-
Bangunlah Perkawinan yang Kokoh dan BahagiaMenara Pengawal—2015 | 15 Januari
-
-
Bangunlah Perkawinan yang Kokoh dan Bahagia
”Kalau bukan Yehuwa yang membangun rumah, sia-sialah kerja keras orang-orang yang membangunnya.”—MZ. 127:1a.
1-3. Tantangan apa saja yang dihadapi suami istri? (Lihat gambar di atas.)
”KALAU kita benar-benar berupaya dan tunjukkan kita mau perkawinan kita berhasil, kita bisa dapat berkat Yehuwa,” kata seorang suami yang telah menikmati perkawinan bahagia selama 38 tahun. Ya, suami dan istri bisa hidup bahagia bersama dan mendukung satu sama lain melewati masa-masa sulit.—Ams. 18:22.
2 Memang, suami istri akan menghadapi kesulitan. Alkitab menyebut hal ini ”kesengsaraan dalam daging”. (1 Kor. 7:28) Mengapa? Masalah sehari-hari bisa menimbulkan ketegangan dalam perkawinan. Karena tidak sempurna, suami dan istri terkadang menyakiti perasaan satu sama lain dan saling salah mengerti. (Yak. 3:2, 5, 8) Ada banyak pasangan yang sibuk bekerja sekaligus membesarkan anak-anak. Karena tertekan dan kelelahan, mereka sulit mencari waktu untuk bersama-sama. Masalah keuangan, penyakit, atau kesulitan lainnya bisa mengikis kasih dan rasa hormat mereka terhadap satu sama lain. Dan, perkawinan yang tampaknya kokoh sekalipun bisa hancur karena ”perbuatan daging”, seperti percabulan, tingkah laku bebas, permusuhan, percekcokan, kecemburuan, ledakan kemarahan, dan pertengkaran.—Gal. 5:19-21.
3 Parahnya lagi, orang-orang di ”hari-hari terakhir” ini biasanya memiliki sikap-sikap yang egois dan yang kurang menghormati Allah, berbagai sikap yang bisa meracuni perkawinan. (2 Tim. 3:1-4) Selain itu, ada musuh keji yang bertekad untuk menghancurkan perkawinan. Rasul Petrus memperingatkan kita, ”Musuhmu, si Iblis, berjalan keliling seperti singa yang mengaum, berupaya melahap orang.”—1 Ptr. 5:8; Pny. 12:12.
4. Mengapa kita bisa mempunyai perkawinan yang kokoh dan bahagia?
4 Seorang suami di Jepang mengakui, ”Saya sangat tertekan secara keuangan. Dan karena saya jarang mengobrol sama istri saya, dia juga jadi sangat tertekan. Selain itu, dia belum lama ini kena penyakit serius. Kadang kami jadi bentrok.” Dalam perkawinan, kesulitan tak terhindarkan, tapi kita bisa mengatasinya. Dengan bantuan Yehuwa, suami istri bisa menikmati perkawinan yang kokoh dan bahagia. (Baca Mazmur 127:1.) Mari kita bahas lima batu bata rohani untuk membangun perkawinan yang awet dan kokoh. Kita juga akan membahas bagaimana batu bata ini bisa direkatkan dengan semen kasih.
LIBATKANLAH YEHUWA DALAM PERKAWINAN KALIAN
5, 6. Apa yang bisa suami dan istri lakukan untuk melibatkan Yehuwa dalam perkawinan mereka?
5 Perkawinan akan punya fondasi yang kokoh jika suami istri setia dan tunduk kepada Yehuwa. (Baca Pengkhotbah 4:12.) Dengan mengikuti bimbingan Allah yang penuh kasih, suami dan istri melibatkan Allah dalam perkawinan mereka. Alkitab berkata, ”Telingamu akan mendengar perkataan di belakangmu, ’Inilah jalan. Berjalanlah mengikutinya, hai, kamu sekalian’, sekiranya kamu berjalan ke kanan atau sekiranya kamu berjalan ke kiri.” (Yes. 30:20, 21) Dewasa ini, suami istri ”mendengar” kata-kata Yehuwa sewaktu membaca Alkitab bersama. (Mz. 1:1-3) Mereka memperkuat perkawinan mereka melalui rutin ibadat keluarga yang menyenangkan dan membina. Dan, dengan berdoa bersama setiap hari, suami istri membangun perkawinan yang mampu menahan serangan dunia Setan.
Jika suami istri melayani Yehuwa bersama-sama, mereka akan tetap dekat dengan Allah dan dengan satu sama lain, serta punya perkawinan bahagia (Lihat paragraf 5, 6)
6 Gerhard dari Jerman berkata, ”Tiap kali sukacita kami memudar karena masalah atau kesalahpahaman, nasihat Firman Allah bantu kami lebih sabar dan suka memaafkan. Sifat-sifat ini sangat penting agar perkawinan berhasil.” Suami istri berupaya melibatkan Allah dalam perkawinan mereka dengan bersama-sama melayani-Nya. Hasilnya, mereka akan tetap dekat dengan Allah dan dengan satu sama lain.
SUAMI—JADILAH KEPALA YANG PENGASIH
7. Bagaimana suami harus memperlakukan istrinya?
7 Cara suami memimpin keluarganya bisa turut membangun perkawinan yang kokoh dan bahagia. Alkitab berkata, ”Kepala dari setiap pria adalah Kristus; selanjutnya kepala dari seorang wanita adalah pria.” (1 Kor. 11:3) Apa maksudnya? Cara suami memperlakukan istrinya harus sama seperti cara Yesus memperlakukan murid-muridnya. Ia tidak pernah kejam ataupun kasar. Yesus selalu penuh kasih, baik hati, masuk akal, lembut, dan rendah hati.—Mat. 11:28-30.
8. Apa yang harus suami lakukan agar dikasihi dan dihormati istrinya?
8 Suami Kristen tidak perlu menuntut agar sang istri menghormatinya. Sebaliknya, suami terus bertimbang rasa dan ’memberikan kehormatan kepadanya karena ia adalah bejana yang lebih lemah, yang feminin’. (1 Ptr. 3:7) Di depan orang lain maupun sewaktu berdua saja, suami harus menunjukkan kebaikan hati dan menggunakan kata-kata yang lembut. Melalui tindakan dan kata-kata seperti itu, suami menunjukkan bahwa sang istri sangat berharga baginya. (Ams. 31:28) Jika suami memperlakukan istrinya dengan penuh kasih sayang, sang istri akan mengasihi dan menghormatinya, dan Yehuwa akan memberkati perkawinan mereka.
ISTRI—TUNDUKLAH DENGAN RENDAH HATI
9. Bagaimana istri bisa tunduk dengan rendah hati?
9 Jika kasih kita kepada Yehuwa bersifat tulus dan punya dasar yang kuat, kita akan menundukkan diri ”di bawah tangan Allah yang perkasa”. (1 Ptr. 5:6) Salah satu cara penting seorang istri menghormati wewenang Yehuwa adalah dengan bekerja sama dengan suaminya. Alkitab berkata, ”Hai, istri-istri, tunduklah kepada suamimu, sebagaimana layaknya dalam Tuan.” (Kol. 3:18) Memang, istri mungkin tidak selalu suka dengan keputusan suaminya. Tapi, selama keputusan itu tidak bertentangan dengan hukum Allah, istri yang tunduk pasti mau mendukungnya.—1 Ptr. 3:1.
10. Mengapa ketundukan yang disertai kasih itu penting?
10 Yehuwa memberi istri peran terhormat dalam keluarga. Istri adalah ’mitra’, atau rekan, bagi suaminya. (Mal. 2:14) Sewaktu suami istri sedang membuat keputusan keluarga, istri perlu dengan baik-baik mengutarakan pikiran dan perasaannya, namun tetap tunduk. Suami yang bijak akan mendengarkan baik-baik apa yang istrinya katakan. (Ams. 31:10-31) Jika istri dengan penuh kasih tunduk kepada suaminya, perkawinan mereka akan bahagia, damai, dan harmonis. Hasilnya, suami dan istri bisa merasa puas karena tahu bahwa mereka menyenangkan Allah.—Ef. 5:22.
TERUSLAH AMPUNI DENGAN LAPANG HATI
11. Mengapa mengampuni itu sangat penting?
11 Salah satu batu bata rohani untuk membangun perkawinan yang awet adalah sikap suka memaafkan. Jika suami istri ’terus bersabar seorang terhadap yang lain dan mengampuni satu sama lain dengan lapang hati’, mereka akan memperkuat perkawinan mereka. (Kol. 3:13) Namun, perkawinan akan melemah jika suami istri tidak mau melupakan kesalahan dan menggunakannya untuk saling menyerang. Sama seperti dinding yang retak-retak membuat bangunan rapuh, rasa sakit hati dan amarah membuat suami istri semakin sulit memaafkan dan bekerja sama, sehingga perkawinan mereka menjadi rapuh. Sebaliknya, perkawinan akan kuat jika suami dan istri saling mengampuni, sama seperti Yehuwa mengampuni mereka.—Mi. 7:18, 19.
12. Apa artinya ”kasih menutup banyak sekali dosa”?
12 Kasih sejati tidak mencatat kesalahan. Malah, ”kasih menutup banyak sekali dosa”. (1 Kor. 13:4, 5; baca 1 Petrus 4:8.) Jadi, kalau kita mengasihi seseorang, tak akan ada batasan sampai berapa kali kita akan memaafkannya. Sewaktu rasul Petrus bertanya berapa kali ia harus mengampuni seseorang, Yesus menjawab, ”Sampai tujuh puluh tujuh kali.” (Mat. 18:21, 22) Apa maksud Yesus? Maksudnya, tak ada batasan sampai berapa kali seorang Kristen harus mengampuni orang lain.—Ams. 10:12.a
13. Bagaimana kita bisa melawan kecenderungan untuk tidak mau memaafkan?
13 Annette dari Jerman berkata, ”Kalau tak mau memaafkan, suami istri akan makin kesal dan saling curiga, dan itu racun buat perkawinan. Kalau saling memaafkan, ikatan perkawinan akan kuat dan kita akan makin dekat dengan pasangan kita.” Saudara perlu memupuk penghargaan terhadap pasangan Saudara. Carilah hal-hal yang bisa dipuji darinya. Dengan begitu, Saudara akan mampu melawan kecenderungan untuk tidak mau memaafkan. (Kol. 3:15) Hasilnya, kalian akan menikmati kedamaian pikiran, persatuan, dan berkat Allah.—Rm. 14:19.
TERAPKANLAH ATURAN EMAS
14, 15. Apa Aturan Emas itu? Apa manfaatnya dalam perkawinan?
14 Saudara pasti ingin dihargai dan diperlakukan dengan bermartabat. Saudara senang jika orang lain mendengarkan Saudara dan memedulikan perasaan Saudara. Namun, mungkin Saudara pernah mendengar seseorang berkata, ”Akan kubalas dia.” Tanggapan seperti ini kadang bisa dimengerti. Namun, Alkitab memberi tahu kita, ”Jangan mengatakan, ’Sama seperti yang ia lakukan kepadaku, demikianlah aku akan melakukan kepadanya.’” (Ams. 24:29) Yesus mengajar kita cara terbaik untuk menangani keadaan yang sulit. Kata-kata Yesus ini sering disebut Aturan Emas, ”Sebagaimana kamu ingin orang lakukan kepadamu, lakukan juga demikian kepada mereka.” (Luk. 6:31) Maksud Yesus adalah kita harus memperlakukan orang lain dengan cara kita ingin diperlakukan, bukan dengan cara mereka memperlakukan kita. Ini berarti, kita harus memberikan dalam perkawinan apa yang ingin kita dapatkan dari perkawinan itu.
15 Suami istri akan memperkuat perkawinan jika mereka benar-benar peduli terhadap perasaan satu sama lain. ”Kami sudah terapkan Aturan Emas ini,” kata seorang suami di Afrika Selatan. ”Kami memang kadang kesal, tapi kami berusaha perlakukan satu sama lain dengan cara kami ingin diperlakukan, yaitu dengan penuh penghargaan dan bermartabat.”
16. Apa yang suami istri tidak boleh sekali-kali lakukan terhadap satu sama lain?
16 Jangan ceritakan kelemahan pasangan Saudara atau selalu mengeluhkan kebiasaannya yang mengesalkan Saudara, meski hanya bercanda. Ingatlah, perkawinan bukan pertandingan untuk membuktikan siapa yang lebih kuat, siapa yang bisa berteriak lebih keras, atau siapa yang kata-katanya paling menyakitkan. Memang, kita semua tidak sempurna dan terkadang mengesalkan orang lain. Tapi, tak ada satu alasan pun yang membenarkan suami atau istri untuk mempermalukan pasangannya, menggunakan kata-kata yang menyakitkan, atau yang lebih parah, mendorongnya dengan kasar atau memukulnya.—Baca Amsal 17:27; 31:26.
17. Bagaimana suami bisa menerapkan Aturan Emas?
17 Dalam beberapa kebudayaan, pria suka menindas atau memukul istrinya untuk membuktikan bahwa ia kuat. Tapi Alkitab berkata, ”Ia yang lambat marah lebih baik daripada pria perkasa, dan ia yang mengendalikan rohnya daripada orang yang merebut kota.” (Ams. 16:32) Seseorang butuh kekuatan batin yang besar untuk memiliki pengendalian diri seperti Yesus Kristus, sang tokoh terbesar sepanjang masa. Pria yang menindas dan memukul istrinya adalah pria lemah, dan ia akan kehilangan persahabatannya dengan Yehuwa. Pemazmur Daud, seorang pria yang kuat dan perkasa, berkata, ”Jadilah resah, tetapi jangan berbuat dosa. Ucapkanlah perkataanmu dalam hatimu, di tempat tidurmu, dan tetaplah diam.”—Mz. 4:4.
”KENAKANLAH KASIH”
18. Mengapa penting untuk selalu menunjukkan kasih?
18 Baca 1 Korintus 13:4-7. Kasih adalah sifat yang paling penting dalam perkawinan. Alkitab berkata, ”Kenakanlah keibaan hati yang lembut, kebaikan hati, kerendahan hati, kelemahlembutan, dan kepanjangsabaran. Tetapi selain semua perkara ini, kenakanlah kasih, sebab itu adalah ikatan pemersatu yang sempurna.” (Kol. 3:12, 14) Kasih yang rela berkorban seperti kasih Kristus itu bagaikan semen yang merekatkan batu bata dalam perkawinan yang kokoh. Jika didasarkan atas kasih seperti itu, perkawinan akan tetap kuat meski ada kebiasaan yang menjengkelkan, penyakit yang serius, masalah keuangan yang menyusahkan, dan problem dengan mertua.
19, 20. (a) Bagaimana suami istri bisa berhasil membangun perkawinan yang kokoh dan bahagia? (b) Apa yang akan kita bahas dalam artikel berikutnya?
19 Kasih, kesetiaan, dan kesungguhan dibutuhkan agar perkawinan berhasil. Sewaktu timbul masalah, suami istri hendaknya tidak masa bodoh dengan perkawinan mereka. Mereka harus bertekad untuk lebih dekat dengan satu sama lain, bukan sekadar bertahan. Suami istri yang mengasihi Yehuwa dan satu sama lain harus bertekad untuk menyelesaikan masalah mereka, karena ”kasih tidak berkesudahan”.—1 Kor. 13:8; Mat. 19:5, 6; Ibr. 13:4.
20 Tidaklah mudah untuk membangun perkawinan yang kokoh dan bahagia pada ”masa kritis” ini. (2 Tim. 3:1) Tapi dengan bantuan Yehuwa, itu bisa dilakukan. Namun, suami istri juga harus melawan dunia yang gila seks ini. Dalam artikel berikutnya, kita akan bahas bagaimana suami dan istri bisa menjaga perkawinan mereka tetap kuat.
a Meski suami istri berupaya memaafkan dan menyelesaikan masalah, Alkitab mengatakan bahwa pihak yang tak bersalah punya hak untuk memutuskan apakah ia akan mengampuni atau menceraikan pasangannya yang berzina. (Mat. 19:9) Lihat artikel ”Pandangan Alkitab: Perzinaan—Mengampuni atau Tidak Mengampuni?” di Sedarlah! terbitan 8 Agustus 1995.
-
-
Biarlah Yehuwa Membentengi Perkawinan KalianMenara Pengawal—2015 | 15 Januari
-
-
Biarlah Yehuwa Membentengi Perkawinan Kalian
”Kalau bukan Yehuwa yang menjaga kota, sia-sialah penjaga tetap sadar.”—MZ. 127:1b.
1, 2. (a) Mengapa ke-24.000 orang Israel kehilangan warisan yang luar biasa? (b) Mengapa kisah ini penting bagi kita?
SEWAKTU bangsa Israel hampir memasuki Tanah Perjanjian, puluhan ribu pria ”melakukan hubungan amoral dengan putri-putri Moab”. Akibatnya, 24.000 orang Israel mati. Sudah sekian lama mereka menunggu, dan sedikit lagi menerima warisan mereka! Hilang sudah warisan yang luar biasa itu gara-gara mereka melakukan perbuatan amoral.—Bil. 25:1-5, 9.
2 Contoh menyedihkan itu ”ditulis untuk menjadi peringatan bagi kita yang hidup pada waktu akhir sistem-sistem ini tiba”. (1 Kor. 10:6-11) Kita hidup di penghujung ”hari-hari terakhir” dan hampir memasuki dunia baru. (2 Tim. 3:1; 2 Ptr. 3:13) Namun sayangnya, ada penyembah Yehuwa yang kurang waspada dan melakukan perbuatan amoral. Mereka sekarang menderita akibat buruk dari tindakan mereka, dan jika tidak bertobat, mereka pun akan kehilangan kesempatan untuk hidup selamanya di bumi Firdaus.
3. Mengapa suami istri memerlukan bimbingan dan perlindungan Yehuwa? (Lihat gambar di awal artikel.)
3 Suami dan istri memerlukan bimbingan dan perlindungan Yehuwa untuk menjaga perkawinan mereka karena dunia ini gila seks. (Baca Mazmur 127:1.) Dalam artikel ini, kita akan membahas bagaimana suami istri bisa melindungi perkawinan mereka. Mereka perlu membentengi hati, mendekat kepada Allah, mengenakan kepribadian baru, berkomunikasi dengan baik, dan saling memberikan hak perkawinan.
BENTENGI HATI SAUDARA
4. Mengapa ada orang Kristen yang melakukan perbuatan amoral?
4 Bagaimana seorang Kristen bisa sampai melakukan perbuatan amoral? Itu biasanya dimulai dari mata. Yesus menjelaskan, ”Setiap orang yang terus memandang seorang wanita sehingga mempunyai nafsu terhadap dia sudah berbuat zina dengan dia dalam hatinya.” (Mat. 5:27, 28; 2 Ptr. 2:14) Banyak orang Kristen melakukan perbuatan amoral karena awalnya melihat pornografi, membaca bacaan yang membangkitkan nafsu, atau menonton tayangan amoral yang menjijikkan di Internet. Yang lain telah menonton film, pertunjukan, atau acara televisi yang menyajikan seks secara terang-terangan. Yang lain lagi telah mengunjungi kelab malam, menonton tarian amoral, atau pergi ke tempat-tempat tertentu untuk mendapat pijat sensual.
5. Mengapa kita perlu membentengi hati kita yang tak sempurna?
5 Ada yang melakukan perbuatan amoral karena awalnya mencari perhatian dari seseorang yang bukan pasangannya. Kita hidup di tengah orang-orang yang kurang berpengendalian diri dan senang akan apa pun yang amoral. Ditambah lagi, hati kita yang tak sempurna ini licik dan nekat, sehingga mudah mengembangkan perasaan romantis terhadap seseorang yang bukan pasangan kita. (Baca Yeremia 17:9, 10.) Yesus berkata, ”Dari hati keluar pikiran yang fasik, pembunuhan, perzinaan, percabulan.”—Mat. 15:19.
6, 7. (a) Apa yang bisa terjadi jika hasrat salah berkembang dalam hati kita? (b) Bagaimana agar kita tidak sampai berdosa terhadap Yehuwa?
6 Begitu hasrat salah berkembang dalam hati, dua orang yang saling tertarik bisa mulai membicarakan hal-hal yang seharusnya hanya dibahas dengan pasangan mereka sendiri. Tak lama, alasan demi alasan dicari supaya mereka bisa bersama. Mereka lebih sering bertemu, pura-pura hanya kebetulan. Perasaan terhadap satu sama lain makin dalam, sehingga makin sulitlah untuk melakukan apa yang benar. Semakin dekat hubungan mereka, semakin sulit mereka mengakhirinya, meski mereka tahu bahwa yang mereka lakukan itu salah.—Ams. 7:21, 22.
7 Mereka semakin melupakan prinsip moral Yehuwa sewaktu hasrat salah dan percakapan berubah menjadi pegangan tangan, ciuman, belaian mesra, lalu sentuhan yang membangkitkan nafsu. Mereka melakukan hal-hal yang hanya boleh dilakukan dengan pasangan masing-masing. Mereka ”ditarik dan dipikat”, atau terjerat, oleh hasrat mereka sendiri. Akhirnya, hasrat itu menjadi cukup kuat, dan mereka melakukan percabulan. (Yak. 1:14, 15) Sungguh menyedihkan! Mereka berdua tidak akan sampai berdosa terhadap Yehuwa kalau saja mereka mengikuti tuntunan-Nya sehingga lebih menghargai perkawinan. Bagaimana caranya?
TERUSLAH MENDEKAT KEPADA ALLAH
8. Mengapa persahabatan dengan Yehuwa melindungi kita dari perbuatan amoral?
8 Baca Mazmur 97:10. Persahabatan dengan Yehuwa sangat penting untuk melindungi kita dari perbuatan amoral. Karena mengetahui sifat-sifat-Nya yang menakjubkan, kita berupaya ’menjadi peniru Allah, sebagai anak-anak yang dikasihi, dan terus berjalan dengan kasih’. Hasilnya, kita akan punya kekuatan untuk menolak ”percabulan dan setiap jenis kenajisan”. (Ef. 5:1-4) Juga, karena tahu bahwa ”Allah akan menghakimi orang yang melakukan percabulan dan pezina”, suami istri berusaha keras untuk tetap setia kepada satu sama lain.—Ibr. 13:4.
9. (a) Mengapa Yusuf bisa tetap setia meski digoda istri majikannya? (b) Pelajaran apa yang bisa kita petik dari teladan Yusuf?
9 Ada orang Kristen yang sampai melakukan perbuatan amoral karena awalnya menghabiskan waktu bersama teman kerja yang bukan Saksi setelah jam kerja. Godaan juga bisa muncul pada jam kerja. Itulah yang dialami seorang pemuda tampan bernama Yusuf. Sewaktu bekerja, ia sadar bahwa istri majikannya sangat tertarik kepadanya. Hari demi hari, wanita itu menggoda Yusuf untuk melakukan hubungan seks dengannya. Akhirnya, ”wanita itu mencengkeram pakaian Yusuf, dan berkata, ’Tidurlah dengan aku!’” Tapi Yusuf menolak dan lari pergi. Mengapa Yusuf bisa tetap setia? Karena ia bertekad untuk tetap bersahabat dengan Allah. Yusuf memang kehilangan pekerjaannya dan dipenjarakan, namun Yehuwa memberkatinya. (Kej. 39:1-12; 41:38-43) Di tempat kerja atau di mana pun, kita perlu menghindari situasi-situasi yang menggoda.
KENAKANLAH KEPRIBADIAN BARU
10. Dengan mengenakan kepribadian baru, suami istri terlindung dari apa, dan mengapa?
10 Kepribadian baru yang ”diciptakan menurut kehendak Allah, dengan keadilbenaran yang sejati dan loyalitas” akan melindungi suami istri dari bahaya percabulan. (Ef. 4:24) Dengan mengenakan kepribadian baru, kita ’mematikan’ anggota tubuh kita dari ”percabulan, kenajisan, nafsu seksual, keinginan yang mencelakakan, dan keinginan akan milik orang lain”. (Baca Kolose 3:5, 6.) Kata ’mematikan’ berarti kita harus melakukan apa saja untuk melawan hasrat yang amoral. Kita akan menghindari apa pun yang bisa menimbulkan hasrat seksual yang tidak pantas. (Ayb. 31:1) Dengan hidup menurut standar Allah, kita belajar untuk membenci ”apa yang fasik” dan berpaut pada ”apa yang baik”.—Rm. 12:2, 9.
11. Bagaimana kepribadian baru bisa memperkuat perkawinan?
11 Dengan mengenakan kepribadian baru, kita meniru sifat-sifat Yehuwa. (Kol. 3:10) Jika suami dan istri menunjukkan ”keibaan hati yang lembut, kebaikan hati, kerendahan hati, kelemahlembutan, dan kepanjangsabaran”, perkawinan mereka akan kokoh dan Yehuwa akan memberkati mereka. (Kol. 3:12) Mereka juga akan semakin harmonis jika ’membiarkan kedamaian Kristus berkuasa dalam hati mereka’. (Kol. 3:15) Suami istri yang punya ”kasih sayang yang lembut” akan ”saling mendahului” dalam menunjukkan perhatian dan penghargaan.—Rm. 12:10.
12. Menurut Saudara, sifat apa saja yang penting agar perkawinan bahagia?
12 Sewaktu sepasang suami istri ditanya sifat apa saja yang membuat perkawinan mereka bahagia, Sid, sang suami, menjawab, ”Kasih adalah sifat utama yang selalu kami upayakan. Kelemahlembutan juga sangat penting.” Sonja, istrinya, setuju dan menambahkan, ”Kebaikan hati harus ada. Dan kami juga berusaha tunjukkan kerendahan hati, meski tak selalu mudah.”
BERKOMUNIKASILAH DENGAN BAIK
13. Apa yang diperlukan agar perkawinan kokoh, dan mengapa?
13 Salah satu cara terbaik agar perkawinan tetap kokoh adalah berbicara kepada pasangan hidup kita dengan baik hati. Sayangnya, ada suami dan istri yang kalau berbicara kepada pasangannya lebih kasar daripada kepada orang tak dikenal atau bahkan kepada binatang peliharaan mereka! Jika ’kebencian, kemarahan, murka, teriakan, serta cacian’ ada dalam perkawinan, itu akan mengikis kekuatan perkawinan. (Ef. 4:31) Sikap yang kritis dan menyakitkan hati akan merusak perkawinan. Jadi, suami istri perlu memperkuat perkawinan mereka dengan berbicara kepada satu sama lain dengan baik hati, lembut, dan penuh kasih sayang.—Ef. 4:32.
14. Apa yang tidak boleh kita lakukan?
14 Alkitab mengatakan bahwa ada ”waktu untuk berdiam diri”. (Pkh. 3:7) Tentu, ini tidak berarti bahwa kita boleh mogok bicara dengan pasangan kita, karena komunikasi itu penting agar perkawinan bahagia. Seorang istri di Jerman berkata, ”Dalam keadaan begitu, mendiamkan pasangan kita bisa menyakitinya.” Ia menambahkan, ”Kalau lagi tertekan, memang tak selalu mudah untuk tetap tenang, tapi tidak baik juga kalau kita marah-marah begitu saja. Kita nanti gampang bilang atau lakukan sesuatu yang bisa bikin pasangan kita sakit hati, dan itu cuma bikin masalahnya tambah parah.” Masalah suami istri tidak akan selesai jika mereka saling berteriak atau mogok bicara. Sebaliknya, suami istri akan memperkuat perkawinan jika mereka segera menyelesaikan perbedaan pendapat, sehingga tidak sampai menjadi pertengkaran.
15. Komunikasi seperti apa yang memperkuat perkawinan?
15 Kalian bisa memperkuat perkawinan jika kalian meluangkan waktu untuk berbagi cerita tentang apa yang kalian pikirkan dan rasakan. Cara kalian mengatakan sesuatu sama pentingnya dengan apa yang kalian katakan. Jadi, bahkan dalam situasi yang sulit, berusahalah sebisa-bisanya untuk menggunakan kata-kata yang sopan dan berbicara baik-baik. Dengan begitu, pasangan kalian akan lebih mudah mendengarkan kalian. (Baca Kolose 4:6.) Suami istri bisa memperkuat perkawinan kalau mereka berkomunikasi dengan kata-kata yang membangun dan bermanfaat.—Ef. 4:29.
Suami istri bisa memperkuat perkawinan dengan komunikasi yang baik (Lihat paragraf 15)
BERIKANLAH HAK PERKAWINAN
16, 17. Mengapa penting untuk peka terhadap kebutuhan emosi dan seksual satu sama lain?
16 Suami istri juga bisa membangun perkawinan yang kokoh jika mendahulukan kepentingan pasangannya daripada kepentingannya sendiri. (Flp. 2:3, 4) Maka, suami serta istri perlu peka terhadap kebutuhan emosi dan seksual pasangannya.—Baca 1 Korintus 7:3, 4.
17 Sayangnya, ada suami atau istri yang tidak memperlihatkan kasih sayang ataupun menjalin keintiman dengan pasangannya. Dan, ada pria yang berpikir bahwa kalau mereka bersikap lembut terhadap istri mereka, itu berarti mereka lemah. Namun, Alkitab berkata, ”Suami-suami, hendaklah hidup dengan penuh pengertian terhadap istrimu.” (1 Ptr. 3:7, Bahasa Indonesia Masa Kini) Suami perlu mengerti bahwa hak perkawinan bukan sekadar hubungan seks. Itu berarti ia perlu memperlihatkan cinta dan kasih sayang kepada istrinya setiap waktu. Dengan begitu, lebih besar kemungkinannya bagi sang istri untuk menikmati hubungan seks. Jika saling memperlihatkan cinta dan kasih sayang, suami istri akan lebih mudah memenuhi kebutuhan emosi dan fisik pasangannya.
18. Bagaimana suami dan istri bisa memperkuat perkawinan mereka?
18 Meski tak ada dalih yang dapat dibenarkan untuk mengkhianati pasangan hidup, kurangnya kelembutan bisa membuat suami atau istri mencari kasih sayang dan keintiman dari orang lain. (Ams. 5:18; Pkh. 9:9) Itulah alasannya Alkitab menasihati suami istri untuk tidak ”saling menahan hak perkawinan” kecuali jika keduanya setuju melakukannya untuk sementara saja. Mengapa? ”Supaya Setan tidak terus menggoda kamu karena kamu kurang pengaturan [atau, ”pengendalian”] diri.” (1 Kor. 7:5) Sungguh menyedihkan kalau gara-gara ’kurang pengendalian diri’, suami atau istri digoda Setan sampai akhirnya berzina! Dengan memberi hak perkawinan, masing-masing ”tidak mencari keuntungan bagi diri sendiri, melainkan bagi orang lain”. Mereka hendaknya melakukan ini karena mengasihi satu sama lain, bukan karena kewajiban semata. Dengan demikian, hak perkawinan berupa keintiman yang penuh kasih sayang akan turut memperkuat perkawinan mereka.—1 Kor. 10:24.
TERUSLAH PERKUAT PERKAWINAN KALIAN
19. Apa seharusnya tekad kita, dan mengapa?
19 Sedikit lagi kita akan memasuki dunia baru! Maka, sayang sekali kalau kita mengikuti hasrat yang salah, seperti ke-24.000 orang Israel di Dataran Moab. Setelah menceritakan apa yang terjadi, Alkitab memperingatkan, ”Biarlah ia yang berpikir bahwa ia sedang berdiri, berhati-hati agar ia tidak jatuh.” (1 Kor. 10:12) Maka, kita harus memperkuat perkawinan dengan tetap setia kepada Yehuwa dan kepada pasangan kita. (Mat. 19:5, 6) Sekarang, lebih dari yang sudah-sudah, kita perlu ’berupaya sebisa-bisanya agar pada akhirnya kita didapati tidak bernoda, tidak bercacat, dan dalam damai’.—2 Ptr. 3:13, 14.
-
-
Cinta Sejati—Mungkinkah Terwujud?Menara Pengawal—2015 | 15 Januari
-
-
Cinta Sejati—Mungkinkah Terwujud?
”[Cinta] seperti kobaran api, nyala api Yah.”—KID. 8:6.
1, 2. Siapa yang bisa mendapat manfaat dari buku Kidung Agung, dan mengapa? (Lihat gambar di atas.)
KEDUA mempelai saling menatap sambil tersenyum. Semua orang bisa melihat bahwa mereka sedang kasmaran. Penatua yang menyampaikan khotbah pernikahan melihat betapa mesranya mereka berpelukan, dan ia bertanya-tanya, ’Seiring berlalunya waktu, apakah cinta mereka akan semakin dalam? Atau, malah perlahan-lahan sirna?’ Jika suami dan istri benar-benar saling mencintai, hubungan mereka bisa bertahan bahkan dalam masa-masa yang paling sulit. Namun sayangnya, ada banyak suami istri yang menjadi tidak bahagia, lalu berpisah. Jadi, Saudara mungkin bertanya-tanya, ’Apakah cinta memang bisa bertahan lama?’
2 Bahkan pada zaman Raja Salomo, cinta sejati sudah langka. Apa yang terjadi? Salomo menjelaskan, ”Satu pria [yang lurus hati] dari antara seribu telah kudapati, namun seorang wanita di antara semua ini tidak kudapati. Lihat! Hanya ini yang kudapati, bahwa Allah yang benar membuat manusia lurus hati, tetapi mereka mencari-cari banyak rencana.” (Pkh. 7:26-29) Akibat pengaruh wanita-wanita amoral penyembah Baal di Israel, banyak orang Israel juga hidup amoral.a Karena itu, Salomo sulit menemukan pria dan wanita yang lurus hati. Tetapi, sekitar 20 tahun sebelumnya, sang raja menulis puisi, yaitu Kidung Agung, tentang seorang pria dan wanita yang memiliki cinta sejati. Entah kita sudah menikah atau tidak, melalui puisi itu, kita bisa memahami apa cinta sejati itu dan bagaimana kita bisa memperlihatkannya.
CINTA SEJATI ITU BISA TERWUJUD!
3. Mengapa cinta sejati antara pria dan wanita bisa terwujud?
3 Baca Kidung Agung 8:6. Cinta digambarkan sebagai ”nyala api Yah”. Mengapa? Karena cinta sejati berasal dari Yehuwa. Sifat utama Yehuwa adalah kasih, dan Ia menciptakan kita dengan kesanggupan untuk meniru kasih-Nya. (Kej. 1:26, 27) Setelah menciptakan manusia pertama, Adam, Yehuwa memberinya seorang istri yang cantik. Saat pertama kali melihat Hawa, Adam sangat bahagia sampai-sampai ia mengungkapkan perasaannya tentang Hawa dengan kata-kata puitis. Hawa pun merasa sangat dekat dengan suaminya karena Yehuwa memang menciptakan dia dari Adam. (Kej. 2:21-23) Sejak awal, Yehuwa mengaruniakan kepada pria dan wanita kesanggupan untuk memiliki cinta sejati dan saling mengasihi selamanya.
4, 5. Ceritakan dengan singkat kisah dalam Kidung Agung.
4 Nyanyian dalam Kidung Agung dengan indah menggambarkan cinta sejati yang bisa terjalin antara seorang pria dan wanita. Nyanyian itu berisi kisah cinta antara seorang gadis dari desa Syunem, atau Syulem, dengan seorang gembala muda. Beginilah kisahnya: Gadis itu bekerja di kebun anggur milik kakaknya. Raja Salomo dan prajuritnya berkemah di dekat situ. Ia terpikat melihat gadis itu dan memerintahkan para pelayan untuk membawanya ke perkemahan. Sang raja lalu memuji kecantikannya dan melimpahinya dengan hadiah-hadiah. Tetapi, gadis itu mencintai seorang gembala dan mengungkapkan kerinduannya untuk bertemu gembala itu. (Kid. 1:4-14) Sang gembala mencari-cari dia lalu menyusulnya ke perkemahan. Sewaktu akhirnya bertemu, mereka saling menyatakan cinta dengan kata-kata yang indah.—Kid. 1:15-17.
5 Sewaktu Salomo kembali ke Yerusalem, ia membawa gadis itu, dan sang gembala pun mengikutinya. (Kid. 4:1-5, 8, 9) Apa pun yang Salomo lakukan dan katakan tidak bisa menggoyahkan cinta sang gadis terhadap sang gembala. (Kid. 6:4-7; 7:1-10) Jadi, Salomo membiarkan dia pulang. Akhirnya, sang gadis Syulamit memanggil kekasihnya untuk berlari menyambutnya ”seperti kijang”.—Kid. 8:14.
6. Mengapa agak sulit mengetahui siapa tokoh yang sedang berbicara dalam Kidung Agung?
6 Kidung Agung adalah sebuah nyanyian yang indah dan bahkan disebut ”kidung paling agung”. (Kid. 1:1) Tetapi di dalamnya, Salomo tidak menyebutkan nama tokoh-tokoh yang sedang berbicara. Karena ingin menonjolkan keindahan puisi dan nyanyian tersebut, Salomo tidak menambahkan banyak perincian. Meski tidak ada nama dalam nyanyian itu, kita bisa tahu siapa yang berbicara dari apa yang dikatakan.b
”PERNYATAAN SAYANGMU LEBIH NIKMAT DARIPADA ANGGUR”
7, 8. Bagaimana sang gembala dan sang gadis saling menyatakan rasa cinta mereka? Berikan contoh.
7 Sang gadis dan sang gembala saling mengungkapkan cinta mereka lewat kata-kata yang indah. Beberapa ’pernyataan sayang’ mereka mungkin kedengaran aneh bagi kita karena ditulis lebih dari 3.000 tahun yang lalu. (Kid. 1:2) Tetapi, meski kebudayaan kita berbeda dengan mereka, kita bisa memahami perasaan mereka terhadap satu sama lain. Contohnya, sang gembala mengatakan bahwa mata sang gadis bagaikan ”mata merpati”. Artinya, ia menyukai tatapan matanya yang lembut. (Kid. 1:15) Dan, sang gadis mengatakan bahwa mata sang gembala juga indah seperti merpati. (Baca Kidung Agung 5:12.) Baginya, warna mata sang gembala bagaikan merpati biru keabu-abuan yang sedang mandi susu.
8 Sang gembala dan sang gadis saling memuji ketampanan dan kecantikan masing-masing, tetapi bukan itu saja. Misalnya, sang gembala menyukai cara berbicaranya yang lembut kepada orang-orang. (Baca Kidung Agung 4:7, 11.) Sang gembala berkata, ”Bibirmu meneteskan madu dari sarang lebah, oh, pengantin perempuanku. Madu dan susu ada di bawah lidahmu.” Baginya, kata-kata gadis itu manis dan enak seperti susu dan madu yang paling lezat. Sewaktu sang gembala mengatakan kepadanya bahwa ”engkau sungguh jelita” dan ”tak ada cacat padamu”, yang ia maksudkan bukan hanya kecantikan sang gadis melainkan juga sifat-sifat baiknya.
9. (a) Cinta antara suami dan istri mencakup apa saja? (b) Mengapa penting agar suami istri saling mengungkapkan rasa sayang mereka?
9 Bagi suami istri yang melayani Yehuwa, perkawinan bukan hanya sebuah kontrak. Mereka benar-benar saling mencintai dan memperlihatkannya. Namun, cinta seperti apa yang harus mereka miliki? Apakah kasih yang rela berkorban bagi orang lain seperti yang Alkitab ajarkan? (1 Yoh. 4:8) Apakah itu kasih sayang yang kita rasakan terhadap keluarga kita? Ataukah itu keakraban antara dua sahabat? (Yoh. 11:3) Apakah itu perasaan romantis? (Ams. 5:15-20) Sebenarnya, cinta sejati antara suami istri mencakup itu semua, dan itu perlu diperlihatkan lewat kata-kata dan tindakan. Ya, hal itu sangat penting, tidak soal betapa sibuknya kalian, karena itu akan membuat kalian merasa aman dan bahagia dalam perkawinan. Dalam beberapa kebudayaan, pria dan wanita dijodohkan dan mereka tidak saling mengenal sebelum hari pernikahan mereka. Seraya mereka semakin mengenal dan mengasihi sebagai suami istri, mereka perlu menyatakan rasa sayang terhadap satu sama lain. Dengan demikian, mereka akan semakin akrab dan ikatan perkawinan mereka semakin kuat.
10. Apa manfaat lainnya jika suami istri saling menyatakan rasa sayang?
10 Ada manfaat lain jika suami istri saling menyatakan rasa sayang. Dalam nyanyian itu, Raja Salomo menawari gadis itu ”perhiasan-perhiasan emas berbentuk lingkaran, dengan kancing-kancing perak”. Ia memujinya dengan mengatakan bahwa sang gadis ”jelita bagaikan bulan purnama, murni bagaikan matahari yang membara”. (Kid. 1:9-11; 6:10) Tetapi, cinta sang gadis hanya untuk sang gembala. Apa yang membuatnya tetap setia kepada sang gembala? Apa yang menghiburnya sewaktu mereka terpisah? (Baca Kidung Agung 1:2, 3.) Ia ingat kata-kata cinta sang gembala yang membuatnya bahagia. Baginya, ungkapan sayang sang gembala ”lebih nikmat daripada anggur”, dan di istana, kata-kata tersebut menghiburnya bagaikan ”minyak” yang dituangkan di kepala. (Mz. 23:5; 104:15) Jadi, suami istri harus sering mengungkapkan rasa sayang kepada satu sama lain. Selain menumbuhkan kasih mereka, kenangan akan ungkapan sayang itu membuat cinta mereka tetap kuat.
JANGAN BANGKITKAN CINTA ’SEBELUM DIKEHENDAKI’
11. Apa yang bisa kita pelajari dari kata-kata gadis Syulamit kepada wanita-wanita di istana?
11 Jika Saudara ingin menikah, apa yang bisa Saudara pelajari dari gadis Syulamit? Ia tidak mencintai Raja Salomo dan dengan tegas mengatakan kepada wanita-wanita di istana agar ’tidak berupaya membangunkan atau membangkitkan cinta dalam dirinya sebelum dikehendakinya’. (Kid. 2:7; 3:5) Jadi, Saudara hendaknya tidak terlalu cepat memutuskan untuk berpacaran dengan siapa saja yang mendekati Saudara. Saudara sebaiknya menunggu dengan sabar sampai menemukan orang yang bisa benar-benar Saudara cintai.
12. Mengapa gadis Syulamit mencintai sang gembala?
12 Mengapa gadis Syulamit mencintai sang gembala? Di matanya, sang gembala tampan seperti ”seekor kijang”. Tangannya kuat seperti ”tabung emas”, dan kakinya bagus serta keras seperti ”pilar marmer”. Tetapi, ia bukan hanya kuat dan tampan. Sang gadis tahu bahwa sang gembala mengasihi Yehuwa dan punya sifat-sifat yang bagus. Itulah yang membuat sang gembala istimewa di matanya, ”bagaikan pohon apel di antara pohon-pohon di hutan”.—Kid. 2:3, 9; 5:14, 15.
13. Mengapa sang gembala mencintai gadis Syulamit?
13 Gadis Syulamit sangat cantik. Bahkan Raja Salomo terpikat olehnya, meski ia sudah punya ”enam puluh ratu dan delapan puluh gundik serta gadis-gadis yang tak terhitung jumlahnya”. Apakah sang gembala mencintainya hanya karena ia cantik? Tidak. Gadis itu juga mengasihi Yehuwa dan memiliki sifat-sifat bagus. Contohnya, ia rendah hati dan menyamakan dirinya dengan bunga biasa, ”tanaman kumkuma di dataran pesisir”. Tetapi, bagi sang gembala dia bukan gadis biasa, dia ”bagaikan bunga lili di antara lalang berduri”.—Kid. 2:1, 2; 6:8.
14. Jika kita ingin menikah, apa yang bisa kita pelajari dari sang gembala dan gadis Syulamit?
14 Yehuwa meminta hamba-hamba-Nya agar menikah hanya ”dalam Tuan”. (1 Kor. 7:39) Itu berarti kita hanya akan berpacaran atau menikah dengan seorang hamba Yehuwa yang terbaptis. Mengapa ini penting? Suami dan istri setiap hari harus menghadapi tekanan dalam kehidupan. Tetapi, jika keduanya punya hubungan yang akrab dengan Yehuwa, perkawinan mereka akan tenteram dan bahagia. Jadi jika Saudara ingin menikah, tirulah sang gembala dan gadis Syulamit. Carilah orang yang memiliki sifat-sifat bagus dan benar-benar mengasihi Yehuwa.
Orang Kristen tentu tidak akan berpacaran atau menikah dengan orang yang bukan hamba Yehuwa yang terbaptis (Lihat paragraf 14)
PENGANTIN PEREMPUANKU SEPERTI ”KEBUN YANG DIPALANGI”
15. Bagaimana kesetiaan gadis Syulamit menjadi teladan bagi pasangan Kristen yang berencana menikah?
15 Baca Kidung Agung 4:12. Mengapa sang gembala menyamakan gadis Syulamit dengan ”kebun yang dipalangi”? Sebuah kebun dengan gerbang yang terkunci tidak terbuka untuk umum. Gadis itu sama seperti kebun itu karena dia hanya mencintai sang gembala. Karena akan menikah dengannya, dia tidak memedulikan perhatian sang raja. Karena tekadnya sudah bulat, dia seperti ”tembok” dan bukan ”pintu” yang mudah dibuka. (Kid. 8:8-10) Demikian pula, pasangan Kristen yang berencana menikah hendaknya saling setia. Mereka tidak akan main mata dengan orang lain.
16. Jika Saudara sedang berpacaran, apa yang bisa Saudara pelajari dari Kidung Agung?
16 Sewaktu diajak jalan-jalan oleh sang gembala, sang gadis tidak diizinkan pergi oleh saudara-saudara lelakinya. Mereka malah menyuruh sang gadis untuk menjaga kebun anggur. Apakah mereka tidak memercayainya? Apakah mereka berpikir bahwa adik mereka dan sang gembala akan melakukan hal-hal yang amoral? Tidak. Mereka ingin melindungi adik mereka dari situasi yang bisa mengarah ke perbuatan salah. (Kid. 1:6; 2:10-15) Jika Saudara sedang berpacaran, bagaimana Saudara bisa menghindari hal-hal yang bisa mengarah ke tindakan amoral? Sejak awal berpacaran, putuskan apa saja yang akan kalian hindari supaya hubungan kalian tetap bersih. Jangan pernah berduaan di tempat yang sepi. Tunjukkan rasa sayang hanya dengan cara yang patut.
17, 18. Apa manfaat pembahasan buku Kidung Agung bagi Saudara?
17 Yehuwa ingin perkawinan bertahan untuk selamanya. Ia ingin suami istri saling mencintai. Sewaktu menikah, mereka pasti saling mencintai. Tetapi, supaya pernikahan itu bertahan lama, mereka harus menjaga cinta mereka tetap kuat seperti nyala api yang tidak pernah berhenti berkobar.—Mrk. 10:6-9.
18 Jika Saudara ingin menikah, carilah orang yang bisa benar-benar saudara cintai. Jika sudah menemukannya, kalian berdua harus berupaya mempertahankan cinta kalian tetap kuat. Seperti yang kita pelajari dari Kidung Agung, cinta yang sejati dan bertahan lama itu bisa terwujud, karena itu adalah ”nyala api Yah”.—Kid. 8:6.
b Lihat ”Outline of Contents”, atau garis besar isi, dari Kidung Agung di New World Translation edisi revisi 2013, halaman 926-927.
-