PERPUSTAKAAN ONLINE Menara Pengawal
PERPUSTAKAAN ONLINE
Menara Pengawal
Indonesia
  • ALKITAB
  • PUBLIKASI
  • PERHIMPUNAN
  • Moldova
    Buku Kegiatan Saksi-Saksi Yehuwa 2004
    • Para Pejabat Menjadi Brutal

      Pengalaman Dumitru Gorobeţ dan Cazimir Cislinschii memperlihatkan bahwa api tentangan terhadap pekerjaan pengabaran sering kali dikipasi oleh kebencian agama di pihak para pejabat Ortodoks yang fanatik. Dumitru dan Cazimir pertama kali mempelajari kebenaran Alkitab di desa Tabani. Karena sifat-sifat mereka yang baik dan kegairahan mereka akan pelayanan, mereka segera dikenal dan dikasihi saudara-saudara. Kemudian, pada tahun 1936, mereka ditangkap dan dibawa ke kantor polisi di kota Khotin (sekarang di Ukraina).

      Pertama-tama, polisi dengan kejam memukuli Dumitru dan Cazimir. Kemudian, polisi berupaya memaksa mereka membuat tanda salib. Tetapi, kedua pria itu tetap teguh, meskipun terus dipukuli. Akhirnya, polisi menyerah. Mereka bahkan memperbolehkan Dumitru dan Cazimir pulang. Namun, itu bukan akhir cobaan yang diderita kedua saudara yang setia ini. Di bawah pemerintahan Fasis maupun Komunis, mereka bertekun menahan lebih banyak kesulitan lagi demi kabar baik. Dumitru wafat pada awal tahun 1976 di Tomsk, Rusia. Cazimir meninggal pada bulan November 1990 di Moldova.

  • Moldova
    Buku Kegiatan Saksi-Saksi Yehuwa 2004
    • Penggodokan pada Masa Fasis

      Pemerintah Fasis Antonescu, yang bersekutu dengan Hitler dan kekuatan Poros, segera berupaya memaksakan keinginannya pada Saksi-Saksi Yehuwa. Perhatikan contoh Anton Pântea, yang lahir pada tahun 1919. Anton mempelajari kebenaran semasa remaja dan bergairah dalam pelayanan dari rumah ke rumah. Ia nyaris dipukuli pada sejumlah peristiwa, tetapi dengan menandaskan secara berani hak hukumnya sebagai warga negara Rumania untuk berbicara tentang kepercayaannya, ia berhasil menghindari serangan fisik untuk beberapa lama. Meskipun demikian, polisi akhirnya menangkap dia. Para petugas Fasis menyeretnya ke kantor polisi, memukulinya semalaman dan kemudian, anehnya, membebaskan dia. Saudara Pântea sekarang berusia 84 tahun dan masih bertekad untuk tetap setia kepada Yehuwa.

      Pemegang integritas yang lain, Parfin Palamarciuc, mempelajari kebenaran Alkitab di Moldova pada tahun 1920-an. Ia juga menjadi pemberita kabar baik yang bergairah, sering meninggalkan rumah selama berminggu-minggu untuk mengabar di kota-kota dan desa-desa dari Chernovtsy hingga Lvov di Ukraina. Karena Parfin tidak mau mengangkat senjata, kaum Fasis menangkapnya pada tahun 1942 dan menghadapkannya ke pengadilan militer di Chernovtsy.

      Putra Parfin, Nicolae, menceritakan peristiwa itu, katanya, ”Sebanyak 100 saudara divonis hukuman mati oleh pengadilan militer ini. Hukuman itu segera dilaksanakan. Para petugas mengumpulkan semua saudara dan memilih sepuluh orang pertama yang akan ditembak. Tetapi, sebelumnya saudara-saudara ini dipaksa untuk menggali kuburan mereka sendiri seraya ke-90 saudara lain menyaksikan. Namun, sebelum menembak saudara-saudara itu, para petugas memberi mereka satu lagi kesempatan untuk menyangkal iman mereka dan bergabung dengan angkatan bersenjata. Dua berkompromi; delapan lainnya ditembak mati. Kemudian, sepuluh saudara lagi dibariskan. Tetapi sebelum ditembak, mereka harus mengubur yang sudah mati tadi.

      ”Seraya saudara-saudara itu mengisi kuburan, seorang perwira berpangkat tinggi datang. Ia bertanya berapa banyak Saksi telah mengubah pikiran mereka. Sewaktu diberi tahu hanya dua, ia menyatakan bahwa jika 80 orang harus mati guna mendapatkan 20 orang dalam angkatan bersenjata, akan lebih menguntungkan untuk menyerahkan ke-92 orang sisanya ke kamp kerja paksa. Hasilnya, hukuman mati diubah menjadi 25 tahun kerja paksa. Namun, tidak sampai tiga tahun kemudian, Saksi-Saksi dari kamp-kamp Rumania dibebaskan oleh pasukan Soviet yang bergerak maju. Ayah saya selamat melewati cobaan ini dan cobaan-cobaan lain. Ia meninggal dalam keadaan setia kepada Yehuwa pada tahun 1984.”

      Tidak Menuruti Ortodoks—Suatu Kejahatan!

      Vasile Gherman adalah seorang pemuda yang sudah menikah. Istrinya baru saja melahirkan bayi perempuan sewaktu kaum Fasis menangkap Vasile pada bulan Desember 1942. Vasile dituduh melakukan dua ”kejahatan”—menolak menjalani dinas militer dan tidak membaptis putrinya di Gereja Ortodoks. Ia menceritakan apa yang terjadi, ”Pada bulan Februari 1943, kasus saya, serta kasus 69 saudara lainnya yang setia, akan diperdengarkan di Chernovtsy di hadapan sebuah pengadilan militer. Sebelum vonis dijatuhkan, para pejabat memaksa kami untuk menyaksikan eksekusi enam kriminal. Oleh karena itu, kami yakin bahwa kami akan dihukum mati juga.

      ”Kami membicarakan hal ini di antara kami dan memutuskan untuk tetap kuat dalam iman dan mengerahkan setiap upaya agar tetap dalam suasana hati bersukacita sepanjang cobaan ini. Dengan bantuan Yehuwa, kami berhasil. Sewaktu, sebagaimana telah diantisipasi, kami semua ber-70 menerima vonis hukuman mati, kami sungguh-sungguh merasa bahwa kami menderita demi keadilbenaran. Tidak seorang pun dari kami merasa kecil hati, sehingga sangat menyusahkan hati musuh-musuh kami. Kemudian, datanglah suatu kejutan. Sebaliknya dari menembak kami, para pejabat mengubah hukuman kami menjadi 25 tahun kerja paksa di kamp di Aiud, Rumania. Namun, bahkan hukuman itu tidak sepenuhnya dijalankan, karena hanya 18 bulan kemudian, pada bulan Agustus 1944, kamp tersebut dibebaskan oleh pasukan Soviet yang bergerak maju.”

      Pada tahun 1942, kaum Fasis memaksa sekitar 800 pria dari desa Şirăuţi, Moldova, untuk berdinas di angkatan bersenjata Jenderal Antonescu. Di antaranya terdapat sejumlah Saksi, termasuk Nicolae Anischevici. ”Pada awal acara perekrutan itu,” kata Nicolae, ”polisi memerintahkan kami untuk berpartisipasi dalam upacara agama. Kami para Saksi menolak. Kami juga menolak untuk mengangkat senjata. Akibatnya, polisi menuduh kami sebagai Komunis dan menangkap kami. Namun, sebelum mengurung kami, mereka mengizinkan kami menjelaskan kepada semua yang hadir alasan pendirian netral kami.

      ”Keesokan harinya, kami dipindahkan ke Briceni, pusat pengadilan distrik itu. Di sini, kami ditelanjangi dan digeledah secara saksama. Seorang imam berpangkat tinggi dalam militer kemudian menanyai kami. Ia baik hati, memperlihatkan pengertian terhadap pendirian kami yang berdasarkan hati nurani, dan mengatur agar kami diberi makan. Selain itu, ia menulis bahwa alasan kami menolak angkat senjata adalah kepercayaan kami akan Yesus.

      ”Dari Briceni, kami dibawa ke kantor polisi di Lipcani. Di sana, polisi memukuli kami tanpa belas kasihan sampai malam. Kemudian, mereka memasukkan kami ke sebuah sel dengan dua saudara lain dan, yang mengejutkan kami, seorang wanita, yang rupanya adalah mata-mata. Kami dipukuli setiap hari selama beberapa hari. Kemudian, saya dikirim ke Chernovtsy untuk menghadapi pengadilan militer. Di sana, saya diberi seorang pengacara, yang terbukti sangat membantu. Meskipun demikian, kesehatan saya begitu merosot akibat penganiayaan itu sehingga para pejabat militer mengira saya mungkin akan mati. Akhirnya, mereka memutuskan untuk memulangkan saya tanpa menghukum saya.”

      Para Saudari yang Berani Mempertahankan Integritas

      Para saudari juga merasakan panasnya kemarahan Fasis. Salah satunya ialah Maria Gherman (tidak berkerabat dengan Vasile Gherman tetapi sidangnya sama). Maria, yang ditangkap pada tahun 1943, dibawa ke kantor polisi di Balasineşti. Ia mengingat, ”Polisi menangkap saya karena saya menolak pergi ke Gereja Ortodoks. Pertama, mereka mentransfer saya ke Lipcani, Moldova, dan kemudian ke Chernovtsy, Ukraina, tempat saya divonis.

      ”Sang hakim bertanya kepada saya mengapa saya tidak mau pergi ke gereja. Saya memberi tahu dia bahwa saya hanya menyembah Yehuwa. Untuk ’kejahatan’ ini, 20 saudari lainnya dan saya divonis 20 tahun penjara. Beberapa dari kami dijejalkan ke dalam sebuah sel kecil bersama 30 napi lain. Namun, pada siang hari, saya dikirim ke luar untuk melakukan pekerjaan rumah di tempat tinggal orang-orang kaya. Orang-orang ini, kalau boleh saya tambahkan, memperlakukan saya lebih baik daripada para pejabat penjara—setidaknya, mereka memberi saya cukup makanan!

      ”Akhirnya, kami mengadakan kontak dengan saudara-saudara yang berada di sayap lain kompleks penjara itu. Kontak ini terbukti merupakan berkat, karena kami dapat membantu saudara-saudara itu memperoleh makanan rohani maupun jasmani.”

      Seperti banyak Saksi lain asal Moldova, para pemegang integritas ini, setelah bertekun menghadapi kemarahan Fasis, masih harus menghadapi serangan lain terhadap iman mereka. Serangan itu dilancarkan oleh kekuasaan regional berikutnya, Rusia Komunis.

      Taktik Soviet​—Deportasi

      Pada tahun 1944, sewaktu perang akan berakhir dengan kekalahan di pihak Jerman, unsur-unsur di dalam pemerintahan Rumania yang dipimpin oleh Raja Michael menggulingkan rezim Antonescu. Rumania kemudian mengubah persekutuannya dari kekuatan Poros ke Rusia. Pada tahun itu juga, pasukan Soviet yang bergerak maju mengambil kembali kendali Rusia atas wilayah itu, menyatukan lagi Moldova ke dalam Uni Soviet sebagai SSR Moldavia.

      Pada awalnya, para pemimpin Komunis di Moldova membiarkan Saksi-Saksi Yehuwa. Namun, kelegaan ini hanya sementara. Kenetralan Kristen, termasuk penolakan Saksi-Saksi untuk memberikan suara pada pemilihan partai setempat, segera menjadi berita hangat lagi. Sistem Soviet tidak memperbolehkan kenetralan politik. Jadi, pemerintah merencanakan untuk mengatasi problem ini dengan mendeportasi Saksi-Saksi Yehuwa bersama ”orang-orang yang tidak diinginkan” lainnya, mulai tahun 1949.

      Sebuah dokumen resmi menjabarkan ”keputusan politbiro Komite Sentral Partai Komunis” berkenaan dengan orang-orang yang akan dideportasi dari SSR Moldavia. Mereka termasuk ”mantan pemilik tanah, pedagang besar, antek-antek aktif para penyerbu asal Jerman, orang-orang yang bekerja sama dengan Jerman dan para pejabat polisi Rumania, para anggota partai dan organisasi pro-Fasis, para anggota Garda Putih, para anggota sekte terlarang, serta keluarga-keluarga dari kategori di atas”. Semuanya akan dikirim ke Siberia bagian barat ”hingga waktu yang tak tertentu”.

      Gelombang kedua deportasi dimulai pada tahun 1951, tetapi kali ini sasarannya hanya Saksi-Saksi Yehuwa. Stalin sendiri yang memerintahkan deportasi ini, yang ia sebut Operasi Utara. Lebih dari 720 keluarga Saksi—sekitar 2.600 orang—dikirim dari Moldova ke Tomsk, sekitar 4.500 kilometer di Siberia bagian barat.

      Surat-surat perintah resmi menyatakan bahwa orang-orang harus diberi waktu yang cukup untuk mengumpulkan barang-barang pribadi sebelum dibawa ke kereta api yang sudah menunggu. Selain itu, gerbong-gerbong harus ”diatur dengan baik untuk transportasi manusia”. Kenyataannya cukup berbeda.

      Pada tengah malam, sekitar delapan tentara dan petugas datang ke setiap rumah keluarga Saksi. Mereka membangunkan keluarga itu dan memperlihatkan kepada mereka surat perintah deportasi. Lalu, mereka memberi keluarga itu hanya beberapa jam untuk mengumpulkan barang apa pun yang bisa mereka kumpulkan sebelum membawa keluarga tersebut ke kereta api yang sudah menunggu.

      Gerbong-gerbong kereta ternyata adalah gerbong barang. Hingga 40 orang dari segala usia dijejalkan ke dalam setiap gerbong untuk perjalanan dua minggu. Tidak ada tempat duduk dan tidak ada penyekat panas apa pun. Di salah satu ujung gerbong barang ada sebuah lubang di lantainya, yang berfungsi sebagai WC. Sebelum mendeportasi saudara-saudara, para pejabat setempat seharusnya mendaftarkan barang setiap orang. Namun, sering kali, mereka hanya mendaftarkan barang-barang yang nilainya sedikit; benda-benda berharga dianggap ”hilang”.

      Tetapi, terlepas dari semua ketidakadilan dan kesulitan ini, saudara-saudara tidak pernah kehilangan sukacita Kristen mereka. Sesungguhnya, sewaktu kereta-kereta yang membawa Saksi-Saksi bertemu di persimpangan rel, lagu-lagu Kerajaan terdengar dari gerbong-gerbong lain. Jadi, saudara-saudara di tiap kereta tahu bahwa mereka tidak sendirian tetapi sedang dideportasi bersama-sama dengan ratusan rekan Saksi lain. Melihat dan mendengar satu sama lain saling mencerminkan semangat sukacita dalam keadaan-keadaan penuh cobaan demikian sungguh membesarkan hati semua orang dan membentengi tekad mereka untuk tetap setia kepada Yehuwa, tidak soal apa yang terjadi.​—Yak. 1:2.

      Iman yang Layak Ditiru

      Di antara orang-orang Moldova yang dideportasi ke Siberia terdapat Ivan Mikitkov. Ivan pertama kali ditangkap di Moldova pada tahun 1951, bersama Saksi-Saksi lainnya, dan diasingkan ke Tomsk. Ia ditugasi untuk menebang pohon di taiga Siberia. Meskipun ia tidak dikurung di kamp kerja paksa, kebebasan bergeraknya dibatasi, dan polisi rahasia terus mengawasinya dengan ketat. Meskipun demikian, ia dan saudara-saudara rohaninya memberikan kesaksian kepada orang-orang lain pada setiap kesempatan.

      Ivan berkata, ”Kami mengorganisasi diri kami menjadi sidang-sidang dalam lingkungan baru yang sulit ini. Kami bahkan mulai memproduksi lektur kami sendiri. Akhirnya, beberapa dari orang yang kami kabari menerima kebenaran dan dibaptis. Tetapi, kalangan pemerintah akhirnya mengetahui kegiatan kami dan mengirim beberapa dari kami ke kamp kerja paksa.

      ”Bersama dengan rekan Saksi Pavel Dandara, Mina Goraş, dan Vasile Şarban, saya divonis 12 tahun kerja paksa di bawah pengawasan ketat. Kalangan berwenang berharap bahwa hukuman berat ini akan membuat takut yang lain sehingga berhenti mengabar, tetapi itu tidak terjadi. Tidak soal ke mana saudara-saudara kita dikirim, mereka terus mengabar. Pada tahun 1966, saya dibebaskan setelah menghabiskan masa hukuman saya. Saya kembali ke Tomsk dan tinggal di sana selama tiga tahun.

      ”Pada tahun 1969, saya pindah ke Basin Donets, tempat saya bertemu dengan Maria, seorang saudari yang setia dan bergairah, yang kemudian saya nikahi. Pada tahun 1983, saya ditangkap lagi. Kali ini, saya menerima hukuman ganda​—pemenjaraan lima tahun dan deportasi lima tahun lagi. Bisa dimengerti bila saya mendapati hukuman ini jauh lebih sulit daripada yang sebelumnya karena hal itu berarti saya berpisah dengan istri dan anak saya, yang kedua-duanya juga harus menderita kesulitan. Tetapi, syukurlah, saya tidak harus menjalani seluruh masa hukuman itu. Saya dibebaskan pada tahun 1987 setelah Mikhail Gorbachev menjadi sekretaris jenderal Partai Komunis Soviet. Saya diizinkan kembali ke Ukraina dan belakangan ke Moldova.

      ”Sewaktu saya kembali ke Bălţi, kota terbesar kedua di Moldova, kota itu memiliki 370 penyiar dan tiga sidang. Sekarang, ada lebih dari 1.700 penyiar dan 16 sidang!”

      ”Kamu Mau Bernasib seperti Vasile?”

      Para pengurus kamp dan agen-agen KGB (Komite Keamanan Negara Soviet) merancang beberapa trik yang sadis guna melemahkan integritas saudara-saudara. Constantin Ivanovici Şobe menceritakan apa yang terjadi dengan kakeknya, Constantin Şobe, ”Pada tahun 1952, Kakek sedang menjalani hukumannya di salah satu kamp kerja paksa di distrik Chita, sebelah timur Danau Baikal di Siberia. Para pejabat kamp mengancam untuk menembak dia dan Saksi-Saksi lainnya jika mereka tidak menyangkal iman.

      ”Karena saudara-saudara menolak berkompromi, para pejabat itu mengumpulkan mereka di luar kamp, dekat pinggir hutan. Hari sudah mulai gelap sewaktu mereka membawa teman akrab Kakek, Vasile, masuk tidak begitu jauh ke dalam hutan, mengumumkan bahwa mereka akan menembaknya. Saudara-saudara menunggu dengan tegang. Tak lama kemudian, dua tembakan senapan memecah keheningan malam itu.

      ”Para penjaga kembali dan membawa Saksi berikutnya, kakek saya, ke dalam hutan. Setelah berjalan sedikit, mereka berhenti di sebuah tempat terbuka. Beberapa kuburan telah digali, dan salah satu sudah terisi. Sambil menunjuk ke kuburan itu, sang komandan berpaling kepada Kakek dan mengatakan, ’Kamu mau bernasib seperti Vasile, atau kamu mau dibebaskan dan pulang ke keluarga kamu? Kamu punya waktu dua menit untuk berpikir.’ Kakek tidak butuh dua menit. Ia langsung menjawab, ’Vasile, yang Bapak tembak, sudah saya kenal bertahun-tahun. Sekarang, saya ingin bertemu dengannya lagi dalam kebangkitan di dunia baru. Saya sangat yakin bahwa saya akan berada di dunia baru, bersama dengan Vasile. Tapi, apakah Bapak akan berada di sana?’

      ”Jawaban itu bukan yang diharapkan sang petugas. Ia membariskan Kakek dan yang lain-lainnya kembali ke kamp. Rupanya, Kakek tidak perlu menunggu sampai kebangkitan untuk bertemu dengan Vasile. Semua ini hanyalah gertakan kejam yang dirancang untuk meruntuhkan tekad saudara-saudara.”

      Propaganda Komunis Menjadi Senjata Makan Tuan

      Untuk menciptakan kebencian dan kecurigaan terhadap Saksi-Saksi Yehuwa, pemerintah Komunis memproduksi buku, brosur, dan film yang memfitnah umat Allah. Salah satu brosur berjudul Double Bottom​—istilah yang memaksudkan ruang rahasia untuk lektur yang dibuat saudara-saudara di bagian dasar koper dan tas. Nicolai Voloşanovschi mengingat bagaimana komandan kamp berupaya menggunakan brosur ini untuk mempermalukan dia di depan para tahanan lain.

      Nicolai berkata, ”Sang komandan kamp mengumpulkan semua napi di sebuah barak. Kemudian, ia mulai mengutip bagian-bagian dari Double Bottom, termasuk bagian yang berisi pernyataan fitnah tentang saya secara pribadi. Sewaktu ia selesai berbicara, saya minta izin untuk bertanya. Sang komandan pasti mengira bahwa hal ini akan menyediakan kesempatan bagi dia untuk mempermainkan saya, soalnya ia mengabulkan permintaan saya.

      ”Kepada sang komandan kamp, saya bertanya apakah ia masih ingat pertama kali ia mewawancarai saya sewaktu saya dimasukkan ke kamp kerja paksa itu. Ia ingat wawancara itu. Kemudian saya bertanya kepadanya apakah ia ingat pertanyaan-pertanyaan yang ia ajukan kepada saya tentang negeri asal saya, kewarganegaraan saya, dan seterusnya seraya ia mengisi surat-surat saya. Sekali lagi, ia menjawab ya. Ia bahkan memberi tahu hadirin apa jawaban-jawaban saya. Kemudian, saya memintanya menceritakan apa yang sebenarnya ia tulis dalam formulir-formulir itu. Ia mengakui bahwa apa yang ia tulis tidak sesuai dengan jawaban-jawaban saya. Saya kemudian menghadap ke hadirin dan berkata, ’Seperti Anda lihat, brosur ini juga ditulis dengan cara begitu.’ Para tahanan memberikan aplaus, dan sang komandan meninggalkan tempat itu dengan marah.”

      Siasat Adu Domba

      Pada tahun 1960-an, kalangan berwenang Soviet yang frustrasi menerapkan metode-metode baru dalam upaya mereka untuk memecah-belah persatuan Saksi-Saksi Yehuwa. Buku The Sword and the Shield, yang diterbitkan pada tahun 1999, membahas beberapa catatan KGB, yang tadinya rahasia, yang disimpan dalam arsip pemerintah. Catatan itu menyatakan, ”Sebuah konferensi pada bulan Maret 1959 yang dihadiri para perwira KGB yang memimpin ’perjuangan melawan kaum Jehovis [Saksi-Saksi Yehuwa]’ menyimpulkan bahwa strategi yang tepat adalah ’melanjutkan tindakan menindas dengan tindakan memecah-belah’. KGB merencanakan untuk memecah-belah, menurunkan moral dan mendiskreditkan para penganut sekte tersebut, dan untuk menangkap para pemimpin mereka yang paling berpengaruh dengan tuduhan palsu.”

      ”Tindakan memecah-belah” ini mencakup kampanye besar-besaran untuk menabur ketidakpercayaan di antara saudara-saudara di seluruh Uni Soviet. Untuk itu, KGB mulai menyebarkan desas-desus yang keji, menyatakan bahwa sejumlah saudara yang mengambil pimpinan telah mulai bekerja sama dengan dinas keamanan Negara. Begitu pintarnya KGB mengkamuflase kebohongan mereka sehingga banyak Saksi mulai bertanya-tanya siapa yang dapat mereka percayai.

      Siasat KGB lainnya adalah melatih agen-agen khusus untuk menyamar sebagai Saksi-Saksi Yehuwa yang ”aktif” yang kemudian akan berupaya memperoleh kedudukan sebagai pengemban tanggung jawab di organisasi. Tentu saja, para mata-mata ini akan terus memberikan informasi kepada KGB. KGB juga diam-diam mendekati Saksi-Saksi yang sejati, berupaya menyuap mereka dengan sejumlah besar uang agar bekerja sama.

      Sungguh menyedihkan, metode-metode yang licik ini cukup berhasil dalam memecah-belah persatuan saudara-saudara, termasuk saudara-saudara di Moldova. Akibatnya, suatu atmosfer kecurigaan timbul. Beberapa saudara memisahkan diri dari organisasi dan membentuk kelompok independen yang dikenal sebagai oposisi.

      Sebelum peristiwa-peristiwa ini, saudara-saudara di Uni Soviet mengacu ke organisasi Yehuwa, makanan rohani yang dihasilkannya, dan saudara-saudara pengemban tanggung jawab yang dilantiknya sebagai saluran. Sekarang, kebingungan dan ketidakpastian tentang saluran tersebut mulai memuncak. Bagaimana saudara-saudara dapat menjernihkan kebingungan ini? Sungguh mengejutkan, mereka melakukannya dengan bantuan Negara Soviet. Ya, si pembuat rencana jahat itu sendiri justru turut menyelesaikan masalah yang ia ciptakan. Bagaimana bisa demikian?

      Mereka Gagal Memperhitungkan Roh Allah

      Pada awal tahun 1960-an, kalangan berwenang Soviet menyatukan banyak ”pemimpin” Saksi dari seluruh penjuru Uni Soviet di sebuah kamp sekitar 150 kilometer dari kota Saransk di republik Mordvinia, bagian barat Rusia. Sebelumnya, jarak yang jauh memisahkan saudara-saudara ini, menghambat komunikasi dan menimbulkan kesalahpahaman. Tetapi sekarang, saudara-saudara, yang menjadi bagian dari apa yang disebut oposisi dan yang bukan, semuanya bertemu. Oleh karena itu, mereka dapat berbicara secara langsung dan mengetahui fakta sebenarnya. Mengapa kalangan berwenang menyatukan semua saudara itu? Rupanya, mereka berpikir bahwa saudara-saudara itu akan bertikai satu sama lain, sehingga menimbulkan perpecahan yang lebih parah. Meskipun pintar, rencana itu gagal memperhitungkan roh Yehuwa yang mempersatukan.​—1 Kor. 14:33.

      Salah seorang saudara yang dipenjarakan di Mordvinia adalah Gheorghe Gorobeţ. Ia menceritakan, ”Tidak lama setelah saya ditangkap dan dijebloskan ke penjara, seorang saudara yang telah bergabung dengan pihak oposisi dikurung bersama kami. Ketika ia melihat bahwa saudara-saudara pengemban tanggung jawab masih ditahan, ia terkejut, karena ia telah diberi tahu bahwa kami semua bebas seperti burung dan hidup mewah disponsori KGB!”

      Saudara Gorobeţ melanjutkan, ”Selama tahun pertama saya di penjara, lebih dari 700 orang ditahan karena alasan agama. Mayoritas adalah Saksi-Saksi Yehuwa. Kami semua bekerja bersama di sebuah pabrik dan punya waktu untuk berbicara dengan saudara-saudara yang telah bergabung dengan kelompok independen. Akibatnya, banyak hal diklarifikasi selama tahun 1960 dan 1961. Akhirnya, pada tahun 1962, panitia negeri yang mengurus Uni Soviet menulis sepucuk surat langsung dari kamp kerja paksa itu juga. Surat ini dikirimkan ke semua sidang di Uni Soviet dan mulai memulihkan banyak dari kerusakan yang disebabkan oleh kampanye dusta KGB.”

      Mengidentifikasi Saluran yang Benar

      Saudara Gorobeţ dibebaskan dari kamp kerja paksa itu pada bulan Juni tahun 1964, dan ia langsung pulang ke Moldova. Setibanya di Tabani, ia mendapati bahwa banyak Saksi setempat masih bingung tentang siapa yang Yehuwa gunakan untuk memberi makan dan mengarahkan umat-Nya. Sejumlah saudara hanya membaca Alkitab.

      Sebuah panitia yang terdiri dari tiga saudara yang matang secara rohani dilantik untuk mengklarifikasi masalahnya. Salah satu hal pertama yang mereka lakukan adalah mengunjungi sidang-sidang di bagian utara Moldova, tempat kebanyakan Saksi tinggal. Kesetiaan yang tak berkesudahan dari saudara-saudara ini dan para pengawas Kristen lainnya, meskipun menderita banyak penindasan, meyakinkan banyak orang bahwa Yehuwa masih menggunakan organisasi yang sama yang mula-mula mengajarkan kebenaran kepada mereka.

      Pada pengujung tahun 1960-an, tampak jelas bagi KGB bahwa pekerjaan pengabaran terus maju sekalipun ada penindasan dan taktik-taktik lain. Sewaktu melukiskan reaksi KGB, buku The Sword and the Shield menyatakan, ”Pusat [KGB] diguncang oleh laporan-laporan bahwa, bahkan di kamp-kamp kerja paksa, ’para pemimpin dan kalangan berwenang Yehuwa tidak meninggalkan kepercayaan non-Komunis mereka dan dalam kondisi kamp terus melakukan pekerjaan Yehuwa mereka’. Sebuah konferensi yang dihadiri oleh para perwira KGB yang merancang operasi melawan Saksi-Saksi Yehuwa diselenggarakan di [Chisinau] pada bulan November 1967 guna mendiskusikan metode-metode baru untuk ’menghentikan pekerjaan non-Komunis kaum sektarian’ dan ’subversi ideologis’.”

      Diganggu oleh Mantan Saudara

      Sayangnya, beberapa orang tertipu oleh ”metode-metode baru” ini dan masuk ke perangkap KGB. Beberapa telah takluk pada keserakahan atau rasa takut akan manusia; yang lainnya adalah para mantan saudara yang mengembangkan kebencian terhadap Saksi-Saksi. Kalangan berwenang mulai menggunakan orang-orang ini untuk mematahkan integritas saudara-saudara yang setia. Saksi-Saksi yang telah bertekun menghadapi pemenjaraan dan kamp kerja paksa mengatakan bahwa diganggu oleh para mantan saudara, yang beberapa di antaranya sudah murtad, merupakan salah satu situasi yang paling menyusahkan hati yang pernah mereka hadapi.

      Banyak orang murtad berasal dari pihak oposisi yang disebutkan sebelumnya. Mula-mula, kelompok ini mencakup beberapa orang yang sekadar bingung akibat informasi sesat KGB. Namun, orang-orang yang masih berpaut pada oposisi pada akhir tahun 1960-an mencakup sejumlah orang yang mempertunjukkan roh fasik dari golongan budak yang jahat. Setelah mengabaikan peringatan Yesus, mereka mulai ”memukul sesama budak”.​—Mat. 24:​48, 49.

      Namun, rencana untuk memecah-belah dan menaklukkan umat Allah gagal, sekalipun KGB dan antek-anteknya terus melancarkan tekanan yang tak henti-hentinya. Pada awal tahun 1960-an, sewaktu saudara-saudara yang setia mulai bekerja untuk mempersatukan kembali organisasi di Moldova, kebanyakan saudara di negeri itu berpaut pada oposisi. Namun, pada tahun 1972, mayoritas telah kembali bekerja dengan loyal bersama organisasi Yehuwa.

      Seorang Penganiaya yang Penuh Penghargaan

      Orang-orang setia yang masih berada di Moldova selama era Komunis meneruskan pekerjaan pengabaran mereka sebisa-bisanya. Mereka memberikan kesaksian tidak resmi kepada keluarga, sahabat, teman sekolah, dan rekan sekerja. Tetapi, mereka berhati-hati karena banyak pejabat partai di Moldova secara fanatik berpaut pada ideologi Komunis. Namun, tidak semua kaum Komunis membenci Saksi-Saksi Yehuwa.

      Simeon Voloşanovschi mengenang, ”Polisi menggeledah rumah kami dan menyita banyak sekali lektur, yang didaftar oleh seorang petugas. Belakangan, ia kembali dengan daftarnya dan bertanya kepada saya untuk memastikan apakah daftarnya sudah betul. Sewaktu memeriksanya, saya melihat ada yang dihapus​—majalah Menara Pengawal yang membahas keluarga dan bagaimana membuat kehidupan rumah tangga lebih bahagia. Saya menanyai sang petugas tentang hal itu. ’Oh, itu saya bawa pulang, dan kami membacanya sekeluarga,’ jawabnya agak malu-malu. ’Anda senang membacanya?’ tanya saya. ’Oh, sangat senang! Kami benar-benar menyukainya!’ katanya.”

      Tentangan Mengendur, Pertumbuhan Berlanjut

      Selama tahun 1970-an, kalangan berwenang Komunis tidak lagi menangkap dan mengasingkan umat Yehuwa. Namun, saudara-saudara secara perorangan ditangkap dan disidangkan karena mengabar atau menghadiri perhimpunan. Tetapi, hukumannya lebih ringan.

  • Moldova
    Buku Kegiatan Saksi-Saksi Yehuwa 2004
    • [Kotak di hlm. 83-85]

      Teladan Kenetralan Kristen yang Menonjol

      George Vacarciuc: Saudara Vacarciuc dibesarkan sebagai salah seorang Saksi-Saksi Yehuwa. Pada bulan Desember 1942, kaum Fasis memanggilnya untuk berdinas militer. Ia menolak angkat senjata dan dikurung dalam sebuah sel yang sama sekali gelap selama 16 hari dengan sangat sedikit makanan. Para pejabat memanggilnya lagi, berjanji akan membatalkan hukumannya​—yang bahkan belum dibacakan kepadanya​—jika ia melakukan perintah sebelumnya. Sekali lagi ia menolak.

      Akibatnya, George divonis 25 tahun penjara. Namun, ia dibebaskan sewaktu pasukan Soviet tiba pada tanggal 25 September 1944. Tetapi, kurang dari dua bulan kemudian, pemerintah Soviet berupaya merekrutnya untuk wajib militer. Karena ia tidak mau melanggar hati nuraninya yang dilatih Alkitab, ia dihukum sepuluh tahun kerja paksa di berbagai kamp. Selama 12 bulan, keluarganya tidak tahu di mana ia berada. Setelah dipenjarakan selama lima tahun, Saudara Vacarciuc dibebaskan pada tanggal 5 Desember 1949. Ia kembali ke rumahnya di Corjeuţi dan tetap setia hingga ia meninggal pada tanggal 12 Maret 1980.

      Parfin Goreacioc: Lahir pada tahun 1900, Saudara Goreacioc mengenal kebenaran Alkitab di desa Hlina pada tahun 1925 hingga 1927. Bersama adik dan kakak lelakinya, Nicolae dan Ion, ia mempelajari kebenaran dari Damian dan Alexandru Roşu, Siswa-Siswa Alkitab pertama di desa itu.

      Pada tahun 1933, Parfin, bersama Saksi-Saksi lainnya, ditangkap dan dibawa ke kota Khotin, tempat ia ditanyai dan kemudian didenda karena mengabar. Pada tahun 1939, akibat hasutan imam desa, Parfin dibawa ke kantor polisi di desa tetangga, Ghilavăţ. Di sini polisi mengikatnya dalam keadaan tertelungkup di atas papan tempat tidur dan memukuli telapak kakinya.

      Sewaktu kaum Fasis berkuasa, Parfin kembali ditangkap dan dijebloskan ke dalam penjara. Namun, pada tahun itu juga, pasukan Soviet membebaskannya, tetapi kemudian menangkapnya lagi karena menolak dinas militer. Mereka memenjarakannya di Chisinau selama beberapa bulan kemudian membebaskannya.

      Pada tahun 1947, pasukan Soviet menangkap Parfin lagi, kali ini memvonisnya delapan tahun pengasingan karena memberitakan Kerajaan Allah. Pada tahun 1951, anak-anaknya dideportasi ke Siberia. Namun, mereka tidak ikut dengan sang ayah. Malah, mereka tidak pernah melihatnya lagi. Parfin sakit parah dalam pembuangan dan meninggal pada tahun 1953, setia sampai akhir.

      Vasile Pădureţ: Lahir pada tahun 1920 di Corjeuţi, Saudara Pădureţ mempelajari kebenaran pada tahun 1941 selama era Fasis. Oleh karena itu, ia juga menderita di tangan kaum Fasis maupun pemerintah Soviet. Kepada pemerintah Soviet, ia dengan berani mengatakan, ”Saya tidak menembak kaum Bolshevik, dan saya tidak akan membunuh kaum Fasis.”

      Karena pendiriannya yang berdasarkan hati nurani dan Alkitab ini, Vasile divonis sepuluh tahun penjara di kamp kerja paksa Soviet. Tetapi, hukumannya dikurangi hingga lima tahun, dan ia pulang pada tanggal 5 Agustus 1949. Sewaktu ia ditangkap untuk ketiga kalinya, Operasi Utara telah dimulai. Jadi, pada tanggal 1 April 1951, Vasile dan keluarganya diangkut dalam gerbong barang kereta menuju Siberia. Setelah berada di sana selama lima tahun, mereka diperbolehkan pulang ke Corjeuţi, Moldova. Vasile meninggal dalam keadaan setia kepada Yehuwa pada tanggal 6 Juli 2002, sewaktu laporan ini sedang dipersiapkan.

      [Kotak/Gambar di hlm. 89, 90]

      ’Saya Tidak Akan Menukar Kehidupan Pelayanan Saya dengan Apa Pun Juga’

      Ion Sava Ursoi

      Lahir: 1920

      Baptis: 1943

      Profil: Melayani sebagai pengawas wilayah selama era komunis.

      Saya lahir di Caracuşeni, Moldova, dan mempelajari kebenaran sebelum pecahnya Perang Dunia II. Istri saya meninggal pada tahun 1942. Pada upacara pemakamannya, segerombolan orang mengejar saya dari pekuburan. Mengapa? Karena saya telah berpindah agama. Belakangan pada tahun itu, pemerintah Fasis berupaya merekrut saya untuk dinas militer. Karena hasrat saya untuk tetap netral secara politik, saya menolaknya. Saya dijatuhi hukuman mati, tetapi belakangan hukuman itu diubah menjadi 25 tahun pemenjaraan. Saya dipindah dari kamp ke kamp. Sewaktu saya dipenjarakan di Craiova, Rumania, pasukan Soviet datang dan membebaskan kami.

      Belum sempat saya mengecap kebebasan, pemerintah Komunis menjebloskan saya ke penjara lagi. Mereka mengirim saya ke Kalinin, Rusia. Dua tahun kemudian, pada tahun 1946, mereka memulangkan saya ke desa saya, dan di sana saya ikut mengorganisasi pekerjaan pengabaran. Kemudian, pada tahun 1951, pemerintah Soviet menangkap saya lagi. Kali ini mereka mendeportasi saya, bersama banyak Saksi lainnya, ke Siberia. Saya baru pulang ke rumah pada tahun 1969.

      Sewaktu melihat ke masa lalu kehidupan saya, saya ingat banyak situasi manakala Yehuwa memberi saya kekuatan untuk mempertahankan integritas saya. Saya tidak akan menukar kehidupan pelayanan saya kepada Pencipta dengan apa pun juga di dunia ini. Sekarang, saya bergumul dengan keterbatasan karena usia tua dan kesehatan yang memburuk. Tetapi, harapan yang pasti berupa kehidupan di dunia baru, manakala tubuh saya akan pulih seperkasa sewaktu muda, membentengi tekad saya untuk tidak ”menyerah dalam melakukan apa yang baik”.​—Gal. 6:9.

      [Kotak/Gambar di hlm. 100-102]

      ”Saya Punya Banyak Hal untuk Dinyanyikan”

      Alexandra Cordon

      Lahir: 1929

      Baptis: 1957

      Profil: Menderita di bawah rezim Soviet dan sekarang melayani sebagai penyiar di sebuah sidang.

      Kecintaan saya pada menyanyi membantu saya menemukan kebenaran dan, belakangan, tetap kuat secara rohani sewaktu iman saya diuji. Kisah saya dimulai pada tahun 1940-an ketika, semasih remaja, saya bertemu dengan sekelompok anak muda di Corjeuţi yang senang menggunakan waktu luang mereka untuk menyanyikan lagu Kerajaan dan mendiskusikan Alkitab. Kebenaran rohani yang saya pelajari selama diskusi-diskusi tersebut dan dari lagu-lagu itu sangat berkesan dalam diri saya.

      Tak lama kemudian, saya menjadi penyiar kabar baik. Hal ini membuat saya ditangkap pada tahun 1953, bersama sepuluh Saksi lain. Sementara menunggu persidangan, saya ditahan di sebuah penjara di Chisinau. Saya mempertahankan kekuatan rohani saya dengan menyanyikan lagu-lagu Kerajaan, yang tampaknya membuat marah salah seorang penjaga. ”Kamu ada di dalam penjara,” katanya. ”Ini bukan tempat untuk menyanyi!”

      Saya menjawab, ”Seumur hidup, saya telah menyanyi. Mengapa saya harus berhenti sekarang? Anda bisa mengunci saya di sini, tetapi Anda tidak bisa mengunci bibir saya. Hati saya bebas, dan saya mengasihi Yehuwa. Jadi, saya punya banyak hal untuk dinyanyikan.”

      Saya divonis 25 tahun di kamp kerja paksa di Inta, dekat Lingkaran Arktik. Selama bulan-bulan musim panas yang pendek, Saksi-Saksi lain dan saya bekerja di hutan tak jauh dari situ. Lagi-lagi, lagu-lagu Kerajaan, yang kebanyakan sudah di luar kepala, membantu kami tetap kuat secara rohani dan merasa bebas dalam hati. Selain itu, para penjaga kami, tidak seperti yang di Chisinau, menganjurkan kami untuk bernyanyi.

      Saya tetap berada di kamp Inta selama tiga tahun, tiga bulan, dan tiga hari. Kemudian, berkat sebuah amnesti, saya dibebaskan. Karena saya belum diizinkan pulang ke Moldova, saya pergi ke Tomsk, Rusia. Di sana, saya dipersatukan kembali dengan suami saya, yang tadinya juga dipenjarakan. Kami telah berpisah selama empat tahun.

      Karena penangkapan saya, saya belum melambangkan pembaktian saya kepada Yehuwa melalui baptisan air. Jadi, saya menanyakan hal ini kepada saudara-saudara di Tomsk. Karena sejumlah orang lain juga ingin dibaptis, saudara-saudara segera membuat pengaturan untuk pembaptisan. Tetapi, karena pelarangan, mereka memutuskan untuk mengadakannya pada malam hari di sebuah danau di hutan dekat situ.

      Pada waktu yang telah ditetapkan, kami meninggalkan daerah pinggiran Tomsk dan berjalan ke dalam hutan berdua-dua agar tidak menimbulkan kecurigaan. Tiap pasangan harus mengikuti pasangan di depannya hingga kami semua tiba dengan aman di danau. Setidaknya, itulah rencananya. Sayang sekali, dua saudari lanjut usia di depan rekan saya dan saya tersasar. Kami mengikuti mereka, dan pasangan-pasangan di belakang kami juga mengikuti kami. Tak lama kemudian, sekitar sepuluh dari kami benar-benar kehilangan arah dalam kegelapan, basah kuyup hingga ke kulit kami akibat semak-semak yang basah dan kami menggigil kedinginan. Beruang dan serigala terkenal berkeliaran di daerah situ, sehingga kami dicekam rasa takut bertemu dengan mereka. Saking tegangnya, setiap suara yang aneh mengagetkan kami.

      Menyadari betapa pentingnya untuk tidak panik atau menyerah, saya menyarankan agar kami berdiri dengan tenang dan menyiulkan lagu Kerajaan, berharap yang lain-lainnya mendengar kami. Kami juga berdoa dengan khusyuk. Jadi, bayangkan betapa senangnya kami sewaktu mendengar nada yang sama mengalun kembali ke arah kami menembus kegelapan! Ya, saudara-saudara kami telah mendengar kami! Dengan cepat, mereka menyalakan senter sehingga kami dapat mencari jalan ke arah mereka. Tidak lama kemudian, kami dibenamkan ke dalam air yang sangat dingin, tetapi saking bahagianya, kami tidak merasakannya.

      Sekarang, saya berusia 74 tahun dan sudah kembali ke Corjeuţi, tempat saya pertama kali menemukan kebenaran. Meskipun usia saya semakin lanjut, saya masih punya banyak hal untuk dinyanyikan, khususnya untuk memuji Bapak surgawi kita.

      [Kotak/Gambar di hlm. 104-106]

      Saya Berupaya Meniru Teladan Orang Tua Saya

      Vasile Ursu

      Lahir: 1927

      Baptis: 1941

      Profil: Melayani sebagai hamba sidang dan bekerja dalam pemroduksian lektur bawah tanah.

      Orang tua saya, Simeon dan Maria Ursu, dibaptis pada tahun 1929. Dari lima anak mereka, saya yang tertua. Selama era Fasis, Ayah dan Ibu ditangkap dan dijatuhi hukuman 25 tahun kerja paksa karena pendirian mereka yang netral. Saudara-saudari rohani dari sidang di Corjeuţi yang berdekatan merawat kami anak-anak dan mengurus pertanian keluarga kami. Oleh karena itu, kami selalu punya cukup makanan. Nenek kami yang sudah lanjut usia, yang tidak berada dalam kebenaran, juga membantu merawat kami. Saya berusia 14 tahun pada waktu itu.

      Berkat teladan orang tua saya, saya berupaya sangat keras untuk mengurus adik-adik saya secara rohani. Untuk itu, saya membangunkan mereka pagi-pagi setiap hari untuk membahas suatu bagian dari lektur berdasarkan Alkitab bersama-sama. Mereka tidak selalu mau bangun, tetapi saya tidak memberi mereka pilihan. Saya menyadari pentingnya kebiasaan belajar yang baik. Hasilnya, sewaktu orang tua kami dibebaskan lebih awal dan kembali ke rumah pada tahun 1944, mereka senang melihat betapa sehatnya kami secara rohani. Alangkah menyenangkannya reuni itu! Namun, kebahagiaan kami tidak bertahan lama.

      Tahun berikutnya, pemerintah Soviet menangkap Ayah dan memenjarakannya di Norilsk, Siberia, di atas Lingkaran Arktik. Tiga tahun kemudian, saya menikahi Emilia, seorang saudari yang energik dan berpikiran rohani. Kami boleh dikatakan bertumbuh bersama, jadi saya kenal baik dia. Namun, hanya setahun setelah pernikahan kami, saya ditangkap bersama dengan Ibu. Kami dikirim ke Chisinau, tempat kami dihukum 25 tahun kerja paksa. Emilia dengan pengasih merawat adik-adik saya, yang sekarang harus hidup tanpa orang tua dan kakak mereka.

      Akhirnya, saya dikirim ke tambang batu bara di Vorkuta, sebuah kamp kerja paksa yang terkenal kejam di sebelah utara Lingkaran Arktik. Dua tahun kemudian, pada tahun 1951, Emilia dan tiga adik lelaki saya dan satu adik perempuan diasingkan ke Tomsk, di bagian barat Siberia. Pada tahun 1955, Emilia minta dipindahkan ke Vorkuta agar berada bersama saya. Di sana, ia melahirkan anak yang pertama dari tiga anak kami, seorang anak perempuan bernama Tamara.

      Pada bulan September 1957, sebuah amnesti diumumkan, dan kami dibebaskan. Namun, sebulan kemudian saya ditangkap lagi. Kali ini saya divonis tujuh tahun di kamp kerja paksa di Mordvinia, dekat Saransk, Rusia. Banyak saudara lain juga ditahan di sana, dan akan ada lebih banyak lagi. Sewaktu para istri kami datang berkunjung, mereka berhasil menyelundupkan persediaan lektur secara teratur, yang sangat kami hargai. Pada bulan Desember 1957, Emilia pindah ke Kurgan, Siberia bagian barat, untuk mengurus putri kami, Tamara, yang selama itu tinggal dengan orang tua Emilia. Akibatnya, Emilia dan saya terpisah selama tujuh tahun. Namun, inilah satu-satunya jalan bagi kami agar Tamara tidak sampai dikirim ke lembaga yang dikelola Negara.

      Pada tahun 1964, saya dibebaskan tetapi tidak diperbolehkan pulang ke Moldova. Meskipun aktivitas saya secara resmi masih dibatasi, saya dapat berkumpul dengan istri dan putri saya di Kurgan, tempat saya melayani sebagai pemimpin PBS di sidang. Pada tahun 1969, kami pindah ke Krasnodar, di Kaukasus. Setelah melayani di sana selama delapan tahun, kami pindah ke Chirchik, Uzbekistan. Di sana, saya bekerja di percetakan bawah tanah. Akhirnya, pada tahun 1984 kami diperbolehkan kembali ke Moldova. Kami tinggal di Tighina, sebuah kota yang berpenduduk 160.000 orang dan hanya memiliki 18 penyiar. Dari tahun ke tahun, kelompok kecil ini telah bertumbuh menjadi sembilan sidang yang terdiri dari hampir 1.000 penyiar dan perintis.

      Apakah saya menyesali tahun-tahun yang saya habiskan di kamp kerja paksa dan penjara demi sang Tuan? Sama sekali tidak! Bagi saya masalahnya sudah jelas, bahkan sewaktu saya baru dibaptis pada usia 14 tahun: kita mengasihi Allah atau, kalau tidak, mengasihi dunia! Karena telah memutuskan untuk melayani Yehuwa, saya tidak pernah berpikir untuk berkompromi.​—Yak. 4:4.

      [Gambar]

      Kiri: Vasile Ursu

      Kiri jauh: Vasile dan istri, Emilia, dan putri, Tamara

Publikasi Menara Pengawal Bahasa Indonesia (1971-2025)
Log Out
Log In
  • Indonesia
  • Bagikan
  • Pengaturan
  • Copyright © 2025 Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania
  • Syarat Penggunaan
  • Kebijakan Privasi
  • Pengaturan Privasi
  • JW.ORG
  • Log In
Bagikan