PERPUSTAKAAN ONLINE Menara Pengawal
PERPUSTAKAAN ONLINE
Menara Pengawal
Indonesia
  • ALKITAB
  • PUBLIKASI
  • PERHIMPUNAN
  • Para Misionaris Susunan Kristen Kembali ke Tempat Segalanya Bermula
    Sedarlah!—1994 | 8 November
    • Misionaris Agen Terang atau Agen Kegelapan?​—Bagian 3

      Para Misionaris Susunan Kristen Kembali ke Tempat Segalanya Bermula

      Asia adalah tempat asal mula umat manusia. Di situlah sang Pencipta memperkenalkan ibadat yang murni. Meskipun tak lama kemudian umat manusia secara tidak bijaksana menggantikannya dengan ibadat palsu, akhirnya ibadat sejati berlanjut di Asia, Israel purba, dan kemudian dalam kekristenan. Maka sewaktu para misionaris Susunan Kristen dari Eropa membawa berita mereka ke Asia, mereka pergi ke benua tempat peradaban manusia dan agama sejati dimulai. Apakah mereka ternyata menjadi agen dari terang atau dari kegelapan yang lebih pekat?​—Kejadian 2:10-17.

      Apa Artinya Kelebihan atau Kekurangan Satu Allah?

      Tidak mungkin untuk menentukan dengan pasti bilamana dan bagaimana agama Kristen pertama kali sampai di India. Sejarawan agama abad keempat, Eusebius, berkata bahwa Tomas, sang rasul Kristen, membawa iman Kristen ke India pada abad pertama. Orang-orang lain berkata bahwa ”kekristenan” diperkenalkan di sana antara abad kedua dan keempat. Sewaktu para penjelajah berkebangsaan Portugis tiba di sana pada akhir abad ke-15, mereka mendapati ”orang-orang Kristen membentuk unsur masyarakat yang diakui dan disegani dalam masyarakat India”.​—The Encyclopedia of Religion.

      Fransiskus Xaverius, seorang imam berkebangsaan Spanyol tiba di bagian benua India pada tahun 1542. Ia adalah rekan dari Ignatius Loyola, pendiri ordo keagamaan Serikat Yesus, yang umumnya dikenal sebagai kaum Yesuit. The New Encyclopædia Britannica menjuluki Xaverius sebagai ”misionaris Katolik Roma terbesar pada zaman modern”, menyebutnya ”alat dalam mendirikan kekristenan di India, Kepulauan Melayu, dan Jepang”.

      Meskipun usia Xaverius relatif singkat​—ia meninggal pada tahun 1552 dalam usia 46​—pelayanan misionarisnya selama sepuluh tahun penuh dengan kegiatan. Menurut laporan, ia menganjurkan para misionaris untuk mengadopsi adat dan bahasa dari orang-orang yang mereka layani.

      Para misionaris Protestan pertama yang pergi ke India tiba pada tahun 1706, kira-kira 85 tahun sebelum William Carey menerbitkan buku An Enquiry Into the Obligations of Christians to Use Means for the Conversion of the Heathens (Penyelidikan Terhadap Kewajiban Orang-Orang Kristen untuk Menggunakan Berbagai Sarana untuk Menobatkan Orang-Orang Kafir). Publikasi ini telah disebut ”penunjuk dalam sejarah Kristen”. Setelah menulis buku ini, Carrey melayani selama 40 tahun di India sebagai misionaris.

      Seraya waktu berlalu, para misionaris Susunan Kristen merambat ke setiap pelosok negara India. Karena tidak menemukan harapan akan masa depan yang lebih baik dalam agama Hindu, golongan lebih rendah yang serba kekurangan, khususnya kasta paria, mulai berpaling ke agama-agama Susunan Kristen. Akan tetapi, The Encyclopedia of Religion mencatat bahwa kecondongan ini ”tidak direstui oleh mayoritas pemimpin Kristen terpelajar berkebangsaan India”.

      Dalam menyingkapkan ketidakefektifan Susunan Kristen, sejarawan Will Durant menulis, ”Dahulu maupun sekarang, orang-orang India percaya pada dewa-dewa yang telah lama memandang rendah kemiskinan dan ketandusan India. . .. Sewaktu orang-orang bidah atau dewa-dewa asing menjadi populer sehingga merusak kepopuleran dewa-dewa Hindu, mereka, [kaum Brahma] mentoleransinya, dan memasukkannya ke dalam kepercayaan Hindu; kelebihan atau kekurangan satu allah tidak menghasilkan banyak perbedaan di India.” Dalam bukunya The Jesuits, yang diterbitkan pada tahun 1984, Manfred Barthel mengatakan, ”Orang-orang India akhirnya tetap menyembah sapi suci mereka; agama Hindu sudah ada lebih dahulu dibanding Yesuit dan Mogul, dan dewasa ini agama tersebut tampaknya akan mengekspor anak cabangnya ke Dunia Barat.”

      Gagal Meninggalkan Kesan yang Langgeng

      Susunan Kristen masa awal, yang sudah terbagi ke dalam gereja Barat dan gereja Timur, mengalami skisma [perpecahan agama] lebih jauh selama abad kelima. Nestorius, seorang patriakh dari Konstatinopel, terlibat dalam suatu kontroversi yang mengarah kepada terbentuknya Gereja Nestoria, yaitu kelompok yang melepaskan diri dari gereja Timur.

      Gereja Nestoria menekankan pekerjaan misionaris. Salah satu dari misionaris mereka bernama Alopen, yang rupanya memperkenalkan kepercayaan Nestoria ke Cina pada tahun 635 M. Sebaliknya, gereja Barat tidak menjamah Cina hingga tahun 1294, ketika frater Fransiskan bernama John dari Monte Orvino mendirikan suatu misi di sana.

      Akan tetapi, sebenarnya kegiatan misionaris di Cina tidak dimulai hingga tahun 1580-an, saat kedatangan Matteo Ricci, yang adalah seorang Yesuit berkebangsaan Italia. Sementara itu gereja Protestan sedang berjuang untuk memperkuat posisinya selama pasca-Reformasi di Eropa, gereja Katolik sedang sibuk mencari penganut baru di luar Eropa. Kampanye penjelajahan yang dilakukan oleh Portugis dan Spanyol, dua negara Katolik, membantu upaya-upaya gereja dalam mencari penganut baru di luar Eropa.

      Para misionaris abad ke-17 dan ke-18 mendapat sukses besar mungkin karena, seperti yang dikatakan The Cambridge History of China, ”sejumlah besar dari [mereka] (terutama kaum Yesuit) mengembangkan sikap toleransi yang besar”. Profesor sejarah Cina bernama Hans H. A. Bielenstain menguraikan, ”[Kaum Yesuit] menekankan persamaan antara kekristenan dan Konfusianisme, menyamakan Allah Kristen dengan konsep Surgawi orang Cina, dan tidak menunjukkan keberatan terhadap penyembahan nenek moyang. Itulah sebabnya mengapa kaum Yesuit dapat menobatkan orang-orang di beberapa daerah, namun itu juga alasannya mengapa mereka tidak meninggalkan kesan yang langgeng.”

      Beberapa misionaris dibaktikan untuk membawa penerangan yang berbeda. Dr. Peter Parker menjadi misionaris medis yang pertama ke Cina, membantu mengatur Medical Missionary Society yang didirikan di Kanton pada tahun 1838 Para misionaris lainnya membaktikan diri mereka pada pengejaran akan pendidikan, untuk menunjang usaha kedermawanan, atau memecahkan masalah-masalah sosial. Menurut The Cambridge History of China, beberapa dari pekerjaan terjemahan yang dilakukan oleh para misionaris ”lebih cocok untuk memajukan pemahaman tentang Eropa kepada orang-orang Cina daripada membuat orang-orang Cina lebih dapat menerima kekristenan”.

      Para misionaris Susunan Kristen juga gagal memberikan teladan persatuan dan persaudaraan Kristen kepada orang-orang Cina. Orang-orang Protestan khususnya terpecah belah. Dalam empat dekade, jumlah para misionaris mereka bertambah dari 189 hingga berjumlah 3.445. Menjelang tahun 1905, para misionaris yang berasal dari 60 lembaga penginjilan atau mungkin lebih, menyebarkan ajaran Kristen versi mereka sendiri. Para misionaris Katolik juga memberi gambaran yang agak tidak disukai dari apa yang semestinya dilakukan oleh kekristenan. The Cambridge History of China menyebutkan ”meluasnya praktek turut campur dalam urusan-urusan politik dan pengadilan setempat agar mendapatkan penganut baru yang potensial”.

      Mencari Penganut Baru di Tempat Lain

      Kurang dari satu abad setelah seorang penjelajah berkebangsaan Portugis bernama Ferdinand Magellan menginjakkan kakinya di Kepulauan Filipina pada tahun 1521, para misionaris Katolik di sana telah membaptis kira-kira dua juta orang. Dewasa ini, 84 persen dari penduduk Filipina adalah penganut Katolik Roma. Sistem pendidikan yang dirancang oleh gereja pasti membantu menjelaskan kesuksesan ini. Namun faktor lain yang hendaknya tidak diabaikan, kata seorang penulis, adalah bahwa para misionaris ”membiarkan para penganut baru mempertahankan banyak dari kepercayaan dan praktek agama mereka”.

      Di tempat-tempat lain gereja kurang begitu berhasil. Misalnya, jumlah penganut Katolik di Jepang hanya 0,3 persen dari seluruh penduduk Jepang. Di Republik Korea, jumlahnya mendekati hampir 6 persen.

      Hubungan pertama antara Jepang dengan Eropa adalah pada tahun 1542. Di tahun 1549, misionaris Yesuit bernama Fransiskus Xaverius bersama beberapa rekan disambut dengan ramah. Tak lama kemudian antusias awal ini menjadi dingin ketika para pemimpin Jepang ”mulai curiga, jangan-jangan kegiatan misionaris Eropa merupakan pendahuluan dari penaklukan politik oleh raja Spanyol (karena mereka tahu hal itu telah terjadi di Filipina)”, demikian tulis profesor sejarah bernama J. Mason Gentzler.

      Pada tahun 1614, ”para misionaris dianggap sebagai musuh negara dan sang kaisar menitahkan bahwa kekristenan tidak akan lagi ditoleransi di daerah kekuasaannya. . .. Sejumlah puluhan ribu penganut baru yang menolak untuk meninggalkan agama baru disalibkan . . . , sedangkan para misionaris diperlakukan dengan mengerikan . . . mereka dibakar atau dipanggang hidup-hidup, dipotong-potong, dilemparkan ke dalam lubang yang penuh ular berbisa”, itu hanyalah sebagian dari kekejaman yang lain.​—The Jesuits.

      Ajaran Katolik diperkenalkan ke Korea pada tahun 1784, agama Protestan seabad kemudian. Agama Protestan ”berkembang jauh lebih cepat karena para misionaris Amerika tidak hanya memperkenalkan injil melainkan juga pendidikan, kedokteran, dan teknologi”, demikian penjelasan majalah Time. Kebijakan dalam mencari penganut baru ini melalui sarana lain selain pelajaran agama saja rupanya sekarang masih dilakukan. Profesor filsafat bernama Son Bong Ho dari Seoul National University dikutip sewaktu mengatakan, ”Gereja-gereja tersebut yang telah menekankan berkat-berkat materi telah tumbuh lebih cepat daripada denominasi utama.”

      Apa yang Akan Disingkapkan Masa Depan

      Bagaimana hendaknya kita memandang para misionaris Susunan Kristen di masa lampau? Apa yang mereka wakili bukanlah bentuk ibadat murni yang diperkenalkan Yesus. Namun, banyak dari mereka pasti berhati tulus. Bagaimanapun juga, mereka telah menerjemahkan Alkitab ke dalam banyak bahasa daerah dan mengajarkan sedikitnya beberapa konsep Alkitab.

      Bagaimana dengan para misionaris Susunan Kristen yang pergi ke Afrika,yang dahulu disebut Benua Gelap? Bacalah hal ini dalam artikel ”Terang Rohani bagi ’Benua Gelap’” berikut ini.

      [Kotak di hlm. 27]

      ”Yehuwa” dalam Alkitab Bahasa Cina

      John W. Davis, seorang misionaris dan penerjemah abad ke-19 beralasan, ”Jika Roh Kudus mengatakan Yehuwa di beberapa ayat tertentu dalam bahasa Ibrani, mengapa penerjemah tidak mengatakan Yehuwa dalam bahasa Inggris atau Cina? Apa hak si penerjemah mengatakan, saya akan menggunakan Yehuwa di ayat ini dan kata gantinya di ayat lain? . . . Andai kata memang salah menggunakan Yehuwa dalam terjemahan, lalu mengapa penulis terilham menggunakannya dalam salinan aslinya?”

  • Terang Rohani bagi ”Benua Gelap”?
    Sedarlah!—1994 | 8 November
    • Misionaris Agen Terang Atau Agen Kegelapan?​—Bagian 4

      Terang Rohani bagi ”Benua Gelap”?

      ”KURANG dari 100 tahun yang lalu, Afrika dijuluki Benua Gelap karena banyak dari benua ini tidak dikenal oleh orang-orang Eropa.” Apa yang diacu The World Book Encyclopedia di sini bukanlah kegelapan Afrika namun, sebaliknya, kegelapan Eropa​—kurangnya pengetahuan orang-orang Eropa tentang benua yang sebagian besar belum dieksplorasi. Maka tidak bertentangan jika nama Afrika kemungkinan berasal dari kata Latin aprica, yang berarti ”cerah”.

      Sungguhpun demikian, dalam satu aspek, Afrika berada dalam kegelapan​—dalam kegelapan sehubungan kebenaran Alkitab. Donald Coggan, mantan Uskup Agung dari Canterbury, menyebut Afrika dan Asia ”dua benua besar tempat Gereja-Gereja Barat paling banyak menuangkan sumber daya manusia dan uang mereka selama dua ratus tahun”.

      Tak diragukan, banyak misionaris Susunan Kristen berhati tulus. Dalam melaksanakan pekerjaan mereka, beberapa misionaris bahkan mengorbankan kehidupan mereka. Pengaruh mereka atas kehidupan orang-orang Afrika sangat besar. Tetapi apakah mereka, seperti yang telah dilakukan Kristus, ”memancarkan terang . . . melalui kabar baik”, dengan demikian menyingkirkan kegelapan rohani dari apa yang disebut Benua Gelap?​—2 Timotius 1:10, NW.

      Misionaris Pribumi Memancarkan Terang Pertama yang Redup

      Menurut catatan, orang Kristen mula-mula yang mengabar di Afrika adalah orang Afrika sendiri, sida-sida dari Etiopia yang disebutkan dalam Alkitab di Kisah Para Rasul pasal 8. Sebagai proselit Yahudi, ia sedang dalam perjalanan pulang setelah beribadat di bait Yerusalem ketika Filipus menobatkannya kepada kekristenan. Jelaslah, sesuai dengan gairah orang-orang Kristen yang mula-mula, orang Etiopia ini, setelah itu, dengan aktif mengabarkan kabar baik yang telah ia dengar, menjadi misionaris di negerinya sendiri.

      Akan tetapi, para sejarawan tidak setuju kalau ini adalah cara berdirinya kekristenan di Etiopia. Gereja Ortodoks Etiopia rupanya muncul pada abad keempat, sewaktu seorang pelajar filsafat berkebangsaan Suriah bernama Frumentius dilantik sebagai uskup bagi ”orang-orang Kristen” Etiopia oleh Athanasius, seorang uskup dari Gereja Koptik, Aleksandria

      Gereja Koptik​—Copt berasal dari bahasa Yunani untuk ”orang-orang Mesir”​—menyatakan bahwa pendiri dan patriark pertamanya adalah Markus sang Penginjil. Menurut tradisi, ia mengabar di Mesir tepat sebelum pertengahan abad pertama. Bagaimanapun juga, ”kekristenan” menyebar ke Afrika Utara pada abad pertama, bersamaan dengan orang-orang seperti Origen dan Agustinus yang tampil menjadi tokoh terkemuka. Sekolah katekisasi di Aleksandria, Mesir, menjadi pusat ilmu pengetahuan ”Kristen” yang terkemuka dengan Pantaenus sebagai presidennya yang pertama. Tetapi pada zaman penerus Pantaenus yang bernama Klemens dari Aleksandria, kemurtadan jelas telah menjadi parah. The Encyclopedia of Religion mengungkapkan bahwa Klemens ”menganjurkan dipersatukannya doktrin Kristen dan Alkitab dengan filsafat Yunani”.

      Gereja Koptik mengadakan kampanye misionaris yang intensif, terutama di daerah sebelah timur Libia. Penggalian-penggalian arkeologi di Nubia dan di sebelah selatan Sudan, juga menyingkapkan pengaruh Koptik.

      Para Misionaris Eropa Tiba

      Orang-orang Eropa hanya melakukan sedikit pekerjaan misionaris di Afrika sebelum abad ke-16 hingga ke-18, selama periode ini orang-orang Katolik mencapai sukses besar. Agama-Agama Protestan belum tiba hingga awal abad ke-19, sewaktu Sierra Leone menjadi negara Afrika Barat pertama yang dicapai oleh misionaris-misionaris mereka. Walaupun orang-orang Protestan berupaya keras mengimbangi kesuksesan yang diraih orang-orang Katolik, dewasa ini, dengan beberapa pengecualian, setiap negara Afrika yang bangga karena memiliki populasi ”Kristen” yang besar, memiliki lebih banyak orang Katolik dibandingkan orang Protestan.

      Misalnya 96 persen dari penduduk Gabon beragama Kristen. Tidak lama sebelum Perang Dunia I, seorang Lutheran bernama Albert Schweitzer, mendirikan rumah sakit Katolik di sana dan belakangan membuat perkampungan untuk para penderita kusta. Walaupun adanya pengaruh yang kuat dari kegiatan penginjilan Protestannya selama kira-kira 40 tahun atau lebih di negara tersebut, jumlah orang Katolik masih lebih banyak dibandingkan orang Protestan dengan rasio 3 berbanding 1.

      Akan tetapi, dengan meningkatnya partisipasi Protestan, kegiatan misionaris di Afrika semakin pesat. Adrian Hastings dari Universitas Leeds menjelaskan bahwa ”warisan penting dari periode ini [lima puluh tahun terakhir dari abad ke-19] merupakan awal yang nyata dari penerjemahan Alkitab ke dalam banyak bahasa Afrika”.

      Penerjemahan Alkitab ke dalam bahasa daerah menyediakan dasar bagi penyebaran ”kekristenan”, yang sebelumnya tersendat-sendat. Banyak orang Afrika percaya kepada mimpi dan penglihatan, menganggap penyakit berhubungan dengan guna-guna dan mempraktekkan poligami. Memiliki Alkitab dalam bahasa daerah memberi para misionaris Susunan Kristen kesempatan untuk memancarkan terang Alkitab berkenaan pokok-pokok ini. Akibatnya? ”Mulai akhir abad kesembilan belas, banyak gereja yang berdiri sendiri mulai bermunculan, pertama di Afrika Selatan dan Nigeria, kemudian di banyak bagian lain dari benua tersebut sudah ada tempat kegiatan misionaris yang penting.”

      Sebenarnya dewasa ini, ada kira-kira 7.000 gerakan keagamaan baru, dengan lebih dari 32.000.000 pengikut di pinggiran Sahara, Afrika. Menurut The Encyclopedia of Religion, ”gerakan-gerakan ini muncul terutama di daerah-daerah yang pernah menjalin hubungan intensif dengan upaya-upaya misionaris Kristen”. Jelaslah para misionaris gagal menyatukan pengikut mereka yang baru dalam ”satu Tuhan, satu iman, satu baptisan” sehubungan pekerjaan penginjilan yang dibicarakan Paulus.​—Efesus 4:5.

      Mengapa? Sumber yang disebutkan di atas menjelaskan bahwa ini dikarenakan ”kekecewaan para penganut baru setempat sehubungan dasar pemikiran dan hasil dari kekristenan . . . ,perpecahan yang dirasakan di dalam kekristenan yang terbagi dalam berbagai denominasi serta kegagalannya dalam memenuhi kebutuhan setempat [dan] gagalnya misi kekristenan dalam mematahkan rintangan sosial dan budaya serta dalam mencetuskan rasa kebersamaan”.

      Kadar ”terang” rohani yang dipancarkan para misionaris Susunan Kristen ke atas ”Benua Gelap” terlalu redup. Karena itu, terlalu lemah untuk menghalau kegelapan akibat ketidaktahuan akan Alkitab.

      Agen-Agen Penjajahan

      Walaupun fakta menyebutkan bahwa beberapa misionaris Susunan Kristen menunaikan misinya dengan baik, The Encyclopedia of Religion terpaksa mengakui, ”Para misionaris mendesak serta menyediakan sarana untuk mengambil alih penjajahan, sehingga kekristenan dan para penjajah kelihatan seperti dua sisi dari sekeping mata uang. Pandangan antipenjajahan modern sering mencap kekristenan di Afrika, yang beberapa hal memang benar, sebagai antek-antek penjajahan.”

      The Collins Atlas of World History memberikan pemahaman sewaktu menerangkan bahwa bangsa-bangsa Barat didorong oleh keyakinan bahwa ”penjajahan akan membawa cahaya penalaran, prinsip-prinsip demokrasi dan manfaat sains serta medis bagi suku-suku pedalaman itu yang dianggap primitif”. Dan The New Encyclopædia Britannica menyatakan, ”Sangat sulit bagi misi Katolik Roma untuk memisahkan diri dari penjajahan, dan juga banyak misionaris tidak menginginkan adanya hal itu.”

      Maka secara masuk akal, karena para misionaris Susunan Kristen sampai pada tingkat mendukung demokrasi dan memuji-muji keuntungan dari kemajuan sains dan medis Barat, mereka tampil sebagai agen-agen penjajahan. Setelah orang menjadi kecewa terhadap struktur ekonomi, politik, dan sosial dari kekuasaan kolonial, dan mereka juga kehilangan iman akan agama-agama orang Eropa.

      Pengabaran​—Prioritas Utama?

      Setiap kali nama-nama para misionaris Protestan di Afrika disebutkan, nama David Livingstone biasanya tidak ketinggalan. Ia dilahirkan di Skotlandia pada tahun 1813, ia menjadi seorang misionaris medis dan berkelana secara ekstensif ke seluruh Afrika. Cintanya yang dalam akan ”Benua Gelap” dan rasa senangnya akan penemuan baru merupakan motivasi tambahan baginya. The New Encyclopædia Britannica berbicara tentang ”kekristenan, perdagangan, dan peradaban” sebagai ”tiga cara yang dianggapnya dapat membuka Afrika”.

      Livingstone memiliki banyak prestasi. Akan tetapi, prioritas utamanya, jelas bukan mengabarkan injil. Pekerjaan misionarisnya selama 30 tahun ”di bagian selatan, tengah dan timur Afrika​—sering kali di tempat-tempat yang belum pernah dilalui oleh orang Eropa” diringkaskan Britannica sebagai berikut, ”Livingstone mungkin telah mempengaruhi sikap Barat terhadap Afrika lebih banyak daripada individu lain sebelum atau setelah masa hidupnya. Penemuan-penemuannya​—secara geografis, teknis, medis, dan sosial​—menyediakan kumpulan pengetahuan yang kompleks yang kini masih diselidiki. . .. Livingstone percaya dengan sepenuh hati akan kesanggupan orang Afrika untuk maju ke arah dunia modern. Dalam hal ini, ia bukan saja pelopor imperialisme Eropa di Afrika namun juga pelopor nasionalisme Afrika.” Livingstone memperlihatkan rasa iba yang besar terhadap orang Afrika.

      Meskipun beberapa misionaris mendukung atau setidaknya membiarkan perdagangan budak, tidaklah adil untuk menuduh mereka secara kelompok karena telah melakukan hal demikian. Namun, apakah rasa iba yang diperlihatkan banyak misionaris dimotivasi oleh hasrat untuk menjunjung standar Allah berkenaan rasa tidak memihak dan persamaan atau lebih cenderung karena perasaan yang normal akan keprihatinan pribadi berkenaan kesejahteraan individu, merupakan hal yang sulit untuk dipastikan, mengingat pengalaman masa lalu.

      Akan tetapi, perasaan yang normal akan keprihatinan pribadi berkenaan kesejahteraan individu sesuai dengan prioritas yang ditetapkan oleh kebanyakan misionaris. Buku Christianity in Africa as Seen by Africans mengakui bahwa tidak seorang pun ”dapat menandingi rekor pekerjaan kemanusiaan mereka”. Namun dengan membangun rumah sakit dan sekolah-sekolah, mereka menunjukkan bahwa mereka mendahulukan kebutuhan jasmani manusia di atas pemberitaan Firman Allah dalam mengejar kepentingan ilahi. Beberapa misionaris bahkan mendirikan pos-pos perdagangan untuk memungkinkan orang Afrika menikmati lebih banyak barang-barang materi dari Eropa, dengan demikian meningkatkan standar hidup mereka.

      Itulah sebabnya banyak orang Afrika kini berterima kasih akan keuntungan materi yang dimungkinkan oleh para misionaris Susunan Kristen. Seperti yang dinyatakan Adrian Hastings, ”Bahkan sewaktu para misionaris dan gereja-gereja paling banyak dikritik, para politikus Afrika sering mengungkapkan rasa terima kasih atas sumbangan para misionaris tersebut terhadap pendidikan sekunder.”

      ’Jika Terang yang Ada Padamu Gelap . . . ’

      Menurut Hastings, hingga abad-abad terakhir, Afrika merupakan ”benua tempat kekristenan gagal membuat terobosan yang tahan lama”. Sebenarnya, menjelang pertengahan abad ke-18, misi-misi Katolik telah hampir pudar sama sekali, yang menyebabkan seorang penulis bernama J. Herbert Kane bertanya-tanya bagaimana ”kegagalan pada skala yang demikian luas” dapat terjadi. Salah satu jawabannya adalah tingginya tingkat kematian para misionaris. Faktor lain adalah keterlibatan Portugal dalam perdagangan budak. Karena semua misionaris Katolik berkebangsaan Portugis ini ”memberikan kesan yang buruk terhadap agama Kristen”. Tetapi ”yang lebih tepat, dan mungkin lebih telak”, Kane menambahkan, ”adalah metode-metode misionaris yang dangkal, yang menghasilkan ’penobatan’ yang terburu-buru dan pembaptisan massal”.

      Para misionaris Susunan Kristen gagal memotivasi orang-orang Afrika untuk menggantikan agama-agama mereka dengan doktrin-doktrin misionaris. Penobatan berarti mengganti nama agama, namun kepercayaan dan tingkah laku tidak harus diganti. Eleanor M. Preston-Whyte dari Universitas Natal mengatakan, ”Gagasan kosmologi Zulu telah dimasukkan ke dalam pemikiran Kristen Zulu dalam sejumlah cara halus.” Dan Bennetta Jules Rosette dari Universitas California di San Diego mengatakan bahwa agama-agama Afrika modern ”melebur unsur-unsur agama tradisional Afrika dengan unsur-unsur agama yang diperkenalkan, Kekristenan dan Islam”.

      Menurut Mazmur 119:130, ”bila tersingkap, firman-firman-Mu [Allah] memberi terang, memberi pengertian kepada orang-orang bodoh”. Karena para misionaris Susunan Kristen pada umumnya gagal memberi prioritas dalam menyingkapkan Firman Allah, terang macam apa yang dapat mereka berikan? Orang yang tak berpengalaman tetap tidak mengerti.

      ”Terang” yang ditawarkan para misionaris Susunan Kristen pada abad-abad yang lalu, ”pekerjaan baik” mereka, berasal dari dunia yang penuh kegelapan. Meskipun mereka mengaku memancarkan terang, mereka tidak memancarkan terang sejati. Yesus berkata, ”Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu.”​—Matius 6:23.

      Sementara itu, bagaimana para misionaris menjangkau Amerika, Dunia Baru? Bagian lima dari rangkaian artikel kami akan menjawabnya.

      [Gambar di hlm. 29]

      Dalam menunaikan pekerjaan mereka, beberapa misionaris bahkan mengorbankan kehidupan mereka

      [Keterangan]

      Berdasarkan buku Die Heiligkeit der Gesellschaft Jesu

      [Gambar di hlm. 30]

      Para misionaris Susunan Kristen, seperti Livingstone, tidak selalu mengutamakan pengabaran

      [Keterangan]

      Berdasarkan buku Geschichte des Christentums

Publikasi Menara Pengawal Bahasa Indonesia (1971-2025)
Log Out
Log In
  • Indonesia
  • Bagikan
  • Pengaturan
  • Copyright © 2025 Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania
  • Syarat Penggunaan
  • Kebijakan Privasi
  • Pengaturan Privasi
  • JW.ORG
  • Log In
Bagikan