PERPUSTAKAAN ONLINE Menara Pengawal
PERPUSTAKAAN ONLINE
Menara Pengawal
Indonesia
  • ALKITAB
  • PUBLIKASI
  • PERHIMPUNAN
  • ”Teruslah Perhatikan Tugas Pelayanan yang Kauterima dalam Tuan”
    Menara Pengawal—2008 | 15 Januari
    • ”Teruslah Perhatikan Tugas Pelayanan yang Kauterima dalam Tuan”

      ”Teruslah perhatikan tugas pelayanan yang kauterima dalam Tuan, dan laksanakanlah itu.”​—KOL. 4:17.

      1, 2. Apa tanggung jawab orang Kristen terhadap umat manusia?

      KITA mempunyai tanggung jawab yang serius terhadap orang-orang yang tinggal di sekeliling kita. Keputusan yang mereka buat sekarang akan berarti kehidupan atau kematian selama ”kesengsaraan besar”. (Pny. 7:14) Penulis terilham buku Amsal mengatakan, ”Bebaskanlah orang-orang yang dibawa ke kematian; dan orang-orang yang terhuyung-huyung ke pembantaian, oh, semoga engkau menahan mereka.” Kata-kata yang patut diperhatikan! Jika kita tidak memberi tahu orang-orang tentang pilihan yang mereka miliki, kita dapat berutang darah. Malah, ayat yang sama melanjutkan, ”Apabila engkau berkata, ’Lihat! Kami tidak mengetahui hal ini,’ apakah ia yang menilai hati tidak akan melihatnya, dan ia yang mengamati jiwamu tidak akan tahu dan pasti membalas kepada manusia sesuai dengan kegiatannya?” Jelaslah, hamba-hamba Yehuwa tidak bisa mengatakan bahwa mereka ”tidak mengetahui” bahaya yang sedang dihadapi orang-orang.​—Ams. 24:11, 12.

      2 Yehuwa menghargai kehidupan. Ia mendesak hamba-hamba-Nya untuk sebisa-bisanya membantu agar sebanyak mungkin kehidupan bisa diselamatkan. Setiap rohaniwan Allah harus mengumumkan berita Firman Allah yang menyelamatkan kehidupan. Tugas kita mirip tugas penjaga yang menyerukan peringatan sewaktu ia melihat bahaya mengancam. Kita tidak ingin darah orang-orang yang terancam kebinasaan tertanggung atas kepala kita. (Yeh. 33:1-7) Karena itu, sungguh penting agar kita terus berupaya ’memberitakan firman itu’!​—Baca 2 Timotius 4:1, 2, 5.

      3. Topik-topik apa yang akan dibahas artikel ini dan dua artikel berikutnya?

      3 Artikel ini akan membahas bagaimana Saudara dapat mengatasi berbagai rintangan dalam tugas pelayanan Saudara untuk menyelamatkan kehidupan dan bagaimana Saudara dapat membantu lebih banyak orang. Artikel berikutnya akan mengulas bagaimana Saudara dapat mengembangkan seni mengajar dalam menyampaikan kebenaran-kebenaran yang sangat penting. Artikel pelajaran ketiga akan melaporkan beberapa hasil yang membesarkan hati yang sedang dicapai oleh para pemberita Kerajaan di seluruh dunia. Namun, sebelum membahas topik-topik ini, kita sebaiknya meninjau beberapa alasan mengapa zaman kita begitu kritis.

      Mengapa Banyak Orang tanpa Harapan

      4, 5. Apa yang sedang dialami umat manusia, dan bagaimana reaksi banyak orang?

      4 Peristiwa-peristiwa dunia menunjukkan bahwa kita hidup pada ”penutup sistem ini” dan bahwa akhir itu sudah sangat dekat. Umat manusia sedang mengalami peristiwa dan keadaan yang menurut Yesus dan murid-muridnya akan menandai ”hari-hari terakhir”. ”Sengatan-sengatan penderitaan”, termasuk peperangan, kekurangan makanan, gempa bumi, dan malapetaka lainnya, sangat menyengsarakan manusia. Di mana-mana, orang tidak taat hukum, egois, dan tidak saleh. Bahkan bagi orang-orang yang berupaya hidup menurut standar Alkitab, ini adalah ”masa kritis yang sulit dihadapi”.​—Mat. 24:3, 6-8, 12; 2 Tim. 3:1-5.

      5 Namun, mayoritas umat manusia tidak sadar akan makna sebenarnya dari berbagai peristiwa dunia. Akibatnya, banyak yang cemas akan keselamatan mereka sendiri dan keluarga mereka. Kehilangan orang-orang yang dikasihi dalam kematian atau tragedi pribadi lainnya membuat banyak orang putus asa. Tanpa pengetahuan yang akurat tentang mengapa hal-hal demikian terjadi dan di mana mendapatkan solusinya, orang-orang ini tanpa harapan.​—Ef. 2:12.

      6. Mengapa ”Babilon Besar” tidak sanggup membantu para pengikutnya?

      6 ”Babilon Besar”, imperium agama palsu sedunia, tidak banyak menghibur umat manusia. Sebaliknya, melalui ”anggur percabulannya”, ia telah membuat banyak orang terhuyung-huyung dalam kebingungan rohani. Selain itu, dengan bertindak seperti pelacur, agama palsu telah membujuk dan mengendalikan ”raja-raja di bumi”, menggunakan doktrin palsu dan praktek spiritisme untuk membuat massa tunduk kepada majikan politik mereka tanpa berpikir lagi. Dengan demikian, agama palsu mendapatkan kendali dan pengaruh, tetapi sementara itu, ia sama sekali menolak kebenaran agama.​—Pny. 17:1, 2, 5; 18:23.

      7. Apa prospek mayoritas umat manusia, tetapi bagaimana beberapa orang bisa dibantu?

      7 Yesus mengajarkan bahwa sebagian besar umat manusia sedang menempuh jalan lebar yang menuju kebinasaan. (Mat. 7:13, 14) Beberapa orang berada di jalan lebar itu karena mereka telah dengan sengaja memilih untuk menolak apa yang Alkitab ajarkan. Tetapi, banyak orang lain berada di jalan itu karena tertipu, atau tidak mendapat pencerahan, sehubungan dengan apa yang sebenarnya Yehuwa tuntut dari mereka. Beberapa orang mungkin akan mengubah gaya hidup mereka kalau saja mereka diberi alasan yang jelas berdasarkan Alkitab untuk melakukan hal itu. Namun, mereka yang tetap berada di Babilon Besar dan yang terus menolak standar Alkitab tidak akan diluputkan melewati ”kesengsaraan besar”.​—Pny. 7:14.

      Terus Mengabar ”tanpa Henti”

      8, 9. Bagaimana reaksi orang Kristen abad pertama sewaktu menghadapi tentangan, dan mengapa?

      8 Yesus mengatakan bahwa murid-muridnya akan memberitakan kabar baik Kerajaan dan membuat murid. (Mat. 28:19, 20) Karena itu, orang-orang Kristen sejati selalu menganggap partisipasi dalam pengabaran sebagai soal keloyalan terhadap Allah dan tuntutan dasar iman mereka. Maka, para pengikut Yesus masa awal terus mengabar bahkan sewaktu menghadapi tentangan. Mereka mengandalkan kekuatan dari Yehuwa, berdoa agar Ia memungkinkan mereka untuk terus ”membicarakan firman[-Nya] dengan segala keberanian”. Sebagai tanggapan, Yehuwa memenuhi mereka dengan roh kudus, dan mereka membicarakan firman Allah dengan berani.​—Kis. 4:18, 29, 31.

      9 Sewaktu tentangan menjadi sengit, apakah tekad para pengikut Yesus untuk memberitakan kabar baik menjadi goyah? Sama sekali tidak. Karena kesal atas pengabaran para rasul, para pemimpin agama Yahudi menangkap mereka, mengancam serta mendera mereka. Meskipun begitu, para rasul ”tanpa henti terus mengajar dan menyatakan kabar baik tentang Kristus, yaitu Yesus”. Mereka dengan jelas menyadari bahwa mereka harus ”menaati Allah sebagai penguasa sebaliknya daripada manusia”.​—Kis. 5:28, 29, 40-42.

      10. Tantangan apa saja yang dihadapi orang Kristen dewasa ini, namun apa yang bisa dihasilkan dari tingkah laku baik mereka?

      10 Dewasa ini, kebanyakan hamba Allah tidak dipukuli atau dipenjarakan karena kegiatan pengabaran mereka. Namun, semua orang Kristen sejati menghadapi berbagai ujian dan pencobaan. Sebagai contoh, hati nurani Saudara yang dilatih Alkitab boleh jadi menggerakkan Saudara untuk menempuh haluan tingkah laku yang tidak populer atau haluan yang membuat Saudara kelihatan berbeda. Rekan sekerja, teman sekolah, atau tetangga mungkin menganggap Saudara aneh karena Saudara membuat keputusan berdasarkan prinsip-prinsip Alkitab. Meskipun demikian, tanggapan negatif mereka hendaknya tidak membuat Saudara ciut hati. Dunia diliputi kegelapan rohani, tetapi orang Kristen harus ”bersinar sebagai penerang”. (Flp. 2:15) Barangkali, beberapa pengamat yang tulus akan melihat serta menghargai pekerjaan baik Saudara dan sebagai hasilnya akan memuliakan Yehuwa.​—Baca Matius 5:16.

      11. (a) Bagaimana reaksi beberapa orang terhadap pengabaran? (b) Tentangan apa yang dihadapi rasul Paulus, dan bagaimana reaksinya?

      11 Kita membutuhkan keberanian untuk terus mengabarkan berita Kerajaan. Beberapa orang, bahkan kerabat, mungkin mengejek Saudara atau dengan cara lain berupaya membuat Saudara kecil hati. (Mat. 10:36) Rasul Paulus secara fisik dipukuli, karena ia dengan setia melaksanakan pelayanannya. Perhatikan bagaimana reaksinya terhadap tentangan tersebut, ”Setelah kami mula-mula menderita dan diperlakukan dengan hina,” tulisnya, ”kami mengerahkan keberanian melalui Allah kita untuk menyampaikan kabar baik Allah kepadamu dengan perjuangan yang berat.” (1 Tes. 2:2) Paulus pasti membutuhkan keberanian untuk terus membicarakan kabar baik setelah ia ditangkap, dilucuti, dipukuli dengan tongkat, dan dilemparkan ke dalam penjara. (Kis. 16:19-24) Apa yang memberinya keberanian untuk tidak berhenti? Hasratnya yang menggebu-gebu untuk melaksanakan amanat yang Allah berikan untuk mengabar.​—1 Kor. 9:16.

      12, 13. Tantangan apa saja yang dihadapi beberapa orang, dan bagaimana mereka berupaya mengatasinya?

      12 Selain itu, tidak mudah untuk tetap bersemangat di daerah yang orang-orangnya jarang ada di rumah atau kurang berminat akan berita Kerajaan. Apa yang dapat kita lakukan di bawah keadaan demikian? Kita mungkin merasa perlu mengerahkan keberanian ekstra untuk berbicara kepada orang-orang dalam suasana yang tidak resmi. Mungkin juga, kita harus menyesuaikan jadwal kita atau membuat upaya khusus untuk mengabar di daerah yang terdapat lebih banyak orang untuk dikabari.​—Bandingkan dengan Yohanes 4:7-15; Kisah 16:13; 17:17.

      13 Kesulitan lain yang harus dihadapi banyak saudara adalah usia lanjut dan kesehatan buruk, yang mungkin membatasi apa yang dapat mereka lakukan secara masuk akal dalam pekerjaan pengabaran. Jika Saudara mengalami hal itu, jangan kecil hati. Yehuwa tahu betul keterbatasan Saudara dan menghargai apa yang bisa Saudara lakukan. (Baca 2 Korintus 8:12.) Kesukaran apa pun yang bisa jadi Saudara hadapi​—tentangan, sikap apatis, atau kesehatan buruk—​berupayalah sebisa-bisanya sesuai dengan keadaan Saudara untuk menyampaikan kabar baik kepada orang lain.​—Ams. 3:27; bandingkan dengan Markus 12:41-44.

      ’Teruslah Perhatikan Tugas Pelayanan Saudara’

      14. Teladan apa yang diberikan rasul Paulus kepada rekan-rekan Kristennya, dan nasihat apa yang ia berikan?

      14 Rasul Paulus menganggap tugas pelayanannya sangat serius, dan ia menganjurkan rekan-rekan seiman untuk memiliki sikap yang sama. (Kis. 20:20, 21; 1 Kor. 11:1) Seorang Kristen pada abad pertama yang khususnya diberi anjuran oleh Paulus bernama Arkhipus. Dalam suratnya kepada jemaat di Kolose, Paulus menulis, ”Katakan kepada Arkhipus, ’Teruslah perhatikan tugas pelayanan yang kauterima dalam Tuan, dan laksanakanlah itu.’” (Kol. 4:17) Kita tidak tahu siapa Arkhipus itu atau bagaimana keadaannya, tetapi ia tampaknya telah menerima suatu tugas pelayanan. Jika Saudara seorang Kristen yang berbakti, Saudara juga telah menerima suatu tugas pelayanan. Apakah Saudara terus memperhatikan tugas tersebut agar bisa memenuhinya?

      15. Apa yang tercakup dalam pembaktian Kristen, dan pertanyaan apa saja yang timbul?

      15 Sebelum dibaptis, kita membaktikan kehidupan kita kepada Yehuwa dalam doa yang sepenuh hati. Ini berarti bahwa kita bertekad melakukan kehendak-Nya. Maka, kita sekarang sebaiknya menanyai diri kita, ’Apakah melakukan kehendak Allah benar-benar hal terpenting dalam kehidupan saya?’ Kita mungkin mempunyai berbagai tanggung jawab yang Yehuwa harapkan kita penuhi—seperti menafkahi keluarga. (1 Tim. 5:8) Tetapi, bagaimana kita menggunakan waktu dan energi kita yang selebihnya? Apa prioritas kita dalam kehidupan?​—Baca 2 Korintus 5:14, 15.

      16, 17. Sebutkan beberapa kemungkinan yang bisa dipertimbangkan oleh kaum muda Kristen atau orang-orang yang tanggung jawabnya belum banyak.

      16 Apakah Saudara seorang Kristen muda yang berbakti yang sudah atau hampir menyelesaikan pendidikan wajib? Kemungkinan, Saudara belum mengemban tanggung jawab keluarga yang berat. Maka, apa yang Saudara rencanakan dengan kehidupan Saudara? Keputusan apa saja yang paling membantu Saudara agar dapat memenuhi janji Saudara untuk melaksanakan kehendak Yehuwa? Banyak yang telah mengatur urusan pribadinya agar bisa merintis, dan sebagai hasilnya mereka telah menuai banyak sukacita dan kepuasan.​—Mz. 110:3; Pkh. 12:1.

      17 Mungkin Saudara sudah beranjak dewasa. Saudara bekerja sekuler purnawaktu, tetapi tidak punya banyak tanggung jawab selain mengurus diri sendiri. Tidak diragukan, Saudara senang berpartisipasi dalam kegiatan sidang sejauh yang dimungkinkan jadwal Saudara. Apakah Saudara mungkin bisa memperoleh lebih banyak sukacita lagi? Apakah Saudara telah memikirkan untuk meluaskan peran serta Saudara dalam tugas pelayanan? (Mz. 34:8; Ams. 10:22) Di beberapa daerah, masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk menjangkau setiap orang dengan berita kebenaran yang memberi kehidupan. Dapatkah Saudara membuat penyesuaian dalam kehidupan Saudara, mungkin untuk melayani di daerah yang lebih membutuhkan pemberita Kerajaan?​—Baca 1 Timotius 6:6-8.

      18. Penyesuaian apa saja yang telah dibuat sepasang suami-istri muda, dan apa hasilnya?

      18 Perhatikan contoh Kevin dan Elena dari Amerika Serikat.a Sebagaimana lazimnya pengantin baru yang masih muda di daerah mereka, mereka merasa harus membeli rumah. Keduanya bekerja purnawaktu dan bisa mempertahankan gaya hidup yang nyaman. Namun, jadwal kerja dan tugas-tugas rumah tangga mereka menyisakan hanya sedikit waktu untuk dinas pengabaran. Mereka menyadari bahwa hampir seluruh waktu dan energi mereka digunakan untuk harta semata. Namun, sewaktu mengamati gaya hidup sederhana dari sepasang perintis yang bahagia, Kevin dan Elena memutuskan untuk mengubah prioritas dalam kehidupan mereka. Setelah berdoa memohon bimbingan Yehuwa, mereka menjual rumah mereka dan pindah ke apartemen. Elena mengurangi jam kerja sekulernya dan menjadi perintis. Terdorong oleh pengalaman yang dinikmati istrinya, Kevin berhenti bekerja purnawaktu dan mulai merintis. Beberapa waktu kemudian, mereka pindah ke sebuah negeri di Amerika Selatan untuk melayani di tempat yang sangat membutuhkan pemberita Kerajaan. ”Kami sudah bahagia,” kata Kevin, ”tetapi sewaktu kami berupaya meraih tujuan rohani, kami memperoleh kebahagiaan yang lebih dalam lagi.”​—Baca Matius 6:19-22.

      19, 20. Mengapa memberitakan kabar baik adalah pekerjaan terpenting dewasa ini?

      19 Pemberitaan kabar baik adalah pekerjaan terpenting yang sedang dilakukan di bumi dewasa ini. (Pny. 14:6, 7) Hal itu turut menyucikan nama Yehuwa. (Mat. 6:9) Setiap tahun, berita Alkitab meningkatkan mutu kehidupan ribuan orang yang menyambutnya, dan hal ini dapat menuntun mereka ke keselamatan. Namun, ”bagaimana mereka akan mendengar tanpa ada yang memberitakan?” tanya rasul Paulus. (Rm. 10:14, 15) Ya, bagaimana? Bertekadlah untuk berbuat sebisa-bisanya guna memenuhi tugas pelayanan Saudara.

      20 Cara lain Saudara dapat membantu orang-orang memahami pentingnya masa kritis ini dan konsekuensi keputusan yang mereka buat adalah dengan meningkatkan kesanggupan mengajar Saudara. Cara Saudara dapat melakukan hal ini akan dibahas dalam artikel berikut.

      [Catatan Kaki]

      a Nama-nama telah diubah.

  • Perhatikanlah ”Seni Mengajar” Saudara
    Menara Pengawal—2008 | 15 Januari
    • Perhatikanlah ”Seni Mengajar” Saudara

      ”Beritakanlah firman itu, . . . berilah teguran, peringatan, nasihat, dengan segala kepanjangsabaran dan seni mengajar.”​—2 TIM. 4:2.

      1. Perintah apa yang Yesus berikan kepada murid-muridnya, dan teladan apa yang ia berikan?

      MESKIPUN Yesus melakukan berbagai penyembuhan menakjubkan selama pelayanannya di bumi, ia umumnya tidak dikenal sebagai tabib atau pembuat mukjizat, tetapi sebagai guru. (Mrk. 12:19; 13:1) Memberitakan kabar baik Kerajaan Allah adalah pekerjaan yang paling penting bagi Yesus, demikian pula bagi para pengikutnya dewasa ini. Orang Kristen diamanatkan untuk melanjutkan pekerjaan membuat murid dengan mengajar orang-orang untuk mengindahkan semua hal yang Yesus perintahkan.​—Mat. 28:19, 20.

      2. Apa yang perlu agar kita bisa memenuhi tugas mengabar kita?

      2 Agar dapat memenuhi amanat untuk membuat murid, kita terus berupaya meningkatkan kesanggupan mengajar kita. Rasul Paulus menandaskan pentingnya keterampilan ini sewaktu menulis surat kepada rekan dinasnya, Timotius. Ia mengatakan, ”Teruslah perhatikan dirimu dan pengajaranmu. Tetaplah pada hal-hal ini, sebab dengan melakukan ini engkau akan menyelamatkan dirimu dan juga mereka yang mendengarkan engkau.” (1 Tim. 4:16) Pengajaran yang Paulus maksudkan bukan sekadar menyampaikan pengetahuan. Rohaniwan Kristen yang efektif mencapai hati orang-orang dan memotivasi mereka untuk membuat perubahan dalam kehidupan mereka. Hal itu merupakan suatu seni. Maka, bagaimana kita bisa mengembangkan ”seni mengajar” sewaktu mempersembahkan kabar baik Kerajaan Allah kepada orang lain?​—2 Tim. 4:2.

      Mengembangkan ”Seni Mengajar”

      3, 4. (a) Bagaimana kita bisa mengembangkan ”seni mengajar”? (b) Bagaimana Sekolah Pelayanan Teokratis membantu kita menjadi guru yang efektif?

      3 Sebuah kamus mendefinisikan ”seni” sebagai ”keterampilan yang diperoleh melalui belajar, praktek, atau pengamatan”. Kita perlu memperhatikan ketiga aspek ini untuk menjadi guru kabar baik yang efektif. Satu-satunya cara kita dapat memperoleh pengertian yang benar tentang suatu pokok adalah bila kita mempelajarinya dengan disertai doa. (Baca Mazmur 119:27, 34.) Dengan mengamati para rohaniwan yang efektif sewaktu mereka mengajar, kita dibantu untuk mempelajari metode-metode mereka dan menirunya. Dan, dengan secara teratur berupaya mempraktekkan apa yang kita pelajari, kita akan dapat meningkatkan kesanggupan kita.—Luk. 6:40; 1 Tim. 4:13-15.

      4 Yehuwa adalah Instruktur Agung kita. Melalui bagian organisasi-Nya yang kelihatan, Ia menyediakan bagi hamba-hamba-Nya di bumi bimbingan tentang bagaimana mereka hendaknya memenuhi amanat untuk mengabar. (Yes. 30:20, 21) Demi mencapai tujuan ini, setiap sidang mengadakan Sekolah Pelayanan Teokratis setiap minggu, yang dirancang untuk membantu semua yang terdaftar menjadi pemberita Kerajaan Allah yang efektif. Buku pedoman utama sekolah ini adalah Alkitab. Firman Yehuwa yang terilham memberi tahu kita apa yang harus diajarkan. Selain itu, Alkitab menunjukkan metode-metode mengajar yang efektif dan cocok. Sekolah Pelayanan Teokratis secara teratur mengingatkan bahwa kita akan menjadi guru yang lebih cakap jika kita mendasarkan pengajaran kita pada Firman Allah, menggunakan pertanyaan secara efektif, mengajar dengan cara yang sederhana, dan memperlihatkan minat yang tulus kepada orang lain. Mari kita periksa pokok-pokok ini satu per satu. Kemudian, kita akan membahas bagaimana mencapai hati pelajar.

      Jadikan Firman Allah Dasar Pengajaran Saudara

      5. Apa yang hendaknya menjadi dasar pengajaran kita, dan mengapa?

      5 Yesus, guru terbesar di antara semua guru manusia, mendasarkan pengajarannya atas Tulisan-Tulisan Kudus. (Mat. 21:13; Yoh. 6:45; 8:17) Ia tidak berbicara atas namanya sendiri, tetapi atas nama Pribadi yang mengutusnya. (Yoh. 7:16-18) Itulah teladan yang kita ikuti. Jadi, apa yang kita katakan, baik dalam dinas dari rumah ke rumah maupun PAR, hendaknya berpusat pada wewenang Firman Allah. (2 Tim. 3:16, 17) Pemikiran cerdas apa pun yang kita miliki tidak akan pernah bisa menandingi keefektifan dan kuasa Alkitab yang terilham. Alkitab memiliki wewenang. Tidak soal pokok apa yang kita sampaikan agar dimengerti oleh si pelajar, metode terbaik yang bisa kita gunakan adalah memintanya untuk membaca apa yang Alkitab katakan tentang hal itu.​—Baca Ibrani 4:12.

      6. Bagaimana seorang guru bisa memastikan bahwa si pelajar memahami pokok yang sedang dibahas?

      6 Tentunya, ini tidak berarti bahwa seorang guru Kristen tidak perlu mempersiapkan diri untuk suatu pelajaran Alkitab. Sebaliknya, ia perlu memikirkan dahulu dengan cermat untuk memutuskan ayat-ayat Alkitab mana yang akan dibacakan olehnya atau oleh si pelajar selama pelajaran. Pada umumnya, yang terbaik adalah membaca ayat-ayat yang mendukung kepercayaan kita. Selain itu, si pelajar perlu dibantu untuk memahami makna setiap ayat yang dibaca.​—1 Kor. 14:8, 9.

      Gunakan Pertanyaan yang Jitu

      7. Mengapa menggunakan pertanyaan merupakan metode mengajar yang baik?

      7 Menggunakan pertanyaan dengan terampil bisa merangsang pikiran dan membantu sang guru mencapai hati si pelajar. Maka, daripada menjelaskan ayat Alkitab kepada si pelajar, minta dia untuk menjelaskannya. Kadang-kadang, mungkin sebuah pertanyaan tambahan atau bahkan serangkaian pertanyaan diperlukan untuk membantu si pelajar mendapatkan pengertian yang benar. Jika Saudara melibatkan si pelajar dalam pemelajaran seperti ini, Saudara sebenarnya membantu dia untuk tidak hanya memahami alasan di balik suatu kesimpulan tetapi juga meyakini kesimpulan itu.​—Mat. 17:24-26; Luk. 10:36, 37.

      8. Bagaimana kita bisa mengetahui apa yang ada dalam hati seorang pelajar?

      8 Metode belajar yang digunakan dalam publikasi kita adalah metode tanya-jawab. Tidak diragukan, kebanyakan orang yang belajar Alkitab dengan Saudara bisa cepat menjawab pertanyaan yang tercetak, dengan menggunakan informasi dalam paragraf yang terkait. Namun, guru yang berdaya pengamatan tidak akan puas hanya dengan jawaban yang benar. Misalnya, seorang pelajar mungkin bisa menjelaskan dengan benar apa yang Alkitab katakan tentang percabulan. (1 Kor. 6:18) Namun, berbagai pertanyaan sudut pandang yang bijaksana dapat menunjukkan apa yang sebenarnya dipikirkan si pelajar mengenai apa yang sedang ia pelajari. Maka, sang guru bisa bertanya, ”Mengapa Alkitab mengutuk hubungan seks di luar perkawinan? Apa pendapat Anda tentang pembatasan yang diberikan Allah ini? Menurut Anda, apakah ada manfaatnya untuk hidup menurut standar moral Allah?” Tanggapan atas pertanyaan-pertanyaan seperti itu bisa menyingkapkan apa yang ada dalam hati si pelajar.​—Baca Matius 16:13-17.

      Sampaikan dengan Sederhana

      9. Apa yang hendaknya kita ingat sewaktu menyampaikan informasi Alkitab?

      9 Kebenaran yang terdapat dalam Firman Allah umumnya relatif sederhana. Namun, orang yang belajar Alkitab dengan kita bisa jadi dibingungkan oleh doktrin-doktrin agama palsu. Sebagai guru, kita hendaknya membuat Alkitab mudah dimengerti. Guru yang efektif menyampaikan informasi dengan sederhana, jelas, dan akurat. Jika kita mengikuti pedoman ini, kita tidak akan menjadikan kebenaran lebih rumit daripada yang semestinya. Hindari perincian yang tidak penting. Tidak perlu mengomentari setiap segi dari sebuah ayat yang dibaca. Soroti yang penting saja agar pokok yang sedang dibahas menjadi jelas. Si pelajar akan menghargai kebenaran-kebenaran Alkitab yang lebih dalam seraya pengertiannya semakin bertambah.​—Ibr. 5:13, 14.

      10. Faktor apa saja yang menentukan berapa banyak bahan yang harus dibahas dalam satu pelajaran Alkitab?

      10 Berapa banyak bahan harus dibahas dalam satu sesi pelajaran? Untuk itu, dibutuhkan daya pengamatan. Kesanggupan dan keadaan pelajar maupun guru berbeda-beda, tetapi kita harus selalu ingat bahwa tujuan kita sebagai guru adalah membantu pelajar kita membangun iman yang teguh. Maka, kita memberi mereka cukup waktu untuk membaca, mengerti, dan menerima kebenaran yang diajarkan dalam Firman Allah. Kita tidak membahas lebih banyak bahan daripada yang bisa dimengerti olehnya. Pada waktu yang sama, kita tidak berlama-lama membahas satu pokok. Setelah sebuah pokok bahasan dimengerti, kita pindah ke pokok berikutnya.​—Kol. 2:6, 7.

      11. Apa yang bisa kita pelajari dari rasul Paulus mengenai cara mengajar?

      11 Rasul Paulus menjaga agar berita kabar baik disampaikan dengan sederhana sewaktu berbicara kepada orang baru. Meskipun sangat terpelajar, ia menghindari bahasa yang muluk-muluk. (Baca 1 Korintus 2:1, 2.) Kesederhanaan kebenaran Alkitab menarik dan memuaskan orang yang tulus. Seseorang tidak perlu berpendidikan tinggi untuk bisa mengerti kebenaran.​—Mat. 11:25; Kis. 4:13; 1 Kor. 1:26, 27.

      Bantu Pelajar Menghargai Apa yang Ia Pelajari

      12, 13. Apa yang bisa memotivasi seorang pelajar untuk menerapkan apa yang ia pelajari? Jelaskan.

      12 Supaya efektif, pengajaran kita perlu menyentuh hati seorang pelajar. Ia harus mengerti bagaimana informasi itu berlaku bagi dirinya secara pribadi, bagaimana hal itu bermanfaat baginya, dan bagaimana kehidupannya akan menjadi lebih baik jika ia mengikuti pengarahan Alkitab.​—Yes. 48:17, 18.

      13 Misalnya, kita mungkin sedang membahas Ibrani 10:24, 25, yang menganjurkan orang Kristen untuk berkumpul bersama rekan-rekan seiman guna mendapat anjuran Alkitab dan pergaulan yang penuh kasih. Jika si pelajar belum menghadiri perhimpunan, kita bisa dengan singkat menguraikan bagaimana perhimpunan diadakan dan apa yang dibahas. Kita bisa menyebutkan bahwa perhimpunan adalah bagian dari ibadat kita dan memperlihatkan bahwa secara pribadi kita mendapat manfaatnya. Kemudian, kita bisa mengundang si pelajar untuk hadir. Tanggapannya atas perintah-perintah Alkitab hendaknya dimotivasi oleh keinginan untuk menaati Yehuwa, bukan untuk menyenangkan orang yang mengajarnya.​—Gal. 6:4, 5.

      14, 15. (a) Apa yang dapat dipelajari seorang pelajar Alkitab tentang Yehuwa? (b) Bagaimana pengetahuan tentang kepribadian Allah dapat memberi manfaat kepada pelajar Alkitab?

      14 Manfaat utama yang diperoleh para pelajar dengan mempelajari Alkitab dan menerapkan prinsip-prinsipnya adalah bahwa mereka mulai mengenal dan menghargai Yehuwa sebagai pribadi. (Yes. 42:8) Ia adalah Bapak yang pengasih dan sang Pencipta serta Pemilik alam semesta, dan Ia juga menyingkapkan kepribadian serta kesanggupan-Nya kepada orang-orang yang mengasihi dan melayani Dia. (Baca Keluaran 34:6, 7.) Tidak lama sebelum Musa memimpin bangsa Israel keluar dari penawanan Mesir, Yehuwa memperkenalkan diri-Nya dengan menggunakan pernyataan, ”Aku akan menjadi apa pun yang aku inginkan.” (Kel. 3:13-15) Hal ini menyiratkan bahwa Yehuwa akan menjadi apa pun yang diperlukan untuk melaksanakan maksud-tujuan-Nya sehubungan dengan umat pilihan-Nya. Alhasil, orang Israel mulai mengenal Yehuwa dalam peranan-Nya sebagai Penyelamat, Pejuang, Penyedia, dan Penggenap janji serta Pribadi yang membantu mereka dengan berbagai cara lain.​—Kel. 15:2, 3; 16:2-5; Yos. 23:14.

      15 Si pelajar mungkin tidak akan mengalami campur tangan Yehuwa dalam kehidupannya sedramatis yang dialami Musa. Meskipun demikian, seraya si pelajar bertumbuh dalam iman dan penghargaan atas apa yang dipelajarinya dan seraya ia menerapkannya, ia pasti akan menyadari perlunya bersandar pada Yehuwa untuk memperoleh keberanian, hikmat, dan bimbingan. Selain itu, ia juga akan mengenal Yehuwa dalam peranan-Nya sebagai Penasihat yang bijaksana dan dapat dipercaya, Pelindung, dan Pribadi yang dengan murah hati menyediakan semua kebutuhannya.​—Mz. 55:22; 63:7; Ams. 3:5, 6.

      Perlihatkan Minat yang Pengasih

      16. Mengapa kesanggupan alami bukan faktor terpenting untuk menjadi guru yang efektif?

      16 Jika Saudara merasa kurang terampil dalam hal mengajar, janganlah kecil hati. Yehuwa dan Yesus mengawasi program pendidikan yang sedang dilaksanakan di seluruh dunia dewasa ini. (Kis. 1:7, 8; Pny. 14:6) Mereka bisa memberkati upaya kita sehingga kata-kata kita berpengaruh positif atas orang yang berhati jujur. (Yoh. 6:44) Kasih yang tulus seorang guru kepada pelajarnya bisa mengimbangi kekurangan apa pun dalam kesanggupan alaminya. Rasul Paulus memperlihatkan bahwa ia mengerti pentingnya mengasihi orang-orang yang sedang diajar.​—Baca 1 Tesalonika 2:7, 8.

      17. Bagaimana kita bisa memperlihatkan minat yang tulus kepada setiap pelajar Alkitab?

      17 Demikian pula, kita dapat memperlihatkan minat yang tulus kepada setiap pelajar Alkitab dengan menyediakan waktu untuk mengenal mereka. Seraya membahas prinsip-prinsip Alkitab dengannya, kemungkinan besar kita akan semakin mengetahui keadaannya. Kita mungkin mengamati bahwa ia sudah menjalani kehidupannya selaras dengan beberapa pokok yang telah ia pelajari dari Alkitab. Dalam bidang-bidang lain, ia mungkin masih perlu membuat penyesuaian. Dengan membantu si pelajar melihat bagaimana informasi yang disampaikan dalam sesi-sesi pelajaran Alkitab berlaku bagi dia secara pribadi, kita dengan pengasih bisa membantunya menjadi murid Kristus yang sejati.

      18. Mengapa penting untuk berdoa bersama dan bagi pelajar kita?

      18 Yang paling penting, kita bisa berdoa bersama pelajar kita dan bagi pelajar kita. Hendaknya jelas bagi dia bahwa tujuan kita adalah membantunya mengenal Penciptanya dengan lebih akrab, mendekat kepada Dia, dan mendapat manfaat dari bimbingan-Nya. (Baca Mazmur 25:4, 5.) Sewaktu kita berdoa memohon berkat Yehuwa atas upaya seorang pelajar untuk menerapkan apa yang dipelajarinya, pelajar itu akan menyadari pentingnya menjadi ”pelaku firman”. (Yak. 1:22) Dan, seraya si pelajar mendengarkan doa kita yang tulus, ia juga akan belajar cara berdoa. Betapa senangnya membantu para pelajar Alkitab untuk mengembangkan hubungan mereka sendiri dengan Yehuwa!

      19. Apa yang akan dibahas dalam artikel berikut?

      19 Sungguh membesarkan hati untuk mengetahui bahwa lebih dari enam setengah juta Saksi di seluruh dunia sedang sibuk mengembangkan ”seni mengajar”, dengan tujuan membantu orang-orang yang berhati jujur mengindahkan semua hal yang Yesus perintahkan. Hasil apa saja yang diperoleh melalui kegiatan mengabar kita? Jawaban atas pertanyaan ini akan dibahas dalam artikel berikut.

  • ”Orang yang Memiliki Kecenderungan yang Benar” Memberi Tanggapan
    Menara Pengawal—2008 | 15 Januari
    • ”Orang yang Memiliki Kecenderungan yang Benar” Memberi Tanggapan

      ”Semua orang yang memiliki kecenderungan yang benar untuk kehidupan abadi menjadi orang percaya.”—KIS. 13:48.

      1, 2. Bagaimana orang Kristen masa awal menanggapi nubuat Yesus bahwa kabar baik akan diberitakan di seluruh bumi yang berpenduduk?

      BUKU Kisah dalam Alkitab mencatat laporan yang menarik tentang bagaimana orang Kristen masa awal menanggapi nubuat Yesus bahwa kabar baik Kerajaan akan diberitakan di seluruh bumi yang berpenduduk. (Mat. 24:14) Para pemberita yang bersemangat dapat dikatakan membuka jalan bagi semua orang yang akan mengikuti mereka. Sebagai hasil kesaksian gigih yang dilakukan murid-murid Yesus di Yerusalem, ribuan orang menggabungkan diri dengan sidang abad pertama, termasuk ”sekumpulan besar imam”.—Kis. 2:41; 4:4; 6:7.

      2 Para utusan injil abad pertama membantu lebih banyak orang lagi untuk menyambut Kekristenan. Misalnya, Filipus pergi ke Samaria, di mana kumpulan orang memberikan perhatian kepada apa yang ia katakan. (Kis. 8:5-8) Paulus sering mengadakan perjalanan bersama rekan-rekannya, mengabarkan berita Kristen di Siprus, bagian-bagian Asia Kecil, Makedonia, Yunani, dan Italia. Di kota-kota di mana ia mengabar, sejumlah besar orang Yahudi dan Yunani menjadi orang percaya. (Kis. 14:1; 16:5; 17:4) Titus melaksanakan pelayanan di Kreta. (Tit. 1:5) Petrus sibuk di Babilon, dan pada waktu ia menulis surat pertamanya, kira-kira pada tahun 62-64 M, kegiatan orang Kristen terkenal di Pontus, Galatia, Kapadokia, Asia, dan Bitinia. (1 Ptr. 1:1; 5:13) Benar-benar masa yang penuh kegiatan! Begitu bersemangatnya para pemberita Kristen abad pertama itu sampai-sampai musuh mereka menyatakan bahwa mereka telah ”mengacaukan bumi yang berpenduduk”.—Kis. 17:6; 28:22.

      3. Dewasa ini, hasil apa saja yang dicapai para pemberita Kerajaan dalam kegiatan pengabaran mereka, dan bagaimana perasaan Saudara tentang hal itu?

      3 Pada zaman modern juga, sidang Kristen telah mengalami pertumbuhan yang luar biasa. Tidakkah Saudara teranjurkan sewaktu membaca laporan tahunan Saksi-Saksi Yehuwa dan melihat hasil-hasil yang sedang dicapai di seluruh dunia? Tidakkah hati Saudara dihangatkan dengan mengetahui bahwa para pemberita Kerajaan mengadakan lebih dari enam juta pelajaran Alkitab selama tahun dinas 2007? Selain itu, dari jumlah hadirin pada Peringatan kematian Yesus Kristus tahun lalu terlihat bahwa kira-kira sepuluh juta orang yang bukan Saksi-Saksi Yehuwa cukup berminat pada kabar baik sehingga menghadiri perayaan peringatan yang penting ini. Hal ini menunjukkan bahwa masih ada banyak pekerjaan yang harus dilakukan.

      4. Siapa yang menanggapi berita Kerajaan?

      4 Dewasa ini, seperti pada abad pertama, ”semua orang yang memiliki kecenderungan yang benar untuk kehidupan abadi” menanggapi berita kebenaran. (Kis. 13:48) Yehuwa menarik orang-orang demikian ke organisasi-Nya. (Baca Hagai 2:7.) Sikap apa terhadap pelayanan Kristen yang perlu kita pertahankan agar kita dapat sepenuhnya bekerja sama dalam kegiatan pengumpulan ini?

      Mengabar dengan Tidak Berat Sebelah

      5. Siapa yang bisa mendapat perkenan Yehuwa?

      5 Orang Kristen abad pertama memahami bahwa ”Allah tidak berat sebelah, tetapi orang dari bangsa mana pun yang takut kepadanya dan mengerjakan keadilbenaran diperkenan olehnya”. (Kis. 10:34, 35) Orang yang ingin mempunyai hubungan yang baik dengan Yehuwa harus memperlihatkan iman akan korban tebusan Yesus. (Yoh. 3:16, 36) Dan, Yehuwa berkehendak agar ”segala macam orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan yang saksama tentang kebenaran”.—1 Tim. 2:3, 4.

      6. Para pemberita Kerajaan harus berhati-hati terhadap apa, dan mengapa?

      6 Tidaklah patut apabila pemberita kabar baik menghakimi orang atas dasar suku, status sosial, penampilan, latar belakang agama, atau ciri-ciri lain yang membedakan mereka dari mayoritas orang. Pikirkan sejenak: Tidakkah Saudara bersyukur bahwa orang yang pertama berbicara kebenaran Alkitab kepada Saudara tidak berprasangka terhadap Saudara? Maka, patutkah kita menahan diri sehingga tidak menyampaikan berita yang bisa menyelamatkan kehidupan kepada siapa pun yang mungkin mau mendengarkannya?—Baca Matius 7:12.

      7. Mengapa kita harus menahan diri untuk tidak menghakimi orang yang kita kabari?

      7 Yehuwa telah melantik Yesus sebagai Hakim; karena itu, kita tidak berhak untuk menghakimi siapa pun. Hal ini tepat, mengingat—tidak seperti Yesus—kita hanya bisa menghakimi ”berdasarkan apa yang tampak di mata [kita]” atau ”menurut apa yang didengar oleh telinga [kita] saja”, sedangkan Yesus dapat mengetahui penalaran dalam hati serta pikiran-pikiran yang terdalam.—Yes. 11:1-5; 2 Tim. 4:1.

      8, 9. (a) Sebelum menjadi Kristen, orang macam apakah Saul? (b) Apa yang hendaknya kita pelajari dari pengalaman rasul Paulus?

      8 Orang-orang dari hampir segala latar belakang telah menjadi hamba Yehuwa. Salah satu contoh yang menonjol adalah Saul dari Tarsus, yang kemudian dikenal sebagai rasul Paulus. Saul adalah seorang Farisi yang dengan sengit menentang orang Kristen. Karena memiliki keyakinan yang tulus bahwa mereka salah, ia menganiaya sidang jemaat Kristen. (Gal. 1:13) Dari sudut pandangan manusia, tampaknya sangat kecil kemungkinannya ia menjadi orang Kristen. Namun, Yesus melihat sesuatu yang baik dalam hati Saul dan memilihnya untuk memenuhi suatu tugas khusus. Alhasil, Saul menjadi salah seorang anggota sidang Kristen abad pertama yang paling aktif dan bersemangat.

      9 Pelajaran apa yang dapat kita peroleh dari pengalaman rasul Paulus? Di daerah kita, mungkin ada kelompok orang yang tampaknya antipati terhadap berita yang kita sampaikan. Meskipun diragukan bahwa ada di antara mereka yang bakal menjadi orang Kristen sejati, kita hendaknya tidak berhenti berupaya untuk bertukar pikiran dengan mereka. Kadang-kadang, bahkan orang yang tidak kita sangka ternyata mau mendengarkan. Tugas kita adalah untuk terus mengabar kepada semua orang ”tanpa henti”.—Baca Kisah 5:42.

      Berkat Menanti Orang yang Mengabar ”tanpa Henti”

      10. Mengapa kita hendaknya tidak menahan diri untuk mengabar kepada orang-orang yang kelihatan seram? Ceritakan pengalaman setempat.

      10 Penampilan bisa menipu. Ignacio,a misalnya, mulai belajar Alkitab dengan Saksi-Saksi Yehuwa ketika ia mendekam di penjara sebuah negeri di Amerika Selatan. Ia ditakuti karena sifatnya yang garang. Karena itu, para narapidana yang membuat dan menjual barang kepada sesama narapidana menggunakan Ignacio untuk menagih utang dari orang yang lambat membayar. Akan tetapi, seraya Ignacio membuat kemajuan rohani dan menerapkan apa yang sedang ia pelajari, jagoan yang dulunya beringas ini menjadi orang yang baik hati. Tidak ada lagi yang memakai dia untuk menagih utang, namun Ignacio berpuas bahwa kebenaran Alkitab dan roh Allah telah mengubah kepribadiannya. Ia juga bersyukur karena para penyiar Kerajaan yang berpikiran terbuka telah berupaya belajar dengannya.

      11. Mengapa kita terus mengunjungi kembali orang-orang?

      11 Salah satu alasan kita terus mengunjungi kembali orang-orang yang sebelumnya telah mendengar kabar baik adalah karena keadaan dan sikap mereka bisa dan ternyata memang berubah. Sejak kunjungan kita yang terakhir, ada yang mungkin mengalami penyakit serius, di-PHK, atau ditinggal mati orang yang dikasihi. (Baca Pengkhotbah 9:11.) Peristiwa dunia mungkin memotivasi orang untuk berpikir dengan serius tentang masa depan mereka. Perkembangan demikian bisa membuat orang yang sebelumnya bersifat apatis—atau bahkan menentang—memberikan tanggapan yang baik. Karena itu, kita hendaknya tidak menahan diri untuk menyampaikan kabar baik kepada orang lain pada setiap kesempatan yang cocok.

      12. Bagaimana hendaknya kita memandang orang-orang yang kita kabari, dan mengapa?

      12 Menggolongkan dan menghakimi orang lain tampaknya merupakan kecenderungan manusia. Namun, Yehuwa melihat orang secara individu. Ia melihat potensi setiap orang. (Baca 1 Samuel 16:7.) Dalam pelayanan, kita pun hendaknya berupaya sebisa-bisanya melakukan hal yang sama. Banyak pengalaman memperlihatkan hasil-hasil baik yang dicapai apabila kita memiliki pandangan yang positif terhadap semua orang yang kita kabari.

      13, 14. (a) Mengapa seorang perintis memberikan tanggapan yang negatif terhadap seorang wanita yang dijumpainya dalam pelayanan? (b) Apa yang dapat kita pelajari dari pengalaman ini?

      13 Sandra, seorang perintis, sedang melakukan pelayanan dari rumah ke rumah di sebuah pulau di Kepulauan Karibia ketika ia berjumpa dengan Ruth, yang sangat terlibat dalam perayaan-perayaan karnaval. Dua kali Ruth dinobatkan sebagai ratu karnaval nasional. Ia memperlihatkan minat yang tulus terhadap kabar yang disampaikan Sandra, maka pelajaran Alkitab pun diadakan. Sandra mengenang, ”Ketika memasuki ruang tamunya, saya melihat sebuah foto Ruth yang besar, lengkap dengan kostum karnavalnya, dan ada juga trofi-trofi yang ia menangkan. Saya keliru menyangka bahwa orang yang begitu populer dan begitu terlibat dalam kegiatan karnaval pastinya tidak bakal berminat akan kebenaran. Jadi, saya tidak mengunjunginya lagi.”

      14 Beberapa waktu kemudian, Ruth muncul di Balai Kerajaan, dan ketika perhimpunan selesai, ia bertanya kepada Sandra, ”Mengapa Anda tidak datang lagi untuk belajar dengan saya?” Sandra meminta maaf dan pelajaran pun kembali diadakan. Ruth membuat kemajuan pesat, menurunkan gambar-gambar karnavalnya, mulai ikut dalam semua kegiatan sidang, dan membaktikan kehidupannya kepada Yehuwa. Tentu saja, Sandra belakangan sadar bahwa reaksi awalnya keliru.

      15, 16. (a) Apa yang dihasilkan karena seorang penyiar memberikan kesaksian kepada kerabatnya? (b) Mengapa latar belakang seorang kerabat hendaknya tidak menghalangi kita untuk memberikan kesaksian kepadanya?

      15 Hasil positif juga dialami banyak Saksi yang telah memberikan kesaksian kepada anggota keluarga yang tidak seiman, bahkan sewaktu kelihatannya mereka tidak bakal menyambut. Misalnya, pengalaman Joyce, seorang saudari di Amerika Serikat. Ipar lelakinya keluar masuk penjara sejak masih remaja. ”Orang mengatakan bahwa kehidupannya sudah tidak berarti,” kata Joyce, ”karena ia pencuri, terlibat narkoba, dan melakukan banyak sekali hal buruk lainnya. Meskipun kelihatannya mustahil dia mau berubah, saya terus membagikan kebenaran Alkitab kepadanya selama 37 tahun.” Upayanya yang sabar untuk membantu kerabatnya diberkati dengan limpah ketika kerabatnya itu akhirnya mulai belajar Alkitab dengan Saksi-Saksi Yehuwa dan membuat perubahan yang drastis dalam kehidupannya. Baru-baru ini, pada usia 50 tahun, ipar Joyce itu dibaptis di sebuah kebaktian distrik di Kalifornia, AS. Joyce mengatakan, ”Saya menangis karena sukacita. Saya begitu bahagia karena saya tidak pernah menyerah!”

      16 Saudara bisa jadi ragu-ragu untuk berbicara tentang kebenaran Alkitab kepada kerabat tertentu karena latar belakang mereka. Namun, Joyce tidak segan-segan berbicara kepada iparnya. Lagi pula, bagaimana kita bisa tahu apa yang ada dalam hati orang lain? Orang itu mungkin benar-benar tulus mencari kebenaran agama. Karena itu, jangan menahan diri tetapi berikanlah kesempatan kepadanya untuk menemukan kebenaran itu.—Baca Amsal 3:27.

      Alat Bantu Belajar Alkitab yang Efektif

      17, 18. (a) Apa yang ditunjukkan oleh laporan dari seluruh dunia tentang nilai dari buku Apa yang Sebenarnya Alkitab Ajarkan? (b) Pengalaman bagus apa yang Saudara miliki sehubungan dengan menggunakan buku ini?

      17 Laporan dari negeri-negeri di seputar dunia memperlihatkan bahwa banyak orang yang berhati jujur menanggapi dengan baik alat bantu belajar Alkitab Apa yang Sebenarnya Alkitab Ajarkan? Penni, seorang perintis di Amerika Serikat, memulai beberapa pelajaran dengan publikasi ini. Dua di antaranya dengan orang-orang yang sudah lanjut usia dan mereka adalah anggota gereja yang saleh. Penni tidak tahu pasti bagaimana mereka akan menanggapi kebenaran Alkitab yang terdapat dalam buku Alkitab Ajarkan. Meskipun demikian, ia menulis, ”Karena informasi dalam buku itu disampaikan dengan jelas, logis, dan ringkas, mereka mudah menerima apa yang mereka pelajari sebagai kebenaran, tanpa argumen atau pergolakan emosi.”

      18 Pat, seorang penyiar di Inggris, mulai belajar Alkitab dengan seorang pengungsi dari suatu negeri di Asia. Wanita itu terpaksa melarikan diri dari negerinya setelah suami dan putra-putranya dibawa pergi oleh tentara pemberontak, dan tidak pernah terlihat lagi. Kehidupannya terancam, rumahnya habis dibakar, dan ia diperkosa secara bergilir. Semua ini membuatnya kehilangan tujuan hidup, dan beberapa kali ia berniat bunuh diri. Namun, pelajaran Alkitab memberinya harapan. ”Penjelasan dan perumpamaan yang sederhana dalam buku Alkitab Ajarkan sangat berpengaruh atas dirinya,” tulis Pat. Pelajar itu membuat kemajuan yang cepat, memenuhi syarat untuk menjadi penyiar tak terbaptis, dan menyatakan keinginannya untuk dibaptis pada kebaktian berikutnya. Betapa senangnya membantu orang yang tulus untuk memahami dan menghargai harapan yang diberikan oleh Alkitab!

      ”Biarlah Kita Tidak Menyerah dalam Melakukan Apa yang Baik”

      19. Mengapa pekerjaan pengabaran begitu mendesak?

      19 Seraya hari demi hari berlalu, tugas kita untuk mengabar dan membuat murid semakin mendesak. Setiap tahun, ribuan orang yang memiliki kecenderungan yang benar menanggapi kabar baik yang kita sampaikan. Namun, ”hari besar Yehuwa sudah dekat”, yang berarti bahwa orang yang tetap berada dalam kegelapan rohani sedang ”terhuyung-huyung ke pembantaian”.—Zef. 1:14; Ams. 24:11.

      20. Kita masing-masing hendaknya bertekad melakukan apa?

      20 Kita masih bisa membantu orang-orang demikian. Tetapi, agar dapat melakukan hal itu, sangat perlu untuk kita meniru orang Kristen abad pertama, yang ”tanpa henti terus mengajar dan menyatakan kabar baik tentang Kristus, yaitu Yesus”. (Kis. 5:42) Ikutilah teladan mereka dengan bertekun meskipun ada perlawanan, dengan memperhatikan ”seni mengajar” Saudara, dan dengan mengabar kepada semua orang dengan tidak berat sebelah! ”Biarlah kita tidak menyerah dalam melakukan apa yang baik”, karena jika kita bertekun, kita akan menuai berkat yang limpah berupa perkenan ilahi.​—2 Tim. 4:2; baca Galatia 6:9.

      [Catatan Kaki]

      a Beberapa nama diganti.

Publikasi Menara Pengawal Bahasa Indonesia (1971-2025)
Log Out
Log In
  • Indonesia
  • Bagikan
  • Pengaturan
  • Copyright © 2025 Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania
  • Syarat Penggunaan
  • Kebijakan Privasi
  • Pengaturan Privasi
  • JW.ORG
  • Log In
Bagikan