PERPUSTAKAAN ONLINE Menara Pengawal
PERPUSTAKAAN ONLINE
Menara Pengawal
Indonesia
  • ALKITAB
  • PUBLIKASI
  • PERHIMPUNAN
  • Perkawinan Dapat Berhasil dalam Dunia Dewasa Ini
    Menara Pengawal—2005 | 1 Maret
    • Perkawinan Dapat Berhasil dalam Dunia Dewasa Ini

      ”Kenakanlah kasih, sebab itu adalah ikatan pemersatu yang sempurna.”​—Kolose 3:14.

      1, 2. (a) Fakta yang membesarkan hati apa yang ada dalam sidang Kristen? (b) Apa perkawinan yang berhasil itu?

      SEWAKTU kita mengamati saudara-saudari dalam sidang Kristen, bukankah menghangatkan hati melihat begitu banyak pasangan suami istri yang loyal kepada teman hidup mereka selama 10, 20, 30 tahun, atau bahkan lebih? Mereka tetap loyal kepada teman hidup mereka melalui masa susah dan senang.​—Kejadian 2:24.

      2 Kebanyakan orang mengakui bahwa perkawinan mereka bukannya tanpa kesukaran. Seorang pengamat menulis, ”Perkawinan yang bahagia bukannya tanpa masalah. Ada masa suka dan duka . . . Tetapi, entah bagaimana . . . perkawinan mereka tetap awet di tengah-tengah [gejolak] kehidupan modern.” Pasangan suami istri yang berhasil telah belajar caranya mengatasi badai dan krisis yang tak terelakkan karena tekanan hidup, khususnya jika mereka telah membesarkan anak-anak. Pengalaman telah mengajarkan pasangan-pasangan itu bahwa kasih yang sejati ”tidak berkesudahan”.​—1 Korintus 13:8.

      3. Apa yang ditunjukkan statistik mengenai perkawinan dan perceraian, dan hal ini menimbulkan pertanyaan apa?

      3 Sebaliknya, jutaan bahtera perkawinan telah kandas. Sebuah laporan mengatakan, ”Setengah dari semua perkawinan di AS dewasa ini diperkirakan akan berakhir dengan perceraian. Dan, setengah dari [perceraian] tersebut akan terjadi pada 7,8 tahun pertama perkawinan . . . Dari antara 75 persen orang yang menikah kembali, 60 persen akan bercerai lagi.” Bahkan di negeri-negeri yang sebelumnya memiliki tingkat perceraian yang relatif rendah telah terlihat adanya perubahan. Contohnya, angka perceraian di Jepang telah meningkat hampir dua kali lipat pada tahun-tahun belakangan ini. Tekanan apa saja yang telah menyebabkan keadaan ini, tekanan yang kadang-kadang muncul bahkan dalam sidang Kristen? Apa yang dibutuhkan agar perkawinan berhasil sekalipun Setan berupaya merongrong penyelenggaraan ini?

      Jerat-Jerat yang Harus Dihindari

      4. Faktor apa saja yang dapat merongrong perkawinan?

      4 Firman Allah membantu kita memahami faktor-faktor yang dapat merongrong perkawinan. Sebagai contoh, perhatikan kata-kata rasul Paulus mengenai keadaan yang akan muncul selama hari-hari terakhir ini, ”Pada hari-hari terakhir akan datang masa kritis yang sulit dihadapi. Sebab orang-orang akan menjadi pencinta diri sendiri, pencinta uang, congkak, angkuh, penghujah, tidak taat kepada orang-tua, tidak berterima kasih, tidak loyal, tidak memiliki kasih sayang alami, tidak suka bersepakat, pemfitnah, tidak mempunyai pengendalian diri, garang, tidak mengasihi kebaikan, pengkhianat, keras kepala, besar kepala karena sombong, mencintai kesenangan sebaliknya daripada mengasihi Allah, berpengabdian yang saleh hanya secara lahiriah tetapi mereka tidak hidup sesuai dengan kuasanya; dan dari mereka berpalinglah.”​—2 Timotius 3:1-5.

      5. Mengapa orang yang ’mencintai diri sendiri’ dapat mengancam perkawinannya, dan apa nasihat Alkitab mengenai hal ini?

      5 Sewaktu menganalisis kata-kata Paulus, kita melihat bahwa banyak hal yang ia cantumkan dapat turut menghancurkan hubungan perkawinan. Misalnya, orang yang ’mencintai diri sendiri’ adalah orang yang mementingkan diri dan tidak mempertimbangkan orang lain. Suami atau istri yang hanya mengasihi diri sendiri bertekad mau menang sendiri. Mereka kaku dan tidak mau mengalah. Apakah sikap semacam itu menggalang perkawinan yang bahagia? Sama sekali tidak. Rasul Paulus dengan bijaksana menasihati orang Kristen, termasuk para suami istri, ”[Kamu hendaknya] tidak melakukan apa pun karena sifat suka bertengkar atau karena menganggap diri penting, tetapi dengan rendah hati, menganggap orang lain lebih tinggi daripada kamu, menaruh perhatian, bukan dengan minat pribadi kepada persoalanmu sendiri saja, tetapi juga dengan minat pribadi kepada persoalan orang lain.”​—Filipi 2:​3, 4.

      6. Bagaimana cinta akan uang dapat merongrong hubungan perkawinan?

      6 Cinta akan uang dapat merenggangkan hubungan suami istri. Paulus memperingatkan, ”Orang yang bertekad untuk menjadi kaya jatuh dalam godaan dan jerat dan banyak keinginan yang hampa dan menyakitkan, yang menjerumuskan orang-orang ke dalam kebinasaan dan keruntuhan. Sebab cinta akan uang adalah akar segala macam perkara yang mencelakakan, dan dengan memupuk cinta ini beberapa orang telah disesatkan dari iman dan menikam diri mereka dengan banyak kesakitan.” (1 Timotius 6:9, 10) Sungguh menyedihkan, peringatan Paulus terbukti benar dalam banyak perkawinan dewasa ini. Dalam upaya mengejar kekayaan, banyak orang mengabaikan kebutuhan teman hidupnya, termasuk kebutuhan dasar akan emosi dan persahabatan yang langgeng dan hangat.

      7. Dalam beberapa kasus, tingkah laku apa yang dapat menimbulkan ketidakloyalan dalam perkawinan?

      7 Paulus juga mengatakan bahwa pada hari-hari terakhir ini ada orang yang akan menjadi ”tidak loyal, tidak memiliki kasih sayang alami, tidak suka bersepakat”. Ikrar perkawinan adalah janji khidmat yang seharusnya menghasilkan ikatan yang permanen, bukan menghasilkan pengkhianatan. (Maleakhi 2:14-16) Namun, ada yang telah mengalihkan minat romantis mereka kepada orang lain yang bukan teman hidup mereka. Seorang istri berusia 30-an yang telah ditinggalkan suaminya menjelaskan bahwa bahkan sebelum suaminya pergi, dia bersikap terlalu akrab, terlalu ramah, terhadap wanita lain. Suaminya tidak menyadari bahwa kelakuannya itu tidak pantas bagi pria yang sudah menikah. Sang istri merasa sangat pedih melihat sikap suaminya itu dan dengan bijaksana mencoba memperingatkannya bahwa sikap dan perilakunya itu berbahaya. Sekalipun demikian, suaminya terjerumus dalam perzinaan. Kendati peringatan-peringatan yang pengasih telah diberikan, teman hidup yang bersalah itu tidak mau menaruh perhatian. Ia langsung melangkah ke dalam jerat.​—Amsal 6:​27-​29.

      8. Apa yang dapat mengarah kepada perzinaan?

      8 Peringatan Alkitab terhadap perzinaan sangat jelas! ”Siapa pun yang berbuat zina dengan seorang wanita, tidak berakal budi; ia yang melakukannya membinasakan jiwanya sendiri.” (Amsal 6:32) Biasanya, perzinaan bukanlah tindakan spontan karena dorongan sesaat. Sebagaimana ditunjukkan Yakobus sang penulis Alkitab, dosa seperti perzinaan biasanya terjadi hanya setelah niat itu timbul dan terus-menerus dipikirkan. (Yakobus 1:14, 15) Teman hidup yang bersalah secara bertahap tidak loyal lagi kepada pasangannya, padahal ia telah berikrar untuk setia kepadanya seumur hidup. Yesus mengatakan, ”Kamu mendengar bahwa telah dikatakan, ’Jangan berzina.’ Tetapi aku mengatakan kepadamu bahwa setiap orang yang terus memandang seorang wanita sehingga mempunyai nafsu terhadap dia sudah berbuat zina dengan dia dalam hatinya.”​—Matius 5:27, 28.

      9. Nasihat bijaksana apa yang terdapat di Amsal 5:18-20?

      9 Oleh sebab itu, haluan yang bijaksana dan loyal adalah haluan yang dianjurkan dalam buku Amsal: ”Biarlah sumber airmu diberkati, dan bersukacitalah dengan istri masa mudamu, rusa betina yang menimbulkan perasaan kasih dan kambing gunung yang memesonakan. Biarlah buah dadanya memabukkan engkau pada segala waktu. Dengan cintanya, semoga engkau senantiasa memiliki perasaan yang meluap-luap. Maka mengapa engkau, putraku, harus memiliki perasaan yang meluap-luap terhadap wanita yang tidak dikenal atau memeluk dada wanita asing?”—Amsal 5:18-20.

      Jangan Terburu-buru Menikah

      10. Mengapa sebaiknya meluangkan waktu untuk mengenal calon teman hidup?

      10 Masalah dalam perkawinan dapat muncul apabila pria dan wanita menikah secara terburu-buru. Mereka mungkin terlalu muda dan kurang berpengalaman. Atau, mungkin mereka tidak meluangkan waktu untuk saling mengenal—tentang apa yang mereka sukai dan tidak sukai, tujuan mereka dalam kehidupan, latar belakang keluarga mereka. Sebaiknya bersabar, luangkan waktu untuk mengenal calon teman hidup. Ingatlah Yakub, putra Ishak. Ia harus bekerja untuk calon ayah mertuanya selama tujuh tahun sebelum ia diperbolehkan menikahi Rahel. Ia rela melakukan hal itu karena perasaannya didasarkan pada cinta sejati, bukan sekadar pada daya tarik fisik.​—Kejadian 29:20-30.

      11. (a) Apa yang dipersatukan dalam ikatan perkawinan? (b) Mengapa tutur kata yang bijaksana sangat penting dalam perkawinan?

      11 Perkawinan lebih dari sekadar hubungan romantis. Ikatan perkawinan mempersatukan dua orang yang memiliki latar belakang keluarga yang berbeda, kepribadian serta emosi yang berbeda, dan sering kali latar belakang pendidikan yang berbeda. Kadang-kadang, perkawinan menyatukan dua kebudayaan, bahkan dua bahasa. Setidaknya, perkawinan menyatukan dua suara dengan kesanggupan untuk mengutarakan pendapat yang berbeda tentang segala jenis permasalahan. Kedua suara itu adalah unsur-unsur yang sangat nyata dalam ikatan perkawinan. Kedua-duanya dapat terus-menerus mengkritik dan mengeluh, atau kedua-duanya dapat dengan hangat menganjurkan dan membina. Ya, dengan kata-kata, kita dapat menyakiti atau menyembuhkan teman hidup kita. Tutur kata yang tidak terkendali dapat membuat suasana tegang dalam perkawinan.—Amsal 12:18; 15:1, 2; 16:24; 21:9; 31:26.

      12, 13. Pandangan yang realistis apa yang dianjurkan tentang perkawinan?

      12 Oleh karena itu, sebaiknya meluangkan waktu untuk mengenal calon teman hidup. Seorang saudari Kristen yang sudah berumur dan sudah menikah pernah mengatakan, ”Sewaktu kita menilai seorang calon teman hidup, pikirkan kira-kira sepuluh tuntutan dasar yang ingin kita lihat dalam dirinya. Jika kita hanya menemukan tujuh, tanyailah diri sendiri, ’Bersediakah saya mengabaikan tiga hal yang tidak ia miliki? Apakah saya setiap hari dapat mentoleransi kekurangan-kekurangan itu?’ Kalau kita ragu, mundur dan pikirkanlah kembali.” Tentu saja, Saudara perlu realistis. Jika Saudara ingin menikah, ketahuilah bahwa Saudara tidak akan pernah menemukan teman hidup yang sempurna. Demikian juga orang yang akan Saudara nikahi, ia pun tidak akan menemukan pasangan yang sempurna!​—Lukas 6:41.

      13 Perkawinan menuntut pengorbanan. Paulus menandaskan hal ini ketika ia mengatakan, ”Aku ingin kamu bebas dari kekhawatiran. Pria yang tidak menikah khawatir akan perkara-perkara Tuan, bagaimana ia bisa mendapat perkenan Tuan. Akan tetapi, pria yang menikah khawatir akan perkara-perkara duniawi, bagaimana ia bisa mendapat perkenan istrinya, dan ia terbagi. Selanjutnya, wanita yang tidak menikah, dan perawan, khawatir akan perkara-perkara Tuan, supaya ia kudus dalam tubuh maupun rohnya. Akan tetapi, wanita yang menikah khawatir akan perkara-perkara duniawi, bagaimana ia bisa mendapat perkenan suaminya.”—1 Korintus 7:32-34.

      Alasan Beberapa Perkawinan Gagal

      14, 15. Apa yang dapat turut memperlemah ikatan perkawinan?

      14 Seorang wanita Kristen belum lama ini menderita trauma akibat perceraian sewaktu sang suami, setelah menikahinya selama 12 tahun, meninggalkannya dan mulai menjalin hubungan dengan wanita lain. Apakah ia memperhatikan gejala-gejalanya? Ia menjelaskan, ”Kerohanian suami saya begitu merosot sampai pada tahap ia tidak berdoa lagi. Ia memakai dalih-dalih yang lemah untuk tidak berhimpun dan berdinas. Ia mengaku terlalu sibuk dan terlalu lelah untuk meluangkan waktu bersama saya. Ia tidak mau berbicara kepada saya. Secara rohani, ia mengasingkan diri. Patut disayangkan. Ia bukan lagi pria yang dulu menikahi saya.”

      15 Yang lain melaporkan bahwa mereka melihat tanda-tanda yang serupa, mencakup tidak lagi melakukan pelajaran Alkitab pribadi, berdoa, atau menghadiri perhimpunan. Dengan kata lain, banyak pribadi yang belakangan meninggalkan teman hidup mereka telah membiarkan hubungan mereka dengan Yehuwa melemah. Akibatnya, penglihatan rohani mereka menjadi kabur. Yehuwa bukan lagi Allah yang hidup bagi mereka. Dunia baru dalam keadilbenaran yang dijanjikan bukan lagi hal yang nyata. Dalam beberapa kasus, kelemahan rohani ini terjadi bahkan sebelum teman hidup yang tidak setia ini berselingkuh.—Ibrani 10:38, 39; 11:6; 2 Petrus 3:13, 14.

      16. Apa yang memperkuat perkawinan?

      16 Sebaliknya, sepasang suami istri yang sangat berbahagia mengaitkan keberhasilan perkawinan mereka dengan ikatan rohani mereka yang kuat. Mereka berdoa bersama dan belajar bersama. Sang suami mengatakan, ”Kami membaca Alkitab bersama. Kami berdinas bersama. Kami senang melakukan segala hal bersama-sama.” Pelajarannya jelas: Mempertahankan hubungan yang baik dengan Yehuwa sangat besar peranannya dalam memantapkan perkawinan.

      Bersikap Realistis dan Berkomunikasi

      17. (a) Dua hal apa yang turut membuat perkawinan berhasil? (b) Bagaimana Paulus menjabarkan kasih Kristen?

      17 Ada dua hal lain yang turut membuat perkawinan berhasil: kasih Kristen dan komunikasi. Apabila dua orang saling jatuh cinta, ada kecenderungan untuk saling mengabaikan kesalahan. Mereka mungkin memasuki perkawinan dengan harapan yang muluk-muluk, mungkin didasarkan atas apa yang telah mereka baca dalam novel romansa atau yang mereka tonton di film. Akan tetapi, pasangan suami istri itu akhirnya harus menghadapi kenyataan. Lalu, kelemahan kecil atau kebiasaan yang agak mengganggu menjadi masalah besar. Jika hal ini terjadi, orang Kristen perlu memperlihatkan buah roh, yang sebuah aspeknya adalah kasih. (Galatia 5:22, 23) Memang, kasih penuh kuasa—bukan cinta romantis melainkan kasih Kristen. Paulus menjabarkan kasih Kristen itu, demikian, ”Kasih itu panjang sabar dan baik hati. . . . [kasih] tidak memperhatikan kepentingan diri sendiri, tidak terpancing menjadi marah. Kasih tidak mencatat kerugian. . . . Kasih menanggung segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mempunyai harapan akan segala sesuatu, bertekun menanggung segala sesuatu.” (1 Korintus 13:4-7) Jelaslah, kasih yang sejati mentoleransi kelemahan manusiawi. Secara realistis, kasih tidak mengharapkan kesempurnaan.—Amsal 10:12.

      18. Bagaimana komunikasi dapat memperkuat hubungan perkawinan?

      18 Komunikasi juga sangat penting. Tidak soal berapa lama umur suatu perkawinan, suami dan istri hendaknya saling berbicara dan benar-benar saling mendengarkan. Seorang suami mengatakan, ”Kami secara terbuka menyatakan perasaan kami, tetapi dengan cara yang ramah.” Melalui pengalaman, seorang suami atau istri belajar untuk mendengarkan bukan hanya apa yang dikatakan melainkan juga apa yang tidak dikatakan. Dengan kata lain, seraya tahun demi tahun berlalu, pasangan suami istri yang bahagia telah belajar untuk memahami pikiran yang tidak terucapkan atau perasaan yang tidak terungkapkan. Ada istri yang mengatakan bahwa suami mereka tidak benar-benar mendengarkan mereka. Ada suami yang mengeluh bahwa istri mereka tampaknya ingin berkomunikasi di saat-saat yang paling tidak cocok. Komunikasi berkaitan dengan keibaan hati dan pengertian. Komunikasi yang efektif bermanfaat bagi suami maupun istri.—Yakobus 1:19.

      19. (a) Mengapa sulit untuk meminta maaf? (b) Apa yang akan memotivasi kita untuk meminta maaf?

      19 Kadang-kadang, komunikasi mencakup meminta maaf. Ini tidak selalu mudah. Untuk mengakui kesalahan dibutuhkan kerendahan hati. Namun, hal itu benar-benar dapat memperkuat perkawinan! Permintaan maaf yang tulus dapat menyingkirkan penyebab konflik yang mungkin muncul di masa depan dan membuka jalan untuk pengampunan yang sungguh-sungguh serta jalan keluar dari suatu masalah. Paulus menyatakan, ”Teruslah bersabar seorang terhadap yang lain dan ampuni satu sama lain dengan lapang hati jika ada yang mempunyai alasan untuk mengeluh sehubungan dengan orang lain. Sama seperti Yehuwa dengan lapang hati mengampuni kamu, lakukan itu juga. Tetapi selain semua perkara ini, kenakanlah kasih, sebab itu adalah ikatan pemersatu yang sempurna.”​—Kolose 3:13, 14.

      20. Bagaimana seorang Kristen hendaknya memperlakukan teman hidupnya sewaktu berduaan dan sewaktu ada orang lain?

      20 Yang juga sangat penting dalam perkawinan ialah dukungan timbal balik. Suami dan istri Kristen hendaknya dapat saling mempercayai, saling mengandalkan. Hendaknya tidak saling meremehkan atau dengan cara-cara lain saling menjatuhkan kepercayaan diri masing-masing. Kita dengan pengasih memuji teman hidup kita; kita tidak dengan kasar mengkritik mereka. (Amsal 31:28b) Kita tentu tidak melecehkan mereka dengan menjadikan mereka bahan lelucon yang konyol. (Kolose 4:6) Dukungan timbal balik semacam itu diperkuat oleh kasih sayang yang sering dinyatakan. Sebuah sentuhan atau sepatah kata yang penuh kasih sayang dan lembut dapat berarti, ”Aku masih mencintaimu. Aku senang engkau ada di sisiku.” Ini adalah beberapa faktor yang dapat mempengaruhi hubungan perkawinan dan turut membuat perkawinan berhasil dalam dunia dewasa ini. Masih ada hal-hal lain, dan artikel berikut akan memberikan pedoman tambahan dari Alkitab tentang caranya membuat perkawinan berhasil.a

      [Catatan Kaki]

      a Untuk keterangan lebih terperinci, lihat publikasi Rahasia Kebahagiaan Keluarga, yang diterbitkan oleh Saksi-Saksi Yehuwa.

  • Bimbingan yang Bijaksana bagi Pasangan Suami Istri
    Menara Pengawal—2005 | 1 Maret
    • Bimbingan yang Bijaksana bagi Pasangan Suami Istri

      ”Hendaklah istri-istri tunduk kepada suami mereka sebagaimana kepada Tuan. Suami-suami, teruslah kasihi istrimu.”​—Efesus 5:22, 25.

      1. Apa pandangan yang benar tentang perkawinan?

      YESUS mengatakan bahwa perkawinan adalah dipersatukannya pria dan wanita oleh Allah di bawah satu kuk sehingga menjadi ”satu daging”. (Matius 19:5, 6) Hal itu melibatkan dua orang dengan kepribadian berbeda yang belajar untuk mengembangkan minat yang sama dan bekerja sama untuk mencapai tujuan yang sama. Perkawinan adalah komitmen seumur hidup, bukan persetujuan sementara yang dapat seenaknya diingkari. Di banyak negeri, perceraian tidak sulit dilakukan, tetapi di mata seorang Kristen, hubungan perkawinan adalah suci. Itu hanya bisa diakhiri dengan satu alasan yang sangat serius.​—Matius 19:9.

      2. (a) Bantuan apa yang tersedia bagi pasangan suami istri? (b) Mengapa upaya harus dikerahkan untuk membuat perkawinan berhasil?

      2 Seorang penasihat perkawinan mengatakan, ”Perkawinan yang berhasil adalah suatu proses perubahan yang terus-menerus seraya perkawinan itu menghadapi persoalan baru, menggeluti masalah yang timbul, dan memanfaatkan sumber daya yang tersedia pada setiap tahap kehidupan.” Bagi pasangan suami istri Kristen, sumber daya itu mencakup nasihat Alkitab, dukungan rekan-rekan Kristen, dan hubungan yang akrab dengan Yehuwa melalui doa. Perkawinan yang berhasil tetap bertahan meski menghadapi kesukaran, dan seraya tahun-tahun berlalu, hal itu mendatangkan kebahagiaan dan kepuasan bagi suami dan istri. Terlebih penting lagi, perkawinan mendatangkan kehormatan bagi Allah Yehuwa, sang Pemrakarsa perkawinan.​—Kejadian 2:18, 21-24; 1 Korintus 10:31; Efesus 3:15; 1 Tesalonika 5:17.

      Tirulah Yesus dan Sidangnya

      3. (a) Ringkaskan nasihat Paulus bagi pasangan suami istri. (b) Teladan apa yang Yesus berikan?

      3 Dua ribu tahun yang silam, rasul Paulus memberikan nasihat yang bijaksana kepada pasangan suami istri Kristen ketika ia menulis, ”Sebagaimana sidang jemaat tunduk kepada Kristus, demikian juga hendaknya istri-istri kepada suami mereka dalam segala hal. Suami-suami, teruslah kasihi istrimu, sebagaimana Kristus juga mengasihi sidang jemaat dan menyerahkan dirinya baginya.” (Efesus 5:24, 25) Sungguh perbandingan yang sangat bagus! Istri Kristen yang dengan rendah hati terus tunduk kepada suaminya meniru sidang jemaat yang mengakui dan menyadari prinsip kekepalaan. Suami beriman yang senantiasa mengasihi istrinya, baik dalam masa senang maupun susah, membuktikan bahwa ia benar-benar mengikuti teladan Yesus yang mengasihi dan memperhatikan sidang.

      4. Bagaimana suami dapat mengikuti teladan Yesus?

      4 Suami Kristen adalah kepala dari keluarganya, tetapi ia sendiri juga memiliki kepala, yaitu Yesus. (1 Korintus 11:3) Maka, sebagaimana Yesus memperhatikan sidang jemaatnya, demikian pula suami dengan penuh kasih memperhatikan keluarganya secara rohani dan jasmani, sekalipun membutuhkan pengorbanan pribadi. Kesejahteraan keluarganya berada di atas keinginan dan pilihannya sendiri. Yesus mengatakan, ”Karena itu, segala sesuatu yang kamu ingin orang lakukan kepadamu, demikian juga harus kamu lakukan kepada mereka.” (Matius 7:12) Prinsip ini khususnya berlaku dalam perkawinan. Paulus memperlihatkan hal ini sewaktu ia mengatakan, ”Suami-suami harus mengasihi istri mereka seperti tubuh mereka sendiri. . . . Tidak seorang pun pernah membenci tubuhnya sendiri; tetapi ia memberi makan dan menyayanginya.” (Efesus 5:28, 29) Seorang pria harus memberi makan dan menyayangi istrinya dengan semangat yang sama seperti ia memberi makan dan menyayangi dirinya sendiri.

      5. Bagaimana istri dapat meniru sidang jemaat Kristen?

      5 Istri yang saleh memandang sidang jemaat Kristen sebagai contoh. Sewaktu Yesus di bumi, para pengikutnya dengan senang hati meninggalkan hal-hal yang sebelumnya mereka kejar dan mengikuti dia. Setelah ia mati, mereka tetap tunduk kepadanya, dan selama hampir 2.000 tahun, sidang jemaat Kristen yang sejati tetap tunduk kepada Yesus dan mengikuti kepemimpinannya dalam segala hal. Demikian pula, istri Kristen tidak memandang hina suaminya atau meremehkan pengaturan Alkitab tentang kekepalaan dalam perkawinan. Sebaliknya, ia mendukung dan tunduk kepada suaminya, bekerja sama dengannya, dan dengan demikian menyemangatinya. Apabila suami maupun istri bersikap pengasih seperti itu, perkawinan mereka akan berhasil dan kedua-duanya akan menemukan sukacita dalam hubungan perkawinan.

      Tetaplah Tinggal Bersamanya

      6. Nasihat apa yang Petrus berikan kepada para suami, dan mengapa nasihat itu penting?

      6 Rasul Petrus juga mempunyai nasihat bagi pasangan suami istri, dan kata-katanya ini terutama ditujukan kepada para suami. Ia mengatakan, ”Tetaplah tinggal bersama [istrimu] sesuai dengan pengetahuan, memberikan kehormatan kepada mereka karena mereka adalah bejana yang lebih lemah, yang feminin, karena kamu pun adalah ahli waris bersama mereka dari perkenan yang tidak selayaknya diperoleh berupa kehidupan, agar doa-doamu tidak terhalang.” (1 Petrus 3:7) Keseriusan nasihat Petrus terlihat dalam kata-kata terakhir di ayat itu. Jika seorang suami tidak menghormati istrinya, hubungannya dengan Yehuwa akan terpengaruh. Doa-doanya akan terhalang.

      7. Bagaimana seorang suami harus menghormati istrinya?

      7 Kalau begitu, bagaimana suami dapat memberikan kehormatan kepada sang istri? Menghormati seorang istri berarti memperlakukannya dengan pengasih, dengan respek dan bermartabat. Memperlakukan istri dengan baik hati seperti itu agaknya aneh bagi banyak orang. Seorang cendekiawan Yunani menulis, ”Di bawah hukum Romawi seorang wanita tidak memiliki hak. Menurut hukum ia selalu dianggap sebagai seorang anak. . . . Ia tunduk sepenuhnya kepada suaminya, dan sepenuhnya bergantung pada belas kasihannya.” Betapa bedanya dengan ajaran Kristen! Suami Kristen menghormati istrinya. Perlakuannya terhadap istrinya berlandaskan prinsip Kristen, bukan sekadar dorongan perasaan. Selain itu, ia bertimbang rasa terhadapnya ”sesuai dengan pengetahuan”, mempertimbangkan bahwa istrinya adalah bejana yang lebih lemah.

      ”Bejana yang Lebih Lemah” dalam Arti Apa?

      8, 9. Dalam arti apa saja wanita setara dengan pria?

      8 Sewaktu mengatakan bahwa wanita adalah ”bejana yang lebih lemah”, Petrus tidak memaksudkan bahwa wanita lebih lemah daripada pria dalam hal kecerdasan atau kerohanian. Memang, banyak pria Kristen memiliki hak istimewa di sidang yang tidak dimiliki oleh wanita, dan dalam keluarga, para wanita tunduk kepada suami mereka. (1 Korintus 14:35; 1 Timotius 2:12) Meskipun demikian, iman, ketekunan, dan standar yang sama dalam hal keluhuran moral dituntut dari semua orang, pria dan wanita. Dan, sebagaimana yang Petrus katakan, suami maupun istri adalah ”ahli waris . . . dari perkenan yang tidak selayaknya diperoleh berupa kehidupan”. Sehubungan dengan keselamatan, mereka memiliki kedudukan yang setara di hadapan Allah Yehuwa. (Galatia 3:28) Petrus sedang menulis kepada orang Kristen terurap pada abad pertama. Oleh karena itu, kata-katanya mengingatkan para suami Kristen bahwa sebagai ”ahli waris bersama Kristus”, mereka dan istri mereka memiliki harapan surgawi yang sama. (Roma 8:17) Pada suatu hari kelak, kedua-duanya akan melayani sebagai imam dan raja dalam Kerajaan surgawi Allah!—Penyingkapan 5:10.

      9 Istri Kristen yang terurap tentu tidak lebih rendah daripada suami Kristennya yang terurap. Dan, secara prinsip, hal ini juga berlaku bagi orang-orang yang memiliki harapan di bumi. Baik pria maupun wanita dari ”kumpulan besar” mencuci jubah mereka dan membuatnya putih dalam darah Anak Domba. Baik pria maupun wanita ikut menyerukan pujian kepada Yehuwa ”siang dan malam” di seluruh dunia. (Penyingkapan [Wahyu] 7:9, 10, 14, 15) Baik pria maupun wanita berharap untuk merasakan ”kemerdekaan yang mulia sebagai anak-anak Allah”, sewaktu mereka menikmati ”kehidupan yang sebenarnya”. (Roma 8:21; 1 Timotius 6:19) Tidak soal dari golongan terurap atau domba-domba lain, semua orang Kristen melayani Yehuwa bersama-sama sebagai ”satu kawanan” di bawah ”satu gembala”. (Yohanes 10:16) Benar-benar alasan yang kuat bagi suami dan istri Kristen untuk saling menghormati!

      10. Dalam pengertian apa kaum wanita adalah ”bejana yang lebih lemah”?

      10 Kalau begitu, dalam arti apa wanita adalah ”bejana yang lebih lemah”? Mungkin Petrus sedang mengacu pada fakta bahwa, rata-rata, wanita bertubuh lebih kecil dan tidak sekuat pria. Selain itu, dalam keadaan kita yang tidak sempurna, kesanggupan yang unik untuk melahirkan anak sangat besar dampaknya atas kesehatan wanita. Wanita pada usia subur bisa jadi mengalami ketidaknyamanan fisik secara rutin. Mereka tentu membutuhkan perhatian dan timbang rasa yang khusus sewaktu mengalami ketidaknyamanan tersebut atau sewaktu terkuras tenaganya karena hamil dan melahirkan. Seorang suami yang memberikan kehormatan kepada istrinya, yang menyadari dukungan yang dibutuhkan sang istri, akan sangat berperan dalam membuat perkawinannya berhasil.

      Dalam Keluarga yang Terbagi secara Agama

      11. Dalam pengertian apa perkawinan dapat berhasil sekalipun suami dan istri berbeda agama?

      11 Namun, bagaimana jika teman hidup menganut agama yang berbeda karena salah satu dari mereka menerima kebenaran Kristen setelah mereka menikah dan yang lain tidak? Apakah perkawinan mereka dapat berhasil? Banyak pengalaman mengatakan ya. Suami dan istri yang berbeda agama masih dapat memiliki perkawinan yang berhasil dalam arti bahwa perkawinan mereka dapat bertahan dan membawa kebahagiaan bagi kedua-duanya. Selain itu, perkawinan mereka masih sah di mata Yehuwa, dan mereka masih ”satu daging”. Oleh karena itu, suami atau istri Kristen dinasihati untuk tinggal bersama pasangannya yang tidak seiman kalau pasangannya itu setuju. Jika ada anak-anak, mereka dapat memperoleh manfaat dari kesetiaan orang tua mereka yang Kristen.—1 Korintus 7:12-14.

      12, 13. Dalam menaati nasihat Petrus, bagaimana istri Kristen dapat membantu suami yang tidak seiman?

      12 Petrus menujukan nasihat yang ramah kepada wanita Kristen yang hidup dalam keluarga yang terbagi secara agama. Secara prinsip, kata-katanya juga dapat diterapkan oleh suami Kristen yang berada dalam situasi yang sama. Petrus menulis, ”Hai, istri-istri, tunduklah kepada suamimu, agar jika ada yang tidak taat kepada firman itu, mereka dapat dimenangkan tanpa perkataan melalui tingkah laku istri mereka, karena telah menjadi saksi mata dari tingkah lakumu yang murni yang disertai respek yang dalam.”​—1 Petrus 3:1, 2.

      13 Jika seorang istri dengan bijaksana dapat menjelaskan imannya kepada sang suami, itu patut dipujikan. Tetapi, bagaimana jika sang suami tidak mau mendengarkan? Itu adalah pilihannya. Namun, ini bukannya tanpa harapan, karena tingkah laku Kristen memberikan kesaksian yang ampuh. Banyak suami yang pada mulanya tidak berminat atau bahkan menentang iman istri mereka akhirnya ”memiliki kecenderungan yang benar” setelah melihat tingkah laku istri mereka yang baik. (Kisah 13:48) Bahkan jika seorang suami tidak menerima kebenaran Kristen, ia mungkin cukup terkesan dengan tingkah laku istrinya, sehingga ikatan perkawinan mereka dikuatkan. Seorang suami yang istrinya adalah salah seorang dari Saksi-Saksi Yehuwa mengakui bahwa ia tidak akan pernah bisa hidup menurut standar mereka yang luhur. Namun, ia menyebut dirinya ”suami yang bahagia dari istri yang baik” dan dengan hangat memuji istrinya dan rekan-rekan seiman istrinya dalam sepucuk surat yang ditujukan kepada sebuah penerbit surat kabar.

      14. Bagaimana suami dapat membantu istri yang tidak seiman?

      14 Suami Kristen yang telah menerapkan prinsip kata-kata Petrus juga dapat memenangkan sang istri dengan tingkah lakunya. Istri yang tidak seiman memperhatikan bahwa sang suami lebih sadar akan tanggung jawabnya, tidak memboroskan uang untuk merokok, minum-minum, dan berjudi dan tidak lagi menggunakan bahasa kotor. Ada istri yang tidak seiman yang telah mengenal baik anggota sidang Kristen. Mereka terkesan dengan persaudaraan Kristen yang pengasih, dan apa yang mereka amati di kalangan saudara-saudari telah menarik mereka kepada Yehuwa.​—Yohanes 13:34, 35.

      ”Manusia Batiniah yang Tersembunyi”

      15, 16. Tingkah laku seperti apa dari seorang istri Kristen yang dapat memenangkan suaminya yang tidak seiman?

      15 Tingkah laku seperti apa yang dapat memenangkan seorang suami? Ya, tingkah laku yang sewajarnya dipupuk oleh wanita Kristen. Petrus mengatakan, ”Dandananmu janganlah dengan kepangan rambut yang lahiriah dan perhiasan emas atau pakaian luar, tetapi hendaklah itu berupa manusia batiniah yang tersembunyi dengan pakaian yang tidak fana berupa roh yang tenang dan lembut, yang sangat bernilai di mata Allah. Karena demikianlah juga wanita-wanita kudus yang berharap kepada Allah dahulu menghiasi diri, tunduk kepada suami mereka, seperti Sara yang menaati Abraham, dengan memanggilnya ’tuan’. Dan kamu telah menjadi anak-anaknya, asalkan kamu terus berbuat baik dan tidak takut akan apa pun yang menyebabkan kegentaran.”—1 Petrus 3:3-6.

      16 Petrus menasihati wanita Kristen agar tidak mengandalkan penampilan lahiriah. Sebaliknya, biarlah suaminya mengamati pengaruh ajaran Alkitab atas manusia batiniah sang istri. Biarlah suami menyaksikan sang istri menerapkan kepribadian yang baru. Mungkin ia akan mengontraskannya dengan kepribadian lama yang dahulu dimiliki istrinya. (Efesus 4:22-24) Ia pasti akan merasakan ”roh yang tenang dan lembut” yang dimiliki istrinya itu menyegarkan dan menarik. Roh demikian tidak hanya menyenangkan bagi seorang suami tetapi juga ”sangat bernilai di mata Allah”.​—Kolose 3:12.

      17. Bagaimana Sara menjadi teladan bagi istri Kristen?

      17 Sara dirujuk sebagai contoh, dan ia adalah teladan yang berharga bagi istri Kristen, entah suaminya seiman atau tidak. Sara pastilah menganggap Abraham sebagai kepalanya. Bahkan dalam hatinya, ia menyebut sang suami ”tuan[nya]”. (Kejadian 18:12) Namun, hal itu tidak merendahkan martabatnya. Ia jelas-jelas seorang wanita yang kuat secara rohani dengan imannya yang teguh kepada Yehuwa. Pasti, ia adalah bagian dari ”saksi bagaikan awan” yang teladan imannya hendaknya menggerakkan kita untuk ”berlari dengan tekun dalam perlombaan yang ditetapkan bagi kita”. (Ibrani 11:11; 12:1) Menjadi seperti Sara tidaklah merendahkan martabat seorang istri Kristen.

      18. Prinsip apa saja yang hendaknya diterapkan dalam keluarga yang terbagi?

      18 Dalam keluarga yang terbagi secara agama, suami tetap adalah kepala. Jika suami adalah orang yang percaya, ia akan bertimbang rasa terhadap kepercayaan sang istri seraya tidak mengkompromikan imannya. Jika istri adalah orang yang percaya, ia juga tidak akan mengkompromikan imannya. (Kisah 5:29) Namun, ia tidak akan menantang kekepalaan suaminya. Ia akan menghormati kedudukan suaminya dan tetap di bawah ”hukum suaminya”.​—Roma 7:2.

      Bimbingan Alkitab yang Bijaksana

      19. Apa beberapa tekanan yang menegangkan ikatan perkawinan, tetapi bagaimana tekanan demikian dapat dilawan?

      19 Dewasa ini, ada banyak hal yang dapat menegangkan ikatan perkawinan. Ada pria yang tidak memikul tanggung jawabnya. Ada wanita yang menolak kekepalaan suaminya. Dalam beberapa perkawinan, ada teman hidup yang dianiaya oleh pasangannya. Bagi orang Kristen, tekanan ekonomi, ketidaksempurnaan manusia, dan semangat dunia ini dengan tingkah lakunya yang amoral dan nilai-nilainya yang menyimpang dapat menguji keloyalan. Namun, pria dan wanita Kristen yang mengikuti prinsip Alkitab, apa pun keadaan mereka, menerima berkat dari Yehuwa. Bahkan jika salah satu saja dari pasangan suami istri menerapkan prinsip Alkitab, keadaannya akan lebih baik daripada jika tidak seorang pun dari mereka melakukannya. Selain itu, Yehuwa mengasihi dan mendukung hamba-hamba-Nya yang tetap setia kepada ikrar perkawinan mereka bahkan dalam keadaan yang sulit. Ia tidak melupakan keloyalan mereka.—Mazmur 18:25; Ibrani 6:10; 1 Petrus 3:12.

      20. Nasihat apa yang Petrus berikan kepada semua orang Kristen?

      20 Setelah menasihati pria dan wanita yang sudah menikah, rasul Petrus mengakhiri nasihatnya dengan kata-kata anjuran yang hangat. Ia berkata, ”Akhirnya, hendaklah kamu semua sepikiran, memperlihatkan sikap seperasaan, memiliki kasih sayang persaudaraan, memiliki keibaan hati yang lembut, rendah hati, tidak membalas kerugian dengan kerugian atau cercaan dengan cercaan, tetapi sebaliknya, memberikan berkat, karena kamu telah dipanggil kepada haluan ini, supaya kamu mewarisi berkat.” (1 Petrus 3:8, 9) Memang, nasihat yang bijaksana ini diberikan kepada kita semua, tetapi teristimewa kepada pasangan suami istri!

Publikasi Menara Pengawal Bahasa Indonesia (1971-2025)
Log Out
Log In
  • Indonesia
  • Bagikan
  • Pengaturan
  • Copyright © 2025 Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania
  • Syarat Penggunaan
  • Kebijakan Privasi
  • Pengaturan Privasi
  • JW.ORG
  • Log In
Bagikan