-
Keluarga Kristen—’Tetaplah Bangun’Menara Pengawal—2011 | 15 Mei
-
-
Keluarga Kristen—’Tetaplah Bangun’
”Biarlah kita tetap bangun dan tetap sadar.”—1 TES. 5:6.
1, 2. Apa yang perlu dilakukan keluarga agar tetap sadar secara rohani?
MENGENAI ”hari Yehuwa yang hebat dan menakutkan”, rasul Paulus menulis kepada orang Kristen di Tesalonika, ”Saudara-saudara, kamu tidak berada dalam kegelapan, sehingga hari itu tiba-tiba menimpa kamu seperti pencuri, sebab kamu semua adalah putra-putra terang dan putra-putra siang. Kita bukan milik malam ataupun kegelapan.” Paulus menambahkan, ”Oleh karena itu, biarlah kita tidak tidur seperti orang lain, tetapi biarlah kita tetap bangun dan tetap sadar.”—Yl. 2:31; 1 Tes. 5:4-6.
2 Nasihat Paulus kepada orang Tesalonika sangat cocok bagi orang Kristen yang hidup pada ”zaman akhir”. (Dan. 12:4) Karena akhir sistem yang fasik ini kian dekat, Setan bertekad untuk membuat sebanyak mungkin penyembah Yehuwa tidak lagi melayani Dia. Maka, bijaksana jika kita mengindahkan nasihat Paulus untuk tetap waspada secara rohani. Agar keluarga Kristen bisa tetap sadar, penting jika setiap anggota keluarga menjalankan tanggung jawab yang Allah berikan kepada mereka masing-masing. Kalau begitu, apa peranan suami, istri, dan anak-anak dalam membantu keluarga ”tetap bangun”?
Suami—Tirulah ”Gembala yang Baik”
3. Menurut 1 Timotius 5:8, apa saja tanggung jawab pria sebagai kepala keluarga?
3 ”Kepala dari seorang wanita adalah pria,” kata Alkitab. (1 Kor. 11:3) Apa saja tanggung jawab pria sebagai kepala keluarga? Alkitab menguraikan salah satu bidang, ”Jika seseorang tidak menyediakan kebutuhan orang-orangnya sendiri, dan teristimewa mereka yang adalah anggota rumah tangganya, ia telah menyangkal iman dan lebih buruk daripada orang yang tidak mempunyai iman.” (1 Tim. 5:8) Ya, seorang pria harus menyediakan kebutuhan materi keluarganya. Namun, jika ia ingin membantu keluarganya tetap sadar secara rohani, ia harus berbuat lebih dari sekadar mencari nafkah. Ia perlu membangun rumah tangganya secara rohani, membantu semua anggota keluarga memperkuat hubungan mereka dengan Allah. (Ams. 24:3, 4) Bagaimana caranya?
4. Apa yang bisa membantu pria agar berhasil membangun rumah tangganya secara rohani?
4 Karena ”suami adalah kepala atas istrinya sebagaimana Kristus juga adalah kepala atas sidang jemaat”, pria yang telah menikah hendaknya mempelajari dan meniru cara Yesus menjalankan kekepalaan atas sidang. (Ef. 5:23) Perhatikan bagaimana Yesus melukiskan hubungan dia dengan para pengikutnya. (Baca Yohanes 10:14, 15.) Apa kuncinya agar pria berhasil membangun rumah tangganya secara rohani? Ini kuncinya: Pelajari apa yang Yesus katakan dan lakukan sebagai ”gembala yang baik”, dan ’ikuti langkah-langkahnya dengan saksama’.—1 Ptr. 2:21.
5. Seberapa dalam Gembala yang Baik mengenal sidangnya?
5 Hubungan antara gembala dan domba-dombanya bisa akrab karena gembala tahu semua hal tentang domba-dombanya, dan domba mengenal dan memercayai sang gembala. Mereka mengenal dan mematuhi suaranya. ”Aku mengenal domba-dombaku dan domba-dombaku mengenal aku,” kata Yesus. Ia tidak sekadar mengetahui sidangnya secara umum. Ya, Sang Gembala yang Baik mengenal domba-domba-Nya secara pribadi. Ia tahu kebutuhan, kelemahan, dan kelebihan mereka masing-masing. Tentang domba-dombanya, tidak ada yang luput dari perhatian Teladan kita. Dan, domba betul-betul mengenal sang gembala dan memercayai dia sebagai pemimpin.
6. Bagaimana suami dapat meniru Gembala yang Baik?
6 Untuk menjalankan kekepalaannya dengan cara Kristus, suami harus belajar untuk memandang dirinya sebagai gembala, dan anggota keluarganya sebagai domba. Ia hendaknya berupaya keras mengenal keluarganya secara akrab. Dapatkah suami melakukannya? Ya, jika ia berkomunikasi dengan baik dengan semua anggota keluarganya, mendengarkan kekhawatiran mereka, aktif dalam kegiatan keluarga. Ia juga melibatkan keluarganya sewaktu membuat keputusan misalnya dalam hal ibadat keluarga, kehadiran di perhimpunan, dinas pengabaran, rekreasi, dan hiburan. Jika suami Kristen berupaya mengenal baik Firman Allah dan keluarganya, kemungkinan besar anggota keluarganya akan memercayai dia sebagai kepala dan dia akan merasa puas melihat mereka tetap bersatu dalam ibadat.
7, 8. Bagaimana suami dapat meniru Gembala yang Baik dalam menyayangi keluarganya?
7 Gembala yang baik juga menyayangi dombanya. Sewaktu kita mempelajari kisah-kisah Injil tentang kehidupan dan pelayanan Yesus, hati kita tersentuh melihat kasih sayang Yesus kepada murid-muridnya. Ia bahkan ’menyerahkan jiwanya bagi domba-dombanya’. Suami hendaknya meniru Yesus dalam menunjukkan kasih sayang kepada anggota keluarganya. Ketimbang bersikap kasar dan selalu memaksakan kehendaknya, suami yang ingin diperkenan Allah terus mengasihi istrinya ”sebagaimana Kristus juga mengasihi sidang jemaat”. (Ef. 5:25) Kata-kata suami hendaknya ramah dan bertimbang rasa, karena istrinya layak dihormati.—1 Ptr. 3:7.
8 Sewaktu melatih anak-anak, kepala keluarga hendaknya berpegang teguh pada prinsip-prinsip Allah. Tetapi, ia tidak boleh lupa menunjukkan kasih sayang kepada anak-anaknya. Disiplin yang diperlukan hendaknya diberikan dengan kasih. Ada anak yang mungkin perlu waktu lebih lama untuk memahami apa yang diharapkan darinya. Maka, seorang ayah hendaknya lebih sabar kepadanya. Jika pria mengikuti teladan Yesus secara konsisten, rumah mereka menjadi tempat yang aman dan tenteram. Keluarga akan menikmati keamanan rohani seperti yang digambarkan oleh sang pemazmur.—Baca Mazmur 23:1-6.
9. Seperti Nuh, suami Kristen memiliki tanggung jawab apa, dan apa yang akan membantu dia menjalankannya?
9 Teladan lain untuk kepala keluarga Kristen adalah Nuh. Dunia pada zamannya hampir berakhir. Tetapi, Yehuwa ’menyelamatkan Nuh bersama tujuh orang lainnya pada waktu ia mendatangkan air bah ke atas dunia orang-orang yang tidak saleh’. (2 Ptr. 2:5) Nuh menjalankan tanggung jawab untuk membantu keluarganya selamat dari Air Bah. Kepala keluarga Kristen pada hari-hari terakhir ini memiliki tanggung jawab serupa. (Mat. 24:37) Maka, sangatlah penting apabila mereka mempelajari teladan Gembala yang Baik dan berupaya keras meniru dia!
Istri—’Bangunlah Rumah Tangga Saudari’
10. Apa artinya tunduk kepada suami?
10 ”Hendaklah istri-istri tunduk kepada suami mereka sebagaimana kepada Tuan,” tulis rasul Paulus. (Ef. 5:22) Pernyataan ini sama sekali tidak menunjukkan bahwa istri memiliki kedudukan yang rendah. Ketika akan menciptakan wanita pertama, Hawa, Allah menyatakan, ”Tidak baik apabila manusia terus seorang diri. Aku akan menjadikan seorang penolong baginya, sebagai pelengkap dirinya.” (Kej. 2:18) Peranan sebagai ”penolong” dan ”pelengkap”—mendukung suami yang menjalankan tanggung jawab keluarga—sungguh terhormat.
11. Bagaimana istri teladan ’membangun rumah tangganya’?
11 Istri teladan berupaya menyukseskan rumah tangganya. (Baca Amsal 14:1.) Tidak seperti wanita yang bodoh, yang tidak merespek kekepalaan, wanita yang berhikmat sangat merespeknya. Ketimbang bersikap tidak taat dan ingin bebas seperti umumnya orang di dunia ini, ia tunduk kepada suaminya. (Ef. 2:2) Istri yang bodoh tidak segan-segan menjelek-jelekkan suaminya, sedangkan istri yang berhikmat berupaya agar anak-anak dan orang lain lebih merespek suaminya. Istri seperti itu berhati-hati untuk tidak melemahkan kekepalaan suaminya dengan terus merengek-rengek atau membantahnya. Istri yang berhikmat juga senang berhemat. Wanita yang bodoh suka menghambur-hamburkan uang keluarganya yang sudah dicari dengan susah payah. Istri yang mendukung suami tidak seperti itu. Ia bekerja sama dengan suaminya dalam urusan keuangan. Setiap tindakannya dipikir dahulu agar bisa berhemat. Ia tidak memaksa suaminya bekerja lembur.
12. Apa yang dapat dilakukan istri untuk membantu keluarganya ”tetap bangun”?
12 Istri teladan membantu keluarganya ”tetap bangun” dengan menolong suaminya mengajar anak-anaknya tentang Yehuwa. (Ams. 1:8) Ia giat mendukung acara Ibadat Keluarga. Selain itu, ia mendukung suaminya ketika suami menasihati dan mendisiplin anak-anak mereka. Betapa berbedanya dia dari istri yang tidak suka bekerja sama, yang anak-anaknya telantar secara jasmani dan rohani!
13. Mengapa istri perlu mendukung suaminya yang aktif dalam kegiatan teokratis?
13 Apa yang dirasakan istri jika suaminya aktif di sidang? Pasti ia bersukacita! Entah suaminya itu hamba pelayanan, penatua, atau mungkin anggota Panitia Penghubung Rumah Sakit, atau ikut dalam pembangunan Balai Kerajaan, ia bahagia karena suaminya mendapat hak istimewa. Agar istri dapat mendukung suaminya dengan kata-kata dan tindakan, tentu diperlukan banyak pengorbanan. Tetapi, ia tahu bahwa jika suaminya aktif dalam kegiatan teokratis, ini akan membantu seluruh keluarga tetap sadar secara rohani.
14. (a) Apa yang mungkin sulit bagi seorang istri, dan bagaimana ia mengatasinya? (b) Bagaimana istri dapat membuat seluruh keluarga sejahtera?
14 Memang, tidak mudah bagi istri untuk mendukung suami jika keputusan yang dibuat suami tidak ia setujui. Meskipun begitu, ia tetap memperlihatkan ”roh yang tenang dan lembut” dan bekerja sama untuk menyukseskan keputusan suami. (1 Ptr. 3:4) Istri yang baik berupaya mengikuti teladan para wanita yang saleh pada zaman dahulu, seperti Sara, Rut, Abigail, dan ibu Yesus, Maria. (1 Ptr. 3:5, 6) Ia juga meniru para wanita yang sudah berumur pada zaman sekarang yang ”berperilaku saleh”. (Tit. 2:3, 4) Dengan mengasihi dan merespek suaminya, istri teladan banyak berperan dalam menyukseskan perkawinan dan dalam membuat seluruh keluarganya sejahtera. Rumahnya menjadi tempat yang aman dan nyaman. Bagi seorang pria rohani, istri yang suka mendukung sangatlah berharga!—Ams. 18:22.
Kaum Muda—’Perhatikan Hal-Hal yang Tidak Kelihatan’
15. Bagaimana kaum muda dapat bekerja sama dengan orang tua agar keluarga ”tetap bangun”?
15 Bagaimana kalian kaum muda dapat bekerja sama dengan orang tua supaya keluarga kalian ”tetap bangun” secara rohani? Perhatikan ”hadiah” yang sudah disiapkan Yehuwa untukmu. Mungkin sejak kamu kecil, orang tuamu menunjukkan gambar-gambar tentang kehidupan di Firdaus. Saat kamu beranjak dewasa, mereka mungkin menggunakan Alkitab dan publikasi Kristen untuk membantumu membayangkan seperti apa kehidupan kekal di dunia baru. Sekarang, kalau kamu terus berfokus untuk melayani Yehuwa dan merencanakan jalan hidupmu sesuai dengannya, kamu akan bisa tetap sadar secara rohani.
16, 17. Bagaimana kaum muda bisa menang dalam perlombaan untuk kehidupan?
16 Perhatikan baik-baik kata-kata rasul Paulus di 1 Korintus 9:24. (Baca.) Larilah dalam perlombaan untuk kehidupan dengan tekad untuk menang. Pilihlah jalan hidup yang akan membantumu meraih hadiah kehidupan abadi. Banyak yang mengejar hal-hal materi sehingga tersimpangkan dari hadiah itu. Benar-benar bodoh! Jika hidup kita hanya untuk mencari uang, kita tidak akan betul-betul bahagia. Barang-barang yang bisa dibeli dengan uang singkat umurnya. Namun kamu, perhatikanlah ’hal-hal yang tidak kelihatan’. Mengapa? Karena ’hal-hal yang tidak kelihatan itu abadi’.—2 Kor. 4:18.
17 ’Hal-hal yang tidak kelihatan’ itu termasuk berkat-berkat Kerajaan. Rencanakanlah jalan hidupmu sedemikian rupa agar kamu memperolehnya. Jika kamu menggunakan kehidupanmu untuk melayani Yehuwa, kamu akan betul-betul bahagia. Dengan melayani Allah yang benar, kamu berkesempatan untuk meraih tujuan jangka pendek maupun jangka panjang.a Kalau kamu menetapkan tujuan-tujuan rohani yang realistis, kamu bisa tetap berfokus untuk melayani Allah dan akhirnya memperoleh hadiah kehidupan abadi.—1 Yoh. 2:17.
18, 19. Bagaimana anak muda bisa tahu bahwa ia telah membina hubungan pribadi dengan Yehuwa?
18 Kaum muda, langkah pertama menuju kehidupan abadi adalah membina hubungan kamu sendiri dengan Yehuwa. Apakah kamu sudah mengambil langkah itu? Tanyai dirimu sendiri, ’Apakah aku manusia rohani, atau apakah aku hanya ikut-ikutan orang tua dalam kegiatan rohani? Apakah aku mengembangkan sifat-sifat yang menyenangkan Allah? Apakah aku berupaya ikut secara rutin dalam kegiatan-kegiatan rohani, seperti berdoa, belajar, berhimpun, dan berdinas secara teratur? Apakah aku mendekat kepada Allah dengan menjalin hubungan pribadi dengan Dia?’—Yak. 4:8.
19 Renungkan teladan Musa. Meskipun hidup di tengah-tengah bangsa asing, ia memilih untuk dikenal sebagai penyembah Yehuwa ketimbang sebagai anak dari putri Firaun. (Baca Ibrani 11:24-27.) Kaum muda Kristen, kalian juga perlu bertekad untuk melayani Yehuwa dengan setia. Dengan begitu, kalian akan merasakan kebahagiaan sejati, menikmati kehidupan yang terbaik sekarang, dan mempertahankan harapan ”kehidupan yang sebenarnya”.—1 Tim. 6:19.
20. Dalam perlombaan untuk kehidupan, siapa yang menerima hadiah?
20 Dalam perlombaan lari, biasanya hanya satu orang yang menang. Tetapi, tidak demikian halnya dalam perlombaan untuk kehidupan. Allah ingin ”agar segala macam orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan yang saksama tentang kebenaran”. (1 Tim. 2:3, 4) Banyak yang telah berlari sampai garis finis sebelum kamu, dan banyak yang sedang berlari di sampingmu. (Ibr. 12:1, 2) Hadiahnya akan diberikan kepada semua yang tidak menyerah. Jadi, bertekadlah untuk menang!
21. Apa yang akan dibahas di artikel berikut?
21 ”Hari Yehuwa yang hebat dan membangkitkan rasa takut” pasti akan datang. (Mal. 4:5) Ketika hari itu datang, jangan sampai keluarga-keluarga Kristen tidak siap. Jadi, penting sekali agar semua anggota keluarga menjalankan tanggung jawab Alkitab mereka. Apa lagi yang dapat Saudara lakukan untuk tetap waspada secara rohani dan memperkuat hubungan Saudara dengan Allah? Artikel berikut akan membahas tiga faktor yang memengaruhi kesejahteraan rohani seluruh keluarga.
[Catatan Kaki]
-
-
Keluarga Kristen—”Tetaplah Siap”Menara Pengawal—2011 | 15 Mei
-
-
Keluarga Kristen—”Tetaplah Siap”
”Tetaplah siap, karena Putra manusia datang pada jam yang mungkin tidak kamu sangka.”—LUK. 12:40.
1, 2. Mengapa hendaknya kita mengindahkan peringatan Yesus untuk ’tetap siap’?
”APABILA Putra manusia tiba dalam kemuliaannya” dan ”memisahkan orang, yang satu dari yang lain”, apa yang akan terjadi dengan Saudara dan keluarga? (Mat. 25:31, 32) Karena Yesus datang pada jam yang tidak kita sangka, sangat penting agar kita mengindahkan peringatannya untuk ’tetap siap’!—Luk. 12:40.
2 Artikel sebelumnya membahas bahwa setiap anggota keluarga dapat membantu seluruh keluarga tetap sadar secara rohani dengan menjalankan tanggung jawabnya. Mari kita bahas cara-cara lain kita dapat turut membuat keluarga kita sehat secara rohani.
Jagalah Mata Saudara Tetap ”Sederhana”
3, 4. (a) Keluarga Kristen hendaknya mewaspadai apa? (b) Apa artinya menjaga mata tetap ”sederhana”?
3 Agar siap sewaktu Kristus datang, keluarga-keluarga harus menjaga diri supaya tidak tersimpangkan dari ibadat sejati. Mereka perlu waspada sebab ada banyak hal yang bisa mengalihkan perhatian. Karena materialisme telah menjerat banyak keluarga, perhatikan apa yang Yesus katakan tentang menjaga mata tetap ”sederhana”. (Baca Matius 6:22, 23.) Sebagaimana pelita, atau lampu, dapat menerangi jalan agar kita tidak terjatuh, apa yang dilihat ’mata hati’ bisa menerangi kita, membantu kita agar tidak tersandung.—Ef. 1:18.
4 Agar dapat melihat dengan jelas, mata harus berfungsi dengan baik dan bisa fokus. Demikian pula halnya dengan mata hati. Memiliki mata sederhana berarti memiliki satu tujuan. Ketimbang menjalani hidup yang terpusat pada hal-hal materi dan terlalu khawatir dengan kebutuhan jasmani keluarga, kita menjaga mata terfokus pada hal-hal rohani. (Mat. 6:33) Ini berarti kita tetap puas dengan apa yang kita miliki dan menomorsatukan dinas kepada Allah.—Ibr. 13:5.
5. Bagaimana seorang gadis remaja berfokus pada pelayanan?
5 Sungguh bagus hasilnya jika anak-anak dilatih untuk menjaga mata tetap ”sederhana”! Perhatikan contoh seorang gadis remaja di Etiopia. Ia berprestasi di sekolahnya sehingga setelah lulus dari pendidikan dasarnya, ia ditawari beasiswa pendidikan lanjutan. Namun, karena matanya berfokus pada pelayanan, ia menolak beasiswa tersebut. Tak lama kemudian, ia menerima tawaran kerja dengan gaji senilai hampir 40 juta rupiah per bulan—jumlah yang sangat besar dibanding upah rata-rata di negerinya. Tetapi, ”mata” gadis itu berfokus pada dinas perintis. Ia langsung menolak tawaran itu tanpa bertanya dahulu kepada orang tuanya. Bagaimana tanggapan orang tuanya? Ternyata, mereka malah senang dan memberi tahu dia bahwa mereka bangga sekali!
6, 7. Kita harus ’terus membuka mata’ terhadap bahaya apa?
6 Dalam kata-kata Yesus di Matius 6:22, 23 tersirat peringatan terhadap ketamakan. Yesus membandingkan ”sederhana” bukan dengan lawan katanya, yakni ”rumit”, melainkan dengan kata ”fasik”. Kata Yunani yang diterjemahkan ”fasik” dapat berarti tamak. (Mat 6:23) Bagaimana pandangan Yehuwa terhadap ketamakan? ”Mengenai percabulan dan setiap jenis kenajisan atau ketamakan, disebut saja pun jangan di antara kamu,” kata Alkitab.—Ef. 5:3.
7 Meskipun ketamakan mungkin mudah terlihat pada diri orang lain, itu sulit terlihat pada diri kita sendiri. Maka, kita hendaknya mengindahkan nasihat Yesus, ”Teruslah buka matamu dan berjagalah terhadap setiap jenis keinginan akan milik orang lain [ketamakan].” (Luk. 12:15) Jadi, kita perlu memeriksa diri untuk memastikan apa fokus hati kita. Keluarga-keluarga Kristen hendaknya memikirkan dengan serius berapa banyak waktu dan uang yang mereka gunakan untuk hiburan, rekreasi, dan harta materi.
8. Sewaktu membeli barang, apa yang harus diwaspadai mata kita?
8 Kita hendaknya tidak hanya memikirkan apakah kita mampu membeli suatu barang atau tidak. Perhatikan juga faktor-faktor seperti ini: ’Apakah saya akan punya cukup waktu untuk sering menggunakannya dan merawatnya? Berapa banyak waktu yang diperlukan untuk belajar menggunakannya?’ Kalian kaum muda, jangan percaya kepada iklan-iklan yang membujuk kalian untuk membeli barang atau pakaian bermerek yang mahal-mahal, yang sebenarnya belum tentu kalian butuhkan. Milikilah pengendalian diri. Juga, pikirkan apakah barang itu akan membantu keluargamu siap menghadapi kedatangan Putra manusia. Berimanlah akan janji Yehuwa, ”Aku tidak akan membiarkan engkau atau meninggalkan engkau.”—Ibr. 13:5.
Kejarlah Tujuan-Tujuan Rohani
9. Apa manfaatnya mengejar tujuan rohani bagi keluarga?
9 Cara lain para anggota keluarga bisa memperkuat iman mereka dan turut menyehatkan kerohanian seluruh keluarga adalah dengan menetapkan tujuan-tujuan rohani dan mengejarnya. Dengan begitu, keluarga dapat mengukur sejauh mana mereka telah menyenangkan Yehuwa dan menentukan kegiatan mana saja yang paling penting bagi mereka.—Baca Filipi 1:10.
10, 11. Tujuan rohani apa yang sedang diupayakan Saudara sekeluarga, dan tujuan apa yang ingin Saudara tetapkan untuk masa depan?
10 Bahkan menetapkan tujuan-tujuan kecil yang dapat dicapai setiap anggota keluarga bisa sangat bermanfaat. Sebagai contoh, pembahasan ayat harian setiap hari. Komentar yang diberikan oleh anggota keluarga dapat membantu kepala keluarga melihat seberapa baik kerohanian keluarganya. Pembacaan Alkitab bersama-sama secara teratur memberikan kesempatan yang bagus bagi anak-anak untuk meningkatkan keterampilan membaca dan pemahaman isi Alkitab. (Mz. 1:1, 2) Dan, bukankah kita ingin meningkatkan mutu doa-doa kita? Tujuan lainnya yang juga bagus adalah meningkatkan kemampuan dalam memperlihatkan aspek-aspek buah roh. (Gal. 5:22, 23) Atau, bagaimana dengan mencari cara-cara untuk memperlihatkan empati kepada orang-orang dalam pengabaran? Dengan begitu, anak-anak bisa belajar untuk beriba hati, dan mereka akan lebih ingin melayani sebagai perintis biasa atau utusan injil.
11 Cobalah pertimbangkan beberapa tujuan yang dapat dikejar oleh Saudara dan keluarga. Dapatkah keluarga Saudara menggunakan lebih banyak waktu dalam pengabaran? Dapatkah Saudara berupaya mengatasi kekhawatiran dalam memberikan kesaksian lewat telepon, di jalan, atau di tempat bisnis? Bagaimana dengan pindah ke daerah yang lebih membutuhkan pemberita Kerajaan? Dapatkah seorang anggota keluarga mempelajari bahasa lain untuk mengabar kepada orang-orang dari bangsa lain?
12. Apa yang dapat dilakukan kepala keluarga agar keluarganya berkembang secara rohani?
12 Sebagai kepala keluarga, kenali bidang-bidang yang masih dapat dikembangkan keluarga Saudara. Kemudian, tetapkan tujuan-tujuan spesifik. Tujuan yang Saudara tentukan bagi keluarga hendaknya masuk akal dan sesuai dengan situasi serta kesanggupan mereka. (Ams. 13:12) Tentu saja, ini semua membutuhkan waktu. Jadi, kurangilah waktu untuk menonton televisi dan gunakan itu untuk hal-hal rohani. (Ef. 5:15, 16) Berupayalah keras untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut. (Gal. 6:9) Jika keluarga mengejar tujuan-tujuan rohani, kemajuan mereka akan ”nyata kepada semua orang”.—1 Tim. 4:15.
Adakanlah Malam Ibadat Keluarga
13. Apa yang berubah dalam jadwal perhimpunan mingguan, dan pertanyaan apa saja yang perlu kita renungkan?
13 Yang bisa sangat membantu keluarga-keluarga untuk ’tetap siap’ menyongsong kedatangan Putra manusia adalah perubahan penting dalam jadwal perhimpunan mingguan sejak 1 Januari 2009. Acara yang dulu disebut Pelajaran Buku Sidang, yang tadinya dipisah, sekarang digabungkan dengan Sekolah Pelayanan Teokratis dan Perhimpunan Dinas. Penyesuaian ini dibuat agar keluarga Kristen memiliki kesempatan untuk memperkuat kerohanian dengan menjadwalkan malam tertentu setiap minggu bagi ibadat keluarga. Mengingat penyesuaian ini sudah berlangsung beberapa waktu, kita bisa bertanya, ’Apakah saya menggunakan waktu yang tersedia itu untuk mengadakan malam Ibadat Keluarga atau pelajaran pribadi? Apakah saya sudah berhasil memenuhi tujuan diadakannya penyesuaian ini?’
14. (a) Apa tujuan utama mengadakan malam Ibadat Keluarga atau pelajaran pribadi? (b) Mengapa menyisihkan waktu untuk belajar sangat penting?
14 Tujuan utama mengadakan malam Ibadat Keluarga atau pelajaran pribadi adalah untuk lebih mendekat kepada Allah. (Yak. 4:8) Jika kita menggunakan waktu untuk mempelajari Alkitab secara teratur dan semakin mengenal Sang Pencipta, hubungan kita dengan Dia diperkuat. Semakin dekat dengan Yehuwa, semakin besar motivasi kita untuk mengasihi Dia ’dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap pikiran, dan segenap kekuatan kita’. (Mrk. 12:30) Jelaslah, kita ingin sekali menaati Allah dan menjadi peniru Dia. (Ef. 5:1) Maka, malam Ibadat Keluarga yang teratur sangat penting untuk membantu semua anggota keluarga ’tetap siap’ menghadapi ”kesengsaraan besar”. (Mat. 24:21) Ini mutlak penting agar kita bisa selamat.
15. Apa pengaruh malam Ibadat Keluarga atas anggota keluarga?
15 Pengaturan Ibadat Keluarga juga memiliki tujuan lain, yakni membantu para anggota keluarga menjadi lebih akrab. Dengan bersama-sama membahas hal-hal rohani setiap minggu, para anggota keluarga dapat lebih menyelami perasaan satu sama lain. Suami istri dapat semakin kompak sewaktu mendengar ungkapan sukacita masing-masing ketika menemukan permata rohani. (Baca Pengkhotbah 4:12.) Orang tua dan anak-anak yang beribadat bersama lebih dipersatukan oleh kasih, ”ikatan pemersatu yang sempurna”.—Kol. 3:14.
16. Ceritakan manfaat yang diperoleh tiga saudari dari waktu yang disisihkan untuk belajar Alkitab bersama.
16 Perhatikan manfaat yang dirasakan oleh tiga saudari dari waktu yang disisihkan untuk belajar Alkitab. Meskipun tidak memiliki pertalian keluarga, ketiga janda lansia ini tinggal sekota dan sudah bersahabat selama beberapa tahun. Karena ingin lebih banyak bergaul tetapi juga mendapat manfaat rohani, mereka memutuskan untuk menjadwalkan malam tertentu untuk belajar Alkitab bersama. Mereka menggunakan buku ”Memberikan Kesaksian yang Saksama tentang Kerajaan Allah”. ”Kami begitu menikmatinya sampai-sampai kami biasanya belajar lebih dari satu jam,” kata salah seorang dari mereka. ”Kami mencoba membayangkan situasi yang dialami saudara-saudara kita di abad pertama, dan apa yang akan kami lakukan seandainya kami mengalaminya sendiri. Lalu, kami mencoba menerapkan dalam dinas hal-hal yang telah kami pelajari. Hasilnya, pengabaran dan pekerjaan membuat murid lebih menyenangkan dan produktif.” Selain membina mereka secara rohani, pengaturan ini semakin mengakrabkan ketiga sahabat ini. ”Kami suka sekali pengaturan itu,” kata mereka.
17. Faktor apa saja yang turut menyukseskan malam Ibadat Keluarga?
17 Bagaimana dengan Saudara? Apakah Saudara mendapat manfaat dari waktu yang disisihkan untuk ibadat keluarga atau pelajaran pribadi? Jika ini dilakukan sesempatnya saja, tujuan yang diinginkan tidak akan tercapai. Setiap anggota keluarga hendaknya siap untuk belajar pada waktu yang sudah ditentukan. Hal-hal sepele tidak boleh membatalkan acara pelajaran. Selain itu, bahan yang dipilih hendaknya praktis bagi keluarga Saudara. Apa yang dapat Saudara lakukan agar waktu belajar ini menyenangkan? Gunakan metode pengajaran yang jitu, dan jagalah suasananya tetap bermartabat dan damai.—Yak. 3:18.a
’Tetaplah Bangun’ dan ”Tetaplah Siap”
18, 19. Karena kedatangan Putra manusia sudah dekat, apa yang harus dilakukan oleh Saudara dan keluarga?
18 Kondisi dunia yang memburuk pada zaman kita menunjukkan dengan jelas bahwa sejak 1914, dunia Setan yang fasik telah memasuki hari-hari terakhirnya. Sebentar lagi badai Armagedon melanda. Putra manusia akan segera datang untuk menghukum orang-orang yang tidak saleh. (Mz. 37:10; Ams. 2:21, 22) Mengingat hal itu, tidakkah sebaiknya Saudara dan keluarga bersiap-siap?
19 Apakah Saudara mengindahkan nasihat Yesus untuk menjaga mata tetap ”sederhana”? Sementara orang-orang di dunia ini mengejar kekayaan, ketenaran, atau kekuasaan, apakah keluarga Saudara mengejar tujuan-tujuan rohani? Apakah Saudara berhasil mengadakan malam Ibadat Keluarga atau pelajaran pribadi? Apakah itu telah membuat Saudara akrab dengan Yehuwa dan satu sama lain? Sebagaimana dibahas dalam artikel sebelumnya, apakah Saudara menjalankan tanggung jawab Alkitab sebagai suami, istri, atau anak, dengan demikian membantu seluruh keluarga ”tetap bangun”? (1 Tes. 5:6) Jika begitu, Saudara akan ’tetap siap’ untuk menyongsong kedatangan Putra manusia.
[Catatan Kaki]
a Untuk memperoleh ide tentang bahan pelajaran dan cara membuat malam Ibadat Keluarga praktis serta menyenangkan, lihat Menara Pengawal 15 Oktober 2009, halaman 29-31.
-