PERPUSTAKAAN ONLINE Menara Pengawal
PERPUSTAKAAN ONLINE
Menara Pengawal
Indonesia
  • ALKITAB
  • PUBLIKASI
  • PERHIMPUNAN
  • ”Aku Bersih dari Darah Semua Orang”
    ”Memberikan Kesaksian yang Saksama tentang Kerajaan Allah”
    • PASAL 21

      ”Aku Bersih dari Darah Semua Orang”

      Semangat Paulus dalam pelayanan dan nasihatnya kepada para penatua

      Berdasarkan Kisah 20:1-38

      1-3. (a) Ceritakan bagaimana sampai Eutikhus mati. (b) Apa yang dilakukan Paulus, dan apa yang dapat kita pelajari dari peristiwa itu tentang Paulus?

      PAULUS berada di ruang atas yang penuh sesak di Troas. Dia berbicara cukup panjang kepada saudara-saudara, karena inilah malam terakhir dia bersama mereka. Sekarang sudah tengah malam. Ada cukup banyak lampu minyak di ruangan itu, sehingga udara terasa semakin panas dan mungkin semakin menyesakkan. Di salah satu jendela, duduk seorang pemuda bernama Eutikhus. Sembari Paulus berbicara, Eutikhus terlelap dan jatuh dari jendela lantai tiga itu!

      2 Sebagai dokter, Lukas bisa jadi adalah yang pertama bergegas keluar dan memeriksa keadaan anak muda itu. Kondisinya sudah jelas. Eutikhus ”sudah mati ketika diangkat”. (Kis. 20:9) Tetapi, kemudian terjadi mukjizat. Paulus merebahkan dirinya di atas pemuda itu dan memberi tahu orang yang berkerumun, ”Jangan khawatir lagi. Dia hidup.” Paulus telah membangkitkan Eutikhus!​—Kis. 20:10.

      3 Peristiwa itu memperlihatkan hebatnya kuasa kudus Allah. Paulus tidak bisa dipersalahkan sebagai penyebab kematian Eutikhus. Namun, dia tidak mau kematian anak muda itu menodai acara penting tersebut atau membuat seseorang tersandung. Dengan bangkitnya Eutikhus, sidang itu akan terhibur dan sangat termotivasi untuk meneruskan pelayanan sepeninggal Paulus. Jelaslah, Paulus merasa sangat bertanggung jawab atas nyawa orang lain. Kita teringat akan kata-katanya yang berbunyi, ”Aku bersih dari darah semua orang.” (Kis. 20:26) Mari kita bahas bagaimana teladan Paulus bisa membantu kita dalam segi ini.

      Dia ”Memulai Perjalanannya ke Makedonia” (Kis. 20:1, 2)

      4. Pengalaman buruk apa yang baru Paulus dapatkan?

      4 Sebagaimana dibahas di pasal sebelumnya, Paulus baru saja mendapat pengalaman buruk. Pelayanannya di Efesus telah menimbulkan kerusuhan yang cukup besar. Ya, para tukang perak yang sumber nafkahnya bergantung pada ibadah Artemis turut dalam kerusuhan itu! ”Setelah kerusuhan itu reda,” tutur Kisah 20:1, ”Paulus memanggil murid-murid dan menguatkan mereka, lalu pamit dan memulai perjalanannya ke Makedonia.”

      5, 6. (a) Berapa lama Paulus tinggal di Makedonia, dan apa yang dia lakukan bagi saudara-saudara di sana? (b) Sikap apa yang terus Paulus perlihatkan kepada rekan-rekan seimannya?

      5 Dalam perjalanan ke Makedonia, Paulus mampir di pelabuhan Troas selama beberapa waktu. Di sana, Paulus berharap bisa bertemu dengan Titus, yang telah diutus ke Korintus. (2 Kor. 2:12, 13) Tetapi, setelah jelas bahwa Titus tidak akan datang, Paulus pergi ke Makedonia, mungkin tinggal selama kira-kira setahun untuk ”menyampaikan kata-kata yang menguatkan murid-murid di sana”.a (Kis. 20:2) Titus akhirnya menemui Paulus di Makedonia, dengan membawa kabar baik tentang tanggapan orang Korintus atas surat Paulus yang pertama. (2 Kor. 7:5-7) Hal itu menggerakkan Paulus untuk menulis surat lagi kepada mereka, yang sekarang kita kenal sebagai 2 Korintus.

      6 Menarik, Lukas menggunakan kata ”menguatkan” untuk melukiskan kunjungan Paulus kepada saudara-saudara di Efesus dan Makedonia. Betapa tepat kata itu mengungkapkan sikap Paulus terhadap rekan seiman! Kontras dengan orang Farisi, yang memandang hina orang lain, Paulus memandang domba-domba sebagai rekan sekerja. (Yoh. 7:47-49; 1 Kor. 3:9) Paulus tetap mempertahankan sikap itu bahkan ketika dia harus memberi mereka nasihat yang keras.​—2 Kor. 2:4.

      7. Bagaimana para pengawas Kristen zaman sekarang bisa meniru teladan Paulus?

      7 Sekarang, para penatua sidang dan pengawas wilayah berupaya meniru teladan Paulus. Bahkan sewaktu mereka memberikan teguran, tujuannya adalah untuk menguatkan orang-orang yang membutuhkan bantuan. Para pengawas dengan penuh empati berupaya menguatkan dan bukannya menyalahkan. Seorang pengawas wilayah yang berpengalaman mengatakan, ”Kebanyakan saudara-saudari kita ingin melakukan apa yang benar, tetapi mereka sering harus berjuang melawan frustrasi, ketakutan, dan perasaan tidak berdaya untuk menolong diri sendiri.” Para pengawas bisa menjadi sumber kekuatan bagi rekan-rekan seiman seperti itu.​—Ibr. 12:12, 13.

      SURAT-SURAT PAULUS DARI MAKEDONIA

      Dalam suratnya yang kedua kepada orang Korintus, Paulus mengatakan bahwa ketika dia tiba di Makedonia, dia khawatir tentang saudara-saudaranya di Korintus. Tetapi, Titus membawa kabar baik baginya dari Korintus, dan Paulus pun terhibur. Maka, sekitar tahun 55 M, Paulus menulis 2 Korintus, yang menyiratkan bahwa dia masih berada di Makedonia. (2 Kor. 7:5-7; 9:2-4) Salah satu hal yang ada dalam benak Paulus pada waktu itu adalah menyelesaikan pengumpulan dana bantuan bagi orang-orang kudus di Yudea. (2 Kor. 8:18-21) Dia juga mengkhawatirkan kehadiran ”rasul palsu, yang suka menipu” di Korintus.​—2 Kor. 11:5, 13, 14.

      Mungkin surat Paulus kepada Titus ditulis dari Makedonia. Suatu waktu antara tahun 61 hingga 64 M, setelah dibebaskan dari pemenjaraannya yang pertama di Roma, Paulus mengunjungi Pulau Kreta. Dia meninggalkan Titus di sana untuk menyelesaikan beberapa problem dan melantik para penatua. (Tit. 1:5) Paulus meminta Titus untuk menemuinya di Nikopolis. Pada zaman dahulu, ada sejumlah kota dengan nama ini di kawasan Laut Tengah, tapi tampaknya Paulus memaksudkan Nikopolis di Yunani barat laut. Sang rasul mungkin sedang mengerjakan daerah sekitar situ ketika dia menulis surat untuk Titus.​—Tit. 3:12.

      Surat Paulus yang pertama kepada Timotius juga ditulis setelah pemenjaraan yang pertama dan sebelum pemenjaraan yang kedua di Roma, dari tahun 61 hingga 64 M. Di bagian awal suratnya, Paulus menunjukkan bahwa dia meminta Timotius untuk tetap berada di Efesus, sementara dia sendiri pergi ke Makedonia. (1 Tim. 1:3) Dari sana, kelihatannya, Paulus menulis surat ini untuk memberi Timotius nasihat kebapakan, anjuran, dan pengarahan tentang prosedur tertentu untuk diikuti di sidang-sidang.

      ”Dia Mendengar Rencana Jahat Orang Yahudi Terhadapnya” (Kis. 20:3, 4)

      8, 9. (a) Apa yang mengganggu rencana Paulus untuk berlayar ke Siria? (b) Mengapa orang Yahudi membenci Paulus?

      8 Dari Makedonia, Paulus pergi ke Korintus.b Setelah tinggal selama tiga bulan, dia ingin melanjutkan perjalanan ke Kenkhrea, dan di sana dia berencana untuk naik kapal ke Siria. Dari sana, dia bisa pergi ke Yerusalem guna mengantarkan sumbangan kepada saudara-saudara yang berkekurangan.c (Kis. 24:17; Rm. 15:25, 26) Tetapi, sebuah peristiwa yang tak terduga mengubah rencana Paulus. Kisah 20:3 melaporkan, ”Dia mendengar rencana jahat orang Yahudi terhadapnya”!

      9 Tidaklah mengejutkan bahwa orang-orang Yahudi sangat membenci Paulus, karena mereka menganggapnya murtad. Sebelumnya, pelayanannya telah menghasilkan pertobatan Krispus—seorang tokoh terkemuka di rumah ibadah orang Yahudi di Korintus. (Kis. 18:7, 8; 1 Kor. 1:14) Pada peristiwa lain, orang-orang Yahudi di Korintus pernah mengajukan berbagai tuduhan tentang Paulus kepada Galio, gubernur Akhaya. Namun, Galio menolaknya karena tidak berdasar—keputusan yang membuat marah musuh-musuh Paulus. (Kis. 18:12-17) Orang Yahudi di Korintus mungkin telah mengetahui atau mengira bahwa Paulus akan segera berlayar dari Kenkhrea, sehingga mereka merancang siasat untuk menyerang dia di sana. Apa yang harus Paulus lakukan?

      10. Apakah Paulus pengecut karena menghindari Kenkhrea? Jelaskan.

      10 Demi keselamatan dirinya—dan demi melindungi dana yang telah dipercayakan kepadanya—Paulus memilih untuk menghindari Kenkhrea dan kembali lewat Makedonia. Memang, perjalanan lewat darat pun berbahaya. Pada zaman dahulu, perampok sering mengintai di sepanjang jalan. Bahkan penginapan pun belum tentu aman. Namun, Paulus memilih risiko di darat itu ketimbang menghadapi orang-orang yang menunggunya di Kenkhrea. Syukurlah, dia tidak sendirian. Paulus ditemani oleh rekan-rekannya, antara lain Aristarkhus, Gayus, Sekundus, Sopater, Tikhikus, Timotius, dan Trofimus.​—Kis. 20:3, 4.

      11. Apa yang dilakukan orang Kristen zaman sekarang untuk melindungi diri, dan teladan apa yang Yesus berikan dalam hal ini?

      11 Seperti Paulus, orang Kristen zaman sekarang berupaya melindungi diri selagi mengabar. Di daerah tertentu, mereka pergi secara berkelompok—atau setidaknya berdua-dua—ketimbang sendirian. Bagaimana dengan penindasan? Orang Kristen sadar bahwa hal itu tak dapat dielakkan. (Yoh. 15:20; 2 Tim. 3:12) Namun, mereka tidak dengan sengaja membahayakan diri. Perhatikan contoh Yesus. Pada suatu peristiwa, ketika para penentang di Yerusalem mulai mengambil batu untuk dilemparkan kepadanya, ”Yesus . . . bersembunyi dan keluar dari bait”. (Yoh. 8:59) Belakangan, ketika orang Yahudi berkomplot untuk membunuh dia, ”Yesus tidak lagi berkeliling di depan umum di antara orang-orang Yahudi. Sebaliknya, dia berangkat dari sana menuju daerah di dekat padang belantara”. (Yoh. 11:54) Yesus mengambil tindakan yang masuk akal untuk melindungi diri selama hal itu tidak bertentangan dengan kehendak Allah. Orang Kristen zaman sekarang melakukan hal serupa.​—Mat. 10:16.

      PAULUS MENGANTARKAN DANA KEMANUSIAAN

      Pada tahun-tahun setelah Pentakosta 33 M, orang-orang Kristen di Yerusalem menderita banyak kesulitan—kelaparan, penindasan, dan penjarahan. Akibatnya, beberapa dari mereka sangat berkekurangan. (Kis. 11:27–12:1; Ibr. 10:32-34) Maka, ketika pada tahun 49 M para penatua di Yerusalem mengarahkan Paulus untuk memusatkan pengabarannya kepada orang non-Yahudi, mereka memintanya untuk ”selalu mengingat saudara-saudara yang miskin”. Itulah yang Paulus lakukan, dengan mengkoordinasi pengumpulan dana kemanusiaan di sidang-sidang.​—Gal. 2:10.

      Pada tahun 55 M, Paulus memberi tahu orang-orang Korintus, ”Silakan ikuti petunjuk saya untuk sidang-sidang jemaat di Galatia. Pada hari pertama setiap minggu, kalian masing-masing perlu menyisihkan uang sesuai dengan kemampuan kalian, supaya uang itu tidak perlu lagi dikumpulkan sewaktu saya datang. Setibanya di sana, saya akan mengutus beberapa saudara yang kalian setujui dalam surat-surat kalian untuk membawa sumbangan sukarela kalian ke Yerusalem.” (1 Kor. 16:1-3) Tidak lama kemudian, ketika Paulus menulis surat terilhamnya yang kedua kepada orang Korintus, dia meminta mereka untuk menyiapkan bantuan itu, dan dia menyebutkan bahwa orang Makedonia juga menyumbang.​—2 Kor. 8:1–9:15.

      Maka, pada tahun 56 M, perwakilan dari berbagai sidang menemui Paulus untuk ikut mengantarkan seluruh dana bantuan yang terkumpul. Dengan adanya sembilan pria yang berjalan bersama, dana itu akan aman dan Paulus akan terlindung dari kemungkinan tuduhan penyelewengan dana sumbangan. (2 Kor. 8:20) Pengiriman sumbangan itu adalah tujuan utama Paulus pergi ke Yerusalem. (Rm. 15:25, 26) Paulus belakangan berkata kepada Gubernur Feliks, ”Bertahun-tahun setelah itu, saya datang untuk membawa sumbangan kepada bangsa saya dan untuk memberikan persembahan.”​—Kis. 24:17.

      Mereka ”Merasa Begitu Terhibur” (Kis. 20:5-12)

      12, 13. (a) Apa pengaruh kebangkitan Eutikhus terhadap sidang? (b) Harapan Alkitab apa yang menghibur orang-orang yang telah kehilangan orang yang dikasihi akibat kematian?

      12 Setelah bersama-sama melintasi Makedonia, Paulus dan rombongannya tampaknya berpisah, namun kemudian berkumpul lagi di Troas.d Ayatnya mengatakan, ”Setelah lima hari, kami datang kepada mereka di Troas.”e (Kis. 20:6) Di sinilah pria muda Eutikhus dibangkitkan, sebagaimana dibahas di awal pasal ini. Bayangkan bagaimana perasaan saudara-saudara saat melihat rekan mereka Eutikhus dibangkitkan! Seperti dilaporkan ayatnya, mereka ”merasa begitu terhibur”.​—Kis. 20:12.

      13 Tentu saja, tidak ada mukjizat seperti itu sekarang. Namun, orang-orang yang telah kehilangan orang yang dikasihinya akibat kematian ”merasa begitu terhibur” oleh harapan kebangkitan berdasarkan Alkitab. (Yoh. 5:28, 29) Pertimbangkan: Karena tidak sempurna, Eutikhus akhirnya mati lagi. (Rm. 6:23) Tetapi, orang-orang yang dibangkitkan di dunia baru Allah memiliki harapan untuk hidup selama-lamanya! Selain itu, orang-orang yang dibangkitkan untuk memerintah bersama Yesus di surga dikaruniai tubuh yang tidak bisa mati. (1 Kor. 15:51-53) Orang Kristen zaman sekarang—kaum terurap maupun ”domba-domba lain”—memiliki alasan yang bagus untuk ”merasa begitu terhibur”.​—Yoh. 10:16.

      ”Di Depan Umum dan dari Rumah ke Rumah” (Kis. 20:13-24)

      14. Apa yang Paulus katakan kepada para penatua Efesus ketika dia bertemu mereka di Miletus?

      14 Paulus dan kelompoknya pergi dari Troas ke Asos, kemudian ke Mitilene, Khios, Samos, dan Miletus. Paulus bermaksud tiba di Yerusalem pada saat perayaan Pentakosta. Itu sebabnya dia memilih kapal yang tidak singgah di Efesus pada perjalanan pulang. Tetapi, karena Paulus ingin berbicara kepada para penatua Efesus, dia meminta agar mereka menemuinya di Miletus. (Kis. 20:13-17) Setelah mereka tiba, Paulus mengatakan kepada mereka, ”Kalian tahu betul seperti apa hidupku di antara kalian sejak hari pertama aku melangkah ke Provinsi Asia. Aku bekerja sebagai budak Tuhan dengan penuh kerendahan hati, air mata, dan cobaan yang menimpaku karena rencana jahat orang Yahudi. Aku tidak menahan diri untuk memberi tahu kalian semua hal yang bermanfaat bagi kalian, atau untuk mengajar kalian di depan umum dan dari rumah ke rumah. Aku bersaksi dengan saksama kepada orang Yahudi dan orang Yunani tentang pertobatan kepada Allah dan iman kepada Tuan kita Yesus.”​—Kis. 20:18-21.

      15. Apa saja keuntungan memberikan kesaksian dari rumah ke rumah?

      15 Sekarang, ada banyak cara untuk mengabar kepada orang-orang. Seperti Paulus, kita berupaya pergi ke mana pun orang ada, entah di halte bus, jalanan yang sibuk, atau di pasar. Namun, pergi dari rumah ke rumah masih menjadi metode pengabaran utama yang digunakan Saksi-Saksi Yehuwa. Mengapa? Salah satunya, pengabaran dari rumah ke rumah memberi kesempatan bagi semua orang untuk mendengar berita Kerajaan secara rutin, dengan demikian memperlihatkan bahwa Yehuwa tidak pilih kasih. Hal itu juga memungkinkan orang-orang yang berhati jujur untuk menerima bantuan pribadi sesuai dengan kebutuhan mereka. Selain itu, pelayanan dari rumah ke rumah membangun iman dan ketekunan orang-orang yang melakukannya. Ya, ciri khas orang Kristen sejati adalah semangat mereka dalam memberikan kesaksian ”di depan umum dan dari rumah ke rumah”.

      16, 17. Bagaimana Paulus mempertunjukkan sikap berani, dan bagaimana orang Kristen zaman sekarang meniru teladannya?

      16 Paulus menjelaskan kepada para penatua Efesus itu bahwa dia tidak tahu bahaya apa yang menunggunya di Yerusalem. Dia berkata, ”Meski begitu, aku tidak menganggap nyawaku penting bagiku. Yang penting, aku bisa berlari sampai garis finis dan menyelesaikan tugas pelayananku dari Tuan Yesus, yaitu bersaksi dengan saksama tentang kabar baik mengenai kebaikan hati Allah yang luar biasa.” (Kis. 20:24) Tanpa gentar, Paulus menolak untuk membiarkan situasi apa pun—entah kesehatan yang buruk atau tentangan yang sengit—mencegahnya untuk menunaikan tugas.

      17 Orang Kristen zaman sekarang juga mengalami berbagai situasi buruk. Ada yang menghadapi pelarangan dan penganiayaan oleh pemerintah. Ada yang dengan tegar berjuang menghadapi penyakit fisik dan emosi yang melumpuhkan. Anak-anak muda Kristen menghadapi tekanan teman di sekolah. Tidak soal situasi yang mereka alami, Saksi-Saksi Yehuwa bersikap teguh, sama seperti Paulus. Mereka bertekad untuk ’memberikan kesaksian yang saksama tentang kabar baik’.

      ”Perhatikanlah Diri Kalian Sendiri dan Seluruh Kawanan” (Kis. 20:25-38)

      18. Bagaimana Paulus terbebas dari utang darah, dan bagaimana para penatua Efesus bisa melakukannya juga?

      18 Paulus kemudian memberikan nasihat yang terus terang kepada para penatua Efesus, dengan menggunakan dirinya sebagai contoh. Pertama, dia memberi tahu mereka bahwa ini mungkin pertemuan terakhir dengan mereka. Kemudian, dia mengatakan, ”Aku bersih dari darah semua orang, karena aku tidak menahan diri untuk memberi tahu kalian seluruh kehendak Allah.” Bagaimana para penatua Efesus bisa meniru Paulus, sehingga bebas dari utang darah? Dia memberi tahu mereka, ”Perhatikanlah diri kalian sendiri dan seluruh kawanan itu, karena kalian telah dilantik dengan kuasa kudus sebagai pengawas mereka, untuk menggembalakan sidang jemaat Allah, yang Dia beli dengan darah Putra-Nya sendiri.” (Kis. 20:26-28) Paulus memperingatkan bahwa ”serigala-serigala buas” akan menyusupi kawanan dan akan ”menyampaikan ajaran sesat untuk membuat murid-murid menyimpang kepada mereka”. Apa yang harus dilakukan para penatua itu? ”Tetaplah sadar,” Paulus mengingatkan, ”dan ingatlah bahwa siang malam selama tiga tahun, aku tak henti-hentinya menasihati kalian masing-masing sambil meneteskan air mata.”​—Kis. 20:29-31.

      19. Kemurtadan apa yang berkembang pada akhir abad pertama, dan apa yang dihasilkannya pada abad-abad setelah itu?

      19 ”Serigala-serigala buas” muncul pada akhir abad pertama. Sekitar tahun 98 M, Rasul Yohanes menulis, ”Sekarang pun antikristus sudah banyak. . . . Mereka tadinya bersama-sama kita, tapi mereka keluar karena mereka berbeda dengan kita. Kalau mereka sama dengan kita, mereka pasti masih bersama kita.” (1 Yoh. 2:18, 19) Pada abad ketiga, kemurtadan telah menghasilkan golongan klerus Gereja, dan pada abad keempat, Kaisar Konstantin memberikan pengakuan resmi pada ”Kekristenan” murtad itu. Dengan memasukkan berbagai ritual yang tidak sesuai standar Allah dan memolesnya hingga berkesan ”Kristen”, para pemimpin agama memang ”menyampaikan ajaran sesat”. Efek kemurtadan masih terlihat sampai sekarang dalam berbagai ajaran dan kebiasaan Gereja.

      20, 21. Bagaimana Paulus memperlihatkan semangat rela berkorban, dan bagaimana para penatua Kristen zaman sekarang bisa melakukan hal serupa?

      20 Haluan hidup Paulus sangat bertolak belakang dengan orang-orang yang belakangan memanfaatkan kawanan. Dia bekerja untuk mendukung dirinya sendiri sehingga tidak membebani sidang. Kerja kerasnya demi rekan-rekan seiman bukan untuk memperkaya diri. Paulus mendesak para penatua Efesus untuk memperlihatkan semangat rela berkorban. ”Kalian harus membantu orang yang lemah,” katanya, ”dan harus mengingat kata-kata Tuan Yesus sendiri, yaitu, ’Lebih bahagia memberi daripada menerima.’”​—Kis. 20:35.

      21 Seperti Paulus, para penatua Kristen zaman sekarang rela berkorban. Berbeda dengan para pemimpin Gereja, yang menarik uang dari kawanan, orang-orang yang dipercayakan dengan tanggung jawab untuk ”menggembalakan sidang jemaat Allah” melaksanakan tugas mereka tanpa mementingkan diri. Kesombongan dan ambisi tidak memiliki tempat dalam sidang Kristen, karena orang-orang yang ”mencari kemuliaan bagi diri sendiri” pada akhirnya akan gagal. (Ams. 25:27) Kelancangan hanya akan mengakibatkan kehinaan.​—Ams. 11:2.

      Paulus dan rekan-rekannya naik ke kapal. Para penatua di Efesus memeluk Paulus dan menangis.

      ”Mereka semua menangis tersedu-sedu.”—Kisah 20:37

      22. Apa yang membuat para penatua Efesus menyayangi Paulus?

      22 Paulus mengasihi saudara-saudaranya dengan tulus, maka saudara-saudaranya pun menyayangi dia. Sesungguhnya, saat dia akan berangkat, ”mereka semua menangis tersedu-sedu sambil memeluk Paulus dan mencium dia”. (Kis. 20:37, 38) Orang-orang Kristen sungguh menghargai dan mengasihi orang-orang yang, seperti Paulus, memberikan waktu, energi, dan materi tanpa mementingkan diri demi kawanan. Setelah membahas teladan Paulus yang sangat bagus, tidakkah Saudara setuju bahwa dia tidak menyombongkan diri ataupun melebih-lebihkan ketika mengatakan, ”Aku bersih dari darah semua orang”?​—Kis. 20:26.

      a Lihat kotak ”Surat-Surat Paulus dari Makedonia”.

      b Kemungkinan besar, Paulus menulis surat kepada orang Roma selagi berada di Korintus.

      c Lihat kotak ”Paulus Mengantarkan Dana Kemanusiaan”.

      d Lukas menggunakan kata ”kami” di Kisah 20:5, 6 mungkin karena dia berkumpul lagi dengan Paulus di Filipi setelah berada di sana selama beberapa waktu.​—Kis. 16:10-17, 40.

      e Perjalanan dari Filipi ke Troas memakan waktu lima hari. Mungkin saat itu angin tidak menguntungkan, karena sebelumnya perjalanan serupa ditempuh hanya dalam dua hari.​—Kis. 16:11.

  • ”Semoga Kehendak Yehuwa Terjadi”
    ”Memberikan Kesaksian yang Saksama tentang Kerajaan Allah”
    • PASAL 22

      ”Semoga Kehendak Yehuwa Terjadi”

      Karena bertekad melakukan kehendak Allah, Paulus pergi ke Yerusalem

      Berdasarkan Kisah 21:1-17

      1-4. Mengapa Paulus pergi ke Yerusalem, dan apa yang menantinya di sana?

      PERPISAHAN di Miletus sungguh mengharukan. Berat rasanya bagi Paulus dan Lukas untuk meninggalkan para penatua Efesus, mengingat kasih sayang yang telah bertumbuh di antara mereka selama ini! Kedua utusan injil tersebut berdiri di dek kapal. Mereka membawa perbekalan yang dibutuhkan untuk perjalanan itu. Mereka juga membawa dana yang dikumpulkan bagi orang Kristen yang berkekurangan di Yudea dan ingin segera mengantarkannya dengan selamat hingga ke tujuan.

      2 Angin yang lembut menerpa layar, dan kapal itu meninggalkan keramaian pelabuhan. Kedua pria itu, bersama tujuh rekan seperjalanan mereka, memandang wajah sedih saudara-saudara mereka di pelabuhan. (Kis. 20:4, 14, 15) Paulus dan rekan-rekannya terus melambaikan tangan hingga teman-teman mereka menghilang di kejauhan.

      3 Selama sekitar tiga tahun, Paulus telah bekerja erat dengan para penatua di Efesus. Tetapi sekarang, atas pengarahan kuasa kudus, dia berangkat ke Yerusalem. Dia sedikit banyak tahu apa yang akan terjadi dengan dirinya. Sebelumnya, dia memberi tahu para penatua itu, ”Karena dorongan kuasa kudus, aku pergi menuju Yerusalem, walaupun aku tidak tahu apa yang akan kualami di sana. Aku hanya tahu kesaksian yang diberikan kepadaku dari kota ke kota melalui kuasa kudus, bahwa penjara dan kesengsaraan sedang menunggu aku.” (Kis. 20:22, 23) Meski menghadapi bahaya, Paulus merasakan ”dorongan kuasa kudus”—merasa wajib sekaligus rela untuk mengikuti pengarahan kuasa kudus, yakni pergi ke Yerusalem. Dia menyayangi nyawanya, tetapi melakukan kehendak Allah adalah hal terpenting baginya.

      4 Itukah yang juga Saudara rasakan? Saat kita membaktikan diri kepada Yehuwa, kita dengan khidmat berjanji untuk mendahulukan kehendak Allah sebagai hal terpenting dalam kehidupan. Kita bisa memperoleh manfaat dengan membahas teladan Rasul Paulus yang setia.

      Melewati ”Pulau Siprus” (Kis. 21:1-3)

      5. Jalur mana yang dilewati Paulus dan rekan-rekannya dalam perjalanan ke Tirus?

      5 Kapal yang Paulus dan rekan-rekannya tumpangi ”berlayar langsung ke Kos”. Maksudnya, kapal itu melaju tanpa berkelok-kelok karena didorong angin yang bagus hingga mereka mencapai Kos pada hari yang sama. (Kis. 21:1) Tampaknya, kapal itu berlabuh di sana semalam sebelum berlayar ke Rodes dan Patara. Di Patara, di pesisir selatan Asia Kecil, saudara-saudara itu naik ke sebuah kapal kargo yang besar, yang membawa mereka langsung ke Tirus, Fenisia. Di perjalanan, mereka melewati ”Pulau Siprus . . . di sebelah kiri”. (Kis. 21:3) Mengapa Lukas, sang penulis buku Kisah, menyebutkan perincian itu?

      6. (a) Mengapa Paulus bisa jadi berbesar hati saat melihat Siprus? (b) Ketika Saudara merenungkan bagaimana Yehuwa telah memberkati dan membantu Saudara, apa yang bisa Saudara simpulkan?

      6 Mungkin Paulus menunjuk pulau itu dan menceritakan pengalamannya di sana. Pada perjalanan utusan injilnya yang pertama sekitar sembilan tahun sebelumnya, Paulus, bersama Barnabas dan Yohanes Markus, harus menghadapi Elimas si ahli sihir, yang menentang pengabaran mereka. (Kis. 13:4-12) Dengan melihat pulau itu dan merenungkan apa yang pernah terjadi di sana, Paulus bisa jadi termotivasi dan dikuatkan untuk menghadapi apa yang akan terjadi pada dirinya. Kita juga bisa mendapat manfaat dengan merenungkan bagaimana Allah telah memberkati kita dan membantu kita bertekun menghadapi cobaan. Perenungan demikian bisa membantu kita menarik kesimpulan yang sama seperti Daud, yang menulis, ”Kesulitan orang benar itu banyak, tapi Yehuwa membebaskan dia dari semuanya itu.”​—Mz. 34:19.

      ”Kami Mencari dan Menemukan Murid-Murid” (Kis. 21:4-9)

      7. Apa yang dilakukan Paulus dan rekan-rekannya setibanya di Tirus?

      7 Paulus menghargai nilai pergaulan Kristen dan sangat ingin berada bersama rekan-rekan seiman. Lukas menulis bahwa setibanya di Tirus, mereka ”mencari dan menemukan murid-murid”. (Kis. 21:4) Mengetahui ada rekan-rekan Kristen di Tirus, Paulus dan rekan-rekannya mencari mereka dan kemungkinan besar tinggal bersama mereka. Salah satu berkat besar karena memiliki kebenaran adalah bahwa tidak soal ke mana kita pergi, kita bisa menemukan rekan-rekan seiman yang berpikiran serupa yang akan menyambut kita. Orang-orang yang mengasihi Allah dan yang mempraktekkan ibadah sejati memiliki teman di seluruh dunia.

      8. Apa artinya Kisah 21:4?

      8 Saat menjelaskan ketujuh hari mereka tinggal di Tirus, Lukas mencatat sesuatu yang mungkin awalnya tampak membingungkan: ”Dengan bimbingan kuasa kudus, [saudara-saudara di Tirus] berulang-ulang memberi tahu Paulus untuk tidak menginjakkan kaki di Yerusalem.” (Kis. 21:4) Apakah Yehuwa berubah pikiran? Apakah Dia sekarang mengarahkan Paulus untuk tidak pergi ke Yerusalem? Tidak. Kuasa kudus menunjukkan bahwa Paulus akan dianiaya di Yerusalem, bukan melarangnya pergi ke kota itu. Tampaknya, melalui kuasa kudus, saudara-saudara di Tirus dengan benar menyimpulkan bahwa Paulus akan mengalami kesulitan di Yerusalem. Maka, karena mengkhawatirkan Paulus, mereka menyarankan agar dia tidak pergi ke Yerusalem. Keinginan mereka untuk melindungi Paulus dari bahaya yang mengancam dapat dimaklumi. Meskipun demikian, karena bertekad untuk melakukan kehendak Allah, Paulus meneruskan perjalanannya ke Yerusalem.​—Kis. 21:12.

      9, 10. (a) Setelah mendengar kekhawatiran saudara-saudara di Tirus, Paulus mungkin mengingat situasi serupa apa? (b) Pemikiran apa yang umum di dunia sekarang ini, dan bagaimana hal itu bertentangan dengan kata-kata Yesus?

      9 Setelah mendengar kekhawatiran saudara-saudara, mungkin Paulus ingat bahwa Yesus pernah menemui reaksi serupa setelah memberi tahu para muridnya bahwa dia akan ke Yerusalem, menderita banyak hal, dan dibunuh. Tergerak oleh emosi, Petrus mengatakan kepada Yesus, ”Kasihanilah dirimu sendiri, Tuan. Itu sama sekali tidak akan terjadi padamu.” Yesus menjawab, ”Pergi ke belakangku, Setan! Kamu menjadi batu sandungan bagiku, karena kamu tidak memikirkan pikiran Allah, tapi pikiran manusia.” (Mat. 16:21-23) Yesus bertekad untuk mengorbankan diri sesuai tugas yang telah Allah berikan kepadanya. Paulus merasakan hal serupa. Saudara-saudara di Tirus, seperti Rasul Petrus, tak diragukan memiliki maksud baik, tetapi mereka tidak memahami kehendak Allah.

      Waktu berdinas, seorang saudara melihat jam tangannya dan mukanya terlihat bosan. Rekan dinasnya melirik dia.

      Mengikuti Yesus menuntut semangat rela berkorban

      10 Sekarang, banyak orang senang untuk mengasihani diri sendiri atau mengikuti jalan yang paling mudah. Orang-orang pada umumnya mencari agama yang nyaman dan yang tidak banyak tuntutannya. Sebaliknya, Yesus menganjurkan sikap mental yang sama sekali berbeda. Dia memberi tahu murid-muridnya, ”Kalau seseorang ingin mengikuti aku, dia harus menyangkal diri dan memikul tiang siksaannya dan terus mengikuti aku.” (Mat. 16:24) Mengikuti Yesus adalah hal yang bijaksana dan tepat, tetapi tidak mudah.

      11. Bagaimana murid-murid di Tirus memperlihatkan kasih sayang dan dukungan kepada Paulus?

      11 Paulus, Lukas, dan rekan-rekan lainnya harus segera meneruskan perjalanan. Catatan tentang keberangkatan mereka sungguh menyentuh hati. Nyata sekali bahwa saudara-saudara di Tirus mengasihi Paulus dan sangat mendukung pelayanannya. Para pria, wanita, dan anak-anak menemani Paulus dan rekan-rekannya ke pantai. Bersama-sama, mereka berlutut dan berdoa, kemudian mengucapkan selamat tinggal. Setelah itu, Paulus, Lukas, dan rekan-rekan seperjalanan mereka menumpang kapal lain dan meneruskan perjalanan ke Ptolemais, di mana mereka bertemu dengan saudara-saudara dan tinggal bersama mereka selama satu hari.​—Kis. 21:5-7.

      12, 13. (a) Apa riwayat pelayanan yang setia yang dimiliki Filipus? (b) Mengapa Filipus menjadi teladan bagi para ayah Kristen sekarang?

      12 Kemudian, tulis Lukas, Paulus dan rekan-rekannya berangkat ke Kaisarea. Setibanya di sana, mereka ”masuk ke rumah Filipus penginjil itu”.a (Kis. 21:8) Mereka pasti senang sekali bertemu dengan Filipus. Sekitar 20 tahun sebelumnya di Yerusalem, dia diangkat oleh para rasul untuk turut mengurusi pembagian makanan kepada sidang Kristen yang baru dibentuk. Filipus memiliki riwayat panjang sebagai pengabar yang bersemangat. Ingat bahwa ketika penganiayaan membuat murid-murid terpencar, Filipus pergi ke Samaria dan mulai mengabar. Belakangan, dia mengabar kepada sang pejabat Etiopia dan membaptisnya. (Kis. 6:2-6; 8:4-13, 26-38) Benar-benar riwayat pelayanan yang setia!

      13 Filipus belum kehilangan semangatnya dalam pelayanan. Dia kini tinggal di Kaisarea dan masih sibuk dalam pekerjaan pengabaran, sebagaimana diperlihatkan Lukas dengan menyebutnya ”penginjil itu”. Kita juga diberi tahu bahwa dia sekarang memiliki empat anak perempuan yang bernubuat, yang memperlihatkan bahwa mereka mengikuti jejak ayahnya.b (Kis. 21:9) Maka, Filipus pasti rajin membangun kerohanian keluarganya. Para ayah Kristen sekarang hendaknya mengikuti contoh Filipus, dengan menjadi teladan dalam pelayanan dan membantu anak-anak mereka mengembangkan kecintaan terhadap pekerjaan penginjilan.

      14. Apa yang pasti dihasilkan ketika Paulus mengunjungi rekan-rekan seimannya, dan kesempatan apa yang ada sekarang?

      14 Di mana pun Paulus berada, dia selalu mencari rekan-rekan seiman dan bergaul dengan mereka. Tentu, saudara-saudara setempat sangat ingin mengulurkan keramahtamahan kepada sang utusan injil dan rekan-rekannya. Kunjungan itu pasti menghasilkan kesempatan untuk ”saling menguatkan”. (Rm. 1:11, 12) Kesempatan serupa ada sekarang. Saudara akan memperoleh manfaat besar dengan membuka rumah Saudara, tidak soal seberapa sederhana, bagi pengawas wilayah dan istrinya.​—Rm. 12:13.

      KAISAREA—IBU KOTA PROVINSI YUDEA

      Pada masa yang dibahas dalam buku Kisah, Kaisarea merupakan ibu kota provinsi Yudea yang berada di bawah kekuasaan Romawi. Di sanalah tempat kedudukan gubernur dan markas besar kesatuan militernya. Herodes Agung membangun kota itu dan menamainya demikian untuk menghormati Kaisar Agustus. Kaisarea memiliki semua unsur yang lazim bagi kota-kota Helenistik, yang para penduduknya tidak menyembah Yehuwa—kuil yang dibaktikan bagi sang Kaisar yang didewakan, teater, hipodrom (arena balap), dan amfiteater (arena pertandingan). Penduduknya kebanyakan orang non-Yahudi.

      Kaisarea adalah kota pelabuhan yang berbenteng. Herodes berambisi agar pelabuhannya itu, yang disebut Sebastos (bahasa Yunani untuk Agustus) dan yang dilengkapi dengan tembok besar penahan ombak guna melindungi kapal-kapal, bisa menyaingi Aleksandria sebagai pusat perdagangan di bagian timur Laut Tengah. Meskipun pelabuhan itu tidak pernah mengungguli Aleksandria, Kaisarea memang memperoleh reputasi internasional karena posisinya yang strategis di rute perdagangan utama.

      Sang penginjil Filipus memberitakan kabar baik di Kaisarea, dan tampaknya dia membesarkan putri-putrinya di sana. (Kis. 8:40; 21:8, 9) Di kota itulah senturion Kornelius ditempatkan dan bertobat.​—Kis. 10:1.

      Rasul Paulus mengunjungi Kaisarea berulang kali. Tak lama setelah pertobatannya, ketika musuh-musuhnya bersiasat untuk membunuhnya, murid-murid bergegas membawa saudara baru tersebut sejauh 90 kilometer dari Yerusalem ke Kaisarea agar dia dapat berlayar ke Tarsus. Paulus singgah di pelabuhan Kaisarea dalam perjalanan ke Yerusalem pada akhir perjalanan utusan injilnya yang kedua dan ketiga. (Kis. 9:28-30; 18:21, 22; 21:7, 8) Dia ditahan selama dua tahun di istana Herodes di Kaisarea. Paulus di sana bercakap-cakap dengan Feliks, Festus, dan Agripa, dan dari sana dia akhirnya berlayar ke Roma.​—Kis. 23:33-35; 24:27–25:4; 27:1.

      DAPATKAH WANITA MENJADI ROHANIWAN KRISTEN?

      Apa peranan wanita dalam sidang Kristen abad pertama? Dapatkah wanita menjadi rohaniwan?

      Yesus memerintahkan para pengikutnya untuk memberitakan kabar baik Kerajaan dan membuat murid. (Mat. 28:19, 20; Kis. 1:8) Tugas untuk menjadi rohaniwan kabar baik ini berlaku bagi semua orang Kristen—pria, wanita, anak lelaki, atau anak perempuan. Hal itu bisa disimpulkan dari nubuat di Yoel 2:28, 29, yang seperti Rasul Petrus katakan tergenap pada hari Pentakosta 33 M: ”’Di hari-hari terakhir,’ kata Allah, ’Aku akan mencurahkan sebagian kuasa kudus-Ku ke atas berbagai macam orang. Anak laki-laki dan anak perempuan kalian akan bernubuat . . . Bahkan kepada budak laki-laki dan perempuan-Ku, Aku akan mencurahkan sebagian kuasa kudus-Ku pada masa itu, dan mereka akan bernubuat.’” (Kis. 2:17, 18) Sebagaimana telah kita ketahui, sang penginjil Filipus memiliki empat anak perempuan yang bernubuat.​—Kis. 21:8, 9.

      Namun, dalam hal mengajar di sidang, Firman Allah membatasi pelantikan pengawas dan hamba pelayanan Kristen hanya bagi pria. (1 Tim. 3:1-13; Tit. 1:5-9) Paulus bahkan mengatakan, ”Aku tidak mengizinkan wanita mengajar atau menguasai pria. Sebaliknya, dia harus tetap diam.”​—1 Tim. 2:12.

      ’Mati Pun Aku Siap’ (Kis. 21:10-14)

      15, 16. Berita apa yang Agabus sampaikan, dan apa reaksi orang-orang yang mendengarnya?

      15 Selama Paulus tinggal dengan Filipus, datanglah seorang tamu lain yang dihormati—Agabus. Orang-orang yang berkumpul di rumah Filipus tahu bahwa Agabus adalah nabi; dia pernah menubuatkan kelaparan yang parah selama masa pemerintahan Klaudius. (Kis. 11:27, 28) Mungkin mereka bertanya-tanya, ’Mengapa Agabus datang? Pesan apa yang mau dia sampaikan?’ Sementara mereka memperhatikan dengan cermat, dia mengambil ikat pinggang Paulus—kain panjang yang bisa menjadi tempat uang dan barang lain. Dengannya, Agabus mengikat kaki dan tangannya sendiri. Dia kemudian berbicara. Pesannya sungguh mengagetkan: ”Inilah yang dikatakan melalui kuasa kudus, ’Pemilik ikat pinggang ini akan diikat seperti ini oleh orang-orang Yahudi di Yerusalem, dan dia akan diserahkan ke tangan orang-orang dari bangsa lain.’”​—Kis. 21:11.

      16 Nubuat itu memastikan bahwa Paulus akan pergi ke Yerusalem. Hal itu juga memperlihatkan bahwa urusannya dengan orang Yahudi akan membuat dirinya diserahkan ”ke tangan orang-orang dari bangsa lain”. Nubuat itu mengundang reaksi orang-orang yang ada di rumah itu. Lukas menulis, ”Mendengar itu, kami dan orang-orang yang ada di sana memohon agar Paulus tidak pergi ke Yerusalem. Lalu Paulus berkata, ’Kenapa kalian menangis dan berusaha melemahkan tekadku? Percayalah, jangankan diikat, mati di Yerusalem pun aku siap demi nama Tuan Yesus.’”​—Kis. 21:12, 13.

      17, 18. Bagaimana Paulus memperlihatkan tekadnya yang teguh, dan apa tanggapan rekan-rekannya?

      17 Bayangkan situasinya. Saudara-saudara, termasuk Lukas, memohon agar Paulus tidak meneruskan perjalanannya. Beberapa menangis. Melihat kepedulian mereka kepada dirinya, Paulus dengan lembut mengatakan bahwa mereka ”berusaha melemahkan tekad[nya]”, atau, menurut beberapa terjemahan, mereka ”membuat hati[nya] hancur”. Namun, tekadnya sudah bulat, dan sama seperti ketika dia menemui saudara-saudara di Tirus, dia tidak akan membiarkan permohonan atau tangisan menggoyahkan dia. Sebaliknya, dia menjelaskan kepada mereka mengapa dia harus tetap berangkat. Sungguh kuat keberanian dan keteguhan hatinya! Seperti Yesus, Paulus bertekad bulat untuk pergi ke Yerusalem. (Ibr. 12:2) Paulus bukannya berniat menjadi martir, tetapi jika itu terjadi, dia akan menganggapnya sebagai kehormatan untuk mati sebagai pengikut Yesus Kristus.

      18 Apa tanggapan saudara-saudara? Mereka merespek keputusan itu. Kita membaca, ”Karena dia tidak bisa dibujuk, kami tidak memaksa lagi, dan kami berkata, ’Semoga kehendak Yehuwa terjadi.’” (Kis. 21:14) Orang-orang yang berupaya meyakinkan Paulus untuk tidak pergi ke Yerusalem tidak memaksakan pendapat mereka. Mereka mendengarkan Paulus dan mengalah, mengakui dan menerima kehendak Yehuwa, meskipun dengan berat hati. Paulus telah memulai suatu perjalanan menuju kematiannya. Jauh lebih mudah baginya jika orang-orang yang mengasihinya tidak berupaya melemahkan dia.

      19. Pelajaran berharga apa yang kita tarik dari pengalaman Paulus?

      19 Kita menarik pelajaran yang berharga dari apa yang terjadi pada Paulus: Kita hendaknya tidak mencoba membujuk agar seseorang mengurungkan niatnya untuk melakukan tindakan yang rela berkorban demi melayani Yehuwa. Kita bisa menerapkan pelajaran ini pada banyak situasi, bukan hanya pada situasi hidup dan mati. Misalnya, meskipun banyak orang tua Kristen merasa sedih ketika anak mereka meninggalkan rumah guna melayani Yehuwa di tempat yang jauh, mereka bertekad untuk tidak membujuk sang anak agar mengurungkan niatnya. Phyllis, yang tinggal di Inggris, ingat bagaimana perasaannya ketika putri tunggalnya pergi menjadi utusan injil di Afrika. ”Saya sangat sedih saat itu,” kata Phyllis. ”Sulit bagi saya untuk menerima bahwa dia akan pergi jauh. Saya merasa sedih sekaligus bangga. Saya banyak berdoa tentang perasaan saya. Tapi itu keputusan dia dan saya tidak pernah mencoba mengubahnya. Lagi pula, saya memang selalu mengajarnya untuk mendahulukan Kerajaan Allah! Dia telah melayani di luar negeri selama 30 tahun terakhir ini, dan setiap hari saya berterima kasih kepada Yehuwa untuk kesetiaannya.” Sungguh bagus jika kita membesarkan hati rekan seiman yang rela berkorban!

      Gambar: Sepasang utusan injil dan orang tua mereka. 1. Orang tua sepasang utusan injil itu menelepon. Mereka tersenyum. 2. Pasangan utusan injil itu terlihat senang waktu menerima telepon itu di negara lain, tempat mereka ditugaskan.

      Sungguh bagus jika kita membesarkan hati rekan seiman yang rela berkorban

      ”Saudara-Saudara Menyambut Kami dengan Senang Hati” (Kis. 21:15-17)

      20, 21. Apa saja yang memperlihatkan bahwa Paulus ingin berada bersama saudara-saudara seiman, dan mengapa dia ingin berada bersama mereka?

      20 Persiapan pun dibuat, dan Paulus meneruskan perjalanannya, ditemani oleh saudara-saudaranya yang selalu mendukung dia dengan sepenuh hati. Pada setiap tahap perjalanannya ke Yerusalem, Paulus dan rekan-rekannya berupaya mencari saudara-saudara seiman. Di Tirus, mereka menemukan murid-murid dan tinggal bersama mereka selama tujuh hari. Di Ptolemais, mereka menyapa saudara dan saudari dan tinggal bersama mereka selama sehari. Di Kaisarea, mereka tinggal selama beberapa hari di rumah Filipus. Kemudian, beberapa murid dari Kaisarea mengantar Paulus dan rekan-rekannya ke Yerusalem, di mana mereka dijamu oleh Mnason, seorang murid masa awal. Setelah mereka tiba di Yerusalem, Lukas melaporkan bahwa ”saudara-saudara menyambut [mereka] dengan senang hati”.​—Kis. 21:17.

      21 Jelaslah, Paulus ingin berada bersama rekan-rekan seiman. Sang rasul memperoleh dorongan moril dari saudara-saudarinya, sama seperti kita sekarang. Tak diragukan, dorongan moril itu memperkuat Paulus untuk menghadapi kemurkaan para penentang yang akan berupaya membunuhnya.

      a Lihat kotak ”Kaisarea—Ibu Kota Provinsi Yudea”.

      b Lihat kotak ”Dapatkah Wanita Menjadi Rohaniwan Kristen?”

Publikasi Menara Pengawal Bahasa Indonesia (1971-2025)
Log Out
Log In
  • Indonesia
  • Bagikan
  • Pengaturan
  • Copyright © 2025 Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania
  • Syarat Penggunaan
  • Kebijakan Privasi
  • Pengaturan Privasi
  • JW.ORG
  • Log In
Bagikan