-
Seberapa Besarkah Kasih Saudara pada Firman Allah?Menara Pengawal—1999 | 1 November
-
-
Seberapa Besarkah Kasih Saudara pada Firman Allah?
”Betapa kucintai hukummu! Sepanjang hari, itulah yang kupikirkan.”—MAZMUR 119:97.
1. Bagaimana orang-orang yang takut akan Allah memperlihatkan kasih pada Firman Allah?
RATUSAN juta pria dan wanita telah memiliki Alkitab. Namun, tentu saja ada bedanya antara memiliki Alkitab dengan mengasihi Firman Allah. Dapatkah seseorang dikatakan mengasihi Firman Allah padahal ia jarang membacanya? Tentu saja tidak! Sebaliknya, ada orang-orang yang sebelumnya kurang menghargai Alkitab, namun sekarang membacanya setiap hari. Mereka kini mengasihi Firman Allah, dan seperti sang pemazmur, mereka kini merenungkan Firman Allah ”sepanjang hari”.—Mazmur 119:97.
2. Bagaimana iman salah seorang Saksi-Saksi Yehuwa dikuatkan di bawah keadaan-keadaan yang sulit?
2 Salah seorang yang telah mengasihi Firman Allah adalah Nasho Dori. Selama puluhan tahun, ia dan rekan-rekan seimannya bertekun melayani Yehuwa di kampung halamannya, Albania. Pada masa-masa itu, Saksi-Saksi Yehuwa hampir selalu berada di bawah pelarangan, dan orang-orang Kristen yang setia ini tidak banyak menerima lektur Alkitab. Namun, iman Saudara Dori tetap kuat. Bagaimana mungkin? ”Tujuan yang saya tetapkan,” katanya, adalah ”membaca Alkitab setidaknya satu jam setiap hari, dan ini saya lakukan selama kira-kira 60 tahun sebelum penglihatan saya memburuk.” Baru belakangan ini saja seluruh Alkitab tersedia dalam bahasa Albania, namun Saudara Dori telah mempelajari bahasa Yunani semasa kecilnya, jadi ia dapat membaca Alkitab dalam bahasa itu. Ketetaptentuan membaca Alkitab menguatkan Saudara Dori untuk melewati berbagai ujian, dan hal itu dapat menguatkan kita juga.
”Perkembangkanlah Keinginan yang Besar” akan Firman Allah
3. Sikap apa hendaknya dipupuk orang-orang Kristen terhadap Firman Allah?
3 ”Seperti bayi yang baru lahir,” tulis rasul Petrus, ”perkembangkanlah keinginan yang besar akan susu yang tidak dicampur yang berkaitan dengan firman itu.” (1 Petrus 2:2) Sebagaimana bayi yang sangat menginginkan ASI, orang-orang Kristen yang sadar akan kebutuhan rohaninya akan merasa sangat senang sewaktu membaca Firman Allah. Itukah yang saudara rasakan? Jika tidak, jangan putus asa. Saudara pun dapat memupuk keinginan yang besar untuk membaca Firman Allah.
4. Apa yang tercakup dalam membiasakan diri membaca Alkitab setiap hari?
4 Untuk itu, pertama-tama disiplinlah diri saudara untuk membiasakan diri membaca Alkitab secara rutin, setiap hari jika mungkin. (Kisah 17:11) Saudara mungkin tidak dapat menggunakan satu jam setiap hari untuk membaca Alkitab seperti yang dilakukan Nasho Dori, namun, kemungkinan besar saudara dapat menyisihkan waktu sejenak setiap hari untuk mengkaji Firman Allah. Banyak orang Kristen bangun beberapa menit lebih pagi supaya dapat merenungkan sebuah ayat Alkitab. Bukankah ini cara terbaik untuk mengawali hari kita? Ada yang memilih untuk membaca Alkitab sebelum tidur. Ada juga yang membaca Alkitab pada waktu-waktu lain yang cocok. Yang terpenting adalah membaca Alkitab secara tetap tentu. Kemudian, gunakan waktu sejenak untuk merenungkan apa yang saudara telah baca. Mari kita bahas beberapa contoh tentang orang-orang yang mendapatkan manfaat setelah membaca dan merenungkan Firman Allah.
Pemazmur yang Mengasihi Hukum Allah
5, 6. Meskipun kita tidak mengetahui namanya, apa yang dapat kita pelajari tentang penulis Mazmur ke-119, dengan membaca dan merenungkan apa yang ia tulis?
5 Penulis Mazmur ke-119 tentulah memiliki penghargaan yang dalam akan Firman Allah. Siapakah penulis mazmur itu? Ia tidak diidentifikasi di Alkitab. Namun, dari ikatan kalimatnya, kita dapat mengetahui beberapa perincian tentang dirinya, dan mengetahui bahwa kehidupannya tidak bebas masalah. Beberapa teman baiknya yang seharusnya menyembah Yehuwa ternyata tidak mengasihi prinsip-prinsip Alkitab seperti dirinya. Meskipun demikian, sang pemazmur tidak membiarkan sikap mereka menghalanginya untuk melakukan apa yang benar. (Mazmur 119:23) Jika saudara tinggal atau bekerja bersama orang yang tidak menghormati standar-standar Alkitab, saudara akan melihat persamaan antara keadaan sang pemazmur dan keadaan saudara.
6 Meskipun sang pemazmur adalah pria yang saleh, ia sama sekali tidak menganggap diri adil-benar. Dengan terus terang, ia mengakui ketidaksempurnaannya sendiri. (Mazmur 119:5, 6, 67) Namun, ia tidak membiarkan dirinya dikendalikan oleh dosa. ”Bagaimana orang muda membuat haluannya bersih?” tanyanya. Ia menjawab, ”Dengan terus menjaganya sesuai dengan firmanmu.” (Mazmur 119:9) Kemudian, untuk menandaskan bahwa Firman Allah merupakan daya pendorong yang kuat untuk melakukan kebaikan, sang pemazmur menambahkan, ”Dalam hatiku aku menyimpan perkataanmu bagaikan harta, agar aku jangan berdosa terhadap engkau.” (Mazmur 119:11) Daya pendorong yang dapat membantu kita menghindari dosa terhadap Allah pastilah benar-benar ampuh!
7. Mengapa khususnya anak-anak muda harus sadar akan perlunya membaca Alkitab setiap hari?
7 Alangkah baiknya bila anak-anak muda Kristen mencamkan kata-kata sang pemazmur. Kaum muda Kristen berada di bawah serangan dewasa ini. Si Iblis senang sekali merusak generasi muda para penyembah Yehuwa. Tujuan Setan adalah untuk memikat kaum muda Kristen agar menyerah pada hasrat-hasrat daging dan melanggar hukum-hukum Allah. Film dan acara televisi sering kali mencerminkan pikiran Iblis. Tokoh-tokoh yang membintangi acara-acara tersebut berpenampilan menarik dan menawan; hubungan amoral di antara mereka digambarkan sebagai hal biasa. Gagasan apa yang disampaikan kepada kita? ’Sah-sah saja orang berhubungan seksual tanpa ikatan perkawinan, asalkan mereka benar-benar saling mencintai.’ Sayang sekali, setiap tahun, cukup banyak remaja Kristen terjerumus ke dalam cara berpikir semacam itu. Ada pula yang kandas imannya. Tekanan si Iblis memang tidak tanggung-tanggung! Namun, apakah tekanan itu sedemikian kuatnya sehingga mustahil bagi kaum muda sekalian untuk melawannya? Sama sekali tidak! Bagi para remaja Kristen, Yehuwa telah menyediakan cara menanggulangi hasrat-hasrat yang tidak sehat. Mereka dapat mematahkan senjata apa pun yang dirancang Iblis dengan ’terus menjaga haluan mereka sesuai dengan firman Allah, menyimpan perkataan Allah di hati mereka’. Berapa banyak waktu yang saudara gunakan secara pribadi untuk membaca Alkitab pribadi serta merenungkannya secara tetap tentu?
8. Bagaimana contoh-contoh yang dikemukakan dalam paragraf ini membantu saudara untuk semakin menghargai Hukum Musa?
8 Penulis Mazmur ke-119 berseru, ”Betapa kucintai hukummu!” (Mazmur 119:97) Hukum mana yang ia maksudkan? Ini adalah firman Yehuwa yang disingkapkan, termasuk kaidah Hukum Musa. Sepintas lalu, ada yang mungkin menganggap kaidah Hukum itu ketinggalan zaman dan bertanya-tanya bagaimana mungkin seseorang dapat mencintainya. Namun, apabila kita, seperti sang pemazmur, merenungkan berbagai keistimewaan Hukum Musa, kita pun dapat memahami hikmat yang terkandung di dalam Hukum. Selain banyak aspek nubuatnya, Hukum tersebut memuat ketentuan-ketentuan perihal sanitasi dan menu makanan, yang turut meningkatkan mutu kebersihan dan kesehatan. (Imamat 7:23, 24, 26; 11:2-8) Hukum itu menganjurkan kejujuran dalam praktek-praktek bisnis dan menasihati orang-orang Israel untuk berempati kepada rekan-rekan seiman yang berkekurangan. (Keluaran 22:26, 27; 23:6; Imamat 19:35, 36; Ulangan 24:17-21) Keputusan pengadilan harus dilaksanakan tanpa sikap berat sebelah. (Ulangan 16:19; 19:15) Seraya pengalaman hidup sang penulis Mazmur 119 bertambah, ia tentu menyaksikan betapa baiknya keadaan orang-orang yang menerapkan Hukum Allah, sehingga kasih sang penulis kepada Hukum pun semakin kuat. Demikian pula dewasa ini, seraya orang-orang Kristen berhasil dalam menerapkan prinsip-prinsip Alkitab, kasih dan penghargaan mereka pada Firman Allah semakin kuat.
Seorang Pangeran yang Berani Berbeda
9. Raja Hizkia memupuk sikap apa terhadap Firman Allah?
9 Isi Mazmur ke-119 sangat selaras dengan apa yang kita ketahui tentang Hizkia sewaktu ia masih sebagai pangeran muda. Beberapa pakar Alkitab menyatakan bahwa Hizkia-lah penulis mazmur ini. Meskipun keterangan itu masih belum dapat dipastikan, kita tahu bahwa Hizkia memiliki respek yang sangat besar terhadap Firman Allah. Melalui haluan hidupnya, ia memperlihatkan bahwa hatinya selaras dengan kata-kata Mazmur 119:97. Tentang Hizkia, Alkitab menyatakan, ”Dia terus berpaut pada Yehuwa. Dia tidak menyimpang dalam hal mengikutinya, dan terus menjalankan perintah yang Yehuwa perintahkan kepada Musa.”—2 Raja 18:6.
10. Bagi orang-orang Kristen yang tidak dibesarkan oleh orang-tua yang saleh, anjuran apa yang kita peroleh melalui teladan Hizkia?
10 Pada dasarnya, Hizkia tidak dibesarkan dalam keluarga yang saleh. Ayahnya, raja Ahaz, adalah penyembah berhala yang tidak beriman dan yang membakar hidup-hidup setidaknya salah seorang putranya—saudara Hizkia sendiri—sebagai korban bagi ilah palsu! (2 Raja 16:3) Meskipun mendapat contoh yang buruk, Hizkia dapat ”membuat haluannya bersih” dari pengaruh-pengaruh kafir dengan mengenal Firman Allah.—2 Tawarikh 29:2.
11. Sebagaimana yang diamati Hizkia, apa yang dialami ayahnya yang tidak setia?
11 Seraya Hizkia bertumbuh, ia melihat sendiri bagaimana ayahnya yang menyembah berhala menangani urusan-urusan kenegaraan. Yehuda dikelilingi oleh musuh. Ada Rezin, raja Siria, yang bergabung dengan Raja Pekah dari Israel untuk mengepung Yerusalem. (2 Raja 16:5, 6) Ada orang-orang Edom dan Filistin, yang berhasil menyerbu Yehuda dan bahkan merebut beberapa kota Yudea. (2 Tawarikh 28:16-19) Bagaimana Ahaz menangani krisis-krisis ini? Bukannya meminta bantuan Yehuwa untuk melawan Siria, Ahaz malah berpaling kepada raja Asiria, menyuapnya dengan emas dan perak, termasuk emas dan perak perbendaharaan bait. Namun, hal ini tidak mendatangkan perdamaian yang bertahan lama bagi Yehuda.—2 Raja 16:6, 8.
12. Apa yang dapat dilakukan Hizkia agar tidak mengulangi kesalahan ayahnya?
12 Pada akhirnya, Ahaz wafat dan Hizkia menjadi raja pada usia 25 tahun. (2 Tawarikh 29:1) Ia relatif masih muda, namun hal itu tidak menghalanginya untuk menjadi raja yang berhasil. Sebaliknya dari meniru tingkah laku ayahnya yang tidak setia, ia berpaut pada Hukum Yehuwa. Hukum itu mencakup sebuah perintah khusus bagi para raja, ”Apabila [sang raja] duduk di takhta kerajaannya, ia harus menulis dalam sebuah buku bagi dirinya salinan dari hukum ini, yaitu dari buku hukum yang ada di bawah pengawasan para imam Lewi. Itu harus terus ada padanya, dan ia harus membacanya sepanjang hari-hari kehidupannya, agar ia belajar takut akan Yehuwa, Allahnya, dengan berpegang pada seluruh perkataan hukum ini.” (Ulangan 17:18, 19) Dengan membaca Firman Allah setiap hari, Hizkia belajar takut akan Yehuwa dan tidak mengulangi kesalahan ayahnya yang tidak saleh itu.
13. Bagaimana seorang Kristen dapat yakin bahwa secara rohani, segala sesuatu yang ia lakukan akan berhasil?
13 Bukan hanya raja-raja Israel saja yang dianjurkan untuk terus merenungkan Firman Allah, melainkan juga semua orang Israel yang takut akan Allah. Mazmur yang pertama melukiskan bahwa orang yang benar-benar bahagia adalah yang ”kesenangannya ialah hukum Yehuwa, dan hukumnya ia baca dengan suara rendah siang dan malam”. (Mazmur 1:1, 2) Tentang orang tersebut, sang pemazmur mengatakan, ”Segala sesuatu yang ia lakukan akan berhasil.” (Mazmur 1:3) Sebaliknya, orang yang kurang iman akan Allah Yehuwa, Alkitab mengatakan, ”Ia adalah orang yang bimbang, tidak tetap dalam semua jalannya.” (Yakobus 1:8) Kita semua ingin berbahagia dan berhasil. Pembacaan Alkitab yang tetap tentu dan bermutu dapat turut membahagiakan kita.
Firman Allah Menguatkan Yesus
14. Bagaimana Yesus memperlihatkan kasih pada Firman Allah?
14 Sekali peristiwa, orang-tua Yesus mendapatinya duduk di antara guru-guru di bait Yerusalem. Para ahli Hukum Allah ini ”terus-menerus merasa takjub akan pengertian dan jawaban-jawabannya”! (Lukas 2:46, 47) Itu terjadi sewaktu Yesus baru berusia 12 tahun. Namun, bahkan di usia semuda itu, kegemarannya akan Firman Allah sangat nyata. Belakangan, Yesus menggunakan Tulisan-Tulisan Kudus untuk menghardik si Iblis, dengan mengatakan, ”Manusia harus hidup, bukan dari roti saja, tetapi dari setiap ucapan yang keluar melalui mulut Yehuwa.” (Matius 4:3-10) Tidak lama setelah itu, Yesus mengabar kepada penduduk kampung halamannya, Nazaret, dengan menggunakan Tulisan-Tulisan Kudus.—Lukas 4:16-21.
15. Bagaimana Yesus memberikan teladan sewaktu mengabar kepada orang-orang lain?
15 Berulang-kali Yesus mengutip Firman Allah untuk mendukung ajarannya. Para pendengarnya ”terpukau oleh cara ia mengajar”. (Matius 7:28) Tidak heran—ajaran Yesus berasal dari Allah Yehuwa sendiri! Yesus mengatakan, ”Apa yang aku ajarkan bukanlah milikku, melainkan milik dia yang telah mengutus aku. Ia yang berbicara dari dirinya sendiri mencari kemuliaan bagi dirinya sendiri; tetapi ia yang mencari kemuliaan bagi dia yang mengutusnya, pribadi ini benar, dan tidak ada ketidakadilbenaran dalam dirinya.”—Yohanes 7:16, 18.
16. Sampai sejauh mana Yesus mempertunjukkan kasihnya pada Firman Allah?
16 Berbeda dari penulis Mazmur 119, dalam diri Yesus ”tidak ada ketidakadilbenaran”. Ia tanpa dosa, Putra Allah, yang ”merendahkan dirinya dan taat sampai mati”. (Filipi 2:8; Ibrani 7:26) Namun, meskipun sempurna, Yesus mempelajari dan menaati Hukum Allah. Ini merupakan faktor kunci yang membuatnya sanggup memelihara integritas. Sewaktu Petrus menggunakan sebilah pedang untuk menghalangi penangkapan atas Majikannya, Yesus menghardik rasul ini dan bertanya, ”Apakah engkau pikir bahwa aku tidak dapat memohon kepada Bapakku untuk menyediakan bagiku pada saat ini lebih dari dua belas legiun malaikat? Jika demikian, bagaimana Tulisan-Tulisan Kudus akan digenapi bahwa ini harus terjadi dengan cara ini?” (Matius 26:53, 54) Ya, Yesus lebih mengutamakan tergenapnya Tulisan-Tulisan Kudus daripada luput dari kematian yang keji dan hina. Alangkah luar biasa kasihnya pada Firman Allah!
Para Peniru Kristus Lainnya
17. Seberapa pentingkah Firman Allah bagi Rasul Paulus?
17 Rasul Paulus menulis kepada rekan-rekan Kristen, ”Jadilah peniruku, sama seperti aku juga menjadi peniru Kristus.” (1 Korintus 11:1) Seperti Majikannya, Paulus memperkembangkan kasih pada Tulisan-Tulisan Kudus. Ia mengakui, ”Di dalam batinku aku sangat mengasihi Hukum Allah.” (Roma 7:22, The Jerusalem Bible) Paulus sering mengutip Firman Allah. (Kisah 13:32-41; 17:2, 3; 28:23) Sewaktu ia memberikan petunjuk terakhir kepada Timotius, rekan sepelayanan yang ia kasihi, Paulus menandaskan peranan penting Firman Allah yang seharusnya mengatur kehidupan sehari-hari setiap ”abdi Allah”.—2 Timotius 3:15-17.
18. Sebutkan teladan tentang seseorang di zaman modern ini yang memperlihatkan respek pada Firman Allah.
18 Di zaman modern ini, banyak hamba Yehuwa yang setia juga meniru kasih Yesus pada Firman Allah. Pada awal abad ini, seorang pemuda menerima Alkitab dari temannya. Ia melukiskan pengaruh hadiah yang berharga ini atas dirinya, ”Saya bertekad untuk mewajibkan diri membaca sebagian Alkitab setiap hari.” Pemuda itu adalah Frederick Franz, dan kasihnya pada Alkitab memungkinkan dia menikmati kehidupan yang panjang dan berhasil dalam dinas Yehuwa. Ia akan senantiasa dikenang karena kesanggupannya untuk mengutip seluruh pasal Alkitab di luar kepala.
19. Bagaimana beberapa orang menjadwalkan pembacaan Alkitab mingguan untuk Sekolah Pelayanan Teokratis?
19 Saksi-Saksi Yehuwa sangat memprioritaskan pembacaan Alkitab secara tetap tentu. Setiap minggu, dalam mempersiapkan salah satu dari perhimpunan Kristen mereka, Sekolah Pelayanan Teokratis, mereka membaca beberapa pasal dari Alkitab. Pada perhimpunan itu, terdapat pembahasan pokok-pokok penting pembacaan Alkitab yang terjadwal. Ada Saksi-Saksi yang memilih untuk membagi pembacaan Alkitab mingguan menjadi tujuh bagian kecil dan membaca setiap bagiannya setiap hari. Seraya mereka membacanya, mereka merenungkan isinya. Setiap kali ada kesempatan, mereka melakukan riset tambahan dengan bantuan publikasi-publikasi yang berdasarkan Alkitab.
20. Apa yang dibutuhkan agar kita mempunyai waktu untuk membaca Alkitab secara tetap tentu?
20 Saudara mungkin perlu ’membeli waktu’ dengan cara mengorbankan kegiatan-kegiatan lain supaya dapat membaca Alkitab dengan tetap tentu. (Efesus 5:16) Akan tetapi, manfaatnya akan jauh melebihi semua pengorbanan saudara. Apabila saudara membiasakan diri membaca Alkitab setiap hari, kasih saudara pada Firman Allah akan bertumbuh. Tak lama kemudian, saudara pun akan tergerak untuk berkata seperti sang pemazmur, ”Betapa kucintai hukummu! Sepanjang hari, itulah yang kupikirkan.” (Mazmur 119:97) Sikap semacam itu akan mendatangkan manfaat besar sekarang dan di masa depan, sebagaimana akan diperlihatkan dalam artikel berikut.
-
-
Manfaatnya Mengasihi Firman AllahMenara Pengawal—1999 | 1 November
-
-
Manfaatnya Mengasihi Firman Allah
”Kasihilah [hikmat], dan dia akan melindungimu. . . . Dia akan memuliakanmu karena engkau memeluknya.”—AMSAL 4:6, 8.
1. Apa yang tercakup bila seseorang sungguh-sungguh mengasihi Firman Allah?
MEMBACA Alkitab memang penting bagi seorang Kristen. Akan tetapi, pembacaan Alkitab saja tidak dengan sendirinya menjadi bukti kasih akan Firman Allah. Bagaimana jika seseorang membaca Alkitab, namun kemudian mempraktekkan hal-hal yang Alkitab kecam? Jelaslah, kasihnya akan Firman Allah tidak sama seperti kasih sang penulis Mazmur 119. Bila seseorang benar-benar mengasihi Firman Allah, ia akan terdorong untuk hidup selaras dengan tuntutan-tuntutan Firman Allah.—Mazmur 119:97, 101, 105.
2. Manfaat apa saja yang dihasilkan oleh hikmat yang didasarkan pada Firman Allah?
2 Hidup selaras dengan Firman Allah menuntut kita untuk terus-menerus menyesuaikan cara berpikir dan cara hidup kita. Haluan demikian mencerminkan hikmat ilahi, yang berarti menerapkan secara praktis pengetahuan dan pemahaman yang kita peroleh dari pelajaran Alkitab. ”Kasihilah [hikmat], dan dia akan melindungimu. Junjung tinggilah dia, dan dia akan meninggikanmu. Dia akan memuliakanmu karena engkau memeluknya. Untuk kepalamu, dia akan memberikan untaian hiasan; sebuah mahkota keindahan akan dia berikan kepadamu.” (Amsal 4:6, 8, 9) Alangkah bagusnya anjuran untuk mengembangkan kasih akan Firman Allah dan untuk dibimbing olehnya! Siapa yang tidak mau dilindungi, ditinggikan, dan dimuliakan?
Dilindungi dari Bahaya Permanen
3. Mengapa orang-orang Kristen semakin perlu dilindungi, dan dari siapa?
3 Dengan cara bagaimana seseorang dilindungi oleh hikmat yang diperoleh dari pelajaran dan penerapan Firman Allah? Antara lain, ia dilindungi dari Setan si Iblis. Yesus mengajari para pengikutnya untuk berdoa memohonkan kelepasan dari si fasik, Setan. (Matius 6:13) Dewasa ini, kita teramat-sangat perlu menyertakan permohonan ini dalam doa-doa kita. Setan dan hantu-hantunya telah dilemparkan dari surga sejak tahun 1914, dan sebagai akibatnya, Setan memiliki ”kemarahan yang besar, karena ia tahu bahwa waktunya tinggal sedikit”. (Penyingkapan 12:9, 10, 12) Di pengujung waktu yang hampir habis ini, kemarahannya pasti telah menggelegak karena ia tak kunjung berhasil mengalahkan orang-orang yang ”menjalankan perintah-perintah Allah dan mempunyai pekerjaan memberikan kesaksian tentang Yesus”.—Penyingkapan 12:17.
4. Bagaimana orang-orang Kristen dilindungi dari tekanan dan jerat Setan?
4 Dalam kemarahannya, Setan terus menimbulkan kekacauan atas para rohaniwan Kristen ini serta menyulut penganiayaan yang keji atau menggunakan cara-cara lain untuk merintangi kegiatan mereka. Ia juga ingin memikat para pemberita Kerajaan agar perhatian mereka terpusat pada hal-hal seperti kedudukan duniawi yang terkemuka, hidup berleha-leha, menimbun kekayaan materi, dan mengejar kenikmatan hidup, dan bukannya pada pekerjaan pemberitaan Kerajaan. Apa yang dapat melindungi hamba-hamba Allah yang setia agar tidak menyerah pada tekanan Setan atau terperangkap dalam jerat-jeratnya? Tentu saja, doa, hubungan pribadi yang akrab dengan Yehuwa, dan iman akan janji-janji-Nya yang pasti tergenap merupakan perkara yang vital. Namun, itu semua berkaitan dengan pengetahuan dan tekad untuk mencamkan pengingat-pengingat dari Firman Allah. Pengingat-pengingat ini kita peroleh dengan membaca Alkitab serta alat-alat bantu pelajaran Alkitab, menghadiri perhimpunan Kristen, menaati nasihat Alkitab dari rekan seiman, atau dengan sungguh-sungguh merenungkan prinsip-prinsip Alkitab yang roh Allah ingatkan ke dalam pikiran kita.—Yesaya 30:21; Yohanes 14:26; 1 Yohanes 2:15-17.
5. Dengan cara apa saja hikmat yang didasarkan pada Firman Allah dapat melindungi kita?
5 Orang-orang yang mengasihi Firman Allah dilindungi dengan cara-cara lain. Misalnya, mereka terhindar dari tekanan emosi dan penyakit-penyakit jasmani yang diakibatkan hal-hal seperti penyalahgunaan narkoba (narkotik dan obat-obatan), penggunaan tembakau, dan perbuatan seks yang amoral. (1 Korintus 5:11; 2 Korintus 7:1) Mereka tidak akan merusak hubungan persahabatan dengan gosip atau kata-kata yang tidak ramah. (Efesus 4:31) Mereka juga tidak akan terjerumus ke dalam keragu-raguan akibat menyelidiki filsafat-filsafat yang sesat dari hikmat dunia ini. (1 Korintus 3:19) Dengan mengasihi Firman Allah, mereka terlindung dari hal-hal yang dapat merampas hubungan mereka dengan Allah dan harapan kehidupan abadi. Mereka tetap sibuk membantu sesama untuk beriman akan janji-janji menakjubkan yang dimuat dalam Alkitab, karena mengetahui bahwa, dengan berbuat demikian, mereka akan ’menyelamatkan diri mereka dan orang-orang yang mendengarkan mereka’.—1 Timotius 4:16.
6. Bagaimana hikmat yang didasarkan pada Firman Allah melindungi kita bahkan di bawah keadaan-keadaan yang sulit?
6 Memang, setiap orang—bahkan orang-orang yang mengasihi Firman Allah—tidak luput dari ”waktu dan kejadian yang tidak terduga”. (Pengkhotbah 9:11) Beberapa dari antara kita tanpa dapat dielakkan akan terkena bencana alam, menderita penyakit serius, kecelakaan, atau kematian yang tidak terduga. Meskipun demikian, kita tetap terlindung. Tidak ada bencana yang dapat mendatangkan kerusakan permanen atas orang yang benar-benar mengasihi Firman Allah. Oleh karena itu, kita sebaiknya tidak usah terlalu mengkhawatirkan apa yang akan terjadi di masa depan. Jika kita telah mengambil tindakan pencegahan yang masuk akal, kita sebaiknya menyerahkan segalanya ke tangan Yehuwa dan tidak membiarkan ketidakpastian hidup ini merampas ketenteraman kita. (Matius 6:33, 34; Filipi 4:6, 7) Ingatlah bahwa harapan kebangkitan dan kehidupan yang lebih baik sewaktu Allah ”membuat segala sesuatu baru” pasti akan terjadi.—Penyingkapan 21:5; Yohanes 11:25.
Membuktikan Diri sebagai ”Tanah yang Baik”
7. Ilustrasi apa yang diceritakan Yesus kepada kumpulan orang yang datang untuk mendengarkannya?
7 Pentingnya memiliki pandangan yang benar terhadap Firman Allah ditonjolkan dalam salah satu perumpamaan Yesus. Sewaktu Yesus memberitakan kabar baik di seluruh Palestina, banyak orang berkumpul untuk mendengarkannya. (Lukas 8:1, 4) Akan tetapi, tidak semua benar-benar mengasihi Firman Allah. Tidak diragukan, ada banyak yang datang untuk mendengar Yesus karena ingin melihat mukjizat atau karena menikmati cara mengajarnya yang luar biasa. Oleh karena itu, Yesus menceritakan sebuah ilustrasi kepada kumpulan orang tersebut, ”Seorang penabur keluar untuk menabur benihnya. Nah, seraya dia menabur, sebagian benih jatuh di tepi jalan dan diinjak-injak orang, dan burung-burung di langit memakannya sampai habis. Yang lain jatuh di atas batu, dan setelah bertunas, menjadi kering oleh karena tidak mendapat air. Yang lainnya lagi jatuh di antara tanaman berduri, dan tanaman berduri yang tumbuh bersamanya itu mencekiknya sampai mati. Sebagian lagi jatuh di tanah yang baik, dan setelah bertunas, menghasilkan buah seratus kali lipat.”—Lukas 8:5-8.
8. Dalam ilustrasi Yesus, apa yang dimaksud dengan benih?
8 Perumpamaan Yesus memperlihatkan bahwa tanggapan terhadap pemberitaan kabar baik akan berbeda-beda, bergantung keadaan hati si pendengarnya. Benih yang ditabur adalah ”firman Allah”. (Lukas 8:11) Atau, sebagaimana yang dikatakan catatan lain tentang perumpamaan ini, benih tersebut adalah ”firman kerajaan”. (Matius 13:19) Yesus dapat menggunakan kedua pernyataan ini, karena tema Firman Allah adalah Kerajaan surgawi di bawah Yesus Kristus sebagai Raja dan melaluinya Yehuwa akan membenarkan kedaulatan-Nya dan menyucikan nama-Nya. (Matius 6:9, 10) Maka, sebenarnya, benih ini adalah kabar baik dari Firman Allah, Alkitab. Saksi-Saksi Yehuwa meniru Penabur yang mula-mula, Yesus Kristus, yang menonjolkan berita Kerajaan ini sewaktu menaburkan benih. Apa tanggapan yang mereka dapatkan?
9. Apa yang digambarkan oleh benih yang jatuh (a) di tepi jalan? (b) di atas batu? (c) di antara tanaman berduri?
9 Yesus berkata bahwa ada benih yang jatuh di tepi jalan dan diinjak-injak. Ini memaksudkan orang-orang yang terlalu sibuk sehingga benih Kerajaan sulit berakar di hati mereka. Sebelum mereka dapat memperkembangkan kasih akan Firman Allah, ”Iblis datang dan mengambil firman itu dari hati mereka agar mereka tidak percaya dan diselamatkan”. (Lukas 8:12) Ada benih yang jatuh di batu. Ini memaksudkan orang-orang yang tertarik pada berita Alkitab, namun tidak membiarkannya mempengaruhi hati mereka. Sewaktu tentangan muncul atau sewaktu mereka merasa sulit menerapkan nasihat Alkitab, ”mereka jatuh” karena mereka tidak berakar. (Lukas 8:13) Kemudian, ada orang-orang yang mendengarkan firman, namun kewalahan dengan ”kekhawatiran dan kekayaan dan kesenangan kehidupan ini”. Akhirnya, seperti tanaman yang terbelit oleh duri, ”mereka tercekik sepenuhnya”.—Lukas 8:14.
10, 11. (a) Siapa yang digambarkan oleh tanah yang baik? (b) Apa yang harus kita lakukan untuk ”menyimpan” Firman Allah dalam hati kita?
10 Akhirnya, ada benih yang jatuh di tanah yang baik. Ini memaksudkan orang-orang yang menerima berita dengan ”hati yang mulia dan baik”. Tentu saja, kita masing-masing ingin berpikir bahwa kita termasuk dalam kategori ini. Namun, pada dasarnya, pandangan Allah terhadap kitalah yang terpenting. (Amsal 17:3; 1 Korintus 4:4, 5) Firman-Nya berkata bahwa jika kita memiliki ”hati yang mulia dan baik”, ini akan terbukti melalui tindakan kita dari sekarang sampai akhir hayat kita atau sampai Allah mengakhiri sistem yang fasik ini. Memang bagus jika, sejak semula, tanggapan kita selalu positif terhadap berita Kerajaan. Namun, orang-orang yang berhati mulia dan baik menerima Firman Allah dan ”menyimpannya dan menghasilkan buah dengan ketekunan”.—Lukas 8:15.
11 Satu-satunya cara untuk menyimpan Firman Allah di dalam hati kita adalah dengan membaca dan mempelajarinya, baik secara pribadi maupun bersama rekan-rekan seiman. Hal ini mencakup memanfaatkan sepenuhnya makanan rohani yang disediakan melalui saluran yang ditetapkan untuk memenuhi kebutuhan rohani para pengikut Yesus. (Matius 24:45-47) Dengan demikian, orang-orang yang menyimpan Firman Allah dalam hatinya dimotivasi oleh kasih untuk ”menghasilkan buah dengan ketekunan”.
12. Buah apa yang harus kita hasilkan dengan bertekun?
12 Buah apa yang dihasilkan oleh tanah yang baik? Dalam dunia flora, benih bertumbuh menjadi tanaman penghasil buah yang berisi benih yang sama, yang kemudian dapat disebarkan untuk menghasilkan buah berikutnya. Demikian pula, bagi orang-orang berhati mulia dan baik, benih firman bertumbuh dalam diri mereka, mendorong mereka membuat kemajuan rohani sampai mereka selanjutnya dapat menaburkan benih di hati orang-orang lain. (Matius 28:19, 20) Dan, pekerjaan menabur mereka bercirikan ketekunan. Yesus memperlihatkan pentingnya ketekunan dalam menabur sewaktu ia berkata, ”Dia yang telah bertekun sampai ke akhir adalah orang yang akan diselamatkan. Dan kabar baik kerajaan ini akan diberitakan di seluruh bumi yang berpenduduk sebagai suatu kesaksian kepada semua bangsa; dan kemudian akhir itu akan datang.”—Matius 24:13, 14.
”Menghasilkan Buah dalam Setiap Pekerjaan yang Baik”
13. Doa apa yang dipanjatkan Paulus yang mengaitkan buah-buah dengan pengetahuan Firman Allah?
13 Rasul Paulus juga berbicara tentang perlunya menghasilkan buah, dan ia mengaitkan menghasilkan buah dengan Firman Allah. Ia mendoakan rekan-rekan seimannya agar ”dipenuhi dengan pengetahuan yang saksama tentang kehendak [Allah] dengan segala hikmat dan pemahaman rohani, agar kamu berjalan dengan layak di hadapan Yehuwa untuk menyenangkan dia sepenuhnya seraya kamu terus menghasilkan buah dalam setiap pekerjaan yang baik”.—Kolose 1:9, 10; Filipi 1:9-11.
14-16. Selaras dengan doa Paulus, apa saja buah-buah yang dihasilkan orang-orang yang mengasihi Firman Allah?
14 Dengan demikian, Paulus memperlihatkan bahwa memperoleh pengetahuan Alkitab bukanlah satu-satunya tujuan kita. Sebaliknya, kasih pada Firman Allah memotivasi kita ”berjalan dengan layak di hadapan Yehuwa” dengan terus ”menghasilkan buah dalam setiap pekerjaan yang baik”. Pekerjaan yang baik apa? Memberitakan kabar baik Kerajaan adalah tugas yang penting bagi orang-orang Kristen pada hari-hari terakhir ini. (Markus 13:10) Selain itu, orang-orang yang mengasihi Firman Allah berbuat sebisa-bisanya untuk secara tetap tentu mendukung pekerjaan ini secara finansial. Mereka menyenangi hak istimewa ini, tahu bahwa ”Allah mengasihi pemberi yang bersukacita”. (2 Korintus 9:7) Sumbangan mereka digunakan untuk membiayai pengoperasian lebih dari seratus fasilitas Betel, tempat kegiatan pengabaran Kerajaan dikoordinasi dan tempat Alkitab serta lektur Alkitab diproduksi. Sumbangan mereka juga digunakan untuk membiayai kebaktian-kebaktian Kristen yang besar serta membiayai para pengawas keliling, utusan injil, dan penginjil sepenuh waktu lainnya.
15 Pekerjaan-pekerjaan baik lainnya mencakup membangun dan mengurus pusat ibadat yang sejati. Kasih akan Firman Allah memotivasi para penyembah-Nya untuk memastikan bahwa Balai-Balai Kebaktian dan Balai-Balai Kerajaan tidak dilalaikan. (Bandingkan Nehemia 10:39.) Karena nama Allah terpampang di muka bangunan-bangunan tersebut, sangatlah penting agar bagian dalam maupun luar balai tetap bersih dan menarik, serta agar tingkah laku orang-orang yang beribadat di sana tidak bercela. (2 Korintus 6:3) Beberapa orang Kristen dapat berbuat lebih banyak. Kasih pada Firman Allah menggerakkan mereka menempuh perjalanan jauh untuk ikut serta dalam pembangunan rumah ibadat yang baru di berbagai tempat di dunia ini yang sangat membutuhkan tenaga karena dilanda kemiskinan atau karena kurangnya tenaga terlatih.—2 Korintus 8:14.
16 ”Menghasilkan buah dalam setiap pekerjaan yang baik” juga mencakup menjalankan tanggung jawab keluarga dan memperhatikan rekan-rekan Kristen. Mengasihi Firman Allah memotivasi kita untuk peka terhadap kebutuhan orang-orang ”yang adalah saudara kita dalam iman” dan ”menerapkan pengabdian yang saleh dalam rumah tangga kita sendiri”. (Galatia 6:10; 1 Timotius 5:4, 8) Dalam hal ini, mengunjungi orang yang sakit dan menghibur orang-orang yang berkabung merupakan pekerjaan yang baik. Dan, alangkah bagusnya pekerjaan para penatua sidang serta Panitia Penghubung Rumah Sakit yang membantu orang-orang menghadapi situasi medis yang sulit! (Kisah 15:29) Selain itu, terdapat banyak malapetaka yang terjadi—ada yang disebabkan oleh alam, ada pula yang disebabkan oleh kelalaian manusia. Dengan bantuan roh Allah, Saksi-Saksi Yehuwa telah membuat reputasi yang baik di banyak bagian bumi dalam menyediakan bantuan yang cepat bagi rekan-rekan seiman serta korban-korban bencana dan kecelakaan lain. Semua ini merupakan buah-buah yang baik yang diperlihatkan oleh orang-orang yang mengasihi Firman Allah.
Manfaat-Manfaat di Masa Depan yang Mulia
17, 18. (a) Apa yang dicapai dengan menaburkan benih Kerajaan? (b) Peristiwa-peristiwa penting apa yang akan segera disaksikan oleh para pencinta Firman Allah?
17 Pekerjaan menabur benih Kerajaan terus mendatangkan manfaat besar bagi umat manusia. Pada tahun-tahun terakhir ini, berita Alkitab telah berakar di hati 300.000 orang lebih setiap tahunnya, mendorong mereka untuk membaktikan kehidupan kepada Yehuwa dan melambangkannya dengan baptisan air. Alangkah gemilangnya masa depan mereka kelak!
18 Tidak lama lagi, para pencinta Firman Allah mengetahui bahwa Allah Yehuwa akan bangkit untuk mengagungkan nama-Nya. ”Babilon Besar”, imperium agama palsu sedunia, akan dihancurkan. (Penyingkapan 18:2, 8) Kemudian, orang-orang yang tidak mau hidup selaras dengan Firman Allah akan dihukum mati oleh sang Raja, Yesus Kristus. (Mazmur 2:9-11; Daniel 2:44) Setelah itu, Kerajaan Allah akan secara permanen membebaskan manusia dari kejahatan, peperangan, dan malapetaka-malapetaka lain. Kelak, tidak ada lagi orang yang perlu dihibur karena rasa sakit, penyakit, dan kematian.—Penyingkapan 21:3, 4.
19, 20. Masa depan gemilang apa yang tersedia bagi orang-orang yang benar-benar mengasihi Firman Allah?
19 Alangkah mulianya pekerjaan-pekerjaan baik yang kelak akan dilaksanakan oleh para pencinta Firman Allah! Mula-mula, orang-orang yang selamat dari Armagedon akan melaksanakan tugas yang menyenangkan untuk mengubah bumi menjadi firdaus. Mereka memiliki hak istimewa yang mendebarkan untuk menyiapkan hal-hal yang akan dibutuhkan oleh orang-orang yang kini beristirahat di kuburan dan yang ada dalam ingatan Allah untuk dibangkitkan. (Yohanes 5:28, 29) Pada saat itu, petunjuk yang sempurna akan diberikan kepada para penduduk bumi oleh Tuan Yang Berdaulat, Yehuwa, melalui Putra-Nya yang ditinggikan, Yesus Kristus. ’Gulungan-gulungan akan dibuka’, menyingkapkan pengajaran Yehuwa untuk kehidupan di dunia baru.—Penyingkapan 20:12.
20 Pada waktu yang ditentukan Yehuwa, segenap orang Kristen terurap akan berada di surga untuk menerima imbalan mereka sebagai ”sesama ahli waris bersama Kristus”. (Roma 8:17) Selama Pemerintahan Seribu Tahun Kristus, semua manusia di bumi yang mengasihi Firman Allah akan disempurnakan, baik pikiran maupun tubuhnya. Setelah melewati ujian akhir dan terbukti setia, mereka akan diberi upah kehidupan abadi dan akan menikmati ”kemerdekaan yang mulia sebagai anak-anak Allah”. (Roma 8:21; Penyingkapan 20:1-3, 7-10) Betapa menakjubkan masa itu kelak! Sebenarnya, tidak soal Yehuwa mengaruniai kita harapan hidup di surga atau di bumi, kasih yang langgeng pada Firman-Nya dan tekad untuk hidup selaras dengan hikmat yang saleh akan melindungi kita. Dan, di masa depan, kasih itu ’akan memuliakan kita karena kita memeluknya’.—Amsal 4:6, 8.
-