PERPUSTAKAAN ONLINE Menara Pengawal
PERPUSTAKAAN ONLINE
Menara Pengawal
Indonesia
  • ALKITAB
  • PUBLIKASI
  • PERHIMPUNAN
  • Umat Allah Harus Mengasihi Kebaikan Hati
    Menara Pengawal—2004 | 15 April
    • Umat Allah Harus Mengasihi Kebaikan Hati

      ”Apa yang Yehuwa minta sebagai balasan darimu selain menjalankan keadilan dan mengasihi kebaikan hati dan bersahaja dalam berjalan dengan Allahmu?”​—MIKHA 6:8.

      1, 2. (a) Mengapa kita hendaknya tidak heran bahwa Yehuwa mengharapkan umat-Nya memperlihatkan kebaikan hati? (b) Pertanyaan apa saja mengenai kebaikan hati yang patut kita pertimbangkan?

      YEHUWA adalah Allah kebaikan hati. (Roma 2:4; 11:22) Pasangan pria wanita pertama, Adam dan Hawa, pasti sangat menghargai fakta itu! Di Taman Eden, mereka dikelilingi oleh banyak ciptaan fisik yang membuktikan kebaikan hati Allah kepada manusia, yang mampu menikmati semuanya itu. Dan, Allah senantiasa baik hati kepada semua orang, bahkan kepada orang yang tidak berterima kasih dan fasik.

      2 Karena diciptakan menurut gambar Allah, manusia sanggup mencerminkan sifat-sifat yang saleh. (Kejadian 1:26) Tidak heran bahwa Yehuwa mengharapkan agar kita memperlihatkan kebaikan hati. Sebagaimana dinyatakan Mikha 6:8, umat Allah harus ”mengasihi kebaikan hati”. Tetapi, apa kebaikan hati itu? Bagaimana sifat itu berkaitan dengan sifat-sifat saleh lainnya? Karena manusia sanggup mempertunjukkan kebaikan hati, mengapa dunia ini begitu kejam dan bengis? Sebagai orang Kristen, mengapa kita hendaknya berupaya memperlihatkan kebaikan hati sewaktu berurusan dengan orang lain?

      Apa Kebaikan Hati Itu?

      3. Bagaimana Saudara akan mendefinisikan kebaikan hati?

      3 Kebaikan hati dipertunjukkan dengan memperlihatkan minat yang aktif akan kesejahteraan orang lain. Sifat itu diperlihatkan melalui tindakan yang bermanfaat dan perkataan yang bertimbang rasa. Berbaik hati berarti melakukan apa yang baik dan bukan melakukan apa pun yang mencelakakan. Seorang yang baik hati bersifat ramah, lembut, simpatik, dan pemurah. Ia bersikap murah hati dan bertimbang rasa terhadap orang lain. Rasul Paulus menasihati orang Kristen, ”Kenakanlah keibaan hati yang lembut, kebaikan hati, kerendahan hati, kelemahlembutan, dan kepanjangsabaran.” (Kolose 3:12) Maka, kebaikan hati adalah bagian dari pakaian kiasan setiap orang Kristen sejati.

      4. Bagaimana Yehuwa telah mengambil inisiatif untuk memperlihatkan kebaikan hati kepada umat manusia?

      4 Allah Yehuwa telah mengambil inisiatif dalam memperlihatkan kebaikan hati. Sebagaimana yang Paulus katakan, ketika ”kebaikan hati dan kasih kepada manusia di pihak Juru Selamat kita, Allah, dibuat nyata”, pada saat itulah ”ia menyelamatkan kita melalui pemandian yang membawa kita kepada kehidupan dan dengan menjadikan kita baru melalui roh kudus”. (Titus 3:4, 5) Allah ’memandikan’, atau mentahirkan, orang Kristen terurap dalam darah Yesus, dengan menerapkan manfaat korban tebusan Kristus demi mereka. Mereka juga dibuat baru melalui roh kudus, menjadi ”ciptaan baru” sebagai putra-putra Allah yang diperanakkan roh. (2 Korintus 5:17) Selain itu, kebaikan hati dan kasih Allah diulurkan kepada ”kumpulan besar”, yang telah ”mencuci jubah mereka dan membuatnya putih dalam darah Anak Domba”.​—Penyingkapan 7:9, 14; 1 Yohanes 2:1, 2.

      5. Mengapa orang-orang yang dibimbing roh Allah seharusnya memperlihatkan kebaikan hati?

      5 Kebaikan hati juga merupakan bagian dari buah roh kudus, atau tenaga aktif, Allah. Paulus berkata, ”Buah roh adalah kasih, sukacita, damai, kepanjangsabaran, kebaikan hati, kebaikan, iman, kelemahlembutan, pengendalian diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal demikian.” (Galatia 5:22, 23) Kalau begitu, bukankah orang-orang yang dibimbing roh Allah seharusnya memperlihatkan kebaikan hati kepada orang lain?

      Kebaikan Hati Sejati Bukan Kelemahan

      6. Bilamana kebaikan hati itu suatu kelemahan, dan mengapa?

      6 Beberapa orang memandang kebaikan hati sebagai kelemahan. Mereka merasa bahwa seseorang harus keras, bahkan sekali-kali kasar, supaya orang lain dapat melihat kekuatannya. Namun, kenyataannya, dibutuhkan kekuatan sejati untuk benar-benar berbaik hati dan untuk tidak sampai memperlihatkan kebaikan hati yang keliru. Karena kebaikan hati yang sejati adalah bagian dari buah roh Allah, sifat ini bukan sifat yang lemah, bukan sikap serba boleh terhadap tingkah laku yang salah. Sebaliknya, kebaikan hati yang keliru adalah kelemahan yang menyebabkan seseorang menyetujui perbuatan salah.

      7. (a) Bagaimana Eli terbukti bersikap longgar? (b) Mengapa para penatua harus waspada agar tidak memperlihatkan kebaikan hati yang keliru?

      7 Sebagai contoh, perhatikan Imam Besar Eli di Israel. Ia bersikap longgar sewaktu mendisiplin putra-putranya, Hofni dan Pinehas, yang bertugas sebagai imam di tabernakel. Karena merasa tidak puas dengan porsi korban yang ditetapkan untuk mereka oleh Hukum Allah, mereka memerintahkan seorang pelayan untuk meminta daging mentah dari orang yang mempersembahkan korban sebelum lemaknya dibakar di mezbah. Putra-putra Eli juga melakukan hubungan amoral dengan wanita-wanita yang melayani di pintu masuk tabernakel. Akan tetapi, sebaliknya dari mencabut jabatan Hofni dan Pinehas, Eli hanya menghardik mereka dengan lembut. (1 Samuel 2:12-29) Tidak heran, ”firman dari Yehuwa menjadi langka pada masa itu”! (1 Samuel 3:1) Para penatua Kristen harus berhati-hati agar jangan sampai memperlihatkan kebaikan hati yang keliru kepada para pelaku kesalahan yang dapat mengancam kerohanian sidang. Kebaikan hati yang sejati tidak buta terhadap kata-kata dan perbuatan jahat yang melanggar standar-standar Allah.

      8. Bagaimana Yesus mempertunjukkan kebaikan hati yang sejati?

      8 Teladan kita, Yesus Kristus, tidak pernah melakukan kesalahan berupa mempertunjukkan kebaikan hati yang keliru. Ia adalah teladan yang sempurna untuk kebaikan hati yang sejati. Misalnya, ’ia memiliki kasih sayang yang lembut terhadap orang-orang itu karena mereka dikuliti dan dibuang seperti domba-domba tanpa gembala’. Orang-orang yang berhati jujur merasa leluasa untuk mendekati Yesus, bahkan membawa anak-anak kecil mereka kepadanya. Bayangkan kebaikan hati dan keibaan hati yang ia pertunjukkan seraya ”ia merangkul anak-anak itu serta memberkati mereka”. (Matius 9:36; Markus 10:13-16) Meskipun Yesus baik hati, ia bersikap teguh untuk apa yang benar dalam pandangan Bapak surgawinya. Yesus tidak pernah menyetujui kejahatan; ia memiliki keberanian yang Allah berikan untuk mengecam para pemimpin agama yang munafik. Sebagaimana dicatat di Matius 23:13-26, ia beberapa kali mengulangi maklumat, ”Celaka bagimu, penulis-penulis dan orang-orang Farisi, orang-orang munafik!”

      Kebaikan Hati dan Sifat-Sifat Saleh Lainnya

      9. Bagaimana kebaikan hati berkaitan dengan kepanjangsabaran dan kebaikan?

      9 Kebaikan hati berkaitan dengan sifat-sifat lain yang dihasilkan oleh roh Allah. Sifat ini dicantumkan di antara ”kepanjangsabaran” dan ”kebaikan”. Sesungguhnya, orang yang memupuk kebaikan hati mempertunjukkan sifat itu dengan menjadi panjang sabar. Ia sabar bahkan terhadap orang yang tidak baik hati. Kebaikan hati berkaitan dengan kebaikan dalam hal kebaikan hati sering kali dipertunjukkan dengan perbuatan yang bermanfaat demi orang lain. Kadang-kadang, kata Yunani yang digunakan dalam Alkitab untuk ”kebaikan hati” dapat diterjemahkan ”kebaikan”. Dipertunjukkannya sifat ini di kalangan orang Kristen masa awal begitu memukau orang kafir sehingga mereka, menurut Tertulian, menyebut para pengikut Yesus itu sebagai ’umat yang dibentuk oleh kebaikan hati’.

      10. Bagaimana kebaikan hati dan kasih saling berkaitan?

      10 Ada suatu mata rantai antara kebaikan hati dan kasih. Mengenai para pengikutnya, Yesus berkata, ”Dengan inilah semua orang akan tahu bahwa kamu adalah murid-muridku, jika kamu mempunyai kasih di antara kamu.” (Yohanes 13:35) Dan, mengenai kasih ini, Paulus mengatakan, ”Kasih itu panjang sabar dan baik hati.” (1 Korintus 13:4) Kebaikan hati juga dikaitkan dengan kasih dalam kata ”kebaikan hati yang penuh kasih”, yang sering digunakan dalam Alkitab. Ini adalah kebaikan hati yang berasal dari kasih yang loyal. Kata benda Ibrani yang diterjemahkan ”kebaikan hati yang penuh kasih” mencakup lebih dari sekadar perhatian yang lembut. Ini adalah kebaikan hati yang dengan pengasih berpaut pada sebuah objek sampai tujuan sehubungan dengan objek itu terwujud. Kebaikan hati Yehuwa yang penuh kasih, atau kasih yang loyal, dipertunjukkan dalam berbagai cara. Misalnya, hal itu terlihat sewaktu Allah bertindak untuk membebaskan dan melindungi.​—Mazmur 6:4; 40:11; 143:12.

      11. Kebaikan hati Yehuwa yang penuh kasih memberi kita jaminan apa?

      11 Kebaikan hati Yehuwa yang penuh kasih mendekatkan orang-orang kepada-Nya. (Yeremia 31:3) Sewaktu hamba-hamba Allah yang setia membutuhkan pembebasan atau pertolongan, mereka tahu bahwa kebaikan hati-Nya yang penuh kasih benar-benar adalah kasih yang loyal. Hal itu tidak akan mengecewakan mereka. Oleh karena itu, mereka dapat berdoa dengan iman, seperti yang dilakukan sang pemazmur yang mengatakan, ”Berkenaan dengan aku, aku percaya kepada kebaikan hatimu yang penuh kasih; biarlah hatiku bersukacita atas keselamatan darimu.” (Mazmur 13:5) Karena kasih Allah itu loyal, hamba-hamba-Nya dapat sepenuhnya percaya kepada-Nya. Mereka memiliki jaminan ini, ”Yehuwa tidak akan mengabaikan umatnya, ia juga tidak akan meninggalkan milik pusakanya.”​—Mazmur 94:14.

      Mengapa Dunia Ini Begitu Kejam?

      12. Kapan dan bagaimana pemerintahan yang menindas dimulai?

      12 Jawaban atas pertanyaan ini berkaitan dengan apa yang terjadi di Taman Eden. Pada awal sejarah manusia, suatu makhluk roh yang belakangan bersikap mementingkan diri dan angkuh memulai rencana untuk menjadi penguasa dunia. Sebagai hasil rancangannya, ia memang menjadi ”penguasa dunia ini”, sesungguhnya, penguasa yang sangat menindas. (Yohanes 12:31) Ia akhirnya dikenal sebagai Setan si Iblis, pribadi utama yang menentang Allah dan juga manusia. (Yohanes 8:​44; Penyingkapan 12:9) Rencananya yang mementingkan diri untuk mendirikan pemerintahan yang menyaingi pemerintahan Yehuwa yang baik hati tersingkap tidak lama setelah Hawa diciptakan. Dengan demikian, pemerintahan yang buruk dimulai ketika Adam memilih jalan hidup yang terlepas dari pemerintahan Allah, menolak mentah-mentah kebaikan hati-Nya. (Kejadian 3:​1-6) Bukannya benar-benar mendapat kebebasan, Adam dan Hawa malah berada di bawah pengaruh Iblis yang mementingkan diri dan angkuh, menjadi rakyat dari pemerintahannya.

      13-15. (a) Apa beberapa konsekuensi karena menolak pemerintahan Yehuwa yang adil-benar? (b) Mengapa dunia ini adalah suatu tempat yang bengis?

      13 Mari kita ulas beberapa konsekuensinya. Adam dan Hawa diusir dari bagian bumi yang sebelumnya adalah sebuah firdaus. Keadaan mereka berubah dari tinggal di taman yang sangat subur, lengkap dengan tumbuh-tumbuhan dan buah-buahan yang menyehatkan, ke keadaan yang sukar di luar Taman Eden. Allah berfirman kepada Adam, ”Karena engkau mendengarkan perkataan istrimu dan memakan buah dari pohon yang tentangnya aku memberikan perintah ini, ’Engkau tidak boleh memakan buahnya’, terkutuklah tanah oleh karena engkau. Dengan rasa sakit engkau akan memakan hasilnya sepanjang hari-hari kehidupanmu. Tanaman berduri serta rumput duri akan ditumbuhkannya bagimu.” Kutukan yang dinyatakan ke atas tanah itu memaksudkan bahwa penggarapan tanah itu kini akan menjadi sangat sukar. Dampak tanah yang dikutuk itu, beserta tanaman berduri dan rumput berdurinya, begitu dirasakan oleh keturunan Adam sampai-sampai bapak Nuh, Lamekh, berbicara tentang ’rasa sakit tangan mereka karena tanah yang telah Yehuwa kutuk’.​—Kejadian 3:17-19; 5:29.

      14 Adam dan Hawa juga menukar ketenteraman dengan penderitaan. Allah berfirman kepada Hawa, ”Aku akan menambahkan banyak kesakitan pada kehamilanmu; dengan nyeri bersalin engkau akan melahirkan anak, dan engkau akan memiliki keinginan yang kuat terhadap suamimu, dan ia akan menguasai engkau.” Belakangan, Kain, anak sulung Adam dan Hawa, melakukan tindakan yang kejam, yakni membunuh Habel saudaranya.​—Kejadian 3:16; 4:8.

      15 ”Seluruh dunia berada dalam kuasa si fasik”, kata rasul Yohanes. (1 Yohanes 5:19) Seperti penguasanya, dunia dewasa ini memanifestasikan sifat-sifat jahat yang mencakup sifat mementingkan diri dan angkuh. Tidak heran bahwa dunia ini penuh dengan kebengisan dan kekejaman! Tetapi, keadaannya tidak akan selalu demikian. Yehuwa akan memastikan bahwa kebaikan hati dan keibaan hatilah, bukannya kebengisan dan kekejaman, yang akan berkemenangan di bawah Kerajaan-Nya.

      Kebaikan Hati Akan Berkemenangan di bawah Kerajaan Allah

      16. Mengapa pemerintahan Allah melalui Kristus Yesus dicirikan dengan kebaikan hati, dan hal ini mewajibkan kita untuk melakukan apa?

      16 Yehuwa dan sang Raja yang ditetapkan atas Kerajaan-Nya, Yesus Kristus, menuntut agar rakyat mereka dikenal karena kebaikan hati mereka. (Mikha 6:8) Yesus Kristus memberi kita sekilas pandangan tentang bagaimana pemerintahan yang dipercayakan kepadanya oleh Bapaknya akan dicirikan dengan kebaikan hati. (Ibrani 1:3) Hal ini dapat diperhatikan dari kata-kata Yesus yang menyingkapkan para pemimpin agama palsu, yang membebani orang dengan tanggungan yang berat. Ia berkata, ”Marilah kepadaku, kamu semua yang berjerih lelah dan dibebani tanggungan yang berat, dan aku akan menyegarkan kamu. Ambillah kuk aku atas kamu dan belajarlah padaku, karena aku berwatak lembut dan rendah hati, dan kamu akan menemukan kesegaran bagi jiwamu. Karena kuk aku nyaman dan tanggunganku ringan.” (Matius 11:28-30) Begitu banyak penguasa di bumi, di bidang keagamaan maupun di bidang lainnya, yang melelahkan orang dengan beban yang meletihkan berupa peraturan yang tak ada habis-habisnya serta kewajiban yang tidak pernah dihargai. Namun, tuntutan Yesus kepada para pengikutnya sesuai dengan kebutuhan dan kesanggupan mereka. Kuk yang pasti menyegarkan dan baik hati! Tidakkah kita termotivasi untuk menjadi seperti dia dalam memperlihatkan kebaikan hati kepada orang lain?​—Yohanes 13:15.

      17, 18. Mengapa kita dapat percaya bahwa orang-orang yang memerintah bersama Kristus di surga dan wakil-wakilnya di bumi akan mempertunjukkan kebaikan hati?

      17 Pernyataan Yesus yang mencolok kepada para rasulnya menandaskan bagaimana pemerintahan Kerajaan Allah sangat berbeda dengan pemerintahan manusia. Alkitab menyatakan, ”Timbul juga perbantahan yang sengit di antara mereka [murid-murid itu] mengenai siapa dari antara mereka yang dianggap terbesar. Tetapi ia mengatakan kepada mereka, ’Raja-raja berbagai bangsa memerintah atas mereka, dan orang-orang yang memiliki wewenang atas mereka disebut Pemberi Manfaat. Namun kamu, tidak boleh seperti itu. Tetapi biarlah dia yang terbesar di antara kamu menjadi seperti yang paling muda, dan orang yang bertindak selaku kepala sebagai orang yang melayani. Karena yang mana lebih besar, orang yang duduk berbaring pada meja atau orang yang melayani? Bukankah orang yang duduk berbaring pada meja? Tetapi aku ada di tengah-tengah kamu sebagai orang yang melayani.’ ”​—Lukas 22:24-27.

      18 Para penguasa manusia berupaya meneguhkan kebesaran mereka dengan ”memerintah atas” orang-orang dan dengan mengejar gelar-gelar besar, seolah-olah gelar-gelar itu membuat mereka lebih unggul daripada orang-orang yang mereka perintah. Tetapi, Yesus mengatakan bahwa kebesaran sejati berasal dari melayani orang lain​—dengan sungguh-sungguh dan tak kenal lelah berupaya untuk melayani. Semua orang yang akan memerintah bersama Kristus di surga atau melayani sebagai wakil-wakilnya di bumi harus berupaya keras untuk mengikuti teladan kerendahan hati dan kebaikan hatinya.

      19, 20. (a) Bagaimana Yesus menyatakan jangkauan kebaikan hati Yehuwa? (b) Bagaimana kita dapat meniru Yehuwa dalam mempertunjukkan kebaikan hati?

      19 Mari kita periksa nasihat pengasih lainnya yang Yesus berikan. Sewaktu memperlihatkan jangkauan kebaikan hati Yehuwa, Yesus berkata, ”Jika kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apa kelebihannya bagimu? Karena bahkan orang-orang berdosa mengasihi orang-orang yang mengasihi mereka. Dan jika kamu melakukan kebaikan kepada orang yang melakukan kebaikan kepadamu, sesungguhnya apa kelebihannya bagi kamu? Bahkan orang-orang berdosa melakukan yang sama. Juga, jika kamu memberikan pinjaman tanpa bunga kepada orang yang darinya kamu mengharapkan untuk menerima, apa kelebihannya bagi kamu? Bahkan orang-orang berdosa memberikan pinjaman tanpa bunga kepada orang-orang berdosa agar mereka mendapatkan kembali sebanyak itu juga. Sebaliknya, teruslah kasihi musuh-musuhmu dan lakukanlah kebaikan dan berikan pinjaman tanpa bunga, dengan tidak mengharapkan apa pun sebagai balasan; dan upahmu akan besar, dan kamu akan menjadi putra-putra dari Yang Mahatinggi, karena ia baik hati kepada orang yang tidak berterima kasih dan fasik. Teruslah berbelaskasihan, sebagaimana Bapakmu berbelaskasihan.”​—Lukas 6:32-36.

      20 Kebaikan hati yang saleh tidak mementingkan diri. Sifat ini tidak meminta apa pun dan tidak mengharapkan apa pun sebagai imbalannya. Yehuwa dengan baik hati ”membuat mataharinya terbit atas orang-orang yang fasik dan yang baik dan menurunkan hujan atas orang-orang yang adil-benar dan yang tidak adil-benar”. (Matius 5:43-45; Kisah 14:16, 17) Dengan meniru Bapak surgawi kita, kita tidak hanya menahan diri agar tidak menyakiti orang yang tidak berterima kasih tetapi kita berbuat baik kepada mereka, bahkan kepada orang-orang yang bertindak sebagai musuh kita. Dengan mempertunjukkan kebaikan hati, kita memperlihatkan kepada Yehuwa dan Yesus bahwa kita berhasrat untuk hidup di bawah Kerajaan Allah, manakala kebaikan hati dan sifat saleh lainnya akan mempengaruhi semua hubungan manusia.

      Mengapa Memperlihatkan Kebaikan Hati?

      21, 22. Mengapa kita hendaknya memperlihatkan kebaikan hati?

      21 Bagi seorang Kristen yang sejati, mempertunjukkan kebaikan hati khususnya penting. Hal itu membuktikan bahwa kita memiliki roh Allah dalam diri kita. Selain itu, apabila kita mempertunjukkan kebaikan hati yang sejati, kita meniru Allah Yehuwa dan Kristus Yesus. Kebaikan hati juga merupakan suatu persyaratan bagi orang-orang yang akan menjadi rakyat Kerajaan Allah. Maka, kita harus mengasihi kebaikan hati dan belajar mempertunjukkannya.

      22 Dengan cara-cara praktis apa kita dapat memperlihatkan kebaikan hati dalam kehidupan kita setiap hari? Artikel berikut akan membahas pokok ini.

  • Mengejar Kebaikan Hati dalam Dunia yang Tidak Bersahabat
    Menara Pengawal—2004 | 15 April
    • Mengejar Kebaikan Hati dalam Dunia yang Tidak Bersahabat

      ”Hal yang berharga pada diri manusia adalah kebaikan hatinya yang penuh kasih.”​—AMSAL 19:22.

      1. Mengapa memperlihatkan kebaikan hati dapat menimbulkan tantangan?

      MENURUT Saudara, apakah Saudara baik hati? Jika demikian, hidup dalam dunia dewasa ini dapat menimbulkan tantangan. Memang, dalam Alkitab, kebaikan hati adalah bagian dari ”buah roh”, tetapi mengapa begitu sukar untuk mempertunjukkan kebaikan hati bahkan di negeri-negeri yang disebut Kristen? (Galatia 5:22) Seperti yang kita perhatikan dalam artikel sebelumnya, sebagian jawabannya dapat ditemukan dalam tulisan rasul Yohanes​—seluruh dunia berada dalam kendali makhluk roh yang tidak baik hati, Setan si Iblis. (1 Yohanes 5:19) Yesus Kristus mengidentifikasi Setan sebagai ”penguasa dunia ini”. (Yohanes 14:30) Jadi, dunia ini cenderung meniru penguasanya yang memberontak, yang tabiatnya dicirikan dengan perilaku yang keji.​—Efesus 2:2.

      2. Tantangan apa saja yang dapat mempengaruhi kita untuk memperlihatkan kebaikan hati?

      2 Kehidupan kita terpengaruh apabila orang lain memperlakukan kita dengan cara yang tidak baik hati. Tindakan yang tidak baik hati dapat dipertunjukkan oleh tetangga yang sirik, orang tak dikenal yang bersikap tidak bersahabat, bahkan handai taulan dan anggota keluarga yang mungkin, kadang-kadang, bertindak tanpa pikir panjang. Perasaan tertekan karena berinteraksi dengan orang-orang yang kasar dan yang saling berteriak dan berserapah sering menyebabkan kecemasan besar. Tidak adanya kebaikan hati demikian di pihak orang lain dapat membuat kita cepat marah, dan kita mungkin berpikir untuk membalas tindakan semacam itu juga dengan tindakan yang tidak baik hati. Sikap demikian bahkan dapat menimbulkan problem kesehatan rohani atau jasmani.​—Roma 12:17.

      3. Problem serius apa saja yang dihadapi orang-orang yang menguji kerelaan mereka untuk berbaik hati?

      3 Kondisi dunia yang menekan dapat juga mempersulit kita untuk memperlihatkan kebaikan hati. Contohnya, kebanyakan orang merasa stres karena ancaman dan aksi terorisme, termasuk kemungkinan digunakannya senjata biologi atau nuklir oleh berbagai kelompok bangsa. Selain itu, jutaan orang hidup dalam kemiskinan, kekurangan pangan, papan, sandang, dan perawatan medis. Mengejar kebaikan hati menjadi tantangan manakala kita berada dalam situasi yang tampaknya tanpa harapan.​—Pengkhotbah 7:7.

      4. Kesimpulan keliru apa yang dapat diambil beberapa orang sewaktu memikirkan tentang memperlihatkan kebaikan hati kepada orang lain?

      4 Seseorang dapat dengan mudah menyimpulkan bahwa memperlihatkan kebaikan hati sama sekali bukan prioritas dan bahkan dapat menjadi tanda kelemahan. Ia dapat merasa dimanfaatkan, terutama ketika orang lain bertindak seenaknya terhadapnya. (Mazmur 73:​2-9) Akan tetapi, Alkitab menyediakan pengarahan yang tepat bagi kita dengan mengatakan, ”Jawaban yang lemah lembut menjauhkan kemurkaan, tetapi perkataan yang memedihkan hati menimbulkan kemarahan.” (Amsal 15:1) Kelemahlembutan dan kebaikan hati merupakan dua aspek buah roh yang saling berkaitan dengan erat dan efektif sewaktu menghadapi keadaan yang sukar dan menantang.

      5. Dalam bidang kehidupan apa saja kebaikan hati dibutuhkan?

      5 Karena memperlihatkan buah roh kudus Allah sangat penting bagi kita sebagai orang Kristen, kita hendaknya mempertimbangkan caranya kita dapat memperlihatkan salah satu sifat itu​—kebaikan hati. Apakah mungkin untuk mengejar kebaikan hati dalam dunia yang tidak bersahabat? Kalau begitu, dalam bidang apa saja kita dapat membuktikan bahwa kita tidak membiarkan pengaruh Setan memadamkan kebaikan hati kita, khususnya dalam situasi yang menekan? Marilah kita bahas cara-cara untuk mengejar kebaikan hati dalam keluarga, di tempat kerja, di sekolah, dengan tetangga kita, dalam pelayanan kita, dan di antara rekan-rekan seiman.

      Kebaikan Hati dalam Keluarga

      6. Mengapa kebaikan hati dalam keluarga sangat penting, dan bagaimana hal itu dapat diperlihatkan?

      6 Untuk menerima berkat dan bimbingan Yehuwa, buah roh sangat penting dan perlu dipupuk sepenuhnya. (Efesus 4:32) Mari kita pusatkan perhatian pada perlunya anggota keluarga saling mempertunjukkan kebaikan hati. Dalam urusan sehari-hari, suami dan istri hendaknya memperlihatkan semangat kebaikan hati dan kepedulian di antara mereka dan kepada anak-anak mereka. (Efesus 5:​28-33; 6:1, 2) Kebaikan hati semacam itu harus nyata dalam caranya anggota keluarga saling berbicara, anak-anak menghormati dan merespek orang tua mereka, dan orang tua memperlakukan anak-anak mereka dengan patut. Hendaknya cepat memuji, lambat mengecam.

      7, 8. (a) Tingkah laku macam apa yang harus kita hindari jika kita ingin memperlihatkan kebaikan hati yang sejati dalam keluarga? (b) Bagaimana komunikasi yang baik turut menghasilkan ikatan keluarga yang kuat? (c) Bagaimana Saudara dapat mempertunjukkan kebaikan hati kepada keluarga Saudara?

      7 Berbaik hati kepada anggota keluarga kita mencakup mengikuti pengingat dari rasul Paulus, ”Singkirkan itu semua dari dirimu, kemurkaan, kemarahan, hal-hal yang buruk, cacian, dan perkataan cabul dari mulutmu.” Setiap hari, keluarga Kristen hendaknya saling berkomunikasi dengan cara yang penuh respek. Mengapa? Karena komunikasi yang baik adalah urat nadi keluarga yang kuat dan sehat. Apabila timbul perselisihan, untuk meredam konflik itu, cobalah memecahkan masalahnya ketimbang memenangkan perbantahannya. Anggota keluarga yang bahagia mengerahkan upaya yang sungguh-sungguh untuk saling mengutamakan kebaikan hati dan timbang rasa.​—Kolose 3:8, 12-14.

      8 Kebaikan hati adalah sifat yang positif dan membuat kita ingin berbuat baik kepada orang lain. Maka, kita berupaya menjadi orang yang berguna, bertimbang rasa, dan suka membantu anggota keluarga dengan cara yang menyenangkan. Dibutuhkan upaya pribadi maupun upaya sekeluarga untuk memperlihatkan jenis kebaikan hati ini yang menghasilkan pengaruh baik kepada sebuah keluarga. Alhasil, mereka tidak hanya akan menerima berkat Allah tetapi, di sidang dan di masyarakat, mereka akan mendatangkan hormat bagi Allah kebaikan hati, Yehuwa.​—1 Petrus 2:12.

      Kebaikan Hati di Tempat Kerja

      9, 10. Uraikan beberapa problem yang dapat timbul di tempat kerja, dan komentari caranya mereka dapat mengatasi hal itu dengan kebaikan hati.

      9 Bagi seorang Kristen, rutin pekerjaan sehari-hari dapat menghadirkan tantangan dalam hal memperlihatkan kebaikan hati kepada rekan sekerja. Persaingan di kalangan karyawan dapat membuat pekerjaan seseorang terancam oleh rekan sekerja yang bertindak dengan tipu daya atau kelicikan, sehingga merongrong reputasi seseorang di mata majikan. (Pengkhotbah 4:4) Tidaklah mudah untuk memperlihatkan kebaikan hati pada saat-saat demikian. Meskipun demikian, camkanlah bahwa kebaikan hati biasanya adalah hal yang benar untuk dilakukan, seorang hamba Yehuwa hendaknya berupaya sebisa-bisanya untuk memenangkan orang-orang yang berkecenderungan tidak baik. Kita dapat melakukannya dengan memperlihatkan sikap peduli. Barangkali Saudara dapat memperlihatkan kepedulian jika rekan sekerja itu atau anggota keluarganya jatuh sakit. Bahkan sekadar menanyakan kesejahteraannya dapat berpengaruh positif terhadap orang lain. Ya, orang Kristen sepatutnya berupaya mengutamakan keharmonisan dan kedamaian sejauh hal itu bergantung padanya. Kadang-kadang, pilihan kata yang simpatik yang memperlihatkan perhatian dan kepedulian akan memperbaiki situasinya.

      10 Pada peristiwa lain, seorang majikan mungkin memaksakan pendapatnya kepada karyawannya dan mungkin menginginkan agar setiap orang ambil bagian dalam beberapa acara nasionalistis atau dalam suatu perayaan yang bertentangan dengan Alkitab. Apabila hati nurani seorang Kristen tidak memungkinkan dia untuk berpartisipasi, hal ini dapat menimbulkan konfrontasi. Pada saat itu, mungkin tidak bijaksana untuk menjelaskan secara terperinci mengenai betapa salahnya untuk menuruti kemauan sang majikan. Pada dasarnya, bagi orang yang tidak menganut kepercayaan Kristen, berpartisipasi dalam acara semacam itu mungkin dianggap benar. (1 Petrus 2:21-23) Mungkin Saudara dapat menjelaskan dengan ramah alasan Saudara secara pribadi tidak berpartisipasi. Jangan membalas sindiran tajam dengan sindiran tajam. Seorang Kristen sebaiknya mengikuti nasihat yang bagus dalam Roma 12:18, ”Jika mungkin, sejauh itu bergantung padamu, hendaklah kamu suka damai dengan semua orang.”

      Kebaikan Hati di Sekolah

      11. Tantangan apa saja yang dihadapi kaum muda dalam mempertunjukkan kebaikan hati kepada teman sekolah?

      11 Bagi kaum muda, memperlihatkan kebaikan hati kepada rekan siswa dapat menjadi tantangan besar. Kaum muda sering kali ingin diterima oleh teman-teman sekelas. Beberapa siswa bergaya agresif atau jantan agar dapat dikagumi oleh siswa lain, sampai-sampai menindas siswa lain di sekolah. (Matius 20:25) Anak muda lainnya memamerkan prestasi di bidang akademis, olahraga, atau di bidang lain. Untuk menggembar-gemborkan kehebatan mereka, mereka sering memperlakukan teman sekelas atau siswa lainnya secara kasar, dengan keliru mengira bahwa tindakan demikian dengan satu atau lain cara membuat mereka lebih unggul. Remaja Kristen harus berhati-hati agar ia tidak meniru orang-orang tersebut. (Matius 20:​26, 27) Rasul Paulus mengatakan bahwa ”kasih itu panjang sabar dan baik hati” dan bahwa kasih ”tidak membual, tidak menjadi besar kepala”. Maka, seorang Kristen diwajibkan, bukan untuk mengikuti teladan buruk orang-orang yang bertindak secara tidak baik hati itu, melainkan untuk berpaut pada pengingat Alkitab sewaktu ia berurusan dengan teman sekolah.​—1 Korintus 13:4.

      12. (a) Mengapa bersikap baik hati kepada guru dapat menjadi tantangan bagi kaum muda? (b) Kepada siapa kaum muda dapat berpaling guna memperoleh bantuan sewaktu didesak untuk bersikap tidak baik hati?

      12 Kaum muda hendaknya juga memperlakukan guru mereka dengan baik hati. Banyak siswa senang membuat kesal guru mereka. Mereka mengira bahwa mereka cerdas apabila mereka merongrong wibawa guru mereka dengan terlibat dalam aktivitas yang melanggar peraturan sekolah. Melalui intimidasi, mereka mungkin dapat memaksa orang lain bergabung bersama mereka. Apabila seorang remaja Kristen menolak bergabung, ia dapat menjadi sasaran ejekan dan aniaya. Menghadapi situasi semacam itu selama seorang Kristen bersekolah dapat menguji tekadnya untuk memperlihatkan kebaikan hati. Namun, camkanlah betapa pentingnya untuk menjadi seorang hamba Yehuwa yang loyal. Yakinlah bahwa Ia akan mendukung Saudara melalui roh-Nya pada saat-saat yang sukar ini dalam kehidupan.​—Mazmur 37:28.

      Kebaikan Hati kepada Tetangga

      13-15. Apa yang dapat menghalangi kita untuk memperlihatkan kebaikan hati kepada tetangga, dan bagaimana tantangan ini dapat dihadapi?

      13 Tidak soal Saudara tinggal di rumah, apartemen, atau di mana saja, Saudara dapat memikirkan cara-cara untuk memperlihatkan kebaikan hati dan untuk mempertunjukkan kepedulian terhadap kesejahteraan tetangga. Sekali lagi, hal ini tidak selalu mudah.

      14 Bagaimana jika tetangga sebelah Saudara berprasangka terhadap Saudara karena ras, kebangsaan, atau agama Saudara? Bagaimana jika mereka sewaktu-waktu bersikap kasar atau sama sekali tidak menghiraukan Saudara? Sebagai hamba Yehuwa, berupaya sebisa-bisanya untuk menyatakan kebaikan hati akan bermanfaat. Sikap Saudara yang menyegarkan orang lain akan tampak sama sekali berbeda, benar-benar suatu pujian untuk Yehuwa​—Pribadi yang patut diteladani dalam kebaikan hati. Saudara tidak akan pernah tahu kapan tetangga tersebut dapat berubah sikap sebagai hasil kebaikan hati Saudara. Ia bahkan dapat menjadi seorang pemuji Yehuwa.​—1 Petrus 2:​12.

      15 Bagaimana kebaikan hati dapat diperlihatkan? Antara lain, dengan bertingkah laku yang mempertunjukkan buah roh di antara anggota keluarga. Para tetangga mungkin memperhatikan hal ini. Adakalanya, Saudara mungkin dapat membantu tetangga Saudara. Ingatlah bahwa kebaikan hati berarti memperlihatkan minat yang aktif akan kesejahteraan orang lain.​—1 Petrus 3:8-12.

      Kebaikan Hati dalam Pelayanan Kita

      16, 17. (a) Mengapa kebaikan hati penting dalam dinas pengabaran kita? (b) Bagaimana kebaikan hati dapat diperlihatkan dalam berbagai corak dinas lapangan?

      16 Kebaikan hati hendaknya mencirikan pelayanan Kristen kita seraya kita mengerahkan upaya terpadu untuk mencapai orang-orang di rumah mereka, di tempat kerja mereka, dan di tempat umum. Kita hendaknya ingat bahwa kita mewakili Yehuwa, Pribadi yang senantiasa baik hati.​—Keluaran 34:6.

      17 Apa yang tercakup dalam upaya Saudara untuk memperlihatkan kebaikan hati dalam pelayanan Saudara? Contohnya, sewaktu memberikan kesaksian di jalan, Saudara dapat memperlihatkan kebaikan hati dengan menyampaikan persembahan yang singkat serta bertimbang rasa ketika Saudara mendekati seseorang. Trotoar biasanya ramai dengan pejalan kaki yang lalu-lalang, jadi berhati-hatilah agar Saudara tidak menghalangi trotoar. Selain itu, sewaktu Saudara memberikan kesaksian di daerah bisnis, perlihatkan kebaikan hati Saudara dengan menyampaikan persembahan yang singkat, mengingat para penjaga toko harus melayani konsumen.

      18. Apa peranan daya pengamatan dalam memperlihatkan kebaikan hati dalam pelayanan kita?

      18 Dalam pelayanan dari rumah ke rumah, gunakanlah kebijaksanaan. Jangan berlama-lama di sebuah rumah, terutama jika cuacanya buruk. Dapatkah Saudara mengamati apabila seseorang semakin gelisah atau bahkan kesal dengan kehadiran Saudara? Barangkali di daerah Saudara, Saksi-Saksi Yehuwa sangat sering berkunjung. Jika demikian, perlihatkanlah timbang rasa yang khusus, hendaknya selalu baik hati dan menyenangkan. (Amsal 17:14) Cobalah indahkan alasan seorang penghuni rumah yang tidak mau mendengarkan berita kita pada hari itu. Ingatlah, salah seorang saudara atau saudari kita kemungkinan besar akan berkunjung ke rumah itu nantinya. Jika Saudara menjumpai seseorang yang kasar, kerahkan upaya khusus untuk memperlihatkan kebaikan hati. Jangan naikkan nada suara Saudara atau bersikap masam, tetapi bicaralah dengan cara yang tenang. Seorang Kristen yang baik hati tidak mau memprovokasi penghuni rumah untuk perang mulut. (Matius 10:​11-​14) Barangkali, suatu hari nanti orang itu akan mendengarkan kabar baik.

      Kebaikan Hati di Perhimpunan Sidang

      19, 20. Mengapa kebaikan hati sangat penting dalam sidang, dan bagaimana hal itu dapat diperlihatkan?

      19 Memperlihatkan kebaikan hati kepada rekan seiman tak kalah pentingnya. (Ibrani 13:1) Karena kita adalah bagian dari persaudaraan sedunia, kebaikan hati sangat penting sewaktu kita berurusan dengan satu sama lain.

      20 Jika sebuah sidang berbagi Balai Kerajaan dengan satu atau dua sidang, atau lebih, penting untuk berurusan secara baik hati dengan orang-orang dari sidang lain, memperlakukan mereka dengan bermartabat. Persaingan mempersulit kita untuk bekerja sama dalam hal mengatur waktu perhimpunan dan berbagai kebutuhan seperti pembersihan dan renovasi. Hendaknya baik hati dan bertimbang rasa meskipun mungkin ada perbedaan pendapat. Dengan cara inilah kebaikan hati akan berkemenangan, dan Yehuwa akan benar-benar memberkati minat yang Saudara perlihatkan akan kesejahteraan orang lain.

      Teruslah Perlihatkan Kebaikan Hati

      21, 22. Selaras dengan Kolose 3:12, apa yang hendaknya menjadi tekad kita?

      21 Kebaikan hati adalah sifat yang mencakup dan mempengaruhi setiap aspek kehidupan kita. Oleh karena itu, kita hendaknya menjadikannya bagian yang integral dari kepribadian Kristen kita. Memperlihatkan kebaikan hati kepada orang lain sepatutnya menjadi suatu kebiasaan.

      22 Semoga kita semua berbaik hati kepada orang lain setiap hari dan dengan demikian menerapkan secara pribadi kata-kata rasul Paulus, ”Sebagai orang-orang pilihan Allah, yang kudus dan dikasihi, kenakanlah keibaan hati yang lembut, kebaikan hati, kerendahan hati, kelemahlembutan, dan kepanjangsabaran.”​—Kolose 3:12.

Publikasi Menara Pengawal Bahasa Indonesia (1971-2025)
Log Out
Log In
  • Indonesia
  • Bagikan
  • Pengaturan
  • Copyright © 2025 Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania
  • Syarat Penggunaan
  • Kebijakan Privasi
  • Pengaturan Privasi
  • JW.ORG
  • Log In
Bagikan