PERPUSTAKAAN ONLINE Menara Pengawal
PERPUSTAKAAN ONLINE
Menara Pengawal
Indonesia
  • ALKITAB
  • PUBLIKASI
  • PERHIMPUNAN
  • Propaganda Dapat Berakibat Maut
    Sedarlah!—2000 | 22 Juni
    • Propaganda Dapat Berakibat Maut

      ”Dusta sudah menjelajahi separuh dunia sementara kebenaran masih memasang sepatunya.”​—MARK TWAIN.

      ”KAMU Yahudi dungu!” bentak sang guru sambil menempeleng siswanya yang berusia tujuh tahun. Kemudian, ia mengajak seisi kelas berbaris dan bergiliran meludahi wajah siswa itu.

      Sang guru sebenarnya tahu betul bahwa bocah laki-laki itu​—yang adalah keponakannya sendiri​—maupun orang-tua sang bocah, bukanlah keturunan Yahudi. Mereka pun bukan beragama Yahudi. Sebaliknya, mereka adalah Saksi-Saksi Yehuwa. Karena memanfaatkan prasangka yang meluas terhadap orang Yahudi, sang guru mengobarkan kebencian terhadap siswanya ini. Selama bertahun-tahun, baik sang guru maupun siswa-siswa di kelasnya diberi tahu pendeta mereka bahwa Saksi-Saksi Yehuwa itu agama yang hina. Orang-tua anak laki-laki itu dituduh Komunis serta agen CIA (Lembaga Intelijen Pusat). Jadi, teman-teman sekelas anak itu berbaris, sangat ingin meludahi wajah seorang ”Yahudi dungu”.

      Anak laki-laki itu kini masih hidup dan dapat menceritakan kisahnya. Namun, tidak demikian halnya dengan enam juta orang Yahudi yang tinggal di Jerman dan di negara-negara sekitarnya kurang-lebih 60 tahun yang lalu. Propaganda keji menjadi sarana ampuh untuk melenyapkan orang Yahudi melalui kamar gas dan kamp konsentrasi Nazi. Anti-Semitisme parah yang meluas, mendarah daging, dan membabi-buta, menyebabkan orang Yahudi dianggap sebagai musuh, yang pembasmiannya tidak hanya perlu, tetapi juga adil. Dalam hal itu, propaganda terbukti menjadi senjata pembasmi massa.

      Ya, propaganda dapat disampaikan secara terbuka melalui penggunaan lambang-lambang kebencian seperti swastika, atau secara halus melalui lelucon murahan. Teknik persuasifnya selalu diterapkan oleh para diktator, politisi, pemimpin agama, pengiklan, pemasar, jurnalis, staf radio dan televisi, humas, dan pihak-pihak lainnya yang berminat mempengaruhi pikiran serta perilaku.

      Tentu saja, pesan-pesan bersifat propaganda dapat digunakan untuk mencapai tujuan sosial yang positif, seperti kampanye menurunkan tingkat pengemudi mabuk. Namun, propaganda dapat digunakan untuk menyebarluaskan kebencian terhadap etnik atau agama minoritas atau memikat orang-orang untuk membeli rokok. ”Setiap hari kita dibombardir dengan komunikasi persuasif yang bertubi-tubi,” kata peneliti Anthony Pratkanis dan Elliot Aronson. ”Komunikasi cara ini tidak membujuk melalui argumen pertukaran ide dan debat, tetapi melalui manipulasi simbol-simbol kultur tertentu serta emosi manusia yang paling mendasar. Baik atau buruk dampaknya, era kita adalah era propaganda.”

      Bagaimana propaganda digunakan untuk mempengaruhi pikiran dan tindakan umat manusia sepanjang sejarah? Apa yang dapat Anda lakukan untuk melindungi diri dari propaganda yang berbahaya? Apakah ada sumber informasi yang dapat dipercaya? Pertanyaan ini serta pertanyaan lainnya akan dibahas dalam artikel berikut.

      [Gambar di hlm. 3]

      Orang Yahudi menjadi korban propaganda selama Holocaust

  • Manipulasi Informasi
    Sedarlah!—2000 | 22 Juni
    • Manipulasi Informasi

      ”Dengan propaganda yang lihai dan gigih, bahkan surga pun dapat disajikan sebagai neraka kepada orang-orang, dan sebaliknya kehidupan yang paling sengsara sebagai firdaus.”​—ADOLF HITLER, MEIN KAMPF.

      DENGAN berkembangnya sarana komunikasi​—mulai dari media cetak sampai telepon, radio, televisi, dan Internet​—arus pesan persuasif telah meningkat secara dramatis. Revolusi komunikasi ini telah mengarah ke banjir informasi, seraya orang-orang terendam dalam pesan yang tak terhitung banyaknya dari setiap sisi. Banyak yang menanggapi tekanan ini dengan menyerap pesan-pesan secara lebih cepat dan menerimanya tanpa mempertanyakan atau menganalisisnya.

      Para propagandis yang lihai sangat menyukai jalan pintas seperti itu​—khususnya yang mengabaikan penalaran rasional. Propaganda mendukung hal ini dengan menggugah emosi, mengeksploitasi perasaan tidak aman, mengambil keuntungan dari ketidakjelasan bahasa, serta membengkokkan aturan yang logis. Sebagaimana diperlihatkan sejarah, taktik-taktik seperti ini dapat terbukti sangat efektif.

      Sejarah Propaganda

      Dewasa ini, kata ”propaganda” memiliki konotasi negatif, menyiratkan taktik yang tidak jujur, namun bukan itu makna yang dimaksudkan pada mulanya. ”Propaganda” tampaknya berasal dari nama latin sekelompok kardinal Katolik Roma, Congregatio de Propaganda Fide (Kongregasi Penyebaran Iman). Komite ini​—singkatnya disebut Propaganda​—dibentuk oleh Paus Gregory XV pada tahun 1622 untuk mengkoordinasi para misionaris. Lambat laun, ”propaganda” mengartikan upaya apa pun untuk menyebarkan suatu kepercayaan.

      Akan tetapi, konsep propaganda bukan lahir pada abad ke-17. Sejak zaman dahulu, manusia telah menggunakan segala bentuk media untuk menyebarkan ideologi atau meningkatkan kemasyhuran dan kekuasaan. Misalnya, seni telah digunakan untuk tujuan-tujuan propaganda sejak zaman para firaun Mesir. Raja-raja ini mendesain piramida mereka untuk menonjolkan citra kekuatan dan ketangguhan. Serupa dengan hal itu, arsitektur Roma memiliki tujuan politis​—pengagungan negara. Istilah ”propaganda” mendapat konotasi umum yang negatif pada Perang Dunia I ketika para pemerintah mulai berperan aktif dalam merekayasa informasi perang yang disebarluaskan oleh media. Pada Perang Dunia II, Adolf Hitler dan Joseph Goebbels membuktikan diri sebagai ahli propagandis.

      Setelah Perang Dunia II, propaganda dengan pesat menjadi alat utama untuk memasyarakatkan kebijakan nasional. Baik blok Barat maupun Timur berkampanye habis-habisan untuk merebut dukungan sejumlah besar massa yang belum menentukan sikap. Setiap aspek kehidupan dan kebijakan nasional dimanfaatkan untuk kepentingan propaganda. Pada tahun-tahun belakangan ini, teknik-teknik propaganda yang semakin canggih tampak nyata pada kampanye pemilu, demikian pula dalam mengiklankan perusahaan tembakau. Orang yang konon dianggap sebagai pakar serta para pemimpin lainnya direkrut untuk menggambarkan bahwa merokok itu berkesan glamor serta sehat dan bukanlah ancaman terhadap kesehatan masyarakat meski memang demikianlah halnya.

      Dusta, Dusta!

      Tentu saja, siasat propagandis yang paling praktis adalah menggunakan dusta terang-terangan. Misalnya, perhatikan dusta yang ditulis Martin Luther pada tahun 1543 mengenai orang Yahudi di Eropa, ”Mereka meracuni sumur-sumur, membunuh, menculik anak-anak . . . Mereka berniat jahat, garang, pendendam, ular yang penuh muslihat, pembunuh, dan anak-anak iblis yang menyengat dan mencelakakan.” Apa desakannya kepada orang-orang yang disebut Kristen? ”Bakar sinagoga atau sekolah mereka . . . Rumah-rumah mereka juga harus diratakan dan dihancurkan.”

      Seorang profesor bidang pemerintahan dan sosial yang telah mempelajari era tersebut mengatakan, ”Pada dasarnya, antisemitisme tidak ada kaitannya dengan tindakan orang Yahudi, dan dengan demikian pada dasarnya tidak ada kaitannya dengan pengetahuan seorang antisemit tentang karakter orang Yahudi sesungguhnya.” Ia juga mengatakan, ”Orang Yahudi selalu digambarkan menyimpang, jadi masyarakat langsung menuding orang Yahudi jika timbul masalah alami atau sosial.”

      Mengadakan Generalisasi

      Taktik propaganda lainnya yang sangat sukses adalah generalisasi. Generalisasi cenderung mengaburkan fakta-fakta penting tentang masalah yang sebenarnya sedang dipersoalkan, dan sering digunakan untuk menurunkan derajat seluruh kelompok masyarakat. Misalnya, ”kaum Gipsi [atau imigran] adalah pencuri” adalah ungkapan yang sering terdengar di beberapa negara Eropa. Namun, benarkah demikian?

      Richardos Someritis, seorang kolumnis, mengatakan bahwa di satu negara, persepsi semacam itu menimbulkan sejenis ”xenofobia dan sering kali rasisme gila-gilaan” terhadap orang asing. Namun, ditunjukkan bahwa dalam tindakan-tindakan pelanggaran hukum, justru biang keladi di negara itu kemungkinan bukan saja orang asing, melainkan juga penduduk aslinya. Misalnya, menurut Someritis, survei memperlihatkan bahwa di Yunani, ”96 dari 100 kejahatan dilakukan oleh [orang Yunani]”. ”Penyebab tindakan kriminal itu adalah masalah ekonomi dan sosial,” katanya, ”bukan ’rasial’.” Ia mempersalahkan media ”karena secara sistematis mengobarkan xenofobia dan rasisme” melalui liputan kejahatan yang palsu.

      Julukan

      Ada yang menghina orang yang tidak sependapat dengan mereka dengan mempertanyakan gelagat atau motif orang tersebut dan bukan memfokuskan pada fakta-faktanya. Julukan yang negatif dan mudah diingat dapat dilontarkan terhadap seseorang, suatu kelompok, atau sebuah gagasan. Si pemberi julukan berharap bahwa cap itu akan terus melekat. Jika masyarakat menolak seseorang atau gagasan atas dasar cap negatif dan bukannya mempertimbangkan bukti agar menjadi yakin, maka strategi si pemberi julukan berhasil.

      Misalnya, pada tahun-tahun belakangan ini, sentimen antisekte yang sangat kuat telah melanda banyak negara di Eropa dan di tempat-tempat lain. Kecenderungan ini menggugah emosi, menciptakan kesan seorang musuh, dan memperkuat prasangka yang sudah ada terhadap kelompok agama minoritas. Sering kali, kata ”sekte”-lah yang dijadikan kata kuncinya. ”’Sekte’ adalah kata lain dari ’bidah’,” tulis Profesor asal Jerman Martin Kriele pada tahun 1993, ”dan dewasa ini, seorang bidah di Jerman, seperti dulu-dulu, [dikutuk untuk dibasmi]​—kalau tidak dengan api . . . , ya dengan pembunuhan, pengasingan serta penghancuran ekonomi.”

      Institute of Propaganda Analysis mendapati bahwa ”perusakan nama baik telah memainkan peranan yang amat kuat dalam sejarah dunia dan perkembangan pribadi kita sendiri. Akibatnya, reputasi dirusak, . . . orang-orang dijebloskan ke penjara, dan manusia dibuat sedemikian murkanya hingga tidak segan-segan bertempur dan membantai sesama mereka”.

      Memanipulasi Emosi

      Sekalipun mungkin tidak relevan jika kasusnya menyangkut fakta atau argumen logis, perasaan memainkan peranan yang sangat penting dalam persuasi. Upaya untuk menggugah emosi dirancang oleh para publisis yang berpengalaman, yang mempermainkan perasaan semahir seorang virtuoso memainkan pianonya.

      Misalnya, rasa takut adalah emosi yang dapat mengaburkan penilaian. Dan, dalam kasus kedengkian, rasa takut dapat dimanipulasi. Surat kabar Kanada The Globe and Mail terbitan 15 Februari 1999 melaporkan dari Moskwa, ”Sewaktu tiga gadis bunuh diri di Moskwa minggu lalu, media Rusia segera menuding bahwa mereka adalah pengikut Saksi-Saksi Yehuwa yang fanatik.” Perhatikan kata ”fanatik”. Sewajarnya, masyarakat akan merasa takut terhadap organisasi agama yang fanatik yang konon mendorong kaum remaja untuk bunuh diri. Apakah gadis-gadis yang nahas ini benar-benar ada hubungannya dengan Saksi-Saksi Yehuwa?

      Globe melanjutkan, ”Belakangan, polisi mengakui bahwa gadis-gadis itu tidak ada hubungannya dengan [Saksi-Saksi Yehuwa]. Tetapi, sementara itu, sebuah saluran televisi Moskwa sudah melancarkan serangan baru terhadap sekte tersebut, memberi tahu pemirsa bahwa Saksi-Saksi Yehuwa telah berkomplot dengan Adolf Hitler di Jerman Nazi​—meskipun bukti-bukti sejarah menunjukkan bahwa ribuan anggota mereka menjadi korban kamp-kamp maut Nazi.” Dalam pikiran masyarakat yang terinformasi secara keliru dan yang mungkin menjadi takut, Saksi-Saksi Yehuwa dianggap sebagai suatu kultus bunuh diri atau antek-antek Nazi!

      Kebencian adalah emosi yang kuat yang dimanfaatkan oleh para propagandis. Ungkapan tersirat khususnya efektif untuk memicunya. Tampaknya tidak pernah ada habisnya kata-kata tajam yang menyulut dan memanfaatkan kebencian terhadap ras, etnik, atau kelompok agama tertentu.

      Ada propagandis yang memanfaatkan harga diri. Kita sering kali menjumpai ungkapan-ungkapan mendasar yang menyinggung-nyinggung harga diri seperti, ”Orang cerdas mana pun tahu bahwa . . . ” atau, ”Orang dengan pendidikan seperti Anda tentu setuju bahwa . . . ” Daya tarik harga diri yang diputarbalikkan seperti itu mempermainkan perasaan kita, yang takut terlihat bodoh. Para profesional dalam bidang persuasi tahu betul hal itu.

      Slogan dan Lambang

      Slogan adalah pernyataan samar-samar yang biasanya digunakan untuk mengungkapkan pandangan atau tujuan. Karena samar-samar, orang mudah menyetujuinya.

      Misalnya, selama konflik atau krisis nasional, para penghasut massa mungkin menggunakan slogan-slogan seperti ”Benar atau salah tetap negaraku”, ”Tanah Air, Agama, Keluarga”, atau ”Merdeka Atau Mati”. Namun, apakah kebanyakan orang menganalisis dengan saksama masalah sesungguhnya yang tersangkut dalam krisis atau konflik itu? Atau, apakah mereka hanya menerima begitu saja apa yang mereka dengar?

      Dalam tulisannya tentang Perang Dunia I, Winston Churchill mengamati, ”Hanya perlu pemicu untuk mengubah kumpulan besar rakyat jelata dan para pekerja yang penuh damai ini menjadi pasukan perkasa yang akan mencabik-cabik satu sama lain.” Selanjutnya, ia mengamati bahwa sewaktu disuruh melakukan sesuatu, kebanyakan orang menanggapinya tanpa berpikir dahulu.

      Propagandis juga memiliki beragam lambang dan tanda untuk menyampaikan pesannya​—salvo 21 senapan, penghormatan militer, bendera. Kasih kepada orang-tua juga dimanfaatkan. Dengan demikian, lambang-lambang seperti tanah air, ibu pertiwi, atau gereja ibu adalah perangkat berguna di tangan pembujuk yang lihai.

      Jadi, seni propaganda yang licik dapat melumpuhkan pikiran, mengaburkan nalar serta daya pengamatan, dan menyulut pribadi-pribadi agar bertindak secara massal. Bagaimana Anda dapat melindungi diri?

      [Kutipan di hlm. 8]

      Seni propaganda yang licik dapat melumpuhkan pikiran dan mengaburkan nalar

      [Kotak/Gambar di hlm. 7]

      APAKAH KEGIATAN SAKSI-SAKSI YEHUWA BERSIFAT PROPAGANDA?

      Beberapa penentang Saksi-Saksi Yehuwa telah menuduh mereka menyebarkan propaganda Zionis. Yang lain menuding bahwa pelayanan Saksi-Saksi mendukung Komunisme. Ada juga yang mengklaim bahwa kegiatan Saksi-Saksi Yehuwa mempromosikan gagasan dan kepentingan ”imperialisme Amerika”. Dan, ada yang menyatakan bahwa Saksi-Saksi itu anarkis, menyulut kerusuhan dengan tujuan mengubah tatanan sosial, ekonomi, politik, atau hukum. Tentu saja, semua tuduhan yang bertolak belakang ini tidak benar.

      Fakta sederhananya ialah Saksi-Saksi Yehuwa tidak termasuk yang disebutkan di atas. Kegiatan Saksi-Saksi dilaksanakan karena menaati dengan setia amanat Yesus Kristus kepada murid-muridnya, ”Kamu akan menjadi saksiku . . . sampai ke bagian yang paling jauh di bumi.” (Kisah 1:8) Kegiatan mereka hanya terfokus secara eksklusif pada kabar baik Kerajaan surgawi​—sarana Allah untuk mendatangkan perdamaian atas seluruh bumi.​—Matius 6:10; 24:14.

      Para pengamat Saksi-Saksi Yehuwa tidak menemukan bukti bahwa komunitas Kristen ini pernah bertindak sebagai kekuatan yang merusak tatanan yang baik di negeri mana pun.

      Banyak jurnalis, hakim, dan pihak-pihak lain mengulas tentang sumbangsih Saksi-Saksi Yehuwa bagi lingkungan masyarakat tempat mereka tinggal. Perhatikan beberapa contoh. Setelah menghadiri kebaktian Saksi-Saksi Yehuwa, seorang reporter dari Eropa bagian selatan mengomentari, ”Orang-orang ini memiliki ikatan keluarga yang kuat, dan mereka diajar untuk mengasihi dan hidup berdasarkan hati nurani mereka agar tidak mencelakakan orang lain.”

      Seorang jurnalis lain yang sebelumnya bersikap negatif terhadap Saksi-Saksi menyatakan, ”Cara hidup mereka patut diteladani. Mereka tidak melanggar standar apa yang benar dan bermoral.” Dengan nada serupa, seorang pakar ilmu politik berkomentar mengenai Saksi-Saksi, ”Mereka memperlakukan orang lain dengan kebaikan hati, kasih, dan kelembutan yang teramat dalam.”

      Saksi-Saksi Yehuwa mengajarkan bahwa adalah benar untuk tunduk kepada kalangan berwenang. Sebagai warga negara yang taat hukum, mereka mengikuti standar Alkitab tentang kejujuran, kebenaran, dan kebersihan. Mereka membangun moral yang baik dalam keluarga mereka, dan mereka membantu orang lain belajar caranya melakukan hal yang sama. Mereka hidup berdamai dengan semua orang, tidak terlibat dalam aksi unjuk rasa yang merusak, atau revolusi politik. Saksi-Saksi Yehuwa berupaya menjadi teladan dalam mematuhi hukum kalangan berwenang yang lebih tinggi, seraya dengan sabar menantikan Wewenang Tertinggi, Tuan Yang Berdaulat, Yehuwa, untuk memulihkan perdamaian yang sempurna dan pemerintahan yang adil-benar atas bumi ini.

      Pada waktu yang sama, kegiatan Saksi-Saksi Yehuwa bersifat mendidik. Mereka menggunakan Alkitab sebagai dasar untuk mengajar orang-orang di seluas dunia caranya bernalar menurut prinsip-prinsip Alkitab dan dengan demikian mengembangkan standar tingkah laku yang benar serta integritas moral. Mereka memasyarakatkan norma-norma yang memperbaiki kehidupan keluarga serta membantu kaum muda menghadapi tantangan-tantangan khusus. Mereka juga membantu orang-orang memperoleh kekuatan untuk mengatasi kebiasaan buruk dan mengembangkan kesanggupan untuk bergaul serasi dengan orang lain. Kegiatan demikian tidaklah cocok disebut ”propaganda”. Sebagaimana dikatakan The World Book Encyclopedia, dalam iklim tempat gagasan menyebar dengan bebas, ”propaganda berbeda dengan pendidikan”.

      [Gambar]

      Publikasi Saksi-Saksi Yehuwa memasyarakatkan norma-norma keluarga dan standar moral yang luhur

      [Gambar di hlm. 5]

      Propaganda yang mendukung perang maupun rokok telah mengakibatkan banyak kematian

  • Jangan Jadi Korban Propaganda!
    Sedarlah!—2000 | 22 Juni
    • Jangan Jadi Korban Propaganda!

      ”Orang bodoh percaya segala sesuatu.”​—AMSAL 14:15, TODAY’S ENGLISH VERSION.

      ADA perbedaan​—perbedaan yang besar​—antara pendidikan dan propaganda. Pendidikan menunjukkan caranya berpikir. Propaganda memberi tahu Anda apa yang harus dipikirkan. Pendidik yang baik menyajikan setiap sisi permasalahan dan merangsang diskusi. Para propagandis tak henti-hentinya memaksa Anda mendengarkan pandangan mereka dan menghindari diskusi. Motif mereka sering kali tidak tampak. Mereka menyeleksi fakta-fakta, memanfaatkan yang berguna dan menyembunyikan yang lain. Mereka juga menyimpangkan dan membengkokkan fakta, spesialis dusta dan hal-hal yang tidak seluruhnya benar. Target mereka adalah emosi Anda, bukan kesanggupan berpikir Anda yang logis.

      Propagandis memastikan bahwa pesannya tampak benar dan bermoral, dan itu membuat Anda merasa diri penting serta terikat jika Anda memperhatikan pesan itu. Anda termasuk orang yang berpendidikan, Anda tidak sendirian, Anda tidak perlu khawatir dan waswas​—inilah yang mereka inginkan agar Anda percayai.

      Bagaimana Anda dapat melindungi diri dari jenis orang yang disebut Alkitab sebagai ”orang-orang yang suka omong kosong” dan ”penipu pikiran”? (Titus 1:10) Jika Anda mengenal beberapa siasat licik mereka, Anda akan lebih mudah mengevaluasi pesan atau informasi apa pun yang disajikan kepada Anda. Berikut ini adalah beberapa caranya.

      Bersikaplah Selektif: Pikiran yang sepenuhnya terbuka dapat disamakan dengan sebuah pipa yang dapat dialiri apa saja​—bahkan limbah. Tidak seorang pun ingin pikirannya dicemari racun. Salomo, seorang raja dan pendidik di zaman dahulu, memperingatkan, ”Orang yang kurang berpengalaman percaya pada setiap perkataan, tetapi orang yang cerdik mempertimbangkan langkah-langkahnya.” (Amsal 14:15) Jadi, kita perlu bersikap selektif. Kita perlu meneliti dengan cermat apa pun yang disajikan kepada kita, memutuskan mana yang dapat diterima dan mana yang hendaknya ditolak.

      Namun, kita tidak ingin berpikiran sedemikian sempit sampai-sampai kita menolak mempertimbangkan fakta yang dapat memperbaiki cara berpikir kita. Bagaimana caranya kita mendapatkan keseimbangan yang benar? Dengan menetapkan patokan untuk menakar informasi baru. Dalam hal ini, seorang Kristen memiliki sumber hikmat yang luar biasa. Ia memiliki Alkitab sebagai pembimbing yang pasti bagi cara berpikirnya. Di satu sisi, pikirannya memang terbuka, maksudnya, siap menerima informasi baru. Ia mengevaluasi informasi baru dengan sepatutnya sesuai dengan standar Alkitab dan menyerap apa yang benar ke dalam pola berpikirnya. Di sisi lain, pikirannya melihat bahaya akibat informasi yang seluruhnya tidak konsisten dengan norma-normanya yang berdasarkan Alkitab.

      Gunakan Daya Pengamatan: Daya pengamatan adalah ”penilaian yang tajam”. Ini adalah ”kekuatan atau kesanggupan pikiran untuk membedakan satu hal dari yang lain”. Orang yang berdaya pengamatan memahami gagasan atau hal-hal yang samar-samar dan memiliki penilaian yang baik.

      Dengan daya pengamatan, kita akan sanggup mengenali orang yang hanya sekadar menggunakan ”perkataan yang licin dan kata-kata pujian” untuk ”memikat hati orang-orang yang naif”. (Roma 16:18) Daya pengamatan memungkinkan Anda menyingkirkan informasi yang tidak relevan atau fakta-fakta yang menyesatkan dan membedakan inti masalahnya. Namun, bagaimana Anda dapat menyadari sewaktu ada sesuatu yang menyesatkan?

      Ujilah informasinya: ”Saudara-saudara yang kukasihi,” kata Yohanes, seorang guru Kristen abad pertama, ”janganlah percaya kepada setiap pernyataan terilham, tetapi ujilah pernyataan-pernyataan terilham itu.” (1 Yohanes 4:1) Dewasa ini, beberapa orang seperti karet busa; menyerap apa pun yang diterima. Memang, mudah sekali untuk menyerap apa pun di sekeliling kita.

      Tetapi, jauh lebih baik jika setiap individu secara pribadi memilih apa yang akan ia masukkan ke dalam pikirannya. Ada sebuah pepatah yang mengatakan bahwa makanan yang kita santap menunjukkan orang macam apa kita, dan ini dapat diterapkan pada makanan bagi tubuh maupun bagi pikiran. Tidak soal apa pun yang Anda baca, tonton, atau dengar, ujilah apakah itu bernada propaganda atau memang benar.

      Selain itu, jika kita ingin bersikap tidak berat sebelah, kita harus bersedia menguji pendapat kita sendiri terus-menerus seraya kita menerima informasi baru. Kita harus menyadari bahwa itu pun sebenarnya pendapat juga. Entah hal itu dapat dipercaya atau tidak bergantung pada keabsahan fakta-fakta kita, mutu penalaran kita, dan standar atau prinsip yang kita pilih untuk diterapkan.

      Ajukan Pertanyaan: Seperti telah kita lihat, ada banyak orang dewasa ini yang ingin ’memperdayakan kita dengan argumen yang bersifat membujuk’. (Kolose 2:4) Oleh karena itu, sewaktu argumen persuasif disajikan kepada kita, kita hendaknya mengajukan pertanyaan.

      Pertama-tama, periksalah apakah ada prasangka. Apa motif di balik pesan itu? Jika pesan itu sarat julukan dan nama buruk, mengapa demikian? Jika komentar-komentar yang miring itu disingkirkan, apa sisi baik pesan itu sendiri? Juga, jika mungkin, cobalah memeriksa riwayat orang yang berbicara itu. Apakah mereka dikenal sebagai orang yang berbicara kebenaran? Jika ”wewenang” digunakan sebagai referensi, siapa mereka atau apa? Mengapa hendaknya Anda memandang orang ini​—atau organisasi, atau publikasi​—memiliki pengetahuan yang dalam atau informasi yang dapat dipercaya tentang pokok yang dipersoalkan? Jika Anda mulai merasa terpikat secara emosi, bertanyalah pada diri sendiri, ’Jika dipandang tanpa melibatkan perasaan, apa sisi baik pesan ini?’

      Jangan hanya ikut-ikutan: Jika Anda menyadari bahwa apa yang dipikirkan setiap orang tidak selalu benar, Anda dapat memperoleh kekuatan untuk berpikir beda. Hanya karena semua orang tampaknya berpikir dengan cara yang sama, apakah itu berarti Anda juga hendaknya demikian? Pendapat populer bukanlah barometer kebenaran yang dapat diandalkan. Selama berabad-abad, setiap jenis pendapat telah diterima secara luas, namun belakangan terbukti keliru. Namun, kecenderungan untuk ikut-ikutan tetap ada. Perintah di Keluaran 23:2 memberikan prinsip yang bagus, ”Jangan mengikuti orang banyak untuk tujuan yang jahat.”

      Pengetahuan yang Benar Versus Propaganda

      Sebelumnya telah disebutkan bahwa Alkitab adalah pembimbing yang pasti untuk dapat berpikir jernih. Saksi-Saksi Yehuwa tanpa ragu percaya dan setuju dengan pernyataan Yesus kepada Allah, ”Firmanmu adalah kebenaran.” (Yohanes 17:17) Hal ini dikarenakan Allah, Pengarang Alkitab, adalah ”Allah kebenaran”.​—Mazmur 31:5.

      Ya, dalam era propaganda yang canggih ini, kita dapat dengan yakin berpaling kepada Firman Yehuwa sebagai sumber kebenaran. Pada akhirnya, ini akan melindungi kita dari orang-orang yang ingin ’memanfaatkan kita dengan kata-kata yang memperdayakan’.​—2 Petrus 2:3.

      [Gambar di hlm. 9]

      Daya pengamatan memungkinkan Anda menyingkirkan informasi yang tidak relevan atau menyesatkan

      [Gambar di hlm. 10]

      Ujilah apa pun yang Anda baca atau tonton, untuk memastikan apakah itu benar

      [Gambar di hlm. 11]

      Pendapat populer tidak selalu dapat diandalkan

      [Gambar di hlm. 11]

      Kita dapat dengan yakin berpaling kepada Firman Allah sebagai sumber kebenaran

Publikasi Menara Pengawal Bahasa Indonesia (1971-2025)
Log Out
Log In
  • Indonesia
  • Bagikan
  • Pengaturan
  • Copyright © 2025 Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania
  • Syarat Penggunaan
  • Kebijakan Privasi
  • Pengaturan Privasi
  • JW.ORG
  • Log In
Bagikan