PERPUSTAKAAN ONLINE Menara Pengawal
PERPUSTAKAAN ONLINE
Menara Pengawal
Indonesia
  • ALKITAB
  • PUBLIKASI
  • PERHIMPUNAN
  • Tanda Itu​—Bukan Sekedar Sejarah yang Telah Lewat
    Menara Pengawal—1988 (Seri 53) | Menara Pengawal—1988 (Seri 53)
    • Tanda Itu​—Bukan Sekedar Sejarah yang Telah Lewat

      DI Yerusalem, di Timur Tengah terdapat suatu lokasi bersejarah yang mengagumkan dan menuntut perhatian dari orang-orang yang berpikir dewasa ini. Lokasi ini adalah daerah yang tinggi tempat ”suatu bait dengan harta yang sangat besar” berdiri, menurut kata-kata Tacitus, sejarawan Roma abad pertama. Sama sekali tidak ada sisa dari bangunan-bangunan bait, tetapi dataran yang tinggi itu masih ada. Ia memberikan kesaksian mengenai benarnya suatu tanda nubuat yang mempengaruhi saudara.

      Para arkeolog telah membuat banyak penemuan di sebelah selatan dari bukit tempat bait itu berdiri. ”Salah satu penemuan yang paling menarik,” menurut J. A. Thompson di dalam The Bible and Archaeology, ”adalah beberapa balok besar dari pertukangan batu jaman Herodian yang tampaknya dilemparkan dari atas puncak tembok Bait ketika Yerusalem dihancurkan tahun 70 M.”

      Kehancuran Yerusalem dan baitnya diramalkan 37 tahun sebelum hal itu terjadi. Tidak kurang dari tiga sejarawan mencatat kata-kata Yesus bahwa ”tidak ada satu batupun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain; semuanya akan diruntuhkan.” (Lukas 21:6; Matius 24:1, 2; Markus 13:1, 2) Setelah itu terjadi percakapan yang mempengaruhi semua orang dewasa ini termasuk saudara.

      ”Guru,” murid-muridnya bertanya, ”apakah tandanya, kalau itu akan terjadi?” Menurut Yesus, periode yang menuju kepada kehancuran bait akan ditandai oleh peperangan, gempa bumi, kekurangan makanan, dan penyakit sampar. Ia menambahkan ”angkatan ini tidak akan berlalu, sebelum semuanya terjadi.”—Lukas 21:7, 10, 11, 32.

      Apakah angkatan tersebut mengalami penggenapan dari ’tanda’ itu? Ya. Alkitab menyebutkan suatu ”kelaparan yang besar” dan juga tiga gempa bumi, dua di antaranya ”gempa bumi yang hebat.” (Kisah 11:28; 16:26; Matius 27:51; 28:1, 2) Menurut sejarah dunia, gempa bumi lain dan kekurangan makanan terjadi pada masa itu. Ketika itu juga terjadi peperangan, dua di antaranya dipertarungkan oleh tentara Roma melawan penduduk Yerusalem. Pengepungan yang kedua atas Yerusalem mengakibatkan kelaparan dan wabah penyakit yang hebat, membuka jalan kepada kehancuran dari kota itu dan baitnya pada tahun 70 M. Lokasi di Yerusalem tempat bait itu dulu tegak berdiri sebagai saksi bisu atas peristiwa-peristiwa abad pertama yang mengerikan.

      ’Memang menarik,’ beberapa orang mungkin berkata, ’tetapi apa artinya bagi saya?’ Yaitu bahwa tanda itu bukan sekedar sejarah yang sudah lewat. Baru sebagian dari tanda tersebut tergenap pada abad pertama. Sebagai contoh, Yesus juga meramalkan suatu waktu manakala umat manusia akan menjadi sangat takut karena ”tanda-tanda pada matahari dan bulan dan bintang-bintang” dan ”deru dan gelora laut.” Corak ini dari tanda tersebut akan menunjukkan dekatnya ”Kerajaan Allah”—suatu pemerintahan yang akan membawa kebebasan selamanya dari penderitaan dunia.—Lukas 21:25-31.

      Hal-hal di atas tidak terjadi pada abad pertama. Dewasa ini, 1.900 tahun kemudian, manusia masih menantikan pembebasan dari perang, gempa bumi, kekurangan makanan, dan penyakit sampar. Maka, tanda itu harus memiliki penggenapan selengkapnya, penggenapan kedua. Menjelaskan hal ini, buku Wahyu memuat gambar-gambar nubuat sehubungan dengan tanda itu, dan ia ditulis setelah Yerusalem dihancurkan. (Wahyu 6:1-8) Maka, timbul suatu pertanyaan penting: Apakah tanda itu terlihat pada jaman kita?

  • Tanda Itu​—Apakah Saudara Melihatnya?
    Menara Pengawal—1988 (Seri 53) | Menara Pengawal—1988 (Seri 53)
    • Tanda Itu​—Apakah Saudara Melihatnya?

      ”JAUH di bawah permukaan laut, sebuah kapal selam yang panjang dan berhidung bulat bergantung dengan stabil, tidak terganggu oleh ombak-ombak besar yang bergelora di atas permukaan laut yang dilanda badai. Sebuah tutup lubang di atas permukaan kapal selam terbuka dan suatu roket yang panjangnya lebih dari 30 kaki dan tebalnya 4 1/2 kaki mencuat ke luar dan naik menuju permukaan laut. Roket tersebut memulai perjalanannya didorong ke atas oleh tekanan angin, tetapi setelah mencapai permukaan laut, mesin menyala dan roket tersebut mencuat dari air dengan suara menggelora.”

      Gambaran di atas mengenai kapal selam yang meluncurkan peluru kendali balistik, dari buku Rockets, Missiles and Spacecraft, oleh Martin Keen, membawa arti kepada nubuat jaman dulu yang meramalkan masa krisis sedunia karena ”menghadapi deru dan gelora laut.” (Lukas 21:25) Seberapa besarkah ancaman dari kapal-kapal selam berpeluru kendali balistik?

      Menurut buku Janeˈs Fighting Ships 1986-87, Inggris, RRC, Prancis, Uni Soviet, dan Amerika Serikat memiliki 131 kapal selam berpeluru kendali balistik yang masih aktif. Tidak ada kota yang berada di luar jangkauan mereka, dan hulu-hulu ledak biasanya jatuh dalam radius satu setengah kilometer dari sasaran. Beberapa membawa hulu ledak cukup ”untuk menghancurkan negara manapun dalam jarak 7.500 kilometer,” menurut The Guinness Book of Records. Lebih buruk lagi, beberapa orang telah mengatakan bahwa hulu ledak dalam hanya satu kapal selam berpeluru kendali balistik saja dapat menimbulkan musim dingin nuklir yang membahayakan semua kehidupan di atas bumi! Pengendalian dari kapal-kapal selam yang berada sangat jauh juga suatu problem. Ditakuti bahwa tindakan gegabah dalam satu kapal selam saja dapat memulai suatu perang nuklir yang fatal.

      Banyak orang telah menghubungkan kemungkinan-kemungkinan yang menakutkan tersebut kepada tanda nubuat dari Yesus. Mungkinkah generasi kita sedang mengalami penggenapan tanda itu? Faktanya menjawab ya. Dan ini berarti pembebasan dari ancaman perang nuklir sudah dekat. (Lukas 21:28, 32) Dengan harapan yang begitu optimis, kami mengundang saudara untuk mempertimbangkan bukti-bukti penggenapan tanda tersebut. Beberapa corak yang menonjol dari tanda itu disajikan berikut ini bersama penggenapan jaman modernnya.

      ”Bangsa akan bangkit melawan bangsa dan kerajaan melawan kerajaan.” (Lukas 21:10)

      Sejak 1914 lebih dari 100.000.000 orang telah mati disebabkan peperangan. Perang Dunia I mulai tahun 1914 dan melibatkan 28 negeri, tidak terhitung beberapa koloni Eropa pada waktu itu. Hanya sedikit negara yang tetap netral. Korbannya 13.000.000 jiwa lebih dengan lebih dari 21.000.000 tentara yang terluka. Kemudian datang Perang Dunia II, yang jauh lebih menghancurkan. Dan sejak itu? Dalam makalah ”Perang-Perang dari Dunia,” surat kabar Afrika Selatan The Star mengutip mingguan London Sunday Times yang berkata: ”Seperempat dari bangsa-bangsa di dunia saat ini sedang terlibat pertikaian.”

      ”Dan akan terjadi gempa bumi yang dahsyat.” (Lukas 21:11)

      Dalam buku mereka Terra Non Firma, dua profesor dari Universitas Stanford yaitu Gere dan Shah membuat urutan terinci dari ke-164 ”gempa bumi yang besar di dunia” yang mencakup waktu lebih dari tiga ribu tahun ke belakang. Dari jumlah ini, 89 terjadi sejak 1914, mengambil kira-kira 1.047.944 jiwa. Daftar ini hanya memasukkan gempa-gempa besar, dan sejak publikasi Terra Non Firma diterbitkan pada tahun 1984, gempa bumi yang menghancurkan telah terjadi di Chili, Uni Soviet, dan Meksiko, yang mengakibatkan ribuan lagi yang tewas.

      ”Akan ada penyakit sampar.” (Lukas 21:11)

      Pada tahun 1918 suatu wabah penyakit yang mematikan menyerang umat manusia. Penyakit itu disebut flu Spanyol dan menyebar ke semua daerah yang berpenghuni kecuali Pulau St. Helena dan membunuh lebih banyak orang daripada yang mati dalam empat tahun peperangan. Ilmu pengobatan telah membuat banyak kemajuan sejak waktu itu. Namun tetap ada paradoks. Seperti yang dijelaskan The Lancet: ”Tetap merajalelanya penyakit yang ditularkan melalui hubungan seks (STD) sebagai kelompok penyakit infeksi yang paling umum adalah suatu paradoks bagi ilmu pengobatan modern. . . . Pengendalian dari penyakit yang ditularkan melalui hubungan seks pada suatu waktu tampaknya hampir tercapai tetapi dalam tahun-tahun belakangan ini telah lepas dari kendali kita.”

      Ada wabah penyakit lain yang juga tidak dapat dikendalikan oleh pengobatan modern, seperti kanker dan serangan jantung. Penyakit yang disebut belakangan, menurut keterangan dari A[frika] S[elatan] Family Practice, merupakan suatu fenomena. . . . Ini adalah akibat dari masyarakat sesudah perang.” Di Inggris, penyakit jantung dan hipertensi ”merupakan penyebab utama dari kematian,” menurut buku Cardiovascular Update—Insight Into Heart Disease. Buku itu menambahkan ”sangat sedikit kemajuan yang telah dibuat untuk mengendalikannya.”

      Di negara-negara berkembang, jutaan menderita malaria, sakit tidur, bilharzia, dan penyakit-penyakit lain. Salah satu pembunuh dunia yang paling buruk adalah diare. Seperti dijelaskan majalah Medicine International: ”Telah diperkirakan bahwa 500 juta kasus diare [setiap] tahun akan terjadi di antara bayi-bayi dan anak-anak kecil di Asia, Afrika dan Amerika Latin, dengan kematian antara 5 sampai 18 juta.”

      ”Akan ada . . . kelaparan.” (Lukas 21:11)

      Kekurangan bahan makanan biasanya sejalan dengan peperangan. Perang Dunia I juga demikian. Kelaparan yang buruk menyusul setelahnya. Dan sejak itu? Suatu makalah khusus The Challenge of Internationalism—Forty Years of the United Nations (1945-1985) melaporkan: ”Jika pada tahun 1950 terdapat kira-kira 1.650 juta orang kekurangan gizi, pada tahun 1983 terdapat 2.250 juta; dengan kata lain, peningkatan 600 juta atau 36 persen lebih banyak.” Suatu kelaparan yang fatal yang menyusul masa kekeringan di Afrika. ”Dalam satu tahun,” menurut majalah Newsweek, ”sebanyak 1 juta rakyat Etiopia dan 500.000 anak-anak Sudan meninggal.” Ribuan orang dari negeri-negeri lain juga mati.

      ”Akan terjadi juga hal-hal yang mengejutkan dan tanda-tanda yang dahsyat dari langit. Dan akan ada tanda-tanda pada matahari dan bulan dan bintang-bintang, dan di bumi bangsa-bangsa akan takut dan bingung menghadapi deru dan gelora laut. Orang akan mati ketakutan karena kecemasan berhubung dengan segala apa yang menimpa bumi ini.” (Lukas 21:11, 25, 26)

      Perang Dunia I memperkenalkan senjata-senjata baru yang mengerikan. Dari langit, kapal-kapal terbang menghujani sasaran dengan bom-bom dan peluru-peluru. Bahkan lebih mengerikan lagi adalah kehancuran yang ditimpakan ke atas orang-orang yang tak berdaya pada Perang Dunia II, termasuk oleh dua bom atom.

      Laut juga menjadi wilayah kengerian yang baru. Ketika Perang Dunia I mulai, kapal-kapal selam dianggap tidak begitu penting, tetapi menjelang akhir Perang Dunia II mereka telah menenggelamkan lebih dari sepuluh ribu kapal. ”Menenggelamkan kapal-kapal dagang, termasuk kapal [penumpang], tanpa memberikan peringatan tampaknya menjadi bagian dari praktek yang baru dan mengerikan dari ’perang total,’” demikian dikatakan Norman Friedman dalam bukunya Submarine Design and Development.

      Dewasa ini banyak yang berpendapat bahwa kapal selam berpeluru kendali balistik merupakan kapal utama dunia. Senjata-senjata yang mematikan juga terdapat dalam kapal selam berpeluru kendali sedang, kapal induk, dan kapal perang lainnya. Menurut buku Janeˈs Fighting Ships 1986-87, sekarang terdapat 929 kapal selam, 30 kapal induk, 84 kapal penjelajah, 367 kapal perusak, 675 frigat, 276 korvet, 2.024 kapal penyerang cepat, dan ribuan kapal perang lain yang masih aktif di 52 negara. Ditambah tidak terhitung banyaknya ranjau-ranjau kecil tetapi mematikan. Tidak pernah ”gelora laut” dibuat begitu berbahaya oleh manusia.

      Manusia juga telah mencapai wilayah ”matahari dan bulan dan bintang-bintang.” Peluru kendali balistik meluncur ke ruang angkasa sebelum berbalik dan menukik ke sasaran mereka. Kapal-kapal ruang angkasa telah menembus sistem tata surya dan lebih jauh lagi. Bangsa-bangsa telah menjadi sangat bergantung kepada satelit-satelit buatan manusia yang mengelilingi bumi. Satelit-satelit navigasi dan meteorologi memungkinkan mereka untuk membidik peluru-peluru kendali strategis dengan ketepatan yang mematikan. Juga dibuat penggunaan yang sangat luas dari satelit-satelit komunikasi dan mata-mata. ”Satelit-satelit,” menurut Michael Sheehan dalam bukunya The Arms Race, ”telah menjadi mata, telinga dan suara dari kekuatan-kekuatan militer adidaya.”

      Contoh yang baru-baru ini terjadi adalah penyerangan udara atas Libia. Aviation Week & Space Technology melaporkan: ”Gambar-gambar yang diambil oleh satelit Amerika Serikat digunakan pada waktu persiapan penyerangan dan analisa atas hasil penyerangan. Program pertahanan satelit meteorologi menyediakan data cuaca bagi kapal penyerang dan komunikasi militer mereka, ia juga terlibat dalam pemberian perintah dan pengendalian misi.” Karena peran yang sangat penting yang dilakukan oleh satelit-satelit militer, kedua adidaya memiliki senjata-senjata anti satelit. Senjata-senjata yang ditempatkan di luar angkasa adalah niat terbuka dari salah satu adidaya yang dinamai program perang bintang. Apakah para adidaya benar-benar akan melangsungkan perang bintang atau tidak, hanya waktu yang dapat memberitahu.

      Sementara itu, seperti dinubuatkan, ”orang akan mati ketakutan karena kecemasan berhubung dengan segala apa yang menimpa bumi ini.” Kejahatan, terorisme, runtuhnya perekonomian, polusi kimia dan keracunan radiasi dari pusat tenaga nuklir, bersama-sama ancaman yang semakin menggunung dari perang nuklir, semua menjadi penyebab ”ketakutan.” Majalah Inggris New Statesmen melaporkan bahwa ”lebih dari setengah” remaja negeri itu ”merasa bahwa perang nuklir akan terjadi dalam kehidupan mereka, dan 70 persen percaya bahwa hal itu tidak dapat dielakkan.

      [Kotak di hlm. 6]

      Tanda Itu—Apa yang Diartikan Olehnya?

      Jutaan orang, setelah memeriksa tanda itu sehubungan dengan sejarah abad ke-20, telah diyakinkan mengenai penggenapannya. (Lihat juga Matius, pasal 24 dan Markus, pasal 13.) Generasi 1914 memang benar telah ditandai. Generasi ini adalah generasi yang terlibat dalam penggenapan kedua dari kata-kata Yesus: ”Angkatan ini tidak akan berlalu, sebelum semuanya terjadi.” (Lukas 21:32) ”Semuanya” termasuk pembebasan dari semua problem-problem manusia yang membingungkan.

      Yesus menegaskan para pengikutnya: ”Apabila semuanya itu mulai terjadi, bangkitlah dan angkatlah mukamu, sebab penyelamatanmu sudah dekat. . . . Jika kamu melihat hal-hal itu terjadi, ketahuilah bahwa Kerajaan Allah sudah dekat.” Kerajaan Allah, kuasa dunia adimanusia akan mengubah bumi ini menjadi suatu firdaus seluas dunia. Maka, sebagaimana tanda tersebut telah tergenap demikian pula pembebasan akan datang.—Lukas 21:28, 31; Mazmur 72:1-8.

      Mungkin saudara sebelumnya tidak pernah memikirkan tanda nubuat itu. Kami menganjurkan saudara untuk terus memeriksa Firman Allah. Melakukan itu akan memungkinkan saudara mengerti lebih banyak mengenai maksud-tujuan Allah bagi umat manusia. Dengan demikian saudara akan tahu apa yang dituntut Allah Yehuwa dari mereka yang akan ’diselamatkan’ ke dalam firdaus di bumi yang akan datang.—Mazmur 37:10, 11; Zefanya 2:2, 3; Wahyu 21:3-5.

      [Keterangan Gambar di hlm. 4]

      Courtesy of German Railroads Information Office, New York

      Eric Schwab/WHO

      [Keterangan Gambar di hlm. 5]

      Jerry Frank/United Nations

      U.S. Air Force photo

  • Tanda Itu​—Bukti Bahwa Dunia Baru Sudah Dekat?
    Menara Pengawal—1988 (Seri 53) | Menara Pengawal—1988 (Seri 53)
    • Tanda Itu​—Bukti Bahwa Dunia Baru Sudah Dekat?

      ”Bangsa akan bangkit melawan bangsa, dan kerajaan melawan kerajaan: dan akan terjadi kelaparan, dan penyakit sampar, dan gempa-gempa bumi di [berbagai] tempat”—Matius 24:7, King James Version.

      PADA waktu Perang Dunia I sedang berkecamuk, Menara Pengawal, 15 April 1917, mengutip kata-kata di atas dan mengatakan: ”Sekarang kita melihat sebagian penggenapan dari pernyataan nubuat di atas, bahwa hampir semua bangsa di atas bumi terlibat dalam pertikaian yang mematikan. Persediaan makanan di mana-mana berkurang. Dan biaya hidup bertambah.”

      Sekarang, 71 tahun kemudian, majalah ini masih membawa perhatian para pembacanya kepada nubuat ini. Tiga sejarawan kuno mencatat nubuat ini sebagai bagian dari ’tanda itu’ yang diberikan oleh Yesus Kristus.—Matius 24:3, 7; Markus 13:4, 8; Lukas 21:7, 10, 11.

      Sejak 1914, ratusan juta jiwa telah ditelan oleh peperangan-peperangan, kelaparan, dan penyakit sampar, dan malapetaka lainnya. The New Encyclopædia Britannica (1987) mendaftarkan 63 ”Gempa bumi besar sepanjang sejarah” mencakup 1.700 tahun yang telah berlalu. Dari jumlah ini, 27, atau 43 persen, telah terjadi sejak 1914. Buku Terra Non Firma, oleh Profesor Gere dan Profesor Shah, memuat suatu daftar yang meliputi periode yang lebih panjang. Dari semua gempa-gempa bumi ”besar” dalam daftar tersebut, 54 persen telah terjadi sejak 1914.a Meskipun mengakui bahwa catatan-catatan dari abad-abad lalu tidak lengkap, kita tidak dapat menghindari kesimpulan bahwa dalam jaman kita umat manusia telah sangat dipengaruhi oleh gempa-gempa bumi.

      Sesuatu yang bahkan lebih menakutkan telah mencekam hati manusia dengan diledakkannya bom-bom atom di kota-kota Jepang Hiroshima dan Nagasaki. Negara-negara nuklir sekarang memiliki begitu banyak senjata dengan kemampuan penghancuran masal sehingga umat manusia diancam kepunahan. Seperti yang selanjutnya dicatat sejarawan Lukas dalam nubuat Yesus: ”Akan terjadi juga hal-hal yang mengejutkan dan tanda-tanda yang dahsyat dari langit. . . . Dan di bumi bangsa-bangsa akan takut dan bingung [tidak tahu jalan keluar, NW] . . . Orang akan mati ketakutan karena kecemasan berhubung dengan segala apa yang menimpa bumi ini.”—Lukas 21:11, 25, 26.

      Meskipun negara-negara adidaya mungkin setuju untuk mengurangi jumlah beberapa senjata dalam persediaan perang mereka, persetujuan-persetujuan demikian tidak akan mengurangi kekuatiran manusia atas kejahatan, kebangkrutan ekonomi, dan terorisme. ”Apa yang ditakuti kebanyakan orang dewasa ini,” menurut sebuah surat kabar Afrika, ”adalah keamanan pribadi mereka. . . . Kejahatan telah menggila . . . ; terdapat rasa takut yang menyusup masyarakat.” Ya, dan Yesus menubuatkan bahwa ”kejahatan akan menjalar sebegitu hebat” (BIS) merupakan satu lagi rincian yang tepat mengenai tanda itu.—Matius 24:12.

      ”Kabar Baik”

      Tetapi, saudara akan terhibur untuk mendengar bahwa perkembangan-perkembangan tragis yang baru saja disebutkan, dinubuatkan akan disertai ”kabar baik . . . diberitakan ke seluruh dunia.” (Matius 24:14, BIS) ”Kabar baik” ini adalah mengenai Kerajaan Allah. Sekarang pun, pemerintahan dunia yang adimanusia tersebut telah mengumpulkan jutaan rakyat yang loyal. Ia segera akan turun tangan dalam urusan manusia dan memuaskan kebutuhan umat manusia untuk suatu dunia baru yang adil-benar.—Lukas 21:28-32; 2 Petrus 3:13.

      Banyak orang yang cepat mengesampingkan ”kabar baik” ini, dan tidak percaya. Yang lain mengatakan mereka percaya, tetapi tidak melakukan apa-apa sehubungan dengannya. Beberapa bertindak sesuai dengan hal itu untuk sementara waktu, kemudian mereka mulai ragu-ragu. Apakah tanggapan-tanggapan negatif di atas juga telah dinubuatkan sebagai bagian dari tanda itu? Lebih penting lagi bagaimana saudara secara pribadi dapat mengambil manfaat dari tanda ini?

      [Catatan Kaki]

      a The World Book Encyclopedia (1987) mendaftarkan 37 ”Gempa-Gempa Bumi Besar,” dari tahun 526 M. dan seterusnya. Dari daftar ini, 65 persen telah terjadi sejak 1914.

  • Tanda Itu​—Apakah Saudara Mengindahkannya?
    Menara Pengawal—1988 (Seri 53) | Menara Pengawal—1988 (Seri 53)
    • Tanda Itu​—Apakah Saudara Mengindahkannya?

      ”KAMI ingin agar orang-orang dari semua bangsa menikmati kemakmuran, kesejahteraan dan kebahagiaan. Jalan ke arah ini adalah melalui proses penciptaan dunia yang bebas dari nuklir dan kejahatan.”—Perestroika, oleh pemimpin Soviet Mikhail Gorbachev.

      Dengan beralasan, banyak yang meragukan bahwa manusia benar-benar dapat menciptakan dunia sedemikian. Pemimpin lain, Yesus Kristus, menjanjikan sesuatu yang lebih indah—bumi firdaus tempat bahkan proses kematian akan dibalik. (Matius 5:5; Lukas 23:43; Yohanes 5:28, 29) Tentu saja, sarana untuk mencapai hal ini adalah campur-tangan ilahi. Menjawab pertanyaan ’kapan’ campur-tangan demikian akan tiba, Yesus berkata: ”Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah.” Mula-mula hanya orang-orang dengan pengamatan yang tajam, dengan mata bagaikan elang akan menyadarinya. (Lukas 17:20, 37) Mengapa demikian?

      Mengapa Kita Membutuhkan Tanda Itu

      Sejak kenaikannya ke surga, Yesus Kristus ”bersemayam dalam terang yang tak terhampiri. Seorangpun tak pernah melihat Dia dan memang manusia tidak dapat melihat Dia.” (1 Timotius 6:16) Jadi, mata aksara manusia tidak akan pernah melihat dia lagi. Seperti yang Yesus katakan pada hari terakhir kehidupan manusianya: ”Tinggal sesaat lagi dan dunia tidak akan melihat Aku lagi.” (Yohanes 14:19) Ia dapat dilihat hanya secara kiasan.—Efesus 1:18; Wahyu 1:7.

      Namun, Yesus mengatakan bahwa akan mungkin bagi murid-muridnya untuk memahami kapan Kerajaan Allah akan mulai memerintah. Bagaimana? Melalui suatu tanda. Dalam menjawab pertanyaan, ”Apakah tanda kedatanganmu?” Yesus menerangkan bukti-bukti yang dapat terlihat mengenai pemerintahannya yang tidak kelihatan yang akan datang.—Matius 24:3.

      Termasuk dalam tanda itu adalah suatu perumpamaan yang menunjukkan orang-orang macam apa akan dapat memanfaatkannya. ”Di mana ada bangkai,” kata Yesus, ”di situ burung [elang, NW] berkerumun.” (Matius 24:28) Semua yang ingin selamat melampaui akhir susunan perkara ini ke dalam dunia baru Allah harus ’berkerumun bersama’ dan menikmati makanan rohani bersama ”orang-orang pilihan [Kristus]” yang bagaikan burung elang.—Matius 24:31, 45-47.

      Menjaga terhadap Ketidaksabaran

      Tidak ada manusia yang dapat memperhitungkan tanggal dari akhir susunan yang jahat ini. ”Tentang hari dan saat itu,” Yesus mengatakan, ”tidak seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anakpun tidak, hanya Bapa saja.”—Markus 13:32, 33.

      Tetapi, mungkinkah tanda itu dapat terjadi meliputi kurun waktu banyak generasi manusia? Tidak. Tanda itu akan muncul selama satu angkatan tertentu. Angkatan yang sama yang menyaksikan awal tanda itu juga akan menyaksikan klimaksnya dalam suatu ”siksaan seperti yang belum pernah terjadi sejak awal dunia.” Tiga sejarawan, Matius, Markus, dan Lukas, mencatat jaminan Yesus atas hal ini.—Markus 13:19, 30; Matius 24:13, 21, 22, 34; Lukas 21:28, 32.

      Namun, ada bahaya menjadi tidak sabar. Tujuh puluh empat tahun telah berlalu sejak pecahnya Perang Dunia I tahun 1914. Dari sudut pandangan manusia, ini mungkin rasanya waktu yang sangat panjang. Tetapi beberapa orang Kristen yang berpandangan tajam bagaikan elang yang melihat Perang Dunia I sampai saat ini masih hidup dan sehat. Generasi mereka belum berlalu.

      Ketika ia memberikan tanda itu, Yesus memperingatkan mengenai bahaya menjadi tidak sabar. Ia berbicara tentang pribadi-pribadi yang akan berkata dalam hati mereka: ”Tuanku tidak datang-datang.” Yesus menunjukkan bahwa pikiran demikian, jika tidak diperbaiki dapat menuju kepada tindakan yang bodoh. (Matius 24:48-51) Rasul-rasul Kristus memiliki komentar lebih lanjut mengenai hal ini.

      ”Pengejek-Pengejek”

      Menurut penulis Alkitab Yudas, rasul-rasul Kristus memberikan peringatan ini: ”Menjelang akhir zaman akan tampil pengejek-pengejek yang akan hidup menuruti hawa nafsu kefasikan mereka.”—Yudas 17, 18.

      Keinginan untuk hidup dalam suatu dunia baru yang bersih dengan mudah dapat diganti oleh keinginan untuk hidup menuruti ”hawa nafsu kefasikan.” Ini teristimewa berbahaya sekarang karena metode-metode dunia dalam ekspresi dan komunikasi. Tidak pernah sebelumnya dalam sejarah manusia kejahatan, spiritisme, dan imoralitas seks begitu dipamerkan. Hal itu sering menjadi judul pertunjukan radio dan musik, dan begitu banyak terlihat dalam berbagai acara TV, video, iklan, buku-buku, dan majalah-majalah.

      Tanda itu menunjuk kepada akhir dari kenajisan tersebut. Maka, tentu saja beberapa orang yang suka akan hal-hal jahat tersebut mengejek tanda itu. Seperti dinubuatkan, mereka bersikeras bahwa ”segala sesuatu tetap seperti semula, pada waktu dunia diciptakan.”—2 Petrus 3:3, 4.

      ’Kasih Menjadi Dingin’

      Baru-baru ini, seorang penulis Amerika berusia 75 tahun, Paul Bowles, diwawancarai oleh majalah Newsweek. Menjawab pertanyaan, ”Bagaimana pandangan saudara atas dunia ini?” Bowles mengatakan: ”Dunia telah hancur berantakan secara moral. Tidak ada lagi orang yang jujur seperti 60 tahun yang lalu. Dulu ada konsep mengenai apa sebenarnya seorang gentleman; hal itu merupakan suatu sikap yang dihargai dari peradaban barat kita. Sekarang tidak ada [yang peduli]. Juga terdapat tekanan yang luar biasa untuk uang.”

      Keadaan ini persis seperti yang diramalkan Alkitab. Yesus menubuatkan: ”Karena makin bertambahnya kedurhakaan, maka kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin.” (Matius 24:12; 2 Timotius 3:1-5) Seraya sikap mementingkan diri dan keserakahan meningkat, kasih kepada Allah merosot. Lebih banyak orang menunjukkan bahwa mereka menempatkan keinginan pribadi di atas hukum-hukum Allah dengan melakukan tindakan kejahatan, terorisme, praktek-praktek bisnis yang tidak jujur, imoralitas seks, dan penyalahgunaan obat bius.

      Beberapa menyadari penggenapan dari tanda itu tetapi gagal untuk bertindak selaras karena begitu sibuk dalam upaya menyenangkan diri sendiri. Di pihak lain, memperhatikan tanda itu membutuhkan ketekunan dalam menunjukkan kasih yang tidak mementingkan diri kepada Allah dan sesama.—Matius 24:13, 14.

      ”Kekuatiran Hidup”

      Yesus juga memperingatkan bahwa, selain kesenangan yang mementingkan diri, kebutuhan-kebutuhan jasmani yang masuk akal juga dapat begitu menyibukkan seseorang sehingga ia akan mengabaikan tanda itu. Ia mendesak: ”Jagalah dirimu, jangan sampai kalian terlalu sibuk berpesta-pesta dan minum minuman keras, atau terlalu memikirkan soal-soal hidupmu, sehingga kalian tidak siap ketika hari itu muncul dengan tiba-tiba. Sebab Hari itu akan datang seperti perangkap pada semua orang di muka bumi ini.”—Lukas 21:34, 35, BIS.

      Tentu saja, Alkitab menganjurkan kehidupan keluarga yang bahagia. (Efesus 5:24–6:4) Sering kali ini mengharuskan kepala keluarga sibuk dalam suatu corak pekerjaan atau bisnis untuk menghasilkan kebutuhan hidup bagi istri dan anak-anaknya. (1 Timotius 5:8) Namun, akan sangat berpandangan sempit untuk membiarkan kehidupan seseorang berkisar hanya pada urusan keluarga, dan hal-hal materi. Karena bahaya ini, Yesus memperingatkan: ”Sama seperti terjadi pada zaman Nuh, demikian pulalah halnya kelak pada hari-hari anak manusia: mereka makan dan minum, mereka kawin dan dikawinkan, sampai kepada hari Nuh masuk ke dalam bahtera, lalu datanglah air bah dan membinasakan mereka semua. . . . Demikianlah halnya kelak pada hari di mana Anak Manusia menyatakan dirinya.”—Lukas 17:26-30; Matius 24:36-39.

      ”Dibawa” atau ”Ditinggalkan”?

      Hari sudah larut. Tidak lama lagi Kerajaan Allah akan turun tangan untuk meluruskan segala sesuatu. Pada waktu itu semua orang akan dipengaruhi dalam satu dari dua cara. Seperti dijelaskan Yesus: ”Pada waktu itu kalau ada dua orang di ladang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan; kalau ada dua orang perempuan sedang memutar batu kilangan, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan.”—Matius 24:40, 41.

      Bila waktu yang menentukan itu tiba, keadaan saudara akan bagaimana? Apakah saudara akan ditinggalkan untuk dibinasakan, ataukah saudara akan dibawa untuk diselamatkan? Untuk membimbing saudara dalam jurusan yang benar, pertimbangkan kembali perumpamaan yang diberikan Yesus: ”Di mana ada mayat di situ berkerumun burung [elang, NW].”—Lukas 17:34-37; Matius 24:28.

      Jadi Yesus sedang menekankan pentingnya melihat jauh ke depan, tindakan yang terpadu. Mereka yang dibawa untuk diselamatkan adalah orang-orang yang secara tetap tentu berkumpul bersama dan mengambil manfaat dari penyegaran rohani yang disediakan Allah. Jutaan telah merasakan bahwa pemberian makan secara rohani seperti itu datang melalui hubungan yang erat dengan salah satu dari 55.000 lebih sidang Saksi-Saksi Yehuwa dan melalui pelajaran publikasi yang didasarkan Alkitab seperti yang saudara sedang baca.

      Lebih dari 3 juta Saksi-Saksi Yehuwa menunjukkan iman dalam tanda itu dengan membagikan ”Injil [”kabar baik,” NW] Kerajaan” kepada sesama mereka. (Matius 24:14) Apakah saudara memberikan tanggapan positif kepada kabar baik itu? Jika demikian, saudara dapat berbesar hati atas janji keselamatan memasuki firdaus di bumi.

      [Gambar di hlm. 9]

      Banyak orang begitu asyik dalam kesenangan sehingga tidak melihat tanda itu

      [Gambar di hlm. 10]

      Mengindahkan tanda itu termasuk berkumpul bersama untuk memperoleh makanan dari Firman Allah

  • Elang atau Burung Pemakan Bangkai?
    Menara Pengawal—1988 (Seri 53) | Menara Pengawal—1988 (Seri 53)
    • Elang atau Burung Pemakan Bangkai?

      Tanda Itu

      ”DI MANA ada bangkai, di situ burung (elang, NW) berkerumun.” (Matius 24:28) Daripada belajar dari perumpamaan ini, beberapa mencari kesalahan di dalamnya. Mereka mengatakan bahwa burung elang berburu sendiri-sendiri dan memangsa makhluk hidup, bukan bangkai. Maka beberapa Alkitab menggunakan kata ”pemakan bangkai.” (BIS) Tetapi kata Yunaninya di sini, a·e·tosʹ, tepatnya diterjemahkan ”elang.”

      Satu jenis yang ditemukan di Israel adalah elang berwarna jingga. ”Seperti banyak burung pemangsa,” kata John Sinclair dan John Mendelsohn, ”elang jingga ini tidak membenci daging bangkai dan sering ditemukan di antara pendatang pertama pada bangkai segar.” Pengamat lain melaporkan kumpulan dari 60 elang jingga dan jenis lainnya di Kalahari, Afrika. Ia menambahkan: ”Elang Jingga dominan apabila mereka bertemu pada bangkai tertentu. Dalam beberapa kasus dua burung, kemungkinan berpasangan, telah terlihat membagi bersama satu bangkai.”

      Elang laut juga umum terlihat di negeri-negeri Laut Tengah. Di abad-abad yang silam, elang-elang laut maupun elang-elang darat makan bangkai-bangkai kuda yang mati dalam peperangan. ”Sudah umum diketahui . . . bahwa mereka mengikuti rombongan tentara untuk tujuan tersebut,” Cyclopædia McClintock dan Strong’s.

      Karena cekatan dan memiliki pandangan jauh, burung elang kadangkala menjadi burung pertama yang datang ke bangkai yang masih baru. Yesus sangat paham akan penjelasan ketika Yehuwa mengajukan kepada Ayub pertanyaan yang mendidik ini: ”Atas perintahmukah rajawali (elang) terbang membubung, dan membuat sarangnya di tempat yang tinggi? . . . Di puncak bukit batu dan di gunung yang sulit didatangi. Dari sana ia mengintai mencari mangsa, dari jauh matanya mengamat-amati; . . . di mana ada yang tewas, di situlah dia.”—Ayub 39:27-30.

      Karena itu, Yesus dengan tepat mengumpamakan bahwa hanya mereka yang memiliki mata kiasan seperti elang akan mengambil manfaat dari tanda tersebut.

Publikasi Menara Pengawal Bahasa Indonesia (1971-2025)
Log Out
Log In
  • Indonesia
  • Bagikan
  • Pengaturan
  • Copyright © 2025 Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania
  • Syarat Penggunaan
  • Kebijakan Privasi
  • Pengaturan Privasi
  • JW.ORG
  • Log In
Bagikan