PERPUSTAKAAN ONLINE Menara Pengawal
PERPUSTAKAAN ONLINE
Menara Pengawal
Indonesia
  • ALKITAB
  • PUBLIKASI
  • PERHIMPUNAN
  • Jangan Beri Tempat bagi Iblis
    Menara Pengawal—2006 | 15 Januari
    • Jangan Beri Tempat bagi Iblis

      ”Janganlah beri kesempatan kepada Iblis.”​—EFESUS 4:27, Terjemahan Baru.

      1. Mengapa banyak orang mempertanyakan keberadaan Iblis?

      SELAMA berabad-abad, banyak orang mengira Iblis adalah makhluk bertanduk, berkaki belah, berbaju merah, dan menggunakan garpu besar untuk mencampakkan orang jahat ke dalam neraka yang bernyala-nyala. Alkitab tidak mendukung gagasan itu. Namun, tidak diragukan, kesalahpahaman demikian telah menyebabkan jutaan orang mempertanyakan keberadaan Iblis atau mengira bahwa istilah itu hanya memaksudkan sifat jahat.

      2. Apa beberapa fakta Alkitab tentang Iblis?

      2 Alkitab menyediakan bukti saksi mata dan kesaksian yang jelas bahwa Iblis itu ada. Yesus Kristus melihat dia di alam roh surgawi dan berbicara kepadanya di bumi. (Ayub 1:6; Matius 4:4-11) Sekalipun tidak menyingkapkan nama asli makhluk roh ini, Alkitab menyebutnya Iblis (artinya ”Pemfitnah”) karena ia telah memfitnah Allah. Ia juga disebut Setan (artinya ”Penentang”), karena ia menentang Yehuwa. Setan si Iblis disebut ”ular yang semula”, kemungkinan besar karena ia menggunakan seekor ular untuk menipu Hawa. (Penyingkapan 12:9; 1 Timotius 2:14) Ia juga dikenal sebagai ”si fasik”.​—Matius 6:13.a

      3. Apa pertanyaan yang akan kita bahas?

      3 Sebagai hamba Yehuwa, kita sama sekali tidak ingin menjadi seperti Setan, musuh utama satu-satunya Allah yang benar. Oleh karena itu, kita harus mengindahkan nasihat rasul Paulus ini, ”Janganlah beri kesempatan kepada Iblis.” (Efesus 4:27, Terjemahan Baru) Kalau begitu, apa saja watak Setan yang tidak boleh kita tiru?

      Jangan Tiru si Pemfitnah Besar

      4. Bagaimana ”si fasik” memfitnah Allah?

      4 ”Si fasik” pantas disebut Iblis, karena ia adalah pemfitnah. Fitnah adalah pernyataan palsu dan keji yang mencoreng reputasi seseorang. Allah memerintahkan Adam, ”Mengenai pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, engkau tidak boleh memakan buahnya, karena pada hari engkau memakannya, engkau pasti akan mati.” (Kejadian 2:17) Hawa telah diberi tahu tentang hal ini, tetapi melalui seekor ular, Iblis mengatakan kepadanya, ”Kamu pasti tidak akan mati. Karena Allah tahu bahwa pada hari kamu memakannya, matamu tentu akan terbuka dan kamu tentu akan menjadi seperti Allah, mengetahui yang baik dan yang jahat.” (Kejadian 3:4, 5) Benar-benar fitnah yang keji terhadap Allah Yehuwa!

      5. Mengapa Diotrefes pantas dimintai pertanggungjawaban karena memfitnah?

      5 Orang Israel diberi perintah, ”Jangan pergi berkeliling di antara bangsamu untuk memfitnah.” (Imamat 19:16) Berkenaan dengan seorang pemfitnah pada zamannya, rasul Yohanes menyatakan, ”Aku menulis sesuatu kepada sidang jemaat, tetapi Diotrefes, yang ingin mendapat tempat pertama di antara mereka, tidak mau menerima apa pun dari kami dengan respek. Itulah sebabnya, jika aku datang, aku akan mengingat perbuatan-perbuatan yang terus ia lakukan, meleter mengenai kami dengan kata-kata yang fasik.” (3 Yohanes 9, 10) Diotrefes memfitnah Yohanes dan pantas dimintai pertanggungjawaban. Pasti tidak ada orang Kristen yang loyal yang ingin menjadi seperti Diotrefes dan meniru Setan, si pemfitnah besar.

      6, 7. Mengapa kita berupaya untuk tidak memfitnah siapa pun?

      6 Fitnah dan tuduhan palsu sering dilontarkan terhadap hamba-hamba Yehuwa. ”Imam-imam kepala dan penulis-penulis berulang-kali berdiri dan dengan berapi-api melancarkan tuduhan terhadap [Yesus].” (Lukas 23:10) Imam Besar Ananias dan yang lain-lain melontarkan tuduhan palsu terhadap Paulus. (Kisah 24:1-8) Dan, Alkitab menyebut Setan sebagai ”penuduh saudara-saudara kita, yang menuduh mereka siang dan malam di hadapan Allah kita”. (Penyingkapan 12:10) Saudara-saudara yang mendapat tuduhan palsu itu adalah orang-orang Kristen terurap di bumi pada hari-hari terakhir ini.

      7 Tidak ada orang Kristen yang ingin memfitnah siapa pun atau melontarkan tuduhan palsu. Namun, hal itu bisa terjadi jika kita tidak memiliki semua fakta sebelum memberikan kesaksian tentang seseorang. Di bawah Hukum Musa, orang yang sengaja memberikan kesaksian palsu dapat dihukum mati sebagai penuduh. (Keluaran 20:16; Ulangan 19:15-19) Selain itu, hal-hal yang memuakkan bagi Yehuwa mencakup ”saksi palsu yang melontarkan dusta”. (Amsal 6:16-19) Jadi, kita pasti tidak mau meniru pemfitnah utama dan penuduh palsu itu.

      Tampiklah Jalan-Jalan si Pembunuh Manusia yang Semula

      8. Bagaimana Iblis dapat disebut ”pembunuh manusia sejak semula”?

      8 Iblis adalah pembunuh manusia. ”Dia adalah pembunuh manusia sejak semula,” kata Yesus. (Yohanes 8:44) Sejak aksi pertamanya memalingkan Adam dan Hawa dari Allah, Setan adalah pembunuh manusia. Ia membawa kematian atas pasangan manusia pertama serta keturunan mereka. (Roma 5:12) Patut diingat, tindakan ini dapat dilakukan hanya oleh suatu pribadi, bukan sekadar suatu sifat jahat.

      9. Seperti ditunjukkan di 1 Yohanes 3:15, bagaimana kita bisa menjadi pembunuh manusia?

      9 ”Jangan membunuh,” demikian bunyi salah satu dari Sepuluh Perintah kepada Israel. (Ulangan 5:17) Kepada orang-orang Kristen, rasul Petrus menulis, ”Jangan seorang pun dari antara kamu menderita sebagai pembunuh.” (1 Petrus 4:15) Maka, sebagai hamba-hamba Yehuwa, kita tidak akan membunuh seorang pun. Namun, kita bisa menanggung kesalahan di hadapan Allah jika kita membenci seorang rekan Kristen dan mengharapkan dia mati. ”Setiap orang yang membenci saudaranya adalah pembunuh manusia,” tulis rasul Yohanes, ”dan kamu tahu bahwa pembunuh manusia tidak memiliki kehidupan abadi dalam dirinya.” (1 Yohanes 3:15) Orang Israel diperintahkan, ”Jangan membenci saudaramu dalam hatimu.” (Imamat 19:17) Semoga kita cepat menyelesaikan problem apa pun yang timbul antara kita dan rekan seiman, sehingga Setan si pembunuh manusia tidak menghancurkan persatuan Kristen kita.​—Lukas 17:3, 4.

      Berdiri Teguh Melawan si Kepala Pendusta

      10, 11. Apa yang harus kita lakukan agar dapat berdiri teguh melawan si kepala pendusta, Setan?

      10 Iblis adalah pendusta. ”Apabila dia berkata dusta,” kata Yesus, ”dia berkata menurut wataknya sendiri, karena dia adalah pendusta dan bapak dusta.” (Yohanes 8:44) Setan berdusta kepada Hawa, sedangkan Yesus datang ke dunia untuk memberikan kesaksian tentang kebenaran. (Yohanes 18:37) Jika, sebagai pengikut Kristus, kita ingin berdiri teguh melawan Iblis, kita tidak dapat menggunakan dusta dan tipu daya. Kita harus ’berbicara kebenaran’. (Zakharia 8:16; Efesus 4:25) ”Yehuwa, Allah kebenaran”, hanya memberkati Saksi-Saksi-Nya yang benar. Orang fasik tidak berhak mewakili Dia.—Mazmur 31:5; 50:16; Yesaya 43:10.

      11 Jika kita menghargai kemerdekaan rohani dari dusta Setan, kita akan berpaut pada Kekristenan, yakni ”jalan kebenaran”. (2 Petrus 2:2; Yohanes 8:32) Seluruh ajaran Kristen membentuk ”kebenaran kabar baik”. (Galatia 2:5, 14) Keselamatan kita sendiri bergantung pada apakah kita ”berjalan dalam kebenaran”—berpaut padanya dan berdiri teguh melawan ”bapak dusta”.​—3 Yohanes 3, 4, 8.

      Lawanlah si Biang Kemurtadan

      12, 13. Bagaimana hendaknya kita memperlakukan orang murtad?

      12 Makhluk roh yang menjadi Iblis dulunya berada dalam kebenaran. Tetapi, ”dia tidak berdiri kukuh dalam kebenaran”, kata Yesus, ”karena kebenaran tidak ada dalam dirinya”. (Yohanes 8:44) Biang kemurtadan ini tak henti-hentinya menentang ”Allah kebenaran”. Beberapa orang Kristen abad pertama jatuh ke dalam ”jerat si Iblis”, tampaknya menjadi korbannya karena disesatkan dan menyimpang dari kebenaran. Maka, Paulus mendesak Timotius rekan sekerjanya untuk mengajar mereka dengan lemah lembut sehingga mereka dapat pulih secara rohani dan terlepas dari jerat Setan. (2 Timotius 2:23-26) Tentu saja, jauh lebih baik untuk dengan teguh berpaut pada kebenaran dan tidak sampai terjerat oleh pandangan yang murtad.

      13 Gara-gara mendengarkan Iblis dan tidak menampik dustanya, pasangan manusia pertama menjadi murtad. Jadi, kalau begitu, patutkah kita mendengarkan orang murtad, membaca bacaan mereka, atau melihat-lihat situs mereka di Internet? Jika kita mengasihi Allah dan kebenaran, kita tidak akan melakukan hal itu. Kita tidak akan membiarkan orang murtad masuk ke dalam rumah kita atau bahkan memberi salam kepada mereka, karena tindakan-tindakan demikian akan membuat kita ’ikut ambil bagian dalam perbuatannya yang fasik’. (2 Yohanes 9-11) Semoga kita tidak pernah menyerah kepada siasat-siasat Iblis dengan meninggalkan ”jalan kebenaran” Kristen dan mengikuti guru-guru palsu yang berupaya ”memperkenalkan gagasan-gagasan yang merusak” dan berusaha ’mengeksploitasi kita dengan kata-kata yang diputarbalikkan’.​—2 Petrus 2:1-3, Byington.

      14, 15. Apa peringatan Paulus kepada para penatua dari Efesus dan rekan sekerjanya Timotius?

      14 Paulus memberi tahu para penatua dari Efesus, ”Perhatikanlah dirimu sendiri dan segenap kawanan, sebab kamu telah ditetapkan oleh roh kudus sebagai pengawas di antara mereka, untuk menggembalakan sidang jemaat Allah, yang dibelinya dengan darah Putranya sendiri. Aku tahu bahwa setelah kepergianku, serigala-serigala yang menindas akan masuk di antara kamu dan tidak akan memperlakukan kawanan dengan lembut, dan dari antara kamu sendiri akan muncul pria-pria yang membicarakan perkara-perkara yang belat-belit untuk menjauhkan murid-murid agar mengikuti mereka.” (Kisah 20:28-30) Setelah beberapa waktu, orang-orang murtad demikian muncul dan ”membicarakan perkara-perkara yang belat-belit”.

      15 Kira-kira pada tahun 65 M, sang rasul mendesak Timotius untuk ”menangani firman kebenaran dengan tepat”. ”Tetapi,” tulis Paulus, ”jauhilah percakapan-percakapan kosong yang mencemari apa yang kudus; karena orang-orang itu akan menjadi makin tidak saleh, dan perkataan mereka akan menyebar seperti gangren. Himeneus dan Filetus termasuk di antara mereka. Pria-pria inilah yang telah menyimpang dari kebenaran, dengan mengatakan bahwa kebangkitan sudah terjadi; dan mereka merusak iman beberapa orang.” Kemurtadan sudah mulai! ”Meskipun demikian,” Paulus menambahkan, ”fondasi yang kokoh dari Allah tetap bertahan.”​—2 Timotius 2:15-19.

      16. Sekalipun si biang kemurtadan melancarkan siasat liciknya, mengapa kita masih loyal kepada Allah dan Firman-Nya?

      16 Setan sudah sering kali menggunakan orang murtad untuk merusak ibadat sejati—tetapi upayanya sia-sia. Sekitar tahun 1868, Charles Taze Russell mulai menyelidiki Alkitab dengan saksama sehubungan dengan doktrin-doktrin lama gereja Susunan Kristen dan mendapati kekeliruan penafsiran ayat-ayat Alkitab. Russell dan segelintir pencari kebenaran lain membentuk sebuah kelas pelajaran Alkitab di Pittsburgh, Pennsylvania, AS. Hampir 140 tahun kemudian, hamba-hamba Yehuwa telah bertumbuh dalam pengetahuan dan kasih akan Allah serta Firman-Nya. Sekalipun si biang kemurtadan melancarkan siasat liciknya, kesiagaan rohani golongan budak yang setia dan bijaksana telah membantu orang-orang Kristen sejati ini tetap loyal kepada Yehuwa dan Firman-Nya.​—Matius 24:45.

      Jangan Pernah Biarkan Penguasa Dunia Menguasai Saudara

      17-19. Dunia apa yang berada dalam kuasa Iblis, dan mengapa kita tidak boleh mengasihinya?

      17 Cara lain yang Setan gunakan untuk menjerat kita adalah dengan membujuk kita untuk mengasihi dunia ini​—masyarakat yang tidak adil-benar dan terasing dari Allah. Yesus menyebut Iblis ”penguasa dunia” dan mengatakan, ”ia tidak berkuasa atas diriku”. (Yohanes 14:30) Semoga Setan tidak pernah menguasai kita! Tentu saja, kita menyadari bahwa ”seluruh dunia berada dalam kuasa si fasik”. (1 Yohanes 5:19) Jadi, Iblis dapat memberi Yesus ”semua kerajaan dunia” asalkan ia melakukan satu tindakan murtad dengan menyembahnya​—yang ditolak mentah-mentah oleh Putra Allah. (Matius 4:8-10) Dunia yang dikuasai Setan membenci para pengikut Kristus. (Yohanes 15:18-21) Tidak heran jika rasul Yohanes memperingatkan kita untuk tidak mengasihi dunia ini!

      18 Yohanes menulis, ”Jangan mengasihi dunia maupun perkara-perkara yang ada di dunia. Jika seseorang mengasihi dunia, kasih akan Bapak tidak ada dalam dirinya; karena segala sesuatu yang ada di dunia​—keinginan daging, keinginan mata, dan pameran sarana kehidupan seseorang—​tidak berasal dari Bapak, tetapi berasal dari dunia. Selanjutnya, dunia ini sedang berlalu, demikian pula keinginannya, tetapi ia yang melakukan kehendak Allah akan tetap hidup untuk selamanya.” (1 Yohanes 2:15-17) Kita tidak boleh mengasihi dunia ini, karena jalan hidupnya memikat keinginan daging yang berdosa dan jelas-jelas berlawanan dengan standar Allah Yehuwa.

      19 Bagaimana jika kasih akan dunia ini bercokol dalam hati kita? Kalau begitu, mari kita berdoa memohon bantuan Allah untuk menyingkirkan kasih ini dan hasrat-hasrat daging yang berkaitan dengannya. (Galatia 5:16-21) Pastilah, kita akan berjuang untuk menjaga diri agar ”tidak dinodai oleh dunia” jika kita senantiasa mencamkan bahwa ”kumpulan roh yang fasik” adalah ”penguasa dunia” yang tidak kelihatan atas masyarakat yang tidak adil benar.​—Yakobus 1:27; Efesus 6:11, 12; 2 Korintus 4:4.

      20. Mengapa dapat dikatakan bahwa kita ”bukan bagian dari dunia”?

      20 Mengenai murid-muridnya, Yesus mengatakan, ”Mereka bukan bagian dari dunia, sebagaimana aku bukan bagian dari dunia.” (Yohanes 17:16) Orang-orang Kristen terurap dan rekan-rekan mereka yang berbakti berjuang untuk menjaga diri tetap bersih secara moral dan rohani, terpisah dari dunia ini. (Yohanes 15:19; 17:14; Yakobus 4:4) Dunia yang tidak adil-benar ini membenci kita karena kita tetap terpisah darinya dan kita ’memberitakan keadilbenaran’. (2 Petrus 2:5) Memang, kita hidup di tengah-tengah masyarakat, yang mencakup para pelaku percabulan, orang tamak, pemeras, penyembah berhala, pencuri, pendusta, dan pemabuk. (1 Korintus 5:9-11; 6:9-11; Penyingkapan 21:8) Tetapi, kita tidak menghirup ”roh dunia”, karena kita tidak dikendalikan oleh kekuatan ini yang mendorong orang-orang untuk berbuat dosa.​—1 Korintus 2:12.

      Jangan Beri Tempat bagi Iblis

      21, 22. Bagaimana Saudara dapat menerapkan nasihat Paulus yang dicatat di Efesus 4:26, 27?

      21 Kita tidak dimotivasi oleh ”roh dunia” itu, tetapi dibimbing oleh roh Allah, yang menghasilkan sifat-sifat seperti kasih dan pengendalian diri. (Galatia 5:22, 23) Ini membantu kita bertahan di bawah serangan Iblis atas iman kita. Ia ingin kita menjadi ”panas hati hanya untuk berbuat jahat”, tetapi roh Allah membantu kita ’menjauhi kemarahan dan meninggalkan kemurkaan’. (Mazmur 37:8) Memang, adakalanya mungkin kita marah karena alasan yang sah, tetapi Paulus menasihati kita, ”Jadilah murka, namun jangan berbuat dosa; jangan sampai matahari terbenam sewaktu kamu masih dalam keadaan terpancing untuk marah, juga jangan memberikan tempat bagi Iblis.”​—Efesus 4:26, 27.

      22 Kita bisa berbuat dosa jika kita tetap berada dalam keadaan terpancing untuk marah. Dengan memiliki kerangka pikiran ini, kita memberi Iblis kesempatan untuk memecah-belah sidang atau mendorong kita berbuat jahat. Jadi, kita harus segera menyelesaikan perselisihan dengan cara yang saleh. (Imamat 19:17, 18; Matius 5:23, 24; 18:15, 16) Oleh karena itu, marilah kita dibimbing oleh roh Allah, memperlihatkan pengendalian diri, dan tidak pernah membiarkan bahkan kemarahan yang beralasan berubah menjadi perasaan getir, lalu kita menyumpahi dan membenci seseorang.

      23. Pertanyaan apa saja yang akan kita kupas dalam artikel berikut?

      23 Kita telah membahas beberapa perangai Iblis yang tidak boleh kita tiru. Tetapi, mungkin ada pembaca yang bertanya-tanya: Haruskah kita takut kepada Setan? Mengapa ia menimbulkan penganiayaan atas orang Kristen? Dan, bagaimana agar kita tidak sampai dikalahkan oleh Iblis?

      [Catatan Kaki]

      a Lihat seri utama ”Apakah Iblis Nyata?” dalam Menara Pengawal, 15 November 2005.

  • Lawanlah Setan, dan Ia Akan Lari!
    Menara Pengawal—2006 | 15 Januari
    • Lawanlah Setan, dan Ia Akan Lari!

      ”Tunduklah kepada Allah; tetapi lawanlah Iblis, dan ia akan lari darimu.”​—YAKOBUS 4:7.

      1, 2. (a) Apa watak Iblis yang tercermin dalam pernyataan di Yesaya pasal 14? (b) Apa saja pertanyaan yang akan kita bahas?

      IBLIS adalah perwujudan dari keangkuhan. Kesombongannya tercermin dalam kata-kata yang dicatat oleh Yesaya, nabi Allah. Lebih dari seabad sebelum Babilonia menjadi kuasa dunia utama, nabi itu mewakili umat Yehuwa dalam membuat pernyataan berikut terhadap ”raja Babilon”, ”Engkau telah mengatakan di dalam hatimu, ’Ke langit aku akan naik. Jauh di atas bintang-bintang Allah [raja-raja dalam garis keturunan Raja Daud] aku akan mengangkat takhtaku . . . aku akan membuat diriku mirip Yang Mahatinggi.’” (Yesaya 14:3, 4, 12-15; Bilangan 24:17) Kesombongan ”raja Babilon” mirip dengan sikap Setan, ”allah sistem ini”. (2 Korintus 4:4) Akan tetapi, keangkuhan Setan akan berakhir secara mengenaskan, persis seperti dinasti Babilonia yang berakhir dengan kehinaan.

      2 Namun, selama Iblis ada, kita boleh jadi bertanya: Mestikah kita takut kepada Setan? Mengapa ia menggerakkan orang-orang untuk menganiaya orang Kristen? Bagaimana agar kita tidak dikalahkan oleh Iblis?

      Mestikah Kita Takut kepada Iblis?

      3, 4. Mengapa orang-orang Kristen terurap dan rekan-rekan mereka tidak takut kepada Iblis?

      3 Kata-kata Yesus berikut ini sangat menguatkan orang-orang Kristen terurap, ”Janganlah takut terhadap hal-hal yang akan engkau derita. Lihat! Si Iblis akan terus melemparkan beberapa dari antara kamu ke dalam penjara agar kamu diuji sepenuhnya, dan agar kamu mengalami kesengsaraan selama sepuluh hari. Buktikanlah dirimu setia bahkan sampai mati, dan aku akan memberimu mahkota kehidupan.” (Penyingkapan 2:10) Mereka dan rekan-rekan mereka yang memiliki harapan di bumi tidak takut kepada Iblis. Keberanian itu bukan sifat bawaan mereka, melainkan karena mereka memiliki rasa takut yang penuh hormat kepada Allah dan ’berlindung di bawah naungan sayapnya’.​—Mazmur 34:9; 36:7.

      4 Murid-murid Yesus Kristus masa awal yang tak kenal gentar terbukti setia sampai mati sekalipun mengalami banyak penderitaan. Mereka tidak menyerah kepada rasa takut akan apa yang dapat dilakukan oleh Setan si Iblis, sebab mereka tahu bahwa Yehuwa tidak akan pernah meninggalkan orang-orang yang terbukti loyal kepada-Nya. Demikian pula, di tengah-tengah penganiayaan yang gencar dewasa ini, orang Kristen terurap dan rekan-rekan mereka yang berbakti bertekad untuk mempertahankan integritas yang tak terpatahkan kepada Allah. Namun, rasul Paulus memperlihatkan bahwa Iblis dapat menyebabkan kematian. Apakah itu seharusnya membuat kita takut?

      5. Apa yang kita pelajari dari Ibrani 2:14, 15?

      5 Paulus mengatakan bahwa Yesus menjadi manusia darah dan daging yang ”melalui kematiannya ia dapat meniadakan pribadi yang mempunyai sarana penyebab kematian, yaitu si Iblis; dan agar ia dapat memerdekakan semua orang yang oleh karena takut akan kematian, berada dalam perbudakan sepanjang kehidupan mereka”. (Ibrani 2:14, 15) Sebagai ”pribadi yang mempunyai sarana penyebab kematian”, Setan menguasai Yudas Iskariot, kemudian menggunakan para pemimpin Yahudi dan orang Romawi untuk mengeksekusi Yesus. (Lukas 22:3; Yohanes 13:26, 27) Namun, melalui kematiannya sebagai korban, Yesus memerdekakan umat manusia yang berdosa dari cengkeraman Setan dan memungkinkan kita memperoleh kehidupan abadi.​—Yohanes 3:16.

      6, 7. Sampai sejauh mana Setan memiliki sarana penyebab kematian?

      6 Sampai sejauh mana Iblis memiliki sarana penyebab kematian? Nah, semenjak awal karier kefasikan Setan, dusta serta kendalinya telah menyebabkan kematian manusia. Itu semua karena Adam berdosa dan selanjutnya meneruskan dosa serta kematian kepada seluruh keluarga manusia. (Roma 5:12) Selain itu, hamba-hamba Setan di bumi menganiaya para penyembah Yehuwa, kadang-kadang sampai mereka mati, persis seperti yang mereka lakukan terhadap Yesus Kristus.

      7 Meskipun demikian, kita hendaknya tidak berpikir bahwa Iblis dapat membunuh siapa saja yang dia inginkan. Allah melindungi orang-orang milik-Nya dan tidak akan pernah mengizinkan Setan melenyapkan semua penyembah sejati di bumi. (Roma 14:8) Memang, Yehuwa membiarkan penganiayaan menimpa seluruh umat-Nya dan Ia mengizinkan beberapa di antara kita mati akibat serangan Iblis. Akan tetapi, Alkitab menyediakan harapan yang menakjubkan berupa kebangkitan bagi orang-orang yang ada dalam ”buku peringatan” Allah​—dan Iblis sama sekali tidak berdaya mencegah Allah menghidupkan mereka kembali!​—Maleakhi 3:16; Yohanes 5:28, 29; Kisah 24:15.

      Mengapa Setan Menganiaya Kita?

      8. Mengapa Iblis menganiaya hamba-hamba Allah?

      8 Jika kita adalah hamba Allah yang loyal, ada alasan dasar bagi Iblis untuk menganiaya kita. Tujuannya ialah membuat kita mengkompromikan iman kita. Kita memiliki hubungan yang berharga dengan Bapak surgawi kita, dan Setan ingin merusak hubungan itu. Hal ini semestinya tidak mengherankan kita. Di Eden, Yehuwa menubuatkan bahwa akan ada permusuhan antara ”wanita” simbolis-Nya dan ”ular”, serta antara ’benih’ mereka masing-masing. (Kejadian 3:14, 15) Alkitab mengidentifikasi Iblis sebagai ”ular yang semula” dan menyingkapkan bahwa waktunya tinggal sedikit dan kemarahannya sangat besar. (Penyingkapan 12:9, 12) Permusuhan antara kedua ’benih’ itu berlanjut, sehingga orang-orang yang dengan setia melayani Yehuwa bakal dianiaya. (2 Timotius 3:12) Apakah Saudara menyadari alasan di balik penganiayaan oleh Setan?

      9, 10. Iblis telah menimbulkan sengketa apa, dan bagaimana hal itu berkaitan dengan tingkah laku manusia?

      9 Iblis telah menimbulkan sengketa kedaulatan universal. Berkaitan dengan itu, ia mempertanyakan integritas manusia kepada Pencipta mereka. Setan menganiaya Ayub, pria yang lurus hati. Tujuannya? Untuk mematahkan integritas Ayub kepada Yehuwa. Istri Ayub dan ketiga ”penghibur yang menyusahkan” melayani tujuan Iblis pada waktu itu. Sebagaimana diperlihatkan dalam buku Ayub, Iblis menantang Allah, dengan menyatakan bahwa tidak ada seorang manusia pun yang akan tetap setia kepada-Nya jika Setan dibiarkan menguji orang itu. Tetapi, Ayub memegang integritasnya dengan teguh, sehingga membuktikan Setan sebagai pendusta. (Ayub 1:8–2:9; 16:2; 27:5; 31:6) Iblis menganiaya Saksi-Saksi Yehuwa dewasa ini untuk mematahkan integritas mereka dan membuktikan bahwa tantangannya benar.

      10 Sebenarnya, kita bisa berani dan kuat karena kita mengetahui alasan Iblis menganiaya kita, yakni bahwa ia mati-matian ingin mematahkan integritas kita kepada Allah. (Ulangan 31:6) Allah kita adalah Penguasa Universal, dan Ia akan membantu kita memelihara integritas. Semoga kita selalu berupaya membuat hati Yehuwa bersukacita dengan menjadi pemelihara integritas, memberi-Nya alasan untuk menjawab si penuduh besar, Setan si Iblis.​—Amsal 27:11.

      ”Lepaskanlah Kami dari si Fasik”

      11. Apa arti permohonan, ”Janganlah membawa kami ke dalam godaan”?

      11 Menjadi pemelihara integritas tidaklah mudah; kita perlu berdoa dengan sungguh-sungguh. Yang khususnya membantu adalah kata-kata dalam contoh doa Yesus. Antara lain, ia mengatakan, ”Janganlah membawa kami ke dalam godaan, tetapi lepaskanlah kami dari si fasik.” (Matius 6:13) Yehuwa tidak menggoda agar kita berbuat dosa. (Yakobus 1:13) Namun, Alkitab kadang-kadang mengatakan bahwa Ia yang melakukan atau mengakibatkan sesuatu, meskipun Ia, pada kenyataannya, hanyalah mengizinkan hal itu terjadi. (Rut 1:20, 21) Maka, dengan berdoa seperti yang diajarkan Yesus, kita memohon kepada Yehuwa agar tidak membiarkan kita menyerah kepada godaan. Dan, Ia tentu akan mendengar kita, karena Alkitab menjamin, ”Allah itu setia, dan ia tidak akan membiarkan kamu digoda melampaui apa yang dapat kamu tanggung, tetapi sewaktu ada godaan itu ia akan memberikan jalan keluar agar kamu sanggup menahannya.”​—1 Korintus 10:13.

      12. Mengapa kita berdoa, ”Lepaskanlah kami dari si fasik?”

      12 Setelah menyebutkan godaan dalam contoh doa itu, Yesus dengan tepat mengatakan, ”Lepaskanlah kami dari si fasik.” Beberapa terjemahan Alkitab berbunyi, ”Lepaskanlah kami dari pada yang jahat” (Terjemahan Baru) atau ”Lindungilah kami dari kejahatan.” (Contemporary English Version) Namun, dalam Alkitab, ungkapan ’lepaskan dari’ khususnya diterapkan pada orang, dan Injil Matius menyebut Iblis sebagai ”Penggoda itu”, yakni suatu pribadi. (Matius 4:3, 11) Maka, penting untuk berdoa memohon kelepasan dari ”si fasik”, Setan si Iblis. Ia berupaya menggiring kita sehingga berbuat dosa terhadap Allah. (1 Tesalonika 3:5) Sewaktu kita memohon, ”Lepaskanlah kami dari si fasik”, kita meminta Bapak surgawi kita untuk membantu dan membimbing kita sehingga kita tidak dikalahkan Iblis.

      Jangan Dikalahkan oleh si Iblis

      13, 14. Mengapa orang-orang Korintus perlu mengubah cara mereka berurusan dengan seorang pria di sidang yang tadinya amoral?

      13 Sewaktu Paulus mendesak orang-orang di Korintus untuk mengampuni, ia menulis, ”Jika dalam hal apa pun kamu dengan baik hati mengampuni seseorang, aku juga akan mengampuninya. Sebenarnya, mengenai aku, apa pun yang dengan baik hati telah kuampuni, jika aku dengan baik hati telah mengampuni sesuatu, itu adalah demi kamu di hadapan Kristus; agar kita tidak dikalahkan oleh Setan, sebab kita bukannya tidak mengetahui siasatnya.” (2 Korintus 2:10, 11) Iblis dapat mengalahkan kita dengan berbagai cara, tetapi mengapa Paulus membuat pernyataan seperti yang dikutip di atas?

      14 Paulus telah menegur orang-orang Korintus karena mereka membiarkan seorang pria amoral tetap berada dalam sidang. Ini pasti membuat Setan senang, sebab sidang mendapat celaan karena mentoleransi ’percabulan seperti itu yang bahkan tidak dilakukan di antara bangsa-bangsa’. Akhirnya, pelaku kesalahan itu dipecat. (1 Korintus 5:1-5, 11-13) Pria itu belakangan bertobat. Seandainya orang-orang Korintus tidak mau mengampuni dan menerima kembali pria itu, Iblis akan mengalahkan mereka dengan cara lain. Mengapa demikian? Mereka akan bersikap kasar dan tidak berbelaskasihan, seperti Setan. Jika orang yang bertobat itu ”tertelan oleh karena kesedihannya terlalu besar” dan tidak lagi menyembah Allah, para penatua terutama akan turut bertanggung jawab atas hal ini di hadapan Allah yang berbelaskasihan, Yehuwa. (2 Korintus 2:7; Yakobus 2:13; 3:1) Tentu saja, tidak ada orang Kristen yang ingin meniru Setan dengan berlaku kejam, kasar, dan tanpa belas kasihan.

      Dilindungi oleh Perlengkapan Senjata Allah

      15. Peperangan apa yang kita adakan, dan kemenangan kita bergantung pada apa?

      15 Jika kita ingin dilepaskan dari Iblis, kita mesti mengadakan peperangan rohani melawan kumpulan roh yang fasik. Agar bisa menang melawan kekuatan yang begitu besar, kita mesti mengenakan ”seluruh perlengkapan senjata dari Allah”. (Efesus 6:11-18) Ini mencakup ”pelindung dada keadilbenaran”. (Efesus 6:14) Raja Saul dari Israel zaman dahulu tidak menaati Allah dan kehilangan roh kudus. (1 Samuel 15:22, 23) Tetapi, jika kita mempraktekkan keadilbenaran dan mengenakan seluruh persenjataan rohani, kita akan memiliki roh kudus Allah dan perlindungan yang diperlukan terhadap Setan dan para malaikat fasiknya, hantu-hantu.—Amsal 18:10.

      16. Bagaimana kita bisa terus dilindungi terhadap kumpulan roh yang fasik?

      16 Agar terus dilindungi dari kumpulan roh yang fasik, kita, antara lain, perlu membaca dan mempelajari Firman Allah dengan teratur, memanfaatkan publikasi-publikasi yang disediakan melalui ”pengurus yang setia”. (Lukas 12:42) Dengan demikian, kita akan mengisi pikiran kita dengan hal-hal rohani yang sehat, selaras dengan nasihat Paulus, ”Saudara-saudara, perkara apa pun yang benar, perkara apa pun yang serius, perkara apa pun yang adil-benar, perkara apa pun yang murni, perkara apa pun yang membangkitkan perasaan kasih, perkara apa pun yang patut dibicarakan, apa pun yang bajik dan perkara apa pun yang patut dipuji, teruslah pikirkan semuanya ini.”​—Filipi 4:8.

      17. Apa yang akan membantu kita menjadi pemberita kabar baik yang efektif?

      17 Yehuwa memungkinkan agar ’kaki kita berkasutkan kabar baik tentang perdamaian’. (Efesus 6:15) Dengan ambil bagian secara teratur dalam perhimpunan Kristen, kita diperlengkapi untuk memberitakan kabar baik tentang Kerajaan Allah. Betapa besar sukacita yang kita peroleh sewaktu membantu orang lain belajar tentang kebenaran Allah dan mengalami kemerdekaan rohani! (Yohanes 8:32) ”Pedang roh, yaitu firman Allah”, adalah senjata yang ampuh untuk menangkis ajaran-ajaran palsu dan ”merobohkan perkara-perkara yang dibentengi dengan kuat”. (Efesus 6:17; 2 Korintus 10:4, 5) Kemahiran menggunakan Firman Allah yang tertulis, Alkitab, membantu kita mengajarkan kebenaran dan melindungi kita agar tidak menyerah kepada siasat licik Iblis.

      18. Bagaimana kita dapat ”berdiri teguh melawan siasat-siasat licik Iblis”?

      18 Paulus mengawali pembahasannya tentang perlengkapan senjata rohani kita dengan mengatakan, ”Teruslah peroleh kuasa dalam Tuan dan dalam keperkasaan kekuatannya. Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata dari Allah agar kamu sanggup berdiri teguh melawan siasat-siasat licik Iblis.” (Efesus 6:10, 11) Kata Yunani yang diterjemahkan ”berdiri teguh” berkaitan dengan seorang prajurit yang mempertahankan posisinya. Kita mempertahankan kedudukan dalam peperangan rohani, meskipun Setan menggunakan berbagai siasat licik untuk memecah-belah persatuan kita, merusak ajaran kita, atau mematahkan integritas kita kepada Allah. Tetapi, sejauh ini serangan Iblis tidak berhasil​—dan tidak akan pernah berhasil!a

      Lawanlah Iblis, dan Ia Akan Lari

      19. Apa salah satu cara untuk bertindak tegas melawan Iblis?

      19 Kita dapat berhasil dalam peperangan rohani melawan Iblis dan kumpulan roh yang fasik di bawah pengarahannya. Tidak ada alasan bagi kita untuk gemetar ketakutan terhadap Setan, sebab sang murid Yakobus menulis, ”Tunduklah kepada Allah; tetapi lawanlah Iblis, dan ia akan lari darimu.” (Yakobus 4:7) Salah satu cara kita bertindak tegas melawan Setan dan makhluk-makhluk roh fasik yang berpihak kepadanya adalah dengan sama sekali tidak terlibat dalam praktek-praktek ilmu gaib dan bergaul dengan mereka yang melakukannya. Alkitab dengan jelas menunjukkan bahwa hamba Yehuwa tidak boleh mencari pertanda atau terlibat dalam astrologi, tenung, dan spiritisme. Jika kita aktif dan kuat secara rohani, kita tidak perlu takut diguna-gunai seseorang.—Bilangan 23:23; Ulangan 18:10-12; Yesaya 47:12-15; Kisah 19:18-20.

      20. Bagaimana kita dapat melawan Iblis?

      20 Kita ’melawan Iblis’ dengan berpaut pada standar serta kebenaran Alkitab dan dengan berdiri teguh melawan dia. Dunia ini akur dengan Setan karena ia adalah allahnya. (2 Korintus 4:4) Oleh karena itu, kita menampik sifat-sifat dunia ini, seperti kesombongan, sikap egois, amoralitas, kekerasan, dan materialisme. Kita tahu bahwa Iblis lari sewaktu Yesus melawan serangannya dengan menggunakan ayat-ayat Alkitab sewaktu mengalami godaan di padang belantara. (Matius 4:4, 7, 10, 11) Demikian juga, Setan akan kalah dan ’lari dari kita’ jika kita tunduk sepenuhnya kepada Yehuwa dan mengandalkan-Nya dengan berdoa. (Efesus 6:18) Berkat dukungan Allah Yehuwa dan Putra yang Ia kasihi, tidak ada yang dapat mencelakai kita secara permanen​—Iblis pun tidak!—Mazmur 91:9-11.

      [Catatan Kaki]

      a Untuk informasi selanjutnya tentang perlengkapan senjata rohani dari Allah, lihat Menara Pengawal, 15 Mei 1992, halaman 21-3.

Publikasi Menara Pengawal Bahasa Indonesia (1971-2025)
Log Out
Log In
  • Indonesia
  • Bagikan
  • Pengaturan
  • Copyright © 2025 Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania
  • Syarat Penggunaan
  • Kebijakan Privasi
  • Pengaturan Privasi
  • JW.ORG
  • Log In
Bagikan