-
Bagaimana Saya Dapat Mengatasi Patah Hati?Sedarlah!—1988 (No. 26) | Sedarlah!—1988 (No. 26)
-
-
Kaum Remaja Bertanya . . .
Bagaimana Saya Dapat Mengatasi Patah Hati?
ANDA hanya tahu bahwa orang ini yang akan menikah dengan anda. Anda senang bergaul bersama, memiliki minat yang sama, dan merasakan daya tarik bersama. Kemudian, tiba-tiba, keakraban itu berakhir, meledak dalam kemarahan—atau mencair dengan air mata.
Dalam hidup ini hanya sedikit perkara yang menyebabkan sakit hati sedalam putusnya percintaan. Dalam buku The Young Person’s Guide to Love (Pedoman Anak Muda tentang Cinta), Morton Hunt menyatakan, ”Hanya kira-kira satu dari antara lima orang, sewaktu putus cinta remajanya, merasa biasa saja. Bagi mereka yang sama sekali tidak ingin putus cinta, kebanyakan merasa terkoyak, remuk, sangat marah.” Kaum remaja sering kali mencari susah sendiri dengan terlibat dalam percintaan jauh sebelum mereka siap menikah.
Walaupun demikian, beberapa orang dewasa mungkin sudah siap untuk menikah dan telah berpacaran dengan hormat dan serius—ternyata mendapati diri patah hati sewaktu hubungan itu tidak berhasil. Dapatkah seseorang sembuh dari patah hati yang menyakitkan karena putus cinta?
Mengapa Sulit untuk Berpisah
Dalam bukunya The Chemistry of Love, Dr. Michael Liebowitz menyamakan awal cinta seperti serangan dari obat yang kuat. Tetapi seperti obat, cinta sedemikian dapat menimbulkan ’gejala-gejala menarik diri’ yang hebat sewaktu pengaruhnya pudar. Ahli kejiwaan David Goss mengutip ’depresi, ketegangan, penyakit fisik, hilangnya tujuan hidup, dan saat-saat sedih’ sebagai reaksi yang khas atas putus cinta. Dan tidak banyak perbedaan apakah cinta itu hanyalah perasaan tergila-gila atau ’cinta yang sejati’. Keduanya dapat menghasilkan angan-angan yang muluk-muluk—dan kekecewaan yang menyakitkan jika hubungan itu berakhir.
Perasaan ditolak, sakit hati, dan mungkin marah yang muncul segera sesudah putus dapat memperburuk pandangan masa depan anda. Seorang wanita Kristen mengatakan dirinya ’terluka’ karena dikhianati. ”Saya hanya dapat menjadi orang yang mengatakan ’Halo, apa kabar?’ [terhadap lawan jenis] sekarang,” ia berkata. ”Saya tidak akan membiarkan siapapun untuk akrab dengan saya.” Semakin dalam ikatan yang anda rasakan dalam suatu hubungan, semakin dalam pula sakit hati yang dirasakan sewaktu putus. Diberitahu oleh orang lain bahwa itu hanyalah cinta monyet atau bahwa ’anda segera akan melupakannya’ tidak banyak menghibur.
Mengapa Terjadi Perpisahan
Yang sangat dibutuhkan saat itu, bukan emosi yang tidak logis, tetapi pemikiran yang tenang. ”Kebijaksanaan akan memelihara engkau, kepandaian akan menjaga engkau,” kata Salomo. (Amsal 2:11) Renungan akan membuat jelas bahwa kebebasan berpacaran dengan siapapun yang anda sukai membawa tanggung jawab besar: kemungkinan menderita ditolak. Bagaimanapun juga, apa satu-satunya alasan yang logis untuk terus dekat dengan lawan jenis? Bukankah untuk melihat apakah orang itu cocok sebagai calon teman hidup? Berkencan sekedar untuk bersenang-senang sama saja dengan secara kejam mempermainkan perasaan seseorang.—Amsal 26:18, 19.
Tetapi apakah berkencan, atau bentuk pacaran yang lain, menjamin bahwa cinta sejati akan bertumbuh atau bahwa perkawinan sudah pasti? Tidak, karena setelah beberapa saat mungkin kelihatan anda memiliki tujuan yang berbeda, cara hidup yang tidak cocok, atau tabiat yang bertentangan. Dalam keadaan demikian, tindakan yang bijaksana mungkin adalah memutuskannya! ”Kalau orang bijak melihat malapetaka, bersembunyilah ia,” kata Alkitab.—Amsal 22:3.
Maka jika ada orang yang mulai mengajak anda berkencan dengan maksud yang jujur tetapi kemudian menyimpulkan bahwa perkawinan tidaklah bijaksana, anda tidak perlu merasa diperlakukan dengan tidak adil. Persoalannya adalah, tidak ada cara yang tidak menyakitkan untuk mengakhiri hubungan cinta. Pasti anda lebih senang jika orang tersebut memperlihatkan pertimbangan Kristen dan menjumpai anda, menjelaskan sebenarnya mengapa hubungan itu harus berakhir. Tetapi, sering kali, orang yang meninggalkan tidak bersedia bertatap muka. Ia mungkin mengambil jalan keluar yang tidak baik, mengirim surat yang pendek atau, lebih buruk lagi, hanya dengan mengabaikan anda, seolah-olah dengan demikian persoalannya akan selesai.
Bahkan sewaktu pemutusan hubungan ditangani dengan sangat bijaksana dan baik, anda masih cenderung sakit hati dan merasa ditolak. Tetapi, tidak ada alasan bagi anda untuk merasa kehilangan harga diri. Kenyataan bahwa anda tidak ”tepat” di mata orang ini tidak berarti bahwa anda tidak tepat di mata orang lain. Bagaimanapun juga, orang ini bukan satu-satunya pria atau wanita di dunia!
Cara lain untuk melawan perasaan ditolak adalah berupaya menangani putus cinta dengan kepala dingin. Apakah gadis yang anda sangka anda cintai benar-benar cocok dengan gambaran ”isteri yang cakap” yang digambarkan dalam Alkitab? (Amsal 31:10-31) Apakah pemuda yang anda cintai adalah orang yang akan benar-benar ”mengasihi isterinya sama seperti tubuhnya sendiri”, atau apakah ia masih mementingkan diri? (Efesus 5:28) Memang, ia mungkin memiliki wajah yang tampan dan pesona yang menawan. Ya, tetapi ”kemolekan adalah bohong dan kecantikan adalah sia-sia”.—Amsal 31:30.
Putusnya hubungan mungkin malahan membuat kita melihat hal-hal yang kurang baik tentang orang ini—ketidakmatangan secara emosi, keragu-raguan, kekakuan, tidak ada timbang rasa, kurangnya keprihatinan terhadap perasaan anda. Ini pasti bukan sifat-sifat yang diinginkan dalam diri seorang pasangan hidup. Pada waktu yang sama, anda mungkin menyadari bahwa ada beberapa hal juga yang anda perlu perbaiki sebelum anda menjadi pasangan hidup yang baik.
’Tetapi Saya Tidak Ingin Pisah!’
Namun, bagaimana seandainya pemutusan dilakukan sepihak, dan anda yakin perkawinan akan berhasil baik? Tentu anda berhak memberitahukan pihak lain bagaimana perasaan anda. Tetapi, ingat, ”orang yang . . . berbicara manis lebih dapat meyakinkan”. (Amsal 16:21) Berteriak-teriak dan mengamuk secara emosional tidak banyak membawa hasil. Tetapi, pembahasan yang tenang mungkin mengungkapkan bahwa telah terjadi kesalahpahaman. Walaupun demikian, jika ia bersikeras untuk berpisah, anda tidak perlu merendahkan diri, dengan menangis minta dikasihani oleh orang yang jelas tidak mempunyai perasaan khusus untuk anda. Salomo mengatakan bahwa ada ”waktu untuk menemukan dan waktu untuk kehilangan”.—Pengkhotbah 3:6, BIS.
Memang, mungkin ada alasan kuat untuk mencurigai bahwa anda semata-mata diperalat oleh seseorang yang memang tidak sungguh-sungguh berminat untuk menikah. ”Saya menyadari ia hanya memberi saya perhatian untuk membuat pria lain cemburu,” ingat Daniel tentang gadis yang berkencan dengannya beberapa tahun lalu. ”Hal itu sangat menyakitkan. Lama sekali baru saya dapat berpacaran lagi.” Seseorang yang dengan kejam mempermainkan perasaan orang lain tidak dapat dianggap seorang Kristen teladan, dan anda dapat yakin bahwa kecurangan sedemikian tidak luput dari perhatian Allah. Cepat atau lambat, orang demikian akan dipaksa menyesali perbuatannya—tanpa anda perlu membalas dendam. ”Orang yang kejam menyiksa badannya sendiri.”—Amsal 11:17; bandingkan 6:12-15.
Cara Mengatasinya
Tentu, sekedar mengetahui bahwa putus adalah jalan yang terbaik tidak akan menghilangkan semua perasaan terluka. Mungkin kadang-kadang anda akan tersiksa oleh kesepian atau kenangan yang romantis. Jika demikian, cepat sadarkan pikiran anda! Sibuklah, mungkin dengan kegiatan fisik tertentu. Hindari kesunyian. (Amsal 18:1) Pikirkan terus hal-hal yang menyenangkan dan membina.—Filipi 4:8.
Anda tidak harus menjadi pahlawan dan menekan perasaan anda. Mengutarakan diri kepada Bapa surgawi pasti membawa banyak kelegaan. Sibuk dalam pelayanan Kristen akan membantu. Mungkin akan membantu juga untuk menceritakan hal itu kepada seorang teman dekat. (Amsal 18:24) Dan jangan lupa bahwa orangtua anda sering kali dapat banyak menghibur, bahkan jika anda merasa cukup dewasa untuk mandiri.—Amsal 23:22.
Putus cinta merupakan pengalaman pahit. Tetapi seseorang dapat mengambil manfaat bahkan dari patah hati. ”Bilur-bilur yang berdarah membersihkan kejahatan,” kata Amsal 20:30. Anda mungkin sekarang melihat perlunya memperbaiki segi-segi tertentu dari kepribadian anda. Pandangan anda akan apa yang anda inginkan dalam diri pasangan hidup mungkin menjadi lebih jelas dibanding sebelumnya. Setelah dicintai dan ditinggalkan, anda mungkin memutuskan untuk menjalani pacaran dengan lebih hati-hatia jika orang yang menarik berikutnya muncul—dan kemungkinan itu terjadi lebih besar dari yang anda bayangkan.
[Catatan Kaki]
a Artikel berikut akan membahas segi pacaran ini.
[Blurb di hlm. 11]
”Saya hanya dapat menjadi orang yang mengatakan ’Halo, apa kabar?’ sekarang. Saya tidak akan membiarkan orang lain menjadi akrab dengan saya”
[Gambar di hlm. 13]
Sewaktu jelas pacaran itu tidak membawa hasil, hal terbaik adalah mengadakan pembicaraan terus terang, menjelaskan mengapa hubungan itu harus berakhir
-
-
Bagaimana Saya Dapat Menghindari Patah Hati?Sedarlah!—1988 (No. 26) | Sedarlah!—1988 (No. 26)
-
-
Kaum Remaja Bertanya . . .
Bagaimana Saya Dapat Menghindari Patah Hati?
AHLI analisa jiwa Erich Fromm pernah berkata, ”Hampir tidak ada prakarsa yang dimulai dengan begitu banyak harapan dan penantian tetapi begitu sering gagal seperti cinta.”
Namun, kegagalan cinta sering mengakibatkan penderitaan dan patah hati. Dan fakta kehidupan yang menyedihkan adalah bahwa satu-satunya jalan yang pasti agar tidak mengalami patah hati adalah jangan terlibat dalam percintaan. Memang, bagi orang Kristen sendiri, berpacaran sesuatu yang serius, yaitu cara untuk memilih pasangan hidup yang cocok. Walaupun demikian, sifat dari pacaran itu sendiri sering membuatnya sedikit banyak suatu proses mencoba-coba. Maka tidak aneh bila dua orang yang mulai berpacaran dengan maksud yang benar-benar baik—ternyata mendapati bahwa mereka tidak cocok untuk menjadi pasangan hidup.
Jerat-Jerat dari Cinta Remaja
Mungkin bahaya percintaan yang terbesar adalah berpacaran pada usia belasan tahun. Inilah masa ”akil balig”, [”mekarnya masa remaja”, NW] sewaktu nafsu berahi mulai memuncak. (1 Korintus 7:36, Bode) Dr. Ari Kiev mengamati, ”Bagi kebanyakan remaja, hubungan dengan lawan jenis . . . sering kali diperburuk dengan banyaknya rangsangan seks yang membingungkan.” Maka tidak aneh, bahwa kaum remaja mudah sekali ’jatuh cinta’. ”Saya bertemu dengan pemuda ini,” seorang wanita muda bernama Wati mengingat. ”Kami surat-menyurat mungkin untuk kira-kira satu tahun. Dan kemudian dalam salah satu suratnya, ia berkata bahwa ia mencintai saya. Saya berkata dalam hati, ’Saya hanya bertemu dia satu kali. Bagaimana mungkin ia dapat mengatakan hal itu?’”
Tetapi walaupun pasangan remaja berupaya untuk mengendalikan nafsu dan menjalin hubungan atas dasar kecocokan, kecil kemungkinan mereka akan terus cocok! Mengapa? Karena kepribadian seorang remaja belum tetap. Anda sedang mencari identitas diri, apa yang benar-benar anda sukai, apa yang ingin anda lakukan dengan kehidupan anda. Hal yang penting bagi anda hari ini mungkin kurang berarti besok. Jadi, cinta remaja sering kali akan berakhir, jarang sampai kepada perkawinan.
Maka, Alkitab dengan bijaksana menganjurkan perkawinan hanya bagi orang yang ”sudah lepas daripada akil balig”. (1 Korintus 7:36, Bode). Hal ini berarti tidak berpacaran semasa masih sangat muda. Mengikuti nasihat ini mungkin tidak mudah, tetapi pasti akan ’membuang kesedihan dari hati dan menjauhkan penderitaan dari tubuh’ jika anda tidak berpacaran sampai anda cukup umur untuk kawin.—Pengkhotbah 11:10.
Melihat sebelum Anda Melangkah
Walaupun demikian, hanya karena sudah dewasa tidak membuat seseorang kebal terhadap patah hati. Dalam bukunya Love Lives, Carol Botwin menunjukkan bahwa bahkan orang dewasa kadang-kadang jatuh ke dalam jerat-jerat cinta, ”Mereka terlalu cepat intim. . . . Mereka terlalu cepat ingin mengikat janji.” Memberikan hati anda kepada seseorang yang tidak anda kenal betul, pasti akan membuat patah hati.
”Hendaknya kalian menyadari keadaan yang sebenarnya,” kata rasul Paulus kepada orang Kristen di Korintus. (2 Korintus 10:7, BIS) Jangan membuat kesalahan yang sama dengan terlibat dalam percintaan hanya atas dasar penampilan fisik. Pertama-tama berupayalah mencari tahu orang macam apa dia sebenarnya. Jika keadaan tidak mengizinkan untuk mengenalnya dalam jarak yang aman, dengan bijaksana anda bisa mencari tahu apakah orang yang anda sukai ini mendapat laporan baik dari orang lain.
Alkitab mengatakan bahwa pekerjaan istri yang cakap akan ”memuji dia di pintu-pintu gerbang”. (Amsal 31:31) Anda juga dapat mengharapkan seorang pria atau wanita Kristen mempunyai reputasi yang baik. Jika terbukti bahwa ia memiliki reputasi yang meragukan—mungkin dikenal sering berpacaran dan kemudian memutuskan hubungan sewaktu menjadi serius—berhati-hatilah! Perasaan anda kemungkinan besar akan menjadi korban berikut.
Berbicara Kebenaran
Bahkan jika reputasi orang itu tampaknya baik dan sama-sama merasa tertarik, masih terlalu dini untuk merencanakan perkawinan. Penyelidikan lebih dekat tentang orang ini mungkin mengungkapkan sifat buruk atau kelemahan rohani yang serius. Kalau begitu, bagaimana anda dapat mengetahui kepribadiannya yang asli? Walaupun tidak ada salahnya untuk ikut dalam kegiatan rekreasi bersama, tujuan berpacaran akan tercapai dengan baik jika hal itu juga mencakup pembicaraan empat mata yang serius.—Bandingkan Amsal 15:22.
Apa cita-cita anda? Minat anda? Pandangan anda mengenai mempunyai anak? Anggaran belanja? Sangat penting agar anda ’berkata benar seorang kepada yang lain’, tidak membengkokkan kebenaran karena anda takut kehilangan orang ini. (Efesus 4:25) Cepat atau lambat anda yang sebenarnya akan nyata juga. Dan anda lebih baik memberitahukan pihak yang lain siapa anda sebenarnya dan apa yang anda inginkan dalam hidup daripada memulai hubungan yang mungkin akan berakhir dengan kekecewaan—atau perkawinan yang tidak bahagia.
Tetapi bagaimana jika pihak lain berpura-pura supaya hubungan tetap terjalin? Alkitab memperingatkan, ”Orang yang tak berpengalaman percaya kepada setiap perkataan, tetapi orang yang bijak memperhatikan langkahnya.” (Amsal 14:15) Bukan berarti anda harus menjadi terlalu curiga, tetapi cukup masuk akal bagi anda untuk secara pribadi mencoba menentukan apakah tingkah laku orang ini sesuai dengan perkataannya.
Mencari tahu posisi si pria atau si gadis dalam hal-hal yang penting sebaiknya dilakukan sejak semula—tidak kemudian sewaktu keduanya sudah terlibat secara emosional. Budi, misalnya, ingin mencari pasangan hidup yang mempunyai pengabdian yang sama terhadap pelayanan Kristen. Tidak lama kemudian ia menaruh minat kepada seorang gadis yang sangat menarik bagi dia. Ia mengingat, ”Tetapi kemudian saya mulai sadar bahwa ia sama sekali tidak mempunyai tujuan hidup, dan ia tidak aktif sebagai seorang Kristen.” Budi dengan bijaksana memutuskan hubungan itu.
Terlalu Akrab
Ini menunjuk kepada aspek penting yang lain untuk menghindari patah hati. Tuti mengatakan demikian, ”Saya telah belajar dari pengalaman masa lalu bahwa begitu mudah untuk terlibat secara emosi. Kadang-kadang anda membiarkan orang lain terlalu akrab, dan bahkan bila anda tidak merasa saling mencintai, anda begitu terlibat secara emosi, anda takut melukai orang itu.”
Gadis Sulam dari zaman Alkitab kelihatannya cukup sadar akan kekuatan dari perasaan cinta yang tidak dikendalikan. Maka sewaktu dirayu oleh Raja Salomo yang berkuasa, ia memberitahu teman-temannya agar ’jangan membangkitkan dan menggerakkan cinta sebelum diingininya’. (Kidung Agung 2:7) Demikian pula akan bijaksana jika anda betul-betul menguasai perasaan anda sewaktu pertama mulai mengenal seseorang.
Ini termasuk tidak terlalu dini atau secara tidak patut mengungkapkan kasih sayang. Prinsip ini berlaku, ”Dapatkah orang membawa api dalam gelembung baju dengan tidak terbakar pakaiannya?” (Amsal 6:27) Berciuman atau berpegangan tangan pada awal hubungan tidak akan membawa hasil yang baik. Perbuatan demikian tidak saja akan merangsang keinginan seks yang imoral tetapi juga mematikan pertimbangan dan keobyektifan yang baik. Anda sama sekali tidak dapat membuat pertimbangan yang matang tentang orang itu jika nafsu anda terangsang. Selain itu, pengungkapan kasih sayang yang berlebihan hanya memperburuk rasa sakit sewaktu berpisah jika hubungan itu tidak berhasil.
Sewaktu Tuti akhirnya mulai berkencan dengan seorang pemuda, ia berhati-hati untuk membiarkan hubungan itu berjalan secara berangsur-angsur, mempertahankan jarak yang aman sampai ia benar-benar yakin bahwa pria itulah yang ingin ia kawini. ”Barulah saya merasa aman untuk membiarkan perasaan saya kepadanya berkembang,” ia berkata.
Ada dua kemungkinan dari masa pacaran, kebahagiaan atau sakit hati. Caranya anda menangani masa pacaran banyak menentukan hasil akhir. Memang, tidak ada cara untuk menjamin bahwa suatu hubungan pasti akan berhasil. Bahkan setelah berlaku hati-hati, patah hati masih saja dapat terjadi. Walaupun demikian, berkencan hanya sewaktu anda siap kawin, tetap mengendalikan perasaan anda, dan dengan berlaku hati-hati, anda dapat banyak mengurangi kesedihan dan besar kemungkinan masa pacaran akan menghasilkan perkawinan yang bahagia.
[Gambar di hlm. 14]
Percintaan remaja jarang berakhir dengan perkawinan tetapi sering kali mengakibatkan patah hati
[Gambar di hlm. 16]
Belajarlah lebih banyak mengenali orang itu sebelum terlibat dalam percintaan
-