PERPUSTAKAAN ONLINE Menara Pengawal
PERPUSTAKAAN ONLINE
Menara Pengawal
Indonesia
  • ALKITAB
  • PUBLIKASI
  • PERHIMPUNAN
  • ”Yang Paling Besar di Antaranya Ialah Kasih”
    Menara Pengawal—1990 | 15 November
    • ”Yang Paling Besar di Antaranya Ialah Kasih”

      ”Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.”​—1 KORINTUS 13:13.

      1. Apa yang dikatakan seorang antropolog mengenai kasih?

      SALAH seorang antropolog dunia yang terkemuka menyatakan, ”Untuk pertama kali dalam sejarah spesies kita, kita menyadari bahwa yang paling penting dari semua kebutuhan dasar psikologis manusia adalah kebutuhan akan kasih sayang. Ini berada di pusat semua kebutuhan manusia sama seperti matahari kita berada di pusat tata surya kita dengan planet-planet yang mengorbit di sekitarnya. . . . Anak yang tidak disayangi sangat berbeda secara biokimiawi, fisiologis, dan psikologis dengan anak yang disayangi. Pertumbuhan anak yang tidak disayangi bahkan akan berbeda dengan anak yang disayangi. Apa yang sekarang kita ketahui adalah bahwa manusia dilahirkan untuk hidup seolah-olah hidup dan cinta kasih adalah satu. Ini tentu saja bukan hal baru. Ini merupakan peneguhan atas Khotbah di Bukit.”

      2. (a) Bagaimana rasul Paulus memperlihatkan pentingnya kasih? (b) Pertanyaan apa sekarang perlu dijawab?

      2 Ya, sebagaimana diakui oleh pria yang berpendidikan tinggi tersebut, kebenaran mengenai pentingnya kasih bagi kesejahteraan manusia bukanlah hal baru. Itu mungkin baru sekarang mulai disadari oleh orang-orang terpelajar dari dunia, tetapi ini telah disebutkan dalam Firman Allah lebih dari 19 abad yang lalu. Itulah sebabnya rasul Paulus dapat menulis, ”Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.” (1 Korintus 13:13) Tahukah saudara mengapa kasih lebih besar daripada iman dan pengharapan? Mengapa dapat dikatakan bahwa kasih adalah yang paling besar dari sifat-sifat Allah dan dari buah-buah roh-Nya?

      Empat Jenis Kasih

      3. Contoh apa saja mengenai kasih asmara disebut dalam Alkitab?

      3 Kesanggupan manusia untuk memperlihatkan kasih merupakan pernyataan dari hikmat dan perhatian Allah yang pengasih terhadap umat manusia. Menarik bahwa dalam bahasa Yunani kuno ada empat kata untuk ”kasih”. Satu adalah eʹros, yang menunjukkan kasih asmara yang berhubungan dengan daya tarik seks. Para penulis Kitab-Kitab Yunani Kristen tidak mempunyai alasan untuk menggunakan kata eʹros, meskipun Septuagint menggunakan bentuk tersebut di Amsal 7:18 dan 30:​16, dan ada beberapa acuan lain kepada kasih asmara dalam Kitab-Kitab Ibrani. Misalnya, kita membaca bahwa Ishak ’mencintai’ Ribka. (Kejadian 24:67) Contoh yang menonjol mengenai jenis kasih ini dapat terlihat dalam pengalaman Yakub, yang rupanya jatuh cinta kepada Rakhel yang cantik pada pandangan pertama. Sebenarnya, ’Yakub bekerja tujuh tahun lamanya untuk mendapatkan Rahel, tetapi yang tujuh tahun itu dianggapnya seperti beberapa hari saja, karena cintanya kepada Rahel’. (Kejadian 29:​9-11, 17, 20) Kidung Agung juga menyebutkan kasih asmara antara seorang gembala dan seorang gadis. Akan tetapi patut ditandaskan bahwa jenis kasih ini, yang bisa menjadi sumber banyak kepuasan dan sukacita, hanya boleh dinyatakan bila selaras dengan standar-standar Allah yang adil-benar. Alkitab memberi tahu kita bahwa seorang pria hanya boleh mengasihi dan ”senantiasa berahi” kepada istrinya sendiri yang sah.​—Amsal 5:​15-20.

      4. Bagaimana kasih dalam keluarga ditunjukkan dalam Alkitab?

      4 Kemudian ada kasih kekeluargaan yang kuat, atau kasih yang alami, didasarkan atas hubungan darah, yang untuk itu orang Yunani menggunakan kata stor·geʹ. Itulah asal mula pepatah, ”Darah lebih kental daripada air.” Ada contoh yang baik tentang hal ini dalam kasih Maria dan Marta terhadap Lazarus, saudara laki-laki mereka. Bahwa ia sangat berarti bagi mereka dapat terlihat ketika mereka sangat sedih sewaktu ia meninggal secara tiba-tiba. Dan alangkah senangnya mereka ketika Yesus menghidupkan kembali Lazarus yang mereka kasihi! (Yohanes 11:​1-44) Kasih seorang ibu kepada anaknya merupakan contoh lain lagi dari jenis kasih ini. (Bandingkan 1 Tesalonika 2:7.) Maka, untuk menegaskan betapa besar kasih Yehuwa terhadap Sion, Ia menyatakan bahwa itu lebih besar daripada kasih seorang ibu kepada anaknya.​—Yesaya 49:15.

      5. Bagaimana kurangnya kasih alami nyata dewasa ini?

      5 Salah satu pertunjuk bahwa kita sedang hidup pada ”hari-hari terakhir” dengan ”masa yang sukar”-nya adalah tidak adanya ’kasih yang alami’. (2 Timotius 3:​1, 3 [NW]) Karena tidak ada kasih dalam keluarga, ada anak-anak muda yang meninggalkan rumah, dan beberapa anak yang telah dewasa menelantarkan orang-tua mereka. (Bandingkan Amsal 23:22.) Tidak adanya kasih yang alami juga nyata dalam meluasnya penyiksaan terhadap anak-anak​—beberapa orang-tua memukul anak-anak mereka dengan begitu hebat sehingga perlu dirawat di rumah sakit. Kurangnya kasih orang-tua juga jelas dalam kegagalan banyak orang-tua untuk mendisiplin anak-anak mereka. Membiarkan anak-anak mengikuti kemauan sendiri bukan bukti dari kasih tetapi sama dengan mengikuti jalan yang termudah, tidak mau repot. Seorang bapak yang benar-benar mengasihi anaknya akan mendisiplinnya apabila perlu.​—Amsal 13:24; Ibrani 12:​5-11.

      6. Berikan contoh-contoh dari Alkitab mengenai kasih sayang di antara sahabat-sahabat.

      6 Kemudian ada kata Yunani phi·liʹa, yang menunjukkan kasih sayang (tanpa unsur tambahan seks) di antara sahabat, seperti antara dua pria atau dua wanita dewasa. Ada contoh yang baik mengenai ini dalam kasih antara Daud dan Yonatan terhadap satu sama lain. Ketika Yonatan tewas dalam peperangan, Daud menangisi dia, sambil berkata, ”Merasa susah aku karena engkau, saudaraku Yonatan, engkau sangat ramah kepadaku; bagiku cintamu lebih ajaib dari pada cinta perempuan.” (2 Samuel 1:26) Kita juga belajar bahwa Kristus mempunyai perasaan senang yang khusus terhadap rasul Yohanes, yang dikenal sebagai murid ”yang dikasihi Yesus”.​—Yohanes 20:2.

      7. Apa ciri dari a·gaʹpe, dan bagaimana kasih ini diperlihatkan?

      7 Kata Yunani apa yang Paulus gunakan di 1 Korintus 13:​13, ketika ia menyebutkan iman, pengharapan, dan kasih dan berkata bahwa ”yang paling besar di antaranya ialah kasih”? Di sini kata tersebut adalah a·gaʹpe, kata yang sama yang digunakan rasul Yohanes ketika ia berkata, ”Allah adalah kasih.” (1 Yohanes 4:​8, 16) Ini adalah kasih yang dibimbing atau dipimpin oleh prinsip. Itu bisa disertai atau tanpa disertai perasaan sayang dan menyukai, tetapi itu adalah emosi atau perasaan yang tidak mementingkan diri untuk melakukan apa yang baik bagi orang lain tidak soal apakah si penerima layak menerimanya atau apakah si pemberi akan mendapat lebih banyak manfaat. Kasih jenis inilah yang mendorong Allah untuk memberikan milik yang paling Ia sayangi, Kristus Yesus, Putra tunggal-Nya, ”supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal”. (Yohanes 3:16) Sebagaimana Paulus dengan begitu bagus mengingatkan kita, ”Tidak mudah seorang mau mati untuk orang yang benar​—tetapi mungkin untuk orang yang baik ada orang yang berani mati​—Akan tetapi Allah menunjukkan kasihNya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.” (Roma 5:​7, 8) Ya, a·gaʹpe melakukan hal baik bagi orang-orang lain tidak soal status mereka dalam kehidupan atau pengorbanan yang harus dibuat oleh orang yang menyatakan kasih tersebut.

      Mengapa Lebih Besar daripada Iman dan Pengharapan?

      8. Mengapa a·gaʹpe lebih besar daripada iman?

      8 Akan tetapi mengapa Paulus berkata bahwa jenis kasih (a·gaʹpe) ini lebih besar daripada iman? Ia menulis di 1 Korintus 13:2, ”Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna.” (Bandingkan Matius 17:20.) Ya, jika upaya untuk mendapatkan pengetahuan dan untuk tumbuh dalam iman kita lakukan demi tujuan yang mementingkan diri, hal ini tidak akan memberi kita manfaat dari Allah. Demikian pula, Yesus memperlihatkan bahwa ada orang-orang yang akan ’bernubuat demi namanya, mengusir setan demi namanya, dan mengadakan banyak mukjizat demi namanya’, namun tidak akan mendapat perkenannya.​—Matius 7:​22, 23.

      9. Mengapa kasih lebih besar daripada pengharapan?

      9 Mengapa bentuk kasih a·gaʹpe juga lebih besar daripada pengharapan? Karena pengharapan bisa saja berpusat kepada diri sendiri, seseorang hanya berminat mendapat manfaat bagi diri sendiri, sedangkan kasih ”tidak mencari keuntungan diri sendiri”. (1 Korintus 13:​4, 5) Selain itu, pengharapan​—seperti untuk hidup melampaui ’sengsara besar’ memasuki dunia baru​—tidak akan ada lagi apabila apa yang diharapkan sudah terwujud. (Matius 24:21) Seperti yang Paulus katakan, ”Kita diselamatkan dalam pengharapan. Tetapi pengharapan yang dilihat, bukan pengharapan lagi; sebab bagaimana orang masih mengharapkan apa yang dilihatnya? Tetapi jika kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita menantikannya dengan tekun.” (Roma 8:​24, 25) Kasih menanggung segala sesuatu, dan tidak berkesudahan. (1 Korintus 13:​7, 8) Jadi, kasih yang tidak mementingkan diri (a·gaʹpe) lebih besar daripada iman maupun pengharapan.

      Lebih Besar daripada Hikmat, Keadilan, dan Kuasa?

      10. Mengapa dapat dikatakan bahwa kasih adalah yang terbesar di antara empat sifat Allah yang utama?

      10 Marilah kita sekarang membahas keempat sifat utama dari Allah Yehuwa: hikmat, keadilan, kuasa, dan kasih. Apakah kasih dapat juga dikatakan yang terbesar di antaranya? Memang dapat. Mengapa? Karena kasih merupakan daya penggerak di balik apa yang Allah lakukan. Itulah sebabnya rasul Yohanes menulis, ”Allah adalah kasih.” Ya, Yehuwa adalah personifikasi dari kasih. (1 Yohanes 4:​8, 16) Tidak satu ayat pun dalam Alkitab menyebutkan bahwa Allah adalah hikmat, keadilan, atau kuasa. Kita hanya diberi tahu bahwa Yehuwa memiliki sifat-sifat ini. (Ayub 12:13; Mazmur 147:5; Daniel 4:37) Dalam Diri-Nya keempat sifat ini seimbang dengan sempurna. Didorong oleh kasih, Yehuwa melaksanakan maksud-tujuan-Nya dengan menggunakan ketiga sifat lainnya.

      11. Apa yang menggerakkan Yehuwa untuk menciptakan alam semesta dan makhluk-makhluk roh serta manusia?

      11 Maka, apa yang menggerakkan Yehuwa untuk menciptakan alam semesta dan makhluk-makhluk rohani dan jasmani yang cerdas? Apakah itu hikmat atau kuasa? Tidak, karena Allah hanya menggunakan hikmat dan kuasa-Nya untuk mencipta. Misalnya, kita membaca, ”Dengan hikmat [Yehuwa] telah meletakkan dasar bumi.” (Amsal 3:19) Selain itu, sifat adil-Nya tidak menuntut agar Ia menciptakan makhluk-makhluk yang bermoral bebas. Kasih Allah, itulah yang menggerakkan Dia untuk membagikan sukacita kepada makhluk-makhluk lain berupa keberadaan dengan akal budi. Kasih itulah yang membuka jalan untuk menghapus kutuk yang oleh keadilan ditimpakan ke atas umat manusia karena pelanggaran Adam. (Yohanes 3:16) Ya, dan maksud-tujuan Yehuwa agar umat manusia yang taat dapat hidup dalam Firdaus di bumi yang akan datang, digerakkan oleh kasih.​—Lukas 23:43.

      12. Bagaimana hendaknya reaksi kita terhadap kuasa, keadilan, dan kasih Allah?

      12 Karena Allah mahakuasa, kita tidak berani membangkitkan perasaan cemburu-Nya. Paulus bertanya, ”Atau maukah kita membangkitkan cemburu Tuhan [”Yehuwa”, NW]? Apakah kita lebih kuat dari pada Dia?” (1 Korintus 10:22) Yehuwa adalah ”Allah yang cemburu”, tentu tidak dalam arti yang buruk, tetapi dalam ”menuntut pengabdian yang eksklusif”. (Keluaran 20:​5, NW) Sebagai orang Kristiani, kita merasa takjub bercampur takut melihat begitu banyak pernyataan dari hikmat Allah yang tidak terduga dalamnya. (Roma 11:​33-35) Karena kita sangat merespek keadilan-Nya kita didorong untuk terus menjauhi dosa yang disengaja. (Ibrani 10:​26-31) Akan tetapi, tidak diragukan kasih adalah yang terbesar di antara keempat sifat Allah yang utama. Dan kasih Yehuwa yang tidak mementingkan diri itulah yang mendekatkan diri kita kepada-Nya, membuat kita ingin menyenangkan Dia, beribadat kepada-Nya, dan ikut serta dalam pengudusan nama suci-Nya.​—Amsal 27:11.

      Yang Terbesar di Antara Buah-Buah Roh

      13. Kasih berada dalam urutan mana di antara buah-buah roh Allah?

      13 Bagaimana kedudukan kasih di antara kesembilan buah roh Allah, yang disebutkan di Galatia 5:​22, 23? Buah-buah roh ini adalah ”kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan [”iman”, NW], kelemahlembutan, penguasaan diri”. Dengan alasan yang baik Paulus mendaftarkan kasih di tempat pertama. Apakah kasih lebih besar daripada sukacita, sifat yang ia sebut sesudahnya? Ya, memang, karena tidak ada sukacita yang dapat bertahan tanpa kasih. Sebenarnya, dalam dunia ini sama sekali tidak ada sukacita karena sifat mementingkan diri, tidak ada kasih. Akan tetapi Saksi-Saksi Yehuwa memiliki kasih di antara mereka, dan mereka memiliki kasih kepada Bapak surgawi mereka. Jadi kita mengharapkan mereka memiliki sukacita, dan memang dinubuatkan bahwa mereka akan ”bersorak-sorai karena gembira hatinya”.​—Yesaya 65:14.

      14. Mengapa dapat dikatakan bahwa kasih lebih besar daripada buah roh damai sejahtera?

      14 Kasih juga lebih besar daripada buah roh damai sejahtera. Karena tidak ada kasih, dunia penuh dengan perselisihan dan percekcokan tetapi umat Yehuwa berdamai satu sama lain di seluruh dunia. Mengenai mereka benarlah apa yang dikatakan pemazmur, ”[Yehuwa] kiranya memberkati umatNya dengan sejahtera [”damai”, NW].” (Mazmur 29:11) Mereka memiliki kedamaian ini karena mereka memiliki tanda pengenal dari umat Kristiani sejati, yakni, kasih. (Yohanes 13:35) Hanya kasih yang dapat mengatasi semua faktor pemecah, secara rasial, nasional, atau kebudayaan. Itu merupakan ”pengikat sempurna yang mempersatukan”.​—Kolose 3:14, NW.

      15. Bagaimana peranan yang paling unggul dari kasih nyata jika dibandingkan dengan buah roh panjang sabar?

      15 Peranan yang paling unggul dari kasih juga nyata bila dibandingkan dengan panjang sabar, yaitu dengan sabar menanggung perbuatan jahat atau provokasi. Berlaku panjang sabar berarti sabar dan juga lambat marah. Apa yang menyebabkan orang tidak sabar dan cepat marah? Bukankah karena kurang kasih? Akan tetapi, Bapak surgawi kita panjang sabar dan ”tidak lekas marah”. (Keluaran 34:​6, BIS; Lukas 18:7) Mengapa? Karena Ia mengasihi kita dan ”menghendaki supaya jangan ada yang binasa”.​—2 Petrus 3:9.

      16. Bagaimana kasih dibandingkan dengan kemurahan, kebaikan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri?

      16 Kita telah melihat sebelumnya mengapa kasih lebih besar daripada iman, dan alasan yang diberikan berlaku atas buah-buah roh lainnya, yaitu, kemurahan, kebaikan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri. Semua ini adalah sifat-sifat yang penting, tetapi tidak akan memberikan manfaat kepada kita tanpa kasih, seperti yang dikatakan Paulus di 1 Korintus 13:3, ketika ia menulis, ”Sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, [agar aku dapat memegahkan diri, NW], tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku.” Di pihak lain, kasihlah yang menghasilkan sifat-sifat seperti kemurahan, kebaikan, iman, kelemahlembutan, dan penguasaan diri. Jadi Paulus melanjutkan dengan berkata bahwa kasih itu baik hati dan ”menutupi [”tahan menghadapi”, BIS] segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu”. Ya, dan ”kasih tidak berkesudahan”. (1 Korintus 13:​4, 7, 8) Nyata terlihat bahwa buah-buah lain dari roh adalah perwujudan, atau berbagai segi, dari kasih, buah yang pertama disebutkan. Benar, dengan sendirinya dari keseluruh sembilan buah roh, kasih memang yang terbesar.

      17. Pernyataan Alkitab apa mendukung kesimpulan bahwa kasih adalah buah roh yang terbesar?

      17 Mendukung kesimpulan bahwa kasih adalah yang terbesar dari buah-buah roh Allah Paulus berkata, ”Janganlah kamu berhutang apa-apa kepada siapapun juga, tetapi hendaklah kamu saling mengasihi. Sebab barangsiapa mengasihi sesamanya manusia, ia sudah memenuhi hukum Taurat. Karena firman . . . sudah tersimpul dalam firman ini, yaitu: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia, karena itu kasih adalah kegenapan hukum Taurat.” (Roma 13:​8-10) Dengan tepat sekali, murid Yakobus menyebut perintah untuk mengasihi sesama seperti diri sendiri sebagai ”hukum utama”.​—Yakobus 2:8.

      18. Bukti lebih jauh apa menunjukkan bahwa kasih adalah sifat yang terbesar?

      18 Apakah ada lebih banyak bukti bahwa kasih adalah sifat yang terbesar? Ya, tentu. Perhatikan apa yang terjadi ketika seorang ahli Taurat bertanya kepada Yesus, ”Hukum manakah yang paling utama?” Ia kemungkinan menduga bahwa Yesus akan mengutip salah satu dari Sepuluh Perintah. Akan tetapi Yesus mengutip dari Ulangan 6:​4, 5 dan berkata, ”Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan [”Yehuwa”, NW] Allah kita, Tuhan [”Yehuwa”, NW] itu esa. Kasihilah Tuhan [”Yehuwa”, NW] Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.” Kemudian Yesus menambahkan, ”Hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini.”​—Markus 12:​28-31.

      19. Apa beberapa hasil yang menonjol dari a·gaʹpe?

      19 Paulus memang tidak melebih-lebihkan ketika ia menyebut iman, pengharapan, dan kasih dan berkata, ”Yang paling besar di antaranya ialah kasih.” Pernyataan kasih menghasilkan hubungan yang baik dengan Bapak surgawi kita dan dengan orang-orang lain, termasuk mereka di dalam sidang dan anggota-anggota keluarga kita. Kasih mempunyai pengaruh yang membangun atas diri kita. Dan artikel berikut akan memperlihatkan betapa memberi imbalan kasih yang sejati itu.

  • Kasih Sejati Memberi Imbalan
    Menara Pengawal—1990 | 15 November
    • Kasih Sejati Memberi Imbalan

      ”Allah bukan tidak adil, sehingga Ia lupa akan pekerjaanmu dan kasihmu yang kamu tunjukkan terhadap namaNya.”​—IBRANI 6:10.

      1, 2. Mengapa kasih yang sejati memberi imbalan kepada kita secara pribadi?

      KASIH yang tidak mementingkan diri adalah sifat yang paling besar, paling luhur, dan paling berharga yang dapat kita nyatakan. Kasih ini (bahasa Yunani, a·gaʹpe) secara konsisten menuntut banyak dari kita. Akan tetapi karena kita diciptakan oleh Allah keadilan dan kasih, kita mendapati bahwa kasih yang tidak mementingkan diri benar-benar memberi imbalan [upah atau berkat]. Mengapa demikian?

      2 Satu alasan mengapa kasih yang sejati memberi imbalan berkaitan dengan prinsip psikosomatis, yaitu pengaruh dari pikiran dan emosi atas tubuh kita. Seorang pakar stress pernah berkata, ”’Kasihilah sesamamu’ adalah salah satu bagian yang paling bijaksana dari nasihat medis yang pernah diberikan.” Ya, ”orang yang murah hati berbuat baik kepada diri sendiri”. (Amsal 11:17) Hal yang sama pentingnya adalah kata-kata, ”Siapa banyak memberi berkat, diberi kelimpahan, siapa memberi minum, ia sendiri akan diberi minum.”​—Amsal 11:​25; bandingkan Lukas 6:38.

      3. Apa yang Allah lakukan agar kasih yang sejati memberi imbalan?

      3 Kasih juga memberi imbalan karena Allah memberi upah kepada orang yang tidak mementingkan diri. Kita membaca, ”Siapa menaruh belas kasihan kepada orang yang lemah, memiutangi [Yehuwa], yang akan membalas perbuatannya itu.” (Amsal 19:17) Saksi-Saksi Yehuwa bertindak selaras dengan kata-kata ini pada waktu mereka memberitakan kabar baik tentang Kerajaan Allah. Mereka tahu bahwa ’Allah bukannya tidak adil sehingga melupakan pekerjaan mereka dan kasih yang mereka tunjukkan terhadap nama-Nya’.​—Ibrani 6:10.

      Teladan Kita yang Paling Baik

      4. Siapa yang memberikan teladan yang paling baik bahwa kasih yang sejati itu memberi imbalan, dan bagaimana Ia telah melakukan hal tersebut?

      4 Siapa yang memberikan teladan yang paling baik bahwa kasih yang sejati itu memberi imbalan? Ya, tidak lain Allah sendiri! ”Begitu besar kasih Allah akan dunia [umat manusia] ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal.” (Yohanes 3:16) Karunia berupa Putra-Nya agar mereka yang menerima korban tebusan tersebut dapat memiliki kehidupan kekal, pastilah menuntut pengorbanan besar dari Yehuwa, dan ini jelas memperlihatkan bahwa Ia memiliki kasih dan juga empati. Hal ini diperlihatkan selanjutnya oleh fakta bahwa ’dalam kesesakan Israel di Mesir, Ia merasa sedih’. (Yesaya 63:9) Pasti, betapa jauh lebih menyedihkan bagi Yehuwa melihat Putra-Nya menderita pada tiang siksaan dan mendengar dia berseru, ”Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”​—Matius 27:46.

      5. Apa yang telah terjadi karena Allah begitu mengasihi umat manusia sehingga Ia menyerahkan Putra-Nya sebagai korban?

      5 Apakah Yehuwa mendapati bahwa kasih sejati yang Ia sendiri nyatakan, memberi imbalan? Pasti demikian. Terutama sekali, betapa jitu jawaban yang dapat Allah lontarkan ke muka si Iblis karena Yesus terbukti setia meskipun segala sesuatu yang telah Setan lakukan terhadapnya! (Amsal 27:11) Sebenarnya, semua hal yang dapat dicapai oleh Kerajaan Allah dalam membersihkan nama Yehuwa dari celaan, memulihkan Firdaus ke atas bumi ini, dan mengaruniakan kehidupan kekal kepada jutaan orang, dapat terwujud karena Allah begitu mengasihi umat manusia sehingga Ia menyerahkan milik-Nya yang paling berharga sebagai korban.

      Teladan Yesus

      6. Kasih menggerakkan Yesus untuk melakukan apa?

      6 Teladan lain yang membuktikan bahwa kasih yang sejati memberi imbalan adalah teladan dari Kristus Yesus, Putra Allah. Ia mengasihi Bapak surgawinya, dan kasih tersebut telah menggerakkan Yesus untuk melakukan kehendak Yehuwa tidak soal apa akibatnya. (Yohanes 14:31; Filipi 2:​5-8) Yesus terus memperlihatkan kasihnya kepada Allah meskipun hal itu kadang-kadang berarti ia harus memohon kepada Bapaknya ”dengan teriakan dan tangis”.​—Ibrani 5:7, BIS.

      7. Dengan cara apa saja Yesus mendapati bahwa kasih yang sejati memberi imbalan?

      7 Apakah Yesus mendapat imbalan untuk kasih yang tidak mementingkan diri demikian? Ya, pasti! Pikirkan sukacita yang ia peroleh dari semua hal baik yang ia lakukan dalam pelayanannya selama tiga setengah tahun. Betapa banyak yang ia lakukan dalam membantu orang secara rohani dan jasmani! Di atas segalanya, dengan memperlihatkan bahwa seorang manusia sempurna dapat dengan sempurna memelihara integritas kepada Allah meskipun segala sesuatu yang Setan timpakan kepadanya, Yesus mendapatkan kepuasan karena membuktikan bahwa Iblis adalah pendusta. Selain itu, sebagai hamba yang setia dari Allah, Yesus menerima pahala besar berupa peri tidak berkematian setelah ia dibangkitkan kepada kehidupan di surga. (Roma 6:9; Filipi 2:​9-11; 1 Timotius 6:​15, 16; Ibrani 1:​3, 4) Dan betapa menakjubkan hak istimewa yang menanti dia di Armagedon dan selama Pemerintahan Mileniumnya, manakala Firdaus akan dipulihkan dalam bumi dan ribuan juta orang akan dibangkitkan dari kematian! (Lukas 23:43) Tidak diragukan Yesus telah mengalami bahwa kasih yang sejati memberi imbalan.

      Teladan Paulus

      8. Apa pengalaman Paulus karena kasihnya yang sejati kepada Allah dan kepada sesamanya?

      8 Rasul Petrus pernah bertanya kepada Yesus, ”Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau; jadi apakah yang akan kami peroleh?” Antara lain, Yesus menjawab, ”Setiap orang yang karena namaKu meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, bapa atau ibunya, anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal.” (Matius 19:​27-29) Kita mempunyai contoh yang mencolok tentang hal ini dalam diri rasul Paulus, yang menikmati banyak berkat, seperti yang khususnya dicatat oleh Lukas dalam buku Kisah. Kasih yang sejati kepada Allah dan kepada sesamanya mendorong Paulus untuk meninggalkan karirnya sebagai orang Farisi yang terhormat. Pikirkan juga apa yang Paulus alami ketika ia dipukul, hampir mati, dalam bahaya, dan diasingkan​—semua karena kasih yang sejati bagi Allah dan dinas suci-Nya.​—2 Korintus 11:​23-27.

      9. Bagaimana Paulus diberkati karena memperlihatkan kasih yang sejati?

      9 Apakah Yehuwa memberkati Paulus karena menjadi teladan yang begitu baik dalam memperlihatkan kasih yang sejati? Nah, pikirkan betapa produktif dinas Paulus. Ia berhasil mendirikan sidang-sidang Kristen. Dan mukjizat-mukjizat apa saja yang Allah kuasakan kepadanya untuk ia lakukan! (Kisah 19:​11, 12) Paulus juga mendapat hak istimewa menerima penglihatan adi manusiawi dan menulis 14 surat yang sekarang menjadi bagian dari Kitab-Kitab Yunani Kristen. Di atas segalanya, pahala berupa peri tidak berkematian di surga diberikan kepadanya. (1 Korintus 15:​53, 54; 2 Korintus 12:​1-7; 2 Timotius 4:​7, 8) Paulus pasti mengalami bahwa Allah memberkati kasih yang sejati.

      Kasih yang Sejati Memberi Imbalan pada Zaman Kita

      10. Apa yang dituntut untuk menjadi murid Yesus dan menyatakan kasih kita kepada Yehuwa?

      10 Saksi-Saksi Yehuwa dewasa ini juga mengalami bahwa kasih yang sejati memberi imbalan. Menyatakan kasih kita kepada Yehuwa dengan berpihak kepada-Nya dan dengan menjadi murid Yesus bisa saja berarti mengorbankan kehidupan kita sebagai pemelihara integritas. (Bandingkan Wahyu 2:10.) Itulah sebabnya Yesus berkata bahwa kita harus menghitung biaya. Akan tetapi kita menghitung biayanya bukan agar dapat memutuskan apakah menjadi murid akan memberi imbalan atau tidak. Melainkan, kita melakukannya untuk mempersiapkan diri agar dapat mengorbankan apapun yang dituntut dengan menjadi murid.​—Lukas 14:28.

      11. Mengapa ada yang tidak membaktikan diri mereka kepada Allah?

      11 Dewasa ini, banyak orang​—tidak diragukan, jutaan—​percaya kepada berita dari Firman Allah yang disampaikan oleh Saksi-Saksi Yehuwa kepada mereka. Akan tetapi mereka enggan membaktikan diri kepada Allah dan dibaptis. Mungkinkah ini disebabkan karena tidak seperti yang lain-lain mereka tidak memiliki kasih yang sejati bagi Allah? Banyak yang tidak mengambil langkah pembaktian dan pembaptisan karena mereka ingin tetap menyenangkan hati teman hidup yang tidak beriman. Yang lain tidak mau mendekatkan diri kepada Allah karena mereka memiliki sikap yang sama seperti seorang pengusaha yang berkata kepada seorang Saksi, ”Saya menyukai dosa.” Jelaslah, orang-orang demikian tidak menghargai semua hal yang telah dilakukan Allah dan Kristus bagi mereka.

      12. Apa yang dikatakan majalah ini yang menonjolkan imbalan dari pengetahuan yang lebih mendekatkan kita kepada Allah dalam kasih yang sejati?

      12 Jika kita memiliki penghargaan yang tulus terhadap semua yang Allah Yehuwa dan Kristus Yesus telah lakukan bagi kita, kita akan memperlihatkan hal ini dengan secara sukarela mengorbankan apapun yang dituntut untuk melayani Bapak surgawi kita dan menjadi salah seorang murid Yesus. Karena kasih yang sejati kepada Allah, pria dan wanita dari segala haluan kehidupan​—pengusaha yang sukses, tokoh-tokoh olahraga yang terkenal, dan sebagainya—​telah menukarkan karir yang menguntungkan diri sendiri dengan pelayanan Kristen, seperti yang dilakukan oleh rasul Paulus. Dan mereka tidak mau menerima apapun sebagai ganti berkat-berkat mengenal dan melayani Allah. Mengenai hal ini, The Watch Tower pernah berkata, ”Kami kadang-kadang bertanya, Berapa banyak saudara akan bersedia menerima seribu dollar untuk ditukar dengan apa yang mereka tahu mengenai Kebenaran? Tidak satu tangan pun terlihat diacungkan! Siapa yang mau menerima sepuluh ribu dollar? Tidak ada! Siapa yang mau menerima sejuta dollar? Siapa yang mau menerima seluruh dunia sebagai ganti apa yang ia ketahui mengenai pribadi Ilahi dan Rencana Ilahi? Tidak seorang pun! Kalau begitu kawan-kawan, Kalian bukanlah kelompok orang yang merasa sangat tidak puas. Jika saudara merasa diri begitu kaya sehingga tidak mau menerima apapun sebagai ganti pengetahuan yang saudara miliki tentang Allah, maka saudara merasa sama kayanya seperti kami.” (15 Desember 1914, halaman 377) Ya, pengetahuan yang saksama tentang Allah dan maksud-tujuan-Nya lebih mendekatkan kita kepada Dia dalam kasih sejati yang benar-benar memberi imbalan.

      13. Bagaimana hendaknya kita memandang pelajaran pribadi?

      13 Jika kita mengasihi Allah, kita akan berupaya mencari tahu dan melakukan kehendak-Nya. (1 Yohanes 5:3) Kita akan menganggap serius pelajaran pribadi, doa, dan menghadiri perhimpunan Kristen. Semua hal ini menuntut kerelaan berkorban, karena kegiatan-kegiatan ini berarti mengorbankan waktu, energi, dan sumber-sumber lain. Kita mungkin harus memilih antara menonton suatu acara televisi atau mengadakan pelajaran Alkitab pribadi. Akan tetapi betapa kita akan menjadi jauh lebih kuat secara rohani, jauh lebih cakap memberi kesaksian kepada orang-orang lain, dan memperoleh jauh lebih banyak manfaat dari perhimpunan Kristen apabila kita menganggap serius pelajaran demikian dan menyediakan cukup waktu untuk itu!​—Mazmur 1:​1-3.

      14. Betapa penting doa dan hubungan yang baik dengan Allah Yehuwa?

      14 Apakah kita dengan tetap tentu senang berbicara kepada Bapak surgawi kita dengan ’bertekun dalam doa’? (Roma 12:12) Atau apakah kita sering terlalu sibuk untuk menyatakan betapa bernilai hak istimewa yang berharga ini? ”Berdoa dengan tiada berkeputusan” adalah cara yang sangat penting untuk menguatkan hubungan kita dengan Allah Yehuwa. (1 Tesalonika 5:​17, Bode) Dan tidak ada hal lain yang dapat membantu kita dalam menghadapi pencobaan selain hubungan yang baik dengan Yehuwa. Apa yang membuat Yusuf berhasil menolak godaan dari istri Potifar? Dan mengapa Daniel tidak berhenti berdoa ketika undang-undang dari orang Media dan Persia melarang dia untuk berdoa kepada Yehuwa? (Kejadian 39:​7-16; Daniel 6:​4-11) Ya, hubungan yang baik dengan Allah membantu pria-pria ini untuk keluar sebagai pemenang, sebagaimana itu juga akan membantu kita melakukan hal serupa!

      15. Bagaimana hendaknya kita memandang perhimpunan-perhimpunan Kristen, dan mengapa?

      15 Maka, betapa seriuskah kita memandang kelima perhimpunan kita setiap minggu? Apakah kita membiarkan keletihan, kurang enak badan, atau cuaca yang sedikit kurang baik mengganggu kewajiban kita untuk tidak lalai berhimpun bersama rekan-rekan seiman? (Ibrani 10:​24, 25) Seorang ahli mesin Amerika yang mendapat gaji tinggi menyadari bahwa pekerjaannya berulang kali membuat dia tidak dapat menghadiri perhimpunan Kristen. Maka ia mencari pekerjaan lain, meskipun secara keuangan rugi, agar dapat dengan tetap tentu menghadiri semua perhimpunan. Perhimpunan-perhimpunan memungkinkan kita untuk saling menganjurkan dan menguatkan iman satu sama lain. (Roma 1:​11, 12) Dalam semua hal ini, bukankah kita mendapati bahwa ”orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga”? (2 Korintus 9:6) Ya, memperlihatkan kasih yang sejati dengan cara-cara demikian sangat bermanfaat.

      Kasih Sejati dan Pelayanan Kita

      16. Apa hasilnya bila kasih menggerakkan kita untuk memberi kesaksian tidak resmi?

      16 Kasih menggerakkan kita untuk memberitakan kabar baik sebagai umat Yehuwa. Misalnya, itu menggerakkan kita untuk ikut ambil bagian dalam kesaksian tidak resmi. Bisa jadi kita ragu-ragu memberi kesaksian tidak resmi, tetapi kasih akan mendorong kita untuk berbicara. Sesungguhnya, kasih akan mendorong kita memikirkan cara-cara yang bijaksana untuk memulai percakapan dan kemudian mengarahkan kepada Kerajaan. Sebagai ilustrasi: Dalam perjalanan dengan pesawat terbang, seorang penatua Kristen duduk di sebelah seorang imam Katolik Roma. Mula-mula, penatua itu mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang tidak menyinggung perasaan. Akan tetapi, pada waktu imam tersebut turun dari pesawat terbang, minatnya telah mendorong dia untuk mendapatkan dua dari buku-buku kita. Betapa baik hasil yang diperoleh dengan memberikan kesaksian tidak resmi!

      17, 18. Kasih akan menggerakkan kita untuk melakukan apa sehubungan dengan pelayanan Kristen?

      17 Kasih yang sejati juga mendorong kita untuk dengan tetap tentu ikut serta dalam pekerjaan kesaksian umum dan corak-corak lain dari pelayanan Kristen. Seberapa jauh kita berhasil mengadakan pembahasan Alkitab, kita akan membawa kehormatan kepada Allah Yehuwa dan akan membantu orang-orang yang seperti domba untuk menempuh jalan menuju kehidupan kekal. (Bandingkan Matius 7:​13, 14.) Bahkan jika kita tidak dapat mengadakan pembahasan Alkitab, upaya kita tidak akan sia-sia. Kehadiran kita saja di rumah orang-orang sudah seperti suatu kesaksian, dan kita sendiri mendapat berkat dari pelayanan, karena dengan mengumumkan kebenaran Alkitab iman kita pasti dikuatkan. Memang, dituntut kerendahan hati untuk pergi dari rumah ke rumah, ’melakukan segala sesuatu karena Injil, supaya dapat mendapat bagian dalamnya [bersama orang-orang lain, NW]’. (1 Korintus 9:​19-23) Akan tetapi karena kasih kepada Allah dan sesama, kita dengan rendah hati berupaya keras dan mendapat upah berupa berkat-berkat yang limpah.​—Amsal 10:22.

      18 Juga dibutuhkan kasih yang sejati bagi hamba-hamba Yehuwa untuk bersungguh-sungguh membuat kunjungan kembali kepada orang-orang yang berminat dalam kebenaran Alkitab. Memimpin pengajaran Alkitab dari minggu ke minggu dan bulan demi bulan merupakan pernyataan dari kasih kepada Allah dan sesama, karena pekerjaan ini menuntut pengorbanan waktu, upaya, dan sumber-sumber materi. (Markus 12:​28-31) Walaupun demikian, jika kita melihat salah seorang dari pelajar-pelajar Alkitab kita dibaptis dan mungkin bahkan memasuki dinas sepenuh waktu, bukankah kita diyakinkan bahwa kasih yang sejati memberi imbalan?​—Bandingkan 2 Korintus 3:​1-3.

      19. Apa hubungan antara kasih dan dinas sepenuh waktu?

      19 Kasih yang tidak mementingkan diri menggerakkan kita untuk mengorbankan kemudahan materi demi dinas sepenuh waktu jika keadaan memungkinkan kita untuk berperan serta dalam kegiatan demikian. Beribu-ribu Saksi dapat memberi bukti bahwa mereka telah sangat beruntung karena menyatakan kasih sampai taraf demikian. Jika keadaan saudara memungkinkan untuk ikut serta dalam dinas sepenuh waktu tetapi saudara tidak menggunakan kesempatan itu, saudara pasti tidak menyadari betapa besar berkat-berkat yang tidak saudara nikmati.​—Bandingkan Markus 10:​29, 30.

      Memberi Imbalan dalam Hal-Hal Lain

      20. Bagaimana kasih membantu kita untuk suka mengampuni?

      20 Kasih yang sejati memberi imbalan dalam hal lain karena itu membantu kita untuk suka mengampuni. Ya, kasih ”tidak menyimpan kesalahan orang lain”. Malahan, ”kasih menutupi banyak sekali dosa”. (1 Korintus 13:5; 1 Petrus 4:8) ”Banyak sekali” berarti banyak dosa, bukan? Dan betapa bermanfaat untuk suka mengampuni! Bila saudara mengampuni, hal ini akan membuat saudara sendiri dan orang yang bersalah terhadap saudara merasa lebih baik. Terlebih penting lagi adalah fakta bahwa kecuali kita sudah mengampuni orang yang bersalah kepada kita, kita tidak dapat mengharapkan Yehuwa akan mengampuni kita.​—Matius 6:12; 18:​23-35.

      21. Bagaimana kasih yang sejati membantu kita untuk tunduk?

      21 Selain itu, kasih yang sejati memberi imbalan karena itu membantu kita untuk tunduk. Jika kita mengasihi Yehuwa, kita akan merendahkan diri kita di bawah tangan-Nya yang penuh kuasa. (1 Petrus 5:6) Kasih kepada-Nya akan juga menggerakkan kita untuk tunduk kepada sarana yang Ia pilih, ”hamba yang setia dan bijaksana”. Ini termasuk tunduk kepada mereka yang mengambil pimpinan dalam sidang. Ini memberi imbalan karena bila kita tidak melakukannya, hal itu ’tidak akan menguntungkan’ kita. (Matius 24:45-47; Ibrani 13:17) Tentu saja, prinsip untuk tunduk ini juga berlaku dalam lingkungan keluarga. Haluan demikian memberi imbalan karena menambah keriangan, perdamaian dan keharmonisan dalam keluarga seraya memberi kita kepuasan karena mengetahui bahwa kita menyenangkan hati Allah.​—Efesus 5:22; 6:​1-3.

      22. Bagaimana kita dapat benar-benar bahagia?

      22 Maka jelaslah, sifat terbesar yang dapat kita pupuk adalah a·gaʹpe, yakni jenis kasih yang tidak mementingkan diri dan berprinsip. Dan tidak dapat diragukan bahwa kasih yang sejati memberi imbalan. Karena itu, kita akan benar-benar bahagia jika kita memupuk dan menyatakan sifat ini dalam ukuran yang lebih besar demi kemuliaan Yehuwa, Allah kita yang pengasih.

Publikasi Menara Pengawal Bahasa Indonesia (1971-2025)
Log Out
Log In
  • Indonesia
  • Bagikan
  • Pengaturan
  • Copyright © 2025 Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania
  • Syarat Penggunaan
  • Kebijakan Privasi
  • Pengaturan Privasi
  • JW.ORG
  • Log In
Bagikan