-
Dunia Baru—Apakah Benar-Benar Akan Datang?Sedarlah!—1993 | 8 Oktober
-
-
Dunia Baru—Apakah Benar-Benar Akan Datang?
PADA tanggal 13 April 1991, George Bush, yang ketika itu menjabat sebagai presiden Amerika Serikat, menyampaikan pidato di Montgomery, Alabama, berjudul, ”Kemungkinan Terwujudnya Suatu Tatanan Dunia Baru”. Pada kata penutupnya, ia menyatakan, ”Dunia baru yang ada di hadapan kita . . . , adalah suatu dunia penemuan yang indah.”
Dua bulan kemudian, The Bulletin of the Atomic Scientists mengatakan bahwa dengan tumbangnya rezim Komunis di Eropa Timur, ”suatu tatanan dunia baru yang didasarkan atas perdamaian, keadilan, dan demokrasi kelihatannya sudah di ambang pintu.”
Pembicaraan semacam itu mengenai suatu dunia baru telah berlanjut hingga tahun 1993. The New York Times pada bulan Januari memberi laporan berkenaan suatu traktat yang berisi ikrar pengurangan senjata nuklir. Surat kabar itu mengatakan, ”Hal itu menempatkan Amerika dan Rusia ’di ambang suatu dunia baru yang penuh harapan’, menurut kata-kata yang dipilih dengan baik oleh Presiden Bush.”
Dua minggu sesudahnya, presiden AS yang baru, Bill Clinton, pada pidato pelantikannya memproklamasikan, ”Kini, seraya tatanan yang lama berlalu, dunia baru lebih merdeka namun kurang stabil.” Ia bahkan menyatakan, ”Dunia baru ini telah memperkaya kehidupan jutaan orang Amerika.”
Jadi, sudah ada banyak pembicaraan mengenai suatu dunia baru—suatu dunia yang berbeda dan lebih baik. Menurut perhitungan, selama jangka waktu yang relatif singkat, George Bush berbicara sebanyak 42 kali dalam pernyataan di hadapan umum mengenai suatu ”Tatanan Dunia Baru”.
Namun, apakah pembicaraan demikian unik? Apakah pembicaraan itu pernah terdengar sebelumnya?
Tidak Ada yang Benar-Benar Baru
Pada bulan Mei 1919, tepat setelah Perang Dunia I, Dewan Federal Gereja-Gereja Kristus di Amerika mengadakan suatu pertemuan di Cleveland, Ohio, dan di sana ’kemungkinan suatu dunia yang baru dan yang lebih baik’ diumumkan. Salah seorang pembicara menegaskan, ”Itu akan merupakan suatu dunia baru yang di dalamnya prinsip persaingan akan tunduk kepada prinsip pergaulan dan kesetiakawanan. Itu akan merupakan suatu dunia baru yang di dalamnya prinsip persatuan sudah akan menggantikan prinsip perpecahan . . . Itu akan merupakan suatu dunia baru yang di dalamnya persaudaraan dan persahabatan akan menggantikan semua antagonisme, kecuali perang melawan kejahatan.”
Bagaimana gereja-gereja percaya bahwa dunia baru ini akan datang? Apakah melalui pemerintahan Kerajaan Allah sebagaimana dijanjikan dalam Alkitab? Tidak. Mereka mengharapkan suatu organisasi politik mendatangkan dunia baru itu. Seorang pemimpin gereja berkata, ”Apa yang kita bahas hari ini sebagai Liga Bangsa-Bangsa adalah suatu implikasi yang mutlak dibutuhkan dan tidak dapat dielakkan dari seluruh iman Kristen dan upaya kita di dunia ini.” Pemimpin-pemimpin gereja pada masa itu bahkan mempromosikan Liga Bangsa-Bangsa sebagai ”pernyataan politik dari Kerajaan Allah di bumi”.
Di lain pihak, seorang pemimpin yang berkuasa di Jerman, Adolf Hitler, menentang Liga Bangsa-Bangsa dan pada tahun 1930-an mendirikan Kekaisaran Jerman Ketiga. Ia menyatakan bahwa Kekaisaran itu akan bertahan selama seribu tahun dan akan mewujudkan apa yang menurut Alkitab hanya dapat dilakukan oleh Kerajaan Allah. ”Saya sedang memulainya dengan kaum muda,” kata Hitler. ”Bersama mereka, saya dapat membuat suatu dunia baru.”
Hitler mendirikan sebuah stadion raksasa di Nuremberg untuk mempertunjukkan kekuatan Nazi. Menarik sekali, 144 pilar raksasa didirikan di atas sebuah panggung yang panjangnya hampir 1.000 kaki (atau 300 meter). Mengapa 144 pilar? Alkitab berbicara mengenai 144.000 orang yang akan memerintah bersama ”Anak Domba” Yesus Kristus, dan bahwa pemerintahan mereka akan berlangsung selama seribu tahun. (Wahyu 14:1; 20:4, 6) Jelaslah, 144 pilar yang didirikan di stadion Nuremberg bukanlah suatu angka kebetulan, karena bahasa dan lambang Alkitab yang digunakan para pejabat Nazi didokumentasi dengan jelas.
Apa hasil upaya manusia untuk menggenapi apa yang Alkitab katakan akan dicapai hanya oleh Kerajaan Allah?
Kegagalan Upaya Manusia
Sejarah membuktikan dengan jelas bahwa Liga Bangsa-Bangsa gagal untuk mengantarkan suatu dunia baru yang penuh damai. Organisasi itu runtuh ketika bangsa-bangsa dilanda Perang Dunia II. Lebih jauh, setelah hanya 12 tahun, Kekaisaran Ketiga hancur berkeping-keping. Itu adalah kegagalan total, suatu aib bagi umat manusia.
Sepanjang sejarah, upaya manusia untuk menciptakan suatu dunia baru yang damai dalam segala hal terbukti tidak berhasil. ”Setiap peradaban yang pernah ada telah runtuh sama sekali,” demikian pengamatan mantan Sekretaris Negara AS, Henry Kissinger. ”Sejarah adalah suatu dongeng tentang upaya-upaya yang gagal, tentang aspirasi yang tidak terwujud.”
Lalu, bagaimana dengan tatanan dunia baru yang akhir-akhir ini digembar-gemborkan para pemimpin dunia? Ledakan kekerasan etnik telah membuat setiap gagasan tentang suatu dunia baru demikian menjadi olok-olok. Misalnya, pada tanggal 6 Maret yang lalu, kolumnis William Pfaff mengejek, ”Tatanan dunia baru telah tiba. Itu berfungsi baik dan sama sekali baru, menghalalkan invasi, agresi dan pembinasaan ras sebagai tingkah laku internasional yang dapat diterima.”
Pergolakan yang parah dan kekejaman yang telah terjadi sejak tumbangnya Komunisme begitu mengerikan. Bahkan George Bush, tidak lama sebelum meletakkan jabatannya pada bulan Januari, mengakui, ”Pada waktunya, dunia baru bisa jadi sama berbahayanya dengan dunia yang lama.”
Alasan untuk Berharap?
Apakah ini berarti bahwa situasinya tidak memberikan harapan? Apakah suatu dunia baru hanyalah suatu impian yang muluk? Jelaslah, umat manusia tidak mampu menciptakan suatu dunia baru. Namun bagaimana dengan janji sang Pencipta untuk melakukan hal itu? ”Sesuai dengan janjiNya [Allah], kita menantikan langit yang baru dan bumi yang baru,” kata Alkitab.—2 Petrus 3:13.
Langit baru yang Allah janjikan adalah suatu pemerintahan baru atas bumi. Pemerintahan baru ini adalah Kerajaan Allah, pemerintahan surgawi-Nya yang Yesus ajarkan untuk didoakan umat manusia. (Matius 6:9, 10) Pemerintahan surgawi itu akan terdiri dari Yesus Kristus dan 144.000 rekan penguasa, dan bumi baru adalah masyarakat baru dari umat manusia. Ya, mereka akan hidup dalam suatu dunia baru yang gilang-gemilang, yang dengan loyal mendukung pemerintahan Allah.
Pemerintahan Kerajaan Allah akan memerintah atas dunia baru yang dijanjikan. Jadi, dunia baru ini bukanlah buatan manusia. ”Kerajaan Allah tidak pernah mengartikan suatu tindakan yang diambil manusia atau suatu keadaan yang mereka rancang,” demikian penjelasan salah satu ensiklopedia Alkitab. ”Kerajaan itu adalah suatu tindakan ilahi, bukan prestasi manusia bahkan bukan prestasi umat Kristen yang berbakti.”—The Zondervan Pictorial Encyclopedia of the Bible.
Dunia baru di bawah Kerajaan Allah pasti datang. Anda dapat mengandalkan janji akan kedatangannya karena janji itu diucapkan oleh ”Allah yang tidak berdusta”. (Titus 1:2) Silakan mempertimbangkan dunia macam apa dunia baru Allah kelak.
[Keterangan Gambar di hlm. 3]
Foto NASA
-
-
Dunia Macam Apa yang Anda Inginkan?Sedarlah!—1993 | 8 Oktober
-
-
Dunia Macam Apa yang Anda Inginkan?
SEANDAINYA Anda memiliki kekuasaan, inginkah Anda menciptakan suatu dunia baru, suatu dunia yang bebas dari segala problem yang menimpa umat manusia dewasa ini? Jika Anda ingin, bukankah masuk akal untuk berharap bahwa Pencipta kita yang pengasih, Allah Yehuwa, yang memang memiliki kuasa, akan menciptakan suatu dunia baru yang adil-benar?
Alkitab mengatakan, ”[Yehuwa] itu baik kepada semua orang, dan penuh rahmat terhadap segala yang dijadikanNya. Engkau yang membuka tanganMu dan yang berkenan mengenyangkan [”memuaskan keinginan”, NW] segala yang hidup.” (Mazmur 145:9, 16) Apa saja keinginan Anda? Dunia macam apa yang Anda dambakan?
Dalam buku mereka A Sane and Happy Life: A Family Guide, Abraham dan Rose Franzblau menulis, ”Seandainya kita membuat angket untuk menentukan pendapat populasi dunia dan bertanya kepada umat manusia tentang dunia macam apa yang kita semua ingin diami, kemungkinan besar kita semua akan setuju dengan syarat minimum tertentu.”
Mari kita memeriksa syarat-syarat yang dicantumkan oleh kedua doktor ini dan melihat apakah syarat ini sama dengan apa yang Anda inginkan. Seraya kita melakukannya, kita juga akan melihat apakah Pencipta kita yang pengasih telah berjanji untuk menyediakan hal-hal ini juga.
Syarat Pertama
Kedua doktor itu mencatat di tempat pertama ”suatu dunia tanpa perang”. Setelah menderita akibat sejumlah perang yang mengerikan, banyak orang mendambakan suatu dunia yang di dalamnya manusia tidak akan pernah lagi berperang atau membunuh satu sama lain. Harapan mereka dinyatakan dalam sebuah tulisan yang diukirkan pada dinding Plaza Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York City, yang berbunyi, MEREKA AKAN MENEMPA PEDANG-PEDANGNYA MENJADI MATA BAJAK DAN TOMBAK-TOMBAKNYA MENJADI PISAU PEMANGKAS; BANGSA TIDAK AKAN LAGI MENGANGKAT PEDANG TERHADAP BANGSA. MEREKA TIDAK AKAN LAGI BELAJAR PERANG.
Tahukah Anda bahwa kata-kata tersebut merupakan bagian dari janji yang diucapkan Allah Yehuwa? Kata-kata itu dicatat dalam Kitab Suci di Yesaya pasal 2, ayat 4. Bila Anda juga membaca Mazmur 46:9, 10, Anda akan melihat bahwa Allah bermaksud menghancurkan semua senjata dan ”menghentikan peperangan sampai ke ujung bumi”. Di dalam dunia yang damai dan tanpa perang yang Allah jadikan, nubuat Alkitab yang menggembirakan ini akan digenapi, ”Mereka masing-masing akan duduk di bawah pohon anggurnya dan di bawah pohon aranya dengan tidak ada yang mengejutkan.”—Mikha 4:4.
Tidakkah Anda akan mencantumkan ”suatu dunia tanpa perang” sebagai syarat dasar bagi dunia yang Anda inginkan? Nah, pikirkan, Pencipta Agung kita telah menjanjikannya!
Dunia yang Berkelimpahan
Apa syarat kedua yang akan Anda ajukan? Apakah sama dengan syarat berikut ini, ”suatu dunia tanpa kelaparan, yang untuk selama-lamanya kelaparan dan kekurangan akan dilenyapkan dari atasnya”? Tidakkah menakjubkan seandainya tidak pernah ada lagi anak yang kelaparan? Pastilah, Anda ingin hidup di suatu dunia yang berkelimpahan. Tetapi siapa yang dapat menjamin hal ini?
Pertimbangkan apa yang dijanjikan Allah, ”Bumi itu sendiri pasti akan memberikan hasilnya.” ”Biarlah tanaman gandum berlimpah-limpah di negeri.” (Mazmur 67:7, NW; 72:16) Ya, di dunia baru Allah, makanan yang baik akan berlimpah. Alkitab meyakinkan kita bahwa Yehuwa ”akan menyediakan . . . bagi segala bangsa-bangsa suatu perjamuan dengan masakan yang bergemuk, suatu perjamuan dengan anggur yang tua benar, masakan yang bergemuk dan bersumsum”.—Yesaya 25:6.
Meskipun manusia tidak sanggup menyediakan suatu dunia tanpa kelaparan, hal itu tidaklah di luar jangkauan kuasa Allah untuk mewujudkannya. Putra-Nya, Yesus Kristus, mempertunjukkan bahwa menyediakan makanan bagi semua orang bukanlah masalah di bawah Kerajaan Allah. Semasa ia di bumi, Yesus memberi makan ribuan orang dengan melipatgandakan beberapa potong roti dan beberapa ikan secara mukjizat.—Matius 14:14-21; 15:32-38.
Dunia Tanpa Penyakit
Anda tidak akan mendapati seorang pun sakit di dunia yang kita semua dambakan. Maka, syarat yang ketiga tidaklah mengejutkan. ”Suatu dunia tanpa penyakit,” tulis kedua doktor tersebut, ”yaitu suatu dunia yang di dalamnya kita semua akan memiliki kesempatan untuk dibesarkan dengan sehat dan menjalani hari-hari yang bebas dari penyakit yang dapat dicegah dan dapat diobati.”
Pikirkan betapa leganya seandainya tidak seorang pun pernah terkena flu atau penyakit lainnya! Umat manusia tidak dapat menghapus penyakit, tetapi Allah Yehuwa dapat. Dan Ia berjanji bahwa di dalam dunia baru-Nya, ”tidak seorangpun yang tinggal di situ akan berkata: ’Aku sakit.’” Sebaliknya, ”pada waktu itu mata orang-orang buta akan dicelikkan, dan telinga orang-orang tuli akan dibuka. Pada waktu itu orang lumpuh akan melompat seperti rusa, dan mulut orang bisu akan bersorak-sorai”. (Yesaya 33:24; 35:5, 6) Ya, Allah akan ”menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita”.—Wahyu 21:4.
Sewaktu Yesus Kristus berada di bumi, ia mempertunjukkan apa yang dapat kita harapkan dalam skala besar di dunia baru Allah. Ia memulihkan penglihatan orang buta, membukakan telinga orang tuli, menjadikan orang bisu bicara, membuat orang timpang berjalan, dan bahkan menghidupkan kembali orang mati.—Matius 15:30, 31; Lukas 7:21, 22.
Pekerjaan yang Memuaskan dan Keadilan bagi Semua Orang
Tidak diragukan, pekerjaan yang memuaskan dan keadilan bagi semua orang akan ada di dunia yang Anda dan hampir semua orang lain inginkan. Jadi, kedua doktor tersebut menulis, ”Keempat, suatu dunia yang menyediakan pekerjaan bagi orang-orang yang ingin menghidupi diri mereka sendiri dan keluarga mereka.” Lalu mereka menambahkan, ”Kelima, suatu dunia yang di dalamnya setiap orang akan menikmati kemerdekaan di bawah hukum, dengan keadilan untuk semua orang.”
Pemerintahan manusia belum pernah berhasil memenuhi syarat-syarat ini untuk kehidupan yang bahagia. Tetapi dunia baru Allah dapat. Alkitab berjanji berkenaan pekerjaan yang bermanfaat yang akan dilakukan orang-orang pada waktu itu, ”Mereka akan mendirikan rumah-rumah dan mendiaminya juga; mereka akan menanami kebun-kebun anggur dan memakan buahnya juga. . . . Orang-orang pilihanKu akan menikmati pekerjaan tangan mereka. Mereka tidak akan bersusah-susah dengan percuma.”—Yesaya 65:21-23.
Bagaimana dengan kemerdekaan dan keadilan bagi semua orang? Tidak soal seberapa tulus para penguasa manusia telah mencoba, mereka gagal menyediakan ini bagi setiap orang. Ketidakadilan dan penindasan terus merajalela di seluas dunia. Maka, umat manusia tidak pernah dapat memuaskan keinginan ini. Tetapi, Allah Yang Mahakuasa dapat. Penguasa yang dilantik oleh-Nya adalah Yesus Kristus yang telah dibangkitkan, dan mengenai dia Yehuwa berkata, ”Orang pilihanKu, yang kepadanya Aku berkenan. . . . Ia menyatakan hukum [”keadilan”, NW] kepada bangsa-bangsa.”—Yesaya 42:1; Matius 12:18.
Ya, Alkitab berjanji bahwa di bawah Kerajaan Allah, ”makhluk itu sendiri juga akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan dan masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah”. (Roma 8:21) Sungguh suatu dunia baru yang bahagia kelak manakala kemerdekaan dan keadilan tersedia bagi semua!
Kesempatan dan Waktu Luang
Pastilah, dalam dunia baru yang Anda inginkan, semua warga negara akan menikmati kesempatan yang sama tidak soal ras atau kebangsaan. Oleh karena itu, tidak mengherankan syarat minimum keenam yang dicantumkan para doktor tersebut adalah, ”Suatu dunia yang di dalamnya setiap manusia akan mendapat kesempatan untuk mengembangkan sepenuhnya kesanggupan dan bakatnya, dan mendapat imbalan atas upaya-upayanya, tanpa prasangka.”
Umat manusia belum pernah dapat membangun suatu dunia yang di dalamnya semua orang menikmati perlakuan yang adil. Prasangka dan bahkan penindasan atas kaum minoritas yang tidak populer tak kunjung reda. Namun, Raja dari dunia baru Allah tersebut, Yesus Kristus, akan meniru teladan Yehuwa, Bapanya, yang ”tidak memandang bulu ataupun menerima suap”. (Ulangan 10:17; Roma 2:11) Apa yang akan membuat dunia baru yang akan datang begitu menakjubkan adalah bahwa orang-orang tidak hanya akan diajar untuk meniru Allah Yehuwa yang tidak berat sebelah tetapi mereka akan mempraktekkannya.—Yesaya 54:13.
Sering kali, kehidupan orang-orang telah dibaktikan kepada kerja keras yang tak habis-habisnya dengan sedikit atau tanpa istirahat. Maka, Anda pasti akan setuju dengan syarat minimum berikutnya, yaitu, ”Ketujuh, suatu dunia yang di dalamnya semua orang akan memiliki waktu luang yang cukup untuk menikmati perkara-perkara yang mereka anggap baik dalam kehidupan.”
Mengetahui kebutuhan manusia akan waktu-waktu istirahat dan bersantai, Allah Yehuwa dalam Hukum-Nya di zaman dahulu menyediakan satu hari istirahat dalam seminggu. (Keluaran 20:8-11) Oleh karena itu, kita dapat yakin bahwa di dalam dunia baru-Nya, Allah akan memastikan bahwa kebutuhan kita akan suasana yang santai dan bentuk-bentuk rekreasi yang sehat akan dipenuhi.
Macam Penduduknya
Hal penting terakhir yang dicantumkan kedua doktor tersebut menggambarkan sifat-sifat yang dimiliki orang-orang yang akan mendiami ’dunia yang kita semua ingin hidup di dalamnya’. Perhatikan apakah Anda setuju dengan sifat-sifat penting yang mereka cantumkan. ”Kedelapan, suatu dunia yang di dalamnya nilai tertinggi akan ditempatkan pada sifat-sifat yang membedakan manusia dari makhluk hidup lain yang lebih rendah, seperti kecerdasan dan kreativitas, kehormatan dan integritas, kasih dan loyalitas, harga diri dan sifat tidak mementingkan diri, serta kepedulian terhadap sesamanya.”
Tidakkah Anda akan senang hidup di dunia yang di dalamnya semua orang memperlihatkan sifat-sifat moral yaitu integritas, kasih, loyalitas, sifat tidak mementingkan diri, dan kepedulian terhadap sesama manusia? Pasti, dunia seperti inilah yang Anda inginkan! Tidak ada penguasa manusia yang akan pernah dapat menyediakan ini. Hanya Allah Yehuwa yang dapat. Dan Ia akan melakukan itu karena dunia baru-Nya bukanlah impian yang tidak realistis dan terlalu muluk.—Mazmur 85:11, 12.
Kapan Itu Akan Datang?
Sebagaimana dinyatakan dalam artikel sebelumnya, seorang teman dekat Yesus Kristus menulis, ”Sesuai dengan janji [Allah], kita menantikan langit yang baru dan bumi yang baru, di mana terdapat kebenaran.” (2 Petrus 3:13) Saat penggenapan janji ini, sebagaimana dikatakan Yesus, adalah ”pada waktu penciptaan kembali, apabila Anak Manusia bersemayam di takhta kemuliaanNya”.—Matius 19:28.
Allah semula memerintahkan Adam dan Hawa, pasangan manusia pertama, untuk memperluas taman Firdaus tempat Ia menaruh mereka. Ia ingin agar mereka melahirkan anak-anak dan bersama mereka membuat seluruh bumi menjadi suatu taman Eden yang indah. (Kejadian 1:26-28; 2:7-9, 15) Meskipun Adam dan Hawa gagal melaksanakan maksud-tujuan ini, akan ada suatu pemulihan Firdaus di bumi pada waktu penciptaan kembali, dengan Kristus memerintah dalam Kerajaan. Akhirnya, keadaan seperti taman Eden akan diluaskan ke seluruh bumi. Dengan demikian, Pencipta kita yang pengasih akan memenuhi maksud-tujuan-Nya yang semula untuk membuat suatu dunia yang damai dan adil-benar. Tetapi, kapan itu akan datang?
Apakah Anda berpikir seperti banyak orang yang berkata, ’Oh, suatu saat itu akan datang tetapi bukan pada masa hidup kita.’ Akan tetapi, bagaimana Anda mengetahuinya? Mungkinkah zaman kita yang dipenuhi ketegangan dunia yang tidak pernah ada sebelumnya ini menjadi tanda bahwa dunia baru Allah sudah di ambang pintu? Bagaimana kita dapat mengetahuinya?
[Gambar di hlm. 7]
Di dunia baru, akan ada perdamaian, kesehatan yang sempurna, dan kemakmuran
[Keterangan]
Anak harimau: Atas kebaikan Taman Ular dan Binatang Hartebeespoortdam
[Gambar di hlm. 8]
Di dunia baru, orang-orang akan menikmati pekerjaan yang produktif
[Gambar di hlm. 9]
Di dunia baru, akan tersedia waktu untuk kegiatan-kegiatan yang menyenangkan
-
-
Kapan Dunia Baru Akan DatangSedarlah!—1993 | 8 Oktober
-
-
Kapan Dunia Baru Akan Datang
DUNIA baru Allah akan datang sewaktu dunia yang sekarang ini berlalu. Namun, Anda mungkin bertanya, ’Dapatkah kita benar-benar percaya bahwa dunia ini akan berakhir?’ Nah, pertimbangkan, pernahkah suatu dunia berakhir sebelumnya?
Ya, menurut bukti yang meyakinkan, suatu dunia pernah berakhir. ”Bumi yang dahulu [pada zaman Nuh] telah binasa, dimusnahkan oleh air bah,” kata Alkitab. Allah ”tidak menyayangkan dunia purba, tetapi hanya menyelamatkan Nuh, pemberita kebenaran itu, dengan tujuh orang lain, ketika Ia mendatangkan air bah atas dunia orang-orang yang fasik”.—2 Petrus 2:5; 3:6.
Perhatikan bahwa itu adalah ”dunia orang-orang yang fasik”, atau sistem perkara-perkara yang jahat, yang binasa. Yang berakhir bukanlah planet Bumi, langit yang berbintang, ataupun keluarga manusia. Seraya orang-orang yang selamat dari Air Bah bertambah jumlahnya, suatu dunia lain (dunia kita sekarang) terbentuk. Apa yang akan terjadi dengannya?
Setelah mengatakan bahwa dunia pada zaman Nuh mengalami kebinasaan, Alkitab melanjutkan, ”Oleh firman itu juga langit dan bumi yang sekarang terpelihara dari api.” (2 Petrus 3:7) Api melambangkan pembinasaan dunia. Sesungguhnya, ”dunia ini [dunia yang ada dewasa ini] sedang lenyap”. (1 Yohanes 2:17) Tetapi kapan?
Rasul-rasul Yesus ingin tahu, maka mereka bertanya, ”Katakanlah kepada kami, bilamanakah itu akan terjadi dan apakah tanda kedatanganMu dan tanda kesudahan dunia?” (Matius 24:3) Sewaktu menjawab, Yesus memberi sebuah tanda yang akan memungkinkan orang-orang yang hidup pada waktu tanda itu digenapi mengetahui bahwa suatu dunia akan segera berakhir; suatu dunia baru akan menggantikannya. Apa gerangan tanda tersebut?
Tanda Itu
Tanda itu mencakup banyak bagian, ya, banyak peristiwa dinubuatkan. Agar tanda tersebut tergenap, semua peristiwa ini harus terjadi dengan cara yang penting khususnya pada waktu yang bersamaan, selama satu generasi. (Matius 24:34) Apa peristiwa-peristiwa ini?
Beberapa yang disebutkan oleh Yesus adalah, ”Bangsa akan bangkit melawan bangsa dan kerajaan melawan kerajaan, dan akan terjadi gempa bumi yang dahsyat dan di berbagai tempat akan ada penyakit sampar dan kelaparan.” ”Pada waktu itu kamu akan diserahkan supaya disiksa, dan kamu akan dibunuh dan akan dibenci semua bangsa oleh karena namaKu. . . . Karena makin bertambahnya kedurhakaan, maka kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin.”—Lukas 21:10, 11; Matius 24:7-9, 12.
Rasul Paulus menyebut keadaan lain yang akan menandai ”hari-hari terakhir” dari dunia ini. Ia menulis, ”Pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar. Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang . . . berontak kepada orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama, tidak tahu mengasihi, . . . tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah. Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya.”—2 Timotius 3:1-5.
Tentunya, Anda pernah melihat atau mendengar tentang semua perkara ini—konflik internasional yang melebihi peperangan-peperangan sebelumnya, gempa bumi besar, meluasnya penyakit sampar dan kekurangan makanan, kebencian dan penganiayaan atas para pengikut Kristus, bertambahnya kefasikan, dan masa-masa kritis yang tak terbandingkan besarnya. Selain hal-hal ini, Alkitab menubuatkan bahwa Allah akan ”membinasakan barangsiapa yang membinasakan bumi”. (Wahyu 11:18) Dan bahkan sekarang, manusia sedang membinasakan bumi!
Pada bulan November tahun lalu, surat-surat kabar memuat pokok berita sebagai berikut, ”Para Ilmuwan Terkemuka Memperingatkan mengenai Kebinasaan Bumi”. Dr. Henry Kendall, penerima Nobel dan ketua Persatuan Ilmuwan yang Prihatin, berkata, ”Peringatan ini tidak dilebih-lebihkan, dan bukan untuk menakut-nakuti.” Sebuah artikel surat kabar melaporkan, ”Suatu daftar dari 1.575 ilmuwan penyusun konsep peringatan itu tampaknya adalah orang-orang penting dalam masyarakat ilmiah internasional.” Peringatan mereka tentang kebinasaan total bumi kita tidak boleh diabaikan!
Tidak ada keraguan lagi akan hal itu. Tanda itu dalam semua bagiannya sedang digenapi, termasuk ramalan utama dari Yesus, ”Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya,” ya, kesudahan dunia ini. (Matius 24:14) Yesus berkata bahwa kesudahan itu akan tiba apabila kabar baik tentang Kerajaan Allah telah diberitakan ke seluas dunia. Dan pemberitaan itu sekarang sedang dilakukan oleh Saksi-Saksi Yehuwa dalam skala seperti yang dinubuatkan!
Apa yang Perlu Anda Lakukan
Oleh karena itu, semua bukti tersebut menunjuk kepada fakta bahwa dunia baru Allah sudah sangat dekat. Namun, jika Anda ingin selamat melampaui akhir dunia ini dan ingin menikmati kehidupan di dunia baru, Anda perlu melakukan sesuatu. Setelah mengatakan bahwa ”dunia ini sedang lenyap”, Alkitab memperlihatkan apa yang dituntut dari Anda, dengan menjelaskan, ”Orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya.”—1 Yohanes 2:17.
Jadi, Anda perlu mempelajari kehendak Allah dan melakukannya. Saksi-Saksi Yehuwa akan senang membantu Anda melakukan hal ini. Dengan demikian, Anda dapat selamat melampaui akhir dunia ini dan menikmati selama-lamanya berkat-berkat dari dunia baru Allah.
[Keterangan Gambar di hlm. 10]
Foto NASA
[Gambar di hlm. 10]
Suatu masa kesusahan besar segera mendahului datangnya dunia baru
-