-
Mempunyai Anak—Suatu Tanggung-Jawab dan BerkatMembina Keluarga Bahagia
-
-
Pasal 7
Mempunyai Anak—Suatu Tanggung-Jawab dan Berkat
1-4. (a) Ceritakanlah hal-hal yang menakjubkan yang terjadi selama wanita mengandung. (b) Bagaimana pengetahuan mengenai hal-hal ini membantu anda untuk lebih memahami Mazmur 127:3?
KEMUNGKINAN lahirnya anak-anak dari perkawinan cukup mendebarkan hati, tetapi membuat kita berpikir serius. Memang kelahiran bayi sudah lazim terjadi tiap hari. Tetapi sesungguhnya tiap kelahiran didahului suatu rangkaian proses yang luar biasa rumit. Bila kita mulai mendapat sedikit gambaran apa yang sebenarnya terjadi, barulah kita mengerti mengapa penulis Mazmur yang terilham terdorong untuk mengatakan: ”Sesungguhnya, anak-anak lelaki adalah milik pusaka dari pada TUHAN [Yehuwa], dan buah kandungan adalah suatu upah.” (Mazmur 127:3) Cobalah bayangkan apa yang terjadi.
2 Sebuah sel sperma tubuh pria bergabung dengan sebuah sel telur dalam tubuh wanita. Kedua sel menjadi satu, kemudian mulai membelah menjadi dua. Yang dua menjadi empat, dari empat menjadi delapan, sehingga akhirnya sel yang satu itu dalam diri seorang dewasa berkembang menjadi 60.000.000.000.000 sel. Mula-mula semua sel itu sama, tetapi selanjutnya menjadi berbagai macam sel—sel tulang, sel otot, sel saraf, sel hati, sel mata, sel kulit, dan seterusnya.
3 Sebagian masalah dari proses perkembang-biakan yang selama ini tidak dimengerti kini sudah terungkap, tetapi masih banyak hal yang belum jelas. Bagaimana sel pertama itu dapat mulai membelah? Dan seraya jumlah sel bertambah, bagaimana tiba-tiba semua sel mulai berubah jenisnya? Bagaimana sampai berbagai jenis sel yang berbeda-beda itu dapat membentuk kelompoknya sendiri-sendiri, mengambil bentuk, ukuran dan fungsi tertentu, lalu menjadi hati, hidung dan jari kaki? Nampaknya perubahan sel terjadi pada saat-saat yang sudah ditentukan sebelumnya. Dari mana jadwal waktunya bisa begitu tepat? Satu hal lagi: janin bayi yang makin lama makin besar di dalam rahim sebenarnya merupakan tubuh tersendiri dengan susunan genetika yang berbeda dari ibunya. Biasanya tubuh wanita tidak menerima jaringan sel dari luar, seperti pencangkokan kulit atau bagian tubuh lainnya yang diambil dari orang lain. Mengapa kini tubuhnya mau menerima janin yang lain susunan genetikanya, bahkan terus menyalurkan makanan kepadanya selama lebih kurang 280 hari?
4 Sesungguhnya seluruh proses yang menakjubkan ini terjadi tepat menurut jadwal waktunya, karena Allah Yehuwa telah merancang programnya langsung pada sel pertama yang terbentuk dari sperma dan sel telur. Penulis Mazmur memperlihatkan ini dalam kata-katanya yang ditujukan kepada Sang Pencipta: ”Mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun dari padanya.”—Mazmur 139:16.
PERKEMBANGAN SAMPAI KEPADA KELAHIRAN
5-8. Sejak minggu keempat dari masa mengandung sampai saat lahirnya seorang bayi, hal-hal apa yang terjadi dalam kandungan?
5 Janin itu bertumbuh terus dengan cepat. Menjelang minggu keempat sudah mempunyai otak, jaringan saraf, sistem peredaran darah, lengkap dengan jantung yang memompa darah melalui pembuluh-pembuluh yang sudah siap berfungsi. Selama enam minggu pertama darah dihasilkan oleh kantong kuning telur; sesudah itu pekerjaan tersebut diambil alih oleh hati (liver), dan selanjutnya oleh sumsum tulang. Pada minggu kelima sudah ada kaki dan tangan, dan tiga minggu kemudian sudah keluar jari-jarinya. Menjelang minggu ketujuh sudah terbentuk bagian-bagian otot yang utama, juga mata, telinga, hidung dan mulut.
6 ”Tulang-tulangku tidak terlindung bagi-Mu, ketika aku dijadikan di tempat yang tersembunyi,” demikian penulis Mazmur itu meneruskan percakapannya dengan Allah Yehuwa. (Mazmur 139:15) Pada minggu kesembilan tulang-tulang yang lembut itu mulai menjadi keras membentuk kerangka tubuh, dan sejak saat itu status bayi itu bukan lagi janin atau embryo, tetapi sudah jadi fetus. ”Engkaulah yang membentuk buah pinggangku.” (Mazmur 139:13) Proses yang mengatur hal ini berdasarkan rencana ilahi terjadi dalam bulan keempat, sehingga darah mulai disaring melalui buah pinggang (ginjal).
7 Menjelang waktu ini bayi dalam kandungan mulai bergerak-gerak. Jari-jari kaki maupun tangannya bergerak-gerak apabila telapak tangan atau kaki terasa geli. Ia sudah mulai menggenggam sesuatu antara ibu jari dan jari-jari yang lain. Ia mulai mengisap jempol untuk melatih otot-ototnya yang kelak akan digunakan untuk menyusu. Kadang-kadang bayi mengalami kecegukan dan ibunya merasa bayinya melompat-lompat dalam kandungan. Menjelang bulan keenam banyak bagian tubuh sudah hampir lengkap. Lubang hidung sudah terbuka, alis mata sudah muncul. Matanya segera akan terbuka, dan telinga pun sudah mulai bekerja, sehingga bayi dalam kandungan dapat dikejutkan oleh suara-suara gaduh.
8 Setelah genap 40 minggu, mulailah saat untuk melahirkan. Otot-otot peranakan ibu bekerja mendorong bayi ke luar dari tubuh ibunya. Kadang-kadang karena tekanan yang dialami waktu keluar, kepala bayi berubah bentuknya. Tetapi untung tulang-tulang kepala masih belum rapat satu sama lain, maka sesudah lahir kepala bayi akan kembali ke bentuk semula. Sampai saat ini bayi mendapat segala-galanya dari ibunya: persediaan zat asam, bahan makanan, perlindungan, kehangatan dan juga pembuangan sisa-sisa kotoran. Sekarang bayi itu harus segera terpisah. Kalau tidak, ia akan mati.
9. Perubahan apa yang harus cepat terjadi, segera setelah bayi dikeluarkan dari rahim ibu?
9 Bayi harus mulai bernapas, agar darah mendapat persediaan zat asam melalui paru-paru. Tetapi untuk ini segera harus terjadi suatu perubahan drastis dalam tubuh bayi: jalan yang ditempuh untuk peredaran darah harus diganti! Ketika masih berbentuk janin dalam kandungan, terdapat sebuah lubang pada dinding yang memisahkan rongga kiri dan rongga kanan jantung. Dinding penyekat tersebut, menahan jalan darah bayi ke paru-paru. Kalaupun ada sedikit darah yang lolos ke paru-paru, kebanyakan hanya lewat melalui sebuah pembuluh besar di luar paru-paru. Ketika bayi masih dalam kandungan, hanya kira-kira 10 persen darahnya yang mengalir melalui paru-paru. Tetapi segera setelah lahir, seluruh darah harus lewat paru-paru, dan dalam sekejap mata! Dalam waktu hanya beberapa detik sesudah lahir pembuluh besar yang lewat di samping paru-paru dengan tiba-tiba menciut, sehingga semua darah yang biasanya lewat di situ langsung mengambil jalan lain melalui paru-paru. Pada waktu yang bersamaan lubang pada dinding penyekat jantung menutup sendiri, sehingga seluruh darah yang dipompa ke luar dari rongga kanan jantung mulai mengambil jalan melalui paru-paru untuk menerima persediaan zat asam (oksigen). Maka bayi mulai bernapas dan darahnya mulai menerima persediaan zat asam. Perubahan dramatis telah terjadi dan bayi itu selamat! Begitu indahnya hal ini disimpulkan oleh si penulis Mazmur: ”Engkau . . . menenun aku dalam kandungan ibuku. Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib.”—Mazmur 139:13, 14.
10. Mengingat perkembangan bayi yang demikian menakjubkan dalam kandungan, bagaimana semestinya sikap orang tua terhadap anak mereka?
10 Bukankah sepatutnya semua pasangan suami-isteri berterima kasih kepada Yehuwa atas pemberian ini? Yehuwa telah memberikan kepada mereka kesanggupan untuk menghasilkan manusia yang lain, yaitu seorang anak yang mengambil sesuatu dari masing-masing orang tuanya, tetapi hasilnya berbeda dengan mereka sendiri! Sungguh merupakan suatu ”warisan” atau ”milik pusaka dari Yehuwa”!
MENJAGA ”PUSAKA” TUHAN
11. Pertanyaan-pertanyaan apakah patut diajukan kepada diri sendiri oleh orang-orang yang ingin berkeluarga, dan mengapa?
11 Bukan saja alasan moral yang menyebabkan Allah Yehuwa melarang hubungan seks di luar perkawinan. Yehuwa juga memikirkan mengenai anak-anak yang akan dilahirkan. Anak memerlukan ayah dan ibu yang saling mencintai dan yang menaruh kasih sayang terhadap keturunan mereka. Anak yang baru lahir membutuhkan suasana hangat dan nyaman yang terdapat dalam sebuah rumah tangga. Ia membutuhkan ayah dan ibu yang menginginkan kehadirannya, dan menyediakan lingkungan di mana ia dapat bertumbuh dan memperkembangkan kepribadiannya. Suami-isteri yang merencanakan untuk mendapat anak patut bertanya kepada diri sendiri: Apakah kita memang menginginkan anak itu—bukan saja secara jasmani, tetapi juga secara emosi dan rohani? Apakah kita akan mendidik anak itu dengan sepatutnya, dengan memberikan teladan baik yang dapat ditirunya? Bersediakah kita menerima tanggung-jawab sebagai orang tua dan berkorban untuk itu? Sewaktu kita masih kecil mungkin kita berpikir bahwa orang tua terlalu mengekang kita. Tetapi setelah kita sendiri menjadi orang tua, barulah kita sadar betapa pendidikan anak itu merupakan tugas yang memakan banyak waktu. Akan tetapi tanggung-jawab sebagai orang tua itu disertai banyak keriangan.
12-14. Sewaktu seorang wanita mengandung, bagaimana ia dapat menjaga kesehatan anaknya dengan (a) apa yang dimakannya? (b) sikapnya terhadap minuman keras, merokok dan obat bius? (c) mengendalikan emosinya?
12 Sekarang keputusan telah diambil—entah atas persetujuan bersama atau karena faktor alamiah. Pendeknya, anda sebagai isteri, sudah hamil. Anda harus mulai mengurusi ”milik pusaka dari Yehuwa” ini. Ada makanan yang diwajibkan, ada yang merupakan pantangan atau harus dibatasi. Yang perlu adalah makanan yang banyak mengandung zat besia karena dalam kandungan, bayi itu mengumpulkan zat besi secukupnya yang diperlukannya sampai enam bulan sesudah lahir. Anda perlu lebih banyak minum susu (keju pun baik) sehingga memperoleh zat kapur yang diperlukan bayi untuk pertumbuhan tulang-tulangnya. Dan makanan yang mengandung karbohidrat (hidrat arang)b dalam jumlah yang seimbang akan menjaga agar berat badan anda jangan terlalu berlebihan. Memang, anda harus makan untuk dua orang, tetapi ingat, yang satu itu masih sangat kecil, bukan!
13 Mungkin ada hal yang perlu dan ada yang tidak perlu anda perhatikan, tergantung bagaimana cara hidup anda. Karena minuman keras biasanya fetus (jabang bayi) terkena pengaruh alkohol. Anda perlu berhati-hati, sebab terlalu banyak alkohol dapat mengakibatkan cacat mental dan jasmani pada bayi. Banyak bayi dilahirkan dalam keadaan mabuk, karena ibunya terlalu banyak minum minuman keras. Merokok menyebabkan darah fetus tersebut terkena pengaruh nikotin, bahkan mengakibatkan karbon monoksida menggantikan oksigen dalam darah. Seringkali kesehatan bayi sudah terganggu dan sulit disembuhkan lagi sebelum lahir. Wanita perokok lebih sering mengalami keguguran atau bayinya sudah mati waktu lahir. Ibu yang ketagihan obat bius seringkali membuat bayinya juga ketagihan obat bius tersebut. Sekalipun bukan obat bius, ada juga obat yang membahayakan, misalnya mengakibatkan bayi lahir cacat. Bahkan minum kopi berlebihan diduga juga menyebabkan cedera pada anak.
14 Demikian pula, karena tekanan batin kelenjar mengeluarkan lebih banyak hormon pada seorang ibu, dan membuat fetus terlalu aktip sehingga menyebabkan bayi yang baru lahir menjadi gelisah dan terlalu banyak bergerak. Memang, bayi itu ’terlindung dalam perut ibunya,’ tetapi jangan dikira ia tidak terpengaruh sama sekali oleh dunia sekelilingnya. Bayi itu dapat terpengaruh melalui ibunya. Ibunya adalah perantara satu-satunya dengan dunia luar. Maka sang ibu yang paling menentukan apakah pengaruh itu baik atau buruk. Banyak bergantung pada cara ibu merawat diri dan bagaimana reaksinya terhadap keadaan sekelilingnya. Tentu saja ia harus banyak dibantu oleh orang lain yang berhubungan dengannya. Terutama sekali ia membutuhkan kasih sayang dan perhatian suaminya.—Periksa juga 1 Samuel 4:19.
KEPUTUSAN YANG HARUS ANDA AMBIL
15, 16. Keputusan apa yang harus diambil berkenaan tempat dan cara melahirkan?
15 Apakah anda ingin melahirkan di rumah sakit atau di rumah saja? Kadang-kadang tidak banyak pilihan. Di banyak daerah bahkan tidak ada rumah sakit. Di daerah tertentu mungkin jarang sekali orang melahirkan di rumah sendiri, sebab menghadapi beberapa risiko karena tidak ada orang berpengalaman untuk membantu, misalnya seorang bidan. Sedapat mungkin, usahakan agar memeriksakan diri ke dokter selama mengandung, untuk mengetahui apakah kelahiran akan berjalan lancar atau akan ada komplikasi.
16 Apakah anda akan melahirkan dalam keadaan dibius, ataukah secara alamiah? Anda sebagai suami-isteri harus mengambil keputusan, dengan menimbang untung-ruginya. Melahirkan secara alamiah, mungkin akan mengikut-sertakan suami dalam peristiwa penting ini. Segera setelah dilahirkan, bayi biasanya dibaringkan bersama ibunya. Sebagian orang percaya bahwa kelahiran cara alamiah ini lebih baik, asal saja pemeriksaan dokter menunjukkan bahwa tidak akan terjadi komplikasi. Menurut beberapa ahli riset bayi-bayi yang dilahirkan secara alamiah dalam suasana yang tenang lebih sedikit mengalami gangguan emosi dan penyakit-penyakit yang disebabkan oleh gangguan pikiran.
17-19. Bagaimana kesimpulan ahli-ahli riset mengenai keuntungan yang diperoleh jika bayi segera dibaringkan bersama ibunya sesudah lahir?
17 Dalam majalah Psychology Today edisi bulan Desember 1977 dikatakan:
”Selama puluhan tahun para ahli psikologi sudah menyadari bahwa tahun pertama kehidupan seorang bayi paling banyak menentukan perkembangan mental dan fisiknya di kemudian hari. Sekarang terdapat kesan bahwa bahkan hari pertama—atau bahkan 60 menit pertama—sudah langsung menentukan. Hubungan emosi antara ibu dan anak yang mulai terjalin, dan bagaimana kasih sayang yang mulai ditunjukkan ibu, istimewa penting sesudah kelahiran. Hasil-hasil penelitian baru-baru ini juga menunjukkan bahwa jam-jam yang pertama banyak menentukan sikap ibu terhadap sang anak, bagaimana kuatnya ikatan antara ibu dan anak, dan bagaimana kemampuannya sebagai ibu.”
18 Jika sang ibu tidak mengalami pembiusan selama melahirkan, bayi itu biasanya lebih cerdas dan waspada, matanya terbuka, memperhatikan sekelilingnya, mengikuti gerakan-gerakan yang terjadi, memalingkan diri ke arah suara-suara orang. Terutama sekali ia memperhatikan suara wanita yang melengking tinggi. Pandangan mata segera terjadi antara ibu dan anak. Rupa-rupanya ini penting , dan menurut beberapa hasil penelitian dikatakan bahwa ibu-ibu merasa lebih mesra terhadap bayinya, sekali bayi itu sudah memandang mereka. Demikian juga kontak badan, kulit bertemu kulit, antara ibu dan anak langsung sesudah bayi dilahirkan bermanfaat bagi keduanya.
19 Menurut para ahli riset banyak masalah yang dialami bayi-bayi di rumah sakit setelah diselidiki ternyata kadang-kadang diakibatkan sesuatu yang terjadi pada jam-jam pertama kehidupan bayi itu. Setelah membandingkan bayi-bayi yang lahir di rumah sakit menurut prosedur yang lazim dengan bayi-bayi lain yang langsung dibaringkan bersama ibunya, menunjukkan bahwa sesudah sebulan bayi-bayi yang dilahirkan secara alamiah mempunyai kelebihan. ”Bahkan lebih hebat lagi,” kata majalah Psychology Today, ”pada usia lima tahun anak-anak yang pada saat kelahirannya mengalami kontak lama dengan ibunya, ternyata IQnya [tingkat kecerdasan] jauh lebih tinggi dan lebih unggul dalam tes-tes bahasa dibandingkan dengan anak-anak yang lahir dengan prosedur rumah sakit pada umumnya.”
20. Untuk mengambil keputusan bijaksana dalam hal ini, hal-hal apa lagi yang perlu dipertimbangkan?
20 Akan tetapi, dalam semua hal ini, kita harus mempertimbangkan keadaan. Kita tak boleh lupa bahwa dari nenek moyang yang pertama kita mewarisi ketidaksempurnaan. Jadi apa yang dikatakan ”kelahiran alamiah” itu mungkin tidak seratus persen alamiah lagi, dan cacat kelemahan yang kita warisi itu dapat menimbulkan masalah. (Kejadian 3:16; 35:16-19; 38:27-29) Apa pun keputusan yang anda ambil, pertimbangkan keadaan dan lakukan apa yang menurut anda paling bijaksana, tidak soal apakah kelahiran itu ”ideal” menurut anggapan orang lain atau tidak.
21, 22. Apa saja manfaatnya jika bayi mendapat air susu ibu?
21 Apakah anda akan menyusukan sendiri bayi anda? Ini besar manfaatnya bagi anda dan bayi anda. Air susu ibu adalah makanan yang paling baik untuk bayi. Mudah dicernakan dan melindungi terhadap infeksi, gangguan perut dan gangguan pernapasan. Pada hari-hari pertama payudara mengeluarkan zat colostrum. Ini suatu cairan yang agak kekuningan yang memang cocok untuk bayi, karena (1) mempunyai kadar lemak dan karbohidrat yang rendah, sehingga lebih mudah dicernakan, (2) lebih banyak mengandung bahan-bahan imunisasi (kekebalan terhadap penyakit) dibandingkan dengan susu ibu yang keluar beberapa hari sesudahnya, dan (3) mempunyai efek mencuci perut, sehingga memudahkan pembuangan sel-sel, lendir dan kotoran yang terkumpul dalam dubur sebelum bayi tersebut lahir.
22 Bila ibu menyusukan sendiri bayinya, ia juga menerima faedah. Ini akan mengurangi pendarahan pada ibu, karena isapan bayi merangsang rahim untuk menciut kembali. Isapan bayi juga merangsang payudara untuk mengeluarkan lebih banyak susu. Banyak ibu yang kuatir akan kekurangan susu ternyata cukup. Bila bayi secara teratur menyusu, kadang-kadang proses pembuahan dan masa haid dihentikan untuk sementara waktu, sehingga secara alamiah dapat mencegah kelahiran lagi secara beruntun. Dan menurut Lembaga Kanker Amerika ”ibu-ibu yang menyusui bayinya, lebih jarang mengalami kanker payudara.” Selain itu, lebih menghemat anggaran belanja jika bayi mendapat air susu ibu!
PERKEMBANGAN ANAK—BAGAIMANA ANDA AKAN MEMBIDIKKAN ANAK PANAH?
23. Prinsip-prinsip apa berkenaan pendidikan anak yang terkandung dalam Mazmur 127:4, 5?
23 ”Seperti anak-anak panah di tangan pahlawan, demikianlah anak-anak pada masa muda. Berbahagialah orang yang telah membuat penuh tabung panahnya dengan semuanya itu.” (Mazmur 127:4, 5) Kegunaan anak panah itu dinilai dari kepandaian orang membidikkan anak panah tersebut dengan busurnya. Untuk mengenai sasaran, orang harus membidik dengan hati-hati dan tepat. Demikian juga, sebagai orang tua anda perlu sekali memikirkan bagaimana memulai kehidupan anak anda dengan baik, disertai doa dan hikmat kebijaksanaan. Apakah anak anda kelak akan meninggalkan rumah sebagai orang dewasa yang matang dan bijaksana, direspek orang-orang lain dan memuliakan Allah?
24. (a) Suasana rumah tangga yang bagaimana perlu diusahakan oleh orang tua bagi anak-anak mereka? (b) Mengapa ini penting?
24 Sebelum bayi itu lahir, orang tua harus mengambil keputusan bagaimana mereka akan merawat dan mendidiknya. Satu-satunya dunia kehidupan si bayi adalah orang tuanya. Dunia macam apakah yang anda ciptakan? Apakah dunia kehidupan anak itu memperlihatkan bahwa orang tua menghayati nasihat Firman Allah: ”Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan. Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.” (Efesus 4:31, 32) Entah bagaimana suasana rumah tangga, hal itu akan dipantulkan dalam kehidupan si anak. Usahakanlah supaya dunia anak anda penuh damai dan aman sentosa, penuh kehangatan dan kasih. Bayi yang mendapat kasih sayang akan menyerap sifat-sifat ini yang akan menentukan emosi-emosinya. Anak itu akan merasakan apa yang anda rasakan, ia akan meniru contoh yang anda berikan. Perkembangan bayi dalam kandungan diatur secara menakjubkan oleh hukum-hukum genetika dari Pencipta kita. Tetapi bagaimana perkembangan anak itu di luar kandungan, setelah anda menanganinya? Banyak bergantung kepada suasana rumah tangga anda. Pengaruhnya sama besar seperti gen, yang menentukan orang dewasa macam apa itu kelak. ”Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.”—Amsal 22:6.
25, 26. Mengapa patut bagi orang tua untuk memberikan banyak waktu dan perhatian kepada anak-anak mereka?
25 Manusia, baik pria maupun wanita, tidak dapat membuat daun rumput sehelai pun. Tetapi bersama-sama mereka dapat menghasilkan satu manusia lain, yang lebih rumit dan berbeda dari orang-orang lain yang ada di dunia! Alangkah menakjubkan hal ini! Begitu menakjubkan sehingga hampir-hampir sulit untuk dipercaya mengapa banyak orang dewasa ini, tidak melihat betapa sucinya tanggung-jawab yang menyertainya! Untuk memelihara sebuah taman yang indah, kita menanam bunga, menyiraminya, memberi pupuk dan mencabut lalang. Tidakkah sepatutnya kita menggunakan lebih banyak waktu dan berusaha lebih keras untuk mengembangkan kepribadian yang indah dalam diri anak-anak?
26 Orang yang sudah menikah tentu berhak mendapat anak. Demikian juga anak mereka berhak mempunyai orang tua, bukan dalam nama saja tetapi dengan sesungguhnya. Boleh saja seorang Kristen menghabiskan banyak waktu dan tenaga untuk membagikan pengetahuan Alkitab guna menjadikan seorang murid, padahal tidak selalu berhasil. Tidakkah sepatutnya orang tua Kristen menggunakan bahkan lebih banyak waktu untuk ’mendidik mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan’? (Efesus 6:4) Jika orang tua mendidik seorang anak untuk menjadi hamba yang baik dari Pemberi hidup, Allah Yehuwa, tidakkah hal itu dapat dibanggakan? Hanya dengan cara itulah dapat dikatakan bahwa seseorang menerima berkat karena mempunyai anak.—Amsal 23:24, 25.
27. Mengapa dalam mengatur perkembangan anak, orang tua harus mempertimbangkan kepribadian anak itu sendiri?
27 Mazmur 128:3 mengumpamakan anak-anak seperti tanaman zaitun: ”Isterimu akan menjadi seperti pohon anggur yang subur di dalam rumahmu; anak-anakmu seperti tunas pohon zaitun sekeliling mejamu.” Bagaimana pertumbuhan sebuah pohon ditentukan oleh caranya pohon itu dirawat. Ada yang dibiarkan tumbuh pada dinding. Yang lainnya dibiarkan tumbuh rendah di atas tanah. Yang lain lagi sengaja dibiarkan kecil dan kerdil dengan memotong-motong akarnya, seperti caranya orang memelihara tanaman bonsai. Suatu peribahasa kuno dalam bahasa Inggris menunjukkan bagaimana pendidikan semasa kecil akan membentuk seorang anak: ”Tumbuhnya sebatang pohon bergantung pada condongnya ranting.” Di sini kita perlu memakai akal sehat. Memang betul anak itu membutuhkan bimbingan tertentu, sehingga ia mengikuti patokan-patokan yang baik. Tetapi itu tidak berarti anak itu harus memenuhi suatu gambaran cita-cita yang ideal dari orang tuanya, sehingga menghasilkan kepribadian tertentu. Pohon zaitun mustahil menghasilkan buah ara. Bimbinglah anak itu dengan baik, tetapi jangan dipaksa untuk mengikuti suatu ”cetakan” tertentu. Sebab dengan demikian akan mengekang kepribadiannya sendiri, sehingga bakat-bakatnya tidak dapat berkembang secara wajar. Anda harus sabar menunggu sampai anda mulai mengenal anak yang anda hasilkan itu. Kemudian seperti tanaman yang masih kecil, berikan kepada anak anda bimbingan yang cukup kuat untuk melindungi dan mengarahkannya dengan baik, namun cukup lembut sehingga tidak mengekang perkembangannya menjadi sempurna dalam kemampuannya.
KARUNIA DARI YEHUWA
28. Bagaimana kita dapat menarik manfaat dari keterangan di Kejadian 33:5, 13, 14 mengenai perhatian Yakub kepada anak-anaknya?
28 Yakub di zaman dulu seorang yang selalu memikirkan kesejahteraan anak-anaknya. Pernah mereka membicarakan suatu rencana perjalanan yang harus ditempuh dengan segera, sehingga mungkin terlalu berat bagi anak-anaknya. Maka Yakub mengatakan kepada orang yang mengusulkan perjalanan itu: ”Tuanku maklum, bahwa anak-anak ini masih kurang kuat, dan bahwa beserta aku ada kambing domba dan lembu sapi yang masih menyusui, jika diburu-buru, satu hari saja, maka seluruh kumpulan binatang itu akan mati. Biarlah kiranya tuanku berjalan lebih dahulu dari hambamu ini dan aku mau dengan hati-hati beringsut maju menurut langkah hewan, yang berjalan di depanku dan menurut langkah anak-anak, sampai aku tiba pada tuanku di Seir.” Beberapa waktu sebelum itu ketika menemui Esau, saudaranya, ia ditanyakan, ”Siapakah orang-orang yang beserta engkau itu?” Maka Yakub menjawab: ”Anak-anak yang telah dikaruniakan Allah kepada hambamu ini.” (Kejadian 33:5, 13, 14) Demikian juga para orang tua zaman sekarang hendaknya bukan saja memikirkan kesejahteraan anak-anak sama seperti dia—sebagai karunia dari Yehuwa. Tentu saja orang perlu memikirkan sebelum kawin apakah ia dapat menunjang seorang isteri dan anak-anak. Alkitab menasihatkan: ”Selesaikanlah pekerjaanmu di luar, siapkanlah itu di ladang; baru kemudian dirikanlah rumahmu.” (Amsal 24:27) Selaras dengan nasihat praktis ini, orang hendaknya mengadakan persiapan sebelumnya untuk perkawinan dan kehidupan keluarga. Dengan demikian, biarpun isteri mulai mengandung di luar rencana semula, kehadiran anak akan disambut dengan gembira dan tidak ditakuti, seolah-olah suatu beban keuangan.
29. Mengapa jauh sebelumnya perlu dipikirkan sungguh-sungguh apa yang tersangkut bila mempunyai anak-anak?
29 Soal mendapat anak-anak jelas perlu dipertimbangkan dengan sungguh-sungguh. Bukan saja anak yang pertama, tetapi juga bagaimana kalau ada yang lain sesudah itu. Apakah orang tua mengalami kesulitan untuk memberi makan, merawat dan mendidik anak-anak mereka yang sudah ada? Jika demikian, demi untuk menghormati Pencipta dan demi menjaga kemurnian kasih mereka, seharusnya orang tua memikirkan juga sampai di mana mereka perlu mengendalikan diri, sehingga jangan terlalu cepat menambah anak.
30. (a) Mengapa dapat dikatakan bahwa sebenarnya anak-anak itu milik Allah? (b) Bagaimana ini semestinya mempengaruhi sikap orang tua?
30 Sesungguhnya milik siapakah anak-anak itu? Tentu saja milik anda. Tetapi dalam hal lain anak itu milik Pencipta. Anda diberi kepercayaan untuk merawat anak itu sebagaimana orang tua anda juga diberi kepercayaan untuk memelihara anda sewaktu masih anak. Tetapi itu tidak berarti bahwa anda adalah milik orang tua yang boleh diperlakukan dengan semena-mena. Demikian juga anak anda tidak boleh diperlakukan demikian. Pembuahan benih dan perkembangan bayi dalam kandungan terjadi di luar kekuasaan orang tua. Mereka bahkan tidak dapat melihat atau mengerti sepenuhnya seluruh rangkaian proses yang menakjubkan yang terjadi. (Mazmur 139:13, 15; Pengkhotbah 11:5) Seandainya terjadi keguguran atau anak itu lahir dalam keadaan mati, orang tua tidak berdaya menghidupkan kembali anak yang sudah mati itu. Maka, kita perlu dengan rendah hati mengakui bahwa Allah adalah Pemberi-Hidup dari kita semua, dan karena itu kita semua adalah milik-Nya: ”TUHANlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya.”—Mazmur 24:1.
31, 32. (a) Bagaimana tanggung-jawab orang tua di hadapan hadirat Allah? (b) Apa hasilnya jika orang tua menunaikan tanggung-jawab itu dengan baik?
31 Anda bertanggungjawab atas anak-anak yang anda bawa ke dalam dunia, dan anda bertanggungjawab kepada Pencipta mengenai cara bagaimana anda membesarkan mereka. Dia yang menciptakan bumi, dengan maksud tujuan untuk dihuni. Dan Ia melengkapi nenek moyang kita yang pertama dengan kesanggupan berkembang biak demi memenuhi maksud tersebut. Karena mereka menyeleweng, mereka berada di pihak Musuh yang menantang hak Allah untuk berdaulat atas seluruh keluarga besar makhluk ciptaan-Nya di surga dan di bumi. Dengan mendidik anak-anak anda menjadi orang yang memiliki integritas terhadap Pencipta mereka, anda dan keluarga anda dapat membuktikan bahwa Musuh itu jahat dan Allah Yehuwa yang benar. Seperti dikatakan Amsal 27:11: ”Anakku, hendaklah engkau bijak, sukakanlah hatiku, supaya aku dapat menjawab orang yang mencela aku.”
32 Dengan memenuhi kewajiban terhadap anak-anak anda, demikian juga kewajiban anda terhadap Allah, anda merasakan kepuasan yang sejati dalam hidup ini. Dengan penuh penghargaan anda dapat membenarkan apa yang dikatakan di Mazmur 127:3: ”Buah kandungan adalah suatu upah [berkat, NW].”
-
-
Peranan Anda Sebagai Orang TuaMembina Keluarga Bahagia
-
-
Pasal 8
Peranan Anda Sebagai Orang Tua
1-3. (a) Bagaimana pengaruh lahirnya seorang bayi atas kehidupan orang tua? (b) Mengapa penting bagi ayah maupun ibu untuk mengerti peranan masing-masing sebagai orang tua?
DALAM kehidupan banyak hal yang terjadi tidak selalu berkesan. Tetapi kejadian-kejadian tertentu besar dan lama pengaruhnya. Lahirnya seorang bayi misalnya. Setelah saat itu kehidupan tidak sama lagi bagi suami-isteri. Biar kecil mungil, kini ada orang baru di rumah yang mulai kedengaran suaranya, dan yang kehadirannya tak boleh diabaikan.
2 Semestinya kehidupan makin indah dan bahagia bagi orang tua. Tetapi kini mereka menghadapi suatu tantangan, dan untuk mencapai hasil yang baik, tantangan itu harus ditanggulangi oleh kedua orang tua. Karena anda berdualah lahir seorang anak, dan anda berdua memainkan peranan penting dalam pertumbuhan bayi sejak lahir sampai seterusnya. Terlebih-lebih sekarang perlu bagi anda berdua untuk bekerja sama secara ikhlas—dan rendah hati.
3 Untuk dapat memenuhi kebutuhan bayi anda, demi kebahagiaannya kiranya perlu bagi orang tua untuk mengerti peranan masing-masing dan bagaimana peranan tersebut harus saling mengisi. Dibutuhkan suatu keseimbangan. Memang manusia senang menggunakan akal pikiran. Tetapi begitu sering keadaannya menjadi terbalik karena terpengaruh emosi atau perasaan. Seringkali manusia cenderung untuk ekstrim, dari terlalu sedikit menjadi terlalu berkelebihan, kemudian kembali lagi terlalu sedikit. Memang semestinya ayah berperan sebagai kepala keluarga, tetapi jika terlalu berlebihan mungkin ia seperti diktator. Adalah baik jika ibu juga turut berperan dalam mendidik dan mendisiplin anak-anak. Tetapi jika ia mengambil alih seluruh tugas suaminya dalam hal ini, maka jelas hubungan dalam keluarga tidak wajar lagi. Sesuatu hal mungkin baik, tetapi jika berlebihan dapat menjadi buruk.—Filipi 4:5.
PERANAN IBU SANGAT MENENTUKAN
4. Hal-hal apa saja yang dibutuhkan seorang bayi dari ibunya?
4 Bayi yang baru lahir tergantung sepenuhnya kepada ibunya untuk kebutuhan yang langsung. Jika ibu memenuhi kebutuhannya dengan penuh kasih sayang, bayi merasa aman. (Mazmur 22:9, 10) Bayi itu harus diberi makan dengan baik, dijaga kebersihannya dan tetap hangat. Tetapi bukan saja kebutuhan jasmaninya yang perlu diperhatikan. Kebutuhan emosinya tidak kalah penting. Jika bayi tidak merasakan belaian kasih, ia mulai merasa tidak aman. Seorang ibu segera dapat mengetahui seberapa besar kebutuhan bayinya, begitu bayi itu menangis minta perhatian. Tetapi jika tangisannya selalu dianggap sepi ia dapat jatuh sakit. Jika kebutuhan emosinya cukup lama tidak dipenuhi, kemungkinan ia akan mengalami gangguan emosi seumur hidupnya.
5-7. Menurut hasil penyelidikan baru-baru ini bagaimana pertumbuhan bayi dipengaruhi oleh kasih sayang dan perhatian ibunya?
5 Percobaan-percobaan di berbagai negeri menghasilkan kesimpulan sebagai berikut: Bayi-bayi akan menjadi sakit dan bahkan mati jika kekurangan kasih, yang diperlihatkan dengan diajak bicara dan dipegang, atau dibelai dan disayang. (Periksa juga Yesaya 66:12; 1 Tesalonika 2:7.) Boleh saja orang lain melakukan ini, tetapi tak disangkal lagi yang paling tepat harus melakukan ini adalah ibunya. Dalam kandungan ibunya bayi itu mulai dan bertumbuh selama bulan-bulan yang pertama. Terdapat suatu jalinan hubungan alamiah antara ibu dan anak. Ibu secara naluriah ingin mendekap bayi yang baru lahir itu ke dadanya, dan bayi pun mencari dada ibunya.
6 Menurut penyelidikan para ahli, otak bayi cukup giat bekerja dan perkembangan mentalnya lebih pesat jika seluruh panca inderanya dirangsang, yaitu dengan meraba, mendengar, melihat dan mencium. Pada waktu minum susu ibu, bayi merasakan kehangatan dan bau kulit ibunya. Seraya minum matanya terus menatap wajah ibunya. Ia bukan saja mendengar suara ibunya di waktu sedang bicara atau menyanyikan lagu baginya. Ia juga mendengarkan denyutan jantung ibu, yaitu suatu suara yang selama ini didengarnya ketika masih berada dalam kandungan. Dalam suatu penerbitan di Norwegia, Anne-Marit Duve, seorang ahli psikologi anak menulis:
”Karena gerakan-gerakan biji-mata jelas menunjukkan sedikit-banyaknya kerja otak, kami menarik kesimpulan bahwa melalui rangsangan sentuhan pada kulit, dengan sering adanya kontak badan—apalagi kontak badan yang dialami pada waktu bayi menyusu—kegiatan mental anak dapat dirangsang, sehingga meningkatkan kemampuan otaknya sewaktu menjadi dewasa.”
7 Demikianlah jika bayi sering merasakan sentuhan ibunya yaitu pada waktu ia diangkat dan dipeluk-peluk atau pada waktu ia dimandikan dan dikeringkan dengan handuk, rangsangan yang ia peroleh memainkan peranan besar dalam pertumbuhannya dan akan menjadi orang macam apa dia kelak. Memang siapa yang senang dibangunkan waktu tengah malam untuk menimang-nimang bayi yang menangis? Tetapi dengan mengetahui betapa besar manfaatnya bagi si anak di kemudian hari terhibur juga hati orang tua, kendatipun kehilangan waktu tidur.
MULAI MENGENAL KASIH KARENA MERASA DIKASIHI
8-10. (a) Apa yang dipelajari oleh bayi dari kasih sayang ibunya? (b) Mengapa ini penting?
8 Bayi harus merasakan kasih sayang. Ini penting sekali untuk perkembangan emosinya. Ia belajar untuk mengasihi karena merasa dikasihi, karena sering melihat contoh kasih sayang. Bicara soal kasih kepada Allah, 1 Yohanes 4:19 berkata: ”Kita mengasihi sebab Allah terlebih dahulu sudah mengasihi kita.” Pelajaran permulaan mengenai kasih terutama mulai diberikan oleh ibu. Sang ibu membungkukkan badan atas bayinya, menaruh tangannya di dada si bayi dan menggoyang-goyangkannya dengan lembut sambil mendekatkan mukanya ke muka si bayi, lalu berkata: ”Cilukba! Cilukba!” Kira-kira maksudnya, ’Aku melihatmu!’ Tentu saja si bayi tidak mengerti kata-kata (dan memang tidak terlalu masuk akal). Tetapi si bayi menggerak-gerakkan seluruh badan dan tertawa senang, karena ia mengenal tangan yang mengajaknya main-main. Ia mengenal nada suara itu, yang baginya mempunyai arti, ’Aku sayang padamu! Aku sayang padamu!’ Ia merasa lebih percaya dan tenang.
9 Bayi-bayi dan anak kecil yang mendapat kasih sayang sungguh menghargainya. Dan untuk meniru kasih sayang demikian, anak itu mulai mencobanya sendiri. dengan tangannya yang mungil ia memeluk leher ibunya dan mengecupnya dengan penuh semangat. Begitu senangnya dia atas sambutan hangat yang diberikan oleh ibu. Mereka mulai belajar bahwa kebahagiaan datangnya karena memberikan kasih sayang, demikian juga karena menerimanya, dan bahwa dengan menaburkan kasih sayang mereka akan mendapatkan kembali kasih sayang. Betapa pentingnya pelajaran ini! (Kisah 20:35; Lukas 6:38) Bukti-bukti menunjukkan bahwa di kemudian hari anak itu akan sulit sekali memupuk hubungan batin yang akrab dan mesra dengan orang lain, jika tidak merasakan hubungan mesra dengan ibunya sejak kecil.
10 Karena anak-anak mulai belajar segera sesudah dilahirkan, tahun-tahun pertama kehidupannya merupakan yang paling penting. Dalam tahun-tahun tersebut kasih sayang ibu banyak menentukan. Jika ia berhasil menunjukkan dan mengajarkan kasih sayang—bukan memanjakan—ia menghasilkan kebaikan untuk seterusnya. Jika gagal mengakibatkan kerugian untuk seterusnya. Bagi seorang wanita tidak ada tugas yang lebih mulia dan memberi tantangan daripada menjadi seorang ibu yang baik. Memang bukan pekerjaan mudah, tetapi ”karier” hidup manakah yang dapat menandingi pekerjaan tersebut untuk mengisi hidup ini penuh dengan kebahagiaan yang tidak hanya berlangsung sebentar?
PERANAN AYAH PENTING
11. (a) Bagaimana seorang ayah dapat mengesankan peranannya dalam pikiran si anak? (b) Mengapa ini penting?
11 Memang sewajarnya bahwa pada permulaan ibu memainkan peranan lebih besar dalam kehidupan anak. Tetapi sejak saat bayi itu lahir dan seterusnya ayah perlu memainkan peranan pula dalam kehidupan anak. Sekalipun anaknya masih bayi, ayah harus turut berperan dengan sewaktu-waktu juga mengurusi anak itu, bermain-main dengannya, dan menghiburnya bila menangis. Dengan demikian peranan ayah mulai berkesan dalam pikiran anak. Berangsur-angsur peranan ayah dalam kehidupan anak itu akan bertambah besar. Jika ayah terlambat mulai, ini dapat menimbulkan masalah yang biasanya baru terlihat setelah anak itu menjadi remaja dan lebih sulit untuk mendisiplin dia. Terutama pada usia remaja seorang anak lelaki mungkin membutuhkan bantuan ayahnya. Tetapi jika selama itu belum tercipta hubungan baik antara mereka, bagaimana mungkin bahwa jurang yang timbul selama bertahun-tahun dapat dijembatani dalam waktu hanya beberapa minggu.
12, 13. (a) Bagaimana peranan ayah dalam keluarga? (b) Bagaimana sikap hormat anak-anak terhadap wewenang bisa dipengaruhi oleh cara ayah menunaikan kewajibannya dengan sepatutnya?
12 Tidak soal apakah anaknya lelaki atau perempuan, pengaruh sifat-sifat pria dari sang ayah banyak berpengaruh atas perkembangan jiwa anak yang sehat dan seimbang. Menurut Firman Allah ayah adalah kepala keluarga. Ia bertanggung-jawab untuk menyediakan kebutuhan jasmani mereka. (1 Korintus 11:3; 1 Timotius 5:8) Namun demikian ”manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi manusia hidup dari segala yang diucapkan TUHAN.” Berkenaan anak-anaknya, sang ayah diwajibkan untuk ”mendidik mereka dengan peraturan dan pengajaran Tuhan.” (Ulangan 8:3; Efesus 6:4, BIS) Dalam hal ini ia terdorong oleh kasih sayangnya yang wajar terhadap anak. Tetapi lebih penting lagi karena rasa tanggung-jawab terhadap sang Pencipta, ia akan berusaha sungguh-sungguh untuk menunaikan kewajiban yang diberikan kepadanya oleh Allah.
13 Di samping kehangatan, kelembutan dan kasih sayang yang dinyatakan oleh ibu, pengaruh ayah memantapkan jiwa anak karena mengandung kekuatan dan menyediakan bimbingan yang bijaksana. Cara ayah menjalankan tugasnya membawa pengaruh besar atas sikap hormat anak itu kelak terhadap orang lain dan terhadap Allah. Dan bagaimana anak itu dapat dengan mudah bekerja di bawah perintah orang lain tanpa mengomel atau membangkang.
14. Bagaimana teladan baik dari ayah berpengaruh atas putera atau puterinya?
14 Jika anaknya lelaki, teladan yang diberikan ayah dan cara bagaimana ia menangani segala hal, besar pengaruhnya untuk menentukan apakah anak itu menjadi orang yang lemah, tidak berpendirian, atau orang yang berjiwa jantan, mantap, penuh keyakinan dan tidak takut memikul tanggung-jawab. Hal ini banyak menentukan macam suami atau ayah yang bagaimana anak itu jadinya di kemudian hari. Apakah yang kaku, kasar dan keras kepala, atau yang seimbang, mempunyai daya pertimbangan dan budi bahasa yang baik. Jika anaknya perempuan, pengaruh dan hubungan ayah terhadapnya banyak menentukan sikap anak itu terhadap kaum pria pada umumnya. Dan ini dapat membantu atau dapat juga menghalangi dia untuk mendapatkan kebahagiaan dalam perkawinan. Pengaruh ayah langsung memainkan peranan sejak bayinya lahir.
15, 16. (a) tanggung-jawab apa sebagai pengajar yang diletakkan di atas bahu seorang ayah? (b) Bagaimana tanggung-jawab ini dapat dilakukan?
15 Betapa luas kewajiban sang ayah untuk mengajar anak-anaknya, diperlihatkan dalam perintah Allah kepada umat-Nya di Ulangan 6:6, 7: ”Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.”
16 Yang harus tiap hari ditanamkan dalam pikiran anak itu bukan hanya kata-kata yang terdapat dalam Firman Allah, melainkan juga maknanya. Kesempatan untuk melakukan itu cukup banyak. Bunga di taman, serangga yang terbang, burung atau tupai yang bertengger di pohon, kulit kerang di pantai, pohon cemara di gunung, bintang yang berkelap-kelip di langit—semua keajaiban alam ini bicara mengenai adanya Pencipta, dan andalah yang harus menerangkannya kepada anak anda. Penggubah mazmur berkata: ”Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya; hari meneruskan berita itu kepada hari, dan malam menyampaikan pengetahuan itu kepada malam.” (Mazmur 19:1, 2) Ayah harus selalu siap untuk menyelipkan soal-soal kehidupan sehari-hari sebagai contoh untuk menandaskan prinsip-prinsip yang benar. Dengan demikian ia menanamkan dasar yang paling utama untuk masa depan anak itu ke dalam pikiran dan hatinya: keyakinan bukan saja bahwa Allah itu ada, tetapi juga bahwa ”Allah memberi upah [pahala, NW] kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.”—Ibrani 11:6.
17, 18. (a) Bagaimana caranya seorang ayah mendisiplin anak-anaknya? (b) Cara manakah lebih baik daripada membuat banyak peraturan?
17 Disiplin juga merupakan sebagian dari peranan seorang ayah. ”Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar [didisiplin, NW] oleh ayahnya?” demikian pertanyaan dalam Ibrani 12:7. Tetapi ia harus berhati-hati untuk jangan bertindak keterlaluan, dengan selalu mencari kesalahan anaknya sehingga mengganggu pikiran dan menimbulkan kejengkelan anak. Kepada kaum bapa Firman Allah berkata: ”Janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya.” (Kolose 3:21) Larangan-larangan tertentu memang perlu, tetapi jika sudah terlalu banyak justru menjadi beban dan membuat kecil hati.
18 Kaum Farisi zaman dulu suka sekali membuat bermacam-macam peraturan. Begitu banyak peraturannya, sehingga menghasilkan banyak sekali orang munafik. Memang sudah suatu kelemahan manusia sehingga selalu berpikir bahwa suatu masalah dapat dipecahkan cukup dengan mengeluarkan peraturan tambahan. Tetapi menurut pengalaman rupanya yang lebih penting adalah untuk menggugah hati seseorang. Karena itu janganlah gunakan terlalu banyak peraturan. Sebaliknya, cobalah tanamkan prinsip-prinsip dan pilihlah sasaran yang sama seperti Allah: ”Aku akan menaruh hukum-Ku dalam akal budi mereka dan menuliskannya dalam hati mereka.”—Ibrani 8:10.
AYAH DAN IBU HARUS BEKERJA SAMA
19. Apa yang dapat dilakukan untuk menjaga komunikasi yang baik dalam keluarga?
19 Biasanya sang ayah yang mencari nafkah dan bila pulang kerja mungkin ia sudah lelah, padahal masih ada tugas lain yang menunggunya di rumah. Namun demikian ia perlu menyisihkan waktu untuk isteri dan anak-anak. Ia harus bergaul dengan keluarganya, menyediakan waktu tertentu untuk diskusi keluarga dan kegiatan bersama, juga untuk hiburan dan rekreasi bersama. Dengan demikian ia membina keutuhan dan kesetiaan dalam keluarga. Boleh jadi memang, sebelum ada anak suami-isteri pergi jalan-jalan. Tetapi mereka tidak boleh demikian terus, sebentar lari ke sana, sebenar lari ke sini dan mungkin sampai jauh malam. Sebab ini berarti melalaikan tugas sebagai orang tua. Tidak adil terhadap anak-anak mereka. Cepat atau lambat, orang tua akan menanggung akibatnya jika mereka hidup serba tidak teratur dan mengabaikan tanggung-jawab. Sama seperti orang dewasa, anak lebih senang jika hidupnya cukup stabil dan teratur. Hal ini membantu kesehatan mental, jasmani dan emosi mereka. Tanpa dibuat lebih parah oleh orang tua demikian, jadwal kehidupan keluarga sehari-hari saja sudah cukup memusingkan.—Periksa Matius 6:34; Kolose 4:5.
20. Bila mendisiplin anak-anak, bagaimana ayah dan ibu dapat menjaga kerja sama yang baik?
20 Ayah dan ibu harus bekerja sama dalam hal menghadapi anak-anak, mengajar mereka, memberikan larangan-larangan tertentu, mendisiplin mereka, mencintai mereka. ’Rumah tangga yang terbagi tidak dapat bertahan.’ (Markus 3:25) Sebaiknya orang tua membicarakan bersama-sama disiplin yang harus ditegakkan. Dengan demikian anak-anak tidak melihat suatu selisih pendapat apapun di antara mereka mengenai disiplin. Jika anak melihat tidak ada persesuaian orang tua, anak dapat ”mengadu domba” orang tua. Memang, sekali waktu mungkin saja salah satu orang tua bereaksi terlalu cepat atau naik darah dan menjalankan disiplin yang terlalu keras. Atau mungkin setelah seluruh duduk perkaranya jelas ternyata disiplin yang diberikan itu sebenarnya tidak perlu. Barangkali hal ini dapat dibicarakan antara empat mata oleh orang tua, kemudian pihak yang sempat bertindak kurang bijaksana itu dapat mengambil langkahnya sendiri untuk memperbaiki kesalahan. Bila pembicaraan antara empat mata ini tidak mungkin dilakukan oleh orang tua, sedangkan pihak orang tua yang lain merasa kurang adil untuk begitu saja membela teman hidupnya yang telah salah langkah, mungkin ia dapat mengatakan begini: ’Aku mengerti mengapa kamu merasa jengkel, sebab aku pun akan merasa jengkel jika hal itu terjadi pada diriku. Tetapi mungkin juga ada sesuatu yang lain yang tidak kausadari, yaitu . . .’ Cara ini dapat menenangkan suasana tanpa orang tua harus bertengkar atau saling menyalahkan di hadapan anak yang dihukum itu. Seperti kata Amsal yang terilham: ”Keangkuhan hanya menimbulkan pertengkaran, tetapi mereka yang mendengarkan nasihat mempunyai hikmat.”—Amsal 13:10; periksa juga Pengkhotbah 7:8.
21. Apakah disiplin hanya menjadi tanggung-jawab salah satu orang tua? Mengapa demikian?
21 Menurut Alkitab Ibrani [Perjanjian Lama], menghukum atau mendisiplin anak itu termasuk tugas kedua orang tua: ”Hai anakku, dengarkanlah didikan [NW: disiplin] ayahmu, dan jangan menyia-nyiakan ajaran ibumu.” Demikian juga menurut Alkitab Yunani [Perjanjian Baru]: ”Anak-anak! Adalah kewajibanmu sebagai pengikut Kristus untuk taat kepada ibu-bapakmu, karena itulah yang seharusnya kalian lakukan.” Kadang-kadang sang ayah beranggapan bahwa mendisiplin anak merupakan tugas isterinya. Atau ada juga isteri yang mempunyai pandangan terbalik dan hanya sekedar mengancam anak yang nakal dengan kata-kata, ’Awas nanti saya lapor setelah ayahmu pulang!’ Sebenarnya, supaya keluarga dapat bahagia dan ayah maupun ibu sama-sama mendapat kasih sayang dan respek dari anak-anak mereka, tugas untuk mendisiplin anak-anak itu berlaku untuk kedua belah pihak.—Amsal 1:8; Efesus 6:1, BIS.
22. Hal apa yang sebaiknya dihindarkan bila anak meminta sesuatu, dan mengapa?
22 Anak-anak perlu melihat kerja sama yang erat dari orang tua mereka dalam hal ini, dan kerelaan masing-masing dalam memikul tanggung-jawab tersebut. Kadang-kadang jika seorang anak meminta sesuatu dan selalu mendengar ayahnya berkata, ’Sana, tanya saja ibumu,’ atau ada juga ibu yang selalu menyerahkan keputusan kembali kepada sang ayah. Dengan demikian sebenarnya pihak orang tua yang merasa bahwa ia terpaksa menolak permintaan anak itu seakan-akan dijadikan momok. Tentu saja, kadang-kadang terjadi bahwa sang ayah dapat mengatakan, ’Baiklah, kau boleh main di luar—tetapi tanya dulu pada ibumu, sebab sudah hampir waktunya untuk makan.’ Atau kadang-kadang sang ibu merasa permintaan anak dapat diluluskan, namun lebih baik pendapat ayah ditanyakan juga. Tetapi kedua pihak waspada untuk tidak memberi angin atau membiarkan si anak mengadu domba mereka untuk mendapatkan keinginannya. Isteri yang bijaksana harus hati-hati juga untuk jangan menyalahgunakan kedudukannya untuk bersaing dengan suaminya, dengan memanjakan anaknya supaya lebih disenangi oleh anak itu sehingga merugikan sang suami.
23. Apakah dalam keluarga hanya sang ayah mengambil semua keputusan?
23 Sebenarnya mengenai hal mengambil keputusan dalam keluarga, baik suami maupun isteri masing-masing mempunyai bidang di mana pendapatnya khusus perlu dipertimbangkan. Sang ayah bertanggung-jawab untuk mengambil keputusan sehubungan dengan soal-soal yang menyangkut kesejahteraan keluarga, yang biasanya diputuskan setelah dibicarakan bersama dan dipertimbangkan apa yang mereka sukai dan inginkan. Ibu mungkin mengambil keputusan-keputusan yang menyangkut dapur dan banyak urusan rumah tangga lainnya. (Amsal 31:11, 27) Dan semakin besar anak-anak, mereka dapat dibiarkan mengambil keputusan yang menyangkut ruang tempat mereka bermain, memilih beberapa pakaian mereka, atau barang-barang milik pribadi. Tetapi kiranya perlu pengawasan secukupnya dari orang tua agar mereka berpegang kepada prinsip-prinsip yang benar, sehingga keselamatan anak-anak tetap terjamin dan tidak melanggar hak orang lain. Dengan demikian secara berangsur-angsur anak-anak diajarkan untuk mengambil keputusan mereka sendiri.
BAGAIMANA SUPAYA ORANG TUA MUDAH DIHORMATI
24. tanggung-jawab apakah diletakkan atas orang tua, mengingat bahwa anak-anak harus menghormati ibu bapaknya?
24 Anak-anak diberi perintah: ”Hormatilah ayahmu dan ibumu.” (Efesus 6:2; Keluaran 20:12) Jika mereka melakukan ini, mereka juga mentaati perintah Allah. Apakah anda sebagai orang tua tidak menyulitkan anak dalam hal ini? Sebagai isteri, anda harus menghormati suami. Tetapi bukankah ini sukar jika suami sedikit atau sama sekali tidak berusaha melakukan apa yang dituntut Firman Allah daripadanya? Sebagai suami, anda harus mengasihi dan menghormati isteri sebagai teman hidup yang mendampingi anda. Bukankah ini menjadi sulit, jika isteri tidak bekerja sama? Karena itu, usahakanlah supaya menjadi lebih mudah bagi anak-anak anda untuk mentaati perintah Allah, yaitu untuk menghormati anda sebagai orang tua. Dapatkan kepercayaan mereka dengan menyediakan rumah tinggal yang tenteram, patokan-patokan hidup yang baik, contoh tingkah laku yang baik, pengajaran dan pendidikan yang baik dan disiplin yang penuh kasih bilamana diperlukan.
25. Problem-problem apa dapat timbul bila orang tua saling bertentangan mengenai cara mendidik anak-anak?
25 ”Berdua lebih baik dari pada seorang diri,” kata Raja Salomo, ”karena mereka menerima upah yang baik dalam jerih payah mereka.” (Pengkhotbah 4:9) Bila dua orang berjalan bersama dan salah satu di antar mereka jatuh, masih ada yang lain untuk membantunya berdiri kembali. Demikian juga dalam keluarga, suami-isteri dapat mendukung dan membina satu sama lain dalam tugasnya masing-masing. Ada begitu banyak bidang di mana tugas mereka bersifat rangkap, dan ini baik demi persatuan keluarga. Semestinya anak-anak lebih mendekatkan orang tuanya satu sama lain, karena mereka bersatu dalam tugas pendidikan yang sama. Tetapi sewaktu-waktu akan timbul masalah dimana timbul perselisihan pendapat mengenai cara bagaimana anak itu harus dididik dan didisiplin. Kadang-kadang ada isteri yang demikian banyak memberi perhatian kepada anaknya, sehingga sang suami merasa dirinya diabaikan, bahkan merasa cemburu. Hal ini dapat mempengaruhi sikapnya terhadap anak itu. Mungkin ia menjadi bersikap dingin terhadap anaknya. Atau sebaliknya ia juga mencoba memperlihatkan kasih sayang pada anaknya secara berlebih-lebihan, dan akibatnya kurang perhatian terhadap isteri. Berat risikonya bila sang suami atau sang isteri kehilangan keseimbangan mereka.
26. Hal apa dapat dilakukan supaya jangan timbul rasa cemburu pada anak yang lebih tua karena ibu harus memberikan lebih banyak waktu kepada bayi yang baru lahir?
26 Suatu problem lain bisa jadi timbul bila seorang bayi dilahirkan dan sudah ada kakaknya. Mau tidak mau, ibu harus memberi lebih banyak perhatian kepada bayinya. Supaya anak yang lebih tua itu tidak merasa kurang mendapat perhatian dan merasa cemburu, mungkin ayahnya dapat mulai lebih memperhatikan kebutuhan anak yang lebih tua ini.
27. Bila salah satu orang tua belum seiman, bagaimana anak-anak dapat dibina kerohaniannya?
27 Dua orang memang lebih baik daripada hanya seorang. Tetapi lebih baik seorang daripada tiada sama sekali. Kadang-kadang karena keadaan, seorang ibu harus membesarkan anak-anak tanpa didampingi seorang ayah. Atau sebaliknya. Sering kali, terdapat perbedaan kepercayaan dalam rumah tangga, karena yang satu percaya sepenuhnya pada nasihat Alkitab sebagai hamba yang berbakti kepada Allah Yehuwa, tetapi yang lainnya tidak. Jika sang suami adalah orang Kristen yang berbakti, sebagai kepala keluarga ia lebih dapat menentukan bagaimana anak-anaknya harus dididik dan didisiplin. Walaupun demikian, ia harus benar-benar sabar, penuh pengendalian diri dan bertekun. Ia harus bersikap tegas dalam soal-soal yang serius, namun tetap menunjukkan sikap yang lemah lembut dan mudah diajak bicara meskipun mendapat tekanan, dan bersikap lentuk apabila keadaan mengijinkan. Jika yang beriman adalah isteri dan karena itu harus tunduk kepada suaminya, caranya ia bertindak banyak bergantung kepada sikap suaminya. Apakah suaminya hanya kurang berminat pada Alkitab? Ataukah ia hanya tidak senang bila isterinya menjalankan ibadatnya dan berusaha mengajar anak-anak mengenai kepercayaannya? Jika suami menentang, sang isteri harus menempuh haluan yang digariskan oleh rasul Petrus: Dengan teladannya dalam menjalankan tugas dan menunjukkan respek, suaminya ”tanpa perkataan dimenangkan oleh kelakuan isterinya.” Ia juga akan menggunakan kesempatan yang ada untuk mengajarkan prinsip-prinsip Alkitab kepada anak-anaknya.—1 Petrus 3:1-4.
SUASANA DI RUMAH
28, 29. Suasana rumah tangga yang bagaimana yang patut dibina dan mengapa?
28 Kedua orang tua mempunyai peranan untuk menciptakan suasana rumah yang penuh kasih. Jika anak-anak dapat merasakan suasana demikian, mereka tidak akan membiarkan keragu-raguan atau kesalahan mereka terpendam dalam hati karena takut menceritakannya kepada orang tua. Mereka mengetahui bahwa mereka dapat mengutarakan isi hatinya dengan harapan bahwa orang tua akan mengerti, dan bahwa segala masalah akan ditangani dengan penuh kasih sayang. (Periksa 1 Yohanes 4:17-19; Ibrani 4:15, 16.) Dengan demikian rumah bukan sekedar tempat berteduh saja, tetapi juga tempat perlindungan. Dengan kasih sayang orang tua, jiwa anak akan berkembang baik.
29 Jika anda masukkan karet busa dalam air cuka, tentu saja karet busa itu tidak mungkin berisi air. Karet busa itu hanya dapat menyerap apa yang ada di sekelilingnya. Ia dapat juga menyerap air jika direndam dalam air. Demikian juga anak-anak cepat sekali menyerap apa yang terdapat di lingkungan mereka. Mereka merasakan sikap-sikap dan semaunya mereka serap seperti karet busa. Anak-anak merasakan bagaimana perasaan anda, yaitu apakah tegang atau damai-sentosa. Bahkan anak bayi cepat menangkap suasana rumah tangga. Karena itu suasana rumah yang penuh iman, kasih, kerohanian dan selalu bersandar kepada Allah Yehuwa tidak ternilai harganya.
30. Hal-hal apa yang patut ditanyakan kepada diri sendiri oleh orang tua untuk mengetahui pasti apakah mereka memberikan bimbingan terbaik kepada anak-anak mereka?
30 Cobalah anda bertanya kepada diri sendiri: Persyaratan yang bagaimanakah yang anda ingin supaya dipenuhi oleh anak anda? Apakah anda berdua selaku orang tua memenuhi persyaratan tersebut? Apa yang menjadi tujuan keluarga anda? Bagaimana anda berdua memberikan contoh kepada anak itu? Apakah anda sering mengomel, mencari-cari kesalahan, mengecam orang lain, dan membicarakan soal-soal negatip? Apakah anda menginginkan anak-anak anda menjadi orang seperti itu? Ataukah anda menganut patokan hidup yang lebih luhur dan berusaha hidup sesuai dengan patokan-patokan tersebut, dan karena itu menginginkan agar anak-anak meniru anda? Apakah anak-anak anda mengerti bahwa sebagai anggota keluarga mereka harus memenuhi persyaratan tertentu? Bahwa tingkah laku tertentu dianggap baik dan tindakan serta sikap tertentu tidak? Anak-anak lebih senang jika merasakan dirinya sebagian dari keluarga. Karena itu pujilah mereka jika mereka memenuhi persyaratan keluarga. Sifat manusia pada umumnya adalah, untuk hidup menurut apa yang diharapkan orang lain daripadanya. Bila anda menilai anak anda buruk, boleh jadi dia akan menjadi demikian. Jika yang baik diharapkan daripada anak anda, maka anda menganjurkannya untuk menjadi baik.
31. Nasihat dan petunjuk orang tua selalu harus didukung oleh apa?
31 Orang lebih menilai perbuatan daripada perkataan. Demikian juga anak-anak. Mereka lebih memperhatikan tingkah laku daripada tutur kata seseorang. Mereka dengan cepat melihat adanya kemunafikan. Anak-anak menjadi bingung jika mendengar terlalu banyak perkataan. Karena itu jagalah agar anda juga melakukan sesuai dengan apa yang anda katakan.—1 Yohanes 3:18.
32. Nasihat siapakah yang senantiasa patut ditaati?
32 Entah anda seorang ayah atau seorang ibu, peranan anda merupakan suatu tantangan bagi anda. Namun tantangan dapat dihadapi dengan sukses jika kita memperhatikan nasihat Pemberi kehidupan. Lakukanlah tugas yang diberikan kepada anda dengan sungguh-sungguh, seperti untuk Dia. (Kolose 3:17) Jangan bersikap ekstrim tetapi jaga keseimbangan anda. Dan ”biarlah semua orang melihat diri anda sebagai seorang rasionil [berakal sehat],” termasuk anak-anak anda sendiri.—Filipi 4:5, NW.
[Gambar di hlm. 100]
Air muka ibu, sentuhan serta nada suaranya menyatakan kepada bayinya, ”Aku sayang padamu.”
[Gambar di hlm. 104]
Apakah direncanakan kegiatan bersama anak-anak?
-
-
Mendidik Anak Sejak LahirMembina Keluarga Bahagia
-
-
Pasal 9
Mendidik Anak Sejak Lahir
1-4. Berikan bukti-bukti bahwa anak kecil memiliki kemampuan yang luar biasa untuk belajar.
SERING orang membandingkan pikiran bayi yang baru lahir dengan halaman kertas yang masih kosong tanpa tulisan apa-apa. Tetapi sebenarnya pikiran sang bayi sudah sempat diisi dengan kesan-kesan tertentu ketika masih berada dalam kandungan. Dan sifat-sifat kepribadian tertentu yang diturunkan dari orang tuanya, sudah tergores dan tidak dapat dihapuskan lagi. Akan tetapi kemampuan yang menakjubkan untuk belajar sudah ada sejak bayi itu dilahirkan. Pikiran anak bukan saja seperti selembar kertas, tetapi seperti suatu perpustakaan lengkap yang tinggal mencetak bahan keterangan pada halaman-halaman yang tersedia.
2 Pada saat kelahiran otak bayi hanya seperempat beratnya otak orang dewasa. Tetapi otak berkembang demikian cepatnya sehingga dalam waktu hanya dua tahun sudah mencapai tiga perempat beratnya otak orang dewasa! Selama perkembangan tersebut kecerdasan anak juga bertambah terus. Menurut para ahli penyelidik pertumbuhan kecerdasan anak dalam empat tahun pertama sebanding dengan pertumbuhan dalam tiga belas tahun berikutnya. Sesungguhnya, menurut beberapa ahli ”pengertian-pengertian yang diperoleh seorang anak sebelum mencapai usia lima tahun merupakan yang paling sulit yang akan pernah dihadapinya dalam kehidupan.”
3 Gagasan dasar seperti apa yang dimaksud dengan kiri-kanan, atas-bawah, kosong dan penuh, perbandingan ukuran dan berat benda-benda kelihatannya bukan masalah bagi kita. Tetapi anak kecil harus mempelajari semua ini dan masih banyak gagasan lain. Bahkan gagasan tutur kata pun harus ditanamkan dan dibentuk dalam pikiran sang bayi.
4 Ada yang berpendapat bahwa bahasa ”boleh jadi merupakan tugas intelektuil yang paling sukar yang pernah dikerjakan oleh manusia.” Mungkin anda pun setuju akan hal ini, seandainya anda pernah harus berjuang untuk mempelajari suatu bahasa yang baru. Tetapi anda masih beruntung. Setidak-tidaknya anda mengerti bagaimana bahasa itu harus digunakan. Bayi tidak tahu, tetapi pikirannya sanggup menangkap pengertian bahasa dan kemudian menggunakannya. Bukan itu saja, anak-anak kecil yang tinggal di rumah atau lingkungan di mana dua bahasa digunakan bahkan bisa fasih menggunakan bahasa-bahasa tersebut—sebelum mereka mulai sekolah! Jadi anak-anak memiliki otak yang cerdas, yang tinggal dikembangkan lebih lanjut!
PENDIDIKAN HARUS SEGERA DIMULAI!
5. Sejak kapan anak-anak harus segera diajar?
5 Ketika menulis surat kepada Timotius temannya, rasul Paulus antara lain mengingatkan bahwa Timotius sudah mengenal firman Allah ”dari kecil [dari bayi, NW].” (2 Timotius 3:15) Orang tua yang bijaksana menyadari keinginan alamiah dari anak untuk belajar. Bayi suka memperhatikan, melihat serta mendengarkan dengan penuh perhatian. Entah disadari orang tua atau tidak, si kecil itu menyerap dan menyimpan segala sesuatu yang terjadi di sekitarnya, sambil menarik kesimpulan. Sesungguhnya, jika orang tua kurang hati-hati, dalam waktu singkat anak itu mulai pandai mempermainkan mereka untuk menuruti keinginannya. Karena itu nasihat Firman Allah berlaku mulai dari saat lahirnya seorang anak. ”Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.” (Amsal 22:6) Tentu saja hal pertama yang dipelajari adalah mengenai kasih sayang, dengan menunjukkan kasih sayang dan perhatian sebesar-besarnya. Namun di samping itu ia harus belajar disiplin yang diberikan dengan lemah lembut, tetapi tegas.
6. (a) Sebaiknya orang tua harus bicara dengan bahasa yang bagaimana terhadap anak mereka? (b) Bagaimana seharusnya sikap terhadap pertanyaan-pertanyaan yang diajukan seorang anak?
6 Jangan gunakan ”bahasa anak” bila anda bicara dengan bayi. Gunakanlah bahasa orang dewasa yang sederhana, karena anda menghendaki ia belajar bahasa yang baik. Ketika anak itu belajar bicara, ia akan menghujani anda dengan segala macam pertanyaan. Misalnya: ’Mengapa turun hujan? Saya ini dari mana? Ke mana perginya bintang-bintang jika siang hari? Apa yang kalian lakukan? Mengapa begini? Mengapa begitu?’ Tiada habis-habisnya mereka bertanya! Dengarkan baik-baik pertanyaan mereka, karena pertanyaan merupakan sarana terbaik bagi anak kecil untuk belajar. Jika kita bendung pertanyaan-pertanyaannya, kita juga membendung perkembangan mental anak tersebut.
7. Bagaimana sebaiknya orang tua menjawab pertanyaan seorang anak, dan mengapa?
7 Tetapi hendaknya seperti rasul Paulus anda jangan lupa bahwa ”ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak.” (1 Korintus 13:11) Jawablah pertanyaan mereka sebaik mungkin, tetapi dengan sederhana dan singkat saja. Bila anak bertanya, ’Mengapa turun hujan?’ janganlah anda jawab terlalu panjang lebar. Mungkin cukup dengan mengatakan, ’Awannya mulai penuh dengan air, sehingga airnya jatuh.’ Perhatian anak tidak pernah lama, sebentar sudah berpindah ke hal lain. Maka sebagaimana anda memberikan kepadanya air susu dan berangsur-angsur makanan keras, berikanlah keterangan yang sederhana sampai anak itu dapat memahami penjelasan yang lebih terperinci.—Periksa juga Ibrani 5:13, 14.
8, 9. Cara bagaimana orang tua dapat mengajar anak secara setahap demi setahap untuk membaca?
8 Pelajaran anak-anak hendaknya diberikan secara bertahap. Seperti dikatakan, Timotius sudah kenal Alkitab sejak kecil. Rupanya apa yang masih teringat olehnya mengenai masa kecilnya adalah bahwa ia mendapat pelajaran Alkitab. Tentu pelajaran Alkitab demikian dilakukan secara bertahap, sama seperti seorang ayah atau ibu di zaman sekarang mulai mengajar anaknya membaca. Bacakan dahulu untuk anak anda. Bila masih kecil, pangkulah dia dan dengan tangan anda merangkulnya, bacakan dengan suara yang menyenangkan. Anak itu akan dihangatkan oleh rasa sukacita dan tenteram, dan pembacaan tersebut akan merupakan pengalaman yang menyenangkan, biarpun tidak banyak yang dimengertinya. Kemudian anda dapat mengajarkan abjad kepadanya, mungkin dalam bentuk permainan. Lalu menyusun kata-kata, dan akhirnya membuat kalimat dari kata-kata yang sudah dikenalnya. Dan sedapat mungkin, jadikanlah belajar sesuatu yang menyenangkan.
9 Sepasang suami-isteri, misalnya, biasa membaca bersama anak mereka yang berumur tiga tahun, sambil menunjuk tiap kata yang dibacakan, supaya anak itu dapat mengikuti mereka. Sewaktu-waktu mereka berhenti sejenak dan anak itu mengucapkan kata-kata selanjutnya, seperti ”Allah,” ”Yesus,” ”manusia,” ”pohon.” Lambat-laun anak itu dapat membaca sebagian besar dari kata-kata. Di samping membaca anak dapat belajar menulis, mula-mula huruf demi huruf, dan kemudian beberapa suku kata dan akhirnya seluruh kata. Betapa bangganya seorang anak bila dapat menulis namanya sendiri!
10. Mengapa lebih bijaksana untuk membantu anak-anak mengembangkan kemampuan mereka masing-masing?
10 Tiap anak berbeda, masing-masing dengan kepribadian tersendiri, dan harus dibantu mengembangkan diri sesuai dengan bakat kemampuan yang dimilikinya. Jika setiap anak dididik untuk memperkembangkan kemampuan, dan kelebihan yang dimiliki, ia tak perlu merasa iri atas prestasi yang dicapai oleh anak-anak lain. Tiap anak hendaknya dicintai dan dihargai karena sifatnya masing-masing. Memang anda harus membantunya mengatasi atau mengendalikan kecenderungan tidak baik yang timbul, tetapi jangan memaksakan anak itu mengikuti suatu ”cetakan” kepribadian tertentu. Bimbinglah agar sifat-sifat kepribadiannya sendiri yang baik dapat diperkembangkan sedapat-dapatnya.
11. Mengapa tidak bijaksana untuk menunjukkan kekurangan seorang anak dengan cara membanding-bandingkan dengan yang lain?
11 Orang tua dapat menimbulkan sifat persaingan yang tidak sehat dengan membanding-bandingkan seorang anak dengan anak yang lain, yaitu mana yang lebih baik dan mana yang kurang baik. Meskipun dari kecil anak-anak sudah memperlihatkan sifat mementingkan diri yang dibawa dari lahir, namun sebenarnya mereka tidak mengenal pangkat atau kedudukan, keunggulan di atas orang lain, dan sikap menganggap diri penting. Itu sebabnya Yesus menggunakan anak kecil sebagai contoh untuk menegur murid-muridnya, ketika pada sekali peristiwa mereka memperlihatkan semangat bersaing dan menganggap diri lebih penting. (Matius 18:1-4) Karena itu, jangan sekali-kali membanding-bandingkan seorang anak dengan anak yang lain untuk menunjukkan kelemahannya. Anak itu dapat menganggap cara demikian sebagai petunjuk bahwa ia tidak disukai. Mula-mula ia akan sakit hati, dan jika hal ini sering terjadi, lama-kelamaan ia akan bersikap memusuhi. Sebaliknya, anak yang selalu dipuji-puji seolah-olah lebih unggul dapat menjadi tinggi hati, sehingga akhirnya tidak disukai orang. Kasih sayang dan kemesraan anda sebagai orang tua janganlah ditentukan oleh kelebihan atau kekurangan tiap anak. Adanya variasi lebih menarik. Suatu orkes terdiri dari segala macam alat musik untuk menghasilkan variasi dan kelengkapan, namun seluruhnya harmonis. Demikian juga kepribadian yang berbeda menambah variasi yang menarik dalam keluarga, tetapi mereka akan tetap harmonis selama semua mengikuti prinsip-prinsip yang benar dari Pencipta.
BANTU ANAK ANDA UNTUK BERKEMBANG
12. Mengenai orang-orang dewasa, fakta-fakta apa memperlihatkan bahwa anak-anak membutuhkan pengarahan yang baik?
12 Menurut Firman Allah ”orang yang berjalan tidak berkuasa untuk menetapkan langkahnya.” (Yeremia 10:23) Dengan sombong manusia menyangkal hal ini. Maka mereka menolak bimbingan Allah, menerima pendapat manusia, sehingga mengalami berbagai kesulitan, dan akibatnya terpaksa mengakui bahwa Allahlah yang benar. Allah Yehuwa memperingatkan bahwa ada jalan yang disangka orang betul, tetapi akhirnya menuju kepada maut. (Amsal 14:12) Sudah lama manusia mencoba menempuh jalan yang kelihatannya benar di mata mereka, dan akibatnya ada peperangan, kelaparan, penyakit dan kematian. Jika jalan yang nampaknya baik di mata orang yang dewasa dan berpengalaman akhirnya menuju maut, bagaimana mungkin akhirnya akan lebih baik bila seorang anak menempuh jalan yang kelihatan baik di matanya sendiri? Jika orang dewasa tidak sanggup menentukan langkah-langkahnya, bagaimana anak kecil yang masih tertatih-tatih jalannya, bisa menentukan jalan hidupnya? Allah Pencipta memberi bimbingan kepada orang tua maupun anak-anak melalui Firman-Nya.
13, 14. Bagaimana orang tua dapat mengajar anak-anak sesuai dengan nasihat di Ulangan 6:6, 7?
13 Kepada orang tua, Allah berfirman: ”Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.” (Ulangan 6:6, 7) Kapan dan di mana saja, bila ada kesempatan yang cocok, orang tua harus mengajar anaknya. Ada baiknya jika keluarga dapat makan pagi bersama-sama, meskipun beberapa keluarga tergesa-gesa untuk bersiap-siap ke tempat kerja atau ke sekolah. Dengan doa terima kasih atas makanan, pikiran ditujukan kepada Allah Pencipta dan dapat disebutkan juga segi-segi rohani lain yang berguna bagi keluarga. Mungkin ada kesempatan untuk membicarakan bersama-sama apa yang akan dilakukan pada hari itu atau mengenai sekolah dan nasihat yang baik untuk mengatasi persoalan yang mungkin timbul sewaktu-waktu. Saat-saat hendak tidur, ”apabila engkau berbaring,” dapat merupakan saat-saat yang bahagia bagi anak-anak, jika orang tua memberikan sedikit lebih banyak perhatian kepada mereka. Bagi anak kecil cerita sebelum tidur besar sekali artinya dan seringkali praktis untuk mengajar anak-anak. Alkitab berisi bahan-bahan yang menarik sekali bagi anak kecil, tergantung bagaimana kepandaian dan semangat orang tua untuk menceritakannya. Pengalaman pribadi dari kehidupan anda sendiri, akan sangat menarik bagi anak-anak anda dan dapat memberikan beberapa pelajaran yang baik. Memang tidak mudah untuk tiap kali mencari cerita baru, tetapi sering anda akan mendapati bahwa anak-anak suka sekali mendengarkan cerita yang sama berulang kali. Anda akan dapati bahwa dengan menyediakan sedikit lebih banyak waktu, hubungan antara anda dan anak-anak senantiasa lebih terbuka. Berdoa bersama anak-anak sebelum tidur, dapat membantu untuk mulai menjalin hubungan dengan Dia yang terutama dapat membimbing dan melindungi mereka.—Efesus 3:20; Filipi 4:6, 7.
14 Di mana saja anda berada, ’duduk di rumah,’ atau ’di perjalanan,’ terdapat banyak kesempatan untuk mengajar anak anda dengan cara yang menarik dan jitu. Bagi anak-anak, sebagian pelajaran demikian dapat diberikan dalam bentuk permainan. Sepasang suami-isteri menceritakan bagaimana mereka melakukan ini supaya anak-anak mengingat apa yang dibahas di perhimpunan pelajaran Alkitab:
’Pada suatu petang kami membawa seorang anak laki-laki yang berumur enam tahun dan yang biasanya kurang menaruh perhatian selama perhimpunan. Dalam perjalanan menuju balai saya berkata: ”Ayo, kita bermain. Waktu pulang nanti siapa yang mengingat nyanyian-nyanyian yang kita nyanyikan dan hal-hal penting yang dibicarakan dalam perhimpunan.” Sewaktu pulang kami heran sekali. Anak laki-laki yang terkecil yang biasanya tidak memperhatikan selama perhimpunan mendapat kesempatan bicara yang pertama dan ternyata mengingat banyak hal. Lalu anak-anak kami menambahkan apa yang mereka ingat dan akhirnya kami berdua yang sudah dewasa juga. Mereka menganggapnya bukan sebagai tugas yang berat, tetapi hiburan yang menyenangkan.’
15. Cara bagaimana anak kecil dapat dianjurkan untuk memperbaiki prestasinya?
15 Semakin besar anak, mulailah ia mengemukakan pikirannya, menggambar-gambar, melakukan tugas-tugas tertentu, serta memainkan alat musik. Ia merasa dirinya mulai berhasil. Sedikit banyak, apa yang dilakukannya merupakan sebagian dari kepribadiannya, sehingga penting sekali baginya. Jika anda melihat hasil karyanya lalu mengatakan ’Bagus,’ bukan main senangnya. Carilah sesuatu yang patut dipuji mengenai pekerjaannya, maka besarlah hatinya. Jika anda mengritiknya secara kasar, anak itu pasti akan menjadi kecil hati. Boleh saja anda mengajukan pertanyaan mengenai suatu segi yang masih kurang jika perlu, tetapi janganlah seolah-olah menolak hasil pekerjaannya. Misalnya, daripada mengambil gambar yang dilukisnya dan mengerjakan kembali, anda dapat menggunakan kertas lain untuk menerangkan bagaimana ia dapat memperbaiki hasil karyanya. Dengan demikian ia dapat membetulkan gambarnya sendiri, jika ia mau. Dengan memuji usahanya, anda membantunya untuk bertumbuh; jika anda mencelanya, anda justru membuatnya patah semangat atau mematikan keinginannya untuk mencoba lagi. Ya, prinsip di Galatia 6:4 juga berlaku untuk anak-anak: ”Baiklah tiap-tiap orang menguji pekerjaannya sendiri; maka ia boleh bermegah melihat keadaannya sendiri dan bukan melihat keadaan orang lain.” Dalam hal anak-anak, terutama usahanya yang mula-mula perlu dipuji. Jika apa yang ia lakukan memang baik, ditinjau dari umurnya, pujilah dia! Jika kurang baik, setidak-tidaknya puji anak itu karena ia berusaha, dan anjurkan dia untuk mencoba kembali. Bagaimanapun juga, tidak mungkin seorang anak belajar berjalan tanpa jatuh-jatuh dahulu.
CARA BAGAIMANA MENGAJAR MENGENAI SEKS
16. Berdasarkan petunjuk Alkitab, bagaimana kiranya orang tua harus menjawab pertanyaan anak-anak mengenai masalah seks?
16 Anda selalu menjawab pertanyaan anak anda dan menganjurkan dia untuk berkomunikasi. Tetapi tiba-tiba ia bertanya mengenai seks. Haruskah anda jawab dengan terus terang atau perlukah anda kelabui dia, misalnya dengan mengatakan bahwa adiknya diperoleh dari rumah bersalin? Apakah anda akan memberikan penjelasan yang benar, atau membiarkan mereka mendapat penjelasan yang kurang lengkap, bahkan Alkitab berterus terang mengenai soal-soal yang berhubungan dengan seks atau alat kelamin. (Kejadian 17:11; 18:11; 30:16, 17; Imamat 15:2) Ketika mengajar umat-Nya mengenai pertemuan-pertemuan di mana Firman-Nya dibacakan, Allah berkata: ”Seluruh bangsa itu berkumpul, laki-laki, perempuan dan anak-anak . . . supaya mereka mendengarnya dan belajar.” (Ulangan 31:12) Dengan demikian anak-anak mendengar pembicaraan mengenai soal-soal ini dalam suasana serius, penuh respek, bukan dalam ”bahasa jalanan.”
17-19. Bagaimana caranya untuk setahap demi setahap memberi penjelasan mengenai masalah seks kepada anak-anak?
17 Sebenarnya penjelasan mengenai soal-soal seks tidak begitu sulit seperti dibayangkan oleh kebanyakan orang tua. Anak-anak cepat mulai memperhatikan tubuh mereka, bagian-bagian tubuh mereka yang berlainan. Sebutlah nama bagian-bagian tersebut satu persatu: kaki, tangan, hidung, perut, pantat, kemaluan. Anak itu tak akan malu, kecuali anda sendiri tiba-tiba berubah dan bersikap ”ssstttt” mengenai bagian kelamin. Kebanyakan orang tua takut bahwa mereka harus menerangkan segala sesuatunya, sekali anak mulai bertanya. Padahal pertanyaan itu sedikit demi sedikit saja, sesuai dengan tingkat perkembangan anak itu. Di tiap tahap perkembangan anak tersebut, anda hanya perlu memilih kata-kata yang paling cocok dan penjelasan yang umum dan sederhana saja.
18 Misalnya, pada suatu hari anak bertanya: ’Dari mana datangnya bayi’? Cukup dijawab begini saja: ’Bayi itu tumbuh di perut mamanya.’ Biasanya jawaban demikian sudah lebih dari cukup. Belakangan anak itu mungkin bertanya: ’Cara bagaimana bayi itu keluar dari perut?’ ’Ada lubang khusus untuk itu.’ Dan biasanya jawaban demikian cukup memuaskan anak, untuk sementara waktu.
19 Nantinya timbul pertanyaan lain: ’Bagaimana asal mulanya bayi itu?’ Dapat anda jawab begini: ’Ayahnya dan ibunya mula-mula menginginkan anak. Benih dari ayahnya bertemu dengan sel telur ibunya, lalu jadilah seorang bayi yang main lama makin besar. Sama seperti benih yang dimasukkan ke tanah akan bertumbuh menjadi bunga atau pohon.’ Jadi, ceritanya bersambung terus, tetapi tiap babak cerita hanya mengungkapkan secukupnya agar memuaskan keinginan tahu anak itu untuk sementara waktu. Kemudian hari ia mungkin bertanya, ’Cara bagaimana benih ayahnya masuk ke tubuh ibunya?’ Mungkin dapat anda jawab begini: ’Kamu tahu bagaimana bentuk badan anak laki-laki. Ia mempunyai kemaluan. Perempuan mempunyai lubang di tubuhnya di mana itu bisa dimasukkan. Begitulah benih mulai ditanam. Manusia memang dijadikan seperti itu, supaya bayi dapat tumbuh di perut ibunya, dan akhirnya keluar sebagai anak.’
20. Mengapa lebih baik orang tua sendiri yang memberikan penjelasan kepada anak-anak mengenai masalah seks?
20 Penjelasan yang jujur seperti ini pasti lebih baik daripada cerita bohong atau bersikap ”sssstttt” yang menimbulkan kesan bahwa itu suatu pokok pembicaraan yang menjijikkan. (Periksa juga Titus 1:15.) Juga lebih baik supaya anak mendengar fakta-fakta dari orang tua sendiri, sebab mereka dapat memberi penjelasan lebih jauh mengapa kelahiran bayi itu sepatutnya terjadi hanya dalam hubungan suami-isteri yang saling mencintai, serta menerima tanggung jawab untuk merawat dan menyayangi bayi itu. Dengan demikian pembicaraan dibawa ke suatu tingkatan yang lebih sehat dan mengandung unsur kerohanian, sebaliknya daripada mendapat kesan bahwa masalah ini tidak pantas dibicarakan.
MENERUSKAN PELAJARAN HIDUP YANG PALING PENTING
21. Kecenderungan apa yang terdapat pada anak-anak sehingga penting bagi orang tua untuk memberi teladan yang baik kepada mereka?
21 Pernah Yesus mengumpamakan masyarakat pada zamannya seperti ”anak-anak yang duduk di pasar dan berseru kepada teman-temannya: ’Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak berkabung.’” (Matius 11:16, 17) Permainan anak-anak meniru apa yang biasa dilakukan orang-orang dewasa, bagaimana kalau berpesta dan bagaimana kalau berkabung. Karena anak-anak senang untuk meniru-niru, teladan yang diberikan oleh orang tua besar peranannya dalam pendidikan anak-anak.
22. Bagaimana tingkah laku orang tua dapat mempengaruhi anak mereka?
22 Sejak lahir bayi anda belajar segala sesuatu dari anda—bukan saja apa yang anda katakan, tetapi cara anda mengatakannya, melalui nada suara anda pada waktu anda berbicara: kepada bayi anda sendiri, kepada teman hidup dan kepada orang-orang lain. Anak itu memperhatikan sikap orang tua satu sama lain, maupun terhadap anggota keluarga yang lain dan terhadap para tamu. Teladan yang anda berikan dalam hal-hal ini mengandung suatu pelajaran yang jauh lebih penting daripada misalnya belajar berjalan atau belajar berhitung atau mengetahui abjad. Ini meletakkan dasar untuk pengetahuan serta pengertiannya yang diperlukan agar benar-benar hidup bahagia. Teladan yang diberikan memudahkan anak untuk menerima patokan-patokan yang benar pada waktu ia cukup besar untuk diajar melalui tutur kata dan pembacaan.
23, 24. Jika orang tua menginginkan anak-anak mereka memenuhi persyaratan tertentu, apa yang mereka sendiri harus lakukan?
23 ”Jadilah penurut-penurut Allah, seperti anak-anak yang kekasih dan hiduplah di dalam kasih,” demikian anjuran rasul Paulus kepada orang-orang Kristen. Sebelum menyampaikan anjuran tersebut, ia sudah menjelaskan apa artinya menjadi seperti Allah: ”Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan. Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu. Sebab itu jadilah penurut-penurut Allah, seperti anak-anak yang kekasih . . .” (Efesus 4:31, 32; 5:1, 2) Kalau anak kecil terus mendengar suara-suara dan melihat tindak-tanduk yang mengajarkan sikap kejengkelan, seperti berteriak-teriak, ribut dan mengecam, tidak mau mengalah dan melampiaskan amarah, suatu sikap akan tertanam dalam hati anak itu yang susah dihapuskan. Tetapi jika anda bersikap lemah lembut dan tenggang-menenggang, jika anda mempunyai budi pekerti yang luhur dan prinsip-prinsip yang baik, pasti anak anda akan meniru anda. Bertingkah lakulah seperti anda menghendaki anak anda bertingkah laku. Jadilah teladan untuk ditiru anak-anak anda.
24 Janganlah orang tua menganut dua macam pedoman hidup, yang satu untuk dikhotbahkan dan yang lain untuk dilakukan, yang satu untuk anak-anak dan yang lain untuk mereka sendiri. Apa gunanya untuk mengajar anak anda bahwa ia tidak boleh berdusta, jika anda sendiri suka berdusta. Jika anda sering melanggar janji anda kepada mereka, masakan anda dapat mengharapkan anak anda memegang janji mereka kepada anda? Jika suami-isteri sendiri tidak saling menghormati, masakan anak anda bisa diharapkan menaruh respek kepada mereka? Jika anak itu tidak pernah melihat ayah atau ibunya menunjukkan kerendahan hati, bagaimana mungkin ia sendiri bisa bersikap rendah hati? Bahayanya jika orang tua memberikan kesan seolah-olah ia selalu benar adalah, anak itu mungkin akan percaya bahwa segala sesuatu yang dilakukan oleh orang tuanya itu benar—biarpun orang tua melakukan sesuatu yang salah atau memperlihatkan sikap-sikap yang tidak sempurna dan berdosa. Bicara tanpa berbuat berarti munafik seperti orang-orang Farisi, mengenai mereka Yesus berkata: ”Sebab itu taati dan turutilah semuanya yang mereka suruh kalian perbuat. Tetapi janganlah melakukan apa yang mereka perbuat, sebab mereka tidak menjalankan apa yang mereka ajarkan.” Maka itu, jika anda tidak menginginkan orang-orang Farisi kecil, janganlah anda sendiri menjadi Farisi yang besar!—Matius 23:3.
25. Bagaimana seharusnya anak-anak diajar mengenai kasih sayang?
25 Anak-anak belajar mengenai kasih sayang setelah melihatnya sendiri, dan mulai memperlihatkan kasih sayang sesudah mereka mendapat sendiri kasih sayang. Kasih sayang tak dapat dibeli. Orang tua dapat membanjiri anak-anak mereka dengan hadiah. Tetapi kasih sayang menyangkut hal rohani, dari hati dan bukan dari dompet, dan hadiah-hadiah saja tak pernah dapat menggantikan kasih sayang. Jika orang mencoba membeli kasih, nilai dari kasih akan turun. Jangan hanya memberikan hadiah-hadiah benda, tetapi terutama berikan dari diri anda, waktu anda, tenaga anda, kasih sayang anda. Anda akan menerima kembali sebanyak yang anda berikan. (Lukas 6:38) Di 1 Yohanes 4:19 dikatakan mengenai kasih kita kepada Allah: ”Kita mengasihi sebab Allah sudah terlebih dahulu mengasihi kita.”
26, 27. Bagaimana anak-anak dapat diajar menyadari betapa senangnya memberi?
26 Anak-anak belajar memberi dengan terlebih dahulu menerima. Mereka dapat dibantu menyadari betapa senangnya memberi, melayani dan membagi dengan orang lain. Bantulah mereka mengerti bahwa memberi itu berbahagia—entah memberi sesuatu kepada anda, kepada anak lain, atau kepada orang-orang dewasa. Seringkali orang dewasa menolak pemberian anak-anak karena anggapan salah bahwa mereka menunjukkan kasih sayang dengan membiarkan anak-anak menyimpan sendiri apa yang ingin mereka berikan. Pernah seseorang memberikan pengalaman sendiri:
”Dulu saya sering menolak apabila seorang anak menawarkan permen kepada saya. Saya mengira tindakan saya baik, karena saya tidak mau menerima apa yang paling disukai anak itu. Tetapi ketika saya menolak pemberiannya, saya lihat anak itu justru sedih. Barulah saya sadar, bahwa saya telah menolak kebaikan hatinya, menolak hadiahnya, dan menolak dia sendiri. Sejak itu saya selalu menerima pemberian demikian, supaya si anak mengetahui betapa senangnya untuk memberi.”
27 Pernah ada orang tua yang ingin mengajar anak mereka yang masih kecil supaya meniru orang yang digambarkan Alkitab di 1 Timotius 6:18, yaitu orang yang ”murah hati dan suka memberi.” Ketika akan menghadiri pertemuan untuk pelajaran Alkitab, mereka memberikan uang kepada anaknya untuk dimasukkan ke dalam kotak sumbangan. Dengan demikian anak itu mengerti perlunya untuk menyokong usaha-usaha kerohanian, serta membantu menyediakan perkara-perkara materi yang diperlukan.
28, 29. Bagaimana anak-anak dapat diajar betapa pentingnya untuk meminta maaf atas kesalahan yang dilakukan?
28 Anak-anak belajar mengasihi dan bersifat murah hati, jika pelajaran yang diberikan disertai contoh yang bagus. Dengan cara ini mereka juga dapat belajar meminta maaf, apabila perlu. Ada orang tua berkata: ”Bila saya melakukan kesalahan terhadap anak saya, saya tidak segan-segan mengaku kesalahan saya. Secara singkat saya jelaskan mengapa saya membuat kesalahan dan bahwa saya telah bersalah. Dengan demikian mereka juga lebih mudah mengakui kesalahannya padaku, karena mengetahui bahwa saya pun tidak sempurna dan akan dapat mengerti.” Demikianlah misalnya pengalaman ketika seorang tamu yang belum dikenal mengunjungi suatu keluarga dan sang ayah memperkenalkan seluruh anggota keluarga kepadanya. Komentar tamu itu:
”Semuanya sudah diperkenalkan, kemudian masuk seorang anak kecil dengan muka tersenyum. Ayahnya berkata: ’Dan inilah si bungsu dengan baju kotor penuh coklat.’ Senyuman anak itu langsung hilang dan dari mukanya kelihatan bahwa ia tersinggung. Melihat anaknya hampir menangis karena malu, ayahnya segera merangkul dia dan berkata: ’Wah, ayah salah omong. Maafkan ayah nak.’ Anak itu terisak sebentar, lalu meninggalkan ruangan. Tetapi ia segera kembali, senyumnya bahkan lebih lebar ia sudah memakai baju yang bersih.”
29 Kerendahan hati demikian mempererat hubungan. Tentu saja, satu waktu orang tua dapat menjelaskan kepada anaknya, bagaimana dapat memiliki pandangan seimbang terhadap berbagai masalah kehidupan, baik yang kecil maupun yang besar. Orang tua harus mengajar anaknya untuk jangan terlalu serius menanggapi soal-soal kecil; supaya anaknya dapat tertawa atas kelakuannya sendiri, dan tidak mengharapkan terlalu banyak dari orang lain; sebab bukankah ia sendiri juga lebih senang jika orang tidak mengharapkan terlalu banyak daripadanya?
TANAMKAN NILAI-NILAI KEHIDUPAN YANG BENAR
30-32. Mengapa penting sekali bagi orang tua untuk mulai membantu anak mereka sejak kecil agar mengerti mengenai hal-hal yang paling berharga dalam kehidupan?
30 Banyak orang tua dewasa ini bingung mengenai nilai-nilai kehidupan yang harus dijadikan pegangan. Tidak heran mengapa banyak anak akhir-akhir ini tidak pernah dibekali dengan nilai-nilai kehidupan yang diperlukan. Ada orang tua yang bahkan mulai ragu-ragu akan hak mereka untuk membentuk sikap anak mereka. Jika orang tua tidak berbuat apa-apa, tugas tersebut akan diambil alih teman-teman, oleh para tetangga, atau oleh bioskop dan televisi. Jurang antara tua dan muda, pembangkangan kaum muda, penggunaan obat bius, kemerosotan ahlak dan revolusi seks—semua hal ini membuat orang tua takut. Padahal kepribadian anak itu sudah ditentukan sebelum masalah-masalah tersebut timbul dalam kehidupan.
31 Menurut suatu penyelidikan yang dimuat dalam sebuah majalah ilmiah, ”sebagian besar kepribadian seseorang sudah terbentuk sebelum anak mulai bersekolah. Bahkan, umumnya diakui bahwa anak-anak prasekolah mudah sekali dibentuk kepribadiannya. . . . Dan hasil penyelidikan kami menunjukkan bahwa apa yang dialami anak-anak itu semasa kecil mereka, yaitu sikap-sikap serta pengalaman yang diperolehnya, sering mempengaruhi tingkah laku anak itu untuk seumur hidupnya, yang kadang-kadang bahkan tidak mungkin dirubah lagi.”
32 Pola pertumbuhan yang bengkok bisa saja dirubah, tetapi ahli riset yang lain menerangkan apa yang terjadi jika tahun-tahun pertama yang paling berharga itu dibiarkan lewat begitu saja: ”Anak-anak masih dapat dibentuk kepribadiannya selama tujuh tahun pertama, tetapi makin lama anda harus merubah suasana kehidupannya secara drastis—dan kemungkinan bahwa anak itu masih dapat berubah makin kecil dengan berlalunya tiap tahun.”
33. Apakah ajaran-ajaran yang terpenting yang harus dimengerti oleh anak-anak?
33 Bukan main banyaknya pengertian dasar yang harus dipelajari dan dipahami oleh anak kecil. Tetapi yang paling penting adalah mengenai apa yang benar dan apa yang salah, apa yang baik dan apa yang tidak baik. Ketika menulis surat kepada orang-orang Kristen di kota Efesus, rasul Paulus menganjurkan mereka untuk benar-benar menggali pengetahuan yang saksama. Katanya: ”Kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan, tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala.” (Efesus 4:13-15) Bila orang tua lamban membantu anak mereka untuk lebih mencintai kebenaran dan kejujuran, serta lebih senang akan apa yang baik dan benar, anak-anak itu seperti tidak mempunyai perlindungan terhadap kecerobohan dan kesesatan. Tanpa disadari orang tua, tahu-tahu masa prasekolah anak itu telah berlalu. Janganlah anda biarkan itu terjadi. Manfaatkan baik-baik tahun-tahun pertama yang penting untuk membina kepribadian anak itu, supaya anak anda menganut nilai-nilai kehidupan yang baik. Anda tak usah mengalami penyesalan di kemudian hari.—Amsal 29:15, 17.
34. Mengapa patokan-patokan yang tidak akan pernah berubah itu penting, dan apakah sumber yang terbaik dari patokan-patokan tersebut?
34 ”Sebab dunia seperti yang kita kenal sekarang akan berlalu,” demikian tulis rasul yang terilham, dan hal ini memang benar dalam soal patokan-patokan materi, emosi dan moral. (1 Korintus 7:31) Hampir tidak ada hal yang tetap stabil di dunia ini. Orang tua harus sadar bahwa sebagai manusia tidak sempurna, mereka pun dapat mengalami kegagalan dalam hal ini. Jika orang tua benar-benar memikirkan keselamatan dan kebahagiaan anak-anak mereka di kemudian hari, mereka akan memberikan pengarahan kepada anak-anak, menjelaskan nilai-nilai mana yang tidak akan pernah berubah. Caranya dengan mengajar kepada anak-anak sejak kecil bahwa pertanyaan apapun yang timbul, masalah apapun yang perlu dipecahkan, Alkitab, Firman Allah yang tertulis, memberikan jalan keluar yang pasti bermanfaat. Betapa pun membingungkan atau kaburnya keadaan yang sedang dihadapi, Firman Allah akan selalu menjadi ’pelita bagi kakinya, dan terang bagi jalannya.’—Mazmur 119:105.
35. Betapa pentingkah pendidikan anak-anak oleh orang tua mereka?
35 Ya, sekaranglah peluang emas bagi anda untuk mulai membubuh dasar di hati anak-anak anda, mengenal nilai-nilai kehidupan yang akan menjadi pedoman mereka di kemudian hari. Tiada tugas lebih utama, tiada pekerjaan lebih penting, daripada mendidik anak-anak anda. Saat untuk mulai harus sejak anak itu dilahirkan, sejak masa bayinya!
[Gambar di hlm. 117]
Tanamkan keinginan belajar
-
-
Faedah Disiplin dalam KasihMembina Keluarga Bahagia
-
-
Pasal 10
Faedah Disiplin dalam Kasih
1. Apa yang diperlukan agar anak-anak selalu taat kepada orang tua?
BUKANLAH secara kebetulan bila anak-anak bersifat penurut dan berbudi bahasa yang baik. Diperlukan pendidikan melalui contoh maupun disiplin.
2. Bagaimana pandangan banyak ahli psikologi-anak bertentangan dengan nasihat Alkitab?
2 Banyak ahli psikologi-anak melarang orang tua untuk menghukum anak. Salah seorang di antaranya mengatakan: ”Sadarkah ibu bahwa tiap kali anda memukul anak, sebenarnya anda menunjukkan kebencian terhadapnya?” Tetapi dalam Firman-Nya, Allah berkata: ”Siapa tidak menggunakan tongkat, benci kepada anaknya; tetapi siapa mengasihi anaknya, menghajar [mendisiplin, NW] dia pada waktunya.” (Amsal 13:24) Beberapa puluh tahun yang lalu, banyak buku membanjiri pasaran mengenai pendidikan anak, terutama di negara-negara Barat. Semuanya menganjurkan orang tua supaya jangan bertindak terlalu keras terhadap anak mereka. Disiplin dapat mengekang pertumbuhan anak-anak, kata para ahli psikologi; dan mengenai memukul, mendengarnya saja pun mereka sama sekali tidak senang. Teori-teori demikian bertentangan langsung dengan nasihat Allah Yehuwa. Firman-Nya mengatakan, ’apa yang ditabur, itu pulalah yang akan dituai’. (Galatia 6:7) Dan apa yang telah dibuktikan setelah berpuluh tahun orang tua menabur sikap memberi kebebasan kepada anak-anak?
3, 4. Apa akibatnya jika kurang ada disiplin dalam rumah tangga, dan karena itu apa yang dianjurkan oleh banyak orang?
3 Sebagai akibatnya, merajalelanya kejahatan dan kenakalan anak-anak sudah umum di mana-mana. Di banyak negara industri, kejahatan anak-anak kini sudah meliputi 30 persen lebih dari semua kejahatan besar yang dilakukan orang. Di banyak negeri, kampus-kampus sekolah merupakan bibit persemaian, pangkal segala perpecahan, perkelahian, umpat-umpatan kotor, pengrusakan harta benda, pengeroyokan, pemerasan, pembakaran, perampokan, perkosaan, penggunaan obat-obat terlarang dan pembunuhan. Seorang tokoh persatuan guru di sebuah negara besar berpendapat bahwa masalah kurangnya disiplin adalah karena sekolah-sekolah telah gagal untuk mengambil hati anak-anak ketika masih kecil. Ia mengatakan timbulnya kenakalan anak-anak karena peranan keluarga sudah berkurang, dan orang tua tidak mengajarkan lagi aturan-aturan tingkah laku yang baik kepada anak-anak mereka. Dan dalam pembahasan mengenai masalah ’mengapa ada anggota keluarga yang bisa menjadi penjahat, sedangkan anggota lainnya tidak,’ The Encyclopædia Britannica berkata: ”Ini mungkin disebabkan karena kebijaksanaan banyak keluarga dalam hal disiplin terlalu lemah, atau terlalu tegas, atau tidak konsekwen. Menurut hasil penyelidikan di Amerika Serikat, didikan kurang baik ada sangkut pautnya dengan kira-kira 70 persen pelaku kejahatan.”
4 Pengalaman buruk itu menyebabkan banyak orang sekarang berbalik pendapat, sehingga kembali menganjurkan orang tua untuk menegakkan disiplin.
TONGKAT DISIPLIN
5. Bagaimana pandangan Alkitab soal memukul anak?
5 Seorang anak mungkin dapat diselamatkan jika ia dipukul, karena Firman Allah berkata: ”Jangan menolak didikan [disiplin, NW] dari anakmu ia tidak akan mati kalau engkau memukulnya dengan rotan. Engkau memukulnya dengan rotan, tetapi engkau menyelamatkan nyawanya dari dunia orang mati [kuburan].” ”Kebodohan melekat pada hati orang muda, tetapi tongkat didikan [disiplin, NW] akan mengusir itu dari padanya.” (Amsal 23:13, 14; 22:15) Jika orang tua mengutamakan keselamatan anak mereka, mereka tidak akan bersikap lemah atau masa bodoh sehingga lalai bertindak. Kasih akan menggerakkan mereka untuk bertindak secara bijaksana dan adil, bila memang diperlukan.
6. Apa yang tercakup dalam menjalankan disiplin?
6 Disiplin itu sendiri tidak terbatas kepada tindakan menghukum. Pada prinsipnya disiplin berarti ’mengajar dan mendidik berdasarkan suatu aturan atau pola dasar tertentu’. Itulah sebabnya mengapa dalam Amsal 8:33 bukannya dikatakan, ’rasakanlah disiplin,’ melainkan ’dengarkanlah didikan [disiplin, NW], maka kamu menjadi bijak’. Menurut 2 Timotius 2:24, 25, ”harus ramah terhadap semua orang. Ia harus cakap mengajar, sabar dan dengan lemah lembut dapat menuntun orang yang suka melawan.” Kata ”mengajar” di sini merupakan terjemahan dari kata bahasa Yunani yang berarti ”mendisiplin.” Kata yang sama juga terdapat dalam Ibrani 12:9: ”Dari ayah kita yang sebenarnya kita beroleh ganjaran [mendisiplin, NW], dan mereka kita hormati; kalau demikian bukankah kita harus lebih taat kepada Bapa segala roh, supaya kita boleh hidup?”—New English Bible.
7. Apakah manfaatnya jika orang tua menegakkan disiplin?
7 Orang tua yang kurang menjalankan disiplin tidak akan dihormati oleh anaknya, sama saja seperti penguasa tidak dihormati oleh masyarakat, jika membiarkan orang berbuat jahat tanpa mengambil tindakan. Bagi seorang anak, disiplin yang dijalankan dengan baik membuktikan bahwa orang tuanya sayang padanya. Disiplin menciptakan kedamaian rumah tangga, karena ”kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya.” (Ibrani 12:11) Di rumah tangga manapun juga, anak-anak yang bandel dan tidak menurut merupakan sumber kejengkelan. Dan anak-anak demikian tidak pernah merasakan kepuasan, bahkan terhadap diri sendiri pun tidak. ”Didiklah anakmu, maka ia akan memberikan ketenteraman kepadamu, dan mendatangkan sukacita kepadamu.” (Amsal 29:17) Dengan mendapat teguran yang tegas tetapi penuh kasih, seorang anak bisa mendapat pandangan baru, dan seakan-akan memulai lembaran yang baru. Seringkali anak demikian lebih menyenangkan dalam pergaulan. Disiplin benar-benar ”menghasilkan buah . . . yang memberikan damai.”
8. Bagaimana orang tua dapat mendisiplin dengan kasih?
8 ”Tuhan menghajar [mendisiplin, NW] orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.” (Ibrani 12:6) Demikian juga yang dilakukan oleh orang tua yang menginginkan apa yang terbaik bagi anak-anaknya. Disiplin harus dijalankan terdorong oleh kasih. Memang wajar jika orang marah karena kenakalan anaknya, tetapi menurut Alkitab hamba Allah harus ”sabar.” (2 Timotius 2:24) Setelah kemarahan seseorang mereda, seringkali kesalahan anak itu nampaknya tidak demikian besar lagi. ”Akal budi membuat seseorang panjang sabar dan orang itu dipuji karena memaafkan pelanggaran.” (Amsal 19:11; periksa juga Pengkhotbah 7:8, 9.) Mungkin saja kesalahan dapat dimaafkan bila mengingat keadaan waktu itu: Mungkin saja anak sedang letih atau kurang enak badan. Mungkin ia memang lupa sama sekali apa yang dipesankan kepadanya, orang dewasa saja sering lupa juga, bukan? Tetapi sekalipun kesalahan yang dilakukan tidak dapat dimaafkan, disiplin bukanlah sekedar ledakan amarah yang tidak terkendali atau pukulan yang melayang, sebagai pelampiasan emosi orang tua. Disiplin bersifat mendidik, dan dengan suatu ledakan amarah anak itu memang mendapat suatu pelajaran. Bukan pelajaran dalam hal pengendalian diri, melainkan mengenai kurangnya pengendalian diri. Dengan cara demikian anak itu kurang merasakan kasih sayang yang diperlihatkan melalui disiplin yang baik. Maka, keseimbangan itu perlu dan membawa perdamaian.
PEMBATASAN-PEMBATASAN YANG CUKUP TEGAS
9. Selaras dengan Amsal 6:20-23, hal apa yang perlu disediakan oleh orang tua bagi anak-anak mereka?
9 Orang tua harus menetapkan aturan-aturan sebagai pedoman bagi anak-anak mereka. ”Hai anakku, peliharalah perintah ayahmu, dan janganlah menyia-nyiakan ajaran ibumu. Tambatkanlah senantiasa semuanya itu pada hatimu, kalungkanlah pada lehermu. Jikalau engkau berjalan, engkau akan dipimpinnya, jikalau engkau berbaring, engkau akan dijaganya, jikalau engkau bangun, engkau akan disapanya. Karena perintah itu pelita, dan ajaran itu cahaya, dan teguran yang mendidik itu jalan kehidupan.” Petunjuk-petunjuk orang tua demikian menjadi pedoman dan perlindungan bagi anaknya, serta memperlihatkan bahwa orang tua memikirkan kesejahteraan dan kebahagiaan anak mereka.—Amsal 6:20-23.
10. Apa yang bisa terjadi jika orang tua tidak mendisiplin anak-anak mereka?
10 Betapa besar tanggung-jawab seorang ayah yang gagal melakukan hal ini! Imam Besar Eli di negeri Israel zaman dahulu, membiarkan anak-anaknya bertindak serakah, kurang ajar dan tidak bermoral; memang ia mengomeli mereka, tetapi ia tidak pernah mengambil tindakan tegas untuk menghentikan perbuatan mereka yang bejat. Maka Allah pun berfirman: ”Kuberitahukan kepadanya, bahwa Aku akan menghukum keluarganya untuk selamanya karena dosa yang telah diketahuinya, yakni bahwa anak-anaknya telah menghujat Allah, tetapi ia tidak memarahi mereka.” (1 Samuel 2:12-17, 22-25; 3:13) Demikian pula jika seorang ibu gagal melakukan tugasnya, ia akan menderita malu: ”Tongkat dan teguran mendatangkan hikmat, tetapi anak yang dibiarkan mempermalukan ibunya.”—Amsal 29:15.
11. Mengapa perlu untuk mengadakan pembatasan-pembatasan tertentu bagi anak-anak?
11 Anak-anak perlu mendapat pembatasan-pembatasan. Tanpa itu mereka merasa gelisah. Dengan adanya pembatasan-pembatasan dan dengan mentaatinya akan membuat anak-anak merasa bagian dari suatu kelompok; mereka termasuk di dalamnya dan diterima sebagai anggota karena menyesuaikan diri dengan aturan-aturan yang berlaku. Bila orang tua selalu bersikap mengiakan, anak-anak kehilangan pegangan yang mereka butuhkan. Kenyataan menunjukkan bahwa anak-anak membutuhkan orang dewasa yang tegas mengatakan batas-batas mana yang tidak boleh dilanggar, dan tidak segan-segan menyampaikan hal ini kepada mereka. Anak-anak perlu menyadari bahwa ada batas-batas tertentu bagi mendapat hukuman apa-apa. Bila hukuman terlalu lamban, siapa pun juga di bumi dan bahwa hal ini menghasilkan kebaikan dan kebahagiaan. Kita hanya dapat merasa bebas jika orang lain menghargai batas-batas kebebasan kita dan sebaliknya kita pun mengakui kebebasan mereka. Jika kita melanggar batas-batas yang benar, itu berarti ’memperlakukan dengan tidak baik dan memperdayakan saudara-saudara kita’.—1 Tesalonika 4:6.
12. Mengapa disiplin-diri penting, dan bagaimana orang tua dapat membantu anak mereka untuk memiliki disiplin-diri demikian?
12 Anak-anak perlu mengerti bahwa mereka akan mendapat hukuman jika melanggar batas-batas yang benar, supaya mereka menyadari batas-batas mereka. Dan dengan adanya ketegasan dan bantuan orang tua, akhirnya anak-anak mulai memiliki disiplin-diri yang mereka butuhkan untuk hidup bahagia. Ada dua kemungkinan, atau kita mendisiplin diri sendiri, atau disiplin itu akan menimpa kita dari sumber lain. (1 Korintus 9:25, 27) Jika kita memperkembangkan disiplin-diri dan membantu anak-anak kita untuk berbuat yang sama, kehidupan kita dan anak-anak kita akan lebih berbahagia, lebih bebas dari kesusahan dan penderitaan batin.
13. Hal-hal penting apakah perlu disadari oleh orang tua dalam menetapkan aturan-aturan bagi anak mereka?
13 Pedoman dan pembatasan-pembatasan bagi anak-anak harus jelas bagi mereka, harus adil dan disertai pengecualian yang pengasih. Jangan mengharapkan terlalu banyak, jangan pula terlalu sedikit. Ingatlah usia mereka, karena mereka masih anak-anak. Jangan perlakukan mereka seperti orang yang sudah dewasa. Kata rasul Paulus, ketika ia masih bayi, kelakuannya pun masih seperti bayi. (1 Korintus 13:11) Tetapi sekali aturan-aturan yang bijaksana telah ditetapkan dan anak-anak anda mengertinya, jalankanlah aturan itu segera dan secara tegas. ”Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak.” (Matius 5:37) Sebenarnya anak-anak menghargai orang tua yang memegang teguh perkataannya, yang bersikap konsekwen dan bisa dipastikan bagaimana tindakannya, karena mereka menyadari ketegasan orang tua mendukung mereka dan dapat diandalkan jika sewaktu-waktu timbul kesulitan dan mereka membutuhkan bantuan. Jika orang tua bersikap adil tapi positip bila menegur kesalahan, anak-anak merasa lebih tenteram dan mantap. Anak-anak ingin tahu bagaimana pendirian mereka sebenarnya, dan dengan bantuan orang tua seperti itu, mereka tidak ragu-ragu.
14. Mengapa orang tua harus bersikap tegas jika anak mereka tidak menurut?
14 Orang tua sedikit pun tidak boleh mengendor sikapnya bila anaknya tidak menurut perintah. Ada orang tua yang kemudian mengeluarkan segala macam ancaman; atau berdebat tiada habis-habisnya dengan anak mereka, atau bahkan mencoba membujuk, ”menyuap” anak itu untuk melakukan perintahnya. Kadang-kadang cukup jika tetap pada pendirian dan menyuruh dengan tegas bahwa ia harus melakukannya, sekarang juga. Jika seorang anak hendak menyeberang jalan di depan mobil yang lari kencang, semua orang tua pasti tahu bagaimana mereka harus mengendalikan anaknya. Pernah beberapa ahli yang mempelajari masalah ini, mengatakan sebagai berikut: ”Hampir semua orang tua harus selalu mengingatkan anak-anak mereka untuk pergi ke sekolah, . . . untuk menggosok gigi, untuk jangan memanjat atap, untuk lekas mandi, dan demikian seterusnya. Seringkali anak-anak melawan. Tetapi akhirnya mereka menurut juga, setelah mereka tahu bahwa orang tuanya tidak main-main.” Anda dapat mengharapkan anak-anak anda untuk ’menambatkan senantiasa bimbingan dan perintah anda pada hati mereka’ hanya jika anda terus mengingatkan mereka.—Amsal 6:21.
15. Bagaimana akibatnya bagi anak-anak, jika orang tuanya kurang ketegasan di dalam menetapkan aturan-aturan?
15 Bila orang tua hanya angin-anginan memaksakan perintah-perintah mereka, atau jika suatu pelanggaran tidak segera dihukum, anak-anak biasanya akan mencoba-coba untuk mengetahui seberapa jauh mereka dapat berbuat nakal tanpa mendapat hukuman apa-apa. Bila hukuman terlalu lamban, anak-anak sama seperti orang-orang dewasa makin berani dalam perbuatan salah. ”Oleh karena hukuman terhadap perbuatan jahat tidak segera dilaksanakan, maka hati manusia penuh niat untuk berbuat jahat.” (Pengkhotbah 8:11) Karena itu, sekali anda sudah mengatakannya, jangan lupa melakukannya. Maka anak anda akan mengerti bahwa percuma saja ia marah, berdebat, atau bersikap seolah-olah ia menganggap anda kejam atau tidak mencintai dia.
16. Apa yang perlu dilakukan oleh orang tua, supaya jangan terlanjur mengeluarkan perintah-perintah yang tidak masuk akal?
16 Ini berarti harus berpikir dulu sebelum bicara. Peraturan atau perintah yang dikeluarkan dengan tergesa-gesa seringkali kurang masuk akal. ”Setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah.” (Yakobus 1:19) Bila disiplin yang dijalankan kurang adil dan kurang konsekwen, rasa keadilan yang terdapat dalam diri anak itu akan terganggu, dan kejengkelan pun timbullah.
REKREASI PERLU TETAP DIAWASI
17. Pandangan apakah yang patut dimiliki anak-anak mengenai bekerja dan bermain?
17 Sudah sewajarnya bahwa anak-anak senang untuk bermain. (Zakharia 8:5) Orang tua patut menyadari hal ini, seraya secara berangsur-angsur mengajar anaknya untuk menyukai pekerjaan dan memiliki rasa tanggung jawab. Maka selalu baik bila anak itu disuruh mendahulukan tugas-tugasnya; sesudah itu baru bermain.
18. Bagaimana akibat pergaulan pada anak-anak?
18 Ada anak-anak yang menjadi ”liar” atau betul-betul merasa asing di rumah, karena selalu bermain di tempat lain. Jika pergaulannya kurang baik, akibatnya pun kurang baik. (1 Korintus 15:33) Memang ada pergaulan di luar rumah yang diperlukan supaya pandangan si anak diperluas untuk mengerti sesama manusia. Tetapi jika ia terlalu banyak bergaul di luar rumah atau pergaulan tersebut tidak diawasi, rasa kekeluargaan akan berkurang atau bahkan berantakan.
19. Hal-hal apa patut dipikirkan oleh orang tua supaya anak-anak mereka senang tinggal di rumah?
19 Di samping menjalankan disiplin untuk mencegah hal tersebut, orang tua perlu memikirkan kembali apa yang dapat dilakukan supaya anak-anak senang tinggal di rumah; apakah mereka cukup menyisihkan waktu, bukan saja untuk mengajar dan mendisiplin mereka, tetapi juga untuk bermain-main dan bergaul. Apakah anda biasanya ”terlalu sibuk” untuk menyediakan waktu bagi anak-anak, untuk bermain-main dengan mereka? kesempatan untuk melakukan sesuatu bersama anak-anak anda mungkin tidak akan terulang lagi. Waktu berjalan terus, dan anak tidak tetapi kecil tetapi terus tumbuh dan berubah. Begitu cepat waktu berlalu, rasanya seakan-akan baru kemarin anda melihat bayi anda belajar berjalan. Tahu-tahu putera anda sudah menjadi seorang pemuda tegap, dan puteri anda yang kecil-mungil itu sudah berusaha menjadi gadis remaja. Anda harus benar-benar menjaga keseimbangan dan berdisiplin dalam menggunakan waktu anda. Hanya dengan demikian caranya untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan yang terbuka bagi anda selama periode yang paling menentukan—atau mencegah supaya anak anda jangan menjauhi anda, pada waktu mereka masih kecil.—Amsal 3:27.
20, 21. Tanggung-jawab apa harus dipikul oleh orang tua apabila ada televisi di rumah, dan mengapa?
20 Di tempat-tempat di mana televisi merupakan hiburan, orang tua perlu membuat pembatasan. Ada orang tua yang menggunakan TV sebagai pengasuh anak-anak. Mungkin itu merupakan cara yang mudah dan kelihatannya murah; sesungguhnya ternyata mahal sekali. Acara-acara televisi sering menonjolkan adegan kekerasan dan seks. Kesan yang diberikan adalah bahwa kekerasan merupakan cara yang baik untuk menyelesaikan semua persoalan; pergaulan mesum digambarkan sebagai sesuatu hal yang biasa saja. Banyak penyelidikan menunjukkan bahwa perasaan orang menjadi tumpul, sehingga mempraktekkan hal-hal tersebut, terutama anak-anak muda. Anda hati-hati menjaga agar anak-anak mendapat makanan sehat dan bukan makanan yang beracun. Seharusnya anda lebih hati-hati lagi mengenai apa yang masuk ke dalam pikiran mereka. Kata Yesus, makanan jasmani tidak masuk ke dalam hati, tetapi apa yang kita masukkan ke dalam pikiran, dapat masuk ke dalam hati.—Markus 7:18-23.
21 Pengawasan mengenai acara-acara yang ditonton dan berapa banyak waktu yang dihabiskan untuk menonton TV sangat menentukan perkembangan anak. Televisi bisa menyediakan hiburan yang menyenangkan, dan bahkan bersifat mendidik; tetapi jika tidak dikendalikan dapat menjadi ketagihan, sehingga menghabiskan banyak waktu. Waktu adalah kehidupan, dan sebagian dari waktu tersebut tentu dapat digunakan untuk mengerjakan hal-hal yang lebih berguna. Karena sebenarnya televisi itu hanya dilihat saja, tidak membuat orang aktip melakukan sesuatu. Dengan demikian hiburan televisi bukan saja mengurangi kegiatan jasmani, tetapi juga mengurangi kebiasaan untuk membaca dan bercakap-cakap. Tiap keluarga membutuhkan komunikasi dan keakraban. Kebutuhan demikian tak dapat diisi, hanya dengan duduk diam di ruangan yang sama, sambil menonton televisi. Apabila suatu keluarga terlalu banyak menonton TV, orang tua dapat membimbing anak-anak mereka untuk menghargai kegiatan-kegiatan lain yang sebagai pengganti acara televisi—misalnya mengadakan berbagai permainan yang sehat, membaca, kegiatan keluarga bersama—terutama jika orang tua sendiri memimpin dan memberikan contoh.
MENDISIPLIN ANAK DENGAN SALING BERKOMUNIKASI
22. Mengapa anak-anak harus dapat mengerti keterangan-keterangan yang diberikan oleh orang tuanya?
22 Pengalaman berikut diceritakan oleh seorang ayah:
”Ketika anak saya baru berumur tiga tahun, saya pernah memberikan khotbah panjang lebar kepadanya mengenai soal berbohong. Bagaimana Allah membenci pembohong-pembohong dengan menggunakan Amsal 6:16-19 dan ayat-ayat lain. Anak saya mendengarkan dan kelihatannya wajar saja reaksinya. Tetapi saya merasa bahwa ia kurang mengerti maksud saya. Maka saya pun bertanya padanya, ’Nak, apakah kamu mengerti apa itu berbohong?’ Jawabnya, ’Tidak.’ Setelah pengalaman itu saya selalu tidak lupa menanyakan apakah ia mengerti maksud saya dan mengapa ia dimarahi.”
23. Hal apa yang mungkin diperlukan, supaya anak-anak mengerti mengapa sesuatu harus dilakukan dengan cara tertentu?
23 Ketika anak-anak masih kecil, orang tua mungkin cukup menunjukkan benda-benda tertentu dan mengatakan ”jangan,” misalnya supaya ia jangan memegang setrika yang panas. Tetapi sekalipun peringatan itu demikian sederhananya, orang tua dapat menerangkan mengapa sesuatu tidak diperbolehkan. Misalnya dengan mengatakan bahwa setrika itu ”panas!” sebab jika dipegang nanti ”sakit!” Tetapi dari mula pertama selalu ingatkan anak itu prinsip bahwa suatu larangan diberikan demi kebaikannya sendiri; kemudian tandaskan betapa pentingnya sifat-sifat seperti kebaikan, sifat tidak mementingkan diri dan kasih. Bantu anak anda untuk menyadari bahwa sifat-sifat ini menjadi dasar dari semua aturan atau persyaratan yang benar. Perlihatkan juga mengapa suatu perbuatan menunjukkan apakah ia memiliki sifat-sifat itu atau tidak. Dengan melakukan hal ini terus-menerus, bimbingan anda bukan saja dapat diterima dalam pikiran anak itu, tetapi juga hatinya.—Matius 7:12; Roma 13:10.
24. Mengapa penting bahwa seorang anak menghormati wewenang orang lain?
24 Demikian juga, ketaatan dan hormat terhadap wewenang harus diajarkan secara setahap demi setahap. Pada tahap pertama kehidupannya, penerimaan atau penolakan terhadap permintaan orang dewasa mulai kelihatan. Sesuai dengan perkembangan pikirannya, tanamkan dalam dirinya pengertian akan tanggung jawab orang tua terhadap Allah. Hal ini sangat banyak menentukan sikap anak itu. Tanpa pengertian ini, anak-anak dapat mengira bahwa mereka harus tunduk hanya karena orang tua lebih besar dan lebih berkuasa daripada mereka. Jika sebaliknya anak itu sadar bahwa hal ini bukan sekedar kemauan orang tua mereka sendiri, tetapi sesuai dengan perintah Allah Pencipta, yang terdapat dalam Firman-Nya, maka nasihat dan bimbingan orang tua lebih berwibawa. Hal ini akan lebih terasa kelak pada waktu anak itu mengalami masa pancaroba, ketika ia mulai merasakan betapa sulitnya untuk berpegang teguh kepada prinsip-prinsip yang benar, sewaktu menghadapi godaan atau tekanan.—Mazmur 119:109-111; Amsal 6:20-22.
25. Bagaimana nasihat di Amsal 17:9 dapat membantu orang tua untuk mendisiplin anak mereka dengan baik?
25 ”Siapa menutupi pelanggaran, mengejar kasih, tetapi siapa membangkit-bangkit perkara, menceraikan sahabat yang karib.” (Amsal 17:9) Ini juga berlaku antara orang tua dan anak. Katakanlah seorang anak sudah menyadari kesalahan yang dilakukannya, dan ia sudah mengerti mengapa ia perlu mendapat disiplin, dan hukuman pun sudah dijalankan. Maka orang tua yang mengasihi anaknya tidak perlu membangkit-bangkit kembali perkara lama. Apa pun kesalahan yang dilakukannya, jangan sampai anak itu salah mengerti: yang anda benci perbuatan yang salah, bukan orangnya. (Yudas 23) Boleh jadi anak itu sudah merasa mendapat pelajaran yang ”pahit,” dan tersinggung jika terus-menerus diingatkan kembali mengenai kesalahannya. Ini dapat mengakibatkan bahwa ia akan menjauhi orang tuanya atau anak-anak lain dalam keluarga. Bila orang tua kuatir terjadi perkembangan yang kurang baik dalam diri anaknya, mungkin ini dapat dibicarakan bersama-sama pada waktu yang cocok. Jangan hanya membicarakan kesalahan-kesalahan yang lampau, tapi bicarakanlah prinsip-prinsip yang berlaku, bagaimana hal itu dapat dipakai dan mengapa hal itu penting untuk kebahagiaannya di kemudian hari.
BERBAGAI CARA UNTUK MENDISIPLIN ANAK
26. Mengapa belum tentu semua anak akan menurut walaupun menerima disiplin yang sama?
26 ”Suatu hardikan lebih masuk pada orang berpengertian dari pada seratus pukulan pada orang bebal.” (Amsal 17:10) Tidak semua anak itu sama, karena itu cara mendisiplin pun tidak selalu sama. Perangai masing-masing perlu dipertimbangkan. Ada anak yang terlalu sensitip dan mungkin tidak perlu mendapat hukuman badan. Bagi anak yang lain pukulan mungkin tidak mempan. Ada pula anak yang seperti budak yang digambarkan di Amsal 29:19, di mana ”dengan kata-kata saja seorang hamba tidak dapat diajari, sebab walaupun ia mengerti, namun ia tidak mengindahkannya.” Jelas, anak demikian memerlukan hukuman badan.
27. Bagaimana seorang ayah membantu putranya yang masih kecil sehingga tidak mencoret-coret dinding?
27 Seorang ibu menceritakan pengalamannya sebagai berikut:
”Ketika anak saya berumur dua tahun, ia mulai mencoret-coret dinding—goresan-goresan warna merah tidak seberapa tinggi dari lantai. Lalu suami saya menanyakan kepadanya mengapa ia mencoret-coret dinding. Tetapi anak saya diam saja memandangi ayahnya. Akhirnya suami saya mengatakan, ’Ya, sayang, waktu papa masih kecil seperti kamu, papa juga pernah mencoret-coret dinding. Rasanya senang, ya?’ Heran, mendengar itu, anak saya kemudian tersenyum, dan mulai bersemangat berbicara mengenai betapa senangnya mencoret-coret. Ia tahu ayahnya mengerti perasaannya! Tetapi, akhirnya ia mendapat penjelasan bahwa dinding bukanlah tempat untuk mencoret-coret, betapa pun menyenangkan pekerjaan itu. Dengan adanya komunikasi, sedikit penjelasan tambahan sudah cukup bagi anak saya.”
28. Bagaimana sebaiknya orang tua dapat menghindarkan perdebatan dengan anaknya?
28 Bila mendisiplin anak, memang baik memberi penjelasan untuk mengajar dan mendidiknya, tetapi sebaiknya jangan berdebat. Ketika anaknya berdebat mengenai mengerjakan tugas tertentu, seorang ibu hanya berkata: ”Nanti setelah selesai tugasmu, kita pergi jalan-jalan ke taman,” yang bagi anak itu merupakan sesuatu yang dinanti-nantikan untuk hari itu. Suatu kesenangan atau kesempatan untuk jalan-jalan ditunda sampai tugas yang diberikan dikerjakan. Sewaktu ibu itu kembali dan ternyata pekerjaan belum juga dilakukan, ia mengatakan: ”Wah, belum dikerjakan? Kita pergi jika kamu sudah selesai.” Si ibu tidak berdebat, tetapi ia mendapat hasil.
29. Apa yang kiranya dapat dilakukan supaya seorang anak merasakan akibat buruk dari perbuatannya yang kurang baik?
29 Dengan merasakan sendiri akibat-akibat yang tidak menyenangkan dari perbuatan salah, anak-anak dapat dibantu menyadari betapa perlunya prinsip-prinsip yang benar. Apakah seorang anak mengotori meja atau lantai? Disiplin akan lebih berkesan, jika ia disuruh membersihkannya sendiri. Apakah ia telah bertindak kasar atau tidak adil? Dengan menyuruhnya meminta maaf, akan lebih mudah baginya untuk merubah suatu kebiasaan buruk. Mungkin ia telah memecahkan sesuatu karena marah. Bila anak itu sudah cukup besar, ia dapat dihukum dengan menyuruhnya menyisihkan uangnya untuk ganti kerugian. Beberapa anak menjadi sadar jika hak-hak kehormatan tertentu dicabut selama beberapa waktu. Dalam sidang Kristen teman-teman akan menjauhi orang yang melakukan perbuatan tercela, agar ia menjadi malu. (2 Tesalonika 3:6, 14, 15) Bagi anak-anak muda, dengan mengucilkannya beberapa waktu dari pergaulan keluarga, kadang-kadang dapat lebih efektip daripada pukulan. Tentu saja orang tua yang mengasihi anaknya tidak akan bertindak ekstrim, misalnya dengan tidak membukakan pintu rumah pada waktu anak itu pulang. Cara apa pun yang dipakai, anak-anak perlu diajar bahwa mereka harus menanggung sendiri segala akibat tindak-tanduk mereka. Dengan demikian mereka belajar untuk bertanggung-jawab.
MENDISIPLIN ANAK DENGAN KASIH SAYANG
30. Mengapa orang tua harus menjaga keseimbangan, bila menetapkan aturan-aturan bagi anak mereka?
30 ”Utamakan perkara-perkara yang lebih penting,” dan jangan lupa bahwa ”hikmat yang datang dari atas itu . . . rasional.” (Filipi 1:10; Yakobus 3:17, NW) Ingatlah bahwa anak-anak memiliki energi berlimpah-limpah yang mencari penyaluran, dan bahwa mereka selalu ingin tahu dan ingin mencoba hal-hal baru. Dalam memberikan pembatasan dan petunjuk, anda harus pandai memilih apa yang terbaik. Harus ada keseimbangan antara apa yang perlu dan apa yang tidak begitu perlu. Setelah menetapkan batas-batas, daripada mencoba mengendalikan sampai soal sekecil-kecilnya, biarkanlah anak-anak anda bergerak cukup bebas dan dengan penuh kepercayaan dalam batas-batas tersebut. (Amsal 4:11, 12) Jika tidak, bisa jadi anak anda akan ”sakit hati” dan ”tawar hati,” dan anda sendiri kehabisan tenaga karena mempersoalkan masalah-masalah yang sepele.—Kolose 3:21.
31. Contoh bagaimana diberikan oleh Allah Yehuwa dalam soal disiplin?
31 Karena itu, hai para orang tua, ”Hajarlah anakmu selama ada harapan,” tetapi lakukan itu dengan cara Allah, dengan penuh kasih sayang. Tirulah Allah: ”Karena TUHAN [Yehuwa] memberi ajaran kepada yang dikasihi-Nya.” Hendaknya disiplin anda bersifat mendidik dan pengasih, seperti cara Allah Pencipta, karena ”teguran yang mendidik itu jalan kehidupan.”—Amsal 19:18; 3:12; 6:23.
-
-
Menjaga Hubungan Komunikasi Tetap TerbukaMembina Keluarga Bahagia
-
-
Pasal 11
Menjaga Hubungan Komunikasi Tetap Terbuka
1, 2. Apa yang dimaksudkan dengan komunikasi, dan mengapa ini penting?
KOMUNIKASI itu lebih daripada hanya berbicara saja. Sebagaimana dikemukakan rasul Paulus: Jika si pendengar tidak mengerti apa yang dikatakan, ”kata-katamu sia-sia saja kamu ucapkan di udara.” (1 Korintus 14:9) Apakah anak-anak anda benar-benar mengerti apa yang anda katakan, dan mengertikah anda apa yang diutarakan oleh anak-anak anda?
2 Untuk benar-benar berkomunikasi, perlu saling mengungkapkan perasaan, ide-ide dan buah pikiran. Jika cinta kasih itu umpama jantung dari keluarga yang bahagia, maka komunikasi mungkin dapat diumpamakan seperti darah kehidupan. Jika komunikasi antara suami-isteri mulai terhenti, kesukaran akan timbul. Demikian juga dengan komunikasi antara orang tua dan anak, jika bukan lebih parah, akibatnya sama-sama serius.
DIPERLUKAN PANDANGAN JAUH KE DEPAN
3. Orang tua biasanya akan mengalami problem komunikasi pada saat anaknya mencapai usia manakah?
3 Komunikasi antara orang tua dan anak biasanya mengalami kesulitan bukan pada waktu anak itu masih kecil, tetapi menjelang ia menjadi dewasa—yaitu masa remaja. Orang tua harus menyadari bahwa perkembangan ini akan terjadi. Hanya akan mengingkari kenyataan, jika mereka mengira tidak akan ada kesulitan di kemudian hari, karena segalanya berjalan lancar ketika anak mereka masih kecil. Masalah-masalah pasti akan timbul, dan jika ada komunikasi yang jelas dan efektip, akan mudahlah untuk mengatasi atau mengurangi masalah-masalah tersebut. Maka, orang tua perlu melihat dan berpikir jauh ke depan, sebab ”akhir suatu hal lebih baik dari pada awalnya.”—Pengkhotbah 7:8.
4. Haruskah segala hubungan komunikasi keluarga dilakukan dengan percakapan? Jelaskanlah.
4 Banyak yang perlu dilakukannya untuk menciptakan, membina dan memelihara komunikasi yang baik dalam keluarga. Setelah waktu bertahun-tahun, seringkali suami isteri berhasil membina saling kepercayaan dan saling pengertian demikian rupa sehingga mereka bahkan dapat berkomunikasi tanpa sepatah kata—kadang-kadang mereka mengerti satu sama lain meskipun hanya melalui lirikan mata, senyuman atau sentuhan tangan. Alangkah baiknya jika orang tua dapat membina komunikasi yang demikian erat, juga dengan anak-anak mereka. Sebelum bayi mengerti tutur kata, orang tua dapat berkomunikasi dengan mengungkapkan kasih sayang dan rasa tenteram. Jika selama masa pertumbuhan anak seluruh keluarga bekerja dan bermain bersama-sama, bahkan lebih penting lagi, beribadat bersama-sama, maka hubungan komunikasi dalam keluarga terjalin dengan baik. Tetapi memerlukan kerja keras dan kebijaksanaan, supaya komunikasi demikian selalu bersifat terbuka.
ANAK ANDA HARUS BELAJAR UNTUK BERSIKAP TERBUKA
5-7. (a) Mengapa sebaiknya orang tua jangan menghalangi anaknya untuk bicara? (b) Bagaimana caranya orang tua dapat mengajarkan sopan santun kepada anak mereka?
5 Menurut peribahasa kuno, ”tidak pantas bagi seorang anak muda untuk bicara.” Memang benar—tetapi tidak selalu. Anak-anak perlu belajar bahwa menurut Firman Allah, ”ada waktu untuk berdiam diri, ada waktu untuk berbicara.” (Pengkhotbah 3:7) Tetapi anak-anak selalu berusaha menarik perhatian, dan orang tua harus berhati-hati agar tidak mengekang anaknya sehingga takut mengeluarkan isi hatinya. Jangan mengharapkan bahwa reaksi anak kecil pada waktu mengalami sesuatu akan sama dengan reaksi orang dewasa. Orang dewasa mungkin sudah terbiasa dengan segala sesuatu yang dialami dalam kehidupan yang penuh bervariasi ini. Seorang anak mudah sekali terpesona dan demikian asyiknya dengan sesuatu yang langsung menarik perhatiannya, sehingga boleh dikata lupa akan segala sesuatu. Anak kecil bisa tiba-tiba memasuki ruangan dan langsung mulai menceritakan kepada ayah atau ibunya apa yang telah dialaminya. Bayangkan bagaimana semangat anak yang meluap-luap itu dapat dipadamkan, jika orang tua memotong pembicaraan anaknya dengan membentak ”Diam kamu!” Boleh jadi, ocehan seorang anak tidak ada artinya. Tetapi, dengan membiarkan anak-anak bebas berbicara, lebih besar harapan anda bahwa sesudah besar nanti mereka akan selalu terbuka untuk memberitahukan anda apa yang ingin dan harus anda ketahui.
6 Sopan santun memudahkan komunikasi yang baik. Anak-anak harus belajar sopan santun, dan orang tua harus memberi contoh dalam cara mereka berkomunikasi dengan anaknya, demikian juga dalam cara-cara lain. Teguran penting dan harus diberikan jika perlu, kadang-kadang bahkan dengan keras. (Amsal 3:11, 12; 15:31, 32; Titus 1:13) Tetapi jika anak-anak selalu dipotong pembicaraannya, sering diperbaiki kesalahannya, atau lebih celaka lagi, dihina dan diejek oleh orang tua pada waktu mereka bicara, mereka mungkin akan menyendiri—atau akan mencari orang lain dengan siapa mereka dapat berbicara. Makin sering hal ini terjadi, makin tertutuplah sikap anak anda. Mengapa tidak berbuat begini—sebelum tidur nanti malam, cobalah renungkan kembali apa saja yang telah anda katakan kepada anak anda, kemudian bertanyalah kepada diri sendiri: Berapa kali aku telah menunjukkan penghargaan, memberikan anjuran dan pujian kepada anakku hari ini? Sebaliknya, berapa kali aku telah mengatakan yang tidak membina, yaitu mengecilkan hatinya, menyatakan ketidakpuasan, kejengkelan dan kemarahan? Anda mungkin akan terkejut mengingat kembali apa yang telah anda lakukan.—Amsal 12:18.
7 Sering dibutuhkan kesabaran dan pengendalian diri dari orang tua. Anak-anak cenderung berlaku tidak sabar. Kadang-kadang mereka langsung bicara tanpa pikir panjang, mungkin menyela percakapan orang dewasa. Orang tua boleh jadi memarahi anaknya. Tetapi kadang-kadang lebih bijaksana untuk mendengarkan anak itu dahulu, dengan demikian memperlihatkan contoh pengendalian diri dan kemudian, setelah memberikan jawaban yang singkat, orang tua dapat mengingatkan anaknya untuk berlaku sopan dan tenggang-rasa. Jadi, di sini juga berlaku nasihat supaya ”cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah.”—Yakobus 1:19.
8. Cara bagaimana orang tua membiasakan anak untuk tidak segan-segan meminta bimbingan?
8 Tentu anda ingin agar anak-anak anda tidak segan-segan meminta petunjuk anda bila menghadapi suatu persoalan. Anda bisa menganjurkan mereka untuk berbuat demikian dengan menunjukkan bahwa anda sendiri pun meminta nasihat pada orang lain yang anda hormati. Seorang ayah menceritakan pengalamannya, bagaimana ia membina hubungan baik dengan anak-anaknya yang masih kecil, sebagai berikut:
”Hampir tiap malam aku mengucapkan doa bersama anak-anak sebelum mereka tidur. Biasanya mereka sudah di tempat tidur dan aku pun berlutut di samping tempat tidur, sambil merangkul mereka. Aku mengucapkan doa, dan sering anak-anak mengucapkan doa yang lain sesudahnya. Tidak jarang anak-anak mencium pipiku dan mengatakan, ’Ayah, aku sayang padamu,’ dan kemudian mulai mengeluarkan isi hati mereka. Karena kehangatan tempat tidur dan perasaan tenteram dalam pelukan ayah, mereka kadang-kadang menceritakan problem pribadi agar diberi bantuan atau hanya sekedar menyampaikan ucapan kasih sayang.”
Pada waktu makan dan pada waktu-waktu lain, jika doa-doa yang anda ucapkan, tidak bersifat rutin, tetapi keluar dari hati dan menunjukkan hubungan pribadi yang sungguh-sungguh dengan Pencipta dan Bapa surgawi anda, maka ini akan sangat membantu anda untuk memupuk hubungan batin yang baik dengan anak-anak.—1 Yohanes 3:21; 4:17, 18.
MASA PERALIHAN
9. Apa yang dapat dikatakan mengenai problem-problem dan kebutuhan remaja, dibandingkan dengan anak-anak yang masih kecil?
9 Masa remaja merupakan masa peralihan. Pada waktu itu putra atau putri anda bukan anak kecil lagi, tetapi belum pula dewasa. Tubuh mereka sedang mengalami perubahan-perubahan, dan ini mempengaruhi emosi mereka. Masalah-masalah dan kebutuhan yang dialami kaum remaja berbeda dengan yang dialami pada masa sebelumnya. Maka pendekatan orang tua harus dirubah caranya, karena apa yang cocok untuk masa pra-remaja belum tentu akan cocok bagi seorang remaja. Kini perlu lebih banyak penjelasan. Berarti komunikasi bukannya makin berkurang, tetapi justru harus makin bertambah.
10. (a) Mengapa penerangan mengenai masalah seks yang sederhana tidak cukup bagi kaum remaja? (b) Cara bagaimana orang tua dapat membicarakan masalah seks dengan anak mereka?
10 Misalnya, penjelasan sekedarnya yang anda berikan kepada anak kecil mengenai seks, mungkin tidak memadai bagi seorang remaja. Mereka merasakan adanya gejolak-gejolak seks, tetapi karena malu mereka sering takut bertanya kepada ayah atau ibunya. Orang tualah yang harus mengambil prakarsa, dan ini tidak mudah kecuali jika mereka telah menciptakan dan membina komunikasi yang baik, terutama dengan anak-anak mereka. Seandainya anak anda sebelumnya sudah mendapat penjelasan, mungkin tidak akan timbul rasa kuatir pada waktu putra anda mulai keluar air mani dan putra anda mulai mengalami masa haid. (Imamat 15:16, 17; 18:19) Misalnya, seorang ayah dapat membicarakan mengenai soal merancap (masturbasi), sewaktu berjalan-jalan bersama putranya. Setelah mengatakan bahwa kebanyakan pemuda mengalami masalah dengan hal itu, si ayah dapat berkata, ’Bagaimana pengalamanmu dalam hal ini?’ atau ’Apakah kamu juga mengalami masalah dengan itu?’ Bahkan dapat dilakukan diskusi keluarga mengenai masalah-masalah yang timbul pada masa remaja, dan masing-masing ayah dan ibu dapat memberi nasihat, dengan secara santai tetapi terus terang.
MEMAHAMI KEBUTUHAN KAUM REMAJA
11. Bagaimana perbedaan antara kaum remaja dan orang-orang yang sudah dewasa?
11 ”Perolehlah hikmat, dan dengan segala yang kauperoleh, perolehlah pengertian.” (Amsal 4:7) Sebagai orang tua, anda hendaknya bijaksana dan memahami anak muda; tunjukkanlah bahwa anda mengerti perasaan mereka. Jangan lupa akan apa yang pernah anda sendiri alami ketika masih muda. Juga camkanlah bahwa semua orang tua pernah muda dan tahu bagaimana rasanya, tetapi anak muda belum pernah merasakan bagaimana menjadi orang tua. Remaja tidak mau lagi diperlakukan sebagai anak kecil, tetapi sebenarnya ia belum dewasa dan belum banyak menaruh minat akan soal-soal orang dewasa. Ia masih mempunyai kecenderungan untuk bermain-main dan membutuhkan waktu untuk melewati masa-masa itu.
12. Cara bagaimana remaja ingin diperlakukan oleh orang tuanya?
12 Ada beberapa hal yang terutama diinginkan oleh kaum muda dari orang tuanya selama tahap kehidupan ini. Mereka berharap untuk lebih dimengerti; lebih daripada masa sebelumnya, mereka minta diperlakukan seperti orang dewasa; mereka menginginkan pedoman dan petunjuk yang konsekwen, dengan mengingat bahwa mereka sedang menginjak masa dewasa; mereka ingin merasa dibutuhkan dan dihargai.
13. Bagaimana reaksi yang kadang-kadang diperlihatkan anak-anak belasan tahun terhadap larangan orang tua, dan mengapa?
13 Orang tua hendaknya jangan terkejut jika tiba-tiba anaknya yang menginjak usia remaja mulai bersikap enggan dibatasi. Hal ini terjadi karena anak anda sedang mengalami peralihan ke arah kebebasan sendiri dan keinginan wajar untuk bebas bergerak dan menentukan kemauan sendiri. Bayi yang tidak berdaya harus terus-menerus dijaga dan diasuh oleh orang tuanya, anak kecil juga masih membutuhkan asuhan, tetapi semakin besar anak itu, semakin banyak pula kegiatannya, dan hubungan dengan orang-orang lain di luar lingkungan keluarga makin banyak dan bertambah kuat. Karena keinginan untuk merdeka ini mungkin anda mengalami kesukaran menghadapi putra atau putra anda. Demi kebaikan anak itu sendiri, orang tua tidak boleh membiarkan wewenang diabaikan atau dikesampingkan begitu saja. Tetapi dengan bijaksana, orang tua dapat mengatasi keadaan dan memelihara komunikasi, bila mereka mengerti mengapa tingkah laku anak mereka itu tiba-tiba berubah.
14. Cara bagaimana orang tua dapat menanggapi keinginan anaknya akan lebih banyak kebebasan?
14 Apa yang harus dilakukan oleh orang tua, menghadapi keinginan anaknya yang mendesak akan kebebasan yang lebih besar? Keinginan yang mendesak itu dapat diumpamakan seperti per yang digenggam di tangan. Jika tiba-tiba dilepaskan, per itu akan meloncat tak terkendali ke suatu arah yang tidak dapat diperkirakan sebelumnya. Jika terlalu lama digenggam, anda sendiri lelah dan per itu pun makin lemah. Tetapi jika dilepaskan secara berangsur-angsur ia akan tetap pada tempatnya.
15. Dari mana kita tahu bahwa pertumbuhan Yesus menuju kedewasaan diawasi oleh orang tuanya?
15 Contoh mengenai perkembangan yang terkendali ke arah kebebasan seperti itu dapat kita ambil dari pengalaman Yesus sebagai pemuda. Mengenai masa sebelum menjadi remaja, dalam riwayat hidupnya di Lukas 2:40 dikatakan ”anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya.” Pasti orang tuanya besar pengaruhnya dalam perkembangan hidupnya, karena sekalipun ia sempurna, tidak berarti hikmatnya berkembang sendiri. Seperti dijelaskan dalam riwayat hidupnya, orang tua Yesus menciptakan suasana kerohanian yang baik untuk pendidikannya. Ketika Yesus berumur 12 tahun, sewaktu keluarga itu berada di Yerusalem untuk merayakan Paskah, Yesus pun pergi ke bait Allah dan berbincang-bincang dengan para guru agama di situ. Rupanya orang tuanya memberikan kebebasan ini kepada putera mereka yang berumur 12 tahun itu. Mereka meninggalkan kota Yerusalem tanpa menyadari bahwa anak mereka tertinggal. Mungkin sangka mereka, ia pulang bersama teman-teman atau sanak keluarga yang lain. Tiga hari kemudian mereka menemukan Yesus di bait Allah, bukan mencoba mengajar orang tua-tua di situ, tetapi ”mendengarkan mereka dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada mereka.” Ibunya kemudian mengatakan betapa kuatirnya mereka dan Yesus menjawab dengan sopan bahwa ia mengira mereka pasti tahu di mana dapat menemukannya sewaktu bersiap-siap untuk pulang. Meskipun agak menikmati kebebasan, menurut riwayat yang tertulis sesudah itu pun Yesus ”tetap tunduk kepada mereka [NW],” tetap mentaati petunjuk dan larangan orang tuanya ketika ia menginjak usia remaja, dan ”makin bertambah besar dan bertambah hikmatnya dan besarnya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia.”—Lukas 2:41-52.
16. Hal apakah yang sebaiknya diingat oleh orang tua, jika mengalami problem dengan anak mereka yang menginjak dewasa?
16 Demikian juga hendaknya orang tua memberikan kebebasan yang secukupnya kepada putra-putrinya secara bertahap seraya mereka meningkat dewasa. Biarkan mereka lebih banyak mengambil keputusan sendiri, di bawah bimbingan dan pengawasan orang tua. Jika timbul persoalan, dengan mengerti pangkal sebabnya orang tua akan dibantu untuk tidak membesar-besarkan soal-soal kecil. Seringkali seorang remaja tidak dengan sengaja memberontak terhadap orang tuanya, tetapi hanya ingin lebih bebas dan kurang pandai mengutarakannya. Karena itu orang tua sering salah mengerti, lalu mempersoalkan hal-hal yang sebenarnya tidak perlu. Jika persoalannya tidak terlalu serius, lupakan saja. Tentu saja orang tua harus tegas jika menghadapi masalah-masalah yang serius. ’Jangan tapiskan nyamuk,’ tetapi jangan pula ’kamu telan unta’.—Matius 23:24.
17. Faktor-faktor apa yang patut dipertimbangkan orang tua, bila mengeluarkan pembatasan-pembatasan tertentu bagi anak mereka yang menginjak dewasa?
17 Orang tua mudah membina hubungan baik dengan putra dan putra mereka yang sudah remaja jika selalu bersikap seimbang dalam memberikan larangan atau pembatasan kepada mereka. Jangan lupa bahwa ”hikmat yang datang dari atas adalah pertama-tama murni,” tetapi juga ”peramah [rasional, NW],” ”penuh belas kasihan” dan ”tidak munafik.” (Yakobus 3:17) Ada hal-hal tertentu yang menurut Alkitab sama sekali tidak dapat diterima, yaitu mencuri, percabulan, menyembah berhala dan perbuatan lainnya yang tercela. (1 Korintus 6:9, 10) Dalam hal-hal ini, baik atau buruk itu bergantung kepada seberapa jauhnya sesuatu itu dilakukan. Makanan itu baik, tetapi makan berlebih-lebihan berarti gelojoh. Demikian juga mengenai acara santai seperti berdansa, mengadakan permainan, berpesta dan lain sebagainya. Seringkali yang menjadi masalah bukan apa yang dilakukan, melainkan caranya itu dilakukan dan bersama siapa. Jadi kita tidak akan menyalahkan makan, jika yang sebenarnya kita maksudkan adalah gelojoh. Demikian juga, janganlah orang tua mencela sama sekali suatu acara muda-mudi, kalau yang ditakuti hanyalah ekses-ekses (hal-hal yang melampaui batas) yang bisa terjadi, atau kemungkinan berkembangnya unsur-unsur negatip.—Periksa juga Kolose 2:23.
18. Cara bagaimana sebaiknya orang tua dapat memperingatkan anak mereka mengenai pergaulan mereka?
18 Semua muda-mudi merasakan kebutuhan untuk berkawan. Jarang sekali kawan yang mereka pilih benar-benar ”sempurna.” Tetapi bukankah anak-anak anda sendiri juga punya kelemahan-kelemahan? Namun demikian, anda memang perlu melarang pergaulan dengan pemuda-pemudi tertentu yang pengaruhnya dapat merusak. (Amsal 13:20; 2 Tesalonika 3:13, 14; 2 Timotius 2:20, 21) Pada anak-anak yang lain, mungkin anda melihat beberapa hal yang menyenangkan dan hal-hal yang kurang menyenangkan. Tetapi janganlah melarang anak anda untuk bergaul dengan temannya karena mempunyai suatu kekurangan. Sebaiknya beritahukan kepadanya bahwa anda menyukai beberapa sifat baik dari temannya, tetapi ingatkanlah agar ia berhati-hati terhadap segi-segi kelemahan temannya itu. Anjurkan putra dan putri anda untuk menjadi pengaruh yang baik atas segi-segi kelemahan tersebut, demi kebaikan kawannya.
19. Selaras dengan prinsip yang dikemukakan dalam Lukas 12:48, cara bagaimana anak-anak dapat dibantu supaya memiliki pandangan yang benar mengenai kebebasan mereka?
19 Satu cara untuk membantu putra atau putri anda yang masih remaja agar dapat memperkembangkan pandangan yang benar terhadap bertambahnya kedewasaan, adalah dengan mengingatkan mereka bahwa tanggung-jawab yang lebih besar menyertai kebebasan yang bertambah. ”Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut.” (Lukas 12:48) Dengan membuktikan diri cukup bertanggung-jawab, lebih banyak kepercayaan dapat diberikan orang tua kepada anak-anak mereka.—Galatia 5:13; 1 Petrus 2:16.
CARA MENYAMPAIKAN NASEHAT DAN TEGURAN
20. Di samping wewenang atau kekuasaan atas anak-anak, apa lagi dibutuhkan supaya komunikasi tidak pernah terputus?
20 Jika orang yang memberi nasihat kepada anda kurang mengerti keadaan anda, tentu anda akan menganggap nasihatnya kurang tepat. Dan jika orang itu masih juga memaksakan kemauannya, mungkin anda akan merasa kesal karena diperlakukan kurang adil. Karena itu, orang tua harus mengingat bahwa ”hati orang berpengertian mencari pengetahuan” dan ”orang yang bijak lebih berwibawa dari pada orang kuat.” (Amsal 15:14; 24:5) Bisa saja anda menggunakan kekuasaan atas anak anda, tetapi jika itu disertai dengan pengetahuan dan pengertian, akan lebih mudah untuk menyampaikan pandangan anda. Kurangnya pengertian sewaktu menegur anak muda, dapat mengakibatkan ”generation gap” (jurang pemisah generasi) dan terputusnya komunikasi.
21. Cara bagaimana orang tua harus menangani anak-anak yang melakukan perbuatan tercela?
21 Apa yang akan anda lakukan seandainya anak anda mengalami kesulitan, melakukan suatu kesalahan yang serius atau terlibat perbuatan tercela yang tidak anda duga sebelumnya? Anda tidak boleh memaafkan begitu saja pelanggaran tersebut. (Yesaya 5:20; Maleakhi 2:17) Tetapi hendaknya diingat bahwa justru pada saat-saat inilah putra atau putri anda membutuhkan bantuan yang penuh pengertian dan bimbingan yang bijaksana. Seperti Allah Yehuwa, anda kira-kira dapat mengatakan begini: ’Marilah kita selesaikan masalah ini; memang keadaan cukup berat, tetapi pastilah dapat diatasi!’ (Yesaya 1:18) Luapan amarah atau celaan yang tajam dapat menghambat komunikasi. Betapa seringnya kita mendengar pemuda-pemudi yang tersesat berkata: ’Orang tua saya susah diajak bicara—kalau saya ceritakan, pasti mereka marah sekali.’ Efesus 4:26 berkata: ”Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa.” Kendalikan emosi anda dan dengarkan baik-baik apa yang hendak dikatakan oleh anak anda. Jika anda bersikap terbuka untuk mendengarkan penjelasan mereka, teguran anda akan lebih mudah diterima.
22. Mengapa orang tua tiada sekali-kali boleh menimbulkan kesan bahwa mereka sudah angkat tangan dalam hal mendidik anak mereka?
22 Kadang-kadang masalahnya bukan sekedar suatu kejadian tersendiri, tetapi sudah lama ada gejala yang tidak baik. Meskipun disiplin diperlukan, jangan sekali-kali orang tua memberikan kesan, dengan perkataan atau dengan sikap, seolah-olah sudah kehabisan akal apa yang harus dilakukan dengan anak itu. Sifat panjang sabar menunjukkan seberapa jauh kasih sayang anda. (1 Korintus 13:4) Janganlah melawan kejahatan dengan kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan. (Roma 12:21) Anak itu hanya kana menjadi sakit hati, jika dipermalukan di depan orang lain dengan mengatakan bahwa ia ”pemalas,” ”suka melawan,” ”bodoh” atau ”payah, tidak ada harapan lagi.” Kasih tidak berhenti berharap. (1 Korintus 13:7) Bisa saja seorang anak menjadi demikian nakal dan lari dari rumah. Orang tua tentu tidak senang, tetapi hendaknya mereka tetap membiarkan jalan terbuka agar ia kembali. Bagaimana caranya? Dengan menunjukkan bahwa yang mereka benci adalah perbuatannya, bukan orangnya. Orang tua dapat terus menunjukkan keyakinan mereka bahwa anaknya mempunyai sifat-sifat yang baik, dan harapan mereka bahwa sifat-sifat inilah yang menang pada akhirnya. Jika demikian halnya, sama seperti ’anak hilang’ dalam perumpamaan Yesus, ia dapat kembali dengan keyakinan bahwa ia akan disambut dengan hangat.—Lukas 15:11-32.
HARGA DIRI
23. Mengapa penting supaya anak-anak yang menginjak kedewasaan merasakan bahwa mereka dihargai sebagai anggota keluarga?
23 Semua orang ingin dihargai, ingin disambut baik dan diakui, ingin memiliki perasaan dibutuhkan. Supaya dihargai dan disambut dengan baik oleh orang lain, tentu saja kita tidak bisa bertindak semaunya. Kita tidak boleh melewati batas-batas yang berlaku bagi kelompok dengan siapa kita tergabung. Kaum remaja juga ingin merasakan dirinya sebagian dari keluarga. Karena itu, usahakanlah supaya mereka merasa sebagai anggota keluarga yang dihargai, yang turut memajukan kesejahteraan keluarga, yang bahkan juga diminta pendapat mengenai rencana dan keputusan tertentu yang menyangkut seluruh keluarga.
24. Apa yang harus dihindarkan oleh orang tua, supaya jangan anak yang satu iri terhadap anak yang lainnya?
24 ”Janganlah kita gila hormat,” kata rasul Paulus. ”Janganlah kita saling menantang dan saling mendengki.” (Galatia 5:26) Pujian atas pekerjaan baik yang dilakukan seorang anak akan mencegah timbulnya sifat-sifat demikian. Tetapi akan timbul iri hati dan dengki, jika kekurangan seorang anak dibandingkan dengan anak lain yang selalu dianggap lebih hebat. Rasul Paulus berpesan supaya ”baiklah tiap-tiap orang menguji pekerjaannya sendiri; maka ia boleh bermegah melihat keadaannya sendiri dan bukan melihat keadaan orang lain.” (Galatia 6:4) Anak itu ingin supaya orang tua menerima dia apa adanya, dengan segala kelebihan atau kekurangannya, ia ingin tetap dicintai.
25. Bagaimana caranya orang tua dapat membantu anaknya supaya memiliki harga diri?
25 Orang tua bisa membantu anaknya untuk mengembangkan harga diri yang baik dengan melatihnya untuk mulai memikul tanggung-jawab dalam berbagai bidang. Sejak kecil anak itu telah mereka didik untuk bersikap jujur dan terus terang, dan untuk memperlakukan orang lain dengan baik. Melalui pendidikan dasar ini mereka dapat menunjukkan bagaimana sifat-sifat tersebut berlaku dalam kehidupan bermasyarakat. Ini termasuk cara bagaimana ia menerima tanggung-jawab atas suatu pekerjaan dan membuktikan diri dapat dipercaya. Sebagai remaja, Yesus pun ”bertambah hikmat.” Ia belajar suatu ketrampilan dari Yusuf, ayah angkatnya. Sebab bahkan ketika mencapai umur 30 tahun dan mulai menjalankan pekerjaan pengabaran kepada umum mengenai Kerajaan Allah, orang-orang menyebutnya sebagai si ”tukang kayu.” (Markus 6:3) Pada usia remaja, anak laki-laki terutama perlu belajar apa artinya bekerja dan menyenangkan seorang majikan atau langganan, biarpun tugasnya biasa saja seperti pesuruh. Mereka perlu belajar bahwa dengan bekerja rajin, bersungguh-sungguh dan dapat dipercaya, mereka memperoleh harga diri dan respek serta penghargaan dari orang lain. Dengan cara demikian, bukan saja orang tua dan keluarga mendapat pujian, tetapi juga ”dalam segala hal memuliakan ajaran Allah, Juru selamat kita.”—Titus 2:6-10.
26. Adat kebiasaan kuno manakah memperlihatkan bahwa anak perempuan memainkan peranan penting dalam keluarga?
26 Anak perempuan pun dapat belajar menguasai pekerjaan rumah tangga, sehingga mendapat penghargaan dan pujian, baik dari keluarga maupun dari orang luar. Begitu berharganya seorang anak perempuan dalam keluarga, sehingga di jaman Alkitab orang harus membayar ”mas kawin” untuk dapat mengawininya. Pastilah ini dianggap sebagai ganti kerugian bagi keluarga yang kehilangan pelayanan dari anak perempuan itu.—Kejadian 34:11, 12; Keluaran 22:16.
27. Mengapa kesempatan-kesempatan untuk memperoleh pendidikan harus dimanfaatkan sebaik-baiknya?
27 Kesempatan untuk memperoleh pendidikan hendaknya dimanfaatkan, supaya anak-anak siap menghadapi segala tantangan hidup jaman sekarang. Sang rasul juga memaksudkan mereka ini, ketika menganjurkan supaya ”orang-orang kita juga harus belajar melakukan hal-hal yang baik [pekerjaan halal, New English Bible] supaya dapat memenuhi hal-hal yang sangat diperlukan; jangan sampai mereka hidup dengan tidak berguna.”—Titus 3:14, BIS.
PEDOMAN MORAL ALKITAB SUATU PERLINDUNGAN
28, 29. (a) Nasihat apakah terdapat dalam Alkitab berkenaan dengan pergaulan? (b) Bagaimana orang tua dapat membantu anaknya untuk menuruti nasehat tersebut?
28 Bisa dimengerti bila orang tua prihatin melihat keadaan-keadaan yang mengharuskan anak-anak mereka bergaul dengan anak-anak yang nakal dan rusak ahlaknya, mungkin di lingkungan tempat tinggal mereka atau tempat di mana anak-anak mereka bersekolah. Boleh jadi orang tua menyadari apa yang dikatakan Alkitab itu benar, bahwa ”pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.” Maka mereka enggan meluluskan permintaan anaknya yang merengek-rengek: ’semua orang boleh, mengapa saya tidak?’ Barangkali tidak benar bahwa semua orang lain boleh. Tetapi seandainya pun demikian, tidak berarti anak anda boleh, bila itu salah atau tidak bijaksana. ”Jangan iri kepada orang jahat, jangan ingin bergaul dengan mereka. Karena hati mereka memikirkan penindasan dan bibir mereka membicarakan bencana. Dengan hikmat rumah didirikan, dengan kepandaian itu ditegakkan.”—1 Korintus 15:33; Amsal 24:1-3.
29 Anda tidak mungkin untuk terus membuntuti anak anda selama masa sekolah atau sepanjang hidupnya. Tetapi bila anda membina keluarga dengan bijaksana, anda mewariskan kepada mereka nilai-nilai moral dan prinsip-prinsip yang baik sebagai pedoman. ”Kata-kata orang berhikmat seperti kusa.” (Pengkhotbah 12:11) Di jaman dulu kusa itu tongkat panjang yang tajam ujungnya, dipakai untuk mendorong sapi supaya berjalan ke arah yang benar. Kata-kata berhikmat dari Allah akan memelihara kita tetap berjalan ke arah yang benar, dan bila kita mulai menyimpang, hati kecil kita yang terdidik oleh firman itu mulai tertusuk, sehingga kita merubah haluan kita. Demi keselamatan kekal mereka, bekalilah anak-anak anda dengan hikmat kebijaksanaan demikian. Ajarkanlah hikmat itu melalui nasihat maupun contoh perbuatan. Tanamkan nilai-nilai kehidupan yang baik sehingga anak anda kelak akan memilih kawan sepergaulan yang menganut nilai-nilai yang sama.—Mazmur 119:9, 63.
30. Bagaimana orang tua dapat membekali anak-anak mereka dengan suatu pedoman moral yang berasal dari Allah?
30 Akhirnya, ingatlah bahwa nilai-nilai moral lebih mudah ditanamkan apabila semua prinsip itu benar-benar dihormati dan dihayati dalam suatu rumah tangga. Anda sendiri harus menunjukkan sikap-sikap yang ingin anda perkembangkan dalam diri anak anda. Di rumah anda sendiri, dalam lingkungan keluarga, usahakanlah supaya anak-anak mendapat dari orang-orang dewasa pengertian, kasih sayang, pengampunan, kebebasan diimbangi oleh keadilan, dan merasa disambut dan dibutuhkan. Dengan cara demikian, anda wariskan kepada mereka suatu pedoman moral dari Allah, yang selalu menjadi pegangan ke mana pun mereka pergi di luar lingkungan keluarga. Tiada warisan yang lebih baik yang dapat anda berikan kepada anak-anak anda.—Amsal 20:7.
-