-
Kelembutan—Apa Manfaatnya bagi Kita?Menara Pengawal (Edisi Pelajaran)—2020 | Mei
-
-
Kalau kita lembut, orang akan senang bergaul dengan kita. Seperti yang disebutkan oleh Sara di awal artikel ini, kita pasti merasa nyaman bergaul dengan orang yang lembut. Contoh orang yang sangat lembut dan baik hati adalah Yesus. (2 Kor. 10:1) Bahkan anak-anak pun mau mendekati Yesus meski mereka belum mengenal dia. Padahal, anak-anak biasanya tidak mau bergaul dengan orang yang tidak mereka kenal.—Mrk. 10:13-16.
Kalau kita lembut, itu bermanfaat untuk kita dan orang-orang di sekitar kita. Mengapa? Karena kalau kita lembut, kita tidak akan cepat kesal atau marah-marah. (Ams. 16:32) Dengan begitu, kita tidak akan menyakiti orang lain, termasuk orang yang kita sayangi. Dan karena tidak menyakiti orang lain, kita tidak akan merasa bersalah.
-
-
Kelembutan—Apa Manfaatnya bagi Kita?Menara Pengawal (Edisi Pelajaran)—2020 | Mei
-
-
Saat suami istri berbeda pendapat, sikap yang lembut bisa membuat keadaan tetap damai. Robert, seorang saudara di Australia, berkata, ”Sewaktu saya sedang marah, kadang saya mengatakan sesuatu yang membuat istri saya sedih, padahal saya tidak bermaksud untuk melakukan itu. Tapi, kata-kata itu tidak bisa ditarik lagi. Saya menyesal sekali karena membuat dia sakit hati.”
Kita semua sering ”salah bicara”, dan kata-kata kita yang tajam bisa membuat hubungan kita dengan teman hidup terganggu. (Yak. 3:2) Tapi, kalau kita memiliki kelembutan, kita bisa tetap tenang dan mengendalikan kata-kata kita saat ada perbedaan pendapat.—Ams. 17:27.
Robert berupaya sungguh-sungguh untuk selalu bersikap tenang dan mengendalikan diri. Apa hasilnya? Dia berkata, ”Sekarang, kalau kami berbeda pendapat, saya berupaya untuk mendengarkan baik-baik, berbicara dengan lembut, dan tidak cepat kesal. Hubungan saya dengan istri saya jadi jauh lebih baik.”
Kalau kita lembut, kita bisa punya hubungan yang baik dengan orang lain. Orang yang gampang tersinggung biasanya tidak punya banyak teman. Sebaliknya, kalau kita bersikap lembut, kita bisa ”menjaga . . . ikatan perdamaian yang mempersatukan”. (Ef. 4:2, 3) Cathy, yang disebutkan sebelumnya, berkata, ”Dengan bersikap lembut, saya bisa menikmati pergaulan dengan siapa saja, bahkan dengan orang-orang yang sikapnya kurang baik.”
Kalau kita lembut, kita bisa merasa damai. Alkitab mengatakan bahwa ”hikmat dari atas” bisa membuat kita lembut dan merasa damai. (Yak. 3:13, 17) Ya, dengan bersikap lembut, kita bisa punya ”hati yang tenang”. (Ams. 14:30) Seorang saudara bernama Martin berupaya keras untuk bersikap lembut. Apa hasilnya? Dia berkata, ”Sekarang, saya tidak lagi bersikap kaku dan suka memaksa. Saya juga merasa lebih damai dan bahagia.”
-