PERPUSTAKAAN ONLINE Menara Pengawal
PERPUSTAKAAN ONLINE
Menara Pengawal
Indonesia
  • ALKITAB
  • PUBLIKASI
  • PERHIMPUNAN
  • Lancang, Kelancangan
    Pemahaman Alkitab, Jilid 1
    • Sifat yang Harus Sangat Diwaspadai. Raja Daud sadar bahwa sekalipun ia telah dikaruniai banyak kebaikan hati dan wewenang yang besar dari Allah, ia bisa saja bersalah karena berlaku lancang. Ia berdoa, ”Kekeliruan—siapa yang dapat menyadarinya? Nyatakanlah aku tidak bersalah dari dosa yang tersembunyi. Juga tahanlah hambamu dari tindakan yang lancang; jangan biarkan itu menguasai aku. Dengan demikian aku akan utuh, dan aku akan tetap tidak bersalah dari banyak pelanggaran.” (Mz 19:12, 13) Jadi, mengingat adanya bahaya besar untuk menjadi lancang, sifat ini harus sangat diwaspadai. Tindakan yang lancang adalah dosa yang jauh lebih serius daripada kekeliruan. Tidak soal seseorang berkedudukan tinggi atau rendah, sikap terlalu bebas adalah hal yang memuakkan di pandangan Allah.

  • Lancang, Kelancangan
    Pemahaman Alkitab, Jilid 1
    • Tidak Merespek Kedaulatan Allah. Orang yang bertindak lancang terhadap Allah sesungguhnya menunjukkan bahwa ia tidak merespek kedaulatan serta Keilahian Yehuwa. Yang paling tercela adalah orang-orang yang mengaku sebagai hamba-Nya tetapi menyalahgambarkan Dia. Mengenai nabi-nabi palsu, Yehuwa berfirman, ”Seorang nabi yang dengan lancang menyampaikan dengan namaku perkataan yang tidak kuperintahkan untuk dikatakan olehnya . . . nabi itu harus mati. . . . Apabila nabi itu berbicara dengan nama Yehuwa dan perkataan itu tidak terjadi atau tidak menjadi kenyataan, . . . dengan lancang nabi itu mengucapkannya.”—Ul 18:20-22.

      Selain itu, sikap tidak respek terhadap Yehuwa diperlihatkan dengan tidak merespek hamba-hamba yang Ia lantik; sikap ini dapat disebabkan oleh kelancangan. Di Israel, kasus-kasus yang sulit dibawa ke ”tempat yang dipilih Yehuwa” (sejak zaman Daud, Yerusalem). Siapa pun yang mencemooh vonis yang dijatuhkan harus dihukum mati, karena dengan melawan para wakil Allah, ia bertindak menentang Allah. Hukum tentang hal itu berbunyi, ”Sesuai dengan hukum yang mereka tunjukkan kepadamu, dan sesuai dengan keputusan hukum yang mereka sampaikan kepadamu, engkau harus melakukannya. . . . Orang yang berlaku lancang dengan tidak mendengarkan kepada imam yang berdiri di sana untuk melayani Yehuwa, Allahmu, atau kepada hakim, orang itu harus mati; dan engkau harus menyingkirkan apa yang jahat dari Israel. Maka seluruh bangsa itu akan mendengar dan menjadi takut, dan mereka tidak akan bertindak lancang lagi.” (Ul 17:8-13; bdk. Bil 15:30.) Rasul Petrus berbicara tentang beberapa orang yang memperlihatkan sikap yang sangat tidak respek terhadap Allah dan hamba-hamba-Nya yang terurap; mereka digambarkan ”terlalu berani [dari kata Yunani tol·me·tesʹ, ”lancang”, KJ], berlaku semaunya sendiri, mereka tidak gemetar terhadap pribadi-pribadi yang mulia tetapi mencaci”. Orang-orang seperti itu, kata Petrus, ”akan dibinasakan karena haluan kebinasaan mereka”.—2Ptr 2:10, 12.

      Kelancangan dengan mengandalkan kekerabatan jasmani dapat menjadi jerat. Yohanes Pembaptis mengetahui cara berpikir orang-orang Yahudi sewaktu mereka menghampiri dia. Ia memperingatkan mereka, ”Jangan mengira dapat mengatakan kepada dirimu sendiri, ’Bapak kami adalah Abraham.’ Karena aku mengatakan kepadamu bahwa Allah sanggup membangkitkan anak-anak bagi Abraham dari batu-batu ini.” (Mat 3:9) Kata Yunani yang di ayat ini diterjemahkan ”mengira” adalah doʹxe·te, dari do·keʹo, yang pada dasarnya berarti ”berpikir, membentuk opini (benar atau salah)”.

Publikasi Menara Pengawal Bahasa Indonesia (1971-2025)
Log Out
Log In
  • Indonesia
  • Bagikan
  • Pengaturan
  • Copyright © 2025 Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania
  • Syarat Penggunaan
  • Kebijakan Privasi
  • Pengaturan Privasi
  • JW.ORG
  • Log In
Bagikan