-
Yehuwa Tidak Akan Meninggalkan Orang-Orang-Nya yang LoyalMenara Pengawal—2008 | 15 Agustus
-
-
Yehuwa Tidak Akan Meninggalkan Orang-Orang-Nya yang Loyal
”[Yehuwa] tidak akan meninggalkan orang-orangnya yang loyal. Sampai waktu yang tidak tertentu, mereka pasti akan dijaga.”—MZ. 37:28.
1, 2. (a) Perkembangan apa saja pada abad kesepuluh SM yang menguji loyalitas hamba-hamba Allah? (b) Dalam tiga situasi apa Yehuwa menjaga orang-orang-Nya yang loyal?
KALA itu abad kesepuluh SM dan hamba-hamba Yehuwa harus membuat keputusan. Perang sipil nyaris terjadi kalau saja suku-suku Israel yang resah di utara tidak diberi cukup banyak kebebasan. Raja mereka yang baru dilantik, Yeroboam, bergerak cepat untuk mengokohkan kekuasaannya dengan membentuk agama Negara yang baru. Ia menuntut kesetiaan penuh dari rakyatnya. Apa yang akan dilakukan oleh hamba-hamba Yehuwa yang setia? Apakah mereka akan tetap loyal kepada Allah yang mereka sembah? Ada ribuan orang yang tetap loyal, dan Yehuwa menjaga mereka seraya mereka mempertahankan integritas.—1 Raj. 12:1-33; 2 Taw. 11:13, 14.
2 Loyalitas hamba-hamba Allah sedang diuji pada zaman kita juga. ”Pertahankanlah kesadaranmu, waspadalah,” kata Alkitab memperingatkan. ”Musuhmu, si Iblis, berjalan keliling seperti singa yang mengaum, berupaya melahap orang.” Dapatkah kita berhasil ”menentang dia, kokoh dalam iman”? (1 Ptr. 5:8, 9) Mari kita cermati beberapa peristiwa seputar pelantikan Raja Yeroboam pada tahun 997 SM, dan mari kita lihat pelajaran yang bisa kita peroleh. Selama masa kritis tersebut, hamba-hamba Yehuwa yang setia mengalami penindasan. Mereka juga menghadapi berbagai pengaruh kemurtadan sementara harus menjalankan tugas yang tidak mudah. Dalam setiap situasi tersebut, Yehuwa tidak meninggalkan orang-orang-Nya yang loyal kala itu, demikian juga dewasa ini.—Mz. 37:28.
Sewaktu di Bawah Penindasan
3. Mengapa pemerintahan Raja Daud tidak menindas?
3 Pertama-tama, mari kita perhatikan keadaan yang menyebabkan Yeroboam diangkat menjadi raja. Amsal 29:2 menyatakan, ”Jika orang fasik memegang kekuasaan, rakyat berkeluh kesah.” Di bawah pemerintahan Daud, raja Israel kuno, rakyat tidak berkeluh kesah. Memang, Daud tidak sempurna, tetapi ia loyal kepada Allah dan mengandalkan Dia. Pemerintahan Daud tidak menindas. Yehuwa mengadakan perjanjian dengan Daud, demikian, ”Keturunanmu dan kerajaanmu pasti akan kokoh sampai waktu yang tidak tertentu di hadapanmu; takhtamu pun akan menjadi takhta yang ditetapkan dengan kokoh sampai waktu yang tidak tertentu.”—2 Sam. 7:16.
4. Berkat yang dinikmati selama pemerintahan Salomo bergantung pada apa?
4 Pemerintahan Salomo, putra Daud, pada mulanya penuh damai dan sangat makmur sehingga cocok untuk menggambarkan Pemerintahan Milenium Kristus Yesus di masa depan. (Mz. 72:1, 17) Tidak satu pun dari ke-12 suku Israel saat itu punya alasan untuk memberontak. Tetapi, berkat yang dinikmati Salomo dan rakyatnya bukannya tanpa syarat. Yehuwa sudah memberi tahu Salomo, ”Jika engkau berjalan menurut ketetapanku dan melaksanakan keputusan hukumku dan benar-benar menjalankan semua perintahku dengan berjalan menurutnya, aku juga pasti akan melaksanakan firmanku berkenaan dengan engkau yang telah kuucapkan kepada Daud, bapakmu; dan aku benar-benar akan berdiam di tengah-tengah putra-putra Israel, dan aku tidak akan meninggalkan umatku, Israel.”—1 Raj. 6:11-13.
5, 6. Apa akibat ketidakloyalan Salomo kepada Allah?
5 Pada masa tuanya, Salomo menjadi tidak setia kepada Yehuwa dan mulai melakukan ibadat palsu. (1 Raj. 11:4-6) Lambat laun, Salomo tidak lagi menaati hukum-hukum Yehuwa dan semakin menindas. Begitu beratnya penindasan itu sehingga bahkan setelah kematiannya, rakyat terus mengeluh tentang dia kepada Rehoboam, putra sekaligus penerusnya, dan memohon kelegaan. (1 Raj. 12:4) Apa tanggapan Yehuwa sewaktu Salomo menjadi tidak setia?
6 Alkitab memberi tahu kita, ”Yehuwa menjadi berang kepada Salomo, karena hatinya telah menyimpang dari . . . Allah Israel, pribadi yang telah dua kali menampakkan diri kepadanya.” Yehuwa memberi tahu Salomo, ”Oleh karena . . . engkau tidak berpegang pada perjanjianku dan ketetapanku yang telah kuperintahkan kepadamu, aku pasti akan mengoyakkan kerajaan itu darimu, dan aku pasti akan memberikannya kepada hambamu.”—1 Raj. 11:9-11.
7. Meskipun Salomo ditolak, bagaimana Yehuwa memperhatikan orang-orang-Nya yang loyal?
7 Kemudian, Yehuwa mengutus nabi Ahiya untuk mengurapi seorang pembebas. Pembebas itu adalah Yeroboam, seorang pria kompeten yang pernah bekerja pada pemerintahan Salomo. Meskipun Yehuwa tetap loyal kepada perjanjian Kerajaan yang diadakan dengan Daud, Ia setuju untuk membagi pemerintahan di antara ke-12 suku itu. Sepuluh suku akan diberikan kepada Yeroboam; dua suku akan tetap berada di bawah garis keturunan Daud, yang pada saat itu diwakili oleh Raja Rehoboam. (1 Raj. 11:29-37; 12:16, 17, 21) Yehuwa memberi tahu Yeroboam, ”Pastilah terjadi bahwa, jika engkau menaati semua yang akan aku perintahkan kepadamu, dan engkau benar-benar berjalan di jalan-jalanku dan sungguh-sungguh melakukan apa yang benar di mataku dengan menjalankan ketetapanku dan perintahku, sebagaimana yang dilakukan Daud, hambaku, aku juga akan menyertai engkau, dan aku akan membangun bagimu keturunan yang bertahan lama, sebagaimana yang telah aku bangun bagi Daud, dan aku akan memberikan Israel kepadamu.” (1 Raj. 11:38) Yehuwa bertindak demi kepentingan umat-Nya dan menyediakan jalan agar mereka memperoleh kelegaan dari penindasan.
8. Cobaan apa saja yang menindas umat Allah dewasa ini?
8 Penindasan dan ketidakadilan juga marak dewasa ini. ”Manusia menguasai manusia sehingga ia celaka,” kata Pengkhotbah 8:9. Perdagangan yang tamak dan pemerintahan yang korup bisa mengakibatkan kondisi ekonomi yang sulit. Para pemimpin dalam pemerintahan, bisnis, dan agama sering kali memberikan contoh moral yang buruk. Karena itu, seperti Lot yang adil-benar, hamba-hamba Allah yang loyal dewasa ini ”sangat menderita karena perbuatan orang-orang yang menentang hukum, yang memuaskan nafsu dalam tingkah laku bebas”. (2 Ptr. 2:7) Selain itu, seraya kita berupaya untuk hidup selaras dengan standar ilahi tanpa mengganggu orang lain, kita sering menjadi sasaran penganiayaan oleh para pemimpin yang arogan.—2 Tim. 3:1-5, 12.
9. (a) Apa yang telah Yehuwa lakukan demi membebaskan umat-Nya? (b) Mengapa kita yakin bahwa Yesus akan selalu loyal kepada Allah?
9 Namun, kita bisa yakin akan kebenaran dasar ini: Yehuwa tidak akan meninggalkan orang-orang-Nya yang loyal! Ingat saja langkah-langkah yang telah Ia lakukan untuk mengganti para penguasa dunia yang korup. Kerajaan Mesianik Allah di tangan Kristus Yesus sudah didirikan. Yesus Kristus telah memerintah di surga selama hampir seratus tahun. Tidak lama lagi, ia akan mendatangkan kelegaan sepenuhnya bagi orang-orang yang takut akan nama Allah. (Baca Penyingkapan 11:15-18.) Yesus sendiri telah terbukti loyal kepada Allah sampai mati. Tidak seperti Salomo, Yesus tidak bakal mengecewakan rakyatnya.—Ibr. 7:26; 1 Ptr. 2:6.
10. (a) Bagaimana kita dapat memperlihatkan bahwa kita menghargai Kerajaan Allah? (b) Sewaktu mengalami cobaan, kita bisa yakin akan hal apa?
10 Kerajaan Allah adalah pemerintahan yang nyata, yang akan mengakhiri segala penindasan. Kesetiaan kita hanya untuk Allah Yehuwa dan Kerajaan-Nya. Karena yakin sepenuhnya pada Kerajaan itu, kita menolak ketidaksalehan dunia ini dan dengan bersemangat melakukan pekerjaan yang baik. (Tit. 2:12-14) Kita berjuang untuk terus menjaga diri tanpa noda dari dunia. (2 Ptr. 3:14) Tidak soal cobaan yang mungkin kita hadapi sekarang, kita bisa yakin bahwa Yehuwa akan melindungi kita dari bahaya rohani. (Baca Mazmur 97:10.) Selain itu, Mazmur 116:15 meyakinkan kita, ”Berhargalah di mata Yehuwa kematian orang-orangnya yang loyal.” Hamba-hamba Yehuwa sangatlah berharga bagi-Nya sehingga Ia tidak akan membiarkan mereka musnah sebagai suatu kelompok.
Ketika Menghadapi Pengaruh Kemurtadan
11. Bagaimana Yeroboam menjadi tidak loyal?
11 Sebenarnya pemerintahan Raja Yeroboam sedikit banyak bisa mendatangkan kelegaan bagi umat Allah. Namun, sepak terjangnya menguji lebih lanjut loyalitas mereka kepada Allah. Yeroboam tidak puas dengan kehormatan dan hak istimewa yang telah dikaruniakan kepadanya, dan ia mulai mencari cara untuk mengokohkan posisinya. ”Jika bangsa ini tetap pergi mempersembahkan korban di rumah Yehuwa di Yerusalem,” pikirnya, ”hati bangsa itu tentu juga akan kembali kepada tuan mereka, Rehoboam, raja Yehuda; dan mereka pasti akan membunuhku dan kembali kepada Rehoboam, raja Yehuda.” Maka, Yeroboam membentuk suatu ibadat baru kepada dua patung anak lembu emas. ”Lalu ia menempatkan yang satu di Betel, dan yang lain ditaruhnya di Dan. Maka hal ini menyebabkan orang berdosa, dan rakyat mulai pergi sampai ke Dan ke hadapan patung yang ada di sana. Dan ia mulai membuat sebuah rumah di tempat-tempat tinggi dan mengangkat imam-imam dari rakyat biasa, yang bukan dari putra-putra Lewi.” Yeroboam bahkan menciptakan sendiri hari ”perayaan bagi putra-putra Israel”, kemudian ia ”memberikan persembahan di atas mezbah untuk membuat asap korban”.—1 Raj. 12:26-33.
12. Apa yang dilakukan oleh hamba-hamba Allah yang loyal di kerajaan utara sewaktu Yeroboam mendirikan ibadat kepada anak lembu di Israel?
12 Apa yang kini akan dilakukan oleh hamba-hamba Allah yang loyal di kerajaan utara? Seperti leluhur mereka yang setia, orang Lewi yang tinggal di kota-kota yang diberikan kepada mereka di wilayah kerajaan utara tidak membuang-buang waktu. (Kel. 32:26-28; Bil. 35:6-8; Ul. 33:8, 9) Mereka meninggalkan tanah pusaka mereka, dan pindah bersama keluarga mereka ke Yehuda di selatan, tempat mereka bisa terus beribadat kepada Yehuwa tanpa gangguan. (2 Taw. 11:13, 14) Orang-orang Israel lain yang tinggal untuk sementara di Yehuda memilih untuk menetap secara permanen dan tidak pulang lagi. (2 Taw. 10:17) Yehuwa memastikan agar jalan kembali ke ibadat sejati tetap terbuka sehingga pada generasi-generasi berikutnya, orang-orang lain dari kerajaan utara bisa meninggalkan ibadat kepada anak lembu dan kembali ke Yehuda.—2 Taw. 15:9-15.
13. Pada zaman modern, bagaimana pengaruh kemurtadan menguji umat Allah?
13 Orang-orang murtad dan pengaruh mereka mengancam umat Allah dewasa ini. Beberapa penguasa telah berupaya mendirikan agama Negara buatan mereka sendiri, dan menekan rakyat untuk menerimanya. Pemimpin agama Susunan Kristen dan orang-orang lancang lainnya telah berupaya mengaku diri sebagai imam bait rohani. Tetapi, hanya di antara orang Kristen sejati kita menemukan kaum terurap yang sebenarnya, yang membentuk ”keimaman kerajaan”.—1 Ptr. 2:9; Pny. 14:1-5.
14. Apa seharusnya tanggapan kita terhadap pemikiran murtad?
14 Seperti orang Lewi yang setia pada abad kesepuluh SM, hamba-hamba Allah yang loyal dewasa ini tidak tertipu oleh gagasan murtad. Kaum terurap dan rekan-rekan Kristen mereka dengan cepat menghindari dan menolak gagasan murtad. (Baca Roma 16:17.) Meskipun kita bersedia tunduk kepada kalangan berwenang pemerintah dalam hal-hal sekuler, kita tetap netral dalam konflik dunia dan loyal pada Kerajaan Allah. (Yoh. 18:36; Rm. 13:1-8) Kita menolak pernyataan palsu orang-orang yang mengaku melayani Allah padahal mencela Dia dengan perbuatan mereka.—Tit. 1:16.
15. Mengapa ”budak yang setia dan bijaksana” pantas menerima loyalitas kita?
15 Pikirkan juga fakta bahwa Yehuwa telah memungkinkan orang-orang yang berhati jujur untuk secara kiasan keluar dari dunia fasik ini dan masuk ke firdaus rohani yang diciptakan-Nya. (2 Kor. 12:1-4) Dengan hati yang penuh syukur, kita tetap dekat dengan ”budak yang setia dan bijaksana yang ditetapkan oleh majikannya untuk mengurus pelayan-pelayan rumahnya, untuk memberi mereka makanan pada waktu yang tepat”. Kristus telah mengangkat budak ini untuk ”mengurus semua harta miliknya”. (Mat. 24:45-47) Karena itu, sekalipun kita secara pribadi tidak sepenuhnya memahami pendirian tertentu yang diambil golongan budak, itu bukan alasan bagi kita untuk menolaknya atau kembali ke dunia Setan. Sebaliknya, loyalitas akan menggerakkan kita untuk berlaku rendah hati dan menanti Yehuwa untuk memperjelas masalahnya.
Sewaktu Menjalankan Tugas dari Allah
16. Seorang nabi dari Yehuda menerima tugas apa?
16 Yehuwa mengecam Yeroboam karena telah bertindak murtad. Ia menugasi seorang nabi dari Yehuda untuk pergi ke Betel di utara dan menemui Yeroboam yang sedang mengadakan upacara di mezbahnya. Sang nabi harus menyampaikan berita penghukuman yang keras kepada Yeroboam. Pastilah, tugas itu tidak mudah.—1 Raj. 13:1-3.
17. Bagaimana Yehuwa melindungi utusan-Nya?
17 Yeroboam langsung murka ketika mendengar berita penghukuman dari Yehuwa. Ia mengulurkan tangannya kepada wakil Allah, dan berteriak kepada orang-orang di dekatnya, ”Kamu sekalian, tangkap dia!” Tetapi, tiba-tiba, sebelum ada yang dapat bertindak, ”tangan yang diulurkannya kepada orang itu mengering, dan ia tidak dapat menariknya kembali. Dan mezbah itu pun terbelah sehingga abu yang berlemak tumpah dari mezbah”. Yeroboam terpaksa memohon kepada sang nabi untuk melembutkan muka Yehuwa dan berdoa agar tangan yang mengering itu dipulihkan. Sang nabi berdoa, dan tangan raja pun sembuh. Demikianlah Yehuwa melindungi utusan-Nya dari celaka.—1 Raj. 13:4-6.
18. Bagaimana Yehuwa menjaga kita seraya kita memberikan dinas suci kepada-Nya tanpa takut?
18 Seraya dengan loyal memberitakan Kerajaan dan membuat murid, kita kadang-kadang mendapatkan tanggapan yang tidak ramah, bahkan bermusuhan. (Mat. 24:14; 28:19, 20) Tetapi, jangan pernah biarkan rasa takut-ditolak memadamkan semangat kita untuk melayani. Seperti nabi yang anonim pada zaman Yeroboam itu, kita memiliki ”hak istimewa untuk memberikan dinas suci kepada [Yehuwa] tanpa perasaan takut disertai loyalitas”.a (Luk. 1:74, 75) Meskipun dewasa ini kita tidak mengharapkan campur tangan Yehuwa secara mukjizat, Ia masih menjaga dan mendukung kita sebagai Saksi-Saksi-Nya melalui roh kudus-Nya dan para malaikat. (Baca Yohanes 14:15-17; Penyingkapan 14:6.) Allah tidak akan pernah meninggalkan orang-orang yang terus berbicara tentang firman-Nya tanpa takut.—Flp. 1:14, 28.
Yehuwa Akan Menjaga Orang-Orang-Nya yang Loyal
19, 20. (a) Mengapa kita bisa yakin bahwa Yehuwa tidak akan pernah meninggalkan kita? (b) Pertanyaan apa saja yang akan dibahas di artikel berikut?
19 Yehuwa adalah Allah kita yang loyal. (Pny. 15:4; 16:5) Ia ”loyal dalam segala perbuatannya”. (Mz. 145:17) Dan, Alkitab menjamin, ”Ia akan menjaga jalan orang-orangnya yang loyal.” (Ams. 2:8) Ketika menghadapi cobaan atau gagasan murtad atau ketika melakukan tugas yang sulit, hamba-hamba Allah yang loyal bisa yakin akan bimbingan dan dukungan Yehuwa.
20 Yang perlu direnungkan oleh kita masing-masing sekarang ialah: Apa yang akan membantu saya mempertahankan loyalitas kepada Yehuwa tidak soal cobaan atau godaan yang mungkin saya hadapi? Dengan kata lain, bagaimana saya bisa memperteguh loyalitas saya kepada Allah?
[Catatan Kaki]
a Apakah sang nabi terus menaati Yehuwa atau tidak, dan apa yang kemudian terjadi dengan dia, akan dibahas di artikel berikut.
-
-
Pertahankan Loyalitas dengan Kebulatan HatiMenara Pengawal—2008 | 15 Agustus
-
-
Pertahankan Loyalitas dengan Kebulatan Hati
”Aku akan berjalan menurut kebenaranmu. Bulatkanlah hatiku untuk takut akan namamu.”—MZ. 86:11.
1, 2. (a) Menurut Mazmur 86:2, 11, apa yang akan membantu kita tetap setia kepada Yehuwa sewaktu menghadapi ujian atau godaan? (b) Kapan loyalitas yang sepenuh hati hendaknya dikembangkan?
MENGAPA beberapa orang Kristen yang setia selama bertahun-tahun meski dipenjarakan atau dianiaya belakangan menyerah kepada materialisme? Jawabannya berkaitan dengan hati kita—manusia batiniah kita. Mazmur ke-86 menghubungkan loyalitas dengan kebulatan hati, yakni hati yang tidak terbagi, atau segenap hati. ”Jagalah jiwaku, karena aku loyal,” doa sang pemazmur Daud. ”Engkaulah Allahku—selamatkanlah hambamu yang percaya kepadamu.” Daud juga berdoa, ”Ajarlah aku, oh, Yehuwa, tentang jalanmu. Aku akan berjalan menurut kebenaranmu. Bulatkanlah hatiku untuk takut akan namamu.”—Mz. 86:2, 11.
2 Jika kita tidak percaya kepada Yehuwa dengan segenap hati, kekhawatiran dan kasih kita terhadap berbagai hal akan melemahkan loyalitas kita kepada Allah yang benar. Hasrat yang mementingkan diri bagaikan ranjau darat yang tersembunyi di jalan yang kita lalui. Sekalipun kita mungkin telah setia kepada Yehuwa di bawah keadaan sulit, kita bisa jatuh ke dalam perangkap atau jerat Setan. Sangatlah penting agar kita mengembangkan loyalitas yang sepenuh hati kepada Yehuwa sekarang, sebelum kita menghadapi ujian atau godaan! ”Lebih daripada semua hal lain yang harus dijaga,” kata Alkitab, ”jagalah hatimu.” (Ams. 4:23) Kita bisa memperoleh pelajaran berharga tentang hal ini dari pengalaman seorang nabi dari Yehuda yang Yehuwa utus kepada Raja Yeroboam dari Israel.
”Biarlah Aku Memberimu Hadiah”
3. Bagaimana reaksi Yeroboam terhadap berita penghukuman yang disampaikan nabi Allah?
3 Bayangkan situasinya. Abdi Allah baru saja menyampaikan berita yang menyengat kepada Raja Yeroboam, yang telah mendirikan ibadat kepada anak lembu di kerajaan Israel sepuluh suku di utara. Raja menjadi murka. Ia memerintahkan anak buahnya untuk menangkap sang utusan. Tetapi, Yehuwa menyertai hamba-Nya. Saat itu juga, tangan sang raja yang diulurkan dalam kemarahannya mengering secara mukjizat, dan mezbah untuk ibadat palsu itu terbelah. Tiba-tiba, sikap Yeroboam berubah. Ia memohon kepada abdi Allah, ”Lembutkanlah kiranya muka Yehuwa, Allahmu, dan berdoalah demi kepentinganku agar tanganku pulih.” Sang nabi berdoa, dan tangan raja pun sembuh.—1 Raj. 13:1-6.
4. (a) Mengapa tawaran raja benar-benar suatu ujian loyalitas bagi sang nabi? (b) Apa jawaban sang nabi?
4 Selanjutnya, Yeroboam mengatakan kepada abdi dari Allah yang benar itu, ”Ikutlah bersamaku ke rumah dan makanlah, dan biarlah aku memberimu hadiah.” (1 Raj. 13:7) Apa yang harus dilakukan nabi itu sekarang? Patutkah ia menerima keramahan raja setelah menyampaikan berita penghukuman kepadanya? (Mz. 119:113) Atau, haruskah ia menolak undangan raja, padahal raja kelihatannya amat menyesal? Yeroboam pasti cukup kaya untuk melimpahi teman-temannya dengan hadiah yang mahal-mahal. Jika nabi Allah itu diam-diam mendambakan harta materi, pastilah tawaran raja tersebut sangat menggiurkan. Tetapi, Yehuwa telah memerintahkan nabi itu, ”Jangan makan roti atau minum air, dan jangan pulang melalui jalan yang kautempuh pada waktu datang.” Maka, nabi itu menjawab dengan tegas, ”Sekalipun setengah dari rumahmu kauberikan kepadaku, aku tidak akan ikut bersamamu dan makan roti atau minum air di tempat ini.” Lalu, nabi itu pergi dari Betel melalui jalan lain. (1 Raj. 13:8-10) Pelajaran apa yang kita peroleh dari keputusan sang nabi tentang loyalitas yang sepenuh hati?—Rm. 15:4.
”Hendaknya Kita Puas”
5. Bagaimana materialisme berkaitan dengan loyalitas?
5 Materialisme mungkin tampak tidak ada kaitannya dengan loyalitas, tetapi sebenarnya ada. Apakah kita percaya kepada janji Yehuwa untuk menyediakan apa yang benar-benar kita butuhkan? (Mat. 6:33; Ibr. 13:5) Ketimbang berupaya mati-matian untuk membeli kenyamanan yang sekarang ini di luar kemampuan kita, dapatkah kita berpuas dengan apa yang ada? (Baca Filipi 4:11-13.) Apakah kita tergoda untuk mengorbankan hak-hak istimewa teokratis demi mendapatkan apa yang kita inginkan sekarang? Apakah dinas yang loyal kepada Yehuwa ada di tempat pertama dalam kehidupan kita? Jawaban kita banyak bergantung pada apakah kita sepenuh hati dalam dinas kepada Allah atau tidak. Rasul Paulus menulis, ”Pengabdian yang saleh ini, yang disertai rasa cukup, adalah sarana untuk mendapatkan keuntungan besar. Sebab kita tidak membawa apa pun ke dalam dunia, dan kita juga tidak dapat membawa apa pun ke luar. Maka, dengan mempunyai makanan, pakaian dan penaungan, hendaknya kita puas dengan perkara-perkara ini.”—1 Tim. 6:6-8.
6. ”Hadiah” apa saja yang mungkin ditawarkan kepada kita, dan apa yang akan membantu kita memutuskan untuk menerimanya atau tidak?
6 Sebagai contoh, majikan kita mungkin menawarkan kenaikan jabatan dengan gaji yang lebih tinggi serta berbagai kemudahan lainnya. Atau, mungkin kita menyadari bahwa kita bisa mendapatkan lebih banyak uang jika pindah ke daerah atau negeri lain untuk mencari pekerjaan. Pada mulanya, kesempatan demikian mungkin tampak seperti berkat dari Yehuwa. Tetapi, sebelum bertindak, tidakkah sebaiknya kita memeriksa motif kita? Yang terutama harus kita pikirkan ialah, ”Bagaimana keputusan saya akan mempengaruhi hubungan saya dengan Yehuwa?”
7. Mengapa penting untuk mencabut hasrat yang materialistis?
7 Sistem Setan tak henti-hentinya mempromosikan materialisme. (Baca 1 Yohanes 2:15, 16.) Tujuan Iblis adalah merusak hati kita. Karena itu, kita harus waspada untuk mendeteksi hasrat yang materialistis dan mencabutnya dari hati kita. (Pny. 3:15-17) Yesus tidak merasa sulit untuk menolak tawaran Setan berupa semua kerajaan dunia. (Mat. 4:8-10) Yesus memperingatkan, ”Teruslah buka matamu dan berjagalah terhadap setiap jenis keinginan akan milik orang lain, karena bahkan jika seseorang berkelimpahan, kehidupannya bukanlah hasil dari perkara-perkara yang ia miliki.” (Luk. 12:15) Loyalitas akan membantu kita mengandalkan Yehuwa, bukannya diri sendiri.
Seorang Nabi Tua ”Menipunya”
8. Bagaimana loyalitas nabi Allah diuji?
8 Nabi Allah itu sebenarnya akan baik-baik saja seandainya ia terus berjalan pulang. Tetapi segera setelah itu, ujian lain mengadangnya. ”Di Betel tinggal seorang nabi yang sudah tua,” kata Alkitab, ”dan putra-putranya datang dan menceritakan kepadanya” semua kejadian pada hari itu. Begitu mendengar laporan tersebut, pria tua itu meminta mereka untuk memasang pelana pada seekor keledai agar ia dapat mengejar nabi Allah. Tidak lama kemudian, ia menemukan sang nabi sedang beristirahat di bawah pohon besar lalu berkata, ”Ikutlah bersamaku ke rumah dan makanlah roti.” Sewaktu abdi dari Allah yang benar menolak undangan tersebut, pria tua itu menjawab, ”Aku juga seorang nabi seperti engkau, dan seorang malaikat telah berbicara kepadaku atas firman Yehuwa, dengan mengatakan, ’Suruhlah ia kembali bersamamu ke rumahmu agar ia makan roti dan minum air.’” Tetapi, Alkitab mengatakan, ”Dia menipunya.”—1 Raj. 13:11-18.
9. Apa yang Alkitab katakan tentang orang yang bertipu daya, dan siapa yang mereka rugikan?
9 Apa pun motifnya, nabi tua itu berdusta. Barangkali, ia dahulu nabi Yehuwa yang setia. Tetapi pada saat itu, ia menipu sang abdi Allah. Alkitab dengan tandas mengecam perbuatan demikian. (Baca Amsal 3:32.) Orang yang bertipu daya tidak hanya merugikan diri sendiri secara rohani tetapi sering kali mencelakakan orang lain.
’Ia Kembali bersama’ Pria Tua Itu
10. Bagaimana nabi Allah menanggapi undangan pria tua itu, dan apa hasil akhirnya?
10 Nabi dari Yehuda itu seharusnya bisa menyadari muslihat si nabi tua. Ia sebenarnya bisa bertanya kepada diri sendiri, ’Mengapa Yehuwa mengutus malaikat kepada orang lain untuk menyampaikan instruksi baru bagiku?’ Nabi itu bisa saja bertanya kepada Yehuwa untuk memperjelas petunjuk tersebut, tetapi Alkitab tidak menunjukkan bahwa ia melakukannya. Sebaliknya, ”ia kembali bersama [pria tua itu] agar ia makan roti di rumahnya dan minum air”. Yehuwa tidak berkenan. Sewaktu nabi yang tertipu itu akhirnya berjalan pulang ke Yehuda, seekor singa bertemu dengannya dan membunuhnya. Sungguh tragis akhir kariernya sebagai nabi!—1 Raj. 13:19-25.a
11. Teladan bagus apa yang Ahiya berikan?
11 Di pihak lain, nabi Ahiya, yang diutus untuk mengurapi Yeroboam sebagai raja, tetap setia hingga masa tuanya. Sewaktu Ahiya sudah tua dan buta, Yeroboam mengutus istrinya untuk bertanya kepada Ahiya tentang kesejahteraan putra mereka yang sedang sakit. Ahiya dengan berani menubuatkan bahwa putra Yeroboam akan mati. (1 Raj. 14:1-18) Ahiya mendapat banyak berkat, antara lain hak istimewa untuk memberikan sumbangsih pada Firman Allah yang terilham. Bagaimana? Tulisannya belakangan digunakan oleh imam Ezra sebagai sumber informasi.—2 Taw. 9:29.
12-14. (a) Pelajaran apa yang bisa kita peroleh dari insiden yang menimpa nabi yang lebih muda? (b) Berikan contoh tentang pentingnya mempertimbangkan dengan sungguh-sungguh dan cermat nasihat Alkitab yang diberikan penatua.
12 Alkitab tidak memberi tahu mengapa nabi yang lebih muda itu tidak meminta petunjuk Yehuwa sebelum singgah untuk makan dan minum bersama pria tua tersebut. Mungkinkah pria tua itu mengatakan sesuatu yang cocok di hatinya? Apa pelajarannya bagi kita? Kita perlu yakin sepenuhnya akan kebenaran tuntutan Yehuwa. Dan, kita harus bertekad untuk mematuhinya, apa pun yang terjadi.
13 Sehubungan dengan nasihat, beberapa orang hanya mendengar apa yang cocok di hatinya. Sebagai contoh, seorang penyiar mungkin ditawari pekerjaan yang bisa mengurangi waktunya untuk keluarga dan kegiatan teokratis. Ia bisa jadi meminta saran seorang penatua. Mula-mula, sang penatua mungkin mengatakan bahwa ia tidak berhak memberi tahu tentang bagaimana saudara itu seharusnya menafkahi keluarganya. Lalu, sang penatua bisa jadi membahas bersama saudara itu bahaya rohani apa saja yang terkait jika ia menerima pekerjaan yang ditawarkan. Apakah saudara itu hanya akan mengingat komentar awal sang penatua, atau apakah ia akan dengan serius memikirkan pembahasan selanjutnya? Jelaslah, saudara itu perlu memutuskan apa yang terbaik baginya secara rohani.
14 Perhatikan kemungkinan lainnya. Seorang saudari bertanya kepada seorang penatua apakah ia sebaiknya berpisah dari suaminya yang tidak seiman. Sang penatua tentu akan menjelaskan bahwa keputusan untuk berpisah atau tidak merupakan keputusan pribadi. Kemudian, ia bisa jadi meninjau nasihat Alkitab tentang pokok tersebut. (1 Kor. 7:10-16) Apakah saudari itu akan benar-benar mempertimbangkan kata-kata sang penatua? Atau, apakah ia sudah bertekad untuk meninggalkan suaminya? Dalam membuat keputusan, ia sebaiknya dengan sungguh-sungguh mempertimbangkan nasihat Alkitab.
Hendaklah Bersahaja
15. Apa yang kita pelajari dari kesalahan nabi Allah?
15 Apa lagi yang bisa kita pelajari dari kesalahan nabi dari Yehuda itu? Amsal 3:5 menyatakan, ”Percayalah kepada Yehuwa dengan segenap hatimu dan jangan bersandar pada pengertianmu sendiri.” Bukannya terus mengandalkan Yehuwa seperti sebelumnya, kali ini sang nabi dari Yehuda itu mengandalkan pertimbangannya sendiri. Kesalahannya menyebabkan dia kehilangan nyawanya dan nama baiknya di hadapan Allah. Pengalamannya ini benar-benar menandaskan pentingnya bersahaja dan berlaku loyal dalam melayani Yehuwa!
16, 17. Apa yang akan membantu kita tetap loyal kepada Yehuwa?
16 Kecenderungan yang mementingkan diri dalam hati kita dapat dengan mudah menyesatkan kita. ”Hati lebih licik daripada apa pun juga dan nekat.” (Yer. 17:9) Agar tetap loyal kepada Yehuwa, kita harus terus bekerja keras untuk melucuti kepribadian lama beserta kecenderungannya untuk bersikap lancang dan mengandalkan diri sendiri. Dan, kita harus mengenakan kepribadian baru, ”yang diciptakan menurut kehendak Allah, dengan keadilbenaran yang sejati dan loyalitas”.—Baca Efesus 4:22-24.
17 ”Hikmat ada pada orang-orang yang bersahaja,” kata Amsal 11:2. Jika kita dengan bersahaja mengandalkan Yehuwa, kita akan dibantu untuk tidak membuat kesalahan yang harus dibayar mahal. Misalnya, perasaan kecil hati bisa dengan mudah mengaburkan pertimbangan kita. (Ams. 24:10) Kita mungkin merasa jenuh terhadap beberapa corak dinas suci dan mulai merasa bahwa apa yang kita lakukan selama ini sudah cukup, dan berpikir bahwa mungkin sudah saatnya bagi orang lain untuk memikulnya. Atau, bisa jadi kita berharap untuk hidup lebih ”normal”. Tetapi, dengan ’mengerahkan diri kita sekuat tenaga’ dan ”selalu mempunyai banyak hal untuk dilakukan dalam pekerjaan Tuan”, kita akan menjaga hati.—Luk. 13:24; 1 Kor. 15:58.
18. Apa yang dapat kita lakukan jika kita tidak tahu keputusan yang harus diambil?
18 Kadang-kadang, kita mungkin harus membuat keputusan yang sulit, dan haluan yang benar mungkin tidak terlihat dengan jelas. Kalau begitu, apakah kita tergoda untuk mencoba membereskannya menurut cara kita sendiri? Setiap kali kita mengalami situasi demikian, sebaiknya kita memohon agar Yehuwa membantu kita. ”Jika di antara kamu ada yang kekurangan hikmat,” kata Yakobus 1:5, ”biarlah ia terus meminta kepada Allah, karena dia memberi semua orang dengan murah hati.” Bapak surgawi kita akan memberikan roh kudus yang kita butuhkan agar kita dapat membuat keputusan yang baik.—Baca Lukas 11:9, 13.
Bertekadlah untuk Tetap Loyal
19, 20. Apa hendaknya tekad kita?
19 Tahun-tahun penuh pergolakan setelah Salomo menyimpang dari ibadat sejati menjadi ujian yang berat bagi loyalitas hamba-hamba Allah. Memang, banyak orang berkompromi dengan satu atau lain cara. Meskipun demikian, ada yang tetap loyal kepada Yehuwa.
20 Setiap hari, kita dihadapkan pada pilihan dan keputusan yang menguji loyalitas kita. Kita juga dapat membuktikan diri setia. Mari kita terus loyal kepada Yehuwa seraya kita membulatkan hati, yakin sepenuhnya bahwa Ia akan terus memberkati orang-orang-Nya yang loyal.—2 Sam. 22:26.
[Catatan Kaki]
a Alkitab tidak mengatakan apakah Yehuwa mendatangkan kematian atas nabi tua itu atau tidak.
-