PERPUSTAKAAN ONLINE Menara Pengawal
PERPUSTAKAAN ONLINE
Menara Pengawal
Indonesia
  • ALKITAB
  • PUBLIKASI
  • PERHIMPUNAN
  • Dengarkanlah Suara Sang Gembala yang Baik
    Menara Pengawal (Edisi Pelajaran)—2021 | Desember
    • ARTIKEL PELAJARAN 50

      Dengarkanlah Suara Sang Gembala yang Baik

      ”Mereka akan mendengarkan suara saya.”​—YOH. 10:16.

      NYANYIAN 3 Kekuatan, Keyakinan, Harapan Sejati

      YANG DIBAHASa

      1. Apa satu alasan yang mungkin membuat Yesus menyamakan para pengikutnya dengan kawanan domba?

      YESUS mengatakan bahwa dia dan para pengikutnya bisa disamakan seperti seorang gembala dan kawanan dombanya. (Yoh. 10:14) Itu adalah perbandingan yang cocok karena kawanan domba mengenali gembala mereka dan mau menuruti dia. Seorang turis pernah menyaksikan sendiri hal itu. Dia mengatakan, ”Waktu itu, kami ingin mengambil foto beberapa domba, jadi kami berupaya memanggil mereka. Tapi, mereka tidak mau mendekat karena mereka tidak mengenali suara kami. Lalu, seorang gembala kecil datang. Sewaktu dia memanggil domba-domba itu, mereka langsung mengikuti dia.”

      2-3. (a) Bagaimana para pengikut Yesus mendengarkan suaranya? (b) Apa yang akan kita bahas di artikel ini dan artikel berikutnya?

      2 Pengalaman pria itu mengingatkan kita akan kata-kata Yesus mengenai domba-dombanya, yaitu para muridnya. Yesus mengatakan, ”Mereka akan mendengarkan suara saya.” (Yoh. 10:16) Tapi, Yesus berada di surga. Bagaimana kita bisa mendengarkan suaranya? Kita mendengarkan dia dengan menjalankan semua hal yang dia ajarkan.​—Mat. 7:24, 25.

      3 Di artikel ini dan artikel berikutnya, kita akan membahas beberapa hal yang diajarkan oleh Yesus, gembala kita yang baik. Yesus mengajarkan bahwa kita harus berhenti melakukan beberapa hal. Dia juga menyebutkan beberapa hal yang harus kita lakukan. Di artikel ini, kita akan membahas dua hal yang tidak boleh lagi kita lakukan.

      ”JANGAN LAGI KHAWATIR BERLEBIHAN”

      4. Menurut Lukas 12:29, kita mungkin terlalu khawatir tentang hal apa?

      4 Baca Lukas 12:29. Yesus menasihati para pengikutnya untuk tidak lagi terlalu khawatir tentang kebutuhan materi mereka. Kita tahu bahwa semua nasihat Yesus itu selalu benar dan bermanfaat. Kita pasti ingin menjalankannya. Tapi kadang, kita mungkin merasa bahwa itu sulit. Mengapa?

      5. Mengapa beberapa pengikut Yesus khawatir tentang kebutuhan materi mereka?

      5 Beberapa pengikut Yesus mungkin khawatir tentang kebutuhan materi, seperti makanan, pakaian, dan tempat tinggal. Mungkin, mereka tinggal di negeri yang miskin sehingga mereka sulit mencari uang untuk menafkahi keluarga. Atau, seseorang yang menjadi tulang punggung keluarga mungkin meninggal sehingga anggota keluarga lainnya tidak punya cukup uang untuk memenuhi kebutuhan mereka. Selain itu, beberapa orang mungkin kehilangan pekerjaan karena pandemi COVID-19. (Pkh. 9:11) Kalau kita mengalami hal-hal itu atau kesulitan lainnya, bagaimana kita bisa menjalankan nasihat Yesus untuk tidak lagi terlalu khawatir?

      Seorang saudara hampir tenggelam di dalam air. Beberapa gambar: 1. Saudara itu membereskan semua barangnya dari kantor. 2. Dia tidak punya cukup uang sewaktu berbelanja bersama anak-anaknya. 3. Saudara itu dan keluarganya pindah dari rumah mereka.

      Jangan sampai kita ”tenggelam” karena terlalu khawatir tentang hal-hal materi. Sebaliknya, teruslah percaya kepada Yehuwa. (Lihat paragraf 6-8)b

      6. Ceritakan apa yang dialami oleh Rasul Petrus di Laut Galilea.

      6 Suatu kali, Rasul Petrus dan rasul-rasul lainnya berada di perahu di Laut Galilea, dan saat itu sedang ada badai. Tiba-tiba, mereka melihat Yesus berjalan di permukaan air. Petrus mengatakan, ”Tuan, kalau itu memang kamu, suruhlah aku datang kepadamu di atas air.” Yesus mengatakan, ”Datanglah!” Petrus pun keluar dari perahu dan ”berjalan di atas air ke arah Yesus”. Perhatikan apa yang terjadi setelah itu. ”Ketika melihat badai, [Petrus] menjadi takut. Ketika mulai tenggelam, dia berteriak, ’Tuan, tolong aku!’” Yesus pun mengulurkan tangannya dan menolong Petrus. Ingatlah bahwa saat Petrus terus berfokus melihat Yesus, dia bisa berjalan di atas air. Tapi saat melihat badai, dia menjadi ketakutan dan mulai tenggelam.​—Mat. 14:24-31.

      7. Apa yang bisa kita pelajari dari pengalaman Petrus?

      7 Kita bisa belajar dari pengalaman Petrus. Sewaktu Petrus keluar dari perahu dan mulai berjalan di atas air, dia tidak menyangka bahwa dia akan takut melihat badai dan mulai tenggelam. Petrus pasti ingin terus berjalan di atas air dan mendekati Yesus. Tapi karena dia tidak terus berfokus melihat Yesus, dia mulai tenggelam. Sekarang, kita tidak bisa berjalan di atas air, tapi kita juga menghadapi berbagai ujian iman. Kalau kita tidak terus berfokus pada Yehuwa dan janji-janji-Nya, kita bisa mulai tenggelam secara rohani. Jadi, meskipun kita mengalami berbagai masalah yang bagaikan badai dalam hidup kita, kita harus terus berfokus pada Yehuwa dan terus ingat bahwa Dia sanggup membantu kita. Bagaimana kita bisa melakukan hal itu?

      8. Apa yang perlu kita ingat agar kita tidak terlalu khawatir tentang kebutuhan materi?

      8 Kita harus percaya kepada Yehuwa dan tidak menjadi terlalu khawatir. Ingatlah bahwa Yehuwa, Bapak kita yang pengasih, berjanji bahwa Dia akan memenuhi kebutuhan materi kita kalau kita mengutamakan hal-hal rohani. (Mat. 6:32, 33) Yehuwa terbukti selalu menepati janji-Nya itu. (Ul. 8:4, 15, 16; Mz. 37:25) Kalau burung-burung di langit dan bunga-bunga di padang saja diurus oleh Yehuwa, apalagi kita. Jadi, kita tidak perlu terlalu khawatir tentang makanan atau pakaian. (Mat. 6:26-30; Flp. 4:6, 7) Sama seperti orang tua yang pengasih, Bapak kita yang di surga pasti akan memenuhi kebutuhan kita karena Dia sangat menyayangi kita. Ya, kita bisa yakin bahwa Yehuwa akan selalu mengurus dan menjaga kita!

      9. Apa yang bisa Saudara pelajari dari pengalaman sepasang suami istri perintis?

      9 Perhatikan sebuah pengalaman yang menunjukkan bahwa Yehuwa bisa memenuhi kebutuhan materi kita. Sepasang suami istri perintis ingin menjemput beberapa saudari yang tinggal di tempat pengungsian untuk pergi berhimpun. Mereka harus mengendarai mobil tua mereka selama lebih dari satu jam untuk sampai ke situ. Sang suami menceritakan, ”Setelah berhimpun, kami mengajak saudari-saudari itu untuk makan. Tapi, kami kemudian sadar bahwa kami tidak punya makanan di rumah.” Lalu, bagaimana mereka bisa mendapat makanan? Sang suami melanjutkan, ”Sewaktu kami sampai di rumah, ada dua kantong besar berisi makanan di depan pintu. Kami tidak tahu siapa yang menaruhnya. Yehuwa benar-benar memenuhi kebutuhan kami.” Tidak lama setelah itu, mobil tua mereka rusak. Mereka tidak punya cukup uang untuk memperbaikinya, padahal mereka membutuhkannya untuk berdinas. Mereka pun membawa mobil tersebut ke bengkel untuk mencari tahu biaya perbaikannya. Tiba-tiba, seorang pria datang dan bertanya, ”Itu mobil siapa?” Saudara itu menjawab bahwa itu adalah mobilnya tapi mobil itu sedang rusak. Ternyata pria itu tertarik untuk membelinya, dan dia tidak keberatan meskipun mobil itu rusak. Dia mengatakan, ”Istri saya sedang mencari mobil tipe ini dengan warna persis seperti ini. Bapak mau menjualnya dengan harga berapa?” Setelah mobil tersebut dijual, saudara itu mendapat cukup uang untuk membeli mobil lain. Dia mengatakan, ”Hari itu, kami senang sekali! Kami tahu bahwa semua itu bukan kebetulan. Itu pasti bantuan dari Yehuwa.”

      10. Menurut Mazmur 37:5, apa yang perlu kita lakukan agar kita tidak terlalu khawatir akan kebutuhan materi?

      10 Kalau kita mendengarkan sang gembala yang baik dan tidak lagi terlalu khawatir akan kebutuhan materi, Yehuwa pasti akan memenuhi kebutuhan kita. (Baca Mazmur 37:5; 1 Ptr. 5:7) Coba pikirkan beberapa kesulitan yang disebutkan di paragraf 5. Sampai saat ini, Yehuwa mungkin memenuhi kebutuhan kita melalui kepala keluarga kita. Atau, Dia mungkin membantu kita melalui atasan di tempat kita bekerja. Tapi, kalau seorang kepala keluarga tidak bisa lagi melakukan hal itu atau kalau kita kehilangan pekerjaan, Yehuwa pasti akan memenuhi kebutuhan kita dengan cara lain. Dia tidak akan mengabaikan kita. Sekarang, mari kita bahas nasihat Yesus tentang hal lain yang tidak boleh lagi kita lakukan.

      ”BERHENTILAH MENGHAKIMI”

      Di bawah gambar berlian yang belum diasah, ada gambar seorang saudara muda yang datang terlambat ke perhimpunan. Seorang saudara lansia melihat dia dengan kesal. Beberapa gambar: Di bawah gambar berlian yang sudah diasah, ada tiga situasi. 1. Saudara muda itu memberikan kartu kontak kepada seorang pria yang sedang duduk di taman. 2. Dia membawakan belanjaan seorang wanita lansia. 3. Dia memangkas tanaman di halaman Balai Kerajaan.

      Kita bisa berhenti menghakimi orang lain kalau kita berfokus pada sifat-sifat baik mereka (Lihat paragraf 11, 14-16)c

      11. Menurut nasihat Yesus di Matius 7:1, 2, kita harus berhenti melakukan apa, dan mengapa itu mungkin sulit?

      11 Baca Matius 7:1, 2. Yesus tahu bahwa manusia itu tidak sempurna dan sering berfokus pada kekurangan orang lain. Perhatikan apa yang Yesus katakan: ”Berhentilah menghakimi.” Kita mungkin berupaya agar tidak sampai menghakimi rekan-rekan seiman kita. Tapi, kadang kita gagal dan mulai bersikap kritis. Kalau itu terjadi, apa yang perlu kita lakukan? Kita harus berupaya keras untuk berhenti menghakimi orang lain, seperti yang Yesus katakan.

      12-13. Bagaimana teladan Yehuwa membantu kita untuk berhenti menghakimi orang lain?

      12 Kita bisa mendapat manfaat dengan merenungkan teladan Yehuwa. Dia selalu berfokus pada hal-hal baik dalam diri manusia. Kita bisa melihat contohnya dari cara Yehuwa memperlakukan Raja Daud, yang beberapa kali melakukan dosa besar. Misalnya, Daud berzina dengan Bat-syeba, dan dia bahkan mengatur agar suami Bat-syeba terbunuh dalam perang. (2 Sam. 11:2-4, 14, 15, 24) Akibatnya, Daud dan keluarganya, termasuk istri-istrinya yang lain, mengalami banyak kesulitan. (2 Sam. 12:10, 11) Pada kesempatan lain, Daud memerintahkan agar jumlah prajuritnya dihitung, padahal Yehuwa tidak memerintahkannya. Itu menunjukkan bahwa Daud tidak mengandalkan Yehuwa. Daud mungkin melakukannya karena dia bangga dengan jumlah pasukannya yang besar dan merasa bahwa pasukan tersebut bisa melindungi bangsanya. Akibat kesalahan Daud itu, 70.000 orang Israel meninggal karena wabah penyakit!​—2 Sam. 24:1-4, 10-15.

      13 Kalau Saudara hidup di Israel pada waktu itu, bagaimana pandangan Saudara terhadap Daud? Apakah Saudara merasa bahwa dia seharusnya tidak diampuni oleh Yehuwa? Yehuwa tidak pernah merasa seperti itu. Dia berfokus pada kesetiaan Daud sepanjang hidupnya dan pertobatannya yang tulus. Itulah sebabnya Yehuwa mau mengampuni dosa-dosa Daud yang besar. Yehuwa tahu bahwa Daud sangat mengasihi Dia dan ingin melakukan apa yang benar. Kita semua pasti bersyukur karena Allah kita berfokus pada hal-hal baik dalam diri kita.​—1 Raj. 9:4; 1 Taw. 29:10, 17.

      14. Apa yang perlu orang Kristen lakukan agar bisa berhenti menghakimi orang lain?

      14 Yehuwa tidak mengharapkan kesempurnaan dari kita. Jadi, kita juga tidak boleh mengharapkan kesempurnaan dari orang lain. Dan, kita perlu berfokus pada hal-hal baik dalam diri mereka. Biasanya, kita bisa dengan mudah melihat kekurangan orang lain dan bersikap kritis. Tapi, kalau kita meniru Yehuwa, kita pasti bisa bekerja sama dengan orang lain meskipun melihat ketidaksempurnaan mereka. Sebuah berlian yang belum diasah mungkin terlihat tidak menarik. Tapi, kalau seseorang tidak berfokus pada hal itu, dia akan menyadari bahwa berlian itu bisa menjadi indah dan berharga setelah dipotong dan diasah. Sama seperti itu, kita perlu meniru Yehuwa dan Yesus dengan tidak berfokus pada kekurangan orang lain tapi memperhatikan sifat-sifat baik mereka.

      15. Apa lagi yang bisa membantu kita untuk tidak bersikap kritis terhadap orang lain?

      15 Selain berfokus pada sifat baik orang lain, apa lagi yang bisa membantu kita untuk tidak bersikap kritis? Kita perlu berupaya membayangkan seperti apa kehidupan mereka. Perhatikan teladan Yesus. Suatu hari di bait, Yesus melihat seorang janda miskin memasukkan dua uang logam kecil ke kotak sumbangan. Yesus tidak berpikir, ’Mengapa janda itu tidak memberikan lebih banyak sumbangan?’ Yesus tidak berfokus pada jumlah sumbangan janda itu. Sebaliknya, Yesus memikirkan keadaan janda itu dan alasannya dia memberikan sumbangan. Yesus pun memuji dia karena telah memberikan yang terbaik.​—Luk. 21:1-4.

      16. Apa yang bisa Saudara pelajari dari pengalaman Veronica?

      16 Dari pengalaman seorang saudari bernama Veronica, kita bisa belajar pentingnya memikirkan keadaan orang lain. Di sidang Veronica, ada seorang saudari yang adalah orang tua tunggal. Veronica mengatakan, ”Saya melihat bahwa saudari itu dan putranya tidak rutin berhimpun dan mengabar. Saya jadi berpikiran negatif tentang mereka. Tapi kemudian, saya berdinas dengan saudari itu. Dia menceritakan bahwa putranya mengidap autisme. Dia berupaya melakukan yang terbaik agar bisa memenuhi kebutuhan dia dan putranya secara jasmani dan rohani. Kadang, karena keadaan putranya, dia harus berhimpun di sidang lain.” Veronica mengatakan, ”Saya baru tahu bahwa kehidupan saudari itu ternyata sangat sulit. Sekarang, saya benar-benar menyayangi dan merespek dia karena saya tahu dia sudah melakukan sebisa-bisanya untuk melayani Yehuwa.”

      17. Yakobus 2:8 memerintahkan kita untuk melakukan apa, dan bagaimana kita bisa melakukan hal itu?

      17 Apa yang perlu kita lakukan kalau kita ternyata bersikap kritis terhadap seorang rekan seiman? Kita harus ingat bahwa kita diperintahkan untuk mengasihi saudara-saudari kita. (Baca Yakobus 2:8.) Selain itu, kita harus berdoa dengan sungguh-sungguh kepada Yehuwa dan memohon agar Dia membantu kita untuk berhenti menghakimi orang itu. Sesuai dengan doa kita, kita perlu berupaya untuk bergaul dengan orang itu agar kita bisa lebih mengenal dia. Kita bisa mengajaknya berdinas atau makan bersama. Setelah kita semakin mengenal dia, kita perlu berupaya meniru Yehuwa dan Yesus dengan berfokus pada hal-hal baik dalam dirinya. Dengan melakukan itu, kita menunjukkan bahwa kita mengikuti nasihat dari gembala kita yang baik untuk berhenti menghakimi orang lain.

      18. Bagaimana kita bisa menunjukkan bahwa kita mendengarkan suara gembala kita yang baik?

      18 Para pengikut Yesus mendengarkan suaranya, sama seperti kawanan domba mendengarkan suara gembala mereka. Kalau kita benar-benar berupaya untuk tidak lagi khawatir tentang hal-hal materi dan berhenti menghakimi orang lain, Yehuwa dan Yesus pasti akan memberkati upaya kita. Tidak soal kita adalah bagian dari ”kawanan kecil” atau ”domba-domba lain”, semoga kita semua terus mendengarkan dan mematuhi gembala kita yang baik. (Luk. 12:32; Yoh. 10:11, 14, 16) Di artikel berikutnya, kita akan membahas nasihat Yesus tentang dua hal yang harus dilakukan para pengikutnya.

  • Teruslah ”Dengarkan Dia”
    Menara Pengawal (Edisi Pelajaran)—2021 | Desember
    • ARTIKEL PELAJARAN 51

      Teruslah ”Dengarkan Dia”

      ”Inilah Putra-Ku, yang Kukasihi. Aku berkenan kepadanya. Dengarkan dia.”​—MAT. 17:5.

      NYANYIAN 54 ’Inilah Jalannya’

      YANG DIBAHASa

      1-2. (a) Tiga rasul Yesus diperintahkan untuk melakukan apa, dan bagaimana reaksi mereka? (b) Apa yang akan kita bahas di artikel ini?

      SETELAH Perayaan Paskah tahun 32 M, Rasul Petrus, Yakobus, dan Yohanes menyaksikan penglihatan yang luar biasa. Di sebuah gunung yang tinggi, kemungkinan Gunung Hermon, mereka melihat rupa Yesus berubah. ”Mukanya bersinar seperti matahari, dan baju luarnya menjadi putih cemerlang.” (Mat. 17:1-4) Di akhir penglihatan itu, mereka mendengar Allah mengatakan, ”Inilah Putra-Ku, yang Kukasihi. Aku berkenan kepadanya. Dengarkan dia.” (Mat. 17:5) Setelah kejadian itu, ketiga rasul tersebut menunjukkan melalui cara hidup mereka bahwa mereka mendengarkan Yesus. Kita pasti ingin meniru teladan mereka.

      2 Di artikel sebelumnya, kita sudah belajar bahwa untuk mendengarkan suara Yesus, kita harus berhenti melakukan beberapa hal. Sekarang, di artikel ini, kita akan membahas dua hal yang harus kita lakukan.

      ”MASUKLAH MELALUI GERBANG YANG SEMPIT” 

      3. Menurut Matius 7:13, 14, apa yang harus kita lakukan?

      3 Baca Matius 7:13, 14. Yesus hanya menyebutkan dua jalan, yaitu ”jalan yang luas” dan ”jalan yang sesak”. Tidak ada jalan yang ketiga. Kita harus memilih jalan mana yang akan kita lewati. Ini adalah keputusan terpenting yang harus kita buat, karena keputusan ini menentukan apakah kita akan hidup abadi atau tidak.

      4. Seperti apakah ”jalan yang luas” itu?

      4 Kita perlu ingat perbedaan kedua jalan yang Yesus sebutkan. Banyak orang memilih ”jalan yang luas” karena jalan itu lebih mudah dilewati. Mereka memilih untuk tetap berada di jalan itu dan mengikuti orang-orang yang berjalan di sana. Sayangnya, mereka tidak sadar bahwa Setan-lah yang ingin mereka berjalan di situ dan bahwa jalan itu sebenarnya menuju kematian.​—1 Kor. 6:9, 10; 1 Yoh. 5:19.

      5. Bagaimana murid-murid Yesus bisa menemukan ”jalan yang sesak” dan mulai berjalan di situ?

      5 Jalan yang satu lagi adalah ”jalan yang sesak”, dan Yesus mengatakan bahwa hanya sedikit yang bisa menemukannya. Mengapa? Karena seperti yang Yesus peringatkan di ayat berikutnya, ada banyak nabi palsu yang menyesatkan orang-orang. (Mat. 7:15) Menurut perkiraan, sekarang ini ada ribuan agama, dan kebanyakan dari mereka mengaku mengajarkan kebenaran. Akibatnya, jutaan orang menjadi bingung dan merasa bahwa tidak ada agama yang benar. Jadi, mereka tidak berupaya untuk menemukan jalan menuju kehidupan. Tapi sebenarnya, jalan itu bisa ditemukan. Yesus mengatakan, ”Kalau kalian terus menyimpan kata-kata saya, kalian benar-benar murid saya. Kalian akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan membebaskan kalian.” (Yoh. 8:31, 32) Sebagai murid Yesus, Saudara tidak mengikuti orang banyak. Sebaliknya, Saudara berupaya menemukan kebenaran, dan Saudara mendengarkan ajaran Yesus. Saudara juga mulai mempelajari Firman Allah dengan sungguh-sungguh dan mencari tahu apa yang Allah inginkan dari kita. Misalnya, Saudara belajar bahwa Yehuwa ingin agar kita menolak ajaran agama palsu dan berhenti mengikuti perayaan-perayaan yang berasal dari agama palsu. Saudara juga belajar bahwa membuat perubahan untuk menyenangkan Yehuwa itu tidak selalu mudah. (Mat. 10:34-36) Mungkin, itulah yang Saudara rasakan. Meski begitu, Saudara tidak menyerah, karena Saudara mengasihi Bapak kita yang di surga dan ingin menyenangkan Dia. Yehuwa pasti sangat senang melihat upaya Saudara!​—Ams. 27:11.

      CARANYA TETAP BERADA DI JALAN YANG SESAK

      Sebuah pagar pembatas melindungi kendaraan yang lewat di jalan yang sempit di daerah pegunungan. Beberapa gambar: 1. Seorang saudara muda membaca Alkitab. 2. Seorang saudara memalingkan muka dari layar HP-nya. 3. Seorang saudari menolak godaan seorang anak laki-laki di sekolahnya. 4. Seorang saudari diberi brosur dari sebuah universitas.

      Nasihat dan standar Allah bisa membantu kita tetap berada di jalan menuju kehidupan (Lihat paragraf 6-8)d

      6. Menurut Mazmur 119:9, 10, 45, 133, apa yang bisa membantu kita tetap berada di jalan menuju kehidupan?

      6 Setelah kita mulai berjalan di jalan yang sesak, apa yang bisa membantu kita tetap berada di situ? Coba pikirkan perumpamaan berikut: Sewaktu kita menyetir mobil di jalan yang sempit di daerah pegunungan, biasanya ada pagar pembatas di pinggir jalan. Kita pasti tidak akan merasa bahwa pagar itu membuat kita tidak bebas bergerak. Nah, standar Yehuwa yang ada di Alkitab bisa disamakan seperti pagar pembatas itu. Yehuwa memberikan standar tersebut supaya kita bisa tetap berada di jalan menuju kehidupan.​—Baca Mazmur 119:9, 10, 45, 133.

      7. Apa yang harus diingat anak muda tentang jalan yang sesak?

      7 Anak-anak muda, apakah kalian kadang merasa bahwa standar Yehuwa itu terlalu mengekang? Setan ingin kalian berpikir seperti itu. Dia berupaya membuat kalian tertarik untuk mengikuti orang-orang yang berjalan di jalan yang luas karena kehidupan mereka kelihatannya menyenangkan. Dia ingin kalian berpikir bahwa kalian akan rugi kalau kalian tidak mengikuti apa yang dilakukan teman-teman sekolah kalian atau apa yang kalian lihat di Internet. Setan memberikan kesan bahwa standar Yehuwa membuat kalian tidak bisa menikmati kehidupan.b Tapi ingatlah, Setan tidak mau orang-orang tahu bahwa jalan yang luas itu berujung pada kematian. Berbeda dengan Setan, Yehuwa memberitahukan dengan jelas bahwa kalian akan punya masa depan yang cerah kalau kalian tetap berada di jalan menuju kehidupan.​—Mz. 37:29; Yes. 35:5, 6; 65:21-23.

      8. Apa yang bisa dipelajari anak muda dari pengalaman Olaf?

      8 Kalian bisa belajar dari pengalaman seorang saudara muda bernama Olaf.c Teman-teman sekelasnya menekan dia untuk berhubungan seks. Dia menjelaskan bahwa Saksi-Saksi Yehuwa tidak mau berhubungan seks di luar nikah karena mengikuti standar Alkitab. Tapi setelah mendengar itu, beberapa teman perempuannya malah merasa tertantang dan berupaya membuat dia mau berhubungan seks dengan mereka. Meski begitu, Olaf tetap bertekad untuk melakukan apa yang benar. Olaf juga mendapat tekanan dari guru-gurunya. Dia mengatakan, ”Guru-guru saya berupaya meyakinkan saya untuk kuliah supaya saya tidak diremehkan orang lain. Kata mereka, saya tidak akan sukses kalau tidak kuliah.” Apa yang membantu Olaf menolak tekanan di sekolah? Dia menjelaskan, ”Saya bersahabat dengan saudara-saudari di sidang. Mereka seperti keluarga saya sendiri. Saya juga mulai mempelajari Alkitab dengan lebih serius. Semakin banyak saya belajar, saya semakin yakin bahwa ini memang kebenaran. Akhirnya, saya tergerak untuk dibaptis.”

      9. Apa yang harus kita lakukan agar tetap berada di jalan yang sesak?

      9 Setan berharap kita pindah dari jalan yang menuju kehidupan. Dia ingin kita mengikuti kebanyakan orang yang berada di jalan yang luas, yang ”menuju kemusnahan”. (Mat. 7:13) Supaya kita bisa tetap berada di jalan yang sesak, kita harus terus mendengarkan Yesus. Kita juga harus ingat bahwa kita justru akan aman kalau kita tetap berada di jalan itu. Sekarang, mari kita bahas nasihat Yesus yang berikutnya.

      ’BERDAMAILAH DENGAN SAUDARAMU’

      10. Menurut nasihat Yesus di Matius 5:23, 24, apa yang harus kita lakukan?

      10 Baca Matius 5:23, 24. Di ayat-ayat ini, Yesus menyebutkan tentang suatu hal yang sangat penting bagi orang-orang Yahudi yang mendengarkan dia, yaitu mempersembahkan korban. Coba bayangkan keadaannya: Seorang Yahudi datang ke bait, dan dia sudah siap memberikan seekor binatang korban kepada imam. Tapi, kalau dia tiba-tiba ingat bahwa saudaranya sedang kesal terhadap dia, dia harus pergi dulu dan meninggalkan binatang korban itu. Mengapa? Apa yang lebih penting daripada mempersembahkan korban kepada Yehuwa? Yesus dengan jelas mengatakan, ”Pergilah berdamai dulu dengan saudaramu.”

      Maukah Saudara meniru Yakub, yang dengan rendah hati berupaya berdamai dengan kakaknya? (Lihat paragraf 11-12)e

      11. Ceritakan apa saja yang Yakub lakukan untuk berdamai dengan Esau.

      11 Kita bisa belajar tentang caranya berdamai dari apa yang Yakub lakukan untuk berdamai dengan Esau, kakaknya. Waktu itu, Yakub sudah meninggalkan kampung halamannya selama kira-kira 20 tahun. Lalu, Yehuwa mengutus seorang malaikat untuk memerintahkan Yakub kembali ke sana. (Kej. 31:11, 13, 38) Tapi masalahnya, Esau pernah ingin membunuh dia. (Kej. 27:41) Yakub merasa ”sangat takut dan khawatir” kalau-kalau kakaknya masih dendam terhadapnya. (Kej. 32:7) Jadi, apa yang Yakub lakukan? Pertama, dia berdoa dengan sungguh-sungguh kepada Yehuwa. Lalu, dia mengirimkan banyak sekali hadiah kepada Esau. (Kej. 32:9-15) Dan ketika mereka akhirnya bertemu, Yakub membungkuk di depan Esau, bukan hanya satu atau dua kali, tapi sampai tujuh kali! Karena Yakub mau merendahkan diri dan menunjukkan hormat kepada Esau, dia bisa berdamai dengan kakaknya.​—Kej. 33:3, 4.

      12. Apa yang bisa kita pelajari dari teladan Yakub?

      12 Kita bisa mendapat pelajaran penting dari apa yang Yakub lakukan sebelum bertemu dengan kakaknya dan sikapnya saat mereka akhirnya bertemu. Yakub dengan rendah hati meminta bantuan Yehuwa, lalu dia bertindak sesuai dengan doanya. Dia melakukan beberapa hal yang bisa membuat kakaknya mau berdamai dengan dia. Sewaktu mereka bertemu, Yakub tidak mempermasalahkan siapa yang benar dan siapa yang salah. Bagi Yakub, yang penting dia bisa berdamai dengan kakaknya. Bagaimana kita bisa meniru teladan Yakub?

      CARA BERDAMAI DENGAN ORANG LAIN

      13-14. Kalau kita membuat seorang rekan seiman tersinggung, apa yang perlu kita lakukan?

      13 Agar kita tetap berada di jalan menuju kehidupan, kita harus menjaga perdamaian dengan saudara-saudari kita. (Rm. 12:18) Kalau kita membuat seorang rekan seiman tersinggung, apa yang perlu kita lakukan? Seperti Yakub, kita perlu berdoa dengan sungguh-sungguh kepada Yehuwa. Kita bisa meminta Yehuwa membantu kita berdamai dengan saudara kita.

      14 Kita juga harus memeriksa diri. Coba pikirkan: ’Apakah saya rela mengesampingkan harga diri saya, meminta maaf dengan tulus, dan berupaya untuk berdamai? Bagaimana perasaan Yehuwa dan Yesus kalau saya berinisiatif untuk berdamai dengan rekan seiman saya?’ Dengan memikirkan pertanyaan-pertanyaan seperti itu, kita bisa tergerak untuk berdamai dengan saudara kita, seperti yang Yesus inginkan. Lalu, sewaktu kita menemui saudara kita untuk berdamai, bagaimana kita bisa meniru teladan Yakub?

      15. Menurut Efesus 4:2, 3, bagaimana seharusnya sikap kita sewaktu berupaya berdamai dengan saudara kita?

      15 Coba bayangkan apa yang bisa terjadi kalau Yakub lebih mementingkan harga dirinya sewaktu bertemu dengan Esau. Hasilnya mungkin akan sangat berbeda. Sewaktu kita menemui saudara kita untuk berdamai dengannya, kita harus rendah hati. (Baca Efesus 4:2, 3.) Amsal 18:19 mengatakan, ”Saudara yang sakit hati lebih sulit ditaklukkan daripada kota berbenteng, dan ada perselisihan yang seperti palang gerbang suatu benteng.” Tapi, permintaan maaf yang tulus bisa membuat ”palang” itu terbuka.

      16. Sewaktu kita ingin berdamai dengan saudara kita, apa yang perlu kita pikirkan, dan mengapa?

      16 Sebelum kita berbicara dengan saudara yang sakit hati itu, kita perlu memikirkan baik-baik apa yang akan kita katakan dan bagaimana kita mengatakannya. Sewaktu kita berbicara dengan dia, kita perlu ingat bahwa tujuan kita adalah membuat dia tidak sakit hati lagi. Awalnya, dia mungkin mengatakan sesuatu yang tidak enak didengar atau bahkan menyalahkan kita. Itu bisa membuat kita marah atau ingin membenarkan diri. Tapi kalau reaksi kita seperti itu, apakah upaya kita untuk berdamai akan berhasil? Pasti tidak. Ingatlah bahwa berdamai dengan saudara kita lebih penting daripada membuktikan siapa yang benar dan siapa yang salah.​—1 Kor. 6:7.

      17. Apa yang bisa Saudara pelajari dari pengalaman Gilbert?

      17 Perhatikan pengalaman seorang saudara bernama Gilbert, yang berupaya keras untuk menjadi pembawa damai. Dia menceritakan, ”Dulu, hubungan saya dengan anak perempuan saya tidak baik. Selama lebih dari dua tahun, saya berupaya untuk berbicara baik-baik dengannya supaya kami bisa akur.” Apa lagi yang Gilbert lakukan? ”Sebelum berbicara dengannya, saya berdoa dan menyiapkan hati supaya saya tidak kesal kalau dia mengatakan sesuatu yang menyakitkan. Saya harus siap memaafkan dia. Saya juga tidak berupaya untuk membuktikan bahwa saya benar, dan saya tahu bahwa saya harus menjaga perdamaian di dalam keluarga.” Apa hasilnya? Gilbert mengatakan, ”Saya senang karena sekarang saya punya hubungan yang baik dengan semua anggota keluarga saya.”

      18-19. Kalau kita membuat seseorang tersinggung, apa yang harus kita lakukan, dan mengapa?

      18 Jadi, apa kesimpulannya? Kalau Saudara membuat seorang rekan seiman tersinggung, ikutilah nasihat Yesus untuk berdamai. Berdoalah kepada Yehuwa, dan mintalah bantuan kuasa kudus-Nya agar Saudara bisa menjadi pembawa damai. Hasilnya, Saudara akan lebih bahagia, dan Saudara membuktikan bahwa Saudara memang mendengarkan Yesus.​—Mat. 5:9.

      19 Kita bersyukur karena Yehuwa dengan pengasih memberi kita petunjuk melalui Yesus Kristus, ”kepala sidang” kita. (Ef. 5:23) Seperti Rasul Petrus, Yakobus, dan Yohanes, semoga kita bertekad untuk terus ’mendengarkan dia’. (Mat. 17:5) Kita sudah membahas bahwa kita bisa melakukannya dengan (1) tetap berada di jalan yang sesak menuju kehidupan dan (2) berdamai dengan rekan seiman yang tersinggung terhadap kita. Dengan begitu, kita akan mendapatkan banyak berkat, dan di masa depan, kita akan hidup bahagia selamanya.

Publikasi Menara Pengawal Bahasa Indonesia (1971-2025)
Log Out
Log In
  • Indonesia
  • Bagikan
  • Pengaturan
  • Copyright © 2025 Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania
  • Syarat Penggunaan
  • Kebijakan Privasi
  • Pengaturan Privasi
  • JW.ORG
  • Log In
Bagikan