PERPUSTAKAAN ONLINE Menara Pengawal
PERPUSTAKAAN ONLINE
Menara Pengawal
Indonesia
  • ALKITAB
  • PUBLIKASI
  • PERHIMPUNAN
  • Rumania
    Buku Kegiatan Saksi-Saksi Yehuwa 2006
    • Tirai Besi di Rumania

      Pada bulan November 1946, tahun sebelum Alfred Rütimann berkunjung, Partai Komunis mulai berkuasa di Rumania. Beberapa tahun berikutnya, partai itu menyingkirkan semua pihak oposisi dan mempercepat proses Sovietisasi, dengan demikian lembaga kebudayaan dan politik Rumania dibuat ala Soviet.

      Saudara-saudara memanfaatkan sepenuhnya masa damai sebelum datangnya badai penganiayaan, mereka mencetak ratusan ribu majalah, buku kecil, dan publikasi lain, lalu membagikannya ke 20 depot di seluruh negeri. Pada waktu yang sama, banyak saudara meningkatkan kegiatan mereka dan ada yang mulai merintis, dua di antaranya adalah Mihai Nistor dan Vasile Sabadâş.

      Mihai ditugasi ke Transilvania bagian barat laut dan tengah; di sana ia terus merintis bahkan setelah ada larangan dari pihak Komunis yang terus mengejarnya. Bagaimana ia bisa lolos? Ia menjelaskan, ”Saya membuat tas yang mirip sekali dengan tas yang digunakan oleh para penjaja jendela. Dengan mengenakan baju kerja dan membawa rangka-rangka jendela serta peralatan, saya berkeliling di tengah desa dan kota tempat saya ditugasi untuk mengabar. Setiap kali melihat polisi atau orang yang kelihatannya mencurigakan, saya berteriak untuk menawarkan jendela-jendela saya. Saudara-saudara lain menggunakan metode-metode yang berbeda untuk meloloskan diri dari penentang. Pengabaran seperti ini mengasyikkan tetapi berisiko​—tidak hanya bagi kami para perintis, tetapi juga bagi keluarga yang menerima kami. Namun, kami sangat bersukacita melihat para siswa Alkitab maju dan jumlah penyiar bertambah.”

      Vasile Sabadâş juga terus merintis meski harus sering berpindah-pindah. Dia terutama cocok untuk mencari dan membantu saudara-saudara yang diceraiberaikan oleh Sekuritat, bagian utama jaringan keamanan yang luas milik rezim Komunis yang baru. ”Agar tidak tertangkap,” kata Vasile, ”saya harus waspada dan banyak akal. Sebagai contoh, jika melakukan perjalanan ke daerah lain, saya selalu berupaya mempunyai alasan yang dianggap sah, misalnya pergi ke tempat pemandian tertentu untuk menjalani terapi.”

      ”Agar tidak dicurigai, saya membuat jalur-jalur komunikasi di antara saudara-saudara sehingga mereka dapat menerima pasokan makanan rohani secara teratur. Semboyan saya adalah Yesaya 6:8, ’Ini aku! Utuslah aku!’ dan Matius 6:33, ’Maka, teruslah cari dahulu kerajaan.’ Ayat-ayat ini memberi saya sukacita dan kekuatan untuk bertahan.” Vasile membutuhkan sifat-sifat ini karena sekalipun berhati-hati, dia, seperti banyak saudara lain, akhirnya ditangkap.

      Serangan Keras terhadap Organisasi Allah

      Pada tahun 1948, korespondensi dengan kantor pusat sedunia menjadi sangat sulit sehingga saudara-saudara sering menulis pesan-pesan sandi di kartu pos. Pada bulan Mei 1949, Martin Magyarosi meneruskan sebuah berita dari Petre Ranca, seorang rekan di kantor Bukares. Berita itu berbunyi, ”Seluruh keluarga baik-baik saja. Anginnya sangat kencang dan udaranya sangat dingin sehingga kami tidak bisa bekerja di ladang.” Kemudian, seorang saudara lain menulis bahwa ”keluarga tidak bisa mendapatkan gula-gula” dan ”banyak yang sakit”. Yang ia maksudkan adalah tidak mungkin mengirimkan makanan rohani ke Rumania dan banyak saudara meringkuk di penjara.

      Menyusul sebuah keputusan yang diterbitkan oleh Kementerian Kehakiman pada tanggal 8 Agustus 1949, kantor cabang di Bukares dan bangunan tempat tinggalnya ditutup, dan semua peralatan, termasuk milik pribadi, disita. Selama tahun-tahun berikutnya, ratusan saudara ditangkap dan dihukum. Di bawah pemerintahan Fasis, Saksi-Saksi Yehuwa dituduh sebagai antek Komunis; tetapi ketika Komunis berkuasa, saudara-saudara dicap sebagai ”imperialis” dan ”propagandis Amerika”.

      Mata-mata dan informan mengintai di mana-mana. Tindakan yang diambil oleh pihak Komunis, kata 1953 Yearbook, ”menjadi begitu parah sampai-sampai siapapun di Rumania yang menerima surat dari Barat dimasukkan dalam daftar hitam dan diawasi dengan ketat”. Laporan itu melanjutkan, ”Teror yang terjadi di sana nyaris tak terbayangkan. Bahkan, anggota keluarga tidak bisa saling percaya. Sama sekali tidak ada kebebasan.”

      Pada awal tahun 1950, Pamfil dan Elena Albu, Petre Ranca, Martin Magyarosi, dan saudara-saudara lain ditangkap dan mendapat tuduhan palsu sebagai mata-mata Barat. Ada yang disiksa agar membocorkan perincian yang konfidensial dan mengakui kegiatan mereka sebagai ’mata-mata’. Namun, satu-satunya pengakuan mereka adalah bahwa mereka menyembah Yehuwa dan melayani kepentingan Kerajaan-Nya. Setelah mengalami cobaan berat ini, beberapa saudara dijebloskan ke penjara, yang lain-lain ke kamp kerja paksa. Apa pengaruh gelombang penganiayaan ini terhadap pekerjaan di sana? Pada tahun itu​—1950—​jumlah penyiar di Rumania naik 8 persen. Betapa besar kuasa roh Allah!

      Saudara Magyarosi, yang kala itu usianya sudah menjelang 70 tahun, dikirim ke penjara Gherla di Transilvania, dan di sana ia meninggal pada akhir tahun 1951. ”Banyak penderitaan berat yang ia alami demi kebenaran,” kata sebuah laporan, ”khususnya sejak ia ditangkap pada bulan Januari 1950. Sekarang penderitaan tersebut telah berakhir.” Ya, selama kira-kira 20 tahun, Martin bertekun menghadapi serangan keji dari kaum ulama, pihak Fasis, dan pihak Komunis. Teladan integritasnya mengingatkan kita akan kata-kata rasul Paulus, ”Aku telah berjuang dalam perjuangan yang baik, aku telah berlari di lintasan sampai garis akhir, aku telah menjalankan iman.” (2 Tim. 4:7) Meskipun tidak dipenjarakan, istrinya, Maria, juga menjadi teladan dalam hal ketekunan di bawah kesengsaraan. Seorang saudara melukiskan dia sebagai ”saudari yang cerdas, mengabdi sepenuhnya kepada pekerjaan Tuan”. Setelah Martin tertangkap, Maria dirawat oleh kerabatnya, termasuk putri angkatnya, Mărioara, yang juga sempat dipenjarakan dan dibebaskan pada musim gugur tahun 1955.

      ”Saksi-Saksi Yehuwa Adalah Kelompok Orang Baik-Baik”

      Pada tahun 1955, pemerintah memberikan amnesti, dan sebagian besar saudara-saudara dibebaskan. Tetapi, kebebasan mereka berumur pendek. Dari tahun 1957 sampai tahun 1964, Saksi-Saksi Yehuwa lagi-lagi diburu, ditangkap, dan ada yang mendapat hukuman seumur hidup. Namun, di penjara, saudara-saudara tidak terpuruk dalam keputusasaan, tetapi saling menguatkan untuk tetap teguh. Ya, mereka menjadi terkenal karena prinsip dan integritas mereka. ”Saksi-Saksi Yehuwa adalah kelompok orang baik-baik, dan mereka tidak akan menyerah dan menyangkal agama mereka,” kenang seorang tahanan politik. Ia menambahkan bahwa di penjara, Saksi-Saksi adalah ”tahanan yang paling disukai”.

      Amnesti yang lain diumumkan pada tahun 1964. Tetapi, ini pun tidak berlangsung lama, karena lebih banyak penangkapan massal terjadi antara tahun 1968 dan 1974. ”Karena menyebarkan Injil,” tulis seorang saudara, ”kami disiksa dan dicela. Kami memohon dengan sangat agar Saudara mendoakan saudara-saudara yang mendekam di penjara. Kami tahu bahwa semua ini adalah ujian yang harus kami hadapi dengan tabah. Kami dengan berani akan terus memberitakan kabar baik sesuai dengan nubuat di Matius 24:14. Tetapi, sekali lagi kami meminta dengan setulus hati, jangan lupakan kami!” Seperti yang akan kita lihat, Yehuwa mendengarkan doa yang sungguh-sungguh dan penuh deraian air mata dari umat-Nya yang loyal dan Ia menghibur mereka dengan berbagai cara.

      Setan Menaburkan Benih Ketidakpercayaan

      Si Iblis tidak hanya menyerang hamba-hamba Allah dari luar, tetapi juga dari dalam. Misalnya, beberapa saudara yang dibebaskan pada tahun 1955, dan yang sebelum ditangkap adalah pengawas, tidak dilantik lagi untuk mengemban tanggung jawab itu. Akibatnya, mereka menaruh dendam dan menyebarkan benih perpecahan. Mereka berdiri teguh dalam penjara, namun menyerah kepada keangkuhan setelah mereka dibebaskan. Sungguh menyedihkan! Sedikitnya, satu saudara terkemuka bahkan bekerja sama dengan Sekuritat agar bisa terhindar dari hukuman; hal ini menyebabkan banyak kesulitan atas saudara-saudara yang setia dan bagi pekerjaan pengabaran.​—Mat. 24:10.

      Umat Allah juga harus bergelut dengan perbedaan sudut pandang dalam hal-hal yang menyangkut hati nurani. Misalnya, setelah ditangkap, saudara-saudara sering kali boleh memilih antara dipenjarakan atau bekerja di tambang garam. Beberapa saudara menganggap bahwa mereka yang memilih bekerja di tambang garam telah mengkompromikan prinsip Alkitab. Yang lain-lain berpandangan bahwa saudari-saudari tidak boleh mengenakan kosmetik dan bahwa pergi ke bioskop serta teater atau bahkan memiliki radio merupakan hal yang tidak patut.

      Namun, saudara-saudara pada umumnya selalu menyadari hal yang utama​—perlunya tetap loyal kepada Allah. Hal ini nyata dari laporan dinas tahun 1958 yang menunjukkan bahwa 5.288 penyiar ikut serta dalam dinas lapangan​—1.000 penyiar lebih banyak daripada di tahun sebelumnya! Selain itu, ada 8.549 orang yang hadir pada Peringatan dan 395 orang yang dibaptis.

      Ujian lain dimulai pada tahun 1962 setelah Menara Pengawal menjelaskan bahwa ”kalangan berwenang yang lebih tinggi” yang disebutkan di Roma 13:1 adalah kalangan berwenang pemerintahan manusia, bukan Allah Yehuwa dan Yesus Kristus seperti yang dikira sebelumnya. Karena telah mengalami penderitaan yang berat di tangan para penguasa yang bengis, banyak saudara di Rumania merasa bahwa pemahaman baru ini sulit diterima. Malah, ada yang sungguh-sungguh mengira bahwa pemahaman ini adalah rekayasa pihak Komunis yang berniat untuk membuat mereka tunduk sepenuhnya kepada Negara, dan bertentangan dengan prinsip di Matius 22:21.

      Seorang saudara sampai bertanya kepada Saksi lain yang pernah bepergian ke Berlin, Roma, dan kota-kota lain. Ia mengenang, ”Saksi itu menegaskan bahwa pemahaman baru ini bukan tipuan Komunis, melainkan makanan rohani dari golongan budak. Namun, saya masih ragu-ragu. Jadi, saya bertanya kepada pengawas distrik tentang apa yang harus kita lakukan sekarang.”

      Pengawas distrik itu menjawab, ”Teruslah bertekun dalam pekerjaan​—itulah yang harus kita lakukan!”

      ”Nasihat itu bagus sekali, dan saya senang bahwa sampai sekarang saya masih ’terus bertekun’.”

      Walaupun ada hambatan-hambatan besar dalam berkomunikasi, kantor pusat sedunia dan kantor cabang yang mengawasi pekerjaan di Rumania berupaya keras agar saudara-saudara berjalan seiring dengan kebenaran yang disingkapkan dan membantu mereka untuk bekerja sama sebagai satu keluarga rohani. Oleh karena itu, mereka menulis surat-surat dan artikel-artikel yang cocok untuk dimuat dalam Pelayanan Kerajaan.

      Bagaimana makanan rohani ini bisa sampai ke tangan umat Yehuwa? Setiap anggota Panitia Negeri memiliki jalur rahasia dengan para pengawas keliling dan penatua sidang. Jalur ini bisa terjaga berkat kurir-kurir yang tepercaya, yang juga mengantar surat dan laporan ke dan dari kantor di Swiss. Oleh karena itu, saudara-saudara setidaknya bisa memperoleh sejumlah makanan rohani dan pengarahan teokratis.

      Saudara-saudari yang loyal juga bekerja keras untuk memajukan kerukunan di dalam sidang dan kelompok mereka masing-masing. Salah satu di antara mereka adalah Iosif Jucan, yang sering mengatakan, ”Kita tidak dapat berharap untuk diselamatkan di Armagedon kecuali kita terus menyantap makanan rohani secara teratur dan terus berhubungan erat dengan ’Ibu’.” Ia sedang memaksudkan tetap dekat dengan bagian organisasi Yehuwa yang di bumi. Saudara-saudara seperti ini adalah harta yang berharga bagi umat Allah dan tembok pertahanan terhadap orang yang berupaya mengganggu persatuan mereka.

      Taktik Musuh

      Dalam upaya untuk melemahkan iman hamba-hamba Yehuwa atau menggertak mereka agar tunduk, pihak Komunis menggunakan mata-mata, pengkhianat, siksaan, propaganda dusta, dan ancaman kematian. Mata-mata dan informan ini bisa jadi adalah tetangga, rekan kerja, orang murtad, anggota keluarga, dan agen Sekuritat. Agen-agen Sekuritat bahkan menyusup ke sidang dengan berpura-pura berminat akan kebenaran dan mempelajari istilah-istilah teokratis. ”Saudara-saudara palsu” ini mengakibatkan banyak kesulitan dan penangkapan. Salah satu di antara mereka, Savu Gabor, bahkan sempat diberi tanggung jawab dalam organisasi. Kedoknya tersingkap pada tahun 1969.​—Gal. 2:4.

      Agen-agen pemerintah juga memata-matai orang dan keluarga dengan memasang mikrofon yang tersembunyi. Timotei Lazăr bercerita, ”Ketika saya berada di penjara karena kenetralan Kristen, Sekuritat secara berkala memanggil orang tua dan adik laki-laki saya ke markas besar guna menginterogasi mereka sampai enam jam setiap kali mereka datang. Suatu ketika, mereka menyadap rumah kami. Malam itu, adik saya, yang bekerja sebagai tukang listrik, memperhatikan bahwa meteran listrik berputar jauh lebih cepat daripada biasanya. Ia memeriksa sekeliling rumah dan menemukan dua alat penyadap, yang ia foto dan kemudian lepaskan. Keesokan harinya, agen-agen Sekuritat datang dan meminta kembali mainan mereka, sebutan mereka untuk alat-alat itu.”

      Propaganda dusta sering kali berupa artikel-artikel saduran dari negeri-negeri komunis lain. Sebagai contoh, artikel ”The Jehovist Sect and Its Reactionary Character” [Sekte Yehovis dan Sifatnya yang Reaksioner], diambil dari sebuah surat kabar Rusia. Artikel tersebut menuduh Saksi-Saksi Yehuwa memiliki ”ciri khas organisasi politik” yang tujuannya ”melakukan kegiatan subversif di negara-negara Sosialis”. Artikel itu juga mendesak para pembaca untuk melaporkan siapa pun yang menyebarluaskan ajaran Saksi-Saksi. Namun, bagi orang yang bernalar, propaganda politik ini merupakan pengakuan secara tidak langsung atas kegagalan para penentang, karena mengumumkan kepada semua orang bahwa Saksi-Saksi Yehuwa masih sangat aktif dan tidak tinggal diam.

      Sewaktu agen-agen Sekuritat menangkap seorang saudara atau saudari, mereka menggunakan berbagai teknik kejam yang tak kenal batas untuk menyiksanya. Agar si korban mau berbicara, mereka bahkan menggunakan zat kimia yang mempengaruhi pikiran dan sistem saraf. Samoilă Bărăian, yang mengalami penganiayaan seperti itu, menceritakan, ”Sewaktu interogasi dimulai, saya diberi obat, yang lebih berbahaya daripada pukulan. Segera saya merasakan ada yang tidak beres dengan diri saya. Saya tidak bisa berjalan lurus lagi dan tidak sanggup naik tangga. Kemudian saya mengalami insomnia (susah tidur) yang parah. Saya tidak dapat berkonsentrasi dan berbicara terpatah-patah.

      ”Kondisi fisik saya terus merosot. Setelah kurang lebih sebulan, indra pengecap saya tidak berfungsi. Sistem pencernaan saya rusak, dan sendi-sendi saya terasa akan copot. Saya sangat kesakitan. Kaki saya banjir keringat sehingga sepatu saya rusak dalam dua bulan dan saya harus membuangnya. ’Mengapa kamu berbohong terus?’ teriak orang yang menginterogasi saya. ’Lihat keadaanmu sekarang.’ Saya harus menahan diri sekuat-kuatnya agar kemarahan saya tidak meledak.” Belakangan, Saudara Bărăian sepenuhnya pulih dari pengalaman buruk ini.

      Sekuritat juga menggunakan siksaan mental, seperti yang diingat oleh Alexa Boiciuc, ”Malam terberat bagi saya adalah ketika mereka membangunkan saya dan membawa saya ke sebuah ruangan, dan di situ saya bisa mendengar saudara laki-laki saya dipukuli. Kemudian, saya mendengar tangisan seorang saudari, lalu saya mendengar suara ibu saya. Lebih baik saya yang dipukuli daripada harus mendengar semua itu.”

      Saudara-saudara diberi tahu bahwa mereka akan diampuni kalau mau membocorkan nama Saksi-Saksi lain dan waktu serta lokasi perhimpunan. Istri-istri didesak untuk meninggalkan suami mereka yang mendekam di penjara agar anak-anak mereka memiliki masa depan yang lebih baik.

      Karena properti mereka diambil alih oleh Negara, banyak saudara dipaksa bekerja di lahan-lahan pertanian kolektif. Pekerjaannya sendiri tidak terlalu buruk, tetapi kaum pria diharuskan menghadiri pertemuan politik, yang sering diselenggarakan. Barang siapa yang tidak hadir dicemooh, dan upah mereka dikurangi sampai nyaris tak ada sisanya. Dengan sendirinya, situasi ini menyulitkan Saksi-Saksi Yehuwa, yang tidak mau ikut pertemuan atau kegiatan politik apa pun.

      Ketika menggeledah rumah para Saksi, agen-agen pemerintah juga merampas barang-barang milik pribadi, khususnya yang bisa dijual. Dan, pada musim dingin, mereka sering merusakkan kompor, satu-satunya alat penghangat di dalam rumah. Mengapa mereka sekejam itu? Karena menurut mereka, kompor adalah tempat yang cocok untuk menyembunyikan lektur. Namun, saudara-saudara tidak dapat dibungkam. Bahkan mereka yang dianiaya dan menderita di kamp kerja paksa serta penjara terus memberikan kesaksian mengenai Yehuwa dan saling menghibur, seperti yang akan kita lihat berikut ini.

      Memuji Yehuwa di Kamp dan Penjara

      Selain penjara-penjara, Rumania memiliki tiga kamp kerja paksa yang besar. Salah satunya terdapat di Delta Donau, yang lain di Pulau Besar Braila, dan yang ketiga di terusan yang menghubungkan Sungai Donau dengan Laut Hitam. Sejak awal era Komunis, Saksi-Saksi sering kali dipenjarakan bersama-sama dengan bekas penganiaya mereka, yang ditangkap karena terlibat dengan rezim yang sebelumnya. Seorang pengawas wilayah dijebloskan ke sel yang sama dengan 20 imam! Mau tidak mau mereka menikmati pembahasan yang menarik.

      Contoh lain, seorang saudara di salah satu penjara bercakap-cakap lama sekali dengan seorang dosen teologi yang dulu menguji para calon imam. Saudara ini langsung menyadari bahwa dosen itu nyaris tidak tahu apa-apa tentang Alkitab. Salah satu narapidana yang mendengarkan mereka adalah seorang jenderal dari rezim lama.

      ”Bagaimana mungkin,” tanya jenderal itu kepada sang dosen, ”seorang perajin sederhana lebih tahu Alkitab daripada kamu?”

      Sang dosen menjawab, ”Di seminari teologi, kami diajar tradisi gereja dan hal-hal yang terkait, bukan Alkitab.”

      Sang jenderal tidak senang dengan jawaban itu. ”Selama ini kami mengandalkan pengetahuanmu,” katanya, ”tetapi ternyata kami benar-benar telah disesatkan.”

      Akhirnya, sejumlah tahanan memperoleh pengetahuan yang saksama tentang kebenaran dan membaktikan hidup mereka kepada Yehuwa, termasuk seorang pria yang dihukum 75 tahun penjara karena merampok. Pria ini pun membuat perubahan kepribadian yang luar biasa sehingga menarik perhatian para pejabat penjara. Maka, mereka memberi pria tersebut pekerjaan baru​—yang biasanya tidak akan diberikan kepada orang yang dihukum karena merampok. Ia disuruh pergi ke kota tanpa pengawalan untuk membeli beberapa kebutuhan penjara!

      Namun demikian, kehidupan dalam tahanan sangat sulit, dan hampir tidak ada makanan. Para tahanan bahkan meminta agar kentang mereka tidak dikupas supaya ada lebih banyak bagian yang bisa dimakan. Mereka juga memakan bit, rumput, dedaunan, dan tanaman lain, sekadar untuk mengisi perut. Akibatnya, banyak yang meninggal karena kekurangan gizi, dan semua menderita disentri.

      Selama musim panas, saudara-saudara di Delta Donau menggali dan mengangkut tanah untuk waduk yang sedang dibangun. Pada musim dingin mereka memotong tanaman-tanaman air sambil berdiri di atas es. Mereka tidur di sebuah rongsokan kapal feri yang dingin, jorok, penuh kutu, sambil diawasi oleh para penjaga yang tak berperasaan dan berwajah dingin walau ada tahanan yang meninggal. Namun, bagaimana pun situasinya, saudara-saudara saling membesarkan hati dan membantu agar tetap kuat secara rohani. Perhatikan pengalaman Dionisie Vârciu berikut ini.

      Tepat sebelum Dionisie dibebaskan, seorang petugas bertanya kepadanya, ”Apakah pemenjaraan telah berhasil mengubah imanmu, Vârciu?”

      ”Begini,” jawab Dionisie, ”apakah Anda mau menukar baju Anda yang bermutu tinggi dengan yang mutunya lebih rendah?”

      ”Tidak,” jawab sang petugas.

      ”Nah,” lanjut Dionisie, ”selama saya ditahan, tidak ada yang menawari saya sesuatu yang lebih unggul daripada iman saya. Jadi, untuk apa saya menukarnya?”

      Sang petugas langsung menjabat tangan Dionisie dan berkata, ”Kamu bebas, Vârciu. Pertahankan imanmu.”

      Saudara-saudari seperti Dionisie bukanlah manusia super. Ketabahan dan kekuatan rohani yang berasal dari iman kepada Yehuwa itu mereka pertahankan dengan berbagai cara yang menakjubkan.​—Ams. 3:5, 6; Flp. 4:13.

      Belajar dengan Mengandalkan Ingatan

      ”Bagi saya, masa-masa di penjara adalah masa pelatihan teokratis,” kenang András Molnos. Mengapa begitu? Karena ia melihat manfaatnya berkumpul dengan saudara-saudara setiap minggu untuk mempelajari Firman Allah. ”Sering kali,” kata András, ”informasinya tidak tertera di atas kertas, tetapi di dalam benak. Saudara-saudara mengingat artikel-artikel Menara Pengawal yang pernah mereka pelajari sebelum mereka dipenjarakan. Beberapa di antara mereka bahkan bisa mengingat seluruh isi majalah​—termasuk pertanyaan-pertanyaan dalam artikel pelajaran!” Kadang-kadang, hal ini bisa terjadi karena merekalah yang menyalin dengan tangan makanan rohani sebelum mereka ditangkap.​—Lihat kotak ”Metode Penggandaan”, halaman 132-3.

      Ketika merencanakan perhimpunan, saudara-saudara yang bertanggung jawab mengumumkan pokok yang akan dibahas, dan setiap tahanan sebisa-bisanya mencoba mengingat semua keterangan tentang topik tersebut, mulai dari ayat-ayatnya hingga pokok-pokok yang pernah mereka baca dari alat bantu pelajaran Alkitab. Kemudian, semua berkumpul untuk membahas bahannya. Setelah doa pembuka, seseorang yang telah dipilih memimpin pembahasan dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang cocok. Ia memberikan buah-buah pikirannya setelah hadirin memberi komentar, lalu beralih ke pokok berikutnya.

      Di beberapa penjara, kelompok-kelompok diskusi dilarang. Tetapi, mereka tidak pernah kehabisan akal. Seorang saudara mengenang, ”Dulu, kami sering melepaskan kaca jendela kamar mandi dari rangkanya dan melaburnya dengan campuran sabun basah dan kapur, yang kami korek dari dinding. Setelah kering, kaca jendela ini berfungsi seperti papan tulis untuk menuliskan pelajaran hari itu. Seorang saudara akan mendiktekan kata-katanya dengan suara rendah sementara yang lain menuliskannya di kaca itu.

      ”Kami terbagi dalam beberapa sel, yang masing-masing menjadi satu kelompok belajar. Setiap pelajaran disampaikan dari saudara ke saudara dalam sel. Karena hanya satu sel yang memiliki kaca itu, saudara-saudara di sel lain menerima pelajaran melalui sandi Morse. Caranya? Salah satu di antara kami akan menyampaikan isi artikel itu dengan sandi Morse yang diketukkan selembut mungkin ke dinding atau ke pipa pemanas. Pada waktu yang sama, saudara-saudara di sel lain menempelkan cangkir mereka pada dinding atau pipa, dan menempelkan telinga mereka ke cangkir itu, yang berfungsi sebagai alat bantu dengar. Tentu saja, yang tidak tahu sandi Morse harus mempelajarinya.”

      Di beberapa penjara, saudara-saudara bisa menerima makanan rohani yang segar dari luar melalui saudari-saudari yang juga cerdik dan banyak akal. Misalnya, sewaktu memanggang roti, mereka menyembunyikan lektur di dalam adonan. Makanan ini dijuluki roti dari surga. Saudari-saudari bahkan berhasil memasukkan bagian-bagian Alkitab dengan cara melipat halaman-halamannya menjadi balok-balok kecil, menaruhnya ke dalam bola-bola plastik, kemudian melapisi bola itu dengan cokelat.

      Namun, cara ini ada kekurangannya. Saudara-saudara harus membacanya di kamar kecil, satu-satunya tempat mereka bisa sendirian selama beberapa menit tanpa dijaga. Jika seorang saudara selesai dengan gilirannya, bahan bacaan itu harus ia sembunyikan di belakang tangki air. Para tahanan non-Saksi pun tahu tempat persembunyian ini dan banyak juga yang senang membacanya di situ.

      Wanita dan Anak-Anak Memelihara Integritas

      Kakak beradik Viorica dan Aurica Filip, seperti banyak Saksi lain, mendapat tekanan dari kerabat mereka. Gadis-gadis ini mempunyai tujuh saudara laki-laki dan satu saudara perempuan. Viorica bercerita, ”Karena ingin melayani Yehuwa, Aurica harus keluar dari universitas di Cluj-Napoca pada tahun 1973, dan tidak lama kemudian ia dibaptis. Ketulusan dan semangatnya menggugah saya, dan saya mulai membaca Firman Allah. Ketika saya belajar tentang janji Allah akan kehidupan abadi dalam firdaus di bumi, saya berpikir, ’Inilah yang terbaik.’ Seraya saya semakin maju, saya menerapkan prinsip-prinsip Alkitab tentang kenetralan Kristen dan saya tidak mau menjadi anggota Partai Komunis.”

      Viorica melanjutkan, ”Pada tahun 1975, saya membaktikan hidup saya kepada Yehuwa. Saya juga pindah ke rumah seorang kerabat di kota Sighet Marmaţiei dan bekerja sebagai guru di sana. Karena saya tidak mau terlibat dalam urusan politik, para pengelola sekolah memberitahukan bahwa saya akan dikeluarkan pada akhir tahun ajaran. Keluarga saya tidak ingin hal tersebut terjadi, maka mereka menekan saya maupun adik perempuan saya.”

      Anak-anak sekolah pun diintimidasi, beberapa di antaranya oleh Sekuritat. Selain dianiaya secara fisik dan verbal, banyak yang dikeluarkan dari sekolah dan harus pindah sekolah. Ada yang bahkan sama sekali tidak bisa melanjutkan pendidikan. Agen-agen Sekuritat bahkan mencoba merekrut anak-anak untuk menjadi mata-mata!

      Daniela Măluţan, yang sekarang melayani sebagai perintis, mengenang, ”Saya sering dipermalukan di depan teman-teman sekelas karena saya tidak mau bergabung dengan Persatuan Pemuda Komunis, yang merupakan sarana untuk mengindoktrinasi anak-anak muda tentang politik. Ketika saya baru naik kelas sembilan, agen Sekuritat menimbulkan banyak kesulitan, demikian pula guru dan staf lain yang menjadi informan. Sejak tahun 1980 hingga 1982, saya diinterogasi di ruang kepala sekolah hampir setiap Rabu kedua. Kebetulan, sang kepala sekolah tidak diperbolehkan hadir pada saat-saat itu. Interogatornya, seorang kolonel di Sekuritat, sangat terkenal di kalangan saudara-saudara di Bistriţa-Năsăud karena kebenciannya terhadap kami dan karena kegigihannya untuk memburu kami. Ia bahkan mendatangi saya dengan surat-surat berisi tuduhan terhadap saudara-saudara penanggung jawab. Tujuannya supaya saya tidak lagi percaya kepada saudara-saudara, agar saya meninggalkan iman, dan untuk membujuk saya​—seorang anak sekolah—​menjadi mata-mata Sekuritat. Tetapi, upayanya gagal total.

      ”Namun, tidak semua pengalaman saya buruk. Misalnya, guru sejarah saya, seorang anggota partai Komunis, ingin tahu mengapa saya sering diinterogasi. Suatu hari, ia membatalkan pelajaran sejarah dan selama dua jam di depan seluruh kelas ia mengajukan banyak pertanyaan tentang iman saya. Ia terkesan oleh jawaban-jawaban saya dan menganggap saya tidak pantas diperlakukan dengan begitu buruk. Setelah pembahasan itu, ia mulai menghargai pandangan kami dan bahkan menerima lektur.

      ”Akan tetapi, para pengelola sekolah terus menentang saya. Malah, mereka mengeluarkan saya pada akhir kelas sepuluh. Walau demikian, saya langsung mendapat pekerjaan dan tidak pernah menyesali loyalitas saya kepada Yehuwa. Ya, saya bersyukur kepada-Nya karena dibesarkan oleh orang tua Kristen yang mempertahankan integritas meski mengalami penganiayaan di bawah rezim Komunis. Teladan mereka tidak pernah saya lupakan.”

      Para Pemuda Diuji

      Dalam kampanye menentang Saksi-Saksi Yehuwa, Sekuritat khususnya mengincar saudara-saudara muda karena mereka mempertahankan kenetralan Kristen. Mereka ditangkap, dipenjarakan, dibebaskan, ditangkap lagi, dan dijebloskan lagi ke penjara. Tujuannya ialah menjatuhkan moril mereka. Salah seorang saudara yang mengalami hal tersebut, József Szabó, mendapat hukuman empat tahun penjara segera setelah ia dibaptis.

      Setelah dua tahun menjalani hukuman, József dibebaskan pada tahun 1976 dan tidak lama kemudian bertemu dengan calon istrinya. ”Kami bertunangan dan menetapkan tanggal pernikahan,” kata József. ”Kemudian saya dipanggil lagi oleh Mahkamah Militer Cluj. Saya diharuskan menghadap mereka tepat pada hari pernikahan kami! Meskipun demikian, saya dan tunangan saya tetap melangsungkan pernikahan, dan setelahnya saya menghadap mahkamah. Walaupun saya baru menikah beberapa menit, mahkamah itu menjatuhkan hukuman penjara tiga tahun lagi, yang saya jalani seluruhnya. Perpisahan itu sungguh menyakitkan.”

      Seorang Saksi muda lain, Timotei Lazăr, mengingat, ”Pada tahun 1977, saya dan adik laki-laki saya dibebaskan dari penjara. Abang kami, yang telah dibebaskan setahun sebelumnya, pulang untuk merayakan pembebasan kami. Tetapi, ia masuk perangkap​—agen Sekuritat sudah menunggunya. Kami sebelumnya dipaksa berpisah selama dua tahun, tujuh bulan, dan 15 hari, dan kini abang kami direnggut dan dijebloskan lagi ke penjara karena mempertahankan kenetralan Kristennya. Saya dan adik saya hanya bisa menatap dengan sangat sedih.”

      Merayakan Peringatan

      Pada malam Peringatan, para penentang biasanya memburu Saksi-Saksi Yehuwa dengan lebih gencar. Mereka menggerebek rumah, mendenda, dan melakukan penangkapan. Sebagai langkah pencegahan, saudara-saudara berhimpun dalam kelompok-kelompok kecil​—ada yang hanya satu keluarga​—untuk memperingati kematian Yesus.

      ”Pada suatu malam Peringatan,” cerita Teodor Pamfilie, ”kepala polisi setempat minum-minum dengan teman-temannya hingga larut malam. Ketika ia berangkat untuk menggerebek rumah saudara-saudara, ia meminta seorang pemilik mobil yang tidak dikenalnya untuk mengantarnya. Namun, mobil itu tidak dapat dihidupkan. Ketika akhirnya mesinnya bisa hidup, mereka mendatangi rumah kami pada saat kami sedang merayakan Peringatan dengan sekelompok kecil saudara-saudari. Akan tetapi, karena semua jendela sudah ditutupi, dari luar terlihat gelap dan seperti tidak ada orang di dalam. Jadi, mereka melanjutkan perjalanan ke rumah lain. Tetapi, acara Peringatan di sana telah selesai, dan semua orang sudah pulang.

      ”Sementara itu, kami merampungkan acara di tempat kami, dan saudara-saudara cepat-cepat pulang. Hanya abang saya dan saya yang tersisa ketika dua polisi menerobos masuk, berdiri di tengah ruangan, dan membentak, ’Sedang ada apa ini?’

      ”’Tidak ada apa-apa,’ kata saya. ’Kami berdua sedang ngobrol.’

      ”’Kami tahu tadi ada pertemuan di sini,’ kata salah satu di antara mereka. ’Mana yang lain?’ Sambil menatap kakak saya, ia menambahkan, ’Kamu sedang apa di sini?’

      ”’Saya sedang mengunjunginya,’ jawab Abang sambil menunjuk saya. Karena kesal, petugas-petugas itu bergegas keluar. Esoknya kami mendapat kabar bahwa, meski sudah berupaya keras, polisi tidak berhasil menangkap satu Saksi pun!”

      Permohonan Kantor Pusat kepada Kalangan Berwenang

      Karena Saksi-Saksi Yehuwa mendapat perlakuan bengis, kantor pusat menulis surat empat halaman pada bulan Maret 1970 kepada duta besar Rumania di Amerika Serikat dan surat enam halaman pada bulan Juni 1971 kepada presiden Rumania, Nicolae Ceauşescu. Dalam surat mereka kepada duta besar, saudara-saudara mengatakan bahwa ”kami tergerak untuk menulis kepada Anda karena kasih Kristen dan kepedulian kami kepada saudara-saudara kami di Rumania”. Setelah mencantumkan nama tujuh orang yang dipenjarakan karena iman, surat itu selanjutnya berbunyi, ”Ada laporan bahwa beberapa orang yang disebutkan di atas diperlakukan dengan sangat kejam di penjara. . . . Saksi-Saksi Yehuwa bukan penjahat. Mereka tidak terlibat kegiatan politik atau subversif dalam bentuk apa pun di seluruh dunia, kegiatan mereka hanya seputar ibadat.” Surat itu diakhiri dengan sebuah permohonan kepada pemerintah agar ”meringankan penderitaan Saksi-Saksi Yehuwa”.

      Surat kepada Presiden Ceauşescu menyatakan bahwa ”Saksi-Saksi Yehuwa di Rumania belum mendapat kebebasan beragama sesuai dengan undang-undang Rumania”, tetapi terancam ditangkap dan diperlakukan dengan kejam apabila mereka membagikan kepercayaan mereka kepada orang lain dan berkumpul untuk belajar Alkitab. Surat itu juga merujuk ke sebuah amnesti belum lama berselang yang memungkinkan banyak saudara dibebaskan. ”Ada harapan bahwa suatu era baru akan terbit juga bagi . . . Saksi-Saksi Yehuwa. Tetapi, sayang sekali harapan ini tidak terwujud. Berita yang sekarang kami dapat dari seluruh Rumania tetaplah kisah-kisah yang sangat menyedihkan: Saksi-Saksi Yehuwa masih menjadi sasaran penganiayaan oleh Negara. Rumah mereka digeledah, bacaan disita, pria dan wanita ditangkap dan diadili, ada yang dijatuhi hukuman penjara selama bertahun-tahun, dan ada yang diperlakukan dengan bengis. Semuanya terjadi karena mereka membaca dan memberitakan Firman Allah Yehuwa. Hal-hal seperti itu tidak memberikan reputasi yang baik bagi Negara, dan kami sangat prihatin akan apa yang terjadi dengan Saksi-Saksi Yehuwa di Rumania.”

      Dua buku dilampirkan pada surat itu: Kebenaran yang Membimbing Kepada Hidup yang Kekal dalam bahasa Rumania dan Hidup Kekal​—Dalam Kemerdekaan Putra-Putra Allah dalam bahasa Jerman.

      Situasi mulai agak membaik bagi Saksi-Saksi Yehuwa setelah tahun 1975, ketika Rumania menjadi salah satu penanda tangan dalam Konferensi Helsinki tentang Keamanan dan Kerja Sama di Eropa. Konferensi ini menjamin hak asasi dan kemerdekaan fundamental manusia, termasuk kemerdekaan beragama. Sejak itu, yang ditangkap dan dipenjarakan hanya saudara-saudara yang menolak dinas militer.

      Kemudian, pada tahun 1986, dalam sebuah undang-undang baru ditetapkan bahwa tidak seorang pun, termasuk pejabat, boleh memasuki rumah pribadi tanpa izin tuan rumah kecuali pada keadaan tertentu yang sah menurut hukum. Akhirnya, saudara-saudara bisa merasa lebih aman sewaktu menyelenggarakan perhimpunan, termasuk Peringatan, di rumah-rumah pribadi.

      Percetakan Bawah Tanah

      Selama pelarangan, makanan rohani diselundupkan ke Rumania dalam bentuk tercetak, stensilan, atau bentuk lain dan kemudian diperbanyak oleh saudara-saudara setempat. Kadang-kadang, bahan-bahan tersebut telah diterjemahkan dalam bahasa Rumania dan Hongaria, tetapi biasanya harus diterjemahkan oleh saudara-saudara setempat dari bahasa Inggris, Italia, Jerman, atau Prancis. Orang-orang yang digunakan sebagai kurir antara lain ialah pelancong dari luar negeri, mahasiswa yang datang untuk belajar, dan orang-orang Rumania yang kembali dari perjalanan.

      Sekuritat berupaya keras mencegat kurir-kurir ini dan juga menemukan tempat produksi lektur di Rumania. Dengan berhati-hati, saudara-saudara bekerja di beberapa rumah pribadi yang kedap suara di berbagai kota. Di rumah-rumah ini, mereka membangun ruang rahasia untuk tempat alat pengganda. Ruang ini ada yang tersembunyi di balik tembok tempat perapian. Akan tetapi, tempat perapian itu dimodifikasi sehingga bisa digeser untuk jalan masuk ke tempat rahasia.

      Sándor Parajdi bekerja di sebuah percetakan rahasia di Tirgu-Mures; di situ ia memproduksi buku ayat harian, Pelayanan Kerajaan, Menara Pengawal, dan Sedarlah! ”Kami bekerja sampai 40 jam pada akhir pekan, bergantian tidur masing-masing satu jam,” kenang Sándor. ”Bau bahan kimia melekat pada pakaian dan kulit kami. Suatu ketika, begitu saya tiba di rumah, putra saya yang berumur tiga tahun menceletuk, ’Ayah baunya seperti ayat harian!’”

      Traian Chira, seorang kepala keluarga, menggandakan dan mengirimkan lektur di Distrik Cluj. Traian menggunakan sebuah mesin pengganda manual yang sudah uzur dan seharusnya sudah lama dipensiunkan; mesin ini dijuluki Si Penggiling. Mesinnya memang masih berfungsi, tapi hasilnya tidak memuaskan. Jadi, Traian meminta seorang saudara mekanik untuk melakukan turun mesin. Saudara itu memeriksa mesin tersebut, namun dari raut wajahnya bisa ditebak bahwa Penggiling renta itu tidak mungkin diperbaiki lagi. Tetapi, wajah Saudara tersebut tiba-tiba menjadi cerah, dan dia mengatakan, ”Saya bisa buatkan yang baru!” Dan, rupanya bukan itu saja. Ia membuat sebuah bengkel kerja di ruang bawah tanah rumah seorang saudari dan membuat mesin sendiri. Ia tidak membuat satu mesin saja, tetapi lebih dari sepuluh! Mesin-mesin baru ini dikirimkan ke berbagai daerah dan hasilnya memuaskan.

      Pada tahun 1980-an sejumlah saudara diajari cara mengoperasikan mesin pengganda offset yang lebih unggul. Yang pertama dilatih adalah Nicolae Bentaru, yang selanjutnya melatih saudara-saudara lain. Seperti yang sering terjadi, produksi lektur di rumah Saudara Bentaru pun menjadi proyek keluarga karena setiap anggota keluarga mendapat tugas. Tentu saja, yang sulit adalah menjaga kerahasiaan semua pekerjaan ini, khususnya ketika Sekuritat memata-matai orang dan menggerebek rumah. Maka, kuncinya adalah kecepatan. Untuk itu, saudara-saudara bekerja berjam-jam pada akhir pekan agar lektur selesai dicetak dan langsung dikirim. Mengapa pada akhir pekan? Karena pada hari kerja mereka harus bekerja sekuler.

      Saudara-saudara juga harus berhati-hati ketika membeli kertas. Pelanggan yang membeli satu rim pun​—sekitar 500 lembar​—harus menjelaskan untuk apa kertas itu. Meski demikian, saudara-saudara mencetak sampai 40.000 lembar setiap bulan! Maka, saudara-saudara harus bijaksana ketika berurusan dengan karyawan toko. Dan, karena sering ada pemeriksaan di jalan, mereka juga harus waspada sewaktu membawa kertas itu.

      Sulitnya Menerjemah

      Segelintir saudara-saudari yang tinggal di beberapa daerah di Rumania menerjemahkan lektur ke bahasa-bahasa setempat, termasuk bahasa Ukraina, yang digunakan oleh kelompok etnis minoritas di bagian utara. Beberapa penerjemah adalah guru bahasa yang telah menerima kebenaran; yang lain-lain belajar sendiri bahasa asing, mungkin dengan mengikuti kursus bahasa.

      Pada masa-masa awal, para penerjemah menuliskan terjemahan mereka di buku tulis, yang mereka bawa ke Bistriţa, sebuah kota di utara, untuk diperiksa oleh saudara lain. Sekali atau dua kali setahun, para penerjemah dan pemeriksa mengadakan rapat untuk menyelesaikan masalah-masalah yang berkaitan dengan pekerjaan mereka. Jika tertangkap, tidak jarang saudara-saudari ini digeledah, diinterogasi, dipukuli, dan ditahan. Yang ditangkap akan ditahan selama beberapa jam atau hari, dibebaskan, kemudian ditangkap lagi​—proses yang diulangi berkali-kali guna menakut-nakuti mereka. Ada juga yang menjadi tahanan rumah atau harus melapor ke polisi setiap hari. Dan, tidak sedikit yang dipenjarakan, termasuk Dumitru serta Doina Cepănaru dan Petre Ranca.

      Dumitru Cepănaru adalah guru bahasa dan sejarah Rumania, sedangkan istrinya, Doina, adalah dokter. Belakangan, kegiatan mereka ketahuan dan mereka ditangkap oleh Sekuritat, lalu dijebloskan ke penjara yang berbeda selama tujuh setengah tahun. Doina mendekam selama lima tahun di sel isolasi. Nama mereka tercantum dalam surat yang disebutkan sebelumnya yang dilayangkan oleh kantor pusat kepada duta besar Rumania di Amerika Serikat. Selama ditahan, Doina menulis 500 pucuk surat yang membesarkan hati kepada suaminya maupun untuk saudari-saudari lain yang dipenjarakan.

      Setahun setelah Dumitru dan Doina ditangkap, ibunda Dumitru, yaitu Sabina Cepănaru, juga ditangkap, dan harus meringkuk di penjara selama enam tahun kurang dua bulan. Satu-satunya anggota keluarga mereka yang tetap bebas, meskipun diawasi dengan ketat oleh Sekuritat, adalah suami Sabina, yang juga seorang Saksi Yehuwa. Meski sangat berisiko, ia secara teratur mengunjungi ketiga anggota keluarganya di penjara.

      Pada tahun 1938, Petre Ranca dilantik sebagai sekretaris kantor Saksi-Saksi Yehuwa di Rumania. Tugas ini, ditambah pekerjaannya sebagai penerjemah, menjadikannya orang yang paling dicari oleh Sekuritat. Mereka menciduknya pada tahun 1948, berulang-ulang menangkapnya dan, pada tahun 1950, mengadilinya bersama Martin Magyarosi dan Pamfil Albu. Karena dituduh sebagai anggota jaringan mata-mata Inggris-Amerika, Petre harus mendekam selama 17 tahun di beberapa penjara yang tidak manusiawi di negeri itu​—seperti Aiud, Gherla, serta Jilava​—dan menjadi tahanan rumah selama 3 tahun di Distrik Galaţi. Namun demikian, saudara yang setia ini mengerahkan diri sebisa-bisanya dalam dinas kepada Yehuwa hingga akhir hidupnya di bumi pada tanggal 11 Agustus 1991.

      Kerja keras yang pengasih dari para pemelihara integritas ini mengingatkan kita akan kata-kata, ”Allah bukannya tidak adil-benar sehingga melupakan perbuatanmu dan kasih yang telah kamu perlihatkan untuk namanya, karena kamu telah melayani orang-orang kudus dan terus melayani mereka.”​—Ibr. 6:10.

      Kebaktian di Alam Terbuka

      Selama tahun 1980-an, saudara-saudara mulai berhimpun dalam kelompok yang lebih besar​—bahkan sampai ribuan hadirin​—setiap kali ada kesempatan, seperti pernikahan atau pemakaman. Pada acara pernikahan, saudara-saudara memasang tenda besar di lokasi yang cocok di luar kota lalu mendekorasi bagian dalamnya dengan permadani indah yang coraknya berupa gambar-gambar dari Alkitab dan dibubuhi sulaman ayat-ayat Alkitab. Meja dan kursi disiapkan untuk banyak ”tamu”, dan sebuah poster dengan logo Menara Pengawal yang diperbesar serta ayat tahunan dipajang di belakang mimbar. Para penyiar setempat biasanya menyediakan makanan sesuai dengan kemampuan mereka. Jadi, semua yang hadir menikmati jamuan ganda​—jasmani dan rohani.

      Acaranya diawali dengan khotbah pernikahan atau khotbah pemakaman dan dilanjutkan dengan ceramah-ceramah tentang berbagai topik Alkitab. Oleh karena para pembicara kadang-kadang tidak bisa datang tepat waktu, saudara-saudara lain yang memenuhi syarat harus siap untuk menggantikannya, biasanya berbekal Alkitab saja karena tidak ada salinan rangka khotbah.

      Selama musim panas, penduduk kota biasanya bertamasya ke luar kota. Saksi-Saksi Yehuwa pun demikian. Namun, mereka memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mengadakan kebaktian-kebaktian kecil di bukit dan hutan. Mereka bahkan mementaskan drama Alkitab dengan kostum lengkap.

      Tempat wisata lain yang terkenal adalah Laut Hitam, yang juga cocok untuk acara pembaptisan. Bagaimana saudara-saudara bisa membaptis orang-orang baru tanpa menarik perhatian para pelancong lain? Satu cara adalah dengan membuat ”permainan”. Para calon baptis dan beberapa penyiar terbaptis berdiri membentuk lingkaran di air dan bermain lempar-tangkap bola. Sang pembicara berdiri di tengah lingkaran dan menyampaikan khotbahnya, lalu para calon baptis dibenamkan​—tentu secara tidak mencolok.

      Balai untuk para Petani Lebah

      Pada tahun 1980, saudara-saudara di kota Negreşti-Oaş, di Rumania bagian barat laut, menemukan cara yang kreatif untuk mendapatkan izin yang sah guna membangun sebuah Balai Kerajaan. Pada masa itu, Negara sedang menggiatkan pembudidayaan lebah, atau apikultur. Jadi, sekelompok saudara yang memiliki sarang lebah mempunyai gagasan untuk mendirikan sebuah asosiasi petani lebah lokal, sehingga mereka bisa memiliki alasan yang sah untuk membangun sebuah balai pertemuan.

      Setelah berkonsultasi dengan para penatua di wilayah mereka, saudara-saudara tersebut mendaftarkan diri ke Asosiasi Apikulturis Rumania dan pergi ke balai kota untuk mengajukan proposal pembangunan sebuah balai pertemuan. Para pejabat langsung menyetujui pembangunan sebuah bangunan kayu berukuran 34 meter kali 14 meter. Dengan sangat gembira, para petani lebah dan banyak pembantu mereka menyelesaikan proyek itu dalam waktu tiga bulan. Mereka bahkan mendapatkan ucapan terima kasih khusus dari para pejabat kota!

      Karena acara peresmiannya akan dihadiri banyak orang dan akan berlangsung selama beberapa jam, saudara-saudara mengupayakan dan memperoleh izin menggunakan balai tersebut untuk sebuah pesta panen gandum. Lebih dari 3.000 Saksi dari seluruh negeri berkumpul untuk acara itu. Para pejabat kota kagum melihat begitu banyak orang yang datang untuk turut memanen dan kemudian ”merayakannya”.

      Tentu saja, perayaan itu menjadi kebaktian yang memuaskan secara rohani. Dan, mengingat fungsi resmi bangunan itu, lebah sering ditonjolkan dalam acara, tetapi tentu saja dalam konteks rohani. Misalnya, para pembicara membahas kerajinan serangga ini, kemampuan navigasi dan pengorganisasiannya, keberaniannya yang disertai kerelaan untuk berkorban ketika melindungi sarangnya, dan banyak lagi.

      Setelah acara peresmian tersebut, Balai Lebah, sebutan untuk bangunan itu, terus digunakan saudara-saudara selama masa pelarangan dan tiga tahun setelah pelarangan dicabut.

      Pengawas Zona Membantu Menggalang Persatuan

      Selama puluhan tahun, pihak Komunis berupaya keras untuk menaburkan benih keraguan serta perpecahan di antara umat Allah dan untuk memutuskan komunikasi. Seperti telah diceritakan, mereka cukup berhasil. Bahkan, perpecahan masih ada pada tahun 1980-an. Kunjungan para pengawas zona, dan juga perubahan iklim politik, membantu mengoreksi masalah ini.

      Mulai pertengahan 1970-an, Gerrit Lösch, anggota Panitia Cabang Austria, tetapi sekarang anggota Badan Pimpinan, mengunjungi Rumania beberapa kali. Pada tahun 1988, wakil-wakil Badan Pimpinan, Theodore Jaracz dan Milton Henschel, dua kali berkunjung ke Rumania, bersama Saudara Lösch dan juru bahasa mereka, Jon Brenca, yang waktu itu adalah anggota keluarga Betel Amerika Serikat. Setelah kunjungan-kunjungan yang membesarkan hati ini, ribuan saudara yang selama ini memisahkan diri dari kelompok utama umat Yehuwa tanpa ragu-ragu bergabung lagi dengan kawanan.

      Sementara itu, perubahan politik yang semakin meningkat mengguncang wilayah Komunis di Eropa hingga ke dasar-dasarnya dan mencapai puncaknya dengan ambruknya sebagian besar rezim-rezim itu pada akhir 1980-an. Di Rumania, puncak krisis terjadi pada tahun 1989, ketika rakyat memberontak terhadap rezim Komunis. Pemimpin partai Komunis, Nicolae Ceauşescu, dan istrinya dieksekusi pada tanggal 25 Desember. Tahun berikutnya suatu pemerintahan baru mulai berkuasa.

  • Rumania
    Buku Kegiatan Saksi-Saksi Yehuwa 2006
    • [Kotak/​Gambar di hlm. 124, 125]

      Kami Mengingat 1.600 Ayat Alkitab

      Dionisie Vârciu

      Lahir: 1926

      Baptis: 1948

      Profil: Sejak tahun 1959, selama lima tahun lebih sedikit, mendekam di beberapa penjara dan kamp kerja paksa. Ia meninggal pada tahun 2002.

      Selama di penjara, kami diperbolehkan berkomunikasi dengan keluarga, dan mereka diizinkan mengirimkan paket seberat 5 kilogram setiap bulan kepada kami. Hanya yang menyelesaikan tugas yang boleh menerima paket. Kami selalu membagi rata makanan, biasanya menjadi sekitar 30 potong. Misalnya, kami pernah berbagi dua buah apel. Memang, potongannya kecil-kecil, tapi lumayanlah untuk mengurangi rasa lapar.

      Meskipun tidak punya Alkitab atau alat bantu pelajaran Alkitab, kami memelihara kekuatan rohani dengan mengingat hal-hal yang pernah kami pelajari sebelum kami ditahan dan dengan membagikannya di antara kami. Setiap pagi, seorang saudara menyampaikan sebuah ayat Alkitab yang dia hafal. Kemudian, kami menghafal ayat itu dengan suara rendah dan merenungkannya pada waktu jalan pagi wajib, yang lamanya 15 sampai 20 menit. Sekembalinya kami ke sel—20 orang berdesakan dalam ruangan berukuran 2 meter kali 4 meter​—kami mengomentari ayat itu selama kira-kira 30 menit. Sebagai kelompok, kami mengingat 1.600 ayat Alkitab. Siang harinya, kami membahas berbagai topik, termasuk sekitar 20 sampai 30 ayat yang terkait. Semua menghafalkan bahannya.

      Ada seorang saudara yang pada mulanya merasa terlalu tua untuk menghafal banyak ayat Alkitab. Rupanya, ia hanya menyangsikan kemampuannya. Setelah mendengar kami mengulangi ayat-ayat sekitar 20 kali, ia juga sanggup mengingat dan mengulangi cukup banyak ayat. Tentu, ia senang sekali!

      Memang, kami lapar dan lemah secara jasmani, tetapi Yehuwa tetap memberi makan dan menguatkan kami secara rohani. Bahkan setelah dibebaskan, kami harus memelihara kerohanian karena Sekuritat terus mengganggu, berharap untuk mematahkan iman kami.

      [Kotak di hlm. 132, 133]

      Metode Penggandaan

      Selama tahun 1950-an, penggandaan dengan tulisan tangan, sering kali menggunakan kertas karbon, adalah cara yang paling sederhana dan mudah untuk memperbanyak alat bantu belajar Alkitab. Meski lambat dan membosankan, metode ini punya satu manfaat sampingan​—para penyalin mengingat sebagian besar bahannya. Jadi, ketika dipenjarakan, mereka bisa memberikan banyak anjuran rohani kepada orang lain. Saudara-saudara juga menggunakan mesin tik, tetapi mesin tik sulit diperoleh dan harus didaftarkan dulu ke polisi.

      Alat pengganda stensil, atau mimeograf, mulai digunakan pada akhir 1950-an. Untuk membuat stensil, saudara-saudara mencampur lem, gelatin, dan lilin, lalu campuran itu dioles tipis pada permukaan persegi empat yang rata, biasanya kaca. Dengan tinta khusus yang mereka racik sendiri, mereka membuat teks huruf timbul pada kertas. Jika tintanya sudah mengering, mereka menekan kertas itu secara merata ke permukaan yang berlilin, sehingga menghasilkan stensil. Namun, stensil ini tidak tahan lama, sehingga saudara-saudara harus terus-menerus membuat yang baru. Dan, seperti halnya salinan artikel yang ditulis tangan, stensil juga berisiko dari segi keamanan​—si penulis bisa dikenali dari tulisan tangannya.

      Sejak tahun 1970-an sampai tahun-tahun terakhir masa pelarangan, saudara-saudara membuat dan menggunakan lebih dari sepuluh pengganda portabel yang dioperasikan dengan tangan. Alat ini dirancang menurut model dari Austria, dan alat ini menggunakan pelat cetak dari kertas yang dilapisi plastik. Saudara-saudara menjulukinya Si Penggiling. Pada akhir 1970-an, beberapa mesin pengganda offset diperoleh, tetapi saudara-saudara tidak bisa membuat pelatnya, sehingga mesin-mesin itu menganggur. Namun, sejak tahun 1985, seorang saudara yang adalah sarjana teknik kimia, dari negeri yang waktu itu dikenal sebagai Cekoslovakia, mengajarkan keterampilan yang dibutuhkan oleh saudara-saudara. Maka, baik jumlah maupun mutu cetakan meningkat tajam.

      [Kotak/​Gambar di hlm. 136, 137]

      Yehuwa Melatih Saya

      Nicolae Bentaru

      Lahir: 1957

      Baptis: 1976

      Profil: Melayani sebagai juru cetak selama era Komunis dan sekarang melayani sebagai perintis istimewa bersama istrinya, Veronica.

      Saya mulai belajar Alkitab pada tahun 1972 di kota Săcele dan dibaptis empat tahun kemudian ketika saya berusia 18 tahun. Pekerjaan pada waktu itu dilarang, dan perhimpunan diadakan dalam kelompok PBS. Namun demikian, kami secara rutin menerima persediaan makanan rohani, bahkan drama Alkitab, dalam bentuk rekaman dan slide berwarna.

      Setelah saya dibaptis, tugas pertama saya adalah menjadi operator proyektor slide. Dua tahun kemudian, saya menerima hak istimewa tambahan membeli kertas untuk percetakan bawah tanah. Pada tahun 1980, saya belajar mencetak dan ikut memproduksi Menara Pengawal, Sedarlah!, dan publikasi lain. Kami menggunakan sebuah alat pengganda stensil dan sebuah mesin cetak kecil yang dioperasikan secara manual.

      Sementara itu, saya bertemu dengan Veronica, seorang saudari yang baik, yang setia kepada Yehuwa, dan kami pun menikah. Veronica sangat mendukung saya dalam pekerjaan saya. Pada tahun 1981, Otto Kuglitsch dari kantor cabang Austria mengajari saya cara mengoperasikan mesin pengganda offset kami yang perdana. Kami memasang mesin cetak yang kedua di Cluj-​Napoca pada tahun 1987, dan saya ditugasi untuk melatih para operator mesin.

      Setelah larangan dicabut pada tahun 1990, saya, Veronica, dan putra kami, Florin, melanjutkan pencetakan dan pendistribusian lektur selama delapan bulan. Florin membantu mengurutkan lembar-lembar cetakan sebelum dijilid, dipotong pinggirnya, dijepit dengan staples, dikemas, dan dikirim. Pada tahun 2002, kami bertiga ditugasi merintis di kota Mizil, yang berpenduduk 15.000 jiwa dan terletak sekitar 80 kilometer di utara Bukares. Saya dan Veronica melayani sebagai perintis istimewa, sedangkan Florin, perintis biasa.

      [Kotak/​Gambar di hlm. 139, 140]

      Yehuwa Membutakan Musuh

      Ana Viusencu

      Lahir: 1951

      Baptis: 1965

      Profil: Sejak remaja ia membantu orang tuanya menggandakan lektur. Belakangan, ia ikut menerjemahkan publikasi ke bahasa Ukraina.

      Suatu hari pada tahun 1968, saya sedang menyalin Menara Pengawal dengan tangan ke lembar stensil induk (master) untuk digandakan. Karena lalai, saya tidak menyembunyikan lembar-lembar stensil itu sebelum pergi ke perhimpunan. Sepulangnya saya pada tengah malam, saya mendengar ada mobil berhenti. Sebelum saya sempat melihat siapa yang datang, lima agen Sekuritat yang berbekal surat penggeledahan menerobos masuk ke rumah kami. Saya sangat ketakutan, tetapi berhasil menenangkan diri. Pada saat itu juga, saya memohon kepada Yehuwa agar memaafkan keteledoran saya dan berjanji tidak akan sembarangan meletakkan pekerjaan lagi.

      Petugas yang memimpin penggeledahan itu duduk di meja tepat di sebelah lembar-lembar itu, yang dengan terburu-buru sempat saya tutupi dengan sehelai lap ketika mendengar suara mobil berhenti. Ia terus duduk di sana sampai pemeriksaan rampung beberapa jam kemudian. Ketika sedang menulis laporan​—pada jarak beberapa sentimeter saja dari lembar-lembar stensil—​ia sempat beberapa kali merapikan lap itu. Dalam laporannya ia menulis bahwa para agen tidak menemukan lektur yang terlarang di rumah atau pada siapa pun.

      Walau demikian, agen-agen itu membawa serta Ayah ke Baia-Mare. Saya dan Ibu berdoa dengan sungguh-sungguh demi Ayah, dan kami juga berterima kasih kepada Yehuwa karena telah melindungi kami malam itu. Sungguh lega rasanya ketika Ayah pulang beberapa hari kemudian.

      Tak lama kemudian, selagi saya menyalin beberapa publikasi dengan tangan, saya mendengar ada mobil berhenti lagi di luar rumah kami. Saya mematikan lampu, mengintip dari balik tirai, dan melihat beberapa pria berseragam dengan tanda-tanda pangkat yang berkilauan keluar dari mobil dan memasuki rumah di seberang jalan. Malam berikutnya, mereka digantikan oleh regu yang lain; hal ini semakin meyakinkan kami bahwa mereka adalah mata-mata Sekuritat. Meski begitu, kami terus menggandakan bahan bacaan, tetapi mengirimkan hasilnya melalui kebun belakang rumah kami supaya tidak ketahuan.

      Ayah sering mengatakan, ”Jalan di antara kami dan musuh seperti halnya tiang awan di antara orang Israel dan orang Mesir.” (Kel. 14:19, 20) Saya merasakan sendiri betapa benarnya kata-kata Ayah!

      [Kotak/​Gambar di hlm. 143, 144]

      Lolos berkat Knalpot yang Lepas

      Traian Chira

      Lahir: 1946

      Baptis: 1965

      Profil: Salah satu saudara yang menjadi penanggung jawab produksi dan pengiriman lektur selama masa pelarangan.

      Pada suatu Minggu pagi di musim panas, saya memasukkan delapan kantong lektur ke dalam mobil saya. Tidak semua kantong itu bisa termuat di dalam bagasi, maka saya melepaskan jok belakang, menaruh kantong-kantong di situ, menyelubunginya dengan selimut, dan menaruh sebuah bantal di atasnya. Orang yang melihatnya pasti akan mengira bahwa keluarga kami akan ke pantai. Sebagai tindakan pencegahan tambahan, saya menaruh sebuah selimut di atas kantong-kantong di bagasi.

      Setelah berdoa memohon berkat Yehuwa, kami berlima​—saya, istri, dan dua putra serta satu putri saya​—berangkat ke Tirgu-Mures dan Brasov untuk mengantar lektur. Dalam perjalanan, kami menyanyikan lagu-lagu Kerajaan. Setelah menempuh jarak sekitar 100 kilometer, kami sampai di ruas jalan yang banyak lubangnya. Karena mobil menjadi lebih rendah oleh beban yang berat, knalpotnya pun menghantam sesuatu di jalan dan terlepas. Kami menepi dan saya menyimpan bagian knalpot yang terlepas itu di bagasi di sebelah ban serep tetapi di atas selimut. Lalu, kami pun melanjutkan perjalanan dengan mobil yang menderu-deru suaranya!

      Di kota Luduş, seorang polisi menghentikan kami untuk memeriksa kelaikan mobil kami. Setelah mengecek nomor mesin dan mengetes klakson, wiper kaca depan, lampu, dan lain-lain, ia menanyakan ban serep. Sambil berjalan ke belakang mobil, saya melongok ke dalam mobil dan berbisik kepada istri dan anak-anak saya, ”Cepat berdoa. Hanya Yehuwa yang dapat menolong kita.”

      Ketika saya membuka bagasi, mata sang polisi langsung tertuju ke knalpot yang terlepas itu. ”Apa ini?” tanyanya. ”Kamu harus membayar denda!” Setelah puas karena menemukan pelanggaran, ia menyudahi pemeriksaan. Saya menutup bagasi, menarik napas lega, dan baru kali itu saya membayar denda dengan sangat bahagia! Saat itu, kami lolos, dan saudara-saudara menerima lektur mereka.

      [Kotak/​Gambar di hlm. 147-149]

      Pengalaman Unik dengan Sekuritat

      Viorica Filip

      Lahir: 1953

      Baptis: 1975

      Profil: Mulai dinas sepenuh waktu pada tahun 1986 dan melayani sebagai anggota keluarga Betel.

      Ketika saya dan Aurica, adik perempuan saya, menjadi Saksi-Saksi Yehuwa, kami diperlakukan dengan kasar oleh keluarga kami. Meski hal itu menyakitkan, kami menjadi tabah untuk menghadapi Sekuritat di kemudian hari. Saya punya pengalaman unik dengan Sekuritat pada suatu sore bulan Desember 1988. Waktu itu, saya tinggal bersama Aurica dan keluarganya di kota Oradea, dekat perbatasan Hongaria.

      Sewaktu saya pergi ke rumah seorang saudara yang menjadi pengawas pekerjaan penerjemahan, di tas saya ada sebuah majalah yang sedang saya periksa. Saya tidak tahu bahwa para agen Sekuritat sedang menggeledah rumahnya dan menginterogasi semua penghuni dan tamu. Untunglah, ketika saya melihat apa yang sedang terjadi, saya bisa diam-diam membakar bahan yang ada di dalam tas saya. Setelah itu, agen-agen menggiring saya dan Saksi-Saksi lain ke kantor Sekuritat untuk diinterogasi lebih lanjut.

      Semalaman mereka menginterogasi saya, dan esoknya mereka menggeledah rumah di alamat resmi saya, sebuah rumah kecil di desa Uileacu de Munte tidak jauh dari sana. Saya tidak tinggal di situ, tetapi saudara-saudara menggunakan rumah itu untuk menyimpan bahan-bahan pekerjaan bawah tanah. Setelah menemukan bahan-bahan tersebut, agen-agen Sekuritat memanggil saya ke kantor mereka lagi dan memukuli saya dengan pentungan karet agar saya mau membocorkan identitas orang-orang yang memiliki atau ada hubungannya dengan barang-barang yang ditemukan. Saya memohon bantuan Yehuwa agar bisa menahan deraan itu. Kedamaian menyelimuti saya, dan rasa sakitnya hanya beberapa detik setelah setiap pukulan. Namun, tidak lama kemudian tangan saya membengkak sehingga saya khawatir tidak akan bisa menulis lagi. Sore itu saya dilepaskan​—tanpa uang sepeser pun, sangat lapar, dan lelah.

      Ketika saya berjalan ke terminal bus utama, seorang agen Sekuritat menguntit saya. Saya tidak memberi tahu para interogator tempat tinggal saya yang sebenarnya, maka saya tidak bisa langsung ke rumah Aurica karena akan membahayakan dia dan keluarganya. Tanpa tahu pasti harus ke mana dan berbuat apa, saya memohon kepada Yehuwa, memberi tahu-Nya bahwa saya sangat lapar dan ingin sekali tidur di tempat tidur saya sendiri. ’Apakah ini berlebihan?’ pikir saya.

      Saya tiba di terminal persis ketika sebuah bus hendak berangkat. Saya berlari lalu naik ke bus itu, meski saya tidak punya uang untuk membayar ongkosnya. Kebetulan, bus itu ke arah alamat resmi saya. Agen Sekuritat juga berhasil mengejar bus itu, menanyakan tujuan bus kepada saya, lalu melompat turun. Melihat hal itu, saya menyimpulkan bahwa seorang agen lain akan menanti saya di Uileacu de Munte. Betapa leganya saya sewaktu sang sopir mengizinkan saya untuk menumpang di busnya. ’Tetapi, untuk apa saya pergi ke Uileacu de Munte?’ pikir saya. Saya sebenarnya tidak mau ke sana karena tidak ada makanan dan bahkan tempat tidur.

      Sewaktu saya sedang menumpahkan kerisauan saya kepada Yehuwa, sang sopir menghentikan bus di pinggiran Oradea karena ada temannya yang mau turun di situ. Saya memanfaatkan kesempatan itu untuk turun dari bus juga. Ketika bus meneruskan perjalanan, saya diliputi kebahagiaan, lalu dengan waspada saya berjalan ke tempat tinggal seorang saudara yang saya kenal. Saya tiba di rumahnya persis ketika istrinya sedang mengangkat goulash​—salah satu makanan kesukaan saya​—dari kompor. Keluarga itu mengajak saya makan malam.

      Ketika malam sudah lebih larut dan saya merasa situasinya cukup aman, saya pulang ke rumah Aurica dan tidur di tempat tidur saya sendiri. Ya, Yehuwa memberi saya dua hal yang saya doakan​—makan kenyang dan tidur nyenyak. Bapak kita sungguh baik!

Publikasi Menara Pengawal Bahasa Indonesia (1971-2025)
Log Out
Log In
  • Indonesia
  • Bagikan
  • Pengaturan
  • Copyright © 2025 Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania
  • Syarat Penggunaan
  • Kebijakan Privasi
  • Pengaturan Privasi
  • JW.ORG
  • Log In
Bagikan