PERPUSTAKAAN ONLINE Menara Pengawal
PERPUSTAKAAN ONLINE
Menara Pengawal
Indonesia
  • ALKITAB
  • PUBLIKASI
  • PERHIMPUNAN
  • Betapa Bahagia Mereka yang Lemah Lembut!
    Menara Pengawal—1991 | 15 Oktober
    • Betapa Bahagia Mereka yang Lemah Lembut!

      ”Berbahagialah mereka yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki [”mewarisi”, ”NW”] bumi.”​—MATIUS 5:5.

      1. Sifat lemah lembut apa yang Yesus bicarakan dalam Khotbah di Bukit?

      DALAM Khotbah di Bukit, Kristus Yesus berkata, ”Berbahagialah mereka yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki [”mewarisi,” NW] bumi.” (Matius 5:5) Sifat kelemahlembutan, atau kelembutan ini, bukanlah merupakan lapisan vernis dari keramahan yang munafik, juga bukan sekadar ciri pribadi yang wajar. Sebaliknya, ini merupakan kelemahlembutan dan kedamaian yang tulus di dalam batin yang diperlihatkan khususnya sebagai sambutan terhadap kehendak dan bimbingan Allah Yehuwa. Orang yang benar-benar lemah lembut memiliki perasaan bergantung yang tulus kepada Allah yang dicerminkan dalam tingkah laku yang lembut terhadap sesama manusia.​—Roma 12:17-19; Titus 3:1, 2.

      2. Mengapa Yesus menyebut orang yang lemah lembut berbahagia?

      2 Yesus menyebut orang yang lemah lembut berbahagia karena mereka akan mewarisi bumi. Sebagai Putra Allah yang benar-benar lemah lembut, Yesus adalah Pewaris Utama dari bumi. (Mazmur 2:8; Matius 11:29; Ibrani 1:1, 2; 2:5-9) Namun sebagai ”anak manusia” Almasih, ia akan memiliki rekan-rekan penguasa dalam Kerajaannya di surga. (Daniel 7:13, 14, 22, 27) Karena menjadi ”ahli-ahli waris bersama dengan” Kristus, orang-orang yang lemah lembut ini akan ikut serta mewarisi bumi. (Roma 8:17) Orang-orang lain yang lemah lembut seperti domba akan menikmati kehidupan kekal di Firdaus dalam kawasan Kerajaan di bumi. (Matius 25:33, 34, 46; Lukas 23:43) Prospek tersebut membuat mereka sungguh berbahagia.

      3. Allah dan Kristus memberikan teladan apa sehubungan dengan kelemahlembutan?

      3 Pewaris Utama yang lemah lembut menerima bumi dari Bapaknya, Yehuwa, teladan terbaik dari sifat lemah lembut. Betapa sering Alkitab mengatakan bahwa Allah ”panjang sabar [”lambat marah,” NW], berlimpah kasihNya dan setiaNya”! (Keluaran 34:6; Nehemia 9:17; Mazmur 86:15) Ia memiliki kuasa luar biasa namun memperlihatkan sifat yang demikian lembut sehingga para penyembah-Nya dapat menghampiri Dia tanpa merasa takut. (Ibrani 4:16; 10:19-22) Putra Allah, yang ”lemah lembut dan rendah hati”, mengajar pengikut-pengikutnya untuk bersifat lembut. (Matius 11:29; Lukas 6:27-29) Selanjutnya, hamba-hamba yang lemah lembut dari Allah dan Putra-Nya meniru dan menulis tentang ”Kristus yang lemah lembut dan ramah”.—2 Korintus 10:1; Roma 1:1; Yakobus 1:1, 2; 2 Petrus 1:1.

      4. (a) Menurut Kolose 3:12, apa yang telah dilakukan oleh mereka yang benar-benar lemah lembut? (b) Pertanyaan apa saja patut kita perhatikan?

      4 Dewasa ini, orang-orang kristiani yang terurap maupun rekan-rekan mereka di bumi perlu berlaku lemah lembut. Karena telah membuang semua kejahatan, ketidakjujuran, kemunafikan, iri hati, dan fitnah, mereka telah dibantu oleh roh suci Allah untuk diperbaharui dalam ’roh yang menggerakkan pikiran mereka’. (Efesus 4:22-24; 1 Petrus 2:1, 2) Mereka didesak untuk mengenakan pada diri mereka ”belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran”. (Kolose 3:12) Namun tepatnya apa yang tercakup dalam kelemahlembutan? Mengapa penting untuk bersikap lemah lembut? Dan bagaimana sifat ini dapat menambah kebahagiaan kita?

      Meneliti Kelemahlembutan dengan Lebih Saksama

      5. Bagaimana kelemahlembutan dapat didefinisikan?

      5 Orang yang lemah lembut, halus budi bahasa dan peri lakunya. Dalam beberapa terjemahan Alkitab, adalah kata sifat pra·ysʹ yang diterjemahkan ”lembut”, ”halus”, ”lemah lembut”, dan ”ramah”. Dalam bahasa Yunani klasik, kata sifat pra·ysʹ dapat diterapkan pada angin sepoi-sepoi atau suara yang lembut. Itu dapat juga memaksudkan seseorang yang sangat ramah. Sarjana W. E. Vine berkata, ”Penggunaan [kata benda pra·yʹtes] pertama-tama dan terutama ditujukan terhadap Allah. Sifat atau perangai demikianlah yang membuat kita tertarik terhadap cara Ia berurusan dengan kita, dan karena itu kita tidak membantahnya atau menolaknya; itu sangat berkaitan dengan kata tapeinophrosune [kerendahan hati].”

      6. Mengapa dapat dikatakan bahwa kelemahlembutan bukanlah kelemahan?

      6 Kelemahlembutan bukanlah merupakan kelemahan. ”Terdapat kelembutan dalam praus,” tulis sarjana William Barclay, ”namun di balik kelembutan terdapat kekuatan baja.” Dibutuhkan kekuatan untuk bersikap lemah lembut. Misalnya, dibutuhkan kekuatan untuk berlaku lembut di bawah provokasi atau pada waktu ditindas. Putra Allah yang lemah lembut, Kristus Yesus, memberikan teladan yang baik dalam hal ini. ”Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia [Allah Yehuwa], yang menghakimi dengan adil.” (1 Petrus 2:23) Seperti Yesus yang lemah lembut, kita dapat yakin bahwa Allah akan berurusan dengan musuh-musuh dan para penindas kita. (1 Korintus 4:12, 13) Kita dapat tetap tenang seperti halnya Stefanus yang dianiaya, dengan menyadari bahwa jika kita setia, Yehuwa akan menopang kita dan tidak membiarkan apa pun merugikan kita secara permanen.—Mazmur 145:14; Kisah 6:15; Filipi 4:6, 7, 13.

      7. Apa yang ditunjukkan oleh Amsal 25:28 mengenai seseorang yang tidak memiliki kelemahlembutan?

      7 Yesus lemah lembut, namun ia memperlihatkan kekuatan dalam berdiri teguh mempertahankan apa yang benar. (Matius 21:5; 23:13-39) Siapa pun yang memiliki ”pikiran Kristus” akan seperti dia dalam hal ini. (1 Korintus 2:16) Jika seseorang tidak lembut, ia tidak seperti Kristus. Sebaliknya, ia akan cocok dengan kata-kata, ”Orang yang tak dapat mengendalikan diri adalah seperti kota yang roboh temboknya.” (Amsal 25:28) Orang seperti itu yang kurang lemah lembut mudah dikalahkan oleh pikiran-pikiran buruk yang dapat mendorong dia bertindak dengan cara yang tidak benar. Meskipun seorang kristiani yang lemah lembut bukan pengecut, ia tetap tahu bahwa ”jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan marah”.—Amsal 15:1.

      8. Mengapa tidak mudah untuk bersifat lemah lembut?

      8 Tidaklah mudah untuk bersikap lemah lembut, karena kita mewarisi ketidaksempurnaan dan dosa. (Roma 5:12) Jika kita adalah hamba-hamba Yehuwa, kita juga harus berjuang melawan kuasa-kuasa roh yang mungkin menguji kelemahlembutan kita melalui penindasan. (Efesus 6:12) Dan kebanyakan dari antara kita bekerja di tengah-tengah orang-orang yang memiliki roh yang kasar dari dunia ini yang berada dalam kuasa si Iblis. (1 Yohanes 5:19) Maka bagaimana kita dapat memperkembangkan kelemahlembutan?

      Cara Memperkembangkan Kelemahlembutan

      9. Pandangan apa akan membantu kita mengembangkan kelemahlembutan?

      9 Keyakinan berdasarkan Alkitab bahwa kita dituntut untuk memperlihatkan kelemahlembutan akan membantu kita memperkembangkan sifat ini. Dari hari ke hari kita harus berupaya memperkembangkan kelemahlembutan. Kalau tidak, kita akan seperti orang-orang yang memandang kelemahlembutan sebagai kelemahan dan berpikir bahwa sukses diperoleh sebagai hasil sifat angkuh, kasar, bahkan kejam. Namun, Firman Allah mengutuk kesombongan, dan sebuah pepatah yang bijaksana berkata, ”Orang yang murah hati berbuat baik kepada diri sendiri, tetapi orang yang kejam menyiksa badannya sendiri.” (Amsal 11:17; 16:18) Orang akan menjauhi seorang yang kasar dan tidak ramah, bahkan jika mereka melakukan itu hanya karena tidak ingin disakiti oleh kekejamannya dan kurangnya kelemahlembutan.

      10. Jika kita lemah lembut, kita harus tunduk kepada apa?

      10 Agar bersifat lemah lembut, kita harus tunduk kepada pengaruh dari roh suci atau tenaga aktif Allah. Sebagaimana Yehuwa memungkinkan bumi ini mengeluarkan hasil-hasil ladang, demikian pula Ia memungkinkan hamba-hamba-Nya menghasilkan buah-buah dari roh-Nya, termasuk kelemahlembutan. Paulus menulis, ”Buah Roh ialah: kasih, sukacita, perdamaian, panjang sabar, kebaikan hati, kebaikan, iman, kelembutan dan pengendalian diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.” (Galatia 5:22, 23, NW) Ya, kelemahlembutan adalah salah satu buah roh Allah yang diperlihatkan oleh orang-orang yang menyenangkan hati-Nya. (Mazmur 51:10, 11) Dan kelemahlembutan dapat menghasilkan banyak perubahan! Sebagai gambaran: Ada seorang penjahat bernama Tony yang suka berkelahi, merampok orang, menyelundupkan narkotik, memimpin geng sepeda motor, dan sering dipenjarakan. Namun, karena memperoleh pengetahuan tentang Alkitab dan dengan bantuan roh Allah, ia berubah menjadi hamba Yehuwa yang bersikap ramah. Kisah hidup Tony merupakan hal yang khas. Namun, apa yang dapat dilakukan seseorang jika kurangnya kelemahlembutan merupakan sifat yang dominan dalam kepribadiannya?

      11. Dalam mengembangkan kelemahlembutan, peranan apa dimainkan oleh doa?

      11 Doa yang sungguh-sungguh memohon roh Allah dan buahnya berupa kelemahlembutan akan membantu kita memperkembangkan sifat ini. Kita mungkin perlu ’terus meminta’, seperti yang Yesus katakan, dan Allah Yehuwa akan meluluskan permintaan kita. Setelah menjelaskan bahwa bapak-bapak jasmani memberikan kepada anak-anak mereka hal-hal yang baik, Yesus berkata, ”Jika kamu yang [berdosa dan karena itu termasuk] jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepadaNya.” (Lukas 11:9-13) Doa dapat membantu untuk membuat kelemahlembutan menjadi sifat yang permanen dalam watak kita—suatu sifat yang menambah kebahagiaan kita dan teman sepergaulan kita.

      12. Mengapa dengan tetap mengingat bahwa manusia itu tidak sempurna akan membantu kita untuk berlaku lemah lembut?

      12 Terus mengingat bahwa manusia itu tidak sempurna dapat membantu kita bersikap lemah lembut. (Mazmur 51:6) Kita tidak dapat berpikir atau bertindak secara sempurna, sebagaimana halnya orang-orang lain, maka pasti kita harus memiliki empati dan memperlakukan mereka seperti cara kita ingin diperlakukan. (Matius 7:12) Menyadari bahwa kita semua membuat kesalahan harus mendorong kita untuk suka mengampuni dan lemah lembut dalam berurusan dengan orang-orang lain. (Matius 6:12-15; 18:21, 22) Bagaimanapun, bukankah kita berterima kasih bahwa Allah memperlihatkan kasih dan kelemahlembutan terhadap kita?—Mazmur 103:10-14.

      13. Bagaimana kita dapat dibantu untuk memupuk kelemahlembutan jika kita mengakui bahwa Allah telah membuat manusia sebagai insan bermoral yang bebas memilih?

      13 Mengakui bahwa Allah membuat manusia sebagai insan bermoral yang bebas memilih juga dapat membantu kita untuk memupuk kelemahlembutan. Hal ini tidak mengizinkan orang untuk mengabaikan hukum-hukum Yehuwa tanpa mendapat hukuman, namun memang tidak dilarang adanya variasi dalam selera, kesukaan, dan ketidaksukaan di antara umat-Nya. Maka marilah kita mengakui bahwa tidak seorang pun berkewajiban untuk menyesuaikan diri dengan pola yang kita anggap paling baik. Semangat ini akan membantu kita untuk bersifat lemah lembut.

      14. Sehubungan dengan kelemahlembutan, apa seharusnya tekad kita?

      14 Tekad untuk tidak meninggalkan kelemahlembutan akan membantu kita untuk memupuk sifat ini. Tunduk kepada pengaruh roh Yehuwa menghasilkan perubahan dalam cara kita berpikir. (Roma 12:2) Roh yang lembut dan seperti Kristus sekarang membantu kita untuk tidak terlibat dalam ”rupa-rupa hawa nafsu, keinginan, kemabukan, pesta pora, perjamuan minum dan penyembahan berhala yang terlarang”. Kita jangan sekali-kali meninggalkan kelemahlembutan karena alasan keuangan, sosial, atau hal-hal lain atau karena orang membuat pernyataan yang menghina mengenai kesalehan kita. (1 Petrus 4:3-5) Kita hendaknya tidak pernah membiarkan apa pun membuat kita melakukan ”perbuatan daging”, sehingga kita kehilangan kelemahlembutan kita dan gagal mewarisi Kerajaan Allah atau menikmati berkat-berkatnya. (Galatia 5:19-21) Marilah kita selalu menghargai hak istimewa menjadi umat Allah yang lemah lembut, tidak soal diurapi untuk kehidupan di surga atau memiliki harapan di bumi. Untuk tujuan itu, marilah kita mempertimbangkan beberapa manfaat dari kelemahlembutan.

      Manfaat dari Kelemahlembutan

      15. Menurut Amsal 14:30, mengapa bijaksana untuk berlaku lembut?

      15 Orang yang lemah lembut memiliki ketenangan hati, pikiran, dan tubuh. Hal ini demikian karena ia tidak ikut serta dalam persaingan, menjadi kesal karena tindakan orang lain, atau menyiksa diri dengan kekhawatiran yang tidak perlu. Kelembutan membantu dia mengendalikan emosinya, dan hal ini berfaedah secara mental dan fisik. Sebuah amsal berkata, ”Hati yang tenang menyegarkan tubuh, tetapi iri hati membusukkan tulang.” (Amsal 14:30) Tidak adanya kelemahlembutan dapat membawa kepada kemarahan yang dapat menaikkan tekanan darah atau mengakibatkan penyakit pada pencernaan, asma, penyakit mata, dan problem-problem lain. Orang kristiani yang lemah lembut menikmati berbagai manfaat, termasuk ”damai sejahtera Allah” yang melindungi hati dan daya mentalnya. (Filipi 4:6, 7) Betapa bijaksananya untuk bersifat lemah lembut!

      16-18. Kelemahlembutan memiliki pengaruh apa atas hubungan kita dengan orang-orang lain?

      16 Sifat kelemahlembutan memperbaiki hubungan kita dengan orang-orang lain. Mungkin dulu kita memiliki kebiasaan untuk memaksakan segala sesuatu agar tercapai keinginan kita. Mungkin orang menjadi marah kepada kita karena kita tidak memperlihatkan kerendahan hati dan kelemahlembutan. Di dalam keadaan demikian, kita hendaknya tidak merasa heran jika kita terus terlibat dalam berbagai pertengkaran. Namun, sebuah amsal mengatakan, ”Bila kayu habis, padamlah api; bila pemfitnah tak ada, redalah pertengkaran. Seperti arang untuk bara menyala dan kayu untuk api, demikianlah orang yang suka bertengkar untuk panasnya perbantahan.” (Amsal 26:20, 21) Jika kita lemah lembut, sebaliknya dari ’menambah kayu untuk api’ dan membuat orang lain marah, kita akan memiliki hubungan yang baik dengan mereka.

      17 Seorang yang lemah lembut kemungkinan besar memiliki sahabat-sahabat yang baik. Orang senang bergaul dengannya karena ia memiliki sikap yang positif, dan kata-katanya menyegarkan dan manis seperti madu. (Amsal 16:24) Demikianlah halnya dengan Yesus, yang dapat berkata, ”Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah padaKu, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan bebanKupun ringan.” (Matius 11:29, 30) Yesus tidak kasar, dan bebannya tidak berat. Mereka yang datang kepadanya diperlakukan dengan baik dan disegarkan secara rohani. Situasinya sama pada waktu kita bergaul dengan sahabat Kristen yang lemah lembut.

      18 Kelembutan membuat kita dikasihi oleh rekan-rekan seiman. Kebanyakan orang kristiani di Korintus merasa tertarik kepada Paulus karena ia memperlakukan mereka ’dengan kelemahlembutan dan keramahan Kristus’. (2 Korintus 10:1) Orang-orang di jemaat Tesalonika pasti telah menyambut sang rasul, karena ia guru yang lembut dan ramah. (1 Tesalonika 2:5-8) Tidak diragukan bahwa para penatua di Efesus telah belajar banyak dari Paulus dan sangat mengasihi dia. (Kisah 20:20, 21, 37, 38) Apakah saudara memperlihatkan kelemahlembutan yang membuat saudara dikasihi orang-orang lain?

      19. Bagaimana kelemahlembutan membantu umat Yehuwa untuk memelihara tempat mereka dalam organisasi-Nya?

      19 Sifat lemah lembut membantu umat Yehuwa untuk tunduk dan memelihara tempat mereka dalam organisasi-Nya. (Filipi 2:5-8, 12-14; Ibrani 13:17) Kelembutan menahan kita sehingga tidak mencari kehormatan, yang didasarkan atas keangkuhan dan melawan Allah. (Amsal 16:5) Seorang yang lembut tidak menganggap dirinya lebih tinggi dari rekan-rekan seiman, dan ia tidak mencoba merugikan mereka. (Matius 23:11, 12) Sebaliknya, ia menyadari keadaannya yang berdosa dan kebutuhannya akan persediaan Allah berupa tebusan.

      Kelembutan Memajukan Kebahagiaan

      20. Kelemahlembutan memiliki pengaruh apa atas kehidupan keluarga?

      20 Semua hamba Allah hendaknya mengingat bahwa kelemahlembutan adalah buah dari roh-Nya yang memajukan kebahagiaan. Misalnya, karena umat Yehuwa memperlihatkan sifat-sifat seperti kasih dan kelemahlembutan, ada banyak sekali keluarga yang bahagia di antara mereka. Apabila para suami dan istri memperlakukan satu sama lain dengan cara yang lembut, anak-anak mereka dibesarkan dalam lingkungan yang tenang, bukan dalam suatu keluarga yang penuh dengan kata-kata dan tindakan yang kasar. Jika seorang bapak memberikan nasihat kepada anak-anak dengan lemah lembut, hal ini memiliki pengaruh yang baik atas pikiran mereka yang muda, dan roh yang lembut kemungkinan menjadi bagian dari kepribadian mereka. (Efesus 6:1-4) Sifat yang lembut membantu suami untuk terus mengasihi istri. Hal itu membantu istri untuk tunduk kepada suami dan menggerakkan anak-anak untuk menaati orang-tua mereka. Kelembutan juga mendorong anggota-anggota keluarga untuk memiliki semangat suka mengampuni yang menambah kebahagiaan.—Kolose 3:13, 18-21.

      21. Sebagai ringkasan, nasihat apa yang diberikan oleh rasul Paulus di Efesus 4:1-3?

      21 Keluarga-keluarga dan orang yang lemah lembut memajukan kebahagiaan dalam sidang mereka. Karena itu, umat Yehuwa perlu mengerahkan upaya sungguh-sungguh untuk bersifat lemah lembut. Apakah saudara sedang melakukan hal tersebut? Rasul Paulus menasihati sesama orang kristiani terurap agar berjalan berpadanan dengan panggilan surgawi mereka, melakukan hal itu dengan ”rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu. Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera”. (Efesus 4:1-3) Orang-orang kristiani yang memiliki harapan hidup di bumi juga harus memperlihatkan kelemahlembutan dan sifat-sifat saleh lain. Inilah haluan yang membawa kebahagiaan sejati. Sungguh berbahagia mereka yang lemah lembut!

  • Kenakanlah Kelemahlembutan!
    Menara Pengawal—1991 | 15 Oktober
    • Kenakanlah Kelemahlembutan!

      ”Sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihiNya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran.”​—KOLOSE 3:12.

      1-3. Di Kolose 3:12-14, apa yang dikatakan rasul Paulus mengenai kelemahlembutan dan sifat-sifat ilahi lain?

      YEHUWA memberikan kepada umat-Nya pakaian kiasan yang paling baik. Sesungguhnya, semua orang yang ingin memperoleh perkenan-Nya harus mengenakan pakaian yang memiliki tenunan yang kokoh berupa kelemahlembutan. Sifat ini memberikan penghiburan karena akan mengurangi ketegangan dalam situasi yang penuh tekanan. Itu juga bersifat melindungi, karena dapat menjauhi pertengkaran.

      2 Rasul Paulus mendesak sesama rekan kristiani yang terurap, ”Sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihiNya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran.” (Kolose 3:12) Keterangan waktu dari kata Yunani yang diterjemahkan ”kenakanlah” menunjukkan tindakan yang harus diambil dengan perasaan mendesak. Orang-orang yang diurapi, yang telah dipilih, kudus, dan dikasihi Allah, tidak boleh menunda dalam mengenakan sifat-sifat demikian seperti kelemahlembutan.

      3 Paulus menambahkan, ”Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan [”Yehuwa”, NW] telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian. Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan.” (Kolose 3:13, 14) Karena adanya kasih, kelemahlembutan, dan sifat-sifat saleh lain, Saksi-Saksi Yehuwa dapat ”diam bersama dengan rukun!”​—Mazmur 133:1-3.

      Dibutuhkan Gembala-Gembala yang Lemah Lembut

      4. Orang-orang kristiani sejati mengenakan pakaian kiasan yang ditenun dari sifat-sifat apa?

      4 Kristiani sejati berupaya ’mematikan dalam diri mereka segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan’, dan mengerahkan upaya membuang pakaian tua apa pun yang memiliki tenunan berupa dendam, kemarahan, keburukan, percakapan yang mencemooh, dan kata-kata kotor. (Kolose 3:5-11) Mereka menanggalkan ”kepribadian yang lama” (secara harfiah, ”manusia lama”) dan mengenakan ”kepribadian yang baru” (atau, ”manusia baru”), pakaian yang cocok. (Efesus 4:22-24, Kingdom Interlinear) Pakaian mereka yang baru, ditenun dengan kebaikan hati, keramahan, kerendahan hati, kelemahlembutan, dan panjang sabar, membantu mereka menyelesaikan problem-problem dan menempuh kehidupan yang saleh.—Matius 5:9; 18:33; Lukas 6:36; Filipi 4:2, 3.

      5. Hal apa sehubungan dengan fungsi sidang Kristen membuatnya begitu menyenangkan untuk menjadi bagian darinya?

      5 Pria-pria yang dianggap sukses di dunia ini sering kali kasar, bahkan kejam. (Amsal 29:22) Di antara umat Yehuwa terdapat suasana berbeda yang menyegarkan! Berfungsinya sidang Kristen tidak seperti cara beberapa pria menjalankan suatu bisnis—cara yang efisien namun kasar yang membuat orang tidak berbahagia. Sebaliknya, merupakan sukacita untuk menjadi bagian dari sidang. Salah satu alasan adalah karena kelemahlembutan merupakan corak dari hikmat yang pada umumnya diperlihatkan oleh orang-orang kristiani dan khususnya oleh pria-pria yang memenuhi syarat untuk mengajar sesama rekan seiman. Ya, sukacita dihasilkan karena petunjuk dan nasihat yang diberikan oleh para penatua terlantik yang mengajar dengan ”hikmat yang lahir dari kelemahlembutan”.—Yakobus 3:13, NW.

      6. Mengapa para penatua Kristen harus bersifat lemah lembut?

      6 Semangat, atau sikap dominan, dari umat Allah menuntut agar pria-pria yang dipercayakan dengan pengawasan di sidang harus lemah lembut, bijaksana, dan penuh pengertian. (1 Timotius 3:1-3) Hamba-hamba Yehuwa seperti domba-domba yang lembut, bukan kambing-kambing yang bandel, keledai yang keras kepala, atau serigala yang rakus. (Mazmur 32:9; Lukas 10:3) Karena bersifat seperti domba, mereka harus diperlakukan dengan lemah lembut dan halus. (Kisah 20:28, 29) Ya, Allah mengharapkan agar para penatua lemah lembut, ramah, pengasih, dan sabar terhadap domba-domba.—Yehezkiel 34:17-24.

      7. Bagaimana para penatua harus mengajar orang-orang lain atau membantu mereka yang sakit secara rohani?

      7 Sebagai ”hamba Tuhan”, seorang penatua ”harus ramah terhadap semua orang. Ia harus cakap mengajar, sabar dan dengan lemah lembut dapat menuntun orang yang suka melawan, sebab mungkin Tuhan memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat dan memimpin mereka sehingga mereka mengenal kebenaran”. (2 Timotius 2:24, 25) Para gembala Kristen harus memperlihatkan timbang rasa yang lembut pada waktu berupaya membantu orang yang sakit secara rohani, karena domba itu milik Allah. Para penatua tidak boleh memperlakukan mereka dengan cara seperti orang upahan tetapi harus bersifat lembut, seperti Gembala yang baik, Kristus Yesus.—Yohanes 10:11-13.

      8. Apa yang terjadi atas Musa yang lemah lembut, dan mengapa?

      8 Seorang penatua kadang-kadang merasa sulit mempertahankan semangat yang lemah lembut. ”Musa ialah seorang yang sangat lembut hatinya, lebih dari setiap manusia yang di atas muka bumi.” (Bilangan 12:3) Namun, pada waktu orang-orang Israel mengalami kekurangan air di Kades, mereka bertengkar dengan Musa dan menyalahkan dia karena membawa mereka ke luar dari Mesir ke padang belantara yang tandus. Meskipun semua hal yang telah ditanggung oleh Musa dengan lemah lembut, ia berbicara dengan keras, kasar. Ia dan Harun berdiri di hadapan umat itu dan menarik perhatian kepada diri mereka, karena Musa berkata, ”Dengarlah kepadaku, hai orang-orang durhaka, apakah kami harus mengeluarkan air bagimu dari bukit batu ini?” Musa kemudian memukul bukit batu itu dengan tongkatnya sebanyak dua kali, dan Allah mengeluarkan ”banyak air” bagi umat itu beserta ternak mereka. Yehuwa marah karena Musa dan Harun tidak menghormati kekudusan-Nya. Akibatnya Musa tidak diberi hak istimewa untuk memimpin bangsa Israel masuk ke Negeri Perjanjian.—Bilangan 20:1-13; Ulangan 32:50-52; Mazmur 106:32, 33.

      9. Bagaimana kelemahlembutan seorang penatua dapat diuji?

      9 Kelemahlembutan seorang penatua Kristen dapat juga diuji dalam berbagai cara. Misalnya, Paulus mengingatkan Timotius bahwa ada kemungkinan munculnya orang yang ”berlagak tahu” dan ”penyakitnya mencari-cari soal dan bersilat kata”. Paulus menambahkan, ”Yang menyebabkan dengki, cidera, fitnah, curiga, percekcokan antara orang-orang yang tidak lagi berpikiran sehat dan yang kehilangan kebenaran.” Timotius yang adalah seorang pengawas tidak boleh bertindak kasar tetapi harus ’menjauhi semua itu’, dan ia harus ’mengejar keadilan, pengabdian ilahi, iman, kasih, ketekunan, kelemahlembutan’.—1 Timotius 6:4, 5, 11 (NW).

      10. Mengenai apa Titus harus mengingatkan sidang?

      10 Walaupun para penatua perlu bersikap lemah lembut, mereka harus teguh berpegang pada apa yang benar. Begitulah caranya Titus mengingatkan orang-orang yang bergabung dengan sidang di Kreta agar ’jangan memfitnah, jangan bertengkar, selalu ramah [”masuk akal”, NW] dan bersikap lemah lembut terhadap semua orang’. (Titus 3:1, 2) Seraya memperlihatkan alasan mengapa orang-orang kristiani harus lemah lembut terhadap semua orang, Titus menarik perhatian tentang betapa baik dan pengasihnya Yehuwa itu. Allah tidak menyelamatkan orang-orang beriman karena perbuatan baik apa pun yang mereka lakukan tetapi berdasarkan belas kasihan-Nya melalui Kristus Yesus. Kelemahlembutan dan kesabaran Yehuwa berarti keselamatan bagi kita. Karena itu, seperti halnya Titus, para penatua dewasa ini harus mengingatkan sidang-sidang agar tunduk kepada Allah, meniru Dia dengan memperlakukan orang-orang lain dalam cara yang lemah lembut.—Titus 3:3-7; 2 Petrus 3:9, 15.

      Kelemahlembutan Membimbing Penasihat yang Bijaksana

      11. Menurut Galatia 6:1, 2, bagaimana seharusnya nasihat diberikan?

      11 Bagaimana jika seekor domba kiasan telah berbuat salah? Paulus berkata, ”Saudara-saudara, kalaupun seorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran, maka kamu yang rohani, harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut, sambil menjaga dirimu sendiri, supaya kamu juga jangan kena pencobaan. Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.” (Galatia 6:1, 2) Nasihat akan lebih efektif jika diberikan dengan roh yang lemah lembut. Bahkan jika para penatua berupaya menasihati seorang yang sedang marah, mereka harus memperlihatkan pengendalian diri, dengan menyadari bahwa ”lidah lembut mematahkan tulang”. (Amsal 25:15) Seseorang yang kepribadiannya keras bagaikan tulang dapat dilunakkan dengan pernyataan yang lembut, dan kekerasannya dapat dipatahkan.

      12. Bagaimana roh yang lemah lembut membantu seorang penasihat?

      12 Yehuwa adalah Instruktur yang lemah lembut, dan cara-Nya yang lembut dalam mengajar ternyata efektif di dalam sidang. Ini khususnya benar apabila para penatua merasa perlu memberi nasihat kepada mereka yang membutuhkan bantuan rohani. Yakobus sang murid menulis, ”Siapakah di antara kamu yang bijak dan berbudi? Baiklah ia dengan cara hidup yang baik menyatakan perbuatannya dengan kelemahlembutan yang berasal dari hikmat.” Kelemahlembutan timbul karena respek dan perasaan terima kasih atas ”hikmat yang dari atas”, dibarengi dengan kesadaran akan keterbatasan sendiri. Roh yang lemah lembut dan rendah hati melindungi si penasihat sehingga tidak membuat pernyataan yang merugikan dan melakukan kesalahan serta membuat nasihat-nasihatnya lebih mudah diterima.—Yakobus 3:13 (NW), 17.

      13. Bagaimana ”kelemahlembutan yang berasal dari hikmat” mempengaruhi caranya nasihat diberikan?

      13 ”Kelemahlembutan yang berasal dari hikmat” menahan seorang penasihat untuk tidak berlaku tajam atau kasar. Namun, pertimbangan terhadap persahabatan atau keinginan mencari perkenan seseorang, tidak boleh mendorong seorang penatua untuk mengatakan hal-hal yang dirancang untuk menyenangkan sebaliknya daripada dengan lembut memberikan nasihat terus terang yang didasarkan atas Firman Allah. (Amsal 24:24-26; 28:23) Nasihat yang diterima oleh Amnon dari sepupunya memuaskan keinginannya, namun akibatnya ia kehilangan nyawa. (2 Samuel 13:1-19, 28, 29) Maka, para penatua dewasa ini tidak boleh mengencerkan prinsip-prinsip Alkitab untuk menenangkan hati nurani seseorang, karena melakukan hal demikian dapat membahayakan kehidupan. Seperti Paulus, para penatua harus menceritakan ”seluruh maksud Allah” kepada orang-orang lain. (Kisah 20:26, 27; 2 Timotius 4:1-4) Penasihat Kristen yang matang memperlihatkan rasa takut yang saleh dan memberikan nasihat yang benar dengan kelemahlembutan yang berasal dari hikmat.

      14. Mengapa seorang penatua harus berhati-hati agar tidak membuat keputusan yang seharusnya dibuat sendiri oleh orang lain?

      14 Kelemahlembutan yang dibarengi dengan hikmat ilahi akan menjaga agar seorang penatua tidak membuat tuntutan-tuntutan yang keras. Ia juga harus menyadari bahwa tidak bijaksana dan tidak patut untuk membuat suatu keputusan yang seharusnya dibuat oleh orang itu sendiri. Seorang penatua dapat menarik perhatian kepada apa yang dikatakan Alkitab, namun jika tidak menyangkut hukum Alkitab, pertimbangan dan hati nurani orang itu sendiri harus menentukan apa yang akan ia lakukan atau tidak lakukan. Seperti kata Paulus, ”Tiap-tiap orang akan memikul tanggungannya sendiri.” (Galatia 6:5; Roma 14:12) Seorang penatua akan memikul tanggung jawab atas akibatnya jika ia yang membuat keputusan bagi orang lain dan akan ikut bersalah atas akibat buruk apa pun. Namun, jika ada orang meminta saran, seorang penatua dapat membantu dia membuat keputusan yang benar dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang membimbing dia untuk memikirkan ayat-ayat Alkitab yang berhubungan dengan haluan-haluan yang mungkin terbuka yang dapat ia pilih.

      15. Apa yang harus dilakukan jika seorang penatua tidak mengetahui jawaban atas suatu pertanyaan?

      15 Jika seorang penatua tidak mengetahui jawaban atas sebuah pertanyaan, ia hendaknya tidak menjawab hanya supaya tidak kehilangan muka. Kelemahlembutan yang berasal dari hikmat akan menjaga agar ia tidak menebak-nebak dan kemungkinan memberikan jawaban yang salah yang di kemudian hari dapat menimbulkan kesulitan. ”Ada waktu untuk berdiam diri, ada waktu untuk berbicara.” (Pengkhotbah 3:7; bandingkan Amsal 21:23.) Seorang penatua harus ”berbicara” hanya bila ia tahu jawaban atas sebuah pertanyaan atau telah mengadakan cukup banyak riset untuk memberikan jawaban yang saksama. Adalah bijaksana untuk tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan yang bersifat spekulatif.—Amsal 12:8; 17:27; 1 Timotius 1:3-7; 2 Timotius 2:14.

      Nilai dari Banyak Penasihat

      16, 17. Mengapa pantas bagi para penatua untuk meminta nasihat satu sama lain?

      16 Doa dan belajar akan membantu para penatua untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dan menangani problem-problem yang sulit, namun harus diingat bahwa ’rancangan terlaksana kalau penasihat banyak’. (Amsal 15:22) Dengan meminta nasihat dari penatua-penatua lain hikmat terpadu yang bermutu dapat dicapai. (Amsal 13:20) Tidak semua penatua memiliki pengalaman atau pengetahuan yang sama. Karena itu, kelemahlembutan yang berasal dari hikmat harus menggerakkan penatua yang lebih sedikit pengalamannya untuk meminta nasihat dari penatua-penatua yang memiliki lebih banyak pengetahuan dan pengalaman, khususnya bila ada masalah serius yang harus ditangani.

      17 Bila penatua-penatua dipilih untuk menangani masalah yang serius, secara konfidensial mereka tetap dapat meminta bantuan. Agar Musa dapat mengadili bangsa Israel, ia memilih ”orang-orang yang cakap dan takut akan Allah, orang-orang yang dapat dipercaya, dan yang benci kepada pengejaran suap”. Meskipun mereka adalah para tua-tua, mereka tidak memiliki pengetahuan dan pengalaman yang sama banyaknya seperti Musa. Namun, ”perkara-perkara yang sukar dihadapkan mereka kepada Musa, tetapi perkara-perkara yang kecil diadili mereka sendiri”. (Keluaran 18:13-27) Maka, jika perlu, para penatua yang sedang menangani perkara yang sulit dewasa ini sepantasnya meminta bantuan para pengawas yang berpengalaman, meskipun mereka sendiri yang akan membuat keputusan terakhir.

      18. Dalam menangani masalah-masalah pengadilan, apa faktor-faktor menentukan yang memastikan keputusan yang tepat?

      18 Mishnah Yahudi berkata bahwa di Israel mereka yang membentuk pengadilan di sebuah kampung, jumlahnya bervariasi menurut besarnya suatu perkara. Benar-benar bermanfaat bila ada banyak penasihat, meskipun jumlah itu sendiri tidak menjamin keadilan, karena jumlah besar bisa saja salah. (Keluaran 23:2) Faktor-faktor menentukan yang menjamin bahwa keputusan yang benar akan dibuat adalah Alkitab dan roh Allah. Hikmat dan kelemahlembutan akan menggerakkan orang-orang kristiani untuk berpaling kepada kedua hal ini.

      Memberi Kesaksian dengan Kelemahlembutan

      19. Bagaimana kelemahlembutan membantu umat Yehuwa untuk memberikan kesaksian kepada orang-orang lain?

      19 Kelemahlembutan juga membantu hamba-hamba Yehuwa untuk memberikan kesaksian kepada berbagai macam orang. (1 Korintus 9:22, 23) Karena Yesus mengajar dengan kelemahlembutan, orang-orang yang rendah hati tidak takut kepadanya, tidak seperti halnya kepada para pemimpin agama yang keras. (Matius 9:36) Tentu saja, caranya yang lembut menarik ”domba”, bukan ”kambing” yang jahat. (Matius 25:31-46; Yohanes 3:16-21) Meskipun Yesus menggunakan ungkapan yang tajam dalam berurusan dengan orang-orang munafik yang seperti kambing, Saksi-Saksi Yehuwa harus bersifat lemah lembut pada waktu menyatakan berita penghukuman Allah dewasa ini karena mereka tidak memiliki pemahaman dan wewenang yang sama seperti yang dimiliki Yesus. (Matius 23:13-36) Seraya mendengarkan berita Kerajaan yang dikabarkan kepada mereka dengan lemah lembut, ”semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya”, sebagaimana halnya mereka yang seperti domba mau mendengarkan pengabaran Yesus.—Kisah 13:48.

      20. Bagaimana seorang siswa Alkitab dapat memperoleh manfaat bila ia diajar dengan kelemahlembutan?

      20 Hasil-hasil baik dicapai dengan memberikan kesaksian dan mengajarkan orang-orang lain dengan kelemahlembutan dan dengan mengimbau mereka atas dasar logika, prinsip-prinsip Alkitab dan kebenaran. ”Kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan!” tulis Petrus. ”Siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat.” (1 Petrus 3:15) Seorang siswa yang diajar dengan cara yang lembut dapat memusatkan diri pada bahan dan tidak disimpangkan atau mungkin bahkan tersinggung karena cara yang kasar dan suka berdebat. Seperti Paulus, para rohaniwan yang mengajar dengan kelemahlembutan dapat berkata, ”Dalam hal apapun kami tidak memberi sebab orang tersandung, supaya pelayanan kami jangan sampai dicela.” (2 Korintus 6:3) Bahkan para penentang kadang-kadang memberikan tanggapan yang baik kepada orang-orang yang mengajar dengan lemah lembut.

      Kelemahlembutan Dituntut dari Semua Orang

      21, 22. Bagaimana kelemahlembutan membawa manfaat kepada seluruh umat Yehuwa?

      21 Kelemahlembutan Kristen tidak boleh dikenakan hanya untuk mengesankan orang-orang di luar organisasi Yehuwa. Sifat ini juga penting dalam hubungan di antara umat Allah. (Kolose 3:12-14; 1 Petrus 4:8) Sidang-sidang dibina secara rohani apabila para penatua dan pelayan sidang yang lemah lembut bekerja bersama dengan harmonis. Memperlihatkan kelemahlembutan dan sifat-sifat saleh lain penting bagi masing-masing dari umat Yehuwa karena hanya ada ”satu hukum” yang berlaku untuk semua orang.—Keluaran 12:49; Imamat 24:22.

      22 Kelemahlembutan menyumbang kepada perdamaian dan kebahagiaan dari umat Allah. Karena itu, sifat itu harus menjadi bagian dari tenunan sifat-sifat yang membentuk busana yang dikenakan oleh semua kristiani di rumah, di sidang, dan tempat-tempat lain. Ya, semua hamba Yehuwa perlu mengenakan kelemahlembutan.

Publikasi Menara Pengawal Bahasa Indonesia (1971-2025)
Log Out
Log In
  • Indonesia
  • Bagikan
  • Pengaturan
  • Copyright © 2025 Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania
  • Syarat Penggunaan
  • Kebijakan Privasi
  • Pengaturan Privasi
  • JW.ORG
  • Log In
Bagikan