-
Yesus Mengajar di Perea dalam Perjalanan ke YudeaYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
Yesus lalu berkata, ”Lazarus sahabat kita sudah tidur, tapi aku pergi ke sana untuk membangunkan dia.” Para murid mungkin berpikir bahwa Lazarus memang sedang beristirahat, jadi mereka berkata, ”Tuan, kalau dia tidur, dia akan sembuh.” Maka Yesus dengan terus terang berkata, ”Lazarus sudah mati. . . . Ayo kita pergi ke tempatnya.”—Yohanes 11:11-15.
Tomas tahu bahwa Yesus bisa dibunuh di Yudea, tapi dia mau mendukung Yesus. Jadi dia berkata kepada murid-murid lain, ”Ayo kita pergi juga, supaya kita mati bersama dia.”—Yohanes 11:16.
-
-
”Kebangkitan dan Kehidupan”Yesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 90
”Kebangkitan dan Kehidupan”
SAAT YESUS TIBA DI BETANI, LAZARUS SUDAH MENINGGAL
”KEBANGKITAN DAN KEHIDUPAN”
Yesus sekarang memasuki Betani, sebuah desa yang terletak sekitar tiga kilometer di timur Yerusalem. Maria dan Marta sedang berduka karena Lazarus saudara mereka baru meninggal. Banyak orang datang untuk menghibur mereka.
Ketika Marta mendengar bahwa Yesus hampir sampai, dia cepat-cepat pergi menemui Yesus. Marta mengatakan, ”Tuan, kalau saja Tuan ada di sini, saudaraku tidak akan mati.” Selama empat hari terakhir, mungkin itulah yang dipikirkan Marta dan Maria. Meski begitu, Marta tidak putus asa. Dia percaya Yesus masih bisa melakukan sesuatu untuk saudaranya. ”Aku yakin, apa pun yang Tuan minta kepada Allah akan Allah berikan,” katanya.—Yohanes 11:21, 22.
Yesus menjawab, ”Saudaramu akan hidup lagi.” Marta berpikir bahwa Yesus sedang membicarakan kebangkitan di bumi di masa depan. Marta tahu bahwa Abraham dan hamba-hamba Allah lainnya juga memercayai kebangkitan. Jadi dia berkata, ”Aku tahu dia akan hidup lagi ketika kebangkitan terjadi pada hari terakhir.”—Yohanes 11:23, 24.
Namun, apakah Yesus bisa membangkitkan Lazarus saat itu juga? Dia mengingatkan Marta bahwa dia mempunyai kuasa dari Allah untuk mengalahkan kematian. Yesus berkata, ”Orang yang beriman kepadaku akan hidup lagi meskipun sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan beriman kepadaku tidak akan pernah mati.”—Yohanes 11:25, 26.
Yesus tidak memaksudkan bahwa para muridnya yang saat itu masih hidup tidak akan pernah mati. Bahkan Yesus sendiri harus mati, seperti yang sudah dia beri tahukan kepada para rasulnya. (Matius 16:21; 17:22, 23) Jadi, apa maksud Yesus? Yesus menunjukkan bahwa semua orang yang beriman kepadanya akan mendapat kehidupan abadi. Jika mereka mati, mereka akan mendapat kehidupan abadi setelah dibangkitkan. Tapi, ada juga hamba-hamba Allah di akhir zaman yang mungkin tidak akan pernah mati. Jadi, tidak soal mereka pernah mati atau tidak, mereka tidak akan mengalami kematian yang abadi.
Sekarang, apakah Yesus sanggup membangkitkan Lazarus, yang sudah mati beberapa hari? Yesus mengatakan, ”Akulah kebangkitan dan kehidupan.” Dia lalu bertanya kepada Marta, ”Apa kamu percaya?” Marta menjawab, ”Ya, Tuan, aku percaya Tuan adalah Kristus, Putra Allah, yang datang ke dunia.”Marta beriman bahwa Yesus bisa melakukan sesuatu pada hari itu juga. Dia pun cepat-cepat kembali ke rumah dan berbisik kepada Maria, ”Guru sudah datang, dan dia panggil kamu.” (Yohanes 11:25-28) Maria langsung pergi untuk menemui Yesus. Orang-orang mengikuti dia karena berpikir bahwa dia akan mengunjungi makam Lazarus.
Ketika melihat Yesus, Maria sujud di kakinya dan menangis. Dia mengulangi kata-kata Marta, ”Tuan, kalau saja Tuan ada di sini, saudaraku tidak akan mati.” Karena melihat Maria dan banyak orang lainnya menangis, Yesus sangat sedih dan meneteskan air mata. Orang-orang di sana bisa melihat bahwa dia sangat menyayangi Lazarus. Tapi ada juga yang berpikir, ’Kalau Yesus bisa menyembuhkan orang yang buta dari lahir, kenapa dia tidak bisa mencegah Lazarus meninggal?’—Yohanes 11:32, 37.
-
-
Lazarus DibangkitkanYesus—Jalan, Kebenaran, Kehidupan
-
-
BAB 91
Lazarus Dibangkitkan
KEBANGKITAN LAZARUS
RENCANA SANHEDRIN UNTUK MEMBUNUH YESUS
Setelah Yesus bertemu dengan Marta dan Maria di dekat Betani, mereka pergi ke makam Lazarus. Makam itu adalah sebuah gua yang ditutup dengan batu besar. Yesus memerintahkan, ”Singkirkan batunya.” Karena tidak memahami apa yang akan Yesus lakukan, Marta keberatan dan berkata, ”Tuan, dia pasti sudah bau, karena dia sudah mati empat hari.” Namun Yesus mengatakan, ”Bukankah aku sudah bilang, kalau kamu percaya kamu akan lihat kemuliaan Allah?”—Yohanes 11:39, 40.
Jadi, batu itu pun disingkirkan. Yesus lalu memandang ke atas dan berdoa, ”Bapak, aku bersyukur kepada-Mu karena Engkau telah mendengar aku. Aku tahu Engkau memang selalu mendengar aku, tapi aku berbicara demi orang-orang yang berdiri di sini, supaya mereka percaya bahwa Engkau mengutus aku.” Dengan berdoa, Yesus menunjukkan kepada orang-orang bahwa apa yang akan dia lakukan bisa terjadi karena kuasa Allah. Yesus lalu memanggil dengan suara keras, ”Lazarus, keluarlah!” Dan saat itu juga, keluarlah Lazarus. Tangan dan kakinya masih terbungkus kain, dan mukanya juga masih tertutup kain. ”Lepaskan kainnya supaya dia bisa jalan,” kata Yesus.—Yohanes 11:41-44.
Banyak orang Yahudi yang datang untuk menghibur Maria dan Marta menyaksikan mukjizat luar biasa ini. Mereka pun beriman kepada Yesus. Tapi, ada juga yang pergi untuk memberi tahu orang Farisi tentang apa yang Yesus lakukan. Maka, orang Farisi dan para imam kepala mengadakan rapat di Sanhedrin, mahkamah agung Yahudi. Salah satu anggota Sanhedrin adalah imam besar yang bernama Kayafas. Dengan panik, para anggota mahkamah itu berkata, ”Apa yang harus kita lakukan? Orang itu membuat banyak mukjizat. Kalau kita membiarkan dia begini terus, semua orang akan beriman kepadanya, dan orang Romawi akan datang dan mengambil alih tempat kita maupun bangsa kita.” (Yohanes 11:47, 48) Mereka sudah mendengar laporan dari orang-orang yang melihat langsung Yesus ”membuat banyak mukjizat” dengan kuasa dari Allah. Tapi bukannya senang, mereka malah menganggap Yesus sebagai saingan mereka.
Kebangkitan Lazarus merupakan tamparan keras bagi orang Saduki yang tidak percaya kebangkitan. Kayafas, yang adalah orang Saduki, berbicara di depan Sanhedrin, ”Kalian tidak tahu apa-apa, dan kalian tidak sadar bahwa lebih baik satu orang mati demi satu bangsa daripada seluruh bangsa dimusnahkan.”—Yohanes 11:49, 50; Kisah 5:17; 23:8.
Maksud Kayafas, Yesus harus dibunuh supaya pemimpin agama Yahudi tidak kehilangan pengikut. Tapi, Alkitab mengatakan bahwa kata-kata itu tidak berasal ”dari pikiran [Kayafas] sendiri”. Kayafas adalah imam besar, jadi Yehuwa menggunakan dia untuk bernubuat bahwa kematian Yesus akan menjadi tebusan. Yesus akan menebus semua ’anak Allah yang terpencar’, bukan hanya orang Yahudi.—Yohanes 11:51, 52.
Kayafas berhasil memengaruhi Sanhedrin untuk membunuh Yesus. Apakah Nikodemus, seorang anggota Sanhedrin yang baik kepada Yesus, memberi tahu Yesus tentang rencana ini? Kita tidak tahu pasti, tapi mungkin itulah yang membuat Yesus menjauh dari Yerusalem, karena waktu yang Allah tetapkan untuk kematiannya belum tiba.
-