan atau sepuluh bulan lagi, Yesus akan mati, dan dia mengkhawatirkan murid-muridnya. Baru-baru ini, banyak pengikutnya meninggalkan dia atau merasa bingung dan kecewa. Mereka mungkin heran karena Yesus tidak mau dijadikan raja atau membuat mukjizat untuk menunjukkan siapa dia sebenarnya.
Ketika murid-murid datang ke tempat Yesus berdoa, Yesus bertanya, ”Kata orang, Putra manusia itu siapa?” Mereka menjawab, ”Ada yang bilang Yohanes Pembaptis, yang lain bilang Elia, dan yang lain lagi Yeremia atau salah satu nabi.” Banyak orang berpikir bahwa Yesus adalah salah satu nabi yang sudah dibangkitkan. Jadi, Yesus ingin tahu apa pendapat para muridnya. Dia bertanya, ”Kalau menurut kalian, aku ini siapa?” Petrus langsung menjawab, ”Kamu Kristus, Putra dari Allah yang hidup.”—Matius 16:13-16.
Yesus berkata bahwa Petrus bisa berbahagia karena Allah menyingkapkan hal itu kepadanya. Yesus menambahkan, ”Aku juga berkata kepadamu, kamu adalah Petrus, dan di atas batu ini aku akan membangun sidang jemaatku, dan gerbang-gerbang Kuburan tidak akan mengalahkannya.” Yesus sedang berbicara tentang sidang jemaat yang akan dia bentuk. Jika para anggotanya setia sampai mati, mereka akan dibangkitkan untuk hidup di surga. Dia berjanji kepada Petrus, ”Aku akan memberimu kunci-kunci Kerajaan surga.”—Matius 16:18, 19.
Yesus tidak memberi Petrus kedudukan yang lebih tinggi daripada para rasul lain, dan dia juga tidak menyebut Petrus sebagai fondasi utama sidang jemaat. Yesus-lah fondasi utama sidang jemaat. (1 Korintus 3:11; Efesus 2:20) Namun, Yesus memberi Petrus tiga kunci. Petrus akan mendapat kehormatan untuk membuka kesempatan bagi beberapa kelompok orang untuk masuk ke Kerajaan surga.
Pada Pentakosta tahun 33 M, Petrus menggunakan kunci pertama untuk orang Yahudi maupun orang yang menjadi penganut agama Yahudi. Dia menunjukkan apa yang harus mereka lakukan agar diselamatkan. Kunci yang kedua dia pakai untuk membuka kesempatan bagi orang Samaria. Lalu pada tahun 36 M, Petrus menggunakan kunci ketiga untuk membuka kesempatan bagi orang-orang dari bangsa lain, seperti Kornelius dan keluarganya.—Kisah 2:37, 38; 8:14-17; 10:44-48.
Para rasul sangat sedih ketika Yesus memberitahukan bahwa dalam waktu dekat, dia akan disiksa dan dibunuh di Yerusalem. Karena tidak tahu bahwa Yesus akan dibangkitkan untuk hidup di surga, Petrus menarik Yesus ke samping dan menegurnya, ”Kasihanilah dirimu sendiri, Tuan. Itu sama sekali tidak akan terjadi padamu.” Tapi Yesus langsung membalikkan badan dan menjawab, ”Pergi ke belakangku, Setan! Kamu menjadi batu sandungan bagiku, karena kamu tidak memikirkan pikiran Allah, tapi pikiran manusia.”—Matius 16:22, 23.
Yesus lalu memanggil para rasul dan murid-murid lainnya untuk menjelaskan bahwa menjadi pengikutnya itu tidak mudah. Yesus berkata, ”Kalau seseorang ingin mengikuti aku, dia harus menyangkal diri dan memikul tiang siksaannya dan terus mengikuti aku. Siapa pun yang ingin menyelamatkan nyawanya akan kehilangan itu, tapi siapa pun yang kehilangan nyawanya demi aku dan demi kabar baik akan menyelamatkannya.”—Markus 8:34, 35.
Jelaslah, para pengikut Yesus harus berani dan rela berkorban. Yesus berkata, ”Siapa pun yang malu terhadap aku dan kata-kataku dalam generasi yang berdosa dan tidak setia ini, Putra manusia juga akan malu terhadap orang itu saat dia datang dengan kemuliaan Bapaknya bersama para malaikat suci.” (Markus 8:38) Saat Yesus datang, dia akan ”membalas setiap orang sesuai dengan tingkah lakunya”.—Matius 16:27.
-
-
Penglihatan tentang Kemuliaan KristusYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 60
Penglihatan tentang Kemuliaan Kristus
MATIUS 16:28–17:13 MARKUS 9:1-13 LUKAS 9:27-36
PENGLIHATAN TRANSFIGURASI
BEBERAPA RASUL MENDENGAR SUARA ALLAH
Ketika Yesus mengajar di daerah Kaisarea Filipi, sekitar 25 kilometer dari Gunung Hermon, dia mengatakan sesuatu yang mengejutkan: ”Sesungguhnya kukatakan, beberapa dari orang-orang yang berdiri di sini tidak akan merasakan kematian sama sekali sebelum melihat Putra manusia datang dalam Kerajaannya.”—Matius 16:28.
Para murid pasti penasaran dengan maksud kata-kata Yesus itu. Sekitar seminggu kemudian, Yesus mengajak tiga rasulnya, Petrus, Yakobus, dan Yohanes, naik ke sebuah gunung yang tinggi. Kelihatannya saat itu sudah larut malam, karena ketiga rasul itu mengantuk. Ketika Yesus sedang berdoa, mereka melihat Yesus berubah, atau mengalami transfigurasi. Wajahnya bersinar seperti matahari, dan pakaiannya menjadi putih berkilauan.
Lalu, mereka melihat ”Musa dan Elia”. Kedua pria itu mulai berbicara dengan Yesus tentang ’kepergiannya, yang akan segera terjadi di Yerusalem’. (Lukas 9:30, 31) Kepergian Yesus ini memaksudkan kematian Yesus dan kebangkitannya, yang sebelumnya Yesus sebutkan. (Matius 16:21) Percakapan ini membuktikan bahwa kematian Yesus harus terjadi, tidak seperti yang Petrus pikirkan sebelumnya.
Sekarang, rasa kantuk para rasul sudah hilang. Dengan takjub, mereka mendengarkan dan menyaksikan semua itu. Meskipun itu adalah penglihatan, semuanya terasa begitu nyata sampai-sampai Petrus ikut bergabung dalam percakapan itu. Petrus berkata, ”Rabi, kami senang berada di sini. Izinkan kami memasang tiga kemah: satu untukmu, satu untuk Musa, dan satu untuk Elia.” (Markus 9:5) Mungkin, Petrus ingin mendirikan tenda supaya penglihatan itu bisa berlangsung lebih lama.
Sewaktu Petrus berbicara, sebuah awan terang menutupi mereka. Lalu, terdengarlah suara dari awan itu: ”Inilah Putra-Ku, yang Kukasihi. Aku berkenan kepadanya. Dengarkan dia.” Ketika mendengar suara Allah, para rasul ketakutan dan jatuh tersungkur. Namun Yesus berkata kepada mereka, ”Berdirilah, jangan takut.” (Matius 17:5-7) Setelah para rasul berdiri, yang mereka lihat hanyalah Yesus. Penglihatan itu telah berakhir. Keesokan harinya, mereka turun dari gunung. Yesus berkata, ”Jangan beri tahu siapa-siapa tentang penglihatan itu sampai Putra manusia dibangkitkan dari antara orang mati.”—Matius 17:9.
Karena melihat Elia dalam penglihatan itu, para rasul bertanya, ”Kenapa para ahli Taurat bilang bahwa Elia harus datang lebih dulu?” Yesus menjawab, ”Elia sudah datang, tapi mereka tidak mengenali dia.” (Matius 17:10-12) Yesus sedang berbicara tentang Yohanes Pembaptis, yang tugasnya sama seperti Elia. Elia mempersiapkan pelayanan Elisa, dan Yohanes Pembaptis mempersiapkan pelayanan Kristus.
Yesus dan ketiga rasulnya pasti sangat dikuatkan! Penglihatan itu menunjukkan kemuliaan Yesus sebagai Raja Kerajaan Allah. Jadi seperti yang Yesus janjikan, ketiga rasul itu melihat ”Putra manusia datang dalam Kerajaannya”. (Matius 16:28) Mereka pun menjadi ”saksi mata kehebatannya”. Orang-orang Farisi berulang kali meminta bukti bahwa Yesus adalah Raja pilihan Allah, tapi Yesus tidak mau memberikannya. Yesus hanya memberikan bukti itu kepada para rasul terdekatnya. Penglihatan di gunung itu membuat mereka yakin bahwa nubuat-nubuat tentang Kerajaan Allah pasti terwujud. Petrus belakangan menulis, ”Kami semakin yakin dengan kata-kata nubuat.”—2 Petrus 1:16-19.
-
-
Yesus Menyembuhkan Anak yang KesurupanYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 61
Yesus Menyembuhkan Anak yang Kesurupan
MATIUS 17:14-20 MARKUS 9:14-29 LUKAS 9:37-43
PARA MURID MEMBUTUHKAN IMAN YANG KUAT UNTUK MENYEMBUHKAN ANAK YANG KESURUPAN
Ketika Yesus, Petrus, Yakobus, dan Yohanes turun dari Gunung Hermon, mereka bertemu dengan sekumpulan orang. Ada sesuatu yang tidak beres. Para ahli Taurat mengelilingi para murid dan berdebat dengan mereka. Orang-orang senang melihat Yesus, dan mereka berlari untuk menyapanya. Yesus bertanya kepada mereka, ”Kalian sedang berdebat dengan mereka soal apa?”—Markus 9:16.
Seorang pria dari antara kerumunan orang itu berlutut di depan Yesus dan berkata, ”Guru, saya membawa anak laki-laki saya kepadamu, karena dia kesurupan roh jahat yang membuatnya bisu. Setiap kali roh itu menyerang, anak ini dibanting ke tanah, mulutnya berbusa, dan dia menggertakkan gigi dan kehilangan kekuatan. Saya sudah meminta murid-muridmu mengusirnya, tapi mereka tidak sanggup.”—Markus 9:17, 18.
Kelihatannya, para ahli Taurat mengejek para murid yang gagal mengusir roh jahat itu. Jadi, Yesus tidak langsung menanggapi ayah anak itu. Dia berbicara kepada kumpulan orang itu, ”Generasi yang tidak beriman dan bejat, berapa lama saya harus tetap bersama kalian? Berapa lama saya harus sabar kepada kalian?” Teguran keras itu ditujukan kepada para ahli Taurat yang mengejek para muridnya. Lalu, Yesus berkata kepada ayah dari anak yang kesurupan itu, ”Bawalah dia ke sini kepada saya.”—Matius 17:17.
Ketika anak itu menghampiri Yesus, roh jahat yang merasuki dia membuat anak itu kejang-kejang dan jatuh. Anak itu lalu berguling-guling dengan mulut yang berbusa. ”Sejak kapan dia seperti ini?” tanya Yesus. Sang ayah menjawab, ”Sejak kecil. Roh itu sering melempar dia ke api dan ke dalam air untuk membunuh dia.” Dia lalu memohon, ”Kalau Guru bisa melakukan sesuatu, kasihanilah kami dan tolonglah kami.”—Markus 9:21, 22.
Pria itu sudah sangat putus asa karena bahkan murid-murid Yesus tidak bisa membantu dia. Yesus lalu menenangkan dia dengan berkata, ”Kenapa kamu bilang, ’Kalau Guru bisa’? Tidak ada yang mustahil bagi orang yang beriman.” Pria itu langsung berkata, ”Saya beriman! Bantulah saya lebih beriman lagi!”—Markus 9:23, 24.
Yesus melihat orang-orang berdatangan dengan cepat ke arah mereka. Di hadapan semua orang, Yesus membentak roh jahat itu, ”Saya perintahkan kamu, roh bisu dan tuli: Keluar dari anak ini, dan jangan masuk lagi!” Saat keluar, roh jahat itu membuat anak itu berteriak dan kejang-kejang. Lalu anak itu tergeletak dan tidak bergerak. Melihat itu, banyak orang berkata, ”Dia mati!” (Markus 9:25, 26) Tapi saat Yesus memegang tangan anak itu, anak itu bangun. Dia ”sembuh sejak saat itu”. (Matius 17:18) Orang-orang takjub melihat apa yang Yesus lakukan.
Sebelumnya, ketika Yesus mengutus para muridnya untuk mengabar, mereka bisa mengusir roh-roh jahat. Jadi, ketika mereka hanya bersama Yesus di sebuah rumah, mereka bertanya, ”Kenapa kami tidak bisa mengusirnya?” Yesus menjelaskan bahwa mereka kurang beriman. Dia berkata, ”Yang seperti itu hanya bisa diusir dengan doa.” (Markus 9:28, 29) Untuk mengusir roh jahat yang kuat, para murid harus sangat beriman dan berdoa memohon kuasa dari Allah.
Yesus lalu berkata, ”Sesungguhnya kukatakan kepada kalian, kalau kalian punya iman sebesar biji sesawi saja, kalian bisa berkata kepada gunung ini, ’Pindah ke sana,’ dan gunung itu akan pindah, dan tidak akan ada yang mustahil bagi kalian.” (Matius 17:20) Kuasa iman benar-benar luar biasa!
Kesulitan dalam melayani Yehuwa bisa seperti gunung yang sangat besar dan tidak bisa disingkirkan. Namun, jika kita memperkuat iman, kita bisa mengatasi masalah yang sebesar gunung.
-
-
Pelajaran Penting tentang Kerendahan HatiYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 62
Pelajaran Penting tentang Kerendahan Hati
MATIUS 17:22–18:5 MARKUS 9:30-37 LUKAS 9:43-48
YESUS KEMBALI MENUBUATKAN KEMATIANNYA
YESUS MEMBAYAR PAJAK DENGAN UANG LOGAM DARI MULUT IKAN
SIAPA YANG AKAN MENJADI TERBESAR DALAM KERAJAAN SURGA?
Setelah mengalami transfigurasi dan menyembuhkan seorang anak yang kesurupan di Kaisarea Filipi, Yesus pergi ke Kapernaum. Dia pergi hanya dengan murid-muridnya, jadi tidak ada yang mengetahuinya. (Markus 9:30) Dengan begitu, Yesus bisa mempersiapkan murid-muridnya untuk menghadapi kematiannya dan menjalankan tugas yang akan mereka terima. Dia menjelaskan, ”Putra manusia akan diserahkan ke tangan manusia, dan mereka akan membunuh dia. Pada hari ketiga, dia akan dibangkitkan.”—Matius 17:22, 23.
Hal itu seharusnya tidak membuat mereka kaget. Sebelumnya, Yesus sudah pernah mengatakan bahwa dia akan dibunuh, meskipun Petrus tidak percaya. (Matius 16:21, 22) Selain itu, tiga rasulnya telah melihat transfigurasi Yesus dan mendengar percakapan tentang ’kepergiannya’. (Lukas 9:31) Sekarang, para murid ”sangat sedih” mendengar kata-kata Yesus, walaupun mereka tidak benar-benar memahaminya. (Matius 17:23) Namun, mereka tidak berani bertanya kepada Yesus.
Akhirnya mereka sampai di Kapernaum, tempat Yesus sering tinggal selama melayani di Galilea. Kota itu juga adalah kampung halaman banyak rasulnya. Di sana, beberapa petugas pajak bait mendatangi Petrus. Mereka mungkin ingin menuduh Yesus tidak pernah membayar pajak bait, jadi mereka bertanya, ”Apakah gurumu membayar pajak dua drakhma?”—Matius 17:24.
”Ya,” jawab Petrus. Saat Petrus masuk ke rumah, Yesus sudah tahu apa yang terjadi. Jadi sebelum Petrus bercerita, Yesus sudah bertanya, ”Bagaimana menurutmu, Simon? Dari siapa raja-raja dunia ini menerima bea atau pajak kepala: dari anak-anak mereka atau dari orang-orang tak dikenal?” Petrus menjawab, ”Dari orang-orang tak dikenal.” Yesus pun berkata, ”Jadi sebenarnya anak-anak mereka bebas pajak.”—Matius 17:25, 26.
Sebagai Putra Allah, Yesus tidak harus membayar pajak bait. Bapaknya adalah Raja seluruh alam semesta, yang disembah orang-orang di bait. ”Tapi karena kita tidak mau membuat mereka tersandung,” kata Yesus, ”pergilah memancing di laut, dan ambil ikan pertama yang tertangkap. Saat kamu membuka mulutnya, kamu akan temukan satu uang logam perak [stater, atau tetradrakhma]. Ambillah itu dan berikan kepada mereka untuk pajak kita berdua.”—Matius 17:27.
Sebelumnya, sepanjang perjalanan ke Kapernaum, para murid bertengkar tentang siapa yang akan menjadi terbesar dalam Kerajaan surga. Sekarang, mereka ingin bertanya kepada Yesus tentang hal ini. Mereka takut bertanya tentang kematian Yesus, tapi mereka berani bertanya tentang masa depan mereka sendiri. Yesus sudah tahu apa yang mereka pikirkan. Jadi sebelum mereka bertanya, Yesus berkata, ”Tadi kalian bertengkar soal apa di jalan?” (Markus 9:33) Karena malu, para murid diam saja. Tapi akhirnya, mereka bertanya, ”Siapa sebenarnya yang terbesar dalam Kerajaan surga?”—Matius 18:1.
Mereka masih saja mempermasalahkan hal itu, padahal sudah hampir tiga tahun mereka mengikuti Yesus dan mendengarkan ajarannya. Namun, mereka tidak sempurna. Mereka juga hidup di antara para pemimpin agama yang sangat mementingkan status dan kedudukan. Selain itu, Yesus baru-baru ini memberi tahu Petrus bahwa dia akan diberi ”kunci-kunci” Kerajaan. Itu bisa jadi membuat dia merasa lebih penting. Yakobus dan Yohanes juga mungkin merasa penting karena telah menyaksikan transfigurasi Yesus.
Apa pun penyebabnya, Yesus menasihati mereka semua untuk berubah. Dia memanggil seorang anak dan menyuruhnya berdiri di tengah-tengah mereka. Dia berkata, ”Kalau kalian tidak berubah dan menjadi seperti anak kecil, kalian tidak akan masuk ke Kerajaan surga. Jadi, siapa pun yang merendahkan diri seperti anak kecil ini adalah yang terbesar dalam Kerajaan surga. Dan siapa pun yang menerima anak kecil seperti ini demi namaku menerima aku juga.”—Matius 18:3-5.
Cara mengajar Yesus sangat bagus! Dia tidak memarahi murid-muridnya dan menuduh mereka ambisius. Tapi, Yesus memanggil seorang anak kecil supaya para murid bisa melihat langsung apa yang Yesus maksudkan. Anak kecil sama sekali tidak punya kedudukan, jadi Yesus ingin para muridnya menganggap diri mereka seperti itu. Yesus menyimpulkan, ”Orang yang bersikap sebagai yang paling kecil di antara kalian semua, dialah yang terbesar.”—Lukas 9:48.
-
-
Para Rasul Mendapat Nasihat Penting LainYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 63
Para Rasul Mendapat Nasihat Penting Lain
MATIUS 18:6-20 MARKUS 9:38-50 LUKAS 9:49, 50
JANGAN MEMBUAT ORANG LAIN TERSANDUNG
APA YANG HARUS DILAKUKAN JIKA SAUDARA KITA BERBUAT DOSA
Yesus baru saja mengajarkan para pengikutnya untuk bersikap rendah hati seperti anak kecil yang tidak punya kedudukan. Dengan begitu, mereka meniru Yesus.—Matius 18:5.
Para rasul itu ditegur karena mereka bertengkar tentang siapa yang terbesar di antara mereka. Sekarang, Rasul Yohanes memberi tahu Yesus tentang hal lain yang terjadi. Dia berkata, ”Kami melihat seseorang mengusir roh jahat dengan namamu, dan kami mencoba hentikan dia karena dia tidak ikut dengan kita.”—Lukas 9:49.
Yohanes mungkin menganggap bahwa hanya para rasul yang boleh menyembuhkan orang atau mengusir roh jahat. Menurut Yohanes, orang Yahudi itu tidak boleh melakukannya karena dia tidak ikut bepergian dengan Yesus. Lalu, mengapa orang itu berhasil mengusir roh-roh jahat?
Yohanes mungkin kaget mendengar Yesus berkata, ”Jangan coba hentikan dia, karena orang yang melakukan tindakan penuh kuasa dengan namaku tidak akan bisa langsung mengatakan hal yang buruk tentang aku setelah melakukan itu. Orang yang tidak menentang kita ada di pihak kita. Aku memberi tahu kalian dengan sesungguhnya, siapa pun yang memberi kalian secangkir air minum karena kalian milik Kristus tidak bakal kehilangan upahnya.”—Markus 9:39-41.
Pada waktu itu, sidang Kristen masih belum terbentuk. Jadi, walaupun orang tersebut tidak bepergian bersama Yesus, bukan berarti dia menentang Yesus atau mengajarkan kepercayaan yang salah. Dia jelas-jelas beriman kepada nama Yesus, dan Yesus berkata bahwa dia akan menerima upahnya.
Yesus lalu menasihati para rasulnya agar kata-kata dan tindakan mereka tidak sampai membuat pria itu tersandung, karena hal itu sangat serius. Yesus berkata, ”Siapa pun yang menjadi sandungan bagi salah satu dari orang-orang kecil yang beriman ini, lebih baik sebuah batu gilingan besar digantungkan di lehernya, lalu dia dilemparkan ke laut.” (Markus 9:42) Yesus juga mengatakan bahwa para pengikutnya harus rela membuang apa pun yang dapat membuat mereka tersandung, bahkan jika itu sangat berharga, seperti tangan, kaki, atau mata mereka. Lebih baik kita kehilangan sesuatu yang berharga tapi masuk ke dalam Kerajaan Allah daripada memilikinya namun masuk ke Gehena (Lembah Hinom). Para rasul kemungkinan besar sudah pernah melihat lembah tempat pembakaran sampah ini di dekat Yerusalem. Jadi, mereka mengerti bahwa itu melambangkan kebinasaan kekal.
Yesus juga memperingatkan, ”Jangan sampai kalian memandang rendah satu pun dari orang-orang kecil ini, karena aku memberi tahu kalian bahwa malaikat-malaikat mereka di surga selalu ada di hadapan Bapakku.” Seberapa berharga ”orang-orang kecil” ini bagi Yehuwa? Untuk menjawabnya, Yesus bercerita tentang seorang pria yang punya 100 domba. Suatu hari, satu dombanya hilang. Demi mencari domba itu, dia meninggalkan 99 domba lainnya. Saat domba itu ditemukan, dia lebih senang karena menemukan yang satu itu daripada karena 99 lainnya. Yesus menambahkan, ”Bapakku yang di surga tidak mau satu pun dari orang-orang kecil ini hilang.”—Matius 18:10, 14.
Setelah itu, mungkin karena mengingat pertengkaran para rasul, Yesus menasihati, ”Milikilah garam dalam diri kalian, dan tetaplah damai satu sama lain.” (Markus 9:50) Jika kata-kata kita seolah dibumbui dengan garam, orang lain akan lebih mudah menerima kata-kata kita sehingga perdamaian terus terjaga.—Kolose 4:6.
Kadang, masalah yang serius bisa terjadi. Yesus memberitahukan cara mengatasinya, ”Kalau saudaramu berbuat dosa, ungkapkan kesalahannya antara kamu dan dia saja. Kalau dia mendengarkan kamu, kamu sudah mendapatkan saudaramu.” Bagaimana jika dia tidak mendengarkan? Yesus berkata, ”Ajaklah satu atau dua orang lagi, karena supaya suatu keterangan dianggap benar, itu harus dikatakan oleh dua atau tiga saksi.” Jika itu juga tidak berhasil, kita harus bicara kepada ”sidang jemaat”, yaitu para penatua. Merekalah yang akan membuat keputusan. Bagaimana jika orang berdosa itu tetap tidak mau mendengarkan? Yesus berkata, ”Anggap dia seperti orang dari bangsa lain dan seperti pemungut pajak.” Maksudnya, kita tidak boleh bergaul dengannya lagi.—Matius 18:15-17.
Para penatua harus mengikuti Firman Allah. Dengan begitu, jika mereka menyatakan orang itu bersalah dan perlu mendapat disiplin, keputusan mereka ”sudah terikat di surga”. Tapi, jika mereka menyatakan dia tidak bersalah, hal itu ”sudah terlepas di surga”. Petunjuk inilah yang dipakai dalam sidang Kristen. Jika para penatua harus mengambil keputusan penting seperti itu, Yesus berkata, ”Di mana pun dua atau tiga orang berkumpul dalam namaku, aku ada di situ bersama mereka.”—Matius 18:18-20.
-
-
Pentingnya Terus MengampuniYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 64
Pentingnya Terus Mengampuni
APAKAH MENGAMPUNI SAMPAI TUJUH KALI SUDAH CUKUP?
PERUMPAMAAN TENTANG BUDAK YANG TIDAK BERBELASKASIHAN
Yesus baru saja memberi tahu para rasulnya bahwa jika mereka punya masalah dengan saudara seiman, mereka harus berusaha menyelesaikannya secara pribadi. Tapi, Petrus ingin tahu sampai berapa kali dia harus melakukannya.
Petrus bertanya, ”Tuan, kalau saudaraku berdosa kepadaku, berapa kali aku harus mengampuni dia? Sampai tujuh kali?” Beberapa pemimpin agama mengajarkan bahwa seseorang perlu mengampuni sampai tiga kali. Jadi, Petrus mungkin merasa bahwa dia sudah sangat baik kalau dia mengampuni ”sampai tujuh kali”.—Matius 18:21.
Tapi, Yesus tidak ingin para pengikutnya menghitung kesalahan orang lain. Jadi Yesus mengoreksi Petrus, ”Aku katakan kepadamu, bukan sampai tujuh kali, tapi sampai 77 kali.” (Matius 18:22) Maksudnya, pengampunan itu tidak ada batasnya.
Yesus kemudian memberikan sebuah perumpamaan untuk mengajarkan pentingnya mengampuni. Ini tentang seorang budak yang tidak meniru raja yang berbelaskasihan. Seorang raja mengadakan perhitungan dengan budak-budaknya. Dia memanggil seorang budak yang berutang sangat besar. Budak itu punya utang sebesar 10.000 talenta [60 juta dinar]. Dia tidak mungkin sanggup melunasi utangnya. Jadi sang raja menyuruh agar dia, istrinya, dan anak-anaknya dijual untuk membayar utangnya. Budak itu pun sujud dan memohon, ”Sabarlah kepada saya. Saya akan melunasi semuanya.”—Matius 18:26.
Sang raja merasa kasihan, dan dia pun menghapus utang budak itu. Ketika budak itu keluar, dia bertemu dengan temannya yang berutang 100 dinar kepadanya. Dia menarik temannya itu dan mencekiknya sambil berkata, ”Bayar utangmu.” Temannya itu sujud dan memohon, ”Sabarlah kepada saya. Saya akan lunasi utang saya.” (Matius 18:28, 29) Namun, budak yang sudah diampuni utangnya itu tidak meniru sang raja. Dia malah menyuruh agar temannya itu, yang utangnya tidak seberapa, dipenjarakan sampai bisa membayar utangnya.
Budak-budak lain melihat tindakan budak jahat itu dan melaporkannya kepada sang raja. Raja itu sangat marah. Dia memanggil budak itu dan berkata, ”Budak yang jahat, saya menghapus semua utangmu saat kamu memohon-mohon kepada saya. Bukankah kamu seharusnya juga mengasihani sesama budak itu, seperti saya mengasihani kamu?” Raja itu lalu menjebloskan budak yang jahat itu ke penjara sampai dia bisa membayar utangnya. Yesus menyimpulkan, ”Bapakku yang di surga juga akan memperlakukan kalian seperti itu kalau kalian masing-masing tidak mengampuni saudara kalian dari hati.”—Matius 18:32-35.
Perumpamaan itu mengajarkan pentingnya mengampuni! Allah telah mengampuni dosa kita, yang seperti utang yang sangat besar. Dibandingkan dengan hal itu, kesalahan apa pun yang dilakukan saudara kita terhadap kita tidak ada apa-apanya. Dan Yehuwa mengampuni kita bukan hanya sekali, tapi beribu-ribu kali. Jadi, bukankah kita seharusnya terus mengampuni saudara kita, bahkan jika dia menyakiti kita? Seperti yang Yesus katakan dalam Khotbah di Gunung, Allah akan mengampuni dosa kita jika kita sudah mengampuni orang lain.—Matius 6:12.
-
-
Yesus Mengajar dalam Perjalanan ke YerusalemYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 65
Yesus Mengajar dalam Perjalanan ke Yerusalem
MATIUS 8:19-22 LUKAS 9:51-62 YOHANES 7:2-10
PENDAPAT ADIK-ADIK YESUS TENTANG DIRINYA
SEBERAPA PENTING PELAYANAN KEPADA ALLAH?
Selama ini, Yesus lebih banyak mengabar di Galilea, dan dia disambut di sana. Sebaliknya, orang-orang di Yudea menolak Yesus. Bahkan, orang-orang Yahudi di Yerusalem ”berusaha membunuh” Yesus ketika dia menyembuhkan seorang pria pada hari Sabat.—Yohanes 5:18; 7:1.
Sekarang musim gugur tahun 32 M, dan sebentar lagi Perayaan Tabernakel (atau, Pondok) akan diadakan. Perayaan ini berlangsung selama tujuh hari lalu ditutup dengan pertemuan istimewa pada hari kedelapan. Perayaan ini menandai akhir tahun pertanian dan merupakan saat untuk bersukacita dan bersyukur.
Adik-adik Yesus—Yakobus, Simon, Yusuf, dan Yudas—mendesak dia, ”Pergilah dari sini ke Yudea.” Yerusalem adalah pusat ibadah di sana. Selama tiga perayaan tahunan, kota itu dipadati pengunjung. Adik-adik Yesus berkata, ”Orang tidak akan melakukan apa pun dengan diam-diam kalau mau menjadi terkenal. Karena kamu melakukan hal-hal ini, perlihatkan dirimu kepada dunia.”—Yohanes 7:3, 4.
Sebenarnya, keempat adik Yesus itu ”tidak beriman” bahwa Yesus adalah Mesias. Tapi, mereka mau orang-orang di perayaan itu melihat Yesus melakukan hal-hal luar biasa. Namun, Yesus tahu itu berbahaya, jadi dia berkata, ”Dunia tidak punya alasan untuk membenci kalian, tapi dunia membenci aku, karena aku bersaksi bahwa perbuatan-perbuatannya buruk. Kalian pergi saja ke perayaan itu. Aku belum akan pergi ke sana, karena sekarang belum waktunya bagiku.”—Yohanes 7:5-8.
Adik-adik Yesus pun pergi bersama para pengunjung lainnya ke Yerusalem. Beberapa hari kemudian, barulah Yesus dan para muridnya pergi dengan diam-diam. Mereka tidak melewati jalan dekat Sungai Yordan yang biasa dilalui orang, tapi melewati Samaria. Karena butuh tempat menginap di Samaria, Yesus mengutus beberapa orang untuk pergi lebih dulu dan menyiapkan semuanya. Namun, penduduk salah satu desa di sana tidak mau menerima Yesus karena Yesus akan menghadiri perayaan Yahudi. Yakobus dan Yohanes marah lalu berkata kepada Yesus, ”Apa Tuan mau kami suruh api turun dari langit untuk memusnahkan mereka?” (Lukas 9:54) Tapi, Yesus mengatakan bahwa mereka tidak boleh berpikir seperti itu. Mereka pun melanjutkan perjalanan.
Dalam perjalanan, seorang ahli Taurat berkata kepada Yesus, ”Guru, saya akan mengikuti Guru ke mana pun Guru pergi.” Yesus menjawab, ”Rubah punya liang, dan burung punya sarang, tapi Putra manusia tidak punya tempat untuk meletakkan kepalanya.” (Matius 8:19, 20) Yesus memberi tahu pria itu bahwa dia akan mengalami banyak kesulitan jika menjadi pengikutnya. Kelihatannya, pria ini tidak mau hidup seperti itu. Kita pun bisa merenung, ’Apakah saya rela berkorban demi mengikuti Yesus?’
Yesus berkata kepada pria lain, ”Jadilah pengikutku.” Pria itu menjawab, ”Tuan, izinkan saya pergi mengubur ayah saya dulu.” Tapi Yesus berkata, ”Biarkan orang mati menguburkan orang mati, tapi kamu, beritakan Kerajaan Allah ke mana-mana.” (Lukas 9:59, 60) Yesus tahu keadaan dia yang sebenarnya. Ayah pria itu jelas belum meninggal. Kalau ayahnya baru meninggal, pria itu pasti sedang mengurus penguburannya di tempat lain dan tidak mungkin ada di situ bersama Yesus. Jelas, dia belum siap untuk menomorsatukan Kerajaan Allah.
Seraya mereka berjalan ke Yerusalem, pria lain berkata kepada Yesus, ”Saya akan mengikuti Tuan, tapi izinkan saya pamit dulu kepada keluarga saya.” Yesus menjawab, ”Orang yang membajak ladang sambil melihat ke belakang tidak cocok untuk Kerajaan Allah.”—Lukas 9:61, 62.
Jika seorang pembajak tidak fokus melihat ke depan, tanah yang dibajak tidak akan lurus. Selain itu, jika dia berhenti membajak untuk melihat ke belakang, pekerjaannya tidak akan selesai. Jadi, semua orang yang mau menjadi murid Yesus harus berfokus pada pelayanan. Jika kita ”melihat ke belakang”, maksudnya berfokus pada hal-hal di dunia ini, kita bisa menyimpang dari jalan menuju kehidupan abadi.
-
-
Menghadiri Perayaan Tabernakel di YerusalemYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 66
Menghadiri Perayaan Tabernakel di Yerusalem
YESUS MENGAJAR DI BAIT
Sejak dibaptis beberapa tahun yang lalu, Yesus semakin terkenal. Ribuan orang Yahudi telah menyaksikan mukjizat-mukjizatnya dan menceritakannya ke mana-mana. Sekarang, pada Perayaan Tabernakel di Yerusalem, banyak orang mencari Yesus.
Orang-orang punya pendapat yang berbeda tentang Yesus. Ada yang berkata, ”Dia orang baik.” Yang lain berkata, ”Tidak, dia menyesatkan banyak orang.” (Yohanes 7:12) Mereka membicarakan hal ini selama hari-hari pertama perayaan itu. Tapi, tidak ada yang berani terang-terangan membela Yesus karena takut kepada para pemimpin agama Yahudi.
Ketika perayaan itu sudah setengah jalan, Yesus masuk ke bait dan mulai mengajar. Banyak orang Yahudi kagum melihat cara dia mengajar. Mereka berkata, ”Bagaimana orang ini bisa tahu banyak tentang Kitab Suci? Dia kan tidak pernah belajar di sekolah agama.”—Yohanes 7:15.
Yesus menjelaskan, ”Yang saya ajarkan bukan ajaran saya sendiri, tapi ajaran Dia yang mengutus saya. Orang yang mau melakukan kehendak Allah akan tahu apakah ajaran ini berasal dari Allah atau dari pikiran saya sendiri.” (Yohanes 7:16, 17) Semua ajaran Yesus sesuai dengan Hukum Allah. Jelas, Yesus ingin orang-orang memuji Allah, bukan dirinya.
Setelah itu, Yesus berkata, ”Musa memberi kalian Taurat, kan? Tapi tidak satu pun dari kalian menaati Taurat itu. Kenapa kalian mau bunuh saya?” Sebagian orang di sana, yang mungkin datang dari luar kota, tidak tahu tentang rencana jahat itu. Bagi mereka, tidak mungkin ada yang ingin membunuh guru sehebat Yesus. Mereka pun menyimpulkan bahwa ada yang tidak beres dengan Yesus. Mereka berkata, ”Kamu kesurupan. Siapa yang mau bunuh kamu?”—Yohanes 7:19, 20.
Mereka tidak tahu bahwa satu setengah tahun sebelumnya, para pemimpin agama Yahudi berupaya membunuh Yesus setelah dia menyembuhkan seorang pria pada hari Sabat. Jadi, Yesus sekarang memberikan sebuah contoh agar para pemimpin agama itu sadar bahwa mereka tidak masuk akal. Yesus berkata bahwa menurut Taurat, bayi laki-laki harus disunat pada hari kedelapan, bahkan kalau itu adalah hari Sabat. Yesus pun bertanya, ”Kalau orang disunat pada hari Sabat supaya Hukum Musa tidak dilanggar, kenapa kalian marah besar ketika saya membuat orang sembuh total pada hari Sabat? Jangan lagi menghakimi berdasarkan apa yang kelihatan dari luar. Hakimilah dengan adil.”—Yohanes 7:23, 24.
Orang-orang di Yerusalem yang tahu bahwa para pemimpin agama ingin membunuh Yesus berkata, ”Ini orang yang mereka mau bunuh, kan? Tapi coba lihat, dia bicara di depan umum, dan mereka tidak bilang apa-apa kepadanya. Jangan-jangan para pemimpin kita sudah tahu pasti bahwa dia Kristus.” Kalau begitu, mengapa orang-orang itu tetap tidak percaya bahwa Yesus adalah Kristus? Mereka berkata, ”Kita tahu dari mana orang ini berasal. Padahal kalau Kristus datang, tidak akan ada yang tahu dari mana dia berasal.”—Yohanes 7:25-27.
Yesus menjawab mereka, ”Kalian mengenal saya, dan kalian tahu dari mana saya berasal. Saya datang bukan atas kemauan saya sendiri. Dia yang mengutus saya benar-benar ada, dan kalian tidak mengenal Dia. Saya mengenal Dia, karena saya datang sebagai wakil-Nya, dan Dia mengutus saya.” (Yohanes 7:28, 29) Jawaban Yesus yang terus terang itu membuat orang-orang ingin memenjarakan dia. Bahkan, ada yang mau membunuhnya. Tapi, mereka gagal karena waktu itu belum saatnya Yesus mati.
Namun, banyak orang beriman kepada Yesus karena dia telah melakukan hal-hal luar biasa. Yesus pernah berjalan di atas air, meredakan badai, memberi makan ribuan orang secara mukjizat, menyembuhkan orang sakit dan cacat, bahkan membangkitkan orang mati. Jadi mereka menyimpulkan, ”Saat Kristus datang, dia akan membuat banyak mukjizat, kan? Bukankah itu yang sekarang orang ini lakukan?”—Yohanes 7:31.
Mendengar itu, orang Farisi dan para imam kepala menyuruh beberapa petugas untuk menangkap Yesus.
-
-
”Belum Pernah Ada Orang yang Berbicara Seperti Itu”Yesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 67
”Belum Pernah Ada Orang yang Berbicara Seperti Itu”
PARA PETUGAS DISURUH MENANGKAP YESUS
NIKODEMUS MEMBELA YESUS
Yesus masih menghadiri Perayaan Tabernakel di Yerusalem. Dia senang karena ”banyak dari antara orang-orang itu beriman kepadanya”. Namun, para pemimpin agama mengirim beberapa petugas untuk menangkap Yesus. (Yohanes 7:31, 32) Meski begitu, Yesus tidak bersembunyi.
Yesus malah terus mengajar banyak orang di Yerusalem. Dia berkata, ”Saya hanya akan ada bersama kalian sebentar lagi, sebelum saya pergi kepada Dia yang mengutus saya. Kalian akan mencari saya tapi tidak akan menemukan saya, dan kalian tidak akan bisa datang ke tempat saya berada.” (Yohanes 7:33, 34) Yesus sedang membicarakan tentang kematian dan kebangkitannya ke surga. Musuh-musuhnya tidak bisa mengikuti dia ke surga. Namun, orang-orang Yahudi tidak mengerti apa maksud Yesus, jadi mereka berbicara satu sama lain, ”Memangnya dia mau ke mana sampai kita tidak bisa menemukan dia? Apa dia mau pergi kepada orang Yahudi yang tersebar di antara orang Yunani, dan mengajar orang Yunani? Apa maksudnya saat dia berkata bahwa kita akan mencari dia tapi tidak akan menemukan dia, dan kita tidak akan bisa datang ke tempat dia berada?”—Yohanes 7:35, 36.
Sekarang, tibalah hari ketujuh perayaan itu. Sepanjang perayaan, setiap pagi seorang imam menuangkan air yang diambil dari Kolam Siloam. Air itu kemudian dicurahkan ke baskom yang berlubang dan mengalir ke bagian bawah mezbah. Mungkin karena itulah Yesus berkata, ”Kalau ada yang haus, datanglah kepada saya untuk minum. Siapa pun yang beriman kepada saya akan menjadi seperti yang dikatakan ayat ini: ’Dari lubuk hatinya, air yang memberi kehidupan akan mengalir dengan limpah.’”—Yohanes 7:37, 38.
Yesus sedang memberitahukan apa yang akan terjadi ketika murid-muridnya diurapi dengan kuasa kudus dan mendapat harapan untuk hidup di surga. Mereka akan diurapi setelah kematian Yesus, tepatnya pada hari Pentakosta tahun 33 M. Pada hari itu, mereka akan mulai membagikan kebenaran kepada orang-orang. Jadi, air kehidupan akan mulai mengalir.
Setelah mendengar apa yang Yesus ajarkan, beberapa orang berkata, ”Dia benar-benar Nabi yang dijanjikan itu.” Mereka mungkin ingat nubuat tentang seorang nabi yang lebih besar daripada Musa. Ada juga yang mengatakan, ”Dia Kristus.” Tapi beberapa orang berkata, ”Kristus tidak datang dari Galilea, kan? Bukankah Kitab Suci berkata bahwa Kristus itu keturunan Daud dan berasal dari Betlehem, desanya Daud?”—Yohanes 7:40-42.
Jadi, kumpulan orang itu berbeda pendapat. Namun, meski ada yang ingin agar Yesus ditangkap, tidak ada yang melakukannya. Ketika para petugas itu kembali dengan tangan kosong, imam-imam kepala dan orang Farisi bertanya, ”Kenapa kalian tidak bawa dia ke sini?” Para petugas itu menjawab, ”Belum pernah ada orang yang berbicara seperti itu.” Para pemimpin itu langsung marah dan berkata, ”Apa kalian sudah disesatkan juga? Tidak ada pemimpin atau orang Farisi yang beriman kepadanya, kan? Orang-orang ini, yang tidak mengerti Taurat, adalah orang-orang terkutuk.”—Yohanes 7:45-49.
Mendengar itu, Nikodemus, yang adalah orang Farisi dan anggota Sanhedrin, memberanikan diri untuk membela Yesus. Sekitar dua setengah tahun sebelumnya, Nikodemus mendatangi Yesus pada malam hari dan menyatakan imannya. Sekarang Nikodemus berkata, ”Bukankah Taurat kita tidak menghakimi orang sebelum orang itu didengar dan perbuatannya diketahui?” Tapi orang-orang itu berkata, ”Kamu bukan orang Galilea juga, kan? Selidiki saja Kitab Suci, dan kamu akan tahu bahwa tidak akan ada nabi yang datang dari Galilea.”—Yohanes 7:51, 52.
Kitab Suci memang tidak secara langsung mengatakan bahwa akan ada seorang nabi yang berasal Galilea. Namun, ada nubuat yang menyatakan bahwa ”cahaya yang terang” akan terlihat di ”Galilea yang dihuni bangsa-bangsa lain”. Jadi, Kitab Suci sebenarnya menyiratkan bahwa Kristus akan datang dari Galilea. (Yesaya 9:1, 2; Matius 4:13-17) Selain itu, seperti yang dinubuatkan, Yesus lahir di Betlehem, dan dia adalah keturunan Daud. Orang Farisi sepertinya mengetahui semua ini, namun mereka justru menyebarkan kebohongan tentang Yesus.
-
-
Putra Allah, Sang ”Terang Dunia”Yesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 68
Putra Allah, Sang ”Terang Dunia”
YESUS MENJELASKAN SIAPAKAH SANG PUTRA
APA MAKSUDNYA ORANG YAHUDI ADALAH BUDAK?
Pada hari terakhir Perayaan Tabernakel, yaitu hari ketujuh, Yesus mengajar di bagian bait yang disebut ”tempat kotak-kotak sumbangan”. (Yohanes 8:20; Lukas 21:1) Bagian ini mungkin terletak di Halaman Kaum Wanita.
Setiap malam selama perayaan, area ini diberi penerangan khusus. Empat lampu minyak yang besar diletakkan di sana. Cahayanya bisa menerangi sampai jarak yang jauh. Di tempat itulah Yesus berkata, ”Saya adalah terang dunia. Siapa pun yang menjadi pengikut saya tidak akan berjalan dalam kegelapan, tapi akan memiliki terang kehidupan.”—Yohanes 8:12.
Orang Farisi tidak suka mendengarnya. Mereka berkata kepada Yesus, ”Kamu bersaksi tentang dirimu sendiri. Kesaksianmu tidak benar.” Yesus menjawab, ”Kalaupun saya bersaksi tentang diri saya sendiri, kesaksian saya benar, karena saya tahu dari mana saya datang dan ke mana saya akan pergi. Tapi kalian tidak tahu dari mana saya datang dan ke mana saya akan pergi.” Yesus lalu berkata, ”Dalam Taurat kalian sendiri tertulis, ’Kesaksian dari dua orang adalah kesaksian yang benar.’ Saya bersaksi tentang diri saya sendiri, dan Bapak yang mengutus saya juga bersaksi tentang saya.”—Yohanes 8:13-18.
Orang Farisi tidak bisa menerima penjelasan Yesus. Mereka bertanya, ”Di mana Bapakmu?” Yesus menjawab dengan tegas, ”Kalian tidak kenal saya ataupun Bapak saya. Kalau kalian kenal saya, kalian pasti kenal Bapak saya juga.” (Yohanes 8:19) Orang Farisi masih ingin agar Yesus ditangkap, tapi tidak ada yang melakukannya.
Yesus lalu mengulangi kata-kata yang pernah dia ucapkan. Dia berkata, ”Saya akan pergi, dan kalian akan mencari saya, tapi kalian akan mati dalam dosa kalian. Kalian tidak bisa datang ke tempat saya akan pergi.” Orang-orang tidak memahami maksud Yesus. Mereka berkata satu sama lain, ”Dia bilang kita tidak bisa datang ke tempat dia pergi. Apa dia mau bunuh diri?” Mereka salah paham karena mereka tidak tahu dari mana Yesus berasal. Yesus mengatakan, ”Kalian berasal dari bawah, saya dari atas. Kalian dari dunia ini, saya bukan dari dunia ini.”—Yohanes 8:21-23.
Yesus menunjukkan bahwa dia sudah hidup di surga sebelum datang ke bumi dan bahwa dia adalah Mesias yang seharusnya dinanti-nantikan. Namun, para pemimpin agama malah bertanya dengan nada menghina, ”Siapa kamu?”—Yohanes 8:25.
Yesus menjawab para penentang itu, ”Untuk apa lagi saya bicara dengan kalian?” Meski begitu, Yesus tetap berbicara tentang Bapaknya dan memberitahukan alasan mereka harus mendengarkan dirinya. Yesus berkata, ”Dia yang mengutus saya itu benar. Apa yang saya dengar dari Dia, itulah yang saya bicarakan di dunia ini.”—Yohanes 8:25, 26.
Yesus lalu menunjukkan bahwa dia beriman kepada Bapaknya, tidak seperti mereka. Dia berkata, ”Setelah kalian mengangkat Putra manusia, kalian akan tahu bahwa sayalah orang yang dijanjikan itu, dan bahwa saya tidak melakukan apa pun atas kemauan saya sendiri. Apa yang Bapak ajarkan kepada saya, itulah yang saya bicarakan. Dia yang mengutus saya ada bersama saya. Dia tidak meninggalkan saya sendirian, karena saya selalu melakukan hal-hal yang menyenangkan Dia.”—Yohanes 8:28, 29.
Di antara orang-orang itu, ada juga yang beriman kepada Yesus. Dia memberi tahu mereka, ”Kalau kalian terus menyimpan kata-kata saya, kalian benar-benar murid saya. Kalian akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan membebaskan kalian.”—Yohanes 8:31, 32.
Bagi sebagian pendengar Yesus, kata-kata tentang pembebasan ini terdengar aneh. Mereka memprotes, ”Kami keturunan Abraham dan tidak pernah menjadi budak siapa pun. Kenapa kamu bilang kami akan bebas?” Meski orang Yahudi beberapa kali dijajah bangsa lain, mereka tidak mau disebut budak. Tapi, Yesus memberitahukan bahwa mereka sebenarnya masih menjadi budak. Dia berkata, ”Dengan sungguh-sungguh saya katakan, orang yang berbuat dosa adalah budak dosa.”—Yohanes 8:33, 34.
Yesus melanjutkan, ”Budak tidak selamanya tinggal di rumah majikannya, tapi putra tinggal di sana selamanya.” (Yohanes 8:35) Seorang budak tidak mendapat warisan, dan dia bisa diusir kapan saja. Hanya putra kandung atau putra angkat di keluarga itulah yang bisa tetap tinggal di rumah itu selama dia hidup. Jadi, kalau orang Yahudi tidak mau menerima kenyataan bahwa mereka adalah budak dosa, ini sangat berbahaya karena mereka bisa diusir dari ”rumah” Allah.
Tapi Yesus berkata, ”Kalau Putra membebaskan kalian, kalian akan benar-benar bebas.” (Yohanes 8:36) Yesus adalah sang Putra. Jadi, kebenaran tentang dia bisa membebaskan orang-orang dari dosa dan kematian untuk selamanya.
-
-
Bapak Mereka—Abraham atau Iblis?Yesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 69
Bapak Mereka—Abraham atau Iblis?
ORANG YAHUDI BERKATA BAHWA BAPAK MEREKA ADALAH ABRAHAM
YESUS SUDAH ADA SEBELUM ABRAHAM
Yesus masih ada di Yerusalem untuk menghadiri Perayaan Tabernakel, dan dia terus mengajarkan kebenaran. Orang-orang Yahudi yang ada di sana berkata kepada Yesus, ”Kami keturunan Abraham dan tidak pernah menjadi budak siapa pun.” Yesus menjawab, ”Saya tahu kalian keturunan Abraham. Tapi kalian berusaha membunuh saya, karena kalian tidak menerima kata-kata saya. Saya berbicara tentang hal-hal yang saya lihat sewaktu bersama Bapak saya, tapi kalian melakukan hal-hal yang kalian dengar dari bapak kalian.”—Yohanes 8:33, 37, 38.
Inti kata-kata Yesus jelas: Bapaknya bukan bapak mereka. Tapi orang-orang itu tidak paham, jadi mereka kembali berkata, ”Bapak kami adalah Abraham.” (Yohanes 8:39; Yesaya 41:8) Mereka memang keturunan Abraham, yang adalah sahabat Allah. Karena itu, mereka merasa bahwa mereka juga menyembah Allahnya Abraham.
Mereka kaget ketika Yesus berkata, ”Kalau kalian anak-anak Abraham, kalian akan melakukan apa yang Abraham lakukan.” Ya, seorang anak pasti meniru ayahnya. Yesus melanjutkan, ”Tapi sekarang, kalian malah berusaha membunuh saya, padahal saya memberi tahu kalian kebenaran yang saya dengar dari Allah. Abraham tidak berbuat seperti itu. Kalian melakukan apa yang bapak kalian lakukan.”—Yohanes 8:39-41.
Orang-orang Yahudi itu masih belum paham siapa yang Yesus maksudkan. Mereka mengatakan bahwa mereka adalah keturunan yang sah dari Abraham, bukan anak haram. Mereka berkata, ”Kami tidak lahir dari perbuatan cabul. Kami punya satu Bapak, yaitu Allah.” Tapi, apakah itu memang benar? ”Kalau Bapak kalian memang Allah,” kata Yesus, ”kalian akan mengasihi saya, karena saya datang ke sini diutus Allah. Saya tidak datang karena kemauan saya sendiri, tapi karena Dia mengutus saya.” Yesus lalu berkata, ”Kenapa kalian tidak mengerti apa yang saya katakan ini? Karena kalian tidak mau menerima kata-kata saya.”—Yohanes 8:41-43.
Yesus sudah berusaha menunjukkan apa akibatnya kalau mereka menolak dia. Sekarang dia dengan terus terang berkata, ”Bapak kalian adalah Iblis, dan kalian mau menuruti keinginan bapak kalian.” Seperti apa sifat bapak mereka? Yesus mengatakan, ”Dia menjadi pembunuh sejak dia mulai menyimpang, dan dia tidak berdiri teguh dalam kebenaran.” Yesus kemudian berkata, ”Anak-anak Allah mendengarkan kata-kata Allah. Kalian tidak mau mendengarkan, karena kalian bukan anak-anak Allah.”—Yohanes 8:44, 47.
Kecaman Yesus membuat orang-orang Yahudi itu marah. Mereka menjawab, ”Tidak salah kalau kami berkata, ’Kamu itu orang Samaria dan kesurupan.’” Panggilan ”orang Samaria” menunjukkan bahwa mereka memandang rendah Yesus. Tanpa menggubris panggilan itu, Yesus berkata, ”Saya tidak kesurupan. Saya menghormati Bapak saya, dan kalian tidak menghormati saya.” Padahal, jika mereka menghormati Yesus, mereka akan selamat. Yesus berjanji, ”Orang yang menuruti kata-kata saya tidak akan pernah mati.” Ini bukan berarti para rasul dan pengikut Yesus lainnya tidak akan pernah mati. Tapi, mereka tidak akan mengalami ”kematian kedua”, yaitu kebinasaan abadi tanpa harapan kebangkitan.—Yohanes 8:48-51; Wahyu 21:8.
Orang-orang Yahudi itu menyangka Yesus sedang membicarakan kematian biasa. Jadi mereka berkata, ”Sekarang kami tahu betul kamu kesurupan. Abraham sudah mati, begitu juga dengan nabi-nabi, tapi kamu bilang, ’Orang yang menuruti kata-katamu tidak akan pernah mati.’ Memangnya kamu lebih besar daripada bapak kami Abraham, yang sudah mati? . . . Kamu pikir kamu ini siapa?”—Yohanes 8:52, 53.
Yesus jelas-jelas sedang menunjukkan bahwa dia Mesias, tapi dia tidak mengatakannya. Sebaliknya dia berkata, ”Kalau saya memuliakan diri sendiri, kemuliaan itu tidak ada artinya. Bapak sayalah yang memuliakan saya, yang kalian sebut Allah kalian. Kalian tidak mengenal Dia, tapi saya mengenal Dia. Kalau saya bilang bahwa saya tidak mengenal Dia, saya akan jadi pendusta seperti kalian.”—Yohanes 8:54, 55.
Yesus lalu kembali berbicara tentang teladan leluhur mereka yang setia: ”Abraham bapak kalian begitu bersukacita karena akan melihat hari kedatangan saya. Dia membayangkannya dan bersukacita.” Karena Abraham percaya pada janji Allah, dia menunggu-nunggu kedatangan Mesias. Dengan nada tidak percaya, orang-orang Yahudi itu berkata, ”Umurmu belum 50 tahun, tapi kamu pernah lihat Abraham?” Yesus menjawab, ”Dengan sungguh-sungguh saya katakan, sebelum Abraham ada, saya sudah ada.” Ya, Yesus sudah ada di surga jauh sebelum Abraham dilahirkan.—Yohanes 8:56-58.
Orang-orang Yahudi sangat marah mendengarnya. Mereka pun berusaha melempari Yesus dengan batu. Tapi, Yesus berhasil melarikan diri.
-
-
Yesus Menyembuhkan Seorang Pria yang Terlahir ButaYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 70
Yesus Menyembuhkan Seorang Pria yang Terlahir Buta
SEORANG PENGEMIS YANG BUTA DARI LAHIR DISEMBUHKAN
Pada hari Sabat, Yesus masih berada di Yerusalem. Ketika sedang berjalan, dia dan para muridnya melihat seorang pengemis yang buta sejak lahir. Para murid bertanya kepada Yesus, ”Rabi, siapa yang berdosa sampai orang ini buta sejak lahir? Dia atau orang tuanya?”—Yohanes 9:2.
Para murid mungkin bertanya-tanya apakah seseorang bisa berdosa sewaktu masih ada dalam kandungan. Yesus menjawab, ”Ini bukan karena dosanya atau dosa orang tuanya, tapi dengan begini, pekerjaan Allah bisa menjadi nyata melalui dia.” (Yohanes 9:3) Jadi, pria itu buta bukan karena dosanya ataupun dosa orang tuanya. Namun, akibat dosa Adam, semua manusia lahir dalam keadaan tidak sempurna sehingga bisa terlahir cacat. Keadaan pria itu memang menyedihkan. Tapi, hal itu memberi Yesus kesempatan lain untuk melakukan pekerjaan dari Allah.
Yesus mengingatkan pentingnya melakukan hal itu dengan berkata, ”Sementara masih siang, kita harus melakukan pekerjaan Dia yang mengutus aku, karena saat malam tiba, tidak seorang pun bisa bekerja. Selama aku ada di dunia, aku adalah terang dunia.” (Yohanes 9:4, 5) Sebentar lagi, Yesus akan mati, seolah berada dalam kegelapan kuburan, dan tidak bisa melakukan apa-apa. Jadi selagi dia masih hidup, dia adalah sumber terang bagi dunia.
Nah, apakah Yesus menyembuhkan pria itu? Ya. Dia meludah ke tanah lalu mencampur tanah dengan ludahnya untuk membuat salep. Dia lalu mengoleskannya ke mata pria itu dan berkata, ”Pergilah, cuci matamu di kolam Siloam.” (Yohanes 9:7) Pria itu melakukannya, dan dia pun sembuh! Untuk pertama kalinya, dia bisa melihat. Bayangkan perasaannya!
Para tetangga dan orang-orang lain yang mengenal pria ini sangat kagum. Mereka bertanya, ”Bukankah dia orang yang biasa duduk mengemis itu?” Beberapa orang menjawab, ”Betul, dia orangnya.” Tapi, ada juga yang tidak percaya dan berkata, ”Bukan, cuma mirip.” Namun pria itu sendiri berkata, ”Saya orangnya.”—Yohanes 9:8, 9.
Jadi mereka bertanya, ”Bagaimana matamu bisa terbuka?” Dia menjawab, ”Orang yang bernama Yesus membuat suatu campuran dan mengoleskannya ke mata saya, lalu berkata, ’Pergilah ke Siloam dan cuci matamu.’ Jadi saya pergi mencuci mata, lalu bisa melihat.” Mereka lalu bertanya, ”Di mana orang itu?” Pria itu menjawab, ”Saya tidak tahu.”—Yohanes 9:10-12.
Orang-orang membawa pria itu kepada orang Farisi, yang juga ingin tahu mengapa dia bisa sembuh. Pria itu mengatakan, ”Dia mengoleskan sesuatu pada mata saya, lalu saya mencuci mata saya, dan saya bisa melihat.” Bukannya senang, sebagian orang Farisi malah menjelek-jelekkan Yesus dan berkata, ”Orang itu tidak berasal dari Allah, karena dia tidak menjalankan Sabat.” Namun sebagian lagi berkata, ”Mana mungkin orang berdosa bisa membuat mukjizat seperti itu?” (Yohanes 9:15, 16) Jadi mereka berbeda pendapat.
Maka, mereka bertanya langsung kepada pria yang tadinya buta itu, ”Dia membuka matamu, jadi apa pendapatmu tentang dia?” Pria itu dengan yakin menjawab, ”Dia itu nabi.”—Yohanes 9:17.
Orang Yahudi tidak mau memercayai hal ini. Bisa jadi mereka curiga bahwa Yesus dan pria itu berkomplot untuk menipu orang-orang. Mereka merasa bahwa mereka harus bertanya langsung pada orang tua pria itu untuk tahu apakah dia tadinya memang buta.
-
-
Orang Farisi Kembali Menanyai Pria yang Tadinya ButaYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 71
Orang Farisi Kembali Menanyai Pria yang Tadinya Buta
ORANG FARISI MENANYAI PRIA BUTA YANG SUDAH DISEMBUHKAN
PARA PEMIMPIN AGAMA SEBENARNYA ”BUTA”
Orang Farisi tidak percaya bahwa Yesus menyembuhkan seorang pria yang terlahir buta. Maka, mereka memanggil orang tuanya. Orang tua pria itu tahu bahwa mereka terancam ”dikeluarkan dari rumah ibadah”. (Yohanes 9:22) Jika ini terjadi, keluarga mereka bisa dimusuhi masyarakat dan jatuh miskin.
Orang Farisi mengajukan dua pertanyaan: ”Apakah ini anak kalian, yang kalian bilang buta sejak lahir? Bagaimana dia sekarang bisa melihat?” Orang tua pria itu menjawab, ”Ini memang anak kami, dan dia memang buta sejak lahir. Tapi kami tidak tahu bagaimana dia sekarang bisa melihat. Kami tidak tahu siapa yang membuka matanya.” Kalaupun anak mereka sudah menceritakannya, mereka tidak mau mengambil risiko. Jadi, mereka tidak memberitahukannya kepada orang Farisi. Mereka berkata, ”Tanyalah dia. Dia sudah dewasa. Biarlah dia sendiri yang menjawab.”—Yohanes 9:19-21.
Orang Farisi pun kembali memanggil pria itu. Untuk menakut-nakuti dia, mereka berkata bahwa mereka punya bukti kalau Yesus berdosa. ”Muliakanlah Allah dengan mengatakan yang sebenarnya,” kata mereka. ”Kami tahu dia itu orang berdosa.” Tapi pria itu menjawab, ”Orang itu berdosa atau tidak, saya tidak tahu. Yang saya tahu hanya ini: Tadinya saya buta, sekarang saya bisa melihat.”—Yohanes 9:24, 25.
Tapi orang Farisi belum puas. Dia berkata, ”Apa yang dia lakukan terhadapmu? Bagaimana dia membuka matamu?” Pria itu dengan berani menjawab, ”Saya sudah beri tahu kalian, tapi kalian tidak mau dengar. Kenapa kalian mau dengar lagi? Apa kalian mau menjadi muridnya juga?” Dengan nada menghina, orang Farisi mengatakan, ”Kamu murid orang itu, tapi kami murid Musa. Kami tahu bahwa Allah berbicara kepada Musa, tapi orang itu, kami tidak tahu asal usulnya.”—Yohanes 9:26-29.
Pengemis itu tidak habis pikir. Dia pun berkata, ”Ini aneh sekali, karena kalian bilang kalian tidak tahu asal usulnya, padahal dia sudah membuka mata saya.” Pria itu lalu mengatakan sesuatu yang masuk akal: ”Kita tahu bahwa Allah tidak mendengarkan orang berdosa. Sebaliknya, Dia mendengarkan orang yang takut kepada-Nya dan melakukan kehendak-Nya. Dari zaman dulu, tidak pernah terdengar bahwa ada orang yang membuka mata orang yang buta sejak lahir.” Dia lalu menyimpulkan, ”Seandainya orang ini tidak berasal dari Allah, dia tidak akan bisa melakukan apa-apa.”—Yohanes 9:30-33.
Orang Farisi tidak bisa membantah lagi. Jadi mereka menghina pria itu, ”Kamu penuh dosa sejak lahir, tapi sekarang kamu mengajar kami?” Mereka lalu mengusir dia.—Yohanes 9:34.
Ketika Yesus mendengar tentang apa yang terjadi, dia menemui pengemis itu dan bertanya, ”Apa kamu beriman kepada Putra manusia?” Pria itu menjawab, ”Dia itu siapa, Pak? Beri tahu saya supaya saya bisa beriman kepadanya.” Yesus pun memberi tahu dia, ”Kamu sudah melihat dia. Malah, dialah yang sedang bicara dengan kamu.”—Yohanes 9:35-37.
Pria itu menjawab, ”Saya beriman kepadanya, Tuan.” Untuk menunjukkan bahwa dia beriman dan merespek Yesus, pria itu sujud di hadapan Yesus. Yesus lalu berkata, ”Saya datang ke dunia ini supaya dunia ini bisa dihakimi, sehingga orang buta bisa melihat, dan orang yang bisa melihat menjadi buta.”—Yohanes 9:38, 39.
Orang-orang Farisi yang ada di situ dengan kesal berkata, ”Jadi kami ini buta juga?” Mereka tidak merasa buta karena mereka memang bisa melihat. Jadi Yesus menjawab, ”Kalau kalian buta, kalian tidak berdosa. Tapi kalian bilang, ’Kami bisa melihat.’ Jadi kalian tetap berdosa.” (Yohanes 9:40, 41) Apa artinya? Seandainya mereka ”buta”, maksudnya tidak memahami Hukum Musa, bisa dimaklumi kalau mereka menolak Yesus sebagai Mesias. Tapi, mereka adalah guru agama yang tahu banyak tentang isi Hukum Musa. Dengan kata lain, mereka ”bisa melihat”. Jadi dengan menolak Yesus, mereka melakukan dosa serius.
-
-
Yesus Mengutus 70 Murid untuk MengabarYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 72
Yesus Mengutus 70 Murid untuk Mengabar
YESUS MEMILIH 70 MURID DAN MENGUTUS MEREKA UNTUK MENGABAR
Sekarang sudah akhir tahun 32 M, sekitar tiga tahun sejak Yesus dibaptis. Yesus dan murid-muridnya baru saja menghadiri Perayaan Tabernakel di Yerusalem. Mereka mungkin masih ada di dekat kota itu. (Lukas 10:38; Yohanes 11:1) Kelihatannya, Yesus menghabiskan sisa waktunya, yang tinggal enam bulan, untuk mengabar di Yudea atau di Perea yang ada di seberang Sungai Yordan. Penduduk di sana juga harus mendengar kabar baik.
Sekitar dua tahun lalu, setelah Paskah tahun 30 M, Yesus mengabar di Yudea selama beberapa bulan. Tapi setelah itu, dia pergi ke Galilea lewat Samaria. Pada Paskah tahun 31 M, orang-orang Yahudi di Yerusalem mencoba membunuh dia. Jadi, selama satu setengah tahun setelah itu, Yesus kebanyakan mengajar di Galilea, dan banyak orang menjadi pengikutnya. Di sana, Yesus melatih para rasulnya lalu memberi tahu mereka, ”Pergilah sambil memberitakan, ’Kerajaan surga sudah dekat.’” (Matius 10:5-7) Sekarang, dia juga mau mengutus para pengikutnya untuk mengabar di Yudea.
Untuk memulainya, Yesus memilih 70 murid lalu mengutus mereka berdua-dua. Jadi, ada 35 pasang pemberita Kerajaan di daerah itu. Di sana, ’panenannya banyak, tapi pekerjanya sedikit’. (Lukas 10:2) Ke-70 murid ini pergi lebih dulu ke tempat-tempat yang akan Yesus datangi. Mereka ditugaskan untuk menyembuhkan orang sakit dan memberitakan kabar baik.
Mereka tidak diminta mengajar di sinagoga-sinagoga, tapi Yesus menyuruh mereka untuk pergi ke rumah-rumah. Yesus memerintahkan, ”Kalau masuk ke sebuah rumah, katakan dulu, ’Semoga ada damai di rumah ini.’ Kalau di situ ada orang yang suka damai, dia akan mendapat damai yang kalian mohonkan.” Apa yang harus mereka sampaikan? Yesus berkata, ”Katakan, ’Kerajaan Allah sudah dekat.’”—Lukas 10:5-9.
Perintah yang Yesus berikan kepada 70 murid ini mirip dengan perintah yang dia berikan saat mengutus 12 rasulnya sekitar setahun yang lalu. Yesus mengingatkan bahwa tidak semua orang akan menerima mereka. Namun, upaya mereka akan membuat orang-orang yang tulus siap menyambut Yesus dan belajar darinya.
Tak lama kemudian, ke-70 orang itu kembali kepada Yesus. Mereka bercerita dengan bersemangat, ”Tuan, roh-roh jahat pun patuh kepada kami sewaktu kami menggunakan namamu.” Yesus sangat senang mendengarnya. Dia berkata, ”Aku melihat Setan sudah jatuh seperti kilat dari langit. Aku telah memberi kalian kuasa untuk menginjak-injak ular dan kalajengking.”—Lukas 10:17-19.
Yesus meyakinkan para pengikutnya bahwa mereka akan bisa mengatasi berbagai bahaya, seolah menginjak-injak ular dan kalajengking. Selain itu, Yesus meyakinkan mereka bahwa di masa depan, Setan akan diusir, ”jatuh” dari surga. Yesus lalu memberi tahu 70 murid itu bahwa meskipun mereka bisa melakukan banyak hal yang luar biasa, ada yang lebih penting daripada itu. Dia berkata, ”Jangan bersukacita karena roh-roh itu patuh kepada kalian, tapi bersukacitalah karena nama kalian sudah ditulis di surga.”—Lukas 10:20.
Yesus sangat senang dan memuji Bapaknya karena telah memberi para murid kesanggupan yang luar biasa, padahal mereka hanya orang-orang sederhana. Lalu Yesus memberi tahu mereka, ”Bahagialah orang yang melihat hal-hal yang kalian lihat. Aku katakan kepada kalian, banyak nabi dan raja ingin melihat hal-hal yang sedang kalian lihat, tapi tidak melihatnya. Mereka ingin mendengar hal-hal yang kalian dengar, tapi tidak mendengarnya.”—Lukas 10:23, 24.
-
-
Orang Samaria yang Baik HatiYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 73
Orang Samaria yang Baik Hati
CARANYA MEWARISI KEHIDUPAN ABADI
CERITA TENTANG ORANG SAMARIA YANG BAIK HATI
Ketika Yesus masih berada di dekat Yerusalem, orang-orang Yahudi mendatangi dia. Sebagian mau mendengarkan ajarannya, tapi ada juga yang hanya mau menguji Yesus. Salah satu dari mereka, seorang ahli Taurat, bertanya kepada Yesus, ”Guru, apa yang perlu saya lakukan agar mewarisi kehidupan abadi?”—Lukas 10:25.
Yesus tahu bahwa pria itu bertanya bukan untuk tahu jawabannya. Pria itu sebenarnya sudah punya pendapat sendiri. Dia mungkin berharap jawaban Yesus akan membuat orang-orang Yahudi tersinggung. Jadi, Yesus tidak langsung menjawabnya. Dia dengan bijak membuat pria itu menyatakan pendapatnya sendiri.
Yesus bertanya, ”Apa yang ditulis dalam Taurat? Apa yang kamu mengerti?” Pria ini menguasai Taurat, jadi dia mengutip Ulangan 6:5 dan Imamat 19:18. Dia berkata, ”’Kasihilah Yehuwa Allahmu dengan sepenuh hati, sepenuh jiwa, seluruh kekuatan, dan seluruh pikiranmu,’ dan, ’kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri.’”—Lukas 10:26, 27.
Yesus memberi tahu pria itu, ”Jawabanmu benar. Teruslah lakukan itu dan kamu akan mendapat kehidupan.” Tapi, pria itu tidak puas. Dia ingin Yesus setuju dengan cara dia memandang dan memperlakukan orang lain. Dengan begitu, dia bisa ”membuktikan dirinya benar”. Jadi pria itu bertanya lagi, ”Sesama saya itu sebenarnya siapa?” (Lukas 10:28, 29) Pertanyaan itu kelihatan sederhana tapi sebenarnya tidak. Mengapa?
Menurut orang Yahudi, sesama mereka hanyalah orang-orang yang menjalankan tradisi Yahudi. Mereka mungkin berpikir bahwa Imamat 19:18 mendukung pandangan itu. Malah, mungkin ada orang Yahudi yang merasa bahwa mereka tidak boleh bergaul dengan orang dari bangsa lain. (Kisah 10:28) Jadi, pria ini dan mungkin sebagian pengikut Yesus merasa bahwa yang penting, mereka memperlakukan sesama orang Yahudi dengan baik. Tapi kalau itu bukan orang Yahudi, mereka boleh bersikap seenaknya.
Bagaimana Yesus mengoreksi pandangan ini tanpa menyinggung perasaan pria itu dan orang-orang Yahudi lain? Dia bercerita, ”Ada orang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho, dan dia jatuh ke tangan perampok. Para perampok itu merampas pakaian dan hartanya, memukulinya sampai hampir mati, lalu meninggalkan dia.” Yesus melanjutkan, ”Kebetulan, seorang imam juga turun lewat jalan itu. Tapi sewaktu melihat dia, imam itu berjalan terus di seberang jalan. Begitu juga dengan seorang Lewi. Sewaktu sampai ke tempat itu dan melihat dia, orang Lewi itu berjalan terus di seberang jalan. Tapi, ada orang Samaria yang lewat di jalan itu. Ketika melihat dia, orang itu tergerak oleh rasa kasihan.”—Lukas 10:30-33.
Pria yang bertanya tadi pasti tahu bahwa banyak imam dan orang Lewi yang melayani di bait tinggal di Yerikho. Untuk pulang dari bait, mereka harus melewati jalan yang panjangnya sekitar 23 kilometer. Rute itu berbahaya karena banyak perampok bersembunyi di sana. Jika seorang imam dan orang Lewi melihat sesama orang Yahudi butuh bantuan, apakah mereka mau menolong dia? Dalam cerita itu, mereka tidak mau membantu. Yang membantu orang Yahudi itu malah orang Samaria, yang bangsanya dianggap hina oleh orang Yahudi.—Yohanes 8:48.
Bantuan apa yang diberikan orang Samaria itu? Yesus mengatakan, ”Orang itu mendekati dia, lalu menuangkan minyak dan anggur pada luka-lukanya dan membalutnya. Kemudian orang itu menaikkan dia ke atas keledainya, membawa dia ke penginapan, dan merawat dia. Besoknya, orang itu mengeluarkan dua dinar, lalu memberikannya kepada pengurus penginapan dan berkata, ’Rawatlah dia, dan kalau yang kamu belanjakan lebih dari ini, saya akan membayarnya saat saya kembali.’”—Lukas 10:34, 35.
Setelah bercerita, Yesus, sang Guru Agung, bertanya kepada pria tadi, ”Menurut kamu, siapa dari tiga orang ini yang bertindak sebagai sesama bagi orang yang jatuh ke tangan perampok itu?” Pria itu mungkin tidak mau menjawab ”orang Samaria”, jadi dia berkata, ”Orang yang menunjukkan belas kasihan kepadanya.” Yesus lalu dengan jelas menyimpulkan pelajarannya, ”Pergilah dan lakukan itu juga.”—Lukas 10:36, 37.
Cara mengajar Yesus benar-benar bagus! Kalau Yesus langsung memberi tahu pria itu bahwa orang dari bangsa lain adalah sesamanya juga, apakah pria itu dan orang-orang Yahudi lain yang ada di sana akan menerima ajaran Yesus? Kemungkinan besar tidak. Tapi, Yesus memberikan cerita sederhana yang pelajarannya mudah dimengerti. Dengan begitu, mereka bisa menjawab sendiri pertanyaan, ”Sesama saya itu sebenarnya siapa?” Jelaslah, sesama yang sebenarnya adalah orang yang menunjukkan kasih dan kebaikan hati, seperti yang diperintahkan dalam Kitab Suci.
-
-
Yesus Menasihati Marta Serta Berbicara tentang DoaYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 74
Yesus Menasihati Marta Serta Berbicara tentang Doa
YESUS MENGUNJUNGI MARTA DAN MARIA
PENTINGNYA TERUS BERDOA
Yesus pergi ke desa Betani yang terletak di lereng timur Gunung Zaitun, sekitar tiga kilometer dari Yerusalem. (Yohanes 11:18) Dia masuk ke rumah Marta dan Maria. Mereka dan Lazarus saudara mereka adalah teman Yesus, dan mereka senang menyambut dia.
Benar-benar kehormatan bisa dikunjungi oleh Mesias! Karena itu, Marta ingin memberikan yang terbaik. Dia pun mempersiapkan berbagai macam makanan. Tapi, sementara Marta sibuk menyiapkan semuanya, Maria duduk di dekat kaki Yesus dan mendengarkan dia. Setelah beberapa lama, Marta berkata kepada Yesus, ”Tuan, apa Tuan tidak lihat bahwa Maria membiarkan aku mengurus semuanya sendiri? Suruh dia bantu aku.”—Lukas 10:40.
Tapi Yesus tidak menegur Maria. Dia malah menasihati Marta yang terlalu memusingkan hal-hal jasmani. Yesus berkata, ”Marta, Marta, kamu terlalu khawatir dengan banyak hal. Padahal, yang kita perlu cuma sedikit, bahkan hanya satu. Sedangkan Maria, dia memilih bagian yang terbaik, dan itu tidak akan diambil darinya.” (Lukas 10:41, 42) Yesus menunjukkan bahwa Marta tidak perlu menghabiskan banyak waktu untuk menyiapkan bermacam-macam makanan. Satu macam hidangan saja sudah cukup.
Niat Marta memang baik. Dia ingin menjadi tuan rumah yang murah hati. Tapi karena terlalu repot mengurus makanan, dia kehilangan kesempatan untuk belajar langsung dari Putra Allah! Yesus mengatakan bahwa Maria membuat pilihan yang bijaksana, yang manfaatnya abadi. Kita perlu meniru sikap Maria.
Dalam peristiwa lain, Yesus mengajarkan sesuatu yang juga penting. Seorang murid bertanya kepada Yesus, ”Tuan, ajari kami cara berdoa, seperti Yohanes juga mengajari murid-muridnya.” (Lukas 11:1) Sekitar satu setengah tahun sebelumnya, dalam Khotbah di Gunung, Yesus sudah memberitahukan caranya berdoa. (Matius 6:9-13) Namun, murid yang bertanya tadi mungkin tidak hadir pada waktu itu. Jadi, Yesus mengulangi lagi sebagian dari isi doa yang dia ajarkan. Yesus lalu memberikan perumpamaan yang menunjukkan pentingnya terus berdoa:
”Katakanlah salah satu dari kalian punya teman, dan kalian pergi ke rumahnya pada tengah malam dan berkata, ’Teman, pinjami aku tiga roti, karena temanku yang melakukan perjalanan baru saja datang ke rumahku, dan aku tidak punya apa-apa untuk dihidangkan.’ Tapi dia menjawab dari dalam, ’Jangan ganggu aku. Pintu sudah dikunci, dan anak-anakku sedang tidur bersamaku. Jadi aku tidak bisa bangun dan memberimu apa pun.’ Aku memberi tahu kalian, meskipun kalian temannya, dia tidak mau bangun dan memberi kalian apa-apa. Tapi karena kegigihan kalian, dia pasti akan bangun dan memberikan apa yang kalian butuhkan.”—Lukas 11:5-8.
Yesus tidak memaksudkan bahwa Yehuwa itu seperti teman yang tidak mau menolong. Sebaliknya, Yesus menunjukkan bahwa jika teman itu saja, yang tadinya enggan membantu, akhirnya mau mengabulkan permintaan temannya yang gigih, apalagi Yehuwa. Bapak kita yang pengasih pasti akan menjawab permintaan hamba-hamba-Nya yang beriman jika mereka terus meminta. Yesus melanjutkan, ”Aku berkata kepada kalian, teruslah minta, dan kalian akan diberi; teruslah cari, dan kalian akan menemukan; teruslah ketuk, dan itu akan dibukakan bagi kalian. Setiap orang yang meminta akan menerima, setiap orang yang mencari akan menemukan, dan bagi setiap orang yang mengetuk, itu akan dibukakan.”—Lukas 11:9, 10.
Untuk membuat inti ajarannya semakin jelas, Yesus membandingkan Yehuwa dengan seorang ayah: ”Ayah mana di antara kalian yang akan memberikan ular kalau anaknya minta ikan, atau memberikan kalajengking kalau dia minta telur? Kalau kalian yang berdosa saja tahu caranya memberikan apa yang baik kepada anak-anak kalian, apalagi Bapak yang di surga! Dia pasti akan memberikan kuasa kudus kepada orang yang meminta kepada-Nya.” (Lukas 11:11-13) Ya, Yehuwa mau mendengarkan permintaan kita dan memberikan apa yang kita butuhkan!
-
-
Yesus Memberitahukan Caranya Kita Bisa BahagiaYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 75
Yesus Memberitahukan Caranya Kita Bisa Bahagia
MENGUSIR ROH JAHAT DENGAN ”JARI ALLAH”
CARANYA BISA BENAR-BENAR BAHAGIA
Yesus baru saja mengulangi ajarannya tentang doa. Tapi, itu bukan satu-satunya hal yang dibahas lebih dari satu kali selama pelayanan Yesus. Dulu di Galilea, Yesus dituduh melakukan mukjizat dengan bantuan penguasa roh jahat. Sekarang di Yudea, dia mendapat tuduhan yang sama.
Yesus mengusir roh jahat yang membuat seorang pria tidak bisa bicara, dan orang-orang merasa kagum. Tapi, para penentang Yesus malah menuduh, ”Dia mengusir roh jahat dengan bantuan Beelzebul, penguasa roh jahat.” (Lukas 11:15) Ada juga yang ingin menguji Yesus. Jadi, mereka meminta dia menunjukkan tanda, atau mukjizat, dari surga.
Tapi karena tahu niat mereka, Yesus menjawab mereka seperti dia menjawab orang-orang yang mengkritik dia di Galilea. Dia mengatakan sesuatu yang masuk akal, yaitu bahwa kerajaan yang terpecah belah pasti akan hancur. Dia bertanya, ”Kalau Setan terpecah belah, bagaimana kerajaannya akan bertahan?” Yesus lalu berkata, ”Tapi kalau saya mengusir roh jahat dengan bantuan jari Allah, itu berarti Kerajaan Allah sudah ada di sini tanpa kalian sadari.”—Lukas 11:18-20, catatan kaki.
Ketika Yesus menyebut ”jari Allah”, orang-orang yang ada di sana mungkin ingat suatu peristiwa pada zaman Musa. Setelah melihat Musa melakukan mukjizat, orang-orang di istana Firaun berkata, ”Itu jari Allah!” Selain itu, jari Allah juga menuliskan Sepuluh Perintah di dua lempengan batu. (Keluaran 8:19, catatan kaki; 31:18) Jari Allah adalah kuasa kudus-Nya, dan kuasa inilah yang membuat Yesus bisa mengusir roh jahat dan menyembuhkan orang sakit. Karena Yesus, yang adalah calon Raja Kerajaan Allah, melakukan berbagai mukjizat di depan orang-orang, Kerajaan Allah bisa dikatakan sudah ada di antara mereka.
Yesus kemudian berkata bahwa sebuah rumah bisa dijarah hanya oleh orang yang lebih kuat daripada penjaga rumah itu. Jadi, karena Yesus bisa mengusir roh jahat, itu berarti dia lebih berkuasa daripada Setan. Yesus lalu mengulangi lagi perumpamaannya tentang roh jahat yang meninggalkan seorang pria. Jika pria tersebut tidak mengisi kekosongan itu dengan hal-hal baik, roh itu akan kembali lagi sambil membawa tujuh roh jahat lain. Akibatnya, kondisi pria itu lebih parah daripada sebelumnya. (Matius 12:22, 25-29, 43-45) Itulah yang terjadi dengan bangsa Israel pada zaman Yesus.
Seorang wanita yang saat itu mendengarkan Yesus berkata, ”Bahagialah rahim yang mengandungmu dan buah dada yang menyusuimu!” Para wanita Yahudi ingin sekali menjadi ibu seorang nabi, terutama ibu sang Mesias. Jadi, wanita ini mungkin merasa bahwa Maria pasti senang menjadi ibu Yesus, sang Guru Agung. Namun Yesus menegur wanita itu, ”Tidak, yang bahagia adalah orang yang mendengar firman Allah dan menaatinya!” (Lukas 11:27, 28) Yesus tidak pernah berkata bahwa Maria harus disanjung atau dihormati lebih daripada yang lain. Seseorang bahagia bukan karena punya hubungan darah atau prestasi tertentu, tapi karena dia melayani Allah dengan setia.
Seperti di Galilea, Yesus sekarang menegur orang-orang karena mereka meminta tanda dari surga. Dia berkata bahwa mereka tidak akan melihat tanda apa pun kecuali ”tanda Yunus”. Yunus menjadi tanda sewaktu dia berada dalam perut seekor ikan selama tiga hari. Yunus juga menjadi tanda karena dia mengabar dengan berani sehingga orang Niniwe mau bertobat. Yesus lalu berkata tentang dirinya, ”Sebenarnya, di sini ada yang lebih penting daripada Yunus.” (Lukas 11:29-32) Yesus juga lebih penting daripada Salomo, yang begitu bijaksana sampai-sampai membuat ratu dari Syeba penasaran.
Yesus menambahkan, ”Setelah menyalakan lampu minyak, orang tidak akan menaruhnya di tempat tersembunyi atau di bawah keranjang.” (Lukas 11:33) Yesus mungkin memaksudkan bahwa percuma saja dia mengajar dan melakukan mukjizat di depan orang-orang ini. Hal itu seperti menaruh lampu di tempat tersembunyi. Mereka tidak bisa melihat makna di balik mukjizat Yesus karena mata mereka tidak fokus.—Lukas 11:34.
Yesus baru saja mengusir roh jahat dan menyembuhkan pria yang tadinya tidak bisa bicara. Tapi, para penentang Yesus tidak tergerak untuk memuji Allah dan memberi tahu orang lain tentang apa yang telah Yehuwa lakukan. Jadi Yesus memperingatkan, ”Waspadalah, jangan sampai terang yang ada dalam dirimu ternyata adalah kegelapan. Kalau seluruh tubuhmu terang dan tidak ada bagian yang gelap, itu akan menjadi terang seperti lampu yang menerangimu.”—Lukas 11:35, 36.
-
-
Yesus Makan Bersama Orang FarisiYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 76
Yesus Makan Bersama Orang Farisi
YESUS MENGECAM ORANG-ORANG FARISI YANG MUNAFIK
Di Yudea, Yesus menerima undangan makan dari seorang Farisi. Kemungkinan ini adalah undangan makan siang. (Lukas 11:37, 38) Sebelum makan, orang Farisi punya kebiasaan mencuci tangan sampai ke siku. Tapi Yesus tidak melakukannya. (Matius 15:1, 2) Kebiasaan itu memang tidak melanggar Hukum Allah. Tapi, itu juga tidak diwajibkan oleh Allah.
Orang Farisi itu heran karena Yesus tidak melakukannya. Yesus mengetahui hal ini, jadi dia berkata, ”Kalian, orang Farisi, kalian membersihkan bagian luar mangkuk dan piring, tapi di dalam, kalian penuh dengan keserakahan dan kejahatan. Kalian tidak masuk akal! Dia yang membuat bagian luar juga membuat bagian dalam, kan?”—Lukas 11:39, 40.
Masalahnya bukan soal mencuci tangan sebelum makan, tapi soal kemunafikan orang Farisi. Mereka menjalankan ritual membersihkan tangan sebelum makan, tapi tidak membersihkan hati mereka. Jadi Yesus menasihati, ”Kalau kalian memberikan sedekah, berikanlah itu dari hati, dan kalian akan bersih sepenuhnya.” (Lukas 11:41) Nasihat itu bagus sekali! Kita seharusnya memberi karena kita menyayangi orang lain, bukan supaya orang terkesan.
Yesus lalu berkata, ”Kalian memberikan sepersepuluh dari tanaman mint, inggu, dan semua rempah lainnya, tapi kalian mengabaikan keadilan dan kasih kepada Allah! Memberi perpuluhan memang wajib dilakukan, tapi yang lain itu tidak boleh diabaikan.” (Lukas 11:42) Hukum Allah mengharuskan orang Israel untuk memberikan sepersepuluh dari hasil ladang mereka, termasuk tanaman mint dan inggu. (Ulangan 14:22) Orang Farisi menaati peraturan itu. Tapi, apakah mereka menaati peraturan-peraturan yang lebih penting, seperti bersikap adil dan rendah hati?—Mikha 6:8.
Yesus melanjutkan, ”Sungguh celaka kalian, orang Farisi, karena kalian menyukai tempat duduk yang paling depan di rumah ibadah dan salam hormat di tempat-tempat umum! Sungguh celaka kalian, karena kalian seperti kuburan yang tidak kelihatan jelas, sehingga orang tidak sadar ketika berjalan di atasnya!” (Lukas 11:43, 44) Orang bisa tanpa sengaja berjalan di atas kuburan yang tidak terlihat dan menjadi najis. Hati orang Farisi sama seperti kuburan itu, yang najis meskipun tidak terlihat oleh orang lain.—Matius 23:27.
Seorang pria yang menguasai Taurat memprotes, ”Guru, kata-katamu menghina kami juga.” Namun, para ahli Taurat seperti pria ini memang harus disadarkan bahwa mereka menyusahkan orang. Yesus berkata, ”Sungguh celaka juga kalian yang menguasai Taurat, karena kalian membebani orang dengan beban yang berat, tapi kalian sendiri tidak menyentuh beban itu dengan satu jari pun! Sungguh celaka kalian, karena kalian membuat makam untuk nabi-nabi, padahal leluhur kalianlah yang membunuh mereka!”—Lukas 11:45-47.
Orang Farisi membuat tradisi dan penafsiran sendiri tentang Taurat, dan mereka mewajibkan orang-orang mengikutinya. Akibatnya, orang-orang menjadi terbebani. Dulu, leluhur mereka membunuh nabi-nabi Allah, mulai dari Habel sampai seterusnya. Sekarang, mereka membuat makam bagi para nabi supaya orang-orang mengira bahwa mereka menghormati nabi-nabi itu. Padahal, mereka sebenarnya sama seperti leluhur mereka. Mereka bahkan berusaha membunuh Nabi Allah yang paling besar. Maka, Yesus berkata bahwa Allah akan menghukum mereka. Itu terjadi 38 tahun kemudian, yaitu pada tahun 70 M.
Yesus lalu berkata, ”Sungguh celaka kalian yang menguasai Taurat, karena kalian mengambil kunci pengetahuan. Kalian sendiri tidak masuk, dan kalian menghalangi mereka yang mau masuk!” (Lukas 11:52) Ya, bukannya membantu orang-orang untuk memahami Firman Allah, para ahli Taurat ini justru menghalangi mereka.
Bagaimana reaksi orang Farisi dan para ahli Taurat? Ketika Yesus mau pergi dari rumah itu, mereka marah dan menghujani Yesus dengan pertanyaan. Mereka bertanya bukan karena ingin belajar, tapi karena ingin menjebak Yesus. Mereka berharap Yesus akan mengatakan sesuatu yang bisa membuat dia ditangkap.
-
-
Yesus Memberikan Nasihat tentang HartaYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 77
Yesus Memberikan Nasihat tentang Harta
PERUMPAMAAN TENTANG SEORANG PRIA KAYA
CONTOH BURUNG GAGAK DAN BUNGA LILI
”KAWANAN KECIL” YANG AKAN MEMERINTAH DALAM KERAJAAN SURGA
Sementara Yesus makan di rumah seorang Farisi, ribuan orang menunggu di luar. Ini mirip dengan apa yang terjadi di Galilea. (Markus 1:33; 2:2; 3:9) Sekarang di Yudea, banyak orang mau bertemu dan mendengarkan Yesus. Mereka berbeda sekali dengan orang-orang Farisi yang makan bersama Yesus.
Yesus pertama-tama memberi tahu murid-muridnya sesuatu yang sebelumnya pernah dia sampaikan. Dia berkata, ”Waspadalah terhadap ragi orang Farisi, yaitu kemunafikan mereka.” Yesus mengulangi peringatan ini karena selama jamuan makan, Yesus melihat betapa munafiknya orang Farisi. (Lukas 12:1; Markus 8:15) Orang Farisi mungkin berusaha menyembunyikan keburukan mereka dengan bersikap sok suci. Tapi, kejahatan mereka tidak bisa terus ditutupi. Yesus berkata, ”Semua yang tertutup rapat akan tersingkap, dan semua rahasia akan diketahui.”—Lukas 12:2.
Kemungkinan, kebanyakan orang di sana adalah orang Yudea yang belum pernah mendengar ajaran Yesus di Galilea. Jadi, dia mengulangi beberapa inti ajarannya. Dia menasihati, ”Jangan takut kepada orang yang bisa membunuh tubuh tapi setelah itu tidak bisa berbuat apa-apa lagi.” (Lukas 12:4) Yesus juga kembali menekankan bahwa para pengikutnya harus yakin Allah akan membantu dan memenuhi kebutuhan mereka. Mereka juga harus mengakui bahwa Yesus adalah Tuan mereka.—Matius 10:19, 20, 26-33; 12:31, 32.
Seorang pria di antara kerumunan orang itu tiba-tiba meminta kepada Yesus, ”Guru, suruh kakak laki-laki saya berbagi warisan dengan saya.” (Lukas 12:13) Aturan dalam Taurat sebenarnya sudah jelas: Anak laki-laki tertua berhak menerima warisan dua kali lipat. (Ulangan 21:17) Namun kelihatannya, pria ini mau mendapatkan lebih banyak warisan. Yesus dengan bijak tidak mau membela siapa pun. Dia bertanya, ”Siapa yang melantik saya untuk menjadi hakim atau perantara bagi kalian?”—Lukas 12:14.
Yesus lalu memperingatkan orang-orang, ”Berhati-hatilah dan hindari setiap jenis keserakahan, karena sekalipun seseorang punya banyak harta, hartanya itu tidak memberinya kehidupan.” (Lukas 12:15) Sebanyak apa pun kekayaan seseorang, suatu saat dia pasti akan mati dan meninggalkan hartanya. Yesus lalu menceritakan perumpamaan untuk menunjukkan bahwa nama baik di mata Allah jauh lebih berharga:
”Ada orang kaya yang tanahnya menghasilkan panen yang limpah. Maka dia mulai berpikir, ’Aku tidak punya tempat untuk mengumpulkan hasil panenku. Jadi, apa yang harus aku lakukan?’ Lalu dia berpikir lagi, ’Ini yang akan kulakukan: Aku akan merobohkan gudang-gudangku dan membuat yang lebih besar. Di situ aku akan menyimpan semua biji-bijian dan barang-barangku, dan aku akan berkata kepada diriku sendiri: ”Kamu sudah punya banyak simpanan yang bisa dinikmati sampai bertahun-tahun ke depan. Jadi, kamu bisa bersantai, makan, minum, dan bersenang-senang.”’ Tapi Allah berkata kepadanya, ’Kamu tidak masuk akal! Malam ini nyawamu akan direnggut. Lalu, siapa yang akan memiliki hal-hal yang kamu timbun?’ Begitulah jadinya orang yang menimbun harta untuk diri sendiri tapi tidak kaya di mata Allah.”—Lukas 12:16-21.
Para murid maupun pendengar Yesus yang lain bisa tergoda untuk mengumpulkan kekayaan. Atau, mereka bisa jadi tidak melayani Yehuwa dengan sepenuh hati karena mengkhawatirkan kebutuhan hidup. Jadi, Yesus mengulangi nasihat bagus yang dia berikan dalam Khotbah di Gunung satu setengah tahun sebelumnya:
”Jangan lagi khawatir soal kehidupan kalian, tentang apa yang akan kalian makan, ataupun soal tubuh kalian, tentang apa yang akan kalian pakai. . . . Perhatikanlah burung gagak. Mereka tidak menabur benih atau memanen, dan tidak punya lumbung atau gudang, tapi Allah memberi mereka makan. Bukankah kalian jauh lebih berharga daripada burung-burung? . . . Perhatikanlah bagaimana bunga-bunga lili tumbuh: Mereka tidak bekerja atau menjahit, tapi aku memberi tahu kalian, bahkan Salomo yang begitu mulia pun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu. . . . Jangan lagi mempersoalkan apa yang akan kalian makan dan minum, dan jangan lagi khawatir berlebihan. . . . Bapak kalian tahu bahwa kalian butuh semua hal itu. . . . Teruslah utamakan Kerajaan-Nya, dan hal-hal itu akan diberikan kepada kalian.”—Lukas 12:22-31; Matius 6:25-33.
Yesus lalu menunjukkan bahwa ”kawanan kecil”, yaitu orang-orang beriman yang jumlahnya hanya 144.000, akan mengutamakan Kerajaan Allah. Apa yang akan mereka terima? Yesus berkata, ”Bapak kalian sudah berkenan untuk memberi kalian Kerajaan itu.” Orang-orang ini tidak mengejar harta materi yang bisa dicuri atau hilang. Sebaliknya, mereka berupaya mendapatkan ”harta di surga yang tidak akan pernah habis”, karena di sanalah mereka akan memerintah bersama Kristus.—Lukas 12:32-34.
-
-
Tetaplah Siaga, Pengurus yang Setia!Yesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 78
Tetaplah Siaga, Pengurus yang Setia!
PENGURUS YANG SETIA HARUS SELALU SIAGA
YESUS DATANG UNTUK MENIMBULKAN PERPECAHAN
Yesus sudah menjelaskan bahwa hanya ”kawanan kecil” yang akan memerintah dalam Kerajaan surga. (Lukas 12:32) Berkat yang luar biasa itu harus mereka hargai. Yesus sekarang memberitahukan mengapa mereka tidak bisa bersantai-santai.
Yesus ingin para muridnya siap menyambut dia ketika dia kembali. Dia mengatakan, ”Berpakaianlah dan bersiaplah, dan pastikan lampu minyak kalian tetap menyala. Kalian harus seperti budak-budak yang menunggu majikan mereka pulang dari pesta pernikahan. Saat dia datang dan mengetuk pintu, mereka bisa langsung membukakannya. Kalau majikan itu melihat mereka tetap berjaga-jaga saat dia datang, bahagialah budak-budak itu!”—Lukas 12:35-37.
Dari perumpamaan itu, para murid bisa langsung tahu sikap seperti apa yang Yesus inginkan. Yesus menyebutkan tentang budak-budak yang siap menunggu kedatangan majikan mereka. Yesus menjelaskan, ”Kalau [sang majikan] datang pada giliran jaga kedua [dari sekitar jam sembilan malam sampai tengah malam], atau bahkan ketiga [dari tengah malam sampai sekitar jam tiga pagi], dan melihat mereka tetap siaga, bahagialah budak-budak itu!”—Lukas 12:38.
Ini bukan sekadar nasihat tentang menjadi pekerja yang rajin. Buktinya sang Putra manusia, yaitu Yesus sendiri, ada dalam perumpamaan tersebut. Dia berkata, ”Kalian juga, tetaplah siaga, karena Putra manusia akan datang pada jam yang tidak kalian sangka.” (Lukas 12:40) Jadi di masa depan, Yesus akan datang, dan para pengikutnya, khususnya ”kawanan kecil”, harus siap.
Petrus ingin lebih memahami maksud Yesus. Jadi dia bertanya, ”Tuan, apa perumpamaan ini hanya untuk kami atau untuk orang lain juga?” Untuk menjawab Petrus, Yesus menceritakan perumpamaan lain: ”Siapa sebenarnya pengurus yang setia, yang bijaksana, yang akan diangkat majikannya untuk mengurus para pelayan rumahnya, untuk terus memberi mereka cukup makanan pada waktu yang tepat? Bahagialah budak itu kalau saat majikannya datang, majikannya melihat dia sedang melakukan tugasnya! Aku memberi tahu kalian dengan sebenarnya, majikannya akan menugasi dia untuk mengurus semua harta miliknya.”—Lukas 12:41-44.
Majikan itu adalah Yesus, sang Putra manusia, sedangkan ”pengurus yang setia” adalah beberapa anggota ”kawanan kecil”. (Lukas 12:32) Yesus mengatakan bahwa pengurus itu akan terus memberikan ”cukup makanan pada waktu yang tepat” kepada ”para pelayan rumahnya”, sama seperti Yesus memberikan makanan rohani kepada Petrus dan para murid lainnya. Kedua perumpamaan itu juga menunjukkan bahwa Putra manusia akan datang di masa depan. Pada saat itu, Yesus akan melihat bahwa pengurus itu setia menjalankan tugasnya, yaitu memberikan makanan rohani bagi para pengikut Yesus.
Yesus lalu menasihati para muridnya untuk menjaga pikiran dan tindakan mereka. Kalau mereka tidak hati-hati, mereka bahkan bisa memusuhi rekan-rekan mereka. Yesus berkata, ”Seandainya budak itu berkata dalam hati, ’Kedatangan majikanku masih lama,’ dan mulai memukuli para pelayan lelaki dan perempuan, serta makan dan minum sampai mabuk, majikannya akan datang pada hari yang tidak dia sangka dan jam yang tidak dia ketahui, dan akan menghukum dia seberat-beratnya dan memberinya tempat bersama orang-orang yang tidak setia.”—Lukas 12:45, 46.
Yesus mengatakan bahwa dia datang ”untuk menyalakan api di bumi”. Dan itulah yang terjadi. Ajaran Yesus mematahkan ajaran palsu serta tradisi manusia dan membuat orang-orang berselisih. Ini bahkan membuat keluarga terpecah belah, ”ayah melawan anak laki-laki dan anak laki-laki melawan ayahnya, ibu melawan anak perempuan dan anak perempuan melawan ibunya, ibu mertua melawan menantu perempuan dan menantu perempuan melawan ibu mertuanya”.—Lukas 12:49, 53.
Semua kata-kata Yesus itu terutama ditujukan bagi murid-muridnya. Sekarang, Yesus berbicara kepada kumpulan orang di sana. Kebanyakan dari mereka tidak mengakui bahwa Yesus adalah Mesias, padahal mereka sudah melihat banyak bukti. Maka Yesus berkata, ”Kalau kalian lihat awan gelap di sebelah barat, kalian langsung berkata, ’Akan ada hujan badai,’ dan itu terjadi. Dan kalau kalian lihat angin selatan bertiup, kalian berkata, ’Udara akan sangat panas,’ dan itu terjadi. Orang munafik, kalian tahu cuaca akan seperti apa dengan melihat bumi dan langit, tapi kenapa kalian tidak tahu caranya memahami hal-hal yang terjadi saat ini?” (Lukas 12:54-56) Jelaslah, mereka tidak siap menyambut sang Mesias.
-
-
Orang Yahudi yang Tidak Beriman Akan DibinasakanYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 79
Orang Yahudi yang Tidak Beriman Akan Dibinasakan
PELAJARAN DARI DUA MUSIBAH
SEORANG WANITA YANG BUNGKUK DISEMBUHKAN PADA HARI SABAT
Yesus sudah sering berusaha membuat orang-orang memikirkan hubungan mereka dengan Allah. Kali ini, Yesus melakukannya lagi saat dia mengajar di depan rumah seorang Farisi.
Beberapa orang menyebutkan tentang sebuah musibah. Mereka bercerita bahwa ”[Gubernur] Pilatus membunuh orang-orang Galilea yang sedang mempersembahkan korban”. (Lukas 13:1) Bagaimana ceritanya?
Dengan bantuan para petugas bait, Pilatus mengambil uang dari perbendaharaan bait dan memakainya untuk membangun akuaduk, atau jembatan saluran air, ke Yerusalem. Ribuan orang Yahudi memprotes Pilatus, dan orang-orang Galilea itu mungkin dibunuh saat aksi protes tersebut. Orang-orang yang menceritakan kejadian ini mungkin merasa bahwa orang-orang Galilea itu dibunuh karena telah berbuat dosa. Apakah Yesus setuju?
Dia bertanya, ”Apa kalian pikir itu terjadi karena orang-orang Galilea itu lebih berdosa daripada semua orang Galilea lainnya?” Menurut Yesus, tidak. Namun, dia menggunakan kejadian ini untuk memperingatkan orang Yahudi, ”Kalau kalian tidak bertobat, kalian semua akan binasa seperti mereka.” (Lukas 13:2, 3) Yesus lalu membahas kejadian lain yang kemungkinan masih berhubungan dengan pembuatan jembatan saluran air itu:
”Ke-18 orang yang mati tertimpa menara di Siloam, apa kalian pikir kesalahan mereka lebih besar daripada semua orang lain di Yerusalem?” (Lukas 13:4) Bisa jadi, kerumunan orang itu merasa bahwa orang-orang itu mati karena mereka berbuat dosa. Lagi-lagi, Yesus tidak setuju. Dia tahu bahwa musibah itu mungkin terjadi karena ”waktu dan kejadian yang tidak terduga”. (Pengkhotbah 9:11) Namun, mereka semua bisa belajar dari musibah itu. Yesus berkata, ”Kalau kalian tidak bertobat, kalian semua akan binasa seperti mereka.” (Lukas 13:5) Mengapa Yesus membahas soal ini sekarang?
Yesus memberikan perumpamaan: ”Ada orang yang punya pohon ara di kebun anggurnya. Dia mencari buah di pohon itu, tapi tidak menemukan satu pun. Lalu dia berkata kepada tukang kebunnya, ’Sudah tiga tahun saya cari buah di pohon ara ini, tapi tidak pernah ada. Tebang saja! Tidak ada gunanya pohon itu tumbuh di tanah kalau tidak berbuah.’ Tukang kebunnya menjawab, ’Tuan, coba kita lihat satu tahun lagi. Saya akan gali tanah di sekelilingnya dan menaruh pupuk. Kalau pohon ini nanti berbuah, ya bagus, tapi kalau tidak, tebang saja.’”—Lukas 13:6-9.
Selama lebih dari tiga tahun, Yesus telah berusaha memupuk iman orang-orang Yahudi. Namun, hanya sedikit yang menjadi pengikutnya dan bisa dianggap sebagai buah dari kerja kerasnya. Sekarang pada tahun keempat pelayanannya, Yesus berusaha lebih giat lagi. Dia mengabar di Yudea dan Perea, seolah menggali tanah dan menaruh pupuk di sekitar pohon ara Yahudi. Tapi, yang mendengarkan Yesus hanya sedikit. Secara keseluruhan, bangsa itu tidak bertobat dan akan dibinasakan.
Penolakan orang-orang sekali lagi terlihat pada hari Sabat tak lama setelah itu. Yesus sedang mengajar di sinagoga, dan dia melihat seorang wanita yang tubuhnya bungkuk selama 18 tahun karena kerasukan roh jahat. Yesus merasa kasihan dan berkata kepada wanita itu, ”Kamu dibebaskan dari penyakitmu.” (Lukas 13:12) Yesus menyentuh wanita itu, dan dia pun langsung berdiri tegap dan memuji Allah.
Melihat hal tersebut, ketua sinagoga itu marah. Dia berkata, ”Ada enam hari untuk bekerja. Jadi kalau mau disembuhkan, datang saja di hari-hari itu, jangan di hari Sabat.” (Lukas 13:14) Ketua sinagoga itu tidak meragukan kuasa Yesus untuk menyembuhkan orang sakit. Yang dia permasalahkan adalah tindakan orang-orang yang minta disembuhkan pada hari Sabat. Jawaban Yesus sangat masuk akal: ”Orang munafik, bukankah di hari Sabat kalian melepaskan sapi atau keledai kalian dari kandang dan membawanya untuk diberi minum? Apalagi wanita ini, yang adalah keturunan Abraham dan sudah 18 tahun diikat Setan. Masa dia tidak boleh dilepaskan dari ikatannya ini pada hari Sabat?”—Lukas 13:15, 16.
Para penentang Yesus merasa malu, tapi kerumunan orang di sana senang melihat mukjizat Yesus. Setelah itu, Yesus memberitahukan dua perumpamaan tentang Kerajaan Allah, yang sebelumnya pernah dia ceritakan di Laut Galilea.—Matius 13:31-33; Lukas 13:18-21.
-
-
Sang Gembala yang Baik dan Dua Kandang DombaYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 80
Sang Gembala yang Baik dan Dua Kandang Domba
YESUS BERBICARA TENTANG GEMBALA YANG BAIK DAN DUA KANDANG DOMBA
Yesus masih mengajar di Yudea. Dia sekarang berbicara tentang domba dan kandang domba. Orang Yahudi mengerti bahwa yang Yesus maksudkan bukan domba sungguhan. Mereka mungkin ingat kata-kata Daud ini: ”Yehuwa-lah Gembalaku. Aku tidak akan kekurangan apa pun. Dia bawa aku untuk berbaring di padang rumput.” (Mazmur 23:1, 2) Di mazmur lain, Daud mengundang bangsa Israel, ”Mari kita berlutut di hadapan Yehuwa, Pembuat kita. Sebab Dialah Allah kita, dan kitalah umat yang Dia gembalakan.” (Mazmur 95:6, 7) Jadi sejak dulu, bangsa Israel disamakan dengan kawanan domba.
Bangsa Israel berada di dalam ”kandang domba” karena mereka terikat perjanjian Hukum Musa. Hukum itu seperti pagar yang melindungi mereka dari pengaruh buruk bangsa lain. Namun, ada sejumlah orang Israel yang menindas domba-domba Allah. Yesus berkata, ”Orang yang masuk ke kandang domba dengan memanjat tembok, tidak melalui pintu, pasti pencuri dan perampok. Tapi orang yang masuk melalui pintu adalah gembala domba.”—Yohanes 10:1, 2.
Siapakah pencuri dan perampok itu? Para pendengar Yesus mungkin teringat pada para penipu yang mengaku sebagai Mesias, atau Kristus. Orang-orang harus mengikuti sang ”gembala domba”, bukan para penipu itu.
Yesus berkata tentang gembala ini, ”Penjaga pintu membukakan pintu bagi dia, dan domba-domba mendengarkan suaranya. Dia memanggil domba miliknya dengan nama mereka masing-masing dan memimpin mereka ke luar. Setelah membawa semua dombanya ke luar, dia berjalan di depan mereka, dan mereka mengikuti dia, karena mereka mengenal suaranya. Mereka tidak bakal mengikuti orang yang tidak dikenal, tapi akan lari dari orang itu, karena mereka tidak mengenal suara orang itu.”—Yohanes 10:3-5.
Sebelumnya, Yohanes Pembaptis, seperti seorang penjaga pintu, telah mengatakan bahwa orang-orang yang berada di bawah Hukum Musa harus mengikuti Yesus. Dan memang, ada orang-orang di Galilea maupun Yudea yang mengenali suara gembala mereka, Yesus. Yesus berkata bahwa dia akan ”memimpin mereka ke luar”, tapi para pendengar Yesus ”tidak mengerti maksudnya”. (Yohanes 10:6) Mereka mungkin berpikir, ’Ke mana? Apa manfaatnya mengikuti Yesus?’
Yesus berkata, ”Sayalah pintu untuk domba-domba. Semua yang datang dan berpura-pura menjadi saya adalah pencuri dan perampok, tapi domba-domba tidak mendengarkan mereka. Sayalah pintunya. Siapa pun yang masuk melalui saya akan diselamatkan, dan dia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput.”—Yohanes 10:7-9.
Orang-orang tahu bahwa Yesus bukanlah ”pintu”, atau perantara, untuk perjanjian Hukum Musa, yang sudah ada selama berabad-abad. Jadi, Yesus pasti memaksudkan bahwa domba yang dia ’pimpin ke luar’ akan masuk ke kandang lain. Apa manfaatnya bagi mereka?
Yesus menjelaskan, ”Saya datang supaya domba-domba bisa memiliki kehidupan, dan memilikinya dengan limpah. Saya adalah gembala yang baik. Gembala yang baik menyerahkan nyawanya demi domba-domba.” (Yohanes 10:10, 11) Yesus pernah meyakinkan para muridnya, ”Jangan takut, kawanan kecil, karena Bapak kalian sudah berkenan untuk memberi kalian Kerajaan itu.” (Lukas 12:32) Jadi jelas, ”kawanan kecil” inilah yang akan Yesus bawa ke kandang yang baru supaya mereka bisa ”memiliki kehidupan, dan memilikinya dengan limpah”!
Tapi, Yesus belum selesai. Dia melanjutkan, ”Saya juga punya domba-domba lain, yang bukan dari kandang ini. Mereka pun harus saya bawa. Mereka akan mendengarkan suara saya, dan semuanya akan menjadi satu kawanan, dengan satu gembala.” (Yohanes 10:16) Menurut Yesus, ”domba-domba lain” itu tidak berasal ”dari kandang ini”. Mereka bukan bagian dari ”kawanan kecil” yang akan mewarisi Kerajaan surga. Dua kawanan domba ini punya masa depan yang berbeda, namun sama-sama mendapat manfaat dari pengorbanan Yesus. Dia mengatakan, ”Bapak mengasihi saya, karena saya menyerahkan nyawa saya.”—Yohanes 10:17.
Banyak orang berkata, ”Dia kesurupan dan gila.” Namun, yang lainnya mau mendengarkan dan mengikuti sang Gembala yang Baik. Mereka berkata, ”Orang yang kesurupan roh jahat tidak akan bicara begitu. Roh jahat tidak bisa membuka mata orang buta, kan?” (Yohanes 10:20, 21) Mereka mungkin membicarakan mukjizat Yesus baru-baru ini, yaitu menyembuhkan seorang pria yang terlahir buta.
-
-
Apa Maksudnya Yesus dan Allah Adalah Satu?Yesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 81
Apa Maksudnya Yesus dan Allah Adalah Satu?
”SAYA DAN BAPAK ADALAH SATU”
YESUS DITUDUH MENGAKU SEBAGAI ALLAH, TAPI YESUS MEMBANTAHNYA
Yesus sekarang pergi ke Yerusalem untuk menghadiri Perayaan Penahbisan (atau, Hanukah). Perayaan ini diadakan untuk memperingati penahbisan kembali bait. Lebih dari seratus tahun sebelumnya, Raja Antiokhus IV Epifanes dari Siria membangun mezbah di atas mezbah agung di bait. Belakangan, putra-putra seorang imam Yahudi merebut kembali Yerusalem dan menahbiskan lagi bait itu bagi Yehuwa. Sejak itu, penahbisan tersebut dirayakan setiap tahun pada tanggal 25 Khislew. Bulan Khislew sama dengan akhir November sampai awal Desember.
Saat itu musim dingin. Ketika Yesus berjalan di bait, di Serambi Salomo, orang-orang Yahudi mengelilingi dia dan berkata, ”Sampai kapan kamu akan membiarkan kami bertanya-tanya? Kalau kamu Kristus, terus terang saja beri tahu kami.” (Yohanes 10:22-24) Yesus menjawab, ”Saya sudah beri tahu kalian, tapi kalian tidak percaya.” Yesus memang tidak pernah langsung memberi tahu mereka bahwa dialah Kristus, seperti dia memberi tahu wanita Samaria di dekat sumur. (Yohanes 4:25, 26) Namun, Yesus pernah berkata kepada mereka, ”Sebelum Abraham ada, saya sudah ada.”—Yohanes 8:58.
Yesus sudah melakukan banyak hal yang dinubuatkan tentang Kristus. Jadi, Yesus ingin orang-orang menyimpulkan sendiri bahwa dialah Kristus. Yesus juga sering melarang para murid untuk memberi tahu orang lain bahwa dia adalah Mesias. Tapi sekarang, Yesus dengan terus terang memberi tahu musuh-musuhnya, ”Pekerjaan yang saya lakukan dengan nama Bapak saya, itulah yang bersaksi tentang saya. Tapi kalian tidak percaya.”—Yohanes 10:25, 26.
Mengapa mereka tidak percaya? ”Karena kalian bukan domba-domba saya. Domba-domba saya mendengarkan suara saya. Saya mengenal mereka, dan mereka mengikuti saya. Saya akan memberi mereka kehidupan abadi, dan mereka tidak akan pernah dimusnahkan. Tidak ada yang akan merebut mereka dari tangan saya. Apa yang Bapak berikan kepada saya lebih berharga daripada segala hal lain.” Yesus melanjutkan, ”Saya dan Bapak adalah satu.” (Yohanes 10:26-30) Yesus sedang ada di bumi, sedangkan Bapaknya di surga. Jadi, Yesus tidak mungkin memaksudkan bahwa dia dan Bapaknya adalah pribadi yang sama. Maksud Yesus, dia dan Bapaknya sangat dekat dan punya satu tujuan.
Kata-kata Yesus membuat orang Yahudi begitu marah sampai-sampai mereka sekali lagi mengambil batu untuk melempari Yesus. Tapi Yesus tidak takut. ”Saya menunjukkan kepada kalian banyak pekerjaan yang baik dari Bapak,” katanya. ”Pekerjaan mana yang membuat kalian melempari saya dengan batu?” Mereka menjawab, ”Bukan karena kamu melakukan pekerjaan yang baik, tapi karena kamu menghina Allah. . . . Kamu menjadikan dirimu suatu allah.” (Yohanes 10:31-33) Yesus tidak pernah mengaku sebagai suatu allah. Jadi mengapa dia dituduh begitu?
Yesus berkata bahwa dia bisa melakukan hal-hal yang menurut orang Yahudi hanya bisa dilakukan oleh Allah. Misalnya, Yesus berkata bahwa dia akan memberikan kehidupan abadi bagi domba-dombanya. (Yohanes 10:28) Orang Yahudi lupa bahwa Yesus dengan terus terang mengakui bahwa dia menerima kuasa dari Bapaknya.
Untuk membantah tuduhan itu, Yesus bertanya, ”Bukankah dalam Taurat kalian [di Mazmur 82:6] tertulis, ’Aku berkata, ”Kalian adalah allah-allah”’? Kalau orang-orang yang ditentang oleh firman Allah itu Dia sebut ’allah-allah’, . . . kenapa kalian berkata kepada saya, yang disucikan dan diutus ke dunia oleh Bapak, ’Kamu menghina Allah’, ketika saya berkata, ’Saya Putra Allah’?”—Yohanes 10:34-36.
Ya, Kitab Suci menyebut hakim manusia yang tidak adil sebagai ”allah-allah”. Jadi, mengapa orang Yahudi marah ketika Yesus berkata, ”Saya Putra Allah”? Yesus lalu mengatakan, ”Kalau saya tidak melakukan pekerjaan dari Bapak saya, jangan percaya kepada saya. Tapi kalau saya melakukannya, meskipun kalian tidak percaya kepada saya, percayalah karena pekerjaan saya itu, supaya kalian mengerti dan bisa semakin mengerti bahwa Bapak bersatu dengan saya, dan saya bersatu dengan Bapak.”—Yohanes 10:37, 38.
Mendengar itu, orang-orang Yahudi itu malah berusaha menangkap Yesus, tapi sekali lagi dia melarikan diri. Dia pergi dari Yerusalem dan menyeberangi Sungai Yordan ke daerah tempat Yohanes membaptis orang hampir empat tahun sebelumnya. Sepertinya, tempat ini tidak jauh dari pesisir selatan Laut Galilea.
Di sana, banyak orang datang kepada Yesus dan berkata, ”Yohanes tidak membuat satu mukjizat pun, tapi semua yang Yohanes katakan tentang orang ini benar.” (Yohanes 10:41) Jadi, banyak orang Yahudi beriman kepada Yesus.
-
-
Pelayanan Yesus di PereaYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 82
Pelayanan Yesus di Perea
BERJUANG UNTUK MELEWATI PINTU YANG SEMPIT
YESUS AKAN MATI DI YERUSALEM
Yesus telah mengajar dan menyembuhkan banyak orang di Yudea dan Yerusalem. Setelah itu, dia menyeberangi Sungai Yordan untuk mengajar di kota-kota di Perea. Tapi sebentar lagi, dia akan kembali ke Yerusalem.
Di Perea, seorang pria bertanya kepada Yesus, ”Tuan, apa yang diselamatkan hanya sedikit?” Pria itu mungkin tahu bahwa para pemimpin agama berdebat tentang berapa banyak orang yang akan diselamatkan. Tapi, Yesus tidak mau membahas itu. Sebaliknya, dia menjelaskan apa yang harus dilakukan seseorang agar selamat. Yesus berkata, ”Berjuanglah sekuat tenaga untuk masuk melalui pintu yang sempit.” Jadi, seseorang harus berjuang keras supaya selamat. Mengapa? Yesus mengatakan, ”Banyak yang mau masuk tapi tidak bisa.”—Lukas 13:23, 24.
Yesus lalu memberikan perumpamaan: ”Ketika tuan rumah sudah mengunci pintu, kalian akan berdiri di luar dan mengetuk-ngetuk sambil berkata, ’Tuan, bukakan pintu.’ . . . Tapi dia akan menjawab, ’Saya tidak tahu siapa kalian. Pergi kalian, orang-orang yang berbuat jahat!’”—Lukas 13:25-27.
Yesus menunjukkan bahwa orang yang datang terlambat tidak akan bisa masuk karena pintu sudah ditutup dan dikunci. Dia seharusnya datang lebih awal meski waktunya mungkin tidak cocok bagi dia. Itulah yang terjadi dengan banyak pendengar Yesus. Mereka seharusnya menjadi pengikut Yesus dan menomorsatukan ibadah kepada Allah. Tapi, mereka tidak mau menerima Yesus, yang Allah utus untuk menyelamatkan mereka. Akibatnya, mereka akan diusir serta ”menangis dan menggertakkan gigi”. Sebaliknya, orang-orang dari segala bangsa, ’dari timur dan barat, juga dari utara dan selatan, akan duduk untuk makan dalam Kerajaan Allah’.—Lukas 13:28, 29.
Yesus menjelaskan, ”Ada orang-orang terakhir [seperti orang Yahudi yang dipandang rendah dan orang dari bangsa lain] yang akan menjadi yang pertama, dan ada orang-orang pertama [yaitu para pemimpin agama yang sombong karena mereka keturunan Abraham] yang akan menjadi yang terakhir.” (Lukas 13:30) Orang-orang yang tidak tahu berterima kasih ini akan ”menjadi yang terakhir”, maksudnya mereka tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Allah.
Kemudian, beberapa orang Farisi datang dan berkata kepada Yesus, ”Keluarlah dan pergi dari sini, karena Herodes [Antipas] ingin membunuhmu.” Kemungkinan, Raja Herodes sendirilah yang menyebarkan berita itu supaya Yesus takut dan pergi dari wilayah itu. Herodes sudah membunuh Yohanes Pembaptis, dan dia mungkin tidak berani membunuh nabi lain lagi. Tapi, Yesus berkata kepada orang Farisi, ”Beri tahu si licik itu, ’Hari ini dan besok saya mengusir roh-roh jahat dan menyembuhkan orang, dan lusa saya akan selesai.’” (Lukas 13:31, 32) Yesus tidak mau diatur oleh Herodes atau orang lain. Dia bertekad untuk menjalankan tugas dari Bapaknya, sesuai dengan jadwal Bapaknya, bukan manusia.
Yesus pun melanjutkan perjalanannya ke arah Yerusalem, karena dia berkata, ”Tidak mungkin seorang nabi dibunuh di luar Yerusalem.” (Lukas 13:33) Tidak ada nubuat Alkitab yang menyebutkan bahwa Mesias akan mati di kota itu. Jadi, mengapa Yesus berkata bahwa dia akan dibunuh di sana? Yerusalem adalah pusat ibadah, dan di sana terdapat mahkamah agung Sanhedrin yang anggotanya 71 orang. Merekalah yang biasanya mengadili orang-orang yang dituduh sebagai nabi palsu. Selain itu, korban-korban juga dipersembahkan di Yerusalem. Jadi, Yesus sadar bahwa dia pasti akan dibunuh di Yerusalem.
Dengan sedih Yesus berkata, ”Yerusalem, Yerusalem, yang membunuh para nabi dan merajam orang-orang yang diutus kepadamu, sudah sering saya berusaha mengumpulkan anak-anakmu, seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya! Tapi kalian tidak mau. Bait kalian akan ditinggalkan.” (Lukas 13:34, 35) Mereka akan menerima akibatnya karena menolak Putra Allah!
Sebelum Yesus sampai di Yerusalem, seorang Farisi mengundang Yesus untuk makan di rumahnya pada hari Sabat. Di sana, ada seorang pria yang menderita pembengkakan (cairan berlebih yang biasanya terkumpul di paha dan kaki). Para tamu lainnya ingin melihat apa yang akan Yesus lakukan bagi pria ini. Yesus bertanya kepada orang Farisi dan para ahli Taurat, ”Apa boleh menyembuhkan orang pada hari Sabat?”—Lukas 14:3.
Mereka diam saja. Yesus pun menyembuhkan pria itu dan berkata, ”Kalau anak atau sapi kalian jatuh ke sumur pada hari Sabat, kalian akan cepat-cepat mengeluarkan dia, kan?” (Lukas 14:5) Sekali lagi, tidak ada yang bisa membantah kata-kata Yesus yang masuk akal itu.
-
-
Siapa yang Allah Undang ke Pesta Besar?Yesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 83
Siapa yang Allah Undang ke Pesta Besar?
PELAJARAN TENTANG KERENDAHAN HATI
PARA TAMU MENCARI-CARI ALASAN UNTUK MENOLAK UNDANGAN
Di rumah seorang Farisi, Yesus baru menyembuhkan pria yang menderita pembengkakan. Yesus sekarang melihat bahwa para tamu berusaha memilih tempat yang terbaik, jadi dia mengajar mereka tentang kerendahan hati.
Yesus berkata, ”Kalau kamu diundang ke pesta pernikahan, jangan duduk di tempat utama. Mungkin tuan rumah mengundang orang yang lebih terhormat daripada kamu. Lalu tuan rumah yang mengundang kalian itu akan datang dan berkata kepadamu, ’Tempat ini untuk dia.’ Lalu sambil menahan malu, kamu harus pindah ke paling belakang.”—Lukas 14:8, 9.
Yesus melanjutkan, ”Kalau kamu diundang, duduklah di paling belakang, supaya ketika orang yang mengundangmu datang, dia akan berkata, ’Sahabatku, mari duduk di depan.’ Dan kamu akan dihormati di depan semua tamu.” Ini bukan hanya soal kesopanan. Yesus menjelaskan, ”Setiap orang yang meninggikan diri akan direndahkan, dan siapa pun yang merendahkan diri akan ditinggikan.” (Lukas 14:10, 11) Jadi, Yesus ingin agar mereka rendah hati.
Yesus lalu berbicara kepada orang Farisi yang mengundang dia. Yesus menjelaskan siapa yang perlu dia undang jika dia mau menyenangkan Allah. ”Kalau kamu membuat acara makan siang atau malam, jangan panggil sahabat atau kakak atau adik atau saudara atau tetanggamu yang kaya, karena mungkin mereka juga akan mengundang kamu sebagai balasannya. Tapi kalau kamu membuat pesta, undanglah orang-orang yang miskin, cacat, pincang, dan buta. Kamu akan bahagia karena mereka tidak punya apa-apa untuk membalasnya.”—Lukas 14:12-14.
Memang wajar kalau kita ingin mengundang teman, keluarga, atau tetangga untuk makan bersama, dan Yesus tidak mengatakan bahwa itu salah. Namun, jika kita mengundang orang yang berkekurangan, seperti orang miskin, cacat, atau buta, kita akan diberkati. Yesus memberi tahu orang Farisi itu, ”Kamu akan mendapat balasannya sewaktu orang-orang benar dibangkitkan.” Mendengar itu, seorang tamu berkata, ”Bahagialah orang yang makan di Kerajaan Allah.” (Lukas 14:15) Tamu itu sadar bahwa ”makan di Kerajaan Allah” adalah kehormatan yang luar biasa. Tapi, tidak semua orang berpikiran seperti dia. Maka Yesus memberikan perumpamaan ini:
”Seorang pria membuat pesta besar, dan dia mengundang banyak orang. . . . Dia menyuruh budaknya pergi kepada para undangan untuk berkata, ’Silakan datang, semuanya sudah siap.’ Tapi mereka semua mulai mencari alasan. Yang pertama berkata, ’Saya baru beli ladang dan harus pergi melihatnya. Maaf, saya tidak bisa datang.’ Yang lain berkata, ’Saya baru beli lima pasang sapi dan mau memeriksanya. Maaf, saya tidak bisa datang.’ Yang lain lagi berkata, ’Saya tidak bisa datang karena saya baru saja menikah.’”—Lukas 14:16-20.
Alasan mereka sangat tidak masuk akal! Ladang dan hewan biasanya sudah diperiksa sebelum dibeli. Jadi, kedua pria itu sebenarnya tidak perlu lagi memeriksanya. Pria yang ketiga sudah menikah, bukan sedang mempersiapkan pernikahannya. Jadi, dia juga sebenarnya bisa datang ke acara penting itu.
Mendengar alasan-alasan itu, pria yang mengadakan pesta tersebut marah dan memberi tahu budaknya, ”Cepat pergi ke semua jalan dan gang di kota ini. Bawa ke sini orang-orang yang miskin, cacat, buta, dan pincang.” Setelah itu, ternyata masih ada tempat untuk para tamu lain. Jadi, pria itu memberi tahu budaknya, ”Pergi ke semua jalan dan gang di luar kota dan desak orang-orang untuk datang, supaya rumah saya penuh. Saya memberi tahu kalian, para undangan itu tidak akan makan di pesta saya.”—Lukas 14:21-24.
Perumpamaan itu menunjukkan bahwa Yehuwa dan Yesus Kristus mengundang orang-orang untuk masuk ke dalam Kerajaan surga. Undangan itu pertama diberikan kepada orang-orang Yahudi, terutama para pemimpin agama. Kebanyakan dari mereka menolak undangan itu. Jadi, undangan itu akan diberikan kepada orang-orang lain. Siapakah mereka? Mereka adalah orang-orang yang menjadi penganut agama Yahudi dan orang Yahudi yang diremehkan oleh para pemimpin agama. Setelah itu, undangan ketiga, yang terakhir, akan diberikan kepada orang-orang yang menurut orang Yahudi tidak pantas menjadi penyembah Allah.—Kisah 10:28-48.
Ya, kata-kata tamu tadi memang benar: ”Bahagialah orang yang makan di Kerajaan Allah.”
-
-
Menjadi Murid Yesus—Sesuatu yang SeriusYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 84
Menjadi Murid Yesus—Sesuatu yang Serius
MURID YESUS HARUS RELA BERKORBAN
Yesus telah mengajarkan beberapa hal penting ketika dia makan di rumah seorang Farisi. Sekarang, Yesus melanjutkan perjalanan ke Yerusalem, dan banyak orang mengikuti dia. Apakah mereka mau menjadi murid Yesus dan rela membuat pengorbanan apa pun?
Dalam perjalanan, Yesus mengatakan sesuatu yang mungkin membuat sebagian orang kaget: ”Kalau seseorang datang kepadaku, dan dia lebih mengasihi ayah, ibu, istri, anak, kakak, adik, dan bahkan hidupnya sendiri, dia tidak bisa menjadi muridku.” (Lukas 14:26) Apa maksudnya?
Para murid tidak boleh lebih mengasihi keluarga mereka daripada mengasihi Yesus. Mereka tidak boleh menjadi seperti pria dalam perumpamaan Yesus yang menolak undangan ke pesta besar karena dia baru menikah.—Lukas 14:20.
Yesus juga mengatakan bahwa muridnya tidak boleh mengasihi ”bahkan hidupnya sendiri”. Dengan kata lain, dia harus rela mati demi Yesus. Jelaslah, keputusan untuk menjadi murid Yesus harus dipikirkan dengan matang, karena itu adalah tanggung jawab yang sangat serius.
Murid-murid Yesus mungkin akan menderita dan dianiaya, jadi Yesus berkata, ”Siapa pun yang tidak memikul tiang siksaannya dan tidak mengikuti aku tidak bisa menjadi muridku.” (Lukas 14:27) Seperti Yesus, para murid harus rela menanggung beban berupa hinaan, bahkan kematian di tangan musuh.
Jadi, kumpulan orang itu harus benar-benar memikirkan apakah mereka sanggup menjadi murid Kristus. Untuk membantu mereka, Yesus memberikan perumpamaan: ”Kalau di antara kalian ada yang mau membangun menara, tentu dia akan duduk dulu dan menghitung biayanya untuk melihat apakah dia punya cukup uang untuk menyelesaikannya. Kalau tidak, dia mungkin hanya bisa membangun fondasi tapi tidak bisa menyelesaikannya.” (Lukas 14:28, 29) Jadi, sebelum menjadi murid Yesus, orang-orang itu harus yakin bahwa mereka memang sanggup menjalankan tanggung jawab mereka. Yesus lalu menceritakan perumpamaan lain:
”Kalau seorang raja mau berperang dengan raja lain, tentu dia akan duduk dulu dan meminta nasihat, untuk mengetahui apakah dengan 10.000 tentaranya dia bisa melawan raja yang punya 20.000 tentara. Kalau ternyata dia tidak sanggup, dia akan mengirim sekelompok utusan untuk minta berdamai saat musuhnya itu masih jauh.” Yesus menyimpulkan, ”Begitu juga, yakinlah bahwa kalian tidak bisa menjadi muridku kalau kalian tidak meninggalkan semua harta kalian.”—Lukas 14:31-33.
Kata-kata Yesus itu tidak hanya ditujukan kepada kumpulan orang itu. Siapa pun yang mau menjadi pengikutnya harus rela melakukan semua hal itu. Mereka harus siap mengorbankan apa pun, bahkan nyawa mereka. Maka sebelum membuat keputusan, mereka harus merenungkannya dan berdoa.
Yesus sekarang membahas sesuatu yang pernah dia sampaikan dalam Khotbah di Gunung. Waktu itu, dia berkata bahwa murid-muridnya adalah ”garam dunia”. (Matius 5:13) Seperti garam yang bisa mencegah sesuatu membusuk, para murid bisa membantu orang-orang terhindar dari kerusakan moral dan rohani. Sekarang Yesus berkata, ”Garam memang baik. Tapi kalau garam sudah tidak asin, dengan apa itu bisa diasinkan lagi?” (Lukas 14:34) Para pendengar Yesus tahu bahwa pada zaman itu, banyak garam yang dijual sudah dicampur pasir sehingga tidak banyak gunanya.
Dengan kata lain, orang-orang yang sudah lama menjadi murid Yesus harus tetap bersemangat. Jangan sampai mereka menjadi tidak berguna seperti garam yang tidak asin dan dibuang orang. Kalau itu terjadi, Allah tidak akan senang kepada mereka, dan orang-orang bahkan bisa menghina Allah. Jadi Yesus mengimbau, ”Orang yang punya telinga, dengarkanlah.”—Lukas 14:35.
-
-
Sukacita Karena Satu Orang BertobatYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 85
Sukacita Karena Satu Orang Bertobat
PERUMPAMAAN TENTANG SEEKOR DOMBA YANG TERSESAT DAN SATU UANG LOGAM YANG HILANG
PARA MALAIKAT DI SURGA BERSUKACITA
Selama pelayanannya, Yesus sering mengajarkan pentingnya kerendahan hati. (Lukas 14:8-11) Dia ingin sekali mencari orang-orang yang rendah hati dan mau melayani Allah. Pada waktu itu, beberapa dari mereka mungkin masih dikenal sebagai orang berdosa.
Orang Farisi dan para ahli Taurat merendahkan orang berdosa. Mereka mengamati bahwa orang-orang seperti itu tertarik pada kepribadian Yesus dan ajarannya. Mereka memprotes, ”Dia menerima orang berdosa dan makan bersama mereka.” (Lukas 15:2) Orang Farisi dan para ahli Taurat juga merasa lebih tinggi daripada orang-orang yang tidak memahami Taurat. Mereka memperlakukan orang-orang itu seperti debu di kaki mereka. Para pemimpin agama menyalahgunakan istilah am haarets, yang berarti ”rakyat negeri”, untuk menyebut orang-orang ini.
Yesus sangat berbeda dengan mereka. Dia memperlakukan semua orang dengan respek, baik hati, dan berbelaskasihan. Hasilnya, banyak dari orang yang dianggap rendah, termasuk mereka yang dikenal sebagai orang berdosa, mau mendengarkan Yesus. Sewaktu mendengar komentar negatif orang Farisi dan para ahli Taurat tentang sikapnya, apa tanggapan Yesus?
Dia memberikan perumpamaan yang menyentuh hati, yang mirip dengan perumpamaan yang dia ceritakan di Kapernaum. (Matius 18:12-14) Dalam perumpamaan ini, orang Farisi seolah berada dalam kawanan domba Allah, sedangkan orang-orang yang dianggap rendah digambarkan sebagai domba yang menjauh dan tersesat. Begini perumpamaannya:
”Kalau di antara kalian ada yang punya 100 domba, dan salah satunya hilang, bukankah dia akan meninggalkan yang 99 di padang dan mencari yang hilang itu sampai menemukannya? Setelah menemukannya, dia menggendong domba itu di bahunya dan bersukacita. Begitu sampai di rumah, dia memanggil teman-teman dan tetangganya, lalu berkata, ’Ayo kita bersukacita, karena dombaku yang hilang sudah ditemukan.’”—Lukas 15:4-6.
Yesus lalu menjelaskan maksud perumpamaannya: ”Satu orang berdosa yang bertobat akan mendatangkan lebih banyak sukacita di surga daripada 99 orang benar yang tidak perlu bertobat.”—Lukas 15:7.
Orang Farisi pasti kaget karena Yesus membicarakan pertobatan. Mereka menganggap diri mereka sudah benar dan tidak perlu bertobat. Beberapa dari mereka pernah mengkritik Yesus karena dia makan bersama pemungut pajak dan orang berdosa. Tapi Yesus menjawab, ”Saya datang bukan untuk memanggil orang benar, tapi orang berdosa.” (Markus 2:15-17) Yehuwa dan para malaikat di surga tidak senang melihat orang-orang Farisi yang sombong itu. Sebaliknya, mereka sangat bersukacita saat ada orang yang bertobat.
Untuk menandaskan hal itu, Yesus menceritakan perumpamaan lain lagi: ”Kalau ada wanita yang punya sepuluh uang logam drakhma dan ada satu yang hilang, bukankah dia akan menyalakan lampu minyak, menyapu rumahnya, dan mencarinya dengan teliti sampai menemukannya? Setelah menemukannya, dia memanggil teman-teman dan tetangganya, lalu berkata, ’Ayo kita bersukacita, karena uangku yang hilang sudah ditemukan.’”—Lukas 15:8, 9.
Yesus mengulangi lagi pelajarannya: ”Sama seperti itu, malaikat-malaikat Allah bersukacita kalau ada satu orang berdosa yang bertobat.”—Lukas 15:10.
Bayangkan, para malaikat senang sekali jika seseorang bertobat! Apalagi jika orang itu adalah orang yang akan memerintah dalam Kerajaan surga, karena dia akan punya kedudukan yang lebih tinggi dari para malaikat. (1 Korintus 6:2, 3) Para malaikat sama sekali tidak merasa iri. Jadi, bagaimana seharusnya perasaan kita ketika ada orang yang bertobat?
-
-
Anak yang Hilang Telah KembaliYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 86
Anak yang Hilang Telah Kembali
PERUMPAMAAN TENTANG ANAK YANG HILANG
Yesus kemungkinan masih berada di Perea, di timur Sungai Yordan, sewaktu dia menceritakan perumpamaan tentang domba yang tersesat dan uang logam yang hilang. Kedua perumpamaan itu mengajarkan bahwa kita harus bersukacita sewaktu seseorang bertobat. Orang Farisi dan ahli Taurat mengkritik Yesus karena dia baik hati kepada orang-orang yang seperti itu. Apakah mereka berubah pikiran setelah mendengar dua perumpamaan Yesus? Apakah mereka sudah paham bagaimana perasaan Bapak kita di surga terhadap orang yang bertobat? Yesus sekarang memberikan perumpamaan lain yang sangat bagus.
Perumpamaan ini bercerita tentang seorang ayah yang memiliki dua orang putra. Tokoh utamanya adalah putra yang kedua. Orang Farisi dan ahli Taurat serta para pendengar Yesus lainnya bisa belajar dari pengalaman putra bungsu itu. Namun, sikap sang ayah dan putra pertamanya juga penting untuk diperhatikan.
Yesus memulai ceritanya, ”Seorang pria punya dua anak lelaki. Anak yang lebih muda berkata kepada ayahnya, ’Ayah, berikan harta bagianku.’ Ayahnya pun membagi hartanya kepada kedua anaknya.” (Lukas 15:11, 12) Anak ini meminta warisan padahal ayahnya belum meninggal. Dia ingin mendapat harta bagiannya saat itu juga, supaya dia bisa bersenang-senang dan hidup bebas. Setelah mendapatkannya, apa yang dia lakukan?
Yesus melanjutkan, ”Beberapa hari kemudian, anak yang lebih muda itu mengumpulkan semua hartanya dan pergi ke negeri yang jauh. Di sana, dia hidup bejat dan berfoya-foya.” (Lukas 15:13) Anak itu pergi ke negeri lain, padahal dia bisa tinggal dengan aman di rumah bersama ayahnya yang menyayangi dia dan memenuhi kebutuhannya. Dia pun menggunakan hartanya untuk melampiaskan hawa nafsu. Setelah hartanya habis, hidupnya mulai susah.
Yesus bercerita, ”Kelaparan yang parah terjadi di seluruh negeri itu. Dia pun jatuh miskin. Dia bahkan minta pekerjaan ke seorang penduduk negeri itu, dan dia disuruh menjaga babi di padang. Dia begitu lapar sampai-sampai ingin mengisi perutnya dengan makanan yang dimakan babi-babi itu. Tapi tidak ada yang memberinya makanan.”—Lukas 15:14-16.
Menurut Hukum Allah, babi dianggap najis, tapi anak itu tidak punya pilihan lain. Karena sangat lapar, dia bahkan mau makan makanan babi. Di tengah kesengsaraannya, dia pun sadar. Dia berpikir, ’Semua pekerja ayahku punya berlimpah makanan, sedangkan aku di sini sudah mau mati kelaparan! Aku akan berangkat dan pergi ke ayahku dan berkata kepadanya, ”Ayah, aku sudah berdosa kepada Allah dan kepada Ayah. Aku tidak layak lagi disebut anak Ayah. Jadikan aku pekerja Ayah saja.”’ Lalu dia pun pulang ke rumah ayahnya.—Lukas 15:17-20.
Apakah sang ayah akan memarahi anaknya karena dia bertindak bodoh dengan meninggalkan rumah? Apakah sang ayah akan bersikap dingin? Jika Saudara jadi ayah itu, bagaimana reaksi Saudara? Bagaimana kalau anak yang hilang itu adalah anak Saudara?
ANAK YANG HILANG SUDAH DITEMUKAN
Yesus menceritakan apa yang dilakukan ayah itu: ”Ketika [anak itu] masih jauh, ayahnya melihat dia dan tergerak oleh rasa kasihan. Maka ayahnya berlari, lalu memeluk dan menciumnya dengan lembut.” (Lukas 15:20) Sang ayah mungkin telah mendengar tentang kebejatan anaknya. Namun, dia tetap menyambut anaknya. Sikap sang ayah menggambarkan perasaan Yehuwa terhadap orang yang bertobat. Apakah para pemimpin agama Yahudi, yang mengaku mengenal dan menyembah Yehuwa, memahami hal itu? Apakah mereka sadar bahwa sikap Yesus sama dengan sikap Yehuwa?
Dari raut wajah anaknya yang penuh penyesalan, ayah yang bijaksana itu tahu bahwa anaknya sudah bertobat. Anak itu lalu mengakui kesalahannya. Dia lebih mudah mengakuinya karena sang ayah dengan baik hati menyambut dia. Anak itu berkata, ”Ayah, aku sudah berdosa kepada Allah dan kepada Ayah. Aku tidak layak lagi disebut anak Ayah.”—Lukas 15:21.
Tapi, sang ayah berkata kepada budak-budaknya, ”Cepat! Ambil jubah yang paling bagus. Pakaikan itu padanya. Pasang cincin di jarinya dan sandal di kakinya. Potong juga anak sapi yang gemuk. Mari kita makan dan merayakan ini, karena anakku ini sudah mati tapi hidup lagi. Dia hilang tapi sudah ditemukan.” Mereka pun bersukaria.—Lukas 15:22-24.
Sementara itu, anak yang lebih tua sedang ada di ladang. Yesus berkata, ”Ketika dia pulang dan sudah hampir sampai di rumah, dia mendengar suara musik dan tari-tarian. Maka, dia memanggil seorang pelayan dan menanyakan apa yang terjadi. Pelayan itu menjawab, ’Adik Tuan pulang, dan ayah Tuan memotong anak sapi yang gemuk, karena adik Tuan kembali dalam keadaan sehat.’ Tapi dia marah dan tidak mau masuk. Lalu ayahnya keluar dan memohon agar dia masuk. Dia berkata kepada ayahnya, ’Sudah bertahun-tahun aku kerja seperti budak untuk Ayah, dan tidak pernah satu kali pun aku melawan perintah Ayah. Tapi Ayah tidak pernah memberi aku anak kambing untuk dinikmati bersama teman-temanku. Tapi begitu anak Ayah itu pulang, anak yang menghabiskan harta Ayah dengan pelacur, Ayah malah memotong sapi gemuk buat dia.’”—Lukas 15:25-30.
Para ahli Taurat dan orang Farisi seperti sang kakak, yang mengkritik belas kasihan dan perhatian Yesus kepada rakyat biasa dan orang berdosa. Jadi, Yesus memberikan perumpamaan ini untuk menegur mereka. Tapi, kita juga bisa belajar dari perumpamaan ini. Kita tidak boleh mengkritik belas kasihan Allah.
Yesus menutup perumpamaannya dengan kata-kata sang ayah kepada anaknya yang lebih tua: ”Anakku, kamu selalu bersama Ayah. Semua milik Ayah adalah milik kamu juga. Tapi kita harus merayakan ini dan bersukacita, karena adikmu sudah mati tapi hidup lagi; dia hilang tapi sudah ditemukan.”—Lukas 15:31, 32.
Yesus tidak memberitahukan apa yang akhirnya dilakukan sang kakak. Namun setelah Yesus mati dan dibangkitkan, banyak imam mulai beriman kepada Yesus. (Kisah 6:7) Beberapa dari mereka mungkin mendengar langsung perumpamaan Yesus ini. Ya, bahkan orang-orang seperti mereka bisa sadar, bertobat, dan kembali kepada Allah.
Semua pengikut Yesus harus merenungkan pelajaran-pelajaran penting dari perumpamaan tersebut. Pertama, kita harus tetap berada bersama umat Allah agar kita selalu dilindungi oleh Yehuwa, Bapak yang menyayangi kita dan memenuhi kebutuhan kita. Jangan sampai kita tergoda untuk mencari kesenangan di ”negeri yang jauh”.
Kedua, jika kita menjauh dari Allah, kita harus dengan rendah hati kembali kepada Bapak kita, supaya kita bisa punya hubungan baik dengan-Nya lagi.
Ketiga, kita harus meniru sang ayah yang baik hati dan berbelaskasihan. Sebagai umat Allah, kita harus rela mengampuni dan siap menyambut orang-orang yang sudah bertobat dan kembali kepada Yehuwa. Marilah kita bersukacita bersama saudara kita yang ”sudah mati tapi hidup lagi”, karena ”dia hilang tapi sudah ditemukan”!
-
-
Berpikir Jauh ke Depan dan Bertindak BijaksanaYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 87
Berpikir Jauh ke Depan dan Bertindak Bijaksana
PERUMPAMAAN TENTANG SEORANG PRIA KAYA DAN PENGURUS RUMAHNYA
GUNAKAN KEKAYAAN UNTUK ”MENDAPAT SAHABAT”
Perumpamaan tentang anak yang hilang, yang baru saja Yesus ceritakan, seharusnya membuat para pemungut pajak, ahli Taurat, dan orang Farisi sadar bahwa Allah mau mengampuni orang yang bertobat. (Lukas 15:1-7, 11) Sekarang, Yesus memberikan perumpamaan lain kepada murid-muridnya. Perumpamaan ini bercerita tentang seorang pria kaya dan pengurus rumahnya.
Pengurus itu dituduh memboroskan harta majikannya, jadi sang majikan ingin mengusir dia. Pengurus itu pun berkata dalam hati, ’Aku harus bagaimana? Sebentar lagi Tuan akan memecat aku. Aku tidak kuat mencangkul, dan aku malu kalau harus mengemis.’ Jadi, dia membuat rencana: ’Aku tahu harus lakukan apa, supaya waktu aku dipecat, orang-orang akan menyambut aku di rumah mereka.’ Dia langsung memanggil orang-orang yang berutang kepada majikannya dan bertanya, ”Berapa utangmu kepada majikan saya?”—Lukas 16:3-5.
Orang pertama menjawab, ”Seratus takaran minyak zaitun.” Itu sama dengan kira-kira 2.200 liter. Sang majikan mungkin adalah pedagang minyak atau pemilik kebun zaitun yang besar. Pengurus itu berkata, ”Ambil lagi perjanjian utangmu. Duduk dan cepat tulis 50 [1.100 liter].”—Lukas 16:6.
Pengurus tersebut lalu bertanya kepada yang lain, ”Kalau kamu, berapa utangmu?” Dia menjawab, ”Seratus takaran besar gandum,” atau sekitar 22.000 liter. Pengurus itu lalu mengatakan, ”Ambil lagi perjanjian utangmu, dan tulis 80.” Jadi, pengurus itu mengurangi utang orang tersebut sampai 20 persen.—Lukas 16:7.
Karena pengurus itu masih menangani keuangan majikannya, dia masih bisa mengurangi utang orang-orang kepada tuannya. Hasilnya, orang-orang itu jadi berutang budi kepada pengurus tersebut. Dengan begitu, dia mendapat sahabat yang bisa membantunya setelah dia kehilangan pekerjaannya nanti.
Belakangan, sang majikan tahu apa yang terjadi. Walaupun dia mengalami kerugian, dia memuji pengurus tersebut karena meski tindakannya ”tidak benar”, dia ”bertindak cerdik”. Yesus berkata, ”Anak-anak dunia ini lebih cerdik daripada anak-anak terang.”—Lukas 16:8.
Yesus tidak membenarkan tindakan pengurus itu ataupun mengajar murid-muridnya untuk berbuat curang. Jadi, apa yang Yesus ajarkan? Dia berkata, ”Gunakan kekayaan yang tidak benar untuk mendapat sahabat. Dengan begitu, ketika kekayaan itu habis, mereka akan menerima kalian di tempat tinggal yang abadi.” (Lukas 16:9) Jadi, hamba-hamba Allah, yaitu ”anak-anak terang”, perlu berpikir jauh ke depan dan bertindak cerdik. Mereka harus menggunakan harta mereka dengan bijaksana supaya bisa mendapatkan kehidupan abadi di masa depan.
Hanya Yehuwa dan Yesus yang bisa mengundang seseorang untuk memerintah dalam Kerajaan surga atau hidup selamanya di bumi sebagai rakyat Kerajaan itu. Jadi, kita sekarang perlu memperkuat persahabatan kita dengan Yehuwa dan Yesus. Caranya adalah dengan menggunakan harta kita untuk mendukung Kerajaan Allah. Dengan begitu, masa depan kita akan terjamin, bahkan saat emas, perak, dan harta lainnya lenyap atau tidak bernilai lagi.
Yesus lalu mengatakan, ”Karena itu, kalau kalian tidak setia sewaktu menggunakan kekayaan yang tidak benar ini, siapa yang akan memercayakan kepada kalian kekayaan yang sejati?” Maksud Yesus, jika seseorang bisa mengatur dan menggunakan hartanya dengan bijaksana, dia juga bisa menjalankan berbagai tanggung jawab yang Allah berikan.—Lukas 16:11.
Yesus juga menunjukkan bahwa jika para murid ingin diterima di ”tempat tinggal yang abadi”, mereka tidak boleh mengutamakan kekayaan. Yesus mengatakan, ”Tidak ada pelayan yang bisa menjadi budak bagi dua majikan, karena dia akan membenci yang satu dan mengasihi yang lain, atau setia kepada yang satu dan meremehkan yang lain. Kalian tidak bisa menjadi budak Allah sekaligus budak Kekayaan.”—Lukas 16:9, 13.
-
-
Pria Kaya dan LazarusYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 88
Pria Kaya dan Lazarus
PERUMPAMAAN TENTANG SEORANG PRIA KAYA DAN LAZARUS
Yesus baru-baru ini menasihati murid-muridnya untuk menggunakan kekayaan mereka dengan bijak. Sebenarnya, orang Farisi yang ada di sana harus mencamkannya juga, karena mereka ”cinta uang”. Namun, mereka justru mengejek Yesus.—Lukas 15:2; 16:13, 14.
Meski begitu, Yesus dengan berani berkata, ”Kalian memberi kesan kepada orang-orang bahwa kalian berbuat benar, tapi Allah tahu isi hati kalian. Apa yang dianggap penting di mata manusia sebenarnya menjijikkan di mata Allah.”—Lukas 16:15.
Selama ini, orang Farisi ”dianggap penting di mata manusia”. Tapi, keadaan akan berubah. Orang yang dianggap penting, seperti orang kaya, pejabat, dan pemimpin agama, akan direndahkan. Sebaliknya, rakyat biasa yang mau diajar tentang Allah akan ditinggikan. Yesus menunjukkan bahwa perubahan besar ini sedang terjadi. Dia mengatakan:
”Taurat dan Tulisan Para Nabi diberitakan sampai zaman Yohanes. Sejak waktu itu, Kerajaan Allah diberitakan sebagai kabar baik, dan setiap orang berupaya keras untuk masuk ke sana. Ya, sekalipun langit dan bumi lenyap, tidak mungkin ada satu huruf atau satu titik pun dari Taurat yang tidak terwujud.” (Lukas 3:18; 16:16, 17) Dari mana kita tahu bahwa kata-kata Yesus itu menunjukkan bahwa perubahan sedang terjadi?
Para pemimpin agama Yahudi mengaku bahwa mereka menaati Taurat dan membanggakan hal itu. Contohnya, ketika Yesus menyembuhkan seorang pria buta di Yerusalem, orang Farisi dengan sombong mengatakan, ”Kami murid Musa. Kami tahu bahwa Allah berbicara kepada Musa.” (Yohanes 9:13, 28, 29) Salah satu tujuan Hukum Musa diberikan adalah agar orang-orang yang rendah hati bisa mengenali Mesias, yaitu Yesus. Yohanes Pembaptis menunjukkan bahwa Yesus adalah Mesias dengan menyebut dia sebagai Anak Domba Allah. (Yohanes 1:29-34) Jadi sejak Yohanes memulai pelayanannya, ’Kerajaan Allah telah diberitakan’ kepada orang Yahudi yang rendah hati, terutama mereka yang miskin. Kabar baik telah tersedia bagi semua yang mau menjadi rakyat Kerajaan Allah.
Saat itu, Hukum Musa sedang terwujud, atau mencapai tujuannya, karena Hukum itu membantu orang-orang mengenali Mesias dan menerima bantuannya. Jika Hukum itu sudah terwujud, umat Allah tidak perlu lagi menjalankannya. Misalnya, Hukum itu memperbolehkan pasangan suami istri bercerai karena berbagai alasan, tapi sekarang Yesus mengatakan, ”Kalau seseorang menceraikan istrinya dan menikahi wanita lain, dia berzina. Orang yang menikahi wanita yang diceraikan suaminya itu juga berzina.” (Lukas 16:18) Orang Farisi, yang suka membuat banyak aturan, sangat marah mendengar kata-kata itu.
Yesus lalu menceritakan perumpamaan yang menunjukkan seberapa besar perubahan yang sedang terjadi saat itu. Dalam perumpamaan ini, ada dua tokoh utama. Sambil membacanya, ingatlah bahwa di antara pendengar Yesus waktu itu, ada orang-orang Farisi yang cinta uang dan terpandang di masyarakat.
”Ada seorang pria kaya,” kata Yesus, ”bajunya dari kain ungu dan kain linen yang mahal. Tiap hari dia hidup senang dan mewah. Ada pengemis bernama Lazarus yang sering dibawa ke depan gerbang rumah orang kaya itu. Badannya penuh bisul. Pengemis itu ingin mengisi perutnya dengan sisa makanan yang jatuh dari meja orang kaya itu. Bahkan anjing-anjing sering datang dan menjilati bisulnya.”—Lukas 16:19-21.
Pria kaya itu pastilah orang Farisi yang cinta uang. Sama seperti pria tersebut, para pemimpin agama Yahudi senang memakai pakaian yang mewah dan mahal. Mereka juga ”kaya” karena mendapat banyak kehormatan dan perlakuan istimewa. Maka, kain ungu cocok menggambarkan kedudukan istimewa mereka, dan kain linen yang mahal cocok melambangkan sikap mereka yang sombong.—Daniel 5:7.
Bagaimana pandangan para pemimpin yang kaya dan sombong ini terhadap rakyat miskin? Mereka menghina orang-orang kecil ini dengan sebutan am haarets, atau rakyat negeri. Mereka menganggap orang-orang ini tidak memahami Taurat dan tidak layak diajar tentang Taurat. (Yohanes 7:49) Orang-orang itu seperti ”pengemis bernama Lazarus”, yang menunggu ”sisa makanan yang jatuh dari meja orang kaya itu”. Dan seperti Lazarus yang badannya penuh bisul, rakyat biasa juga dipandang rendah, seolah sakit secara rohani.
Keadaan yang menyedihkan ini sudah berlangsung lama, tapi Yesus tahu bahwa sekarang keadaan akan benar-benar berubah.
KEADAAN BERUBAH
Yesus menceritakan apa yang terjadi. ”Belakangan,” katanya, ”pengemis itu mati dan para malaikat membawanya ke sisi Abraham. Orang kaya itu juga mati dan dikubur. Ketika sedang menderita di Kuburan, dia memandang ke atas dan dari jauh melihat Abraham dan Lazarus di sisinya.”—Lukas 16:22, 23.
Para pendengar Yesus tahu bahwa Abraham sudah lama meninggal. Kitab Suci jelas mengajarkan bahwa semua yang ada di dalam Kuburan tidak bisa melihat ataupun berbicara. (Pengkhotbah 9:5, 10) Jadi, apa maksud Yesus?
Yesus tadi mengatakan bahwa ’Taurat dan Tulisan Para Nabi diberitakan sampai zaman Yohanes Pembaptis, tapi sejak waktu itu, Kerajaan Allah diberitakan sebagai kabar baik’. Jadi, sejak Yohanes dan Yesus memberitakan kabar baik, keadaan Lazarus dan juga pria kaya itu berubah. Mereka seolah-olah mati.
Seperti Lazarus yang miskin, rakyat biasa pada zaman itu tadinya miskin secara rohani. Mereka hidup dari ’sisa makanan yang jatuh dari meja rohani’ para pemimpin agama. Tapi, mereka kemudian menerima kabar baik yang disampaikan oleh Yohanes Pembaptis dan Yesus. Allah pun berkenan kepada mereka, dan mereka sekarang mendapat banyak makanan rohani berupa kebenaran dari Kitab Suci dan terutama dari Yesus.
Sementara itu, para pemimpin agama yang terpandang tidak mau menerima berita Kerajaan yang disampaikan oleh Yohanes dan Yesus. (Matius 3:1, 2; 4:17) Mereka malah panas hati dan menderita saat mendengar berita itu, karena isinya tentang api penghakiman Allah. (Matius 3:7-12) Orang-orang yang cinta uang itu ingin supaya Yesus dan murid-muridnya berhenti menyampaikan berita dari Allah sehingga mereka tidak menderita. Mereka digambarkan seperti pria kaya tadi yang berkata, ”Bapak Abraham, kasihanilah saya. Suruh Lazarus mencelupkan ujung jarinya ke air dan menyejukkan lidah saya. Saya sangat menderita dalam api yang berkobar ini.”—Lukas 16:24.
Tapi, penderitaan mereka tidak akan berakhir. Mengapa? Pertama, kebanyakan pemimpin agama tidak mau berubah. Mereka tidak mau ”mendengarkan tulisan Musa dan Para Nabi”, yang seharusnya membuat mereka mau menerima Yesus sebagai Mesias dan Raja yang Allah tunjuk. (Lukas 16:29, 31; Galatia 3:24) Mereka dengan sombong menolak berita yang disampaikan rakyat biasa yang telah menjadi murid Yesus. Kedua, murid-murid Yesus tidak mungkin mengubah kebenaran hanya untuk menyenangkan para pemimpin agama. Ini terlihat dari kata-kata yang diucapkan ”Bapak Abraham” kepada pria kaya tersebut:
”Nak, ingatlah bahwa selama hidupmu kamu mendapat banyak hal baik, tapi Lazarus mendapat hal-hal buruk. Sekarang dia sedang dihibur di sini, tapi kamu sangat menderita. Selain itu, ada jurang besar yang dibuat di antara kami dan kalian. Dari sini tidak ada yang bisa pergi ke tempat kalian. Dari sana juga tidak ada yang bisa menyeberang ke tempat kami.”—Lukas 16:25, 26.
Perubahan ini benar-benar adil! Para pemimpin agama yang sombong itu menderita, sementara para pengikut Yesus yang rendah hati disegarkan dan diberi makan secara rohani. (Matius 11:28-30) Beberapa bulan kemudian, Allah mencurahkan kuasa kudus-Nya pada hari Pentakosta tahun 33 M, dan perjanjian Hukum Musa diganti dengan perjanjian baru. (Yeremia 31:31-33; Kolose 2:14; Ibrani 8:7-13) Pada saat itu, jurang antara murid-murid Yesus dan para pemimpin agama menjadi semakin besar. Tidak ada yang bisa menyangkal bahwa Allah berkenan kepada para murid, bukan kepada para pemimpin agama.
-
-
Yesus Mengajar di Perea dalam Perjalanan ke YudeaYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 89
Yesus Mengajar di Perea dalam Perjalanan ke Yudea
JANGAN SAMPAI MEMBUAT ORANG TERSANDUNG
MENGAMPUNI DAN BERIMAN
Yesus masih ada di wilayah Perea, di seberang Sungai Yordan. (Yohanes 10:40) Sekarang, dia melanjutkan perjalanannya ke arah selatan menuju Yerusalem.
Yesus tidak sendirian. Murid-muridnya dan juga ”banyak orang” lainnya, termasuk para pemungut pajak dan orang berdosa, ikut dengan dia. (Lukas 14:25; 15:1) Orang Farisi dan para ahli Taurat, yang selalu mengkritik apa yang Yesus katakan dan lakukan, juga ada di sana. Yesus baru memberi mereka nasihat melalui perumpamaan tentang domba yang hilang, anak yang hilang, serta tentang pria kaya dan Lazarus.—Lukas 15:2; 16:14.
Para penentang Yesus berulang kali mengkritik dan mengejeknya. Mungkin karena itulah Yesus sekarang memberi tahu murid-muridnya beberapa hal yang pernah dia bahas di Galilea.
Yesus mengatakan, ”Hal-hal yang membuat orang tersandung pasti akan datang. Tapi, sungguh celaka orang yang menjadi penyebabnya! . . . Hati-hatilah. Kalau saudaramu berbuat dosa, tegur dia, dan kalau dia bertobat, ampuni dia. Kalaupun dia berbuat dosa kepadamu tujuh kali sehari, dan tujuh kali dia berkata kepadamu, ’Aku minta maaf,’ kamu harus ampuni dia.” (Lukas 17:1-4) Kata-kata itu mungkin membuat Petrus ingat pada pertanyaannya tentang mengampuni hingga tujuh kali.—Matius 18:21.
Para murid ingin mengikuti nasihat Yesus itu, jadi mereka berkata kepada Yesus, ”Buatlah iman kami bertambah.” Yesus menjawab, ”Kalau kalian punya iman sebesar biji sesawi saja, kalian bisa berkata kepada pohon murbei hitam ini, ’Tercabutlah dan tertanamlah di laut!’ Dan pohon itu akan menaati kalian.” (Lukas 17:5, 6) Jadi, iman sekecil apa pun bisa membuat hal-hal menakjubkan terjadi.
Yesus kemudian mengajarkan pentingnya bersikap rendah hati. Dia berkata, ”Katakanlah kalian punya budak yang membajak ladang atau menjaga ternak. Saat dia pulang, apa kalian akan berkata, ’Cepat ke sini dan makan di meja’? Sebaliknya, kalian pasti berkata, ’Siapkan makan malam saya. Pakai celemekmu dan layani saya sampai saya selesai makan dan minum. Setelah itu, kamu boleh makan dan minum.’ Kalian tidak akan berterima kasih kepada budak itu karena itu memang sudah tugasnya. Jadi, kalau kalian sudah lakukan semua yang ditugaskan, katakan, ’Kami budak yang tidak berguna. Kami hanya melakukan tugas kami.’”—Lukas 17:7-10.
Setiap budak Allah harus mengutamakan kepentingan Allah. Mereka juga harus ingat bahwa melayani Allah di dalam rumah tangga-Nya adalah suatu kehormatan.
Kelihatannya tak lama setelah itu, datanglah seorang utusan dari Maria dan Marta. Mereka dan saudara mereka Lazarus tinggal di Betani, Yudea. Utusan itu berkata, ”Tuan, sahabat yang Tuan sayangi sedang sakit.”—Yohanes 11:1-3.
Meskipun mendengar kabar buruk itu, Yesus tidak terlalu terpukul. Mengapa? Dia berkata, ”Penyakit itu tidak akan membawa kematian, tapi membawa kemuliaan bagi Allah, supaya Putra Allah dimuliakan melalui hal itu.” Setelah itu, Yesus tidak langsung berangkat ke Yudea. Dua hari kemudian, Yesus baru berkata, ”Ayo kita pergi ke Yudea lagi.” Para murid memprotes, ”Rabi, baru saja orang-orang Yudea berusaha melempari Rabi dengan batu. Sekarang Rabi mau ke sana lagi?”—Yohanes 11:4, 7, 8.
Yesus menjawab, ”Pada siang hari ada 12 jam, kan? Orang yang berjalan pada siang hari tidak akan tersandung apa pun, karena dia melihat terang dunia ini. Tapi orang yang berjalan pada malam hari akan tersandung, karena tidak ada terang dalam dirinya.” (Yohanes 11:9, 10) Maksud Yesus, waktu yang Allah tetapkan untuk pelayanannya belum habis. Tapi, waktunya tinggal sedikit, jadi Yesus harus memanfaatkan sisa waktunya dengan sebaik mungkin.
Yesus lalu berkata, ”Lazarus sahabat kita sudah tidur, tapi aku pergi ke sana untuk membangunkan dia.” Para murid mungkin berpikir bahwa Lazarus memang sedang beristirahat, jadi mereka berkata, ”Tuan, kalau dia tidur, dia akan sembuh.” Maka Yesus dengan terus terang berkata, ”Lazarus sudah mati. . . . Ayo kita pergi ke tempatnya.”—Yohanes 11:11-15.
Tomas tahu bahwa Yesus bisa dibunuh di Yudea, tapi dia mau mendukung Yesus. Jadi dia berkata kepada murid-murid lain, ”Ayo kita pergi juga, supaya kita mati bersama dia.”—Yohanes 11:16.
-
-
”Kebangkitan dan Kehidupan”Yesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 90
”Kebangkitan dan Kehidupan”
SAAT YESUS TIBA DI BETANI, LAZARUS SUDAH MENINGGAL
”KEBANGKITAN DAN KEHIDUPAN”
Yesus sekarang memasuki Betani, sebuah desa yang terletak sekitar tiga kilometer di timur Yerusalem. Maria dan Marta sedang berduka karena Lazarus saudara mereka baru meninggal. Banyak orang datang untuk menghibur mereka.
Ketika Marta mendengar bahwa Yesus hampir sampai, dia cepat-cepat pergi menemui Yesus. Marta mengatakan, ”Tuan, kalau saja Tuan ada di sini, saudaraku tidak akan mati.” Selama empat hari terakhir, mungkin itulah yang dipikirkan Marta dan Maria. Meski begitu, Marta tidak putus asa. Dia percaya Yesus masih bisa melakukan sesuatu untuk saudaranya. ”Aku yakin, apa pun yang Tuan minta kepada Allah akan Allah berikan,” katanya.—Yohanes 11:21, 22.
Yesus menjawab, ”Saudaramu akan hidup lagi.” Marta berpikir bahwa Yesus sedang membicarakan kebangkitan di bumi di masa depan. Marta tahu bahwa Abraham dan hamba-hamba Allah lainnya juga memercayai kebangkitan. Jadi dia berkata, ”Aku tahu dia akan hidup lagi ketika kebangkitan terjadi pada hari terakhir.”—Yohanes 11:23, 24.
Namun, apakah Yesus bisa membangkitkan Lazarus saat itu juga? Dia mengingatkan Marta bahwa dia mempunyai kuasa dari Allah untuk mengalahkan kematian. Yesus berkata, ”Orang yang beriman kepadaku akan hidup lagi meskipun sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan beriman kepadaku tidak akan pernah mati.”—Yohanes 11:25, 26.
Yesus tidak memaksudkan bahwa para muridnya yang saat itu masih hidup tidak akan pernah mati. Bahkan Yesus sendiri harus mati, seperti yang sudah dia beri tahukan kepada para rasulnya. (Matius 16:21; 17:22, 23) Jadi, apa maksud Yesus? Yesus menunjukkan bahwa semua orang yang beriman kepadanya akan mendapat kehidupan abadi. Jika mereka mati, mereka akan mendapat kehidupan abadi setelah dibangkitkan. Tapi, ada juga hamba-hamba Allah di akhir zaman yang mungkin tidak akan pernah mati. Jadi, tidak soal mereka pernah mati atau tidak, mereka tidak akan mengalami kematian yang abadi.
Sekarang, apakah Yesus sanggup membangkitkan Lazarus, yang sudah mati beberapa hari? Yesus mengatakan, ”Akulah kebangkitan dan kehidupan.” Dia lalu bertanya kepada Marta, ”Apa kamu percaya?” Marta menjawab, ”Ya, Tuan, aku percaya Tuan adalah Kristus, Putra Allah, yang datang ke dunia.”Marta beriman bahwa Yesus bisa melakukan sesuatu pada hari itu juga. Dia pun cepat-cepat kembali ke rumah dan berbisik kepada Maria, ”Guru sudah datang, dan dia panggil kamu.” (Yohanes 11:25-28) Maria langsung pergi untuk menemui Yesus. Orang-orang mengikuti dia karena berpikir bahwa dia akan mengunjungi makam Lazarus.
Ketika melihat Yesus, Maria sujud di kakinya dan menangis. Dia mengulangi kata-kata Marta, ”Tuan, kalau saja Tuan ada di sini, saudaraku tidak akan mati.” Karena melihat Maria dan banyak orang lainnya menangis, Yesus sangat sedih dan meneteskan air mata. Orang-orang di sana bisa melihat bahwa dia sangat menyayangi Lazarus. Tapi ada juga yang berpikir, ’Kalau Yesus bisa menyembuhkan orang yang buta dari lahir, kenapa dia tidak bisa mencegah Lazarus meninggal?’—Yohanes 11:32, 37.
-
-
Lazarus DibangkitkanYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 91
Lazarus Dibangkitkan
KEBANGKITAN LAZARUS
RENCANA SANHEDRIN UNTUK MEMBUNUH YESUS
Setelah Yesus bertemu dengan Marta dan Maria di dekat Betani, mereka pergi ke makam Lazarus. Makam itu adalah sebuah gua yang ditutup dengan batu besar. Yesus memerintahkan, ”Singkirkan batunya.” Karena tidak memahami apa yang akan Yesus lakukan, Marta keberatan dan berkata, ”Tuan, dia pasti sudah bau, karena dia sudah mati empat hari.” Namun Yesus mengatakan, ”Bukankah aku sudah bilang, kalau kamu percaya kamu akan lihat kemuliaan Allah?”—Yohanes 11:39, 40.
Jadi, batu itu pun disingkirkan. Yesus lalu memandang ke atas dan berdoa, ”Bapak, aku bersyukur kepada-Mu karena Engkau telah mendengar aku. Aku tahu Engkau memang selalu mendengar aku, tapi aku berbicara demi orang-orang yang berdiri di sini, supaya mereka percaya bahwa Engkau mengutus aku.” Dengan berdoa, Yesus menunjukkan kepada orang-orang bahwa apa yang akan dia lakukan bisa terjadi karena kuasa Allah. Yesus lalu memanggil dengan suara keras, ”Lazarus, keluarlah!” Dan saat itu juga, keluarlah Lazarus. Tangan dan kakinya masih terbungkus kain, dan mukanya juga masih tertutup kain. ”Lepaskan kainnya supaya dia bisa jalan,” kata Yesus.—Yohanes 11:41-44.
Banyak orang Yahudi yang datang untuk menghibur Maria dan Marta menyaksikan mukjizat luar biasa ini. Mereka pun beriman kepada Yesus. Tapi, ada juga yang pergi untuk memberi tahu orang Farisi tentang apa yang Yesus lakukan. Maka, orang Farisi dan para imam kepala mengadakan rapat di Sanhedrin, mahkamah agung Yahudi. Salah satu anggota Sanhedrin adalah imam besar yang bernama Kayafas. Dengan panik, para anggota mahkamah itu berkata, ”Apa yang harus kita lakukan? Orang itu membuat banyak mukjizat. Kalau kita membiarkan dia begini terus, semua orang akan beriman kepadanya, dan orang Romawi akan datang dan mengambil alih tempat kita maupun bangsa kita.” (Yohanes 11:47, 48) Mereka sudah mendengar laporan dari orang-orang yang melihat langsung Yesus ”membuat banyak mukjizat” dengan kuasa dari Allah. Tapi bukannya senang, mereka malah menganggap Yesus sebagai saingan mereka.
Kebangkitan Lazarus merupakan tamparan keras bagi orang Saduki yang tidak percaya kebangkitan. Kayafas, yang adalah orang Saduki, berbicara di depan Sanhedrin, ”Kalian tidak tahu apa-apa, dan kalian tidak sadar bahwa lebih baik satu orang mati demi satu bangsa daripada seluruh bangsa dimusnahkan.”—Yohanes 11:49, 50; Kisah 5:17; 23:8.
Maksud Kayafas, Yesus harus dibunuh supaya pemimpin agama Yahudi tidak kehilangan pengikut. Tapi, Alkitab mengatakan bahwa kata-kata itu tidak berasal ”dari pikiran [Kayafas] sendiri”. Kayafas adalah imam besar, jadi Yehuwa menggunakan dia untuk bernubuat bahwa kematian Yesus akan menjadi tebusan. Yesus akan menebus semua ’anak Allah yang terpencar’, bukan hanya orang Yahudi.—Yohanes 11:51, 52.
Kayafas berhasil memengaruhi Sanhedrin untuk membunuh Yesus. Apakah Nikodemus, seorang anggota Sanhedrin yang baik kepada Yesus, memberi tahu Yesus tentang rencana ini? Kita tidak tahu pasti, tapi mungkin itulah yang membuat Yesus menjauh dari Yerusalem, karena waktu yang Allah tetapkan untuk kematiannya belum tiba.
-
-
Dari Sepuluh Penderita Kusta, Hanya Satu yang Berterima KasihYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 92
Dari Sepuluh Penderita Kusta, Hanya Satu yang Berterima Kasih
YESUS MENYEMBUHKAN SEPULUH PENDERITA KUSTA
Karena Sanhedrin berencana untuk membunuhnya, Yesus pergi ke kota Efraim, di sebelah timur laut kota Yerusalem. Dia tinggal di sana selama beberapa waktu bersama murid-muridnya, jauh dari para musuhnya. (Yohanes 11:54) Namun, sebentar lagi adalah Paskah tahun 33 M, jadi Yesus pergi melewati Samaria ke Galilea di utara untuk mengunjungi daerah ini terakhir kalinya sebelum dia meninggal.
Di awal perjalanannya, saat sedang menyusuri desa-desa, Yesus bertemu dengan sepuluh penderita kusta. Beberapa jenis kusta bisa membuat penderitanya kehilangan anggota tubuh, seperti jari tangan, jari kaki, atau telinga. (Bilangan 12:10-12) Menurut Hukum Allah, seorang penderita kusta wajib berteriak, ”Najis! Najis!” dan tinggal di tempat yang terasing dari orang-orang lain.—Imamat 13:45, 46.
Jadi, kesepuluh penderita kusta itu tidak berani dekat-dekat dengan Yesus. Namun, mereka berteriak dari jauh, ”Yesus, Guru, kasihanilah kami!” Saat melihat mereka, Yesus berkata, ”Pergilah, perlihatkan diri kalian kepada para imam.” (Lukas 17:13, 14) Kata-kata Yesus menunjukkan bahwa dia merespek Hukum Allah. Hukum itu mengatakan bahwa imamlah yang berhak menyatakan bahwa seorang penderita kusta sudah sembuh. Setelah dinyatakan sembuh, barulah mereka bisa kembali tinggal bersama orang-orang lain.—Imamat 13:9-17.
Kesepuluh penderita kusta itu beriman kepada Yesus. Jadi meski belum sembuh, mereka pergi untuk menemui para imam. Dan iman mereka pun diberkati. Dalam perjalanan, mereka bisa melihat dan merasakan bahwa mereka berangsur-angsur sembuh!
Sembilan dari penderita kusta yang sudah sembuh itu melanjutkan perjalanan mereka. Tapi satu pria lagi, yang adalah orang Samaria, kembali untuk mencari Yesus. Dia ”berseru memuliakan Allah”, karena dia sadar bahwa Allah-lah yang menyembuhkan dia. (Lukas 17:15) Ketika dia bertemu dengan Yesus, dia sujud dan berterima kasih kepadanya.
Yesus bertanya kepada orang-orang yang ada di situ, ”Yang disembuhkan ada sepuluh orang, kan? Tapi mana yang sembilan lagi? Kenapa mereka tidak kembali untuk memuliakan Allah, dan hanya orang dari bangsa lain ini yang melakukannya?” Yesus lalu memberi tahu orang Samaria itu, ”Bangun dan pergilah. Imanmu sudah membuat kamu sembuh.”—Lukas 17:17-19.
Dengan menyembuhkan sepuluh penderita kusta itu, Yesus menunjukkan bahwa dia menerima kuasa dari Allah Yehuwa. Penderita kusta yang berterima kasih kepada Yesus itu tidak hanya disembuhkan, tapi kemungkinan besar juga mendapatkan kehidupan abadi. Pada zaman kita, Allah tidak lagi memakai Yesus untuk menyembuhkan orang secara mukjizat. Tapi, jika kita beriman kepada Yesus, kita akan mendapat kehidupan abadi. Seperti orang Samaria itu, apakah kita menunjukkan bahwa kita bersyukur?
-
-
Putra Manusia Menunjukkan KuasanyaYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 93
Putra Manusia Menunjukkan Kuasanya
”KERAJAAN ALLAH ADA DI TENGAH-TENGAH KALIAN”
APA YANG AKAN TERJADI KETIKA YESUS MENUNJUKKAN KUASANYA?
Yesus sekarang masih berada di Samaria atau Galilea. Orang Farisi bertanya kepadanya tentang kedatangan Kerajaan Allah, yang mereka pikir akan seperti acara yang meriah. Namun Yesus berkata, ”Kerajaan Allah tidak datang dengan cara yang sangat mencolok. Juga, orang tidak akan berkata, ’Lihat, itu ada di sini!’ atau, ’Lihat, itu ada di sana!’ karena Kerajaan Allah ada di tengah-tengah kalian.”—Lukas 17:20, 21.
Beberapa orang bisa jadi berpikir bahwa maksud Yesus, Kerajaan Allah ada di dalam hati setiap hamba Allah. Namun, ini tidak masuk akal. Yesus waktu itu sedang berbicara kepada orang-orang Farisi, dan Kerajaan Allah tidak mungkin ada di hati mereka. Tapi, Kerajaan itu ada di tengah-tengah mereka karena Yesus, yang akan menjadi Raja Kerajaan itu, ada bersama mereka.—Matius 21:5.
Kelihatannya setelah orang-orang Farisi pergi, Yesus memberi para muridnya lebih banyak penjelasan tentang kedatangan Kerajaan ini. Yesus berkata, ”Pada waktunya nanti, kalian akan berharap untuk melihat satu hari dari masa Putra manusia, tapi kalian tidak akan melihatnya.” (Lukas 17:22) Yesus menunjukkan bahwa Putra manusia baru akan memerintah dalam Kerajaan Allah di masa depan. Para pengikut Yesus mungkin sudah menunggu-nunggu hal tersebut. Tapi, Allah sudah menentukan kapan Putra manusia akan datang.
Yesus melanjutkan, ”Orang akan berkata, ’Lihat, [Mesias] di sana!’ atau, ’Lihat, dia di sini!’ Jangan pergi atau mengikuti mereka.” (Lukas 17:23) Apakah para pengikut Yesus bisa tahu mana Mesias yang asli? Yesus berkata, ”Sama seperti kilat memancar dari ujung langit ke ujung langit, begitulah Putra manusia pada harinya.” (Lukas 17:24) Jadi, kedatangan Mesias akan seperti kilat yang terlihat di mana-mana. Bukti kehadirannya sebagai Raja Kerajaan Allah akan terlihat jelas oleh semua orang yang benar-benar menantikannya.
Yesus lalu menyamakan sikap orang-orang pada masa kehadirannya dengan zaman Nuh dan Lot. Dia berkata, ”Masa Putra manusia akan sama seperti zaman Nuh . . . juga dengan zaman Lot: orang makan, minum, membeli, menjual, menanam, dan membangun. Tapi pada hari Lot keluar dari Sodom, api dan belerang turun dari langit dan memusnahkan semua orang itu. Itu juga yang akan terjadi pada hari Putra manusia menunjukkan kuasanya.”—Lukas 17:26-30.
Yesus tidak memaksudkan bahwa orang-orang pada zaman Nuh dan Lot dimusnahkan karena melakukan hal-hal yang normal, seperti makan, minum, berdagang, bertani, dan lain-lain. Nuh dan Lot serta keluarga mereka juga melakukan hal-hal itu. Yang salah adalah karena orang-orang itu tidak memikirkan kehendak Allah dan tidak paham bahwa masa mereka hidup adalah masa yang sangat penting. Maka, Yesus menasihati para pengikutnya untuk memperhatikan apa kehendak Allah dan terus melakukannya. Dengan begitu, mereka akan tetap hidup ketika Allah memusnahkan orang-orang jahat di masa depan.
Para pengikut Yesus tidak boleh terlalu sibuk dengan kegiatan sehari-hari sampai-sampai mereka melupakan hal-hal rohani. Yesus mengatakan, ”Pada hari itu, orang yang ada di atap rumah jangan turun untuk mengambil barang yang ada di dalam rumah. Begitu juga orang yang ada di ladang jangan kembali untuk mengambil barang-barangnya. Ingat istri Lot.” (Lukas 17:31, 32) Dia menjadi patung garam.
Yesus lalu memberitahukan apa lagi yang akan terjadi sewaktu Putra manusia menjadi Raja: ”Malam itu, kalau ada dua orang di satu tempat tidur, yang satu akan dibawa, tapi yang lain akan ditinggal.” (Lukas 17:34) Jadi, ada yang akan diselamatkan, tapi ada juga yang tidak.
Para murid bertanya, ”Di mana itu akan terjadi, Tuan?” Yesus menjawab, ”Di mana ada mayat, di situ elang akan berkumpul.” (Lukas 17:37) Seperti elang yang punya jarak pandang yang jauh, para pengikut Yesus akan bisa mengenali Kristus yang sejati dan datang kepadanya. Pada saat itu, Yesus akan memberikan kebenaran yang bisa menyelamatkan kehidupan murid-muridnya yang beriman.
-
-
Pentingnya Doa dan Kerendahan HatiYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 94
Pentingnya Doa dan Kerendahan Hati
PERUMPAMAAN TENTANG SEORANG JANDA YANG PANTANG MENYERAH
SEORANG FARISI DAN SEORANG PEMUNGUT PAJAK
Yesus sudah pernah menceritakan sebuah perumpamaan yang menunjukkan pentingnya terus berdoa. (Lukas 11:5-13) Sekarang, Yesus bisa jadi berada di Samaria atau Galilea, dan dia ingin kembali mengajarkan bahwa kita harus pantang menyerah sewaktu berdoa meminta sesuatu. Untuk itu, dia menceritakan perumpamaan lain:
”Di sebuah kota, ada hakim yang tidak takut kepada Allah dan tidak menghormati orang. Di kota itu ada juga seorang janda yang berkali-kali datang kepadanya dan berkata, ’Buatlah keputusan yang adil antara saya dan lawan saya di pengadilan.’ Nah, selama beberapa waktu, hakim itu tidak mau. Tapi akhirnya dia berkata dalam hati, ’Aku memang tidak takut kepada Allah ataupun menghormati orang. Tapi karena janda ini terus-terusan mengganggu aku, aku akan bantu dia mendapat keadilan, supaya dia tidak datang terus dan membuat aku lelah dengan permintaannya.’”—Lukas 18:2-5.
Yesus lalu menjelaskan artinya: ”Coba dengar apa yang dikatakan hakim itu, padahal dia bukan orang benar! Jadi, Allah pasti akan menegakkan keadilan bagi orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya. Dia juga akan bersabar kepada mereka.” (Lukas 18:6, 7) Apa yang Yesus ajarkan tentang Bapaknya?
Yesus jelas tidak memaksudkan bahwa Allah Yehuwa mirip dengan hakim yang tidak benar itu. Maksud Yesus, kalau hakim manusia yang tidak benar saja akhirnya mengabulkan permintaan janda itu karena dia pantang menyerah, apalagi Allah yang selalu adil dan sempurna. Dia pasti akan menjawab doa umat-Nya jika mereka terus meminta. Yesus sendiri mengatakan, ”Aku memberi tahu kalian, Allah pasti akan menegakkan keadilan bagi mereka dengan cepat.”—Lukas 18:8.
Orang kecil dan orang miskin biasanya diperlakukan dengan tidak adil, sementara orang yang berkuasa dan kaya mendapat perlakuan istimewa. Tapi di masa depan, Allah akan menegakkan keadilan dengan menghukum orang jahat dan memberi umat-Nya kehidupan abadi.
Yesus baru saja memberikan perumpamaan tentang perlunya berdoa tanpa henti. Sekarang, Yesus membahas soal iman, yang sangat dibutuhkan saat kita berdoa. Berapa banyak orang yang beriman seperti janda tadi, yang yakin bahwa Allah akan ”menegakkan keadilan bagi mereka dengan cepat”? Yesus bertanya, ”Ketika Putra manusia datang, apa dia akan menemukan iman seperti itu di bumi?” (Lukas 18:8) Ini menyiratkan bahwa ketika Kristus datang, hanya ada sedikit orang yang beriman seperti janda itu.
Sejumlah orang yang mendengarkan Yesus yakin bahwa mereka sudah beriman. Mereka merasa sudah melakukan apa yang benar, dan mereka memandang rendah orang lain. Yesus menceritakan sebuah perumpamaan kepada mereka:
”Dua pria pergi ke bait untuk berdoa, yang satu orang Farisi dan yang satu lagi pemungut pajak. Orang Farisi itu berdiri dan mulai berdoa dalam hati, ’Ya Allah, aku bersyukur aku tidak seperti orang lain, para pemeras, orang yang tidak benar, pezina, atau bahkan seperti pemungut pajak ini. Aku puasa dua kali seminggu; aku memberikan sepersepuluh dari semua penghasilanku.’”—Lukas 18:10-12.
Orang Farisi ingin mencari muka dengan melakukan hal-hal yang kelihatannya saleh. Misalnya, mereka berpuasa setiap hari Senin dan Kamis. Pada hari-hari tersebut, pasar-pasar besar biasanya sangat ramai, jadi banyak orang akan melihat mereka. Mereka juga selalu mengikuti aturan-aturan yang kecil, seperti memberikan sepersepuluh dari beberapa jenis tanaman. (Lukas 11:42) Beberapa bulan sebelumnya, mereka dengan sombong mengatakan, ”Orang-orang ini, yang tidak mengerti Taurat [menurut orang Farisi], adalah orang-orang terkutuk.”—Yohanes 7:49.
Yesus melanjutkan perumpamaannya, ”Tapi, pemungut pajak itu, yang berdiri di kejauhan, bahkan tidak berani melihat ke langit. Dia terus memukuli dadanya sambil berkata, ’Ya Allah, kasihanilah aku, orang berdosa ini.’” Pemungut pajak itu dengan rendah hati mengakui kesalahannya. Yesus menyimpulkan, ”Sewaktu orang ini pulang, Allah menganggap dia lebih benar daripada orang Farisi itu. Karena setiap orang yang meninggikan diri akan dipermalukan, tapi siapa pun yang merendahkan diri akan ditinggikan.”—Lukas 18:13, 14.
Intinya, Yesus mengajarkan bahwa kerendahan hati itu penting. Nasihat ini cocok bagi para muridnya, karena mereka hidup di antara orang Farisi yang menomorsatukan kedudukan. Ini juga nasihat yang bagus bagi semua pengikut Yesus.
-
-
Yesus Membahas Perceraian dan Menunjukkan bahwa Dia Menyayangi Anak-AnakYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 95
Yesus Membahas Perceraian dan Menunjukkan bahwa Dia Menyayangi Anak-Anak
MATIUS 19:1-15 MARKUS 10:1-16 LUKAS 18:15-17
YESUS MEMBERITAHUKAN PANDANGAN ALLAH TENTANG PERCERAIAN
ORANG YANG MEMILIH UNTUK TIDAK MENIKAH
TELADAN ANAK-ANAK
Dari Galilea, Yesus dan murid-muridnya menyeberangi Sungai Yordan lalu berjalan ke arah selatan melewati Perea. Terakhir kali Yesus berada di Perea, dia memberi tahu orang Farisi pandangan Allah tentang perceraian. (Lukas 16:18) Sekarang, mereka mengangkat topik itu lagi untuk menjebak Yesus.
Musa menulis bahwa seorang wanita bisa diceraikan jika dia melakukan ”hal yang tidak pantas”. (Ulangan 24:1) Orang punya pendapat yang berbeda-beda tentang apa saja yang bisa dianggap sebagai dasar untuk perceraian. Ada yang merasa bahwa itu mencakup hal-hal sepele. Jadi orang Farisi bertanya, ”Bolehkah pria menceraikan istrinya dengan alasan apa pun?”—Matius 19:3.
Yesus tidak mau membahas pandangan manusia tentang perceraian. Sebaliknya, dia dengan bijaksana berbicara tentang pandangan Allah soal perkawinan. Dia berkata, ”Apa kalian belum pernah baca bahwa awalnya, Allah menciptakan manusia sebagai laki-laki dan perempuan? Allah berkata, ’Karena itu seorang pria akan meninggalkan ayah dan ibunya dan akan terus bersama istrinya, dan keduanya akan menjadi satu.’ Jadi, apa yang telah disatukan Allah tidak boleh dipisahkan manusia.” (Matius 19:4-6) Ya, ketika Allah mempersatukan Adam dan Hawa, Dia tidak membuat pengaturan untuk perceraian.
Orang Farisi memprotes, ”Kalau begitu, kenapa Musa menyuruh pria memberikan surat cerai untuk menceraikan istrinya?” (Matius 19:7) Yesus menjawab, ”Musa memberi kalian kelonggaran untuk menceraikan istri kalian karena kalian keras kepala, tapi awalnya tidak begitu.” (Matius 19:8) Awal yang Yesus maksudkan bukanlah zaman Musa. Awal itu adalah ketika Allah pertama kali membentuk perkawinan di Eden.
Sekarang, Yesus memberitahukan sebuah aturan penting: ”Saya katakan kepada kalian, kalau seseorang menceraikan istrinya, kecuali karena perbuatan cabul [Yunani, porneia] lalu menikah dengan orang lain, dia berzina.” (Matius 19:9) Jadi menurut Alkitab, perbuatan cabul adalah satu-satunya dasar untuk perceraian.
Mendengar itu, murid-murid berkata, ”Kalau situasinya memang seperti itu bagi suami dan istri, lebih baik tidak menikah.” (Matius 19:10) Jelaslah, orang yang ingin menikah harus sadar bahwa perkawinan sangat serius dan mereka tidak bisa seenaknya berpisah.
Mengenai orang yang tidak menikah, Yesus menjelaskan bahwa ada orang yang tidak bisa melakukan hubungan seks karena mereka terlahir seperti itu. Ada juga yang tidak bisa melakukan hubungan seks karena dibuat seperti itu oleh orang lain. Namun, ada juga orang yang sebenarnya punya hasrat seksual tapi menahannya supaya pelayanan mereka kepada Allah tidak terganggu. Yesus lalu memberikan nasihat, ”Kalau seseorang bisa menjalankan kehidupan seperti itu [tidak menikah], biarlah dia menjalankannya.”—Matius 19:12.
Sekarang, orang-orang mulai membawa anak-anak kecil kepada Yesus. Namun, para murid marah karena mereka takut anak-anak itu mengganggu Yesus. Yesus pun menegur para murid, ”Biarkan anak-anak kecil itu datang kepadaku. Jangan halangi mereka, karena Kerajaan Allah akan menjadi milik orang-orang seperti mereka. Sesungguhnya kukatakan, orang yang tidak menerima Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil tidak akan masuk ke dalamnya.”—Markus 10:14, 15; Lukas 18:15.
Ini pelajaran yang sangat bagus! Untuk bisa menerima Kerajaan Allah, kita harus rendah hati dan mau belajar seperti anak kecil. Yesus kemudian menunjukkan bahwa dia menyayangi anak-anak. Dia merangkul dan memberkati mereka. Yesus juga menyayangi semua orang yang ”menerima Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil”.—Lukas 18:17.
-
-
Yesus Menjawab Pertanyaan Seorang Pemimpin yang KayaYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 96
Yesus Menjawab Pertanyaan Seorang Pemimpin yang Kaya
MATIUS 19:16-30 MARKUS 10:17-31 LUKAS 18:18-30
SEORANG PRIA KAYA BERTANYA TENTANG CARANYA MENDAPAT KEHIDUPAN ABADI
Sewaktu Yesus masih berjalan melewati Perea menuju Yerusalem, seorang pemuda kaya berlari mendekati Yesus lalu berlutut. Dia adalah ”seorang pemimpin Yahudi”, mungkin ketua sinagoga atau anggota Sanhedrin. ”Guru Yang Baik,” katanya, ”apa yang harus saya lakukan untuk mewarisi kehidupan abadi?”—Lukas 8:41; 18:18; 24:20.
”Kenapa kamu menyebut saya baik?” tanya Yesus. ”Tidak ada yang baik selain Allah.” (Lukas 18:19) Pria muda itu memanggil Yesus ”Guru Yang Baik” karena para guru agama biasanya ingin dipanggil dengan gelar itu. Yesus memang mengajar dengan baik, tapi dia berkata bahwa tidak boleh ada orang yang diberi gelar ”Yang Baik”. Itu adalah gelar milik Allah.
Untuk menjawab pertanyaan pria itu, Yesus berkata, ”Kalau kamu ingin mendapat kehidupan, teruslah jalankan perintah-perintah Allah.” Pria itu pun bertanya, ”Yang mana?” Yesus lalu mengutip lima dari Sepuluh Perintah, yaitu tentang pembunuhan, perzinaan, pencurian, memberikan kesaksian palsu, dan menghormati orang tua. Setelah itu, Yesus menambahkan sebuah perintah yang lebih penting, yaitu: ”Kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri.”—Matius 19:17-19.
Pria itu berkata, ”Saya sudah taati semuanya. Apa lagi yang kurang dari saya?” (Matius 19:20) Dia mungkin berpikir bahwa ada kebaikan yang bisa dia lakukan supaya dia bisa mendapat kehidupan abadi. ”Yesus memandang dia dengan penuh kasih” karena dia melihat bahwa pria ini benar-benar tulus. (Markus 10:21) Tapi, ada sesuatu yang menghalangi pria itu.
Dia mencintai hartanya. Maka Yesus mengatakan, ”Ada satu yang belum kamu lakukan. Jual hartamu lalu berikan hasilnya kepada orang miskin, dan kamu akan punya harta di surga. Dan mari jadilah pengikutku.” Pria itu seharusnya memberikan uangnya kepada orang miskin, yang tidak bisa membalasnya, lalu menjadi pengikut Yesus. Namun sayangnya, setelah mendengar kata-kata Yesus, pria tersebut berdiri lalu pergi dengan pedih hati. Karena begitu mencintai ’hartanya yang banyak’, pria itu tidak mendapatkan harta yang benar-benar berharga. (Markus 10:21, 22) Yesus menyimpulkan, ”Betapa susahnya bagi orang yang banyak uang untuk masuk ke Kerajaan Allah!”—Lukas 18:24.
Yesus melanjutkan, ”Sebenarnya, lebih gampang unta masuk ke lubang jarum jahit daripada orang kaya masuk ke Kerajaan Allah.” Mendengar itu, para murid menjadi bingung dan tidak yakin apakah keselamatan bisa didapatkan oleh manusia. Mereka pun bertanya, ”Jadi siapa yang bisa selamat?” Yesus meyakinkan mereka, ”Hal yang mustahil bagi manusia tidak mustahil bagi Allah.”—Lukas 18:25-27.
Petrus lalu berkata bahwa mereka tidak seperti pemuda kaya tadi. Dia mengatakan, ”Kami sudah meninggalkan segalanya dan mengikutimu. Jadi apa yang akan kami terima?” Yesus memberitahukan berkat apa yang akan mereka terima: ”Pada waktu penciptaan kembali, sewaktu Putra manusia duduk di takhtanya yang mulia, kalian yang telah mengikuti aku akan duduk di 12 takhta dan menghakimi ke-12 suku Israel.”—Matius 19:27, 28.
Yesus pasti sedang membicarakan masa depan, saat bumi kembali menjadi seperti Taman Eden. Petrus dan murid-murid lainnya akan mendapat kehormatan untuk memerintah bersama Yesus atas bumi Firdaus. Jadi, pengorbanan apa pun yang mereka buat tidak ada apa-apanya dibandingkan berkat yang luar biasa itu!
Selain berkat di masa depan, ada juga berkat-berkat yang bisa mereka dapatkan saat itu. Yesus berjanji, ”Siapa pun yang sudah meninggalkan rumahnya atau istrinya atau kakaknya atau adiknya atau orang tuanya atau anaknya demi Kerajaan Allah akan mendapat berkali-kali lebih banyak di zaman sekarang. Dan di zaman yang akan datang, dia akan mendapat kehidupan abadi.”—Lukas 18:29, 30.
Ke mana pun para murid pergi, mereka bisa akrab dengan rekan-rekan seiman mereka. Persaudaraan ini bahkan jauh lebih berharga daripada hubungan keluarga. Kelihatannya, karena tidak mengikuti Yesus, pemuda kaya tadi tidak mendapatkan berkat ini ataupun kehidupan dalam Kerajaan surga.
Yesus menambahkan, ”Banyak orang yang pertama akan menjadi yang terakhir, dan yang terakhir menjadi yang pertama.” (Matius 19:30) Apa maksud Yesus?
Sebagai pemimpin orang Yahudi, pemuda kaya itu termasuk ”orang yang pertama”. Karena menaati perintah-perintah Allah, dia sebenarnya punya potensi untuk menjadi murid Yesus. Tapi, dia lebih mementingkan kekayaannya. Sebaliknya, rakyat biasa menyadari bahwa ajaran Yesus adalah kebenaran dan jalan menuju kehidupan. Mereka tadinya adalah ”yang terakhir”, tapi mereka sekarang akan menjadi ”yang pertama”. Mereka akan menjadi raja di surga bersama Yesus dan memerintah atas bumi Firdaus.
-
-
Perumpamaan tentang Para Pekerja Kebun AnggurYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 97
Perumpamaan tentang Para Pekerja Kebun Anggur
PARA PEKERJA YANG TERAKHIR AKAN MENJADI YANG PERTAMA
Di Perea, Yesus baru saja mengajar bahwa ”banyak orang yang pertama akan menjadi yang terakhir, dan yang terakhir menjadi yang pertama”. (Matius 19:30) Untuk memperjelas hal itu, Yesus sekarang memberikan perumpamaan tentang para pekerja di kebun anggur:
”Kerajaan surga itu seperti seorang tuan rumah yang keluar pada pagi hari untuk mencari pekerja bagi kebun anggurnya. Setelah dia dan pekerja-pekerja itu setuju dengan upah satu dinar sehari, dia menyuruh mereka pergi ke kebun anggurnya. Sekitar jam sembilan pagi, dia keluar lagi dan melihat orang-orang yang menganggur di pasar. Dia berkata kepada mereka, ’Kalian juga, pergilah ke kebun anggur saya, dan saya akan memberi kalian upah yang pantas.’ Mereka pun pergi. Sekitar jam 12 siang dan jam 3 sore, dia keluar lagi dan melakukan hal yang sama. Akhirnya, sekitar jam lima sore, dia keluar dan bertemu orang-orang lain yang sedang berdiri saja, dan dia berkata kepada mereka, ’Kenapa kalian menganggur dan berdiri di sini seharian?’ Mereka menjawab, ’Karena tidak ada yang memanggil kami untuk bekerja.’ Dia berkata, ’Kalian juga, pergilah ke kebun anggur saya.’”—Matius 20:1-7.
Ketika mendengar tentang ”Kerajaan surga” dan ”seorang tuan rumah”, para pendengar Yesus kemungkinan besar langsung berpikir tentang Allah Yehuwa. Dalam beberapa ayat, Yehuwa pernah digambarkan sebagai pemilik sebuah kebun anggur, yang adalah Israel sebagai suatu bangsa. (Mazmur 80:8, 9; Yesaya 5:3, 4) Para pekerja kebun anggur menggambarkan orang-orang yang berada di bawah perjanjian Hukum Musa. Tapi, Yesus tidak membicarakan orang Israel di zaman dulu. Dalam perumpamaan ini, dia sedang membicarakan keadaan pada zamannya.
Yesus bercerita bahwa ada beberapa orang yang bekerja seharian dan berharap mendapatkan upah satu dinar. Mereka cocok menggambarkan para pemimpin agama dan orang Farisi, yang mengaku bekerja keras bagi Allah.
Para pemimpin agama ini menganggap orang Yahudi lainnya tidak melayani Allah serajin mereka. Dalam perumpamaan Yesus, orang Yahudi lainnya ini seperti orang yang mulai bekerja belakangan, yaitu sekitar jam 9 pagi, jam 12 siang, jam 3 sore, dan akhirnya jam 5 sore.
Orang Farisi menganggap para pengikut Yesus sebagai ”orang-orang terkutuk”. (Yohanes 7:49) Sebelum menjadi pengikut Yesus, mereka adalah nelayan atau pekerja rendahan. Kemudian, pada musim gugur tahun 29 M, ”pemilik kebun anggur” mengutus Yesus untuk mengajak mereka bekerja bagi Allah. Merekalah para pekerja ”yang terakhir”, yang bekerja mulai jam lima sore.
Yesus lalu bercerita tentang apa yang terjadi ketika jam kerja mereka selesai: ”Ketika malam tiba, pemilik kebun anggur itu berkata kepada mandornya, ’Panggil para pekerja dan bayar upah mereka, mulai dari yang masuk terakhir sampai yang pertama.’ Ketika para pekerja yang masuk jam lima sore datang, mereka masing-masing menerima satu dinar. Maka ketika para pekerja yang masuk paling awal datang, mereka pikir mereka akan menerima lebih banyak, tapi mereka pun dibayar satu dinar. Saat menerimanya, mereka mulai mengeluh kepada tuan rumah itu dan berkata, ’Orang-orang yang terakhir ini hanya bekerja satu jam, tapi kamu membayar mereka sama dengan kami yang bekerja keras seharian di bawah terik matahari!’ Tapi, dia menjawab salah satu dari mereka, ’Kawan, saya tidak bersalah kepadamu. Kita setuju dengan upah satu dinar, kan? Ambil upahmu dan pergilah. Saya mau memberi orang yang datang terakhir ini upah yang sama denganmu. Saya berhak berbuat semau saya dengan milik saya, kan? Atau, apa kamu iri karena saya baik?’ Dengan begitu, yang terakhir akan menjadi yang pertama, dan yang pertama menjadi yang terakhir.”—Matius 20:8-16.
Para murid tidak begitu mengerti maksud kata-kata Yesus di akhir perumpamaannya. Bagaimana para pemimpin agama, yang merasa diri sebagai ”yang pertama”, akan menjadi ”yang terakhir”? Dan bagaimana para pengikut Yesus akan menjadi ”yang pertama”?
Para murid Yesus, yang dianggap sebagai ”yang terakhir”, akan menjadi ”yang pertama” dan mendapat upah penuh. Setelah Yesus mati, bangsa Israel jasmani ditolak oleh Allah, dan Allah memilih bangsa baru, yaitu ”Israel milik Allah”. (Galatia 6:16; Matius 23:38) Bangsa baru ini dibaptis dengan kuasa kudus, seperti yang dinubuatkan Yohanes Pembaptis. Mereka pun menjadi yang pertama menerima baptisan itu dan diberi kehormatan untuk bersaksi tentang Yesus ”sampai ke bagian yang paling jauh di bumi”. (Kisah 1:5, 8; Matius 3:11) Karena Yesus sudah menjelaskan bahwa keadaan para murid dan para pemimpin agama akan berubah drastis, para murid mungkin sudah tahu bahwa mereka akan dibenci oleh para pemimpin agama.
-
-
Para Rasul Lagi-Lagi Ingin Menjadi yang TerbesarYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 98
Para Rasul Lagi-Lagi Ingin Menjadi yang Terbesar
MATIUS 20:17-28 MARKUS 10:32-45 LUKAS 18:31-34
YESUS KEMBALI MENUBUATKAN KEMATIANNYA
REAKSI YESUS SAAT PARA RASULNYA INGIN MENJADI YANG TERBESAR
Yesus dan para murid sampai di ujung daerah Perea dan sudah semakin dekat dengan Yerusalem. Sekarang, mereka menyeberangi Sungai Yordan di dekat Yerikho. Banyak orang lain juga berjalan menuju Yerusalem untuk merayakan Paskah tahun 33 M.
Yesus berjalan mendahului para muridnya karena dia tidak mau terlambat tiba di Yerusalem untuk merayakan Paskah. Tapi, murid-murid merasa takut. Sebelumnya, ketika Lazarus meninggal dan Yesus berencana pergi ke Yudea, Tomas memberi tahu para murid lain, ”Ayo kita pergi juga, supaya kita mati bersama dia.” (Yohanes 11:16, 47-53) Kata-kata Tomas itu menunjukkan bahwa perjalanan mereka ke Yerusalem itu berbahaya. Maka, kita bisa memaklumi perasaan takut para murid.
Yesus ingin para rasulnya siap menghadapi apa yang akan terjadi. Dia pun berkata, ”Kita sedang menuju Yerusalem, dan Putra manusia akan diserahkan kepada para imam kepala dan ahli Taurat. Mereka akan menjatuhi dia hukuman mati dan menyerahkan dia kepada orang-orang dari bangsa lain untuk diejek, dicambuk, dan dibunuh di tiang. Pada hari ketiga, dia akan dibangkitkan.”—Matius 20:18, 19.
Ini adalah kali ketiga Yesus memberi tahu murid-muridnya tentang kematian dan kebangkitannya. (Matius 16:21; 17:22, 23) Namun kali ini, dia berkata bahwa dia akan dipantek pada sebuah tiang. Para murid mendengar kata-kata Yesus itu, tapi mereka tidak paham artinya. Malah, karena mereka ingin dimuliakan sebagai raja bersama Kristus di bumi, mereka bisa jadi berpikir bahwa kerajaan Israel akan dipulihkan di bumi.
Ibu dari Rasul Yakobus dan Rasul Yohanes, yang sepertinya adalah Salome, juga ikut berjalan menuju Yerusalem. Yesus menyebut dua rasul ini ”Anak-Anak Guntur”, pasti karena mereka sangat bersemangat. (Markus 3:17; Lukas 9:54) Kedua rasul ini ingin sekali mendapat kedudukan penting dalam Kerajaan Kristus. Karena mengetahui hal ini, ibu mereka mendekati Yesus lalu sujud untuk menyampaikan sebuah permintaan. Yesus bertanya, ”Apa yang kamu inginkan?” Dia menjawab, ”Katakanlah bahwa kedua anakku ini bisa duduk di sebelahmu dalam Kerajaanmu, satu di kananmu dan satu di kirimu.”—Matius 20:20, 21.
Itu sebenarnya adalah permintaan Yakobus dan Yohanes. Yesus baru saja memberitahukan hinaan dan penderitaan yang akan dia alami, jadi dia berkata kepada mereka, ”Kalian tidak mengerti apa yang kalian minta ini. Apa kalian sanggup minum cawan yang akan segera aku minum?” Mereka menjawab, ”Kami sanggup.” (Matius 20:22) Namun, mereka kelihatannya tidak benar-benar mengerti apa maksud Yesus.
Meski begitu, Yesus memberi tahu mereka, ”Kalian memang akan minum cawanku. Tapi soal duduk di sebelah kanan dan kiriku, aku tidak berhak menentukannya. Bapakku sudah menyiapkannya untuk orang-orang yang Dia tentukan.”—Matius 20:23.
Sebelumnya, para rasul sudah pernah bertengkar tentang siapa yang terbesar, dan Yakobus dan Yohanes bisa jadi sangat berambisi waktu itu. (Lukas 9:46-48) Sekarang, saat mendengar tentang permintaan Yakobus dan Yohanes, sepuluh rasul lainnya marah. Mereka semua masih menginginkan kedudukan yang tinggi dan belum menerapkan nasihat Yesus tentang menjadi yang terkecil.
Yesus ingin menyelesaikan masalah ini. Maka, dia memanggil kedua belas rasulnya dan dengan lembut menasihati mereka, ”Kalian tahu bahwa orang-orang yang dianggap sebagai penguasa bangsa-bangsa memerintah mereka, dan para pejabat tinggi mereka juga menjalankan kekuasaan atas mereka. Tapi kalian tidak boleh begitu. Siapa pun yang ingin menjadi besar di antara kalian harus menjadi pelayan kalian, dan siapa pun yang ingin menjadi pertama di antara kalian harus menjadi budak bagi semua.”—Markus 10:42-44.
Yesus lalu memberitahukan bahwa mereka harus meniru dia. Yesus menjelaskan, ”Putra manusia datang, bukan untuk dilayani, tapi untuk melayani dan memberikan nyawanya sebagai tebusan bagi banyak orang.” (Matius 20:28) Selama sekitar tiga tahun, Yesus sudah melayani banyak orang. Sebentar lagi, dia bahkan akan mengorbankan nyawanya bagi semua manusia! Para murid harus punya sikap yang sama seperti Yesus. Mereka harus ingin melayani, bukan dilayani. Mereka harus bersikap sebagai yang terkecil, bukan ingin menjadi yang terbesar.
-
-
Yesus Menyembuhkan Dua Orang Buta dan Membantu Zakheus BertobatYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 99
Yesus Menyembuhkan Dua Orang Buta dan Membantu Zakheus Bertobat
MATIUS 20:29-34 MARKUS 10:46-52 LUKAS 18:35–19:10
YESUS MENYEMBUHKAN DUA ORANG BUTA DEKAT YERIKHO
PEMUNGUT PAJAK BERNAMA ZAKHEUS BERTOBAT
Yesus dan rombongannya tiba di Yerikho, yang jaraknya kira-kira sehari perjalanan dari Yerusalem. Yerikho terdiri dari dua kota: Kota baru, yang dibangun pada masa Romawi, dan kota lama. Jarak antara kedua kota itu sekitar 1,6 kilometer. Yesus dan rombongannya sedang dalam perjalanan dari kota Yerikho yang satu ke yang lainnya. Kedatangan mereka didengar oleh dua pengemis buta. Salah satunya bernama Bartimeus.
Ketika Bartimeus dan temannya mendengar bahwa Yesus sedang lewat, mereka berteriak, ”Tuan, Putra Daud, kasihanilah kami!” (Matius 20:30) Beberapa orang marah dan menyuruh mereka diam, tapi mereka malah berteriak semakin keras. Mendengar itu, Yesus berhenti dan meminta agar orang yang berteriak itu dipanggil. Maka, orang-orang mendatangi para pengemis itu dan berkata, ”Ayo berdiri, dia panggil kamu.” (Markus 10:49) Orang buta itu pun langsung melompat sambil melemparkan baju luarnya, lalu dia berjalan menemui Yesus.
Yesus bertanya, ”Apa yang kalian ingin saya lakukan untuk kalian?” Kedua orang buta itu menjawab, ”Tuan, bukalah mata kami.” (Matius 20:32, 33) Karena merasa kasihan, Yesus menyentuh mata mereka dan berkata kepada salah satu dari mereka, ”Pergilah. Imanmu sudah membuat kamu sembuh.” (Markus 10:52) Kedua pengemis itu pun bisa melihat. Mereka lalu memuliakan Allah dan mengikuti Yesus. Orang-orang yang melihat kejadian itu juga memuji Allah.
Ketika Yesus berjalan melewati Yerikho, ada banyak sekali orang yang berdesakan di sekitarnya. Semuanya ingin melihat orang yang sudah menyembuhkan kedua pengemis buta itu. Ada begitu banyak orang yang mengerumuni Yesus sampai-sampai sebagian orang tidak bisa melihat dia. Salah satunya adalah Zakheus. Dia adalah kepala para pemungut pajak di Yerikho dan sekitarnya. Karena tubuhnya pendek, dia tidak bisa melihat apa yang sedang terjadi. Maka, dia berlari mendahului kerumunan orang itu dan memanjat sebuah pohon ara yang akan dilewati Yesus. Dari sana, Zakheus bisa melihat semuanya dengan jelas. Saat Yesus mendekat dan melihat Zakheus di atas pohon itu, Yesus berkata, ”Zakheus, cepat turun! Hari ini saya harus pergi ke rumahmu.” (Lukas 19:5) Zakheus pun turun dan cepat-cepat pulang ke rumahnya untuk menyambut tamu istimewanya.
Tapi, orang-orang yang melihatnya tidak senang. Menurut mereka, Yesus seharusnya tidak bertamu ke rumah orang berdosa seperti Zakheus, yang menjadi kaya karena memeras pajak dari orang-orang.
Sewaktu Yesus masuk ke rumah Zakheus, orang-orang mengeluh, ”Dia bertamu ke rumah orang berdosa.” Meski begitu, Yesus melihat bahwa Zakheus mungkin bisa bertobat. Dan memang itulah yang terjadi. Zakheus berdiri dan memberi tahu Yesus, ”Setengah harta saya akan saya berikan kepada orang miskin, Tuan. Siapa pun yang saya peras, uangnya akan saya kembalikan empat kali lipat.”—Lukas 19:7, 8.
Tindakan Zakheus membuktikan bahwa pertobatannya tulus. Dari catatannya, dia kemungkinan besar bisa mengetahui berapa banyak uang yang dia ambil dari orang-orang Yahudi. Dia bersumpah untuk mengembalikan empat kali lipatnya. Padahal, jumlah yang diwajibkan hukum Allah tidak sebanyak itu. (Keluaran 22:1; Imamat 6:2-5) Zakheus bahkan berjanji untuk memberikan setengah dari hartanya sendiri kepada orang miskin.
Yesus senang melihat Zakheus bertobat. Yesus berkata, ”Hari ini, keselamatan telah datang atas orang ini dan keluarganya, karena dia pun anak Abraham. Sebab Putra manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan orang yang tersesat.”—Lukas 19:9, 10.
Sebelumnya, dalam perumpamaan anak yang hilang, Yesus menjelaskan tentang keadaan orang yang tersesat secara rohani tapi ditemukan lagi. (Lukas 15:11-24) Seperti itulah keadaan Zakheus. Para pemimpin agama dan pengikut mereka memprotes kebaikan Yesus terhadap orang seperti Zakheus. Tapi, Yesus tetap mencari dan membantu anak-anak Abraham yang tersesat untuk kembali.
-
-
Perumpamaan tentang Sepuluh MinaYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 100
Perumpamaan tentang Sepuluh Mina
PERUMPAMAAN YESUS TENTANG SEPULUH MINA
Dalam perjalanan ke Yerusalem, Yesus singgah di rumah Zakheus. Kemungkinan, dia sekarang masih berada di sana. Para murid berpikir bahwa ”Kerajaan Allah” akan segera memerintah, dan Yesus akan menjadi Raja. (Lukas 19:11) Mereka belum mengerti tentang hal ini, sama seperti mereka belum mengerti bahwa Yesus akan mati. Karena itu, Yesus menyampaikan perumpamaan agar mereka mengerti bahwa Kerajaan itu baru akan memerintah di masa depan.
Dia berkata, ”Seorang bangsawan pergi ke negeri yang jauh untuk menjadi raja, dan setelah itu dia akan kembali.” (Lukas 19:12) Perjalanan itu pasti membutuhkan waktu. Siapa bangsawan yang pergi ke negeri yang jauh itu? Dia adalah Yesus yang pergi ke surga dan dijadikan Raja oleh Bapaknya.
Sebelum bangsawan itu pergi, dia memanggil sepuluh budaknya dan memberi mereka masing-masing satu mina. Dia berkata, ”Pakai uang ini untuk berbisnis sampai saya pulang.” (Lukas 19:13) Satu mina sama dengan upah seorang pekerja di ladang selama lebih dari tiga bulan.
Para murid mungkin mengerti bahwa merekalah sepuluh budak itu, karena Yesus pernah menyebut mereka sebagai pemanen dalam perumpamaan sebelumnya. (Matius 9:35-38) Panen yang harus mereka kumpulkan adalah orang-orang yang juga akan memerintah di Kerajaan Allah. Para murid menggunakan waktu, tenaga, dan harta mereka untuk melakukan tugas itu.
Yesus lalu berkata, ”Penduduk negeri itu membenci [sang bangsawan]. Mereka mengirim sekelompok utusan untuk berkata kepadanya, ’Kami tidak mau kamu jadi raja kami’”. (Lukas 19:14) Para murid tahu bahwa kebanyakan orang Yahudi menolak Yesus, dan ada yang bahkan mau membunuhnya. Setelah Yesus meninggal dan belakangan naik ke surga, orang-orang Yahudi mulai menganiaya murid-muridnya. Mereka jelas-jelas tidak mau Yesus menjadi Raja mereka.—Yohanes 19:15, 16; Kisah 4:13-18; 5:40.
Yesus melanjutkan perumpamaannya, ”Setelah menjadi raja, [bangsawan itu] akhirnya pulang. Lalu, dia memanggil budak-budak yang telah diberinya uang. Dia ingin tahu berapa hasil bisnis mereka masing-masing. Lalu datanglah budak yang pertama. Budak itu berkata, ’Tuan, dengan satu mina Tuan, saya dapat untung sepuluh mina.’ Maka dia berkata kepada budaknya, ’Bagus. Kamu budak yang baik! Karena kamu setia dalam hal yang sangat kecil, kamu akan berkuasa atas sepuluh kota.’ Lalu datanglah budak yang kedua. Budak itu berkata, ’Tuan, dengan satu mina Tuan, saya dapat untung lima mina.’ Dia juga berkata kepada budak ini, ’Kamu akan berkuasa atas lima kota.’”—Lukas 19:15-19.
Para murid harus menggunakan seluruh sumber daya mereka untuk membuat murid, seperti budak-budak yang rajin itu. Dengan begitu, Yesus pasti senang dan akan mengupahi mereka. Tentu saja, keadaan setiap murid Yesus berbeda-beda, begitu juga dengan kesempatan dan kesanggupan mereka. Namun, jika mereka dengan setia berupaya membuat murid, Yesus yang sudah ”menjadi raja” akan menghargai dan memberkati mereka.—Matius 28:19, 20.
Tapi, ada seorang budak yang sangat berbeda dengan mereka. Yesus berkata, ”Datanglah budak yang lain dan berkata, ’Tuan, ini uang mina Tuan. Saya menyimpannya dalam kain. Begini, saya takut pada Tuan karena Tuan itu orang yang jahat. Tuan mengambil uang yang tidak Tuan tabung, dan Tuan memanen apa yang tidak Tuan tanam.’ Dia berkata kepada budak itu, ’Budak yang jahat! Saya akan menghakimi kamu menurut kata-katamu sendiri. Kamu sudah tahu saya orang jahat, yang mengambil uang yang tidak saya tabung dan memanen apa yang tidak saya tanam. Jadi, kenapa kamu tidak taruh uang saya di bank? Jadi waktu saya pulang, saya bisa ambil uang itu dengan bunganya.’ Kemudian, dia berkata kepada orang-orang yang berdiri di situ, ’Ambil uang mina itu dari dia dan berikan kepada budak yang punya sepuluh mina.’”—Lukas 19:20-24.
Budak itu rugi karena tidak bekerja untuk menambah kekayaan majikannya. Jadi, para rasul bisa menyimpulkan bahwa kalau mereka tidak rajin, mereka tidak bisa memerintah bersama Yesus dalam Kerajaan Allah yang mereka nantikan.
Kata-kata Yesus pasti menyemangati para murid yang setia itu untuk bekerja lebih rajin lagi. Yesus mengakhiri perumpamaannya, ”Saya memberi tahu kalian, setiap orang yang memiliki akan diberi lebih banyak, tapi mengenai setiap orang yang tidak memiliki, bahkan apa yang dia miliki akan diambil darinya.” Yesus lalu berkata bahwa musuh-musuhnya, yang tidak mau dia menjadi ”raja mereka”, akan dihukum mati. Setelah itu, Yesus melanjutkan perjalanannya ke Yerusalem.—Lukas 19:26-28.
-
-
Makan di Rumah Simon di BetaniYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 101
Makan di Rumah Simon di Betani
MATIUS 26:6-13 MARKUS 14:3-9 YOHANES 11:55–12:11
YESUS KEMBALI MENGUNJUNGI BETANI, DEKAT YERUSALEM
MARIA MENUANGKAN MINYAK WANGI KE KEPALA DAN KAKI YESUS
Dari Yerikho, Yesus dan rombongannya berangkat ke Betani. Mereka harus mendaki sejauh 20 kilometer melalui medan yang sulit. Yerikho terletak sekitar 250 meter di bawah permukaan laut, sedangkan Betani sekitar 610 meter di atas permukaan laut. Betani adalah desa kecil di lereng timur Gunung Zaitun. Jaraknya sekitar tiga kilometer dari Yerusalem. Di sinilah Lazarus dan kedua saudara perempuannya tinggal.
Banyak orang Yahudi telah tiba di Yerusalem untuk merayakan Paskah. Mereka datang lebih awal ”untuk menjalani upacara menyucikan diri”, karena mereka bisa jadi telah melakukan sesuatu yang membuat mereka najis, misalnya menyentuh mayat. (Yohanes 11:55; Bilangan 9:6-10) Orang-orang ini berkumpul di bait dan membicarakan apakah Yesus akan datang ke perayaan itu.—Yohanes 11:56.
Sebagian orang berkata bahwa Yesus tidak akan datang, karena beberapa pemimpin agama ingin menangkap dan membunuh dia. Malah, para pemimpin itu ”sudah memerintahkan agar siapa pun yang tahu tempat Yesus berada harus melaporkannya, supaya mereka bisa menangkap dia”. (Yohanes 11:57) Sebelumnya, mereka pernah berupaya membunuh Yesus setelah dia membangkitkan Lazarus. (Yohanes 11:49-53) Karena itulah ada yang berpendapat bahwa Yesus tidak mungkin datang ke tempat umum.
Yesus tiba di Betani ”enam hari sebelum Paskah”, yaitu sebelum matahari terbenam pada hari Jumat. (Yohanes 12:1) Hari berikutnya (hari Sabat, 8 Nisan) dimulai saat matahari terbenam pada hari Jumat. Jadi, Yesus sudah tiba sebelum Sabat. Dia tidak mungkin menempuh perjalanan dari Yerikho selama hari Sabat, karena hukum Yahudi melarang perjalanan pada hari tersebut.
Pada hari Sabtu malam, Yesus dan teman-temannya, termasuk Lazarus, diundang makan oleh Simon yang juga tinggal di Betani. Bisa jadi, Simon adalah salah satu penderita kusta yang disembuhkan Yesus. Seperti biasa, Marta dengan rajin melayani para tamu. Sementara itu, Maria terutama memberikan perhatian kepada Yesus. Tapi kali ini, dia melakukan sesuatu yang membuat beberapa orang tidak senang.
Maria membuka botol kecil yang terbuat dari batu pualam, yang isinya ”satu pon minyak wangi, yaitu narwastu murni yang sangat mahal”. (Yohanes 12:3) Minyak ini bernilai 300 dinar, sama dengan upah seorang pekerja selama satu tahun! Maria menuangkan minyak ini ke kepala dan kaki Yesus, lalu dia mengeringkan kaki Yesus dengan rambutnya. Seluruh rumah pun dipenuhi keharuman minyak itu.
Murid-murid marah dan berkata, ”Kenapa minyak wangi itu dibuang-buang?” (Markus 14:4) Yudas Iskariot juga keberatan dan berkata, ”Kenapa minyak wangi ini tidak dijual seharga 300 dinar, dan uangnya diberikan kepada orang miskin?” (Yohanes 12:5) Sebenarnya, yang Yudas pikirkan bukan orang miskin, tapi dirinya sendiri. Selama ini, dialah yang mengurus kotak uang para murid, dan dia sering mencuri dari kotak itu.
Yesus membela Maria dengan mengatakan, ”Kenapa kalian mau menyusahkan wanita ini? Dia berbuat baik kepadaku. Sebab orang miskin akan selalu ada bersama kalian, tapi aku tidak akan selalu bersama kalian. Ketika dia menuang minyak wangi ini ke tubuhku, dia melakukannya untuk mempersiapkan penguburanku. Sesungguhnya kukatakan, di mana pun kabar baik diberitakan di seluruh dunia, apa yang wanita ini lakukan akan diceritakan juga untuk mengenang dia.”—Matius 26:10-13.
Yesus baru berada di Betani selama sehari lebih, tapi kabar tentang kedatangannya sudah tersebar ke mana-mana. Banyak orang Yahudi datang ke rumah Simon, bukan hanya untuk melihat Yesus, tapi juga Lazarus ”yang dia bangkitkan”. (Yohanes 12:9) Para imam kepala pun berunding untuk membunuh Yesus dan juga Lazarus, karena menurut mereka, kebangkitan Lazarus membuat banyak orang beriman kepada Yesus. Mereka sungguh jahat!
-
-
Sang Raja Memasuki Yerusalem dengan Menunggang KeledaiYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 102
Sang Raja Memasuki Yerusalem dengan Menunggang Keledai
MATIUS 21:1-11, 14-17 MARKUS 11:1-11 LUKAS 19:29-44 YOHANES 12:12-19
YESUS DISAMBUT DENGAN MERIAH SAAT MEMASUKI YERUSALEM
YESUS MENUBUATKAN KEHANCURAN YERUSALEM
Besoknya, pada hari Minggu, 9 Nisan, Yesus dan murid-muridnya berangkat dari Betani ke Yerusalem. Sewaktu mereka mendekati Betfage, yang terletak di Gunung Zaitun, Yesus memberi tahu dua muridnya:
”Pergilah ke desa yang ada di depan. Kalian akan langsung melihat seekor keledai yang terikat bersama anaknya. Lepaskan mereka dan bawa mereka ke sini. Kalau ada yang bilang sesuatu kepada kalian, katakan, ’Tuan memerlukannya.’ Lalu dia akan langsung membiarkan kalian membawanya.”—Matius 21:2, 3.
Saat itu, para murid belum tahu bahwa kata-kata Yesus berhubungan dengan sebuah nubuat. Baru belakangan mereka sadar bahwa permintaan itu berhubungan dengan nubuat Nabi Zakharia. Zakharia bernubuat bahwa Raja yang Allah janjikan akan datang ke Yerusalem dengan ”rendah hati dan menunggang keledai, keledai muda, anak keledai betina”.—Zakharia 9:9.
Ketika kedua murid itu tiba di Betfage dan mengambil seekor anak keledai dan induknya, orang-orang yang ada di situ bertanya, ”Kenapa kalian lepaskan anak keledai itu?” (Markus 11:5) Namun saat mendengar bahwa Tuan Yesus membutuhkan dua keledai itu, mereka membiarkan para murid membawanya. Para murid meletakkan baju luar mereka di atas dua keledai itu, lalu Yesus menunggangi si anak keledai.
Seraya Yesus mendekati Yerusalem, semakin banyak orang berkumpul dan menghamparkan baju luar mereka di jalan. Ada juga yang memotong ”cabang-cabang pohon” dan menaruhnya di jalan. Mereka berseru, ”Tolonglah selamatkan! Diberkatilah dia yang datang dengan nama Yehuwa! Diberkatilah Kerajaan yang akan datang, Kerajaan Daud bapak kita!” (Markus 11:8-10) Orang-orang Farisi yang ada di sana marah mendengarnya. Mereka memberi tahu Yesus, ”Guru, tegurlah murid-muridmu.” Namun Yesus menjawab, ”Saya memberi tahu kalian, kalau mereka tetap diam, batu-batu ini yang akan berteriak.”—Lukas 19:39, 40.
Lalu, sambil memandang kota Yerusalem, Yesus menangis. Dia berkata, ”Kalau saja kamu tahu hal-hal yang bisa membawa damai untukmu, tapi sekarang hal-hal itu disembunyikan darimu.” Karena tidak taat, Yerusalem akan dihukum. Yesus bernubuat, ”Musuh-musuhmu akan membuat benteng dari kayu-kayu tajam di sekelilingmu. Mereka akan mengepungmu dan menekanmu dari segala arah. Mereka akan membuatmu rata dengan tanah dan memusnahkan anak-anakmu. Mereka tidak akan membiarkan satu batu pun tersusun di atas batu lainnya.” (Lukas 19:42-44) Pada tahun 70 M, Yerusalem dihancurkan, tepat seperti yang Yesus katakan.
Ketika Yesus memasuki Yerusalem, ”seluruh kota itu gempar”. Orang-orang bertanya, ”Ini siapa?” Kumpulan orang yang mengikuti Yesus terus berkata, ”Inilah nabi itu, Yesus, dari Nazaret di Galilea!” (Matius 21:10, 11) Sejumlah orang di antara rombongan tersebut melihat Yesus membangkitkan Lazarus, dan mereka memberi tahu yang lain tentang mukjizat itu. Orang-orang Farisi menjadi kesal karena upaya mereka gagal. Mereka berkata, ”Seluruh dunia sudah menjadi pengikutnya.”—Yohanes 12:18, 19.
Yesus kemudian pergi ke bait untuk mengajar, seperti yang biasa dia lakukan di Yerusalem. Di bait, dia juga menyembuhkan orang buta dan orang yang lumpuh. Para imam kepala dan ahli Taurat melihatnya. Mereka juga mendengar anak-anak di bait berteriak, ”Tolonglah selamatkan Putra Daud!” Mereka pun marah dan berkata kepada Yesus, ”Apa kamu dengar yang mereka katakan?” Yesus menjawab, ”Apa kalian tidak pernah baca ini: ’Engkau membuat mulut anak-anak dan bayi-bayi mengucapkan pujian’?”—Matius 21:15, 16.
Yesus lalu melihat hal-hal yang ada di sekelilingnya di bait. Hari sudah mulai sore, dan dia pun pergi bersama rasul-rasulnya. Sebelum hari berganti menjadi tanggal 10 Nisan, mereka kembali ke Betani untuk menginap di sana pada hari Minggu malam.
-
-
Yesus Kembali Mengusir Para Pedagang di BaitYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 103
Yesus Kembali Mengusir Para Pedagang di Bait
MATIUS 21:12, 13, 18, 19 MARKUS 11:12-18 LUKAS 19:45-48 YOHANES 12:20-27
YESUS MENGUTUK POHON ARA DAN MENGUSIR PARA PEDAGANG DI BAIT
SUPAYA BANYAK ORANG BISA HIDUP ABADI, YESUS HARUS MATI
Yesus dan murid-muridnya telah menghabiskan tiga malam di Betani sejak mereka tiba dari Yerikho. Pada hari Senin, 10 Nisan, mereka berangkat ke Yerusalem pagi-pagi sekali. Yesus merasa lapar, jadi dia mendekati sebuah pohon ara. Apakah pohon itu ada buahnya?
Waktu itu akhir bulan Maret, sedangkan pohon ara biasanya baru berbuah pada bulan Juni. Namun, karena daun-daun sudah bermunculan di pohon itu, Yesus pikir pohon itu sudah mulai berbuah. Ternyata, penampilan pohon itu menipu. Tidak ada buah sama sekali. Yesus pun mengatakan, ”Tidak akan ada yang makan buahmu lagi.” (Markus 11:14) Pohon itu pun mulai layu. Mengapa Yesus mengutuknya? Dia akan menjelaskannya keesokan paginya.
Setelah tiba di Yerusalem, Yesus dan murid-muridnya pergi ke bait. Kemarin sore, dia sudah melihat keadaan bait. Hari ini, Yesus melakukan sesuatu yang mirip dengan apa yang dia lakukan tiga tahun sebelumnya pada Perayaan Paskah tahun 30 M. (Yohanes 2:14-16) Yesus ”mengusir orang-orang yang berjual beli” di bait. Dia juga ”menjungkirbalikkan meja-meja para penukar uang dan bangku-bangku para penjual merpati”. (Markus 11:15) Dia bahkan tidak mengizinkan orang-orang yang membawa barang untuk menggunakan halaman bait sebagai jalan pintas.
Mengapa Yesus bersikap begitu tegas? Dia mengatakan, ”Bukankah ada tertulis, ’Rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa’? Tapi kalian menjadikannya gua perampok.” (Markus 11:17) Yesus menyebut para penjual itu perampok karena mereka memasang harga yang terlalu tinggi untuk binatang korban. Yesus menganggap itu sebagai pemerasan.
Tentu saja, tindakan Yesus itu diketahui oleh para ahli Taurat, imam-imam kepala, dan para pemimpin lainnya. Mereka pun kembali menyusun rencana untuk membunuh Yesus. Tapi ada satu masalah: Banyak orang berkumpul untuk mendengarkan Yesus, jadi bagaimana mereka bisa membunuhnya?
Orang-orang sudah berdatangan untuk merayakan Paskah. Selain orang Yahudi, ada juga sejumlah proselit, yaitu orang yang berubah agama menjadi penganut agama Yahudi. Ini termasuk orang-orang Yunani yang datang untuk beribadah selama perayaan itu. Orang-orang ini mendekati Filipus, bisa jadi karena dia punya nama Yunani, dan bertanya apakah mereka bisa bertemu Yesus. Filipus pun berunding dengan Andreas. Keduanya lalu bertanya kepada Yesus, yang kelihatannya masih berada di bait.
Yesus tahu bahwa beberapa hari lagi dia akan mati, jadi sekarang bukanlah waktunya untuk meladeni orang-orang yang ingin tahu atau untuk membuat dirinya terkenal. Maka, Yesus menjawab dua rasulnya itu dengan sebuah perumpamaan. Dia berkata, ”Sudah waktunya Putra manusia dimuliakan. Dengan sungguh-sungguh aku katakan, kalau sebutir gandum tidak jatuh ke tanah dan mati, itu tetap sebutir gandum. Tapi kalau itu mati, itu akan menghasilkan banyak gandum.”—Yohanes 12:23, 24.
Sebutir gandum mungkin kelihatannya tidak berarti. Namun, kalau sebutir gandum jatuh ke tanah lalu mati, itu bisa bertumbuh menjadi setangkai gandum yang berisi banyak sekali butiran gandum. Sama seperti itu, Yesus adalah satu manusia yang sempurna. Karena tetap setia kepada Allah sampai mati, Yesus membuka jalan bagi banyak orang untuk hidup abadi. Tapi untuk itu, mereka harus rela berkorban seperti Yesus. Dia berkata, ”Siapa pun yang mencintai nyawanya membinasakannya, tapi siapa pun yang rela kehilangan nyawanya di dunia ini akan melindunginya demi mendapat kehidupan abadi.”—Yohanes 12:25.
Sekarang Yesus berbicara tentang murid-muridnya. Dia berkata, ”Kalau seseorang mau melayani aku, dia harus mengikuti aku. Di mana aku berada, di situ juga pelayanku berada. Kalau seseorang mau melayani aku, Bapak akan menghormati dia.” (Yohanes 12:26) Ini berkat yang luar biasa! Orang-orang yang dihormati Yehuwa akan memerintah bersama Yesus dalam Kerajaan Allah.
Yesus tahu bahwa dia sebentar lagi akan disiksa dan dibunuh dengan kejam, maka dia berkata, ”Sekarang aku tertekan, dan apa yang akan kukatakan? Bapak, selamatkanlah aku dari masa sulit ini.” Itu bukan berarti Yesus tidak mau menjalankan kehendak Yehuwa, karena dia kemudian berkata, ”Tapi, aku memang datang untuk menghadapi masa sulit ini.” (Yohanes 12:27) Yesus rela melakukan semua yang Allah kehendaki, termasuk mengorbankan nyawanya.
-
-
Apakah Orang Yahudi Akan Beriman Setelah Mendengar Suara Allah?Yesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 104
Apakah Orang Yahudi Akan Beriman Setelah Mendengar Suara Allah?
BANYAK ORANG MENDENGAR SUARA ALLAH
DASAR YANG DIPAKAI UNTUK PENGHAKIMAN
Di bait pada hari Senin, 10 Nisan, Yesus sedang berbicara tentang kematiannya yang semakin dekat. Yesus tahu bahwa itu bisa memengaruhi nama baik Bapaknya, jadi dia mengatakan, ”Bapak, muliakanlah nama-Mu.” Tiba-tiba, sebuah suara yang menggelegar dari langit berkata, ”Aku sudah memuliakannya dan akan memuliakannya lagi.”—Yohanes 12:27, 28.
Mendengar itu, orang-orang di sana merasa takut dan heran. Ada yang berpikir bahwa itu suara guntur. Yang lain berkata, ”Ada malaikat yang berbicara kepadanya.” (Yohanes 12:29) Sebenarnya, itu suara Yehuwa! Dan ini bukan pertama kalinya manusia mendengar suara Allah sejak awal pelayanan Yesus di bumi.
Tiga setengah tahun sebelumnya, persis setelah Yesus dibaptis, Yohanes Pembaptis mendengar Allah berkata tentang Yesus, ”Inilah Putra-Ku, yang Kukasihi. Aku berkenan kepadanya.” Lalu setelah Paskah tahun 32 M, Yesus mengalami transfigurasi di depan Yakobus, Yohanes, dan Petrus. Ketiga pria ini mendengar Allah berkata, ”Inilah Putra-Ku, yang Kukasihi. Aku berkenan kepadanya. Dengarkan dia.” (Matius 3:17; 17:5) Tapi sekarang, pada kali yang ketiga, kata-kata Yehuwa didengar banyak orang!
Yesus berkata, ”Suara itu terdengar, bukan untuk saya, tapi untuk kalian.” (Yohanes 12:30) Kata-kata Allah itu membuktikan bahwa Yesus memang Putra Allah, Mesias yang dinubuatkan.
Sepanjang hidupnya, Yesus selalu setia dan menjadi teladan bagi manusia. Kesetiaan Yesus membuktikan bahwa Setan si Iblis, penguasa dunia ini, layak dimusnahkan. Yesus mengatakan, ”Sekarang, dunia ini sedang dihakimi, dan penguasa dunia ini akan disingkirkan.” Dia lalu berkata, ”Tapi saya, kalau saya diangkat dari bumi, saya akan menarik segala macam orang kepada saya.” (Yohanes 12:31, 32) Dengan ”diangkat”, atau mati pada sebuah tiang, Yesus menarik orang-orang kepada dirinya sehingga mereka bisa hidup abadi. Jadi, kematian Yesus bukan kekalahan, tapi justru kemenangan.
Karena Yesus mengatakan bahwa dia akan ”diangkat”, kumpulan orang itu berkata, ”Kami dengar dari Taurat bahwa Kristus tetap ada selamanya. Kenapa kamu bilang Putra manusia harus diangkat? Siapa Putra manusia itu?” (Yohanes 12:34) Meski sudah ada banyak bukti, termasuk suara Allah sendiri, kebanyakan orang tidak mengakui bahwa Yesus memang Putra manusia, Mesias yang dijanjikan.
Yesus lalu menyebut dirinya sebagai ”terang”, seperti yang dia lakukan sebelumnya. (Yohanes 8:12; 9:5) Dia mengatakan, ”Terang hanya akan ada di antara kalian sebentar lagi. Berjalanlah selama kalian masih memiliki terang itu, supaya kegelapan tidak menguasai kalian. . . . Selagi kalian memiliki terang itu, berimanlah kepada terang itu, supaya kalian menjadi anak-anak terang.” (Yohanes 12:35, 36) Yesus kemudian pergi, karena pada tanggal 10 Nisan itu belum waktunya dia mati. Dia baru akan ”diangkat”, atau dipakukan pada sebuah tiang, pada tanggal 14 Nisan.—Galatia 3:13.
Selama pelayanan Yesus, nubuat Yesaya menjadi kenyataan karena banyak orang Yahudi tidak beriman kepada Yesus. Yesaya menubuatkan bahwa mata bangsa itu akan dibutakan, hati mereka akan tertutup, dan mereka tidak akan kembali kepada Yehuwa dan disembuhkan. (Yesaya 6:10; Yohanes 12:40) Kebanyakan orang Yahudi keras kepala dan tidak mau menerima bukti bahwa Yesus adalah Penyelamat yang dijanjikan dan jalan menuju kehidupan abadi.
Sebenarnya, Nikodemus, Yusuf dari Arimatea, dan banyak pemimpin lainnya ”beriman kepada Yesus”. Tapi, apakah mereka akan memihak pada Yesus? Atau, apakah mereka akan menahan diri, mungkin karena takut diusir dari sinagoga atau karena ”menyukai kemuliaan dari manusia”?—Yohanes 12:42, 43.
Yesus menjelaskan apa yang harus dilakukan orang yang beriman kepadanya. Dia berkata, ”Siapa pun yang beriman kepada saya tidak hanya beriman kepada saya, tapi juga kepada Dia yang mengutus saya. Siapa pun yang melihat saya melihat juga Dia yang mengutus saya.” Kebenaran dari Allah yang Yesus ajarkan begitu penting sampai-sampai Yesus berkata, ”Ada yang akan menghakimi siapa pun yang mengabaikan saya dan tidak menerima kata-kata saya. Perkataan yang sudah saya sampaikan itulah yang akan menghukum dia pada hari terakhir.”—Yohanes 12:44, 45, 48.
Yesus kemudian berkata, ”Saya tidak berbicara atas kemauan saya sendiri. Sebaliknya, Bapak yang mengutus sayalah yang memberi saya perintah tentang apa yang harus dikatakan dan dibicarakan. Saya tahu bahwa perintah-Nya menghasilkan kehidupan abadi.” (Yohanes 12:49, 50) Yesus tahu bahwa sebentar lagi, dia akan mengorbankan nyawanya agar manusia yang beriman bisa hidup abadi.—Roma 5:8, 9.
-
-
Pelajaran tentang Iman dari Pohon AraYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 105
Pelajaran tentang Iman dari Pohon Ara
MATIUS 21:19-27 MARKUS 11:19-33 LUKAS 20:1-8
PELAJARAN TENTANG IMAN DARI POHON ARA YANG SUDAH LAYU
WEWENANG YESUS DIPERTANYAKAN
Pada Senin siang, Yesus meninggalkan Yerusalem lalu kembali ke Betani, yang terletak di lereng timur Gunung Zaitun. Dia kemungkinan bermalam di rumah Lazarus, Maria, dan Marta.
Sekarang adalah pagi tanggal 11 Nisan. Yesus dan murid-muridnya pergi lagi ke Yerusalem. Dia akan mengunjungi bait dan mengajar di tempat umum untuk terakhir kalinya. Setelah itu, dia akan merayakan Paskah, menetapkan Peringatan kematiannya, kemudian diadili dan dihukum mati.
Saat mereka melewati Gunung Zaitun, Petrus melihat pohon yang Yesus kutuk kemarin. ”Rabi, lihat!” katanya. ”Pohon ara yang Rabi kutuk itu sudah layu.”—Markus 11:21.
Mengapa Yesus membuat pohon itu layu? Dia menjelaskan, ”Kalau kalian beriman dan tidak ragu, kalian bisa melakukan apa yang kulakukan pada pohon itu. Bahkan, kalau kalian berkata kepada gunung ini, ’Terangkatlah dan terlemparlah ke laut,’ itu akan terjadi. Kalau kalian beriman, semua yang kalian minta dalam doa akan kalian terima.” (Matius 21:21, 22) Ini bukan kali pertama Yesus berkata bahwa iman bisa memindahkan gunung.—Matius 17:20.
Jadi, Yesus membuat pohon itu layu untuk menunjukkan pentingnya beriman kepada Allah. Dia berkata, ”Berimanlah bahwa kalian sudah menerima semua yang kalian minta dan doakan, dan kalian pasti akan mendapatkannya.” (Markus 11:24) Ini adalah pelajaran penting bagi semua pengikut Yesus, terutama bagi para rasul yang sebentar lagi menghadapi berbagai ujian berat. Selain itu, ada pelajaran lain yang bisa didapatkan tentang iman.
Seperti pohon ara ini, bangsa Israel punya penampilan yang menipu. Sebagai bangsa yang terikat perjanjian dengan Allah, dari luar mereka kelihatannya menaati hukum-Nya. Namun secara keseluruhan, bangsa itu tidak beriman dan tidak menghasilkan buah yang baik. Mereka bahkan menolak Putra Allah! Jadi, dengan membuat pohon ara itu layu, Yesus menunjukkan apa yang akan dialami bangsa yang tidak beriman dan tidak berbuah tersebut.
Sekarang, Yesus dan murid-muridnya tiba di Yerusalem. Seperti biasa, Yesus masuk ke bait dan mulai mengajar. Para imam kepala dan pemimpin mendatangi Yesus dan menantang dia, mungkin karena Yesus kemarin mengusir para penukar uang di bait. Mereka berkata, ”Dari mana kamu dapat wewenang untuk melakukan semua ini? Siapa yang beri kamu wewenang itu?”—Markus 11:28.
Yesus menjawab, ”Saya akan tanya satu hal kepada kalian. Kalau kalian jawab, saya akan beri tahu kalian dari mana saya dapat wewenang untuk melakukan semua ini. Baptisan Yohanes itu dari surga atau dari manusia? Coba jawab.” Jadi sekarang, giliran Yesus yang menantang mereka. Mereka pun berdiskusi, ”Kalau kita bilang, ’Dari surga,’ dia akan bilang, ’Lalu kenapa kalian tidak percaya kepada dia?’ Tapi apa kita berani bilang, ’Dari manusia’?” Mereka berkata begitu karena takut kepada semua orang, yang ”percaya bahwa Yohanes benar-benar seorang nabi”.—Markus 11:29-32.
Para penentang itu tidak bisa menjawab. Jadi mereka mengatakan, ”Kami tidak tahu.” Yesus pun berkata, ”Saya juga tidak akan beri tahu kalian dari mana saya dapat wewenang untuk melakukan hal-hal ini.”—Markus 11:33.
-
-
Dua Perumpamaan tentang Kebun AnggurYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 106
Dua Perumpamaan tentang Kebun Anggur
MATIUS 21:28-46 MARKUS 12:1-12 LUKAS 20:9-19
PERUMPAMAAN TENTANG DUA PUTRA
PERUMPAMAAN TENTANG PARA PENGGARAP KEBUN ANGGUR
Di bait, para imam kepala dan pemimpin orang Yahudi baru saja mempertanyakan wewenang Yesus untuk melakukan berbagai hal. Tapi, jawaban Yesus membuat mereka terdiam. Yesus sekarang memberikan perumpamaan yang menunjukkan orang seperti apa mereka.
Yesus menceritakan, ”Ada seorang pria yang punya dua anak. Dia datang kepada yang pertama dan berkata, ’Nak, pergilah bekerja di kebun anggur hari ini.’ Anak itu menjawab, ’Tidak mau,’ tapi belakangan, dia menyesal dan pergi. Lalu dia mendekati yang kedua dan mengatakan yang sama. Anak itu menjawab, ’Baik, Pak,’ tapi tidak pergi. Anak yang mana yang menuruti ayahnya?” (Matius 21:28-31) Jawabannya jelas. Anak yang pertamalah yang pada akhirnya melakukan apa yang diminta ayahnya.
Yesus memberi tahu para penentangnya, ”Sesungguhnya kukatakan kepada kalian bahwa pemungut pajak dan pelacur akan masuk ke Kerajaan Allah lebih dulu daripada kalian.” Para pemungut pajak dan pelacur awalnya tidak mau melayani Allah. Namun, seperti anak pertama tadi, mereka bertobat dan sekarang melayani Dia. Sebaliknya, para pemimpin agama mirip dengan anak kedua, yang mengaku melayani Allah tapi sebenarnya tidak melakukannya. Yesus mengatakan, ”Yohanes [Pembaptis] datang kepada kalian untuk menunjukkan jalan kebenaran, tapi kalian tidak percaya kepadanya. Para pemungut pajak dan pelacur percaya kepadanya, tapi setelah melihat itu pun, kalian tidak menyesal dan masih tidak percaya.”—Matius 21:31, 32.
Yesus kemudian menceritakan perumpamaan lain. Kali ini, Yesus menunjukkan bahwa para pemimpin agama itu bukan hanya tidak melayani Allah, tapi juga sangat jahat. Yesus mengatakan, ”Ada orang yang membuat kebun anggur, memasang pagar di sekelilingnya, membuat tempat pemerasan anggur, dan mendirikan menara penjaga. Lalu, dia menyewakannya kepada para penggarap dan pergi ke luar negeri. Sewaktu musim panen tiba, dia mengutus seorang budak kepada para penggarap itu untuk mengambil sebagian buah dari kebun anggur itu. Tapi mereka menangkap budak itu, memukulinya, dan menyuruhnya pergi dengan tangan kosong. Dia mengutus budak lain lagi, tapi mereka memukul kepala budak itu dan merendahkannya. Dia mengutus budak lain, tapi mereka membunuhnya. Dia mengutus banyak budak lain, tapi sebagian mereka pukuli dan sebagian mereka bunuh.”—Markus 12:1-5.
Apakah orang-orang yang ada di sana mengerti perumpamaan itu? Mereka mungkin ingat kata-kata Yesaya ini: ”Orang Israel adalah kebun anggur Yehuwa yang berbala tentara; orang Yehuda adalah perkebunan yang sangat disukai-Nya. Dia terus mengharapkan keadilan, tapi yang ada hanya apa yang tidak adil.” (Yesaya 5:7) Perumpamaan Yesus mirip dengan itu. Pemilik kebun anggur adalah Yehuwa, dan kebun itu adalah bangsa Israel, yang dipagari dan dilindungi oleh Hukum Allah. Yehuwa mengutus nabi-nabi untuk mengajar umat-Nya dan membuat mereka menghasilkan buah yang baik.
Bagaimana sikap para penggarap terhadap budak-budak yang diutus kepada mereka? Para penggarap itu memperlakukan mereka dengan kejam dan bahkan membunuh beberapa budak. Yesus melanjutkan, ”Sekarang hanya satu orang lagi yang dia punya, yaitu anaknya yang dia sayangi. Terakhir, dia mengutus anaknya kepada mereka karena berpikir, ’Mereka akan menghormati anakku.’ Tapi para penggarap itu berkata satu sama lain, ’Dia ahli warisnya. Ayo kita bunuh dia, dan warisannya akan jadi milik kita.’ Maka mereka menangkap dia [dan] membunuhnya.”—Markus 12:6-8.
Yesus lalu bertanya, ”Apa yang akan dilakukan pemilik kebun anggur itu?” (Markus 12:9) Para pemimpin agama menjawab, ”Karena mereka jahat, dia pasti akan membunuh mereka dan akan menyewakan kebun anggur itu kepada penggarap lain, yang akan memberi dia buah pada musimnya.”—Matius 21:41.
Mereka tidak sadar bahwa mereka sedang membicarakan masa depan mereka sendiri, karena mereka termasuk para penggarap yang jahat itu. Sebagai pemilik kebun anggur, Yehuwa mengharapkan penggarap seperti mereka menghasilkan buah, yaitu iman kepada Putra-Nya, sang Mesias. Yesus lalu memandang para pemimpin agama itu dan berkata, ”Apa kalian tidak pernah baca? Sebuah ayat berkata, ’Batu yang ditolak tukang bangunan telah menjadi batu yang utama. Itu berasal dari Yehuwa, dan itu luar biasa bagi kita.’” (Markus 12:10, 11) Yesus menyimpulkan, ”Karena itulah saya berkata kepada kalian, Kerajaan Allah akan diambil dari kalian dan diberikan kepada suatu bangsa yang melakukan kehendak-Nya.”—Matius 21:43.
Para ahli Taurat dan imam kepala sadar bahwa ”merekalah yang [Yesus] maksud dalam perumpamaannya”. (Lukas 20:19) Mereka pun semakin ingin membunuh Yesus, sang ahli waris. Tapi mereka takut kepada orang-orang, yang menganggap Yesus nabi. Jadi, mereka tidak berusaha membunuhnya saat itu.
-
-
Seorang Raja Mengundang Orang-Orang ke Pesta PernikahanYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 107
Seorang Raja Mengundang Orang-Orang ke Pesta Pernikahan
PERUMPAMAAN TENTANG PESTA PERNIKAHAN
Pelayanan Yesus di bumi sebentar lagi berakhir, dan dia terus menggunakan perumpamaan untuk membongkar kejahatan para ahli Taurat dan imam kepala. Jadi, mereka ingin membunuh dia. (Lukas 20:19) Tapi, Yesus belum selesai. Dia menceritakan perumpamaan lain:
”Kerajaan surga itu bisa disamakan dengan seorang raja yang mengadakan pesta pernikahan bagi putranya. Dia mengutus budak-budaknya untuk memanggil para undangan ke pesta pernikahan, tapi mereka tidak mau datang.” (Matius 22:2, 3) Yesus memulai perumpamaannya dengan menyebutkan tentang ”Kerajaan surga”. Jadi, sang raja pasti adalah Yehuwa. Putra sang raja adalah Putra Yehuwa, yang sedang menceritakan perumpamaan itu, dan para tamu adalah mereka yang diundang untuk memerintah bersama sang Putra dalam Kerajaan surga.
Siapa yang pertama-tama diundang? Mereka adalah bangsa Yahudi, yang selama ini mendengar berita tentang Kerajaan Allah dari Yesus dan para rasul. (Matius 10:6, 7; 15:24) Pada tahun 1513 SM, bangsa itu menerima perjanjian Hukum Musa. Dengan demikian, mereka mendapat kesempatan pertama untuk menjadi anggota ”kerajaan yang dipimpin para imam”. (Keluaran 19:5-8) Tapi, mereka baru diundang ke ”pesta pernikahan” pada tahun 29 M, ketika Yesus mulai memberitakan tentang Kerajaan surga.
Apa tanggapan kebanyakan orang Israel? Seperti yang Yesus katakan, ”mereka tidak mau datang”. Kebanyakan pemimpin agama dan orang Israel tidak mau menerima Yesus sebagai Mesias dan Raja yang Allah tunjuk.
Namun, Yesus memberitahukan bahwa orang Yahudi akan diberi kesempatan kedua. Dia mengatakan, ”[Sang raja] mengutus budak-budak lain dengan pesan, ’Beri tahu para undangan, ”Saya sudah siapkan jamuan makan. Sapi-sapi dan binatang-binatang terbaik sudah disembelih, dan semuanya sudah siap. Datanglah ke pesta pernikahan.”’ Tapi mereka tidak peduli dan pergi, ada yang ke ladangnya, ada yang mengurus usahanya, sedangkan yang lain menangkap budak-budaknya, memperlakukan mereka dengan hina, dan membunuh mereka.” (Matius 22:4-6) Itu terjadi setelah sidang Kristen terbentuk. Saat itu, bangsa Yahudi masih diundang untuk memerintah dalam Kerajaan Allah, namun kebanyakan menolaknya, bahkan menganiaya ’budak-budak sang raja’.—Kisah 4:13-18; 7:54, 58.
Apa akibatnya? Yesus mengatakan, ”Raja pun murka. Dia mengirim pasukannya, membunuh para pembunuh itu, dan membakar kota mereka.” (Matius 22:7) Itulah yang dialami bangsa Yahudi pada tahun 70 M, ketika orang Romawi menghancurkan kota mereka, Yerusalem.
Setelah orang-orang itu menolak undangan sang raja, apakah ada orang lain yang diundang? Ada. Yesus mengatakan, ”Lalu [sang raja] berkata kepada budak-budaknya, ’Pesta pernikahan sudah siap, tapi para undangan itu tidak layak menghadirinya. Jadi pergilah ke jalan-jalan yang menuju ke luar kota, dan undang siapa saja yang kalian temui ke pesta pernikahan ini.’ Maka, budak-budak itu pergi ke jalan-jalan dan mengumpulkan semua orang yang mereka temui, yang jahat maupun yang baik. Ruangan untuk upacara pernikahan itu pun penuh dengan para tamu.”—Matius 22:8-10.
Ini dimulai ketika Rasul Petrus membantu orang-orang dari bangsa lain untuk menjadi orang Kristen. Pada tahun 36 M, Kornelius, seorang perwira Romawi, dan juga keluarganya menerima kuasa kudus Allah. Dengan demikian, mereka mendapat kesempatan untuk memerintah dalam Kerajaan surga.—Kisah 10:1, 34-48.
Yesus memberitahukan bahwa tidak semua tamu yang datang dinilai layak oleh sang raja. Yesus berkata, ”Ketika raja masuk untuk memeriksa para tamu, dia melihat seorang pria yang tidak memakai baju pesta. Maka raja bertanya, ’Kawan, kenapa kamu datang ke sini tanpa baju pesta?’ Dia diam saja. Lalu raja berkata kepada hamba-hambanya, ’Ikat tangan dan kakinya, dan lemparkan dia ke luar, ke dalam kegelapan. Di sanalah dia akan menangis dan menggertakkan gigi.’ Ada banyak yang diundang, tapi sedikit yang dipilih.”—Matius 22:11-14.
Para pemimpin agama yang mendengar Yesus mungkin tidak mengerti arti perumpamaannya. Namun, mereka tetap tidak senang dan malah semakin bertekad untuk membunuh orang yang mempermalukan mereka ini.
-
-
Yesus Tidak Bisa DijebakYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 108
Yesus Tidak Bisa Dijebak
MATIUS 22:15-40 MARKUS 12:13-34 LUKAS 20:20-40
BERIKAN MILIK KAISAR KEPADA KAISAR
PERNIKAHAN SETELAH KEBANGKITAN
DUA PERINTAH TERPENTING
Musuh-musuh Yesus, yaitu para pemimpin agama, benar-benar kesal. Yesus baru saja menceritakan beberapa perumpamaan yang menunjukkan betapa jahatnya mereka. Jadi, orang-orang Farisi sekarang berunding untuk menjebak dia. Mereka ingin Yesus mengatakan sesuatu yang membuat dia bisa ditangkap dan diserahkan kepada gubernur Romawi. Maka, mereka membayar beberapa pengikut mereka untuk menjebak Yesus.—Lukas 6:7.
Orang-orang itu bertanya kepada Yesus, ”Guru, kami tahu Guru berbicara dan mengajar dengan benar, tidak berat sebelah, dan mengajarkan jalan Allah sesuai dengan kebenaran. Nah, apa kita boleh membayar pajak kepala kepada Kaisar?” (Lukas 20:21, 22) Yesus tidak tertipu dengan pujian orang-orang yang munafik dan licik itu. Jika dia mengatakan, ’Tidak, kita tidak boleh membayar pajak itu,’ dia bisa dituduh menyulut pemberontakan terhadap pemerintah Romawi. Tapi kalau dia berkata, ’Ya, bayarlah pajak itu,’ orang-orang di sana, yang tidak suka berada di bawah kekuasaan Romawi, bisa salah paham dan menyerang dia. Jadi, apa jawaban Yesus?
”Orang-orang munafik, kenapa kalian menguji saya? Coba tunjukkan kepada saya uang logam untuk pajak itu.” Mereka memberinya satu uang logam dinar. Yesus bertanya, ”Gambar dan nama siapa ini?” Mereka menjawab, ”Kaisar.” Dengan bijak, Yesus lalu memberikan perintah ini: ”Jadi berikan milik Kaisar kepada Kaisar, tapi milik Allah kepada Allah.”—Matius 22:18-21.
Orang-orang itu kagum mendengar jawaban Yesus. Mereka tidak bisa berkata apa-apa lagi, jadi mereka pun pergi. Tapi, masih ada yang ingin menjebak Yesus. Mereka adalah para pemimpin kelompok Saduki.
Orang Saduki, yang tidak percaya kebangkitan, bertanya soal kebangkitan dan perkawinan ipar, ”Guru, Musa bilang, ’Kalau ada pria yang mati tanpa punya anak, kakak atau adiknya harus menikahi jandanya dan memberikan keturunan untuk saudaranya itu.’ Nah, ada tujuh pria kakak beradik yang bersama kami. Yang sulung menikah lalu mati, dan karena dia tidak punya keturunan, adiknya menikahi jandanya. Hal yang sama terjadi pada yang kedua dan yang ketiga, terus sampai yang ketujuh. Terakhir, wanita itu mati. Pada kebangkitan, wanita itu akan jadi istri siapa dari ketujuh pria itu? Mereka semua pernah menikahi dia.”—Matius 22:24-28.
Yesus menjawab orang Saduki menggunakan tulisan Musa, yang mereka percayai. Yesus berkata, ”Kalian tidak mengerti Kitab Suci ataupun kuasa Allah. Karena itulah kalian keliru. Sewaktu bangkit dari antara orang mati, pria dan wanita tidak menikah atau dinikahkan, tapi mereka seperti malaikat di surga. Tapi mengenai kebangkitan orang mati, apa kalian belum pernah baca kisah tentang semak berduri dalam kitab Musa? Saat itu, Allah berkata kepada Musa, ’Aku adalah Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub.’ Dia adalah Allah orang hidup, bukan Allah orang mati. Kalian sangat keliru.” (Markus 12:24-27; Keluaran 3:1-6) Orang-orang kagum mendengar jawaban itu.
Orang Farisi dan Saduki tidak bisa membantah Yesus lagi. Jadi sekarang, mereka bekerja sama untuk menguji dia. Seorang ahli Taurat bertanya kepada Yesus, ”Guru, perintah mana yang paling utama dalam Taurat?”—Matius 22:36.
Yesus menjawab, ”Ini yang paling penting: ’Israel, dengarlah! Yehuwa itu Allah kita, Yehuwa itu esa, dan kasihilah Yehuwa Allahmu dengan sepenuh hati, sepenuh jiwa, seluruh pikiran, dan seluruh kekuatanmu.’ Yang kedua, ’Kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri.’ Tidak ada perintah lain yang lebih penting daripada kedua perintah itu.”—Markus 12:29-31.
Mendengar itu, ahli Taurat tersebut berkata, ”Jawaban Guru bagus dan sesuai dengan kebenaran bahwa ’Allah itu esa, dan tidak ada Allah lain selain Dia’. Dan, mengasihi Dia dengan sepenuh hati, seluruh pikiran, dan seluruh kekuatan, juga mengasihi sesama seperti diri sendiri, itu jauh lebih penting daripada memberikan persembahan bakaran dan korban.” Karena jawaban pria itu benar, Yesus memberi tahu dia, ”Kamu tidak jauh dari Kerajaan Allah.”—Markus 12:32-34.
Yesus sudah mengajar di bait selama tiga hari (tanggal 9, 10, dan 11 Nisan). Sejumlah orang, termasuk ahli Taurat itu, senang mendengarkan ajarannya. Tapi, para pemimpin agama sangat marah. Meski begitu, mereka tidak ”berani menanyai dia lagi”.
-
-
Yesus Mengecam Para Pemimpin AgamaYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 109
Yesus Mengecam Para Pemimpin Agama
MATIUS 22:41–23:24 MARKUS 12:35-40 LUKAS 20:41-47
KRISTUS ITU PUTRA SIAPA?
YESUS MEMBONGKAR KEMUNAFIKAN MUSUH-MUSUHNYA
Musuh-musuh Yesus tidak berhasil menjebak dia. Jadi, mereka tidak bisa menyerahkan dia kepada pemerintah Romawi. (Lukas 20:20) Sekarang masih tanggal 11 Nisan, dan Yesus berada di bait. Kini Yesus ingin menunjukkan kepada para pemimpin agama siapa dia sebenarnya. Yesus bertanya, ”Apa pendapat kalian tentang Kristus? Dia putra siapa?” (Matius 22:42) Orang-orang Yahudi tahu bahwa Kristus, atau Mesias, adalah keturunan Daud. Jadi itulah jawaban para pemimpin agama.—Matius 9:27; 12:23; Yohanes 7:42.
Yesus bertanya lagi, ”Kalau begitu, kenapa Daud mendapat ilham untuk menyebut dia Tuan sewaktu berkata, ’Yehuwa berkata kepada Tuanku, ”Duduklah di sebelah kanan-Ku sampai Aku membuat musuh-musuhmu takluk di bawah kakimu”’? Kalau Daud menyebut dia Tuan, bagaimana mungkin dia putra Daud?”—Matius 22:43-45.
Orang Farisi berpikir bahwa Mesias adalah seorang keturunan Daud yang akan membebaskan mereka dari penjajahan Romawi. Namun dengan mengutip kata-kata Daud di Mazmur 110:1, 2, Yesus menunjukkan bahwa Mesias bukanlah manusia biasa yang menjadi penguasa. Dia adalah Tuan dari Daud, yang akan memerintah setelah duduk di sebelah kanan Allah. Jawaban Yesus ini membuat orang Farisi terdiam.
Para murid dan orang-orang lain mendengarkan percakapan itu. Yesus sekarang memperingatkan mereka tentang para ahli Taurat dan orang Farisi yang ”mengambil kedudukan Musa” untuk mengajarkan Hukum Allah. Yesus memberi tahu para pendengarnya, ”Lakukan semua yang mereka beri tahukan kepada kalian, tapi jangan bertindak seperti mereka, karena mereka berbicara tapi tidak melakukan.”—Matius 23:2, 3.
Yesus kemudian memberikan contoh tindakan mereka yang munafik. Dia berkata, ”Mereka memperbesar kotak-kotak berisi ayat yang mereka pakai sebagai jimat.” Sejumlah orang Yahudi memakai kotak-kotak kecil berisi ayat dari hukum Taurat. Mereka memakainya di dahi atau lengan mereka. Namun, orang Farisi memakai kotak yang lebih besar untuk memberikan kesan bahwa mereka sangat menaati hukum Taurat. Selain itu, mereka ”memperpanjang rumbai pakaian mereka”. Orang Israel memang diperintahkan untuk membuat pinggiran berumbai pada pakaian mereka, tapi orang Farisi membuat rumbai yang lebih panjang. (Bilangan 15:38-40) Mereka melakukan semua itu ”untuk dilihat orang”.—Matius 23:5.
Kesombongan seperti itu bisa menular bahkan kepada murid-murid Yesus. Jadi Yesus menasihati mereka, ”Janganlah kalian dipanggil Rabi, karena Guru kalian satu, dan kalian semua bersaudara. Juga, jangan sebut siapa pun di bumi Bapak, karena Bapak kalian satu, yaitu yang di surga. Juga, jangan disebut pemimpin, karena Pemimpin kalian satu, yaitu Kristus.” Jadi, bagaimana seharusnya sikap para murid? Yesus memberi tahu mereka, ”Yang terbesar di antara kalian harus menjadi pelayan kalian. Siapa pun yang meninggikan diri akan direndahkan, dan siapa pun yang merendahkan diri akan ditinggikan.”—Matius 23:8-12.
Yesus lalu berkata kepada para ahli Taurat dan orang Farisi, ”Sungguh celaka kalian, ahli Taurat dan orang Farisi, orang-orang munafik! Kalian menutup pintu Kerajaan surga di depan orang-orang. Kalian sendiri tidak masuk, dan kalian tidak mengizinkan orang yang mau masuk.”—Matius 23:13.
Yesus mengecam orang Farisi karena mereka tidak memedulikan hal-hal yang Yehuwa anggap penting. Mereka malah membuat berbagai peraturan tidak masuk akal. Misalnya mereka mengatakan, ”Kalau seseorang bersumpah demi bait, itu tidak ada artinya, tapi kalau dia bersumpah demi emas di bait, dia terikat sumpah itu.” Mereka lebih mementingkan emas di bait daripada nilai bait itu sebagai tempat ibadah kepada Yehuwa. Jadi, mereka buta secara rohani. Mereka ”mengabaikan hal-hal yang lebih penting dalam Taurat, yaitu keadilan, belas kasihan, dan kesetiaan”.—Matius 23:16, 23; Lukas 11:42.
Yesus mengatakan kepada orang-orang Farisi itu, ”Penuntun-penuntun buta, nyamuk kalian singkirkan dari minuman kalian, tapi unta malah kalian telan!” (Matius 23:24) Mereka menyaring nyamuk dari minuman mereka karena menurut Taurat, nyamuk dianggap najis. Namun, mereka mengabaikan hal-hal yang lebih penting dalam Taurat. Mereka seolah menelan unta, yang juga binatang yang najis, namun jauh lebih besar daripada nyamuk.—Imamat 11:4, 21-24.
-
-
Hari Terakhir Yesus di BaitYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 110
Hari Terakhir Yesus di Bait
MATIUS 23:25–24:2 MARKUS 12:41–13:2 LUKAS 21:1-6
YESUS SEKALI LAGI MENGECAM PARA PEMIMPIN AGAMA
BAIT AKAN DIHANCURKAN
SEORANG JANDA MISKIN MENYUMBANGKAN DUA UANG LOGAM KECIL
Pada hari terakhirnya di bait, Yesus terus membongkar kemunafikan para ahli Taurat dan orang Farisi. Dia bahkan terang-terangan menyebut mereka munafik. Dia berkata, ”Kalian membersihkan bagian luar mangkuk dan piring, tapi bagian dalamnya penuh dengan keserakahan dan nafsu yang tak terkendali. Orang Farisi yang buta, bersihkan dulu bagian dalam mangkuk dan piring itu, supaya bagian luarnya juga bersih.” (Matius 23:25, 26) Orang Farisi begitu memperhatikan kebersihan dan penampilan luar, tapi mereka tidak membersihkan pikiran dan hati mereka.
Mereka dengan munafik membangun dan menghiasi makam para nabi. Padahal, seperti yang Yesus katakan, mereka adalah ”keturunan dari pembunuh para nabi”. (Matius 23:31) Buktinya, mereka sekarang berusaha membunuh Yesus.—Yohanes 5:18; 7:1, 25.
Yesus kemudian mengatakan apa yang akan dialami para pemimpin agama itu jika tidak bertobat: ”Ular-ular, keturunan ular berbisa, bagaimana kalian akan lolos dari hukuman Gehena?” (Matius 23:33) Gehena, atau Lembah Hinom, adalah tempat pembakaran sampah yang ada di dekat sana. Itu cocok menggambarkan kebinasaan abadi yang akan dialami para ahli Taurat dan orang Farisi yang jahat.
Murid-murid Yesus akan mewakili dia sebagai ”nabi, orang bijak, dan guru”. Bagaimana mereka akan diperlakukan? Yesus berkata kepada para pemimpin agama, ”Sebagian dari [murid-murid saya] akan kalian bunuh dan hukum mati di tiang, dan sebagian akan kalian cambuk di rumah-rumah ibadah kalian dan aniaya dari kota ke kota, sehingga kalian akan menanggung darah semua orang benar yang ditumpahkan di bumi, mulai dari darah Habel yang adalah orang benar sampai Zakharia . . . yang kalian bunuh.” Yesus memperingatkan, ”Hukuman atas semua dosa itu akan menimpa generasi ini.” (Matius 23:34-36) Itulah yang terjadi pada tahun 70 M, ketika pasukan Romawi menghancurkan Yerusalem dan menewaskan ribuan orang Yahudi.
Yesus sedih dan tertekan karena memikirkan keadaan mengerikan yang akan menimpa kota itu. Dia berkata, ”Yerusalem, Yerusalem, yang membunuh para nabi dan merajam orang-orang yang diutus kepadamu, sudah sering saya berupaya mengumpulkan anak-anakmu, seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya! Tapi kalian tidak mau. Maka, bait kalian akan ditinggalkan.”—Matius 23:37, 38.
Yesus menambahkan, ”Saya katakan kepada kalian, mulai sekarang, kalian tidak akan melihat saya lagi sampai kalian berkata, ’Diberkatilah dia yang datang dengan nama Yehuwa!’” (Matius 23:39) Yesus sedang mengutip nubuat di Mazmur 118:26, yaitu: ”Diberkatilah dia yang datang dengan nama Yehuwa; kami memberkati kalian dari rumah Yehuwa.” Jadi, orang-orang akan datang untuk beribadah ”dengan nama Yehuwa”, tapi bukan ke bait yang ada di bumi, karena bait itu akan dihancurkan.
Yesus lalu pergi ke bagian lain di bait, ke tempat kotak-kotak sumbangan. Orang-orang memasukkan sumbangan mereka melalui lubang kecil di setiap kotak. Yesus melihat berbagai macam orang Yahudi memberikan sumbangan, termasuk orang-orang kaya yang ”memasukkan banyak uang logam”. Yesus juga mengamati seorang janda miskin ”memasukkan dua uang logam yang nilainya sangat kecil”. (Markus 12:41, 42) Yesus tahu bahwa Allah sangat senang dengan sumbangan janda itu.
Yesus memanggil murid-muridnya dan berkata, ”Sesungguhnya kukatakan, janda miskin ini memasukkan lebih banyak daripada semua orang lain yang memasukkan uang ke kotak sumbangan.” Mengapa Yesus berkata begitu? Dia menjelaskan, ”Mereka semua memberi dari kelebihan harta mereka. Tapi dia, meski berkekurangan, memasukkan semua miliknya, semua yang dia miliki untuk menunjang hidupnya.” (Markus 12:43, 44) Janda ini sungguh berbeda dengan para pemimpin agama!
Setelah itu, Yesus meninggalkan bait untuk terakhir kalinya. Waktu itu masih tanggal 11 Nisan. Salah satu muridnya berkata, ”Guru, lihat batu-batu dan bangunan yang luar biasa ini!” (Markus 13:1) Beberapa batu di tembok bait memang luar biasa besar sehingga bait itu terlihat sangat kokoh dan tidak mungkin hancur. Jadi, kata-kata Yesus berikutnya pasti terdengar aneh. ”Kalian lihat semua bangunan yang megah ini? Semua ini akan dirobohkan. Tidak akan ada satu batu pun yang masih tersusun di atas batu lainnya,” katanya.—Markus 13:2.
Dari sana, Yesus dan para rasulnya menyeberangi Lembah Kidron dan mendaki Gunung Zaitun. Di sana, Yesus didekati oleh empat rasulnya, yaitu Petrus, Andreas, Yakobus, dan Yohanes. Dari atas gunung itu, mereka bisa melihat bait yang megah.
-
-
Para Rasul Bertanya tentang Peristiwa-Peristiwa di Masa DepanYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 111
Para Rasul Bertanya tentang Peristiwa-Peristiwa di Masa Depan
MATIUS 24:3-51 MARKUS 13:3-37 LUKAS 21:7-38
TANDA KEHADIRAN YESUS DAN PENUTUP ZAMAN
NUBUAT YESUS MENJADI KENYATAAN PADA ZAMAN DULU DAN ZAMAN SEKARANG
KITA HARUS SELALU BERJAGA-JAGA
Sekarang hari Selasa sore, dan tanggal 11 Nisan sebentar lagi berakhir. Pelayanan Yesus di bumi juga hampir selesai. Beberapa hari ini, Yesus sibuk mengajar di bait pada siang hari, dan malamnya dia menginap di luar Yerusalem. Banyak orang senang mendengarkan Yesus, jadi ”pagi-pagi sekali, semua orang datang ke bait”. (Lukas 21:37, 38) Tapi, Yesus tidak akan ke bait lagi. Sekarang, dia duduk di Gunung Zaitun bersama empat rasulnya, yaitu Petrus, Andreas, Yakobus, dan Yohanes.
Empat rasul ini mendatangi Yesus karena dia sebelumnya menubuatkan bahwa tidak akan ada batu dari bait yang dibiarkan tersusun. Jadi, mereka ingin tahu apa yang akan terjadi atas bait. Tapi, bukan hanya itu yang mereka pikirkan. Yesus sebelumnya menasihati mereka, ”Tetaplah siaga, karena Putra manusia akan datang pada jam yang tidak kalian sangka.” (Lukas 12:40) Dia juga pernah berbicara tentang ”hari Putra manusia menunjukkan kuasanya”. (Lukas 17:30) Para rasul ingin tahu apakah hal-hal itu ada hubungannya dengan kata-kata Yesus tentang bait. Mereka berkata, ”Beri tahu kami, kapan hal-hal itu akan terjadi, dan apa yang akan menjadi tanda kehadiranmu dan tanda penutup zaman ini?”—Matius 24:3.
Mereka mungkin ingin tahu tentang kehancuran bait di Yerusalem, yang terlihat dari tempat mereka duduk. Selain itu, mereka bertanya tentang kehadiran Putra manusia sebagai Raja. Mereka bisa jadi ingat perumpamaan Yesus tentang ’bangsawan yang pergi ke negeri yang jauh untuk menjadi raja, dan setelah itu akan kembali’. (Lukas 19:11, 12) Para rasul ini juga ingin tahu apa ”tanda penutup zaman ini”.
Jawaban Yesus sangat terperinci. Dia memberitahukan tanda yang menunjukkan kapan zaman Yahudi pada waktu itu berakhir dan bait mereka dihancurkan. Tanda ini juga membantu orang Kristen untuk tahu apakah mereka sekarang hidup pada masa ’kehadiran’ Yesus, yang adalah penutup zaman akhir.
Seiring berlalunya waktu, para rasul bisa melihat bahwa nubuat Yesus menjadi kenyataan. Banyak nubuat Yesus mulai terjadi pada zaman mereka. Karena itu, pada tahun 70 M, yaitu 37 tahun setelah Yesus menyampaikan nubuatnya, para pengikutnya bisa siap menghadapi akhir zaman Yahudi dan kehancuran bait mereka. Namun pada tahun itu, tidak semua nubuat Yesus sudah menjadi kenyataan. Masih ada nubuat yang akan terjadi selama kehadiran Yesus sebagai Raja Kerajaan Allah. Apa saja itu?
Yesus menubuatkan bahwa akan ada ”peperangan dan berita-berita perang” dan ”bangsa akan bangkit melawan bangsa, dan kerajaan melawan kerajaan”. (Matius 24:6, 7) Dia juga mengatakan bahwa ”akan ada gempa bumi yang besar, dan di mana-mana akan ada kekurangan makanan dan wabah penyakit”. (Lukas 21:11) Yesus lalu memperingatkan murid-muridnya, ”Orang-orang akan menangkap dan menganiaya kalian.” (Lukas 21:12) Selain itu, akan ada nabi-nabi palsu yang menyesatkan banyak orang. Kejahatan akan meningkat, dan kebanyakan orang tidak akan memiliki kasih. Yesus juga berkata bahwa ”kabar baik tentang Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh bumi, sebagai kesaksian bagi semua bangsa, kemudian akhir itu akan datang”.—Matius 24:14.
Sebagian nubuat itu terjadi sebelum dan selama Yerusalem dihancurkan oleh orang Romawi. Tapi, nubuat itu menjadi kenyataan dalam skala yang lebih besar pada zaman kita. Bukankah kita sekarang sudah melihat buktinya?
Salah satu tanda kehadiran Yesus adalah munculnya ”hal menjijikkan yang membawa kehancuran”. (Matius 24:15) Ini terjadi pada tahun 66 M, ketika pasukan Romawi ”berkemah di sekeliling Yerusalem” dan merusak sebagian tembok kota itu. Mereka membawa bendera-bendera yang menunjukkan penyembahan berhala mereka. (Lukas 21:20) Jadi, ”hal menjijikkan” ini ada di tempat yang tidak seharusnya, yaitu di kota yang dianggap kudus oleh bangsa Yahudi.
Yesus juga bernubuat, ”Akan ada kesengsaraan besar yang belum pernah terjadi sejak awal dunia sampai sekarang, dan tidak akan terjadi lagi.” Pada tahun 70 M, pasukan Romawi menghancurkan Yerusalem, ”kota suci” itu, beserta baitnya. Orang Yahudi mengalami kesengsaraan yang besar, dan ribuan orang kehilangan nyawa. (Matius 4:5; 24:21) Yerusalem tidak pernah dihancurkan sampai seperti itu, dan orang Yahudi tidak pernah begitu sengsara. Karena bait sudah hancur, berakhirlah pengaturan ibadah yang telah dijalankan orang Yahudi selama berabad-abad. Jelaslah, sewaktu kata-kata Yesus terjadi dalam skala yang lebih besar nanti, keadaannya juga akan sangat parah.
PARA PENGIKUT YESUS BISA TETAP OPTIMIS SELAMA AKHIR ZAMAN
Yesus belum selesai menjelaskan tentang tanda kehadirannya sebagai Raja Kerajaan Allah dan tanda penutup zaman akhir. Sekarang, Yesus memperingatkan mereka bahwa banyak ’Kristus palsu dan nabi palsu’ akan mencoba menyesatkan ”orang-orang pilihan”. (Matius 24:24) Tapi, orang-orang pilihan ini tidak akan disesatkan, karena mereka tahu bahwa kehadiran Yesus tidak akan terlihat, sedangkan Kristus-Kristus palsu hanyalah manusia yang kelihatan.
Yesus lalu menjelaskan apa yang akan terjadi selama kesengsaraan besar pada akhir zaman. Dia berkata, ”Matahari akan menjadi gelap, bulan tidak akan bercahaya, bintang-bintang akan jatuh dari langit, dan kuasa-kuasa langit akan terguncang.” (Matius 24:29) Para rasul yang mendengar gambaran yang mengerikan itu tidak tahu pasti apa yang akan terjadi. Yang jelas, peristiwa itu pasti akan sangat dahsyat.
Bagaimana reaksi orang-orang ketika peristiwa-peristiwa ini terjadi? Yesus menjelaskan, ”Orang akan pingsan karena ketakutan dan karena membayangkan apa yang akan menimpa bumi, sebab kuasa-kuasa langit akan terguncang.” (Lukas 21:26) Jelaslah, itu akan menjadi masa paling kelam sepanjang sejarah manusia.
Namun, Yesus menunjukkan bahwa tidak semua orang akan takut saat Putra manusia datang ”dengan kuasa dan kemuliaan yang besar”. (Matius 24:30) Yesus berkata bahwa ada ”orang-orang pilihan” yang akan Allah selamatkan. (Matius 24:22) Jadi, bagaimana seharusnya tanggapan para pengikut Yesus ketika berbagai peristiwa menakutkan itu terjadi? Yesus berkata, ”Sewaktu hal-hal itu mulai terjadi, berdirilah dengan tegak dan angkat kepala kalian, karena kalian akan segera dibebaskan.”—Lukas 21:28.
Tapi, bagaimana orang Kristen bisa tahu bahwa akhir itu sudah dekat? Untuk menjelaskannya, Yesus memberikan perumpamaan tentang pohon ara. Dia berkata, ”Begitu dahan-dahan mudanya menjadi lembut dan berdaun, kalian tahu musim panas sudah dekat. Begitu juga, kalau kalian melihat semua hal itu, kalian harus tahu bahwa Putra manusia sudah di ambang pintu. Sesungguhnya kukatakan, generasi ini tidak akan lenyap sampai semuanya itu terjadi.”—Matius 24:32-34.
Jadi, ketika para pengikut Yesus melihat berbagai nubuat itu menjadi kenyataan, mereka bisa tahu bahwa akhir itu sudah dekat. Yesus kemudian memberikan peringatan bagi para pengikutnya yang hidup pada akhir zaman itu:
”Mengenai hari dan jamnya, tidak ada yang tahu. Malaikat-malaikat di surga tidak tahu, Putra pun tidak. Hanya Bapak yang tahu. Masa kehadiran Putra manusia akan sama seperti zaman Nuh. Sebelum Air Bah, orang-orang makan dan minum, pria-pria menikah dan wanita-wanita dinikahkan, sampai hari Nuh masuk ke dalam bahtera. Mereka tidak memperhatikan sampai Air Bah datang dan melenyapkan mereka semua. Begitulah keadaannya nanti pada masa kehadiran Putra manusia.” (Matius 24:36-39) Jadi, sama seperti Air Bah pada zaman Nuh melanda seluruh dunia, kehadiran Yesus akan memengaruhi semua manusia.
Para rasul yang mendengarkan Yesus di Gunung Zaitun itu sadar bahwa mereka perlu tetap siap. Yesus memperingatkan, ”Hati-hatilah, jangan sampai hati kalian terbebani karena makan berlebihan, minum berlebihan, dan mengkhawatirkan hidup, supaya hari itu tidak tiba-tiba menimpa kalian seperti perangkap. Sebab hari itu akan menimpa semua orang yang tinggal di seluruh bumi. Jadi, kalian harus tetap waspada dan selalu memohon supaya kalian berhasil selamat dari semua hal yang harus terjadi itu, dan bisa berdiri di hadapan Putra manusia.”—Lukas 21:34-36.
Jelaslah, Yesus tidak berbicara tentang kehancuran kota Yerusalem yang hanya memengaruhi bangsa Yahudi. Sebaliknya, dia membicarakan hal-hal yang ”akan menimpa semua orang yang tinggal di seluruh bumi”. Jadi, Yesus sekali lagi menunjukkan bahwa nubuatnya akan terjadi dalam skala yang lebih besar.
Yesus mengatakan bahwa murid-muridnya harus tetap waspada dan siap. Untuk menandaskan hal ini, Yesus memberikan perumpamaan lain. Dia berkata, ”Pikirkan ini: Kalau tuan rumah sudah tahu pada jam berapa pencuri akan datang, dia pasti tetap berjaga dan tidak membiarkan rumahnya dibobol. Jadi pastikan bahwa kalian siap, karena Putra manusia akan datang pada waktu yang tidak kalian sangka.”—Matius 24:43, 44.
Yesus lalu memberitahukan mengapa para pengikutnya bisa tetap optimis. Dia meyakinkan mereka bahwa sewaktu nubuatnya sedang terjadi, akan ada ”budak” yang tetap waspada dan rajin. Yesus memberikan perumpamaan ini: ”Siapa sebenarnya budak yang setia dan bijaksana, yang diangkat oleh majikannya untuk mengurus para pelayan rumahnya, untuk memberi mereka makanan pada waktu yang tepat? Bahagialah budak itu kalau saat majikannya datang, majikannya melihat dia sedang melakukan tugasnya! Sesungguhnya kukatakan, majikannya akan mengangkat dia untuk mengurus semua harta miliknya.” Tapi, seandainya budak itu menjadi jahat dan memperlakukan orang lain dengan buruk, sang majikan akan ”menghukum dia seberat-beratnya”.—Matius 24:45-51; bandingkan Lukas 12:45, 46.
Apa maksud Yesus? Dia tidak memaksudkan bahwa sekelompok pengikutnya akan menjadi jahat. Dia ingin mengingatkan para pengikutnya untuk selalu waspada dan rajin. Dia akan memperjelas hal ini dalam perumpamaan lain.
-
-
Perumpamaan tentang Sepuluh Gadis—Pentingnya Selalu SiapYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 112
Perumpamaan tentang Sepuluh Gadis—Pentingnya Selalu Siap
YESUS MENCERITAKAN PERUMPAMAAN TENTANG SEPULUH GADIS
Yesus baru saja menjawab pertanyaan para rasul tentang tanda kehadirannya dan tanda penutup zaman. Sekarang, Yesus menceritakan sebuah perumpamaan tentang situasi pada masa kehadirannya, yang dapat terlihat jelas oleh orang-orang yang hidup pada masa itu. Perumpamaan ini diberikan agar para pengikut Yesus tahu sikap seperti apa yang harus mereka miliki.
Yesus memulai perumpamaannya, ”Kerajaan surga bisa disamakan dengan sepuluh gadis yang membawa lampu minyak mereka dan keluar untuk menyambut pengantin laki-laki. Lima di antara mereka bodoh, dan lima lagi bijaksana.”—Matius 25:1, 2.
Yesus tidak memaksudkan bahwa setengah dari pengikutnya yang akan masuk ke Kerajaan surga itu bodoh dan setengah lainnya bijaksana. Tapi maksud Yesus, setiap muridnya bisa memilih untuk siap menantikan Kerajaan Allah atau malah sibuk melakukan hal-hal lain. Namun, Yesus yakin bahwa semua hambanya bisa tetap setia dan akhirnya diberkati Bapaknya.
Dalam perumpamaan itu, sepuluh gadis tadi keluar untuk menyambut pengantin laki-laki dan mengikuti upacara pernikahan. Rencananya, ketika pengantin laki-laki datang, para gadis itu akan menerangi jalan dengan lampu-lampu yang mereka bawa. Mereka akan mengiringi pengantin laki-laki itu, yang mau membawa pengantin perempuan ke rumah yang sudah dia siapkan. Namun, apa yang terjadi?
Yesus bercerita, ”Yang bodoh membawa lampu mereka tapi tidak membawa minyak, sedangkan yang bijaksana membawa lampu mereka dan juga minyak dalam botol mereka. Karena pengantin laki-laki belum datang juga, mereka semua mengantuk dan tertidur.” (Matius 25:3-5) Pengantin laki-laki itu tidak datang secepat yang diduga. Setelah menunggu cukup lama, gadis-gadis itu tertidur. Para rasul mungkin ingat perumpamaan Yesus lainnya tentang seorang bangsawan yang pergi ke negeri yang jauh dan ”akhirnya pulang” setelah menjadi raja.—Lukas 19:11-15.
Yesus lalu menceritakan apa yang terjadi ketika pengantin laki-laki akhirnya datang: ”Pada tengah malam, ada seruan, ’Pengantin laki-laki datang! Keluarlah untuk menyambutnya.’” (Matius 25:6) Apakah semua gadis itu siap menyambut kedatangannya?
Yesus bercerita, ”Semua gadis itu bangun dan menyiapkan lampu mereka. Yang bodoh berkata kepada yang bijaksana, ’Beri kami sedikit minyak, karena lampu kami hampir mati.’ Yang bijaksana menjawab, ’Sepertinya tidak cukup untuk kami dan kalian. Pergi saja ke penjualnya dan beli sendiri.’”—Matius 25:7-9.
Lima gadis yang bodoh tidak siap menyambut sang pengantin laki-laki. Mereka tidak punya cukup minyak untuk lampu mereka, jadi mereka harus membelinya. Yesus mengatakan, ”Sementara mereka pergi membelinya, pengantin laki-laki datang. Gadis-gadis yang sudah siap pun masuk bersamanya ke pesta pernikahan, dan pintu ditutup. Setelah itu, gadis-gadis yang lain juga datang dan berkata, ’Pak, Pak, bukakan kami pintu!’ Dia menjawab, ’Saya katakan dengan sebenarnya kepada kalian, saya sama sekali tidak kenal kalian.’” (Matius 25:10-12) Karena mereka tidak siap, akibatnya sangat menyedihkan!
Para rasul tahu bahwa pengantin laki-laki itu adalah Yesus sendiri. Sebelumnya, Yesus pernah menyamakan dirinya dengan seorang pengantin laki-laki. (Lukas 5:34, 35) Nah, siapakah para gadis itu? Ketika Yesus membahas tentang ”kawanan kecil” yang akan mewarisi Kerajaan Allah, Yesus pernah mengatakan, ”Berpakaianlah dan bersiaplah, dan pastikan lampu minyak kalian tetap menyala.” (Lukas 12:32, 35) Jadi, para rasul tahu bahwa gadis-gadis itu memaksudkan mereka sendiri dan anggota lainnya dari kawanan kecil. Peringatan apa yang ingin Yesus sampaikan melalui perumpamaan itu?
Yesus dengan jelas memberitahukan hal itu di akhir perumpamaannya. Dia berkata, ”Teruslah berjaga-jaga, karena kalian tidak tahu hari ataupun jamnya.”—Matius 25:13.
Jadi, Yesus menasihati para pengikutnya untuk ’terus berjaga-jaga’ selama masa kehadirannya. Yesus akan datang, dan mereka harus siap menyambutnya seperti lima gadis yang bijaksana tadi. Dengan begitu, mereka akan terus mengingat harapan mereka yang luar biasa dan akhirnya mendapat berkat itu.
-
-
Perumpamaan tentang Talenta—Pentingnya Selalu RajinYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 113
Perumpamaan tentang Talenta—Pentingnya Selalu Rajin
YESUS MENCERITAKAN PERUMPAMAAN TENTANG TALENTA
Beberapa hari sebelumnya di Yerikho, Yesus menceritakan perumpamaan tentang mina untuk menunjukkan bahwa Kerajaan Allah akan memerintah di masa depan. Sekarang, Yesus dan empat rasulnya masih ada di Gunung Zaitun, dan dia memberitahukan perumpamaan lain yang mirip dengan perumpamaan tersebut. Ini adalah bagian dari penjelasannya tentang tanda kehadirannya dan tanda penutup zaman. Lewat perumpamaan ini, Yesus menasihati para pengikutnya untuk dengan rajin melakukan pekerjaan yang dia percayakan kepada mereka.
Yesus memulai perumpamaannya, ”Kerajaan itu juga sama seperti seorang pria yang akan pergi ke luar negeri, yang memanggil budak-budaknya dan memercayakan hartanya kepada mereka.” (Matius 25:14) Yesus sebelumnya menyamakan dirinya dengan seorang pria yang pergi ke luar negeri ”untuk menjadi raja”. Karena itu, para rasul langsung tahu bahwa pria dalam perumpamaan ini juga adalah Yesus.—Lukas 19:12.
Sebelum pria itu pergi ke luar negeri, dia memercayakan hartanya kepada budak-budaknya. Yesus sudah melayani di bumi selama tiga setengah tahun. Dia sibuk memberitakan kabar baik tentang Kerajaan Allah dan melatih para muridnya untuk melakukan pekerjaan yang sama. Sebentar lagi, Yesus akan meninggalkan murid-muridnya, dan dia yakin bahwa mereka akan terus melakukan pekerjaan itu.—Matius 10:7; Lukas 10:1, 8, 9; bandingkan Yohanes 4:38; 14:12.
Dalam perumpamaan itu, bagaimana pria tadi membagi hartanya? Yesus berkata, ”Yang satu dia beri lima talenta, yang lain dua talenta, dan yang lain lagi satu talenta, sesuai dengan kesanggupan masing-masing. Lalu dia pergi ke luar negeri.” (Matius 25:15) Setelah mendapat harta, apa yang akan dilakukan budak-budak ini? Apakah mereka akan dengan rajin menggunakan harta itu demi kepentingan sang majikan? Yesus melanjutkan ceritanya:
”Budak yang menerima lima talenta langsung pergi dan memakai talenta itu untuk menjalankan usaha, dan mendapat untung lima talenta lagi. Begitu juga, budak yang menerima dua talenta juga mendapat untung dua talenta lagi. Tapi budak yang hanya menerima satu talenta pergi mengubur uang majikannya dalam tanah.” (Matius 25:16-18) Apa yang terjadi saat sang majikan kembali?
Yesus melanjutkan, ”Lama setelah itu, majikan budak-budak itu datang dan mengadakan perhitungan dengan mereka.” (Matius 25:19) Dua budak pertama telah berusaha sebaik-baiknya, ”sesuai dengan kesanggupan masing-masing”. Mereka berdua rajin dan mau bekerja keras sehingga talenta yang dipercayakan kepada mereka bertambah menjadi dua kali lipat. (Pada zaman itu, satu talenta adalah upah seorang pekerja selama kira-kira 19 tahun.) Sang majikan memuji dua budaknya ini, ”Bagus sekali, budak yang baik dan setia! Kamu setia mengurus sedikit hal. Saya akan mengangkat kamu untuk mengurus banyak hal. Ikutlah bersukacita bersama majikanmu.”—Matius 25:21.
Bagaimana dengan budak yang mendapat satu talenta? Dia mengatakan, ”Tuan, saya tahu Tuan suka menuntut. Tuan menuai meski tidak menabur, dan mengumpulkan hasil panen meski tidak menampi. Jadi saya menjadi takut, dan saya pergi mengubur talenta Tuan dalam tanah. Ini saya kembalikan milik Tuan.” (Matius 25:24, 25) Budak itu tidak melakukan apa-apa untuk majikannya. Dia bahkan tidak menyerahkan uang itu kepada bankir, yang bisa memberikan bunga. Jadi, dia bisa dikatakan merugikan majikannya.
Sangatlah tepat kalau sang majikan menyebut dia ”budak yang jahat dan malas”. Talenta yang dia miliki akhirnya diambil dan diberikan kepada budak yang rajin. Majikan itu lalu berkata, ”Setiap orang yang memiliki akan diberi lebih banyak, dan miliknya akan berlimpah. Tapi mengenai setiap orang yang tidak memiliki, bahkan apa yang dia miliki akan diambil darinya.”—Matius 25:26, 29.
Para murid perlu benar-benar memikirkan perumpamaan ini. Seperti budak-budak itu, mereka mendapat sesuatu yang berharga, yaitu tugas untuk menjadikan murid. Mereka tahu bahwa itu adalah kehormatan yang luar biasa. Yesus tidak mengharapkan hasil yang sama dari setiap orang, tapi mereka tidak boleh bersikap malas dan setengah hati dalam mengabar. Mereka harus rajin dan berusaha sebaik-baiknya, ”sesuai dengan kesanggupan masing-masing”.
Jika para rasul menjalankan tugas mereka dengan rajin, Yesus mengatakan bahwa mereka ”akan diberi lebih banyak”. Janji ini pasti membuat mereka senang!
-
-
Kristus Akan Datang untuk Menghakimi Domba dan KambingYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 114
Kristus Akan Datang untuk Menghakimi Domba dan Kambing
YESUS MENCERITAKAN PERUMPAMAAN TENTANG DOMBA DAN KAMBING
Di Gunung Zaitun, Yesus telah menceritakan perumpamaan tentang sepuluh gadis dan tentang talenta. Dia sekarang menceritakan satu perumpamaan terakhir, yaitu perumpamaan mengenai domba dan kambing. Semua ini adalah jawaban atas pertanyaan rasul-rasulnya tentang tanda kehadirannya dan tanda penutup zaman.
Yesus memulai perumpamaan ini dengan mengatakan, ”Sewaktu Putra manusia datang dalam kemuliaannya bersama semua malaikat, dia akan duduk di takhtanya yang mulia.” (Matius 25:31) Sebelumnya, Yesus sering menyebut dirinya sebagai ”Putra manusia”. Jadi, dialah tokoh utama dalam perumpamaan ini.—Matius 8:20; 9:6; 20:18, 28.
Kapan perumpamaan ini akan menjadi kenyataan? Ini akan terjadi di masa depan, sewaktu Yesus ”datang dalam kemuliaannya” bersama para malaikat dan duduk ”di takhtanya yang mulia”. Sebelumnya, Yesus sudah mengatakan bahwa Putra manusia akan ”datang di atas awan-awan langit dengan kuasa dan kemuliaan yang besar” bersama para malaikatnya. Kapan Yesus akan datang? ”Segera setelah masa kesengsaraan itu.” (Matius 24:29-31; Markus 13:26, 27; Lukas 21:27) Apa yang akan dia lakukan pada saat itu?
Yesus menjelaskan, ”Sewaktu Putra manusia datang . . . , semua bangsa akan dikumpulkan di hadapannya, dan dia akan memisahkan orang-orang, seperti gembala memisahkan domba dari kambing. Domba-domba akan dia tempatkan di sebelah kanannya, tapi kambing-kambing di sebelah kirinya.”—Matius 25:31-33.
Apa yang akan terjadi dengan domba-domba itu? Yesus mengatakan, ”Raja akan berkata kepada mereka yang di kanannya, ’Mari, kalian yang sudah diberkati Bapakku, warisilah Kerajaan yang disiapkan bagi kalian sejak permulaan dunia.’” (Matius 25:34) Mengapa sang Raja berkenan kepada domba-domba itu?
Sang Raja menjelaskan, ”Sebab saat saya lapar, kalian memberi saya makan. Saya haus, dan kalian memberi saya minum. Saya datang sebagai orang tak dikenal, dan kalian menerima saya dengan baik hati. Saya tidak berpakaian, dan kalian memberi saya pakaian. Saya jatuh sakit, dan kalian merawat saya. Saya berada di penjara, dan kalian mengunjungi saya.” Ketika domba-domba itu, yaitu ”orang-orang yang benar”, bertanya apa maksud kata-kata sang Raja, dia menjawab, ”Sejauh kalian melakukannya untuk salah satu saudara saya yang paling kecil ini, kalian melakukannya untuk saya.” (Matius 25:35, 36, 40, 46) Di surga tidak ada orang yang sakit atau lapar. Jadi, semua kebaikan ini pasti dilakukan untuk saudara-saudara Kristus di bumi.
Bagaimana dengan kambing-kambing, yang ditempatkan di sebelah kiri? Yesus mengatakan, ”[Sang Raja] akan berkata kepada mereka yang di kirinya, ’Orang-orang terkutuk, pergilah dari hadapan saya! Masuklah ke dalam api kekal yang disiapkan untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya. Sebab saya lapar, tapi kalian tidak memberi saya makan. Saya haus, tapi kalian tidak memberi saya minum. Saya datang sebagai orang tak dikenal, tapi kalian tidak menerima saya dengan baik hati. Saya tidak berpakaian, tapi kalian tidak memberi saya pakaian. Saya sakit dan berada di penjara, tapi kalian tidak merawat saya.’” (Matius 25:41-43) Kambing-kambing itu pantas dihukum karena mereka tidak memperlakukan saudara-saudara Kristus di bumi dengan baik.
Yesus melanjutkan, ”Kemudian, [sang Raja] akan [mengatakan], ’Sesungguhnya saya katakan, sejauh kalian tidak melakukannya untuk salah satu saudara saya yang paling kecil ini, kalian tidak melakukannya untuk saya.’ Orang-orang ini akan menuju kemusnahan abadi, sedangkan orang-orang yang benar akan menuju kehidupan abadi.” (Matius 25:45, 46) Jadi, para rasul mengerti bahwa penghakiman ini menentukan apakah seseorang akan hidup abadi atau mati untuk selamanya.
Yesus memberikan semua penjelasan ini untuk menjawab pertanyaan para rasulnya di Gunung Zaitun. Namun, semua pengikut Yesus perlu merenungkannya agar mereka bisa memeriksa sikap dan tingkah laku mereka.
-
-
Peristiwa-Peristiwa Menjelang Paskah Terakhir YesusYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 115
Peristiwa-Peristiwa Menjelang Paskah Terakhir Yesus
MATIUS 26:1-5, 14-19 MARKUS 14:1, 2, 10-16 LUKAS 22:1-13
YUDAS ISKARIOT MENGKHIANATI YESUS DEMI UANG
PETRUS DAN YOHANES MENYIAPKAN PASKAH
Yesus sudah selesai mengajar empat rasulnya di Gunung Zaitun. Dia baru menjawab pertanyaan mereka tentang tanda kehadirannya dan tanda penutup zaman.
Tanggal 11 Nisan benar-benar hari yang sibuk bagi Yesus. Kelihatannya, ketika mereka berjalan kembali ke Betani untuk bermalam, Yesus memberi tahu rasul-rasulnya, ”Kalian tahu bahwa dua hari lagi ada Perayaan Paskah, dan Putra manusia akan diserahkan untuk dihukum mati di tiang.”—Matius 26:2.
Para pemimpin agama ingin membunuh Yesus karena pada hari Selasa, dia mengecam dan membongkar keburukan mereka di depan umum. Jadi, pada hari Rabu tanggal 12 Nisan, Yesus dan para rasulnya kelihatannya tidak pergi ke mana-mana untuk menghindari keramaian. Yesus ingin memastikan dia bisa merayakan Paskah bersama para rasulnya pada tanggal 14 Nisan, yaitu pada hari Kamis setelah matahari terbenam.
Sementara itu, para imam kepala dan pemimpin bangsa Yahudi tidak tinggal diam. Mereka ingin ”menangkap Yesus dengan siasat licik dan membunuh dia”. Jadi, mereka berkumpul di rumah Imam Besar Kayafas untuk menyusun rencana. Kapan mereka akan menjalankan rencana itu? Mereka berkata, ”Jangan pada waktu perayaan, supaya tidak ada kerusuhan.” (Matius 26:4, 5) Mereka takut karena banyak orang senang kepada Yesus.
Tiba-tiba, para pemimpin agama itu kedatangan tamu. Mereka sangat kaget karena tamu itu ternyata Yudas Iskariot, rasul Yesus! Setan telah memengaruhi Yudas untuk mengkhianati Tuannya. Yudas bertanya kepada mereka, ”Kalau saya menyerahkan dia kepada kalian, apa yang akan kalian berikan kepada saya?” (Matius 26:15) Dengan senang hati, mereka ”sepakat memberi dia uang perak”. (Lukas 22:5) Berapa jumlahnya? Tiga puluh syekel, sama dengan harga seorang budak. (Keluaran 21:32) Para pemimpin agama itu menganggap Yesus sangat tidak bernilai. Sekarang, Yudas ”mulai mencari kesempatan yang cocok untuk menyerahkan Yesus kepada mereka tanpa setahu orang-orang”.—Lukas 22:6.
Tanggal 13 Nisan dimulai pada hari Rabu setelah matahari terbenam, dan ini adalah malam terakhir Yesus di Betani. Pada hari berikutnya, persiapan terakhir untuk Paskah perlu diselesaikan. Harus ada yang mencari seekor anak domba, yang akan disembelih dan dipanggang utuh-utuh pada sore harinya, setelah tanggal 14 Nisan dimulai. Siapa yang akan menyiapkan semua itu, dan di mana mereka akan makan jamuan Paskah? Yesus belum memberitahukannya. Jadi, Yudas tidak bisa membocorkannya kepada para imam kepala.
Kemungkinan pada hari Kamis siang, Yesus menyuruh Petrus dan Yohanes, ”Pergilah dan siapkan jamuan Paskah untuk kita.” Mereka bertanya, ”Di mana kami harus menyiapkan itu?” Yesus lalu memberikan petunjuk, ”Saat kalian masuk ke kota, seorang pria yang membawa tempayan air akan menemui kalian. Ikuti dia ke rumah yang dia masuki. Lalu katakan kepada tuan rumah, ’Guru berkata, ”Di mana kamar tamu tempat saya bisa makan jamuan Paskah bersama murid-murid saya?”’ Orang itu akan menunjukkan sebuah ruangan besar di tingkat atas, yang sudah disiapkan untuk kita pakai. Siapkan jamuan bagi kita di situ.”—Lukas 22:8-12.
Tuan rumah itu pasti murid Yesus. Dia mungkin sudah bisa menebak bahwa Yesus ingin menggunakan rumahnya. Ketika dua rasul itu pergi ke Yerusalem, semua yang Yesus katakan benar-benar terjadi. Mereka pun menyiapkan anak domba dan keperluan lain untuk jamuan Paskah bagi Yesus dan 12 rasulnya.
-
-
Yesus Mengajarkan Kerendahan Hati pada Paskah TerakhirnyaYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 116
Mengajarkan Kerendahan Hati pada Paskah Terakhirnya
MATIUS 26:20 MARKUS 14:17 LUKAS 22:14-18 YOHANES 13:1-17
YESUS MAKAN JAMUAN PASKAH TERAKHIRNYA BERSAMA PARA RASUL
YESUS MENGAJARKAN KERENDAHAN HATI DENGAN MENCUCI KAKI PARA RASUL
Petrus dan Yohanes tiba lebih dulu di Yerusalem karena mereka diutus oleh Yesus untuk mempersiapkan Paskah. Belakangan, Yesus dan sepuluh rasul lain juga berangkat. Saat mereka turun dari Gunung Zaitun, hari sudah sore, dan matahari mulai terbenam. Ini terakhir kalinya Yesus melihat Yerusalem dari Gunung Zaitun sampai setelah dia dibangkitkan.
Tak lama kemudian, Yesus dan murid-muridnya sampai di Yerusalem dan pergi ke rumah tempat mereka akan makan jamuan Paskah. Mereka naik ke ruangan atas yang besar dan melihat bahwa semuanya sudah siap. Yesus mengatakan, ”Aku sudah menanti-nantikan untuk makan jamuan Paskah ini bersama kalian sebelum aku menderita.”—Lukas 22:15.
Pada zaman itu, beberapa cawan anggur biasanya diedarkan di antara hadirin jamuan Paskah. Ketika menerima salah satu cawan anggur, Yesus mengucap syukur dan berkata, ”Ambil cawan ini dan edarkan ke setiap orang, karena aku memberi tahu kalian, mulai sekarang aku tidak akan minum anggur lagi sampai Kerajaan Allah datang.” (Lukas 22:17, 18) Kata-kata Yesus menunjukkan dengan jelas bahwa dia sebentar lagi akan mati.
Di tengah-tengah acara, Yesus melakukan sesuatu yang tidak biasa. Dia berdiri, melepaskan baju luarnya, dan mengambil handuk. Dia lalu mengisi baskom di dekat situ dengan air dan mulai mencuci kaki para rasulnya. Pada zaman itu, seorang tuan rumah biasanya memastikan bahwa kaki para tamunya dicuci, kemungkinan oleh seorang pelayan. (Lukas 7:44) Tapi kali ini, sang tuan rumah tidak ada, jadi Yesus melakukannya sendiri. Sebenarnya, para rasul bisa melakukan hal itu, tapi tidak ada yang melakukannya. Apakah mereka masih bersaing untuk menjadi yang terbesar? Kita tidak tahu pasti. Yang jelas, mereka pasti malu karena Yesus yang mencuci kaki mereka.
Ketika Yesus akan mencuci kaki Petrus, sang rasul berkata, ”Tuan tidak akan cuci kakiku sama sekali.” Yesus menjawab, ”Kalau aku tidak cuci kakimu, kamu tidak bisa bersamaku.” Lalu Petrus mengatakan, ”Tuan, jangan hanya cuci kakiku, tapi juga tangan dan kepalaku.” Tapi Yesus berkata, ”Orang yang sudah mandi hanya perlu dicuci kakinya, karena seluruh badannya bersih. Kalian bersih, tapi tidak semua di antara kalian bersih.” (Yohanes 13:8-10) Petrus pasti terkejut mendengarnya.
Yesus mencuci kaki semua rasulnya, termasuk Yudas Iskariot. Setelah memakai baju luarnya dan kembali duduk, Yesus mengatakan, ”Apa kalian mengerti kenapa aku lakukan itu kepada kalian? Kalian panggil aku ’Guru’ dan ’Tuan’, dan kalian memang benar. Kalau aku saja, Tuan dan Guru kalian, mencuci kaki kalian, kalian juga harus mencuci kaki satu sama lain. Aku memberi kalian teladan, supaya kalian juga melakukan apa yang aku lakukan kepada kalian. Dengan sungguh-sungguh aku katakan, budak tidak lebih tinggi daripada majikannya, dan orang yang diutus tidak lebih tinggi daripada orang yang mengutusnya. Sekarang kalian tahu tentang hal-hal ini, tapi kalian akan bahagia kalau melakukannya.”—Yohanes 13:12-17.
Benar-benar pelajaran yang bagus tentang kerendahan hati! Para pengikut Yesus tidak boleh berpikir bahwa mereka lebih tinggi daripada yang lain dan harus dilayani. Sebaliknya, mereka harus meniru teladan Yesus. Ini bukan berarti mereka harus mencuci kaki orang lain, tapi mereka harus rela melayani siapa pun dengan rendah hati.
-
-
Perjamuan Malam TuanYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 117
Perjamuan Malam Tuan
MATIUS 26:21-29 MARKUS 14:18-25 LUKAS 22:19-23 YOHANES 13:18-30
YESUS MENUNJUKKAN BAHWA YUDAS ADALAH PENGKHIANAT
YESUS MEMPERKENALKAN PERJAMUAN MALAM TUAN
Yesus baru saja mencuci kaki para rasulnya untuk mengajar mereka tentang kerendahan hati. Sekarang, mungkin setelah mereka selesai makan jamuan Paskah, Yesus mengutip nubuat yang Daud sampaikan: ”Teman akrabku, yang aku percayai, yang makan rotiku, telah berbalik melawan aku.” Yesus lalu menjelaskan, ”Salah satu dari kalian akan mengkhianati aku.”—Mazmur 41:9; Yohanes 13:18, 21.
Para rasul memandang satu sama lain, dan satu per satu bertanya kepada Yesus, ”Tuan, bukan aku, kan?” Bahkan Yudas Iskariot juga menanyakannya. Petrus lalu meminta Yohanes, yang duduk di sebelah Yesus, untuk mencari tahu siapa orang yang dimaksud. Jadi, Yohanes bertanya kepada Yesus, ”Tuan, siapa orangnya?”—Matius 26:22; Yohanes 13:25.
Yesus menjawab, ”Dia adalah orang yang akan kuberi roti yang kucelupkan.” Lalu setelah mencelupkan roti, Yesus memberikannya kepada Yudas sambil mengatakan, ”Putra manusia akan pergi, seperti yang tertulis tentang dia, tapi sungguh celaka orang yang mengkhianati Putra manusia! Sebenarnya, lebih baik bagi orang itu kalau dia tidak lahir.” (Yohanes 13:26; Matius 26:24) Yudas telah dipengaruhi oleh Setan. Karena pria yang jahat ini mengikuti keinginan Iblis, dia ”akan dibinasakan”.—Yohanes 6:64, 70; 12:4; 17:12.
Yesus berkata kepada Yudas, ”Lakukanlah apa yang sedang kamu lakukan itu dengan lebih cepat.” Karena Yudas memegang kotak uang, para rasul lainnya berpikir bahwa Yesus menyuruh Yudas ”membeli apa yang mereka butuhkan untuk perayaan, atau memberikan sesuatu kepada orang miskin”. (Yohanes 13:27-30) Namun sebenarnya, Yudas pergi untuk mengkhianati Yesus.
Pada malam yang sama dengan Perayaan Paskah itu, Yesus memperkenalkan perayaan lain. Dia mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkan roti itu, lalu memberikannya kepada para rasul untuk dimakan. Yesus mengatakan, ”Ini melambangkan tubuhku yang akan diberikan demi kalian. Teruslah lakukan ini untuk mengenang aku.” (Lukas 22:19) Roti itu lalu diedarkan, dan para rasul memakannya.
Yesus lalu mengambil cawan berisi anggur dan mengucap syukur. Dia kemudian mengedarkannya kepada para rasul, dan mereka semua meminumnya. Yesus berkata, ”Cawan ini melambangkan perjanjian baru yang disahkan dengan darahku, yang akan dicurahkan demi kalian.”—Lukas 22:20.
Jadi, Yesus meminta para pengikutnya untuk memperingati kematiannya setiap tahun pada tanggal 14 Nisan. Dengan merayakannya, mereka bisa memikirkan apa yang dilakukan Yesus dan Bapaknya untuk membebaskan manusia dari dosa dan kematian. Perayaan ini lebih penting daripada Paskah orang Yahudi, karena pengorbanan Yesus bisa membebaskan semua manusia untuk selamanya.
Yesus mengatakan bahwa darahnya ”akan dicurahkan demi mengampuni dosa banyak orang”, termasuk para rasul dan para murid lainnya yang beriman. Mereka adalah orang-orang yang akan memerintah bersama Yesus dalam Kerajaan Bapaknya.—Matius 26:28, 29.
-
-
Perdebatan tentang Siapa yang TerbesarYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 118
Perdebatan tentang Siapa yang Terbesar
MATIUS 26:31-35 MARKUS 14:27-31 LUKAS 22:24-38 YOHANES 13:31-38
YESUS MENASIHATI PARA RASUL UNTUK RENDAH HATI
YESUS MENUBUATKAN BAHWA PETRUS AKAN MENYANGKAL DIA
KASIH ADALAH CIRI PENGIKUT YESUS
Pada malam terakhirnya bersama para rasul, Yesus mengajarkan kerendahan hati dengan mencuci kaki mereka. Mengapa nasihat ini cocok? Karena walaupun para rasul bersemangat melayani Allah, mereka berulang kali bertengkar tentang siapa yang terbesar. (Markus 9:33, 34; 10:35-37) Malam ini, kelemahan mereka itu terlihat lagi.
Para rasul ”berdebat dengan sengit tentang siapa yang terbesar di antara mereka”. (Lukas 22:24) Bayangkan betapa sedihnya Yesus melihat mereka bertengkar lagi! Apa reaksi Yesus?
Yesus tidak memarahi mereka. Sebaliknya, dia dengan sabar mengajak mereka berpikir. Dia mengatakan, ”Para raja bangsa-bangsa memerintah mereka, dan orang-orang yang berkuasa atas mereka disebut Dermawan. Tapi, kalian tidak boleh seperti itu. . . . Mana yang lebih penting, orang yang makan atau orang yang melayaninya?” Yesus lalu mengingatkan mereka untuk mengikuti teladannya, ”Tapi aku menjadi seperti orang yang melayani kalian.”—Lukas 22:25-27.
Meski punya kelemahan, para rasul adalah pengikut Yesus yang setia. Mereka telah menemani Yesus melewati berbagai kesulitan. Karena itu Yesus berkata, ”Aku membuat perjanjian dengan kalian untuk memerintah di suatu kerajaan, sama seperti Bapakku telah membuat perjanjian denganku.” (Lukas 22:29) Dengan membuat perjanjian ini, Yesus menjamin bahwa para rasul akan memerintah bersama dia dalam Kerajaan Allah.
Walaupun para rasul punya harapan yang luar biasa ini, mereka masih manusia yang tidak sempurna. Yesus memberi tahu mereka, ”Setan telah meminta untuk menampi kalian semua seperti gandum.” (Lukas 22:31) Bulir-bulir gandum yang ditampi biasanya terlempar dan tersebar ke mana-mana. Yesus lalu berkata, ”Malam ini kalian semua akan tersandung karena apa yang akan terjadi padaku, karena ada tertulis, ’Aku akan menyerang gembala itu, dan kawanan dombanya akan tercerai-berai.’”—Matius 26:31; Zakharia 13:7.
Petrus dengan yakin berkata, ”Biarpun semua orang lain tersandung karena apa yang terjadi kepadamu, aku tidak akan pernah tersandung!” (Matius 26:33) Namun, Yesus memberi tahu Petrus bahwa malam itu, sebelum ayam jantan berkokok dua kali, Petrus akan menyangkal bahwa dia mengenal Yesus. Yesus menambahkan, ”Tapi aku telah memohon kepada Allah demi kamu, agar kamu tidak kehilangan iman. Setelah kamu bertobat, kuatkanlah saudara-saudaramu.” (Lukas 22:32) Meski begitu, Petrus mengatakan, ”Kalaupun aku harus mati bersamamu, aku tidak bakal menyangkal bahwa aku mengenalmu.” (Matius 26:35) Para rasul lainnya juga mengatakan hal yang sama.
Yesus memberi tahu para rasulnya, ”Aku bersama kalian hanya sebentar lagi. Kalian akan mencari aku. Tapi, apa yang kukatakan kepada orang Yahudi akan kukatakan juga kepada kalian sekarang, ’Kalian tidak akan bisa datang ke tempat aku pergi.’” Yesus lalu berkata, ”Aku memberi kalian perintah baru ini: Kasihi satu sama lain. Seperti aku sudah mengasihi kalian, kalian juga harus mengasihi satu sama lain. Kalau kalian saling mengasihi, semua orang akan tahu bahwa kalian muridku.”—Yohanes 13:33-35.
Ketika mendengar Yesus mengatakan bahwa dia bersama mereka hanya sebentar lagi, Petrus bertanya, ”Tuan akan pergi ke mana?” Yesus menjawab, ”Sekarang kamu tidak bisa ikut denganku ke tempat aku akan pergi, tapi nanti kamu akan ikut.” Karena bingung, Petrus berkata, ”Tuan, kenapa aku tidak bisa ikut denganmu sekarang? Aku akan menyerahkan nyawaku demi Tuan.”—Yohanes 13:36, 37.
Sekarang, Yesus membicarakan pengalaman para rasul ketika mereka diutus untuk mengabar di Galilea. Saat itu, mereka diminta untuk tidak membawa kantong uang ataupun kantong makanan. (Matius 10:5, 9, 10) Yesus bertanya, ”Kalian tidak kekurangan apa-apa, kan?” Mereka menjawab, ”Tidak!” Namun Yesus memberikan petunjuk, ”Tapi sekarang, kalau kalian punya kantong uang atau kantong makanan, bawa itu. Kalau kalian tidak punya pedang, jual baju luar kalian dan beli pedang. Ada tertulis, ’Dia dianggap sebagai pelanggar hukum.’ Aku memberi tahu kalian bahwa ayat itu memaksudkan aku. Sebab apa yang ditulis tentang aku itu sedang terjadi.”—Lukas 22:35-37.
Yesus sedang membicarakan tentang hukuman mati yang akan dia terima, yaitu dipakukan di tiang bersama para pelanggar hukum. Setelah itu, murid-murid Yesus juga akan dianiaya. Para rasul merasa sudah siap menghadapinya, jadi mereka berkata, ”Tuan, lihat! Ini ada dua pedang.” Yesus menjawab, ”Itu sudah cukup.” (Lukas 22:38) Belakangan, Yesus akan mengajarkan sesuatu yang penting ketika seorang rasulnya menggunakan salah satu pedang itu.
-
-
Yesus—Jalan, Kebenaran, KehidupanYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 119
Yesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
YESUS PERGI UNTUK MENYIAPKAN TEMPAT
YESUS MENJANJIKAN PENOLONG KEPADA PARA PENGIKUTNYA
BAPAK LEBIH BESAR DARIPADA YESUS
Yesus dan rasul-rasulnya masih berada di ruangan atas. Dia berkata, ”Jangan sampai hati kalian gelisah. Berimanlah kepada Allah, dan berimanlah kepadaku juga.”—Yohanes 13:36; 14:1.
Yesus memberitahukan mengapa para rasul tidak perlu khawatir setelah dia pergi. Dia berkata, ”Di rumah Bapakku ada banyak tempat tinggal. . . . Setelah aku pergi dan siapkan tempat bagi kalian, aku akan datang lagi dan membawa kalian ke rumahku, sehingga kalian juga berada di tempat aku berada.” Para rasul tidak mengerti bahwa Yesus berbicara tentang kepergiannya ke surga. Tomas berkata, ”Tuan, kami tidak tahu Tuan akan pergi ke mana. Bagaimana kami bisa tahu jalannya?”—Yohanes 14:2-5.
”Akulah jalan, kebenaran, dan kehidupan,” jawab Yesus. Ya, untuk masuk ke rumah Bapak di surga, seseorang harus menerima Yesus dan ajarannya serta meniru jalan hidupnya. Yesus berkata, ”Tidak ada yang bisa datang kepada Bapak kalau tidak melalui aku.”—Yohanes 14:6.
Filipus, yang dari tadi mendengarkan, berkata, ”Tuan, perlihatkanlah Bapak kepada kami, dan itu cukup bagi kami.” Filipus mungkin ingin mendapat penglihatan tentang Allah, seperti yang diterima Musa, Elia, dan Yesaya. Namun, para rasul sebenarnya mendapat sesuatu yang lebih baik daripada penglihatan. Yesus mengatakan, ”Setelah sekian lama aku bersama kalian, apa kamu belum juga mengenal aku, Filipus? Siapa pun yang sudah melihat aku sudah melihat Bapak juga.” Yesus mencerminkan kepribadian Bapaknya dengan sempurna. Jadi, dengan bergaul bersama Yesus dan melihat sikapnya, para rasul sudah seperti melihat Bapak. Namun, Bapak lebih tinggi daripada Putra, karena Yesus mengakui, ”Hal-hal yang kukatakan kepada kalian bukan berasal dari pikiranku sendiri.” (Yohanes 14:8-10) Para rasul bisa melihat bahwa Yesus selalu mengakui Bapaknya sebagai Sumber ajarannya.
Para rasul sudah melihat Yesus melakukan mukjizat dan mendengar dia memberitakan Kerajaan Allah. Sekarang Yesus memberi tahu mereka, ”Siapa pun yang beriman kepadaku akan melakukan juga pekerjaan yang kulakukan, dan dia akan melakukan pekerjaan yang lebih hebat lagi.” (Yohanes 14:12) Ini bukan berarti mereka akan melakukan mukjizat yang lebih hebat daripada yang Yesus lakukan. Namun, mereka akan mengabar untuk waktu yang lebih lama, di daerah yang lebih luas, dan kepada lebih banyak orang.
Meski Yesus akan pergi, para rasul tidak akan ditinggalkan begitu saja. Dia berjanji, ”Kalau kalian meminta apa pun dengan namaku, aku akan melakukannya.” Dia juga berkata, ”Aku akan meminta kepada Bapak, dan Dia akan memberi kalian penolong lain yang akan menyertai kalian selamanya, yaitu kuasa kudus yang menyingkapkan kebenaran.” (Yohanes 14:14, 16, 17) Yesus menjamin bahwa mereka akan menerima kuasa kudus. Ini terjadi pada hari Pentakosta.
”Sebentar lagi,” kata Yesus, ”dunia tidak akan melihat aku, sedangkan kalian akan melihat aku, karena aku hidup dan kalian akan hidup.” (Yohanes 14:19) Setelah Yesus dibangkitkan, para muridnya akan melihat dia sebelum dia pergi ke surga, dan di masa depan, mereka juga akan berada di surga bersama dia.
Yesus lalu menyampaikan kebenaran sederhana ini: ”Siapa pun yang menerima perintah-perintahku dan menjalankannya adalah orang yang mengasihi aku. Orang yang mengasihi aku akan dikasihi Bapakku, dan aku juga akan mengasihi dia serta memperlihatkan diriku dengan jelas kepadanya.” Mendengar itu, Rasul Yudas (Tadeus) berkata, ”Tuan, apa yang terjadi sehingga Tuan mau memperlihatkan diri kepada kami, tapi tidak kepada dunia?” Yesus menjawab, ”Orang yang mengasihi aku akan menuruti kata-kataku. Bapakku akan mengasihi dia . . . Orang yang tidak mengasihi aku tidak menuruti kata-kataku.” (Yohanes 14:21-24) Tidak seperti para pengikut Yesus, kebanyakan orang di dunia tidak mengakui bahwa Yesus adalah jalan, kebenaran, dan kehidupan.
Setelah Yesus pergi, bagaimana para murid bisa mengingat semua ajarannya? Yesus menjelaskan, ”Penolong itu, yaitu kuasa kudus, yang akan Bapak kirimkan dengan namaku, akan mengajari kalian segala sesuatu dan mengingatkan kalian tentang segala hal yang pernah kuberitahukan kepada kalian.” Karena para rasul sudah melihat sendiri betapa hebatnya kuasa kudus, kata-kata Yesus itu pasti membuat mereka tenang. Yesus menambahkan, ”Aku meninggalkan kedamaian bagi kalian. Aku memberi kalian kedamaianku. . . . Jangan sampai hati kalian gelisah atau takut.” (Yohanes 14:26, 27) Ya, para murid bisa yakin bahwa Yehuwa akan mengarahkan dan melindungi mereka.
Sebentar lagi, mereka akan melihat bukti dari perlindungan Yehuwa. Yesus berkata, ”Penguasa dunia ini akan datang, walaupun dia tidak punya kuasa atas diriku.” (Yohanes 14:30) Iblis berhasil menguasai Yudas, tapi dia tidak bisa menguasai Yesus, karena Yesus tidak punya kelemahan yang bisa dimanfaatkan olehnya. Iblis juga tidak bisa menahan Yesus dalam kematian. Mengapa? Yesus mengatakan, ”Aku melakukan apa yang Bapak perintahkan kepadaku.” Yesus yakin bahwa Bapak, yang lebih besar daripada dia, akan membangkitkannya.—Yohanes 14:31.
-
-
Menghasilkan Buah dan Menjadi Sahabat YesusYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 120
Menghasilkan Buah dan Menjadi Sahabat Yesus
TANAMAN ANGGUR SEJATI DAN CABANG-CABANGNYA
TETAP BERADA DALAM NAUNGAN KASIH YESUS
Yesus masih berbicara dari hati ke hati dengan para rasul untuk menguatkan mereka. Kini hari sudah larut, mungkin lewat tengah malam. Yesus memberikan sebuah perumpamaan:
”Aku adalah tanaman anggur sejati, dan Bapakku penggarapnya,” kata Yesus. (Yohanes 15:1) Berabad-abad yang lalu, bangsa Israel juga disebut tanaman anggur Yehuwa. (Yeremia 2:21; Hosea 10:1, 2) Namun, Yehuwa sudah menolak bangsa itu. (Matius 23:37, 38) Jadi, Yesus-lah tanaman anggur itu, yang mulai digarap Bapaknya ketika Sang Bapak melantik dia dengan kuasa kudus pada tahun 29 M. Tapi, tanaman anggur itu tidak hanya melambangkan Yesus. Yesus mengatakan:
”[Bapak] membuang setiap cabangku yang tidak berbuah, dan Dia membersihkan setiap cabang yang berbuah, supaya cabang itu menghasilkan lebih banyak buah. . . . Cabang tidak bisa berbuah dengan sendirinya kalau tidak tetap menyatu dengan tanaman anggurnya. Begitu juga, kalian tidak bisa menghasilkan buah kalau tidak tetap bersatu dengan aku. Aku adalah tanaman anggur, dan kalian cabang-cabangnya.”—Yohanes 15:2-5.
Yesus telah berjanji kepada para muridnya yang setia bahwa setelah kepergiannya, dia akan memberikan penolong, yaitu kuasa kudus. Lima puluh satu hari kemudian, ketika para rasul dan yang lainnya menerima kuasa kudus, mereka menjadi cabang dari tanaman anggur itu. Semua cabang harus tetap bersatu dengan Yesus. Mengapa?
Yesus menjelaskan, ”Kalau seseorang tetap bersatu dengan aku dan aku bersatu dengan dia, dia akan menghasilkan banyak buah. Tanpa aku, kalian tidak bisa berbuat apa-apa.” Cabang-cabang ini, yaitu para pengikut Yesus yang setia, akan menghasilkan buah dengan meniru sifat Yesus, rajin mengabar, dan menjadikan murid. Bagaimana jika ada yang tidak bersatu dengan Yesus dan tidak berbuah? Yesus berkata, ”Kalau seseorang tidak tetap bersatu dengan aku, dia akan menjadi seperti cabang yang dibuang.” Di sisi lain, Yesus mengatakan, ”Kalau kalian tetap bersatu dengan aku, dan kata-kataku tetap ada dalam hati kalian, mintalah apa pun yang kalian inginkan dan itu akan terkabul.”—Yohanes 15:5-7.
Malam itu, Yesus sudah dua kali menandaskan pentingnya menjalankan perintahnya. (Yohanes 14:15, 21) Sekarang, Yesus membahas bagaimana para murid bisa membuktikan bahwa mereka menjalankan perintahnya. Dia berkata, ”Kalau kalian menjalankan perintahku, kalian akan tetap berada dalam naungan kasihku, seperti aku sudah menjalankan perintah Bapak dan tetap berada dalam naungan kasih-Nya.” Jadi, mereka harus ’tetap berada dalam naungan kasih’ Yesus, maksudnya mengasihi Allah Yehuwa dan Putra-Nya. Tapi, itu belum cukup. Yesus melanjutkan, ”Inilah perintahku: Kasihi satu sama lain seperti aku sudah mengasihi kalian. Tidak ada yang memiliki kasih yang lebih besar daripada orang yang menyerahkan nyawanya demi sahabat-sahabatnya. Kalian adalah sahabat-sahabatku kalau kalian melakukan apa yang kuperintahkan.”—Yohanes 15:10-14.
Beberapa jam lagi, Yesus akan menunjukkan kasihnya dengan menyerahkan nyawanya bagi semua orang yang beriman. Para pengikut Yesus juga harus saling menunjukkan kasih yang rela berkorban, yang akan menjadi tanda pengenal mereka. Yesus sebelumnya berkata, ”Kalau kalian saling mengasihi, semua orang akan tahu bahwa kalian muridku.”—Yohanes 13:35.
Yesus sekarang berkata kepada para rasul, ”Aku menyebut kalian sahabat, karena aku sudah memberi tahu kalian semua hal yang kudengar dari Bapakku.” Para rasul adalah teman dekat Yesus, dan mereka mengetahui hal-hal yang Bapak beri tahukan kepadanya. Ini benar-benar hubungan yang istimewa! Namun, kalau mereka ingin terus menjadi sahabat Yesus, mereka harus ”terus menghasilkan buah”. Jika mereka berbuah, Yesus berkata, ”Apa pun yang kalian minta kepada Bapak dengan namaku akan Dia berikan.”—Yohanes 15:15, 16.
Kasih di antara para murid bisa membuat mereka tabah menghadapi apa yang akan terjadi. Yesus memperingatkan bahwa dunia akan membenci mereka, tapi dia berkata, ”Kalau dunia membenci kalian, ingatlah bahwa dunia sudah membenci aku sebelum membenci kalian. Kalau kalian bagian dari dunia, dunia akan mencintai kalian karena kalian miliknya. Sekarang kalian bukan bagian dari dunia . . . Karena itulah dunia membenci kalian.”—Yohanes 15:18, 19.
Yesus menjelaskan alasan lain dunia akan membenci para muridnya: ”Mereka akan melakukan semua ini kepada kalian karena namaku, karena mereka tidak mengenal Dia yang mengutus aku.” Yesus lalu berkata bahwa jika orang-orang membenci dia padahal sudah menyaksikan mukjizatnya, mereka berdosa. Dia mengatakan, ”Seandainya aku tidak pernah melakukan pekerjaan-pekerjaan yang belum pernah dilakukan orang lain, mereka tidak berdosa. Tapi sekarang, mereka sudah melihat aku dan juga membenci aku serta Bapakku.” Sebenarnya, kebencian mereka sudah dinubuatkan.—Yohanes 15:21, 24, 25; Mazmur 35:19; 69:4.
Sekali lagi, Yesus berjanji bahwa dia akan mengirimkan penolong, yaitu kuasa kudus. Kuasa yang dahsyat itu bisa diperoleh semua pengikutnya dan akan membantu mereka berbuah, atau bersaksi tentang Yesus.—Yohanes 15:27.
-
-
”Tabahlah! Aku Sudah Menaklukkan Dunia”Yesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 121
”Tabahlah! Aku Sudah Menaklukkan Dunia”
PARA RASUL TIDAK AKAN MELIHAT YESUS LAGI
KESEDIHAN PARA RASUL AKAN BERUBAH MENJADI SUKACITA
Yesus dan para rasulnya sebentar lagi akan meninggalkan ruangan atas tempat mereka makan jamuan Paskah. Yesus sudah memberi mereka banyak nasihat. Dia sekarang menambahkan, ”Aku mengatakan hal-hal ini kepada kalian supaya kalian tidak tersandung.” Apa yang bisa membuat mereka tersandung? Yesus berkata, ”Orang akan mengeluarkan kalian dari rumah ibadah. Malah suatu saat nanti, setiap orang yang membunuh kalian akan merasa bahwa dia melakukan pelayanan suci kepada Allah.”—Yohanes 16:1, 2.
Kata-kata Yesus ini mungkin membuat para rasul khawatir. Yesus sudah mengatakan bahwa dunia akan membenci mereka, tapi dia belum pernah secara langsung berkata bahwa mereka akan dibunuh. Mengapa? Yesus berkata, ”Awalnya aku tidak memberi tahu kalian tentang itu, karena aku masih bersama kalian.” (Yohanes 16:4) Tapi sekarang, sebelum dia pergi, dia ingin memperingatkan para rasul.
Yesus melanjutkan, ”Sekarang, aku akan pergi kepada Dia yang mengutus aku. Tapi, tidak satu pun dari kalian bertanya kepadaku ke mana aku akan pergi.” Sebenarnya, malam itu para rasul sudah menanyakannya. (Yohanes 13:36; 14:5; 16:5) Namun, setelah mendengar bahwa mereka akan dianiaya, mereka sangat sedih. Jadi, mereka tidak bertanya tentang kemuliaan yang akan Yesus dapatkan dan berkatnya bagi para murid. Yesus tahu perasaan mereka. Dia berkata, ”Karena aku sudah memberi tahu kalian tentang hal-hal ini, hati kalian jadi benar-benar sedih.”—Yohanes 16:6.
Yesus berkata, ”Aku pergi demi kebaikan kalian, karena kalau aku tidak pergi, penolong itu tidak akan datang kepada kalian. Tapi kalau aku pergi, aku akan mengirim dia kepada kalian.” (Yohanes 16:7) Para murid baru bisa menerima kuasa kudus jika Yesus mati dan pergi ke surga. Dari sana, Yesus bisa mengirimkan penolong ini kepada para pengikutnya di seluruh dunia.
Kuasa kudus ”akan memberikan kepada dunia bukti yang meyakinkan tentang dosa, tentang apa yang benar, dan tentang penghakiman”. (Yohanes 16:8) Maksudnya, dunia ini akan terbukti berdosa karena tidak beriman kepada Putra Allah. Selain itu, naiknya Yesus ke surga akan membuktikan bahwa dia adalah orang yang benar sekaligus menunjukkan bahwa Setan, ”penguasa dunia ini”, pantas dihakimi.—Yohanes 16:11.
”Masih banyak yang harus aku katakan kepada kalian,” kata Yesus, ”tapi kalian tidak sanggup memahaminya sekarang.” Setelah Yesus mencurahkan kuasa kudus, barulah mereka ”memahami kebenaran sepenuhnya” dan bisa hidup sesuai dengan kebenaran itu.—Yohanes 16:12, 13.
Para rasul bingung karena Yesus selanjutnya berkata, ”Sebentar lagi kalian tidak akan melihat aku lagi, dan sebentar lagi kalian akan melihat aku.” Mereka bertanya satu sama lain apa maksudnya. Yesus tahu bahwa mereka ingin bertanya, jadi dia menjelaskan, ”Dengan sungguh-sungguh aku katakan, kalian akan menangis dan meratap, tapi dunia akan bersukacita. Kalian akan merasa pedih, tapi kepedihan kalian akan berubah menjadi kebahagiaan.” (Yohanes 16:16, 20) Saat Yesus dibunuh besok siangnya, para pemimpin agama bersukacita, tapi para murid bersedih. Namun, kesedihan mereka berubah menjadi kebahagiaan ketika Yesus dibangkitkan! Mereka juga bahagia ketika Yesus mencurahkan kuasa kudus Allah ke atas mereka.
Untuk menggambarkan apa yang dialami para rasul, Yesus berkata, ”Seorang wanita merasa pedih ketika tiba saatnya untuk melahirkan, tapi setelah melahirkan anaknya, dia tidak lagi mengingat kesengsaraannya. Dia bahagia karena seorang manusia sudah lahir ke dunia.” Yesus lalu menguatkan para rasulnya, ”Kalian juga begitu. Sekarang kalian pedih, tapi saat aku bertemu lagi dengan kalian, hati kalian akan bersukacita, dan tidak seorang pun akan merampas sukacita kalian.”—Yohanes 16:21, 22.
Sampai saat itu, para rasul tidak pernah berdoa dengan nama Yesus. Namun Yesus sekarang berkata, ”Pada hari itu, kalian akan meminta kepada Bapak dengan namaku.” Apakah itu berarti Bapak enggan menjawab doa-doa mereka kalau bukan Yesus yang memintanya? Tidak. Yesus berkata, ”Bapak sendiri menyayangi kalian, karena kalian sudah menyayangi aku . . . sebagai wakil Allah.”—Yohanes 16:26, 27.
Kata-kata Yesus membesarkan hati para rasul. Kemungkinan, karena itulah mereka berkata, ”Kami percaya bahwa kamu datang dari Allah.” Tapi, apa yang terjadi ketika iman mereka diuji malam itu? Yesus memberitahukan, ”Saatnya akan tiba, bahkan sudah tiba, ketika kalian akan terpencar ke rumah masing-masing dan meninggalkan aku sendirian.” Namun Yesus meyakinkan mereka, ”Aku sudah mengatakan hal-hal ini kepada kalian supaya kalian memiliki kedamaian karena aku. Dalam dunia ini kalian akan sengsara, tapi tabahlah! Aku sudah menaklukkan dunia.” (Yohanes 16:30-33) Jadi, Yesus akan selalu mendukung para pengikutnya. Dia yakin bahwa meski Setan dan dunianya berusaha membuat mereka menyerah, mereka bisa setia seperti dia. Mereka pasti bisa menaklukkan dunia dengan terus melakukan kehendak Allah!
-
-
Doa Yesus di Ruang AtasYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 122
Doa Yesus di Ruang Atas
BERKAT KARENA MENGENAL ALLAH DAN PUTRANYA
YEHUWA, YESUS, DAN SELURUH UMAT ALLAH BERSATU
Yesus sangat menyayangi para rasulnya, jadi dia sudah mempersiapkan mereka untuk menghadapi kepergiannya. Sekarang, dia memandang ke langit dan berdoa kepada Bapaknya, ”Muliakanlah putra-Mu, supaya putra-Mu memuliakan Engkau. Engkau sudah memberi dia kuasa atas semua manusia, supaya dia memberikan kehidupan abadi kepada semua orang yang Kauserahkan kepadanya.”—Yohanes 17:1, 2.
Yesus sadar bahwa memuliakan Allah adalah hal yang terpenting. Tapi, Yesus juga menyebutkan harapan yang luar biasa berupa kehidupan abadi. Setelah menerima ”kuasa atas semua manusia”, Yesus sanggup memberikan seluruh manfaat tebusannya kepada manusia. Tapi, tidak semua manusia akan mendapatkannya. Mengapa? Karena Yesus hanya akan memberkati orang-orang yang memenuhi persyaratan ini: ”Untuk mendapat kehidupan abadi, mereka perlu mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang Engkau utus.”—Yohanes 17:3.
Kita harus mengenal baik Bapak maupun Putra dan punya hubungan akrab dengan mereka. Kita harus memandang segala sesuatu seperti cara mereka memandangnya dan meniru sifat-sifat mereka saat berurusan dengan orang lain. Kita juga harus sadar bahwa yang paling penting, Allah dimuliakan. Ini bahkan lebih penting daripada harapan kehidupan abadi kita.
Yesus sekarang mengatakan, ”Aku sudah memuliakan Engkau di bumi dengan menyelesaikan pekerjaan yang Kauberikan kepadaku. Jadi sekarang, Bapak, berilah aku kemuliaan di sisi-Mu, seperti kemuliaan yang kumiliki di sebelah-Mu sebelum dunia ada.” (Yohanes 17:4, 5) Ya, Yesus meminta agar dia dibangkitkan dan kembali mendapat kemuliaan di surga.
Yesus lalu mengingat apa yang sudah dia lakukan di bumi. Dia berdoa, ”Aku sudah membuat nama-Mu nyata kepada orang-orang yang Kauserahkan kepadaku dari dunia. Mereka itu milik-Mu, dan Engkau menyerahkan mereka kepadaku, dan mereka sudah menjalankan firman-Mu.” (Yohanes 17:6) Yesus tidak sekadar memberitahukan nama Yehuwa. Yesus juga membantu para rasulnya tahu sifat-sifat Yehuwa dan cara Dia berurusan dengan manusia. Dengan begitu, mereka bisa benar-benar mengenal Yehuwa.
Yesus dengan rendah hati berkata, ”Aku sudah memberi mereka kata-kata yang Kauberikan kepadaku, dan mereka sudah menerimanya. Mereka benar-benar sudah tahu bahwa aku datang sebagai wakil-Mu, dan mereka sudah percaya bahwa Engkau mengutus aku.” (Yohanes 17:8) Jadi, para rasul telah mengenal Yehuwa, memahami peranan Putra-Nya, dan mengerti ajaran Yesus.
Yesus kemudian menunjukkan perbedaan antara para pengikutnya dan kebanyakan orang di dunia ini: ”Aku tidak berdoa bagi dunia tapi bagi orang-orang yang telah Kauserahkan kepadaku, karena mereka itu milik-Mu. . . . Bapak yang kudus, jagalah mereka demi nama-Mu yang telah Kauberikan kepadaku, supaya mereka menjadi satu, seperti kita adalah satu. . . . Aku sudah melindungi mereka, dan tidak satu pun dari mereka binasa, kecuali dia yang memang akan dibinasakan,” maksudnya Yudas Iskariot, yang sedang menjalankan rencananya untuk mengkhianati Yesus.—Yohanes 17:9-12.
Yesus melanjutkan doanya, ”Dunia membenci mereka . . . Aku berdoa, bukan agar Engkau mengambil mereka dari dunia, tapi agar Engkau menjaga mereka dari si jahat. Mereka bukan bagian dari dunia, seperti aku bukan bagian dari dunia.” (Yohanes 17:14-16) Para rasul dan murid-murid lainnya hidup di dunia yang dikuasai Setan, tapi mereka harus terpisah dari dunia yang jahat ini. Bagaimana caranya?
Yesus berdoa, ”Sucikanlah mereka dengan kebenaran. Firman-Mu adalah kebenaran.” (Yohanes 17:17) Para murid bisa menjaga diri tetap suci, terpisah untuk melayani Allah, jika mereka menjalankan kebenaran yang ada dalam Kitab-Kitab Ibrani dan kebenaran yang Yesus ajarkan. Belakangan, beberapa rasul ini akan menulis buku-buku yang menjadi bagian dari Firman Allah, kebenaran yang bisa menyucikan seseorang.
Selain para rasul, akan ada orang-orang yang menerima kebenaran itu. Jadi, Yesus berdoa ”bukan bagi mereka saja [11 rasul itu], tapi juga bagi orang-orang yang beriman kepada [Yesus] setelah mendengar perkataan mereka”. Apa yang Yesus doakan? ”Agar mereka semua menjadi satu, seperti Engkau, Bapak, bersatu dengan aku dan aku bersatu dengan Engkau, sehingga mereka pun bersatu dengan kita.” (Yohanes 17:20, 21) Yesus dan Bapaknya dikatakan bersatu karena mereka sepikiran dan sejalan dalam segala hal. Yesus berdoa agar semua pengikutnya juga begitu.
Malam itu, Yesus sudah memberi tahu Petrus dan para rasul lainnya bahwa dia akan pergi untuk mempersiapkan tempat di surga bagi mereka. (Yohanes 14:2, 3) Yesus sekarang mendoakan hal itu: ”Bapak, aku ingin agar orang-orang yang telah Kauserahkan kepadaku berada bersamaku di tempat aku berada, supaya mereka melihat kemuliaanku, yang telah Kauberikan kepadaku, karena Engkau mengasihi aku sebelum permulaan dunia.” (Yohanes 17:24, catatan kaki) Yesus menunjukkan bahwa sejak dulu, jauh sebelum Adam dan Hawa memiliki keturunan, Allah telah mengasihi dia, Putra tunggal-Nya.
Di akhir doanya, Yesus kembali menekankan dua hal penting, yaitu nama Bapaknya serta kasih Sang Bapak kepadanya, yang juga akan ditunjukkan kepada para rasul dan orang-orang yang menerima kebenaran. Yesus mengatakan, ”Aku sudah membuat nama-Mu dikenal oleh mereka, dan aku akan terus membuatnya dikenal, agar mereka mengasihi orang lain seperti Engkau mengasihi aku, dan agar aku bersatu dengan mereka.”—Yohanes 17:26.
-
-
Yesus Sangat Tertekan dan BerdoaYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 123
Yesus Sangat Tertekan dan Berdoa
MATIUS 26:30, 36-46 MARKUS 14:26, 32-42 LUKAS 22:39-46 YOHANES 18:1
YESUS DI TAMAN GETSEMANI
KERINGATNYA SEPERTI DARAH YANG MENETES KE TANAH
Yesus sudah selesai berdoa bersama para rasulnya yang setia. Lalu, ”setelah menyanyikan pujian, mereka pergi ke Gunung Zaitun”. (Markus 14:26) Mereka berjalan ke arah timur menuju sebuah taman yang disebut Getsemani, tempat yang sering dikunjungi Yesus.
Sesampainya di taman itu, Yesus berhenti di sebuah tempat yang nyaman di antara pohon-pohon zaitun, lalu dia berkata kepada delapan rasulnya, ”Duduklah di sini sementara aku pergi ke sana dan berdoa.” Yesus kemudian masuk lebih jauh ke taman itu bersama tiga rasulnya—Petrus, Yakobus, dan Yohanes. Yesus merasa sangat tertekan dan berkata kepada tiga rasul itu, ”Aku sedih sekali, seperti mau mati rasanya. Tunggu di sini dan tetaplah berjaga-jaga denganku.”—Matius 26:36-38.
Yesus berjalan sedikit untuk menjauh dari mereka lalu ”sujud dan mulai berdoa”. Apa yang dia doakan pada saat-saat yang menegangkan ini? Dia berdoa, ”Bapak, segala sesuatu tidak mustahil bagi-Mu. Singkirkanlah cawan ini dariku. Namun janganlah terjadi seperti yang aku mau, tapi seperti yang Engkau mau.” (Markus 14:35, 36) Apakah Yesus ingin lari dari tanggung jawabnya sebagai Penebus? Tidak!
Yesus punya perasaan seperti manusia biasa dan bisa merasa sakit. Sewaktu Yesus hidup di surga, dia sudah melihat sendiri betapa menderitanya orang-orang yang dihukum mati oleh bangsa Romawi. Jadi, Yesus tahu bahwa kematiannya akan sangat menyakitkan. Namun yang terutama, Yesus sangat tertekan karena tahu bahwa kematiannya sebagai penjahat yang hina bisa merusak nama baik Bapaknya. Beberapa jam lagi, dia akan dipakukan di tiang karena dituduh menghina Allah.
Setelah sekian lama berdoa, Yesus kembali dan melihat bahwa tiga rasulnya tertidur. Dia berkata kepada Petrus, ”Apa kalian tidak bisa tetap berjaga-jaga satu jam saja denganku? Tetaplah berjaga-jaga dan teruslah berdoa, supaya kalian tidak menyerah pada godaan.” Yesus tahu bahwa sepanjang malam itu, mereka juga merasa tertekan, dan sekarang sudah lewat tengah malam. Yesus berkata, ”Roh memang bersemangat, tapi tubuh lemah.”—Matius 26:40, 41.
Yesus pergi lagi dan berdoa agar Allah menyingkirkan ”cawan ini” darinya. Ketika dia kembali, lagi-lagi tiga rasulnya tertidur, padahal mereka seharusnya berdoa agar tidak menyerah pada godaan. Saat Yesus menegur mereka, ”mereka tidak tahu harus berkata apa kepada Yesus”. (Markus 14:40) Yesus lalu pergi untuk ketiga kalinya, kemudian dia berlutut dan berdoa.
Yesus benar-benar khawatir karena nama baik Bapaknya bisa rusak jika dia mati sebagai penjahat. Yehuwa mendengarkan doa-doa Putra-Nya itu, dan Dia mengutus seorang malaikat untuk menguatkan Yesus. Meski begitu, Yesus tidak berhenti berdoa kepada Bapaknya. Dia malah ”terus berdoa lebih sungguh-sungguh”. Tanggung jawabnya sangatlah serius karena yang dipertaruhkan adalah kehidupan abadinya dan kehidupan abadi semua manusia yang beriman! Yesus begitu tertekan sehingga ”keringatnya pun menjadi seperti darah yang menetes ke tanah”.—Lukas 22:44.
Ketika Yesus kembali kepada ketiga rasulnya, mereka ternyata tertidur lagi. Yesus berkata, ”Di saat seperti ini, kalian malah tidur dan istirahat! Sekarang, sudah waktunya Putra manusia diserahkan ke tangan orang-orang berdosa. Berdirilah, ayo kita pergi. Lihat! Pengkhianatku sudah datang.”—Matius 26:45, 46.
-
-
Kristus Dikhianati dan DitangkapYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 124
Kristus Dikhianati dan Ditangkap
MATIUS 26:47-56 MARKUS 14:43-52 LUKAS 22:47-53 YOHANES 18:2-12
YUDAS MENGKHIANATI YESUS DI TAMAN GETSEMANI
PETRUS MEMOTONG TELINGA SEORANG PRIA
YESUS DITANGKAP
Sekarang malam sudah sangat larut. Para imam sudah sepakat memberi Yudas 30 keping perak jika dia mengkhianati Yesus. Yudas pun membawa para imam kepala dan orang-orang Farisi untuk mencari Yesus. Mereka juga membawa sepasukan prajurit Romawi yang bersenjata dan seorang komandan.
Kemungkinan besar, setelah Yesus menyuruh Yudas pergi dari acara jamuan Paskah, Yudas langsung menemui para imam kepala. (Yohanes 13:27) Para imam ini lalu mengumpulkan para petugas mereka dan sekelompok prajurit. Awalnya, Yudas mungkin membawa mereka ke ruangan tempat Yesus dan para rasulnya merayakan Paskah. Sekarang, gerombolan orang itu sudah menyeberangi Lembah Kidron dan sedang menuju Taman Getsemani. Selain membawa senjata, mereka juga membawa lampu dan obor. Mereka sudah tidak sabar ingin menangkap Yesus.
Yudas memimpin gerombolan itu mendaki Gunung Zaitun. Dia yakin bahwa Yesus ada di Taman Getsemani. Mengapa? Selama Yesus dan para rasulnya menginap di Betani, hampir setiap hari mereka pergi ke Yerusalem. Dalam perjalanan, mereka sering berhenti di taman itu. Tapi sekarang, hari sudah gelap, dan taman itu dipenuhi pohon zaitun. Selain itu, bagaimana para prajurit, yang mungkin belum pernah melihat Yesus, bisa tahu yang mana orangnya? Yudas berkata, ”Orang yang aku cium, dialah orangnya.”—Markus 14:44.
Ketika Yudas dan rombongannya masuk ke taman, dia melihat Yesus dan para rasulnya. Dia langsung mendekati Yesus dan berkata, ”Salam sejahtera, Rabi!” Dia lalu menciumnya dengan lembut. ”Apa tujuan kamu ke sini?” tanya Yesus. (Matius 26:49, 50) Yesus lalu menjawab pertanyaannya sendiri, ”Yudas, apa kamu mengkhianati Putra manusia dengan ciuman?” (Lukas 22:48) Tapi, Yesus tidak menunggu jawaban si pengkhianat itu.
Yesus sekarang mendekati rombongan itu. Mukanya terlihat jelas di bawah sinar obor dan lampu yang mereka bawa. Yesus bertanya, ”Siapa yang kalian cari?” Mereka menjawab, ”Yesus orang Nazaret.” Yesus dengan berani menjawab, ”Saya orangnya.” (Yohanes 18:4, 5) Karena kaget, mereka semua jatuh.
Yesus bisa saja memakai kesempatan itu untuk melarikan diri. Tapi, dia malah bertanya lagi siapa yang mereka cari. Ketika mereka menjawab, ”Yesus orang Nazaret,” dia dengan tenang berkata, ”Saya sudah beri tahu kalian bahwa saya orangnya. Kalau kalian memang cari saya, biarkan mereka ini pergi.” Bahkan pada saat yang genting ini, Yesus bertindak sesuai dengan apa yang dia katakan sebelumnya, yaitu bahwa dia tidak akan ’kehilangan satu rasul pun’. (Yohanes 6:39; 17:12) Yesus selalu menjaga semua rasulnya yang setia, dan tidak ada satu pun yang binasa, kecuali Yudas, ”yang memang akan dibinasakan”. (Yohanes 18:7-9) Maka, Yesus sekarang meminta agar para rasulnya yang setia dibiarkan pergi.
Ketika para prajurit itu berdiri dan mendekati Yesus, para rasul menyadari apa yang akan terjadi. Mereka berkata, ”Tuan, apa perlu kami serang mereka dengan pedang?” (Lukas 22:49) Sebelum Yesus menjawab, Petrus sudah mengeluarkan salah satu pedang yang dibawa para rasul dan memotong telinga Malkhus, seorang budak imam besar.
Tapi, Yesus menyentuh telinga Malkhus dan menyembuhkannya. Dia lalu melihat Petrus dan mengajarkan sesuatu yang penting: ”Masukkan pedangmu ke tempatnya, karena semua yang memakai pedang akan mati oleh pedang.” Yesus membiarkan orang-orang itu menangkapnya karena menurut Kitab Suci, ”semuanya harus terjadi seperti ini”. (Matius 26:52, 54) Dia menambahkan, ”Bukankah aku harus minum dari cawan yang Bapak berikan kepadaku?” (Yohanes 18:11) Yesus rela menjalankan kehendak Allah, bahkan jika itu berarti dia harus mati.
Yesus bertanya kepada gerombolan orang itu, ”Apakah saya perampok, sehingga kalian datang dengan pedang dan pentung untuk menangkap saya? Setiap hari saya biasa duduk mengajar di bait, tapi kalian tidak menangkap saya. Namun dengan terjadinya semua ini, tulisan para nabi menjadi kenyataan.”—Matius 26:55, 56.
Para prajurit dan petugas tadi menangkap Yesus dan mengikatnya. Melihat itu, para rasul langsung melarikan diri. Namun, ”seorang pemuda”, kemungkinan seorang pengikut Yesus yang bernama Markus, tetap berada di antara gerombolan orang itu karena ingin mengikuti Yesus. (Markus 14:51) Tapi, orang-orang mengenali dia dan berusaha menangkapnya. Jadi, dia terpaksa meninggalkan pakaiannya dan lari.
-
-
Yesus Dibawa kepada Hanas, Lalu kepada KayafasYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 125
Yesus Dibawa kepada Hanas, Lalu kepada Kayafas
MATIUS 26:57-68 MARKUS 14:53-65 LUKAS 22:54, 63-65 YOHANES 18:13, 14, 19-24
YESUS DIBAWA KEPADA HANAS, SEORANG IMAM KEPALA
SANHEDRIN MENGADAKAN PENGADILAN ILEGAL
Setelah Yesus diikat seperti seorang penjahat, dia dibawa kepada Hanas. Ketika Yesus yang masih kecil membuat para guru di bait terkesan, Hanas menjabat sebagai imam besar. (Lukas 2:42, 47) Jabatan ini lalu diberikan kepada beberapa putranya dan sekarang kepada menantunya, Kayafas.
Ketika Hanas menginterogasi Yesus, Kayafas mengumpulkan para anggota Sanhedrin. Pengadilan Sanhedrin ini terdiri dari 71 anggota, termasuk imam besar dan orang-orang lain yang pernah memegang jabatan itu.
Hanas sekarang menanyai Yesus ”tentang murid-muridnya dan tentang ajarannya”. Yesus hanya menjawab, ”Saya sudah bicara di depan umum kepada dunia. Saya selalu mengajar di rumah ibadah dan di bait, tempat semua orang Yahudi berkumpul, dan saya tidak pernah bicara sembunyi-sembunyi. Kenapa kamu menanyai saya? Tanyailah orang-orang yang pernah mendengar kata-kata saya.”—Yohanes 18:19-21.
Seorang petugas menampar muka Yesus dan berkata, ”Apakah begitu caranya kamu menjawab imam kepala?” Tapi, Yesus tahu bahwa dia tidak salah, jadi dia menjawab, ”Kalau kata-kata saya salah, beri tahukan di mana salahnya. Tapi kalau kata-kata saya benar, kenapa kamu menampar saya?” (Yohanes 18:22, 23) Hanas lalu menyuruh agar Yesus dibawa kepada menantunya, Kayafas.
Sekarang para anggota Sanhedrin, yaitu imam besar, para pemimpin orang Yahudi, dan para ahli Taurat, telah berkumpul di rumah Kayafas. Pengadilan ini sebenarnya ilegal karena diadakan pada malam Paskah, tapi mereka tidak peduli. Mereka ingin menjalankan rencana jahat mereka.
Orang-orang itu memang sudah lama membenci Yesus. Setelah Yesus membangkitkan Lazarus, para anggota Sanhedrin sepakat bahwa dia harus dibunuh. (Yohanes 11:47-53) Dan beberapa hari yang lalu, mereka mencari cara untuk menangkap Yesus dan menghabisi dia. (Matius 26:3, 4) Jadi bahkan sebelum pengadilan itu dimulai, Yesus sebenarnya sudah divonis mati!
Para imam kepala dan anggota Sanhedrin lainnya mencari orang-orang yang mau memberikan kesaksian palsu melawan Yesus. Ada banyak yang bersedia, tapi kesaksian mereka saling bertentangan. Akhirnya, dua orang bersaksi, ”Kami mendengar dia berkata, ’Saya akan merobohkan bait ini yang dibuat dengan tangan, dan dalam tiga hari saya akan membangun bait lain yang tidak dibuat dengan tangan.’” (Markus 14:58) Tapi, kesaksian mereka pun tidak sama.
Kayafas bertanya kepada Yesus, ”Apa kamu tidak menjawab? Apa tanggapanmu terhadap tuduhan mereka kepadamu ini?” (Markus 14:60) Namun Yesus tetap diam. Jadi, Imam Besar Kayafas mencari taktik lain.
Kayafas tahu bahwa orang Yahudi tidak senang jika ada orang yang mengaku sebagai Putra Allah. Sebelumnya, ketika Yesus menyebut Allah sebagai Bapaknya, orang Yahudi ingin membunuh dia. Menurut mereka, Yesus ”membuat dirinya setara dengan Allah”. (Yohanes 5:17, 18; 10:31-39) Karena itu, Kayafas dengan licik berkata kepada Yesus, ”Bersumpahlah demi Allah yang hidup, dan beri tahu kami apakah kamu Kristus, Putra Allah!” (Matius 26:63) Selama pelayanannya, Yesus sudah beberapa kali menyatakan bahwa dia adalah Putra Allah. (Yohanes 3:18; 5:25; 11:4) Jika sekarang dia diam saja, orang-orang bisa berpikir bahwa Yesus menyangkal hal itu. Jadi dia berkata, ”Ya, dan kalian akan melihat Putra manusia duduk di sebelah kanan Yang Kuasa dan datang dengan awan-awan langit.”—Markus 14:62.
Mendengar itu, dengan berlebihan Kayafas langsung merobek baju luarnya dan berkata, ”Dia sudah menghina Allah! Untuk apa lagi ada saksi-saksi lain? Kalian sudah mendengar dia menghina Allah. Bagaimana menurut kalian?” Pengadilan Sanhedrin itu pun menjatuhkan vonis: ”Dia pantas mati.” (Matius 26:65, 66) Ini keputusan yang benar-benar tidak adil!
Kemudian, mereka mulai mengejek Yesus dan meninju dia. Yang lainnya menampar dan meludahi Yesus. Mereka lalu menutupi mukanya dan menampar dia lagi. Mereka menyindir dia, ”Kalau kamu nabi, beri tahu kami siapa yang pukul kamu!” (Lukas 22:64) Bayangkan, Putra Allah diadili secara ilegal pada tengah malam serta diperlakukan dengan begitu kejam dan hina!
-
-
Petrus Menyangkal YesusYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 126
Petrus Menyangkal Yesus
MATIUS 26:69-75 MARKUS 14:66-72 LUKAS 22:54-62 YOHANES 18:15-18, 25-27
PETRUS MENYANGKAL YESUS TIGA KALI
Setelah Yesus ditangkap di Taman Getsemani, para rasul meninggalkan dia dan melarikan diri karena takut. Namun, ada dua rasul yang berubah pikiran dan berbalik untuk mengikuti Yesus. Mereka adalah Petrus ”dan seorang murid lain”, yang kemungkinan besar adalah Yohanes. (Yohanes 18:15; 19:35; 21:24) Mereka menyusul rombongan itu dan mungkin melihat saat Yesus dibawa kepada Hanas. Ketika Hanas kemudian menyuruh agar Yesus dibawa kepada Imam Besar Kayafas, Petrus dan Yohanes mengikutinya dari kejauhan. Dua rasul ini takut kehilangan nyawa mereka, tapi mereka juga mengkhawatirkan Tuan mereka.
Yohanes dikenal oleh imam besar, jadi dia bisa masuk ke halaman rumah Kayafas. Sementara itu, Petrus menunggu di depan pintu sampai Yohanes kembali dan berbicara kepada hamba perempuan yang menjaga pintu. Lalu Petrus pun diizinkan masuk.
Karena udara malam itu dingin, orang-orang di halaman itu menyalakan api. Petrus duduk bersama mereka untuk menghangatkan diri sambil menunggu ”apa yang akan terjadi” pada Yesus. (Matius 26:58) Sekarang, di dekat nyala api, penjaga pintu yang mengizinkan Petrus masuk bisa melihat wajahnya dengan lebih jelas. ”Kamu salah satu murid orang itu juga, kan?” katanya. (Yohanes 18:17) Orang-orang lain juga mengenali Petrus dan mengatakan hal yang sama.—Matius 26:69, 71-73; Markus 14:70.
Pertanyaan mereka membuat Petrus takut, jadi dua kali dia menyangkal bahwa dia mengenal Yesus. Dia mengatakan, ”Saya tidak kenal dia. Kamu salah orang.” (Markus 14:67, 68) Dia bahkan menjauh ke arah gerbang supaya tidak dikenali. Selain itu, dia bersumpah dan berkata bahwa dia bersedia dikutuk kalau berbohong.—Matius 26:74.
Selama menunggu di halaman, Petrus dan orang-orang lain mungkin bisa melihat para saksi keluar masuk ruang pengadilan. Saat itu, Yesus bisa jadi sedang diadili di bagian atas rumah Kayafas.
Karena Petrus punya logat Galilea, orang-orang yang ada di sana curiga bahwa dia teman Yesus. Salah satu dari mereka adalah kerabat dari Malkhus yang telinganya dipotong Petrus. Dia berkata, ”Bukankah saya lihat kamu ada di taman dengan dia?” Lalu untuk ketiga kalinya, Petrus menyangkal Yesus, dan ayam jantan pun berkokok, tepat seperti yang Yesus katakan.—Yohanes 13:38; 18:26, 27.
Saat itu, Yesus kelihatannya berdiri di balkon yang menghadap ke halaman. Dia menoleh dan menatap Petrus, dan hancurlah hati Petrus. Dia teringat kata-kata Yesus beberapa jam yang lalu. Bayangkan perasaan Petrus ketika menyadari apa yang telah dia lakukan! Dia pun keluar dan menangis dengan getir.—Lukas 22:61, 62.
Petrus tadinya sangat yakin bahwa dia akan tetap beriman dan setia. Jadi, mengapa dia sampai menyangkal Tuannya? Yesus tidak bersalah, tapi dia dijebak dan dianggap sebagai penjahat keji. Jadi, Petrus seharusnya membela Yesus. Namun, dia malah meninggalkan Putra Allah, yang memiliki kata-kata yang ”menghasilkan kehidupan abadi”.—Yohanes 6:68.
Pengalaman ini menunjukkan bahwa hamba Allah yang beriman dan bersemangat sekalipun bisa jatuh jika dia tidak siap menghadapi cobaan dan godaan. Semoga pengalaman Petrus membuat kita semua lebih berhati-hati!
-
-
Yesus Diadili oleh Sanhedrin, Lalu Dibawa kepada PilatusYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 127
Yesus Diadili oleh Sanhedrin, Lalu Dibawa kepada Pilatus
MATIUS 27:1-11 MARKUS 15:1 LUKAS 22:66–23:3 YOHANES 18:28-35
YESUS DIADILI OLEH SANHEDRIN PADA PAGI HARI
YUDAS ISKARIOT MENCOBA BUNUH DIRI
YESUS DIBAWA KEPADA PILATUS AGAR DIHUKUM MATI
Malam sudah hampir berakhir ketika Petrus menyangkal Yesus untuk ketiga kalinya. Setelah persidangan itu, para anggota Sanhedrin membubarkan diri. Pagi-pagi sekali pada hari Jumat itu, mereka berkumpul lagi, kemungkinan untuk mengesahkan putusan mereka dan mengalihkan perhatian orang dari persidangan ilegal semalam. Yesus pun dibawa masuk.
Mereka lagi-lagi berkata, ”Kalau kamu memang Kristus, beri tahu kami.” Yesus menjawab, ”Kalaupun saya memberi tahu kalian, kalian sama sekali tidak akan percaya. Lagi pula, kalau saya bertanya, kalian tidak akan menjawab.” Tapi, Yesus dengan berani menyatakan bahwa dialah yang dinubuatkan di Daniel 7:13. ”Mulai sekarang, Putra manusia akan duduk di sebelah kanan Allah yang berkuasa,” katanya.—Lukas 22:67-69; Matius 26:63.
Mereka menanyai dia lagi, ”Kalau begitu, apa kamu Putra Allah?” Yesus menjawab, ”Benar seperti yang kalian katakan.” Ini meneguhkan kesimpulan mereka bahwa Yesus telah menghina Allah dan pantas mati. Mereka berkata, ”Kita tidak perlu cari saksi lagi.” (Lukas 22:70, 71; Markus 14:64) Mereka lalu mengikat Yesus dan membawanya kepada Gubernur Romawi, Pontius Pilatus.
Kemungkinan, Yudas Iskariot melihat Yesus dibawa kepada Pilatus. Saat tahu bahwa Yesus divonis mati, dia menyesal dan sangat sedih. Tapi, dia tidak sungguh-sungguh bertobat. Dia pergi kepada para imam kepala untuk mengembalikan 30 keping perak itu dan berkata, ”Saya berdosa karena saya mengkhianati orang yang tidak bersalah.” Namun, para imam itu tidak peduli. Mereka berkata, ”Apa urusannya dengan kami? Itu urusanmu!”—Matius 27:4.
Yudas melemparkan 30 keping perak itu di bait, lalu dia menambah kesalahannya dengan mencoba bunuh diri. Tapi saat dia gantung diri, cabang pohon tempat dia mengikatkan talinya itu patah. Tubuhnya pun jatuh ke tanah yang berbatu-batu, dan perutnya robek.—Kisah 1:17, 18.
Hari masih pagi ketika Yesus dibawa ke istana Pilatus. Orang-orang Yahudi yang membawanya tidak mau masuk ke istana itu. Mereka pikir, kalau mereka masuk ke tempat milik bangsa lain, mereka menjadi najis. Akibatnya, mereka tidak akan bisa ikut acara makan pada tanggal 15 Nisan, hari pertama Perayaan Roti Tanpa Ragi, yang dianggap bagian dari Paskah.
Pilatus keluar menemui mereka dan berkata, ”Apa tuduhan kalian terhadap orang ini?” Mereka menjawab, ”Kalau orang ini tidak berbuat salah, kami tidak akan menyerahkan dia kepadamu.” Pilatus mungkin tahu bahwa mereka ingin agar dia menghukum Yesus. Maka dia berkata, ”Kalian saja yang bawa dia, dan adili dia menurut hukum kalian.” Mereka menjawab, ”Kami tidak punya hak untuk membunuh siapa pun.” (Yohanes 18:29-31) Jawaban orang-orang Yahudi itu menunjukkan bahwa mereka ingin agar Yesus dihukum mati.
Kalau mereka membunuh Yesus pada Perayaan Paskah, orang-orang bisa marah karena banyak yang menyukai Yesus. Tapi, kalau orang Romawi menghukum mati Yesus dengan tuduhan melawan pemerintah, orang-orang Yahudi itu tidak akan dipersalahkan.
Para pemimpin agama itu tidak memberi tahu Pilatus bahwa mereka menuduh Yesus menghina Allah. Mereka malah menyampaikan tuduhan-tuduhan lain: ”Orang ini kedapatan [1] menyesatkan bangsa kami, [2] melarang kami membayar pajak kepada Kaisar, dan [3] mengaku sebagai Kristus, seorang raja.”—Lukas 23:2.
Sebagai wakil pemerintah Romawi, Pilatus perlu memeriksa tuduhan bahwa Yesus mengaku sebagai raja. Maka Pilatus masuk ke istananya, memanggil Yesus, dan bertanya, ”Apakah kamu Raja Orang Yahudi?” Dengan kata lain, dia bertanya, ’Apakah kamu melanggar hukum dan melawan Kaisar dengan menyatakan diri sebagai raja?’ Yesus mungkin ingin tahu seberapa banyak yang Pilatus ketahui tentang dia. Maka dia bertanya, ”Apakah pertanyaanmu ini berasal dari dirimu sendiri, atau ada yang memberi tahu kamu tentang saya?”—Yohanes 18:33, 34.
Pilatus menunjukkan bahwa dia belum tahu apa-apa tentang Yesus. Dia berkata, ”Saya kan bukan orang Yahudi. Bangsamu sendiri dan para imam kepala menyerahkan kamu kepada saya.” Lalu karena ingin tahu tentang Yesus, dia bertanya, ”Apa yang kamu lakukan?”—Yohanes 18:35.
Apa jawaban Yesus? Dia tidak mengalihkan pembicaraan dari topik yang ditanyakan Pilatus, yaitu tentang kedudukannya sebagai raja. Tapi, apa yang Yesus katakan pasti membuat gubernur itu terkejut.
-
-
Pilatus Maupun Herodes Menganggap Yesus Tidak BersalahYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 128
Pilatus Maupun Herodes Menganggap Yesus Tidak Bersalah
MATIUS 27:12-14, 18, 19 MARKUS 15:2-5 LUKAS 23:4-16 YOHANES 18:36-38
YESUS DIPERIKSA OLEH PILATUS DAN HERODES
Yesus tidak menutup-nutupi kenyataan bahwa dia seorang raja. Namun, Kerajaannya bukanlah ancaman bagi pemerintah Romawi. ”Kerajaan saya bukan bagian dari dunia ini,” kata Yesus kepada Pilatus. ”Kalau Kerajaan saya bagian dari dunia ini, hamba-hamba saya pasti sudah berjuang supaya saya tidak diserahkan kepada orang Yahudi. Tapi Kerajaan saya memang bukan dari sini.”—Yohanes 18:36.
Karena belum puas, Pilatus bertanya lagi, ”Kalau begitu, kamu ini raja?” Yesus menjawab, ”Benar seperti yang kamu katakan. Saya harus bersaksi tentang kebenaran, karena untuk itulah saya dilahirkan, dan untuk itulah saya datang ke dunia. Setiap orang yang ada di pihak kebenaran mendengarkan suara saya.”—Yohanes 18:37.
Sebelumnya, Yesus pernah memberi tahu Tomas, ”Akulah jalan, kebenaran, dan kehidupan.” Sekarang, Yesus juga memberi tahu Pilatus bahwa dia diutus ke bumi untuk bersaksi tentang kebenaran, terutama kebenaran tentang Kerajaannya. Yesus bertekad untuk terus bersaksi, bahkan jika dia harus mati karena melakukannya. ”Apa kebenaran itu?” tanya Pilatus. Tapi, dia tidak menunggu jawaban Yesus. Dia sudah bisa menarik kesimpulan tentang pria ini.—Yohanes 14:6; 18:38.
Pilatus lalu menemui orang-orang yang menunggu di luar istananya, dan Yesus kelihatannya berdiri di sampingnya. Pilatus berkata kepada para imam kepala dan orang-orang lainnya, ”Saya tidak menemukan kesalahan apa pun pada orang ini.” Mendengar itu, mereka marah dan berkeras, ”Dia menghasut rakyat dengan mengajar di seluruh Yudea, awalnya di Galilea dan sekarang sudah sampai ke sini.”—Lukas 23:4, 5.
Pilatus tidak habis pikir melihat kebencian orang-orang Yahudi yang membabi buta itu. Di tengah teriakan para imam kepala dan pemimpin orang Yahudi, Pilatus bertanya kepada Yesus, ”Apa kamu tidak dengar betapa banyaknya tuduhan mereka kepadamu?” (Matius 27:13) Yesus diam saja. Pilatus heran melihat Yesus begitu tenang menghadapi semua itu.
Orang-orang Yahudi berkata bahwa Yesus awalnya mengajar ”di Galilea”. Karena itu, Pilatus menyimpulkan bahwa Yesus adalah orang Galilea. Sekarang, dia tahu bahwa dia bisa menghindar dari tanggung jawab untuk mengadili Yesus. Dia menyerahkan Yesus kepada penguasa Galilea, yaitu Herodes Antipas (putra dari Herodes Agung). Selama minggu Paskah ini, Herodes berada di Yerusalem. Herodes Antipas adalah raja yang memerintahkan agar Yohanes Pembaptis dipenggal. Ketika dia mendengar Yesus melakukan berbagai mukjizat, dia berpikir jangan-jangan Yesus adalah Yohanes yang dibangkitkan.—Lukas 9:7-9.
Herodes senang sekali bertemu Yesus, tapi bukan karena dia mau membantu Yesus atau mencari tahu apakah tuduhan orang-orang memang benar. Herodes hanya ”berharap bisa melihatnya membuat mukjizat”. (Lukas 23:8) Tapi, Yesus tidak mau mengabulkannya. Malah, selama Herodes menanyai dia, Yesus tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Karena kecewa, Herodes dan para prajuritnya memperlakukan Yesus ”dengan hina”. (Lukas 23:11) Mereka memakaikan baju bagus pada Yesus dan mengejeknya. Kemudian Herodes menyuruh Yesus dibawa kembali kepada Pilatus. Dua penguasa itu selama ini bermusuhan, tapi sekarang mereka malah bekerja sama.
Ketika Yesus kembali, Pilatus memanggil para imam kepala, pemimpin orang Yahudi, dan orang-orang lain. Dia berkata, ”Saya sudah memeriksa dia di depan kalian, tapi saya tidak mendapati dasar untuk tuduhan kalian kepada orang ini. Herodes pun menganggap orang ini tidak bersalah, karena dia mengirim kembali orang ini kepada kami. Orang ini tidak melakukan apa pun yang membuatnya pantas dihukum mati. Jadi, saya akan mencambuk dia dan membebaskannya.”—Lukas 23:14-16.
Pilatus ingin sekali membebaskan Yesus. Dia tahu bahwa para imam menangkap Yesus karena merasa iri. Dia juga semakin yakin karena istrinya mendapat mimpi yang kelihatannya berasal dari Allah. Saat Pilatus duduk di kursi penghakiman, istrinya mengirimkan pesan ini: ”Jangan berurusan dengan orang benar itu. Hari ini aku sangat menderita dalam mimpiku karena dia.”—Matius 27:19.
Apakah Pilatus bisa membebaskan pria yang tidak bersalah ini?
-
-
Pilatus Berkata, ”Lihatlah Orang Ini!”Yesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 129
Pilatus Berkata, ”Lihatlah Orang Ini!”
MATIUS 27:15-17, 20-30 MARKUS 15:6-19 LUKAS 23:18-25 YOHANES 18:39–19:5
PILATUS BERUSAHA MEMBEBASKAN YESUS
ORANG YAHUDI MEMILIH BARABAS UNTUK DIBEBASKAN
YESUS DIHINA DAN DISIKSA
Kepada kerumunan orang yang ingin Yesus mati, Pilatus berkata, ”Saya tidak mendapati dasar untuk tuduhan kalian kepada orang ini. Herodes pun menganggap orang ini tidak bersalah.” (Lukas 23:14, 15) Sekarang, Pilatus mencoba cara lain untuk membebaskan Yesus. Dia berkata, ”Menurut kebiasaan kalian, saya harus membebaskan seorang tahanan setiap Paskah. Jadi apakah kalian ingin saya membebaskan Raja Orang Yahudi?”—Yohanes 18:39.
Pilatus tahu bahwa ada seorang tahanan bernama Barabas, yang terkenal sebagai perampok, pembunuh, dan pemberontak terhadap pemerintah. Pilatus bertanya, ”Kalian ingin saya bebaskan yang mana untuk kalian: Barabas atau Yesus yang disebut Kristus?” Karena dihasut oleh para imam kepala, orang-orang memilih Barabas. Pilatus bertanya lagi, ”Dari dua orang ini, yang mana yang kalian ingin saya bebaskan untuk kalian?” Mereka berteriak, ”Barabas”!—Matius 27:17, 21.
Dengan kecewa, Pilatus bertanya, ”Kalau begitu, Yesus yang disebut Kristus harus saya apakan?” Tanpa rasa bersalah, mereka semua menjawab, ”Bunuh dia di tiang!” (Matius 27:22) Mereka ingin membunuh orang yang tidak bersalah! Pilatus berkata, ”Kenapa? Kejahatan apa yang dia lakukan? Saya lihat dia tidak melakukan apa pun yang membuatnya pantas dihukum mati. Jadi saya akan mencambuk dia dan membebaskannya.”—Lukas 23:22.
Meski Pilatus sudah berulang kali mencoba untuk membebaskan Yesus, semua orang itu berteriak, ”Bunuh dia di tiang!” (Matius 27:23) Mereka benar-benar sudah dihasut para pemimpin agama! Padahal, Yesus bukan penjahat atau pembunuh, dan baru lima hari yang lalu dia disambut sebagai Raja di Yerusalem. Para murid Yesus mungkin ada di antara kerumunan orang itu, namun mereka diam saja dan berusaha tidak dikenali.
Pilatus sadar bahwa semua upayanya sia-sia. Orang-orang malah semakin rusuh. Jadi, Pilatus mengambil air dan mencuci tangannya di depan mereka lalu berkata, ”Saya tidak bertanggung jawab atas darah orang ini. Kalian yang harus bertanggung jawab.” Bukannya berubah pikiran, orang-orang itu justru mengatakan, ”Kami dan anak-anak kami bertanggung jawab atas darahnya.”—Matius 27:24, 25.
Pilatus tahu apa yang seharusnya dia lakukan, tapi dia memilih untuk mengikuti keinginan orang-orang. Jadi, dia membebaskan Barabas. Setelah itu, dia memerintahkan agar para prajuritnya melepaskan pakaian Yesus dan mencambukinya.
Setelah menyiksa Yesus, para prajurit itu membawa dia ke dalam istana. Seluruh pasukan berkumpul mengerumuni dia. Mereka memakaikan mahkota dari tanaman berduri di kepalanya. Mereka juga menyuruh Yesus memegang sebatang kayu, dan mereka memakaikan jubah ungu kemerahan padanya, yang seperti pakaian bangsawan. Mereka lalu mengejek dia, ”Hidup Raja Orang Yahudi!” (Matius 27:28, 29) Mereka meludahi Yesus dan terus menampar dia. Mereka mengambil kayu dari tangan Yesus lalu memakai itu untuk memukul kepalanya. Akibatnya, duri di mahkota tadi menusuk semakin dalam ke kulit kepalanya.
Selama menghadapi semua itu, Yesus tetap berani dan tenang. Pilatus begitu terkesan melihatnya. Dia pun sekali lagi berupaya agar Yesus tidak dihukum mati. Dia berkata, ”Lihatlah! Saya bawa dia ke luar supaya kalian tahu bahwa saya tidak menemukan kesalahan apa pun padanya.” Pilatus mungkin berharap orang-orang itu akan berubah pikiran saat melihat Yesus yang penuh memar dan luka. Sambil menunjuk Yesus, Pilatus berkata kepada orang-orang yang kejam itu, ”Lihatlah orang ini!”—Yohanes 19:4, 5.
Pilatus mengatakan hal itu dengan nada kasihan sekaligus kagum. Dia pasti bisa melihat bahwa Yesus tetap tenang dan tegar walaupun tubuhnya babak belur.
-
-
Yesus Dijatuhi Hukuman MatiYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 130
Yesus Dijatuhi Hukuman Mati
MATIUS 27:31, 32 MARKUS 15:20, 21 LUKAS 23:24-31 YOHANES 19:6-17
PILATUS KEMBALI BERUSAHA MEMBEBASKAN YESUS
YESUS DIVONIS MATI DAN DIBAWA KE TEMPAT DIA AKAN DIPANTEK
Yesus sudah dihina dan disiksa, dan Pilatus sudah berulang kali berusaha agar Yesus dibebaskan. Namun, para imam kepala dan pengikut mereka tetap berkeras agar Yesus dihukum mati. Mereka terus berteriak, ”Bunuh dia di tiang! Bunuh dia di tiang!” Pilatus menjawab, ”Kalian saja yang bawa dia dan bunuh dia. Saya tidak menemukan kesalahan apa pun padanya.”—Yohanes 19:6.
Orang Yahudi sudah menuduh Yesus sebagai musuh Kaisar. Tapi Pilatus tidak percaya. Jadi sekarang, mereka menuduh Yesus melanggar hukum agama Yahudi. Tuduhan ini sudah mereka pakai saat Yesus diadili oleh Sanhedrin. ”Kami punya hukum,” kata mereka, ”dan menurut hukum kami, dia harus mati, karena dia menyebut dirinya putra Allah.” (Yohanes 19:7) Ini pertama kalinya Pilatus mendengar tuduhan itu.
Dia lalu kembali ke istananya dan mencari cara untuk membebaskan Yesus yang sudah diperlakukan dengan kejam itu. Bisa jadi, dia juga ingat akan mimpi istrinya. (Matius 27:19) Pilatus bingung dengan tuduhan bahwa Yesus adalah ”putra Allah”. Setahu Pilatus, Yesus berasal dari Galilea. (Lukas 23:5-7) Jadi, dia bertanya kepada Yesus, ”Dari mana asalmu?” (Yohanes 19:9) Apakah Pilatus berpikir bahwa Yesus adalah dewa dan pernah hidup di surga?
Yesus sudah memberi tahu Pilatus bahwa dia adalah seorang raja dan bahwa Kerajaannya bukan bagian dari dunia ini. Jadi, Yesus merasa tidak perlu menjelaskan apa-apa lagi. Dia diam saja. Pilatus pun tersinggung, dan dengan marah dia berkata, ”Kamu tidak mau bicara kepada saya? Apa kamu tidak tahu saya punya kuasa untuk membebaskan kamu dan untuk menghukum mati kamu?”—Yohanes 19:10.
Yesus menjawab, ”Kamu tidak punya kuasa apa pun atas saya kalau itu tidak diberikan kepadamu dari atas. Karena itulah orang yang menyerahkan saya kepadamu punya dosa yang lebih besar.” (Yohanes 19:11) Kelihatannya, ”orang” yang Yesus maksudkan bukan hanya satu. Maksud Yesus, orang-orang seperti Kayafas, para imam lainnya, dan Yudas Iskariot lebih berdosa daripada Pilatus.
Pilatus kagum dengan sikap dan kata-kata Yesus. Dia juga semakin takut kalau-kalau Yesus memang dewa. Maka, dia sekali lagi berusaha melepaskan Yesus. Namun, orang Yahudi menakut-nakuti Pilatus, ”Kalau kamu bebaskan orang ini, kamu bukan sahabat Kaisar. Setiap orang yang menyebut dirinya raja sebenarnya melawan Kaisar.”—Yohanes 19:12.
Pilatus lalu membawa Yesus keluar lagi, dan dari kursi penghakimannya dia berkata kepada orang-orang, ”Lihatlah raja kalian!” Namun mereka berteriak, ”Singkirkan dia! Singkirkan dia! Bunuh dia di tiang!” Pilatus bertanya, ”Apa saya harus menghukum mati raja kalian?” Orang Yahudi sebenarnya tidak menyukai pemerintahan Romawi, tapi sekarang para imam kepala menjawab dengan lantang, ”Kami tidak punya raja lain selain Kaisar.”—Yohanes 19:14, 15.
Karena orang Yahudi terus memaksa, Pilatus akhirnya menyerah. Dia pun menjatuhkan hukuman mati atas Yesus. Para prajurit melepaskan jubah ungu Yesus dan memakaikan baju luarnya. Sekarang, Yesus harus berjalan ke tempat dia akan dipantek, dan dia harus membawa tiang siksaannya sendiri.
Pada hari Jumat tanggal 14 Nisan itu, hari sudah mulai siang. Sejak Kamis subuh, Yesus belum tidur, dan dia sudah disiksa habis-habisan. Selain itu, tiang yang harus Yesus bawa sangat berat. Jadi, Yesus kehabisan tenaga. Para prajurit pun memaksa seseorang yang sedang lewat, yaitu Simon dari Kirene di Afrika, untuk mengangkat tiang itu sampai ke tempat Yesus akan dipantek. Banyak orang mengikuti Yesus sambil menangisi dia dan memukuli diri karena sedih.
Yesus berkata kepada para wanita yang menangis, ”Wanita-wanita Yerusalem, jangan lagi tangisi aku. Tangisi diri kalian sendiri dan anak-anak kalian. Saatnya akan tiba ketika orang-orang akan berkata, ’Bahagialah wanita yang mandul, rahim yang tidak pernah melahirkan, dan buah dada yang tidak pernah menyusui!’ Lalu mereka akan mulai berkata kepada gunung-gunung, ’Tutupilah kami!’ dan kepada bukit-bukit, ’Sembunyikanlah kami!’ Kalau saat pohon masih segar saja mereka melakukan hal-hal ini, apa yang akan terjadi saat pohon itu layu?”—Lukas 23:28-31.
Yesus sedang membicarakan bangsa Yahudi. Bangsa itu bagaikan pohon yang hampir layu namun masih sedikit segar karena masih ada Yesus dan sejumlah orang Yahudi yang beriman kepadanya. Setelah Yesus pergi dan para pengikutnya tidak lagi memeluk agama Yahudi, bangsa itu akan layu secara rohani, bagaikan pohon yang mati. Ketika Allah memakai pasukan Romawi untuk menghukum bangsa itu, mereka semua akan menangis!
-
-
Sang Raja Dipantek di TiangYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 131
Sang Raja Dipantek di Tiang
MATIUS 27:33-44 MARKUS 15:22-32 LUKAS 23:32-43 YOHANES 19:17-24
YESUS DIPAKUKAN DI TIANG SIKSAAN
YESUS DIEJEK KARENA TANDA DI ATAS KEPALANYA
YESUS MENJANJIKAN KEHIDUPAN DI BUMI FIRDAUS
Yesus dibawa ke tempat yang disebut Golgota, atau Tempat Tengkorak. Letaknya dekat dengan Yerusalem dan dapat terlihat ”dari jauh”. (Markus 15:40) Di sanalah dia dan dua orang perampok akan dihukum mati.
Sesampainya di sana, para prajurit melepaskan pakaian ketiga pria itu lalu memberi mereka anggur yang dicampur dengan mur dan empedu. Kelihatannya, minuman ini dibuat oleh para wanita di Yerusalem, dan prajurit Romawi mengizinkan minuman yang bisa mengurangi rasa sakit ini diberikan kepada orang yang akan dihukum mati. Namun setelah mencicipinya, Yesus tidak mau minum. Mengapa? Yesus ingin sadar sepenuhnya selama ujian yang besar ini dan setia sampai mati.
Para prajurit membaringkan Yesus di atas tiang lalu memakukan tangan dan kakinya. (Markus 15:25) Yesus merasa sangat kesakitan saat paku-paku itu menembus daging dan jaringan di dekat tulangnya. Seraya tiang itu ditegakkan, rasa sakitnya semakin menjadi-jadi karena berat tubuh Yesus menarik dan merobek luka-lukanya. Namun, Yesus tidak marah kepada para prajurit itu. Dia justru berdoa, ”Bapak, ampunilah mereka, karena mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan.”—Lukas 23:34.
Orang Romawi biasanya memasang papan yang bertuliskan kejahatan orang yang dihukum itu. Namun untuk Yesus, Pilatus menuliskan: ”Yesus orang Nazaret, Raja Orang Yahudi”. Gelar itu ditulis dalam bahasa Ibrani, Latin, dan Yunani supaya kebanyakan orang bisa mengerti. Ini menunjukkan bahwa Pilatus muak dengan tindakan orang Yahudi yang menuntut agar Yesus mati. Para imam kepala memprotes, ”Jangan tulis, ’Raja Orang Yahudi’, tapi tulis bahwa dia bilang, ’Saya Raja Orang Yahudi.’” Tapi, Pilatus tidak mau menjadi boneka mereka lagi. Dia menjawab, ”Apa yang sudah saya tulis tidak boleh diubah.”—Yohanes 19:19-22.
Para imam yang marah itu lalu mengulangi lagi kesaksian palsu yang mereka dengar ketika Yesus diadili oleh Sanhedrin. Karena itu, orang-orang yang lewat menggeleng-gelengkan kepala dan menghina Yesus, ”Kamu yang katanya mau merobohkan bait dan membangunnya dalam tiga hari, selamatkan dirimu dan turun dari tiang siksaan!” Para imam kepala dan ahli Taurat juga mengejek dia, ”Kristus, Raja Israel, harusnya turun dari tiang siksaan, supaya kita bisa lihat dan percaya.” (Markus 15:29-32) Bahkan dua perampok di sebelah kanan dan kiri Yesus juga menghinanya, padahal Yesus sama sekali tidak bersalah.
Keempat prajurit Romawi yang ada di sana juga mengejek Yesus. Mereka mungkin sedang minum anggur asam, dan mereka mengolok-olok Yesus dengan menawarkan minuman itu di depannya, padahal Yesus jelas-jelas tidak bisa mengambilnya. Mereka juga berkata, ”Kalau kamu Raja Orang Yahudi, selamatkan dirimu.” (Lukas 23:36, 37) Coba bayangkan! Yesus, yang adalah jalan, kebenaran, dan kehidupan, sekarang disiksa dan diejek. Meski begitu, Yesus menghadapi semuanya dengan tegar. Dia tidak mengecam orang-orang Yahudi yang menontonnya, para prajurit Romawi yang menghinanya, atau dua penjahat yang dipantek di sebelahnya.
Empat prajurit itu mengambil baju luar Yesus dan membaginya menjadi empat. Mereka melempar undi untuk menentukan siapa yang mendapat setiap bagian. Namun, baju bagian dalam Yesus sangat bagus, ”tidak ada jahitannya, ditenun dari atas sampai bawah”. Para prajurit itu berkata, ”Baju ini jangan disobek. Ayo kita lempar undi untuk tentukan siapa yang akan dapat baju ini.” Dengan demikian, ayat ini menjadi kenyataan: ”Mereka membagi-bagi bajuku untuk mereka sendiri, dan mereka melempar undi atas pakaianku.”—Yohanes 19:23, 24; Mazmur 22:18.
Setelah beberapa lama, salah satu penjahat yang dipantek bersama Yesus menyadari bahwa Yesus benar-benar seorang raja. Dia menegur penjahat yang satu lagi, ”Apa kamu sama sekali tidak takut kepada Allah? Kamu dapat hukuman yang sama dengan dia, dan kita memang pantas dihukum. Hukuman ini setimpal dengan perbuatan kita. Tapi orang ini sama sekali tidak bersalah.” Lalu dia memohon kepada Yesus, ”Ingatlah saya saat kamu masuk ke Kerajaanmu.”—Lukas 23:40-42.
Yesus menjawab, ”Dengan sungguh-sungguh saya berkata kepadamu hari ini, kamu akan bersama saya di Firdaus.” (Lukas 23:43) Janji ini berbeda dengan janji Yesus kepada para rasulnya, yaitu bahwa mereka akan memerintah bersamanya dalam Kerajaan Allah. (Matius 19:28; Lukas 22:29, 30) Penjahat ini, yang adalah orang Yahudi, kemungkinan besar tahu tentang Firdaus di bumi, yang dulu Allah berikan sebagai tempat tinggal Adam, Hawa, dan keturunannya. Sekarang, dia punya harapan untuk hidup di sana.
-
-
”Orang Ini Pasti Putra Allah”Yesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 132
”Orang Ini Pasti Putra Allah”
MATIUS 27:45-56 MARKUS 15:33-41 LUKAS 23:44-49 YOHANES 19:25-30
YESUS MATI DI TIANG SIKSAAN
BEBERAPA PERISTIWA LUAR BIASA TERJADI KETIKA YESUS MENINGGAL
Sekarang sudah ”jam 12 siang”. Tiba-tiba, ”seluruh daerah itu menjadi gelap sampai jam 3 sore”. (Markus 15:33) Ini bukan gerhana matahari, karena gerhana itu biasanya hanya berlangsung beberapa menit. Lagi pula, gerhana matahari biasanya terjadi ketika bulan di langit adalah bulan baru, sedangkan saat itu adalah minggu Paskah, waktunya bulan purnama. Jadi, kegelapan yang menakutkan ini pasti disebabkan oleh Allah!
Bayangkan perasaan para pengejek Yesus saat menyaksikan hal itu. Di tengah kegelapan, empat wanita mendekati tiang siksaan Yesus. Mereka adalah Maria ibu Yesus, Salome, Maria Magdalena, dan Maria ibu Rasul Yakobus Kecil.
Rasul Yohanes juga berdiri ”dekat tiang siksaan” bersama Maria. Maria merasa sangat sedih, seperti ”ditusuk sebuah pedang panjang”. (Yohanes 19:25; Lukas 2:35) Putra yang dia lahirkan dan besarkan sekarang kesakitan dan sekarat di tiang siksaan. Meskipun rasa sakitnya luar biasa, Yesus tetap memikirkan ibunya. Dengan susah payah, dia menunjuk Yohanes dengan kepalanya dan berkata kepada ibunya, ”Ibu, dia anak Ibu!” Dia lalu menunjuk Maria dengan kepalanya dan berkata kepada Yohanes, ”Dia ibumu!”—Yohanes 19:26, 27.
Yesus memercayakan ibunya, yang kelihatannya sudah menjanda, kepada rasul yang sangat dia sayangi. Adik-adik Yesus, yaitu anak-anak Maria yang lain, belum beriman kepadanya. Jadi, selain memperhatikan kebutuhan jasmani ibunya, Yesus juga memikirkan kebutuhan rohani Maria. Benar-benar contoh yang bagus!
Ketika hari mulai terang lagi, Yesus berkata, ”Saya haus.” Dengan demikian, sebuah nubuat tentang Mesias menjadi kenyataan. (Yohanes 19:28; Mazmur 22:15) Yesus tahu bahwa Bapaknya saat itu tidak melindungi dia supaya kesetiaannya bisa benar-benar diuji. Yesus berseru, ”Eli, Eli, lama sabakhtani?” yang artinya, ”Allahku, Allahku, kenapa Engkau meninggalkan aku?” Beberapa orang yang berdiri di dekat situ salah paham dan mengatakan, ”Lihat! Dia panggil-panggil Elia.” Lalu, seseorang merendam bunga karang dalam anggur asam, menaruhnya pada sebatang kayu, dan memberi Yesus minum. Tapi ada yang berkata, ”Biarkan saja dia! Coba lihat apa Elia akan datang untuk menurunkan dia.”—Markus 15:34-36.
Yesus kemudian berseru, ”Sudah selesai!” (Yohanes 19:30) Ya, semua hal yang Bapaknya ingin Yesus lakukan di bumi sudah dia selesaikan. Akhirnya Yesus berkata, ”Bapak, ke dalam tangan-Mu kuserahkan nyawaku.” (Lukas 23:46) Yesus yakin bahwa Yehuwa akan membangkitkan dia. Setelah mengatakannya, Yesus menundukkan kepala dan mengembuskan napas terakhirnya.
Saat itu juga, terjadilah gempa bumi yang dahsyat, dan batu-batu terbelah. Gempa itu begitu besar sampai makam-makam di luar Yerusalem terbuka dan mayat-mayat ”terlempar ke luar”. Orang-orang yang melihat hal itu belakangan pergi ke ”kota suci” dan memberitahukan apa yang terjadi.—Matius 27:51-53.
Ketika Yesus meninggal, tirai panjang dan tebal yang memisahkan Ruang Kudus dan Ruang Mahakudus di bait terbagi dua, robek dari atas ke bawah. Peristiwa luar biasa ini menunjukkan bahwa Allah marah terhadap orang-orang yang membunuh Putra-Nya. Ini juga menjadi tanda bahwa mulai saat itu, terbukalah jalan bagi manusia untuk hidup di surga, yang dilambangkan oleh Ruang Mahakudus.—Ibrani 9:2, 3; 10:19, 20.
Orang-orang menjadi sangat takut. Perwira yang mengawasi eksekusi Yesus berkata, ”Orang ini pasti Putra Allah.” (Markus 15:39) Ketika Pilatus mengadili Yesus, perwira ini mungkin mendengar orang-orang berkata bahwa Yesus mengaku sebagai Putra Allah. Sekarang, dia yakin bahwa Yesus tidak bersalah dan memang Putra Allah.
Setelah mengalami semua kejadian yang luar biasa itu, orang-orang pulang sambil ”memukuli dada” karena sangat sedih dan malu. (Lukas 23:48) Banyak orang melihat kematian Yesus dari jauh. Di antara mereka, ada para wanita yang adalah pengikut Yesus dan kadang ikut bepergian bersama dia. Mereka juga menyaksikan semua peristiwa menakjubkan itu.
-
-
Yesus DimakamkanYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 133
Yesus Dimakamkan
MATIUS 27:57–28:2 MARKUS 15:42–16:4 LUKAS 23:50–24:3 YOHANES 19:31–20:1
JENAZAH YESUS DITURUNKAN DARI TIANG SIKSAAN
JENAZAHNYA DISIAPKAN UNTUK DIMAKAMKAN
PARA WANITA MELIHAT MAKAM YESUS KOSONG
Pada Jumat tanggal 14 Nisan ini, hari sudah sore. Sabat tanggal 15 Nisan akan dimulai saat matahari terbenam. Yesus sudah meninggal, tapi dua perampok di sebelahnya masih hidup. Menurut Taurat, mayat ”tidak boleh dibiarkan di tiang sepanjang malam” dan harus dimakamkan ”hari itu juga”.—Ulangan 21:22, 23.
Jumat itu disebut hari Persiapan karena orang-orang mempersiapkan makanan dan melakukan pekerjaan yang harus selesai sebelum Sabat. Tanggal 15 Nisan adalah ”hari Sabat besar”. (Yohanes 19:31) Itu disebut ”besar” karena pada hari itu ada dua Sabat sekaligus. Pertama, tanggal 15 Nisan itu adalah hari Sabtu, yang adalah Sabat mingguan. Selain itu, 15 Nisan adalah hari pertama Perayaan Roti Tanpa Ragi, yang selalu dijadikan Sabat.—Imamat 23:5, 6.
Jadi sekarang, orang-orang Yahudi meminta Pilatus untuk mempercepat kematian Yesus dan dua perampok di sebelahnya dengan mematahkan kaki mereka. Dengan begitu, mereka tidak bisa menaikkan tubuh mereka untuk bernapas. Para prajurit pun mematahkan kaki kedua perampok itu. Tapi Yesus sudah mati, jadi mereka tidak mematahkan kakinya. Ini sesuai dengan nubuat di Mazmur 34:20: ”Dia melindungi semua tulang orang itu; tak satu pun tulangnya dipatahkan.”
Untuk memastikan bahwa Yesus sudah mati, seorang prajurit menusuk bagian rusuknya dengan tombak, dan ”keluarlah darah dan air pada saat itu juga”. (Yohanes 19:34) Ini sesuai dengan nubuat lainnya: ”Mereka akan menatap orang yang mereka tusuk.”—Zakharia 12:10.
Yusuf dari kota Arimatea, ”seorang pria kaya” yang adalah anggota terhormat dari Sanhedrin, juga menyaksikan kematian Yesus. (Matius 27:57) Alkitab berkata bahwa dia adalah ”orang yang baik dan benar”, yang ”menantikan Kerajaan Allah”. Yusuf adalah ”murid Yesus tapi merahasiakannya karena takut kepada orang Yahudi”. Dia sebenarnya tidak setuju dengan keputusan Sanhedrin untuk menghukum Yesus. (Lukas 23:50; Markus 15:43; Yohanes 19:38) Yusuf memberanikan diri untuk meminta jenazah Yesus kepada Pilatus. Pilatus memanggil perwira yang mengawasi eksekusi Yesus, dan perwira itu menyatakan bahwa Yesus sudah mati. Maka, Pilatus mengabulkan permintaan Yusuf.
Yusuf membeli kain linen yang halus dan bersih. Dia lalu menurunkan jenazah Yesus dari tiang dan membungkusnya dengan kain itu. Nikodemus, ”yang pernah menemui Yesus pada malam hari”, juga ikut mempersiapkan pemakaman Yesus. (Yohanes 19:39) Dia membawa sekitar 30 kilogram campuran mur dan gaharu yang mahal. Jenazah Yesus lalu dibungkus dengan kain-kain yang diberi campuran rempah itu, sesuai dengan kebiasaan penguburan orang Yahudi.
Yusuf punya satu makam yang dibuat dalam bukit batu dan masih baru. Jenazah Yesus dibaringkan di sana. Kemudian, sebuah batu besar digulingkan untuk menutup makam itu. Semua ini dilakukan dengan cepat-cepat, karena sebentar lagi Sabat dimulai. Maria Magdalena dan Maria ibu Yakobus Kecil mungkin juga ikut menyiapkan jenazah Yesus untuk dimakamkan. Mereka sekarang cepat-cepat ”pulang untuk mempersiapkan rempah-rempah dan minyak wangi”, yang akan digunakan untuk jenazah Yesus setelah hari Sabat.—Lukas 23:56.
Keesokan harinya, pada hari Sabat, para imam kepala dan orang Farisi menemui Pilatus. Mereka berkata, ”Pak, kami ingat bahwa ketika penipu itu masih hidup, dia berkata, ’Setelah tiga hari, saya akan dibangkitkan.’ Jadi perintahkanlah agar kuburan itu dijaga ketat sampai hari ketiga, supaya murid-muridnya tidak datang mencuri jenazahnya dan berkata kepada orang-orang, ’Dia sudah dibangkitkan dari antara orang mati!’ Kalau itu terjadi, tipuan yang terakhir ini akan lebih parah daripada yang sebelumnya.” Pilatus berkata, ”Kalian boleh membawa penjaga. Jagalah kuburan itu seketat mungkin.”—Matius 27:63-65.
Pagi-pagi sekali pada hari Minggu, Maria Magdalena, Maria ibu Yakobus, dan wanita-wanita lainnya membawa rempah-rempah ke makam Yesus. Mereka berkata satu sama lain, ”Siapa yang akan menggulingkan batu penutup makam itu untuk kita?” (Markus 16:3) Namun, makam itu sudah terbuka karena ada gempa besar yang terjadi, dan malaikat Allah sudah menggulingkan batu penutup makam itu. Malah, sekarang makam itu tidak dijaga lagi dan sudah kosong!
-
-
Yesus Sudah Bangkit!Yesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 134
Yesus Sudah Bangkit!
MATIUS 28:3-15 MARKUS 16:5-8 LUKAS 24:4-12 YOHANES 20:2-18
YESUS DIBANGKITKAN
BERBAGAI KEJADIAN DI MAKAM YESUS
YESUS MENEMUI PARA WANITA
Maria Magdalena dan para wanita lainnya kaget melihat makam Yesus kosong! Maria ”berlari menemui Simon Petrus dan murid lainnya, yaitu murid yang Yesus sayangi”, Yohanes. (Yohanes 20:2) Sementara itu, para wanita lain yang berada di makam itu melihat seorang malaikat. Di dalam makam, ada malaikat lain lagi, yang ”berjubah putih”.—Markus 16:5.
Salah satu malaikat berkata, ”Jangan takut, saya tahu kalian mencari Yesus yang dibunuh di tiang. Dia tidak ada di sini, karena dia sudah dibangkitkan, seperti yang pernah dia katakan. Mari, lihatlah tempat dia tadinya dibaringkan. Lalu, cepatlah pergi dan beri tahu murid-muridnya bahwa dia sudah dibangkitkan dari antara orang mati. Dia sedang pergi ke Galilea mendahului kalian.” (Matius 28:5-7) ”Dengan takut tapi juga senang sekali”, para wanita itu berlari untuk memberi tahu murid-murid lain.—Matius 28:8.
Maria akhirnya bertemu dengan Petrus dan Yohanes. Sambil terengah-engah dia berkata, ”Tuan kita sudah dikeluarkan dari makamnya, dan kami tidak tahu dia ditaruh di mana.” (Yohanes 20:2) Petrus dan Yohanes pun berlari ke makam itu. Yohanes berlari lebih cepat dan tiba lebih dulu. Dari luar, dia mengintip ke dalam dan melihat kain-kain yang tadinya dipakai untuk membungkus Yesus.
Saat Petrus tiba, dia langsung masuk ke makam. Dia melihat kain linen dan kain lainnya yang dipakai untuk membalut kepala Yesus. Yohanes juga masuk, dan dia sekarang memercayai Maria. Petrus dan Yohanes tidak sadar bahwa Yesus sudah bangkit, padahal Yesus pernah memberitahukannya. (Matius 16:21) Mereka pulang dengan bingung. Tapi Maria, yang sudah kembali ke makam, tetap berada di sana.
Sementara itu, para wanita lainnya berlari untuk memberi tahu murid-murid tentang kebangkitan Yesus. Di perjalanan, Yesus bertemu dengan mereka dan berkata, ”Salam!” Mereka langsung ”mendekati dia dan sujud di kakinya”. Namun Yesus berkata, ”Jangan takut! Pergilah, beri tahu saudara-saudaraku supaya mereka pergi ke Galilea. Di sana mereka akan bertemu denganku.”—Matius 28:9, 10.
Sebelumnya, ketika gempa bumi terjadi dan para malaikat datang, para prajurit yang menjaga makam itu ”gemetar ketakutan dan menjadi seperti orang mati”. Setelah pulih, mereka ”masuk ke kota dan melaporkan kepada para imam kepala semua hal yang terjadi”. Para imam lalu berunding dengan para pemimpin orang Yahudi dan memutuskan untuk menyuap para prajurit itu supaya mereka berkata, ”Murid-muridnya datang pada malam hari dan mencuri jenazahnya ketika kami sedang tidur.”—Matius 28:4, 11, 13.
Prajurit Romawi bisa dihukum mati kalau tertidur sewaktu bertugas. Maka para imam berjanji, ”Kalau hal ini sampai ke telinga gubernur, kami akan menjelaskan hal ini kepadanya. Kalian tidak usah khawatir.” (Matius 28:14) Para prajurit itu pun mau menerima suap. Sesuai dengan permintaan para imam, mereka mengatakan bahwa jenazah Yesus dicuri, dan tersebarlah cerita bohong itu di antara orang Yahudi.
Maria Magdalena masih menangis di makam Yesus. Ketika membungkuk untuk mengintip ke dalam makam, dia melihat dua malaikat berpakaian putih! Yang satu duduk di bagian kepala tempat jenazah Yesus tadinya dibaringkan, dan yang satu lagi di bagian kaki. ”Kenapa kamu menangis?” tanya mereka. Maria menjawab, ”Ada yang membawa pergi Tuan saya, dan saya tidak tahu dia ditaruh di mana.” Saat Maria berbalik, dia melihat orang lain lagi. Orang ini juga menanyakan hal yang sama lalu berkata, ”Kamu cari siapa?” Karena mengira bahwa orang itu tukang kebun, Maria berkata, ”Pak, kalau Bapak yang mengambil dia, tolong beri tahu saya di mana Bapak menaruhnya, dan saya akan mengambilnya.”—Yohanes 20:13-15.
Sebenarnya, orang itu adalah Yesus yang sudah dibangkitkan, tapi Maria tidak mengenalinya. Ketika Yesus memanggilnya, ”Maria!” barulah Maria mengenalinya, karena seperti itulah Yesus biasa memanggilnya. Maria pun dengan senang berkata, ”Rabuni!” (yang artinya ”Guru!”). Maria khawatir Yesus akan naik ke surga saat itu juga, maka dia memegangi Yesus. Tapi Yesus berkata, ”Janganlah memegangi aku terus, karena aku belum naik kepada Bapak. Pergilah kepada saudara-saudaraku dan katakan kepada mereka, ’Aku akan naik kepada Bapakku dan Bapak kalian, kepada Allahku dan Allah kalian.’”—Yohanes 20:16, 17.
Maria kemudian berlari menemui para rasul dan murid-murid lain. Dia memberi tahu mereka, ”Aku sudah lihat Tuan!” Jadi sekarang, para murid telah mendengar tentang hal itu dari Maria dan juga para wanita lainnya. (Yohanes 20:18) Meski begitu, mereka tidak percaya dan ”menganggapnya omong kosong”.—Lukas 24:11.
-
-
Banyak Orang Melihat Yesus yang Sudah DibangkitkanYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 135
Banyak Orang Melihat Yesus yang Sudah Dibangkitkan
LUKAS 24:13-49 YOHANES 20:19-29
YESUS MENEMUI DUA MURID YANG SEDANG BERJALAN KE EMAUS
YESUS MENJELASKAN ISI KITAB SUCI KEPADA MURID-MURIDNYA
TOMAS TIDAK RAGU LAGI
Sekarang hari Minggu tanggal 16 Nisan, dan para murid merasa sedih dan bingung karena makam Yesus kosong. (Matius 28:9, 10; Lukas 24:11) Hari itu, Kleopas dan seorang murid lainnya meninggalkan Yerusalem dan pergi ke Emaus, yang jauhnya kira-kira 11 kilometer.
Dalam perjalanan, mereka membicarakan semua peristiwa yang baru terjadi. Tiba-tiba, seorang pria ikut berjalan bersama mereka dan bertanya, ”Apa yang sedang kalian bicarakan?” Kleopas menjawab, ”Apa kamu orang asing yang tidak kenal siapa-siapa sampai tidak tahu hal-hal yang terjadi di Yerusalem beberapa hari ini?” Pria itu bertanya, ”Hal-hal apa?”—Lukas 24:17-19.
”Yang berhubungan dengan Yesus orang Nazaret,” jawab mereka. ”Kami [tadinya] berharap orang ini akan membebaskan Israel.”—Lukas 24:19-21.
Dua murid itu pun menceritakan apa yang terjadi hari itu: Beberapa wanita pergi ke makam Yesus, tapi makam itu sudah kosong. Para wanita itu melihat sesuatu yang luar biasa. Mereka melihat malaikat-malaikat, yang kemudian memberi tahu mereka bahwa Yesus sudah hidup lagi. Selain itu, beberapa murid lain juga pergi ke makam dan ”ternyata cerita para wanita itu benar”.—Lukas 24:24.
Kleopas dan temannya tidak memahami arti semua peristiwa itu. Jadi, pria itu ingin membantu mereka menyadari bahwa Yesus memang sudah dibangkitkan. Dia berkata, ”Kalian ini, kenapa kalian tidak mau berpikir dan tidak mau langsung percaya semua yang dikatakan para nabi? Kristus memang harus mengalami semua penderitaan itu agar dia dimuliakan.” (Lukas 24:25, 26) Pria itu lalu menjelaskan banyak hal tentang Kristus yang ditulis dalam Kitab Suci.
Akhirnya, mereka hampir sampai di Emaus. Dua murid itu ingin terus mendengarkan pria itu, jadi mereka berkata, ”Ikutlah dengan kami, sekarang sudah hampir malam dan sebentar lagi gelap.” Dia pun ikut dan makan bersama mereka. Ketika pria itu berdoa, memecah-mecahkan roti, dan memberikannya kepada mereka, mereka mengenali dia. Tapi setelah itu, dia menghilang. (Lukas 24:29-31) Sekarang mereka benar-benar yakin bahwa Yesus sudah dibangkitkan!
Dengan bersemangat, kedua murid itu berkata satu sama lain, ”Pantas saja hati kita sangat tersentuh saat dia bicara dengan kita di jalan, saat dia menjelaskan isi Kitab Suci!” (Lukas 24:32) Mereka cepat-cepat kembali ke Yerusalem dan menemui para rasul dan murid-murid lain. Namun sebelum mereka bercerita, para murid berkata, ”Tuan memang sudah bangkit dan dia menemui Simon!” (Lukas 24:34) Setelah itu, Kleopas dan temannya menceritakan pengalaman mereka.
Tiba-tiba, Yesus ada di ruangan itu! Para murid kaget sekali. Mereka sudah mengunci semua pintu karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi. Tapi, Yesus sekarang ada bersama mereka. Dengan tenang, Yesus berkata, ”Semoga kalian damai sejahtera!” Tapi para murid ketakutan. Seperti sebelumnya, mereka ”mengira yang mereka lihat itu makhluk roh”.—Lukas 24:36, 37; Matius 14:25-27.
Supaya para murid tahu bahwa dia bukan makhluk roh atau khayalan mereka, Yesus menunjukkan tangan dan kakinya. Dia berkata, ”Kenapa kalian bingung? Kenapa hati kalian ragu? Ini aku! Lihat tangan dan kakiku. Coba pegang aku dan perhatikan. Makhluk roh tidak punya daging dan tulang, tapi aku punya, seperti yang kalian lihat.” (Lukas 24:36-39) Mereka sangat senang dan takjub, namun mereka masih belum benar-benar percaya.
Untuk meyakinkan mereka, Yesus bertanya, ”Apa kalian punya makanan?” Mereka memberinya sepotong ikan panggang, dan Yesus pun makan. Kemudian dia berkata, ”Sewaktu aku masih bersama kalian [sebelum meninggal], aku pernah berkata bahwa semua yang ditulis tentang aku dalam Hukum Musa, Tulisan Para Nabi, dan Mazmur harus terjadi.”—Lukas 24:41-44.
Sebelumnya, Yesus menjelaskan isi Kitab Suci kepada Kleopas dan temannya. Sekarang, dia menjelaskannya kepada semua yang berkumpul di ruangan itu. Dia berkata, ”Ada tertulis bahwa Kristus akan menderita, mati, dan bangkit pada hari ketiga. Atas dasar namanya, berita tentang pertobatan untuk pengampunan dosa akan disampaikan di semua bangsa, mulai dari Yerusalem. Kalian harus bersaksi tentang semua itu.”—Lukas 24:46-48.
Waktu itu, Rasul Tomas tidak ada di ruangan tersebut. Jadi dengan bersemangat, murid-murid belakangan memberi tahu dia, ”Kami sudah lihat Tuan!” Namun Tomas menjawab, ”Kalau aku belum lihat bekas paku di tangannya, lalu menyentuh bekas paku itu dengan jariku, dan memegang bagian rusuknya, aku tidak bakal percaya.”—Yohanes 20:25.
Delapan hari kemudian, murid-murid berkumpul lagi di ruangan yang terkunci. Kali ini, Tomas ada bersama mereka. Tiba-tiba, Yesus datang lagi dan memberi salam, ”Semoga kalian damai.” Lalu Yesus berkata kepada Tomas, ”Sentuhlah ini dengan jarimu, lihat tanganku, dan pegang bagian rusukku. Jangan ragu lagi, tapi percayalah.” Tomas pun mengatakan, ”Tuanku dan Allahku!” (Yohanes 20:26-28) Sekarang, Tomas benar-benar yakin bahwa Yesus, yang adalah utusan Allah Yehuwa, sudah dibangkitkan.
”Apa kamu percaya karena sudah melihatku?” kata Yesus. ”Bahagialah orang yang percaya meskipun tidak melihat.”—Yohanes 20:29.
-
-
Di Pesisir Laut GalileaYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 136
Di Pesisir Laut Galilea
YESUS MENEMUI PARA RASULNYA DI PESISIR LAUT GALILEA
PETRUS DAN ORANG-ORANG YANG MEMIMPIN HARUS MEMBERI MAKAN DOMBA
Pada malam terakhirnya bersama para rasul, Yesus berkata, ”Setelah aku dibangkitkan, aku akan pergi ke Galilea mendahului kalian.” (Matius 26:32; 28:7, 10) Karena itu, banyak murid sekarang pergi ke Galilea. Tapi, mereka tidak tahu apa yang harus mereka lakukan.
Petrus berkata kepada enam rasul lain, ”Aku akan pergi menangkap ikan.” Mereka berkata, ”Kami ikut.” (Yohanes 21:3) Tapi sepanjang malam, mereka tidak mendapat apa-apa. Ketika hampir pagi, Yesus ada di pantai, namun para rasul tidak mengenalinya. Yesus berkata, ”Anak-anak, kalian tidak punya apa-apa untuk dimakan?” Mereka menjawab, ”Tidak.” Dia memberi tahu mereka, ”Lemparlah jala di sebelah kanan perahu, dan kalian akan mendapat ikan.” (Yohanes 21:5, 6) Setelah melakukannya, mereka mendapat banyak sekali ikan sampai-sampai mereka tidak sanggup menarik jala mereka.
Yohanes berkata kepada Petrus, ”Itu Tuan!” (Yohanes 21:7) Petrus cepat-cepat memakai baju luarnya, yang tidak dia pakai saat menangkap ikan, lalu terjun ke laut dan berenang sekitar 90 meter ke pantai. Para rasul lain menyusul dengan perahu sambil menyeret jala yang penuh ikan.
Sesampainya di pantai, mereka melihat ”bara api dengan beberapa ikan di atasnya dan juga roti”. Yesus berkata, ”Bawalah beberapa ikan yang baru kalian tangkap itu.” Petrus menarik jala itu, yang ternyata berisi 153 ikan besar! ”Ayo, silakan sarapan,” kata Yesus. Tidak seorang pun berani bertanya, ”Kamu siapa?” karena mereka tahu itu adalah Yesus. (Yohanes 21:9-12) Ini adalah kali ketiga Yesus yang sudah bangkit menemui banyak murid sekaligus.
Yesus memberi mereka roti serta ikan, dan mereka pun makan. Sekarang, Yesus ingin tahu apakah Petrus menganggap bisnis perikanan lebih penting daripada tugas yang dia berikan. Jadi, sambil melihat hasil tangkapan tadi, Yesus bertanya, ”Simon anak Yohanes, apa kamu lebih mengasihi aku daripada hal ini?” Petrus menjawab, ”Ya, Tuan, Tuan tahu aku sayang kepada Tuan.” Yesus pun berkata, ”Beri makan anak-anak dombaku.”—Yohanes 21:15.
Yesus bertanya lagi, ”Simon anak Yohanes, apa kamu mengasihi aku?” Petrus mungkin bingung, tapi dia menjawab, ”Ya, Tuan, Tuan tahu aku sayang kepada Tuan.” Yesus mengatakan, ”Gembalakan domba-domba kecilku.”— Yohanes 21:16.
Untuk ketiga kalinya, Yesus bertanya, ”Simon anak Yohanes, apa kamu sayang kepadaku?” (Yohanes 21:17) Sekarang Petrus mungkin berpikir bahwa Yesus meragukan kesetiaannya. Petrus menjawab, ”Tuan, Tuan tahu segalanya. Tuan tahu aku sayang kepada Tuan.” Yesus sekali lagi berkata, ”Beri makan domba-domba kecilku.” (Yohanes 21:17) Ya, orang-orang yang memimpin dalam sidang jemaat harus melayani dan mengurus umat Allah.
Yesus diikat dan dihukum mati karena dia menjalankan tugas yang Allah berikan. Yesus memberi tahu Petrus bahwa dia akan mengalami hal yang sama. ”Sewaktu kamu masih muda,” kata Yesus, ”kamu biasa memakai bajumu sendiri dan pergi ke mana pun kamu mau. Tapi kalau sudah tua, kamu akan merentangkan tanganmu dan orang lain akan memakaikan bajumu dan membawamu ke tempat yang tidak kamu inginkan.” Meski begitu, Yesus berpesan, ”Teruslah ikuti aku.”—Yohanes 21:18, 19.
Petrus melihat Yohanes dan bertanya kepada Yesus, ”Kalau dia bagaimana, Tuan?” Apa yang akan dialami rasul yang sangat Yesus sayangi itu? Yesus menjawab, ”Kalau aku mau agar dia tetap ada sampai aku datang, untuk apa kamu pikirkan itu?” (Yohanes 21:21-23) Petrus harus tetap setia tidak soal apa yang dilakukan orang lain. Namun, kata-kata Yesus itu menunjukkan bahwa Yohanes akan hidup lebih lama daripada para rasul lainnya dan akan mendapat penglihatan tentang kedatangan Yesus sebagai Raja.
Sebenarnya, ada banyak hal lain yang Yesus lakukan. Tapi jika semuanya ditulis, gulungan sebanyak apa pun tidak akan bisa memuatnya.
-
-
Ratusan Orang Melihat Yesus Sebelum PentakostaYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 137
Ratusan Orang Melihat Yesus Sebelum Pentakosta
MATIUS 28:16-20 LUKAS 24:50-52 KISAH 1:1-12; 2:1-4
RATUSAN ORANG MELIHAT YESUS YANG SUDAH DIBANGKITKAN
YESUS NAIK KE SURGA
YESUS MENCURAHKAN KUASA KUDUS KE ATAS 120 MURID
Setelah dibangkitkan, Yesus mengatur agar 11 rasulnya menemui dia di sebuah gunung di Galilea. Sekitar 500 murid lain juga ada di sana. Beberapa dari mereka tadinya masih ragu. (Matius 28:17; 1 Korintus 15:6) Namun, apa yang Yesus katakan sekarang membuat mereka semua yakin bahwa dia sudah hidup lagi.
Yesus menjelaskan bahwa Allah telah memberi dia seluruh kekuasaan di surga dan di bumi. Yesus lalu berkata, ”Karena itu, pergilah dan buatlah orang-orang dari segala bangsa menjadi muridku. Baptislah mereka dengan nama Bapak dan Putra dan kuasa kudus. Ajarlah mereka untuk menjalankan semua yang kuperintahkan kepada kalian.” (Matius 28:18-20) Jadi setelah dibangkitkan, Yesus masih ingin agar kabar baik diberitakan.
Semua pengikut Yesus, baik pria, wanita, maupun anak-anak, mendapat tugas yang sama. Mereka harus membuat orang-orang menjadi murid Yesus. Para penentang mungkin berusaha menghentikan pengabaran, tapi Yesus meyakinkan mereka, ”Seluruh kekuasaan di surga dan di bumi telah diberikan kepadaku. Ingatlah, aku akan selalu menyertai kalian sampai penutup zaman ini.” Yesus tidak memaksudkan bahwa semua orang yang memberitakan kabar baik akan bisa membuat mukjizat. Tapi, mereka akan dibantu oleh kuasa kudus.
”Selama 40 hari” setelah kebangkitannya, Yesus sering menemui murid-muridnya. Walaupun mereka awalnya tidak mengenali dia, ”dia memberi mereka banyak bukti yang meyakinkan untuk menunjukkan bahwa dia hidup”. Dia juga mengajar mereka ”tentang Kerajaan Allah”.—Kisah 1:3; 1 Korintus 15:7.
Kelihatannya, ketika para rasul masih ada di Galilea, Yesus meminta mereka kembali ke Yerusalem. Di sana, dia menemui mereka dan berkata, ”Jangan keluar dari Yerusalem. Tunggulah apa yang Bapak janjikan itu, yang telah kalian dengar dariku. Yohanes membaptis orang dengan air, tapi sebentar lagi kalian akan dibaptis dengan kuasa kudus.”—Kisah 1:4, 5.
Belakangan, Yesus menemui para rasulnya lagi. Dia ”mengajak mereka ke luar sampai ke Betani”, yang terletak di lereng timur Gunung Zaitun. (Lukas 24:50) Meskipun Yesus sudah menjelaskan banyak hal tentang kepergiannya, mereka masih berpikir bahwa Kerajaannya akan berdiri di bumi.—Lukas 22:16, 18, 30; Yohanes 14:2, 3.
Para rasul bertanya kepada Yesus, ”Tuan, apakah Tuan akan mengembalikan kerajaan bagi Israel pada saat ini?” Dia menjawab, ”Hanya Bapak yang berhak menentukan saat dan waktunya. Kalian tidak perlu tahu tentang itu.” Lalu, dia sekali lagi menandaskan tugas mereka: ”Kalian akan mendapat kuasa sewaktu kuasa kudus datang ke atas kalian, dan kalian akan menjadi saksiku di Yerusalem, di seluruh Yudea dan Samaria, dan sampai ke bagian yang paling jauh di bumi.”—Kisah 1:6-8.
Ketika para rasul berada di Gunung Zaitun bersama Yesus, dia mulai terangkat ke surga. Awan-awan menutupi dia sehingga dia tidak terlihat lagi. Saat itu, Yesus tidak lagi memiliki tubuh manusia. Dia naik ke surga sebagai makhluk roh. (1 Korintus 15:44, 50; 1 Petrus 3:18) Para rasul yang setia itu terus memandang ke langit, dan ”tiba-tiba dua orang berpakaian putih berdiri di samping mereka”. Dua orang itu sebenarnya malaikat. Mereka berkata, ”Orang-orang Galilea, kenapa kalian berdiri sambil melihat ke langit? Yesus yang diangkat ke langit akan kembali dengan cara yang sama seperti yang kalian lihat sewaktu dia naik ke langit.”—Kisah 1:10, 11.
Saat Yesus terangkat ke surga, hanya para pengikutnya yang setia yang menyaksikan itu. Nanti, dia akan kembali ”dengan cara yang sama”. Kehadirannya sebagai Raja hanya akan diketahui oleh para pengikutnya yang setia.
Setelah itu, para rasul kembali ke Yerusalem. Selama beberapa hari berikutnya, mereka berkumpul dengan murid-murid lain, termasuk Maria ibu Yesus dan adik-adik lelaki Yesus. Mereka semua ”berdoa dengan tekun”. (Kisah 1:14) Mereka juga berdoa untuk memilih murid mana yang akan menggantikan Yudas Iskariot sebagai rasul supaya jumlah rasul kembali menjadi 12. (Matius 19:28) Mereka ingin memilih murid yang telah menyaksikan kegiatan Yesus dan kebangkitannya. Mereka pun melempar undi untuk mencari tahu siapa yang Allah pilih. Itulah terakhir kalinya penggunaan undi disebutkan di Alkitab. (Mazmur 109:8; Amsal 16:33) Ternyata, Matias yang terpilih. Dia kemungkinan adalah salah satu dari 70 murid yang pernah diutus Yesus. Sekarang, dia pun ”terhitung bersama ke-11 rasul lainnya”.—Kisah 1:26.
Sepuluh hari setelah Yesus naik ke surga, orang-orang Yahudi mulai merayakan Pentakosta tahun 33 M. Sekitar 120 murid Yesus berkumpul di sebuah ruangan atas di Yerusalem. Tiba-tiba, bunyi ribut seperti angin kencang memenuhi seluruh rumah itu. Lalu, ada api-api kecil yang muncul dan tersebar ke atas kepala setiap murid, dan mereka mulai berbicara dalam bahasa-bahasa lain. Kuasa kudus yang Yesus janjikan itu dicurahkan ke atas mereka!—Yohanes 14:26.
-
-
Kristus Duduk di Sebelah Kanan AllahYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 138
Kristus Duduk di Sebelah Kanan Allah
YESUS DUDUK DI SEBELAH KANAN ALLAH
SAUL MENJADI MURID YESUS
ALASAN KITA BERSUKACITA
Sepuluh hari setelah Yesus naik ke surga, kuasa kudus dicurahkan pada hari Pentakosta. Itu menjadi bukti bahwa dia memang sudah ada di surga. Ada lagi bukti lain tentang hal itu. Persis sebelum Stefanus, murid Yesus yang setia, dilempari batu karena memberikan kesaksian, Stefanus berkata, ”Saya melihat langit terbuka, dan Putra manusia berdiri di sebelah kanan Allah.”—Kisah 7:56.
Di surga, Yesus menunggu sebuah perintah dari Bapaknya, seperti yang sudah dinubuatkan dalam Firman Allah. Daud menulis, ”Yehuwa berkata kepada Tuanku [Yesus], ’Duduklah di sebelah kanan-Ku sampai Aku menjadikan musuh-musuhmu tumpuan kakimu.’” Pada waktunya, Yesus akan ’berkuasa di antara musuh-musuhnya’. (Mazmur 110:1, 2) Tapi sebelum dia menaklukkan musuh-musuhnya, apa yang Yesus lakukan di surga?
Pada Pentakosta tahun 33 M, sidang Kristen mulai terbentuk. Dari surga, Yesus mulai memerintah atas murid-muridnya yang diurapi kuasa kudus. (Kolose 1:13) Dia membimbing mereka dalam pengabaran serta mempersiapkan mereka untuk tugas mereka selanjutnya. Tugas apa itu? Jika mereka setia sampai mati, mereka akan dibangkitkan dan memerintah sebagai raja bersama Yesus dalam Kerajaan Allah.
Salah satu murid yang akan menjadi raja bersama Yesus adalah Saul, yang lebih dikenal dengan nama Romawinya, Paulus. Dia adalah orang Yahudi yang bersemangat dalam menjalankan Hukum Allah. Tapi, dia disesatkan oleh para pemimpin agama Yahudi sehingga dia setuju agar Stefanus dilempari batu sampai mati. Saul ”terus mengancam murid-murid Tuan dan bertekad untuk membunuh mereka”. Suatu hari, dia mendapat izin dari Imam Besar Kayafas untuk menangkap murid-murid Yesus di Damaskus dan membawa mereka ke Yerusalem. (Kisah 7:58; 9:1) Namun di perjalanan ke Damaskus, tiba-tiba cahaya dari langit memancar ke sekelilingnya, dan dia pun terjatuh.
Terdengarlah suatu suara yang berkata, ”Saul, Saul, kenapa kamu menganiaya aku?” Saul bertanya, ”Tuan siapa?” Suara itu menjawab, ”Aku Yesus, yang kamu aniaya.”—Kisah 9:4, 5.
Yesus menyuruh Saul masuk ke Damaskus dan menunggu petunjuk selanjutnya. Tapi, Saul harus dituntun untuk masuk ke kota itu, karena cahaya tadi membuat dia buta. Sementara itu, Yesus memberikan penglihatan lain kepada Ananias, salah satu muridnya yang tinggal di Damaskus. Yesus menyuruh Ananias pergi ke sebuah rumah untuk menemui Saul. Awalnya Ananias merasa ragu, tapi Yesus berkata, ”Pergi saja, karena aku sudah memilih dia untuk membawa namaku kepada bangsa-bangsa lain, serta kepada raja-raja dan orang Israel.” Akhirnya Saul bisa melihat lagi, dan di Damaskus ”dia langsung memberitakan bahwa Yesus adalah Putra Allah”.—Kisah 9:15, 20.
Dengan dukungan Yesus, Paulus dan para penginjil lainnya terus melakukan pekerjaan yang telah Yesus mulai, yaitu pengabaran. Allah memberkati mereka dan membuat mereka berhasil. Sekitar 25 tahun setelah Paulus mendapat penglihatan dalam perjalanan ke Damaskus, dia menulis bahwa kabar baik ”sudah diberitakan di antara semua ciptaan di bawah langit”.—Kolose 1:23.
Bertahun-tahun setelahnya, Yesus memberikan beberapa penglihatan kepada rasul yang dikasihinya, Yohanes. Penglihatan-penglihatan itu dicatat di buku Wahyu dalam Alkitab. Dalam penglihatan ini, Yohanes melihat Yesus datang kembali sebagai Raja. Dengan begitu, bisa dikatakan bahwa Yohanes ”tetap ada sampai [Yesus] datang”. (Yohanes 21:22) Dia berkata, ”Karena ilham dari Allah, saya berada pada hari Tuan.” (Wahyu 1:10) Kapan ”hari Tuan” dimulai?
Nubuat Alkitab menunjukkan bahwa ”hari Tuan” dimulai pada tahun 1914. Pada tahun itu, Perang Dunia I pecah. Sejak itu, ada begitu banyak perang, penyakit, kelaparan, gempa bumi, dan hal buruk lainnya di seluruh dunia. Semua itu sesuai dengan ”tanda” yang Yesus berikan kepada para rasulnya tentang ’kehadirannya’ dan ”penutup zaman ini”. (Matius 24:3, 7, 8, 14) Selain itu, kabar baik tentang Kerajaan Allah sedang diberitakan, bukan di daerah kekuasaan Romawi saja, tapi di seluruh dunia.
Apa yang bisa kita simpulkan? Dengan bimbingan Allah, Yohanes menulis, ”Allah telah menyelamatkan manusia! Kuasa-Nya sudah dinyatakan, Kerajaan-Nya sudah berdiri, dan Kristus-Nya kini berkuasa!” (Wahyu 12:10) Ya, Kerajaan Allah, yang dulu Yesus beritakan ke mana-mana, telah memerintah di surga!
Murid-murid Yesus yang setia tentu bersukacita mendengarnya. Mereka juga pasti senang karena Yohanes berkata, ”Karena itu, bergembiralah surga dan kalian yang tinggal di dalamnya! Tapi celakalah bumi dan laut, karena Iblis sudah datang kepadamu. Dia sangat marah karena dia tahu waktunya tinggal sedikit.”—Wahyu 12:12.
Jadi, Yesus tidak lagi duduk di sebelah kanan Bapaknya sambil menunggu. Dia sekarang memerintah sebagai Raja dan akan segera membinasakan semua musuhnya! (Ibrani 10:12, 13) Apa saja berkat yang menanti kita?
-
-
Yesus Mengubah Bumi Menjadi FirdausYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 139
Yesus Mengubah Bumi Menjadi Firdaus
MASA DEPAN ORANG-ORANG YANG BAGAIKAN DOMBA DAN KAMBING
BANYAK ORANG AKAN HIDUP DI BUMI FIRDAUS
YESUS TERBUKTI SEBAGAI JALAN, KEBENARAN, DAN KEHIDUPAN
Dulu, tidak lama setelah Yesus dibaptis, Iblis berulang kali menggoda dia. Musuh itu berupaya keras untuk menjatuhkan dia, bahkan sebelum dia memulai pelayanannya. Belakangan, Yesus berkata tentang si jahat itu, ”Penguasa dunia ini akan datang, walaupun dia tidak punya kuasa atas diriku.”—Yohanes 14:30.
Rasul Yohanes mendapat penglihatan tentang apa yang akan dialami oleh ”naga besar itu . . . , ular yang pertama, yang disebut Iblis dan Setan”. Dalam penglihatan tersebut, musuh umat manusia yang kejam itu diusir dari surga, dan dia ”sangat marah karena dia tahu waktunya tinggal sedikit”. (Wahyu 12:9, 12) Orang Kristen dapat yakin bahwa sekarang ini, waktunya memang tinggal sedikit. Sebentar lagi, ”naga tersebut, yaitu ular yang pertama”, akan dilemparkan ke lubang yang sangat dalam. Dia tidak akan bisa berbuat apa-apa selama seribu tahun, yaitu selama Yesus memerintah dalam Kerajaan Allah.—Wahyu 20:1, 2.
Selama seribu tahun itu, apa yang akan terjadi di bumi tempat tinggal kita? Siapa yang akan ada di sana, dan bagaimana keadaannya? Yesus sendiri memberikan jawabannya. Dalam perumpamaannya tentang domba dan kambing, dia menunjukkan seperti apa masa depan orang-orang beriman yang bagaikan domba, yang mendukung dan berbuat baik kepada saudara-saudara Yesus. Dia juga menjelaskan apa yang akan dialami orang-orang yang bagaikan kambing. Yesus berkata, ”Orang-orang ini [yang bagaikan kambing] akan menuju kemusnahan abadi, sedangkan orang-orang yang benar [yang bagaikan domba] akan menuju kehidupan abadi.”—Matius 25:46.
Di bumi, Yesus pernah berjanji kepada seorang penjahat yang dihukum mati di sebelahnya, ”Dengan sungguh-sungguh saya berkata kepadamu hari ini, kamu akan bersama saya di Firdaus.” (Lukas 23:43) Janji Yesus kepada penjahat itu berbeda dengan janjinya kepada para rasul yang setia. Yesus tidak berkata bahwa penjahat itu akan menjadi raja bersama dia dalam Kerajaan surga. Sebaliknya, penjahat yang bertobat itu diberi harapan untuk hidup di Firdaus, sebuah taman yang indah di bumi. Maka, bisa disimpulkan bahwa semua orang yang bagaikan domba akan hidup abadi di Firdaus itu juga.
Mengenai keadaan di bumi nanti, Rasul Yohanes berkata, ”Kemah Allah ada di antara manusia. Dia akan tinggal bersama mereka, dan mereka akan menjadi umat-Nya. Allah akan bersama mereka. Dia akan menghapus semua air mata mereka. Kematian tidak akan ada lagi. Perkabungan, tangisan, ataupun rasa sakit juga tidak akan ada lagi. Hal-hal yang dulu terjadi sudah tidak ada lagi.”—Wahyu 21:3, 4.
Untuk menikmati kehidupan di Firdaus, penjahat itu tentu akan dibangkitkan. Namun, bukan hanya dia yang akan dibangkitkan. Yesus berkata, ”Suatu saat nanti semua orang yang di dalam kuburan akan mendengar suaranya dan keluar. Orang-orang yang berbuat baik akan dibangkitkan untuk hidup abadi, sedangkan yang berbuat buruk akan dibangkitkan untuk dihakimi.”—Yohanes 5:28, 29.
Bagaimana dengan para rasul yang setia dan sejumlah orang lainnya yang akan hidup di surga bersama Yesus? Alkitab mengatakan, ”Mereka . . . akan menjadi imam-imam bagi Allah dan bagi Kristus, serta memerintah sebagai raja bersama Kristus selama 1.000 tahun.” (Wahyu 20:6) Raja-raja yang akan memerintah di surga bersama Kristus itu sebelumnya adalah pria dan wanita yang hidup di bumi. Jadi, mereka pasti akan menjadi raja-raja yang berbelaskasihan dan penuh pengertian terhadap manusia.—Wahyu 5:10.
Pada waktu itu, manfaat dari korban tebusan Yesus akan dirasakan sepenuhnya oleh manusia yang hidup di bumi. Mereka akan dibebaskan dari pengaruh dosa warisan Adam, termasuk kematian! Yesus dan rekan-rekannya akan membantu orang-orang yang beriman menjadi sempurna. Hasilnya, semua orang akan hidup bahagia. Kehidupan seperti inilah yang Allah inginkan bagi Adam dan Hawa dulu, sewaktu Dia memerintahkan mereka untuk beranak cucu dan memenuhi bumi.
Pada akhir Pemerintahan Seribu Tahun nanti, semua tugas yang Yehuwa berikan kepada Yesus sudah selesai. Setelah itu, Yesus akan dengan rendah hati menyerahkan Kerajaan surga dan umat manusia yang sudah menjadi sempurna kepada Bapaknya. Rasul Paulus pernah berkata tentang kerendahan hati Yesus yang luar biasa itu, ”Setelah semuanya dibuat tunduk kepadanya, Putra sendiri akan tunduk kepada Allah, yang membuat semuanya tunduk kepadanya, sehingga Allah akan menjadi satu-satunya Penguasa atas semuanya.”—1 Korintus 15:28.
Jelaslah, peran Yesus sangat penting dalam melaksanakan semua kehendak Allah yang mulia. Di masa depan, bahkan sampai selama-lamanya, kehendak Allah akan terus disingkapkan, dan Yesus akan selalu menjadi ”jalan, kebenaran, dan kehidupan”.—Yohanes 14:6.
-