-
Nikmatilah Pelajaran Firman Allah secara PribadiMenara Pengawal—2002 | 1 Desember
-
-
Nikmatilah Pelajaran Firman Allah secara Pribadi
”Aku pasti akan merenungkan semua kegiatanmu, dan aku akan memikirkan perbuatan-perbuatanmu.”—MAZMUR 77:12.
1, 2. (a) Mengapa kita harus menyisihkan waktu untuk merenung? (b) Apa artinya ”merenung” dan ”memikirkan dengan mendalam”?
SEBAGAI murid Yesus Kristus, kita hendaknya memikirkan secara mendalam hubungan kita dengan Allah dan alasan kita melayani-Nya. Namun, dewasa ini, kebanyakan orang menjalani kehidupan yang sedemikian sibuknya sampai-sampai mereka tidak menyisihkan waktu untuk merenung. Mereka benar-benar tenggelam dalam hiruk pikuk materialisme, konsumerisme, dan pengejaran kesenangan yang membabi buta. Bagaimana kita dapat menghindari upaya yang sia-sia seperti itu? Sebagaimana kita menyisihkan waktu tertentu setiap hari untuk kegiatan yang mutlak perlu, seperti makan dan tidur, kita pun harus menyediakan waktu setiap hari untuk merenungkan kegiatan dan perbuatan Yehuwa.—Ulangan 8:3; Matius 4:4.
2 Pernahkah Saudara berhenti sejenak untuk merenung? Apa artinya merenung? Kata itu berarti memusatkan pikiran pada, memikirkan dengan mendalam tentang. Dan frasa ”memikirkan dengan mendalam” berarti memikirkan atau mempertimbangkan, khususnya secara tenang, serius, dan mendalam. Apa maknanya bagi kita?
3. Membuat kemajuan rohani berkaitan langsung dengan apa?
3 Antara lain, hal itu hendaknya mengingatkan kita akan apa yang rasul Paulus tuliskan kepada Timotius, sesama hamba, ”Sampai aku datang, teruslah kerahkan dirimu dalam hal membaca di depan umum, dalam menasihati, dalam pengajaran. . . . Pikirkanlah hal-hal ini dengan mendalam; curahkan perhatian penuh padanya, agar kemajuanmu nyata kepada semua orang.” Ya, kemajuanlah yang diharapkan, dan kata-kata Paulus memperlihatkan bahwa ada kaitan langsung antara memikirkan perkara-perkara rohani secara mendalam dan membuat kemajuan. Halnya sama dewasa ini. Untuk menikmati kepuasan karena membuat kemajuan rohani, kita harus terus ’memikirkan dengan mendalam’ dan ’mencurahkan perhatian penuh’ pada hal-hal yang berkaitan dengan Firman Allah.—1 Timotius 4:13-15.
4. Persediaan apa saja yang dapat Saudara manfaatkan untuk membantu Saudara memikirkan Firman Yehuwa secara mendalam dan teratur?
4 Waktu terbaik Saudara untuk merenung bergantung pada Saudara dan rutin keluarga Saudara. Banyak saudara-saudari memikirkan dengan mendalam sebuah ayat Alkitab pagi-pagi sekali sewaktu mereka membaca buku kecil Menyelidiki Kitab Suci Setiap Hari. Sebenarnya, sekitar 20.000 relawan di rumah Betel seputar dunia mengawali hari mereka dengan pembahasan ayat Alkitab untuk hari itu selama 15 menit. Meskipun hanya beberapa anggota keluarga Betel yang memberikan komentar lisan setiap pagi, yang lain-lain memikirkan dengan mendalam apa yang diulas dan dibacakan. Saksi-Saksi lain memikirkan secara mendalam Firman Yehuwa sewaktu dalam perjalanan menuju tempat kerja. Mereka mendengarkan kaset audio Alkitab dan majalah Menara Pengawal serta Sedarlah! yang tersedia dalam beberapa bahasa. Banyak ibu rumah tangga melakukan hal ini sambil bekerja di rumah. Sebenarnya, mereka sedang meniru sang pemazmur, Asaf, yang menulis, ”Aku akan mengingat perbuatan-perbuatan Yah; karena aku akan mengingat hal-hal ajaib yang kaulakukan pada masa lampau. Aku pasti akan merenungkan semua kegiatanmu, dan aku akan memikirkan perbuatan-perbuatanmu.”—Mazmur 77:11, 12.
Sikap yang Benar Mendatangkan Hasil yang Positif
5. Mengapa pelajaran pribadi seharusnya penting bagi kita?
5 Pada zaman kita yang modern ini, dengan adanya TV, video, dan komputer, minat baca kebanyakan orang telah sangat menurun, bahkan hampir hilang. Tentu saja, hal itu seharusnya tidak terjadi di antara Saksi-Saksi Yehuwa. Sesungguhnya, membaca Alkitab bisa disamakan dengan tali penyelamat yang menghubungkan kita dengan Yehuwa. Ribuan tahun yang lalu, Yosua menggantikan Musa sebagai pemimpin Israel. Untuk memperoleh berkat Yehuwa, Yosua harus membaca Firman Allah untuk dirinya. (Yosua 1:8; Mazmur 1:1, 2) Dewasa ini, hal itu masih merupakan suatu tuntutan. Namun, karena pendidikan yang terbatas, ada yang mungkin sulit membaca atau merasa bahwa hal itu meletihkan dan menjemukan. Kalau begitu, apa yang dapat membantu kita memiliki keinginan untuk membaca dan mempelajari Firman Allah? Jawabannya dapat ditemukan dalam kata-kata Raja Salomo yang dicatat di Amsal 2:1-6. Bukalah Alkitab Saudara dan bacalah ayat-ayat tersebut. Lalu, kita akan membahasnya bersama-sama.
6. Bagaimana hendaknya sikap kita terhadap pengetahuan tentang Allah?
6 Pertama-tama, kita membaca desakan ini, ”Putraku, jika engkau mau menerima perkataanku dan menyimpan perintah-perintahku bagaikan harta pada dirimu, untuk memperhatikan hikmat dengan telingamu, agar engkau mencondongkan hatimu pada daya pengamatan; . . . ” (Amsal 2:1, 2) Apa yang kita pelajari dari kata-kata ini? Bahwa kita masing-masing bertanggung jawab untuk mempelajari Firman Allah. Perhatikan kata-kata pengandaian ”jika engkau mau menerima perkataanku”. Kata ”jika” dalam kalimat itu sangat menonjol karena sebagian besar umat manusia tidak memperhatikan Firman Allah. Agar kita memperoleh sukacita dalam mempelajari Firman Allah, kita harus bersedia menerima perkataan Yehuwa dan menganggapnya seperti harta yang kita ingin jaga baik-baik agar tidak hilang. Kita hendaknya tidak sekali-kali membiarkan rutin harian kita membuat kita terlalu sibuk atau tersimpangkan sehingga kita mulai kehilangan minat akan Firman Allah, bahkan meragukannya.—Roma 3:3, 4.
7. Sebisa mungkin, mengapa kita hendaknya hadir dan memusatkan perhatian di perhimpunan?
7 Apakah kita benar-benar ”memperhatikan” dan mendengarkan dengan cermat sewaktu Firman Allah dipaparkan di perhimpunan kita? (Efesus 4:20, 21) Apakah kita ’mencondongkan hati’ supaya dapat memperoleh daya pengamatan? Bisa jadi sang pengkhotbah bukanlah yang paling berpengalaman, tetapi sewaktu ia menjelaskan Firman Allah, ia layak mendapat perhatian kita yang sungguh-sungguh. Ya, agar dapat memperhatikan hikmat Yehuwa, kita harus sebisa mungkin hadir di perhimpunan. (Amsal 18:1) Bayangkan penyesalan orang-orang yang mungkin melewatkan pertemuan di kamar atas di Yerusalem pada Pentakosta 33 M! Meskipun perhimpunan kita tidak sespektakuler pertemuan tersebut, Alkitablah, buku dasar pelajaran kita, yang dibahas. Dengan demikian, setiap perhimpunan dapat menjadi berkat bagi kita jika kita memusatkan perhatian dan mengikutinya dengan Alkitab kita.—Kisah 2:1-4; Ibrani 10:24, 25.
8, 9. (a) Apa yang dituntut dari kita dalam mengadakan pelajaran pribadi? (b) Bagaimana Saudara membandingkan nilai emas dengan pengertian akan pengetahuan tentang Allah?
8 Raja yang bijaksana itu selanjutnya mengatakan, ”Lagi pula, jika engkau berseru untuk mendapatkan pengertian dan mengeluarkan suaramu untuk mendapatkan daya pengamatan, . . . ” (Amsal 2:3) Sikap atau semangat apa yang tersirat dalam kata-kata ini untuk kita? Ya, hasrat yang sungguh-sungguh untuk mengerti Firman Yehuwa! Kata-kata itu menyiratkan kesediaan untuk belajar dengan tujuan memperoleh daya pengamatan, guna memahami apa kehendak Yehuwa itu. Tentu saja, hal ini menuntut upaya, yang membawa kita kepada kata-kata dan ilustrasi Salomo selanjutnya.—Efesus 5:15-17.
9 Ia melanjutkan, ”Jika engkau terus mencarinya [pengertian] seperti untuk perak, dan seperti untuk harta terpendam engkau terus berupaya mendapatkannya, . . . ” (Amsal 2:4) Kata-kata ini membuat kita memikirkan upaya manusia selama berabad-abad untuk mencari dan menambang apa yang disebut logam mulia, yaitu emas dan perak. Manusia saling membunuh hanya demi emas. Yang lain-lain menghabiskan seluruh hidupnya demi menemukan emas. Namun, sebenarnya, seberapa bernilaikah emas itu? Jika Saudara tersesat di padang gurun dan sekarat karena kehausan, mana yang akan Saudara pilih: sebatang emas atau segelas air? Namun, betapa bergairahnya manusia mencari emas, yang nilainya semu dan tidak menentu!a Betapa jauh lebih bergairah lagi kita hendaknya mencari hikmat, daya pengamatan, dan pengertian mengenai Allah dan kehendak-Nya! Tetapi, apa saja manfaat pencarian demikian?—Mazmur 19:7-10; Amsal 3:13-18.
10. Apa yang bisa kita peroleh jika kita mempelajari Firman Allah?
10 Salomo melanjutkan uraiannya, ”Maka engkau akan mengerti rasa takut akan Yehuwa, dan engkau akan mendapatkan pengetahuan tentang Allah.” (Amsal 2:5) Benar-benar gagasan yang menakjubkan—bahwa kita, manusia yang berdosa, bisa mendapatkan ”pengetahuan tentang Allah”, Yehuwa, Tuan Yang Berdaulat di alam semesta! (Mazmur 73:28; Kisah 4:24) Para filsuf dan orang-orang yang disebut arif di dunia ini telah berupaya selama berabad-abad untuk mengerti misteri kehidupan dan alam semesta. Akan tetapi, mereka gagal mendapatkan ”pengetahuan tentang Allah”. Mengapa? Meskipun pengetahuan itu telah tersedia selama ribuan tahun dalam Firman Allah, Alkitab, mereka menolaknya karena terlalu sederhana dan, dengan demikian, tidak mempercayai dan memahaminya.—1 Korintus 1:18-21.
11. Apa saja manfaat pelajaran pribadi?
11 Ada manfaat pendorong lain yang Salomo tonjolkan, ”Yehuwa sendiri memberikan hikmat; dari mulutnya keluar pengetahuan dan daya pengamatan.” (Amsal 2:6) Dengan senang hati dan murah hati, Yehuwa memberikan hikmat, pengetahuan, dan daya pengamatan kepada siapa pun yang mau mencari hal-hal itu. Pastilah, tidak ada alasan bagi kita untuk tidak menghargai pelajaran Firman Allah secara pribadi, sekalipun hal itu menuntut upaya, disiplin, dan pengorbanan. Setidaknya, kita telah memiliki Alkitab dalam bentuk tercetak dan tidak perlu membuat salinan tangan, seperti yang dilakukan beberapa orang pada zaman dahulu!—Ulangan 17:18, 19.
Agar Berjalan dengan Layak di Hadapan Yehuwa
12. Apa seharusnya motif kita dalam mengejar pengetahuan tentang Allah?
12 Apa hendaknya motif kita sewaktu mengadakan pelajaran pribadi? Agar kelihatan lebih baik daripada orang lain? Agar bisa memamerkan pengetahuan? Agar seolah-olah menjadi ensiklopedia Alkitab berjalan? Tidak. Tujuan kita adalah menjadi orang Kristen dalam segala tindakan, tutur kata, dan sikap, selalu siap membantu orang lain, dengan cara yang menyegarkan seperti Kristus. (Matius 11:28-30) Rasul Paulus memperingatkan, ”Pengetahuan membuat orang menjadi besar kepala, tetapi kasih membangun.” (1 Korintus 8:1) Oleh karena itu, kita hendaknya memiliki sikap rendah hati seperti yang Musa perlihatkan sewaktu ia mengatakan kepada Yehuwa, ”Beri tahukanlah kiranya jalan-jalanmu kepadaku, agar aku mengenal engkau, agar aku dapat memperoleh perkenan di matamu.” (Keluaran 33:13) Ya, kita hendaknya menginginkan pengetahuan agar dapat menyenangkan Allah, bukan untuk membuat manusia terkesan. Kita ingin menjadi hamba Allah yang layak dan rendah hati. Bagaimana kita dapat mencapai tujuan tersebut?
13. Apa yang dibutuhkan agar seseorang menjadi hamba Allah yang layak?
13 Paulus menasihati Timotius tentang caranya menyenangkan Allah, dengan mengatakan, ”Berupayalah sebisa-bisanya untuk mempersembahkan dirimu kepada Allah sebagai orang yang diperkenan, sebagai pekerja tanpa sesuatu pun yang membuatnya malu, menangani firman kebenaran dengan tepat.” (2 Timotius 2:15) Ungkapan ”menangani . . . dengan tepat” diambil dari kata kerja majemuk bahasa Yunani yang semula berarti ”potongan yang lurus”, atau ’memotong dengan lurus’. (Kingdom Interlinear) Menurut beberapa ahli, kata ini menyiratkan gagasan tentang penjahit yang memotong kain menurut pola, tentang petani yang membajak alur di sawah, dan seterusnya. Apa pun halnya, hasil akhirnya harus lurus. Intinya adalah agar dapat menjadi hamba Allah yang layak dan diperkenan, Timotius harus ’berupaya sebisa-bisanya’ untuk memastikan bahwa pengajaran dan tingkah lakunya selaras dengan firman kebenaran.—1 Timotius 4:16.
14. Bagaimana pelajaran pribadi kita hendaknya mempengaruhi apa yang kita lakukan dan katakan?
14 Paulus menonjolkan pokok yang sama sewaktu ia mendesak rekan-rekan Kristennya di Kolose ’agar berjalan dengan layak di hadapan Yehuwa untuk menyenangkan dia sepenuhnya’, dengan ”menghasilkan buah dalam setiap pekerjaan yang baik dan bertumbuh dalam pengetahuan yang saksama tentang Allah”. (Kolose 1:10) Di ayat ini, Paulus mengaitkan keadaan layak di hadapan Yehuwa dengan ”menghasilkan buah dalam setiap pekerjaan yang baik” serta dengan ”bertumbuh dalam pengetahuan yang saksama tentang Allah”. Dengan kata lain, yang penting bagi Yehuwa ialah tidak hanya seberapa besar penghargaan kita terhadap pengetahuan, tetapi juga seberapa erat kita berpaut pada Firman Allah dalam apa yang kita lakukan dan katakan. (Roma 2:21, 22) Hal ini berarti pelajaran pribadi kita harus mempengaruhi cara berpikir dan tingkah laku kita jika kita ingin menyenangkan Allah.
15. Bagaimana kita dapat melindungi dan mengendalikan pikiran dan cara berpikir kita?
15 Dewasa ini, Setan bertekad merusak kerohanian kita dengan melancarkan perang mental. (Roma 7:14-25) Oleh karena itu, kita harus melindungi dan mengendalikan pikiran dan cara berpikir kita agar memperoleh perkenan Allah kita, Yehuwa. Senjata yang kita miliki adalah ”pengetahuan tentang Allah”, yang sanggup ”menawan setiap pikiran untuk membuatnya taat kepada Kristus”. Hal ini memberi kita alasan yang lebih besar untuk memperhatikan pelajaran Alkitab setiap hari, karena kita ingin menyingkirkan cara berpikir yang egois dan bersifat daging dari pikiran kita.—2 Korintus 10:5.
Bantuan untuk Mengerti
16. Bagaimana kita dapat memperoleh manfaat bagi diri sendiri seraya Yehuwa mengajar kita?
16 Pengajaran Yehuwa mendatangkan manfaat rohani dan jasmani. Pengajaran itu bukanlah teologi yang membosankan dan teoretis. Itulah sebabnya, kita membaca, ”Aku, Yehuwa, adalah Allahmu, Pribadi yang mengajarkan hal-hal yang bermanfaat bagimu, Pribadi yang membuat engkau melangkah di jalan yang harus kautempuh.” (Yesaya 48:17) Bagaimana Yehuwa membuat kita berjalan di jalan-Nya yang mendatangkan manfaat? Pertama, kita memiliki Firman-Nya yang terilham, Alkitab. Inilah buku dasar pelajaran kita, yang senantiasa kita rujuk. Itulah sebabnya kita sangat dianjurkan untuk mengikuti acara perhimpunan dengan membuka Alkitab. Manfaat melakukan hal tersebut dapat terlihat dalam kisah mengenai sida-sida Etiopia, yang dicatat di Kisah pasal 8.
17. Apa yang terjadi dalam hal sida-sida Etiopia, dan apa yang diperlihatkan oleh hal ini?
17 Sida-sida Etiopia itu telah ditobatkan kepada Yudaisme. Ia mempercayai Allah dengan tulus, dan ia mempelajari Tulisan-Tulisan Kudus. Dalam perjalanan dengan keretanya, ia sedang membaca teks Yesaya ketika Filipus berlari di sampingnya dan bertanya, ”Apakah engkau sungguh-sungguh mengerti apa yang sedang engkau baca?” Apa jawaban sida-sida itu? ”’Sesungguhnya, bagaimana mungkin aku dapat mengerti, jika tidak ada yang menuntun aku?’ Lalu dia memohon kepada Filipus untuk naik dan duduk bersamanya.” Kemudian, Filipus, yang dibimbing oleh roh kudus, membantu sida-sida itu memahami nubuat Yesaya. (Kisah 8:27-35) Apa yang diperlihatkan oleh hal ini? Pembacaan Alkitab secara pribadi tidaklah cukup. Yehuwa, dengan roh-Nya, menggunakan golongan budak yang setia dan bijaksana untuk membantu kita mengerti Firman-Nya pada saat yang tepat. Bagaimana hal ini dilakukan?—Matius 24:45-47; Lukas 12:42.
18. Bagaimana golongan budak yang setia dan bijaksana membantu kita?
18 Meskipun golongan budak itu disebut ”setia dan bijaksana”, Yesus tidak mengatakan bahwa golongan itu tidak bisa keliru. Kelompok saudara terurap yang setia ini masih terdiri dari orang-orang Kristen yang belum sempurna. Sekalipun disertai niat yang paling baik, mereka masih bisa keliru, sama seperti yang kadang-kadang dilakukan oleh pria-pria terurap pada abad pertama. (Kisah 10:9-15; Galatia 2:8, 11-14) Akan tetapi, motif mereka murni, dan Yehuwa sedang menggunakan mereka untuk menyediakan bagi kita alat-alat bantu pelajaran Alkitab guna membina iman kita akan Firman Allah dan janji-janji-Nya. Persediaan mendasar untuk pelajaran pribadi yang telah budak itu berikan kepada kita adalah Kitab Suci Terjemahan Dunia Baru. Terjemahan itu sekarang telah tersedia, secara lengkap atau sebagian, dalam 42 bahasa, dan telah dicetak sebanyak 114 juta eksemplar dalam beberapa edisi. Bagaimana kita dapat menggunakannya secara efektif dalam pelajaran pribadi kita?—2 Timotius 3:14-17.
19. Apa saja fitur New World Translation—With References yang dapat bermanfaat dalam pelajaran pribadi?
19 Ambillah sebagai contoh, New World Translation of the Holy Scriptures—With References (Alkitab Terjemahan Dunia Baru—Dengan Referensi). Alkitab ini memiliki kolom referensi silang, catatan kaki, konkordansi mini dalam bentuk ”Indeks Kata-Kata Alkitab” dan ”Indeks Kata-Kata Catatan Kaki”, serta Apendiks yang secara ekstensif mengulas 43 pokok bahasan, termasuk peta dan bagan. Terdapat juga ”Kata Pengantar”, yang memuat penjelasan mengenai banyaknya narasumber yang digunakan untuk terjemahan Alkitab yang unik ini. Jika edisi ini tersedia dalam bahasa yang Saudara mengerti, berupayalah sebisa-bisanya untuk mengenal baik fitur-fitur tersebut dan memanfaatkannya. Bagaimanapun juga, Alkitab adalah sarana untuk memulai program belajar kita, dan dalam Terjemahan Dunia Baru, kita memiliki terjemahan yang dengan tepat menandaskan nama ilahi seraya menonjolkan pemerintahan Kerajaan Allah.—Mazmur 149:1-9; Daniel 2:44; Matius 6:9, 10.
20. Pertanyaan apa saja mengenai pelajaran pribadi yang perlu dijawab?
20 Nah, kita mungkin bertanya, ’Bantuan apa lagi yang kita perlukan untuk memahami Alkitab? Bagaimana kita dapat menyediakan waktu untuk pelajaran pribadi? Bagaimana kita dapat membuat pelajaran kita lebih efektif? Bagaimana hendaknya pelajaran kita mempengaruhi orang lain?’ Artikel berikut akan membahas aspek-aspek vital dari kemajuan Kristen kita ini.
[Catatan Kaki]
a Sejak tahun 1979, nilai emas telah berfluktuasi antara yang tertinggi 27,4 dolar AS per gram pada tahun 1980 sampai yang terendah 8,16 dolar AS per gram pada tahun 1999.
-
-
Pelajaran Pribadi yang Memperlengkapi Kita sebagai PengajarMenara Pengawal—2002 | 1 Desember
-
-
Pelajaran Pribadi yang Memperlengkapi Kita Sebagai Pengajar
”Pikirkanlah hal-hal ini dengan mendalam; curahkan perhatian penuh padanya, agar kemajuanmu nyata kepada semua orang. Teruslah perhatikan dirimu dan pengajaranmu.”—1 TIMOTIUS 4:15, 16.
1. Kenyataan apa yang berlaku sehubungan dengan waktu dan pelajaran pribadi?
”UNTUK segala sesuatu ada waktu yang ditetapkan,” kata Alkitab di Pengkhotbah 3:1. Tentulah kata-kata itu sangat berlaku untuk pelajaran pribadi. Banyak orang merasa sulit memikirkan perkara-perkara rohani secara mendalam jika hal itu dilakukan pada waktu atau di tempat yang tidak tepat. Misalnya, setelah seharian bekerja keras dan kenyang menyantap makan malam, apakah Saudara merasa ingin belajar, apalagi jika Saudara sedang duduk bersandar di kursi malas favorit Saudara sambil menonton TV? Kemungkinan besar tidak. Jadi, apa solusinya? Jelaslah, kita harus menentukan kapan dan di mana kita belajar dengan tujuan memperoleh manfaat yang sebesar-besarnya dari upaya kita.
2. Sering kali, kapan waktu terbaik untuk pelajaran pribadi?
2 Banyak orang mendapati waktu terbaik mereka untuk belajar adalah pagi-pagi sekali, sewaktu pikiran mereka biasanya masih sangat segar. Yang lain-lain menggunakan waktu istirahat siang untuk belajar sebentar. Perhatikanlah dalam contoh-contoh berikut ini rujukan tentang waktu untuk kegiatan rohani yang penting. Raja Daud dari Israel zaman dahulu menulis, ”Pada pagi hari, buatlah aku mendengar kebaikan hatimu yang penuh kasih, karena kepadamu aku menaruh kepercayaan. Beri tahukanlah kepadaku jalan yang harus kutempuh, karena kepadamu aku mengangkat jiwaku.” (Mazmur 143:8) Nabi Yesaya memperlihatkan penghargaan yang serupa sewaktu mengatakan, ”Tuan Yang Berdaulat Yehuwa telah memberi aku lidah seorang murid, agar aku mengetahui caranya menjawab orang yang lelah dengan perkataan. Ia bangun setiap pagi; ia membangunkan telingaku agar mendengar seperti seorang murid.” Intinya ialah kita perlu belajar dan berkomunikasi secara akrab dengan Yehuwa pada saat pikiran kita sedang tanggap-tanggapnya, kapan saja sebisanya dalam hari itu.—Yesaya 50:4, 5; Mazmur 5:3; 88:13.
3. Suasana apa saja yang bermanfaat untuk pelajaran yang efektif?
3 Faktor lain dalam pelajaran yang efektif adalah kita hendaknya tidak memilih untuk duduk di kursi atau sofa yang paling nyaman. Bukan begitu caranya untuk tetap tanggap. Pada waktu belajar, pikiran kita harus dirangsang, dan posisi tubuh yang terlalu nyaman justru berdampak sebaliknya. Selain itu, belajar dan merenung sebaiknya dilakukan dalam suasana yang relatif tenang dan bebas dari penyimpang perhatian. Mencoba belajar sambil mendengarkan radio, menonton TV, atau menjaga anak-anak yang rewel tidak akan memberikan hasil yang terbaik. Sewaktu Yesus hendak merenung, ia pergi ke tempat yang senyap. Ia juga berbicara tentang pentingnya mencari tempat pribadi untuk berdoa.—Matius 6:6; 14:13; Markus 6:30-32.
Pelajaran Pribadi yang Memperlengkapi Kita untuk Menjawab
4, 5. Dengan cara apa saja brosur Tuntut merupakan alat bantu yang praktis?
4 Pelajaran pribadi akan mendatangkan kepuasan apabila kita menggunakan berbagai alat bantu Alkitab untuk menggali lebih dalam suatu topik, khususnya sewaktu kita melakukannya untuk menjawab pertanyaan seseorang yang tulus. (1 Timotius 1:4; 2 Timotius 2:23) Sebagai permulaan, banyak orang baru mempelajari brosur Apa yang Allah Tuntut dari Kita?,a yang kini tersedia dalam 261 bahasa. Publikasi ini sangat sederhana tetapi jitu dan seluruhnya didasarkan pada Alkitab. Brosur ini membantu para pembacanya untuk memahami dengan cepat apa saja tuntutan Allah untuk ibadat sejati. Akan tetapi, brosur ini tidak dirancang untuk membahas setiap topik secara terperinci. Jika pelajar Alkitab Saudara mengajukan pertanyaan yang serius mengenai topik Alkitab tertentu yang sedang dibahas, bagaimana Saudara dapat mencari lebih banyak keterangan Alkitab yang akan membantunya menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut?
5 Bagi mereka yang memiliki CD-ROM Watchtower Library dalam bahasa mereka, tidak sulit untuk mengakses beragam sumber informasi di komputer. Namun, bagaimana dengan mereka yang tidak memiliki peralatan ini? Marilah kita cermati dua topik yang dibahas dalam brosur Tuntut untuk melihat bagaimana kita dapat memperluas pengertian kita dan mampu menjawab secara lebih terperinci—khususnya jika seseorang mengajukan pertanyaan seperti: Siapakah Allah? dan seperti apa Yesus itu sebenarnya?—Keluaran 5:2; Lukas 9:18-20; 1 Petrus 3:15.
Siapakah Allah?
6, 7. (a) Pertanyaan apa muncul sehubungan dengan Allah? (b) Kelalaian fatal apa dilakukan seorang klerus dalam sebuah ceramah?
6 Pelajaran 2 dalam brosur Tuntut menjawab pertanyaan yang sangat penting: Siapakah Allah? Hal ini adalah topik yang fundamental karena seseorang tidak dapat menyembah Allah yang benar jika ia tidak mengenal-Nya atau mungkin meragukan keberadaan-Nya. (Roma 1:19, 20; Ibrani 11:6) Namun, orang-orang di seluas dunia menganut ratusan konsep mengenai siapa Allah itu. (1 Korintus 8:4-6) Setiap filsafat agama memiliki jawaban yang berbeda untuk pertanyaan mengenai identitas Allah. Dalam kebanyakan agama Susunan Kristen, Allah dipandang sebagai suatu Tritunggal. Seorang klerus terkemuka di AS memberikan ceramah yang berjudul ”Apakah Anda Mengenal Allah?” tetapi tidak satu kali pun ia menyebut nama ilahi dalam khotbahnya, meskipun ia beberapa kali mengutip dari Kitab-Kitab Ibrani. Tentu saja, ia membacakan dari sebuah terjemahan Alkitab yang menggunakan gelar ”Tuhan” yang ambigu dan anonim, bukan Yehuwa atau Yahweh.
7 Sungguh vital pokok yang dilalaikan sang klerus sewaktu ia mengutip Yeremia 31:33, 34, Terjemahan Baru, ”Tidak usah lagi orang mengajar sesamanya atau mengajar saudaranya dengan mengatakan: Kenallah TUHAN! [Ibrani, Kenallah Yehuwa] Sebab mereka semua, besar kecil, akan mengenal Aku, demikianlah firman TUHAN [Ibrani, Yehuwa].” Terjemahan yang ia gunakan menghilangkan nama ilahi yang khas, Yehuwa.—Mazmur 103:1, 2.
8. Apa yang memperlihatkan pentingnya menggunakan nama Allah?
8 Mazmur 8:9 memperlihatkan mengapa penggunaan nama Yehuwa begitu penting, ”Oh, Yehuwa, Tuan kami, betapa agung namamu di seluruh bumi!” Bandingkan kata-kata itu dengan, ”Ya TUHAN, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi!” (Terjemahan Baru; lihat juga Klinkert, Bahasa Indonesia Sehari-hari, The New American Bible) Namun, seperti disebutkan dalam artikel sebelumnya, kita dapat memperoleh ”pengetahuan tentang Allah” jika kita membiarkan Firman-Nya menerangi kita. Tetapi, alat bantu pelajaran Alkitab yang mana yang siap menjawab pertanyaan kita mengenai pentingnya nama ilahi?—Amsal 2:1-6.
9. (a) Publikasi apa yang dapat membantu kita menjelaskan pentingnya menggunakan nama Allah? (b) Bagaimana banyak penerjemah telah gagal memperlihatkan respek terhadap nama Allah?
9 Kita dapat membuka brosur Nama Ilahi yang Akan Kekal Selama-lamanya, yang telah diterjemahkan ke dalam 69 bahasa.b Bagian yang berjudul ”Nama Allah—Arti dan Ucapannya” (halaman 6-11) memperlihatkan dengan jelas bahwa dalam teks Ibrani kuno, Tetragramaton (dari bahasa Yunani, yang berarti ”empat huruf”) muncul hampir 7.000 kali. Namun, para pemimpin agama dan penerjemah Yudaisme dan Susunan Kristen telah dengan sengaja menghilangkannya dari sebagian besar terjemahan Alkitab mereka.c Bagaimana mereka dapat mengaku mengenal Allah dan memiliki hubungan yang diperkenan dengan-Nya jika mereka tidak mau memanggil Dia dengan nama-Nya? Nama sejati Allah membuka jalan untuk memahami apa maksud-tujuan-Nya dan siapa Dia itu. Lagi pula, apa gunanya Yesus mengajarkan dalam contoh doanya, ”Bapak kami yang di surga, biarlah namamu disucikan” jika nama Allah digunakan saja tidak?—Matius 6:9; Yohanes 5:43; 17:6.
Siapakah Yesus Kristus?
10. Dengan cara apa saja kita dapat memperoleh gambaran yang lengkap mengenai kehidupan dan pelayanan Yesus?
10 Pelajaran 3 dalam brosur Tuntut berjudul ”Siapakah Yesus Kristus?” Dalam enam paragraf saja, pelajaran itu memberikan uraian yang sangat singkat mengenai Yesus, asal usulnya, dan tujuannya datang ke bumi. Akan tetapi, jika Saudara menginginkan kisah lengkap kehidupannya, di luar catatan keempat Injil, tak ada yang lebih baik daripada buku Tokoh Terbesar Sepanjang Masa, yang tersedia dalam 111 bahasa.d Buku ini menyajikan kisah lengkap kehidupan dan pengajaran Kristus secara kronologis, berdasarkan keempat Injil. Ke-133 pasal buku itu membahas peristiwa-peristiwa dalam kehidupan dan pelayanan Yesus. Untuk pendekatan yang berbeda, yakni secara analitis, Saudara dapat mengacu kepada Insight, Jilid 2, di bawah judul ”Jesus Christ”.
11. (a) Apa yang membuat Saksi-Saksi Yehuwa berbeda dalam hal kepercayaan mereka mengenai Yesus? (b) Ayat mana saja dalam Alkitab yang membuktikan dengan jelas bahwa doktrin Tritunggal itu salah, dan publikasi apa yang sangat membantu dalam hal ini?
11 Dalam Susunan Kristen, perbantahan mengenai Yesus berpusat pada apakah ia adalah ”Putra Allah” dan juga ”Allah Putra”—dengan kata lain, perdebatan seputar apa yang Catechism of the Catholic Church sebut sebagai ”misteri utama iman Kristen”, yaitu Tritunggal. Berbeda dari agama-agama Susunan Kristen, Saksi-Saksi Yehuwa percaya bahwa Yesus memiliki asal usul ilahi tetapi bukan Allah. Penjabaran yang sangat bagus mengenai topik ini terdapat dalam brosur Haruskah Anda Percaya kepada Tritunggal?, diterjemahkan ke dalam 95 bahasa.e Di antara banyak ayat yang digunakan brosur tersebut untuk membuktikan bahwa doktrin Tritunggal itu salah adalah Markus 13:32 dan 1 Korintus 15:24, 28.
12. Apa pertanyaan selanjutnya yang perlu kita perhatikan?
12 Pembahasan di atas mengenai Allah dan Yesus Kristus berguna untuk memperlihatkan bagaimana kita dapat mengadakan pelajaran pribadi dengan tujuan membantu orang-orang yang belum mengenal kebenaran Alkitab untuk memperoleh pengetahuan yang saksama. (Yohanes 17:3) Namun, bagaimana dengan orang-orang yang telah bergabung dengan sidang Kristen selama bertahun-tahun? Mengingat pengetahuan Alkitab yang sudah mereka kumpulkan, apakah mereka masih perlu memperhatikan pemelajaran Firman Yehuwa secara pribadi?
Mengapa ’Terus Memperhatikan’?
13. Pandangan keliru apa yang mungkin dimiliki beberapa saudara mengenai pelajaran pribadi?
13 Beberapa saudara yang telah bertahun-tahun menjadi anggota sidang mungkin menjadi terbiasa untuk semata-mata mengandalkan pengetahuan Alkitab yang mereka peroleh pada tahun-tahun pertama mereka sebagai Saksi-Saksi Yehuwa. Memang mudah untuk berdalih, ”Saya tidak perlu lagi belajar segiat orang baru. Lagi pula, coba lihat berapa kali saya sudah membaca Alkitab dan publikasi-publikasi Alkitab selama bertahun-tahun.” Hal itu sama saja dengan mengatakan, ”Saya tidak perlu lagi terlalu memperhatikan pola makan saya sekarang, karena toh dahulu, makanan yang saya santap bergizi.” Kita tahu bahwa tubuh senantiasa membutuhkan nutrisi dari makanan bergizi yang diolah dengan baik agar dapat tetap sehat dan aktif. Terlebih penting lagi dalam memelihara kesehatan dan kekuatan rohani kita!—Ibrani 5:12-14.
14. Mengapa kita perlu terus memperhatikan diri kita?
14 Oleh karena itu, tidak soal kita adalah pelajar Alkitab yang sudah kawakan ataupun masih baru, kita semua perlu mengindahkan nasihat Paulus kepada Timotius, yang pada waktu itu sudah menjadi pengawas yang matang dan bertanggung jawab, ”Teruslah perhatikan dirimu dan pengajaranmu. Tetaplah pada hal-hal ini, sebab dengan melakukan ini engkau akan menyelamatkan dirimu dan juga mereka yang mendengarkan engkau.” (1 Timotius 4:15, 16) Mengapa kita hendaknya mencamkan nasihat Paulus? Ingatlah, Paulus juga menunjukkan bahwa kita sedang bergulat melawan ”siasat-siasat licik Iblis” dan ”melawan kumpulan roh yang fasik di tempat-tempat surgawi”. Dan, rasul Petrus memperingatkan bahwa Iblis sedang ”berupaya melahap orang”, dan ”orang” tersebut bisa saja salah seorang di antara kita. Rasa berpuas diri kita bisa menjadi kesempatan yang memang ia cari.—Efesus 6:11, 12; 1 Petrus 5:8.
15. Sarana pertahanan rohani apa yang kita miliki, dan bagaimana kita dapat memelihara kondisinya?
15 Kalau begitu, sarana apa yang kita miliki untuk mempertahankan diri? Rasul Paulus mengingatkan kita, ”Ambillah seluruh perlengkapan senjata dari Allah, agar kamu sanggup mengadakan perlawanan pada hari yang fasik dan berdiri teguh setelah kamu melakukan segala sesuatu dengan tuntas.” (Efesus 6:13) Keefektifan perlengkapan senjata rohani tersebut tidak hanya bergantung pada kualitas awalnya, tetapi juga pada pemeliharaan yang teratur. Oleh karena itu, perlengkapan senjata dari Allah itu harus mencakup pengetahuan yang terkini dari Firman Allah. Hal ini menandaskan pentingnya senantiasa menyelaraskan pemahaman kita tentang kebenaran sesuai dengan yang disingkapkan Yehuwa melalui Firman-Nya dan golongan budak yang setia dan bijaksana. Pelajaran Alkitab dan publikasi Alkitab secara pribadi dan teratur memang vital untuk memelihara kondisi perlengkapan senjata rohani kita.—Matius 24:45-47; Efesus 6:14, 15.
16. Apa yang dapat kita lakukan untuk memastikan bahwa ”perisai besar iman” kita berfungsi dengan baik?
16 Paulus menyoroti bagian yang sangat penting dari senjata pertahanan kita, yaitu ”perisai besar iman”, yang dapat kita gunakan untuk menangkis dan memadamkan senjata lempar berapi Setan berupa tuduhan palsu dan ajaran murtad. (Efesus 6:16) Jadi, sangatlah penting bagi kita untuk memeriksa seberapa kuat perisai iman kita dan langkah-langkah apa yang perlu kita ambil untuk menjaga dan memperkuatnya. Sebagai contoh, Saudara dapat bertanya, ’Bagaimana saya mempersiapkan pelajaran Alkitab mingguan dengan menggunakan Menara Pengawal? Apakah saya sudah belajar secara memadai sehingga dapat ”menggerakkan kepada kasih dan perbuatan yang baik” selama perhimpunan dengan memberikan jawaban yang telah dipersiapkan dengan baik? Apakah saya membuka Alkitab dan membaca ayat-ayat yang dicantumkan tetapi tidak dikutip? Apakah saya menganjurkan orang-orang lain melalui partisipasi saya yang aktif di perhimpunan?’ Makanan rohani kita keras, dan dibutuhkan pencernaan yang saksama agar dapat memperoleh manfaat sepenuhnya.—Ibrani 5:14; 10:24.
17. (a) Racun apa yang Setan coba gunakan untuk merongrong kerohanian kita? (b) Apa penangkal bisa beracun Setan?
17 Setan mengetahui kelemahan-kelemahan daging yang berdosa, dan siasat-siasat liciknya sangat halus. Salah satu cara ia menyebarkan pengaruhnya yang jahat adalah dengan membuat pornografi semakin mudah tersedia di TV, Internet, video, dan publikasi tercetak. Beberapa orang Kristen telah membiarkan racun tersebut menembus pertahanan mereka yang melemah, dan hal ini membuat mereka kehilangan hak istimewa di sidang atau bahkan mengalami konsekuensi yang lebih serius. (Efesus 4:17-19) Apa penangkal bisa beracun rohani Setan ini? Kita tidak boleh melalaikan pelajaran Alkitab pribadi kita yang teratur, perhimpunan kita, dan seluruh perlengkapan senjata dari Allah. Jika digabungkan, ketiga hal tersebut memberi kita kesanggupan untuk membedakan yang benar dan yang salah serta untuk membenci hal-hal yang Allah benci.—Mazmur 97:10; Roma 12:9.
18. Bagaimana ”pedang roh” dapat membantu kita dalam pertarungan rohani?
18 Jika kita mempertahankan kebiasaan belajar Alkitab yang teratur, kita tidak hanya akan memiliki alat pertahanan yang kuat yang diperoleh melalui pengetahuan yang saksama mengenai Firman Allah, tetapi juga alat penyerang yang efektif melalui ”pedang roh, yaitu firman Allah”. Firman Allah itu ”lebih tajam daripada pedang bermata dua mana pun dan menusuk bahkan sampai memisahkan jiwa dan roh, serta sendi dan sumsumnya, dan dapat menilai pikiran dan niat hati”. (Efesus 6:17; Ibrani 4:12) Jika kita telah mahir menggunakan ”pedang” itu, sewaktu menghadapi godaan, kita akan sanggup melihat dengan jelas apa yang mungkin tampaknya tidak berbahaya, atau malah menarik, lalu menyingkapkannya sebagai jerat yang mematikan dari si fasik. Gudang pengetahuan dan pemahaman Alkitab kita akan membantu kita menolak apa yang fasik dan melakukan apa yang baik. Oleh karena itu, kita semua perlu menanyai diri sendiri, ’Apakah pedang saya tajam atau tumpul? Apakah saya sulit mengingat ayat-ayat Alkitab yang dapat memperkuat serangan saya?’ Marilah kita pertahankan kebiasaan baik kita untuk mempelajari Alkitab secara pribadi dan dengan demikian melawan si Iblis.—Efesus 4:22-24.
19. Manfaat apa saja yang dapat kita peroleh jika kita mengerahkan diri dalam pelajaran pribadi?
19 Paulus menulis, ”Segenap Tulisan Kudus diilhamkan Allah dan bermanfaat untuk mengajar, untuk menegur, untuk meluruskan perkara-perkara, untuk mendisiplin dalam keadilbenaran, agar abdi Allah menjadi cakap sepenuhnya, diperlengkapi secara menyeluruh untuk setiap pekerjaan yang baik.” Jika kita mencamkan kata-kata Paulus itu kepada Timotius, kita dapat memperkuat kerohanian kita sendiri dan dapat membuat pelayanan kita lebih efektif. Para penatua dan hamba pelayanan yang rohani dapat memberikan manfaat yang lebih besar kepada sidang, dan kita semua dapat tetap teguh dalam iman.—2 Timotius 3:16, 17; Matius 7:24-27.
[Catatan Kaki]
a Umumnya, peminat baru yang sedang mempelajari brosur Tuntut akan melanjutkan dengan buku Pengetahuan yang Membimbing kepada Kehidupan Abadi, kedua-duanya diterbitkan oleh Saksi-Saksi Yehuwa. Saran-saran yang diberikan di sini akan turut menyingkirkan rintangan terhadap kemajuan rohani.
b Diterbitkan oleh Saksi-Saksi Yehuwa. Bagi yang memiliki Insight on the Scriptures dalam bahasa Inggris dapat merujuk ke Jilid 2, di bawah judul ”Jehovah”.
c Beberapa terjemahan Spanyol dan Katalonia merupakan perkecualian yang patut diperhatikan dalam menerjemahkan Tetragramaton Ibrani, dengan menggunakan ”Yavé”, ”Yahveh”, ”Jahvè”, dan ”Jehová”.
d Diterbitkan oleh Saksi-Saksi Yehuwa.
e Diterbitkan oleh Saksi-Saksi Yehuwa.
-