-
Bagaimana Kita Bisa Menjadi Sahabat Allah?Apa yang Bisa Kita Pelajari dari Alkitab?
-
-
TAATI PERINTAH YEHUWA
17. Mengapa kita menaati Yehuwa?
17 Kalau kita menaati Yehuwa, kita membuktikan bahwa Setan adalah pembohong. Bagaimana agar kita bisa taat? Alkitab berkata, ”Kasihilah Yehuwa Allah kalian dengan sepenuh hati, sepenuh jiwa, dan seluruh kekuatan kalian.” (Ulangan 6:5) Kita menaati Yehuwa karena kita menyayangi-Nya. Semakin kita sayang kepada Yehuwa, kita akan semakin ingin melakukan apa pun yang Dia minta. Rasul Yohanes menulis, ”Mengasihi Allah berarti menjalankan perintah-Nya. Meski begitu, perintah-perintah-Nya tidak membebani.”—1 Yohanes 5:3.
18, 19. (a) Sebutkan beberapa hal yang Yehuwa benci. (b) Dari mana kita tahu bahwa apa yang Yehuwa minta itu masuk akal?
18 Apa saja yang Yehuwa benci? Beberapa contohnya ada di kotak ”Bencilah Apa yang Yehuwa Benci”. Awalnya, kita mungkin berpikir bahwa beberapa hal ini tidak terlalu buruk. Tapi, kalau kita membaca dan merenungkan ayat-ayat Alkitab yang ada di kotak itu, kita akan mengerti bahwa menaati hukum Yehuwa itu bermanfaat. Kita mungkin merasa bahwa kita perlu membuat beberapa perubahan dalam hidup kita. Kadang, ini tidak mudah. Tapi, kalau kita membuat perubahan itu, kita akan merasa damai dan bahagia karena sudah taat kepada Allah. (Yesaya 48:17, 18) Mengapa kita bisa yakin bahwa kita sanggup membuat perubahan itu?
19 Yehuwa tidak pernah meminta kita melakukan apa pun yang tidak sanggup kita lakukan. (Ulangan 30:11-14) Yehuwa adalah Sahabat kita, dan Dia lebih mengenal diri kita daripada kita sendiri. Dia tahu kekuatan dan kelemahan kita. (Mazmur 103:14) Rasul Paulus berkata, ”Allah itu setia, dan Dia tidak akan membiarkan kalian mendapat godaan yang terlalu berat bagi kalian. Saat ada godaan, Dia akan memberikan jalan keluar supaya kalian bisa bertekun menghadapinya.” (1 Korintus 10:13) Yakinlah bahwa Yehuwa akan selalu memberi kita kekuatan untuk melakukan yang benar. Dia akan memberi kita ’kesanggupan yang begitu luar biasa’ untuk menghadapi keadaan yang sulit. (2 Korintus 4:7) Setelah Paulus merasakan sendiri bantuan Yehuwa saat menghadapi kesulitan, dia berkata, ”Saya sanggup menghadapi segala sesuatu dengan kekuatan yang saya dapatkan dari Allah.”—Filipi 4:13.
-