-
”Aku Akan Mempertahankan Integritasku!”Tirulah Iman Mereka
-
-
TIRULAH IMAN MEREKA | AYUB
”Aku Akan Mempertahankan Integritasku!”
Pria itu duduk sendirian. Sekujur tubuhnya penuh dengan bisul yang menyakitkan, dari ujung kepala sampai ujung kaki. Pria itu duduk di abu, sebagai ungkapan rasa dukanya. Kepalanya tertunduk, bahunya terbungkuk. Dia bahkan tidak punya tenaga untuk mengebas lalat yang beterbangan di sekelilingnya. Dia hanya bisa menggaruk lukanya yang bernanah dengan pecahan tanah liat. Dulu dia dihormati, tapi kini dia dilupakan. Dia tidak dianggap lagi oleh teman, tetangga, dan keluarganya. Orang-orang, bahkan anak kecil, mengejek dia. Dia merasa bahwa Allahnya, Yehuwa, telah berbalik menyerang dia. Tapi dia ternyata keliru.—Ayub 2:8; 19:18, 22.
Pria itu bernama Ayub. Di mata Allah, ”tidak ada yang seperti [Ayub] di bumi”. (Ayub 1:8) Ratusan tahun kemudian, Yehuwa masih menganggapnya sebagai salah satu orang benar yang pernah hidup di bumi.—Yehezkiel 14:14, 20.
Kita semua pasti pernah mengalami musibah dan kesulitan. Kisah hidup Ayub bisa sangat menguatkan kita. Kisah ini juga bisa mengajar kita satu sifat penting yang harus dimiliki setiap hamba Allah, yaitu integritas. Orang yang punya integritas adalah orang yang sungguh-sungguh mengabdi kepada Allah meski menghadapi kesulitan dalam hidupnya. Mari kita belajar lebih jauh tentang sifat itu dari Ayub.
Yang Tidak Ayub Ketahui
Kisah Ayub sepertinya ditulis oleh Musa tidak lama setelah Ayub meninggal. Dengan bimbingan dari Allah, Musa menulis bukan hanya peristiwa yang dialami Ayub, tapi juga beberapa peristiwa yang terjadi di surga.
Musa mengawali kisah itu dengan menceritakan kehidupan Ayub yang menyenangkan dan bahagia. Dia kaya raya, terkenal, dan dihormati di negeri Uz, mungkin terletak di bagian utara Arab. Dia suka menolong orang yang miskin dan melindungi orang yang tidak berdaya. Ayub dan istrinya dikaruniai sepuluh anak. Tapi hal yang paling berharga dalam kehidupannya adalah hubungannya dengan Yehuwa. Dia selalu berupaya menyenangkan Yehuwa, seperti Abraham, Ishak, Yakub, dan Yusuf yang adalah keluarga jauhnya. Seperti pria-pria setia itu, Ayub juga menjadi imam bagi keluarganya dengan mempersembahkan korban demi anak-anaknya.—Ayub 1:1-5; 31:16-22.
Tapi tiba-tiba, ada kisah lain yang memengaruhi kehidupan Ayub. Musa mencatat apa yang terjadi di surga, yang justru tidak Ayub ketahui. Pada suatu waktu, malaikat-malaikat Yehuwa yang setia berkumpul di hadapan Allah. Setan, si malaikat pemberontak, turut hadir di sana. Yehuwa tahu bahwa Setan tidak menyukai Ayub yang setia. Jadi di depan Setan, Allah menyebutkan integritas Ayub yang luar biasa. Setan menjawab dengan nada menantang, ”Kalau Ayub tidak mendapat apa-apa, apa dia tetap takut kepada-Mu? Bukankah selama ini Engkau melindungi dia, keluarganya, dan semua miliknya?” Setan membenci orang yang mempertahankan integritasnya kepada Yehuwa. Orang seperti itu membuktikan bahwa masih ada yang mau mengabdi kepada Allah dengan tulus, berbeda dengan Setan yang memberontak dan mementingkan diri. Jadi, Setan mati-matian mengatakan bahwa Ayub melayani Allah karena ada maunya. Seandainya Ayub kehilangan semua miliknya yang berharga, Setan yakin bahwa Ayub akan mengutuki dan meninggalkan Yehuwa!—Ayub 1:6-11.
Tanpa Ayub sadari, Yehuwa memberinya sebuah kesempatan istimewa untuk membuktikan bahwa tuduhan Setan itu keliru. Yehuwa membiarkan Setan merenggut semua yang Ayub miliki, kecuali nyawanya. Dengan kejam, Setan pun mulai beraksi. Dalam satu hari, Ayub ditimpa serentetan musibah. Awalnya, Ayub kehilangan semua ternaknya. Sapi, keledai, domba, dan unta miliknya lenyap dalam sekejap. Para penjaga ternaknya bahkan dibunuh. Salah seorang penjaga yang selamat melaporkan bahwa ”api dari Allah”, atau mungkin kilat, memakan habis semua dombanya. Selagi Ayub masih kaget karena kehilangan harta dan hambanya, dia tertimpa musibah lain yang jauh lebih berat. Saat sepuluh anaknya sedang berkumpul di rumah anak sulung Ayub, ada angin kencang yang tiba-tiba merobohkan rumah itu dan menewaskan mereka semua!—Ayub 1:12-19.
Kita mungkin sulit membayangkan perasaan Ayub. Dia merobek pakaiannya, mencukur habis rambutnya, dan jatuh tersungkur. Setan dengan licik membuat semua musibah itu seolah-olah berasal dari Allah. Ayub pun menyimpulkan bahwa Allah mengambil kembali semua yang sudah Dia berikan kepadanya. Meski begitu, di luar dugaan Setan, Ayub tidak mengutuki Allah. Ayub justru berkata, ”Terpujilah nama Yehuwa selalu.”—Ayub 1:20-22.
Ayub tidak tahu bahwa Setan meragukan integritasnya di depan Allah
”Dia Pasti Mengutuki Engkau”
Melihat itu, Setan sangat marah. Tapi, dia pantang mundur. Saat ada pertemuan para malaikat, dia datang lagi ke hadapan Yehuwa. Pada waktu itu, Yehuwa kembali memuji Ayub karena Ayub tetap setia meski menghadapi serangan Setan yang bertubi-tubi. Setan mengatakan, ”Kulit ganti kulit. Orang akan menyerahkan apa pun yang dia miliki demi mempertahankan nyawanya. Sekarang, coba ulurkan tangan-Mu dan sakiti tubuhnya. Dia pasti mengutuki Engkau di depan muka-Mu.” Kali ini, Setan yakin kalau Ayub menderita penyakit yang parah, dia pasti mengutuki Allah. Karena yakin Ayub akan setia, Yehuwa membiarkan Setan membuat Ayub sakit, asalkan dia tidak sampai membunuh Ayub.—Ayub 2:1-6.
Ayub pun mengalami keadaan seperti yang disebutkan di awal artikel ini. Bayangkan perasaan istrinya. Dia masih sangat terpukul karena baru saja kehilangan sepuluh anaknya. Sekarang dia harus melihat suaminya menderita penyakit parah, dan dia tidak bisa berbuat apa-apa! Dia meratap, ”Sampai kapan kamu mau mempertahankan integritasmu dengan teguh? Kutuki saja Allah dan matilah!” Ayub pasti kaget karena dia tidak pernah menyangka bahwa istrinya yang tercinta mengatakan hal seperti itu. Tapi, Ayub merasa bahwa itu hanyalah ucapan yang bodoh. Dia tetap tidak mau mengutuki Allah. Dia sama sekali tidak mengucapkan kata-kata yang melawan Allah.—Ayub 2:7-10.
Tahukah Saudara bahwa kisah nyata ini ada hubungannya dengan Saudara? Perhatikan baik-baik bahwa tuduhan Setan tidak hanya ditujukan kepada Ayub, tapi juga kepada kita semua. Setan mengatakan, ”Orang akan menyerahkan apa pun yang dia miliki demi mempertahankan nyawanya.” Jadi, Setan merasa bahwa tidak mungkin ada manusia yang bisa berintegritas. Dia menuduh bahwa Saudara tidak tulus mengasihi Allah dan akan langsung meninggalkan-Nya kalau nyawa Saudara terancam. Setan sebenarnya mengatakan bahwa Saudara sama egoisnya dengan dia! Maukah Saudara membuktikan bahwa Setan salah? Kita semua punya kesempatan untuk melakukan itu. (Amsal 27:11) Tapi, masih ada lagi tantangan yang Ayub hadapi. Mari kita lihat apa yang terjadi selanjutnya.
Teman-Teman Palsu
Alkitab menceritakan bahwa ada tiga teman Ayub yang mendengar musibah yang Ayub alami. Mereka pun mengunjunginya untuk menghiburnya. Dari jauh, mereka hampir tidak mengenali Ayub. Sekujur tubuh Ayub penuh luka-luka yang membuat kulitnya menghitam dan dipenuhi rasa sakit. Tiga orang itu adalah Elifaz, Bildad, dan Zofar. Mereka berpura-pura ikut sedih atas penderitaan Ayub, bahkan sampai menangis dengan keras dan menghamburkan debu ke kepala mereka. Lalu, mereka duduk di dekat Ayub tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Selama seminggu, mereka hanya duduk, diam seribu bahasa. Yang mereka lakukan itu sama sekali tidak menghibur Ayub. Mereka tidak bertanya apa pun kepadanya untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi, padahal Ayub jelas-jelas sedang menderita.—Ayub 2:11-13; 30:30.
Akhirnya, Ayub memutuskan untuk angkat suara. Dia meluapkan rasa sakitnya dengan mengutuki hari kelahirannya. Dia merasa sangat susah karena dia berpikir bahwa Allah yang menimpakan semua masalah atas dirinya! (Ayub 3:1, 2, 23) Ayub memang tidak kehilangan iman, tapi dia sangat membutuhkan penghiburan. Sayangnya, saat ketiga temannya mulai bicara, kata-kata mereka sama sekali tidak menguatkan. Ayub bahkan merasa bahwa mereka lebih baik diam saja!—Ayub 13:5.
Elifaz adalah orang pertama yang mulai bicara. Dia sepertinya jauh lebih tua daripada Ayub dan yang tertua di antara ketiga teman Ayub. Bildad dan Zofar bisa jadi ikut-ikutan cara berpikir Elifaz yang keliru. Sekilas, kata-kata mereka kedengarannya masuk akal dan tidak salah. Mereka mengulangi pendapat banyak orang bahwa Allah itu sangat mulia dan bahwa Dia menghukum orang jahat serta memberkati orang baik. Tapi, mereka sebenarnya sama sekali tidak berniat untuk menghibur Ayub. Misalnya, Elifaz menuduh bahwa Ayub pasti sudah berbuat dosa dan menyimpulkan bahwa dia sedang dihukum Allah.—Ayub 4:1, 7, 8; 5:3-6.
Ayub tentu tidak terima tuduhan itu. Dia langsung membantah kata-kata Elifaz. (Ayub 6:25) Tapi, ketiga orang itu justru semakin yakin bahwa Ayub pasti berupaya menyembunyikan kesalahannya. Mereka merasa bahwa Ayub memang pantas menerima hukuman dari Allah. Elifaz menuduh Ayub lancang, jahat, dan tidak takut lagi kepada Allah. (Ayub 15:4, 7-9, 20-24; 22:6-11) Zofar menyuruh Ayub berhenti berbuat jahat dan berhenti menikmati hal-hal yang berdosa. (Ayub 11:2, 3, 14; 20:5, 12, 13) Tapi, yang paling menyakitkan adalah kata-kata Bildad. Dia merasa bahwa anak-anak Ayub pantas dihukum mati karena mereka melakukan suatu dosa!—Ayub 8:4, 13.
Tiga teman Ayub tidak membuatnya terhibur, tapi malah semakin membuatnya tertekan
Apakah Integritas Memang Ada Gunanya?
Ketiga pria itu tidak berhenti sampai di sana. Mereka tidak hanya meragukan integritas Ayub, tapi juga mempertanyakan apakah integritas itu memang masih ada gunanya! Elifaz mengawali kata-katanya dengan menceritakan bahwa dia melihat penampakan yang menyeramkan. Setelah bertemu roh jahat itu, Elifaz menyimpulkan bahwa Allah ”tidak percaya kepada hamba-hamba-Nya, dan Dia mencari kesalahan para malaikat-Nya”. Dengan kata lain, Elifaz mengatakan bahwa tidak ada manusia yang bisa menyenangkan Allah. Lalu, Bildad menambahkan bahwa manusia itu tidak ada bedanya dengan seekor belatung. Jadi, Bildad menyimpulkan bahwa bagi Allah, tidak ada gunanya apakah Ayub setia atau tidak!—Ayub 4:12-18; 15:15; 22:2, 3; 25:4-6.
Pernahkah Saudara menghibur orang yang sedang mengalami kesusahan yang berat? Pasti itu tidak mudah. Ada pelajaran penting yang bisa kita dapatkan dari kisah ini. Dari teman-teman palsu Ayub, kita bisa tahu hal-hal apa saja yang tidak boleh kita ucapkan. Kata-kata mereka mungkin terdengar hebat dan masuk akal, tapi mereka sama sekali tidak punya rasa kasihan kepada Ayub. Mereka bahkan tidak pernah menyebut nama Ayub sewaktu berbicara kepadanya! Mereka tidak peduli perasaan Ayub yang sedang berduka dan tidak bersikap lembut kepadanya.a Jadi, kalau ada orang yang sedang susah, cobalah untuk tetap ramah, lembut, dan baik hati. Hibur dia dan bantu agar imannya bisa tetap kuat. Dengan begitu, dia bisa terus mengandalkan Allah dan percaya bahwa Allah itu sangat baik, berbelaskasihan, dan adil. Seandainya ketiga teman Ayub yang mengalami musibah, Ayub pasti akan menghibur mereka. (Ayub 16:4, 5) Tapi, Ayub tidak mendapatkan perlakuan seperti itu dari teman-temannya. Jadi, bagaimana tanggapan Ayub? Apakah kata-kata mereka ada pengaruhnya atas integritas Ayub?
Ayub Tetap Tegar
Sebelum perdebatan itu terjadi, Ayub sebenarnya sudah tertekan dengan berbagai musibah yang dia alami. Dia sendiri mengakui bahwa kesulitannya membuat dia seperti ”orang yang putus asa” sehingga dia kadang ”bicara sembarangan”. (Ayub 6:3, 26) Kita bisa memakluminya karena Ayub pasti sedang merasa susah. Kata-kata Ayub juga menunjukkan bahwa dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Semua musibah yang menimpa Ayub dan keluarganya terjadi secara mendadak dan tampaknya tidak mungkin disebabkan oleh manusia. Jadi, Ayub mengira bahwa Yehuwa-lah penyebabnya. Tapi, Ayub membuat kesimpulan yang keliru karena dia tidak tahu beberapa peristiwa penting yang terjadi di surga.
Meski begitu, Ayub tetap punya iman yang teguh dan kuat. Imannya kelihatan jelas dari kata-katanya selama perdebatan yang panjang itu. Kata-katanya masih menyentuh hati, menguatkan, dan bermanfaat bagi kita sekarang. Misalnya, sewaktu Ayub memuliakan Allah atas karya ciptaan-Nya yang menakjubkan, dia menyebutkan hal-hal yang tidak mungkin diketahui manusia kalau bukan Pencipta sendiri yang memberitahukannya. Sebagai contoh, jauh sebelum para ilmuwan mengetahuinya, Ayub mengatakan bahwa Yehuwa ”menggantung bumi di kekosongan”.b (Ayub 26:7) Selain itu, sewaktu Ayub membicarakan tentang harapan di masa depan, dia punya harapan yang sama seperti yang dimiliki oleh orang-orang setia lainnya. Ayub percaya bahwa seandainya dia mati, Allah akan mengingat dia, merindukan dia, dan menghidupkan dia lagi.—Ayub 14:13-15; Ibrani 11:17-19, 35.
Nah, bagaimana dengan pandangan ketiga teman palsu Ayub tentang integritas? Mereka berpendapat bahwa integritas manusia tidak ada gunanya bagi Allah. Apa Ayub ikut-ikutan terpengaruh pandangan mereka? Sama sekali tidak! Ayub sangat yakin bahwa integritas itu penting bagi Allah. Tanpa ragu, Ayub mengatakan tentang Yehuwa: ”Dia mengetahui integritasku.” (Ayub 31:6) Tidak hanya itu, Ayub juga menunjukkan bahwa tuduhan teman-temannya tentang integritasnya itu keliru. Jadi, dia membuat pembelaan panjang yang akhirnya bisa membungkam mereka.
Ayub mengerti bahwa integritas itu berarti tetap setia dalam segala hal. Dia menjelaskan apa saja yang dia lakukan setiap hari untuk mempertahankan integritasnya. Misalnya, dia tidak mau melakukan segala bentuk penyembahan berhala. Dia juga bersikap baik dan sopan kepada orang lain. Dia tidak berpikiran dan berbuat cabul serta menghormati perkawinannya. Yang terutama, dia tetap setia dan mengabdi kepada satu-satunya Allah yang benar, Yehuwa. Itulah sebabnya Ayub bisa dengan yakin mengatakan, ”Sampai mati aku akan mempertahankan integritasku!”—Ayub 27:5, catatan kaki; 31:1, 2, 9-11, 16-18, 26-28.
Ayub tetap mempertahankan integritasnya
Tirulah Iman Ayub
Apakah Saudara setuju dengan pandangan Ayub tentang integritas? Memang mudah untuk mengatakan bahwa kita punya integritas, tapi yang penting adalah membuktikannya lewat tindakan kita. Kalau kita sungguh-sungguh mengabdi kepada Allah, kita akan menaati Dia dan melakukan apa yang Dia sukai dalam kehidupan sehari-hari, bahkan sewaktu kita sedang susah. Dengan begitu, seperti yang Ayub lakukan dulu, kita bisa membuat Yehuwa senang dan membuat Setan gigit jari. Inilah cara terbaik untuk meniru iman Ayub!
Tapi, kisah Ayub belum berakhir. Ayub lupa satu hal yang paling penting. Dia hanya membela dirinya sendiri, sampai-sampai dia lupa membela nama baik Yehuwa. Jadi, Ayub perlu dinasihati dan dibantu supaya punya pandangan yang benar. Selain itu, dia perlu segera dihibur karena masih sangat sedih dan menderita. Apa yang Yehuwa lakukan untuk hamba-Nya yang beriman dan setia ini? Artikel berikut akan menjawabnya.
a Anehnya, Elifaz merasa bahwa dia dan kedua temannya sudah berbicara dengan lembut kepada Ayub, mungkin karena nada suara mereka tidak meninggi. (Ayub 15:11) Tapi, meski diucapkan dengan lembut, kata-kata seseorang bisa tetap kasar dan menyakitkan.
b Menurut bukti yang ada, teori bahwa bumi ini tidak membutuhkan penopang apa pun mulai diterima oleh para ilmuwan sekitar 3.000 tahun setelah kata-kata ini ditulis. Tapi, kata-kata Ayub baru terbukti dengan jelas dan bisa dilihat oleh masyarakat umum setelah ada foto-foto bumi yang diambil dari luar angkasa.
-
-
Yehuwa Menyembuhkan Kepedihan HatinyaTirulah Iman Mereka
-
-
TIRULAH IMAN MEREKA | AYUB
Yehuwa Menyembuhkan Kepedihan Hatinya
Keempat pria itu akhirnya duduk membisu. Yang mungkin terdengar hanyalah embusan angin yang hangat dari Gurun Arab. Setelah perdebatan yang panjang dan melelahkan, Ayub akhirnya kehabisan kata-kata. Coba bayangkan dia duduk sambil menatap tajam ketiga temannya, yaitu Elifaz, Bildad, dan Zofar. Dia seolah-olah menantang mereka apakah mereka masih berani menuduhnya. Tapi, mereka tidak berani menatap Ayub. Kenapa? Karena semua ”omong kosong” mereka yang kedengarannya hebat dan kata-kata mereka yang menyakitkan ternyata sia-sia. (Ayub 16:3) Yang ada, Ayub malah semakin bertekad untuk mempertahankan integritasnya.
Ayub mungkin merasa bahwa tinggal integritas yang dia miliki. Dia sudah kehilangan semua kekayaan dan sepuluh anaknya. Semua teman dan tetangganya tidak membantu dan menghormati dia lagi. Dia bahkan terkena penyakit parah. Sekujur tubuhnya dipenuhi koreng dan tertutup belatung. Bau napasnya pun menjijikkan. (Ayub 7:5; 19:17; 30:30) Tapi, justru yang membuat Ayub sangat marah adalah kata-kata ketiga temannya. Jadi, dia bertekad untuk membuktikan bahwa dirinya bukanlah orang bejat seperti yang mereka tuduhkan. Ayub mati-matian membela dirinya. Mereka pun akhirnya bungkam dan kehabisan kata-kata. Sayangnya, rasa sakit di tubuh dan di hatinya tidak hilang. Dia benar-benar butuh dihibur!
Kita bisa mengerti kenapa Ayub tidak berpikir jernih pada waktu itu. Dia butuh bimbingan dan koreksi. Dia juga butuh orang yang dengan tulus mau membantu dan menghibur dia. Ketiga temannya itu seharusnya menghibur dia, tapi mereka justru menyakitinya. Pernahkah Saudara merasa seperti Ayub? Pernahkah Saudara dikecewakan oleh teman-teman Saudara? Kita akan mencari tahu bagaimana Allah Yehuwa menolong Ayub dan apa tanggapan Ayub. Dengan begitu, kita bisa mendapatkan pelajaran penting dari kisah ini dan semakin yakin pada janji Yehuwa.
Teman yang Bijaksana dan Baik
Kisah Ayub pun berlanjut. Ternyata, ada seorang pria lain di dekat sana. Namanya Elihu, dan dia lebih muda daripada mereka semua. Dari tadi, telinganya panas mendengarkan mereka berempat berdebat. Dia sangat tidak suka dengan apa yang dia dengar.
Elihu kesal terhadap Ayub karena Ayub terpancing untuk ”membuktikan bahwa yang benar adalah dirinya, dan bukan Allah”. Tapi, Elihu juga kasihan kepada Ayub. Dia bisa merasakan kepedihan dan ketulusan Ayub. Dia tahu bahwa Ayub butuh dihibur dan dibimbing. Tapi, Elihu juga sangat kesal dengan ketiga teman palsu Ayub! Mereka malah mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan untuk menghancurkan iman, harga diri, dan integritas Ayub. Yang lebih parah, mereka seolah-olah memberi kesan bahwa Allah itu jahat. Setelah mendengar semua itu, Elihu merasa sudah saatnya dia angkat suara.—Ayub 32:2-4, 18.
Elihu berkata, ”Aku masih muda dan kalian sudah berumur. Maka aku menghormati kalian dan menahan diri. Aku tidak berani menyampaikan apa yang aku ketahui.” Dia melanjutkan, ”Orang berumur belum tentu berhikmat, dan bukan orang tua saja yang bisa mengerti apa yang benar.” (Ayub 32:6, 9) Itu terbukti benar dari kata-kata Elihu selanjutnya. Cara dia berbicara kepada Ayub sangat berbeda dari Elifaz, Bildad, dan Zofar. Dia meyakinkan Ayub bahwa kata-katanya tidak akan membuat Ayub semakin tertekan. Dia juga menghormati Ayub dengan memanggil namanya saat berbicara dan mengakui bahwa ketiga temannya tadi memperlakukannya dengan tidak hormat.a Elihu berkata dengan sopan, ”Sekarang, Ayub, tolong dengar kata-kataku.”—Ayub 33:1, 7; 34:7.
Elihu menggunakan nama Ayub saat berbicara dengan Ayub. Dia juga memperlakukannya dengan baik dan penuh hormat
Elihu menasihati Ayub dengan terus terang. Dia berkata, ”Aku mendengarmu berkata, . . . ’Aku murni, tanpa pelanggaran; aku bersih, tanpa kesalahan. Tapi karena suatu alasan, Allah menyerangku.’” Elihu langsung menyatakan apa kesalahan Ayub. Dia tidak mau Ayub terus punya cara berpikir yang keliru. Dia bertanya, ”Apa kamu begitu yakin bahwa kamu benar, sampai kamu berkata, ’Aku lebih benar daripada Allah’?” Dia melanjutkan, ”Yang kamu katakan itu tidak benar.” (Ayub 33:8-12; 35:2) Elihu mengerti bahwa Ayub sangat marah karena kehilangan hampir semuanya dan malah diperlakukan buruk oleh ketiga temannya. Tapi, dia memperingatkan Ayub, ”Berhati-hatilah. Jangan sampai kamu begitu marah sehingga kamu penuh kebencian.”—Ayub 36:18.
Elihu Mengingatkan Ayub tentang Kebaikan Yehuwa
Yang terpenting, Elihu membela Allah Yehuwa. Dengan kata-kata yang sederhana tapi penuh makna, dia menyatakan kebenaran penting ini: ”Tidak mungkin Allah yang benar bertindak jahat, dan mustahil Yang Mahakuasa berbuat salah! . . . Yang Mahakuasa tidak akan membengkokkan keadilan.” (Ayub 34:10, 12) Elihu berupaya menyadarkan Ayub bahwa Yehuwa itu baik. Misalnya, Yehuwa tidak langsung turun tangan untuk menghukum Ayub, padahal Ayub dengan ceroboh mengucapkan kata-kata yang tidak menghormati Yehuwa. (Ayub 35:13-15) Meski begitu, Elihu tetap rendah hati. Dia tidak menganggap bahwa dirinya tahu segalanya tentang Allah. Dia mengakui, ”Allah lebih hebat daripada yang bisa kita ketahui.”—Ayub 36:26.
Nasihat Elihu memang terus terang. Tapi, Elihu menyampaikannya dengan sopan. Dia menyebutkan sebuah harapan yang luar biasa, yaitu bahwa Yehuwa suatu saat akan membuat Ayub sehat lagi. Allah berkata, ”Biarlah tubuh [Ayub] menjadi lebih segar daripada saat dia muda; biarlah dia menjadi bugar lagi seperti ketika dia muda.” Selain itu, Elihu tidak hanya menasihati Ayub, tapi dia juga ingin mendengar tanggapan Ayub. Elihu berkata, ”Berbicaralah, karena aku mau kamu terbukti benar.” (Ayub 33:25, 32) Tapi, Ayub tidak memberikan tanggapan. Mungkin, Ayub sangat tersentuh dengan nasihat Elihu sampai-sampai dia merasa tidak perlu membela diri lagi. Bisa jadi, Ayub meneteskan air mata karena merasakan kepedulian Elihu.
Kita bisa belajar banyak hal dari kedua pria beriman ini. Dari Elihu, kita belajar caranya memberikan nasihat dan menghibur teman yang sedang butuh bantuan. Teman yang baik akan berani memberi tahu apa kelemahan kita atau memperingatkan kita jika kita hampir salah langkah. (Amsal 27:6) Kita ingin menjadi teman yang seperti itu. Kita mau menghibur orang yang perlu bantuan, bahkan tetap ramah kepada mereka meski mereka bicara sembarangan. Selain itu, kita semua butuh nasihat dan bimbingan. Kalau kita dinasihati, kita bisa belajar dari Ayub untuk tidak menutup telinga dan mau menerima nasihat dengan rendah hati. Kalau kita mau menerimanya, itu bisa menyelamatkan kehidupan kita.—Amsal 4:13.
”Dari dalam Badai”
Saat Elihu berbicara, dia berkali-kali menyebutkan angin, awan, petir, dan guntur. Dia berkata, ”Dengarkan suara [Yehuwa] yang menggelegar.” Tak lama kemudian, Elihu menyebutkan ”angin badai”. (Ayub 37:2, 9) Kelihatannya, saat Elihu berbicara, mereka melihat badai yang mulai terbentuk. Lama-lama, badai itu semakin besar dan kuat. Lalu, hal yang jauh lebih mengejutkan pun terjadi. Yehuwa berbicara dari dalam badai itu!—Ayub 38:1.
Bayangkan betapa istimewanya Ayub karena seolah-olah dia ada di ruang kelas ilmu pengetahuan alam yang gurunya adalah Pencipta alam semesta sendiri!
Saat membaca buku Ayub, kita pasti lega karena akhirnya sampai di bagian yang berisi kata-kata Yehuwa kepada Ayub. Kata-kata Yehuwa seperti badai yang menyapu semua omong kosong yang dilontarkan Elifaz, Bildad, dan Zofar. Bahkan, Yehuwa baru mau berbicara kepada mereka setelah Dia berbicara kepada Ayub. Sekarang, Dia hanya ingin menasihati Ayub dengan lembut, seperti seorang ayah menasihati anaknya.
Yehuwa memahami kepedihan Ayub. Dia merasa kasihan kepadanya, dan seperti itulah perasaan Yehuwa setiap kali melihat anak-anak yang Dia sayangi menderita. (Yesaya 63:9; Zakharia 2:8) Dia juga tahu bahwa Ayub ”berbicara tanpa pengetahuan” sehingga masalahnya malah semakin buruk. Jadi, Yehuwa memperbaiki cara berpikir Ayub dengan mengajukan serentetan pertanyaan, seperti: ”Di mana kamu saat Aku menjadikan bumi? Beri tahu Aku, kalau kamu pikir kamu mengerti.” Pada awal penciptaan, ”bintang-bintang pagi”, yaitu malaikat-malaikat Allah, bersorak dengan gembira. (Ayub 38:2, 4, 7) Pastilah Ayub tidak tahu apa-apa tentang itu.
Yehuwa berbicara dari dalam badai. Dia memperbaiki cara berpikir Ayub dengan lembut
Lalu, Yehuwa bercerita tentang ciptaan-Nya. Ayub seolah-olah mendapat penjelasan singkat tentang apa yang sekarang kita kenal dengan ilmu pengetahuan alam, seperti astronomi, biologi, geologi, dan fisika. Yehuwa juga menyebutkan sejumlah binatang yang hidup di tempat Ayub tinggal, yaitu singa, burung gagak, kambing gunung, keledai liar, sapi jantan liar, burung unta, kuda, burung falkon, burung elang, Behemot (mungkin kuda nil), juga Lewiatan (mungkin buaya). Bayangkan betapa istimewanya Ayub karena seolah-olah dia ada di ruang kelas ilmu pengetahuan alam yang gurunya adalah Pencipta alam semesta sendiri!b
Pelajaran tentang Rendah Hati dan Kasih
Kenapa Yehuwa mengajar dengan cara itu? Yehuwa ingin Ayub lebih rendah hati. Ayub sempat mengeluh karena mengira Yehuwa berlaku tidak adil kepadanya. Tapi, itu hanya membuatnya semakin menderita karena hubungannya dengan Yehuwa menjadi tidak akrab lagi. Jadi, Yehuwa berkali-kali menanyakan di mana Ayub saat segala sesuatu diciptakan. Yehuwa juga bertanya apakah Ayub sanggup memberi makan atau menjinakkan binatang-binatang yang Yehuwa ciptakan. Kalau Ayub saja tidak mengerti hal-hal seperti itu, apakah cocok jika dia menghakimi Penciptanya? Bukankah tindakan dan cara berpikir Yehuwa jauh lebih hebat daripada Ayub?
Ayub tidak melawan Yehuwa atau membela diri
Semua perkataan Yehuwa menunjukkan bahwa Dia sebenarnya sangat menyayangi Ayub. Yehuwa seolah-olah berkata kepada Ayub, ’Nak, saya bisa menciptakan dan merawat semua ini. Masa kamu pikir Bapak tidak sanggup menjagamu? Apa mungkin Bapak sengaja meninggalkanmu, merenggut anak-anakmu, masa depanmu, dan kesehatanmu? Apa kamu lupa kalau hanya Bapak yang bisa menyembuhkan kepedihanmu dan mengembalikan semua hal yang sudah hilang darimu?’
Dari semua pertanyaan yang Yehuwa ajukan, Ayub hanya menjawab dua kali. Dia tidak melawan atau membela diri. Dia mengakui dengan rendah hati bahwa masih banyak yang tidak dia ketahui. Dia pun menyesali kata-katanya. (Ayub 40:4, 5; 42:1-6) Dari peristiwa ini, kita bisa melihat iman Ayub yang hebat. Setelah mengalami begitu banyak kesulitan, dia tetap beriman kepada Yehuwa. Dia mau menerima nasihat Yehuwa dan berubah. Kita juga bisa memikirkan pertanyaan ini: ’Kalau saya dinasihati, apa saya mau menerimanya dengan rendah hati?’ Kita semua butuh nasihat. Kalau kita mau menerimanya, itu berarti kita meniru iman Ayub.
”Kalian Tidak Berkata Benar tentang Aku”
Sekarang, Yehuwa bertindak untuk menghibur Ayub. Yehuwa berbicara kepada Elifaz, kelihatannya yang tertua dari ketiga teman palsu Ayub. Dia berkata, ”Aku marah kepadamu dan kedua temanmu. Kalian tidak berkata benar tentang Aku, tidak seperti hamba-Ku Ayub.” (Ayub 42:7) Perhatikan kata-kata itu. Apa memang semua yang diucapkan tiga teman Ayub itu salah? Apa semua yang diucapkan Ayub itu benar? Tidak.c Tapi, keadaan Ayub sangat berbeda dengan ketiga temannya itu. Ayub sedang putus asa, berduka, dan kecil hati karena dituduh yang tidak-tidak. Jadi, maklum saja kalau dia kadang berbicara tanpa dipikir. Sedangkan, Elifaz dan kedua temannya tidak sedang susah. Mereka sengaja mengucapkan kata-kata yang menyakitkan karena mereka sombong dan kurang beriman kepada Allah. Mereka tidak hanya melukai perasaan seorang pria yang tidak bersalah. Tapi yang lebih parah, mereka menggambarkan Yehuwa sebagai Allah yang jahat dan kejam!
Makanya tidak heran kalau Yehuwa meminta ketiga pria itu untuk memberikan persembahan yang mahal. Mereka harus mempersembahkan tujuh sapi jantan dan tujuh domba jantan. Dalam Hukum Musa, jika seorang imam besar berbuat dosa dan membuat seluruh bangsa bersalah, dia harus memberikan sapi jantan sebagai persembahan dosa. (Imamat 4:3) Itu adalah persembahan termahal yang dituntut Hukum Musa. Selain itu, Yehuwa mengatakan bahwa Dia akan menerima persembahan ketiga pria itu hanya kalau Ayub berdoa demi mereka.d (Ayub 42:8) Yehuwa memulihkan nama baik Ayub! Pastilah hati Ayub terhibur karena merasakan sendiri bahwa Allah itu adil.
”Hamba-Ku Ayub akan berdoa demi kalian.”—Ayub 42:8
Yehuwa ingin Ayub mengampuni ketiga pria yang sudah menyakiti hati Ayub. Dia yakin Ayub pasti akan melakukannya, dan memang itulah yang Ayub lakukan. (Ayub 42:9) Integritas Ayub makin terlihat jelas dari ketaatannya, bukan hanya dari kata-katanya. Karena itulah, Yehuwa menghujaninya dengan banyak berkat.
”Penuh Kasih Sayang”
Yehuwa ”penuh kasih sayang dan belas kasihan” kepada Ayub. (Yakobus 5:11) Apa buktinya? Yehuwa membuat Ayub sehat lagi. Bayangkan perasaannya saat dia merasakan bahwa tubuhnya menjadi ”lebih segar daripada saat dia muda”, persis seperti yang pernah Elihu katakan! Keluarga dan teman-temannya datang untuk menghibur dan memberinya hadiah. Yehuwa mengembalikan kekayaan Ayub menjadi dua kali lebih banyak. Lalu, bagaimana Yehuwa menghibur Ayub atas musibah terburuknya, yaitu kematian semua anaknya? Ayub dan istrinya pasti merindukan sepuluh anaknya yang telah tiada. Tapi, mereka cukup terhibur karena diberkati dengan sepuluh anak lagi! Yehuwa juga memberikan Ayub umur panjang. Ayub hidup 140 tahun lagi sehingga bisa melihat anak cucunya sampai empat generasi. Di akhir kisahnya, kita membaca, ”Setelah menikmati hidup yang panjang dan memuaskan, Ayub akhirnya meninggal.” (Ayub 42:10-17) Di Firdaus, Ayub dan istri tercintanya akan berkumpul kembali dengan keluarga mereka, termasuk sepuluh anak yang Setan renggut dari mereka.—Yohanes 5:28, 29.
Kenapa Yehuwa memberkati Ayub dengan sangat limpah? Alkitab menjawab, ”Kalian mendengar tentang ketekunan Ayub.” (Yakobus 5:11) Ayub bertekun meski mengalami begitu banyak penderitaan yang mungkin sulit kita bayangkan. Dari kata ”ketekunan”, kita belajar bahwa Ayub tidak hanya berhasil melewati semua masalahnya. Tapi, dia juga tetap beriman dan mengasihi Yehuwa. Dia tidak menjadi sakit hati, tapi malah rela mengampuni teman-temannya yang sengaja melukai perasaannya. Dia tetap yakin pada janji Yehuwa dan terus mempertahankan miliknya yang paling berharga, yaitu integritasnya.—Ayub 27:5.
Setan terus berupaya membuat kita kecil hati seperti yang dia lakukan kepada Ayub. Jadi, kita semua perlu bertekun. Kalau kita beriman, tetap rendah hati, rela mengampuni, dan bertekad mempertahankan integritas kita, kita pasti punya masa depan yang indah. (Ibrani 10:36) Tirulah iman Ayub. Jika kita setia seperti dia, Setan pasti tidak senang. Tapi, kita akan membuat hati Yehuwa senang, karena Dia sangat menyayangi kita.
a Di Alkitab, ada sembilan pasal yang berisi kata-kata Elifaz, Bildad, dan Zofar. Tapi, tidak sekali pun mereka memanggil nama Ayub saat berbicara kepadanya.
b Kadang, Yehuwa menggambarkan suatu hal berdasarkan kenyataan lalu beralih ke gaya puisi tanpa kita sadari. Itulah hebatnya cara Dia mengajar. (Lihat contohnya di Ayub 41:1, 7, 8, 19-21.) Tapi tidak soal dengan cara apa Yehuwa mengajar, tujuannya adalah untuk membuat Ayub semakin menghormati Penciptanya.
c Malah, Rasul Paulus belakangan menggunakan kata-kata Elifaz dan menunjukkan bahwa kata-katanya itu benar. (Ayub 5:13; 1 Korintus 3:19) Meski kata-kata Elifaz benar, itu tidak sesuai dengan keadaan Ayub.
d Tidak ada catatan dalam Alkitab yang menunjukkan bahwa Ayub diminta untuk memberikan persembahan yang sama demi istrinya.
-