-
Ada Film Apa di Musim Liburan Ini?Sedarlah!—2005 | 8 Mei
-
-
Ada Film Apa di Musim Liburan Ini?
KALAU musim liburan tiba, apa yang ingin Anda lakukan? Jika cuacanya bagus, boleh jadi Anda ingin bersantai-santai di luar—mungkin piknik di pantai atau di taman.
Akan tetapi, kalangan industri perfilman mengharapkan jutaan orang menghabiskan sebagian besar musim liburan mereka di dalam ruangan, yakni di bioskop. Di Amerika Serikat saja setidaknya ada 35.000 studio bioskop, dan pada tahun-tahun belakangan ini sekitar 40 persen laba dari penjualan tiket telah dihasilkan selama musim panas saja.a ”Ini sama dengan musim Natal-nya pedagang eceran,” kata Heidi Parker dari majalah Movieline.
Dahulu keadaannya tidak demikian. Semula, musim panas adalah musim paceklik bagi bioskop-bioskop di AS, sehingga banyak dari antaranya terpaksa mengurangi jadwal tayang atau tutup selama musim itu. Tetapi, pada pertengahan tahun 1970-an, bioskop-bioskop berpendingin udara memikat jutaan orang untuk berlindung dari cuaca panas. Anak-anak yang libur sekolah pada waktu itu adalah pasar yang belum terjamah yang tidak luput dari perhatian para pembuat film. Tidak lama kemudian, muncullah film-film blockbuster musim panas.b Hal itu mengubah cara pembuatan dan pemasaran film, sebagaimana yang akan kita lihat.
[Catatan Kaki]
a Di Amerika Serikat, film musim panas berlangsung dari bulan Mei sampai September.
b Biasanya, istilah ”blockbuster” diberikan kepada film-film yang meraup laba 100 juta dolar AS atau lebih. Akan tetapi, istilah ini kadang-kadang digunakan lebih luas untuk film apa pun yang hit, tidak soal seberapa besar uang yang dihasilkan dari penjualan tiket.
-
-
Dari Naskah ke LayarSedarlah!—2005 | 8 Mei
-
-
Dari Naskah ke Layar
SELAMA beberapa dekade yang lalu, Hollywood telah menghasilkan banyak sekali film blockbuster. Fenomena ini berdampak global, karena banyak film Amerika dirilis di negeri lain hanya beberapa minggu—atau dalam beberapa kasus beberapa hari—setelah penayangan perdananya di AS. Beberapa film bahkan diputar serentak di seluruh dunia pada tanggal yang sama. ”Pasar internasional sedang bertumbuh dan sangat cerah,” kata Dan Fellman, presiden distribusi domestik Warner Brothers Pictures, ”jadi, sewaktu kami membuat film, kami menganggapnya sebagai peluang global.” Terlebih lagi sekarang, apa yang terjadi di Hollywood mempengaruhi industri hiburan sedunia.a
Tetapi, meraup laba dari sebuah film tidak semudah yang terlihat. Banyak film menyedot dana lebih dari 100 juta dolar AS hanya untuk menutupi biaya produksi dan pemasaran. Dan, keberhasilan film sepenuhnya bergantung pada publik yang sulit ditebak apa maunya. ”Kapan pun kita tidak bakal tahu apa yang dianggap menegangkan atau menarik di mata publik,” kata David Cook, dosen studi perfilman di Emory University. Jadi, bagaimana para pembuat film meningkatkan peluang sukses mereka? Untuk menjawabnya, pertama-tama kita perlu memahami beberapa dasar pembuatan film.b
Praproduksi—Meletakkan Dasar
Praproduksi sering kali merupakan tahap terpanjang dalam proses pembuatan film dan salah satu tahap terpenting. Seperti halnya proyek besar mana pun, persiapan adalah kuncinya. Harapannya ialah agar setiap dolar yang dikucurkan dalam praproduksi akan menghemat berlipat-lipat biaya pengambilan gambar.
Pembuatan sebuah film dimulai dengan ide cerita, yang bisa jadi fiktif atau didasarkan pada kisah nyata. Seorang penulis menuangkan cerita ke dalam bentuk naskah. Naskah ini, yang juga disebut skenario, mungkin direvisi beberapa kali sebelum versi terakhirnya—disebut naskah syuting—dihasilkan. Naskah syuting berisi dialog film serta uraian singkat tentang aksi yang akan berlangsung. Naskah ini juga menjadi pedoman untuk perincian teknis, seperti pengarahan kamera dan peralihan antaradegan.
Akan tetapi, meskipun masih pada tahap awal, skenario ditawarkan kepada seorang produser.c Skenario macam apa yang mungkin diminati produser? Nah, film musim panas biasanya ditujukan pada para remaja dan kaum muda, yang oleh seorang kritikus film dijuluki ”kelompok popcorn” karena kebiasaan mereka makan jagung berondong di bioskop. Jadi, seorang produser mungkin tertarik pada cerita yang kena di hati kaum muda.
Naskah yang lebih disukai ialah naskah yang menarik bagi segala lapisan usia. Sebagai contoh, film tentang jagoan komik pasti akan diminati anak-anak yang kenal betul dengan tokoh itu. Dan, para orang tua pasti akan menemani mereka. Tetapi, bagaimana para pembuat film memikat para remaja dan kaum muda? ”Cerita yang menegangkan” adalah kuncinya, tulis Liza Mundy dalam The Washington Post Magazine. Penambahan bahasa kasar, adegan kekerasan yang hebat, dan pengumbaran adegan seks dalam sebuah film adalah cara ”memaksimalkan peluang untuk meraup laba dengan tidak menyisihkan kelompok usia mana pun”.
Jika seorang produser merasa bahwa suatu skenario memiliki potensi, ia dapat membelinya dan mencoba membuat kontrak dengan sutradara ternama dan aktor atau aktris terkenal. Melibatkan sutradara ternama dan bintang papan atas akan menarik minat orang untuk menonton sewaktu film itu dirilis. Namun, bahkan pada tahap awal ini, nama-nama besar dapat menarik investor yang dibutuhkan untuk mendanai film.
Aspek berikut dari praproduksi ialah pembuatan storyboard. Storyboard adalah serangkaian sketsa yang menggambarkan berbagai urutan film, khususnya adegan aksi. Karena berfungsi sebagai cetak biru bagi sinematografer, storyboard menghemat banyak waktu selama pengambilan gambar. Seperti yang dikatakan Frank Darabont, sutradara sekaligus penulis skenario, ”tidak ada yang lebih buruk selain berdiri di sekitar lokasi dan membuang-buang waktu syuting hanya untuk menentukan letak kamera”.
Banyak soal penting lain harus diputuskan selama praproduksi. Contohnya, lokasi mana saja yang akan digunakan untuk pengambilan gambar? Apakah perjalanan akan dibutuhkan? Bagaimana latar interior akan dibangun dan didesain? Apakah kostum akan dibutuhkan? Siapa yang akan menangani tata cahaya, tata rias, dan tata rambut? Bagaimana dengan tata suara, efek khusus, dan peran pengganti? Ini hanyalah beberapa contoh dari banyak aspek pembuatan film yang perlu dipikirkan sebelum syuting dimulai. Perhatikan daftar para kru film dari sebuah film beranggaran besar, dan Anda mungkin melihat bahwa ada ratusan orang yang terlibat di balik layar! ”Dibutuhkan orang sekota untuk membuat film yang sukses,” kata seorang teknisi yang telah ikut menggarap sejumlah film.
Produksi—Pengambilan Gambar
Syuting sebuah film dapat menguras waktu, tenaga, dan uang. Sesungguhnya, satu menit saja yang terbuang dapat menghabiskan ribuan dolar. Kadang-kadang, para aktor, anggota kru, dan perlengkapan harus dibawa ke kawasan terpencil di negeri lain. Akan tetapi, tidak soal di mana syuting dilakukan, setiap hari pengambilan gambar memakan porsi yang cukup besar dari anggaran.
Kru tata cahaya, penata rambut, dan penata rias termasuk yang pertama-tama tiba di lokasi film. Setiap hari pengambilan gambar, para bintang mungkin berdandan beberapa jam agar siap beraksi di depan kamera. Lalu, pengambilan gambar sepanjang hari pun dimulai.
Sutradara dengan cermat mengawasi pengambilan gambar untuk setiap adegan. Syuting sebuah adegan yang relatif sederhana dapat berlangsung bahkan sepanjang hari. Kebanyakan adegan dalam film diambil gambarnya dengan satu kamera sehingga satu adegan akan terus diulangi untuk setiap sudut pengambilan gambar. Selain itu, setiap pengambilan gambar mungkin perlu dilakukan berulang-ulang untuk memperoleh hasil terbaik atau untuk mengoreksi masalah teknis. Setiap pengambilan gambar ini disebut take. Untuk adegan yang lebih besar, boleh jadi dibutuhkan 50 take atau lebih! Kemudian—biasanya di akhir setiap hari syuting—sang sutradara melihat hasil dari semua take itu dan memutuskan mana saja yang disimpan. Secara keseluruhan, proses pengambilan gambar dapat berlangsung berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan.
Pascaproduksi—Menyatukan Semua Potongan
Selama pascaproduksi, setiap potongan film diedit untuk menghasilkan film yang utuh. Pertama-tama, rekaman suara disinkronkan dengan film. Lalu, editor menyatukan potongan-potongan film yang masih kasar ke dalam versi pendahuluan, disebut rough cut.
Efek khusus berupa efek suara dan efek visual juga ditambahkan pada tahap ini. Sinematografi efek khusus—salah satu unsur paling rumit dalam pembuatan film—kadang-kadang dicapai dengan bantuan komputer. Hasilnya bisa spektakuler dan sangat realistis.
Aransemen musik juga ditambahkan selama pascaproduksi, dan unsur ini semakin penting dalam film-film sekarang. ”Industri perfilman kini membutuhkan lebih banyak musik orisinal dibanding sebelumnya—bukan cuma musik dua puluh menit atau musik interval untuk babak-babak dramatis, tetapi sering kali musik yang panjangnya lebih dari satu jam,” tulis Edwin Black dalam Film Score Monthly.
Kadang-kadang, film yang baru diedit ditayangkan kepada penonton yang telah diseleksi, mungkin terdiri dari teman-teman atau kolega sang sutradara yang tidak terlibat dalam pembuatan film itu. Berdasarkan tanggapan mereka, sang sutradara mungkin mengulangi syuting adegan tertentu atau menghapusnya. Dalam beberapa kasus, akhir sebuah film dirombak karena tanggapan negatif terhadap versi semula film itu dalam uji tayangnya.
Akhirnya, film yang telah rampung itu dirilis ke bioskop. Pada saat inilah baru jelas apakah film itu akan sukses besar atau gagal total—atau biasa-biasa saja. Tetapi, yang dipertaruhkan bukan cuma laba. Serangkaian kegagalan dapat merusak prospek kerja aktor dan menghancurkan reputasi sutradara. ”Saya telah melihat beberapa teman seangkatan saya yang gugur setelah beberapa kali gagal,” kata sutradara John Boorman sewaktu merenungkan tahun-tahun awal ia berkecimpung dalam pembuatan film. ”Kenyataan yang kejam dalam bisnis film ialah jika Anda tidak menghasilkan uang untuk majikan Anda, tamatlah Anda.”
Tentu saja, sewaktu berdiri di depan papan reklame sebuah bioskop, publik pada umumnya tidak memikirkan soal lapangan pekerjaan para pembuat film. Kemungkinan besar, yang mereka paling ingin ketahui ialah, ’Apakah film ini enak ditonton? Apakah film ini sebanding dengan harga karcisnya? Apakah film ini buruk atau menyebalkan? Pantaskah film ini untuk anak saya?’ Bagaimana Anda dapat menjawab pertanyaan ini sewaktu memutuskan film apa yang akan Anda tonton?
[Catatan Kaki]
a Menurut Anita Elberse, dosen di Fakultas Bisnis Harvard, ”meskipun pendapatan dari penjualan tiket di luar negeri kini sering lebih tinggi daripada pendapatan domestik, seberapa laris sebuah film di AS masih menentukan seberapa laris film itu di luar negeri”.
b Meskipun perinciannya mungkin berbeda untuk setiap film, apa yang diulas di sini adalah salah satu cara pembuatannya.
c Dalam beberapa kasus, seorang produser ditawari sebuah rangka cerita, bukan skenario. Jika ia berminat dengan cerita itu, ia dapat membeli hak patennya dan mengembangkannya menjadi skenario.
[Kutipan di hlm. 6]
”Kapan pun kita tidak bakal tahu apa yang dianggap menegangkan atau menarik di mata publik”—David Cook, dosen studi perfilman
[Kotak/Gambar di hlm. 6, 7]
MEMASARKAN FILM AGAR SUKSES BESAR
Filmnya telah rampung dan siap ditonton oleh jutaan orang. Apakah film itu akan sukses? Perhatikan beberapa cara yang dicoba oleh para pembuat film untuk memasarkan produk mereka dan menjadikannya film blockbuster.
◼ KABAR ANGIN: Salah satu cara yang paling efektif untuk menciptakan antusiasme terhadap sebuah film ialah dari mulut ke mulut—atau kabar angin. Kadang-kadang, kabar angin diembuskan berbulan-bulan sebelum film dirilis. Bisa jadi diumumkan bahwa akan ada lanjutan atau sekuel dari sebuah film yang pernah hit. Apakah para bintang aslinya akan tampil lagi? Apakah filmnya akan sebagus (atau seburuk) film yang semula?
Dalam beberapa kasus, diciptakan kabar angin mengenai unsur kontroversial sebuah film—mungkin adegan seks yang terlalu vulgar untuk film semua kalangan. Apakah adegannya memang seburuk itu? Apakah film itu kelewat batas? Para pembuat film menarik manfaat dari iklan gratis seraya sudut pandangan yang bertentangan diperdebatkan di depan publik. Kadang-kadang, kontroversi yang disulut justru menjamin membeludaknya penonton pada penayangan perdana film itu.
◼ MEDIA: Bentuk iklan yang lebih umum mencakup penggunaan papan reklame, iklan surat kabar, iklan TV, cuplikan film yang ditayangkan di bioskop sebelum film utama diputar, dan wawancara dengan para bintang yang mempromosikan film terbaru mereka. Kini Internet adalah sarana utama untuk mengiklankan film. ”Seandainya Dorothy [dari film The Wizard of Oz] mengklik mouse-nya, dan bukan mengentakkan tumitnya,” tulis kritikus film Steve Persall, ”ia pasti menemukan sederetan situs film yang menyajikan gosip selebriti, cuplikan film terbaru, karcis, dan waktu tayang.”
◼ BARANG PROMOSI: Barang-barang promosi dapat menarik perhatian ke film yang dirilis. Contohnya, film tentang jagoan komik dipromosikan pada kotak makanan, cangkir, perhiasan, pakaian, gantungan kunci, jam dinding, lampu, permainan strategi, dan masih banyak lagi. ”Umumnya, 40 persen barang promosi film sudah terjual bahkan sebelum filmnya dirilis,” tulis Joe Sisto dalam sebuah jurnal hiburan dari Ikatan Pengacara Amerika.
◼ VIDEO: Kerugian sebuah film yang kurang laku di bioskop dapat ditutupi dengan penjualan film itu dalam bentuk video. Bruce Nash, yang melacak perolehan finansial dari film-film, mengatakan bahwa ”pasar video nilainya 40 sampai 50 persen pendapatan”.
◼ PERINGKAT: Para pembuat film telah tahu caranya memanfaatkan peringkat, atau penggolongan usia penonton. Sebagai contoh, materi tertentu boleh jadi disisipkan ke dalam sebuah film sehingga film itu diberi peringkat untuk dewasa. Sebaliknya, cukup dengan memotong sedikit adegan dapat membuat sebuah film tidak sampai diberi peringkat untuk dewasa sehingga dapat dipasarkan untuk para remaja. Liza Mundy menulis dalam The Washington Post Magazine bahwa film dengan peringkat remaja ”telah berevolusi menjadi iklan: Studio film memanfaatkan peringkat itu untuk mengirimkan pesan kepada para remaja—dan anak kecil yang ingin sekali menjadi remaja—bahwa isi film itu keren”. Peringkat menciptakan semacam ”ketegangan antargenerasi”, tulis Mundy, ”yang memperingatkan sang orang tua sekaligus menggoda si anak”.
[Gambar di hlm. 8, 9]
CARA FILM DIBUAT
SKENARIO
STORYBOARD
KOSTUM
TATA RIAS
SYUTING DI LOKASI
SYUTING EFEK KHUSUS
PEREKAMAN MUSIK
MEMADUKAN SUARA
ANIMASI KOMPUTER
PENGEDITAN
-
-
Film Mana yang Akan Anda Tonton?Sedarlah!—2005 | 8 Mei
-
-
Film Mana yang Akan Anda Tonton?
DALAM dekade-dekade belakangan ini, maraknya tayangan seks, kekerasan, dan ketidaksenonohan telah membangkitkan beragam reaksi. Ada yang mengatakan bahwa adegan seks tertentu cabul, sedangkan yang lain berpendapat bahwa itu seni. Ada yang berkukuh bahwa kekerasan dalam film tidak patut, sedangkan yang lain mengatakan bahwa itu boleh-boleh saja. Ada yang menegaskan bahwa dialog yang tidak senonoh tidak sopan, sedangkan yang lain berpendapat bahwa itu realistis. Apa yang disebut cabul oleh seseorang, disebut kebebasan berekspresi oleh yang lain. Kalau kita mendengarkan kedua belah pihak, kita mungkin merasa bahwa ini hanyalah soal peristilahan.
Tetapi, isi film bukanlah soal debat kusir. Hal ini sepatutnya diperhatikan dengan serius, bukan hanya oleh orang tua melainkan juga oleh semua orang yang menjunjung standar moral. ”Setiap kali saya mengambil risiko melawan pertimbangan baik saya dan masuk lagi ke bioskop, saya selalu merasa seperti orang yang lebih buruk sekeluarnya dari sana,” keluh seorang wanita. ”Saya malu terhadap orang-orang yang membuat sampah ini, dan saya malu terhadap diri sendiri. Rasanya apa yang baru saya tonton ini telah memerosotkan kepribadian saya.”
Menetapkan Standar
Keprihatinan terhadap isi film bukan soal baru. Pada masa awal sejarah perfilman, muncul reaksi yang keras terhadap tema seksual dan unsur kriminal yang ditayangkan di layar perak. Akhirnya, pada tahun 1930-an, suatu undang-undang ditetapkan di Amerika Serikat yang sangat membatasi apa yang dapat ditayangkan dalam film.
Menurut The New Encyclopædia Britannica, undang-undang baru perfilman itu ”benar-benar keras, menabukan tayangan tentang hampir segala sesuatu yang berkaitan dengan pengalaman manusia dewasa normal. Undang-undang itu melarangkan penayangan ’adegan nafsu’. Selain itu, perzinaan, seks gelap, percumbuan, dan perkosaan bahkan tidak boleh muncul secara tersamar kecuali unsur ini sangat penting dalam alur cerita dan pelakunya dihukum berat di akhir film”.
Mengenai kekerasan, film-film ”dilarang mempertunjukkan atau membicarakan senjata-senjata modern, menayangkan perincian kejahatan, menayangkan aparat hukum yang tewas di tangan penjahat, menyiratkan kebrutalan atau pembantaian yang berlebihan, atau menggunakan adegan pembunuhan atau bunuh diri kecuali sangat penting untuk alur ceritanya. . . . Di bawah keadaan apa pun tidak ada kejahatan yang boleh ditayangkan seolah-olah itu dapat dibenarkan”. Singkatnya, undang-undang itu menyatakan bahwa ”film yang akan menurunkan standar akhlak penontonnya tidak boleh diproduksi”.
Dari Pembatasan ke Sistem Peringkat
Pada tahun 1950-an, banyak produser Hollywood melanggar undang-undang itu karena merasa bahwa peraturannya sudah kuno. Oleh karena itu, pada tahun 1968, undang-undang tersebut dicabut dan diganti dengan sistem peringkat.a Dengan sistem peringkat, sebuah film bisa berisi adegan seksual, tetapi film itu akan diberi sebuah simbol yang memperingatkan sebelumnya kepada masyarakat bahwa film itu untuk ”dewasa”. Menurut Jack Valenti, yang pernah menjabat sebagai presiden Asosiasi Perfilman Amerika selama hampir empat dekade, tujuan sistem ini ialah ”memberikan semacam peringatan di muka kepada orang tua, sehingga mereka dapat menimbang film apa saja yang boleh dan tidak boleh ditonton anak mereka”.
Dengan diperkenalkannya sistem peringkat, bendungan pun runtuh. Seks, kekerasan, dan ketidaksenonohan membanjiri naskah-naskah film populer Hollywood. Kebebasan baru yang sekarang dimiliki para pembuat film telah melepaskan gelombang besar yang tak dapat dibendung. Meski begitu, dengan peringkat, publik diberi peringatan di muka. Tetapi, apakah peringkat menyingkapkan semua yang perlu Anda ketahui?
Apa yang Tidak Disingkapkan Peringkat
Ada yang merasa bahwa seraya waktu berlalu sistem peringkat menjadi longgar. Suatu penelitian oleh Fakultas Kesehatan Masyarakat Harvard mendukung kecurigaan itu, karena penelitian itu mendapati bahwa film-film yang dianggap berterima bagi para remaja sekarang berisi lebih banyak adegan kekerasan dan adegan seks yang gamblang dibanding film-film remaja sepuluh tahun yang lalu. Penelitian itu menyimpulkan bahwa ”film dengan peringkat yang sama bisa jauh berbeda dalam jumlah dan jenis adegan yang dianggap tidak berterima” dan bahwa ”peringkat berdasarkan kelompok usia saja tidak memberikan informasi yang memadai mengenai tayangan kekerasan, ketidaksenonohan, dan hal lainnya”.b
Orang tua yang begitu saja membiarkan anak mereka menonton di bioskop mungkin tidak sadar tentang apa yang dianggap sebagai tontonan yang pantas dewasa ini. Contohnya, seorang kritikus film melukiskan tokoh utama sebuah film yang di Amerika Serikat diberi peringkat cocok untuk remaja. Tokoh itu adalah ”gadis jalang berusia 17 tahun yang setiap hari mabuk-mabukan, memakai obat bius, terlibat pesta seks liar dan seks agresif dengan seorang anak laki-laki yang baru dikenalnya”. Jenis film seperti ini sudah umum. Malah, The Washington Post Magazine berkomentar bahwa rujukan tentang seks oral tampaknya ”semakin berterima” dalam film-film yang diberi peringkat untuk remaja”. Jelaslah, peringkat hendaknya tidak dijadikan faktor tunggal untuk menilai isi sebuah film. Adakah pedoman yang lebih baik?
”Bencilah Apa yang Jahat”
Sistem peringkat bukanlah pengganti hati nurani yang terlatih Alkitab. Dalam segala keputusan mereka—termasuk yang berkaitan dengan hiburan—orang Kristen berupaya keras untuk menerapkan pengingat dari Alkitab di Mazmur 97:10, ”Bencilah apa yang jahat.” Seseorang yang membenci apa yang jahat tidak akan merasa terhibur oleh hal-hal yang memuakkan bagi Allah.
Orang tua khususnya perlu waspada mengenai jenis film yang boleh ditonton oleh anak mereka. Sungguh naif andaikata orang tua hanya mengandalkan peringkat film. Besar kemungkinannya sebuah film yang peringkatnya cocok dengan umur anak Anda menganjurkan nilai-nilai yang tidak Anda setujui sebagai orang tua. Hal ini tidak mengejutkan orang Kristen, sebab dunia ini menganut cara berpikir dan bertindak yang bertentangan dengan standar yang saleh.c—Efesus 4:17, 18; 1 Yohanes 2:15-17.
Ini tidak berarti semua film buruk. Tetapi, sepatutnyalah kita waspada. Mengenai soal ini, Sedarlah! terbitan 22 Mei 1997 memuat komentar ini, ”Masing-masing pribadi hendaknya menimbang perkaranya dengan saksama dan membuat keputusan yang memungkinkan ia tetap memiliki hati nurani yang bersih di hadapan Allah dan manusia.”—1 Korintus 10:31-33.
Menemukan Hiburan yang Cocok
Bagaimana orang tua dapat bersikap selektif sewaktu memilih film yang akan ditonton keluarga mereka? Perhatikan komentar berikut dari para orang tua di seputar dunia. Komentar mereka bisa membantu Anda dalam upaya menyediakan hiburan yang sehat bagi keluarga Anda.—Lihat juga kotak ”Bentuk Rekreasi Lainnya”, di halaman 14.
”Saya dan istri saya selalu menemani anak-anak kami ke bioskop sewaktu mereka masih kecil,” kata Juan, di Spanyol. ”Mereka tidak pernah pergi sendirian atau hanya bersama anak-anak lain. Sekarang, sebagai remaja, mereka tidak menonton penayangan perdana sebuah film; sebaliknya, kami lebih suka kalau mereka menunggu sampai kami telah membaca resensinya atau telah mendengar komentar tentang film itu dari orang lain yang kami percayai. Kemudian, kami sekeluarga memutuskan apakah kami akan menonton film ini atau tidak.”
Mark, di Afrika Selatan, membiasakan diri berkomunikasi secara terbuka dengan putranya yang remaja mengenai apa yang sedang diputar di bioskop. ”Saya dan istri saya yang memulai pembahasan, menanyakan pendapatnya tentang film itu,” kata Mark. ”Ini memungkinkan kami mendengarkan pendapatnya dan bertukar pikiran dengannya. Hasilnya, kami dapat memilih film-film yang bisa dinikmati oleh kami semua bersama-sama.”
Rogerio, di Brazil, juga meluangkan waktu bersama anak-anaknya untuk menganalisis film yang ingin mereka tonton. ”Saya membaca bersama mereka apa yang dikatakan kritikus,” katanya. ”Saya menyertai mereka ke toko video untuk mengajar mereka cara menilai pantas tidaknya sebuah film dari sampulnya.”
Matthew, di Inggris, merasakan manfaatnya berbicara bersama anak-anaknya mengenai film yang ingin mereka tonton. ”Sejak usia dini,” katanya, ”anak-anak kami disertakan dalam pembahasan tentang isi film yang menarik minat kami sekeluarga. Jika kami memutuskan untuk tidak menonton film tertentu, saya dan istri saya menjelaskan alasannya, ketimbang cuma mengatakan tidak boleh.”
Selain itu, beberapa orang tua memanfaatkan Internet untuk memeriksa film. Ada sejumlah situs Web yang memberikan ulasan yang terperinci tentang isi film. Ini dapat digunakan untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas tentang nilai-nilai yang dianjurkan oleh film tertentu.
Manfaat Hati Nurani yang Terlatih
Alkitab berbicara tentang orang-orang yang ”terlatih daya pemahamannya untuk membedakan apa yang benar maupun yang salah”. (Ibrani 5:14) Jadi, tujuan orang tua hendaknya adalah menanamkan nilai-nilai dalam diri anak mereka yang akan membantu mereka mengambil keputusan yang bijaksana sewaktu mereka memiliki kebebasan untuk memilih hiburan sendiri.
Dalam hal ini, banyak remaja di kalangan Saksi-Saksi Yehuwa telah menerima pelatihan yang sangat bagus dari orang tua mereka. Sebagai contoh, Bill dan Cherie, di Amerika Serikat, menikmati menonton film bersama dua putra remaja mereka. ”Setelah keluar dari bioskop,” kata Bill, ”kami sekeluarga membahas film itu—apa saja nilai-nilai yang disampaikan dan apakah kami setuju dengan nilai-nilai itu atau tidak.” Tentu saja, Bill dan Cherie sadar perlunya untuk bersikap selektif. ”Kami sebelumnya membaca tentang film itu, dan kami tidak malu meninggalkan bioskop jika ada adegan memuakkan yang tidak terantisipasi,” kata Bill. Dengan melibatkan anak mereka untuk bertanggung jawab dalam mengambil keputusan, Bill dan Cherie merasa bahwa putra-putra mereka sedang dibantu untuk mengembangkan kesadaran yang tajam akan yang benar dan salah. ”Mereka mengambil keputusan yang bijaksana sewaktu harus memilih film apa saja yang ingin mereka tonton,” kata Bill.
Seperti Bill dan Cherie, banyak orang tua telah membantu anak mereka melatih daya pemahaman mereka dalam soal hiburan. Memang, kebanyakan film yang diproduksi oleh industri perfilman tidak pantas. Sebaliknya, apabila mereka dibimbing oleh prinsip Alkitab, orang Kristen dapat menikmati hiburan yang baik, sehat, dan menyegarkan.
[Catatan Kaki]
a Banyak negeri di seputar dunia telah meniru sistem serupa dengan menggunakan simbol peringkat untuk menunjukkan kelompok usia mana yang pantas menonton sebuah film.
b Selain itu, kriteria yang digunakan untuk menentukan peringkat sebuah film bisa berbeda di setiap negeri. Film yang dianggap tidak pantas untuk para remaja di satu negeri mungkin diberi peringkat yang lebih lunak di negeri lain.
c Orang Kristen hendaknya juga mencamkan bahwa film untuk anak-anak dan remaja mungkin berisi unsur-unsur ilmu sihir, spiritisme, atau bentuk demonisme lainnya.—1 Korintus 10:21.
[Kotak/Gambar di hlm. 12]
”KAMI MENGAMBIL KEPUTUSAN BERSAMA-SAMA”
”Semasa saya kecil, kami sekeluarga biasa pergi ke bioskop bersama-sama. Sekarang karena saya sudah lebih besar, saya boleh menonton sendiri tanpa orang tua saya. Akan tetapi, sebelum mereka mengizinkan saya pergi, orang tua saya ingin mengetahui judul film dan ceritanya. Jika mereka belum pernah mendengar tentang film itu, mereka akan membaca resensinya atau menonton cuplikannya di TV. Mereka juga mencari informasi mengenai film itu di Internet. Jika mereka merasa bahwa film itu tidak cocok, mereka menjelaskan alasannya. Mereka juga membiarkan saya menyatakan pandangan saya. Percakapannya terbuka, dan kami mengambil keputusan bersama-sama.”—Héloïse, 19 tahun, Prancis.
[Kotak/Gambar di hlm. 13]
BICARAKANLAH!
”Jika orang tua melarangkan sesuatu dan tidak memberikan apa pun yang sehat sebagai gantinya, anak-anak mungkin mencoba memuaskan keinginan mereka secara diam-diam. Jadi, sewaktu anak-anak menunjukkan bahwa mereka ingin menonton suatu jenis hiburan yang tidak sehat, beberapa orang tua tidak langsung melarangnya, juga tidak memberikan izin. Sebaliknya, mereka membiarkan waktu berlalu sampai suasananya tenang. Setelah beberapa hari, tanpa memperlihatkan kekesalan atas soal itu, mereka membahasnya dengan bertanya kepada si anak mengapa ia merasa bahwa jenis hiburan itu berterima. Dengan membicarakannya, anak-anak akhirnya sering sependapat dengan orang tua mereka dan bahkan berterima kasih. Kemudian, atas inisiatif orang tua, mereka memilih hiburan lain yang dapat dinikmati bersama-sama.”—Masaaki, pengawas keliling di Jepang.
[Kotak/Gambar di hlm. 14]
BENTUK REKREASI LAINNYA
◼ ”Kaum muda memiliki hasrat yang wajar untuk bermain dengan teman sebaya mereka, maka kami selalu mengatur agar putri kami menikmati pergaulan yang sehat di bawah pengawasan kami. Karena di sidang kami ada banyak anak muda teladan, kami menganjurkan putri kami untuk menjalin persahabatan dengan mereka.”—Elisa, Italia.
◼ ”Kami memiliki banyak andil dalam rekreasi anak-anak kami. Kami mengadakan kegiatan yang sehat untuk mereka, seperti jalan-jalan santai, pesta kebun, piknik, dan kumpul-kumpul bersama rekan Kristen dari segala usia. Dengan cara ini, anak-anak kami tidak menganggap rekreasi sebagai sesuatu yang hanya akan mereka nikmati dengan teman sebaya mereka.”—John, Inggris.
◼ ”Kami mendapati bahwa pergaulan di kalangan rekan Kristen memang memuaskan. Anak-anak saya juga suka bermain sepak bola, maka secara berkala, kami mengatur untuk bermain sepak bola bersama yang lain.”—Juan, Spanyol.
◼ ”Kami menganjurkan anak-anak untuk senang memainkan alat musik. Kami juga ikut melakukan banyak hobi bersama-sama, seperti bermain tenis, voli, bersepeda, membaca, dan berkumpul dengan saudara-saudari.”—Mark, Inggris.
◼ ”Kami secara teratur bermain boling bersama-sama sebagai keluarga dan dengan saudara-saudari. Selain itu, kami mencoba menjadwalkan sesuatu yang istimewa bersama-sama sekali sebulan. Kunci untuk menghindari problem ialah kewaspadaan di pihak orang tua.”—Danilo, Filipina.
◼ ”Menghadiri acara langsung sering lebih asyik daripada cuma duduk di kursi menonton film. Kami selalu tanggap apabila ada acara setempat seperti pameran seni, pameran mobil, atau acara musik. Jenis acara ini sering memungkinkan kami saling berkomunikasi selama acara. Kami juga berhati-hati agar tidak menyediakan terlalu banyak hiburan. Masalahnya bukan hanya soal waktu, tetapi terlalu banyak hiburan dapat membuat suatu peristiwa tidak lagi menarik dan dinanti-nantikan.”—Judith, Afrika Selatan.
◼ ”Tidak semua yang dilakukan anak-anak lain berterima untuk anak-anak saya, dan saya mencoba membantu mereka untuk memahaminya. Pada waktu yang sama, saya dan suami saya mencoba memberi mereka hiburan yang sehat. Kami berupaya agar mereka tidak sampai berkata, ’Kita tidak pernah ke mana-mana.’ ’Kita tidak pernah melakukan apa-apa.’ Sebagai keluarga, kami pergi ke taman dan mengatur acara ramah tamah di rumah dengan orang-orang dari sidang kami.”d—Maria, Brasil.
[Catatan Kaki]
d Untuk informasi lebih lanjut tentang acara ramah tamah, lihat rekan jurnal ini, Menara Pengawal, 15 Agustus 1992, halaman 15-20.
[Keterangan]
James Hall Museum of Transport, Johannesburg, South Africa
[Gambar di hlm. 11]
Bacalah resensi film SEBELUM Anda memutuskan
[Gambar di hlm. 13]
Orang tua, ajarlah anak kalian agar selektif
-