PERPUSTAKAAN ONLINE Menara Pengawal
PERPUSTAKAAN ONLINE
Menara Pengawal
Indonesia
  • ALKITAB
  • PUBLIKASI
  • PERHIMPUNAN
  • Perhatikanlah Orang yang Loyal!
    Menara Pengawal—1996 | 15 Maret
    • Perhatikanlah Orang yang Loyal!

      ”Siapakah yang tidak akan benar-benar takut kepadamu, Yehuwa, dan memuliakan namamu, karena engkau saja yang loyal?”​—PENYINGKAPAN 15:4.

      1. Pernyataan apa yang diberikan oleh J. F. Rutherford tentang loyalitas dari pendahulunya, C. T. Russell?

      JOSEPH F. RUTHERFORD, yang menggantikan C. T. Russell sebagai presiden Lembaga Menara Pengawal pada tahun 1917, mengawali kata-katanya pada upacara pemakaman Russell dengan mengatakan, ”Charles Taze Russell loyal kepada Allah, loyal kepada Yesus Kristus, loyal kepada kepentingan kerajaan Mesias. Ia loyal sampai kepada hal-hal yang sekecil-kecilnya​—ya, loyal bahkan sampai mati.” Benar, itu adalah penghormatan baik yang diberikan kepada seorang hamba yang setia dari Allah Yehuwa. Tidak ada penghormatan yang lebih besar yang dapat kita berikan kepada seseorang selain daripada mengatakan bahwa ia telah lulus ujian loyalitas, bahwa ia loyal​—loyal sampai kepada hal-hal yang sekecil-kecilnya.

      2, 3. (a) Mengapa loyalitas mendatangkan tantangan? (b) Siapa yang juga bersiap menentang orang-orang Kristen sejati dalam upaya mereka untuk loyal?

      2 Loyalitas mendatangkan tantangan. Mengapa? Karena loyalitas bertolak belakang dengan kepentingan pribadi. Yang terutama di antara orang-orang yang tidak loyal kepada Allah adalah para pemimpin agama Susunan Kristen. Selain itu juga, belum pernah sebelumnya ketidakloyalan begitu meluas seperti yang terdapat dalam hubungan perkawinan dewasa ini. Perzinaan sudah lazim. Ketidakloyalan juga merajalela dalam dunia bisnis. Tentang hal ini, kita diberi tahu, ”Banyak manajer dan profesional . . . yakin bahwa hanya orang-orang bodoh dan dungu yang loyal kepada perusahaan mereka dewasa ini.” Orang-orang yang ”terlalu loyal” dipandang rendah. ”Loyalitas Anda yang utama dan tunggal haruslah kepada diri sendiri,” demikian kata seorang presiden dari suatu perusahaan konsultan manajemen dan jasa pengadaan eksekutif. Berbicara tentang loyalitas kepada diri sendiri berarti merusak makna dari kata ini. Ini mengingatkan kita akan apa yang dikatakan di Mikha 7:2, ”Orang saleh [”loyal”, NW] sudah hilang dari negeri.”

      3 Dalam skala yang lebih penting, Setan dan hantu-hantunya bersiap menentang kita, bertekad untuk membuat kita tidak loyal kepada Allah. Itulah sebabnya orang-orang Kristen diberi tahu di Efesus 6:​12, ”Pergulatan kita, bukan melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan kalangan berwenang, melawan penguasa-penguasa dunia dari kegelapan ini, melawan kumpulan roh yang fasik di tempat-tempat surgawi.” Ya, kita perlu menaati peringatan, ”Peliharalah kesadaranmu, waspadalah. Musuhmu, si Iblis, berjalan keliling seperti singa yang mengaum, berupaya melahap seseorang.”​—1 Petrus 5:8.

      4. Kecenderungan apa yang membuat berlaku loyal menjadi sangat sulit?

      4 Yang juga mempersulit loyalitas adalah kecenderungan yang mementingkan diri yang kita warisi dari orang-tua kita, sebagaimana disebutkan di Kejadian 8:21, ”Yang ditimbulkan hatinya adalah jahat”​—dan mementingkan diri​—”dari sejak kecilnya.” Kita semua mempunyai problem yang rasul Paulus akui ia miliki, ”Yang baik yang aku inginkan tidak aku lakukan, tetapi yang buruk yang tidak aku inginkan itulah yang aku praktekkan.”​—Roma 7:​19.

      Loyalitas Adalah Sesuatu yang Istimewa

      5, 6. Apa yang dapat dikatakan tentang apa sebenarnya loyalitas itu, dan bagaimana ini telah didefinisikan?

      5 ”Loyalitas” adalah kata yang istimewa sekali. Maka buku Insight on the Scriptures mengatakan, ”Tampaknya tidak ada kata-kata dalam bahasa Inggris yang dengan tepat menyatakan makna penuh dari kata Ibrani dan Yunani itu, tetapi ’loyalitas’, yang mencakup, sebagaimana itu sebenarnya, gagasan tentang pengabdian dan kesetiaan, bila digunakan sehubungan dengan Allah dan dinas kepada-Nya, dianggap cukup untuk memberikan makna kira-kira pada kata itu.”a Tentang ”loyalitas” Menara Pengawal pernah mengatakan, ”Kesetiaan, tugas, kasih, kewajiban. Apa yang sama dalam kata-kata ini? Ini adalah berbagai segi dari loyalitas.” Ya, ada begitu banyak kebajikan yang sebenarnya adalah segi-segi yang berbeda dari loyalitas. Memang menarik betapa sering loyalitas dan keadilbenaran dikaitkan dalam Alkitab.

      6 Yang juga membantu adalah definisi-definisi berikut ini, ’Loyalitas dapat menyatakan kesetiaan yang terus-menerus dan dapat diandalkan, kukuh menghadapi kegoyahan atau godaan’. ’Loyalitas menyatakan kesetiaan kepada janji seseorang atau terus-menerus berpaut kepada lembaga atau kepada prinsip-prinsip yang kepadanya seseorang merasa dirinya terikat secara moral; istilah tersebut bukan hanya menyatakan keterikatan, tetapi penolakan untuk dipikat dan dibujuk agar menjauhi keterikatan tersebut’. Maka, orang-orang yang terus setia meskipun ada ujian, tentangan, dan penganiayaan layak disebut ”loyal”.

      7. Perbedaan apa dapat dibuat antara loyalitas dan kesetiaan?

      7 Akan tetapi, sehubungan dengan hal ini, ada baiknya untuk mengilustrasikan suatu perbedaan yang dapat dibuat antara loyalitas dan kesetiaan. Di Amerika Serikat bagian barat, ada sebuah geiser (mata air panas) yang menyembur kira-kira setiap jam. Ini terjadi begitu tetap tentu sehingga dijuluki Si Tua yang Setia. Alkitab menyebutkan bahwa benda-benda mati seperti bulan berlaku setia, karena bulan dapat diandalkan. Mazmur 89:38 berbicara tentang bulan sebagai ”saksi yang setia di awan-awan”. Firman Allah disebut setia. Penyingkapan 21:​5 mengatakan, ”Pribadi yang duduk di atas takhta mengatakan, ’Lihat! Aku membuat semua perkara baru.’ Juga, ia mengatakan, ’Tuliskanlah, karena perkataan ini setia dan benar.’” Semua benda ini setia, dapat diandalkan, namun tidak memiliki kesanggupan untuk secara pribadi terikat kepada sesuatu atau kesanggupan untuk memiliki sifat-sifat moral, seperti loyalitas.

      Yehuwa, Pribadi yang Paling Loyal

      8. Bukti apa dari Alkitab mengidentifikasi teladan yang paling baik berkenaan dengan loyalitas?

      8 Tanpa keraguan sedikit pun, Allah Yehuwa adalah teladan yang paling baik berkenaan dengan loyalitas. Yehuwa telah loyal kepada umat manusia, bahkan menyediakan Putra-Nya agar manusia dapat memperoleh kehidupan abadi. (Yohanes 3:​16) Di Yeremia 3:​12, kita membaca, ”Kembalilah, hai Israel, perempuan murtad, demikianlah firman [Yehuwa]. Muka-Ku tidak akan muram terhadap kamu, sebab aku ini murah hati [”loyal”, NW].” Kata-kata yang dicatat di Penyingkapan 16:5 membuktikan lebih lanjut loyalitas Yehuwa, ”Engkau, Pribadi yang ada dan yang sudah ada, Pribadi yang loyal, adalah adil-benar.” Kemudian sekali lagi, di Mazmur 145:17, kita diberi tahu, ”[Yehuwa] itu adil dalam segala jalan-Nya dan penuh kasih setia [”loyal”, NW] dalam segala perbuatan-Nya.” Sebenarnya, Yehuwa begitu luar biasa dalam loyalitas-Nya sehingga Penyingkapan 15:4 mengatakan, ”Siapakah yang tidak akan benar-benar takut kepadamu, Yehuwa, dan memuliakan namamu, karena engkau saja yang loyal?” Allah Yehuwa loyal dalam tingkat yang paling tinggi.

      9, 10. Catatan apa tentang loyalitas dibuat Yehuwa dalam cara Ia berurusan dengan bangsa Israel?

      9 Sejarah bangsa Israel khususnya memuat banyak sekali kesaksian tentang loyalitas Yehuwa kepada umat-Nya. Pada zaman Hakim-Hakim, Israel acap kali jatuh dari ibadat yang sejati, tetapi Yehuwa berulang-kali merasa menyesal dan menyelamatkan mereka. (Hakim 2:15-22) Selama lima abad Israel memiliki raja-raja, Yehuwa memperlihatkan loyalitas-Nya kepada bangsa tersebut.

      10 Loyalitas Yehuwa menyebabkan Dia sabar kepada umat-Nya, seperti yang ditulis di 2 Tawarikh 36:15, 16, ”[Yehuwa], Allah nenek moyang mereka, berulang-ulang mengirim pesan melalui utusan-utusan-Nya, karena Ia sayang kepada umat-Nya dan tempat kediaman-Nya. Tetapi mereka mengolok-olok utusan-utusan Allah itu, menghina segala firman-Nya, dan mengejek nabi-nabi-Nya. Oleh sebab itu murka [Yehuwa] bangkit terhadap umat-Nya, sehingga tidak mungkin lagi pemulihan.”

      11. Keyakinan atau hiburan apa diberikan kepada kita oleh loyalitas Yehuwa?

      11 Karena Yehuwa paling loyal, rasul Paulus dapat menulis, sebagaimana yang ditulis di Roma 8:​38, 39, ”Aku yakin bahwa baik kematian atau kehidupan atau malaikat-malaikat atau pemerintah-pemerintah atau perkara-perkara yang ada sekarang atau perkara-perkara yang akan datang atau kuasa-kuasa atau ketinggian atau kedalaman atau ciptaan lain apa pun tidak ada yang akan sanggup memisahkan kita dari kasih Allah yang ada dalam Kristus Yesus Tuan kita.” Ya, Yehuwa meyakinkan kita, ”Aku sama sekali tidak akan membiarkanmu atau dengan cara apa pun meninggalkanmu.” (Ibrani 13:5) Benar, adalah suatu penghiburan untuk mengetahui bahwa Allah Yehuwa selalu loyal!

      Yesus Kristus, Putra yang Loyal

      12, 13. Bukti apa kita miliki sehubungan dengan loyalitas Putra Allah?

      12 Yang dengan sempurna meniru Yehuwa dalam menghadapi tantangan loyalitas adalah Yesus Kristus. Dengan tepat rasul Petrus dapat mengutip Mazmur 16:10 dan menerapkannya atas Yesus Kristus di Kisah 2:27, ”Engkau tidak akan meninggalkan jiwaku di Hades, engkau pun tidak akan membiarkan orangmu yang loyal melihat kebinasaan.” Yesus Kristus layak disebut sebagai ’orang yang loyal’. Dalam segala hal, ia loyal kepada Bapak-Nya dan kepada Kerajaan yang Allah janjikan. Setan mula-mula berupaya untuk mematahkan integritas Yesus dengan menggunakan godaan, daya tarik kepada kepentingan pribadi. Karena gagal dalam hal ini, si Iblis menggunakan penganiayaan, yang pada akhirnya menyebabkan kematian Yesus di tiang eksekusi. Yesus sama sekali tidak pernah menyimpang dari loyalitasnya kepada Bapak surgawinya, Allah Yehuwa.​—Matius 4:1-11.

      13 Yesus Kristus loyal kepada para pengikutnya dalam memenuhi janji yang dicatat di Matius 28:20, ”Lihat! aku menyertaimu seluruh hari-hari sampai penutup sistem perkara.” Sebagai penggenapan dari janji tersebut, ia telah dengan loyal menjalankan kepemimpinan atas sidangnya sejak hari Pentakosta tahun 33 M sampai saat ini.

      Manusia yang Tidak Sempurna yang Loyal

      14. Teladan loyalitas apa yang diberikan Ayub?

      14 Sekarang, bagaimana dengan manusia yang tidak sempurna? Dapatkah mereka loyal kepada Allah? Kita memiliki contoh yang menonjol tentang Ayub. Setan membuat jelas persoalannya dalam kasus Ayub. Apakah Ayub loyal kepada Allah Yehuwa, atau apakah ia melayani Dia hanya demi kepentingan pribadi? Setan membual bahwa ia dapat memalingkan Ayub dari Yehuwa dengan menimbulkan kesulitan atas Ayub. Sewaktu Ayub kehilangan semua harta miliknya, semua anaknya, dan bahkan kesehatannya, istrinya mendesak dia, ”Kutukilah Allahmu dan matilah!” Tetapi Ayub loyal, karena ia mengatakan kepada istrinya, ”’Engkau berbicara seperti perempuan gila! Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?’ Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya.” (Ayub 2:9, 10) Sebenarnya, kepada orang-orang yang akan menghiburnya, Ayub mengatakan, ”Meskipun Ia [Allah] membantai aku, aku masih berharap kepada-Nya.” (Ayub 13:15, New International Version) Tidak heran Ayub menerima perkenan Yehuwa! Oleh karena itu, Yehuwa memberi tahu Elifas, orang Teman itu, ”Murka-Ku menyala terhadap engkau dan terhadap kedua sahabatmu, karena kamu tidak berkata benar tentang Aku seperti hamba-Ku Ayub.”—Ayub 42:7, 10-16; Yakobus 5:11.

      15. Bukti Alkitab apa kita miliki sehubungan dengan loyalitas dari banyak hamba Allah Yehuwa?

      15 Semua pria dan wanita yang beriman yang digambarkan dalam buku Ibrani pasal 11 dapat dikatakan sebagai orang-orang yang loyal. Mereka tidak hanya setia tetapi juga loyal dalam menghadapi tekanan. Maka, kita membaca tentang mereka ”yang melalui iman . . . membungkam mulut singa-singa, menahan kekuatan api, luput dari mata pedang . . . Ya, yang lain-lain menerima cobaan mereka melalui cemoohan dan penyesahan, sesungguhnya, lebih daripada itu, melalui belenggu dan penjara. Mereka dirajam, mereka dicobai, mereka dipotong-potong dengan gergaji, mereka mati dibantai dengan pedang, mereka mengembara dengan kulit domba, dengan kulit kambing, sementara mereka dalam keadaan kekurangan, dalam kesengsaraan, di bawah perlakuan kejam.”—Ibrani 11:33-37.

      16. Teladan loyalitas apa yang disediakan rasul Paulus?

      16 Kitab-Kitab Yunani Kristen juga menyediakan teladan yang mencolok tentang rasul Paulus. Ia dengan benar dapat mengatakan kepada orang-orang Kristen di Tesalonika sehubungan dengan pelayanannya, ”Kamu adalah saksi-saksi, juga Allah, betapa loyal dan adil-benar dan tidak dapat dipersalahkan, kami terbukti bagimu orang-orang yang percaya.” (1 Tesalonika 2:10) Kita memiliki bukti lebih jauh tentang loyalitas Paulus dalam kata-katanya yang dicatat di 2 Korintus 6:4, 5, yang berbunyi, ”Dalam setiap hal kami merekomendasikan diri kami sendiri sebagai pelayan Allah, dengan ketekunan menahan banyak hal, dengan kesengsaraan, dengan keadaan kekurangan, dengan kesulitan, dengan pemukulan, dengan pemenjaraan, dengan kekacauan, dengan kerja keras, dengan malam-malam hari tanpa tidur, dengan waktu-waktu tanpa makanan.” Semua ini membuktikan bahwa rasul Paulus memiliki harga diri karena ia loyal.

      Orang-Orang yang Loyal pada Zaman Modern

      17. Kata-kata apa dari J. F. Rutherford memperlihatkan tekadnya untuk loyal?

      17 Pada zaman modern, kita memiliki teladan yang baik yang sudah disinggung dalam kata pengantar kita. Perhatikan apa yang dikatakan dalam buku Keamanan Seluas Dunia di Bawah ”Raja Damai”, pada halaman 146 di bawah judul kecil ”Keloyalan Selama di Penjara”. Di sana dikatakan, ”Karena memperlihatkan keloyalan kepada organisasi Yehuwa selama dipenjarakan, presiden Lembaga Menara Pengawal, Joseph F. Rutherford, pada tanggal 25 Desember 1918, menulis sebagai berikut, ’Karena saya menolak untuk berkompromi dengan Babel, tetapi dengan setia berusaha melayani Tuhanku, saya berada dalam penjara, dan untuk itu saya berterima kasih. . . . Saya jauh lebih senang mendapat perkenan dan senyum-Nya dan berada di penjara, daripada berkompromi dengan atau menyerah kepada Binatang Buas dan bebas dan mendapat tepuk tangan dari seluruh dunia.’”b

      18, 19. Teladan-teladan yang luhur apa kita miliki dari loyalitas pada zaman modern?

      18 Kita memiliki teladan-teladan loyalitas yang bagus sekali dalam diri banyak orang Kristen lain yang telah bertekun menahan penganiayaan. Di antara orang-orang yang loyal demikian adalah Saksi-Saksi Yehuwa di Jerman selama rezim Nazi, sebagaimana diperlihatkan dalam video Purple Triangles, yang secara luas disebarkan dalam bahasa Inggris. Yang juga patut diperhatikan adalah banyak Saksi-Saksi Yehuwa yang loyal di Afrika, seperti di Malawi. Di sana, seorang penjaga penjara memberi kesaksian tentang loyalitas Saksi-Saksi dengan mengatakan, ”Mereka tidak pernah akan berkompromi. Jumlah mereka justru bertambah.”

      19 Seseorang yang membaca Buku Kegiatan yang terbaru mau tidak mau akan merasa terkesan oleh loyalitas yang dipertunjukkan oleh orang-orang Kristen sejati, seperti mereka di Yunani, Mozambik, dan Polandia. Banyak dari antara mereka menderita siksaan yang sangat hebat; yang lain-lain dibunuh. Halaman 177 dari Buku Kegiatan 1992 memperlihatkan foto dari sembilan pria Kristen di Etiopia yang menghadapi tantangan loyalitas sampai taraf dibunuh. Sebagai Saksi-Saksi Yehuwa, tidakkah kita senang memiliki begitu banyak teladan yang mendorong kita untuk menghadapi tantangan loyalitas?

      20. Apa hasilnya jika kita tetap loyal?

      20 Dengan loyal melawan godaan dan tekanan, kita membina harga diri kita. Maka, di pihak mana kita ingin didapati dalam masalah loyalitas ini? Dengan menghadapi tantangan loyalitas, kita berpihak kepada Allah Yehuwa dalam masalah ini dan membuktikan Setan si Iblis sebagai pendusta yang keji dan buruk! Dengan demikian kita memperoleh perkenan dari Pencipta kita, Allah Yehuwa, dan imbalan dari kehidupan abadi dalam kebahagiaan. (Mazmur 37:29; 144:15b) Apa yang dibutuhkan untuk menghadapi tantangan loyalitas akan dibahas selanjutnya.

  • Menghadapi Tantangan Loyalitas
    Menara Pengawal—1996 | 15 Maret
    • Menghadapi Tantangan Loyalitas

      ’Kenakan kepribadian baru yang diciptakan menurut kehendak Allah dalam keadilbenaran yang benar dan loyalitas.’—EFESUS 4:24.

      1. Mengapa kita berutang loyalitas kepada Allah Yehuwa?

      MENGHADAPI tantangan loyalitas memiliki banyak segi. Yang paling penting adalah menghadapi tantangan loyalitas kepada Allah Yehuwa. Memang, mengingat siapa Yehuwa itu dan apa yang Ia telah lakukan bagi kita, dan karena pembaktian kita kepada-Nya, kita berutang loyalitas kepada-Nya. Bagaimana kita menyatakan loyalitas kepada Allah Yehuwa? Cara utama adalah dengan berlaku loyal kepada prinsip-prinsip Yehuwa yang adil-benar.

      2, 3. Apa hubungan antara loyalitas dan keadilbenaran?

      2 Untuk menghadapi tantangan ini, kita harus mengindahkan kata-kata yang terdapat di 1 Petrus 1:15, 16, ”Sesuai dengan Pribadi Kudus yang memanggilmu, hendaklah kamu sendiri juga menjadi kudus dalam seluruh tingkah lakumu, karena ada tertulis, ’Kamu harus kudus, karena aku kudus.’” Loyalitas kepada Allah Yehuwa akan menyebabkan kita menaati Dia setiap waktu, menyelaraskan pikiran, tutur kata, dan tindakan kita dengan kehendak-Nya yang kudus. Ini berarti memelihara hati nurani yang baik, sebagaimana diperintahkan di 1 Timotius 1:3-5, ”Sesungguhnya tujuan mandat ini [bukan untuk mengajarkan doktrin yang berbeda atau memperhatikan cerita-cerita bohong] adalah kasih yang keluar dari hati yang bersih dan dari hati nurani yang baik dan dari iman tanpa kemunafikan.” Memang, tidak seorang pun di antara kita sempurna, namun kita hendaknya berupaya sebisa-bisanya, bukan?

      3 Loyalitas kepada Yehuwa akan mencegah kita secara mementingkan diri mengkompromikan prinsip-prinsip yang adil-benar. Sesungguhnya, loyalitas akan mencegah kita menjadi orang yang lain di luar lain di dalam. Loyalitas adalah apa yang dimaksud sang pemazmur sewaktu ia bernyanyi, ”Tunjukkanlah kepadaku jalan-Mu, ya [Yehuwa], supaya aku hidup menurut kebenaran-Mu; bulatkanlah hatiku untuk takut akan nama-Mu.” (Mazmur 86:11) Loyalitas menuntut apa yang dengan baik digambarkan sebagai ”taat kepada hal-hal yang tidak dapat ditegakkan”.

      4, 5. Loyalitas akan membuat kita berhati-hati, jangan sampai kita melakukan apa?

      4 Loyalitas kepada Allah Yehuwa juga akan mencegah kita melakukan apa pun yang akan mendatangkan cela atas nama dan Kerajaan-Nya. Misalnya, dua orang Kristen pernah saling berselisih dengan tajam sehingga dengan tidak semestinya mereka meminta bantuan pengadilan duniawi. Sang hakim bertanya, ’Apakah kalian berdua Saksi-Saksi Yehuwa?’ Rupanya ia tidak dapat mengerti mengapa mereka berada di pengadilan. Hal itu benar-benar mendatangkan cela! Loyalitas kepada Allah Yehuwa semestinya mendorong saudara-saudara tersebut untuk menaati nasihat rasul Paulus, ”Maka, sebenarnya, ini secara keseluruhan berarti kekalahan bagimu bahwa kamu mempunyai perkara hukum dengan satu sama lain. Mengapa tidak sebaiknya kamu membiarkan dirimu dirugikan? Mengapa tidak sebaiknya kamu membiarkan dirimu diperlakukan dengan curang?” (1 Korintus 6:7) Tentu, haluan loyalitas kepada Allah Yehuwa berarti menderita kerugian pribadi sebaliknya daripada mendatangkan cela atas Yehuwa dan organisasi-Nya.

      5 Loyalitas kepada Allah Yehuwa juga mencakup tidak menyerah terhadap perasaan takut kepada manusia. ”Takut kepada orang mendatangkan jerat, tetapi siapa percaya kepada [Yehuwa], dilindungi.” (Amsal 29:25) Maka, kita tidak berkompromi bila dihadapkan kepada penganiayaan, tetapi kita meniru teladan yang disediakan oleh Saksi-Saksi Yehuwa di negara bekas Uni Soviet, di Malawi, di Etiopia, dan di banyak sekali negeri lain.

      6. Loyalitas akan mencegah kita bergaul dengan siapa?

      6 Jika kita loyal kepada Allah Yehuwa, kita akan menghindari menjalin persahabatan dengan semua yang adalah musuh-musuh-Nya. Itulah sebabnya sang murid Yakobus menulis, ”Wanita-wanita pezina, tidak tahukah kamu bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah? Karena itu, barangsiapa ingin menjadi sahabat dunia menjadikan dirinya sendiri musuh Allah.” (Yakobus 4:4) Kita ingin memiliki loyalitas yang dibuktikan Raja Daud sewaktu ia mengatakan, ”Masakan aku tidak membenci orang-orang yang membenci Engkau, ya [Yehuwa], dan tidak merasa jemu kepada orang-orang yang bangkit melawan Engkau? Aku sama sekali membenci mereka, mereka menjadi musuhku.” (Mazmur 139:21, 22) Kita tidak ingin bergaul dengan para pedosa yang sengaja, karena kita tidak memiliki kesamaan apa pun dengan mereka. Bukankah loyalitas kepada Allah akan mencegah kita bergaul dengan siapa pun yang adalah musuh Yehuwa, secara langsung maupun melalui media televisi?

      Membela Yehuwa

      7. Loyalitas akan membantu kita melakukan apa sehubungan dengan Yehuwa, dan bagaimana Elihu melakukan hal ini?

      7 Loyalitas akan menggerakkan kita untuk membela Allah Yehuwa. Sungguh contoh yang baik kita dapati dalam diri Elihu! Ayub 32:2, 3 memberi tahu kita, ”Marahlah Elihu . . . ia marah terhadap Ayub, karena ia menganggap dirinya lebih benar dari pada Allah, dan ia juga marah terhadap ketiga orang sahabat itu, karena mereka mempersalahkan Ayub, meskipun tidak dapat memberikan sanggahan.” Di Ayub pasal 32 sampai 37, Elihu membela Yehuwa. Misalnya, ia mengatakan, ”Bersabarlah sebentar, aku akan mengajar engkau, karena masih ada yang hendak kukatakan demi Allah. Aku akan . . . membenarkan Pembuatku; . . . Ia tidak mengalihkan pandangan mata-Nya dari orang benar.”—Ayub 36:2-7.

      8. Mengapa kita perlu membela Yehuwa?

      8 Mengapa perlu membela Yehuwa? Dewasa ini, Allah kita Yehuwa dihujah dengan begitu banyak cara. Dikatakan bahwa Ia tidak ada, bahwa Ia adalah bagian dari suatu Tritunggal, bahwa Ia menyiksa orang selama-lamanya dalam neraka yang bernyala-nyala, bahwa Ia membuat upaya yang lemah untuk menobatkan dunia ini, bahwa Ia tidak peduli terhadap umat manusia, dan seterusnya. Kita mempertunjukkan loyalitas kita kepada-Nya dengan membela-Nya dan membuktikan bahwa Yehuwa ada; bahwa Ia adalah Allah yang bijaksana, adil, mahakuasa, dan penuh kasih; bahwa Ia memiliki jadwal untuk segala sesuatu; dan bahwa bila saat yang Ia tetapkan tiba, Ia akan mengakhiri semua kejahatan dan membuat seluruh bumi menjadi suatu firdaus. (Pengkhotbah 3:1) Ini menuntut agar kita memanfaatkan setiap kesempatan untuk memberi kesaksian tentang nama dan Kerajaan Yehuwa.

      Loyalitas kepada Organisasi Yehuwa

      9. Atas soal-soal apa banyak orang memperlihatkan kurangnya loyalitas mereka?

      9 Kita kini sampai kepada soal berlaku loyal kepada organisasi Yehuwa yang kelihatan. Tentu, kita berutang loyalitas kepada organisasi tersebut, termasuk ”budak yang setia dan bijaksana”, yang melaluinya sidang Kristen diberi makan secara rohani. (Matius 24:45-47) Misalkan ada sesuatu yang muncul dalam publikasi Menara Pengawal yang tidak kita pahami atau setujui saat ini. Apa yang akan kita lakukan? Merasa tersinggung dan meninggalkan organisasi? Itulah yang dilakukan beberapa orang sewaktu The Watch Tower, bertahun-tahun yang lalu, menerapkan perjanjian baru atas Milenium. Yang lain-lain merasa tersinggung atas apa yang pernah dikatakan oleh The Watchtower tentang masalah kenetralan. Seandainya orang-orang yang tersandung oleh hal-hal ini loyal kepada organisasi dan kepada saudara-saudara mereka, mereka akan menunggu Yehuwa untuk menjernihkan hal-hal ini, yang memang Ia lakukan pada waktu yang Ia tetapkan. Maka, loyalitas mencakup menanti dengan sabar sampai pemahaman lebih lanjut diterbitkan oleh budak yang setia dan bijaksana.

      10. Loyalitas akan mencegah kita ingin tahu akan hal apa?

      10 Loyalitas kepada organisasi Yehuwa yang kelihatan juga berarti menolak orang-orang yang murtad. Orang-orang Kristen yang loyal tidak akan ingin tahu mengenai apa yang mau dikatakan orang-orang tersebut. Memang, orang-orang yang digunakan oleh Allah Yehuwa untuk mengatur pekerjaan-Nya di bumi tidak sempurna. Namun apa yang Firman Allah katakan kepada kita untuk dilakukan? Meninggalkan organisasi Allah? Tidak. Kasih sayang persaudaraan hendaknya membuat kita terus loyal kepada organisasi, dan kita hendaknya terus ’mengasihi satu sama lain dengan bersungguh-sungguh dari hati’.—1 Petrus 1:22.

      Loyalitas kepada para Penatua yang Loyal

      11. Loyalitas akan membantu kita berjaga terhadap cara berpikir apa yang bersifat negatif?

      11 Bila sesuatu yang dikatakan atau dilakukan di dalam sidang sulit kita pahami, loyalitas akan mencegah kita menghakimi motif-motif dan akan membantu kita untuk berpandangan bahwa mungkin ini adalah masalah daya pengamatan. Bukankah jauh lebih baik untuk terus memikirkan sifat-sifat yang baik dari para penatua yang terlantik dan rekan-rekan seiman lain sebaliknya daripada kelemahan mereka? Ya, kita ingin berjaga terhadap segala pemikiran negatif demikian, karena ini berhubungan dengan sikap tidak loyal! Loyalitas juga akan membantu kita untuk menaati petunjuk Paulus untuk ”tidak berbicara secara merugikan tentang siapa pun”.—Titus 3:1, 2.

      12, 13. Tantangan-tantangan tertentu apa harus dihadapi para penatua?

      12 Loyalitas mendatangkan tantangan-tantangan khusus kepada para penatua. Salah satu tantangan adalah dalam hal kerahasiaan. Seorang anggota sidang mungkin mempercayakan sesuatu kepada seorang penatua. Loyalitas kepada orang tersebut akan mencegah sang penatua melanggar prinsip kerahasiaan. Ia akan menaati nasihat di Amsal 25:9, ”Jangan buka rahasia [”pembicaraan konfidensial”, NW] orang lain.” Hal ini berarti bahkan tidak kepada istri sendiri!

      13 Para penatua juga menghadapi ujian-ujian loyalitas lain. Apakah mereka akan menjadi orang yang suka menyenangkan manusia, atau akan dengan berani dan lembut membantu orang-orang yang membutuhkan koreksi, bahkan jika mereka adalah sanak saudara atau sahabat karib? Loyalitas kepada organisasi Yehuwa akan menyebabkan mereka di antara kita yang menjadi penatua berupaya membantu siapa saja yang membutuhkan bantuan rohani. (Galatia 6:1, 2) Meskipun kita akan baik hati, loyalitas akan membuat kita terus terang dengan sesama rekan penatua kita, sebagaimana Paulus berbicara kepada rasul Petrus dengan terus terang. (Galatia 2:11-14) Di lain pihak, para pengawas ingin berhati-hati, jangan sampai mereka bertindak dengan tidak bijaksana atau memperlihatkan sikap berat sebelah atau dengan cara lain menyalahgunakan wewenang mereka, sehingga mereka mempersulit orang-orang yang berada di bawah pemeliharaan mereka untuk loyal kepada organisasi Allah.—Filipi 4:5.

      14, 15. Hal-hal apa yang mungkin menguji loyalitas dari anggota-anggota sidang?

      14 Ada segi-segi lain sehubungan dengan masalah menghadapi tantangan loyalitas kepada sidang dan para penatuanya. Jika ada keadaan-keadaan yang agak sulit dalam sidang, ini memberi kita kesempatan untuk mempertunjukkan loyalitas kepada Yehuwa dan kepada mereka yang mewakili Dia. (Lihat Menara Pengawal, s37, hlm. 17-19.) Jika ada pemecatan, loyalitas menuntut agar kita mendukung para penatua, tidak berupaya mengira-ngira apakah mungkin ada cukup alasan untuk tindakan yang diambil.

      15 Loyalitas kepada sidang juga menuntut agar kita mendukung kelima perhimpunan mingguan sesuai dengan keadaan dan kesanggupan kita. Loyalitas menuntut agar kita tidak hanya menghadirinya dengan tetap tentu namun juga mempersiapkannya dan membuat komentar yang membina sesuai dengan kesempatan yang ada.—Ibrani 10:24, 25.

      Loyalitas Dalam Perkawinan

      16, 17. Tantangan apa sehubungan dengan loyalitas harus dihadapi oleh orang-orang Kristen yang telah menikah?

      16 Kepada siapa lagi kita berutang loyalitas? Jika kita telah menikah, mengingat ikrar perkawinan kita, kita harus menghadapi tantangan untuk berlaku loyal kepada teman hidup kita. Loyalitas kepada teman hidup kita akan mencegah kita membuat kesalahan berupa berlaku lebih baik kepada wanita atau pria lain dibandingkan kepada istri atau suami sendiri. Loyalitas kepada teman hidup kita juga menuntut agar kita tidak menyingkapkan kepada orang-orang lain kelemahan atau kekurangan teman hidup kita. Lebih mudah untuk mengeluh kepada orang-orang lain daripada berupaya keras membuat jalur komunikasi tetap terbuka dengan teman hidup kita, yang harus kita lakukan selaras dengan Aturan Emas. (Matius 7:12) Sebenarnya, keadaan perkawinan benar-benar mendatangkan tantangan atas loyalitas Kristen kita.

      17 Untuk menghadapi tantangan loyalitas ini, kita tidak hanya harus menghindari menjadi bersalah karena tingkah laku yang sangat tidak senonoh tetapi kita juga harus waspada terhadap pikiran dan perasaan kita. (Mazmur 19:15) Misalnya, jika hati kita yang suka menipu menjadi serakah akan kesenangan, sangat mudah bagi kita untuk dengan mementingkan diri beralih dari mengagumi sesuatu menjadi ingin memilikinya. Mendesak kesetiaan dalam perkawinan, Raja Salomo menasihati para suami untuk secara kiasan ’minum air dari kulah mereka sendiri’. (Amsal 5:15) Dan Yesus mengatakan, ”Setiap orang yang terus memandang seorang wanita sehingga mempunyai nafsu terhadapnya sudah berbuat zina dengan dia dalam hatinya.” (Matius 5:28) Para suami yang memperturutkan hati dalam membaca pornografi mengambil risiko didorong untuk melakukan perzinaan, dengan demikian menipu istri mereka dan menjadi tidak loyal terhadap mereka. Untuk alasan yang sama, seorang istri yang begitu gandrung menyaksikan opera sabun yang berkaitan dengan episode-episode yang penuh perzinaan, dapat menjadi tergoda untuk menjadi tidak loyal kepada suaminya. Akan tetapi, dengan benar-benar loyal kepada pasangan kita, kita menguatkan ikatan perkawinan, dan kita membantu satu sama lain dalam upaya kita untuk menyenangkan Allah Yehuwa.

      Bantuan untuk Tetap Loyal

      18. Penghargaan akan hal apa akan membantu kita untuk loyal?

      18 Apa yang akan membantu kita menghadapi tantangan loyalitas dalam empat bidang ini: loyalitas kepada Yehuwa, kepada organisasi-Nya, kepada sidang, dan kepada teman hidup kita? Satu bantuan adalah dengan menghargai bahwa menghadapi tantangan loyalitas berkaitan erat dengan pembenaran kedaulatan Yehuwa. Ya, dengan tetap loyal kita memperlihatkan bahwa kita memandang Yehuwa sebagai Penguasa Universal. Dengan demikian kita juga dapat memiliki harga diri dan harapan kehidupan abadi dalam dunia baru Yehuwa. Kita dapat membantu diri kita untuk tetap loyal dengan merenungkan teladan-teladan loyalitas, mulai dari Yehuwa sampai kepada orang-orang yang disebutkan di dalam Alkitab dan dalam publikasi-publikasi Menara Pengawal kita, termasuk kisah-kisah dalam Buku Kegiatan.

      19. Peranan apa yang dimainkan iman dalam kita berlaku loyal?

      19 Iman yang kuat kepada Allah Yehuwa dan rasa takut untuk tidak menyenangkan Dia akan membantu kita untuk menghadapi tantangan loyalitas. Kita menguatkan iman kita kepada Yehuwa dan rasa takut kepada-Nya dengan secara rajin mempelajari Firman Allah dan dengan ikut serta dalam pelayanan Kristen. Ini akan membantu kita bertindak selaras dengan nasihat Paulus yang dicatat di Efesus 4:23, 24, ”Kamu hendaknya dijadikan baru dalam kekuatan yang menggerakkan pikiranmu, dan hendaknya mengenakan kepribadian baru yang diciptakan menurut kehendak Allah dalam keadilbenaran yang benar dan loyalitas.”

      20. Yang terutama, sifat apa akan membantu kita untuk loyal kepada Yehuwa dan kepada semua orang lain kepada siapa kita berutang loyalitas?

      20 Penghargaan akan sifat-sifat Yehuwa akan membantu kita untuk loyal. Yang terutama, kasih yang tidak mementingkan diri kepada Bapak surgawi kita dan rasa syukur atas semua yang telah Ia lakukan bagi kita, mengasihi Dia dengan segenap hati dan jiwa dan pikiran serta kekuatan kita akan membantu kita untuk loyal kepada Dia. Selain itu, memiliki kasih yang Yesus katakan akan mengidentifikasi para pengikutnya, akan membantu kita untuk loyal kepada semua orang Kristen di dalam sidang dan dalam keluarga kita. Dengan kata lain, ini sebenarnya adalah soal mementingkan diri atau tidak mementingkan diri. Ketidakloyalan berarti mementingkan diri. Loyalitas berarti tidak mementingkan diri.—Markus 12:30, 31; Yohanes 13:34, 35.

      21. Bagaimana soal menghadapi tantangan loyalitas dapat diringkaskan?

      21 Sebagai ringkasan: Loyalitas adalah sifat unggul yang dimanifestasikan oleh Allah Yehuwa, oleh Yesus Kristus, dan oleh semua hamba Yehuwa yang sejati. Untuk memiliki hubungan yang baik dengan Allah Yehuwa, kita harus menghadapi tantangan loyalitas kepada-Nya dengan hidup selaras dengan tuntutan-tuntutan-Nya yang adil-benar, dengan tidak bergaul dengan musuh-musuh-Nya, dan dengan membela Yehuwa dengan memberi kesaksian secara resmi dan tidak resmi. Kita juga harus menghadapi tantangan untuk loyal kepada organisasi Yehuwa yang kelihatan. Kita harus loyal kepada sidang kita dan loyal kepada teman hidup kita. Dengan berhasil menghadapi tantangan loyalitas, kita akan ambil bagian dalam pembenaran kedaulatan Yehuwa, dan akan berpihak kepada-Nya dalam sengketa ini. Dengan demikian, kita akan memperoleh perkenan-Nya dan menerima pahala berupa kehidupan abadi. Apa yang rasul Paulus katakan tentang pengabdian yang saleh dapat juga berlaku atas kita dalam menghadapi tantangan loyalitas. Ini bermanfaat bagi kehidupan sekarang maupun yang akan datang.—Mazmur 18:26; 1 Timotius 4:8.

Publikasi Menara Pengawal Bahasa Indonesia (1971-2025)
Log Out
Log In
  • Indonesia
  • Bagikan
  • Pengaturan
  • Copyright © 2025 Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania
  • Syarat Penggunaan
  • Kebijakan Privasi
  • Pengaturan Privasi
  • JW.ORG
  • Log In
Bagikan