-
”Bapakmu Berbelaskasihan”Menara Pengawal—2007 | 15 September
-
-
”Bapakmu Berbelaskasihan”
”Teruslah berbelaskasihan, sebagaimana Bapakmu berbelaskasihan.”—LUKAS 6:36.
1, 2. Bagaimana kata-kata Yesus kepada para penulis dan orang Farisi, dan kepada para pengikutnya, memperlihatkan bahwa belas kasihan adalah sifat yang bagus?
TAURAT yang diberikan melalui Musa memuat sekitar 600 hukum dan peraturan. Meskipun berbagai kewajiban dalam Hukum Musa harus dijalankan, memperlihatkan belas kasihan juga sangat penting. Perhatikan apa yang Yesus katakan kepada orang Farisi, yang tidak kenal belas kasihan. Pada dua kesempatan Yesus menegur mereka, ia menunjukkan bahwa Allah telah menetapkan, ”Aku menginginkan belas kasihan, dan bukan korban.” (Matius 9:10-13; 12:1-7; Hosea 6:6) Menjelang akhir pelayanannya, Yesus mengatakan, ”Celaka bagimu, penulis-penulis dan orang-orang Farisi, orang-orang munafik! karena kamu memberikan sepersepuluh dari tanaman mentol dan adas dan jintan putih, tetapi kamu telah mengabaikan perkara-perkara yang lebih berbobot sehubungan dengan Hukum, yakni keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan.”—Matius 23:23.
2 Tak dapat disangkal lagi, Yesus menganggap belas kasihan sangat penting. Ia memberi tahu para pengikutnya, ”Teruslah berbelaskasihan, sebagaimana Bapakmu berbelaskasihan.” (Lukas 6:36) Tetapi, untuk ’menjadi peniru Allah’ dalam hal ini, kita perlu tahu apa sebenarnya belas kasihan itu. (Efesus 5:1) Lagi pula, dengan memahami manfaat belas kasihan, kita akan tergerak untuk lebih berbelaskasihan dalam kehidupan kita.
Berbelaskasihan kepada Orang yang Malang
3. Mengapa kita hendaknya berpaling kepada Yehuwa untuk mengetahui apa sebenarnya belas kasihan itu?
3 Sang pemazmur bernyanyi, ”Yehuwa itu murah hati dan berbelaskasihan, lambat marah dan besarlah kebaikan hatinya yang penuh kasih. Yehuwa itu baik kepada semua orang, dan belas kasihannya ada bagi segala hasil karyanya.” (Mazmur 145:8, 9) Yehuwa adalah ”Bapak belas kasihan yang lembut dan Allah segala penghiburan”. (2 Korintus 1:3) Belas kasihan diperlihatkan dengan beriba hati kepada orang lain. Inilah salah satu faset penting kepribadian Allah. Melalui teladan dan perintah-perintah-Nya, kita dapat mengetahui apa sebenarnya belas kasihan itu.
4. Apa yang kita pelajari dari Yesaya 49:15 tentang belas kasihan?
4 Sebagaimana dicatat di Yesaya 49:15, Yehuwa berfirman, ”Dapatkah seorang istri melupakan anaknya yang masih menyusu sehingga ia tidak mengasihani putra dari kandungannya?” Dalam bahasa Ibrani, kata ”mengasihani” di ayat ini ada kaitannya dengan belas kasihan di Mazmur 145:8, 9, yang dikutip di atas. Emosi yang menggugah Yehuwa untuk berbelaskasihan disamakan dengan kasih sayang yang biasanya dirasakan seorang ibu yang sedang menyusui bayinya. Mungkin bayi itu lapar atau membutuhkan sesuatu yang lain. Karena tergerak oleh rasa iba hati atau simpati, sang ibu memenuhi kebutuhan bayinya. Demikianlah perasaan Yehuwa terhadap orang-orang yang mendapat belas kasihan-Nya.
5. Bagaimana Yehuwa memperlihatkan bahwa Ia ”kaya dengan belas kasihan” terhadap Israel?
5 Merasa iba hati adalah hal yang terpuji, tetapi lebih baik lagi apabila perasaan itu dibarengi tindakan yang bermanfaat bagi si malang. Perhatikan bagaimana tanggapan Yehuwa sewaktu para penyembah-Nya diperbudak di Mesir kira-kira 3.500 tahun yang lalu. Ia memberi tahu Musa, ”Tidak diragukan lagi aku telah melihat penderitaan umatku yang berada di Mesir, dan aku telah mendengar jeritan mereka akibat orang-orang yang menekan mereka untuk bekerja; karena aku tahu benar kepedihan yang mereka derita. Aku akan turun untuk melepaskan mereka dari tangan orang Mesir dan membawa mereka keluar dari negeri itu ke suatu negeri yang baik dan luas, ke suatu negeri yang berlimpah dengan susu dan madu.” (Keluaran 3:7, 8) Sekitar 500 tahun setelah orang Israel dibebaskan dari Mesir, Yehuwa mengingatkan mereka, ”Akulah yang membawa Israel keluar dari Mesir dan yang membebaskan kamu dari tangan Mesir dan dari tangan semua kerajaan yang menindasmu.” (1 Samuel 10:18) Karena menyimpang dari standar Allah yang adil-benar, orang Israel sering mengalami penderitaan. Namun, Yehuwa merasa iba hati terhadap mereka dan berkali-kali Ia menyelamatkan mereka. (Hakim 2:11-16; 2 Tawarikh 36:15) Hal ini menggambarkan tanggapan Allah yang pengasih ketika melihat orang-orang yang membutuhkan bantuan, berada dalam bahaya, atau mengalami kesulitan. Yehuwa ”kaya dengan belas kasihan”.—Efesus 2:4.
6. Bagaimana Yesus Kristus meniru Bapaknya dalam menunjukkan belas kasihan?
6 Sewaktu di bumi, Yesus Kristus dengan sempurna meniru Bapaknya dalam menunjukkan belas kasihan. Bagaimana tanggapan Yesus sewaktu dua pria buta memohon, ”Tuan, kasihanilah kami, Putra Daud”? Mereka meminta dengan sangat agar Yesus memulihkan penglihatan mereka melalui mukjizat. Yesus mengabulkannya, tetapi mukjizat itu tidak ia lakukan tanpa perasaan. ”Tergerak oleh rasa kasihan,” kata Alkitab, ”Yesus menyentuh mata mereka, dan segera mereka dapat melihat.” (Matius 20:30-34) Karena kasihan, Yesus tergerak untuk melakukan banyak mukjizat yang menyingkirkan penderitaan orang yang buta, orang yang kerasukan hantu, penderita kusta, dan orang tua yang anaknya sakit.—Matius 9:27; 15:22; 17:15; Markus 5:18, 19; Lukas 17:12, 13.
7. Apa yang dapat kita pelajari dari teladan Allah Yehuwa dan Putra-Nya tentang belas kasihan?
7 Teladan Allah Yehuwa dan Yesus Kristus memperlihatkan bahwa belas kasihan mempunyai dua unsur—perasaan iba hati, simpati, atau kasihan terhadap orang yang malang dan tindakan yang menyingkirkan penderitaan orang yang bersangkutan. Untuk dapat berbelaskasihan diperlukan kedua unsur itu. Dalam Alkitab, belas kasihan kebanyakan memaksudkan pernyataan yang positif berupa tindakan kebaikan hati terhadap orang yang malang. Tetapi, bagaimana belas kasihan ditunjukkan dalam konteks hukum? Apakah itu juga menyangkut apa yang dapat dianggap sebagai tindakan negatif, misalnya tidak jadi menghukum?
Belas Kasihan terhadap Pelanggar Hukum
8, 9. Apa yang terkait dalam belas kasihan yang diperlihatkan kepada Daud setelah ia berdosa dengan Bat-syeba?
8 Perhatikan apa yang terjadi setelah nabi Natan menegur Raja Daud dari Israel kuno karena perzinaan Daud dengan Bat-syeba. Daud bertobat dan berdoa, ”Kasihanilah aku, oh, Allah, sesuai dengan kebaikan hatimu yang penuh kasih. Sesuai dengan limpahnya belas kasihanmu hapuskanlah pelanggaranku. Dengan tuntas basuhlah aku dari kesalahanku, dan bersihkanlah aku bahkan dari dosaku. Karena aku sendiri mengetahui pelanggaranku, dan dosaku ada di depanku senantiasa. Terhadap engkau, engkau saja, aku telah berdosa, dan apa yang jahat di matamu telah kulakukan.”—Mazmur 51:1-4.
9 Hati Daud benar-benar hancur. Yehuwa mengampuni dosanya dan menjatuhkan hukuman yang lebih ringan daripada yang seharusnya diterima oleh Daud dan Bat-syeba. Menurut Hukum Musa, Daud maupun Bat-syeba seharusnya dihukum mati. (Ulangan 22:22) Meskipun tidak luput dari semua konsekuensi dosa mereka, mereka dibiarkan hidup. (2 Samuel 12:13) Belas kasihan Allah ditunjukkan dengan mengampuni kesalahan, tetapi Yehuwa tetap melaksanakan hukuman yang patut.
10. Meskipun Yehuwa berbelaskasihan dalam menghakimi, mengapa kita tidak boleh menyalahgunakan belas kasihan-Nya?
10 Karena ”dosa masuk ke dalam dunia melalui satu orang [Adam]” dan ”upah yang dibayarkan oleh dosa adalah kematian”, semua manusia pantas mati. (Roma 5:12; 6:23) Alangkah bersyukurnya kita bahwa Yehuwa memperlihatkan belas kasihan sewaktu menghakimi! Tetapi, kita harus berhati-hati agar tidak menyalahgunakan belas kasihan Allah. ”Segala jalan [Yehuwa] adil,” kata Ulangan 32:4. Sewaktu mengaruniakan belas kasihan, Allah tidak mengabaikan standar keadilan-Nya yang sempurna.
11. Bagaimana Yehuwa tetap menghormati keadilan sewaktu menangani Daud yang berdosa dengan Bat-syeba?
11 Sebelum Daud dan Bat-syeba bisa menerima keringanan dari hukuman mati, dosa mereka perlu diampuni. Para hakim di Israel tidak mempunyai wewenang untuk mengampuni dosa. Seandainya mereka dibiarkan menangani kasus itu, mereka tidak mempunyai pilihan lain kecuali menjatuhkan hukuman mati. Itulah tuntutan Hukum. Tetapi, mengingat perjanjian-Nya dengan Daud, Yehuwa ingin melihat apakah ada dasar untuk mengampuni dosa Daud. (2 Samuel 7:12-16) Oleh karena itu, Allah Yehuwa, ”Hakim segenap bumi” dan ”pemeriksa hati”, memutuskan untuk menangani sendiri masalah ini. (Kejadian 18:25; 1 Tawarikh 29:17) Allah bisa membaca hati Daud secara akurat, menilai ketulusan pertobatannya, dan mengaruniakan pengampunan.
12. Bagaimana manusia yang berdosa dapat memperoleh manfaat dari belas kasihan Allah?
12 Belas kasihan yang Yehuwa perlihatkan kepada kita, sehingga kita bisa dibebaskan dari hukuman mati akibat dosa warisan, selaras dengan keadilan-Nya. Agar dosa dapat diampuni tanpa melanggar keadilan, Yehuwa menyediakan korban tebusan Putra-Nya, Yesus Kristus—pernyataan belas kasihan terbesar sepanjang masa. (Matius 20:28; Roma 6:22, 23) Untuk memperoleh manfaat dari belas kasihan Allah, yang bisa menyelamatkan kita dari hukuman akibat dosa warisan, kita harus ’memperlihatkan iman akan Putra’.—Yohanes 3:16, 36.
Allah yang Berbelaskasihan dan Adil
13, 14. Apakah belas kasihan mengencerkan keadilan Allah? Jelaskan.
13 Meskipun standar keadilan Yehuwa tidak dilanggar, apakah belas kasihan-Nya dengan satu atau lain cara mempengaruhi keadilan-Nya? Apakah belas kasihan mengencerkan atau melunakkan keadilan ilahi? Sama sekali tidak.
14 Melalui nabi Hosea, Yehuwa memberi tahu bangsa Israel, ”Aku akan menjadikan engkau istriku untuk waktu yang tidak tertentu, dan aku akan menjadikan engkau istriku dalam keadilbenaran, dalam keadilan, dalam kebaikan hati yang penuh kasih, dan dalam belas kasihan.” (Hosea 2:19) Kata-kata ini jelas memperlihatkan bahwa belas kasihan Yehuwa selalu ditunjukkan selaras dengan sifat-sifat-Nya yang lain, termasuk keadilan. Yehuwa adalah ”Allah yang berbelaskasihan dan murah hati, . . . mengampuni kesalahan dan pelanggaran dan dosa, tetapi ia sekali-kali tidak akan membebaskan orang dari hukuman”. (Keluaran 34:6, 7) Yehuwa adalah Allah yang berbelaskasihan dan juga adil. Mengenai Dia, Alkitab menyatakan, ”Gunung Batu, sempurna kegiatannya, sebab segala jalannya adil.” (Ulangan 32:4) Keadilan Allah sempurna, demikian pula belas kasihan-Nya. Yang satu tidak lebih unggul daripada yang lain, dan yang satu tidak diperlukan untuk melunakkan yang lain. Sebaliknya, kedua sifat ini bekerja sama dengan keselarasan yang sempurna.
15, 16. (a) Apa yang memperlihatkan bahwa keadilan Allah tidak kejam? (b) Sewaktu Yehuwa melaksanakan penghakiman atas sistem fasik ini, para penyembah-Nya dapat yakin akan hal apa?
15 Keadilan Yehuwa tidak kejam. Keadilan hampir selalu berkaitan dengan kasus hukum, dan penghakiman biasanya menuntut agar hukuman yang setimpal dilaksanakan atas pelaku kesalahan. Tetapi, keadilan Allah juga dapat menghasilkan keselamatan bagi orang-orang yang layak. Misalnya, sewaktu orang-orang fasik di kota Sodom dan Gomora dimusnahkan, sang patriark Lot dan kedua putrinya diselamatkan.—Kejadian 19:12-26.
16 Kita dapat yakin bahwa sewaktu Yehuwa melaksanakan penghakiman atas sistem fasik sekarang ini, ”kumpulan besar” penyembah sejati-Nya, yang ”telah mencuci jubah mereka dan membuatnya putih dalam darah Anak Domba”, akan diselamatkan. Mereka akan ”keluar dari kesengsaraan besar”.—Penyingkapan 7:9-14.
Mengapa Harus Berbelaskasihan?
17. Apa alasan yang mendasar untuk berbelaskasihan?
17 Teladan Yehuwa dan Yesus Kristus benar-benar mengajar kita tentang apa sebenarnya belas kasihan itu. Amsal 19:17 memberi kita alasan yang mendasar untuk berbelaskasihan, dengan menyatakan, ”Ia yang mengasihani orang kecil memberikan pinjaman kepada Yehuwa, dan perlakuannya akan dibalaskan kepadanya oleh Dia.” Yehuwa senang apabila kita meniru Dia dan Putra-Nya dengan berbelaskasihan ketika berurusan dengan satu sama lain. (1 Korintus 11:1) Dan, orang lain pun akan tergerak untuk berbelaskasihan, sebab belas kasihan melahirkan belas kasihan.—Lukas 6:38.
18. Mengapa kita harus berupaya keras untuk berbelaskasihan?
18 Belas kasihan adalah paduan dari banyak sifat yang baik, antara lain kemurahan hati, kasih, kebaikan hati, dan kebaikan. Perasaan iba hati yang lembut atau simpati memotivasi tindakan belas kasihan. Meskipun Yehuwa tidak pernah mengkompromikan keadilan sewaktu menunjukkan belas kasihan, Ia lambat marah dan dengan sabar memberi para pelaku kesalahan cukup waktu untuk bertobat. (2 Petrus 3:9, 10) Karena itu, belas kasihan berkaitan dengan kepanjangsabaran. Karena belas kasihan merupakan gabungan dari banyak sifat yang baik, termasuk berbagai aspek buah roh Allah, dengan menunjukkan belas kasihan kita memiliki kesempatan untuk mengembangkan berbagai sifat baik ini. (Galatia 5:22, 23) Sungguh penting agar kita berupaya keras untuk berbelaskasihan!
”Berbahagialah yang Berbelaskasihan”
19, 20. Apa artinya belas kasihan dengan berkemenangan bersukacita atas penghakiman?
19 Yakobus sang murid memberi tahu kita mengapa kita harus selalu memperlakukan orang lain dengan belas kasihan. Ia menulis, ”Dengan berkemenangan, belas kasihan bersukaria atas penghakiman.” (Yakobus 2:13b) Yang Yakobus maksudkan adalah belas kasihan yang diperlihatkan penyembah Yehuwa terhadap orang lain. Belas kasihan dengan berkemenangan bersukacita atas penghakiman dalam arti bahwa ketika tiba waktunya seseorang harus ”memberikan pertanggungjawaban kepada Allah”, Yehuwa akan mempertimbangkan tindakan belas kasihannya dan mengampuni dia atas dasar korban tebusan Putra-Nya. (Roma 14:12) Tidak diragukan, salah satu alasan Daud memperoleh belas kasihan atas dosanya dengan Bat-syeba adalah karena Daud sendiri adalah orang yang penuh belas kasihan. (1 Samuel 24:4-7) Sebaliknya, ”orang yang tidak mempraktekkan belas kasihan akan dihakimi tanpa belas kasihan”. (Yakobus 2:13a) Tidaklah mengherankan bahwa orang yang ”tidak berbelaskasihan” disebutkan di antara orang-orang yang Allah anggap ”patut mati”!—Roma 1:31, 32.
20 Dalam Khotbah di Gunung, Yesus mengatakan, ”Berbahagialah yang berbelaskasihan, karena mereka akan mendapat belas kasihan.” (Matius 5:7) Kata-kata ini dengan tandas menunjukkan bahwa orang yang ingin memperoleh belas kasihan Allah juga harus berbelaskasihan. Artikel berikut akan membahas bagaimana kita dapat memperlihatkan belas kasihan dalam kehidupan sehari-hari.
-
-
Praktekkan Belas Kasihan—Caranya?Menara Pengawal—2007 | 15 September
-
-
Praktekkan Belas Kasihan—Caranya?
”Biarlah kita melakukan apa yang baik untuk semua orang, tetapi teristimewa untuk mereka yang adalah saudara kita dalam iman.”—GALATIA 6:10.
1, 2. Apa yang kita pelajari mengenai belas kasihan dari parabel tentang orang Samaria yang baik hati?
SEWAKTU bercakap-cakap dengan Yesus, seorang ahli Hukum bertanya, ”Siapa sesungguhnya sesamaku?” Sebagai jawaban, Yesus menceritakan parabel ini, ”Seorang pria turun dari Yerusalem ke Yerikho dan jatuh ke tangan perampok-perampok, yang melucuti serta memukuli dia, lalu pergi, dengan meninggalkan dia setengah mati. Lalu, secara kebetulan, seorang imam turun melalui jalan itu, tetapi, sewaktu ia melihat dia, ia melewatinya dari seberang jalan. Demikian pula dengan seorang Lewi, sewaktu sampai ke tempat itu dan melihat dia, melewatinya dari seberang jalan. Tetapi seorang Samaria yang melewati jalan itu datang kepadanya dan, ketika melihat dia, ia tergerak oleh rasa kasihan. Maka, ia menghampiri dia dan membalut luka-lukanya, menuanginya dengan minyak dan anggur. Lalu ia menaikkan dia ke atas binatang miliknya dan membawa dia ke sebuah penginapan dan merawat dia. Dan, hari berikutnya ia mengeluarkan dua dinar, memberikannya kepada pengurus penginapan, dan mengatakan, ’Rawatlah dia, dan apa pun yang engkau belanjakan lebih dari ini, aku akan membayarmu kembali pada waktu aku datang kembali ke sini.’” Kemudian, Yesus bertanya kepada si pendengar, ”Siapa di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, yang menjadikan dirinya sesama bagi pria yang jatuh ke tangan perampok-perampok itu?” Pria itu menjawab, ”Orang yang bertindak dengan penuh belas kasihan kepada dia.”—Lukas 10:25, 29-37a.
2 Perlakuan orang Samaria terhadap pria yang terluka tersebut memberikan contoh yang sangat jelas tentang apa sebenarnya belas kasihan itu. Karena tergerak oleh rasa kasihan, atau iba hati, orang Samaria itu berbuat sesuatu yang meringankan penderitaan pria yang malang tersebut sekalipun ia tidak mengenalnya. Kebangsaan, agama, atau budaya bukan penghalang untuk memperlihatkan belas kasihan. Setelah memberikan parabel tersebut, Yesus menasihati pendengarnya, ”Pergilah dan engkau sendiri lakukanlah yang sama.” (Lukas 10:37b) Kita dapat mencamkan nasihat itu dan berupaya untuk berbelaskasihan kepada orang lain. Dengan cara apa saja kita bisa mempraktekkan belas kasihan dalam kehidupan sehari-hari?
”Jika Seorang Saudara . . . dalam Keadaan Telanjang”
3, 4. Mengapa khususnya penting untuk mempraktekkan belas kasihan di dalam sidang Kristen?
3 ”Selama kita mempunyai waktu yang baik untuk itu,” kata rasul Paulus, ”biarlah kita melakukan apa yang baik untuk semua orang, tetapi teristimewa untuk mereka yang adalah saudara kita dalam iman.” (Galatia 6:10) Karena itu, pertama-tama mari kita bahas bagaimana kita bisa melakukan banyak perbuatan belas kasihan kepada rekan seiman.
4 Ketika menasihati orang Kristen sejati untuk berbelaskasihan kepada satu sama lain, sang murid Yakobus menulis, ”Orang yang tidak mempraktekkan belas kasihan akan dihakimi tanpa belas kasihan.” (Yakobus 2:13) Konteks kata-kata terilham itu memberi tahu kita beberapa cara mempraktekkan belas kasihan. Di Yakobus 1:27, misalnya, kita membaca, ”Bentuk ibadat yang bersih dan tidak tercemar dari sudut pandangan Allah dan Bapak kita adalah ini: mengurus para yatim piatu dan janda-janda dalam kesengsaraan mereka, dan menjaga agar dirinya tidak dinodai oleh dunia.” Yakobus 2:15, 16 menyatakan, ”Jika seorang saudara atau saudari berada dalam keadaan telanjang dan tidak mempunyai cukup makanan sehari-hari, namun salah seorang dari antara kamu mengatakan kepada mereka, ’Pergilah dengan damai, hangatkanlah dirimu dan makanlah sampai kenyang’, tetapi kamu tidak memberi mereka apa yang dibutuhkan tubuh mereka, apakah manfaatnya?”
5, 6. Bagaimana kita dapat melakukan banyak perbuatan belas kasihan kepada rekan seiman di sidang setempat?
5 Memperhatikan orang lain dan membantu orang yang membutuhkan adalah ciri agama sejati. Sebagai penganut ibadat sejati, kita tidak bisa sekadar mengatakan kepada orang yang malang semoga keadaannya baik-baik saja. Tetapi, perasaan iba hati yang lembut akan menggerakkan kita berbuat sesuatu demi orang yang sangat membutuhkan. (1 Yohanes 3:17, 18) Ya, perbuatan belas kasihan yang perlu sering kita lakukan mencakup menyediakan makanan untuk orang sakit, membantu para lansia melakukan pekerjaan di rumah, menyediakan transportasi ke perhimpunan jika perlu, dan tidak pelit terhadap orang yang layak dibantu.—Ulangan 15:7-10.
6 Yang lebih penting daripada pemberian materi adalah pemberian rohani untuk membantu para anggota sidang Kristen yang sedang berkembang. Kita dinasihati untuk ’dengan perkataan menghibur jiwa-jiwa yang tertekan, mendukung orang yang lemah’. (1 Tesalonika 5:14) ”Wanita-wanita yang sudah berumur” dianjurkan untuk menjadi ”guru dari apa yang baik”. (Titus 2:3) Mengenai para pengawas Kristen, Alkitab menyatakan, ”Masing-masing akan menjadi seperti tempat perlindungan dari angin dan tempat persembunyian dari badai hujan.”—Yesaya 32:2.
7. Dari murid-murid di Antiokhia Siria, apa yang kita pelajari tentang menunjukkan belas kasihan?
7 Selain memperhatikan janda, anak yatim, dan orang yang membutuhkan bantuan serta anjuran di sidang setempat, sidang-sidang abad pertama kadang-kadang mengorganisasi bantuan kemanusiaan demi rekan seiman di tempat lain. Sebagai contoh, sewaktu nabi Agabus menubuatkan bahwa ”bala kelaparan yang hebat akan segera menimpa seluruh bumi yang berpenduduk”, murid-murid di Antiokhia Siria ”menentukan, masing-masing sesuai dengan kemampuannya, untuk melaksanakan pelayanan dengan mengirimkan bantuan kepada saudara-saudara yang tinggal di Yudea”. Bantuan ini dikirim kepada para penatua di sana ”melalui tangan Barnabas dan Saul”. (Kisah 11:28-30) Bagaimana dewasa ini? ”Budak yang setia dan bijaksana” telah mengorganisasi panitia-panitia bantuan kemanusiaan untuk mengurus saudara-saudari kita yang mungkin terkena dampak bencana alam, seperti angin topan, gempa bumi, atau tsunami. (Matius 24:45) Satu cara yang baik untuk berbelaskasihan adalah dengan sukarela menyumbangkan waktu, energi, dan sumber daya guna mendukung pengaturan itu.
”Jika Kamu Terus Memperlihatkan Sikap Pilih Kasih”
8. Bagaimana sikap pilih kasih menghambat belas kasihan?
8 Yakobus memperingatkan kita terhadap sifat yang menghambat belas kasihan dan ”hukum raja”, yaitu kasih, dengan menulis, ”Jika kamu terus memperlihatkan sikap pilih kasih, kamu berbuat dosa, sebab kamu ditegur oleh hukum itu sebagai pelanggar.” (Yakobus 2:8, 9) Apabila kita berbuat baik kepada seseorang karena ia kaya atau terkemuka, kita bisa menjadi kurang peka terhadap ”jeritan orang kecil”. (Amsal 21:13) Sikap pilih kasih memadamkan semangat belas kasihan. Kita mempraktekkan belas kasihan dengan tidak berlaku berat sebelah.
9. Mengapa tidaklah salah untuk memperlihatkan perhatian istimewa kepada orang yang layak?
9 Apakah itu berarti kita tidak boleh memberikan perhatian istimewa kepada siapa pun? Tentu saja tidak. Mengenai rekan sekerjanya, Epafroditus, rasul Paulus menulis kepada orang-orang Kristen di Filipi, ”Teruslah hormati orang-orang semacam itu.” Mengapa? ”Karena demi pekerjaan Tuan, ia nyaris mati, mempertaruhkan jiwanya dalam bahaya, untuk sepenuhnya menggantikan kamu yang tidak berada di sini untuk memberikan pelayanan pribadi kepadaku.” (Filipi 2:25, 29, 30) Pelayanan yang Epafroditus lakukan dengan setia patut dihargai. Selain itu, menurut 1 Timotius 5:17, ”Biarlah para tua-tua yang memimpin dengan baik dianggap layak untuk dihormati dua kali lipat, teristimewa mereka yang bekerja keras dalam hal berbicara dan mengajar.” Sifat-sifat rohani yang baik juga layak dihargai. Memperlihatkan perhatian demikian bukan sikap pilih kasih.
”Hikmat yang Datang dari Atas . . . Penuh Belas Kasihan”
10. Mengapa kita harus mengendalikan lidah?
10 Yakobus mengatakan tentang lidah, ”Ia adalah sesuatu yang mencelakakan dan sukar dikendalikan, penuh racun yang mematikan. Dengan lidah kita mengagungkan Yehuwa, yakni sang Bapak, namun dengan lidah kita juga mengutuk manusia yang telah dijadikan ’sesuai dengan rupa Allah’. Dari mulut yang sama keluar berkat dan kutukan.” Dalam konteks ini, Yakobus menambahkan, ”Jika ada kecemburuan yang pahit dan sifat suka bertengkar dalam hatimu, janganlah membual dan berdusta menentang kebenaran. Ini bukan hikmat yang datang dari atas, melainkan bumiah, bersifat binatang, berkaitan dengan hantu-hantu. Karena jika ada kecemburuan dan sifat suka bertengkar, di sana ada kekacauan dan segala perkara keji. Tetapi, hikmat yang datang dari atas adalah pertama-tama murni, lalu suka damai, bersikap masuk akal, siap untuk taat, penuh belas kasihan dan buah yang baik, tidak membeda-bedakan orang, tidak munafik.”—Yakobus 3:8-10a, 14-17.
11. Bagaimana kita dapat berbelaskasihan dalam penggunaan lidah?
11 Karena itu, cara kita menggunakan lidah menjadi petunjuk apakah kita mempunyai hikmat yang ”penuh belas kasihan”. Apa yang tersingkap tentang diri kita seandainya kita membual, berdusta, atau menyebarkan gosip yang merugikan karena iri hati atau sifat suka bertengkar? Mazmur 94:4 berkata, ”Semua orang yang suka mencelakakan terus membual mengenai dirinya.” Dan, betapa cepatnya gosip yang merugikan dapat merusak reputasi baik orang yang tidak bersalah! (Mazmur 64:2-4) Pikirkan juga kerugian akibat ”saksi palsu [yang] melontarkan dusta semata”. (Amsal 14:5; 1 Raja 21:7-13) Setelah membahas penyalahgunaan lidah, Yakobus mengatakan, ”Saudara-saudaraku, tidaklah patut bahwa hal-hal itu terus berlangsung dengan cara ini.” (Yakobus 3:10b) Untuk benar-benar berbelaskasihan, kita harus menggunakan lidah kita secara murni, suka damai, dan masuk akal. Yesus mengatakan, ”Aku memberi tahu kamu bahwa setiap perkataan yang tidak menguntungkan yang diucapkan manusia, mereka harus memberikan pertanggungjawaban mengenai hal itu pada Hari Penghakiman.” (Matius 12:36) Sungguh penting agar kita berbelaskasihan dalam penggunaan lidah!
’Mengampuni Pelanggaran’
12, 13. (a) Apa yang kita pelajari tentang belas kasihan dari parabel mengenai budak yang mempunyai utang yang besar kepada majikannya? (b) Apa artinya mengampuni saudara kita ”sampai tujuh puluh tujuh kali”?
12 Parabel Yesus tentang budak yang berutang 60.000.000 dinar kepada majikannya, seorang raja, memperlihatkan cara lain untuk berbelaskasihan. Karena tidak bisa membayar utangnya, budak itu memohon belas kasihan. ”Digerakkan oleh rasa kasihan”, majikan dari budak itu mengampuni, atau menghapus, utangnya. Tetapi, setelah budak itu keluar dan bertemu dengan sesama budak yang berutang hanya seratus dinar kepadanya, tanpa belas kasihan ia menjebloskannya ke penjara. Sewaktu sang majikan mendengar hal itu, ia memanggil budak yang telah diampuni dan mengatakan kepadanya, ”Budak yang fasik, aku membatalkan semua utang itu untukmu, pada waktu engkau memohon kepadaku. Bukankah seharusnya engkau pun menaruh belas kasihan kepada rekan budakmu, seperti aku juga menaruh belas kasihan kepadamu?” Lalu, majikan itu menyerahkan dia kepada para penjaga penjara. Yesus mengakhiri parabel itu, ”Dengan cara yang sama Bapak surgawiku akan memperlakukan kamu, jika kamu masing-masing tidak mengampuni saudaranya dari hatimu.”—Matius 18:23-35.
13 Betapa tandasnya parabel di atas menunjukkan bahwa berbelaskasihan juga berarti siap mengampuni! Yehuwa telah mengampuni kita dari utang dosa yang luar biasa besar. Tidakkah kita seharusnya juga ”mengampuni orang-orang atas pelanggaran mereka”? (Matius 6:14, 15) Sebelum Yesus menceritakan parabel tentang budak yang tidak berbelaskasihan itu, Petrus bertanya kepadanya, ”Tuan, berapa kali saudaraku berdosa terhadap aku dan aku harus mengampuni dia? Sampai tujuh kali?” Jawab Yesus, ”Aku mengatakan kepadamu, bukan: Sampai tujuh kali, tetapi: Sampai tujuh puluh tujuh kali.” (Matius 18:21, 22) Ya, orang yang berbelaskasihan siap mengampuni ”sampai tujuh puluh tujuh kali”, yakni tanpa batas.
14. Menurut Matius 7:1-4, bagaimana kita dapat mempraktekkan belas kasihan setiap hari?
14 Dalam Khotbah di Gunung, Yesus memperlihatkan cara lain lagi untuk berbelaskasihan, ”Berhentilah menghakimi agar kamu tidak dihakimi; sebab dengan penghakiman yang kamu gunakan untuk menghakimi, kamu akan dihakimi . . . Mengapa engkau melihat jerami di mata saudaramu, tetapi tidak memperhatikan kasau di matamu sendiri? Atau bagaimana engkau dapat mengatakan kepada saudaramu, ’Izinkanlah aku mengeluarkan jerami dari matamu’; sedangkan, lihat! ada kasau dalam matamu sendiri?” (Matius 7:1-4) Karena itu, kita dapat mempraktekkan belas kasihan setiap hari dengan bersabar terhadap kelemahan orang lain, tidak suka menghakimi atau terlalu kritis.
”Melakukan Apa yang Baik untuk Semua Orang”
15. Mengapa tindakan belas kasihan tidak hanya diperlihatkan kepada rekan-rekan seiman?
15 Meskipun buku Yakobus menyoroti belas kasihan di antara rekan seiman, ini tidak berarti kita hanya mempraktekkannya di dalam sidang Kristen. ”Yehuwa itu baik kepada semua orang,” kata Mazmur 145:9, ”dan belas kasihannya ada bagi segala hasil karyanya.” Kita dinasihati untuk ’menjadi peniru Allah’ dan ”melakukan apa yang baik untuk semua orang”. (Efesus 5:1; Galatia 6:10) Walaupun kita tidak mengasihi ”dunia maupun perkara-perkara yang ada di dunia”, kita tidak masa bodoh terhadap kebutuhan orang-orang di dunia ini.—1 Yohanes 2:15.
16. Faktor apa saja yang mempengaruhi cara kita berbelaskasihan kepada orang lain?
16 Sebagai orang Kristen, kita tidak ragu-ragu memberikan bantuan apa pun kepada orang yang menderita akibat ”kejadian yang tidak terduga” atau yang mengalami musibah. (Pengkhotbah 9:11) Tentu saja, keadaanlah yang menentukan apa dan seberapa banyak yang dapat kita lakukan. (Amsal 3:27) Sewaktu memberikan bantuan materi, kita perlu memastikan bahwa perbuatan yang tampaknya baik tidak mendukung kemalasan. (Amsal 20:1, 4; 2 Tesalonika 3:10-12) Maka, orang yang benar-benar berbelaskasihan bertindak berdasarkan perasaan iba hati yang lembut atau simpati, dan juga akal sehat.
17. Apa cara terbaik untuk berbelaskasihan kepada orang-orang di luar sidang Kristen?
17 Cara terbaik untuk berbelaskasihan kepada orang-orang di luar sidang Kristen adalah menceritakan kebenaran Alkitab kepada mereka. Mengapa? Karena mayoritas umat manusia dewasa ini berjalan tak tentu arah dalam kegelapan rohani. Karena tidak tahu caranya mengatasi problem dan tidak memiliki harapan pasti untuk masa depan, kebanyakan orang ”dikuliti dan dibuang seperti domba-domba tanpa gembala”. (Matius 9:36) Firman Allah bisa menjadi ’pelita bagi kaki mereka’, membantu mereka mengatasi problem kehidupan. Firman Allah juga dapat menjadi ’terang bagi jalan mereka’ karena Alkitab menubuatkan maksud-tujuan Allah untuk masa depan, sehingga ada dasar untuk memiliki harapan yang cerah. (Mazmur 119:105) Sungguh besar hak istimewa kita untuk menyampaikan berita kebenaran yang menakjubkan itu kepada orang-orang yang sangat membutuhkannya! Mengingat semakin dekatnya ”kesengsaraan besar”, sekaranglah waktunya untuk dengan bersemangat ikut memberitakan Kerajaan dan membuat murid. (Matius 24:3-8, 21, 22, 36-41; 28:19, 20) Inilah tindakan belas kasihan yang paling penting.
Berikanlah ’Hal-Hal yang Ada di Dalam’
18, 19. Mengapa kita harus berupaya memperbanyak perbuatan belas kasihan dalam kehidupan kita?
18 ”Berikanlah sebagai pemberian belas kasihan hal-hal yang ada di dalamnya,” kata Yesus. (Lukas 11:41) Perbuatan baik dapat benar-benar dikatakan sebagai tindakan belas kasihan jika itu merupakan pemberian yang berasal dari dalam—dari hati yang pengasih dan rela. (2 Korintus 9:7) Dalam dunia yang sarat dengan kekejaman, sifat mementingkan diri, dan ketidakpedulian terhadap penderitaan dan problem orang lain, alangkah menyegarkannya belas kasihan demikian!
19 Maka, marilah kita berupaya memperbanyak perbuatan belas kasihan dalam kehidupan kita. Semakin kita berbelaskasihan, semakin kita menjadi seperti Allah. Dengan demikian, kehidupan kita akan benar-benar bermakna dan memuaskan.—Matius 5:7.
-