PERPUSTAKAAN ONLINE Menara Pengawal
PERPUSTAKAAN ONLINE
Menara Pengawal
Indonesia
  • ALKITAB
  • PUBLIKASI
  • PERHIMPUNAN
  • Mengapa Gereja-Gereja Tetap Diam
    Sedarlah!—1995 | 8 Agustus
    • [Gambar di hlm. 31]

      Tidak seperti gereja-gereja, Saksi-Saksi Yehuwa buka suara menentang Naziisme

  • Mengapa Gereja-Gereja Tetap Diam
    Sedarlah!—1995 | 8 Agustus
    • Kembali pada tahun 1939, tahun mulainya Perang Dunia II, Consolation mengutip T. Bruppacher, seorang rohaniwan Protestan, yang mengatakan, ”Seraya orang-orang yang mengaku diri Kristen telah gagal dalam ujian yang menentukan, saksi-saksi yang tidak dikenal dari Yehuwa, sebagai martir-martir Kristen, memelihara pertahanan yang tak tergoyahkan terhadap pemaksaan atas hati nurani dan penyembahan berhala. Sejarawan di masa depan kelak harus mengakui bahwa bukan gereja-gereja yang besar, tetapi orang-orang yang difitnah dan dicemooh ini, yang adalah orang-orang yang pertama kali dengan berani menentang kemarahan si iblis Nazi . . . Mereka menolak memuja Hitler dan Swastikanya.”

      Demikian pula, Martin Niemoeller, pemimpin gereja Protestan yang ia sendiri pernah mendekam di kamp konsentrasi Nazi, belakangan mengakui, ’Dapat dengan benar dikenang bahwa gereja-gereja Kristen, selama berabad-abad, telah selalu setuju untuk memberkati peperangan, pasukan, dan senjata dan bahwa mereka berdoa dengan cara yang sangat tidak bersifat Kristen untuk memusnahkan musuh mereka.’ Ia mengakui, ”Semua ini adalah kesalahan kita dan kesalahan bapak-bapak kita, tetapi jelas bukan kesalahan Allah.”

      Niemoeller kemudian menambahkan, ”Dan bayangkan betapa kita orang-orang Kristen dewasa ini merasa malu terhadap apa yang disebut sekte dari sarjana-sarjana Alkitab yang serius [Saksi-Saksi Yehuwa], dalam jumlah ratusan dan ribuan telah dijebloskan ke dalam kamp-kamp konsentrasi dan mati karena mereka menolak berperang dan membunuh sesama manusia.”

      Susannah Heschel, profesor dari pelajaran Yudaisme, menemukan dokumen-dokumen gereja yang membuktikan bahwa para pendeta Lutheran bersedia, bahkan ingin sekali mendukung Hitler. Ia mengatakan mereka mengemis untuk mendapatkan hak istimewa memajang swastika di dalam gereja-gereja mereka. Menurut penelitiannya, mayoritas dari para pemimpin agama bukanlah kolaborator yang merasa terpaksa, melainkan para pendukung yang bergairah dari Hitler dan cita-citanya berkenaan bangsa Arya.

      Sebagai seorang penceramah, Heschel sering kali ditanya oleh anggota-anggota gereja, ”Apa yang seharusnya dapat kita lakukan?”

      ”Anda seharusnya dapat seperti Saksi-Saksi Yehuwa,” jawabnya.

  • Mengapa Gereja-Gereja Tetap Diam
    Sedarlah!—1995 | 8 Agustus
    • Akan tetapi, ada satu suara yang secara konsisten buka suara. Meskipun media massa, pada umumnya, mengabaikan gereja-gereja sebagai pemeran utama dalam drama Nazi, Saksi-Saksi Yehuwa merasa terdorong untuk menyingkapkan pengkhianatan dan kemunafikan dari pemimpin agama, dengan perincian tentang persekongkolan yang mereka lakukan di balik layar. Di halaman-halaman sebelumnya dari majalah ini dan juga publikasi-publikasi lain sepanjang tahun 1930-an dan 1940-an, Saksi-Saksi Yehuwa menerbitkan dakwaan-dakwaan yang keras tentang organisasi-organisasi agama yang menjadi kaki tangan Naziisme.

      Mengenali para Pengikut Kristus yang Sejati

      Saksi-Saksi Yehuwa sama sekali berbeda dari agama-agama dunia. Karena tidak menjadi bagian dari dunia, mereka tidak ambil bagian dalam peperangan antar bangsa. Karena menaati instruksi Allah, ’mereka telah menempa pedang-pedangnya menjadi mata bajak’. (Yesaya 2:4) Ya, karena menaati instruksi Kristus, mereka saling mengasihi. (Yohanes 13:35) Hal ini berarti bahwa mereka tidak pernah pergi berperang dan dengan sengaja saling melukai.

      Sehubungan mengenali para penyembah sejati dari Allah, Alkitab dengan sangat jelas mengatakan, ”Anak-anak Allah dan anak-anak Iblis jelas dari fakta ini: Setiap orang yang tidak terus melakukan keadilbenaran tidak berasal dari Allah, demikian juga orang yang tidak mengasihi saudaranya. Karena inilah pesan yang telah kamu dengar sejak semula, bahwa kita sepatutnya memiliki kasih terhadap satu sama lain; tidak seperti Kain, yang berasal dari si fasik dan membantai saudaranya.”​—1 Yoh 3:10-12.

      Ya, sejarah memperlihatkan bahwa Saksi-Saksi Yehuwa selalu memperlihatkan kasih kepada sesama mereka bahkan ketika menghadapi tekanan yang hebat. Sewaktu Hitler berperang di seluruh Eropa, Saksi-Saksi berdiri teguh ketika menghadapi upaya-upaya Nazi yang brutal untuk membuat mereka ikut serta dalam pesta pembunuhan. Profesor Christine King dengan baik meringkaskan masalahnya, ”Saksi-Saksi Yehuwa memang buka suara. Mereka buka suara sejak permulaan. Mereka buka suara secara terpadu. Dan mereka buka suara dengan keberanian yang luar biasa, yang dapat memberikan pelajaran bagi kita semua.”

Publikasi Menara Pengawal Bahasa Indonesia (1971-2025)
Log Out
Log In
  • Indonesia
  • Bagikan
  • Pengaturan
  • Copyright © 2025 Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania
  • Syarat Penggunaan
  • Kebijakan Privasi
  • Pengaturan Privasi
  • JW.ORG
  • Log In
Bagikan