-
Bagaimana Seharusnya Perasaan Orang-Orang Kristen Terhadap PembebasanMenara Pengawal—1986 (Seri 26) | Menara Pengawal—1986 (Seri 26)
-
-
Para pejabat pemerintah berhak menjalankan kekuasaan dalam negara, para orangtua dalam keluarga, guru-guru dalam sistem sekolah, dan para penatua Kristen dalam sidang. Memang, wewenang tersebut hanya relatif. Misalnya, wewenang mutlak dari Yehuwa, yang memerintahkan agar hamba-hambaNya membaca FirmanNya dan bergaul dengan sesama Kristen, harus lebih diutamakan di atas wewenang yang relatif dari suami yang menuntut istrinya agar tidak melakukan hal-hal tersebut.—Kisah 5:29.
-
-
Bagaimana Seharusnya Perasaan Orang-Orang Kristen Terhadap PembebasanMenara Pengawal—1986 (Seri 26) | Menara Pengawal—1986 (Seri 26)
-
-
Halnya sama dalam satu keluarga. Jika suami atau ayah menyalahgunakan wewenang mereka, kita dapat yakin bahwa Allah akhirnya akan membetulkan masalah-masalah tersebut, dengan tidak mengijinkan adanya ketidakadilan dalam sistem baruNya yang benar yang segera akan tiba. Sementara itu, wanita dan anak-anak Kristen tetap menghormati prinsip kekepalaan Kristen, bahkan meskipun hal itu kadang-kadang disalahgunakan. Mereka menyadari bahwa hal itu tidak dimaksudkan untuk merendahkan tetapi untuk menjamin perdamaian dan persatuan dalam keluarga maupun sidang Kristen.—1 Korintus 11:3.
”Kemerdekaan” Dari Wewenang Dalam Sidang
Mengenai kekepalaan dalam sidang Kristen, Firman Allah mengatakan, ”Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka, sebab mereka berjaga-jaga atas jiwamu, sebagai orang-orang yang harus bertanggungjawab atasnya.” (Ibrani 13:17) Meskipun wewenang dari para penatua ini relatif, hal itu telah ditugaskan kepada mereka oleh Allah melalui roh kudus. Jadi hal itu telah diberikan dengan cara yang lebih langsung dari pada wewenang relatif yang diberikan, misalnya, kepada para pejabat pemerintahan.—Kisah 20:28.
Ada yang merasa bahwa peraturan-peraturan dan petunjuk-petunjuk yang dikeluarkan oleh organisasi Allah yang kelihatan bersifat terlalu membatasi, tidak memberikan cukup kebebasan pribadi. Hal ini menyebabkan mereka tidak bergabung lagi dengan Saksi-Saksi Yehuwa, mereka tidak lagi mau tunduk kepada orang-orang yang berjaga-jaga atas jiwa mereka. Meskipun menganggap diri telah dibebaskan, ”kemerdekaan” orang-orang ini, sebenarnya, telah kembali memperbudak mereka kepada kepercayaan dan praktek-praktek agama palsu.
Orang-orang Kristen yang sejati menghormati wewenang, yaitu wewenang yang mutlak dari Allah dan wewenang yang relatif dari manusia. Pandangan yang benar terhadap wewenang ini mencegah mereka untuk menyalahgunakan kemerdekaan Kristen yang telah diberikan kepada mereka melalui pengetahuan tentang kebenaran.
-