PERPUSTAKAAN ONLINE Menara Pengawal
PERPUSTAKAAN ONLINE
Menara Pengawal
Indonesia
  • ALKITAB
  • PUBLIKASI
  • PERHIMPUNAN
  • Kami Menemukan ”Mutiara yang Bernilai Tinggi”
    Menara Pengawal (Edisi Pelajaran)—2019 | April
    • Kadang, Saudari harus mengambil air sendiri dan menyiapkan makanan dalam keadaan yang benar-benar baru. Bagaimana Saudari bisa melakukannya?

      Di Tonga, Pam mencuci pakaian menggunakan baskom dan ember

      Pam mencuci baju kami di Tonga

      Saya bersyukur karena ayah saya mengajari saya beberapa hal yang berguna, seperti cara membuat api unggun dan memasak di atasnya serta cara bertahan hidup dengan sumber daya yang terbatas. Suatu kali, waktu kami berkunjung ke Kiribati, kami tinggal di sebuah rumah kecil dengan atap jerami, dinding bambu, dan lantai dari kerikil dan pasir. Untuk memasak makanan yang sederhana, saya menggali lubang di lantai untuk tempat membuat api. Sebagai bahan bakarnya, saya menggunakan sabut kelapa. Kalau mau mengambil air, saya harus mengantre di sumur bersama para wanita setempat. Untuk menimba air, mereka menggunakan tongkat sepanjang kira-kira dua meter dengan tali tipis yang diikat di ujungnya, agak mirip tali pancing. Tapi di ujung tali itu, mereka memasang kaleng, bukan kail. Mereka bergantian melemparkan tali mereka ke dalam sumur dan menggoyangkan pergelangan tangan mereka pada waktu yang tepat. Kaleng itu pun terbalik dan terisi air. Saya pikir itu gampang, tapi saat saya mencobanya, ternyata susah juga. Saya melempar tali saya berkali-kali, tapi kalengnya selalu mengapung di air! Mereka tertawa melihat saya, tapi setelah itu, salah satu wanita menawarkan bantuan. Mereka semua selalu baik hati dan siap membantu.

  • Kami Menemukan ”Mutiara yang Bernilai Tinggi”
    Menara Pengawal (Edisi Pelajaran)—2019 | April
    • Pam: Di Kiribati, ada satu pengalaman yang paling berkesan buat saya. Di sana, ada sebuah sidang yang anggotanya hanya sedikit. Satu-satunya penatua di sidang itu, Itinikai Matera, berupaya sebisanya untuk mengurus kebutuhan kami. Suatu hari, dia datang sambil membawa keranjang berisi satu butir telur. Dia bilang, ”Ini buat kalian.” Waktu itu, kami jarang sekali mendapat telur ayam. Tindakan yang sederhana tapi murah hati itu membuat kami sangat terharu.

Publikasi Menara Pengawal Bahasa Indonesia (1971-2025)
Log Out
Log In
  • Indonesia
  • Bagikan
  • Pengaturan
  • Copyright © 2025 Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania
  • Syarat Penggunaan
  • Kebijakan Privasi
  • Pengaturan Privasi
  • JW.ORG
  • Log In
Bagikan