-
Berita Baru bagi Dunia BaruSedarlah!—1994 | 8 Desember
-
-
Misionaris Agen Terang atau Agen Kegelapan?—Bagian 5
Berita Baru bagi Dunia Baru
PADA mulanya, Belahan Bumi Barat disebut Dunia Baru kira-kira pada awal abad ke-16. Sewaktu Columbus ”menemukan”-nya pada tahun 1492, ia juga mendapati bahwa wilayah itu telah dihuni selama ratusan tahun. Namun kemudian untuk pertama kalinya, penduduk Pribumi Amerika mencicipi kekristenan nominal. Apa makna hal ini bagi Dunia Baru?
Selama berabad-abad, Gereja Katolik telah mengendalikan hampir seluruh kehidupan bangsa Eropa. Gereja Katolik menetapkan standar dan mendiktekan banyak peraturan dalam hampir segala bidang usaha manusia, termasuk pemerintahan. Perpaduan demikian antara Gereja dan Negara, aliansi yang telah menimbulkan Perang Salib, juga mendominasi Dunia Baru.
Sidney H. Rooy dari the Educación Teológica di Buenos Aires menulis bahwa menjelang akhir abad ke-15, raja-raja Spanyol merasa yakin bahwa ”takhta Spanyol merupakan sarana pilihan ilahi bagi keselamatan Dunia Baru”. Kepausan menetapkan suatu garis imajiner utara-selatan di Atlantik yang membagi hak-hak penemuan antara Spanyol dan Portugal. Pada tahun 1494, kedua pemerintahan ini menandatangani sebuah traktat yang menambah garis tersebut lebih jauh lagi ke barat. Maka, sewaktu Spanyol maju menduduki sebagian besar Amerika Tengah dan Selatan, Portugal bergerak ke Brasil, yang pantai timurnya sekarang berada di sebelah timur garis demarkasi. Menurut Rooy, kedua negara menginterpretasikan bahwa dekret kepausan tersebut berarti ”hak atas negeri-negeri ini disertai dengan tugas untuk menginjili masyarakat pribumi”.
Penaklukan Dunia Baru
Pada perjalanannya yang kedua tahun 1493, Columbus disertai sekelompok rohaniwan yang khusus dipilih untuk menobatkan orang-orang pribumi. Sejak saat itu, para penjajah dari Eropa bekerja sama dengan para pendeta yang berstatus misionaris untuk menaklukkan Dunia Baru.
Pada tahun 1519, Hernán Cortés disertai seorang pastor dan imam-imam lainnya mencapai tempat yang sekarang dikenal sebagai Meksiko. Dalam kurun waktu 50 tahun, jumlah misionaris telah meningkat menjadi 800. Sejumlah 350 misionaris lain berada di Peru, yang dicapai Francisco Pizarro pada tahun 1531.
Edikta kepausan yang dikeluarkan pada tahun 1493, memberikan kepada kalangan berwenang duniawi dukungan moral yang mereka inginkan bagi kampanye penaklukan mereka. Mereka menyangka bahwa mereka dapat mengandalkan dukungan Allah karena mereka merasa bahwa penjajahan adalah kehendak-Nya. Para pejabat gereja, yang ingin sekali dipuji, ikut andil dalam mengupayakan keabsahan sistem penjajahan. Malahan, seorang Yesuit dari abad ke-17 bernama António Vieira, lahir di Portugal namun dibesarkan di Brasil, memuji penjajahan, dengan mengatakan bahwa tanpa penjajahan penginjilan mustahil dilaksanakan.
Para misionaris merasa tidak ada salahnya menggunakan penjajahan sebagai sarana untuk menyebarkan agama mereka. Akan tetapi, hal ini membuat mereka menjadi bagian yang tak terpisahkan dari dunia yang dikatakan Yesus agar murid-muridnya tidak boleh menjadi bagian darinya.—Yohanes 17:16.
Mencari Pengikut
Menurut Rooy, para misionaris Susunan Kristen pertama-tama mulai ”memusnahkan upacara-upacara kuno dan sebagian besar tata cara eksternal dari agama Indian”. Ia menambahkan, ”Sekalipun pemaksaan masih digunakan bila perlu, banyak orang Indian ditobatkan dengan cara yang halus melalui pendekatan langsung oleh para imam.”
Tentu saja, beberapa misionaris percaya bahwa pemaksaan sama sekali tidak dapat dibenarkan. Misalnya, seorang imam sekaligus misionaris Dominica Spanyol bernama Bartolomé de Las Casas menentang penggunaan metode yang kejam. Ia berulang kali mengimbau pemerintah Spanyol demi kepentingan orang-orang Indian, dan karena alasan ini pemerintah menjulukinya sang ”Pembela Orang-Orang Indian”. Akan tetapi, upayanya ditanggapi dengan berbagai macam reaksi. Beberapa orang menyebutnya pendukung perang salib, nabi, hamba Allah, dan seorang yang mendapat penglihatan; orang-orang lain menyebutnya pengkhianat, orang gila, anarkis, dan komunis.
Tujuan untuk memusnahkan upacara-upacara kuno belakangan dihentikan. Segera setelah orang-orang pribumi dipaksa sekadar menjadi orang Kristen nominal, mereka diizinkan mempertahankan kepercayaan dan praktek-praktek kafir mereka. Oleh karena itu, ”banyak festival Kristen di kalangan suku Indian Sierra dari Peru”, kata Man, Myth & Magic, ”berisi praktek-praktek yang merupakan peninggalan dari kepercayaan Inca yang telah dilupakan orang”. The Cambridge History of Latin America menjelaskan bahwa suku Indian Meksiko mengambil dari kekristenan ”unsur-unsur yang cocok dengan kebutuhan rohani dan ritual mereka sendiri dan membaurkannya dengan unsur-unsur agama nenek moyang mereka”.
Memang benar, ratusan ribu orang Pribumi Amerika telah dibaptis. Namun ”kekristenan” yang dipaksakan kepada mereka tidak lebih dari sekadar lapisan luar. Tidak banyak waktu yang digunakan untuk mengajarkan mereka dasar-dasar kekristenan sehingga memiliki iman yang kuat. The Cambridge History of Latin America mencatat, ”Ada indikasi yang mengejutkan bahwa orang-orang Indian yang telah menerima agama baru dengan antusiasme yang nyata masih memuja berhala-berhala lama mereka secara sembunyi-sembunyi.” Malahan, ada orang Indian yang dilaporkan menaruh berhala-berhala kafirnya di balik altar ”Kristen”, khawatir jangan-jangan sang ”Allah Kristen” tidak menanggapi permohonan mereka. Mereka juga lamban dalam membuang pola perilaku yang telah lama berurat-berakar seperti poligami.
Para anggota ordo Katolik Roma tidak selalu bertindak semestinya, sebagaimana yang diharapkan dari seseorang yang menjadi misionaris ”Kristen”. Pertengkaran antar ordo sering terjadi. Ordo Yesuit khususnya paling sering dikritik karena kebijakan dan tindakannya. Sesungguhnya, pada tahun 1759, mereka diusir dari Brasil.
Tibanya para misionaris Protestan tidak mendatangkan perubahan yang berarti. Seraya jumlah misionaris bertambah, bertambah pula perpecahan pada kekristenan nominal. Katolik menuduh Protestan memupuk imperialisme; Protestan menuduh Katolik menyebarkan kepercayaan kafir dan bertanggung jawab karena membiarkan orang-orang berada dalam kemiskinan. Semua tuduhan ini banyak benarnya. Para misionaris Susunan Kristen, Katolik maupun Protestan, gagal meniru teladan Yesus.
Di seluruh Dunia Baru, menurut The Encyclopedia of Religion, ”penobatan agama berfungsi sebagai tangan pihak-pihak penjajah dari pemerintah Spanyol, Prancis, dan Inggris”. Sementara Spanyol dan Portugal berkonsentrasi pada Amerika Latin, Prancis dan Inggris lebih banyak terlibat di daerah yang belakangan menjadi Amerika Serikat dan Kanada.a
Sebagaimana para misionaris di Amerika Latin, para misionaris di Prancis dan Inggris menetapkan prioritas yang keliru dan melibatkan diri dalam urusan-urusan politik. Oleh karena itu, menurut The Encyclopedia of Religion, ”menjelang berakhirnya era Prancis di Kanada, para misionaris telah lebih sukses dalam membuat orang-orang Indian loyal kepada Prancis daripada dalam menobatkan mereka”.
Demi Allah atau demi Emas?
Mungkin ada yang menyatakan bahwa ”meluaskan kerajaan Allah merupakan tujuan” yang dikejar para penjajah masa awal. Namun secara lebih realistis, The Cambridge History of Latin America mengatakan, ”Di atas segalanya, mereka menginginkan emas.” Mereka menyangka, sekali ditobatkan, orang-orang Indian ”akan menyerahkan sejumlah besar emasnya begitu saja”.
Dengan demikian, beberapa misionaris Susunan Kristen membiarkan diri menjadi kaki-tangan dari pihak-pihak yang memiliki motif yang busuk ini. Orang Eropa yang pertama kali menyadari hal ini adalah Bartolomé de Las Casas, yang disebutkan di atas. The New Encyclopædia Britannica mengutipnya dalam tulisan pada tahun 1542, ”Alasan mengapa orang-orang Kristen telah membunuh dan membinasakan sekian banyak jiwa adalah karena mereka telah didorong oleh keinginan mereka akan emas dan nafsu mereka untuk memperkaya diri dalam waktu yang sangat singkat.”
Para penjajah berbangsa Eropa mendatangkan sangat sedikit pencerahan rohani. Dalam bukunya yang berjudul Mexico, James A. Michener mengatakan bahwa para apologi Kristen menyatakan, ketika Cortés menyerbu Meksiko, ”ia mendapati bahwa tanah itu telah ditempati oleh orang-orang barbar dan ia memperkenalkan peradaban dan kekristenan kepada mereka”. Namun, Michener mengatakan bahwa orang-orang Indian Meksiko, bahkan pada tahun 900 M, ”bukanlah orang-orang barbar, melainkan mereka menjadi begitu ceroboh dalam menjaga peradaban mereka yang luhur sampai-sampai mereka membiarkan orang-orang barbar sungguhan menjajah mereka”. Beberapa dari ”orang-orang barbar sungguhan” ini mengaku sebagai orang Kristen.
Pekerjaan Pendahuluan
Para misionaris Susunan Kristen tidak menaati instruksi Yesus untuk ’menjadikan murid . . . , mengajar mereka menaati segala sesuatu’ yang telah ia perintahkan. (Matius 28: 19, 20) Orang-orang yang baru ditobatkan tidak diajarkan untuk memperlihatkan buah-buah roh Allah. Mereka tidak dipersatukan dalam satu iman.
Bahkan para misionaris Susunan Kristen yang berhati tulus berbuat tidak lebih daripada sekadar menyebarkan suatu bentuk kekristenan yang murtad. ”Terang” yang dipancarkan ke atas Dunia Baru benar-benar redup. Akan tetapi, dengan memperkenalkan Alkitab hingga taraf tertentu, para misionaris Susunan Kristen melakukan suatu pekerjaan pendahuluan bagi kampanye penginjilan yang penting yang dinubuatkan Yesus akan terjadi pada akhir zaman ini. (Matius 24:14) Ini akan merupakan kampanye yang unik, yang paling sukses yang pernah dilakukan sepanjang sejarah Kristen, mendatangkan manfaat bagi semua bangsa. Bacalah tentang hal itu dalam artikel berikut ini, ”Menjadikan Murid-Murid yang Sejati Dewasa Ini”.
[Catatan Kaki]
a Tentu saja, pengaruh Spanyol dirasakan di Florida dan di wilayah barat daya serta di wilayah ujung barat dari negara yang sekarang adalah Amerika Serikat, khususnya Kalifornia.
[Gambar di hlm. 27]
Para misionaris datang kepada Penduduk Amerika bersama para penjajah berbangsa Eropa
[Keterangan]
Dari buku Die Helden der christlichen Kirche
-
-
Menjadikan Murid-Murid yang Sejati Dewasa IniSedarlah!—1994 | 8 Desember
-
-
Misionaris Agen Terang atau Agen Kegelapan?—Bagian 6
Menjadikan Murid-Murid yang Sejati Dewasa Ini
YESUS KRISTUS memerintahkan, ”Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka.” (Matius 28:19) Everyman’s Encyclopedia mengatakan bahwa tugas ini ”telah dilaksanakan oleh orang-orang Kristen dari segala zaman”, namun buku itu menambahkan, ”kadang-kadang tidak disertai semangat yang tinggi”. Buku The Missionary Myth bertanya, ”Apakah era misionaris telah berakhir?”
Pada bulan Januari tahun ini, majalah Newsweek melaporkan, ”Paus Yohanes Paulus II sedang membawa paham Katolik Roma kepada khalayak ramai.” Majalah tersebut menjelaskan, ”Ia mengirim 350 penginjil awam ke diskotek, supermarket, dan stasiun kereta api bawah tanah di Roma untuk mencari orang yang mau bertobat. Program percobaan tersebut dimulai pada hari Rabu Abu (16 Feb.). Jika itu berhasil, paus akan mengirim para penginjil ke seluas dunia—suatu gerakan yang mungkin berupa kunjungan para misionaris Katolik ke rumah-rumah dari Buenos Aires hingga Tokyo.”
Sebaliknya, Saksi-Saksi Yehuwa telah lama memahami kewajiban mereka untuk melakukan pekerjaan penginjilan. (2 Timotius 4:5) Tentu saja, tidak semua mengabar sebagai misionaris di negeri-negeri asing. Tetapi mereka dapat—dan memang—mengabar di mana pun mereka berada. Dalam hal ini, mereka semua adalah misionaris.
Semacam Sekolah Khusus
Pada awal tahun 1940-an, Lembaga Menara Pengawal mendirikan sebuah sekolah untuk melatih rohaniwan-rohaniwan yang berpengalaman guna melayani sebagai utusan injil di negeri-negeri asing yang sangat membutuhkan bantuan. Selama bertahun-tahun, kurikulumnya telah dimodifikasi, namun sekolah tersebut tidak pernah menyimpang dari tujuan utamanya yaitu menekankan pengajaran Alkitab dan menyelesaikan pekerjaan yang sangat penting berupa penginjilan.
Nama yang dipilih untuk sekolah baru tersebut adalah Gilead, yang dalam bahasa Ibrani berarti ”Timbunan Kesaksian”. Dengan membantu menumpukkan suatu timbunan kesaksian bagi kehormatan Yehuwa, Gilead telah memainkan peranan yang sangat penting dalam melaksanakan pekerjaan pengabaran dalam skala global yang Yesus nubuatkan akan terjadi di zaman kita.—Matius 24:14.
Sewaktu berbicara kepada kelas pertama Sekolah Gilead pada tahun 1943, Nathan H. Knorr, presiden Lembaga Menara Pengawal pada waktu itu, mengatakan, ”Saudara sekalian sedang dipersiapkan lebih lanjut untuk pekerjaan yang serupa dengan pekerjaan rasul Paulus, Markus, Timotius, dan orang-orang lain yang bepergian ke segala penjuru Kekaisaran Romawi untuk mengabarkan berita Kerajaan. . . . Pekerjaan saudara yang utama adalah memberitakan injil Kerajaan ini dari rumah ke rumah sebagaimana dilakukan Yesus dan rasul-rasul.”
Ketika kelas pertama menyelesaikan pelatihannya, para lulusannya dikirim ke sembilan negara Amerika Latin. Hingga sekarang, lebih dari 6.500 siswa dari lebih dari 110 negeri telah dilatih di Sekolah Gilead dan telah dikirim sebagai utusan injil ke lebih dari 200 negeri dan kepulauan.
Misionaris dari Jenis yang Berbeda
Artikel terdahulu dalam rangkaian ini menceritakan tentang kegiatan misionaris Susunan Kristen di masa lalu. Banyak, seperti orang-orang yang dikirim ke Greenland, menerjemahkan Alkitab atau bagian-bagiannya ke dalam bahasa daerah. Namun, para misionaris masa awal demikian sering kali mencari keuntungan sebaliknya daripada mengajarkan Alkitab kepada orang-orang.
Para misionaris Susunan Kristen yang ke Jepang misalnya, terlibat dalam ”lembaga pendidikan dan sekolah”, demikian dilaporkan Kodansha Encyclopedia of Japan. Dikatakan pula, ”Sejumlah misionaris telah mempopulerkan diri mereka melalui pengetahuan mereka.” Mereka menjadi ahli bahasa atau profesor, mengajar mata pelajaran seperti kesusastraan, bahasa, sejarah, filsafat, agama-agama Asia Timur, dan folklor Jepang. ”Lembaga yang berhubungan dengan kesejahteraan sosial dan amal juga merupakan bagian yang penting dalam pekerjaan misionaris,” ensiklopedia tersebut menambahkan.
Pengabaran injil tidak menjadi prioritas utama para misionaris pada umumnya. Mereka terlalu sering menitikberatkan pada kepuasan kebutuhan fisik sebaliknya daripada kebutuhan rohani. Pengejaran kepentingan pribadi menjadi fokus mereka. Maka, seorang misionaris dari Gereja Inggris yang dikirim ke Jepang pada tahun 1889 sekarang sangat dikenal sebagai ”bapak pendaki gunung Jepang”.
Para utusan injil yang dilatih di Gilead dalam banyak hal berbeda dengan misionaris Susunan Kristen. Buku Saksi-Saksi Yehuwa—Pemberita Kerajaan, pasal 23, menyatakan, ”Para utusan injil lulusan Sekolah Gilead mengajarkan Alkitab kepada orang-orang. Sebaliknya daripada mendirikan gereja dan mengharapkan orang-orang datang kepada mereka, mereka berkunjung dari rumah ke rumah . . . , bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani.”
Apa yang Telah Menjadi Buah-buahnya?
Setelah berabad-abad lamanya menjadikan murid-murid Kristen di Eropa, seberapa berhasilkah para misionaris Susunan Kristen? Buku A Global View of Christian Missions menjawab, ”Kira-kira 160 juta orang di Eropa tidak menganut agama apa pun. Di antara orang-orang yang masih menyatakan diri setia kepada kekristenan, sedikit saja yang menjalankan agama mereka secara serius. . . . Jelaslah, Eropa sama sekali tidak tepat disebut sebagai benua Kristen.”
Bagaimana dengan situasi di Asia? Kodansha Encyclopedia of Japan menjawab, ”Menurut pendapat umum kekristenan masih dianggap sebagai kredo ’asing’, . . . tidak cocok untuk orang-orang Jepang biasa. . . . Gerakan kekristenan masih berada pada batas luar masyarakat Jepang.” Memang, di Jepang kurang dari 4 persen dari seluruh penduduknya beragama Kristen, di India kurang dari 3 persen, di Pakistan kurang dari 2 persen, dan di Cina kurang dari 0,5 persen.
Setelah berabad-abad lamanya kegiatan misionaris Susunan Kristen di Afrika, bagaimana situasi di sana? Dalam sebuah laporan pada pertemuan para uskup Afrika yang diadakan pada musim semi ini di Roma, majalah Jerman Focus melaporkan, ”Agama-agama Afrika tidak lagi dikutuk sebagai penyembahan berhala yang kafir. Dokumen resmi, yang masih belum diterbitkan, menempatkan ’agama-agama Afrika tradisional’ pada taraf yang pantas dan menjadi partner agama yang sangat penting. Anggota-anggota mereka layak mendapat penghargaan. Sinode tersebut mengakui bahwa agama-agama tersebut yang sebelumnya dikutuk karena pada dasarnya merupakan berhala telah ’sering menentukan gaya hidup orang-orang Katolik yang bahkan sangat percaya’.”a
Setelah berabad-abad lamanya menjadikan murid-murid Kristen di Amerika, seberapa berhasilkah misionaris Susunan Kristen? Buku Mission to the World menjawab, ”’Amerika Latin’ masih pantas mendapat sebutan ’benua yang terabaikan’ meskipun adanya kemajuan besar dalam kegiatan misionaris pada dasawarsa belakangan ini.” Berkenaan Amerika Serikat, Newsweek mencatat bahwa survei baru-baru ini ”memperlihatkan bahwa meskipun agama meliputi pemandangan Amerika, hanya sedikit orang yang menganggapnya dengan serius. . . . Sebagian orang yang mengatakan kepada pemungut suara bahwa mereka menghabiskan setiap hari Minggu di gereja tidak mengatakan hal yang sebenarnya. . . . Hampir sepertiga dari orang Amerika berusia 18 tahun ke atas sama sekali berpandangan duniawi . . . Hanya 19 persen . . . secara tetap tentu mempraktekkan agama mereka”.
Kesimpulannya, dalam upaya-upaya mereka untuk menghilangkan masalah-masalah kemiskinan, kesehatan yang memburuk, dan kurangnya pendidikan, sebagai suatu kelompok, misionaris Susunan Kristen telah mendukung rencana manusia yang paling-paling hanya mendatangkan kelepasan sepihak dan bersifat sementara. Sebaliknya, misionaris Kristen sejati, membimbing orang-orang kepada Kerajaan Allah yang telah didirikan, yang akan mendatangkan kelepasan secara total dan kekal. Kerajaan itu tidak hanya akan menghilangkan berbagai problem; ia akan menuntaskan problem-problem itu. Ya, Kerajaan Allah akan membawa umat manusia kepada kesehatan yang sempurna, keamanan ekonomi yang sesungguhnya, kesempatan pekerjaan yang produktif yang tidak habis-habisnya bagi semua orang, dan kehidupan tanpa akhir!—Mazmur 37:9-11, 29; Yesaya 33:24; 35:5, 6; 65:21-23; Wahyu 21:3, 4.
Misionaris Susunan Kristen mungkin menunjuk kepada orang-orang yang mengaku Kristen yang sekali-sekali menghadiri kebaktian-kebaktian agama sebagai bukti bahwa mereka telah menjadikan ’semua bangsa murid dan membaptis mereka’. Namun fakta memperlihatkan bahwa para misionaris ini telah gagal mengajarkan orang-orang yang dibaptis ini ’untuk melakukan segala sesuatu yang telah Yesus perintahkan’.—Matius 28:19, 20.
Akan tetapi, kegiatan pengajaran dari orang-orang Kristen sejati akan terus berlanjut hingga dunia baru Allah. Kegiatan itu akan meluas sampai mencakup jutaan orang yang dibangkitkan yang akan membutuhkan instruksi dalam jalan-jalan Yehuwa. Kemudian, tanpa gangguan dari Setan, orang-orang Kristen akan memiliki hak-hak istimewa yang menyenangkan untuk terus menjadikan murid—persis seperti yang mereka lakukan selama puluhan tahun.
[Catatan Kaki]
a Lihat artikel ”Gereja Katolik di Afrika”, pada halaman 14.
[Kotak di hlm. 32]
Bagaimana Mereka Telah Membantu
Berikut ini adalah komentar dari orang-orang yang telah mendapat manfaat dari bantuan para utusan injil lulusan Gilead.
”Saya kagum pada keuletan mereka, bertahan dengan begitu banyak hal yang berbeda dari tanah kelahiran mereka: iklim, bahasa, kebiasaan, makanan, dan agama. Namun mereka tetap dalam penugasan mereka, beberapa bahkan sampai meninggal. Kebiasaan belajar mereka yang baik dan kegairahan mereka dalam pelayanan membantu saya memupuk hal yang sama.”—J. A., India.
”Saya terkesan dengan kebiasaan para utusan injil yang selalu datang tepat waktu untuk mengadakan pengajaran dengan saya. Ia memperlihatkan pengendalian diri yang luar biasa dalam menghadapi prasangka dan ketidakpedulian saya.”—P. T., Thailand.
”Saya dan istri saya menghargai kemurnian yang diperlihatkan oleh para utusan injil Saksi. Kegiatan mereka mempengaruhi kami untuk menjadikan dinas sepenuh waktu sebagai cita-cita kami, dan sekarang kami memiliki sukacita karena kami sendiri menjadi misionaris.”—A. C., Mozambik.
”Selama ini kehidupan saya berpusat pada diri sendiri. Pertemuan dengan para utusan injil memberikan dorongan yang saya perlukan untuk mengubahnya. Dalam diri mereka saya tidak melihat kebahagiaan yang semu melainkan kebahagiaan sejati.”—J. K., Jepang.
”Para misionaris Susunan Kristen menjalani kehidupan yang menyenangkan. Para pelayan membersihkan rumah, memasak, mencuci pakaian, memelihara kebun, dan mengemudikan kendaraan. Saya terkejut melihat para utusan injil Gilead dengan cekatan melakukan pekerjaan rumah mereka sendiri, sambil juga membantu orang-orang setempat belajar tentang Kerajaan Allah.”—S. D., Thailand.
”Saudari-saudari utusan injil dengan menggunakan sepeda mengunjungi orang-orang bahkan ketika temperatur membubung hingga 46 derajat Celcius. Keramahan dan sikap mereka yang tidak membedakan, juga ketekunan mereka, membantu saya mengakui kebenaran.”—V. H., India.
”Para utusan injil tidak merasa diri unggul. Mereka dengan rendah hati menyesuaikan diri dengan penduduk setempat dan dengan kondisi kehidupan yang miskin. Mereka datang untuk melayani, maka mereka tidak pernah mengeluh namun selalu tampak bersukacita dan puas.”—C. P., Thailand.
”Mereka tidak mengencerkan kebenaran Alkitab. Namun, mereka tidak membuat penduduk setempat merasa bahwa semua aspek kebudayaan tradisional mereka adalah salah atau bahwa mereka harus mengadopsi gaya Barat. Tidak pernah mereka membuat orang-orang lain merasa lebih rendah atau tidak sanggup.”—A. D., Papua Nugini.
”Tidak seperti para misionaris Susunan Kristen, ia bersedia duduk di lantai dengan kaki bersilang, gaya Korea, seraya kami melakukan pengajaran Alkitab. Ia bersedia mencoba makanan Korea. Kasih sayang yang saya rasakan terhadapnya membantu saya untuk maju.”—S. K., Korea.
”Saya berusia sepuluh tahun dan pergi bersekolah pada siang hari. Seorang utusan injil mengundang saya menemaninya pada sore hari dalam dinas pengabaran. Ia mengajarkan banyak prinsip Alkitab kepada saya dan menanamkan dalam diri saya penghargaan yang sesungguhnya terhadap organisasi Yehuwa.”—R. G., Kolombia.
”Mereka mengajar saya agar berpegang pada penugasan, melakukan apa yang perlu untuk dilakukan tanpa mengeluh. Saya berterima kasih kepada Yehuwa dan Yesus Kristus dari lubuk hati saya karena mengirim kepada kami para utusan injil tersebut.”—K. S., Jepang.
[Gambar di hlm. 31]
Para utusan injil yang dilatih di Gilead dari 16 negeri menceritakan pengalaman dalam suatu kebaktian baru-baru ini
-