PERPUSTAKAAN ONLINE Menara Pengawal
PERPUSTAKAAN ONLINE
Menara Pengawal
Indonesia
  • ALKITAB
  • PUBLIKASI
  • PERHIMPUNAN
  • Tirulah Mereka yang Panjang Sabar
    Menara Pengawal—1991 | 15 Mei
    • Tirulah Mereka yang Panjang Sabar

      ”Allah menaruh kesabaran yang besar terhadap benda-benda kemurkaanNya, yang telah disiapkan untuk kebinasaan.”​—ROMA 9:22.

      1. (a) Bagaimana Firman Allah yang terilham dimaksudkan untuk memberi manfaat kepada kita? (b) Sehubungan dengan hal ini, mengapa sifat panjang sabar dibahas di sini?

      ALLAH YEHUWA, Pencipta kita, memberi kita Firman-Nya yang terilham, Alkitab. Itu dimaksudkan sebagai ’pelita bagi kaki kita dan terang bagi jalan kita’. (Mazmur 119:105) Firman Allah juga membantu kita agar ”dilengkapi dengan sempurna untuk segala macam pekerjaan yang baik”. (2 Timotius 3:16, 17, BIS) Satu cara Alkitab memperlengkapi kita adalah dengan memberikan kepada kita contoh dari orang-orang yang panjang sabar. Sifat ini merupakan salah satu buah roh Allah dan sangat penting agar kita dapat memperoleh perkenan-Nya dan bergaul serasi dengan sesama kita.—Galatia 5:22, 23.

      2. Apa arti kata Yunani yang diterjemahkan ”panjang sabar”, dan siapa yang paling menonjol dalam memperlihatkan sifat ini?

      2 Kata Yunani yang diterjemahkan ”panjang sabar” secara harfiah berarti ”semangat yang panjang”. Panjang sabar didefinisikan sebagai ”sifat mengendalikan diri menghadapi provokasi, tidak segera membalas atau langsung menghukum”. (Vine’s Expository Dictionary of Old and New Testament Words, oleh W. E. Vine, Jilid 3, halaman 12) Panjang sabar berarti menjalankan pengendalian diri dan lambat marah. Siapa yang paling menonjol di antara mereka yang lambat marah, dengan memperlihatkan panjang sabar? Tak lain daripada Allah Yehuwa. Maka, di Keluaran 34:6, kita membaca bahwa Yehuwa adalah ”Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar [”tidak lekas marah”, BIS], berlimpah kasihNya dan setiaNya”. Sesungguhnya, delapan kali lagi di dalam Alkitab (NW), Yehuwa dikatakan ”tidak cepat marah”.—Bilangan 14:18, BIS; Nehemia 9:17; Mazmur 86:15; 103:8; 145:8, BIS; Yoel 2:13; Yunus 4:2; Nahum 1:3, BIS.

      3. Sifat-sifat apa yang membuat Yehuwa berpanjang sabar?

      3 Berlaku panjang sabar, atau lambat marah, memang dapat kita harapkan dari Allah Yehuwa, karena Ia tak terbatas dalam kekuasaan dan hikmat, sempurna dalam keadilan, dan adalah perwujudan dari kasih. (Ulangan 32:4; Ayub 12:13; Yesaya 40:26; 1 Yohanes 4:8) Ia memegang kendali atas sifat-sifat-Nya, menjaganya seimbang secara sempurna pada setiap waktu. Apa yang diungkapkan oleh Firman-Nya mengenai alasan dan cara Ia memperlihatkan panjang sabar terhadap manusia-manusia yang tidak sempurna?

      Panjang Sabar demi Kepentingan Nama-Nya

      4. Untuk alasan-alasan yang baik apa Allah memperlihatkan panjang sabar terhadap para pedosa?

      4 Mengapa Yehuwa panjang sabar? Mengapa Ia tidak segera menghukum para pedosa? Bukan karena Ia masa bodoh atau tidak memiliki gairah terhadap kebenaran. Tidak, tetapi untuk alasan-alasan yang baik Yehuwa lambat marah dan tidak langsung menghukum orang. Satu alasan adalah agar nama-Nya dimasyhurkan. Alasan lain adalah karena waktu dituntut untuk membereskan sengketa tentang kedaulatan Allah dan integritas umat manusia, yang ditimbulkan oleh pemberontakan di Eden. Alasan lain lagi untuk panjang sabar Allah adalah hal itu memberikan kesempatan kepada orang-orang yang bersalah untuk memperbaiki haluan mereka.

      5, 6. Mengapa Yehuwa memperlihatkan panjang sabar sehubungan dengan pemberontakan manusia?

      5 Yehuwa panjang sabar dalam berurusan dengan pasangan manusia pertama di Taman Eden. Ketika mereka melanggar perintah-Nya untuk tidak memakan buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, Ia bisa saja langsung mengeksekusi mereka bersama malaikat yang tersesat yang telah menipu Hawa. Tidak diragukan bahwa perasaan kebenaran dan keadilan Yehuwa telah diinjak-injak, bahwa Ia marah kepada ketiga pemberontak itu. Ia dapat dibenarkan sepenuhnya jika Ia langsung mengeksekusi mereka. Allah telah memperingatkan pria pertama, Adam, ”Tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.” (Kejadian 2:17) Pada hari yang sama ketika Adam berdosa, Allah meminta pertanggungjawaban dari para pelanggar dan menjatuhkan hukuman mati. Secara hukum, Adam dan Hawa mati pada hari tersebut. Namun, Pencipta kita yang panjang sabar memperbolehkan Adam hidup selama 930 tahun.—Kejadian 5:5.

      6 Allah memiliki alasan yang baik untuk berlaku panjang sabar, atau lambat marah, dalam kasus ini. Seandainya Ia langsung mengeksekusi pemberontak-pemberontak itu, hal ini tidak akan menjawab celaan yang secara tidak langsung dilancarkan Iblis bahwa Allah Yehuwa tidak layak disembah dan bahwa Ia tidak dapat memiliki hamba-hamba manusia yang akan memelihara integritas kepada-Nya tidak soal keadaan. Selain itu, pertanyaan-pertanyaan seperti berikut ini akan tetap tidak terjawab: Salah siapakah sehingga Adam dan Hawa berdosa? Apakah Yehuwa pada mulanya menciptakan mereka begitu lemah secara moral sehingga mereka tidak dapat menampik godaan dan kemudian menghukum mereka karena gagal melakukan hal tersebut? Jawaban atas semua pertanyaan ini jelas dari kisah yang terdapat dalam buku Ayub, pasal 1 dan 2. Dengan mengizinkan keturunan manusia bertambah banyak, Yehuwa memberi kesempatan kepada manusia untuk membuktikan bahwa tuduhan Setan itu palsu.

      7. Mengapa Yehuwa tidak langsung mengeksekusi Firaun?

      7 Ketika Yehuwa berniat membebaskan umat-Nya, bangsa Israel, dari perbudakan Mesir, Ia kembali membuktikan diri panjang sabar. Yehuwa dapat saja langsung membinasakan Firaun beserta kekuatan militernya. Namun, sebaliknya daripada melakukan hal ini, untuk suatu waktu Allah sabar menghadapi mereka. Untuk alasan baik apa? Nah, seraya waktu berlalu, Firaun semakin berkeras tidak membiarkan bangsa Israel meninggalkan Mesir sebagai umat Yehuwa yang bebas. Dengan demikian ia memperlihatkan bahwa ia adalah ’bejana kemurkaan’ yang layak dibinasakan karena menentang Yehuwa. (Roma 9:14-24) Namun, dalam kasus ini ada alasan lebih besar mengapa Allah menunjukkan panjang sabar. Melalui Musa, Ia memberi tahu Firaun, ”Bukankah sudah lama Aku dapat mengacungkan tanganKu untuk membunuh engkau dan rakyatmu dengan penyakit sampar, sehingga engkau terhapus dari atas bumi; akan tetapi inilah sebabnya Aku membiarkan engkau hidup, yakni supaya memperlihatkan kepadamu kekuatanKu dan supaya namaKu dimasyhurkan di seluruh bumi.”—Keluaran 9:15, 16.

      8. Untuk alasan apa Allah tidak mengeksekusi orang-orang Israel yang memberontak di padang belantara?

      8 Panjang sabar Yehuwa juga diperlihatkan untuk alasan yang baik ketika bangsa Israel berada di padang belantara. Mereka benar-benar menguji kesabaran Allah dengan menyembah anak lembu emas dan dengan tidak mengamalkan iman ketika sepuluh mata-mata kembali membawa laporan yang buruk! Allah tidak melenyapkan mereka sebagai umat-Nya karena nama dan reputasi-Nya tersangkut. Ya, Yehuwa memperlihatkan panjang sabar demi kepentingan nama-Nya.—Keluaran 32:10-14; Bilangan 14:11-20.

      Panjang Sabar demi Kepentingan Manusia

      9. Mengapa Yehuwa memperlihatkan panjang sabar pada zaman Nuh?

      9 Yehuwa berlaku panjang sabar demi kepentingan umat manusia dari awal mula, sejak Adam berbuat salah terhadap bakal keturunannya, berlaku tidak adil terhadap mereka dengan berdosa. Panjang sabar Allah memungkinkan kesalahan tersebut diperbaiki karena Ia memberikan waktu kepada manusia-manusia yang bertobat untuk diperdamaikan dengan Dia. (Roma 5:8-10) Allah Yehuwa juga memperlihatkan panjang sabar terhadap manusia-manusia pada zaman Nuh. Pada masa itu, ”dilihat [Yehuwa], bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata”. (Kejadian 6:5) Meskipun Allah bisa saja memusnahkan umat manusia segera setelah Ia melihat keadaan ini, Ia memutuskan akan mengakhiri keadaan ini dalam waktu 120 tahun. (Kejadian 6:3) Pernyataan panjang sabar ini memberi Nuh waktu sehingga ia dapat memiliki tiga anak laki-laki, mereka dapat menjadi dewasa dan menikah, dan keluarga tersebut dapat membangun bahtera demi keselamatan jiwa mereka dan demi terpeliharanya makhluk-makhluk binatang. Dengan jalan ini maksud-tujuan Allah yang semula berkenaan bumi dapat diwujudkan.

      10, 11. Mengapa Yehuwa begitu panjang sabar terhadap bangsa Israel?

      10 Definisi lain untuk panjang sabar khususnya terlihat dalam cara Allah berurusan dengan umat-Nya. Yaitu ”dengan sabar menanggung perlakuan buruk atau provokasi, disertai penolakan untuk berhenti mengharapkan perbaikan dalam hubungan yang telah rusak”. (Insight on the Scriptures, Jilid 2, halaman 262; diterbitkan oleh Watchtower Bible and Tract Society of New York, Inc.) Hal ini menunjuk kepada alasan tambahan mengapa Allah berpanjang sabar terhadap umat Israel. Mereka berulang kali berpaling dari Yehuwa dan kemudian menjadi tawanan bangsa-bangsa Kafir. Meskipun begitu, Ia memperlihatkan panjang sabar dengan membebaskan bangsa Israel dan memberi mereka kesempatan untuk bertobat.—Hakim 2:16-20.

      11 Kebanyakan raja-raja Israel menjerumuskan rakyat mereka ke dalam penyembahan palsu. Apakah Allah langsung membuang bangsa itu? Tidak, Ia tidak cepat berhenti mengharapkan perbaikan dalam hubungan yang telah rusak. Sebaliknya, Yehuwa lambat marah. Dengan memperlihatkan panjang sabar, Allah berulang kali memberi mereka kesempatan untuk bertobat. Kita membaca di 2 Tawarikh 36:15, 16, ”[Yehuwa] Allah nenek moyang mereka, berulang-ulang mengirim pesan melalui utusan-utusanNya, karena Ia sayang kepada umatNya dan tempat kediamanNya. Tetapi mereka mengolok-olok utusan-utusan Allah itu, menghina segala firmanNya, dan mengejek nabi-nabiNya. Oleh sebab itu murka [Yehuwa] bangkit terhadap umatNya, sehingga tidak mungkin lagi pemulihan.”

      12. Bukti apa diberikan oleh Kitab-Kitab Yunani Kristen mengenai alasan Yehuwa berpanjang sabar?

      12 Kitab-Kitab Yunani Kristen juga menyediakan bukti bahwa Yehuwa memperlihatkan panjang sabar untuk membantu umat-Nya yang bersalah. Misalnya, rasul Paulus mengajukan pertanyaan kepada orang-orang Kristen yang bersalah, ”Maukah engkau menganggap sepi kekayaan kemurahanNya, kesabaranNya dan kelapangan hatiNya? Tidakkah engkau tahu, bahwa maksud kemurahan Allah ialah menuntun engkau kepada pertobatan?” (Roma 2:4) Senada dengan itu adalah kata-kata Petrus, ”Tuhan [”Yehuwa”, NW] tidak lalai menepati janjiNya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat.” (2 Petrus 3:9) Dengan sangat tepat, kita diberi tahu agar ’menganggap kesabaran Tuhan kita sebagai kesempatan untuk beroleh keselamatan’. (2 Petrus 3:15) Jadi, kita lihat bahwa Yehuwa panjang sabar, bukan karena perasaan sentimental atau lalai, tetapi karena nama dan maksud-tujuan-Nya terlibat dan Ia berbelas kasihan dan pengasih.

      Teladan Yesus dalam Panjang Sabar

      13. Bukti apa yang terdapat dalam Alkitab bahwa Kristus Yesus panjang sabar?

      13 Setelah Allah, teladan kedua dalam sifat panjang sabar adalah yang diberikan oleh Putra-Nya, sang Mesias, Kristus Yesus. Ia merupakan teladan luar biasa dalam pengendalian diri tanpa cepat membalas meskipun menghadapi provokasi.a Bahwa sang Mesias akan berpanjang sabar telah dinubuatkan oleh nabi Yesaya dalam kata-kata ini, ”Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya.” (Yesaya 53:7) Pernyataan Petrus meneguhkan kebenaran yang sama, ”Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil.” (1 Petrus 2:23) Murid-murid Yesus pasti sangat menguji dia dengan berulang kali berselisih mengenai siapa yang terbesar! Namun, ia benar-benar panjang sabar terhadap mereka!—Markus 9:34; Lukas 9:46; 22:24.

      14. Teladan panjang sabar Yesus hendaknya menggerakkan kita untuk berbuat apa?

      14 Kita harus meniru teladan yang Yesus berikan dalam berpanjang sabar. Paulus menulis, ”Marilah kita . . . berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita. Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib [”tiang siksaan”, NW] ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah. Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diriNya dari pihak orang-orang berdosa, supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa.”—Ibrani 12:1-3.

      15. Bagaimana kita tahu bahwa Yesus panjang sabar dan rela menahan pencobaan?

      15 Bahwa Yesus panjang sabar dan rela menanggung ujian jelas dari sikap yang ia perlihatkan pada waktu ia ditangkap. Setelah menegur Petrus karena telah menggunakan pedang untuk melindungi Majikannya, Yesus berkata, ”Kausangka, bahwa Aku tidak dapat berseru kepada BapaKu, supaya Ia segera mengirim lebih dari dua belas pasukan malaikat membantu Aku? Jika begitu, bagaimanakah akan digenapi yang tertulis dalam Kitab Suci, yang mengatakan, bahwa harus terjadi demikian?”—Matius 26:51-54; Yohanes 18:10, 11.

      Teladan-Teladan Lain dari Sifat Panjang Sabar

      16. Bagaimana Alkitab memperlihatkan bahwa Yusuf, putra Yakub, menunjukkan panjang sabar?

      16 Bahkan manusia yang tidak sempurna, berdosa, dapat memperlihatkan panjang sabar. Kitab-Kitab Ibrani memuat contoh-contoh dari orang-orang tidak sempurna yang dengan sabar menanggung perlakuan buruk. Misalnya, Yusuf, putra Yakub, sang patriarkh Ibrani. Betapa ia dengan sabar menahan ketidakadilan yang ditimpakan ke atasnya oleh saudara-saudara tirinya dan oleh istri Potifar! (Kejadian 37:18-28; 39:1-20) Yusuf tidak membiarkan pencobaan-pencobaan ini membuat dia menjadi pembenci. Hal ini nyata ketika ia memberi tahu saudara-saudaranya, ”Janganlah bersusah hati dan janganlah menyesali diri, karena kamu menjual aku ke sini, sebab untuk memelihara kehidupanlah Allah menyuruh aku mendahului kamu.” (Kejadian 45:4, 5) Yusuf benar-benar memberikan teladan dalam sifat panjang sabar!

      17, 18. Apa bukti mengenai sifat panjang sabar dalam kasus Daud?

      17 Daud adalah contoh lain mengenai seorang hamba Yehuwa yang setia yang dengan sabar menanggung ketidakadilan, memperlihatkan panjang sabar. Ketika dikejar-kejar seperti anjing oleh Raja Saul yang merasa dengki, pada dua kesempatan Daud dapat saja membalas dengan membunuh dia. (1 Samuel 24:1-22; 26:1-25) Tetapi Daud menunggu Allah, seperti jelas dari kata-katanya kepada Abisai, ”Niscaya [Yehuwa] akan membunuh [Saul]: entah karena sampai ajalnya dan ia mati, entah karena ia pergi berperang dan hilang lenyap di sana. Kiranya [Yehuwa] menjauhkan dari padaku untuk menjamah orang yang diurapi [Yehuwa].” (1 Samuel 26:10, 11) Ya, Daud dapat mengakhiri pengejaran oleh Saul. Sebaliknya, Daud memilih untuk panjang sabar.

      18 Pertimbangkan juga apa yang terjadi ketika Raja Daud melarikan diri dari Absalom, putranya yang mengkhianat. Simei, seseorang dari suku Benyamin dari keluarga Saul, melempari Daud dengan batu dan mengutuk dia dengan berteriak, ”Enyahlah, enyahlah, engkau penumpah darah, orang dursila!” Abisai ingin agar Simei dibunuh, namun Daud tidak mau membalas. Sebaliknya daripada melakukan hal itu, ia kembali memperlihatkan sifat panjang sabar.—2 Samuel 16:5-13.

      Pertimbangkan Teladan Paulus

      19, 20. Bagaimana rasul Paulus memperlihatkan diri panjang sabar?

      19 Dalam Kitab-Kitab Yunani Kristen, ada teladan lain untuk sifat panjang sabar di pihak seseorang yang tidak sempurna—rasul Paulus. Ia memperlihatkan ketekunan yang disertai kesabaran, terhadap musuh-musuh agamaisnya dan juga orang-orang yang mengaku diri Kristen. Ya, Paulus memperlihatkan panjang sabar meskipun beberapa orang di jemaat Korintus berkata, ”Surat-suratnya memang tegas dan keras, tetapi bila berhadapan muka sikapnya lemah dan perkataan-perkataannya tidak berarti.”—2 Korintus 10:10; 11:5, 6, 22-33.

      20 Maka, dengan alasan baik, Paulus memberi tahu jemaat Korintus, ”Dalam segala hal kami menunjukkan, bahwa kami adalah pelayan Allah, yaitu: dalam menahan dengan penuh kesabaran dalam penderitaan, kesesakan dan kesukaran, dalam menanggung dera, dalam penjara dan kerusuhan, dalam berjerih payah, dalam berjaga-jaga dan berpuasa; dalam kemurnian hati, pengetahuan, kesabaran, dan kemurahan hati; dalam Roh Kudus dan kasih yang tidak munafik.” (2 Korintus 6:4-6) Dengan nada yang sama, sang rasul dapat menulis kepada rekan sekerjanya Timotius, ”Engkau telah mengikuti ajaranku, cara hidupku, pendirianku, imanku, kesabaranku, kasihku dan ketekunanku. Engkau telah ikut menderita penganiayaan dan sengsara . . . dan Tuhan telah melepaskan aku dari padanya.” (2 Timotius 3:10, 11) Betapa baik teladan yang rasul Paulus berikan bagi kita dalam berpanjang sabar!

      21. Bagaimana artikel berikutnya dapat membantu kita?

      21 Jelaslah, Alkitab penuh dengan teladan-teladan panjang sabar. Yehuwa dan Putra-Nya yang Ia kasihi adalah teladan utama. Tetapi betapa menganjurkan memperhatikan bahwa sifat ini telah diperlihatkan oleh orang-orang yang tidak sempurna, seperti Yusuf, Daud, dan rasul Paulus! Artikel berikutnya dirancang untuk membantu kita meniru teladan-teladan demikian.

      [Catatan Kaki]

      a Berpanjang sabar tidak sekadar berarti menderita untuk waktu lama. Jika seseorang yang menderita untuk waktu lama menjadi frustrasi atau menjadi pembenci karena tidak dapat membalas, ia tidak panjang sabar.

  • Hendaklah Panjang Sabar terhadap Semua Orang
    Menara Pengawal—1991 | 15 Mei
    • Hendaklah Panjang Sabar terhadap Semua Orang

      ”Kami juga menasihati kamu, saudara-saudara, tegorlah mereka yang hidup dengan tidak tertib, hiburlah mereka yang tawar hati, belalah mereka yang lemah, sabarlah terhadap semua orang.”​—1 TESALONIKA 5:14.

      1. Di mana dan di bawah keadaan apa saja Saksi-Saksi Yehuwa telah memperlihatkan panjang sabar?

      BETAPA hebat teladan yang diberikan oleh Saksi-Saksi Yehuwa zaman modern dalam berlaku panjang sabar! Mereka telah menanggung banyak kesukaran dan penindasan di negara-negara yang dulu dikuasai Nazi serta Fasisme dan sampai sekarang di negeri-negeri seperti Malawi. Mereka yang hidup dalam rumah tangga yang terbagi secara agama juga memperlihatkan panjang sabar.

      2. Dua faktor apa menghasilkan firdaus rohani yang dinikmati umat Yehuwa?

      2 Meskipun mengalami penindasan dan kesukaran, umat Yehuwa yang berbakti telah menikmati berkat-berkat berupa firdaus rohani. Sesungguhnya, fakta-fakta menunjukkan bahwa orang-orang Kristen terurap mulai menikmatinya pada tahun 1919. Hal apa saja yang menghasilkan firdaus rohani ini? Pertama-tama, keadaan seperti firdaus ini ada di kalangan umat Yehuwa karena Allah telah memulihkan hamba-hamba-Nya yang terurap ke ”negeri” mereka atau keadaan mereka berupa ibadat yang murni. (Yesaya 66:7, 8) Firdaus rohani juga berkembang karena setiap orang di dalamnya mempertunjukkan buah-buah roh Allah. Salah satu di antaranya adalah panjang sabar. (Galatia 5:22, 23) Pentingnya sifat ini sejauh menyangkut firdaus rohani kita dapat lihat dari pernyataan berikut oleh sarjana William Barclay, ”Tidak mungkin ada hal-hal seperti pergaulan Kristen tanpa adanya makrothumia [panjang sabar]. . . . Dan alasannya adalah karena hal ini saja—bahwa makrothumia merupakan sifat yang agung dari Allah (Rm. 2.4; 9.22).” (A New Testament Wordbook, halaman 84) Ya, panjang sabar demikian penting!

      Panjang Sabar terhadap Saudara-Saudara Kita

      3. Pelajaran apa tentang sifat panjang sabar yang diberikan Yesus kepada Petrus?

      3 Rupanya rasul Petrus mendapat kesulitan memperlihatkan panjang sabar, karena ia pernah bertanya kepada Yesus, ”Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” Yesus menasihati dia, ”Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali [”tujuh puluh tujuh kali”, NW].” (Matius 18:21, 22) Dengan kata lain, tidak ada batas berapa kali kita harus bersabar terhadap satu sama lain dan mengampuni seseorang yang berdosa kepada kita. Bagaimanapun juga, kita tidak dapat membayangkan bahwa ada orang yang akan terus menghitung sampai 77 kali! Namun, untuk dapat suka mengampuni demikian, pasti dituntut sifat panjang sabar.

      4. Mengapa para penatua khususnya perlu panjang sabar?

      4 Sehubungan dengan memperlihatkan panjang sabar oleh saudara-saudara rohani, tidak diragukan bahwa para penatua sidang harus menjadi teladan. Kesabaran mereka dapat diuji karena ada rekan-rekan seiman yang mungkin berlaku ceroboh atau bersikap tidak acuh. Yang lain-lain mungkin lambat dalam memperbaiki kebiasaan-kebiasaan buruk. Para penatua harus berhati-hati agar tidak cepat jengkel atau tersinggung oleh kelemahan dari saudara-saudari Kristen mereka. Sebaliknya, para gembala rohani ini perlu mengingat nasihat, ”Kita, yang kuat, wajib menanggung kelemahan orang yang tidak kuat dan jangan kita mencari kesenangan kita sendiri.”—Roma 15:1.

      5. Kita akan sanggup bersabar terhadap apa jika kita berlaku panjang sabar?

      5 Kemudian, konflik kepribadian bisa timbul karena kelemahan dan kekurangan manusiawi. Akibat kelemahan atau keanehan pada diri seseorang, kita bisa saja membuat marah saudara-saudara kita, dan mereka dapat melakukan hal yang sama terhadap kita. Itu sebabnya, betapa cocok nasihat, ”Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan [”Yehuwa”, NW] telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.” (Kolose 3:13) ’Bersabar seorang terhadap yang lain’, berarti berlaku panjang sabar, meskipun kita memiliki alasan yang sah untuk mengeluh tentang seseorang. Kita tidak boleh membalas atau menghukum saudara kita, bahkan tidak bersungut-sungut karena jengkel.—Yakobus 5:9.

      6. Mengapa berlaku panjang sabar merupakan haluan yang bijaksana?

      6 Nasihat yang terdapat di Roma 12:19 mempunyai tujuan yang sama, ”Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hakKu, Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan [”Yehuwa”, NW].” ’Memberi tempat kepada kemurkaan’, berarti lambat marah, atau panjang sabar. Memperlihatkan sifat ini merupakan haluan yang bijaksana, karena hal itu bermanfaat bagi kita dan orang-orang lain. Jika suatu problem timbul, kita sendiri akan merasa lebih baik karena dengan berlaku panjang sabar, kita tidak memperburuk keadaan. Selain itu, orang kepada siapa kita berpanjang sabar, merasa diri lebih baik karena kita tidak menghukum dia atau membalas dendam dengan cara tertentu. Tidak heran bahwa Paulus menasihatkan sesama orang Kristen, ”hiburlah mereka yang tawar hati, belalah mereka yang lemah, sabarlah terhadap semua orang”!—1 Tesalonika 5:14.

      Dalam Lingkungan Keluarga

      7. Mengapa orang-orang yang sudah menikah harus panjang sabar?

      7 Dengan tepat dikatakan bahwa perkawinan yang bahagia adalah perpaduan antara dua orang yang suka mengampuni. Apa artinya itu? Bahwa pasangan yang berbahagia berlaku panjang sabar terhadap satu sama lain. Sering kali orang-orang tertarik satu sama lain karena mereka memiliki pembawaan yang berlawanan. Perbedaan ini bisa saja sangat menarik, namun bisa juga menjadi sumber percekcokan yang menambah kepada tekanan dan kekhawatiran yang sudah menimbulkan ”kesusahan badani” atas orang-orang Kristen yang menikah. (1 Korintus 7:28) Misalnya, andai kata seorang suami kurang peduli dengan rincian kecil atau cenderung agak sembarangan atau tidak rapi. Ini bisa jadi sangat mengesalkan istrinya. Namun jika saran-saran yang disampaikan dengan ramah tidak ada hasilnya, si istri, apa boleh buat akan menanggung saja kelemahan itu dengan berlaku panjang sabar.

      8. Mengapa para suami mungkin perlu panjang sabar?

      8 Di pihak lain, seorang istri bisa jadi mempermasalahkan hal-hal kecil dan sering mengeluh dan mengomel kepada suami. Ini bisa jadi akan mengingatkan kepada ayat, ”Lebih baik tinggal pada sotoh rumah dari pada diam serumah dengan perempuan yang suka mengomel.” (Amsal 25:24, Today’s English Version) Dalam keadaan demikian, panjang sabar dituntut agar dapat mengikuti nasihat Paulus, ”Hai suami-suami, kasihilah isterimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia.” (Kolose 3:19) Para suami juga perlu panjang sabar agar dapat menerapkan nasihat rasul Petrus, ”Hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan isterimu, sebagai kaum yang lebih lemah! Hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan, supaya doamu jangan terhalang.” (1 Petrus 3:7) Kelemahan istri kadang-kadang bisa menjengkelkan suami, namun panjang sabar akan membantu dia bersabar.

      9. Mengapa panjang sabar diperlukan di pihak orang-tua?

      9 Para orang-tua perlu berlaku panjang sabar jika mereka ingin sukses dalam membesarkan anak-anak mereka. Anak-anak kecil bisa melakukan kesalahan yang sama berulang kali. Mereka mungkin kelihatannya keras kepala atau lambat belajar dan terus-menerus menjengkelkan orang-tua mereka. Di bawah keadaan demikian, para orang-tua Kristen perlu lambat marah, tidak naik pitam atau hilang kesabaran tetapi tetap tenang seraya teguh berpegang pada prinsip-prinsip yang benar. Bapak-bapak harus mengingat bahwa mereka pernah muda dan juga membuat kesalahan. Mereka perlu menerapkan nasihat Paulus, ”Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya.”—Kolose 3:21.

      Dengan Orang-Orang di Luar

      10. Bagaimana hendaknya tindakan kita di tempat kerja, sebagaimana diperlihatkan oleh pengalaman apa?

      10 Karena ketidaksempurnaan manusia dan sifat mementingkan diri, seorang Kristen dapat mengalami keadaan yang tidak menyenangkan di tempat pekerjaan. Adalah haluan hikmat untuk berlaku bijaksana dan bersabar menghadapi perlakuan buruk demi memelihara perdamaian. Untuk menunjukkan bahwa hal ini bisa benar-benar berhikmat adalah pengalaman seorang Kristen yang menjadi korban perlakuan yang tidak baik dari rekan sekerja yang iri hati. Karena saudara ini tidak mempermasalahkan hal ini tetapi berlaku panjang sabar, suatu waktu ia berhasil memulai pengajaran Alkitab dengan rekan ini yang sebelumnya sangat mengganggu.

      11. Bila mana khususnya kita perlu panjang sabar, dan mengapa?

      11 Umat Yehuwa khususnya perlu panjang sabar pada waktu memberi kesaksian kepada orang-orang di luar sidang Kristen. Berulang kali, orang-orang Kristen mendapat tanggapan yang kasar dan keras. Apakah pantas atau bijaksana untuk membalas dengan cara yang sama? Tidak, karena itu berarti tidak memperlihatkan sifat panjang sabar. Haluan yang bijaksana adalah mengingat dan mengikuti amsal yang bijaksana, ”Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan marah.”—Amsal 15:1.

      Iman dan Pengharapan Membantu dalam Memperlihatkan Panjang Sabar

      12, 13. Sifat-sifat apa akan membantu kita untuk panjang sabar?

      12 Apa yang dapat membantu kita memperlihatkan panjang sabar, sabar menghadapi keadaan yang sangat buruk? Salah satunya adalah iman dalam janji-janji Allah. Kita harus mempercayai apa yang Allah katakan. Alkitab berkata, ”Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.” (1 Korintus 10:13) Dengan kata lain, seperti diucapkan seseorang yang sudah lama dalam kebenaran, ”Jika Allah mengizinkannya, saya dapat menanggungnya.” Ya, kita dapat menanggungnya dengan berlaku panjang sabar.

      13 Yang erat hubungannya dengan iman adalah harapan akan Kerajaan Allah. Pada waktu Kerajaan itu berkuasa atas bumi, semua keadaan buruk yang menyebabkan kesukaran akan dilenyapkan. Sehubungan dengan hal ini, pemazmur Daud berkata, ”Berhentilah marah dan tinggalkanlah panas hati itu, jangan marah, itu hanya membawa kepada kejahatan. Sebab orang-orang yang berbuat jahat akan dilenyapkan, tetapi orang-orang yang menanti-nantikan [Yehuwa] akan mewarisi negeri [”bumi”, NW].” (Mazmur 37:8, 9) Harapan yang pasti bahwa Allah akan segera melenyapkan semua keadaan yang sukar ini, membantu kita untuk panjang sabar.

      14. Pengalaman apa memperlihatkan alasan kita harus panjang sabar terhadap pasangan hidup yang tidak beriman?

      14 Bagaimana sepatutnya reaksi kita jika teman hidup yang tidak beriman menyebabkan kesukaran? Teruslah berpaling kepada Allah untuk bantuan, dan teruslah berharap bahwa orang yang menentang itu akan menjadi penyembah Yehuwa. Istri salah seorang Kristiani kadang-kadang tidak mau mempersiapkan makanan dan mencuci baju suaminya. Ia menggunakan bahasa kotor, tidak mau berbicara kepadanya selama berhari-hari, dan bahkan berupaya mengguna-gunai dia. ”Akan tetapi,” kata saudara itu, ”setiap kali saya berpaling kepada Yehuwa dalam doa, dan saya menaruh keyakinan bahwa Ia akan membantu saya memperkembangkan sifat yang baik berupa panjang sabar untuk menjaga keseimbangan Kristen saya. Saya juga berharap agar suatu saat sikap hatinya akan berubah.” Setelah 20 tahun mengalami perlakuan demikian, istrinya mulai berubah, dan ia berkata, ”Saya bersyukur sekali akan bantuan Yehuwa dalam memupuk buah roh panjang sabar, karena sekarang saya dapat melihat hasilnya: Istri saya mulai menempuh jalan menuju kehidupan!”

      Doa, Kerendahan Hati, dan Kasih akan Membantu

      15. Mengapa doa dapat membantu kita untuk panjang sabar?

      15 Doa merupakan bantuan besar lain dalam memperlihatkan panjang sabar. Paulus mendesak, ”Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.” (Filipi 4:6, 7) Jangan lupa menerapkan nasihat, ”Serahkanlah kuatirmu kepada [Yehuwa], maka Ia akan memelihara engkau! Tidak untuk selama-lamanya dibiarkanNya orang benar itu goyah.”—Mazmur 55:23.

      16. Dengan berlaku panjang sabar, bagaimana kerendahan hati dapat membantu kita?

      16 Kerendahan hati adalah bantuan besar lain lagi untuk memupuk buah roh panjang sabar. Orang yang angkuh tidak sabar. Ia mudah tersinggung, cepat marah, dan tidak mau menerima perlakuan apa pun yang tidak menyenangkan. Semua ini adalah lawan dari sifat panjang sabar. Tetapi orang yang rendah hati tidak akan menganggap diri sebagai orang penting. Ia akan bersandar pada Yehuwa, seperti yang dilakukan Daud ketika dikejar-kejar oleh Raja Saul dan dihina oleh Simei dari suku Benyamin. (1 Samuel 24:4-6; 2 Samuel 16:5-13) Jadi, kita harus ingin berjalan ”dengan segala kerendahan hati dan lemah lembut serta dengan panjang hati, menaruh sabar sama sendiri dengan kasih”. (Efesus 4:2, Bode) Selain itu, kita harus ’merendahkan diri kita di hadapan Yehuwa’.—Yakobus 4:10.

      17. Mengapa kasih akan membantu kita untuk panjang sabar?

      17 Khususnya kasih yang tidak mementingkan diri dapat membantu kita berlaku panjang sabar. Memang, ”kasih itu sabar”, karena kasih membuat kita memperhatikan kepentingan orang lain. (1 Korintus 13:4) Kasih memungkinkan kita memiliki empati, seolah-olah menempatkan diri kita dalam keadaan orang lain. Juga, kasih membantu kita berlaku panjang sabar karena kasih ”menutupi segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. Kasih tidak berkesudahan [”tidak pernah mengecewakan”, NW]”. (1 Korintus 13:7, 8) Ya, seperti yang dimuat dalam lagu Kerajaan nomor 200 dalam buku Nyanyikanlah Pujian bagi Yehuwa:

      ”Kasih lihat kebaikan,

      Bina persaudaraan.

      Ramah pada yang khilaf,

      Dengan limpah b’ri maaf.”

      Berlaku Panjang Sabar Disertai Sukacita?

      18. Bagaimana mungkin untuk berlaku panjang sabar disertai sukacita?

      18 Paulus berdoa semoga rekan-rekan seimannya di Kolose dipenuhi dengan pengetahuan yang saksama tentang kehendak Allah sehingga mereka dapat berjalan dengan layak di hadapan Yehuwa, menyenangkan Dia, dan menghasilkan buah-buah dalam setiap pekerjaan baik. Dengan demikian mereka akan ”dikuatkan dengan segala kekuatan oleh kuasa kemuliaanNya untuk menanggung segala sesuatu dengan tekun dan sabar [serta dengan sukacita, Bode]”. (Kolose 1:9-11) Namun, bagaimana seseorang dapat ’bersabar disertai sukacita’? Hal itu tidak bertentangan, karena memiliki sukacita yang disebut di dalam Alkitab bukan sekedar riang hati atau bergembira. Buah roh berupa sukacita mencakup perasaan puas dalam hati karena telah melakukan perkara yang benar di hadapan Allah. Itu juga merupakan pencetusan dari harapan akan menerima imbalan yang dijanjikan sebagai hasil menerapkan sifat panjang sabar. Itu sebabnya Yesus berkata, ”Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu.”—Matius 5:11, 12.

      19. Teladan-teladan apa memperlihatkan bahwa adalah mungkin untuk panjang sabar dan juga bersukacita?

      19 Yesus memiliki sukacita demikian. Sesungguhnya, ia ”dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib [”tiang siksaan”, NW] ganti sukacita yang disediakan bagi Dia”. (Ibrani 12:2) Sukacita tersebut memungkinkan Yesus untuk panjang sabar. Demikian pula, pertimbangkan apa yang terjadi pada waktu para rasul dicambuk dan ’dilarang untuk mengajar dalam nama Yesus’. Mereka ”meninggalkan sidang Mahkamah Agama dengan gembira, karena mereka telah dianggap layak menderita penghinaan oleh karena Nama Yesus. Dan setiap hari mereka melanjutkan pengajaran mereka di Bait Allah dan di rumah-rumah orang dan memberitakan Injil tentang Yesus yang adalah Mesias”. (Kisah 5:40-42) Sungguh suatu teladan yang membuktikan bahwa pengikut-pengikut Kristus dapat berlaku panjang sabar disertai sukacita!

      20. Jika kita memperlihatkan panjang sabar, bagaimana hal ini dapat mempengaruhi hubungan kita dengan orang-orang lain?

      20 Firman Allah memang memberikan nasihat yang bijaksana dengan menasihati kita agar tidak membalas dendam, agar lambat marah sambil mengharapkan yang terbaik—ya, agar menunjukkan panjang sabar! Kita perlu berdoa dengan tetap tentu dan memiliki buah roh Allah ini agar dapat bergaul serasi dengan saudara dan saudari di dalam sidang, dengan mereka dalam lingkungan keluarga, dengan orang-orang di tempat pekerjaan kita, dan dengan orang-orang yang kita jumpai dalam pelayanan Kristen. Apa yang dapat membantu kita memperlihatkan panjang sabar ini? Iman, harapan, kerendahan hati, sukacita dan kasih. Sebenarnya, dengan sifat-sifat ini kita dapat memperlihatkan panjang sabar terhadap semua orang.

Publikasi Menara Pengawal Bahasa Indonesia (1971-2025)
Log Out
Log In
  • Indonesia
  • Bagikan
  • Pengaturan
  • Copyright © 2025 Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania
  • Syarat Penggunaan
  • Kebijakan Privasi
  • Pengaturan Privasi
  • JW.ORG
  • Log In
Bagikan