PERPUSTAKAAN ONLINE Menara Pengawal
PERPUSTAKAAN ONLINE
Menara Pengawal
Indonesia
  • ALKITAB
  • PUBLIKASI
  • PERHIMPUNAN
  • Perhatikanlah sang Pelaku Hal-Hal yang Menakjubkan!
    Menara Pengawal—2001 | 15 April
    • 9 Sangat menarik, sebagaimana yang kita baca di Ayub pasal 38, Allah Yehuwa sendiri menggunakan jalan pikiran serupa, seraya Ia mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang penuh makna kepada Ayub. Meskipun Sang Pencipta menujukan pertanyaan-pertanyaan itu kepada Ayub, jelaslah pertanyaan-pertanyaan itu ada hubungannya dengan sikap kita, keberadaan kita, dan masa depan kita. Sekarang, mari kita lihat apa yang Allah tanyakan, dan mari kita pikirkan implikasinya, ya, mari kita ikuti desakan Ayub 37:14.

      10. Ayub pasal 38 hendaknya mendatangkan pengaruh apa atas diri kita, dan pertanyaan apa saja yang dikemukakannya?

      10 Pasal 38 dibuka dengan pernyataan, ”Yehuwa menjawab Ayub dari dalam badai dan berfirman, ’Siapakah ini yang mengaburkan keputusan dengan perkataan tanpa pengetahuan? Ikatlah kiranya pinggangmu, seperti seorang laki-laki, dan biarlah aku bertanya kepadamu, dan engkau memberi tahu aku.’” (Ayub 38:1-3) Pernyataan ini menggugah. Ayub terbantu untuk menyesuaikan cara berpikirnya dengan fakta bahwa Ia sedang berhadapan dengan Sang Pencipta alam semesta dan bahwa ia bertanggung jawab kepada-Nya. Demikian pula halnya dengan kita dan orang-orang lain yang hidup sezaman dengan kita. Kemudian, Allah mengemukakan hal-hal yang Elihu telah sebutkan. ”Di manakah engkau pada waktu aku meletakkan dasar bumi? Beri tahu aku, jika engkau mengenal pengertian. Siapakah yang menetapkan ukuran-ukurannya, apabila engkau tahu, atau siapakah yang merentangkan tali pengukur di atasnya? Ke dalam apa alasnya yang bersoket ditanamkan, atau siapakah yang meletakkan batu penjurunya?”—Ayub 38:4-6.

      11. Apa yang hendaknya kita sadari setelah membaca Ayub 38:4-6?

      11 Di manakah Ayub—di manakah kita semua—sewaktu bumi ini diciptakan? Apakah kita arsitek yang merancang bumi kita dan, dari rancangan itu, menetapkan ukuran-ukurannya seolah-olah dengan penggaris? Tentu saja tidak! Manusia bahkan belum ada pada waktu itu. Dengan mengumpamakan bumi seperti bangunan, Allah bertanya, ”Siapakah yang meletakkan batu penjurunya?” Kita tahu bahwa bumi ini mempunyai jarak yang sangat tepat dari matahari sehingga kita dapat hidup sejahtera di sini. Dan, ukuran bumi pun sangat tepat. Jika bumi ini lebih besar, gas hidrogen tidak akan terlepas dari atmosfer kita dan planet kita tidak akan cocok untuk kehidupan. Jelaslah, ada yang ”meletakkan batu penjurunya” di tempat yang tepat. Apakah itu berkat upaya Ayub? Atau kita? Ataukah Allah Yehuwa?—Amsal 3:19; Yeremia 10:12.

      Apakah Manusia Mengetahui Jawabannya?

      12. Pertanyaan di Ayub 38:6 mengarahkan perhatian kita kepada apa?

      12 Allah juga bertanya, ”Ke dalam apa alasnya yang bersoket ditanamkan?” Bukankah itu pertanyaan yang bagus? Kita mungkin mengenal istilah yang Ayub tidak ketahui—gravitasi. Kebanyakan dari kita memahami bahwa kekuatan gravitasi dari massa matahari yang luar biasa besar menjaga posisi bumi kita pada tempatnya, seolah-olah menanamkan alasnya yang bersoket. Namun, siapa yang dapat sepenuhnya memahami gravitasi?

      13, 14. (a) Tentang gravitasi, apa yang harus kita akui? (b) Bagaimana seharusnya reaksi kita terhadap situasi yang ditandaskan di Ayub 38:6?

      13 Sebuah buku yang baru-baru ini diterbitkan berjudul The Universe Explained (Menjelaskan Alam Semesta) mengakui bahwa ’gravitasi merupakan kekuatan alam yang paling dikenal, namun paling sedikit dipahami’. Buku ini melanjutkan, ”Gaya gravitasi tampaknya menjelajahi ruang kosong dalam sekejap, tanpa media yang kelihatan. Akan tetapi, pada tahun-tahun belakangan ini, para fisikawan mulai berspekulasi bahwa gravitasi mungkin mengadakan perjalanan dalam bentuk gelombang yang terdiri dari partikel-partikel yang disebut graviton . . . Tetapi, tak seorang pun yakin akan keberadaan graviton ini.” Pikirkan apa implikasinya.

      14 Sains telah maju selama 3.000 tahun sejak Yehuwa mengajukan pertanyaan-pertanyaan itu kepada Ayub. Namun, kita maupun para fisikawan masih belum dapat sepenuhnya menjelaskan gravitasi yang memungkinkan bumi kita berada di orbit yang tepat, tepat pada posisinya sehingga kita dapat menikmati kehidupan di sini. (Ayub 26:7; Yesaya 45:18) Keterangan ini tidak dimaksudkan agar kita semua harus mempelajari misteri gravitasi ini secara mendalam. Sebaliknya, dengan memperhatikan aspek karya Allah yang menakjubkan ini, hal itu akan mempengaruhi pandangan kita terhadap Allah. Apakah Saudara takjub akan hikmat dan pengetahuan Allah, dan apakah Saudara menyadari mengapa kita perlu lebih banyak belajar tentang kehendak-Nya?

      15-17. (a) Ayub 38:8-11 mengarahkan perhatian kita kepada apa, dan pertanyaan apa saja yang timbul? (b) Perihal pengetahuan tentang samudra dan distribusinya pada bola bumi, apa yang harus kita akui?

      15 Sang Pencipta melanjutkan pertanyaan-Nya, ”Siapakah yang membendung laut dengan pintu-pintu, yang keluar seperti ketika itu menghambur dari rahim; pada waktu aku mengenakan awan sebagai pakaiannya dan kesuraman sebagai kain bedungnya, dan aku memberlakukan peraturanku atasnya dan memasang palang dan pintu-pintu, dan kemudian aku berfirman, ’Sampai di sini engkau boleh datang, dan tidak lebih jauh; dan di sini batas bagi gelombang-gelombangmu yang sombong’?”—Ayub 38:8-11.

      16 Pembendungan laut melibatkan benua, samudra, dan gelombang. Berapa lama manusia mengamati dan mempelajari hal-hal ini? Selama ribuan tahun—dan sangat intensif pada abad belakangan ini. Saudara mungkin mengira bahwa sebagian besar pengetahuan tentang hal-hal ini telah cukup mapan sekarang. Namun, pada tahun 2001 ini, jika Saudara menyelidiki topik itu di perpustakaan-perpustakaan besar atau menggunakan fasilitas riset yang luas di Internet untuk mencari fakta-fakta terkini, apa yang akan Saudara dapati?

      17 Dalam sebuah karya referensi yang paling luas diakui, Saudara akan menemukan pernyataan ini, ”Distribusi benua dan palung laut pada permukaan bola bumi dan distribusi karakteristik daratan utama telah lama menjadi salah satu permasalahan yang paling menarik untuk diselidiki dan diteorikan secara ilmiah.” Setelah mengatakan hal ini, ensiklopedia itu menyajikan empat alternatif penjelasan tetapi mengatakan bahwa penjelasan-penjelasan itu ”sebagian dari banyak hipotesis”. Seperti yang Saudara ketahui, sebuah hipotesis ”menyiratkan kurangnya bukti sehingga hanya dapat menghasilkan penjelasan sementara”.

      18. Kesimpulan apa yang dapat kita tarik dari Ayub 38:8-11?

      18 Tidakkah hal itu menonjolkan betapa tepat-waktu pertanyaan yang kita baca di Ayub 38:8-11? Jelaslah, kita tidak berhak menerima pujian atas pengaturan semua aspek pada planet kita ini. Bukan kita yang menempatkan bulan sedemikian rupa sehingga gaya tariknya turut menghasilkan gelombang laut yang tidak membahayakan daerah pesisir atau diri kita. Saudara tahu siapa yang layak menerima pujian, yakni Sang Pelaku hal-hal yang menakjubkan.—Mazmur 33:7; 89:9; Amsal 8:29; Kisah 4:24; Penyingkapan [Wahyu] 14:7.

      Beri Yehuwa Pujian yang Selayaknya

      19. Ungkapan puitis di Ayub 38:12-14 mengarahkan perhatian kita kepada kenyataan fisik apa?

      19 Tak satu manusia pun berhak menerima pujian atas rotasi bumi, yang disinggung di Ayub 38:12-14. Rotasi bumi memungkinkan terbitnya sang surya setiap pagi, sering kali dengan keindahannya yang memukau. Seraya matahari terbit, wujud bola bumi kita semakin jelas, bagaikan permukaan tanah liat yang dibentuk dengan cap. Jika kita memberikan sedikit saja perhatian pada pergerakan bumi, kita pasti takjub karena bumi ini tidak berputar terlalu cepat, yang akan berakibat fatal, sebagaimana dapat kita bayangkan. Bumi pun tidak berputar terlalu lambat sehingga siang dan malam menjadi jauh lebih panjang dan mendatangkan cuaca panas serta dingin yang ekstrem, sehingga bumi tidak mungkin didiami manusia. Sejujurnya, kita seharusnya berbahagia karena Allah-lah, dan bukan sekelompok manusia, yang menetapkan kecepatan rotasi.—Mazmur 148:1-5.

      20. Bagaimana tanggapan Saudara terhadap pertanyaan-pertanyaan di Ayub 38:16, 18?

      20 Sekarang, bayangkanlah Allah mengajukan serangkaian pertanyaan berikut ini, ”Pernahkah engkau pergi ke sumber laut, atau untuk mencari air yang dalam, pernahkah engkau melakukan penjelajahan?” Bahkan para oseanolog pun tidak dapat memberikan jawaban lengkap! ”Apakah engkau memikirkan ruang-ruang yang luas di bumi dengan kecerdasan? Beri tahukanlah, jika engkau sudah mengetahui semuanya.” (Ayub 38:16, 18) Pernahkan Saudara mengunjungi dan menjelajahi semua tempat di bumi ini, atau bahkan sebagian besar darinya? Untuk memperhatikan tempat-tempat yang indah dan menakjubkan di bumi ini, dibutuhkan berapa kali jangka hidup kita? Dan, pastilah masa-masa itu sangat menakjubkan!

      21. (a) Pandangan ilmiah apa saja yang telah dikemukakan sebagai jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di Ayub 38:19? (b) Kenyataan tentang cahaya hendaknya menggerakkan kita untuk melakukan apa?

      21 Perhatikan pula pertanyaan yang menggugah pikiran di Ayub 38:19, ”Di manakah jalan menuju tempat terang berdiam? Mengenai kegelapan, di manakah tempatnya?” Saudara mungkin tahu, selama ini dipercayai bahwa cahaya merambat seperti gelombang, bagaikan riak-riak yang kita lihat di kolam. Kemudian, pada tahun 1905, Albert Einstein menjelaskan bahwa cahaya bertindak seperti paket-paket, atau partikel-partikel energi. Apakah penjelasan itu sudah tepat? Nah, sebuah ensiklopedia baru-baru ini menanyakan, ”Apakah cahaya itu gelombang atau partikel?” Jawabannya, ”Tampaknya, [cahaya] tidak mungkin keduanya karena [gelombang dan partikel] sangat berbeda. Jawaban terbaik adalah bahwa cahaya sama sekali bukan gelombang, bukan juga partikel.” Meskipun demikian, kita tetap dihangatkan (secara langsung dan tidak langsung) oleh sinar matahari, sekalipun manusia belum mampu menjelaskan sepenuhnya karya Allah ini. Kita menikmati makanan dan oksigen yang diproduksi seraya tanaman bereaksi terhadap cahaya. Kita dapat membaca, melihat wajah orang-orang yang kita kasihi, menyaksikan terbenamnya mentari, dan seterusnya. Sewaktu kita melakukan hal-hal itu, tidakkah kita seharusnya mengakui karya Allah yang menakjubkan?—Mazmur 104:1, 2; 145:5; Yesaya 45:7; Yeremia 31:35.

  • Perhatikanlah Pekerjaan Allah yang Menakjubkan
    Menara Pengawal—2001 | 15 April
    • 2 Banyak orang dewasa ini mengabaikan atau menolak bukti-bukti jelas semacam itu tentang pekerjaan Sang Pencipta. (Roma 1:20) Akan tetapi, kita sebaiknya merenungkannya dan menarik kesimpulan sehubungan dengan kedudukan dan tugas kita di hadapan Pembuat kita. Ayub pasal 38 hingga 41 merupakan bantuan bagus dalam hal ini, karena di situ Yehuwa menarik perhatian Ayub kepada aspek-aspek tertentu dari pekerjaan-pekerjaan-Nya yang menakjubkan. Perhatikanlah beberapa permasalahan serius yang Allah kemukakan.

      Pekerjaan yang Penuh Kuasa dan Menakjubkan

      3. Sebagaimana dicatat di Ayub 38:22, 23, 25-29, hal apa saja yang Allah tanyakan?

      3 Pada suatu ketika, Allah bertanya kepada Ayub, ”Apakah engkau telah masuk ke dalam gudang-gudang salju, atau apakah engkau melihat bahkan gudang-gudang hujan es, yang aku tahan untuk waktu kesesakan, untuk masa pertempuran dan peperangan?” Di banyak tempat di bumi ini, salju dan hujan es merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari. Allah melanjutkan, ”Siapakah yang membagi saluran untuk banjir dan jalan untuk awan badai yang mengguntur, untuk menurunkan hujan ke atas tanah yang tidak ada orangnya, ke atas padang belantara yang tidak ada manusianya, untuk memuaskan tempat-tempat yang diserang badai dan telantar dan menyebabkan rumput muda tumbuh dengan cepat? Apakah ada seorang bapak bagi hujan, atau siapakah yang melahirkan titik-titik embun? Dari perut siapakah es keluar, dan mengenai embun beku dari langit, siapakah yang melahirkannya?”—Ayub 38: 22, 23, 25-29.

      4-6. Dalam arti apa pengetahuan manusia tentang salju masih belum lengkap?

      4 Orang-orang yang tinggal dalam masyarakat yang serbasibuk dan yang harus menempuh perjalanan mungkin memandang salju sebagai kendala. Namun, tak terhitung banyaknya orang lain memandang salju sebagai sesuatu yang menyenangkan, menghasilkan pemandangan musim dingin yang indah yang membuka kesempatan untuk melakukan berbagai kegiatan istimewa. Dengan mencamkan pertanyaan Allah, apakah Saudara mempunyai pengetahuan yang saksama tentang salju, bahkan tentang seperti apa bentuk salju itu? Memang, kita tahu seperti apa bentuk timbunan salju, mungkin dari foto bukit salju atau karena kita melihat cukup banyak salju. Tetapi, bagaimana rupa setiap bunga salju? Tahukah Saudara seperti apa bentuknya, mungkin setelah mengamatinya sendiri di sumbernya?

      5 Sebagian orang menghabiskan waktu puluhan tahun untuk mempelajari dan memotret bunga salju. Satu bunga salju dapat terdiri dari seratus kristal es halus dalam berbagai rancangan yang cantik. Buku Atmosphere mengatakan, ”Sudah lama diketahui bahwa bunga salju itu tidak terhitung ragamnya, dan meskipun para ilmuwan berpendapat bahwa tidak ada hukum alam yang membatasi penduplikasian bunga salju, tidak pernah ditemukan dua bunga salju yang sama persis. Sebuah pencarian yang luar biasa dilaksanakan oleh . . . Wilson A. Bentley, yang selama lebih dari 40 tahun menyelidiki dan memotret bunga-bunga salju melalui mikroskop namun tidak pernah mendapati dua butiran salju yang sama persis.” Dan, kalaupun ada dua butiran salju yang tampaknya kembar, meski sangat jarang, apakah itu mengubah fakta tentang betapa beragamnya salju?

      6 Ingatlah pertanyaan yang Allah ajukan, ”Apakah engkau telah masuk ke dalam gudang-gudang salju?” Banyak orang membayangkan awan sebagai gudang salju. Dapatkah Saudara membayangkan pergi ke gudang-gudang salju ini untuk mendata bunga salju dengan variasinya yang tak terbatas dan mempelajari cara pembentukannya? Sebuah ensiklopedia sains mengatakan, ”Sifat dan asal-usul inti es, yang dibutuhkan untuk memicu pembekuan butiran-butiran awan pada suhu sekitar -40°C, masih belum jelas.”—Mazmur 147:16, 17; Yesaya 55:9, 10.

      7. Seberapa jauhkah pengetahuan manusia tentang hujan?

      7 Atau, bagaimana dengan hujan? Allah bertanya kepada Ayub, ”Apakah ada seorang bapak bagi hujan, atau siapakah yang melahirkan titik-titik embun?” Ensiklopedia sains yang sama berkata, ”Karena kerumitan pergerakan atmosfer dan keragaman yang luar biasa besar dalam uap air dan kandungan partikel udara, tampaknya mustahil untuk membangun teori yang terperinci dan umum tentang cara terbentuknya awan dan curah hujan.” Dengan istilah yang lebih sederhana, para ilmuwan telah mengajukan teori-teori yang terperinci, tetapi mereka tidak dapat menjelaskan sepenuhnya tentang hujan. Namun, Saudara tahu bahwa curah hujan yang penting itu mengairi bumi, memelihara tanaman, memungkinkan adanya kehidupan yang menyenangkan di bumi ini.

      8. Mengapa kata-kata Paulus di Kisah 14:17 sangat cocok?

      8 Tidakkah Saudara setuju dengan kesimpulan yang diambil oleh rasul Paulus? Ia mendesak orang lain untuk melihat bahwa di balik pekerjaan yang menakjubkan ini terdapat bukti tentang keberadaan Pribadi yang menciptakan itu semua. Paulus berkata tentang Allah Yehuwa, ”Ia tidak membiarkan dirinya tanpa kesaksian dalam hal ia melakukan kebaikan, dengan memberi kamu hujan dari langit dan musim-musim dengan hasil yang limpah, dan memuaskan hatimu dengan makanan serta kegembiraan yang limpah.”—Kisah 14:17; Mazmur 147:8.

      9. Bagaimana pekerjaan-pekerjaan Allah yang menakjubkan mencerminkan kuasa-Nya yang besar?

      9 Tidak diragukan lagi bahwa Sang Pelaku pekerjaan yang menakjubkan dan bermanfaat itu mempunyai hikmat yang tak terbatas dan kuasa yang luar biasa besar. Sehubungan dengan kuasa-Nya, pikirkanlah hal ini: Diperkirakan terjadi 45.000 badai guntur setiap hari, atau lebih dari 16 juta setiap tahun. Ini berarti bahwa kira-kira 2.000 badai guntur sedang terjadi saat ini juga. Awan yang rumit dari suatu badai guntur menghasilkan energi yang sebanding dengan energi yang dihasilkan oleh sepuluh atau lebih bom nuklir yang diledakkan selama Perang Dunia II. Saudara dapat melihat sebagian dari energi itu dalam bentuk kilat. Selain dahsyat, kilat sebenarnya turut menghasilkan nitrogen yang ketika mencapai tanah, diserap oleh tanaman sebagai pupuk alami. Jadi, kilat bukan hanya merupakan pertunjukan energi, tetapi juga membawa manfaat besar.—Mazmur 104:14, 15.

      Apa Kesimpulan Saudara?

      10. Bagaimana Saudara akan menjawab pertanyaan-pertanyaan di Ayub 38:33-38?

      10 Bayangkan diri Saudara adalah Ayub, yang ditanyai oleh Allah Yang Mahakuasa. Saudara pasti sependapat bahwa banyak orang tidak terlalu memperhatikan perbuatan-perbuatan Allah yang menakjubkan. Yehuwa mengajukan kepada kita pertanyaan-pertanyaan di Ayub 38:33-38. ”Sudahkah engkau mengetahui ketetapan bagi langit, atau dapatkah engkau menaruh wewenangnya di bumi? Dapatkah engkau berseru bahkan kepada awan, sehingga massa air yang naik turun menutupi engkau? Dapatkah engkau mengutus kilat agar mereka pergi dan mengatakan kepadamu, ’Inilah kami!’? Siapakah yang menaruh hikmat dalam lapisan-lapisan awan, atau siapakah yang memberikan pengertian kepada fenomena langit? Siapakah yang dengan tepat dapat menghitung awan dalam hikmat, atau, tempayan-tempayan air di langit—siapakah yang dapat menggulingkannya, pada waktu debu dituang menjadi seperti massa tuangan, dan gumpalan-gumpalan tanah melekat menjadi satu?”

      11, 12. Apa sajakah yang membuktikan bahwa Allah adalah Pelaku pekerjaan-pekerjaan yang menakjubkan?

      11 Kita baru membahas hanya beberapa topik saja yang Elihu ajukan bagi Ayub, dan kita telah membahas beberapa pertanyaan Yehuwa yang harus Ayub jawab ”seperti seorang laki-laki”. (Ayub 38:3) Kita mengatakan ”beberapa” karena di pasal 38 dan 39, Allah menyoroti aspek-aspek penting lain dari ciptaan-Nya. Misalnya, konstelasi angkasa. Siapa yang mengetahui semua hukum dan ketetapannya? (Ayub 38:31-33) Yehuwa mengajak Ayub untuk memperhatikan beberapa satwa—singa dan burung gagak, kambing gunung dan zebra, lembu jantan liar dan burung unta, kuda yang perkasa dan elang. Sebenarnya, Allah bertanya kepada Ayub apakah Ayub yang telah memberikan kepada berbagai binatang ini karakteristiknya, memungkinkan semua satwa itu hidup dan berbiak. Saudara mungkin senang mempelajari pasal-pasal ini, khususnya jika Saudara menyukai kuda atau satwa-satwa lainnya.—Mazmur 50:10, 11.

  • Perhatikanlah Pekerjaan Allah yang Menakjubkan
    Menara Pengawal—2001 | 15 April
    • Allah bertanya kepada Ayub, ”Apakah engkau telah masuk ke dalam gudang-gudang salju, atau apakah engkau melihat bahkan gudang-gudang hujan es, yang aku tahan untuk waktu kesesakan, untuk masa pertempuran dan peperangan?” Salju, hujan es, badai guntur, angin, dan kilat semuanya tersedia di gudang senjata Allah. Dan, betapa luar biasa kekuatan alam itu!—Ayub 38:22, 23.

      16, 17. Apa yang menjadi gambaran kuasa Allah yang luar biasa besar, dan bagaimana Ia telah menggunakan kuasa semacam itu di masa lalu?

      16 Barangkali, Saudara ingat pada beberapa bencana alam setempat yang diakibatkan oleh salah satu di antaranya—badai, taifun, siklon, hujan es, atau banjir bandang. Sebagai ilustrasi, menjelang akhir tahun 1999, sebuah badai yang dahsyat menghantam Eropa barat daya. Badai itu bahkan mengejutkan para pakar cuaca. Angin kencang berkecepatan 200 kilometer per jam mengoyakkan ribuan atap rumah, menumbangkan tiang-tiang listrik, dan menjungkirbalikkan truk-truk. Bayangkan: Badai itu mencabut atau mematahkan sekitar 270 juta pohon, 10.000 di antaranya terletak di taman Versailles, di luar kota Paris. Jutaan rumah tidak mendapat aliran listrik. Angka kematian mencapai hampir 100 jiwa. Semuanya hanya karena satu angin badai yang singkat saja. Benar-benar kekuatan yang luar biasa!

      17 Boleh dikata, badai itu merupakan peristiwa yang mendadak, tak terarah, dan tak terkendali. Namun, apa yang akan terjadi jika Pribadi yang mahakuasa, yang melakukan pekerjaan-pekerjaan yang menakjubkan ini menggunakan kekuatan-kekuatan itu dengan cara yang terkendali dan terarah? Hal itu Ia lakukan pada zaman Abraham, yang diberi tahu bahwa Hakim segenap bumi telah menimbang kefasikan dua kota, Sodom dan Gomora. Kedua kota itu sedemikian bejatnya sehingga keluhan tentang kedua kota itu sampai kepada Allah, yang membantu semua orang adil-benar untuk lari dari kota-kota terkutuk itu. Sejarah melaporkan, ”Lalu Yehuwa menurunkan hujan belerang dan api dari Yehuwa, dari langit,” ke atas kota-kota itu. Hal itu merupakan pekerjaan yang menakjubkan, menyelamatkan orang yang adil-benar dan membinasakan orang fasik yang tak mungkin diperbaiki lagi.—Kejadian 19:24.

Publikasi Menara Pengawal Bahasa Indonesia (1971-2025)
Log Out
Log In
  • Indonesia
  • Bagikan
  • Pengaturan
  • Copyright © 2025 Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania
  • Syarat Penggunaan
  • Kebijakan Privasi
  • Pengaturan Privasi
  • JW.ORG
  • Log In
Bagikan