PERPUSTAKAAN ONLINE Menara Pengawal
PERPUSTAKAAN ONLINE
Menara Pengawal
Indonesia
  • ALKITAB
  • PUBLIKASI
  • PERHIMPUNAN
  • Tokoh Terbesar sepanjang Masa
    Menara Pengawal—1992 | 15 Februari
    • Tokoh Terbesar sepanjang Masa

      ”Engkau adalah Anak Allah yang hidup.”—MATIUS 16:16.

      1, 2. (a) Bagaimana kebesaran seorang tokoh ditentukan? (b) Orang-orang macam apa dalam sejarah telah disebut Agung, dan mengapa?

      MENURUT saudara siapakah tokoh terbesar sepanjang masa? Bagaimana saudara mengukur kebesaran seorang tokoh? Berdasarkan kecakapan militernya? keunggulan pikirannya? kekuatan fisiknya?

      2 Berbagai penguasa disebut Agung, seperti Kores Agung, Iskandar Agung, dan Charlemagne, yang diberi gelar ”Agung” bahkan pada masa hidupnya. Karena penampilan mereka yang hebat, pengaruh orang-orang seperti ini sangat besar atas orang-orang yang mereka perintah.

      3. (a) Apa standar yang menentukan kebesaran seorang tokoh? (b) Dengan menggunakan standar semacam itu, siapakah tokoh terbesar sepanjang masa?

      3 Menarik, bahwa sejarawan H. G. Wells mengutarakan standarnya dalam mengukur kebesaran seorang tokoh. Lebih dari 50 tahun yang lalu, ia menulis, ”Kebesaran seorang tokoh dapat diukur berdasarkan ’Apa yang ia tinggalkan untuk bertumbuh, dan apakah ia menggerakkan orang-orang lain berpikir segar dengan kekuatan yang terus bertahan sepeninggal dia?’ Berdasarkan standar ini,” Wells menyimpulkan, ”Yesus berada di tempat pertama.” Bahkan Napoléon Bonaparte, yang juga seorang penguasa yang perkasa, menyatakan, ”Kristus Yesus telah mempengaruhi dan memerintah rakyat-Nya tanpa kehadiran-Nya secara jasmani.”

      4. (a) Pandangan yang berbeda apa terdapat sehubungan dengan Yesus? (b) Kedudukan apa dalam sejarah diberikan oleh sejarawan non-Kristen kepada Yesus?

      4 Namun, beberapa orang mengatakan bahwa Yesus bukanlah seorang tokoh sejarah, tetapi hanya tokoh dongeng. Pada ekstrem satunya, banyak orang menyembah Yesus sebagai Allah, dengan mengatakan bahwa Allah telah datang ke bumi sebagai Yesus. Namun, ketika mendasarkan kesimpulannya semata-mata atas bukti sejarah mengenai eksistensi Yesus sebagai seorang manusia, Wells menulis, ”Adalah menarik dan penting bahwa seorang sejarawan, tanpa prasangka teologi apa pun, harus mendapati bahwa ia tidak dapat dengan jujur menggambarkan kemajuan umat manusia tanpa memberikan tempat yang paling terkemuka kepada seorang guru dari Nazaret yang tak memiliki uang sepeser pun. . . . Seorang sejarawan seperti saya sendiri, yang bahkan tidak mengaku diri Kristen, mendapatkan bahwa gambaran itu, tanpa dapat dibantah, berpusat sekitar kehidupan dan kepribadian dari pria yang paling terkemuka ini.”

      Apakah Yesus Benar-Benar Hidup?

      5, 6. Apa yang harus dikatakan oleh sejarawan H. G. Wells dan Will Durant mengenai kebenaran sejarah Yesus?

      5 Akan tetapi bagaimana jika seseorang memberi tahu saudara bahwa Yesus tidak pernah benar-benar ada, bahwa ia sebetulnya suatu dongeng, hasil karangan beberapa orang pada abad pertama? Bagaimana saudara akan menjawab tuduhan ini? Meskipun Wells mengakui bahwa ”pengetahuan kita mengenai [Yesus] tidak sebanyak yang kita inginkan,” ia menyatakan, ”Keempat Injil . . . sependapat dalam memberikan kepada kita suatu gambaran mengenai suatu pribadi yang sangat jelas; semuanya mengemukakan keyakinan yang didasari kenyataan. Menganggap bahwa ia tidak pernah hidup, bahwa kisah mengenai kehidupannya hanya karangan belaka, adalah lebih sulit dan menimbulkan jauh lebih banyak problem bagi sejarawan daripada menerima unsur-unsur penting dari kisah-kisah Injil sebagai fakta.”

      6 Will Durant sejarawan yang dihormati mengemukakan pendapat yang serupa, dengan menjelaskan, ”Anggapan bahwa beberapa orang yang sederhana [yang menyebut diri kristiani] dalam suatu generasi telah menciptakan tokoh yang begitu berpengaruh dan menarik, etika yang begitu mulia dan pandangan jauh ke depan mengenai persaudaraan umat manusia yang begitu menggugah, akan merupakan mukjizat yang jauh lebih sulit dipercaya daripada mukjizat mana pun yang dicatat dalam Injil.”

      7, 8. Seberapa besar pengaruh Yesus atas sejarah umat manusia?

      7 Maka, saudara dapat mengatakan kepada orang yang ragu-ragu demikian, Dapatkah seorang tokoh dongeng—orang yang tidak pernah hidup—mempengaruhi sejarah umat manusia dengan begitu hebat? Karya referensi The Historians’ History of the World menyatakan, ”Bahkan dari pandangan yang semata-mata bersifat duniawi, dampak historis kegiatan-kegiatan [Yesus] lebih penting dibandingkan dengan perbuatan-perbuatan dari pribadi mana pun yang pernah hidup dalam sejarah. Suatu era baru, yang diakui oleh peradaban utama dunia, mulai dihitung sejak tanggal kelahirannya.” Pikirkanlah ini. Bahkan kalender dewasa ini didasarkan pada tahun yang dianggap sebagai tahun kelahiran Yesus. ”Tanggal-tanggal sebelum tahun tersebut ditulis sebagai S.M., atau sebelum Kristus,” demikian penjelasan The World Book Encyclopedia. ”Tanggal-tanggal setelah tahun tersebut ditulis sebagai A.D. atau Anno Domini (dalam tahun Tuhan kita), atau Masehi.”

      8 Melalui ajarannya yang dinamis serta cara hidupnya yang selaras dengan itu, Yesus telah memberikan pengaruh yang sangat kuat atas kehidupan manusia selama hampir dua ribu tahun. Seperti dengan tepat dinyatakan seorang penulis, ”Semua tentara yang pernah dikerahkan, semua angkatan laut yang pernah dibangun, semua dewan perwakilan rakyat yang pernah bersidang, dan semua raja yang pernah memerintah, meskipun digabung menjadi satu, tidak memberikan pengaruh yang demikian kuatnya atas kehidupan manusia di atas bumi ini.” Akan tetapi para pengritik mengatakan, ’Segala sesuatu yang benar-benar kita ketahui tentang Yesus hanya ditemukan dalam Alkitab. Tidak ada catatan lain dari zaman itu mengenai dia.’ Namun, apakah hal ini benar?

      9, 10. (a) Apa yang dikatakan oleh para sejarawan dan penulis duniawi masa awal mengenai Yesus? (b) Didasarkan atas kesaksian dari para sejarawan masa awal, apa yang disimpulkan oleh sebuah ensiklopedi yang dipercaya?

      9 Meskipun referensi mengenai Kristus Yesus yang dibuat oleh para sejarawan duniawi masa awal sangat sedikit, referensi demikian sebenarnya ada. Cornelius Tacitus, seorang sejarawan Roma abad pertama yang dihormati, menulis bahwa Nero, kaisar Roma, ’mengaitkan tindakan membakar kota Roma dengan umat kristiani,’ dan kemudian Tacitus menjelaskan, ”Nama [Kristen] berasal dari kata Kristus, yang dieksekusi oleh prokurator Pontius Pilatus sewaktu pemerintahan Tiberius.” Suetonius dan Pliny Muda, penulis-penulis Roma lainnya pada waktu itu, juga menyebut tentang Kristus. Di samping itu, Flavius Josephus, seorang sejarawan Yahudi abad pertama, menulis dalam Antiquities of the Jews mengenai kematian murid Kristen bernama Yakobus. Kata Josephus dalam penjelasannya, Yakobus adalah ”adik laki-laki Yesus, yang disebut Kristus.”

      10 Maka The New Encyclopaedia Britannica menyimpulkan: ”Catatan-catatan yang independen ini membuktikan bahwa di zaman kuno bahkan para penentang Kekristenan tidak pernah meragukan fakta sejarah tentang Yesus, yang pertama kali diperdebatkan dengan alasan-alasan yang tidak memadai pada akhir abad ke-18, selama abad ke-19, dan pada permulaan abad ke-20.”

      Siapakah Sebenarnya Yesus?

      11. (a) Pada dasarnya, apakah satu-satunya sumber keterangan sejarah mengenai Yesus? (b) Pertanyaan apakah yang dimiliki pengikut-pengikut Yesus mengenai identitasnya?

      11 Akan tetapi, pada dasarnya, segala sesuatu yang sekarang diketahui tentang Yesus dicatat oleh pengikut-pengikutnya yang hidup di abad pertama. Laporan mereka terpelihara dalam Injil—buku-buku Alkitab yang ditulis oleh dua dari para rasulnya, Matius dan Yohanes, dan oleh dua muridnya, Markus dan Lukas. Apa yang dikatakan oleh catatan pria-pria ini sehubungan dengan identitas Yesus? Siapakah dia sebenarnya? Rekan-rekan Yesus pada abad pertama mempertimbangkan pertanyaan tersebut. Ketika mereka menyaksikan Yesus secara mukjizat meredakan angin ribut di laut dengan sebuah hardikan, mereka bertanya-tanya keheranan, ”Siapa gerangan orang ini?” Kemudian, pada kesempatan lain, Yesus bertanya kepada rasul-rasulnya, ”Apa katamu, siapakah Aku ini?”—Markus 4:41; Matius 16:15.

      12. Bagaimana kita tahu bahwa Yesus bukanlah Allah?

      12 Jika pertanyaan itu diajukan kepada saudara, bagaimana saudara akan menjawab? Siapakah sebenarnya Yesus? Tentu, banyak orang dalam Susunan Kristen akan berkata bahwa ia adalah Allah Yang Mahakuasa dalam bentuk manusia, Allah yang menjelma. Akan tetapi, rekan-rekan pribadi dari Yesus tidak pernah menganggap dirinya Allah. Rasul Petrus menyebut dia ”Mesias [”Kristus”, Bode], Anak Allah yang hidup”. (Matius 16:16) Saudara dapat memeriksa di seluruh Alkitab, tidak pernah akan saudara temukan bahwa Yesus mengaku diri Allah. Sebaliknya, ia memberi tahu orang-orang Yahudi, bahwa ia adalah ”Anak Allah”, bukan Allah.—Yohanes 10:36.

      13. Bagaimana Yesus berbeda dari semua manusia lain?

      13 Ketika Yesus berjalan menyeberangi laut yang menggelora, murid-murid semakin terkesan oleh fakta bahwa ia bukanlah seorang manusia biasa. (Yohanes 6:18-21) Ia seorang yang sangat istimewa. Ini demikian halnya karena sebelumnya ia telah hidup sebagai pribadi roh bersama Allah di surga, ya, sebagai malaikat, yang disebutkan dalam Alkitab sebagai penghulu malaikat. (1 Tesalonika 4:16; Yudas 9) Allah telah menciptakan dia sebelum Ia menciptakan perkara-perkara lain. (Kolose 1:15) Maka, selama masa yang sangat lama, mungkin bermiliar tahun, bahkan sebelum jagat raya diciptakan, Yesus menikmati pergaulan yang akrab di surga bersama Bapanya, Allah Yehuwa, sang Pencipta Yang Agung.—Amsal 8:22, 27-31; Pengkhotbah 12:1.

      14. Bagaimana Yesus menjadi seorang tokoh?

      14 Kemudian, kira-kira dua ribu tahun yang lalu, Allah memindahkan kehidupan Putra-Nya ke dalam rahim seorang wanita. Ia dengan demikian menjadi putra manusia dari Allah, dilahirkan dengan cara yang normal oleh seorang wanita. (Galatia 4:4) Sementara Yesus tumbuh di dalam rahim Maria, ibunya, dan belakangan ketika ia tumbuh sebagai anak laki-laki, ia bergantung kepada mereka yang Allah pilih menjadi orang-tuanya di bumi. Akhirnya Yesus mencapai kedewasaan, dan tampaknya ia ketika itu dikaruniai ingatan mengenai pergaulannya dulu bersama Allah di surga. Ini terjadi ’pada waktu langit terbuka’ ketika ia dibaptis.—Matius 3:16; Yohanes 8:23; 17:5.

      15. Bagaimana kita tahu bahwa Yesus adalah sepenuhnya manusia pada waktu ia hidup di bumi?

      15 Sesungguhnya, Yesus adalah pribadi yang unik. Meskipun demikian, ia adalah pria yang sebanding dengan Adam, pria yang pada mulanya Allah ciptakan dan tempatkan di Taman Eden. Rasul Paulus menjelaskan, ”’Manusia pertama, Adam menjadi makhluk yang hidup’, tetapi Adam yang akhir menjadi roh yang menghidupkan.” Yesus disebut ”Adam yang akhir” karena, seperti Adam yang mula-mula, Yesus seorang manusia sempurna. Namun ketika Yesus mati, ia dibangkitkan dan ia kembali bergabung dengan Bapanya di surga sebagai makhluk rohani.—1 Korintus 15:45.

      Betapa Cara yang Terbaik untuk Mengenal Allah

      16. (a) Apa yang membuat pergaulan bersama Yesus suatu hak istimewa? (b) Mengapa dapat dikatakan bahwa melihat Yesus sama dengan melihat Allah?

      16 Pikirkan sejenak mengenai hak istimewa menakjubkan yang dinikmati beberapa orang sebagai teman-teman sepergaulan dari Yesus ketika ia berada di atas bumi! Coba bayangkan dapat mendengarkan, menyaksikan, dan bahkan berbicara serta bekerja bersama Pribadi yang mungkin selama ribuan juta tahun menjadi rekan yang akrab dari Allah Yehuwa di surga! Sebagai putra yang setia, Yesus meniru Bapa surgawinya dalam segala sesuatu yang ia lakukan. Sesungguhnya, Yesus begitu sempurna meniru Bapanya sehingga ia dapat memberi tahu para rasulnya tidak lama sebelum ia dihukum mati, ”Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa.” (Yohanes 14:9, 10) Ya, dalam setiap keadaan yang ia hadapi di atas bumi, Yesus melakukan persis sama seperti apa yang akan dilakukan Bapanya, Allah Yang Mahakuasa, seandainya Ia berada di sini. Jadi, bila kita mempelajari kehidupan dan pelayanan dari Kristus Yesus, kita sebenarnya sedang mempelajari pribadi macam apa Allah itu sendiri.

      17. Tujuan bagus apa dicapai seri ”Kehidupan dan Pelayanan Yesus” dalam Menara Pengawal?

      17 Maka seri ”Kehidupan dan Pelayanan Yesus” yang telah dimuat secara berurut dalam terbitan The Watchtower mulai bulan April 1985 sampai Juni 1991, tidak saja menyediakan gambaran yang bagus tentang manusia Yesus tetapi juga mengajarkan banyak hal tentang Bapa surgawinya, Allah Yehuwa. Setelah dua segmen pertamanya, seorang rohaniwan perintis menulis kepada Lembaga Menara Pengawal untuk menyatakan penghargaan, dengan berkata, ”Tidak ada cara yang lebih baik untuk dapat lebih akrab dengan sang Bapa daripada dengan mengenal sang Putra dengan lebih baik!” Betapa benarnya hal itu! Perhatian yang lembut dari sang Bapa dan kebesaran hati-Nya ditunjukkan dengan jelas dalam kehidupan dari sang Putra.

      18. Siapakah Pengarang berita Kerajaan, dan bagaimana Yesus mengakui hal ini?

      18 Kasih Yesus terhadap Bapanya, sebagaimana ditunjukkan oleh ketundukan dia sepenuhnya untuk melakukan kehendak Bapanya, benar-benar indah untuk diperhatikan. ”Aku tidak berbuat apa-apa dari diriKu sendiri,” Yesus memberi tahu orang-orang Yahudi yang berupaya membunuh dia, ”tetapi Aku berbicara tentang hal-hal, sebagaimana diajarkan Bapa kepadaKu.” (Yohanes 8:28) Maka, Yesus bukan pengarang dari berita Kerajaan yang ia kabarkan. Allah Yehuwa-lah pengarangnya. Dan Yesus berulang kali memberi pujian kepada Bapanya. ”Aku berkata-kata bukan dari diriKu sendiri,” katanya, ”tetapi Bapa, yang mengutus Aku, Dialah yang memerintahkan Aku untuk mengatakan apa yang harus Aku katakan dan Aku sampaikan. . . . Jadi apa yang Aku katakan, Aku menyampaikannya sebagaimana yang difirmankan oleh Bapa kepadaKu.”—Yohanes 12:49, 50.

      19. (a) Bagaimana kita tahu bahwa Yesus mengajar dalam cara Yehuwa mengajar? (b) Mengapa Yesus merupakan tokoh terbesar sepanjang masa?

      19 Namun, Yesus bukan hanya mengatakan atau mengajarkan apa yang diperintahkan Bapa kepadanya. Jauh lebih banyak yang ia lakukan. Ia mengatakannya atau mengajarkannya dalam cara yang sama seperti yang akan dikatakan atau diajarkan oleh Bapanya. Selain itu, dalam semua kegiatan dan hubungannya, ia membawakan diri dan bertindak tepat seperti yang Bapa akan lakukan dalam keadaan yang sama. ”Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diriNya sendiri,” Yesus menjelaskan, ”jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak.” (Yohanes 5:19) Dalam setiap segi, Yesus adalah pencerminan Bapanya, Allah Yehuwa. Jadi tidak mengherankan bahwa ia merupakan tokoh terbesar sepanjang masa! Maka, pastilah, penting sekali agar kita dengan cermat mempertimbangkan tokoh yang paling penting ini!

      Kasih Allah Terlihat dalam Diri Yesus

      20. Bagaimana rasul Yohanes mengetahui bahwa ”Allah adalah kasih”?

      20 Apa khususnya yang kita pelajari dengan mengadakan penelitian yang dalam dan cermat atas kehidupan dan pelayanan Yesus? Nah, rasul Yohanes mengakui bahwa ”tidak seorangpun yang pernah melihat Allah”. (Yohanes 1:18) Namun, Yohanes menulis dengan keyakinan sepenuhnya di 1 Yohanes 4:8, ”Allah adalah kasih.” Yohanes dapat mengatakan hal ini karena ia mengenal kasih Allah melalui apa yang ia lihat dalam diri Yesus.

      21. Hal apa mengenai diri Yesus membuatnya tokoh terbesar sepanjang masa?

      21 Seperti sang Bapa, Yesus berbelas kasihan, lembut, rendah hati, dan mudah didekati. Orang-orang yang lemah dan tertindas merasa tenang bersama dia, sebagaimana halnya segala macam orang—pria, wanita, anak-anak, yang kaya, yang miskin, yang memiliki kuasa, dan para pedosa juga. Memang, khususnya teladan kasih Yesus yang menonjol, dalam meniru Bapanya, yang membuat dia tokoh terbesar sepanjang masa. Bahkan Napoléon Bonaparte dilaporkan mengatakan, ”Aleksander, Caesar, Charlemagne, dan saya sendiri mendirikan kerajaan-kerajaan, tetapi atas apa kita mendasarkan karya-karya ciptaan genius kita? Atas senjata. Hanya Kristus Yesus sendirilah yang mendirikan kerajaannya atas dasar kasih, dan sampai zaman kita ini jutaan orang rela mati bagi dia.”

      22. Hal apa mengenai ajaran Yesus bersifat revolusioner?

      22 Pengajaran Yesus bersifat revolusioner. ”Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu,” desak Yesus, ”melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.” ”[Terus, NW] kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” ’Perbuatlah kepada orang lain sebagaimana kamu ingin mereka perbuat kepadamu.’ (Matius 5:39, 44; 7:12) Betapa berbedanya dunia ini jadinya jika setiap orang menerapkan pengajaran yang luhur ini!

      23. Apa yang Yesus lakukan untuk menyentuh hati dan menggerakkan orang melakukan yang baik?

      23 Perumpamaan atau ilustrasi Yesus, menyentuh hati, menggerakkan orang untuk melakukan yang baik dan menghindari yang buruk. Saudara mungkin ingat kisahnya yang terkenal mengenai orang Samaria yang dianggap hina yang menolong pria dari suku bangsa lain yang terluka sedangkan orang alim dari suku bangsa yang sama dengan pria tersebut tidak mau menolong. Atau perumpamaan mengenai bapa yang berbelas kasihan serta suka mengampuni dan anaknya yang hilang. Dan bagaimana dengan kisah mengenai raja yang mengampuni seorang hamba yang berutang kepadanya 60 juta dinar, namun hamba itu berbalik dan menyuruh rekan hambanya dijebloskan ke dalam penjara karena tidak mampu membayar utang sebesar 100 dinar saja? Dengan ilustrasi-ilustrasi yang sederhana, Yesus menampilkan perbuatan-perbuatan yang mementingkan diri dan ketamakan sebagai hal yang menjijikkan, dan perbuatan-perbuatan kasih dan belas kasihan menjadi begitu menarik!—Matius 18:23-35; Lukas 10:30-37; 15:11-32.

      24. Mengapa kita dapat berkata bahwa Yesus tanpa diragukan adalah tokoh terbesar sepanjang masa?

      24 Namun, apa yang khususnya menarik orang-orang kepada Yesus dan mempengaruhi mereka untuk kebaikan adalah bahwa kehidupannya sendiri dengan tepat selaras dengan apa yang ia ajarkan. Ia mempraktikkan apa yang ia kabarkan. Ia dengan sabar menahan kelemahan orang lain. Ketika murid-muridnya berselisih mengenai siapa yang paling besar di antara mereka, ia dengan ramah mengoreksi mereka dan tidak menegur mereka dengan kasar. Dengan rendah hati ia melayani kebutuhan mereka, bahkan mencuci kaki mereka. (Markus 9:30-37; 10:35-45; Lukas 22:24-27; Yohanes 13:5) Akhirnya, ia dengan rela mengalami kematian yang penuh penderitaan, tidak saja demi kepentingan mereka, tetapi demi kepentingan seluruh umat manusia! Tanpa suatu keraguan, Yesus adalah tokoh terbesar sepanjang masa.

  • Apakah Saudara Menyambut Kasih Yesus?
    Menara Pengawal—1992 | 15 Februari
    • Apakah Saudara Menyambut Kasih Yesus?

      ”Kasih Kristus yang menguasai kami.”—2 KORINTUS 5:14.

      1. Bagaimana kasih Yesus dapat digambarkan?

      SESUNGGUHNYA, betapa menakjubkan kasih Yesus! Apabila kita memikirkan bagaimana ia menderita secara luar biasa seraya menyediakan tebusan yang merupakan satu-satunya cara kita dapat memperoleh kehidupan kekal, hati kita pasti tergerak oleh penghargaan kepadanya! Allah Yehuwa dan Yesus sendiri yang mengambil inisiatif. Mereka yang mengasihi kita terlebih dahulu, pada saat kita masih sebagai pedosa-pedosa. (Roma 5:6-8; 1 Yohanes 4:9-11) Mengetahui ”kasih Kristus,” tulis rasul Paulus, ”melampaui segala pengetahuan.” (Efesus 3:19) Sebenarnya, kasih Yesus jauh melampaui pengetahuan akademik yang paling hebat. Ini melampaui segala sesuatu yang pernah dilihat atau dialami oleh manusia.

      2. Apa yang tidak dapat menghalangi Yesus untuk mengasihi kita?

      2 Pada waktu menulis kepada umat kristiani di Roma, Paulus bertanya, ”Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang?” Tidak satu pun dari hal-hal ini yang dapat menghalangi Yesus dari mengasihi kita. ”Aku yakin,” lanjut Paulus, ”bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.”—Roma 8:35-39.

      3. Apa satu-satunya yang dapat menyebabkan Yesus dan Bapanya meninggalkan kita?

      3 Kasih Allah Yehuwa dan Yesus terhadap saudara begitu berkuasa. Hanya ada satu hal yang dapat menghentikan Mereka untuk mengasihi saudara, dan itu adalah penolakan saudara sendiri yang sengaja akan kasih Mereka dengan menolak untuk melakukan apa yang Mereka minta. Seorang nabi Allah pernah menjelaskan kepada seorang raja Yudea, ”[Yehuwa] beserta dengan kamu bilamana kamu beserta dengan Dia. Bilamana kamu mencariNya, Ia berkenan ditemui olehmu, tetapi bilamana kamu meninggalkanNya, kamu akan ditinggalkanNya.” (2 Tawarikh 15:2) Siapa di antara kita yang pernah ingin menolak sahabat-sahabat yang menakjubkan dan penuh pengertian seperti Allah Yehuwa dan Putra-Nya, Kristus Yesus?

      Sambutan yang Sepatutnya terhadap Kasih Yesus

      4, 5. (a) Bagaimana hendaknya kasih Yesus kepada kita mempengaruhi hubungan kita dengan sesama manusia? (b) Kita hendaknya digerakkan untuk mengasihi siapa lagi karena kasih Yesus kepada kita?

      4 Bagaimana saudara secara pribadi dipengaruhi oleh kasih Yesus yang tak terbatas? Bagaimana seharusnya pengaruh hal itu atas saudara? Nah, Yesus memperlihatkan bagaimana pertunjukan kasihnya harus mempengaruhi hubungan kita dengan sesama manusia. Setelah dengan rendah hati melayani rasul-rasulnya dengan mencuci kaki mereka, Yesus berkata, ”Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu,” ia menambahkan, ”Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.” (Yohanes 13:15, 34) Murid-muridnya belajar, dan mereka digerakkan untuk berupaya melakukan seperti yang ia lakukan. ”Demikianlah kita ketahui kasih Kristus,” tulis rasul Yohanes, ”yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawaNya untuk kita; jadi kitapun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita.”—1 Yohanes 3:16.

      5 Namun, kita akan kehilangan tujuan dari kehidupan dan pelayanan Yesus bila kita digerakkan oleh teladannya hanya sekadar untuk mengasihi dan melayani kepentingan sesama kita. Tidakkah kasih Yesus terhadap kita seharusnya menggerakkan kita juga untuk mengasihi dia sebagai balasannya dan khususnya untuk mengasihi Bapanya, yang telah mengajarkan kepadanya segala sesuatu yang ia ketahui? Apakah saudara akan menanggapi kasih Kristus dan melayani Bapanya seperti yang ia lakukan?—Efesus 5:1, 2; 1 Petrus 1:8, 9.

      6. Bagaimana rasul Paulus dipengaruhi oleh kasih Yesus kepadanya?

      6 Pertimbangkan kasus Saul, yang belakangan dikenal sebagai Paulus. Pada suatu waktu ia menganiaya Yesus, ’berkobar-kobar untuk mengancam dan membunuh murid-murid’. (Kisah 9:1-5; Matius 25:37-40) Ketika Paulus mulai benar-benar mengenal Yesus, ia begitu bersyukur karena menerima pengampunan sehingga ia tidak hanya rela menderita demi kepentingan Yesus namun ia siap mati bagi dia. ”Aku telah disalibkan dengan Kristus,” ia menulis. ”Bukan lagi aku sendiri yang hidup, . . . Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diriNya untuk aku.”—Galatia 2:20.

      7. Kasih Yesus kepada kita hendaknya mendorong kita untuk melakukan apa?

      7 Betapa kasih yang Yesus miliki bagi kita seharusnya menjadi daya pendorong yang kuat dalam hidup kita! ”Kasih Kristus yang menguasai kami,” tulis Paulus kepada jemaat di Korintus, ’agar tidak lagi hidup untuk diri kita sendiri, tetapi untuk Dia yang telah mati bagi kita dan telah dibangkitkan.’ (2 Korintus 5:14, 15) Sebenarnya, rasa terima kasih kepada Yesus atas pemberian kehidupannya demi kepentingan kita hendaknya menggerakkan kita untuk melakukan apa pun yang ia minta. Hanya dengan cara ini kita dapat membuktikan bahwa kita benar-benar mengasihinya. ”Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintahKu,” kata Yesus. ”Barangsiapa memegang perintahKu dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku.”—Yohanes 14:15, 21; bandingkan 1 Yohanes 2:3-5.

      8. Bagaimana kasih Yesus mempengaruhi kehidupan dari banyak pedosa?

      8 Setelah mempelajari perintah-perintah Yesus, para pezina, orang-orang cabul, homoseks, pencuri, pemabuk, dan pemeras di Korintus purba menyambut kasih Yesus dengan meninggalkan praktik-praktik demikian. Paulus menulis tentang mereka, ”Kamu telah memberi dirimu disucikan, . . . kamu telah dibenarkan dalam nama Tuhan Yesus Kristus.” (1 Korintus 6:9-11) Demikian pula, kasih Yesus telah mendorong banyak orang dewasa ini untuk membuat perubahan yang menonjol dalam kehidupan mereka. ”Kemenangan sejati dari kekristenan nyata dalam membuat mereka yang mengaku menganut doktrin-doktrinnya menjadi orang-orang yang baik,” tulis sejarawan John Lord. ”Kami memiliki bukti mengenai kehidupannya yang tidak tercela, moral mereka yang tidak tercemar, tingkah laku mereka sebagai penduduk yang baik, dan keluhuran mereka sebagai kristiani.” Betapa besar perbedaan yang telah dicapai oleh pengajaran Yesus!

      9. Apa yang terlibat dalam mendengar kepada Yesus?

      9 Pastilah, tidak ada pelajaran yang dapat dipelajari seseorang dewasa ini yang lebih penting daripada tentang kehidupan dan pelayanan Kristus Yesus. ”Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus,” desak rasul Paulus. ”Ingatlah selalu akan Dia.” (Ibrani 12:2, 3) Selama transfigurasi Yesus, Allah sendiri memerintahkan sehubungan dengan Putra-Nya, ”Dengarkanlah Dia.” (Matius 17:5) Namun, perlu ditekankan bahwa mendengarkan Yesus termasuk lebih daripada sekadar mendengar apa yang ia katakan. Ini berarti mengindahkan instruksi-instruksinya, ya, meniru dia dengan melakukan apa yang telah ia lakukan menurut cara ia melakukannya. Kita menyambut kasih Yesus dengan menjadikan dia sebagai model kita, dengan saksama mengikuti jejaknya.

      Apa yang Yesus Ingin agar Kita Lakukan

      10. Siapa yang Yesus latih dan untuk tujuan apa?

      10 Tugas Yesus dari Allah adalah untuk mengabarkan tentang Kerajaan Bapanya, dan ia melatih pengikut-pengikutnya untuk melakukan pekerjaan yang sama. ”Marilah kita pergi ke tempat lain,” katanya kepada murid-muridnya, ”supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang.” (Markus 1:38; Lukas 4:43) Belakangan, setelah secara ekstensif melatih 12 rasul, Yesus memerintahkan mereka, ”Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Sorga sudah dekat.” (Matius 10:7) Beberapa bulan kemudian, setelah melatih 70 orang lain, ia mengirim mereka dengan perintah, ”Katakanlah kepada mereka: Kerajaan Allah sudah dekat padamu.” (Lukas 10:9) Jelaslah, Yesus ingin agar pengikut-pengikutnya menjadi pengabar dan pengajar.

      11. (a) Dalam cara apa murid-murid Yesus akan melakukan pekerjaan yang lebih besar dibandingkan dengan apa yang ia lakukan? (b) Apa yang terjadi dengan murid-murid Yesus setelah ia dibunuh?

      11 Yesus melanjutkan pelatihan murid-muridnya untuk pekerjaan ini. Selama malam terakhir sebelum kematiannya, ia menguatkan mereka dengan kata-kata, ”Barangsiapa percaya kepadaKu, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu.” (Yohanes 14:12) Pekerjaan murid-muridnya akan lebih besar dibandingkan pekerjaannya karena dalam pelayanan mereka, mereka akan mencapai jauh lebih banyak orang di daerah yang jauh lebih luas dan untuk jangka waktu yang lebih lama. Namun, setelah Yesus dibunuh, murid-muridnya menjadi tidak aktif karena takut. Mereka bersembunyi dan tidak meneruskan pekerjaan yang telah ia latih untuk mereka lakukan. Beberapa bahkan kembali ke bisnis menjala ikan. Namun, dalam cara yang tak terlupakan, ia mengingatkan ketujuh orang ini akan apa yang ia ingin mereka, dan juga semua pengikutnya, lakukan.

      12. (a) Mukjizat apa Yesus adakan di Laut Galilea? (b) Rupanya, apa yang Yesus maksudkan ketika bertanya kepada Petrus apakah ia mengasihi Dia ”lebih dari pada mereka ini”?

      12 Yesus menjelma dalam tubuh manusia dan muncul di Laut Galilea. Ketujuh rasul berada di dalam sebuah perahu tetapi telah gagal menangkap seekor ikan pun sepanjang malam. Yesus memanggil dari pantai, ”Tebarkanlah jalamu di sebelah kanan perahu, maka akan kamu peroleh.” Sewaktu jala itu secara mukjizat dipenuhi dengan ikan sampai akan koyak, mereka yang berada di perahu menyadari bahwa Yesus-lah yang berada di pantai, dan mereka bergegas pergi ke tempat ia menunggu. Setelah menyediakan sarapan pagi bagi mereka, Yesus, kemungkinan besar melihat ke arah tangkapan ikan yang banyak, bertanya kepada Petrus, ”Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?” (Yohanes 21:1-15) Tak diragukan Yesus memaksudkan, Apakah kau lebih terikat kepada bisnis menjala ikan daripada pekerjaan pengabaran yang telah saya persiapkan untuk kamu lakukan?

      13. Bagaimana Yesus dengan berkuasa mengingatkan pengikut-pengikutnya akan cara mereka harus menyambut kasihnya?

      13 Petrus menyahut, ”Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Yesus menjawab, ”Gembalakanlah domba-dombaKu.” Kedua kali Yesus bertanya, ”Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Sekali lagi Petrus menjawab, tidak diragukan dengan keyakinan yang lebih kuat, ”Benar Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau.” Sekali lagi Yesus memerintahkan, ”Gembalakanlah domba-dombaKu.” Kali ketiga Yesus bertanya, ”Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Sekarang Petrus benar-benar sedih. Hanya beberapa hari sebelumnya, ia telah tiga kali menyangkal bahwa ia mengenal Yesus, maka bisa saja ia berpikir kalau-kalau Yesus menyangsikan keloyalannya. Oleh karena itu, untuk ketiga kali, Petrus menjawab, kemungkinan dengan nada memohon, ”Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Yesus hanya menjawab, ”Gembalakanlah domba-dombaKu.” (Yohanes 21:15-17) Mungkinkah ada keraguan apa pun mengenai apa yang Yesus ingin Petrus dan rekan-rekannya lakukan? Betapa sangat mengesankan kata-kata Yesus bagi mereka—demikian pula bagi siapa pun yang akan menjadi murid-muridnya dewasa ini—bahwa bila mereka mengasihi dia, mereka akan mengambil bagian dalam pekerjaan menjadikan murid!

      14. Dalam kesempatan lain, bagaimana Yesus memperlihatkan cara murid-muridnya akan menyambut kasihnya?

      14 Beberapa hari setelah percakapan di tepi pantai, Yesus muncul di sebuah gunung di Galilea dan memerintahkan sekelompok pengikutnya yang berbahagia yang berjumlah kira-kira 500 orang, ”Pergilah, jadikanlah murid dari segala bangsa . . . ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah kuperintahkan kepadamu.” (Matius 28:19, 20, NW; 1 Korintus 15:6) Pikirkan hal ini! Pria, wanita, dan anak-anak semua menerima tugas yang sama ini. Kemudian setelah itu, tepat sebelum naik ke surga, Yesus memberi tahu murid-muridnya, ”Kamu akan menjadi saksiKu . . . sampai ke ujung bumi.” (Kisah 1:8) Setelah semua pemberitahuan ini, tidak heran Petrus, beberapa tahun kemudian, berkata, ”[Yesus] telah menugaskan kami memberitakan kepada seluruh bangsa dan bersaksi [”dengan saksama”, NW].”—Kisah 10:42.

      15. Mengenai apa tidak ada keraguan?

      15 Tidak ada keraguan tentang caranya kita harus menyambut kasih Yesus. Sebagaimana ia memberi tahu rasul-rasulnya, ”Jikalau kamu menuruti perintahKu, kamu akan tinggal dalam kasihKu, . . . Kamu adalah sahabatKu, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu.” (Yohanes 15:10-14) Pertanyaannya adalah, Apakah saudara akan menghargai kasih Yesus dengan menaati perintahnya untuk ambil bagian dalam pekerjaan menjadikan murid? Memang, ini mungkin tidak mudah bagi saudara karena berbagai alasan. Namun ini juga tidak mudah bagi Yesus. Pertimbangkan perubahan yang dituntut darinya.

      Mengikuti Teladan Yesus

      16. Yesus menyediakan teladan menakjubkan apa?

      16 Putra tunggal Allah menikmati kedudukan utama dari kemuliaan surgawi yang lebih tinggi daripada semua malaikat. Ia memang kaya! Namun, ia rela mengosongkan dirinya, lahir sebagai anggota keluarga miskin, dan dibesarkan di tengah-tengah umat manusia yang sakit dan menuju kematian. Ia melakukan ini demi kepentingan kita, sebagaimana rasul Paulus menjelaskan, ”Kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinanNya.” (2 Korintus 8:9; Filipi 2:5-8) Benar-benar suatu teladan! Suatu pertunjukan yang hebat dari kasih! Tak seorang pun telah menyerahkan lebih banyak atau menderita lebih hebat demi kepentingan orang-orang lain. Dan tak seorang pun telah memungkinkan orang-orang lain menikmati kekayaan lebih besar, ya, kehidupan kekal dalam kesempurnaan!

      17. Haluan apa yang disediakan di hadapan kita, dan apa hasilnya dengan mengikutinya?

      17 Kita dapat mengikuti teladan Yesus dan menjadi manfaat yang sama bagi orang-orang lain. Berulang kali, Yesus mendesak orang-orang untuk menjadi pengikutnya. (Markus 2:14; Lukas 9:59; 18:22) Petrus malahan menulis, ”Untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristuspun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejakNya.” (1 Petrus 2:21) Apakah saudara akan menyambut kasih Kristus bahkan sampai menderita dengan tujuan melayani Bapanya seperti yang ia lakukan? Betapa bermanfaat haluan sedemikian bagi orang-orang lain! Sesungguhnya, dengan mengikuti teladan Yesus, dengan sepenuhnya menerapkan pengajaran yang ia terima dari Bapanya, ”engkau akan menyelamatkan dirimu dan semua orang yang mendengar engkau.”—1 Timotius 4:16.

      18. (a) Teladan apa ditetapkan Yesus sehubungan dengan sikapnya terhadap orang-orang? (b) Bagaimana sambutan orang-orang terhadap kepribadian Yesus?

      18 Untuk membantu orang sebisa-bisanya, kita juga harus merasa prihatin kepada mereka sebagaimana halnya Yesus. Seorang nabi berkata mengenai dia, ”Ia akan sayang kepada orang lemah dan orang miskin.” (Mazmur 72:13) Pengikut-pengikutnya dapat memperhatikan bahwa Yesus ”menaruh kasih” kepada mereka yang ia ajak bicara dan ia benar-benar ingin membantu mereka. (Markus 1:40-42; 10:21) ”Melihat orang banyak itu,” Alkitab mengatakan, ”tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala.” (Matius 9:36) Bahkan pedosa-pedosa yang keji merasakan kasihnya dan merasa tertarik kepadanya. Melalui nada suaranya, sikap, dan cara mengajarnya, mereka merasa dilegakan. Sebagai hasilnya, bahkan para pemungut cukai yang dipandang rendah dan pelacur mencari dia.—Matius 9:9-13; Lukas 7:36-38; 19:1-10.

      19. Bagaimana Paulus meniru Yesus, dan apa yang akan menjadi hasilnya dengan melakukan yang sama?

      19 Murid-murid Yesus abad pertama mengikuti teladan pengasihnya. Paulus menulis kepada mereka yang ia layani, ”Kami berlaku ramah di antara kamu, sama seperti seorang ibu mengasuh dan merawati anaknya . . . kami, seperti bapa terhadap anak-anaknya, telah menasihati kamu dan menguatkan hatimu seorang demi seorang.” (1 Tesalonika 2:7-11) Apakah saudara merasakan keprihatinan tulus yang sama kepada orang-orang di daerah saudara sebagaimana orang-tua yang pengasih rasakan terhadap anak-anak yang mereka cintai? Mempertunjukkan keprihatinan sedemikian dalam nada suara saudara, ekspresi wajah, dan tindakan saudara akan membuat berita Kerajaan menarik bagi orang-orang yang seperti domba.

      20, 21. Apa saja contoh zaman modern dari orang-orang yang mengikuti teladan kasih Yesus?

      20 Suatu hari yang dingin di Spanyol, dua Saksi bertemu dengan seorang wanita tua yang menggunakan tongkat penopang yang rumahnya dingin sekali karena kehabisan kayu pemanas. Ia sedang menunggu anak laki-lakinya pulang dari kerja untuk memotong lebih banyak kayu. Saksi-Saksi tersebut memotong kayu, dan mereka juga meninggalkan beberapa majalah baginya untuk dibaca. Sewaktu anak laki-lakinya pulang, ia begitu terkesan dengan perhatian pengasih dari Saksi-Saksi Yehuwa bagi ibunya sehingga ia membaca lektur tersebut, mulai mempelajari Alkitab, dibaptis, dan segera memasuki dinas perintis.

      21 Di Australia, seorang pria dan istrinya menjelaskan kepada Saksi-Saksi yang sedang berkunjung bahwa mereka tidak mempunyai uang untuk memberi makan keluarga mereka. Pasangan Saksi tersebut pergi dan kembali membawa beberapa bahan pangan, termasuk permen untuk anak-anak. Orang-tua tersebut terharu dan menangis, serta berkata bahwa mereka begitu putus asa sehingga telah mempertimbangkan untuk bunuh diri. Keduanya mulai mempelajari Alkitab, dan sang istri baru-baru ini dibaptis. Seorang wanita di Amerika Serikat yang berprasangka kepada Saksi-Saksi Yehuwa melaporkan setelah bertemu seorang Saksi, ”Saya benar-benar tidak ingat apa yang kami bicarakan, tetapi yang saya ingat adalah betapa baiknya ia kepada saya, betapa ramah dan rendah hatinya dia. Saya benar-benar merasa tertarik kepadanya sebagai suatu pribadi. Saya menghargai persahabatannya sampai hari ini.”

      22. Setelah mempelajari kehidupan Yesus, apa kesimpulan kita sehubungan dengan dia?

      22 Sewaktu kita menyambut kasih Yesus dengan melakukan pekerjaan yang ia lakukan menurut cara dia, betapa menakjubkan berkat-berkat yang dapat kita nikmati! Kebesaran Yesus nyata dan luar biasa. Kita tergerak untuk menggemakan kata-kata dari gubernur Roma, Pontius Pilatus, ”Lihatlah Pria itu!” Ya, memang, ”Pria itu,” tokoh terbesar sepanjang masa.—Yohanes 19:5, NW.

Publikasi Menara Pengawal Bahasa Indonesia (1971-2025)
Log Out
Log In
  • Indonesia
  • Bagikan
  • Pengaturan
  • Copyright © 2025 Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania
  • Syarat Penggunaan
  • Kebijakan Privasi
  • Pengaturan Privasi
  • JW.ORG
  • Log In
Bagikan