-
Undangan yang Penuh Kasih kepada Orang-Orang yang Merasa LelahMenara Pengawal—1995 | 15 Agustus
-
-
Undangan yang Penuh Kasih kepada Orang-Orang yang Merasa Lelah
”Marilah kepadaku, kamu semua yang berjerih lelah dan mempunyai tanggungan berat, dan aku akan menyegarkan kamu.”—MATIUS 11:28.
1. Apa yang Yesus lihat di Galilea dalam perjalanan pengabarannya yang ketiga?
MENJELANG awal tahun 32 M, Yesus sedang dalam perjalanan pengabarannya yang ketiga di distrik Galilea. Ia mengadakan perjalanan melintasi kota-kota dan desa-desa, ”mengajar di sinagoge-sinagoge mereka dan memberitakan kabar baik kerajaan dan menyembuhkan setiap jenis penyakit dan setiap jenis kelemahan jasmani”. Seraya ia berbuat demikian, ia melihat kumpulan orang itu, dan ”ia merasa kasihan terhadap mereka, karena mereka terus dikuliti dan dibuang seperti domba-domba tanpa gembala”.—Matius 9:35, 36.
2. Bagaimana Yesus membantu orang-orang?
2 Akan tetapi, Yesus berbuat lebih daripada semata-mata merasa kasihan terhadap kumpulan orang tersebut. Setelah menginstruksikan murid-muridnya untuk berdoa kepada sang ”Majikan panen”, Allah Yehuwa, ia mengutus mereka untuk membantu orang-orang. (Matius 9:38; 10:1) Kemudian kepada orang-orang tersebut ia menawarkan jaminan pribadi akan suatu jalan kepada kelegaan dan hiburan yang sejati. Ia mengulurkan undangan yang menghangatkan hati ini kepada mereka, ”Marilah kepadaku, kamu semua yang berjerih lelah dan mempunyai tanggungan berat, dan aku akan menyegarkan kamu. Ambillah kuk aku atas kamu dan belajarlah dariku, karena aku berwatak lemah lembut dan rendah hati, dan kamu akan menemukan kesegaran bagi jiwamu.”—Matius 11:28, 29.
3. Mengapa undangan Yesus sama menariknya dewasa ini?
3 Dewasa ini kita hidup pada zaman manakala banyak orang merasa sangat dibebani dan mempunyai tanggungan berat. (Roma 8:22; 2 Timotius 3:1) Bagi beberapa orang, sekadar mencari nafkah telah menguras begitu banyak waktu dan energi mereka, sehingga sedikit yang tersisa untuk keluarga mereka, teman-teman, atau hal-hal lain. Banyak orang dibebani dengan penyakit yang serius, kesukaran, depresi, dan problem-problem jasmani dan emosi lain. Karena merasakan tekanan tersebut, beberapa orang berupaya mencari kelegaan dengan membenamkan diri dalam pengejaran kesenangan, makan, minum, bahkan penyalahgunaan obat-obatan. Tentu saja, hal ini hanya menghempaskan mereka ke dalam suatu lingkaran setan, mendatangkan lebih banyak problem dan tekanan kepada mereka. (Roma 8:6) Jelaslah, undangan Yesus yang penuh kasih terdengar sama menariknya dewasa ini sebagaimana halnya dahulu.
4. Pertanyaan-pertanyaan apa hendaknya kita pertimbangkan agar mendapat manfaat dari undangan Yesus yang penuh kasih?
4 Namun, hal apa yang menekan orang-orang di zaman Yesus, sehingga mereka tampak ”dikuliti dan dibuang”, menimbulkan belas kasihan Yesus terhadap mereka? Apa beban dan tanggungan berat yang harus mereka pikul, dan bagaimana undangan Yesus akan membantu mereka? Jawaban kepada pertanyaan-pertanyaan ini dapat sangat berguna bagi kita dalam mendapatkan manfaat dari undangan Yesus yang penuh kasih kepada orang-orang yang lelah.
Orang-Orang yang ”Berjerih Lelah dan Mempunyai Tanggungan Berat”
5. Mengapa tepat bahwa rasul Matius melaporkan tentang peristiwa ini dalam pelayanan Yesus?
5 Menarik bahwa hanya Matius yang melaporkan tentang peristiwa ini dalam pelayanan Yesus. Karena pernah menjadi pemungut pajak, Matius, yang juga dikenal sebagai Lewi, mengenal betul sebuah beban khusus yang dipikul oleh orang-orang. (Matius 9:9; Markus 2:14) Buku Daily Life in the Time of Jesus mengatakan, ”Pajak yang [orang-orang Yahudi harus] bayar dalam bentuk uang dan bentuk lain luar biasa berat, dan yang membuatnya lebih berat lagi adalah bahwa ada dua bentuk pajak yang dikenakan atas mereka dalam waktu yang sama, pajak sipil dan pajak agama; dan keduanya tidak ringan.”
6. (a) Apa sistem pajak yang digunakan pada zaman Yesus? (b) Mengapa para pemungut pajak memiliki reputasi yang demikian buruk? (c) Akan hal apa Paulus merasa perlu mengingatkan rekan-rekan Kristennya?
6 Apa yang membuat semua ini khususnya membebani adalah sistem pajak pada saat itu. Para pejabat Romawi mengalihkan hak memungut pajak di propinsi-propinsi kepada para penawar yang paling tinggi. Mereka ini selanjutnya, mempekerjakan orang-orang di masyarakat setempat untuk mengawasi pekerjaan pemungutan pajak yang sebenarnya. Semua orang dalam skema piramida ini merasa dibenarkan sepenuhnya untuk menuntut komisi, atau bagiannya sendiri. Misalnya, Lukas mengatakan bahwa ”ada seorang pria yang dipanggil dengan nama Zakheus; dan dia seorang kepala pemungut pajak, dan dia kaya”. (Lukas 19:2) ”Kepala pemungut pajak”, Zakheus, dan orang-orang di bawah pengawasannya tampaknya membangun kekayaan mereka di atas penderitaan rakyat. Penyalahgunaan dan korupsi yang ditimbulkan oleh sistem demikian menyebabkan orang-orang menggolongkan para pemungut pajak di antara para pedosa dan orang-orang sundal, dan barangkali layak dianggap begitu dalam banyak kasus. (Matius 9:10; 21:31, 32; Markus 2:15; Lukas 7:34) Karena orang-orang merasakan beban yang hampir tak tertanggungkan, tidak heran rasul Paulus merasa perlu untuk mengingatkan rekan-rekan Kristennya agar jangan kesal karena kuk Romawi tetapi agar ’memberikan kepada semua orang hak mereka, kepada dia yang menuntut pajak, pajak; kepada dia yang menuntut upeti, upeti’.—Roma 13:7a; bandingkan Lukas 23:2.
7. Bagaimana hukuman yang dijatuhkan orang-orang Romawi menambah beban rakyat?
7 Paulus juga mengingatkan orang-orang Kristen untuk memberikan ”kepada dia yang menuntut perasaan takut, perasaan takut yang demikian; kepada dia yang menuntut hormat, hormat yang demikian”. (Roma 13:7b) Orang-orang Romawi terkenal kejam dan keras dalam menjatuhkan hukuman. Pencambukan, penderaan, hukuman penjara yang keras, dan eksekusi kerap kali digunakan untuk membuat orang-orang tunduk. (Lukas 23:32, 33; Kisah 22:24, 25) Bahkan para pemimpin Yahudi diberi wewenang untuk menjalankan hukuman demikian jika mereka anggap cocok. (Matius 10:17; Kisah 5:40) Sistem demikian tentu saja sangat menekan, bahkan sangat menindas siapa pun yang hidup di bawahnya.
8. Bagaimana para pemimpin agama mendatangkan beban atas orang-orang?
8 Akan tetapi, yang lebih buruk daripada pajak dan hukum Romawi adalah beban yang diletakkan atas rakyat jelata oleh para pemimpin agama pada zaman itu. Sebenarnya, hal ini tampaknya menjadi perhatian utama Yesus sewaktu ia menggambarkan orang-orang tersebut ”berjerih lelah dan mempunyai tanggungan berat”. Yesus mengatakan bahwa sebaliknya daripada memberi harapan dan penghiburan kepada orang-orang yang tertindas, para pemimpin agama ”mengikat menjadi satu tanggungan-tanggungan yang berat dan menaruhnya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya dengan jari tangan mereka”. (Matius 23:4; Lukas 11:46) Di dalam Injil jelas terlihat gambaran yang tidak salah lagi tentang para pemimpin agama—teristimewa para penulis dan orang-orang Farisi—sebagai kelompok yang angkuh, kejam, dan munafik. Mereka memandang rendah orang-orang kebanyakan sebagai orang-orang yang tidak terpelajar dan najis, dan mereka memandang hina orang-orang asing di tengah-tengah mereka. Sebuah ulasan tentang sikap mereka menyatakan, ”Seseorang yang terlalu berat membebani seekor kuda dewasa ini dapat dituntut secara hukum. Bagaimana dengan seseorang yang membebankan 613 hukum ke atas ’orang-orang dusun’ yang tidak memiliki pendidikan agama; dan kemudian, dengan tidak berbuat apa-apa untuk membantu mereka, mengutuk mereka sebagai tidak bertuhan?” Tentu saja, beban yang sebenarnya bukan Hukum Musa, melainkan banyak sekali tradisi yang ditetapkan atas orang-orang tersebut.
Penyebab yang Sebenarnya dari Kesulitan
9. Bagaimana keadaan di antara orang-orang pada zaman Yesus dibandingkan dengan pada zaman Raja Salomo?
9 Sering kali beban materi atas orang-orang sangat berat sehingga kemiskinan meluas. Orang-orang Israel harus membayar pajak yang masuk akal yang ditetapkan oleh Hukum Musa. Kemudian selama pemerintahan Salomo, orang-orang menangani proyek-proyek nasional yang sangat mahal, seperti membangun bait dan bangunan-bangunan lain. (1 Raja 7:1-8; 9:17-19) Namun, Alkitab memberi tahu kita bahwa orang-orang ”makan dan minum serta bersukaria. . . . Orang Yehuda dan orang Israel diam dengan tenteram, masing-masing di bawah pohon anggur dan pohon aranya, dari Dan sampai Bersyeba seumur hidup Salomo”. (1 Raja 4:20, 25) Apa yang menyebabkan keadaan yang berbeda ini?
10. Apa yang menjadi penyebab keadaan orang-orang Israel menjelang abad pertama?
10 Selama bangsa tersebut tetap teguh dalam ibadat yang sejati, mereka menikmati perkenan Yehuwa dan diberkati dengan keamanan serta kemakmuran meskipun ada pengeluaran biaya nasional yang besar. Akan tetapi, Yehuwa memperingatkan bahwa jika mereka ”berbalik dari pada[-Nya] dan tidak berpegang pada segala perintah[-Nya]”, mereka akan menderita kemunduran yang serius. Sesungguhnya, ”Israel akan menjadi kiasan dan sindiran di antara segala bangsa”. (1 Raja 9:6, 7) Keadaannya berubah tepat demikian. Israel mulai dijajah orang-orang asing, dan kerajaan yang pernah sangat terhormat berubah menjadi hanya sebuah jajahan. Alangkah buruk akibat dari melalaikan kewajiban-kewajiban rohani mereka!
11. Mengapa Yesus merasa bahwa orang-orang ”dikuliti dan dibuang seperti domba-domba tanpa gembala”?
11 Semua ini membantu kita memahami mengapa Yesus merasa bahwa orang-orang yang ia lihat ”dikuliti dan dibuang”. Ini adalah orang-orang Israel, umat Yehuwa, yang pada umumnya berupaya hidup selaras dengan hukum-hukum Allah dan menjalankan ibadat mereka dengan cara yang diperkenan. Akan tetapi, mereka dieksploitasi dan ditindas tidak hanya oleh kuasa-kuasa politik dan perdagangan tetapi juga oleh para pemimpin agama yang murtad di antara mereka. Mereka ”seperti domba-domba tanpa gembala” karena mereka tidak memiliki siapa pun yang memperhatikan mereka atau membela mereka. Mereka membutuhkan bantuan untuk mengatasi kenyataan-kenyataan yang sangat pahit. Betapa tepat waktu undangan Yesus yang penuh kasih dan lembut ini!
Undangan Yesus Dewasa Ini
12. Tekanan-tekanan apa yang dirasakan oleh hamba-hamba Allah dan orang-orang lain yang tulus dewasa ini?
12 Dalam banyak hal keadaannya serupa dewasa ini. Orang-orang tulus yang berupaya mencari nafkah dengan jujur merasa tekanan dan tuntutan dari sistem perkara yang bejat ini sulit ditanggung. Bahkan orang-orang yang telah membaktikan kehidupan mereka kepada Yehuwa tidak kebal. Laporan-laporan memperlihatkan bahwa beberapa di antara hamba-hamba Yehuwa mendapati semakin sulit untuk memenuhi semua tanggung jawab mereka, meskipun mereka ingin melakukannya. Mereka merasa dibebani dengan berat, lelah, dan kehabisan tenaga. Beberapa bahkan merasa bahwa akan melegakan jika mereka lepas tangan saja dan menghilang entah ke mana, agar mereka dapat memulihkan diri. Apakah saudara pernah merasakan hal yang sama? Apakah saudara mengetahui orang lain yang dekat dengan saudara yang berada dalam situasi demikian? Ya, undangan Yesus yang menghangatkan hati memiliki makna yang sangat besar bagi kita dewasa ini.
13. Mengapa kita dapat merasa yakin bahwa Yesus dapat membantu kita mendapatkan penghiburan dan kesegaran?
13 Sebelum Yesus mengulurkan undangan yang penuh kasih ini, ia mengatakan, ”Segala perkara telah diserahkan kepadaku oleh Bapakku, dan tidak seorang pun mengenal Putra sepenuhnya kecuali Bapak, dan juga tidak seorang pun mengenal Bapak sepenuhnya kecuali Putra dan siapa pun yang kepadanya Putra bersedia menyingkapkan dia.” (Matius 11:27) Karena hubungan yang akrab ini antara Yesus dan Bapaknya, kita merasa yakin bahwa dengan menerima undangan Yesus dan menjadi muridnya, kita dapat memasuki suatu hubungan pribadi yang akrab dengan Yehuwa, ”Allah segala penghiburan”. (2 Korintus 1:3; bandingkan Yohanes 14:6.) Selain itu, karena ’segala perkara telah diserahkan kepadanya’, hanya Yesus Kristus sendiri yang memiliki kuasa dan wewenang untuk meringankan beban kita. Beban yang mana? Beban yang diakibatkan oleh sistem-sistem politik, perdagangan, dan agama yang bejat, serta beban yang diakibatkan oleh dosa dan ketidaksempurnaan yang kita warisi. Ini benar-benar gagasan yang menganjurkan dan menenteramkan hati sudah sejak permulaannya!
14. Dari jerih lelah apa Yesus dapat menyediakan kesegaran?
14 Yesus selanjutnya mengatakan, ”Marilah kepadaku, kamu semua yang berjerih lelah dan mempunyai tanggungan berat, dan aku akan menyegarkan kamu.” (Matius 11:28) Tentu saja Yesus tidak menentang kerja keras, karena ia sering menasihati murid-muridnya untuk berupaya sekuat tenaga dalam pekerjaan yang mereka miliki. (Lukas 13:24) Tetapi ”berjerih lelah” (”kerja keras”, Kingdom Interlinear) mengartikan pekerjaan yang berkepanjangan dan melelahkan, sering kali tanpa hasil yang berguna. Dan ”mempunyai tanggungan berat” memiliki arti dibebani melebihi kesanggupan yang normal. Perbedaannya dapat disamakan seperti antara seorang pria yang menggali harta terpendam dengan seorang yang menggali parit di kamp kerja paksa. Mereka melakukan kerja keras yang sama. Bagi yang satu, tugas dilakukan dengan senang, tetapi bagi yang lain, merupakan hal yang menjemukan dan tak ada akhirnya. Apa yang menentukan adalah adanya tujuan atau tidak adanya tujuan dari pekerjaan ini.
15. (a) Pertanyaan-pertanyaan apa hendaknya kita ajukan kepada diri kita jika kita merasa bahwa kita memikul beban yang berat di bahu kita? (b) Apa yang dapat dikatakan tentang sumber dari beban kita?
15 Apakah saudara merasa bahwa saudara ”berjerih lelah dan mempunyai tanggungan berat”, bahwa ada terlalu banyak tuntutan atas waktu dan energi saudara? Apakah beban yang saudara pikul tampak sangat berat bagi saudara? Jika demikian, akan membantu untuk menanyai diri sendiri, ’Untuk apa saya berjerih lelah? Tanggungan berat macam apa yang saya pikul?’ Dalam hal ini, seorang komentator Alkitab menulis lebih dari 80 tahun yang lalu, ”Jika kita mempertimbangkan soal beban hidup, hal tersebut dibagi dalam dua kategori; kita dapat menyebutnya sebagai beban yang ditetapkan sendiri dan beban yang tidak dapat dielakkan: beban yang timbul oleh karena tindakan kita sendiri, dan beban yang tidak disebabkan oleh tindakan-tindakan kita.” Ia kemudian menambahkan, ”Banyak di antara kita akan terkejut, setelah suatu pemeriksaan diri yang saksama, untuk mendapati bahwa sebagian besar dari beban kita ditimbulkan oleh kita sendiri.”
16. Beban-beban apa mungkin secara tidak bijaksana kita letakkan atas diri kita?
16 Beban-beban apa saja yang mungkin kita letakkan atas diri kita? Dewasa ini kita hidup dalam dunia yang materialistis, mencintai kesenangan, dan amoral. (2 Timotius 3:1-5) Bahkan orang-orang Kristen yang berbakti terus-menerus mendapat tekanan untuk menyesuaikan diri dengan mode dan gaya hidup dunia ini. Rasul Yohanes menulis tentang ”keinginan daging dan keinginan mata dan pameran yang mencolok dari sarana kehidupan seseorang”. (1 Yohanes 2:16) Ini adalah pengaruh yang kuat yang dengan mudah dapat mempengaruhi kita. Menurut pengamatan, beberapa orang rela untuk sangat terlibat utang agar dapat menikmati lebih banyak kesenangan dunia atau mempertahankan gaya hidup tertentu. Kemudian mereka mendapati bahwa mereka harus menghabiskan banyak sekali waktu dalam pekerjaan, atau mengambil beberapa pekerjaan, guna memperoleh uang untuk membayar utang-utang mereka.
17. Keadaan apa dapat membuat bahkan lebih sulit memikul tanggungan, dan bagaimana hal ini dapat diatasi?
17 Meskipun seseorang mungkin berdalih bahwa tidaklah salah untuk memiliki atau melakukan beberapa hal yang orang lain miliki atau sedang lakukan, penting untuk menganalisis apakah ia tanpa perlu menambah tanggungannya. (1 Korintus 10:23) Karena seseorang hanya dapat memikul sekian banyak, ada yang harus dilepaskan agar dapat memikul tanggungan yang lain. Sering kali, adalah hal-hal yang penting bagi kesejahteraan rohani kita—pelajaran Alkitab pribadi, menghadiri perhimpunan, dan dinas pengabaran—yang terlebih dahulu dilepaskan. Akibatnya adalah hilangnya kekuatan rohani, yang selanjutnya membuatnya lebih sulit lagi untuk memikul tanggungan itu. Yesus Kristus memperingatkan terhadap bahaya demikian sewaktu ia mengatakan, ”Perhatikanlah dirimu sendiri agar hatimu jangan sekali-kali menjadi sarat dengan makan berlebihan dan minum berlebihan dan kekhawatiran dalam kehidupan, dan dengan mendadak hari itu dalam sekejap menimpa kamu seperti suatu jerat.” (Lukas 21:34, 35; Ibrani 12:1) Sulit untuk mengenali suatu jerat dan lari darinya jika seseorang mempunyai tanggungan yang sangat berat dan merasa terlalu lelah.
Kelegaan dan Kesegaran
18. Apa yang Yesus tawarkan kepada orang-orang yang datang kepadanya?
18 Oleh karena itu, dengan pengasih Yesus menawarkan obatnya, ”Marilah kepadaku, . . . dan aku akan menyegarkan kamu.” (Matius 11:28) Kata ”menyegarkan” di sini dan ”kesegaran” di ayat 29 berasal dari kata-kata Yunani yang sama dengan yang digunakan oleh terjemahan Septuagint untuk menerjemahkan kata bahasa Ibrani untuk ”sabat” atau ”memelihara Sabat”. (Keluaran 16:23) Jadi, Yesus tidak berjanji bahwa orang-orang yang datang kepadanya tidak akan bekerja lagi, tetapi ia berjanji bahwa ia akan menyegarkan mereka sehingga mereka siap untuk pekerjaan yang harus mereka lakukan selaras dengan maksud-tujuan Allah.
19. Bagaimana seseorang ’datang kepada Yesus’?
19 Namun, bagaimana seseorang ’datang kepada Yesus’? Kepada murid-muridnya, Yesus mengatakan, ”Jika seseorang ingin datang mengikuti aku, hendaklah dia menyangkal dirinya sendiri dan mengangkat tiang siksaannya dan terus mengikuti aku.” (Matius 16:24) Oleh karena itu, datang kepada Yesus berarti menundukkan kehendak pribadi seseorang kepada kehendak Allah dan Kristus, menerima beban tanggung jawab tertentu, melakukan demikian secara terus-menerus. Apakah semua ini terlalu menuntut? Apakah pengorbanannya terlalu mahal? Mari kita pertimbangkan apa yang Yesus katakan setelah ia memberikan undangan yang penuh kasih kepada orang-orang yang lelah.
-
-
”Kuk Aku Menyenangkan dan Tanggunganku Ringan”Menara Pengawal—1995 | 15 Agustus
-
-
”Kuk Aku Menyenangkan dan Tanggunganku Ringan”
”Ambillah kuk aku atas kamu dan belajarlah dariku.”—MATIUS 11:29.
1, 2. (a) Apa yang saudara alami dalam kehidupan yang mendatangkan kesegaran bagi saudara? (b) Apa yang harus dilakukan seseorang untuk menerima kesegaran yang Yesus janjikan?
MANDI dengan air yang sejuk seusai hari yang panas dan lembap, atau tidur malam yang nyenyak sehabis perjalanan yang panjang dan melelahkan—ah, alangkah segarnya! Demikianlah halnya bila suatu beban yang berat diangkat atau bila dosa-dosa dan pelanggaran diampuni. (Amsal 25:25; Kisah 3:19) Kesegaran yang didatangkan oleh pengalaman yang menyenangkan demikian memulihkan tenaga kita, dan kita dikuatkan untuk berbuat lebih banyak.
2 Semua orang yang merasa mempunyai tanggungan berat dan lelah dapat datang kepada Yesus, karena justru itulah yang ia janjikan—kesegaran. Akan tetapi, untuk menemukan kesegaran yang begitu didambakan, ada sesuatu yang seseorang harus rela lakukan. ”Ambillah kuk aku atas kamu dan belajarlah dariku,” kata Yesus, ”dan kamu akan menemukan kesegaran bagi jiwamu.” (Matius 11:29) Apa kuk ini? Bagaimana hal ini mendatangkan kesegaran?
Sebuah Kuk yang Menyenangkan
3. (a) Kuk macam apa saja yang digunakan pada zaman Alkitab? (b) Makna kiasan apa dihubungkan dengan sebuah kuk?
3 Karena hidup dalam masyarakat agraris, Yesus dan para pendengarnya mengenal kuk dengan baik. Pada dasarnya, kuk adalah sebuah balok kayu yang panjang dengan dua lekukan pada bagian bawahnya yang akan ditaruh pada leher sepasang binatang penarik, pada umumnya sapi, untuk memasang mereka bersama sehingga dapat menarik sebuah bajak, kereta, atau beban lain. (1 Samuel 6:7) Kuk untuk manusia juga digunakan. Ini adalah sebuah balok atau batang kayu biasa yang dipikul di bahu dengan sebuah beban diikatkan pada setiap ujungnya. Dengan kuk ini, para pekerja dapat memikul beban yang berat. (Yeremia 27:2; 28:10, 13) Karena hubungannya dengan beban dan kerja keras, kuk sering digunakan secara kiasan dalam Alkitab untuk melambangkan penguasaan dan pengendalian.—Ulangan 28:48; 1 Raja 12:4; Kisah 15:10.
4. Apa yang dilambangkan oleh kuk yang Yesus tawarkan kepada orang-orang yang datang kepadanya?
4 Maka, apa gerangan kuk yang Yesus tawarkan untuk diambil oleh orang-orang yang datang kepadanya guna memperoleh kesegaran? Ingatlah bahwa ia mengatakan, ”Ambillah kuk aku atas kamu dan belajarlah dariku.” (Matius 11:29) Orang yang belajar adalah seorang murid. Oleh karena itu, mengambil kuk Yesus semata-mata berarti menjadi muridnya. (Filipi 4:3) Akan tetapi, hal ini menuntut lebih daripada sekadar mengetahui ajarannya. Ini menuntut tindakan yang selaras dengan itu—melakukan pekerjaan yang ia lakukan dan menempuh kehidupan seperti dia. (1 Korintus 11:1; 1 Petrus 2:21) Ini menuntut ketundukan yang rela kepada wewenangnya dan kepada orang-orang yang ia delegasikan wewenang. (Efesus 5:21; Ibrani 13:17) Ini berarti menjadi seorang Kristen yang berbakti dan dibaptis, menerima semua hak istimewa dan tanggung jawab yang menyertai pembaktian demikian. Itulah kuk yang Yesus tawarkan kepada semua yang datang kepadanya untuk memperoleh penghiburan dan kesegaran. Apakah saudara bersedia menerimanya?—Yohanes 8:31, 32.
5. Mengapa bukan suatu pengalaman yang tidak menyenangkan untuk mengambil kuk Yesus?
5 Memperoleh kesegaran dengan mengambil sebuah kuk—bukankah ini suatu kontradiksi? Sebenarnya tidak, karena Yesus mengatakan bahwa kuknya ”menyenangkan”. Kata ini memiliki makna lemah lembut, menyenangkan, dan dapat disetujui. (Matius 11:30; Lukas 5:39; Roma 2:4; 1 Petrus 2:3) Sebagai tukang kayu profesional, Yesus kemungkinan besar telah membuat bajak dan kuk, dan ia mengetahui bagaimana membentuk kuk yang pas agar pekerjaan maksimum dapat dilakukan senyaman mungkin. Ia mungkin melapisinya dengan kain atau kulit. Banyak yang dibuat dengan cara demikian sehingga kuk tersebut tidak membuat leher menjadi lecet. Dengan cara yang sama, kuk kiasan yang Yesus tawarkan kepada kita bersifat ”menyenangkan”. Meskipun menjadi muridnya melibatkan kewajiban dan tanggung jawab tertentu, ini bukan suatu pengalaman yang tidak menyenangkan atau menindas tetapi menyegarkan. Perintah-perintah Bapak Surgawinya, Yehuwa, juga tidak membebani.—Ulangan 30:11; 1 Yohanes 5:3.
6. Apa yang mungkin Yesus maksudkan sewaktu ia mengatakan, ”Ambillah kuk aku atas kamu”?
6 Ada hal lain lagi yang membuat kuk Yesus ”menyenangkan”, atau mudah dipikul. Sewaktu ia mengatakan, ”Ambillah kuk aku atas kamu,” ia bisa memaksudkan salah satu dari dua hal. Jika yang ia maksudkan adalah kuk ganda, yaitu, jenis yang menyatukan dua binatang penarik untuk menarik beban bersama-sama, maka berarti ia mengundang kita untuk datang ke bawah kuk yang sama dengannya. Sungguh suatu berkat—Yesus berada di samping kita untuk menarik beban bersama kita! Sebaliknya, jika yang Yesus maksudkan adalah sebuah kuk yang digunakan oleh pekerja kasar, maka ia menawarkan kita sarana yang dengannya kita dapat membuat beban apa pun yang harus kita pikul menjadi lebih mudah atau lebih dapat ditangani. Apa pun maksudnya, kuknya merupakan sumber kesegaran sejati karena ia meyakinkan kita, ”Karena aku berwatak lemah lembut dan rendah hati.”
7, 8. Kesalahan apa yang dibuat oleh beberapa orang bila mereka merasa tertekan?
7 Maka, apa yang hendaknya kita lakukan jika kita merasa bahwa tanggungan problem-problem kehidupan yang kita pikul menjadi tidak dapat ditoleransi lagi dan kita merasa tertekan sampai tidak tahan lagi? Ada yang mungkin dengan keliru merasa bahwa kuk menjadi murid Yesus Kristus terlalu berat atau menuntut, meskipun urusan kehidupan sehari-hari itulah yang membebani mereka. Beberapa orang dalam situasi semacam itu berhenti menghadiri perhimpunan Kristen, atau mereka menahan diri dari berpartisipasi dalam pelayanan, dengan merasa bahwa mungkin mereka dapat memperoleh sedikit kelegaan. Akan tetapi, itu adalah kesalahan yang serius.
8 Kita mengetahui bahwa kuk yang Yesus tawarkan bersifat ”menyenangkan”. Jika kita tidak meletakkannya dengan benar, ini dapat membuat lecet. Jika demikian halnya, kita hendaknya memeriksa kuk di atas bahu kita. Jika, karena alasan tertentu, kuk itu perlu diperbaiki atau letaknya tidak benar, menggunakannya tidak hanya akan menuntut lebih banyak upaya di pihak kita tetapi akan menyebabkan rasa sakit sebagai akibatnya. Dengan kata lain, jika kegiatan teokratis mulai tampak sebagai suatu beban bagi kita, kita harus memeriksa untuk melihat apakah kita menanganinya dengan cara yang benar. Apa motif kita dalam melakukan apa yang kita lakukan? Apakah kita cukup persiapan pada waktu kita menghadiri perhimpunan? Apakah kita siap secara fisik dan mental pada waktu kita ambil bagian dalam dinas pengabaran? Apakah kita menikmati hubungan yang akrab dan sehat dengan orang-orang lain di dalam sidang? Dan di atas segalanya, bagaimana hubungan pribadi kita dengan Allah Yehuwa dan Putra-Nya, Yesus Kristus?
9. Mengapa kuk orang Kristen hendaknya tidak menjadi beban yang tidak tertanggungkan?
9 Bila kita dengan sepenuh hati menerima kuk yang Yesus tawarkan dan belajar untuk memikulnya dengan benar, sama sekali tidak ada alasan bahwa kuk tersebut tampak sebagai beban yang tak tertanggungkan. Sebenarnya, jika kita dapat membayangkan situasinya—Yesus berada di bawah kuk yang sama dengan kita—tidaklah sulit bagi kita untuk melihat siapa yang sebenarnya memikul bagian yang terbesar dari bebannya. Halnya tidak berbeda dengan seorang balita yang menyandarkan diri pada setang kereta bayinya, dengan mengira bahwa ia yang mendorongnya ke depan, tetapi tentu saja sebenarnya orang-tuanya yang melakukan itu. Sebagai seorang Bapak yang penuh kasih, Allah Yehuwa sangat menyadari keterbatasan dan kelemahan kita, dan Ia menanggapi kebutuhan kita melalui Yesus Kristus. ’Allah akan menyediakan sepenuhnya semua kebutuhanmu sesuai dengan kekayaannya dalam kemuliaan dengan perantaraan Kristus Yesus,’ kata Paulus.—Filipi 4:19; bandingkan Yesaya 65:24.
10. Bagaimana pengalaman seseorang yang menganggap serius keadaan sebagai murid?
10 Banyak orang Kristen yang berbakti menghargai hal ini melalui pengalaman pribadi. Misalnya, Jenny, yang mendapati bahwa melayani sebagai seorang perintis ekstra setiap bulan dan bekerja sepenuh waktu dalam pekerjaan duniawi yang banyak menuntut membuat dia merasakan tekanan yang sangat berat. Namun, ia merasa bahwa pekerjaan merintis sebenarnya membantu dia untuk tetap seimbang. Membantu orang-orang untuk belajar kebenaran Alkitab dan melihat mereka mengubah kehidupan mereka untuk mendapatkan perkenan Allah—inilah yang memberinya sukacita terbesar dalam kehidupannya yang sibuk. Ia dengan sepenuh hati setuju dengan kata-kata dari Amsal yang mengatakan, ”Berkat [Yehuwa]-lah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya.”—Amsal 10:22.
Suatu Tanggungan yang Ringan
11, 12. Apa yang Yesus maksudkan sewaktu ia mengatakan, ”Tanggunganku ringan”?
11 Selain menjanjikan sebuah kuk yang ”menyenangkan”, Yesus meyakinkan kita, ”Tanggunganku ringan.” Sebuah kuk yang ”menyenangkan” sudah membuat pekerjaan menjadi lebih mudah; jika tanggungannya juga diringankan, pekerjaan ini benar-benar suatu kesenangan. Namun, apa yang Yesus maksudkan dengan pernyataan tersebut?
12 Pertimbangkan apa yang akan dilakukan seorang petani bila ia ingin mengubah pekerjaan dari binatang-binatangnya, misalnya dari membajak ladang ke menarik kereta. Ia pertama-tama akan melepaskan bajak dan kemudian mengikatkan keretanya. Akan tidak masuk akal untuk sekaligus mengikatkan bajak maupun kereta pada binatang-binatang tersebut. Demikian pula, Yesus tidak mengatakan kepada orang-orang untuk meletakkan tanggungannya di atas tanggungan yang sudah mereka pikul. Ia mengatakan kepada murid-muridnya, ”Tidak ada hamba-rumah yang dapat menjadi budak bagi dua majikan.” (Lukas 16:13) Dengan demikian, Yesus menawarkan kepada orang-orang suatu pilihan. Apakah mereka lebih suka terus memikul tanggungan berat yang telah ada pada mereka, atau apakah mereka akan melepaskan itu dan menerima apa yang ia tawarkan? Yesus memberi mereka pendorong yang penuh kasih, ”Tanggunganku ringan.”
13. Tanggungan apa yang dipikul oleh orang-orang pada zaman Yesus, dan dengan hasil apa?
13 Pada zaman Yesus, orang-orang berjuang di bawah tanggungan berat yang diletakkan atas mereka oleh para penguasa Romawi yang menindas dan para pemimpin agama yang mengikuti tradisi dan bersifat munafik. (Matius 23:23) Dalam upaya untuk menyingkirkan tanggungan Romawi, beberapa orang berupaya untuk menanganinya sendiri. Mereka menjadi terlibat dalam perjuangan politik, hanya dengan akibat yang mencelakakan. (Kisah 5:36, 37) Yang lain-lain bertekad untuk memperbaiki keadaan mereka dengan menjadi sangat terlibat dalam upaya-upaya materialistis. (Matius 19:21, 22; Lukas 14:18-20) Sewaktu Yesus menawarkan kepada mereka jalan kelegaan dengan mengundang mereka untuk menjadi murid-muridnya, tidak semua siap menerima. Mereka enggan melepaskan tanggungan yang mereka pikul, meskipun hal itu berat, dan mengambil tanggungan Yesus. (Lukas 9:59-62) Sungguh suatu kesalahan yang tragis!
14. Bagaimana kekhawatiran hidup dan keinginan materi membebani kita?
14 Jika kita tidak berhati-hati, kita dapat membuat kesalahan yang sama dewasa ini. Menjadi murid-murid Yesus membebaskan kita dari mengejar tujuan dan nilai-nilai yang sama yang dikejar oleh orang-orang dunia ini. Meskipun kita masih harus bekerja keras untuk memperoleh kebutuhan sehari-hari, kita tidak menjadikan hal-hal ini pusat dari kehidupan kita. Namun, kekhawatiran hidup dan daya tarik kenyamanan materi dapat mencengkeram kita dengan kuat. Jika kita membiarkannya, keinginan demikian bahkan dapat membuat kebenaran yang telah kita terima dengan penuh semangat tercekik. (Matius 13:22) Kita dapat menjadi begitu disibukkan untuk memenuhi keinginan-keinginan demikian sehingga tanggung jawab Kristen kita menjadi kewajiban yang membosankan yang ingin cepat kita lakukan dengan asal jadi. Kita tentu saja tidak dapat mengharapkan akan memperoleh kesegaran apa pun dari dinas kita kepada Allah jika hal tersebut dilakukan dengan sikap mental seperti itu.
15. Peringatan apa diberikan Yesus berkenaan keinginan materi?
15 Yesus memperlihatkan bahwa kehidupan yang memuaskan datang, bukan dengan berupaya memenuhi semua keinginan kita, tetapi dengan memastikan perkara-perkara yang lebih penting dalam kehidupan. ”Berhentilah khawatir mengenai jiwamu sehubungan dengan apa yang akan kamu makan atau apa yang akan kamu minum, atau mengenai tubuhmu sehubungan dengan apa yang akan kamu pakai,” sarannya. ”Bukankah jiwa lebih berarti daripada makanan dan tubuh daripada pakaian?” Kemudian ia menarik perhatian kepada burung-burung di langit dan mengatakan, ”Mereka tidak menabur benih atau menuai atau mengumpulkan ke dalam gudang-gudang; namun Bapak surgawimu tetap memberi mereka makan.” Menunjuk kepada bunga lili di ladang, ia mengatakan, ”Mereka tidak berjerih lelah dan mereka juga tidak memintal; namun aku mengatakan kepadamu bahwa bahkan Salomo dalam segala kemuliaannya tidak berpakaian seperti salah satu dari mereka ini.”—Matius 6:25-29.
16. Apa yang telah diperlihatkan oleh pengalaman sehubungan dampak dari pengejaran materi?
16 Dapatkah kita belajar sesuatu dari pelajaran praktis yang sederhana ini? Adalah suatu pengalaman yang lazim bahwa semakin keras seseorang berupaya meningkatkan keadaannya secara materi, semakin ia terjerat dalam pengejaran duniawi dan semakin berat jadinya beban di bahunya. Dunia ini dipenuhi dengan para wiraswasta yang telah membayar keberhasilan materi mereka dengan keluarga-keluarga yang berantakan, perkawinan yang kandas, kesehatan yang rusak, dan seterusnya. (Lukas 9:25; 1 Timotius 6:9, 10) Penerima hadiah Nobel Albert Einstein pernah mengatakan, ”Harta, sukses lahiriah, publisitas, kemewahan—hal-hal itu senantiasa saya anggap hina. Saya percaya bahwa gaya hidup yang sederhana dan bersahaja adalah yang terbaik bagi setiap orang.” Pernyataan ini hanya menggemakan nasihat rasul Paulus yang sederhana, ”Itu adalah sarana untuk mendapat keuntungan yang besar, pengabdian yang saleh ini yang disertai rasa cukup.”—1 Timotius 6:6.
17. Cara hidup macam apa yang Alkitab anjurkan?
17 Ada aspek yang penting yang tidak boleh kita lewatkan. Meskipun ”gaya hidup yang sederhana dan bersahaja” memiliki banyak keuntungan, bukan hal itu sendiri yang mendatangkan kepuasan. Ada banyak orang yang cara hidupnya sederhana karena keadaan memaksa, namun mereka sama sekali tidak puas atau bahagia. Alkitab tidak mendesak kita untuk menolak kenikmatan jasmani dan menempuh kehidupan seorang petapa. Penekanannya adalah pada pengabdian yang saleh, bukan rasa cukup. Hanya jika kita menggabungkan kedua hal tersebut kita akan memiliki ”sarana untuk mendapat keuntungan yang besar”. Keuntungan apa? Selanjutnya dalam surat yang sama, Paulus menunjukkan bahwa orang-orang yang ”mendasarkan harapan mereka, bukan kepada kekayaan yang tidak pasti tetapi kepada Allah” akan ”dengan aman menimbun fondasi yang baik bagi mereka sendiri untuk masa depan, agar mereka dapat menggenggam dengan teguh kehidupan yang sebenarnya”.—1 Timotius 6:17-19.
18. (a) Bagaimana seseorang dapat memperoleh kesegaran yang sejati? (b) Bagaimana kita hendaknya memandang perubahan yang mungkin harus kita buat?
18 Kesegaran akan kita peroleh jika kita belajar untuk melepaskan tanggungan pribadi kita yang berat yang mungkin kita pikul dan mengambil tanggungan ringan yang Yesus tawarkan. Banyak orang yang telah mengorganisasi kembali kehidupan mereka agar mereka dapat ambil bagian lebih sepenuhnya dalam dinas Kerajaan telah menemukan jalan kepada suatu kehidupan yang bahagia dan memuaskan. Tentu saja, dibutuhkan iman dan ketabahan dari seseorang untuk membuat langkah demikian, dan mungkin ada rintangan-rintangan sepanjang jalan itu. Tetapi Alkitab mengingatkan kita, ”Siapa senantiasa memperhatikan angin tidak akan menabur; dan siapa senantiasa melihat awan tidak akan menuai.” (Pengkhotbah 11:4) Banyak hal sebenarnya tidak begitu sulit setelah kita membulatkan tekad untuk melakukannya. Bagian yang paling sulit, tampaknya, adalah membulatkan tekad kita. Kita mungkin akan menjadi lelah karena bergumul dengan atau menolak gagasan tersebut. Jika kita menyemangatkan pikiran kita dan menerima tantangan itu, kita mungkin akan heran mendapati bahwa hal itu akan terbukti menjadi berkat. Sang pemazmur mendesak, ”Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya [Yehuwa] itu!”—Mazmur 34:9; 1 Petrus 1:13.
”Kesegaran Bagi Jiwamu”
19. (a) Apa yang dapat kita harapkan seraya keadaan dunia semakin memburuk? (b) Seraya berada di bawah kuk Yesus, akan hal apa kita diyakinkan?
19 Rasul Paulus mengingatkan murid-murid pada abad pertama, ”Kita harus masuk ke dalam kerajaan Allah melalui banyak kesengsaraan.” (Kisah 14:22) Hal ini masih berlaku dewasa ini. Seraya keadaan dunia terus memburuk, tekanan yang datang atas orang-orang yang bertekad untuk menempuh kehidupan yang adil-benar dan dengan pengabdian yang saleh akan menjadi lebih berat lagi. (2 Timotius 3:12; Penyingkapan 13:16, 17) Namun, kita merasa seperti Paulus sewaktu ia mengatakan, ”Kami ditekan dengan segala cara, tetapi tidak terimpit sehingga tidak dapat bergerak; kami bingung, tetapi tidak sama sekali tanpa jalan keluar; kami dianiaya, tetapi tidak ditinggalkan begitu saja; kami diempaskan, tetapi tidak binasa.” Alasannya adalah karena kita dapat bersandar pada Yesus Kristus yang akan memberi kita kekuatan melebihi apa yang normal. (2 Korintus 4:7-9) Dengan menerima kuk menjadi murid dengan sepenuh hati, kita akan menikmati penggenapan dari janji Yesus, ”Kamu akan menemukan kesegaran bagi jiwamu.”—Matius 11:29.
-