PERPUSTAKAAN ONLINE Menara Pengawal
PERPUSTAKAAN ONLINE
Menara Pengawal
Indonesia
  • ALKITAB
  • PUBLIKASI
  • PERHIMPUNAN
  • Pada Zaman Kita yang Menakutkan Ini, Siapa yang Benar-Benar Dapat Saudara Percayai?
    Menara Pengawal—1988 (Seri 47) | Menara Pengawal—1988 (Seri 47)
    • Pandangan Allah terhadap Agama Dunia

      16. Anggapan yang salah apa dimiliki oleh agama-agama dunia ini, seperti orang-orang Farisi pada jaman Yesus?

      16 Hikmat dari Allah ini akan memungkinkan kita untuk menghindari jerat yang membawa maut yang telah menjebak agama-agama dunia ini. Mereka menganggap diri benar karena mereka beragama. Sikap mereka sama seperti gambaran di Lukas 18:9: ”Dan kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar . . . Yesus mengatakan perumpamaan ini.” Seorang Farisi bersyukur kepada Allah bahwa ia bukan seorang pedosa, tetapi seorang pemungut cukai terus memohon, ”Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.” Yesus mengatakan: ”Aku berkata kepadamu, Orang ini [pedosa itu] pulang ke rumahnya terbukti lebih benar daripada orang lain [orang Farisi] itu; sebab barangsiapa meninggikan diri akan direndahkan, tetapi barangsiapa merendahkan diri akan ditinggikan.”—Lukas 18:10-14, NW.

      17. Bagaimana pandangan Allah terhadap usaha-usaha agama dari mereka yang seperti orang-orang Farisi?

      17 Orang Farisi itu tidak merendahkan dirinya di hadapan Allah. Sebaliknya, ia merasa bahwa dengan standar-standarnya sendiri ia benar. Tetapi cara Allah memandang tidak demikian. (Matius 23:25-28) Pedosa yang rendah hati itulah yang mencerminkan apa yang dikatakan Firman Allah di Yesaya 66:2: ”Tetapi kepada orang inilah Aku memandang: kepada orang yang tertindas dan patah semangatnya dan yang gentar kepada firmanKu.” Para pemimpin agama Yahudi tidak gentar kepada Firman Allah. Mereka mengabaikannya. Mereka melakukan apa yang mereka inginkan dan berpikir bahwa Allah berkenan kepada mereka. Tetapi Yesus mengatakan: ”Bukan setiap orang yang berseru kepadaKu: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak BapaKu yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepadaKu: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi namaMu, dan mengusir setan demi namaMu, dan mengadakan banyak mujizat demi namaMu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari padaKu, kamu sekalian pembuat kejahatan!”—Matius 7:21-23.

      18. Bagaimana Allah akan menilai agama-agama yang mengaku melayani Dia namun tidak menyelaraskan diri dengan hukum-hukumNya?

      18 Para pemimpin agama pada abad pertama tidak percaya kepada Allah. Sebaliknya mereka percaya kepada tradisi-tradisi yang melanggar hukum-hukum Allah. (Matius 15:3, 9) Jadi Yesus mengatakan kepada mereka: ”Rumahmu ini akan ditinggalkan dan menjadi sunyi.” (Matius 23:38) Sebagai bukti bahwa Allah benar-benar meninggalkan agama Yahudi, pada tahun 70 Tarikh Masehi, ibukota nasional mereka, Yerusalem, dan bait mereka dibinasakan oleh tentara Roma. Halnya tidak berbeda dewasa ini. Agama-agama dunia ini telah menetapkan standar ibadat mereka sendiri yang tidak selaras dengan standar-standar Allah. Jadi mereka tidak melakukan kehendakNya melainkan kehendak mereka sendiri. Maka, dalam mata Allah, mereka dianggap pelaku kejahatan. (Titus 1:16) Sebagai bukti bahwa Allah telah meninggalkan agama-agama ini, mereka tidak lama lagi akan dihancurkan oleh bangsa-bangsa, sama seperti Yerusalem dengan baitnya dihancurkan oleh tentara Roma pada abad pertama.—Lihat Wahyu, pasal 17, 18.

  • Jadikan Yehuwa Kepercayaan Saudara
    Menara Pengawal—1988 (Seri 47) | Menara Pengawal—1988 (Seri 47)
    • 2 Pada hari-hari terakhir dari sistem ini, apakah agama-agama dunia percaya kepada Allah yang benar, Yehuwa? Apakah mereka mentaati perintah-perintahNya dan melakukan kehendakNya, atau apakah mereka meniru para pemimpin agama pada abad pertama yang telah disingkirkan oleh Allah? Yang manakah dari agama-agama dunia ini dapat berharap untuk dilindungi oleh Yehuwa karena mereka ’percaya kepada Yehuwa dan melakukan yang baik’?—Mazmur 37:3.

      Di Manakah Kasih Persaudaraan?

      3. Mengapa usaha agama untuk mendatangkan perdamaian gagal?

      3 Baru-baru ini, Paus Yohanes Paulus II memperingatkan bahwa ”seluruh umat manusia menghadapi ancaman yang serius atas kelangsungan hidupnya.” Ia menandaskan bahwa ”ancaman tersebut sebaiknya diatasi dengan usaha yang terpadu di kalangan berbagai kelompok agama.” Ini kehendak Allah, katanya, bahwa para pemimpin agama ”bekerja sama” demi ”perdamaian dan kerukunan kembali.” Tetapi, jika itu memang kehendak Allah, mengapa Allah tidak memberkati usaha selama berabad-abad ke arah itu? Ia tidak berbuat demikian karena agama-agama ini tidak mempercayai cara Allah dalam mewujudkan perdamaian melalui Kerajaan surgawiNya. (Matius 6:9, 10) Sebaliknya, mereka mendukung politik dan peperangan dari bangsa-bangsa. Akibatnya, pada masa perang, orang-orang beragama dari satu bangsa membunuh orang-orang beragama dari bangsa lain, mereka bahkan membunuh orang-orang dari agama mereka sendiri. Orang Katolik membunuh orang Katolik, orang Protestan membunuh orang Protestan, dan agama-agama lain melakukan hal yang sama. Namun apakah saudara-saudara rohani yang sejati akan saling membunuh sambil menyatakan bahwa mereka melayani Allah?

      4. Menurut Yesus apa standar untuk agama yang sejati, dan mengapa ini suatu ”perintah baru”?

      4 Yesus menetapkan standar untuk agama yang sejati ketika ia mengatakan kepada para pengikutnya: ”Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-muridKu, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.” (Yohanes 13:34, 35) Jadi mereka yang mempraktekkan agama sejati harus mengasihi satu sama lain. Ini suatu ”perintah baru” dalam hal Yesus mengatakan: ”Sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.” Ia rela menyerahkan kehidupannya bagi para pengikutnya. Mereka harus rela berbuat hal yang sama—bukan, bukan mengambil nyawa saudara-saudara seiman mereka, tetapi menyerahkan nyawa mereka sendiri jika perlu. Itulah yang baru, karena hal itu tidak dituntut oleh Taurat Musa.

      5. Bagaimana Firman Allah dengan tegas menandaskan perlunya kasih dan persatuan di kalangan para penyembahNya yang sejati?

      5 Firman Allah menyatakan: ”Jikalau seorang berkata: ’Aku mengasihi Allah’, dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya. Dan perintah ini kita terima dari Dia: Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya.” (1 Yohanes 4:20, 21) Dengan kasih sedemikian, mereka yang percaya kepada Yehuwa mempertahankan persatuan internasional yang sejati. Rasul Paulus, di 1 Korintus 1:10, mengatakan: ”Aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, demi nama Tuhan kita Yesus Kristus, supaya kamu seia sekata dan jangan ada perpecahan di antara kamu, tetapi sebaliknya supaya kamu erat bersatu dan sehati sepikir.”—Lihat juga 1 Yohanes 3:10-12.

      6. Mengapa Saksi-Saksi Yehuwa dapat mengatakan bahwa mereka ’bersih daripada darah sekalian orang’?

      6 The World Book Encyclopedia mengatakan bahwa 55 juta orang dibunuh dalam Perang Dunia II. Mereka dibunuh oleh orang-orang dari setiap agama besar kecuali Saksi-Saksi Yehuwa. Tidak satu pun dari orang-orang tersebut mati disebabkan oleh seorang saksi dari Yehuwa, karena mereka mentaati perintah untuk mengasihi satu sama lain dan menolak untuk melibatkan diri dalam peperangan bangsa-bangsa. Meskipun banyak saksi dibunuh sebagai martir karena sikap mereka yang netral, mereka dapat mengatakan seperti rasul Paulus: ’Aku bersih dari pada darah sekalian orang.’—Kisah 20:26.

      7, 8. Bagaimana beberapa pendeta mengakui hutang darah mereka?

      7 Seorang imam Katolik yang dulu menjadi pendeta untuk awak pesawat terbang yang menjatuhkan bom-bom atom di Jepang pada tahun 1945 baru-baru ini menyatakan: ”Selama 1.700 tahun belakangan ini gereja telah membuat peperangan menjadi sesuatu yang terhormat. Gereja telah membujuk orang-orang untuk percaya bahwa ini adalah suatu profesi Kristen yang terhormat. Ini tidak benar. Kami telah dicuci otak. . . . Injil mengenai Perang yang Adil ialah injil yang tidak pernah diajarkan oleh Yesus. . . . Tidak ada sesuatu pun dalam kehidupan atau ajaran Yesus yang menyatakan bahwa walaupun memang tidak sah untuk membakar orang-orang dengan sebuah kepala tempur nuklir, membakar orang-orang dengan bom napalm atau senjata penyemprot api adalah sah.”

      8 Catholic Herald dari London menyatakan: ”Orang-orang Kristen yang pertama . . . bertindak berdasarkan kata-kata Yesus dan tidak mau masuk dinas tentara Roma meskipun hukumannya adalah kematian. Apakah seluruh sejarah akan berbeda jika Gereja berpaut pada sikapnya yang semula? . . . Kalau saja gereja-gereja dewasa ini secara terpadu mengutuk peperangan . . . , yang berarti bahwa setiap anggota terikat menurut hati nurani untuk menjadi, seperti orang-orang Kristen itu, seorang yang menolak peperangan berdasarkan hati nurani, maka perdamaian benar-benar dapat terwujud. Namun kita tahu bahwa hal ini tidak pernah akan terjadi.”

      9. Mengapa kita menarik kesimpulan bahwa Yehuwa telah meninggalkan agama-agama dunia ini?

      9 Dengan demikian agama-agama dari dunia ini secara fatal telah mengkompromikan perintah-perintah Allah. Mereka tidak percaya kepadaNya sama seperti orang Farisi. ”Mereka mengaku mengenal Allah, tetapi dengan perbuatan mereka, mereka menyangkal Dia. Mereka keji dan durhaka dan tidak sanggup berbuat sesuatu yang baik.” (Titus 1:16) Akibatnya, Allah telah meninggalkan agama-agama dunia ini, sama pastinya seperti Ia telah meninggalkan agama Yahudi yang munafik pada abad pertama.—Matius 15:9, 14.

Publikasi Menara Pengawal Bahasa Indonesia (1971-2025)
Log Out
Log In
  • Indonesia
  • Bagikan
  • Pengaturan
  • Copyright © 2025 Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania
  • Syarat Penggunaan
  • Kebijakan Privasi
  • Pengaturan Privasi
  • JW.ORG
  • Log In
Bagikan